Anda di halaman 1dari 87

ANALISIS KETIMPANGAN ANTARDAERAH

DI PULAU JAWA TAHUN 2001-2008











OLEH
TRIANA RACHMANINGSIH
H14104519






















DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN

TRIANA RACHMANINGSIH. Analisis Ketimpangan Antardaerah di Pulau
Jawa Tahun 2001-2008 (dibimbing oleh LUKYTAWATI ANGGRAENI).

Salah satu yang mempengaruhi pola pembangunan ekonomi di Indonesia
adalah karakteristik wilayahnya. Indonesia sebagai negara kepulauan membuat
pembangunan ekonomi di Indonesia tidak seragam. Beberapa daerah mencapai
pertumbuhan yang cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami
pertumbuhan yang lambat, sehingga perbedaan kemampuan ini mengakibatkan
terjadinya ketimpangan antardaerah. Ketimpangan dalam pembangunan ekonomi
tidak hanya terjadi antara Jawa dengan Luar Jawa, melainkan juga terjadi di dalam
daerah itu sendiri. Pulau Jawa yang merupakan penyumbang terbesar terhadap
PDB pun mempunyai ketimpangan antardaerah yang cukup besar, hal ini dapat
dilihat dari nilai PDRB per kapita setiap provinsi di Jawa. Beberapa studi
mengatakan bahwa DKI Jakarta merupakan penyumbang terbesar ketimpangan di
Jawa. Adanya kepercayaan penuh terhadap mekanisme trickle down effect dimana
diharapkan pertumbuhan ekonomi menetes dengan sendiri ternyata berjalan
lambat. Akibatnya pembangunan ekonomi hanya terpusat di Jawa khususnya DKI
Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketimpangan antarprovinsi
dan antarkabupaten/kota di Pulau Jawa dengan menggunakan Indeks Williamson
dan Indeks Theil, mengklasifikasikan provinsi dan kabupaten/kota menurut
tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita dengan Tipologi Klassen, dan
melihat hubungan antara indeks ketimpangan dengan PDRB per kapita sesuai
dengan Hipotesis Kuznets. Penelitian ini juga menggunakan kriteria bank dunia
untuk menganalisis ketimpangan pendapatan masyarakat sebagai pendukung
terhadap ketimpangan antardaerah. Data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data sekunder dari BPS tahun 2001-2008 yang meliputi data PDRB,
jumlah penduduk, dan data pendukung lainnya. Dalam penelitian ini, analisis
dibedakan menjadi dua yaitu analisis Pulau Jawa secara keseluruhan dan analisis
Pulau Jawa tanpa DKI Jakarta.
Hasil analisis mengatakan bahwa ketimpangan di Jawa lebih besar
dibandingkan dengan ketimpangan di Jawa tanpa DKI Jakarta baik dianalisis
dengan menggunakan Indeks Williamson maupun Indeks Theil. Trend
ketimpangan di Jawa mengalami peningkatan dari tahun 2001-2008. Sedangkan
trend ketimpangan antarkabupaten/kota di Jawa tanpa DKI Jakarta menurun dari
tahun 2001-2008. Berdasarkan analisis tipologi klassen provinsi, Jawa
diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu daerah cepat maju dan cepat tumbuh,
daerah berkembang cepat, dan daerah relatif tertinggal. Sedangkan menurut
tipologi klassen kabupaten/kota, klasifikasi daerah dibagi menjadi empat daerah
sesuai dengan konsep tipologi klassen. Teori Kuznets yang menyatakan bahwa
pada tahap awal petumbuhan, ketimpangan meningkat kemudian tahap
selanjutnya ketimpangan menurun, tidak berlaku di Jawa.
ANALISIS KETIMPANGAN ANTARDAERAH
DI PULAU JAWA TAHUN 2001-2008




OLEH
TRIANA RACHMANINGSIH
H14104519





Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Ilmu Ekonomi






DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul Skripsi : Analisis Ketimpangan Antardaerah di Pulau Jawa Tahun
2001-2008
Nama : Triana Rachmaningsih
NRP : H14104519




Menyetujui,
Dosen Pembimbing



Lukytawati Anggraeni, Ph.D
NIP. 19771213 200501 2 002




Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi



Dedi Budiman Hakim, Ph.D
NIP. 19641022 198903 1 003




Tanggal Lulus:

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH
BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH
DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA TULIS ILMIAH PADA
PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.


Bogor, November 2010



Triana Rachmaningsih
H14104519

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Penulis bernama Triana Rachmaningsih, dilahirkan di Klaten pada tanggal
15 Mei 1983 dari pasangan Samono dan Sri Lestari. Penulis merupakan anak
ketiga dari tiga bersaudara. Penulis menikah dengan Joko Sarjito, dan dikaruniai
satu orang putri bernama Khansa Gaida Salsabila.
Penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Tonggalan 1
Klaten pada tahun 1989 sampai dengan tahun 1995, Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama Negeri 2 Klaten pada tahun 1995 sampai dengan tahun 1998, dan
Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Klaten pada tahun 1998 sampai dengan tahun
2001. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
Jakarta Jurusan Komputasi Statistik pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005.
Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Islam As-
Syafiiyah Jurusan Matematika sampai dengan tahun 2007.
Sejak Februari 2006 penulis bekerja di BPS RI Jakarta di Subdit Rujukan
Statistik, Direktorat Diseminasi Statistik. Pada tahun 2010 penulis diterima
menjadi mahasiswa program alih jenis/matrikulasi di Sekolah Pasca Sarjana
Departemen Ilmu Ekonomi melalui program beasiswa kerjasama Badan Pusat
Statistik dengan Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor.

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Analisis Ketimpangan
Antardaerah di Pulau Jawa Tahun 2001-2008. Skripsi ini diajukan untuk
memenuhi tugas akhir dan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi pada Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moral-spritual dan material
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:
1. Ibu Lukytawati Anggraeni, selaku pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Muhammad Findi Alexandi, selaku dosen penguji atas saran dan kritik
untuk kesempurnaan skripsi ini.
3. Rekan-rekan BPS khususnya Ari, Esya, Mbak Ida, Mbak Dewi, Pak Ghofar,
Pak Bawor, Pak Ulah, Pak Budi, Bu Panti, Pak Jacob, Mbak Nur, yang telah
membantu memberikan data pendukung.
4. Bapak, ibu, dan keluarga besar di Klaten, atas segala doa dan dukungan yang
telah diberikan.
5. Suamiku tercinta dan anakku tersayang, atas kesabaran dan dukungannya yang
setiap saat membantu penulis.
6. Semua pihak yang telah mendukung terselesaikannya skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan semua
pihak yang memerlukannya.

Bogor, November 2010



Triana Rachmaningsih
H14104519
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xii
I. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 5
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................ 6
1.4. Manfaat Penelitian .............................................................................. 7
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ...................... 8
2.1. Tinjauan Pustaka................................................................................. 8
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ............................. 8
2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi .................................................. 11
2.1.3. Teori Pembangunan Ekonomi ................................................ 12
2.1.4. Teori Ketimpangan ................................................................. 13
2.1.5. Tinjauan Penelitian Terdahulu ................................................ 15
2.2. Kerangka Pemikiran ........................................................................... 22
III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................................... 24
3.1. Jenis dan Sumber Data ....................................................................... 24
3.2. Metode Analisis .................................................................................. 24
3.2.1. Analisis Deskriptif .................................................................. 24
3.2.2. Analisis Ketimpangan ............................................................. 26
3.2.3. Tipologi Klassen ..................................................................... 30
3.2.4. Teori Kurva U Terbalik Kuznets ............................................ 31
IV. GAMBARAN UMUM PULAU JAWA ...................................................... 33
4.1. Keadaan Geografis dan Administratif Pulau Jawa ............................. 33
4.2. Keragaan Perekonomian Pulau Jawa .................................................. 34
4.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ............................. 34
ix

4.2.2. PDRB per Kapita .................................................................... 35


4.2.3. Laju Pertumbuhan ................................................................... 36
4.2.4. Struktur Ekonomi .................................................................... 37
4.3. Jumlah Penduduk Pulau Jawa ............................................................ 40
4.4. Keadaan Sosial Pulau Jawa ................................................................ 41
V. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 43
5.1. Analisis Ketimpangan......................................................................... 43
5.1.1. Indeks Williamson antarprovinsi di Pulau Jawa ..................... 43
5.1.2. Indeks Williamson antarkabupaten/kota di Pulau Jawa ........ 45
5.1.3. Indeks Theil ........................................................................... 46
5.1.4. Kriteria Bank Dunia ................................................................ 50
5.2. Tipologi Klassen ................................................................................. 52
5.2.1. Klasifikasi Berdasarkan Provinsi ............................................ 52
5.2.2. Klasifikasi Berdasarkan Kabupaten/Kota ............................... 54
5.3. Hipotesis Kuznets ............................................................................... 59
VI. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 63
6.1. Kesimpulan ......................................................................................... 63
6.2. Saran ................................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 65
LAMPIRAN ........................................................................................................ 68




DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1.1. Share PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2001-2008 .... 3
3.1. Daftar Variabel yang Digunakan dalam Penelitian ........................... 24
3.2. Klasifikasi menurut Tipologi Klassen ............................................... 31
4.1. Pembagian Administratif Pulau Jawa ............................................... 33
4.2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Pulau Jawa Tahun
2001- 2008 .......................................................................................... 34
4.3. PDRB per Kapita Pulau Jawa Menurut Provinsi Tahun 2001-2008 . 36
4.4. Laju Pertumbuhan PDRB Riil Pulau Jawa Berdasarkan Provinsi
Tahun 2001-2008 .............................................................................. 37
4.5. Struktur Ekonomi Pulau Jawa Tahun 2001-2008 ............................. 38
4.6. Persentase Penduduk Miskin di Pulau Jawa Tahun 2001-2008 ........ 42
5.1. Indeks Ketimpangan Williamson berdasarkan PDRB Provinsi
Tahun 2001-2008 .............................................................................. 43
5.2. Indeks Ketimpangan Williamson berdasarkan PDRB
Kabupaten/Kota Tahun 2001-2008 ................................................... 45
5.3. Indeks Theil Jawa Tahun 2001-2008 ................................................ 47
5.4. Indeks Theil Jawa Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001-2008 ................. 48
5.5. Ketimpangan dalam Provinsi Pulau Jawa Tanpa DKI Jakarta
Tahun 2001-2008 .............................................................................. 49
5.6. Distribusi Pembagian Pengeluaran per Kapita Pulau Jawa Tahun
2001-2007 ......................................................................................... 51
5.7. Tipologi Klassen Kabupaten/Kota Tahun 2001-2008....................... 54
5.8. Tipologi Klassen Kabupaten/Kota Tanpa DKI Jakarta Tahun
2001-2008 ......................................................................................... 57


DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1.1. PDRB per Kapita menurut Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2001-2008 5
2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ............................................................ 23
3.1. Kurva U Terbalik Kuznets ................................................................... 32
5.1. Tipologi Klassen Jawa Tahun 2001-2008 ............................................ 52
5.2. Tipologi Klassen Jawa Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001-2008 ............ 53
5.3. Kurva Kuznets Jawa dengan Indeks Williamson Tahun 2001-2008 ... 60
5.4. Kurva Kuznets Jawa dengan Indeks Theil Tahun 2001-2008 ....................... 61

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Pulau Jawa Tahun
2001-2008 ............................................................................................. 69
2. Jumlah Penduduk Pulau Jawa Tahun 2001-2008 ................................. 73

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada hakekatnya pembangunan ekonomi harus mencerminkan perubahan
total suatu masyarakat secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman
kebutuhan individu maupun kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya
untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik. Oleh
karena itu dalam pelaksanaan pembangunan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi
menjadi sasaran utama. Syarat utama bagi pembangunan ekonomi adalah bahwa
proses pertumbuhannya harus bertumpu pada kemampuan perekonomian dalam
negeri. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama suatu periode tertentu tidak
terlepas dari perkembangan masing-masing sektor atau subsektor yang ikut
membentuk nilai tambah perekonomian suatu daerah.
Salah satu yang mempengaruhi pola pembangunan ekonomi di Indonesia
adalah karakteristik wilayahnya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri
dari 17.508 pulau, 33 provinsi, 497 kabupaten/kota, 6.651 kecamatan, dan 77.126
desa adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari oleh Indonesia, sehingga tidak
mengherankan jika pembangunan ekonomi di Indonesia tidak seragam. Beberapa
daerah mencapai pertumbuhan yang cepat, sementara beberapa daerah mengalami
pertumbuhan yang lambat. Selanjutnya, perbedaan kemampuan untuk tumbuh ini
akan mengakibatkan terjadinya ketimpangan pendapatan antardaerah.
2

Masalah ketimpangan antardaerah ini menjadi perhatian utama di negara-


negara berkembang yang sedang memacu pembangunan ekonomi. Hal ini
disebabkan karena adanya kecenderungan bahwa kebijakan pembangunan yang
mengutamakan pertumbuhan ekonomi telah menimbulkan semakin tingginya
tingkat ketimpangan yang terjadi. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh
Kuznets dalam Todaro dan Smith (2006) bahwa pada tahap pembangunan yang
masih awal terdapat pertentangan antara pertumbuhan dan pemerataan. Semakin
tinggi usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi, semakin memburuk pula
tingkat kesejahteraan. Dengan kata lain, antara pertumbuhan ekonomi dan
distribusi pendapatan terjadi trade-off, dimana pertumbuhan ekonomi yang pesat
akan meningkatkan ketimpangan pendapatan.
Pada awalnya pemerintah memusatkan pembangunan hanya di sektor-
sektor tertentu yang secara potensial dapat menyumbangkan nilai tambah yang
besar dalam waktu yang tidak panjang. Pemusatan pembangunan ini didapatkan
di Jawa terutama Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya
kepercayaan penuh terhadap trickle down effect dimana kemajuan pembangunan
akan menetes dengan sendiri sehingga menciptakan lapangan pekerjaan dan
berbagai peluang ekonomi yang pada akhirnya akan menumbuhkan berbagai
kondisi yang diperlukan demi terciptanya distribusi hasil-hasil pertumbuhan
ekonomi dan sosial secara lebih merata (Todaro dan Smith, 2006). Akan tetapi,
efek cucuran ke bawah tersebut tidak terjadi atau prosesnya lambat. Sebagai
hasilnya, pesatnya pembangunan ternyata masih meninggalkan dominasi pusat-
pusat pertumbuhan di Jawa atau Jakarta.
3

Seringkali dalam pembicaraan mengenai ketimpangan antardaerah


mengacu pada persoalan dikotomi Jawa dan luar Jawa. Sementara, sebenarnya di
Jawa maupun luar Jawa sendiri pun terdapat kemungkinan terjadinya ketimpangan
antardaerah. Akar ketimpangan di luar Jawa lebih bersumber pada potensi sumber
daya alam yang belum dimanfaatkan secara langsung untuk keperluan akumulasi
modal produksi. Sedangkan ketimpangan antardaerah di Pulau Jawa lebih
bersumber pada keterbatasan sumber daya, keterbatasan tanah dan sebagainya.
Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perekonomian suatu
daerah adalah dengan melihat besarnya Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Pada Tabel 1.1 terlihat bahwa Pulau Jawa memberikan kontribusi
terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dibandingkan pulau-
pulau yang lain. Sedangkan jika dilihat dari level provinsi, tiga provinsi
penyumbang terbesar PDB ada di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, dan
Jawa Barat.
Tabel 1.1. Share PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2001-2008 (%)
PULAU 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Sumatera 21,88 21,74 21,59 21,34 21,87 21,88 21,74 21,59
Jawa 60,25 60,54 60,71 60,78 59,91 60,25 60,54 60,71
Bali dan NT 2,71 2,70 2,68 2,72 2,73 2,71 2,70 2,68
Kalimantan 9,04 8,85 8,82 8,72 9,16 9,04 8,85 8,82
Sulawesi 4,45 4,50 4,59 4,69 4,38 4,45 4,50 4,59
Maluku dan Papua 1,67 1,66 1,61 1,76 1,95 1,67 1,66 1,61
Sumber: PDRB Provinsi 2001-2008, BPS (Diolah)

Menurut Chrisyanto (2006) terjadinya ketimpangan antardaerah di Pulau
Jawa disebabkan oleh tingginya pendapatan per kapita DKI Jakarta, sedangkan
terjadinya ketimpangan ekonomi antardaerah di luar Jawa disebabkan oleh
tingginya pendapatan per kapita di Kalimantan Timur. DKI Jakarta merupakan
4

pusat pemerintahan dan perekonomian sehingga mempunyai peranan yang besar


terhadap pembangunan ekonomi Indonesia khususnya Pulau Jawa. Di satu sisi
perekonomian Pulau Jawa ditopang oleh DKI Jakarta, namun di sisi lain terdapat
17 kabupaten di Pulau Jawa yang pada RPJM Nasional 2005-2009 dinyatakan
sebagai daerah tertinggal. Adapun 17 kabupaten yang dinyatakan sebagai daerah
tertinggal oleh Kementrian negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT)
tersebut antara lain Sukabumi, Garut, Banjarnegara, Wonogiri, Rembang, Kulon
Progo, Gunung Kidul, Pacitan, Trenggalek, Situbondo, Bondowoso, Madiun,
Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Pandeglang, dan Lebak.
Ketimpangan antara pusat dan daerah telah memacu lahirnya kebijakan
otonomi daerah yang efektif berjalan sejak 1 Januari 2001 sehingga paradigma
pembangunan di Indonesia telah bergeser dari model pembangunan yang
sentralistik menjadi model pembangunan yang desentralistik. Dengan berlakunya
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang
direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang
direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, memberikan akses yang
lebih luas terhadap pengelolaan sumber daya alam dan kebijakan pembangunan
yang sesuai dengan harapan masing-masing daerah. Pelaksanaan otonomi daerah
diwujudkan dengan pelimpahan kewenangan kepada tingkat pemerintahan di
bawahnya untuk melakukan pembelanjaan dan kewenangan untuk memungut
pajak, membentuk dewan yang dipilih oleh rakyat, kepala daerah yang dipilih oleh
DPRD dan adanya bantuan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat.
5

1.2. Perumusan Masalah


Sebagaimana telah dijelaskan pada uraian sebelumnya, ketimpangan
dalam pembanguan ekonomi tidak hanya terjadi antara Pulau Jawa dengan luar
Pulau Jawa, melainkan juga terjadi di dalam kawasan itu sendiri. Pulau Jawa yang
merupakan penyumbang PDB terbesar pun masih mempunyai ketimpangan antar
provinsi yang cukup besar, hal ini dapat dilihat dari nilai PDRB per kapita
provinsi di Pulau Jawa.

