Anda di halaman 1dari 13

MODUL PEMELIHARAAN HUTAN

OLEH: KANSIH SRI HARTINI NELLY ANNA

STAFF PENGAJAR DEPARTEMEN KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DIKLAT WAS-GANISPHPL-BINHUT JULI 2010

MODUL: PEMELIHARAAN HUTAN Tujuan Tujuan modul adalah agar setelah mengikuti pelatihan ini, peserta dapat mamahami dan menjelaskan: 1. Kegiatan-kegiatan dalam pemeliharaan hutan 2. Pengertian dan fungsi 3. Beberapa petunjuk teknis tentang pemeliharaan hutan 4. Teknik-teknik kegiatan pemeliharaan hutan 5. Perencanaan kegiatan pemeliharaan hutan 6. Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan hutan 1. Kegiatan-kegiatan dalam pemeliharaan hutan Kegiatan pemeliharaan hutan dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu: Penyulaman Pemupukan Pendangiran Penyiangan gulma Pemangkasan cabang Pewiwilan Pembebasan Penjarangan

2. Pengertian dan tujuan Penyulaman - Pengertian Penyulaman tanaman adalah kegiatan penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas tanaman yang mati/diduga akan mati dan rusak sehingga terpenuhi jumlah tanaman normal dalam satu kesatuan luas tertentu sesuai dengan jarak tanamnya. Penyulaman dilakukan apabila persentase tumbuh tanaman tidak mencapai 90%. - Tujuan a. Meningkatkan persen jadi tanaman dalam satu kesatuan luas tertentu. b. Memenuhi jumlah tanaman per hektar sesuai dengan jarak tanamnya.

Pemupukan - Pengertian Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman.

- Tujuan Pemupukan tanaman hutan bertujuan untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Pendangiran - Pengertian Pendangiran adalah kegiatan penggemburan tanah disekitar tanaman dalam upaya memperbaiki sifat fisik tanah (aerasi tanah). - Tujuan Pendangiran bertujuan untuk memacu pertumbuhan tanaman. Penyiangan gulma - Pengertian Penyiangan tanaman pengganggu (gulma) adalah kegiatan pengendalian gulma untuk mengurangi jumlah populasi gulma agar populasinya berada di bawah ambang ekonomi atau ekologi. Dengan demikian saingan gulma berkenaan dengan cahaya, kelembaban tanah dan nutrisi pada tanaman pokok dapat diperkecil. Dalam pelaksanaannya diprioritaskan gulma yang sangat merugikan seperti alangalang, rumput-rumputan, liana dan tumbuhan lain. - Tujuan Penyiangan tanaman pengganggu (gulma) bertujuan memberikan ruang tumbuh pada tanaman pokok yang lebih baik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan persen jadi tanaman. Pemangkasan cabang - Pengertian Pemangkasan cabang adalah kegiatan pembuangan cabang bagian bawah untuk memperoleh batang bebas cabang yang panjang yang bebas dari mata kayu. Kegiatan ini sangat jarang dilakukan pada tanaman-tanaman yang sudah tinggi karena sangat banyak membutuhkan biaya. Pemangkasan cabang umumnya dilakukan pada tanaman masih muda.

Tujuan Meningkatkan kualitas kayu agar diperoleh manfaat ekonomi secara optimal. Memperbaiki kondisi hutan. Mengendalikan kebakaran tajuk.

Pewiwilan (singling). Untuk mendapatkan batang pokok yang tunggal, maka pada tanaman umur bulan dilaksanakan pewiwilan untuk menghilangkan tunas codominan. Pembebasan

- Pengertian Pembebasan dimaksudkan untuk memelihara kebebasan sinar dan ruang dari tajuktajuk pohon binaan agar riapnya tumbuh maksimum - Tujuan Pembebasan bertujuan untuk memusatkan riap pada pohon binaan yang merupakan pohon niagawi terbaik dalam tegakan tinggal dan letaknya tersebar merata

Penjarangan - Pengertian Penjarangan tegakan adalah tindakan pengurangan jumlah batang persatuan luas untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon dalam rangka mengurangi persaingan antar pohon dan meningkatkan kesehatan pohon dalam tegakan. - Tujuan Tujuan dari penjarangan tegakan adalah untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas tegakan agar diperoleh tegakan hutan dengan massa kayu dan kualitas kayu yang tinggi sehingga dapat memberikan penghasilan yang tinggi selama daur.

