Anda di halaman 1dari 22

KEMENTRIAN NASIONAL PENDIDIKAN ANTROPOLOGI

PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Nama : Bayu widyaswara Suwahyo NIM : 3401410094 Prodi : Pendidikan sosiologi dan antopologo Jurusan : sosiologi dan antropologi A. JUDUL MODEL PEMBELAJARAN CTL SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN SIKAP TOLERANSI MELALUI PROSES PEMBELAJARAN SOSIOLOGI POKOK BAHASAN MASYARAKAT MULTIKULTURAN(Studi kasus penerapan metode CTL (contekstual teaching learning) terhadap murid SMAN 1 Boyolali, kabupaten Boyolali kelas XI IPS).

B. LATAR BELAKANG Pembangunan suatu bangsa tidak hanya pembangunan yang bersifat fisik namun juga melibatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai motor utama penggerak pembangunan. Sehingga dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mampu mengikuti arus pembangunan, pendidikan tidak dapat dilepaskan fungsi beserta perannya. Menurut undang-undang pendidikan nasional nomor 23 tahun 2003, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar setiap peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, ahklak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. , dari definisi tersebut dapat dijabarkan bahwa proses pembelajaran merupakan aktifitas yang harus berpusat pada keterlibatan aktif siswa di dalam proses pembelajaran. Guru juga memiliki fungsi penting dalam proses tersebut, yakni harus mampu untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab untuk aktif secara mandiri. Pada kenyataannya Pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan perangkat fakta-fakta yang harus dihapal (khususnya ilmu-ilmu sosial). Selain hal tersebut, praktek pembelajaran di sekolah cenderung menekankan pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan soalsoal ujian. Kemampuan penalaran yang mengkonstruksikan pengetahuan lebih sering dikesampingkan. Padahal kemampuan tersebut akan dapat membantu siswa apabila kelak menghadapi berbagai masalah kehidupan. Belakangan ini dalam dunia pendidikan ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alami. Telah terbukti bahwa pembelajaran yang hanya berorientasi target penguasaan materi hanya mampu dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi tidak berhasil untuk membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Padahal belajar menjadi lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajari, bukan hanya mengetahui. Siswa perlu mengerti tentang makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Pada hakikatnya anak-anak perlu menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupan nanti. Maka mereka dapat memposisikan diri sendiri yang memerlukan pengetahuan sebagai bekal hidupnya. Pembelajaran sosiologi di sekolah diarahkan kepada siswa untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sosial serta dinamika yang terjadi akibat perubahan sosial-budaya yang melatar belakanginya. Dengan kepekaan sosial yang dimilikinya, siswa diajak mampu untuk berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri sehingga mampu memahami, mengidentifikasi,

menjelaskan serta mampu menyikapi fenomena-fenomena sosial yang terjadi di dalam tatanan kehidupan masyarakat. Hal ini tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan hafalan, latihan soal,yang rutin tanpa mengakaitkannya dengan kenyataan hidup sehari-hari. Kelas juga masih mengandalkan model-model pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga siswa lebih mengenal pengetahuan dari apa kata guru, bukan datang dari menemukan sendiri. Pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah pada umumnya belum optimal dalam pencapaian tujuan. Salah satu faktornya adalah penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat. Alasannya antara lain: guru tidak mempunyai cukup referensi mengenai beberapa pendekatan sosiologi yang dapat digunakan, waktu yang terbatas, dan alat pembelajaran yang terbatas jumlahnya. Walaupun pada akhir pemberian materi telah menunjukkan ketuntasan belajar namun bila ditinjau dari pencapaian tujuan pembelajaran, hal tersebut jauh dari yang sebenarnya diharapkan. Hal ini ditunjukkan dengan siswa hanya sekadar menguasai prosedur penyelesaian atau pemecahan masalah tanpa mengerti secara pasti mengenai hakikat dari penyelesaian atau pemecahan masalah tersebut. Siswa selama ini hanya terjebak pada sebuah label bahwa sosiologi adalah ilmu menghafal arti kata , jadi ketika masalah yang ada sudah terpecahkan berdasarkan jawaban dari hafalan tersebut, berarti penguasaan sosiologi mereka sudah baik. Hal tersebut sangat berpengaruh tidak baik bagi pembangunan kemampuan berpikir dan analisis siswa. Berbagai cara telah ditempuh karena memang sudah menjadi cap dari masyarakat khususnya siswa, bahwa sosiologi adalah mata pelajaran hafalan. Mata pelajaran yang kegiatannya menghafal kata serapan asing, berisi kata-kata yang harus dihafalkan, statis sehingga tidak menarik untuk ditekuni serta tidak bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Siswa menjadi pasif dan tidak kreatif, belajar apa adanya berdasarkan apa yang diperoleh dari guru. Beberapa hal tersebut di atas mengarahkan pada kesimpulan bahwa diperlukan sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa, yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi pendekatan yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri agar pengaruhnya yang tidak baik bagi