Sumber: BPS (Diolah)
Gambar 1.1. PDRB per Kapita menurut Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2001-2008
(Juta Rupiah)
28.15181
29.26970
30.51142
31.83221
33.32481
34.90116
36.73318
38.67123
5.54947
5.64198
5.75608
5.95696
6.23332
6.49454
6.79858
7.09169
3.73805
3.84257
4.01445
4.17266
4.47343
4.68258
4.91380
5.14278
4.47027
4.63804
4.78305
5.00895
5.05761
5.17472
5.32576
5.53811
5.90594
6.07987
6.31058
6.63972
7.06378
7.41272
7.80078
8.22008
5.81130
5.89424
5.77348
6.01180
6.43572
6.65033
6.90271
7.16514
.000 10.000 20.000 30.000 40.000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
BANTEN
JAWATIMUR
DIYOGYAKARTA
JAWATENGAH
JAWABARAT
DKIJAKARTA
6

Gambar 1.1 menunjukkan bahwa PDRB per kapita provinsi-provinsi di


pulau Jawa mempunyai perbedaan yang signifikan. Nilai PDRB per kapita DKI
Jakarta jauh diatas rata-rata dibandingkan dengan provinsi lainnya. Tingginya
nilai PDRB per kapita DKI Jakarta mengindikasikan adanya ketimpangan
antarprovinsi di Jawa. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan
oleh Bhakti (2004) yang mengatakan bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan
basis ekonomi yang sangat kuat dan luas jangkauannya, terutama di sektor jasa,
sehingga mempunyai peran yang sangat penting dan strategis terhadap
perekonomian yang luas terutama terhadap terjadinya ketimpangan antardaerah di
Pulau Jawa.
Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan
sebagai berikut:
1) Seberapa besar tingkat ketimpangan antarprovinsi dan antarkabupaten/kota di
Pulau Jawa.
2) Bagaimana klasifikasi provinsi dan kabupaten/kota di Pulau Jawa
berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapitanya.
3) Bagaimana trend ketimpangan antardaerah di Pulau Jawa.
4) Bagaimana hubungan antara PDRB per kapita dengan indeks ketimpangan di
Jawa menurut teori Kuznets.

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, penelitian ini
bertujuan untuk:
7

1) Menganalisis tingkat ketimpangan antarprovinsi dan antarkabupaten/kota di


Pulau Jawa.
2) Mengklasifikasikan provinsi dan kabupaten/kota di Pulau Jawa berdasarkan
tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapitanya.
3) Menganalisis trend ketimpangan antardaerah di Pulau Jawa.
4) Menganalisis hubungan PDRB per kapita dengan indeks ketimpangan sesuai
dengan teori Kuznets.

1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain:
1) Bagi penulis dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang
selama ini dimiliki.
2) Bagi pembaca dan pemerhati dapat memberikan informasi dan gambaran
mengenai kondisi ketimpangan ekonomi di Pulau Jawa.
3) Bagi pemerintah dan instansi terkait dapat memberikan bahan pertimbangan
dan masukan sebagai pengambil kebijakan dalam menyusun rencana-rencana
atau strategi pembangunan daerah dalam rangka mendorong pertumbuhan
ekonomi dan kesejahteraan suatu wilayah.
4) Bagi peneliti dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan (referensi) untuk
penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB merupakan nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang
diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu (Mankiw, 2007).
Struktur PDRB dapat berbeda-beda tergantung dari sudut mana suatu
perekonomian ditinjau, antara lain (BPS, 2000):
a. PDRB menurut Lapangan Usaha
PDRB menurut lapangan usaha akan memberikan gambaran mengenai
peranan masing-masing sektor dalam menciptakan nilai tambah di daerah
tersebut. Untuk itu unit-unit produksi dikelompokkan menurut lapangan usaha
(sektor) kemudian disajikan nilai tambah bruto atas dasar harga pasar dari masing-
masing sektor tersebut.
PDRB menurut lapangan usaha dikelompokkan dalam sembilan sektor.
1) Pertanian (tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan
perikanan)
2) Pertambangan dan penggalian
3) Industri pengolahan
4) Listrik, gas, dan air minum
5) Konstruksi
6) Perdagangan, hotel dan restoran
9

7) Pengangkutan dan komunikasi


8) Keuangan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan
9) Jasa-jasa
Untuk tujuan penyederhanaan sembilan sektor tersebut dikelompokkan
dalam sektor primer, sekunder, dan tersier. Sektor primer terdiri atas pertanian dan
pertambangan, sektor sekunder terdiri atas industri pengolahan, listrik, dan
konstruksi, sedangkan sektor tersier terdiri dari perdagangan, pengangkutan,
keuangan, dan jasa-jasa.
b. PDRB menurut Andilnya Faktor Produksi
PDRB menurut andilnya faktor produksi dihitung menurut besarnya
balas jasa yang diterima oleh masing-masing faktor produksi. Balas jasa faktor
produksi tersebut adalah upah, pendapatan dari unit-unit produksi yang tidak
berbadan hukum, sewa tanah dan royalti, bunga, dan laba.
c. PDRB menurut Jenis Penggunaan Produk Akhir
Penyajian PDRB dalam bentuk ini menggambarkan bagaimana
penggunaan dari barang dan jasa akhir oleh berbagai kegiatan ekonomi. Dengan
kata lain, PDRB merupakan jumlah dari empat kelompok pengeluaran yaitu
konsumsi, investasi, pembelian pemerintah, dan ekspor neto (Mankiw, 2007). Jika
dituliskan ke dalam suatu formula, dimana PDRB disimbolkan dengan Y, maka
Y = C + I + G + NX (2.1)
Konsumsi (C) terdiri barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Konsumsi
dibagi menjadi tiga subkelompok yaitu barang tidak tahan lama, barang tahan
lama, dan jasa.
10

Investasi (I) terdiri dari barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa
depan.
Pembelian pemerintah (G) adalah barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah
pusat, negara bagian, dan daerah. Kelompok ini meliputi peralatan militer,
jalan layang, dan jasa yang diberikan pegawai pemerintah.
Ekspor neto (NX) memperhitungkan perdagangan dengan negara lain. Ekspor
neto adalah nilai barang dan jasa yang diekspor ke negara lain dikurangi nilai
barang dan jasa yang diimpor dari negara lain.
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menunjukkan pendapatan
yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta menggambarkan nilai
tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun.
PDRB ADHB ini digunakan untuk melihat struktur ekonomi pada suatu tahun.
Perkembangan PDRB ADHB dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan
yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa
yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya. Oleh karenanya untuk
dapat mengukur perubahan volume produksi atau perkembangan produktivitas
secara nyata, faktor pengaruh atas perubahan harga perlu dihilangkan dengan cara
menghitung PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).
Penghitungan atas dasar harga konstan ini berguna antara lain dalam
perencanaan ekonomi, proyeksi dan untuk menilai pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan maupun sektoral. PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga
konstan apabila dikaitkan dengan data mengenai tenaga kerja dan barang modal
11

yang dipakai dalam proses produksi, dapat memberikan gambaran tentang tingkat
produktivitas dan kapasitas produksi dari masing-masing lapangan usaha tersebut.
PDRB per kapita merupakan gambaran nilai tambah yang bisa
diciptakan oleh masing-masing penduduk akibat dari adanya aktivitas produksi.
Nilai PDRB per kapita didapatkan dari hasil bagi antara total PDRB dengan
jumlah penduduk pertengahan tahun. PDRB per kapita sering digunakan untuk
mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah. Apabila data tersebut
disajikan secara berkala akan menunjukkan adanya perubahan kemakmuran.
Menurut Jhingan (2010), kenaikan pendapatan per kapita dapat tidak
menaikkan standar hidup riil masyarakat apabila pendapatan per kapita meningkat
akan tetapi konsumsi per kapita turun. Hal ini disebabkan kenaikan pendapatan
tersebut hanya dinikmati oleh beberapa orang kaya dan tidak oleh banyak orang
miskin. Di samping itu, rakyat mungkin meningkatkan tingkat tabungan mereka
atau bahkan pemerintah sendiri menghabiskan pendapatan yang meningkat itu
untuk keperluan militer atau keperluan lain.

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu ukuran kuantitatif yang
menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu
apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Sukirno, 2007). Perkembangan
tersebut dinyatakan dalam bentuk persentase perubahan PDRB pada suatu tahun
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
12

Ada tiga komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap


bangsa (Todaro dan Smith, 2006):
1). Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang
ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.
2). Pertumbuhan penduduk yang pada tahun-tahun berikutnya akan
memperbanyak jumlah angkatan kerja.
3). Kemajuan teknologi.
Pertumbuhan ekonomi belum tentu melahirkan pembangunan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan (pendapatan) masyarakat. Hal tersebut disebabkan
karena bersamaan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi akan berlaku pula
pertambahan penduduk. Apabila tingkat pertumbuhan ekonomi selalu rendah dan
tidak melebihi tingkat pertambahan penduduk, pendapatan rata-rata masyarakat
(pendapatan per kapita) akan mengalami penurunan. Sedangkan apabila dalam
jangka panjang pertumbuhan ekonomi sama dengan pertambahan penduduk, maka
perekonomian negara tersebut tidak mengalami perkembangan (stagnan) dan
tingkat kemakmuran masyarakat tidak mengalami kemajuan. Dengan demikian,
salah satu syarat penting yang akan mewujudkan pembangunan ekonomi adalah
tingkat pertumbuhan ekonomi harus melebihi tingkat pertambahan penduduk
(Sukirno, 2007).

2.1.3. Teori Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses multidimensional yang
mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktural sosial, sikap-sikap
13

masyarakat, dan institusi-institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi


pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan
kemiskinan (Todaro dan Smith, 2006). Jadi, pembangunan ekonomi dan
pertumbuhan ekonomi adalah dua hal yang berbeda. Suatu negara dikatakan
mengalami pertumbuhan ekonomi jika di negara tersebut terdapat lebih banyak
output dibandingkan dengan kurun waktu sebelumnya. Sedangkan suatu negara
dikatakan mengalami adanya pembangunan jika mengalami pertumbuhan
sekaligus juga terdapat perubahan dalam kelembagaan, pengetahuan, dan
pengurangan ketidakmerataan pendapatan. Jadi, pertumbuhan ekonomi adalah
bagian dari pembangunan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi adalah salah
satu tolak ukur keberhasilan pembangunan ekonomi.

2.1.4. Teori Ketimpangan
Menurut Kuncoro (2003), ketimpangan mengacu pada standar hidup
relatif dari seluruh masyarakat. Ketimpangan antardaerah disebabkan karena
adanya perbedaan faktor anugerah awal. Perbedaan inilah yang menyebabkan
kemampuan suatu daerah dalam mendorong proses pembangunan di berbagai
wilayah berbeda-beda. Terjadinya ketimpangan antardaerah ini membawa
implikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat antardaerah yang pada
akhirnya menyebabkan ketimpangan pendapatan. Karena itu, aspek ketimpangan
pembangunan antardaerah ini juga mempunyai implikasi terhadap formulasi
kebijakan wilayah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
14

Menurut Emilia dan Imelia (2006), faktor-faktor penyebab ketimpangan


pembangunan ekonomi antara lain:
a. Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah; ekonomi dari daerah dengan
konsentrasi tinggi cenderung tumbuh pesat dibandingkan dengan daerah yang
tingkat konsentrasi ekonomi rendah
b. Alokasi investasi; rendahnya investasi disuatu wilayah membuat pertumbuhan
ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat per kapita di wilayah tersebut
rendah karena tidak ada kegiatan kegiatan ekonomi yang produktif.
c. Tingkat mobilitas faktor produksi yang rendah antardaerah; kurang lancarnya
mobilitas faktor produksi seperti tenaga kerja dan kapital antar propinsi
merupakan penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi regional.
d. Perbedaan sumber daya alam antarwilayah; pembangunan ekonomi di daerah
yang kaya sumber daya alam akan lebih maju dan masyarakatnya lebih
makmur dibandingkan di daerah yang miskin sumber daya alam.
e. Perbedaan kondisi demografis antarwilayah; jumlah populasi yang besar
dengan pendidikan dan kesehatan yang baik, disiplin yang tinggi, etos kerja
tinggi merupakan aset penting bagi produksi.
f. Kurang lancarnya perdagangan antarwilayah; tidak lancarnya arus barang dan
jasa antardaerah mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi
suatu wilayah melalui sisi permintaan dan sisi penawaran.
Perbedaaan kemajuan antardaerah berarti tidak samanya kemampuan
untuk tumbuh sehingga yang timbul adalah ketidakmerataan. Kuznets
menempatkan pemerataan dan pertumbuhan pada posisi yang dikotomis dengan
15

mengemukakan hipotesis Kurva U Terbalik. Hipotesis ini dihasilkan melalui


kajian empiris terhadap pola pertumbuhan ekonomi terhadap trade off antara
pertumbuhan dan pemerataan. Seiring dengan kemajuan pembangunan ekonomi
maka setelah mencapai tahap tertentu trade off tersebut akan menghilang diganti
dengan hubungan korelasi positif antara pertumbuhan dan pemerataan.
Proses trade off ini, terjadi di negara sedang berkembang, dimana pada
saat proses pembangunan dilaksanakan, ketimpangan semakin meningkat. Hal ini
disebabkan karena pada waktu proses pembangunan baru dimulai di negara
sedang berkembang, kesempatan dan peluang pembangunan yang ada pada
umumnya dimanfaatkan oleh daerah-daerah yang kondisi pembangunannya sudah
lebih baik. Sedangkan daerah-daerah yang masih sangat terbelakang tidak mampu
memanfaatkan peluang ini karena keterbatasan prasarana dan saran serta
rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hambatan ini tidak saja disebabkan
oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh faktor sosial budaya sehingga akibatnya
ketimpangan pembangunan antardaerah cenderung meningkat karena
pertumbuhan ekonomi cenderung lebih cepat di daerah dengan kondisinya lebih
baik, sedangkan daerah yang terbelakang tidak banyak mengalami kemajuan
(Sjafrizal, 2008).

2.1.5. Tinjauan Penelitian Terdahulu
LIPI (2000) dalam penelitiannya yang berjudul Kajian Ketimpangan
Jawa dan Luar Jawa menggunakan analisis deskriptif untuk mengkaji tentang
perkembangan penduduk, tenaga kerja, struktur ekonomi, keterbukaan ekonomi
16

wilayah, investasi, dan pola pertumbuhan di Jawa dan Luar Jawa. Hasil penelitian
menyebutkan bahwa proporsi penduduk miskin, pendapatan per kapita, dan
tingkat keterbukaan ekonomi di Jawa lebih tinggi dibanding luar Jawa. Struktur
ekonomi luar Jawa didominasi oleh sektor primer, sedangkan di Jawa sektor
sekunder dan tersier yang lebih menonjol. Di bidang investasi, sebelum krisis
tahun 1998, luar Jawa lebih diminati oleh PMDN, sedangkan Jawa lebih diminati
oleh PMA.
Bhinadi (2002) melakukan penelitian yang berjudul Disparitas
Pertumbuhan Ekonomi Jawa dengan Luar Jawa. Analisis yang digunakan adalah
analisis regresi data panel. Dengan PDRB migas riil, didapatkan bahwa nilai
efisiensi atau produktifitas faktor total Jawa lebih rendah daripada luar Jawa.
Sedangkan dengan PDRB non migas riil, didapatkan bahwa nilai efisiensi atau
produktifitas faktor total Jawa lebih tinggi daripada luar Jawa.
Sutarno dan Kuncoro (2003) melakukan penelitan dengan mengambil
judul Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan antar Kecamatan: Kasus
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan Tipologi
Daerah, Indeks Williamson, Indeks Entropy Theil, hipotesis Kuznets dan korelasi
pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam periode pengamatan 1993-
2000, terjadi kecenderungan peningkatan ketimpangan, baik di analisis dengan
Indeks Williamson maupun dengan Indeks Entropy Theil. Berdasarkan tipologi
daerah, daerah/kecamatan di Kabupaten Banyumas dapat diklasifikasikan menjadi
empat kelompok daerah yang cepat maju dan cepat tumbuh, daerah maju tapi
tertekan, daerah yang berkembang cepat, dan daerah yang relatif tertinggal. Dalam
17

penelitian ini hipotesis kurva U-terbaliknya Kuznets berlaku di Kabupaten


Banyumas. Sedangkan berdasarkan perhitungan analisis korelasi Pearson antara
pertumbuhan PDRB dengan Indeks Williamson dan Indeks Entropy Theil,
didapatkan bahwa ada korelasi yang kurang kuat.
Bhakti (2004) melakukan penelitian yang berjudul Kesenjangan
Antardaerah Di Pulau Jawa Ditinjau Dari Perspektif Sektoral Dan Regional. Alat
analisis yang digunakan adalah Indeks Williamson dan Theil Inequality. Hasil
penelitian mengatakan bahwa tahun 1983-2001 masih terjadi kesenjangan
antardaerah di Pulau Jawa dan mengalami trend kesenjangan antardaerah yang
relatif menaik. Kondisi ini dipicu pula oleh peningkatan besamya kontribusi
sektor industri yang mampu mendorong terciptanya peran pada sektor jasa di
Pulau Jawa (derived demand). Secara empiris terbukti, bahwa di Pulau Jawa
telah terjadi transformasi stuktural. Kesenjangan antardaerah pasca pemekaran
wilayah di Pulau Jawa cenderung naik.
Khusaini (2004) melakukan penelitian dengan judul Analisis Disparitas
Antar Daerah Kabupaten/Kota dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Regional di Provinsi Banten. Dalam penelitiannya menggunakan Indeks
Williamson untuk mengukur ketimpangan dan model regresi persamaan tunggal
untuk mengetahui dampak kesenjangan dan variabel lain terhadap pertumbuhan
regional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Indeks Williamson
ketimpangan tertinggi di Kota Cilegon pada tahun 2003, dan yang terendah di
Kota Tangerang pada tahun 2002. Sedangkan hasil estimasi menunjukkan variabel
aglomerasi dan kapital berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi regional.
18

Sedangkan variabel tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan


ekonomi regional.
Caska dan Riadi (2005) melakukan penelitian yang berjudul
Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Antar Daerah di
Provinsi Riau. Analisis data yang digunakan antara lain analisis Tipologi
Klassen, Indeks Williamson, Indeks Entropi Theil, dan kurva U terbalik. Selama
periode pengamatan 2003-2005, terjadi ketimpangan pembangunan yang
tidak cukup signifikan berdasarkan Indeks Williamson. Sedangkan menurut
Indeks entropi Theil, ketimpangan pembangunan boleh dikatakan kecil yang
berarti masih terjadinya pemerataan pembangunan setiap tahunnya selama
periode pengamatan. Sebagai akibatnya hipotesis Kuznets tentang kurva U
terbalik tidak terbukti di Provinsi Riau.
Wijayanto (2005) dalam penelitiannya yang berjudul Pertumbuhan
Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Daerah Di Kabupaten Semarang (Tahun
1999-2003), menggunakan teknik perhitungan LQ, shift share dan Indeks
Williamson. Hasil penelitian mengatakan bahwa sektor unggulan di Semarang
yaitu sektor industri, sektor listrik, gas, dan air, sektor lembaga keuangan dan
persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Dengan perhitungan Indeks
Williamson dengan dan tanpa mengikutkan sektor industri dapat diketahui bahwa
sektor industri merupakan faktor penyebab terjadinya ketimpangan.
Chrisyanto (2006) juga melakukan penelitian yang berjudul Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Ketimpangan Perekonomian Antar Daerah Di
Indonesia. Untuk menganalisis ketimpangan digunakan Indeks Williamson dan
19

untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan digunakan


analisis regresi linier berganda. Dari hasil analisis ditemukan bahwa terjadinya
ketimpangan ekonomi antardaerah disebabkan oleh tingginya pendapatan per
kapita DKI Jakarta yang menyebabkan ketimpangan di Pulau Jawa dan tingginya
pendapatan perkapita di Kalimantan Timur yang menyebabkan ketimpangan di
luar Jawa.
Saskara (2007) dalam penelitiannya yang berjudul Kesenjangan
Pembangunan Ekonomi Antar Daerah Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali,
menggunakan koefisien disparitas yang sudah dimodifikasi oleh Setyarini (1999).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karangasem merupakan kabupaten yang
memiliki kesenjangan yang paling lebar. Sedangkan kabupaten Badung dan Kota
Denpasar memiliki pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi dan berada di atas
pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali.
Hartono (2008) dengan penelitiannya yang berjudul Analisis
Ketimpangan Pembangunan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah, menggunakan
alat analisis Indeks Williamson dan analisis regresi linier sederhana. Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa ketimpangan pembangunan ekonomi di
Provinsi Jawa Tengah yang diukur dengan Indeks Williamson dalam kurun waktu
1981 sampai dengan 2005 cenderung relatif meningkat. Berdasarkan analisis
regresi linier, diketahui bahwa variabel investasi swasta per kapita dan rasio
angkatan kerja berpengaruh negatif terhadap ketimpangan. Sedangkan alokasi
dana pembangunan per kapita berpengaruh positif terhadap ketimpangan.
20

