Anda di halaman 1dari 4

Studi mengenai filsafat politik lahir dari cabang ilmu filasafat praktis.

Namun, pembahasan mengenai filsafat politik harus tetap dibedakan dengan ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat merupakan suatu usaha untuk mencari kebenaran hingga ke akarakarnya. Sedangkan filsafat politik adalah studi tentang penilaian dan kritik moral terhadap proses yang melandasi kehidpan sosial, politik dan ekonomi yang bertujuan untuk mengarahkan terciptanya susunan organisasi masyarakat yang baik dan tepat. Filsafat politik sudah terpikirkan sejak era Yunani kuno. Hinga sekarang filsafat politik terus mengalami perkembangan. Filsafat politik di dalam perjalanannya semenjak era Yunani Kuno, kemudian melewati abad pertengahan, abad renaisans, abad pencerahan, abad modern hingga dewasa ini memunculkan berbagai karya dan pemikiran besar dari para ahli.

1. Pemikiran Plato Mengenai Politea Pokok pemikiran Politea membicarakan mengenai konsep Negara sebagai makroantropos. Plato memusatkan kajiannya mengenai konsep keadilan dan keutamaan serta tatanan politik. Dari pemikiran Plato inilah, filsafat politik mengalami perkembangan. 2. Pemikiran Aristoteles Mengenai Politica Pemikiran mengenai Politica ia tujukan untuk menanggapai pemikiran Plato. Di dalam Politica menegaskan tentang harus adanya jarak antara ruang pribadi dengan ruang awam, dan ruang politik dengan ruang non-politik.Karena pemikiran itulah, akhirnya Plato memaparkan inti-inti mengenai konsep warga Negara, konsep hak-milik, dan konsep komunitas politik. Konsep mengenai hak-milik ini kemudian dikembangkan oleh John Locke. Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan, Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory), Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill , Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. CIRI-CIRI UTILITARIANISME: 1. Kritis. Utilitarianime berpandangan bahwa kita tidak bisa begitu saja menerima norma moral yang ada. Utilitarianisme mempertanyakan norma itu.\ 2. Rasional Utilitarianisme ini bersifat rasional karena ia mempertanyakan suatu tindkan apakah berguna atau tidak. 3. Utilitarianisme itu bersifat teleologis karena suatu tindakan itu dipandang baik dari tujuannya. 4. Universalis seuatu dianggap baik kalau dia memberi kegunaaan yang besar bagi banyak orang.

Etika Utilitarianisme ala Depdiknas Kontroversi paling utama, terjadi saat UAN dijadikan standar kelulusan siswa. engan diberlakukannya UAN, maka otoritas guru untuk mengetahui dan mengevaluasi kapabelitas siswanya diganyi rezim kebenaran yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Dalam sudut pandang asas kemanfaatan bagi sebagian besar masyarakat, kebijakan yang ditempuh Depdiknas secara sekilas tampak sedemikian rasional. Ini disebabkan bahwa Depdiknas hendak menyelamatkan sekian banyak orang dengan mengorbankan sekian kecil orang yang mempunyai kemampuan intelektual berlebih. Dengan demikian, Depdiknas telah mengaplikasikan prinsip rasionalitas tujuan yang lebih memperhitungkan dan sangat mengunggulkan perhitungan sarana-sasaran (means-ends) secara akurat. Namun, ironisnya, evaluasi pendidikan tidak dapat hanya diukur dengan mendasarkan pada rasionalitas tujuan. Dalam perspektif teori etika, apa yang dilakukan Depdiknas itu lebih banyak menggunakan sudut pandang teleologis (teleological) yakni Intinya adalah hasil merupakan satu-satunya pertimbangan apakah suatu tindakan pantas dilakukan atau tidak ketimbang deontologis (deontological) sebagai suatu perbuatan dilakukan atau tidak bukan karena mendasarkan pada pertimbangan tujuannya, melainkan pada keharusan atau kewajiban itu sendiri. Apabila dilakukan analisis secara terperinci, kebijakan yang dilaksanakan Depdiknas ketika mengevaluasi hasil UAN dengan acuan TK nilai, secara sempurna telah melakukan prinsip etika utilitarianisme. secara sekilas pandang, prinsip etika utilitarianisme itu memang memberikan kebahagiaan bagi sebagian besar orang. Apalagi ketika prinsip etis itu diterapkan dalam dunia pendidikan kita yang memang mengalami kesenjangan dalam aspek kemajuan yang secara sangat mencolok terjadi di berbagai daerah di Indonesia, antara wilayah Jawa dengan non- Jawa misalnya. Yang tak dapat dihindarkan, etika utilitarianisme semacam itu justru menghancurkan tujuan pendidikan itu sendiri. Kesimpulan yang dapat kami ambil 1. etika Utilitarianisme dapat dikatakan reaksi penolakan terhadap paham hukum alam yang berkembang 2. dapat dikatakan sebagai teori yang egois 3. Utilitarianisme menggunakan manfaat sebagai dasar moralitas.kebahagiaan tidakhanya kebahagiaan perilaku saja,tetapi kebahagiaan semua orang dapat juga dikatakan netralatau tidak berpihak.