pembangunan kemampuan berpikir dan analisis siswa tidak berlanjut dengan tanpa mengubah kurikulum yang sudah ada. Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam kegiatan belajar siswa. Model pembelajaran juga harus disesuaikan dengan keadaan peserta didik supaya bisa mengembangkan kemampuannya secara optimal, karena pemilihan model pembelajaran yang tidak sesuai akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak optimal. Dalam pembelajaran sosiologi yang menyangkut materi-materi yang terjadi di masyarakat tentu tidak hanya sekedar teori yang disampaikan saja melainkan mengaitkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dengan melihat kenyataan fenomena sosial di sekitar masyarakat, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupannya sebagai angggota keluarga dan masyarakat. Salah satu pendekatan atau model pembelajaran yang terkait. Ada beberapa pendekatan yang saat ini mulai dikembangkan dan diterapkan, salah satunya adalah pendekatan kontekstual atau yang lebih dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and Learning). Menurut Nurhadi (dalam Muslich, 2009:41) mengemukakan pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam konteks CTL belajar bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, akan tetapi belajar merupakan suatu proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan juga psikomotorik. CTL dapat menjadi alternatif pendekatan yang digunakan sebagai solusi permasalahan integritas bangsa utamanya, terkait dengan penulisan karya tulis ini adalah menyangkut toleransi masyarakat multikultural yang ada di indonesia. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah di paparkan ,maka penulis menetapkan judul:

MODEL MEMBANGUN

PEMBELAJARAN SIKAP

CTL

SEBAGAI MELALUI

UPAYA PROSES

TOLERANSI

PEMBELAJARAN SOSIOLOGI POKOK BAHASAN MASYARAKAT MULTIKULTURAN(Studi kasus penerapan metode CTL (contekstual teaching learning) terhadap murid SMAN 1 Boyolali, kabupaten Boyolali kelas XI IPS). C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana model pembelajaran CTL yang digunakan oleh guru sosiologi di

SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali? 2. Bagaimana guru mengembangkan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran sosiologi yang dilakukannya dalam upaya pemahaman terhadap sikap toleransi siswa, di dalam pokok bahasan masyarakat multikultural?
3. Bagaimana persepsi siswa kelas XI Ips terhadap pembelajaran guru

sosiologi yang menggunakan model pembelajaran CTL di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali dalam pemahamannya terhadap sikap toleransi? D. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran CTL yang digunakan

oleh guru sosiologi di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali


2. Untuk mengetahui pengembangan model pembelajaran dalam pembelajaran

sosiologi yang dilakukannya dalam upaya membangun pemahaman siswa terhadap sikap toleransi di dalam masyarakat multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali
3. Untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI Ips terhadap pembelajaran guru

sosiologi yang menggunakan Model Pembelajaran CTL di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali dalam pemahamannya terhadap sikap toleransi

E. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang cukup besar baik itu secara teoritis maupun secara praktis yaitu sebagai berikut ini,
1. Secara teoretis