Prasetyo (2008) melakukan penelitian dengan judul Ketimpangan dan


Dampak Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Kawasan Barat
Indonesia. Beberapa alat analisis yang digunakan antara lain Indeks Williamson,
Tipologi Klassen, analisis location quotient, dan analisis regresi data panel.
Ketimpangan ekonomi di wilayah KBI dari tahun 1995-2007 cukup besar.
Ketimpangan tertinggi terjadi pada tahun 2000 tepat pada saat awal-awal mulai
diberlakukannya otonomi daerah. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kesiapan
masing-masing daerah dalam menghadapi otonomi daerah. Dengan model fixed
effect ditemukan bahwa infrastruktur panjang jalan, listrik, dan air bersih
mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan juga pendapatan
per kapita.
Priyanto (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis
Ketimpangan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Provinsi Banten, menggunakan alat analisis berupa Indeks Williamson, Tipologi
Klassen, analisis regresi data panel. Berdasarkan Indeks Williamson diketahui
bahwa pada tahun 2001-2008 di Provinsi Banten terjadi ketimpangan antar
kabupaten/kota yang meningkat. Sedangkan menurut tipologi klassen hanya Kota
Tangerang dan Kota Cilegon yang termasuk daerah maju dan cepat tumbuh. Hasil
analisis regresi menunjukkan bahwa belanja modal, angkatan kerja berpengaruh
nyata positif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun angka melek huruf tidak
signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.
Bhakti (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Ketimpangan
Pendapatan Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebelum dan Selama
21

Desentralisasi menggunakan Tipologi Klassen, Indeks Williamson, dan Indeks


Theil dalam analisisnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketimpangan
selama desentralisasi relatif meningkat. Hal ini diduga lebih terkait dengan adanya
pemekaran wilayah, karena pada analisis yang tergabung dengan kabupaten
induknya, ketimpangannya tidak meningkat.
Masli (2009) dalam jurnal penelitiannya yang berjudul Analisis Faktor-
faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional
antar Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat menggunakan Indeks Williamson,
Indeks Entropi Theil, dan Tipologi Klassen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mengalami fluktuasi dan menunjukkan arah
negatif jika dibandingkan pada awal penelitian. Menurut tipologi klassen, pada
umumnya kabupaten/kota di Jawa Barat termasuk klasifikasi daerah relatif
tertinggal. Sedangkan menurut Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil
ketimpangan antarkabupaten/kota meningkat.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini bermaksud
menganalisis ketimpangan antardaerah di Jawa selama kurun waktu 2001-2008.
Dalam analisis ini dilakukan penghitungan sampai dengan level kabupaten/kota.
Untuk mengukur ketimpangan antardaerah digunakan alat analisis Indeks
Williamson dan Indeks Theil, dimana dalam analisis ini dibedakan antara Pulau
Jawa secara keseluruhan dengan Pulau Jawa tanpa DKI Jakarta. Penelitian ini
menggunakan kriteria bank dunia untuk menganalisis ketimpangan pendapatan
masyarakat sebagai pendukung terhadap ketimpangan antardaerah. Tipologi
Klassen digunakan untuk mengklasifikasi daerah berdasarkan laju pertumbuhan
22

ekonomi dan PDRB per kapita. Dalam penelitian ini juga akan dianalisis
hubungan antara indeks ketimpangan dengan PDRB per kapita apakah sesuai
dengan teori kurva U terbalik Kuznets atau tidak. Data yang digunakan antara
lain data PDRB, jumlah penduduk, dan data pendukung lainnya.

2.2. Kerangka Pemikiran
Salah satu penyebab ketimpangan antardaerah adalah adanya perbedaan
potensi dan sumber daya dari masing-masing daerah. Beberapa studi mengatakan
bahwa terpusatnya pembangunan nasional di Jawa, khususnya di DKI Jakarta
sebagai ibukota negara, juga menjadi penyebab terjadinya ketimpangan di Jawa.
Adanya kepercayaan penuh terhadap mekanisme trickle down effect dimana
diharapkan pertumbuhan ekonomi menetes dengan sendiri ternyata berjalan
lambat. Akibatnya pembangunan ekonomi hanya terpusat di suatu daerah yang
kuat potensinya. Oleh karena itu, penelitian ini ingin menganalisis seberapa besar
ketimpangan pembangunan antardaerah di Jawa itu terjadi.
Penelitian ini menggunakan Indeks Williamson dan Indeks Theil untuk
mengukur ketimpangan antarprovinsi maupun antarkabupaten/kota di Jawa.
Sebagai pendukung, penelitian ini juga menggunakan kriteria bank dunia untuk
menganalisis ketimpangan pendapatan masyarakat. Selanjutnya, dari hasil
perhitungan ketimpangan, akan dianalisis trend ketimpangan yang terjadi di Pulau
Jawa. Tipologi klassen digunakan untuk memberikan gambaran klasifikasi daerah
di Jawa berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita. Dalam
penelitian ini juga akan dianalisis hubungan antara PDRB per kapita dengan
23

indeks ketimpangan Jawa sesuai dengan hipotesis Kuznets mengenai kurva U


terbalik. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan bisa memberikan rekomendasi
kebijakan bagi pemerintah dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi disertai
dengan pemerataan (growth with equity).
Untuk memudahkan dalam mencermati alur pemikiran mengenai
penelitian ini, maka alur kerangka pemikiran penelitian dijelaskan pada Gambar
2.1.


Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Ketimpangan pembangunan antardaerah di Pulau Jawa
Pembangunan nasional terpusat di Jawa, khususnya Jakarta.
Ada perbedaan potensi daerah, termasuk antar daerah di Jawa.
Mekanisme trickle down effect lambat.
Berdasarkan studi sebelumnya, diduga terjadi ketimpangan
pendapatan antar daerah di Jawa.
Mendeskripsikan gambaran kondisi ekonomi di Pulau Jawa.
Mengukur dan menganalisis tingkat ketimpangan pendapatan di
Pulau Jawa.
Memberikan gambaran klasifikasi ketimpangan di Pulau Jawa.
Menganalisis trend ketimpangan di Pulau Jawa.
Indeks
Williamson
Tipologi
Klassen
Rekomendasi kebijakan peningkatan pertumbuhan
ekonomi disertai pemerataan (growth with equity)
Indeks Theil


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang meliputi Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dan harga konstan tahun 2000,
data jumlah penduduk provinsi dan kabupaten/kota, serta data-data pendukung
lainnya. Data yang digunakan ini berupa data deret waktu (series) dari tahun
2001-2008. Penjelasan lebih lengkap mengenai variabel yang digunakan dalam
penelitian ini ada dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Daftar Variabel yang Digunakan dalam Penelitian
No. Variabel Satuan Sumber
1. PDRB atas dasar harga berlaku Rupiah BPS
2. PDRB atas dasar harga konstan Rupiah BPS
3. Jumlah penduduk Jiwa BPS
4. Persentase penduduk miskin Persen BPS
5. Pengeluaran konsumsi rumah tangga Rupiah BPS

3.2. Metode Analisis
3.2.1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan
mendeskripsikan dan mempermudah penafsiran yang dilakukan dengan memberikan
pemaparan dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram. Oleh karena itu, analisis
deskriptif menyangkut berbagai macam aktivitas dan proses. Salah satu bentuk
25

analisisnya adalah kegiatan menyimpulkan data mentah dalam jumlah yang besar
sehingga hasilnya dapat ditafsirkan. Pengelompokkan atau pemisahan komponen
atau bagian yang relevan dari keseluruhan data, juga merupakan salah satu bentuk
analisis untuk menjadikan data mudah dikelola.
Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk memberikan suatu
gambaran secara umum mengenai kondisi dari Pulau Jawa dilihat dari kondisi
geografis, penduduk, ekonomi, maupun sosial. Variabel-variabel pembangunan
ekonomi yang ingin dijelaskan dalam penelitian ini adalah mengenai tingkat
pertumbuhan ekonomi.
Laju pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat diukur dengan
menggunakan laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).
Berikut ini adalah rumus untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi
(Sukirno, 2007):
G =
PDRB
1
-PDRB
0
PDRB
0
1uu% (3.1)
dimana:
G = Laju pertumbuhan ekonomi
PDRB
1
= PDRB pada suatu tahun
PDRB
0
= PDRB pada tahun sebelumnya
PDRB juga dapat digunakan dalam melihat struktur ekonomi dari suatu
wilayah. Struktur ekonomi digunakan untuk menunjukkan peran sektor-sektor
ekonomi dalam suatu perekonomian. Sektor yang dominan mempunyai
kedudukan paling atas dalam struktur tersebut dan akan menjadi ciri khas dari
suatu perekonomian. Struktur ekonomi merupakan rasio antara PDRB suatu
26

sektor ekonomi pada suatu tahun dengan total PDRB tahun yang sama. Struktur
ekonomi dinyatakan dalam persentase. Penghitungan struktur ekonomi adalah
sebagai berikut:
Struktur Ekonomi =
PDRB sektor i
t
Total PDRB
t
1uu% (3.2)

3.2.2. Analisis Ketimpangan
Sebagian masyarakat berpendapat bahwa suatu daerah memiliki
ketimpangan yang tinggi jika terdapat banyak orang miskin. Akan tetapi, ada juga
masyarakat yang berpendapat bahwa suatu daerah mengalami ketimpangan yang
tinggi jika ada sekelompok orang kaya di tengah-tengah masyarakat yang
umumnya masih miskin. Pendapat masyarakat tersebut lebih cenderung mengarah
ke distribusi pendapatan yang melihat ketimpangan antarkelompok masyarakat.
Sedangkan untuk ketimpangan pembangunan antardaerah lebih melihat ke
perbedaan antardaerah. Berikut ini adalah beberapa ukuran ketimpangan yang
digunakan dalam penelitian ini:
1) Indeks Williamson
Indeks Williamson merupakan koefisien variasi tertimbang yang dibuat
oleh Williamson pada tahun 1965. Indeks Williamson sangat sensitif untuk
mengukur perbedaan daerah dan mencermati trend kesenjangan yang terjadi.
Formula Indeks Williamson dapat ditulis sebagai berikut (Williamson dalam
Akita and Kataoka, 2003):
27

I =
1
y
_(y
i
n
i=1
-y)
2
P
i
P

y

y
antardaerah (between inequality) dan kesenjangan dalam suatu daerah (within
(3.3)
dimana:
V = Indeks Williamson
= PDRB per kapita di provinsi i
= PDRB per kapita rata-rata Jawa
P
i
= Jumlah penduduk provinsi i
P = Jumlah penduduk Jawa
Apabila angka indeks ketimpangan Williamson semakin mendekati nol,
maka menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil dan bila angka indeks
menunjukkan semakin jauh dari nol maka menunjukkan ketimpangan yang makin
melebar. Matolla dalam Puspandika (2007) menetapkan sebuah kriteria yang
digunakan untuk menentukan apakah ketimpangan ada pada ketimpangan taraf
rendah, sedang, atau tinggi. Berikut ini adalah kriterianya:
a. Ketimpangan taraf rendah, jika IW < 0,35
b. Ketimpangan taraf sedang, jika 0,35 IW 0,5
c. Ketimpangan taraf tinggi, jika IW > 0,5

2) Indeks Theil
Indeks theil merupakan indeks yang banyak digunakan dalam
menghitung dan menganalisis distribusi pendapatan regional. Karakter utama
indeks ini adalah kemampuannya untuk melihat terjadinya kesenjangan
28

inequality) itu sendiri. Nilainya berkisar antara nol sampai dengan tak berhingga,
di mana nol menyatakan bahwa distribusi PDRB merata sempurna
antarkabupaten/kota, sedangkan apabila menjauhi nol artinya distribusi PDRB
tidak merata antarkabupaten/kota di suatu wilayah.
Indeks ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:
a. Sifatn terpengaruh oleh nilai-
erhadap jumlah daerah sehingga dapat digunakan sebagai
pok dan
a yang digunakan dalam penelitian ini
adalah

ya tidak sensitif terhadap skala daerah dan tidak


nilai ekstrim.
b. Independen t
pembanding dari sistem regional yang berbeda-beda.
c. Dapat didekomposisikan ke dalam indeks ketidakmerataan antarkelom
intrakelompok daerah secara simultan.
Adapun kelompok kabupaten/kot
provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Formula indeks theil dituliskan sebagai
berikut (Tadjoeddin, 2003):
I = _

]
_ ln_

_ = I
w
+I
B


(3.4)
I
w
= _

_ I

(3.5)
I

= _

_ ln
]

_
(3.6)
I
B
= _

_ ln _


(3.7)
dimana:
29

T = Indeks Theil
T
w
= Ketimpangan dalam provinsi
i
bupaten provinsi i


Y
provinsi i

3) riteria Bank Dunia
erataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi
pendapatan nasional yang
duk berpendapatan terendah
T
B
= Ketimpangan antarprovinsi
Y
ij
= PDRB kabupaten j, provinsi
Y = Total PDRB Jawa (
]
)

]
= PDRB per kapita ka j,
= PDRB per kapita Jawa
i
= PDRB provinsi i

= PDRB per kapita


K
Kriteria ketidakm
dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yakni 40%
penduduk berpendapatan rendah, 40% penduduk berpendapatan menengah, serta
20% penduduk berpendapatan tinggi. Adapun kategori ketimpangan ditentukan
dengan menggunakan kriteria sebagai berikut (Emilia dan Imelia, 2006):
a. Ketimpangan tinggi, apabila 40% penduduk berpendapatan terendah
menerima kurang dari 12% bagian pendapatan.
b. Ketimpangan sedang, apabila 40% penduduk berpendapatan terendah
menerima antara 12-17% bagian pendapatan.
c. Ketimpangan rendah, apabila 40% pendu
menerima lebih dari 17% bagian pendapatan.
30

Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat


memberikan gambaran tingkat pendapatan masyarakat. Semakin tinggi tingkat
pendapatan maka porsi pengeluaran juga semakin tinggi. Asumsi ini menjadi
acuan dalam kajian untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat. Sehingga,
dalam analisis ini besarnya tingkat pendapatan dilakukan pendekatan dengan
besarnya pengeluaran rumah tangga.

3.2.3. Tipologi Klassen
Alat analisis tipologi klassen digunakan untuk mengetahui gambaran
tentang pola dan klasifikasi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu
pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata
pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata PDRB per kapita
sebagai sumbu horizontal, daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat
klasifikasi, yaitu:
1) Daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income), daerah
yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita yang lebih
tinggi dibanding rata-rata Provinsi di Jawa
2) Daerah maju tetapi tertekan (high income but low growth), daerah yang
memiliki PDRB per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan
ekonominya lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata Provinsi di Jawa.
3) Daerah berkembang cepat (high growth but low income), adalah daerah yang
memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat PDRB per kapita lebih
rendah dibanding rata-rata Provinsi di Jawa.
31

4) Daerah relatif tertinggal (low growth dan low income), adalah daerah yang
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita yang lebih
rendah dibandingkan dengan rata-rata provinsi di Jawa.
Tabel 3.2. Klasifikasi menurut Tipologi Klassen

]
<

]

]
>

]

R
]
> R

]
Kuadran III
Daerah berkembang cepat
Kuadran I
Daerah cepat maju dan cepat tumbuh
R
]
< R

]
Kuadran IV
Daerah relatif tertinggal
Kuadran II
Daerah maju tetapi tertekan
Sumber: Prasetyo, 2008
Keterangan:
R
ij
adalah laju pertumbuhan PDRB ADHK tiap provinsi di Jawa.
R

]
panjang. Dalam jangka pendek ada korelasi positif antara pertumbuhan
adalah rata-rata laju pertumbuhan PDRB ADHK Jawa.
Y
ij
adalah PDRB per kapita tiap provinsi di Jawa.
adalah rata-rata PDRB per kapita Jawa.

3.2.4. Teori Kurva U Terbalik Kuznets
Teori pertumbuhan ekonomi Kuznets mengemukakan bahwa pada tahap-
tahap awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan memburuk atau
ketimpangan membesar, namun pada tahap-tahap berikutnya ketimpangan
menurun (Todaro dan Smith, 2006). Konsep inilah yang secara luas dikenal
dengan konsep kurva U terbalik seperti yang terlihat pada Gambar 3.1. Perlu
ditekankan bahwa sumbangan Kuznets ini berlaku untuk pola perubahan jangka
32

Sumber: Todaro dan Smith, 2006


Gambar 3.1. Kurva U Terbalik Kuznets

n
g
a
n
pendapatan perkapita dengan ketimpangan pendapatan, namun dalam jangka
panjang hubungan keduanya menjadi korelasi yang negatif. Artinya, dalam jangka
pendek meningkatnya pendapatan akan diikuti dengan meningkatnya ketimpangan
pendapatan, namun dalam jangka panjang peningkatan pendapatan akan diikuti
dengan penurunan ketimpangan pendapatan.








I
n
d
e
k
s

k
e
t
i
m
p
a

PDRB per kapita
BAB IV
GAMBARAN UMUM PULAU JAWA

4.1. Keadaan Geografis dan Administratif Pulau Jawa
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 2008 tanggal
31 Januari 2008, luas daerah Pulau Jawa adalah 129.438,28 km
2
atau sebesar
6,77% dari total luas daerah wilayah Indonesia (BPS, 2009). Sebagai bagian dari
negara maritim, Pulau Jawa dikelilingi oleh perairan, baik samudera, laut maupun
selat. Pulau Jawa di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, di sebelah selatan
berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah Barat berbatasan dengan Selat
Sunda, dan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali.
Secara administratif, sampai dengan tanggal 21 Juli 2008 dan
berdasarkan UU No. 33/2008 Departemen Dalam Negeri, Pulau Jawa terbagi ke
dalam beberapa provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa seperti yang
tertera pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Pembagian Administratif Pulau Jawa
Provinsi
Daerah Tingkat II
Kec Desa/Kelurahan
Kab Kota Total
DKI Jakarta 1 5 6 44 267
Jawa Barat 17 9 26 602 5.871
Jawa Tengah 29 6 35 568 8.574
DIY 4 1 5 78 438
Jawa Timur 29 9 38 657 8.505
Banten 4 3 7 152 1.504
Total 84 33 117 2.101 25.159
Sumber: Statistik Indonesia 2009
34

Selama kurun waktu penelitian yaitu tahun 2001-2008 terdapat dua


kabupaten yang mengalami pemekaran yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten
Serang. Kabupaten Bandung pecah menjadi Kabupaten Bandung dan Kabupaten
Bandung Barat pada tahun 2007. Sedangkan Kabupaten Serang pecah menjadi
Kabupaten Serang dan Kota Serang pada akhir tahun 2007. Oleh karena itu, dalam
analisis ini kabupaten/kota bentukan baru yakni Kabupaten Bandung Barat dan
Kota Serang digabung dengan kabupaten induknya. Sehingga jumlah
kabupaten/kota yang dianalisis dalam penelitian ini ada sebanyak 115
kabupaten/kota.