TEORI KEADILAN

1. TUJUAN Tujuan utama Rawls dalam ATheory of Justice adalah menawarkan sebuah teori keadilan alternatif yang lebih unggul serta mampu mengoreksi kekurangan-kekurangan teori keadilan yang sudah ada, khususnya utilitarianisme dan intuisionisme. Bagi Rawls, utilitarianisme memiliki kekurangan karena: pertama, mengidentikan keadilan sosial dengan keadilan individual; dan kedua, bercorak teolologis. Menurut Rawls, utilitarianisme memahami keadilan sebagai kebahagiaan terbesar bagi semua atau setidaknya bagi sebanyak mungkin orang (the greatest hapiness of the greatest numbers). Dalam hal ini, kata Rawls, utilitarianisme tidak mempedulikan, kecuali tidak langsung, bagaimana total kebahagiaan itu didistribusikan di antara individu, serta ia juga tidak peduli bagaimana satu orang mendistribusikan kebahagiannya pada setiap kurun waktu yang berbeda. Dengan kata lain, utilitarianisme gagal merumuskan keadilan karena telah menustifikasi pengorbanan terpaksan individu untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, utilitarianisme juga gagal sebagai teori moral karena bercorak teleologis 2. DUA PRINSIP KEADILAN Teori keadilan Rawls dikembangkan dari dua ide fundamental: (1) masyarakat sebagai sistem kerja sama sosial yang berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya; (2) manusia sebagai makhluk moral. Bagaimana bentuk kerja sama yang fair itu? Apa syarat-syaratnya? Menurut Rawls, suatu konsepsi keadilan sosial harus dipandang sebagai instansi pertama, standar dari mana aspek distributif struktur dasar masyarakat dinilai.[1] Konsepsi seperti itu haruslah menetapkan cara menempatkan hakhak dan kewajiban di dalam lembaga-lembaga dasar masyarakat, serta caranya menetapkan pendistribusian yang pas berbagai nikmat dan beban dari kerja sama sosial.[2] Pandangan ini dituangkan Rawls dalam konsepsi umum keadilan intuitif CONTOH : erkait dengan masalah ini, terdapat contoh menarik. Bayangkan ada dua orang gelandangan kota, Saidiman dan Adri. Keduanya sama-sama diberikan pelatihan keterampilan dan juga modal usaha melalui sebuah program yang dilaksanakan oleh pemerintah DKI Jakarta (equal opportunity). Dalam perspektif keadilan Rawlsian, tidak ada masalah jika setahun kemudian Saidiman berhasil menjdi seorang penjahit handal yang lumayan sejahtera, sementara Adri kembali menjadi gelandangan kota karena merasa lebih mudah hidup mengemis daripada menjadi seorang penjahit. Ketidaksamaan akibat perbedaan pilihan ini bukanlah persoalan keadilan. Dengan kata lain, dalam teori keadilan Rawlsian, tujuan utamanya bukanlah, secara langsung maupun tak langsung, menghapus ketidaksamaan, melainkan memastikan adanya kesempatan yang sama. Juga perlu dicatat di sini bahwa prinsip kesamaan kesempatan Rawlsian tidak hanya berlaku untuk nikmat-nikmat sosial primer (social primary goods), tapi juga berlaku untuk nikmat-nikmat alami primer (natural primary goods). Dalam konsepsi keadilan Rawlsian, prinsip perbedaan tidak berusaha menghapus ketidaksamaan, melainkan membuat ketidaksamaan ituekonomi dan sosial, maupun kelebihan alami dan bakatmenguntungkan semua, terutama mereka yang kurang beruntung. Khsusus tentang kelebihan dan bakat alami, Rawls berpandangan bahwa hal tersebut bisa jadi penyebab terjadi atau dipertahankannya ketidakadilan. Kelebihan bakat, keunggulan kemampuan, perbedaan warna kulit dan keturunan,

dan berbagai kemujuran genetis lainnya seringkali dijadikan pembenaran untuk melindungi suatu golongan atau kelompok masyarakat dengan kedudukan khusus atau hak-hak istimewa. Mamang, kelebihan kemampuan alami dan bakat harus dipandang sebagai karunia alam di mana manusia tidak berhak mengubah atau mencampurinya. Orang tidak minta dilahirkan cacat, sebagai jenius, berbakat seni, sebagai anak seorang konglomerat atau pejabat tinggi. Tidak ada masalah adil dan tidak adil dalam hal ini. Namun, apa yang adil dan tidak adil adalah cara institusi-institusi menangani fakta-fakta itu. Menurut Rawls, kelebihan genetis jangan lagi dianggap sebagai aset pribadi, melainkan harus dipandang sebagai aset bersama. Karenanya, kata Rawls, tak seorangpun patut mendapat keuntungan dari kelebihan kemampuan kodratinya maupun kelebihan prestasinya dengan titik-tolak yang lebih menguntungkan di dalam masyarakat. Sesuai dengan prinsip perbedaan, ketidaksamaan keuntungan akibat kelebihan kemampuan alamiah ini diperbolehkan sejauh menguntungkan mereka yang paling tidak beruntung.