3. Beberapa petunjuk teknis tentang pemeliharaan hutan Petunjuk teknis tentang pembibitan dan persemaian dapat dijumpai pada: a. SK Dirjen PH no. 151/Kpts/IV-BPHH/1993 tentang Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia b. SK Menhut No. 206/ Kpts-II/1995 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pembuatan Hutan Tanaman Industri c. SK Dirjen Bina Produksi Kehutanan No. 226/VI-BPHA/2005 tentang penerapan sistem TPTII

4. Teknik-teknik kegiatan pemeliharaan hutan Penyulaman

Penyulaman tanaman pokok hanya dilakukan maksimal dua kali selama daur, yaitu 1-2 bulan penanaman pada tahun pertama dan pada akhir tahun kedua, pada awal tahun ketiga, selama hujan masih turun. Penyulaman tanaman sekat bakar dan tanaman pengisi/sela tidak terbatas sampai dengan tanaman dalam satu petak tanaman tidak ada yang mati. Besarnya intensitas penyulaman tergantung pada persentase jadi tanaman, seperti Tabel 1. Tabel 1. Intensitas penyulaman tanaman Persentase jadi tanaman hutan 100 % 80 100 % Klasifikasi keberhasilan Baik sekali Baik Intensitas penyulaman

Tanpa sulaman Sulaman ringan Maksimum pada tahun pertama 20 % dan tahun kedua 4 % 60 80 % Cukup Sulaman intensif Maksimum pada tahun pertama 40 % dan tahun kedua 16 % Dibawah 60 % Kurang Diulangi menanam Sumber : Pedoman Pembangunan Hutan Tanaman Industri (Badan Litbang Kehutanan, 1998) Pemupukan Pemupukan tanaman dilakukan dalam situasi sebagai berikut Tanah miskin hara. Umumnya lahan yang bertahun-tahun ditumbuhi alangalang. Tanaman pertumbuhannya terlambat walaupun sudah dilakukan penyiangan dan dijumpai gejala kekurangan unsur hara. Tanaman yang perlu dipercepat pertumbuhannya untuk mengurangi risiko akibat saingan gulma. Untuk meningkatkan penghasilan (riap volume) per satuan luas pada akhir daur Pemupukan dilakukan umumnya pada saat tanaman 1 bulan setelah tanam. Semakin jelek tingkat kesuburan tanah dan lahan yang diolah maka pemupukan harus dilakukan lebih awal. Kemudian diulangi 6 - 24 bulan sampai tinggi tanaman pokok melampaui tinggi gulma. Jika pemupukan diperlukan untuk meningkatkan riap volume maka pemupukan berikutnya menjelang penjarangan pertama (saat tajuk bersinggungan). Pohon yang dipupuk yang terpilih untuk ditinggalkan sesudah penjarangan. Kemudian pemupukan berikutnya menjelang penjarangan kedua dan seterusnya sampai batas 5 tahun sebelum penebangan. Pendangiran

Pendangiran tanaman dilaksanakan 1 - 2 kali dalam satu tahun, tergantung pada tingkat tekstur tanahnya. Makin berat tekstur tanahnya makin sering untuk dilakukan pendangiran. Intensitasnya tergantung pada jarak tanam dan tanah yang harus didangir kisarannya 1 - 3 m sekeliling tanaman. Penyiangan gulma Penyiangan dilaksanakan minimal 3 - 4 bulan sekali dalam satu tahun sampai dengan umur 1 - 2 tahun kemudian setiap 6 - 12 bulan sekali. Intensitasnya di sekeliling semua tanaman pada jarak 1 - 3 m harus bebas dari gulma. Penyiangan diakhiri setelah tanaman pokok mampu bersaing dengan tumbuhan liar terutama untuk memperoleh cahaya matahari. Untuk jenis cepat tumbuh biasanya dicapai pada umur 2 - 3 tahun dan jenis lambat tumbuh umur 3 - 4 tahun. Pemangkasan cabang Frekwensi pemangkasan cabang mengikuti frekwensi penjarangan. Setiap kali dilakukan pemangkasan cabang digunakan intensitas 30 % yaitu 30 % dari tajuk yang dibuang dan tajuk yang tinggal setelah pemangkasan 70 %. Pembebasan Kegiatan pembebasan dipusatkan pada perawatan pohon binaan saja. Pohon yang harus dibunuh adalah semua perambat kecuali rotan jenis komersil, pohon yang menaungi pohon binaan serta pohon yang statusnya meragukan. Kriteria pohon binaan adalah: - jenis niagawi diprioritaskan unggulan setempat, kalau tidak ada pilih jenis niagawi atau lainnya yang dapat tumbuh besar - ukuran terbesar di tempatnya kalau tidak ada permudaan terbesar - sehat, lurus, bulat, tajuk besar dan rimbun - semua pohon yang dilindungi - semua pohon berdiameter lebih 40 cm berbatang baik dan sehat Bahan kimia yang dipergunakan untuk meracun pohon adalah yang sudah direkomendasi komisi pestisida. Penjarangan Suatu tegakan sudah harus dijarangi jika tajuk-tajuk pohon sudah saling bersinggungan dan atau saling menutupi sedemikian rupa, dan dipandang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan tersebut sangat bervariasi sesuai dengan jenis dan umur tanaman serta kesuburan tapaknya. Penentuan penjarangan dapat digunakan suatu metoda praktis seperti indikator persentase tajuk hidup dan atau perbandingan diameter tajuk dengan diameter batangnya. Metoda tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut :

Persentase tajuk hidup (live crown ratio). Persentasi ini adalah perbandingan antara tajuk hidup dengan tinggi total tanaman. Perbandingan

ideal untuk tanaman murni antara 25 35 %. Jika perbandingan < 25% berarti tanaman sudah rapat, dan penjarangan harus dilakukan pada saat perbandingan mendekati 20 %. Perbandingan diameter tajuk dengan diameter batang (Crown density index/CDI). Indikator ini sangat bermanfaat untuk pengenalan lapangan mengenai berapa lebar atau luas yang harus diberikan pada setiap pohon di dalam tegakan. CDI ideal sekitar 35. Nilai ini artinya, lebar ruang setiap batang pohon harus selebar 35 kali ukuran diameternya, jika batang berukuran 10 cm, maka lebar ruang adalah 3,5 m, rata-rata radius 1.75 m dari batang pohon.

Metode penjarangan yang dapat dipilih diantaranya adalah: - Penjarangan sistematik Sebagai dasar pertimbangannya adalah kebutuhan kayu dan keuntungannya dapat diperoleh dari hasil penjarangan pada saat itu. Pelaksanaan penjarangannya dilakukan dalam jalur atau larikan - Penjarangan seleksi rendah (selective low thinning) Sebagai dasar pertimbangannya adalah memacu pertumbuhan dan meningkatkan kualita tegakan tinggal. Menurut metoda ini semua pohon berukuran kecil dan pertumbuhannya kurang baik atau tertekan ditebang/dijarangi. - Penjarangan tajuk Ada dua tipe penjarangan tajuk yang dapat dipergunakan, yaitu: o Penjarangan tajuk ringansemua pohon yang mati kena penyakit dan pohon yang menduduki lapisan tajuk teratas dijarangi. Pohon yang ditinggalkan terdiri dari pohon yang termasuk kelas co-dominan dan dominan o Penjarangan tajuk beratsemua pohon yang menyaingi pohon yang terpilih termasuk sekalipun pohon yang dominan ditebang. Pohon yang sudah ditetapkan tersebut harus tersebar merata di seluruh areal dan tidak saling menyaingi - Penjarangan menurut HART Dasar pertimbangannya adalah hasil penjarangan harus memberikan kesempatan pada pohon-pohon pemenang untuk melebar tajuknya. Dalam sistem ini derajad kekerasan penjarangan dinyatakan dalam S%. 5. Perencanaan kegiatan pemeliharaan hutan Penyulaman Penyulaman tahunan dilakukan pada sore hari dan/atau pagi hari dalam musim hujan. Pemupukan Waktu pemupukan tergantung pada kondisi iklim dan dilakukan menjelang atau awal musim hujan. Kalau diperlukan pupuk tambahan pada tahun yang sama maka dilakukan menjelang akhir musim hujan.