4.2. Keragaan Perekonomian Pulau Jawa
4.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam
melihat kondisi perekonomian suatu daerah di Pulau Jawa. Total PDRB Jawa
terus meningkat dari tahun 2001 sampai 2008 (Tabel 4.2).
Tabel 4.2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Pulau Jawa Tahun 2001-2008
(Trilyun Rupiah)
PROVINSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
DKI Jakarta 238,66 250,33 263,62 278,52 295,27 312,83 332,97 353,69
Jawa Barat 202,13 209,73 219,53 230,00 242,88 257,50 274,18 290,18
Jawa Tengah 118,82 123,04 129,17 135,79 143,05 150,68 159,11 167,79
DIY 14,06 14,69 15,36 16,15 16,91 17,54 18,29 19,21
Jawa Timur 210,45 218,45 228,88 242,23 256,37 271,25 287,81 304,92
Banten 47,50 49,45 51,96 54,88 58,11 61,34 65,05 68,80
TOTAL 831,60 865,69 908,52 957,57 1.012,60 1.071,14 1.137,41 1.204,60
Sumber: PDRB BPS
Provinsi DKI Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan, bisnis, dan
keuangan memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB Jawa yaitu
35

dengan rata-rata PDRB sebesar 290,74 trilyun rupiah atau dengan kontribusi rata-
rata sebesar 29,09%. Sedangkan penyumbang terkecil bagi pembentukan PDRB
Jawa adalah Provinsi DI Yogyakarta dengan rata-rata PDRB sebesar 16,52 trilyun
rupiah atau dengan rata-rata kontribusi sebesar 1,66%.
Jika dilihat dari tingkat PDRB kabupaten/kota di Jawa pada Lampiran 1,
kabupaten/kota yang memiliki PDRB tertinggi adalah Kota Jakarta Pusat. Rata-
rata kontribusi PDRB Kota Jakarta Pusat terhadap pembentukan PDRB Provinsi
DKI Jakarta adalah sebesar 25,87%. Hal ini disebabkan karena Kota Jakarta Pusat
adalah jantung perekonomian Indonesia. Setelah Kota Jakarta Pusat,
kabupaten/kota yang memiliki PDRB tertinggi di Pulau Jawa adalah Kota
Surabaya yaitu dengan rata-rata sebesar 59,07 trilyun rupiah. Hal ini sesuai
dengan sebutan Kota Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta.
Sedangkan kabupaten/kota yang mempunyai PDRB terendah adalah Kota Blitar
yaitu dengan rata-rata PDRB dari tahun 2001-2008 sebesar 564,68 milyar rupiah.
Kontribusi rata-rata Kota Blitar bagi pembentukan PDRB provinsi adalah sebesar
0,23% sebagaimana jumlah penduduk Kota Blitar merupakan terkecil nomor tiga
di Jawa setelah Kepulauan Seribu dan Kota Mojokerto.

4.2.2. PDRB per Kapita
PDRB per kapita menunjukkan kemampuan nyata dari suatu wilayah
dalam menghasilkan barang/jasa dan kemakmuran yang diperoleh setiap
penduduk (per kapita) atas hasil itu. Meskipun PDRB per kapita tidak mampu
mencerminkan tingkat pemerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat di
36

suatu wilayah, namun PDRB per kapita tetap merupakan indikator yang cukup
penting yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan yang telah
dilaksanakan di wilayah tersebut.
Tabel 4.3. PDRB per Kapita Pulau Jawa Menurut Provinsi Tahun 2001-2008 (Juta
Rupiah)
PROVINSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
DKI Jakarta 28,15 29,27 30,51 31,83 33,32 34,90 36,73 38,67
Jawa Barat 5,55 5,64 5,76 5,96 6,23 6,49 6,80 7,09
Jawa Tengah 3,74 3,84 4,01 4,17 4,47 4,68 4,91 5,14
DIY 4,47 4,64 4,78 5,01 5,06 5,17 5,33 5,54
Jawa Timur 5,91 6,08 6,31 6,64 7,06 7,41 7,80 8,22
Banten 5,81 5,89 5,77 6,01 6,44 6,65 6,90 7,17
JAWA 6,73 6,91 7,13 7,44 7,88 8,24 8,65 9,07
Sumber: BPS (Diolah)
Pada Tabel 4.3 terlihat bahwa selama periode pengamatan Provinsi DKI
Jakarta mempunyai PDRB per kapita di atas PDRB per kapita Pulau Jawa, bahkan
jauh melampaui PDRB per kapita provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa. Gambaran
ini menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta menempati peringkat konsentrasi
perekonomian yang paling tinggi di antara provinsi lain di Jawa. Kondisi ini
disebabkan karena kontribusi PDRB di sektor jasa yang cukup signifikan.
Sedangkan PDRB per kapita terendah ditunjukkan oleh Provinsi Jawa Tengah
dibandingkan dengan PDRB per kapita Jawa maupun dengan PDRB per kapita
provinsi-provinsi lain di Jawa.

4.2.3. Laju Pertumbuhan
Laju pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebagai salah satu indikator
keberhasilan pembangunan yang dihitung berdasarkan Persamaan 3.1 mengalami
fluktuasi (Tabel 4.4). Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi di Jawa relatif
37

meningkat dari tahun 2001-2008. Hanya saja pada tahun 2006 dan 2008, laju
pertumbuhan Jawa melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Lambatnya laju
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 dipengaruhi oleh adanya kenaikan bahan
bakar minyak pada tahun 2005. Sedangkan turunnya laju pertumbuhan ekonomi
pada tahun 2008, diduga karena dampak dari krisis keuangan global.
Tabel 4.4. Laju Pertumbuhan PDRB Riil Pulau Jawa Berdasarkan Provinsi Tahun
2001-2008

Sumber: PDRB BPS (diolah)
NO. PROVINSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 RATA-RATA
1 DKI JAKARTA 4,74 4,89 5,31 5,65 6,01 5,95 6,44 6,22 5,65
2 JAWA BARAT 3,16 3,76 4,67 4,77 5,60 6,02 6,48 5,84 5,04
3 JAWA TENGAH 3,59 3,55 4,98 5,13 5,35 5,33 5,59 5,46 4,87
4 DI YOGYAKARTA 4,26 4,50 4,58 5,12 4,73 3,70 4,31 5,02 4,53
5 JAWA TIMUR 3,76 3,80 4,78 5,83 5,84 5,80 6,11 5,94 5,23
6 BANTEN 3,95 4,11 5,07 5,63 5,88 5,57 6,04 5,77 5,25
RATA-RATA JAWA 3,91 4,10 4,90 5,35 5,57 5,39 5,83 5,71 5,10

Apabila dilihat dari provinsi, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi
tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini disebabkan karena adanya
peningkatan sektor komunikasi yang memiliki laju pertumbuhan tinggi tiap
tahunnya yaitu dengan rata-rata 13,71%. Sedangkan provinsi yang memiliki laju
pertumbuhan ekonomi terendah adalah Provinsi DI Yogyakarta yaitu dengan rata-
rata 4,53%.

4.2.4. Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi dapat dilihat dari peran atau kontribusi dari masing-
masing sektor ekonomi. Distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menurut sektor
menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam
suatu negara. Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan
38

basis perekonomian sehingga sangat berpengaruh terhadap perekonomian suatu


daerah. Namun, sektor yang mempunyai kontribusi kecil tidak bisa diabaikan,
sebab bisa jadi di masa mendatang sektor tersebut berkembang dan menjadi sektor
unggulan di daerah tersebut. Tabel 4.5 di bawah ini menunjukkan struktur
ekonomi yang terdiri dari sembilan sektor, dan untuk penyederhanaan sembilan
sektor tersebut dikelompokkan menjadi sektor primer, sekunder, dan tersier.
Tabel 4.5. Struktur Ekonomi Pulau Jawa Tahun 2001-2008 (%)
LAPANGAN USAHA 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Sektor Primer 14,57 13,99 13,10 12,92 12,54 12,49 12,51 12,12
1. Pertanian 12,81 12,49 11,64 11,44 10,98 10,96 11,07 10,67
2. Pertambangan dan
Penggalian
1,75 1,50 1,46 1,47 1,56 1,52 1,44 1,44
Sektor Sekunder 37,71 37,70 37,87 37,67 38,74 38,90 38,42 38,19
3. Industri Pengolahan 30,68 30,50 30,52 29,97 31,07 31,12 30,63 30,30
4. Listrik, Gas, dan Air
Bersih
1,50 1,75 1,94 2,08 1,97 1,94 1,92 1,87
5. Konstruksi 5,53 5,46 5,41 5,62 5,70 5,84 5,87 6,02
Sektor Tersier 47,73 48,31 49,03 49,41 48,71 48,61 49,07 49,69
6. Perdagangan, Hotel,
dan Restoran
20,88 20,94 21,12 21,33 21,49 21,58 22,07 22,29
7. Pengangkutan dan
Komunikasi
5,34 5,84 6,16 6,27 6,51 6,86 6,96 7,04
8. Keuangan, Real
Estate, dan Jasa
Perusahaan
12,20 12,17 12,01 11,90 11,26 10,74 10,58 10,77
9. Jasa-Jasa 9,30 9,36 9,74 9,92 9,46 9,43 9,46 9,59
TOTAL 100 100 100 100 100 100 100 100
Sumber: BPS (diolah)

Pada Tabel 4.5 menunjukkan bahwa selama periode penelitian peranan
sektor primer terhadap pendapatan Jawa berkurang dan peran ini berpindah ke
sektor sekunder dan tersier. Tingginya peranan sektor primer khususnya pertanian
pada tahap-tahap awal pembangunan, disebabkan karena usaha-usaha di sektor
primer sebagian besar dikerjakan dengan skala-skala kecil atau usaha rakyat dan
39

teknologinya belum berkembang seperti sekarang. Pada saat teknologi masih


terbatas, pilihan usaha di sektor pertanian merupakan pilihan yang tepat karena
umumnya sektor pertanian dalam pengelolaannya dapat dengan teknologi yang
sederhana dan modal yang relatif kecil.
Berdasarkan komposisi nilai PDRB, dapat diketahui bahwa sektor yang
memberikan kontribusi tertinggi dalam pembentukan PDRB Jawa adalah sektor
industri pengolahan. Meskipun kontribusi industri pengolahan mengalami
penurunan dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2008, namun secara absolut
PDRB industri pengolahan terus mengalami peningkatan. Tingginya peran sektor
industri pengolahan ini, didukung oleh beberapa sub-sektor yang menjadi
unggulan dari masing-masing daerah dalam meningkatkan nilai tambah.
Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB
pada sektor industri pengolahan adalah Provinsi Jawa Barat. Tingginya kontribusi
industri pengolahan di Jawa Barat ini, sangat didukung oleh keberadaan sub-
sektor industri migas dan industri bukan migas. Di sub-sektor non migas, sebagai
penyumbang terbesar bagi industri pengolahan, Jawa Barat sangat didukung oleh
tingginya nilai tambah yang diberikan oleh industri tekstil, industri kimia, industri
kendaraan bermotor, serta industri makanan dan minuman. Sedangkan di sub-
sektor industri migas, kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Indramayu,
dimana di kabupaten ini terdapat satu unit kilang pengolahan minyak yaitu
Pertamina UP-VI Balongan dan satu unit kilang pengolahan dan pemurnian gas
yaitu Kilang LPG Mundu. Produksi unggulan dari kedua unit pengolahan minyak
dan gas bumi tersebut adalah Super TT, Premix dan LPG.
40

Sektor kedua yang memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan


PDRB Jawa adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Barang diproduksi,
diperjualbelikan, dan didistribusikan. Dengan kata lain, dampak dari produksi
barang adalah adanya perdagangan. Hal ini dialami oleh Jawa, dimana kontribusi
PDRB di sektor perdagangan, hotel, dan restoran terus mengalami peningkatan
dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2008. Semakin meningkatnya kontribusi di
sektor ini sebagai akibat dari semakin tingginya aktivitas perekonomian di sub
sektor perdagangan besar dan eceran.
Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB
Pulau Jawa untuk sektor perdagangan, hotel, dan restoran adalah Provinsi Jawa
Timur. Tingginya kontribusi PDRB Provinsi Jawa Timur didukung oleh Kota
Surabaya sebagai pusat aktivitas bisnis dan perdagangan. Kota Surabaya
merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta dimana keberadaan kawasan
Pelabuhan Tanjung Perak merupakan sarana pendukung utama bagi transaksi
perdagangan dan sekaligus tempat bongkar muat barang antarnegara dan
antarpulau.

4.3. Jumlah Penduduk Pulau Jawa
Jumlah penduduk Pulau Jawa dari tahun 2001 sampai dengan 2008
mengalami peningkatan. Berdasarkan data proyeksi penduduk BPS, jumlah
penduduk Pulau Jawa tahun 2008 sebesar 58,14% dari total penduduk Indonesia
dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,01%.
41

Dilihat dari data provinsi, pada tahun 2008 Provinsi Jawa Barat
merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Jawa dan Indonesia
yaitu sebesar 17,91% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Sedangkan
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi dengan jumlah penduduk
terkecil di Pulau Jawa yaitu sebesar 1,52% dari total penduduk di Indonesia.
Selanjutnya jika dilihat dari data kabupaten/kota pada tahun 2008,
Kabupaten Bogor adalah kabupaten yang jumlah penduduknya terbesar di Jawa
dan Indonesia yaitu sebesar 4.029.263 jiwa atau sebesar 1,76% dari total jumlah
penduduk di Indonesia. Sedangkan Kepulauan Seribu merupakan kabupaten
dengan jumlah penduduk terkecil di Pulau Jawa yaitu sebesar 19.423 jiwa atau
sebesar 0,01% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Untuk lebih jelasnya, data
jumlah penduduk dapat dilihat pada Lampiran 2.
Menurut tingkat kepadatan penduduknya, Provinsi DKI Jakarta
merupakan provinsi yang paling padat dibandingkan provinsi-provinsi lain di
Indonesia. Pada tahun 2008, kepadatan penduduk DKI Jakarta mencapai 12.355
jiwa/km
2
. Sebaliknya, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan kepadatan
penduduk paling rendah yaitu sebesar 794 jiwa/km2.

4.4. Keadaan Sosial Pulau Jawa
Kemiskinan dan ketimpangan merupakan dua masalah dalam konteks
pembangunan setiap bangsa. Pengentasan kemiskinan sebagai upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan tidak dengan sendirinya mengatasi ketimpangan.
Begitupula sebaliknya, kemerataan kesejahteraan tidak senantiasa serta merta
42

mengentaskan semua orang dari kemiskinan. Masalah kemiskinan muncul karena


ada sekelompok anggota masyarakat yang secara struktural tidak mempunyai
peluang dan kemampuan yang memadai untuk mencapai kehidupan yang layak
(Prayitno, 1996).
Tabel 4.6. Persentase Penduduk Miskin di Pulau Jawa Tahun 2001-2008
Provinsi 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
DKI Jakarta 3,14 3,42 3,42 3,18 3,61 4,57 4,61 4,29
Jawa Barat 15,34 13,38 12,9 12,1 13,06 14,49 13,55 13,01
Jawa Tengah 22,07 23,06 21,78 21,11 20,49 22,19 20,43 19,23
DI Yogyakarta 24,53 20,14 19,86 19,14 18,95 19,15 18,99 18,32
Jawa Timur 21,64 21,91 20,93 20,08 19,95 21,09 19,98 18,51
Banten 17,24 9,22 9,56 8,58 8,86 9,79 9,07 8,15
Sumber: Statistik Indonesia, BPS
Pada tahun 2008, Pulau Jawa adalah penyumbang terbesar penduduk
miskin di Indonesia yaitu sebesar 19.975.900 jiwa atau sebesar 57,13% dari total
penduduk miskin di Indonesia. Tabel 4.6 menunjukkan bahwa selama tahun 2001-
2008, persentase penduduk miskin setiap provinsi di Jawa mengalami penurunan,
kecuali DKI Jakarta. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya lapangan
pekerjaan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta dimana tingkat partisipasi
angkatan kerjanya sebesar 68,68%.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Ketimpangan
Berdasarkan data PDRB per kapita, diketahui bahwa nilai PDRB per
kapita Provinsi DKI Jakarta sangat tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya
di Jawa. Hal tersebut mengindikasikan adanya ketimpangan antarprovinsi di Jawa.
Oleh karena itu, dalam analisis ini peneliti juga melakukan perhitungan
ketimpangan dengan tidak memasukkan Provinsi DKI Jakarta.

5.1.1. Indeks Williamson antarprovinsi di Pulau Jawa
Ketimpangan pembangunan antarprovinsi di Pulau Jawa pada tahun
2001-2008 dapat dianalisis dengan menggunakan Indeks Williamson. Data yang
digunakan adalah data PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000 menurut
provinsi di Jawa. Hasil pengolahan data yang didapatkan dengan menggunakan
Indeks Williamson seperti pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Indeks Ketimpangan Williamson berdasarkan PDRB Provinsi Tahun
2001-2008
TAHUN IW IW tanpa DKI Jakarta
2001 0,7027 0,1799
2002 0,7088 0,1796
2003 0,7142 0,1725
2004 0,7152 0,1755
2005 0,7136 0,1746
2006 0,7156 0,1770
2007 0,7183 0,1796
2008 0,7212 0,1826
RATA-RATA 0,7137 0,1776
Sumber: Data diolah
44

Berdasarkan Tabel 5.1 di atas, terlihat bahwa terdapat perbedaaan


ketimpangan yang cukup besar dengan mengeluarkan DKI Jakarta. Pada tahun
2001-2008, rata-rata ketimpangan di Jawa sebesar 0,7137, dan termasuk kategori
kesenjangan taraf tinggi. Sedangkan apabila DKI Jakarta dikeluarkan rata-rata
ketimpangannya hanya sebesar 0,1776 dan termasuk kategori kesenjangan taraf
rendah. Dengan kata lain, Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu penyebab
terjadinya ketimpangan di Jawa. Sebagai contoh adanya ketimpangan yang sangat
besar antara Provinsi DKI Jakarta yang mempunyai PDRB per kapita sebesar
32,92 juta rupiah dengan Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai PDRB per
kapita sebesar 4,37 juta rupiah.
Trend ketimpangan pembangunan antarprovinsi di Jawa selama periode
pengamatan mengalami fluktuasi baik dengan menganalisis Jawa secara
keseluruhan maupun tanpa DKI Jakarta. Akan tetapi jika dilihat secara
keseluruhan dari tahun 2001-2008, ketimpangan di Jawa cenderung mengalami
peningkatan. Peningkatan ketimpangan ini salah satunya diakibatkan karena
konsentrasi aktivitas ekonomi pada suatu provinsi. Disamping itu pada tahun
2008, tingginya ketimpangan antarprovinsi disebabkan adanya krisis keuangan
global yang melanda dunia sepanjang 2008. Dampak krisis ini memicu persaingan
antarprovinsi untuk memperebutkan sumber daya ekonomi yang semakin terbatas
baik yang disebabkan karena penurunan pendapatan maupun yang disebabkan
karena penurunan investasi swasta di daerah.


