Anda di halaman 1dari 5

Peluang E-Commerce Di Indonesia

Nama : Hendra Npm : 10.12.5225 S1 Sistem Informasi 2L


Abstraksi
Perdagangan elektronik atau e-dagang (bahasa Inggris: Electronic commerce, juga ecommerce) adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-dagang dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis. Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai aplikasi dan penerapan dari ebisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll. E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik (email), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini. E-dagang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.

Pendahuluan

Istilah "perdagangan elektronik" telah berubah sejalan dengan waktu. Awalnya, perdagangan elektronik berarti pemanfaatan transaksi komersial, seperti penggunaan EDI untuk mengirim dokumen komersial seperti pesanan pembelian atau invoice secara elektronik. Kemudian dia berkembang menjadi suatu aktivitas yang mempunya istilah yang lebih tepat "perdagangan web" pembelian barang dan jasa melalui World Wide Web melalui server aman (HTTPS), protokol server khusus yang menggunakan enkripsi untuk merahasiakan data penting pelanggan. Pada awalnya ketika web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru sekitar empat tahun kemudian protokol aman seperti HTTPS memasuki tahap matang dan banyak digunakan. Antara 1998 dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini.

Pembahasan

Prospek E-commerce di Indonesia


Jakarta - Pengguna Internet di Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta pada 2010, seiring meningkatnya pemakaian layanan tersebut melalui teknologi pita lebar. Saat ini, internet telah menjadi salah satu media pemasaran dan penjualan yang murah, cepat dan memiliki jangkauan yang luas hingga menembus batas batas negara. Seiring dengan booming internet pada akhir 90-an, bermunculanlah berbagai online shop yang menawarkan produk melalui website yang dirancang untuk dapat melakukan transaksi secara online, dan lahirlah istilah E-commerce. Di Amerika, nilai transaksi perdagangan retail yang dilakukan secara online terus meningkat. Berdasarkan statistik yang dipublikasikan oleh US Census Bureau, nilai transaksi retail secara online pada 3 bulan (quarter) pertama tahun 2008 mencapai 33 milyar USD. Jumlah ini adalah sekitar 3.3 persen dari total nilai perdagangan retail pada rentang waktu tersebut. Bila dilihat dari persentase, nilai transaksi retail online mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan akhir tahun 2000 yang hanya mencapai 1 persen dari total nilai perdagangan retail. Bagaimana dengan Indonesia ? Meskipun saya belum mendapatkan data statistik mengenai hal ini, tapi diperkirakan nilai transaksi retail yang dilakukan melalui internet masih sangat kecil jumlah dan persentasenya jika dibandingkan dengan nilai transaksi retail secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan masih sedikitnya pengguna internet di Indonesia yang menurut data APJII baru sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. Selain itu, pengguna internet yang telah lama

menggunakan internet pun belum tentu pernah bertransaksi melalui internet karena masalah kebiasaan atau belum yakin akan keamanannya. Berdasarkan kenyataan tersebut, bagaimana dengan prospek E-commerce di Indonesia ? Saya berpendapat bahwa E-commerce di Indonesia masih memiliki potensi untuk berkembang pesat. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, yakni : 1. Akses internet semakin murah dan cepat, yang akan meningkatkan jumlah pengguna internet 2. Dukungan dari sektor perbankan yang menyediakan fasilitas internet banking maupun sms banking, yang akan mempercepat proses transaksi 3. Biaya web hosting yang semakin murah 4. Semakin mudah dan murahnya membangun situs E-commerce yang didukung dengan tersedianya berbagai software open source, seperti osCommerce, Magento, dll Selain hal hal yang disebutkan di atas, perkembangan E-commerce di Indonesia tentu harus didukung juga oleh adanya peraturan yang dapat melindungi konsumen dari kerugian yang disebabkan penipuan, credit card fraud, dan berbagai potensi kerugian lainnya. Dengan demikian konsumen dapat berbelanja online secara aman dan nyaman.