Pendangiran Pendangiran dilaksanakan pada waktu musim kemarau menjelang musim hujan tiba. Pendangiran dilakukan pada tanaman yang sudah berumur 1 - 4 tahun dan diutamakan apabila terjadi stagnasi pertumbuhan atau tanah bertekstur berat/mengandung liat tinggi serta persiapan lahan tidak melalui pengolahan tanah. Penyiangan gulma Penyiangan dilaksanakan baik pada menjelang akhir musim kemarau maupun musim penghujan. Tanaman perlu disiangi pada saat 40-50 % dari tanarnan pokok tertutup oleh tumbuhan liar (rumput, alang-alang dan belukar lainnya). Pemangkasan cabang Waktu pemangkasan cabang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan penjarangan tegakan, pada musim kemarau. Pemangkasan cabang hanya dilakukan terhadap tegakan tinggal yang terpilih dalam penjarangan. Pewiwilan Pewiwilan dilakukan pada tanaman umur 6 bulan codominan. Pembebasan Perencanaan di peta: Menentukan lokasi blok dan petak kerja areal bekas tebangan yang akan dibebaskan pada peta kerja yang telah disiapkan Menghitung luas areal kerja pembebasan, yaitu luas blok bekas tebangan Et+2 Merencanakan anggaran biaya kegiatan dan jumlah tanaga kerja yang akan digunakan dalam kegiatan pembebasan, untuk kegiatan: Persiapan Pelaksanaan Pelaporan untuk menghilangkan tunas

Penjarangan Kegiatan penjarangan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau karena sifatnya penebangan 6. Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan hutan Penyulaman Cara penyulaman

Menginventarisasi seluruh tanaman yang mati pada setiap jalur tanaman. Kegiatan ini dilakukan pada tahun pertama dan kedua sebelum kegiatan penyulaman. Memberi tanda pada setiap tempat yang akan disulam/ditanami kembali. Tanaman yang disulam adalah : Tanaman mati, Tanaman tidak sehat/kena penyakit/tumbuh merana, Tanaman jelek (patah, bengkok, daun gundul), Tidak ada tanaman (kosong). Menggunakan bibit dari persemaian yang seumur dan sehat. Untuk penyulaman tahun kedua digunakan bibit yang Iebih tinggi atau lebih tua umurnya daripada bibit yang digunakan pada penyulaman tahun pertama. Penyulaman tahun kedua dilakukan apabila tanaman yang hidup kurang dari 70%.

Pemupukan Cara pemupukan Pemupukan dapat dilakukan secara lobang melingkar atau dengan tiga lubang disekitar tanaman. Sebelum dipupuk tanah di sekeliling tanaman disiangi dan dibuat lobang melingkar (lorakan) di sekeliling batas tajuk tanaman sedalam 5 - 10 cm. Pada tanaman yang berumur 3 - 4 tahun lobang lorakan ini dibuat 15 cm. Pupuk disebar dalam lorakan secara merata, kemudian ditutup dengan tanah untuk menghindarkan adanya fiksasi terutama untuk pupuk fosfat dan kalium. Pendangiran Cara pendangiran Pendangiran tanaman dilakukan secara manual pada sekitar tanaman dengan radius 25 - 50 cm tergantung pada jarak tanamannya. Cara mendangir dengan menggunakan cangkul. Pencangkulan tanah jangan terlalu dalam untuk menghindari terjadinya pemotongan akar tanaman pokok.

Penyiangan gulma Cara penyiangan gulma Penyiangan dengan cara manual dapat menggunakan sistem piringan berdiameter 1 - 3 meter, sistem jalur lebar 1 - 3 meter atau babat total. Semua gulma yang ada dalam piringan atau jalur dibersihkan dengan alat sederhana seperti kored, cangkul, parang dan lain-lain. Cara pembersihannya dapat dilakukan dengan pembabatan dan pengolahan tanah. Hasil babatan disingkirkan di bagian luar jalur/piringan. Diharapkan hasil pembabatan tersebut dapat menutupi gulma yang merambat, penyiangannya dengan memotong gulma + 10 cm di atas permukaan tanah. Pada areal tanaman yang berasal dari lahan alang-alang dan semak, pada umur 1 tahun sebaiknya dilakukan penyiangan total.

Penyiangan gulma dengan mekanis atau semi mekanis menggunakan cara jalur lebar 1 - 3 meter dengan tanaman pokok sebagai porosnya. Alat yang digunakan antara lain "brush cutter" ("Motorized Clearing Saw"). Alat ini dapat digunakan untuk membersihkan gulma berupa semak dan alang-alang. Caranya adalah mengayunkan alat tersebut ke kanan dan ke kiri. Agar diperoleh jumlah potongan yang banyak, pada saat memotong bilah gergaji dimiringkan membentuk sudut 10 20 derajat. Selain itu dapat digunakan traktor apabila penyiangan dilakukan melalui pengolahan tanah. Pengendalian secara kimiawi menggunakan herbisida. Jenis herbisida yang digunakan tergantung jenis gulma yang ditemui. Pelaksanaannya dengan cara disemprotkan sepanjang jalur lebar 2 - 3 meter, dimana tanaman sebagai porosnya. Untuk penyiangan jenis gulma daun lebar seperti alang, alang, karamunting, kerinyuh, trubusan alaban dsb dapat digunakan herbisida seperti Roundup,Matador, Paracol, Duppont dsb. Patut diperhatikan pada penyiangan dengan kimiawi/penggunaan herbisida adalah :