45

5.1.2. Indeks Williamson antarkabupaten/kota di Pulau Jawa


Pada penelitian ini juga akan dilakukan analisis terhadap ketimpangan
pembangunan antarkabupaten/kota di Jawa. Dalam penghitungan indeks
ketimpangan Williamson antarkabupaten/kota, digunakan data Produk Domestik
Regional Bruto atas dasar harga konstan 2000 dari 115 kabupaten/kota di Jawa.
Tabel 5.2. Indeks Ketimpangan Williamson berdasarkan PDRB Kabupaten/Kota
Tahun 2001-2008
TAHUN IW IW TANPA DKI JAKARTA
2001 1,1968 0,9201
2002 1,2080 0,9020
2003 1,2383 0,9018
2004 1,2526 0,9099
2005 1,2653 0,9060
2006 1,2793 0,9126
2007 1,2912 0,9117
2008 1,3029 0,9137
RATA-RATA 1,2543 0,9097
Sumber: Data diolah
Berdasarkan Tabel 5.2, nilai rata-rata Indeks Williamson di Jawa di atas
satu yaitu 1,2543. Hal ini menunjukkan ketimpangan antarkabupaten/kota di Jawa
sangat tinggi. Sedangkan jika Provinsi DKI Jakarta dikeluarkan, nilai Indeks
Williamsonnya masih tinggi meskipun di bawah satu yaitu 0,9097. Dengan kata
lain, kabupaten/kota di DKI Jakarta memberikan kontribusi yang besar terhadap
ketimpangan kabupaten/kota di Jawa.
Trend ketimpangan pembangunan antarkabupaten/kota di Jawa semakin
tinggi dari tahun 2001-2008. Hal ini disebabkan karena tiap tahunnya DKI Jakarta
memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap ketimpangan Jawa sebagai
akibat semakin berkembangnya pusat-pusat industri sekunder dan tersier
meninggalkan daerah yang masih mengandalkan industri primer.
46

Akan tetapi jika kabupaten/kota di DKI Jakarta dikeluarkan dari analisis,


maka trend ketimpangan Jawa cenderung menurun. Tahun 2001 merupakan tahun
mulai diberlakukannya Undang-undang Otonomi Daerah. Daerah yang
mempunyai potensi yang besar dan kelembagaan yang solid akan lebih cepat
berkembang dibandingkan daerah lainnya. Pada awal pelaksanaan otonomi daerah
ketimpangan antardaerah meningkat, hal ini disebabkan karena perbedaan
kesiapan dari masing-masing daerah dalam menghadapi otonomi daerah. Pada
tahun-tahun selanjutnya, setiap daerah mulai dapat mengembangkan daerahnya
masing-masing dalam rangka mendorong proses pembangunan ekonomi di era
otonomi daerah. Sehingga selanjutnya ketimpangan berangsur-angsur turun,
sampai pada tahun 2008, nilai Indeks Williamson di Jawa tanpa DKI Jakarta
sebesar 0,9097.
Ketimpangan antarkabupaten/kota di Jawa lebih besar jika dibandingkan
dengan ketimpangan antarprovinsi di Jawa. Hal ini disebabkan dalam analisis
ketimpangan antarkabupaten/kota dengan Indeks Williamson tidak
dipertimbangkan pengelompokkan kabupaten/kotanya, sehingga nilai
ketimpangan antarkabupaten/kota sangat dipengaruhi oleh nilai ekstrim PDRB per
kapita suatu kabupaten/kota di Jawa tersebut.

5.1.3. Indeks Theil
Alat ukur kedua yang digunakan untuk menganalisis ketimpangan adalah
dengan menggunakan Indeks Theil. Salah satu kelebihan dari Indeks Theil adalah
bisa melihat ketimpangan antarkelompok dan dalam kelompok yang ditentukan.
47

Dalam analisis ini, digunakan data PDRB atas dasar harga konstan 2000 menurut
kabupaten/kota di Jawa. 115 kabupaten/kota di Jawa dikelompokkan ke dalam 6
provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa
Timur, dan Banten. Berikut ini adalah hasil perhitungan dengan menggunakan
Indeks Theil.
Tabel 5.3. Indeks Theil Jawa Tahun 2001-2008
Tahun
Antarprovinsi Dalam provinsi Total
Theil % Theil % Theil %
2001 0,24656 53,42 0,21498 46,58 0,46155 100
2002 0,24812 53,79 0,21314 46,21 0,46126 100
2003 0,25216 54,00 0,21482 46,00 0,46698 100
2004 0,25294 53,86 0,21667 46,14 0,46961 100
2005 0,25165 53,99 0,21444 46,01 0,46609 100
2006 0,25450 54,07 0,21618 45,93 0,47068 100
2007 0,25701 54,45 0,21501 45,55 0,47202 100
2008 0,25891 54,53 0,21593 45,47 0,47484 100
RATA-RATA 0,25273 54,01 0,21515 45,99 0,46788 100
Sumber: Data diolah
Dari Tabel 5.3 menunjukkan bahwa ketimpangan antarprovinsi dan
ketimpangan dalam provinsi memberikan kontribusi yang hampir sama terhadap
ketimpangan total di Jawa. Ketimpangan antarprovinsi menyumbang sekitar
54,01% dari total ketimpangan Jawa, sedangkan sisanya merupakan kontribusi
dari ketimpangan dalam provinsi. Hal ini berarti pola ketimpangan di Jawa
menyebar lebih merata baik dari level ketimpangan antarkabupaten/kota maupun
ketimpangan antarprovinsi.
Sama halnya pada analisis Indeks Williamson, selanjutnya dalam analisis
Indeks Theil ini Provinsi DKI Jakarta juga akan dikeluarkan. Jika DKI Jakarta
tidak dimasukkan ke dalam analisis, ketimpangan total Pulau Jawa didominasi
48

oleh ketimpangan dalam provinsi yaitu dengan rata-rata sebesar 93,6% seperti
yang ditunjukkan oleh Tabel 5.4 di bawah ini.
Tabel 5.4. Indeks Theil Jawa Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001-2008
Tahun
Antarprovinsi Dalam Provinsi Total
Theil % Theil % Theil %
2001 0,01869 6,87 0,25321 93,13 0,27190 100
2002 0,01777 6,64 0,24997 93,36 0,26774 100
2003 0,01625 6,07 0,25148 93,93 0,26773 100
2004 0,01694 6,25 0,25415 93,75 0,27109 100
2005 0,01637 6,12 0,25132 93,88 0,26769 100
2006 0,01676 6,20 0,25339 93,80 0,27015 100
2007 0,01769 6,58 0,25111 93,42 0,26880 100
2008 0,01810 6,71 0,25153 93,29 0,26963 100
RATA-RATA 0,01732 6,43 0,25202 93,57 0,26934 100
Sumber: Data diolah
Tingginya kontribusi ketimpangan dalam provinsi terhadap ketimpangan
total disebabkan karena masing-masing provinsi terdapat kabupaten/kota yang
memiliki PDRB per kapita sangat tinggi sebagai akibat dari adanya kekhususan
karakteristik ekonomi serta menjadikan kabupaten/kota tersebut sebagai daerah
kantong yang mempunyai peran sangat vital dalam memperparah ketimpangan
pendapatan antarkabupaten/kota. Dengan kata lain, masing-masing provinsi
memiliki sektor yang diunggulkan, sehingga ketimpangan antarprovinsi di Jawa
relatif lebih kecil. Adapun kontribusi ketimpangan dalam provinsi dari masing-
masing provinsi ditunjukkan oleh Tabel 5.5.

49

Tabel 5.5. Ketimpangan dalam Provinsi Pulau Jawa Tanpa DKI Jakarta Tahun
2001-2008
Provinsi 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Jawa Barat 0,0577 0,0578 0,0583 0,0584 0,0568 0,0571 0,0568 0,0572
Jawa Tengah 0,0399 0,0413 0,0417 0,0427 0,0426 0,0422 0,0411 0,0409
DIY 0,0018 0,0018 0,0019 0,0019 0,0017 0,0016 0,0016 0,0016
Jawa Timur 0,1335 0,1282 0,1275 0,1286 0,1269 0,1285 0,1279 0,1278
Banten 0,0203 0,0209 0,0220 0,0225 0,0234 0,0240 0,0238 0,0240
Dalam Provinsi 0,2532 0,2500 0,2515 0,2542 0,2513 0,2534 0,2511 0,2515
Sumber: Data diolah
Pada Tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa provinsi yang memberikan
kontribusi terbesar bagi ketimpangan dalam provinsi adalah Provinsi Jawa Timur.
Menurut Tadjoeddin (2003), hal ini disebabkan oleh kekhususan karakteristik
ekonomi Kota Kediri sebagai sentra industri besar seperti industri rokok PT.
Gudang Garam, industri semen PT. Semen Gresik, industri pupuk PT. Petrokimia
Gresik, serta industri sarung PT. Behaestex dengan merk dagang Atlas, Rubat,
dan Marjan. Dilihat dari PDRB per kapita Kota Kediri sebesar 69,96 juta rupiah,
jauh lebih besar dibandingkan rata-rata PDRB per kapita Provinsi Jawa Timur
yang sebesar 6,22 juta rupiah.
Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar nomor dua bagi
ketimpangan dalam provinsi setelah Jawa Timur adalah Provinsi Jawa Barat. Hal
ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan kabupaten/kota yang memiliki
karakteristik ekonomi yang unggul seperti Kabupaten Bekasi dan Kota Cirebon.
Kabupaten Bekasi merupakan daerah kantong industri pengolahan. Sedangkan
Kota Cirebon unggul di sektor industri pengolahan dan perdagangan termasuk
juga hotel dan restoran.
50

Selanjutnya, penyumbang terbesar ketiga bagi ketimpangan dalam


provinsi di Jawa adalah Jawa Tengah. Menurut Tadjoeddin (2003), Provinsi Jawa
Tengah didukung oleh keberadaan Kabupaten Kudus yang memberikan kontribusi
yang tinggi terhadap ketimpangan di Jawa Tengah. Penyumbang utama PDRB
Kabupaten Kudus adalah sektor industri yang didominasi oleh industri rokok.
Provinsi Banten yang baru terbentuk pada tahun 2001 juga memiliki
ketimpangan dalam provinsi. Kota Tangerang adalah daerah yang memberikan
kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Banten. Sedangkan
Kota Cilegon merupakan kota yang memiliki PDRB per kapita paling besar di
Banten, dimana sektor yang berpotensi adalah sektor industri pengolahan
diantaranya dengan keberadaan PT. Krakatau Steel.
Terakhir, Provinsi DI Yogyakarta merupakan provinsi dengan
penyumbang ketimpangan dalam provinsi yang sangat kecil. Ini mengandung arti
pembangunan di DIY lebih merata jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi
lain di Jawa. Begitupula jika dilihat secara series dari tahun 2001-2008,
ketimpangan dalam Provinsi DI Yogyakarta cenderung stabil bahkan relatif
menurun jika dibandingkan antara tahun awal dan tahun akhir penelitian.

5.1.4. Kriteria Bank Dunia
Ketimpangan distribusi pendapatan diukur dengan menghitung
persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok 40% penduduk yang
berpendapatan terendah dibandingkan dengan total pendapatan seluruh penduduk.
Sebagaimana yang dilakukan oleh BPS, variabel pengeluaran konsumsi rumah
51

tangga digunakan sebagai pendekatan terhadap pendapatan masyarakat. Berikut


ini adalah porsi pendapatan masyarakat yang didekati dengan tingkat pengeluaran
konsumsi rumah tangga.
Tabel 5.6. Distribusi Pembagian Pengeluaran per Kapita Pulau Jawa Tahun 2001-
2007 (%)
Tahun 40% Penduduk
Berpengeluaran
rendah
40% Penduduk
Berpengeluaran
Sedang
20% Penduduk
Berpengeluaran
Tinggi
2001 20,00190 37,49605 42,50205
2002 18,05354 35,38579 46,56066
2003 19,41120 37,34079 43,24801
2004 18,73033 36,80724 44,46243
2005 16,76788 34,40304 48,82909
2006 18,14440 36,03126 45,82434
2007 18,42372 37,09321 44,48307
Sumber: Susenas BPS (Diolah)
Pada Tabel 5.6 terlihat bahwa 20% penduduk yang berpendapatan tinggi
menggunakan porsi pendapatan Pulau Jawa yang besar. Sedangkan 40%
penduduk yang berpengeluaran rendah hanya menggunakan porsi pendapatan
Pulau Jawa jauh lebih sedikit. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam
distribusi pendapatan di Pulau Jawa. Akan tetapi, berdasarkan kategori
ketimpangan pendapatan seperti yang disebutkan di atas, ketimpangan pendapatan
di Pulau Jawa masih dikatakan rendah, kecuali pada tahun 2005 yang sudah
dikategorikan ketimpangan sedang. Kenaikan biaya produksi akibat kenaikan
harga BBM sejak tahun 2005 dan inflasi yang terjadi berdampak pada rendahnya
daya beli masyarakat dan pengeluaran investasi sehingga membuat iklim usaha
yang kurang menguntungkan terutama bagi usaha kecil dan rumahtangga, petani,
dan sektor informal. Turunnya pendapatan relatif bagi kelompok masyarakat
berpendapatan rendah (40% terendah) dan tingginya pendapatan relatif bagi
52

masyarakat berpendapatan tinggi (20% tertinggi) membuat ketimpangan distribusi


meningkat khususnya pada tahun 2005.

5.2. Tipologi Klassen
5.2.1. Klasifikasi Berdasarkan Provinsi
Klasifikasi daerah dilakukan berdasarkan dua indikator utama, yaitu
pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto per kapita daerah,
dengan alat analisis Tipologi Klassen. Sumbu horizontalnya (sumbu-x) adalah
rata-rata produk domestik regional bruto per kapita, sedangkan sumbu vertikalnya
(sumbu-y) adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi.

4.500
4.700
4.900
5.100
5.300
5.500
5.700
5.900
.0 10.0 20.0 30.0 40.0
P
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n

E
k
o
n
o
m
i
PDRBperKapita
Tipologi Klassen Jawa
DKIJAKARTA
JAWABARAT
JAWATENGAH
DIYOGYAKARTA
JAWATIMUR
BANTEN
RATA2
Kuadran I
Kuadran II
Kuadran
III
Kuadran
IV
Gambar 5.1. Tipologi Klassen Jawa Tahun 2001-2008
Dari Gambar 5.1 di atas terlihat klasifikasi daerah di Jawa dibagi
menjadi tiga yaitu daerah cepat maju dan cepat tumbuh, daerah berkembang
cepat, dan daerah relatif tertinggal. Satu-satunya provinsi yang diklasifikasikan ke
dalam daerah cepat maju dan cepat tumbuh (Kuadran I) adalah Provinsi DKI
53

Jakarta. Hal ini dikarenakan rata-rata PDRB per kapita dan laju pertumbuhan
ekonomi DKI Jakarta lebih besar dibandingkan rata-rata Jawa yaitu sebesar
33,04 juta rupiah untuk PDRB per kapita DKI Jakarta dan sebesar 5,65% untuk
rata-rata laju pertumbuhan DKI Jakarta dari tahun 2001-2008. Sedangkan Provinsi
Jawa Timur dan Banten dikategorikan sebagai daerah berkembang cepat (Kuadran
III). Untuk Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta
dikategorikan sebagai daerah relatif tertinggal (Kuadran IV), sebab ketiga provinsi
tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita yang lebih
rendah dibandingkan dengan rata-rata provinsi di Jawa.
Selanjutnya, dalam analisis ini juga akan dibuat klasifikasi antardaerah di
Jawa tanpa mengikutsertakan Provinsi DKI Jakarta. Gambar 5.2 menunjukkan
bahwa Pulau Jawa tanpa DKI Jakarta diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu
daerah cepat maju dan cepat tumbuh, daerah maju tetapi tertekan, dan daerah
relatif tertinggal.
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
5
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
4.0 5.0 6.0 7.0 8.0
P
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n

E
k
o
n
o
m
i
PDRBperKapita
Tipologi Klassen Jawa Tanpa DKI Jakarta
JAWABARAT
JAWATENGAH
DIYOGYAKARTA
JAWATIMUR
BANTEN
RATA2

Gambar 5.2. Tipologi Klassen Jawa Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001-2008

54

Yang termasuk daerah cepat maju dan cepat tumbuh (Kuadran I) adalah
Provinsi Banten dan Jawa Timur. Sedangkan yang termasuk daerah maju tetapi
tertekan (Kuadran II) adalah Provinsi Jawa Barat. Dan yang termasuk daerah
relatif tertinggal adalah Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Hal ini
menunjukkan bahwa PDRB per kapita dan tingkat pertumbuhan di Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta di bawah rata-rata Pulau Jawa.

5.2.2. Klasifikasi Berdasarkan Kabupaten/kota
Dalam analisis ini akan diklasifikasikan kabupaten/kota dengan
menggunakan tipologi klassen. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan
bahwa empat klasifikasi kabupaten/kota yaitu daerah cepat maju dan cepat
tumbuh, daerah maju tetapi tertekan, daerah berkembang cepat, dan daerah relatif
tertinggal. Berikut ini adalah hasil analisis tipologi klassen yang disajikan dalam
Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Tipologi Klassen Kabupaten/Kota Tahun 2001-2008
Kuadran I. Kabupaten/kota cepat maju dan cepat tumbuh
1. Kota Jakarta Selatan
2. Kota Jakarta Timur
3. Kota Jakarta Pusat
4. Kota Jakarta Barat
5. Kota Jakarta Utara

6. Bekasi
7. Kota Bandung
8. Cilacap
9. Gresik

10. Kota Mojokerto
11. Kota Surabaya
12. Kota Tangerang
13. Kota Cilegon
Kuadran II. Kabupaten/kota maju tetapi tertekan
1. Kep. Seribu
2. Indramayu
3. Kota Cirebon
4. Kota Cimahi

5. Kudus
6. Kota Semarang
7. Kota Yogyakarta
8. Sidoarjo
9. Kota Kediri
10. Kota Malang

55

Kuadran III. Kabupaten/kota berkembang cepat


1. Bogor
2. Bandung
3. Subang
4. Karawang
5. Kota Bogor
6. Kota Sukabumi

7. Kota Bekasi
8. Kota Depok
9. Karanganyar
10. Kota Surakarta
11. Kota Tegal
12. Banyuwangi

13. Bojonegoro
14. Tuban
15. Kota Blitar
16. Kota Batu
17. Tangerang
Kuadran IV. Kabupaten/kota relatif tertinggal
1. Sukabumi
2. Cianjur
3. Garut
4. Tasikmalaya
5. Ciamis
6. Kuningan
7. Cirebon
8. Majalengka
9. Sumedang
10. Purwakarta
11. Kota Tasikmalaya
12. Kota Banjar
13. Banyumas
14. Purbalingga
15. Banjarnegar
16. Kebumen
17. Purworejo
18. Wonosobo
19. Magelang
20. Boyolali
21. Klaten
22. Sukoharjo
23. Wonogiri
24. Sragen
25. Grobogan

26. Blora
27. Rembang
28. Pati
29. Jepara
30. Demak
31. Semarang
32. Temanggung
33. Kendal
34. Batang
35. Pekalongan
36. Pemalang
37. Tegal
38. Brebes
39. Kota Magelang
40. Kota Salatiga
41. Kota Pekalongan
42. Kulon Progo
43. Bantul
44. Gunung Kidul
45. Sleman
46. Pacitan
47. Ponorogo
48. Trenggalek
49. Tulungagung
50. Blitar