Puncak Pertumbuhan e-Commerce Diprediksi 2013


TANPA metode pembayaran yang pas, sulit bagi industri e-commerce berkembang cepat. Padahal tahun ini pertumbuhannya diprediksi tinggi. Peter Pezaris, founder dan CEO Multiply mengatakan bahwa pada 2011 e-commerce di Indonesia siap tinggal landas. Medianya sudah banyak, pembelinya makin paham, ekosistemnya pun semakin terbentuk. Tapi ada satu masalah. Ternyata belum ada metode pembayaran online yang dianggap pas. Sebagian besar mereka yang bertransaksi online masih mengandalkan formula jual beli konvensional, yakni melalui transfer rekening bermodal kepercayaan, menggunakan jasa pihak ketiga (rekening bersama), ataupun bertemu langsung alias cash ondeli very(COD). Ketika pertumbuhan dari ekosistem jual-beli online ini sudah dianggap prospektif, menjanjikan,dan sangat besar, bayangkan betapa primitifnya ketiga transaksi di atas. Sebagai perbandingan, di Amerika seseorang bisa langsung membeli kopi Starbucks hanya dengan menunjukkan transaksi yang dilakukan di smartphone miliknya. Kasir tinggal melakukan scan barcode di smartphone tersebut dan pembeli bisa langsung menikmati kopinya tanpa perlu mengantre. Pertanyaannya, apakah memang belum ada metode pembayaran yang pas? Metode pembayaran yang mudah dimengerti serta digunakan oleh para netizen pehobi belanja? Chief Marketing Officer (CMO) Kaskus Danny Oei Wirianto mengatakan, problematik e-commerce di Indonesia adalah banyaknya orang yang masih belum teredukasi dalam memanfaatkan metode pembayaran. "Masih terpaku pada cara tradisional, seperti transfer antar-rekening bank," katanya. Menurut Danny, hal ini muncul karena beberapa hal. Pertama, sistem pembayaran yang begitu

mudah diadopsi oleh para pembeli maupun merchant belum ada. Alasan kedua masih berhubungan dengan yang pertama, yakni merchant-merchant yang ada saat ini belum siap mengadopsi sistem pembayaran tertentu. Kaskus sendiri sebenarnya sudah memiliki Kaspay, yang meski saat ini masih menjadi billing method, ke depannya akan difungsikan sebagai metode pembayaran. Menurut Danny, pertumbuhan pengguna Kaspay cukup signifikan. Belum genap setahun penggunanya mencapai 80.000 member. "Sejauh ini penetrasinya lumayan bagus tanpa promosi," katanya. Saat ini ada sekitar 12 market place yang sudah menggunakan Kaspay untuk transaksi, antara lain Disdus.com, Kamera. co.id, KrazyMarket, serta Infokost. Danny menilai, pertumbuhan e-commerce tahun ini akan meloncat tajam. "Saat ini Plasa.com sudah membenahi diri, kemudian Tokobagus.com sudah beriklan di TV, begitu juga dengan Rakuten.co.id yang terus mengedukasi pasar. Dalam 1-2 tahun ini ke depan adalah masa edukasi. Puncaknya saya perkirakan pada 2013, "katanya.Hal senada dituturkan CEO Gantibaju.com Aria Rajasa Masna. Menurut dia, tahun ini para pemain yang masuk dan bersaing ke sistem pembayaran online bakal marak. "Pasarnya akan sangat padat, "ujarnya.Sejak tahun lalu PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sudah meluncurkan layanan e-commerce untuk memproses transaksi online kartu kredit di website merchant. Dalam menyediakan layanan ini BCA didukung oleh MasterCard internet Gateway Service (MiGS) sebagai payment gateway. Direktur BCA Henry Koenaifi berharap kemudahan dan kenyamanan e-commerce BCA akan mampu mendongkrak penjualan paramerchant. "Setelah memesan barang, pembeli tidak perlu lagi ke ATM untuk mentransfer pembayaran, namun dapat diklik langsung ketika mereka menyatakan konfirm terhadap barang pilihannya," katanya. Tak hanya BCA, operator seluler Telkomsel secara tidak langsung berupaya masuk ke segmen ini. Sistem remote payment T-Cash miliknya diperbaiki. Mindset-nya diubah dari alat belanja menjadi mobile payment (alat bayar). Bahkan, layanan terbaru T-Cash memungkinkan pengguna mengirim uang dari ponsel secepat mengirim SMS. Nah,T-Cash bisa langsung di-cash out melalui merchant seperti Indomaret. "Pelanggan tidak perlu ke ATM, tidak butuh ponsel yang bisa internet, juga tak perlu hafal nomor rekening," kata Vice President TCash Management Telkomsel Bambang Supriogo. Dengan TCash, pengguna juga bisa membayar tagihan listrik di PLN, tagihan air, serta tagihan telepon melalui SMS. T-Cash dapat dibelanjakan di lebih dari 7.500 lokasi merchant. Telkomsel berharap pengguna T-Cash naik menjadi 7 juta pelanggan baru pada akhir 2011, meningkat hampir 100 persen dari pengguna saat ini yang sekitar 4 jutaan.T-Cash sendiri baru digunakan pada 2007 akhir. Menurut Bambang, bisnis ini terus tumbuh. Ceruknya juga besar. (Koran SI/ Danang Arradian) (srn)

kesimpulan
Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:

Faktor kunci sukses dalam e-commerce


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menyediakan harga kompetitif Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain. Mempermudah kegiatan perdagangan

Masalah e-commerce
1. Penipuan dengan cara pencurian identitas dan membohongi pelanggan. 2. Hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce ini.

Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_elektronik HarianSumutPos21Mar2011
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/25/time/174121/idnews/884242/idkanal/398