Tanaman pokok memiliki ukuran cukup tinggi (berumur di atas 2 tahun). Penggunaan herbisida harus hati-hati agar tanaman tidak terkena kabut semprotan.

Pemangkasan cabang Peralatan yang digunakan :


Pisau pruning dan gunting pruning berikut tangkainya untuk memangkas tunas kaki atau cabang kecil di bagian batang. Gergaji pruning untuk memangkas cabang yang ukurannya agak besar dan tangga untuk memanjat pohon.

Cara pemangkasan cabang Pemangkasan cabang harus rata dengan batang yaitu pada letak sambung pangkal cabang dengan batang pohon. Kemudian luka bekas pangkasan sebaiknya ditutup dengan bahan penutup luka seperti ter, parafin dan lain-lain untuk menghindari kontak dengan penyakit. Pemangkasan cabang terlalu dalam atau masih menempelnya cabang pada batang akan menyebabkan cacat kayu atau bagian mata kayu busuk, mudah terserang penyakit.

Pewiwilan Untuk mendapatkan batang pokok yang tunggal, maka pada tanaman umur bulan dilaksanakan pewiwilan untuk menghilangkan tunas codominan. 6

Pembebasan Ketentuan umum: - Tumbuhan yang dipelihara (dibebaskan/diberikan ruang bebas) adalah pohon binaan. - Kriteria pohon binaan adalah: Jarak rata-rata anatar pohon binaan yang telah dipilih 5-9m Jenis niagawi, diprioritaskan niagawi unggulan seperti merantimerantian (kalau ada). Jika tidak ada niagawi unggulan, dipilih niagawi lainnya. Jika masih tidak ada juga, dipilih jenis pohon lain, asal diketahui bahwa jenis pohon itu bakal dapat tumbuh membesar mencapai diameter 40 cm setelah 35 tahun Ukuran terbesar ditempatnya. Selama ada pohon maka dipilih pohon dan jika tidak ada pohon inti, dipilih permudaan terbesar. Batang sehat, lurus, bundar, tidak membelimbing. Tajuk besar, tanpa cacat dan berdaun rimbun. Semua pohon dari jenis yang dilindungi. Semua pohon yang berdiameter lebih besar dari 40 cm dan berbatang baik dan sehat. - Pohon binaan yang berdiameter 10 cm ke atas harus diberi label sebagaimana pada pohon inti dan pohon yang dilindungi. Penomoran pohon binaan melanjutkan nomor yang sudah ada (pohon inti) pada waktu ITSP. - Tumbuhan yang dibunuh pada kegiatan pembebasan adalah penyaing pohon binaan, yaitu; Pohon bukan binaan yang tajuknya mendesak sama tinggi atau menaungi dari arah atas tajuk pohon binaan. Semua perambat kecuali rotan jenis berharga yang masih ada dalam tegakan tinggal. - Dilarang membunuh pohon-pohon berikut: Pohon dari jenis yang dilindungi Pohon yang tajuknya tidak mendesak atau menaungi tajuk pohon binaan, walaupun cacat atau jenisnya belum berharga Pohon yang berada dalam radius 200 m di sekitar mata air, sekurangkurangnya 100 m dari tepi danau dan pantai laut dari titik pasang tertinggi kea rah darat. Pohon-pohon berdimeter lebih besar dari 50 cm yang bertajuk tinggi (lebih dari 20 m), walaupun cacat, karena selain mahal biayanya juga tidak merupakan pohon yang rimbun lagi, dan pada umumnya akan mati sendiri selama perjalanan rotasi pengusahaan berikutnya. - Peneresan tanpa arborisida tidak dianjurkan, karena selain memerlukan ketelitian tinggi yaitu tidak boleh meninggalkan cambium, menggunakan waktu kerja banyak, dan efektivitasnya rendah (maksimum 50% pohon diteres mati selama tahun pertama). Keterlambatan matinya pohon penyaing yang diteres, menyebabkan kehilangan peningkatan riap kayu niagawi di dalam tegakan. Namun demikian, penggunaan arborisida untuk membunuh pohon penyaing harus mentaati ketentuan yang diatur tersendiri oleh Departemen Kehutanan.

Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk meracun pohon dalam kegiatan pembebasan adalah bahan-bahan kimia yang sudah direkomendasikan oleh Komisi Pestisida Departemen Kehutanan. Pembebasan pertama dilakukan pada areal tegakan tinggal 2 tahun setelah penebangan (Et+2)

Pelaksanaan di lapangan: a. Cara pembebasan: Membuat ruang untuk tumbuh dan menghilangkan penaung langsung pada tajuk pohon binaan, agar tajuk pohon yang dibebaskan dapat menerima sinar matahari langsung dari atas atau dari arah samping atas sehingga tajuk pohon masih memiliki ruang bebas ke samping. Ruang bebas ke samping tajuk ditetapkan 1-2 m b. Jalur pembebasan Setiap regu kerja menyelenggarakan pekerjaan pembebasan dalam jalur yang lebarnya 20 m secara sistematis. Jalur yang digunakan adalah jalur ITSP. Di dalam jalur, regu kerja berjajar ke samping (bersap) didahului pengenal pohon menjelajahi jalur dan ketua regu dirintis batas jalur sebelah kanan, diikuti 2 penebas daan peneres. Di belakang mereka berjalan 2 juru racun dan pembawa larutan. Pelaksanaan pembebasan dilakukan secara berurutan dari jalur satu ke jalur lainnya di dalam satu petak kerja dan seterusnya sampai selesai 1 petak c. Penebangan Penebangan hanya boleh dilakukan pada pohon penyaing yang berdiameter kurang dari 7 cm, karena dapat dilakukan lebih mudah daripada peneresan dan arah rebahnya masih dapat dikendalikan sepenuhnya oleh tenaga manusia. d. Peracunan Peracunan dilakukan terhadap pohon penyaing yang berdiameter 10-50 cm karena pohon-pohon tersebut telah cukup tebal untuk dibacok keliling tanpa menjadi rebah, dan dilakukan lebih mudah daripada menebangnya dengan arah rebah yang aman. Arborisida nyang telah diketahui efektif membunuh pohon adalah senyawa isopropyl-amin-glyfosat berupa larutan 12% dalam air, yang dapat membunuh sekurang-kurangnya 80% pohon selama tahun pertama.

Penjarangan Pohon-pohon yang dimatikan dalam penjarangan terdiri dari: Pohon-pohon dengan batang cacat atau sakit (bengkok angin, pangkal batang berlubang atau cacat, luka terbakar, luka tebangan, benjol inger-inger, lubang oleng, dan sebagainya). Pohon-pohon yang kurang baik bentuknya atau kualitasnya (garpu, bayonet, bengkok, benjol, muntir, beralur dan bergerigi yang dalam). Pohon-pohon tertekan (kecuali untuk mengisi lubang-lubang tajuk) yaitu pohon yang tajuknya, seluruh atau sebagian besar berada di bawah tajuk pohon lain dan tingginya kurang dari tinggi rata-rata.

Saat perlu dilakukan penjarangan pertama tergantung: Kecepatan tumbuh tanaman Tingkat kesuburan tanah Kerapatan tanaman/tegakan perhektar Semakin cepat tumbuh tanaman, semakin subur tanah dan semakin rapat tegakan maka semakin awal penjarangan pertama perlu dilakukan. Ada dua kriteria yang dapat dipakai acuan dalam menetapkan saat penjarangan yaitu: Perbandingan tajuk aktif yaitu perbandingan antara tinggi tajuk sampai batas cabang hidup (masih berperan dalam fotosintesa) dengan tinggi total tanaman/pohon. Untuk jenis daun lebar, penjarangan perlu dilakukan sebelum tajuk mengecil pada saat perbandingantajuk aktif 30-40% dan untuk jenis daun jarum 40-50% Penjarangan dilakukan setelah beberapa saat tajuk pohon menutup. Untuk jenis pohon cepat tumbuh, penutup tajuk terjadi pada umur lebih muda dibandingkan jenis medium atau lambat tumbuh. Umumnya untuk jenis cepat tumbuh, penjarangan pertama kisaran umurnya antara 3-4 tahun dan untuk jenis medium dan lambat tumbuh 5-10 tahun.