51. Kediri
52. Malang
53. Lumajang
54. Jember
55. Bondowoso
56. Situbondo
57. Probolinggo
58. Pasuruan
59. Mojokerto
60. Jombang
61. Nganjuk
62. Madiun
63. Magetan
64. Ngawi
65. Lamongan
66. Bangkalan
67. Sampang
68. Pamekasan
69. Sumenep
70. Kota Probolinggo
71. Kota Pasuruan
72. Kota Madiun
73. Pandeglang
74. Lebak
75. Serang
Sumber: Data diolah
Pada Tabel 5.7 terlihat bahwa yang termasuk dalam Kuadran I atau
klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh sebagian besar adalah kota-kota
besar di Jawa termasuk seluruh kota di DKI Jakarta. Lebih tingginya pertumbuhan
ekonomi kota-kota di DKI Jakarta daripada pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa
56

dikarenakan kuatnya sektor jasa dalam perekonomian daerah. Sedangkan Bekasi,


Kota Tangerang, dan Kota Cilegon yang berada di sekitar DKI Jakarta merupakan
pusat penyangga industri sehingga wilayah ini menjadi daerah penyedia lapangan
kerja yang cukup besar bagi penduduknya sendiri maupun bagi penduduk kota
Jakarta.
Kepulauan Seribu yang merupakan satu-satunya kabupaten di DKI
Jakarta termasuk dalam klasifikasi daerah maju tetapi tertekan. Kabupaten ini
memiliki keunggulan dengan minyak dan gas bumi. Akan tetapi meskipun
kontribusi PDRB di sektor minyak dan gas buminya besar terhadap Jawa,
pertumbuhan ekonominya masih dibawah rata-rata Pulau Jawa.
Pada Kuadran III, terdapat beberapa kota yang berada di sekitar DKI
Jakarta, antara lain Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan
Kabupaten Tangerang. Hal ini merupakan pencerminan bahwa wilayah di sekitar
DKI Jakarta atau yang sering dikenal dengan Bodetabek merupakan daerah
penyangga yang memiliki fungsi sebagai penyedia sarana pemukiman, penyerap
tenaga kerja maupun sebagai pemasok kebutuhan kota Jakarta. Tiap-tiap wilayah
di sekitar DKI Jakarta memiliki karakteristik dan keunggulan di bidang tertentu.
Wilayah Bogor memiliki keunggulan dibidang sarana pemukiman dan pariwisata.
Wilayah Depok memiliki keunggulan dalam sektor perdagangan. Sedangkan
wilayah Tangerang dan Bekasi memiliki keunggulan sebagai penyedia lahan yang
luas untuk industri.
Pada Kuadran IV, menunjukkan bahwa kabupaten/kota di Jawa sebagian
besar termasuk ke dalam klasifikasi daerah relatif tertinggal yaitu sebesar 75
57

kabupaten/kota atau sebesar 65,2% dari total kabupaten/kota di Jawa. Banyaknya


kabupaten/kota yang masuk kategori daerah relatif tertinggal ini disebabkan
karena adanya ketimpangan yang sangat jauh dengan kota-kota di DKI Jakarta
tanpa ada pengelompokkan provinsi, sehingga 75 kabupaten/kota tersebut relatif
tertinggal dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain.
Diantara 75 kabupaten/kota tersebut, terdapat 17 kabupaten yang
dinyatakan sebagai daerah tertinggal oleh Kementrian negara Pembangunan
Daerah Tertinggal (KPDT) pada RPJMN 2005-2009. Penentuan 17 kabupaten
tertinggal tersebut berdasarkan enam kriteria utama, yaitu perekonomian
masyarakat, sumberdaya manusia, infrastruktur (prasarana), kemampuan
keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah.
Tabel 5.8. Tipologi Klassen Kabupaten/Kota Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001-
2008
Kuadran I. Kabupaten/kota cepat maju dan cepat tumbuh
1. Bogor
2. Karawang
3. Bekasi
4. Kota Bandung
5. Kota Bekasi
6. Cilacap
7. Kota Surakarta
8. Tulungagung
9. Gresik
10. Kota Malang
11. Kota Mojokerto
12. Kota Surabaya
13. Kota Tangerang
14. Kota Cilegon

Kuadran II. Kabupaten/kota maju tetapi tertekan
1. Indramayu
2. Purwakarta
3. Kota Cirebon
4. Kota Cimahi
5. Kudus
6. Kota Magelang
7. Kota Semarang
8. Kota Pekalongan
9. Kota Yogyakarta
10. Sidoarjo
11. Kota Kediri
12. Kota Probolinggo


Kuadran III. Kabupaten/kota berkembang cepat
1. Bandung
2. Subang
3. Kota Bogor
4. Kota Sukabumi
5. Kota Depok
6. Karanganyar
7. Tegal
8. Kota Tegal
9. Banyuwangi
10. Pasuruan
11. Jombang
12. Bojonegoro
13. Tuban
14. Kota Blitar
15. Kota Batu
16. Tangerang



58

Kuadran IV. Kabupaten/kota relatif tertinggal


1. Sukabumi
2. Cianjur
3. Garut
4. Tasikmalaya
5. Ciamis
6. Kuningan
7. Cirebon
8. Majalengka
9. Sumedang
10. Kota Tasikmalaya
11. Kota Banjar
12. Banyumas
13. Purbalingga
14. Banjarnegara
15. Kebumen
16. Purworejo
17. Wonosobo
18. Magelang
19. Boyolali
20. Klaten
21. Sukoharjo
22. Wonogiri
23. Sragen

24. Grobogan
25. Blora
26. Rembang
27. Pati
28. Jepara
29. Demak
30. Semarang
31. Temanggung
32. Kendal
33. Batang
34. Pekalongan
35. Pemalang
36. Brebes
37. Kota Salatiga
38. Kulon Progo
39. Bantul
40. Gunung Kidul
41. Sleman
42. Pacitan
43. Ponorogo
44. Trenggalek
45. Blitar
46. Kediri

47. Malang
48. Lumajang
49. Jember
50. Bondowoso
51. Situbondo
52. Probolinggo
53. Mojokerto
54. Nganjuk 55. Madiun
56. Magetan
57. Ngawi
58. Lamongan
59. Bangkalan
60. Sampang
61. Pamekasan
62. Sumenep
63. Kota Pasuruan
64. Kota Madiun
65. Pandeglang
66. Lebak
67. Serang

Sumber: Data diolah
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa jika DKI Jakarta tidak dimasukkan dalam
analisis, beberapa kabupaten/kota di sekitar DKI Jakarta mengalami pergeseran
menuju klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh (Kuadran I), diantaranya
yaitu Bogor, Karawang, dan Kota Bekasi. Kota Malang yang pada awalnya masuk
klasifikasi daerah maju tetapi tertekan, namun setelah DKI Jakarta dikeluarkan
dari analisis, Kota Malang masuk ke daerah cepat maju dan cepat tumbuh.
Pada klasifikasi kabupaten/kota maju tetapi tertekan (Kuadran II), terlihat
beberapa kabupaten/kota yang pada awalnya masuk klasifikasi kabupaten/kota
relatif tertinggal, pada saat DKI Jakarta dikeluarkan dari analisis bergeser menuju
klasifikasi kabupaten/kota maju tetapi tertekan. Beberapa kabupaten/kota tersebut
59

diantaranya Purwakarta, Kota Magelang, Kota Pekalongan, dan Kota


Probolinggo.
Beberapa kabupaten/kota yang mengalami pergeseran dari klasifikasi
kabupaten/kota relatif tertinggal (Kuadran IV) menjadi kabupaten/kota
berkembang cepat (Kuadran III) antara lain Tegal, Pasuruan, dan Jombang.
Terakhir, yang termasuk sebagai kabupaten/kota relatif tertinggal berkurang dari
75 kabupaten/kota menjadi 67 kabupaten/kota. Akan tetapi, 17 kabupaten yang
ditetapkan sebagai daerah tertinggal oleh KPDT tidak mengalami pergeseran ke
kuadran diatasnya. Sebanyak 67 kabupaten/kota yang diklasifikasikan sebagai
kabupaten/kota relatif tertinggal ini menunjukkan bahwa meskipun DKI Jakarta
telah dikeluarkan dari analisis, masih terdapat ketimpangan yang besar
antarkabupaten/kota di Jawa.

5.3. Hipotesis Kuznets
Teori Kurva U Terbalik dari Kuznets dapat dibuktikan dengan
membuat grafik antara PDRB per kapita dengan tingkat ketimpangan antardaerah.
Gambar 5.3a merupakan kurva hubungan antara Indeks Williamson sebagai
sumbu vertikal dengan PDRB per kapita sebagai sumbu horizontal di Pulau Jawa.
Berdasarkan gambar tersebut didapatkan bahwa hipotesis Kuznets yang
menggambarkan hubungan antara indeks ketimpangan dengan PDRB per kapita
yang berbentuk U terbalik tidak berlaku di Pulau Jawa.
60

Gambar 5

P
hipotesis
ketimpang
pembangu
tahap beri
pada pene
ketimpang
ekonomi
meningkat
sekunder d
dampak d
kata lain, h
(a)
.3. Kurva K
Pada Gamb
Kuznets
gan pemban
unan cende
ikutnya ada
elitian ini, t
gan menuru
dari tahun
t terus. H
dan tersier
dari kenaika
hipotesis Ku
Kuznets Jaw
bar 5.3a di
berlaku ya
ngunan men
rung menu
alah pertum
ahun 2004
un. Kemud
2006 samp
Hal ini dise
dan mening
an BBM, be
uznets tenta
0,167
0,169
0,171
0,173
0,175
0,177
5,00
I
n
d
e
k
s

W
i
l
l
i
a
m
s
o
n
Kurvaa Kuznets Jawa Tanp
wa dengan In
i atas terlih
aitu pada
ningkat dan
urun. Selanj
mbuhan den
ketimpanga
dian seiring
pai dengan
ebabkan se
ggalkan sek
encana alam
ang Kurva U
ndeks Willia
hat bahwa
tahap aw
n pada taha
jutnya sesu
ngan diserta
an kembali
g dengan m
n tahun 200
emakin ber
ktor primer.
m dan krisi
U Terbalik t
(b)
amson
pada tiga
wal pertumb
ap berikutny
uai hipotesi
ai pemerata
meningkat
meningkatny
08 ketimpa
rkembangny
. Selain itu
s keuangan
tidak berlak
5,50 6,00
PDRBper
Tahun 2001-20
pa DKI Jakarta
008
0 6,50
a tahun per
buhan eko
ya ketimpa
is Kuznets
aan. Akan t
dan tahun
ya pertumb
angan cende
ya sektor-s
juga diseba
n global. De
ku di Jawa.
rKapita
7,00
rtama
onomi
angan
pada
tetapi
2005
buhan
erung
sektor
abkan
engan
61

Ji
tinggi laju
pada titik
yang pada
Sehingga
Kuznets ti
terbalik K
ika Provins
u pertumbuh
tertentu ke
a akhirnya
meskipun
idak berlak
Kuznets terse
si DKI Jaka
hannya, ket
etimpangan
ketimpang
DKI Jakar
ku di Jawa.
ebut lebih b
arta dikeluar
timpangan
naik kemb
gan cenderu
rta tidak di
Satu hal ya
berlaku untu
rkan, maka
pembangun
bali dan beg
ung mening
ilakukan an
ang perlu d
uk jangka p
bisa dilihat
nan semakin
gitu seterus
gkat terus
nalisis, teta
diingat bahw
anjang.
t bahwa sem
n rendah h
snya berfluk
(Gambar 5
ap saja hipo
wa teori kur
makin
ingga
ktuasi
5.4b).
otesis
rva U
Gambar 5

S
mengguna
yaitu 200
ketimpang
yaitu diaw
sampai pa
Berdasark
pertumbuh
(a
.4. Kurva K
Selanjutnya,
akan Indeks
01-2002, ter
gan. Kemud
wali dengan
ada suatu tah
kan hipotesi
han dengan
a)
Kuznets Jaw
0,267
0,268
0,269
0,270
0,271
0,272
0,273
5,00
I
n
d
e
k
s

T
h
e
i
l
Kurva Kuznets Jawa Tanpa
, pada Gam
s Theil di Ja
rjadi penin
dian dari jan
n adanya t
hap maksim
is Kuznets
n disertai p
wa dengan In
mbar 5.4a m
awa. Pada ja
ngkatan per
ngka waktu
trade off a
mal, kemudi
seharusnya
pemerataan,
ndeks Theil
menunjukk
angka waktu
rtumbuhan
u 2002-2005
antara pertu
ian terjadin
tahap selan
, namun p
(b

kan Kurva
u satu tahun
diiringi de
5, hipotesis
umbuhan d
ya penurun
njutnya ada
ada penelit
5,50 6
PDRB pe
a DKI Jakarta, 2001-2
b)
Kuznets de
n awal pene
ngan penur
Kuznets be
dan ketimpa
nan ketimpa
alah pening
tian ini tah
6,00 6,50
er Kapita
2008
7,00
engan
elitian
runan
erlaku
angan
angan.
gkatan
hapan
62

terakhir adalah peningkatan pertumbuhan dengan disertai peningkatan


ketimpangan (growth with inequity). Sehingga, secara keseluruhan hipotesis
Kuznets tentang Kurva U Terbalik tidak terbukti di Jawa.
Begitupula dengan Kurva Kuznets Pulau Jawa dengan Indeks Theil tanpa
DKI Jakarta. Pada jangka waktu penelitian awal yaitu tahun 2001-2002 terjadi
peningkatan pertumbuhan dengan disertai penurunan ketimpangan. Kemudian
jangka waktu 2002-2003, ketimpangan cenderung stabil seiring dengan
pertumbuhan PDRB per kapita. Kurun waktu 2003-2004 terjadi trade off antara
pertumbuhan ekonomi dengan tingkat ketimpangan, begitu seterusnya kurva
Kuznets berfluktuasi seperti pada Gambar 5.4b.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN



6.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan analisis dan pembahasan
yang diuraikan di atas, yaitu:
1. Berdasarkan analisis Indeks Williamson dapat disimpulkan bahwa
ketimpangan antarprovinsi maupun antarkabupaten/kota di Jawa lebih
besar jika dibandingkan dengan ketimpangan antarprovinsi maupun
antarkabupaten/kota di Jawa tanpa DKI Jakarta.
2. Berdasarkan analisis Indeks Theil dapat disimpulkan bahwa ketimpangan
antarprovinsi dan dalam provinsi di Jawa memberikan kontribusi yang
hampir sama terhadap ketimpangan total di Jawa. Sedangkan ketimpangan
total Jawa tanpa DKI Jakarta didominasi oleh ketimpangan dalam provinsi
dengan rata-rata sebesar 93,57%.
3. Provinsi DKI Jakarta mempunyai peran perekonomian yang sangat
penting terhadap pembangunan ekonomi sehingga mempunyai peranan
yang besar terhadap ketimpangan di Jawa.
4. Berdasarkan analisis Tipologi Klassen provinsi, Pulau Jawa
diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu daerah cepat maju dan cepat
tumbuh, daerah berkembang cepat, serta daerah relatif tertinggal.
5. Berdasarkan analisis Tipologi Klassen kabupaten/kota, Pulau Jawa
diklasifikasikan menjadi empat daerah yaitu daerah cepat maju dan cepat
64

6. Hipotesis Kuznets yang menggambarkan hubungan antara tingkat


ketimpangan dengan pertumbuhan PDRB yang berbentuk kurva U terbalik
tidak berlaku di Jawa.

6.2. Saran
Beberapa saran yang dapat digunakan antara lain:
1. Basis ekonomi antardaerah perlu mendapatkan perhatian serius.
Konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu seperti DKI
Jakarta merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya
ketimpangan pembangunan antardaerah. Oleh karena itu, perlu adanya
pemisahan antara pemerintahan, industri, dan perdagangan.
2. Diperlukan suatu kerjasama dan koordinasi antara kabupaten/kota, terutama
dalam satu kelompok Pulau Jawa untuk mengejar ketertinggalan
pembangunan antarwilayah.
3. Diperlukan upaya terencana dan berkesinambungan untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pemerataan (growth with
equity) khususnya bagi daerah relatif tertinggal.
4. Hasil penelitian ini akan lebih berarti bilamana dikaitkan dengan masalah-
masalah sosial ekonomi lainnya seperti pendidikan, kesehatan, angkatan
kerja, dan lain-lain. Untuk itu penulis menyarankan adanya penelitian
lanjutan yang diharapkan dapat meninjau berbagai isu yang berkembang
secara lebih luas dan mendalam.
65

DAFTAR PUSTAKA

Akita, T and Kataoka, M. 2003. Regional Income Inequality in the Post War
Japan. 43rd Congress of the European Regional Science Association,
Jyvaskyla, Finland.

Badan Pusat Statistik. 2000. Pedoman Praktis Penghitungan PDRB
Kabupaten/Kotamadya: Pengertian Dasar: Buku 1, Jakarta.

_______. 2008. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia
2003-2007, Jakarta.

_______. 2008. Statistik Indonesia 2009, Jakarta.

_______. 2009. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia
2004-2008, Jakarta.

Bhakti, A.S.A.S. 2004. Kesenjangan Antardaerah di Pulau Jawa Ditinjau dari
Perspektif Sektoral dan Regional [tesis]. Fakultas Ekonomi, Universitas
Indonesia, Depok.

Bhakti, D. 2009. Ketimpangan Pendapatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Sebelum dan Selama Desentralisasi [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bhinadi, A. 2002. Disparitas Pertumbuhan Ekonomi Jawa dengan Luar Jawa.
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Ekonomi Negara Berkembang,
Volume 8, Nomor 1: 39-48.

Caska dan RM. Riadi. 2005. Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan
Ekonomi Antar Daerah di Provinsi Riau. Universitas Riau, Pekanbaru.

Chrisyanto, C. 2006. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketimpangan
Perekonomian antar Daerah di Indonesia [tesis]. Fakultas Ekonomi,
Universitas Indonesia, Depok.

Emilia dan Imelia. 2006. Ekonomi Regional. Fakultas Ekonomi, Universitas
Jambi, Jambi.

Hartono, B. 2008. Analisis Ketimpangan Pembangunan Ekonomi di Provinsi
Jawa Tengah [thesis]. Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro,
Semarang.

Jhingan, M.L. 2010. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Rajawali Pers,
Jakarta.
66

Khusaini. 2004. Analisis Disparitas Antar Daerah Kabupaten/Kota Dan


Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional Di Provinsi
Banten [tesis]. Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas
Indonesia, Depok.

Kuncoro, M. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Erlangga, Jakarta.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 2000. Kajian Ketimpangan
Pembangunan Ekonomi Antar Wilayah Indonesia. Jakarta.

_______. 2000. Kajian Ketimpangan Jawa dan Luar Jawa. Jurnal Ekonomi dan
Pembangunan, Volume IX, Nomor 2:97-110.

Mankiw, N. G. 2007. Makroekonomi. Edisi keenam. Erlangga, Jakarta.

Masli, L. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Ekonomi dan Ketimpangan Regional antar Kabupaten/Kota di Provinsi
Jawa Barat. Jurnal Sains Manajemen dan Akuntansi STIE STAN-IM.
Volume 1, Nomor 1.

Prasetyo, R.B. 2008. Ketimpangan dan Pengaruh Infrastruktur Terhadap
Pembangunan Ekonomi Kawasan Barat Indonesia [skripsi]. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Prayitno, H. dan B. Santosa. 1996. Ekonomi Pembangunan. Ghalia Indonesia,
Jakarta.

Priyanto, A. 2009. Analisis Ketimpangan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Saskara, I.A. 2007. Kesenjangan Pembangunan Ekonomi antar Daerah
Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Forum Manajemen, Volume 5, Nomor
1: 91-97.

Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Baduose Media, Padang.

Sukirno, S. 2007. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar
Kebijakan. Kencana, Jakarta.

Sutarno dan M. Kuncoro. 2003. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Antar
Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Jurnal Ekonomi Pembangunan:
Kajian Ekonomi Negara Berkembang, Volume 8, Nomor 2:97-110.

Tadjoeddin, M.Z. 2003. Aspiration To Inequality:Regional Disparity And Centre-
Regional Conflicts In Indonesia. United Nations University, Tokyo.
67


Todaro, M.P. dan Smith, S.C. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid I. Edisi ke-9.
Haris Munandar (penerjemah). Erlangga, Jakarta.

Wijayanto, D.Y. 2005. Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Daerah
di Kabupaten Semarang [skripsi]. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Semarang, Semarang.

























69

Lampiran 1 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Jawa (Juta Rupiah)

No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1 Kep. Seribu 1,428,746.01 1,383,390.57 1,189,123.18 1,118,223.87 1,050,064.29 1,072,123.71 1,081,737.43 1,092,440.24
2 Jakarta Selatan 53,327,936.57 55,784,706.93 58,900,108.37 62,191,038.91 65,772,296.36 69,896,625.59 74,377,052.10 78,997,462.57
3 Jakarta Timur 40,791,229.79 42,784,904.00 45,033,276.35 47,621,546.09 50,495,912.00 53,489,027.63 56,886,294.12 60,123,980.87
4 Jakarta Pusat 61,327,015.80 64,234,136.69 67,559,195.05 71,609,431.78 75,964,761.76 80,548,626.42 85,780,643.12 91,228,665.29
5 Jakarta Barat 35,780,190.27 37,522,151.33 39,496,181.56 41,659,237.38 44,169,682.46 46,798,827.28 49,762,617.74 52,734,937.77
6 Jakarta Utara 45,160,743.61 47,318,896.80 49,793,908.00 52,659,304.47 55,829,604.34 59,123,442.00 62,880,809.57 66,533,400.23
7 Kab. Bogor 20,464,359.05 21,385,612.91 22,421,165.08 23,671,429.21 25,056,365.22 26,546,186.63 28,151,318.85 29,721,698.04
8 Kab. Sukabumi 6,097,295.40 6,331,391.75 6,568,259.18 6,828,320.51 7,125,599.90 7,404,870.48 7,714,652.99 8,015,201.03
9 Kab. Cianjur 5,875,030.43 6,094,911.49 6,318,986.09 6,569,796.50 6,820,520.45 7,048,228.89 7,342,965.05 7,639,658.34
10 Kab. Bandung 18,582,686.85 19,501,563.68 20,473,789.68 21,574,729.45 22,772,640.74 24,105,798.94 25,495,211.63 26,832,127.87
11 Kab. Garut 7,581,018.88 7,880,905.43 8,093,894.41 8,418,445.43 8,768,410.50 9,128,807.90 9,563,128.46 10,011,296.18
12 Kab. Tasikmalaya 3,785,154.65 3,901,465.81 4,035,622.53 4,177,562.24 4,337,406.06 4,511,372.24 4,883,981.54 5,080,500.04
13 Kab. Ciamis 4,973,056.79 5,185,406.32 5,396,452.35 5,631,737.68 5,889,671.26 6,115,834.64 6,422,150.01 6,739,795.41
14 Kab. Kuningan 2,741,011.62 2,852,880.97 2,953,394.13 3,072,812.51 3,198,189.04 3,329,844.21 3,470,198.67 3,619,216.35
15 Kab. Cirebon 5,325,137.14 5,544,641.40 5,768,836.08 6,038,363.81 6,343,778.91 6,669,999.63 7,026,563.79 7,371,621.54
16 Kab. Majalengka 3,051,462.36 3,152,036.92 3,254,183.36 3,387,039.35 3,538,226.77 3,686,235.93 3,865,690.52 4,042,240.29
17 Kab. Sumedang 3,827,066.05 3,979,480.63 4,133,002.92 4,311,330.91 4,506,200.56 4,694,276.21 4,911,883.03 5,136,819.72
18 Kab. Indramayu 12,913,620.41 13,812,336.63 12,775,269.32 13,369,131.43 12,323,269.39 12,621,074.47 12,956,044.05 13,233,522.04
19 Kab. Subang 4,555,654.36 4,889,793.86 5,209,017.21 5,633,680.03 6,026,462.33 6,173,853.79 6,473,285.04 6,779,801.94
20 Kab. Purwakarta 4,992,195.46 5,191,883.28 5,348,158.96 5,547,110.48 5,741,814.05 5,963,995.28 6,196,747.91 6,506,042.30
21 Kab. Karawang 11,011,754.00 11,386,620.00 11,803,041.00 13,423,736.19 14,479,920.56 15,568,184.09 16,558,530.64 18,353,975.09
22 Kab. Bekasi 33,276,384.47 35,066,761.76 36,732,895.55 38,976,643.97 41,319,270.04 43,793,374.65 46,481,291.50 49,302,484.58
23 Kota Bogor 2,823,430.21 2,986,837.37 3,168,185.54 3,361,438.93 3,567,230.91 3,782,273.71 4,012,743.17 4,252,821.78
24 Kota Sukabumi 1,141,864.78 1,202,798.55 1,267,582.78 1,340,714.16 1,420,505.39 1,509,018.71 1,607,222.90 1,705,461.58
25 Kota Bandung 16,080,000.03 17,226,732.09 18,490,720.67 19,874,812.60 21,370,696.00 23,043,103.74 24,941,516.65 26,978,908.92
26 Kota Cirebon 4,122,353.24 4,297,231.67 4,481,548.13 4,690,384.59 4,919,849.75 5,192,353.79 5,512,869.37 5,823,528.10
27 Kota Bekasi 9,531,352.75 10,019,135.93 10,545,455.20 11,112,519.42 11,739,945.23 12,453,012.95 13,255,153.53 14,042,404.19
28 Kota Depok 3,694,722.33 3,924,054.35 4,169,755.44 4,440,876.83 4,750,034.10 5,066,129.06 5,422,760.39 5,770,827.63
29 Kota Cimahi 4,331,201.11 4,505,787.28 4,694,208.57 4,898,150.91 5,121,599.93 5,368,656.06 5,638,909.76 5,908,068.14
30 Kota Tasikmalaya 2,479,073.31 2,584,132.14 2,698,635.23 2,833,366.59 2,947,228.42 3,097,968.38 3,283,255.81 3,470,241.90
31 Kota Banjar 500,256.52 516,751.15 538,477.50 562,184.33 588,215.84 615,936.27 646,323.90 677,455.67
32 Kab. Cilacap 14,748,667.52 16,015,937.33 17,029,165.06 18,162,397.84 19,565,221.07 20,564,936.12 21,108,693.94 22,390,015.92
33 Kab. Banyumas 3,113,408.02 3,227,485.20 3,347,157.94 3,486,633.69 3,598,399.16 3,759,547.61 3,958,645.95 4,171,468.95
34 Kab. Purbalingga 1,661,656.60 1,730,318.81 1,784,928.21 1,844,532.07 1,921,653.92 2,018,808.10 2,143,746.23 2,257,392.77
70

Lampiran 1. (Lanjutan)

No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
35 Kab. Banjarnegara 2,032,775.82 2,050,087.27 2,110,732.68 2,191,162.85 2,277,617.86 2,376,694.59 2,495,785.82 2,619,989.61
36 Kab. Kebumen 2,117,547.15 2,199,785.05 2,264,331.25 2,291,022.40 2,364,385.90 2,460,816.97 2,572,062.88 2,721,254.09
37 Kab. Purworejo 1,955,370.81 2,050,804.73 2,125,411.75 2,214,137.28 2,321,543.04 2,442,927.31 2,591,535.38 2,737,087.13
38 Kab. Wonosobo 1,423,801.85 1,453,827.30 1,487,044.15 1,521,807.31 1,570,347.69 1,621,132.33 1,679,149.65 1,741,148.31
39 Kab. Magelang 2,752,751.79 2,867,361.54 2,982,476.10 3,102,727.38 3,245,978.81 3,405,369.22 3,582,647.65 3,761,388.59
40 Kab. Boyolali 2,984,872.32 3,062,304.14 3,211,066.50 3,320,736.82 3,456,062.13 3,601,225.20 3,748,102.11 3,899,372.86
41 Kab. Klaten 3,477,045.38 3,612,899.26 3,791,474.35 3,975,792.87 4,158,205.16 4,253,788.00 4,394,688.02 4,567,200.96
42 Kab. Sukoharjo 3,397,537.25 3,490,382.02 3,629,051.38 3,786,212.72 3,941,788.46 4,120,437.35 4,330,992.90 4,540,751.53
43 Kab. Wonogiri 2,115,449.88 2,182,648.94 2,237,790.02 2,329,465.32 2,429,869.63 2,528,851.78 2,657,068.89 2,770,435.78
44 Kab. Karanganyar 3,360,714.37 3,546,613.14 3,746,320.10 3,970,278.92 4,188,330.50 4,401,301.74 4,654,054.50 4,900,690.40
45 Kab. Sragen 1,963,635.75 2,030,754.80 2,104,533.12 2,208,294.40 2,322,239.43 2,442,570.43 2,582,492.48 2,729,450.32
46 Kab. Grobogan 2,195,206.73 2,321,920.48 2,372,922.55 2,462,661.26 2,579,283.26 2,682,467.18 2,799,700.55 2,948,793.80
47 Kab. Blora 1,511,781.47 1,544,785.32 1,598,570.83 1,659,635.43 1,731,375.92 1,803,169.23 1,871,131.42 1,979,627.22
48 Kab. Rembang 1,583,725.62 1,637,136.95 1,686,409.73 1,762,799.91 1,825,560.59 1,926,563.25 1,999,951.16 2,093,412.59
49 Kab. Pati 3,161,503.83 3,256,362.76 3,331,575.28 3,473,080.90 3,609,798.36 3,770,330.52 3,966,062.17 4,162,082.37
50 Kab. Kudus 8,429,424.56 8,887,863.35 9,354,366.26 10,198,527.38 10,647,407.99 10,881,159.80 11,243,359.38 11,683,819.73
51 Kab. Jepara 2,915,878.15 3,032,806.32 3,146,838.55 3,272,708.72 3,411,159.47 3,554,051.11 3,722,677.82 3,889,988.85
52 Kab. Demak 2,177,849.20 2,237,835.55 2,301,218.90 2,379,485.66 2,471,258.72 2,570,573.50 2,677,366.77 2,787,524.02
53 Kab. Semarang 3,915,169.47 4,128,481.21 4,283,284.51 4,345,991.15 4,481,358.29 4,652,041.80 4,871,444.25 5,079,003.74
54 Kab. Temanggung 1,733,922.59 1,788,905.77 1,850,422.13 1,917,584.33 1,994,172.89 2,060,140.23 2,143,221.22 2,219,155.63
55 Kab. Kendal 3,818,784.14 3,949,051.74 4,061,726.90 4,167,626.21 4,277,354.27 4,434,408.16 4,625,455.57 4,822,465.28
56 Kab. Batang 1,794,227.52 1,833,190.97 1,880,020.18 1,918,980.13 1,972,776.85 2,022,301.42 2,092,973.93 2,169,854.55
57 Kab. Pekalongan 2,247,048.20 2,311,516.63 2,396,116.15 2,501,229.52 2,600,855.96 2,710,378.32 2,834,685.01 2,970,214.98
58 Kab. Pemalang 2,391,574.72 2,473,721.82 2,556,576.12 2,654,777.51 2,762,252.29 2,865,095.20 2,993,296.76 3,142,808.70
59 Kab. Tegal 2,296,261.23 2,414,200.05 2,547,921.29 2,682,689.71 2,809,340.21 2,955,259.71 3,120,395.64 3,286,263.44
60 Kab. Brebes 3,590,343.21 3,773,041.37 3,956,229.45 4,147,511.33 4,346,424.44 4,551,196.99 4,769,145.46 4,998,528.19
61 Kota Magelang 759,504.24 782,362.46 811,631.44 841,736.15 878,160.76 899,564.97 946,098.16 993,835.20
62 Kota Surakarta 3,113,668.99 3,268,559.54 3,468,276.94 3,669,373.45 3,858,169.67 4,067,529.94 4,304,287.37 4,549,342.95
63 Kota Salatiga 611,506.07 637,991.58 665,086.52 693,286.63 722,063.94 752,149.22 792,680.44 832,154.88
64 Kota Semarang 13,628,649.59 14,218,499.38 14,793,047.80 15,402,671.37 16,194,264.63 17,118,705.29 18,142,639.97 19,156,814.29
65 Kota Pekalongan 1,487,360.85 1,516,206.87 1,574,763.64 1,638,791.54 1,701,324.24 1,753,405.74 1,820,001.21 1,887,853.70
66 Kota Tegal 814,469.19 853,697.25 903,421.50 956,243.56 1,002,821.99 1,054,499.45 1,109,438.21 1,166,587.87
67 Kab. Kulon Progo 1,234,011.00 1,284,808.00 1,338,700.00 1,398,743.90 1,465,477.00 1,524,848.29 1,587,630.00 1,662,370.00
68 Kab. Bantul 2,681,329.39 2,800,955.18 2,932,377.26 3,080,311.60 3,234,172.86 3,299,645.85 3,448,948.76 3,618,060.49
69 Kab. Gunung Kidul 2,367,099.13 2,444,305.64 2,526,516.07 2,613,238.00 2,726,388.71 2,830,582.92 2,941,287.99 3,070,297.61
71

Lampiran 1. (Lanjutan)

No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
70 Kab. Sleman 4,171,269.93 4,374,022.46 4,596,226.61 4,837,376.08 5,080,564.31 5,309,059.21 5,553,593.02 5,838,246.09
71 Kota Yogyakarta 3,648,181.85 3,812,425.47 3,993,837.15 4,195,392.00 4,397,849.00 4,572,503.90 4,776,401.00 5,021,149.06
72 Kab. Pacitan 1,058,981.12 1,054,627.59 1,083,514.11 1,121,289.93 1,162,300.55 1,211,931.91 1,274,457.26 1,345,501.20
73 Kab. Ponorogo 2,193,864.62 2,271,917.60 2,362,406.72 2,464,589.74 2,573,609.41 2,694,520.70 2,871,341.71 3,034,363.54
74 Kab. Trenggalek 1,518,131.37 1,567,418.65 1,620,079.19 1,682,764.52 1,753,906.01 1,837,946.75 1,938,067.72 2,046,833.48
75 Kab. Tulungagung 4,852,754.02 5,080,611.40 5,320,887.99 5,588,457.30 5,874,962.78 6,196,735.17 6,552,885.24 6,936,741.79
76 Kab. Blitar 3,651,369.19 3,771,936.81 3,947,300.04 4,124,787.31 4,338,529.37 4,571,842.88 4,836,204.93 5,128,535.24
77 Kab. Kediri 4,481,049.48 4,635,463.03 4,815,356.38 5,017,086.67 5,232,029.80 5,471,105.73 5,713,217.77 5,962,064.84
78 Kab. Malang 9,194,525.65 9,537,799.81 9,923,823.15 10,466,449.27 10,987,067.99 11,617,936.65 12,325,207.43 13,034,488.46
79 Kab. Lumajang 4,024,415.28 4,172,514.94 4,353,045.04 4,570,180.20 4,793,733.63 5,044,176.39 5,321,481.75 5,610,679.26
80 Kab. Jember 6,912,406.88 7,185,061.97 7,473,399.52 7,821,292.24 8,236,276.67 8,705,996.37 9,226,767.89 9,783,828.13
81 Kab. Banyuwangi 6,788,903.62 7,431,229.63 7,725,704.20 8,029,336.49 8,414,262.77 8,815,927.14 9,309,065.68 9,845,052.99
82 Kab. Bondowoso 1,498,800.15 1,545,576.30 1,604,261.61 1,684,859.73 1,772,844.07 1,871,753.00 1,974,898.45 2,079,742.59
83 Kab. Situbondo 2,300,214.81 2,372,999.54 2,468,599.58 2,573,128.01 2,703,988.41 2,852,394.95 3,013,285.64 3,171,090.94
84 Kab. Probolinggo 4,316,779.52 4,500,481.72 4,683,601.65 4,894,982.91 5,126,680.92 5,418,554.86 5,742,265.63 6,073,913.66
85 Kab. Pasuruan 4,257,094.64 4,426,500.66 4,617,793.72 4,847,570.50 5,101,155.29 5,403,934.51 5,737,509.89 6,075,291.88
86 Kab. Sidoarjo 16,710,242.79 17,380,423.64 18,144,068.42 19,110,831.66 20,201,363.97 21,287,726.59 22,386,181.46 23,431,672.74
87 Kab. Mojokerto 3,829,199.61 3,973,883.39 4,132,789.51 4,341,533.35 4,574,703.71 4,825,150.21 5,111,149.58 5,411,938.53
88 Kab. Jombang 3,952,998.85 4,109,738.16 4,311,449.12 4,531,339.96 4,773,509.61 5,047,094.89 5,353,300.63 5,673,483.59
89 Kab. Nganjuk 3,060,921.23 3,177,534.23 3,320,952.34 3,492,408.48 3,691,208.27 3,913,021.49 4,152,601.53 4,400,779.52
90 Kab. Madiun 1,830,967.78 1,895,358.48 1,954,805.26 2,022,086.08 2,115,603.56 2,212,871.48 2,329,838.15 2,452,601.92
91 Kab. Magetan 2,154,260.91 2,219,008.93 2,297,109.30 2,392,632.56 2,507,673.01 2,639,069.03 2,776,572.47 2,920,176.07
92 Kab. Ngawi 2,076,059.58 2,122,888.84 2,187,262.88 2,282,391.93 2,385,681.99 2,510,075.52 2,639,717.89 2,785,335.43
93 Kab. Bojonegoro 3,918,933.95 4,060,242.03 4,202,968.31 4,608,476.29 5,329,967.28 5,267,341.73 6,675,879.75 7,505,833.16
94 Kab. Tuban 4,172,106.54 4,344,996.62 4,529,416.29 4,736,251.45 4,998,869.99 5,314,227.21 5,659,252.28 6,039,563.56
95 Kab. Lamongan 3,325,775.84 3,412,124.82 3,537,722.65 3,695,793.74 3,883,701.78 4,092,914.89 4,328,739.32 4,598,166.81
96 Kab. Gresik 9,600,031.34 10,043,999.76 10,487,376.42 11,102,199.28 11,892,606.44 12,702,413.51 13,553,685.95 14,412,941.49
97 Kab. Bangkalan 2,293,543.51 2,366,800.38 2,462,808.91 2,575,129.14 2,697,572.26 2,827,144.75 2,969,195.88 3,115,331.21
98 Kab. Sampang 1,842,289.42 1,886,435.72 1,945,290.96 2,021,642.86 2,101,077.26 2,187,483.76 2,279,628.67 2,384,149.57
99 Kab. Pamekasan 1,399,123.75 1,437,461.32 1,491,976.74 1,551,602.66 1,621,138.27 1,694,484.13 1,775,107.44 1,873,185.89
100 Kab. Sumenep 3,868,467.96 3,990,589.98 4,138,194.58 4,250,267.32 4,381,014.06 4,567,317.34 4,786,946.28 5,014,543.53
101 Kota Kediri 17,609,569.19 17,069,064.88 17,726,378.63 18,745,979.83 18,792,298.38 19,768,496.40 20,660,129.01 21,623,890.29
102 Kota Blitar 458,527.62 486,806.52 513,456.97 543,401.81 574,442.04 608,298.10 645,936.36 686,549.15
103 Kota Malang 8,398,065.72 8,684,854.46 9,063,136.48 9,593,857.30 10,136,320.71 10,745,067.46 11,412,769.63 12,118,269.47
104 Kota Probolinggo 1,248,319.77 1,303,696.68 1,356,238.14 1,432,569.75 1,513,804.23 1,603,445.99 1,705,841.88 1,808,452.67
72

Lampiran 1. (Lanjutan)


No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
105 Kota Pasuruan 703,963.02 731,483.49 765,629.40 809,581.70 856,746.45 905,174.47 954,628.55 1,006,823.61
106 Kota Mojokerto 754,227.73 793,515.84 838,305.42 887,077.04 935,647.65 987,173.15 1,046,188.09 1,101,295.70
107 Kota Madiun 742,600.07 773,497.25 807,873.94 846,174.40 889,322.53 937,574.10 995,215.21 1,057,364.29
108 Kota Surabaya 48,989,883.71 50,942,757.11 53,125,899.88 56,312,931.76 59,877,994.44 63,677,389.53 67,695,819.92 71,913,820.46
109 Kota Batu 773,466.44 814,228.12 848,669.97 895,261.94 952,545.24 1,018,209.86 1,087,389.59 1,162,186.88
110 Kab. Pandeglang 2,779,131.04 2,919,599.34 3,052,872.34 3,211,069.95 3,398,589.82 3,510,268.02 3,667,467.40 3,824,711.66
111 Kab. Lebak 2,848,261.94 2,943,833.77 3,046,905.45 3,170,530.64 3,289,215.00 3,392,776.01 3,559,031.99 3,703,579.42
112 Kab. Tangerang 13,173,440.30 13,787,391.66 14,401,066.58 15,323,646.74 16,445,456.12 17,576,747.54 20,042,591.44 21,309,004.85
113 Kab. Serang 6,781,749.99 7,020,647.75 7,317,283.70 7,638,401.10 7,973,370.70 8,357,679.63 8,785,786.50 9,172,970.52
114 Kota Tangerang 16,762,663.12 17,758,912.75 18,987,715.02 20,079,268.53 21,462,167.93 22,932,602.88 24,505,118.02 26,066,992.52
115 Kota Cilegon 7,208,186.57 7,720,263.47 8,281,367.51 8,886,737.29 9,440,708.14 9,972,846.95 10,518,939.33 11,047,320.64
TOTAL KAB/KOTA 807,274,259.23 843,281,382.40 881,368,659.80 929,860,607.22 979,864,320.42 1,033,835,944.89 1,096,154,400.05 1,159,315,571.26
PDRB MENURUT PROVINSI DI JAWA (JUTA RUPIAH)
NO. PROVINSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1 DKI JAKARTA 238,656,137.26 250,331,156.55 263,624,241.89 278,524,822.22 295,270,543.61 312,826,712.76 332,971,254.83 353,694,057.17
2 JAWA BARAT 202,131,382.92 209,731,189.42 219,525,220.65 230,003,495.86 242,883,881.74 257,499,445.75 274,180,307.83 290,180,021.06
3 JAWA TENGAH 118,816,400.29 123,038,541.13 129,166,462.45 135,789,872.31 143,051,213.88 150,682,654.74 159,110,253.77 167,790,369.85
4 DI YOGYAKARTA 14,055,070.59 14,687,284.33 15,360,408.85 16,146,423.77 16,910,876.87 17,535,749.31 18,291,511.71 19,208,937.53
5 JAWA TIMUR 210,448,570.19 218,452,389.09 228,884,458.54 242,228,892.17 256,374,726.78 271,249,316.68 287,814,183.92 304,922,688.10
6 BANTEN 47,495,383.36 49,449,321.34 51,957,457.73 54,880,406.50 58,106,948.22 61,341,658.64 65,046,775.77 68,802,910.30
TOTAL 831,602,944.60 865,689,881.86 908,518,250.11 957,573,912.84 1,012,598,191.10 1,071,135,537.88 1,137,414,287.81 1,204,598,984.00
73

Lampiran 2. Jumlah Penduduk Pulau Jawa


No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1 Kep. Seribu 18,365 19,027 19,947 20,113 18,644 18,925 19,203 19,423
2 Jakarta Selatan 1,809,930 1,833,280 1,867,028 1,895,887 2,007,172 2,053,770 2,100,679 2,141,773
3 Jakarta Timur 2,385,121 2,417,082 2,447,412 2,487,328 2,404,127 2,414,021 2,423,065 2,428,213
4 Jakarta Pusat 889,000 885,000 883,462 897,118 889,448 891,907 894,045 894,740
5 Jakarta Barat 1,947,625 1,962,900 2,012,343 2,027,608 2,093,185 2,131,863 2,170,459 2,202,672
6 Jakarta Utara 1,427,430 1,435,280 1,409,992 1,421,726 1,447,805 1,452,732 1,457,140 1,459,360
7 Kab. Bogor 3,630,400 3,762,220 3,796,789 3,797,875 3,835,563 3,903,650 3,971,128 4,029,263
8 Kab. Sukabumi 2,112,039 2,152,241 2,178,681 2,190,080 2,171,398 2,190,590 2,208,941 2,221,652
9 Kab. Cianjur 1,974,804 2,005,693 2,052,372 2,063,682 2,082,323 2,110,055 2,137,178 2,159,020
10 Kab. Bandung 3,815,111 3,916,479 4,046,415 4,097,366 4,044,117 4,112,027 4,179,163 4,236,349
11 Kab. Garut 2,087,400 2,122,263 2,200,056 2,204,175 2,198,767 2,228,953 2,258,520 2,282,527
12 Kab. Tasikmalaya 1,292,223 1,309,242 1,595,483 1,616,858 1,619,052 1,644,513 1,669,610 1,690,681
13 Kab. Ciamis 1,473,093 1,486,132 1,505,149 1,506,833 1,512,358 1,522,184 1,531,372 1,536,609
14 Kab. Kuningan 988,582 994,413 1,037,940 1,038,596 1,045,804 1,058,167 1,070,186 1,079,527
15 Kab. Cirebon 1,956,459 1,984,444 2,046,450 2,058,625 2,045,320 2,068,411 2,090,805 2,107,945
16 Kab. Majalengka 1,124,851 1,130,658 1,156,774 1,161,785 1,169,616 1,179,136 1,188,189 1,194,198
17 Kab. Sumedang 981,405 994,910 1,019,360 1,025,572 1,018,887 1,028,923 1,038,582 1,045,605
18 Kab. Indramayu 1,604,098 1,616,929 1,655,520 1,656,647 1,689,961 1,710,227 1,729,944 1,745,337
19 Kab. Subang 1,339,956 1,351,894 1,373,626 1,387,511 1,383,238 1,393,796 1,403,792 1,410,182
20 Kab. Purwakarta 713,715 728,271 751,608 763,743 757,645 769,501 781,185 790,984
21 Kab. Karawang 1,814,634 1,846,097 1,888,900 1,902,537 1,929,208 1,958,381 1,987,085 2,010,966
22 Kab. Bekasi 1,739,734 1,815,414 1,870,270 1,934,004 1,985,145 2,054,795 2,125,915 2,193,776
23 Kota Bogor 762,677 776,404 816,911 907,614 898,492 931,092 964,434 996,371
24 Kota Sukabumi 255,335 258,590 269,987 275,550 293,544 302,459 311,502 319,981
25 Kota Bandung 2,157,835 2,183,491 2,231,139 2,239,757 2,303,913 2,338,359 2,372,234 2,400,340
26 Kota Cirebon 275,705 278,365 273,311 275,228 309,728 317,732 325,794 333,191
27 Kota Bekasi 1,726,206 1,796,799 1,846,920 1,941,065 1,997,525 2,071,427 2,147,080 2,219,708
28 Kota Depok 1,186,684 1,228,578 1,319,990 1,320,773 1,378,937 1,431,186 1,484,735 1,536,282
29 Kota Cimahi 453,432 465,141 473,234 504,772 548,450 572,463 597,254 621,498
30 Kota Tasikmalaya 799,185 809,202 568,121 575,732 582,911 585,669 588,171 589,147
31 Kota Banjar 157,957 159,467 162,959 164,495 163,538 164,927 166,252 167,151
32 Kab. Cilacap 1,685,024 1,692,263 1,646,372 1,659,960 1,620,153 1,621,737 1,623,176 1,626,795
33 Kab. Banyumas 1,491,912 1,503,917 1,505,855 1,519,226 1,485,368 1,491,469 1,495,981 1,503,262
34 Kab. Purbalingga 841,183 849,813 849,406 856,720 811,602 816,813 821,870 828,125
35 Kab. Banjarnegara 867,455 875,441 887,259 895,828 855,211 859,178 864,148 869,777
36 Kab. Kebumen 1,171,329 1,176,822 1,196,095 1,202,651 1,197,769 1,203,876 1,208,716 1,215,801
37 Kab. Purworejo 765,788 768,405 709,859 711,132 715,487 717,326 719,396 722,293
38 Kab. Wonosobo 741,374 748,181 762,107 771,261 749,832 752,309 754,447 757,746
39 Kab. Magelang 1,108,407 1,117,366 1,146,034 1,158,067 1,145,246 1,153,915 1,161,278 1,170,894
40 Kab. Boyolali 925,219 929,342 928,097 935,091 923,652 928,712 932,698 938,469
41 Kab. Klaten 1,261,950 1,268,403 1,123,165 1,131,476 1,123,484 1,125,650 1,128,852 1,133,012
42 Kab. Sukoharjo 790,087 799,230 812,029 825,281 807,736 814,018 819,621 826,699
43 Kab. Wonogiri 1,114,311 1,130,367 1,005,690 1,008,403 977,486 978,651 980,132 982,730
44 Kab. Karanganyar 804,031 810,088 815,077 824,636 793,771 800,595 805,462 812,423
45 Kab. Sragen 848,187 850,405 861,301 865,112 854,751 856,271 857,844 860,509
46 Kab. Grobogan 1,331,383 1,341,703 1,304,304 1,319,474 1,310,208 1,318,145 1,326,414 1,336,322
47 Kab. Blora 827,240 831,372 828,768 834,837 827,587 830,201 831,909 835,160
48 Kab. Rembang 562,815 569,378 578,136 583,301 568,868 570,842 572,879 575,640
49 Kab. Pati 1,176,678 1,185,488 1,191,564 1,203,180 1,162,702 1,165,004 1,167,621 1,171,605
50 Kab. Kudus 710,915 716,664 741,472 750,707 754,424 764,633 774,838 786,269
51 Kab. Jepara 984,773 1,002,381 1,041,005 1,059,638 1,042,723 1,057,635 1,073,631 1,090,839
52 Kab. Demak 990,600 996,384 1,031,654 1,051,736 1,010,435 1,017,471 1,025,388 1,034,286
53 Kab. Semarang 836,334 839,512 881,972 888,430 881,477 891,046 900,420 911,223
54 Kab. Temanggung 662,648 667,600 698,149 707,834 689,103 694,447 700,845 707,707
55 Kab. Kendal 881,025 885,732 884,405 891,116 913,291 926,125 938,115 952,011
56 Kab. Batang 665,482 671,215 695,506 704,413 673,406 675,574 678,909 682,561
74

Lampiran 2. (Lanjutan)




No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
57 Kab. Pekalongan 806,334 813,104 834,201 846,832 831,631 838,090 844,228 851,700
58 Kab. Pemalang 1,269,731 1,276,146 1,324,829 1,348,386 1,330,394 1,343,992 1,358,952 1,375,240
59 Kab. Tegal 1,390,223 1,405,639 1,435,337 1,453,318 1,403,311 1,406,858 1,410,290 1,415,625
60 Kab. Brebes 1,702,034 1,707,969 1,771,026 1,793,184 1,755,250 1,766,347 1,775,939 1,788,687
61 Kota Magelang 115,117 115,847 121,079 126,169 127,764 129,854 132,177 134,615
62 Kota Surakarta 489,881 489,386 492,325 513,024 508,281 511,731 517,557 522,935
63 Kota Salatiga 145,101 145,485 160,592 168,113 167,865 171,277 174,699 178,451
64 Kota Semarang 1,322,052 1,334,696 1,396,059 1,416,227 1,448,217 1,468,268 1,488,645 1,511,236
65 Kota Pekalongan 262,250 263,224 272,208 274,626 270,283 271,786 273,342 275,241
66 Kota Tegal 236,808 240,927 242,423 243,397 239,200 239,549 239,860 240,502
67 Kab. Kulon Progo 370,728 370,474 375,628 376,055 373,770 374,112 374,445 374,783
68 Kab. Bantul 790,114 799,236 815,972 818,764 862,961 879,825 896,994 909,812
69 Kab. Gunung Kidul 672,422 674,273 686,306 687,412 681,554 683,389 685,210 686,772
70 Kab. Sleman 915,081 928,579 941,281 945,045 990,130 1,008,295 1,026,767 1,040,220
71 Kota Yogyakarta 395,775 394,140 392,239 396,238 435,236 443,112 451,118 456,915
72 Kab. Pacitan 532,726 535,674 538,640 540,026 547,091 551,155 555,262 557,029
73 Kab. Ponorogo 864,424 866,995 869,438 869,912 878,305 885,377 892,527 895,921
74 Kab. Trenggalek 663,790 667,582 669,685 671,022 667,975 671,281 674,620 675,380
75 Kab. Tulungagung 949,197 954,853 960,479 962,825 969,767 977,415 985,147 988,731
76 Kab. Blitar 1,100,663 1,105,902 1,111,075 1,113,170 1,069,151 1,069,462 1,069,798 1,070,122
77 Kab. Kediri 1,454,244 1,464,954 1,475,561 1,479,687 1,439,885 1,445,474 1,451,119 1,451,630
78 Kab. Malang 2,322,699 2,331,120 2,341,598 2,355,405 2,357,442 2,379,402 2,401,624 2,413,779
79 Kab. Lumajang 987,939 993,971 999,929 1,002,131 1,005,734 1,013,483 1,021,317 1,024,849
80 Kab. Jember 2,205,492 2,219,175 2,233,325 2,242,222 2,278,307 2,295,610 2,313,100 2,320,844
81 Kab. Banyuwangi 1,526,870 1,533,679 1,540,050 1,540,429 1,517,432 1,522,382 1,527,384 1,531,753
82 Kab. Bondowoso 700,692 704,831 708,973 710,822 701,105 703,233 705,384 707,242
83 Kab. Situbondo 613,778 617,570 621,407 623,362 616,505 618,754 621,026 623,042
84 Kab. Probolinggo 1,017,365 1,027,181 1,037,555 1,045,184 1,032,310 1,037,292 1,042,323 1,043,671
85 Kab. Pasuruan 1,381,027 1,401,079 1,422,820 1,441,383 1,422,352 1,432,977 1,443,716 1,448,370
86 Kab. Sidoarjo 1,592,385 1,638,669 1,690,266 1,738,899 1,702,372 1,730,740 1,759,623 1,781,405
87 Kab. Mojokerto 938,758 954,161 970,576 982,989 971,313 983,949 996,774 1,005,486
88 Kab. Jombang 1,152,962 1,163,083 1,173,519 1,179,900 1,228,212 1,248,843 1,269,851 1,285,739
89 Kab. Nganjuk 1,015,318 1,022,050 1,028,444 1,029,392 991,313 994,369 997,458 1,000,132
90 Kab. Madiun 653,421 655,243 657,024 657,660 642,159 642,271 642,398 642,518
91 Kab. Magetan 621,738 621,222 621,142 623,396 622,384 623,474 624,581 625,424
92 Kab. Ngawi 833,944 837,072 840,173 841,519 827,728 830,198 832,696 834,847
93 Kab. Bojonegoro 1,195,706 1,204,542 1,213,418 1,217,508 1,230,312 1,243,032 1,255,914 1,263,551
94 Kab. Tuban 1,061,529 1,069,618 1,078,083 1,083,874 1,069,935 1,072,964 1,076,027 1,078,641
95 Kab. Lamongan 1,221,528 1,229,000 1,236,169 1,237,616 1,187,504 1,188,017 1,188,559 1,189,087
96 Kab. Gresik 1,026,488 1,043,747 1,062,415 1,077,976 1,124,061 1,148,776 1,174,063 1,194,821
97 Kab. Bangkalan 864,279 875,584 886,843 891,296 900,209 920,040 940,331 956,996
98 Kab. Sampang 812,575 823,498 834,279 837,958 845,050 864,969 885,379 902,429
99 Kab. Pamekasan 722,148 731,487 741,083 746,545 779,945 799,031 818,604 835,101
100 Kab. Sumenep 1,016,812 1,024,843 1,032,873 1,038,706 1,008,446 1,012,438 1,016,471 1,016,907
101 Kota Kediri 251,697 251,872 252,126 252,673 261,329 264,680 268,081 270,374
102 Kota Blitar 122,683 123,027 123,327 123,808 127,750 129,423 131,121 132,278
103 Kota Malang 756,294 762,155 770,483 775,909 796,648 804,381 812,209 816,637
104 Kota Probolinggo 196,591 198,493 200,465 201,737 213,556 218,137 222,822 226,643
105 Kota Pasuruan 172,840 174,859 176,987 178,532 172,450 173,191 173,940 174,073
106 Kota Mojokerto 110,100 111,087 112,137 112,966 111,964 112,517 113,075 113,201
107 Kota Madiun 169,595 169,536 170,408 176,073 173,408 175,266 177,148 178,291
108 Kota Surabaya 2,633,067 2,647,283 2,689,728 2,698,792 2,622,024 2,625,036 2,628,113 2,630,079
109 Kota Batu 170,030 173,763 177,436 178,505 180,847 183,396 185,986 187,813
110 Kab. Pandeglang 1,018,438 1,032,980 1,088,215 1,101,876 1,064,535 1,074,762 1,085,042 1,092,527
111 Kab. Lebak 1,032,375 1,039,379 1,128,674 1,134,066 1,156,773 1,183,184 1,210,149 1,234,459
75

Lampiran 2. (Lanjutan)


No. Kabupaten/Kota 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
112 Kab. Tangerang 2,827,342 2,928,320 3,187,671 3,227,087 3,262,727 3,366,423 3,473,271 3,574,048
113 Kab. Serang 1,660,941 1,702,340 1,794,717 1,836,133 1,764,183 1,786,223 1,808,464 1,826,146
114 Kota Tangerang 1,335,756 1,381,249 1,471,396 1,499,911 1,455,185 1,481,591 1,508,414 1,531,666
115 Kota Cilegon 298,081 305,161 328,654 329,705 325,413 331,667 338,027 343,599
TOTAL JAWA 123,637,119 125,232,392 127,434,201 128,737,542 128,470,536 129,996,254 131,527,393 132,856,644
TOTAL PENDUDUK KAB/KOTA
NO PROVINSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1 DKI JAKARTA 8,477,471 8,552,569 8,640,184 8,749,780 8,860,381 8,963,218 9,064,591 9,146,181
2 JAWA BARAT 36,423,520 37,173,337 38,137,965 38,610,875 38,965,440 39,648,623 40,329,051 40,918,290
3 JAWA TENGAH 31,785,681 32,019,895 32,175,360 32,542,786 31,977,968 32,179,395 32,380,279 32,626,390
4 DI YOGYAKARTA 3,144,120 3,166,702 3,211,426 3,223,514 3,343,651 3,388,733 3,434,534 3,468,502
5 JAWA TIMUR 35,633,394 35,930,460 36,269,939 36,481,809 36,294,280 36,592,435 36,895,571 37,094,836
6 BANTEN 8,172,933 8,389,429 8,999,327 9,128,778 9,028,816 9,223,850 9,423,367 9,602,445