Sebagai suatu karya ilmiah, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya, maupun masyarakat pada umumnya mengenai persepsi siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi. 2. Secara praktis a. Bagi Siswa Bagi siswa hasil penelitian ini diharapkan, dapat memberikan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sosiologi sekaligus mengembangkan sikap toleransi sesama manusia. b. Bagi Guru Penelitian ini di harapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih baik lagi mengenai model pembelajaran yang digunakan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) di kelas yang tidak hanya mengacu kepada ketuntasan hasil belajar tetapi juga kepada manfaat praktisnya dalam kehidupan masyarakat. F. BATASAN ISTILAH Untuk menghindari kekeliruan penafsiran dan terjadinya berbagai macam pengertian, serta untuk mewujudkan kesatuan berfikir terhadap istilahistilah yang ada pada judul skripsi Model Pembelajaran CTL (contekstual teaching learning) dalam proses pembelajaran mata pelajaran sosiologi kelas XI Ips pokok bahasan masyarakat multikultural dalam upaya membangun pemahaman terhadap sikap toleranasi (Studi kasus penerapan metode CTL (contekstual teaching learning) terhadap murid SMAN 1 Boyolali, kabupaten Boyolali XI Ips).memberikan batasan istilah sebagai berikut.
1. Model Pembelajaran CTL (contextual teaching and learning)

Nurhadi mengemukakan bahwa pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Muslich, 2009:41). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL adalah konsep pembelajaran yang melibatkan siswa untuk melihat makna di dalam materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. 2. Proses Belajar Mengajar Mata Pelajaran Sosiologi Proses belajar mengajar merupakan suatu proses terjadinya interaksi guru dan siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yakni belajar siswa dan kegiatan mengajar guru (Sudjana, 2009:43). Proses belajar mengajar merupakan suatu proses atau upaya yang disengaja guna memperoleh perubahan perilaku siswa akibat adanya interaksi antar individu dalam pembelajaran, sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok (Roucek dan Warren dalam Soekanto, 2002:20). Mata pelajaran Sosiologi dalam Mata pelajaran Sosiologi dalam penelitian ini adalah salah satu jenis mata pelajaran ilmu sosial yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mempelajari masyarakat beserta aspek-aspek sosial yang melingkupinya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud proses belajar mengajar mata pelajaran Dalam penelitian ini, yang dimaksud proses belajar mengajar mata pelajaran Sosiologi adalah suatu proses terjadinya interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran mata pelajaran sosiologi. 3. Membangun toleransi Menurut kamus besar bahasa indonesia toleransi adalah sikap menenggang (menghargai, membolehkan, membiarkan) pendirian

(pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Jadi, toleransi sosial adalah siskap yang menghargai perbedaan-perbedaan sosial yang terdapat dalam masyarakat. Terkait dengan juduk tulisan membangun toleransi adalah upaya menamkan sikap yang mau menghargai perbedaan baik perbedaan agama, suku, ras ataupun hal-hal yang berbeda dan bertentangan dengan diri pribadi. G. LANDASAN TEORI
1. Model Pembelajaran CTL (contextual teaching and learning)

Nurhadi

(dalam

Muslich,

2009:41)

mengemukakan

bahwa

pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Johnson (dalam Sugiyanto, 2008:18) menyatakan bahwa CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjeksubjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2006:255). Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami, yakni: CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan. Dalam upaya itu, siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan

pembimbing. Pembelajaran CTL sebagai suatu pendekatan memiliki 7 asas atau komponen yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu:
1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktiivisme, pengetahuan itu berasal dari luar akan tetapi dikonstruksikan dalam diri seseorang (Sanjaya, 2006: 264) Berdasarkan pendapat di atas dapat dianalogikan bahwa siswa lahir dengan pengetahuan yang masih kosong. Dengan menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, siswa mendapat pengetahuan awal yang diproses melalui pengalaman-pengalaman belajar untuk memperoleh pengetahuan baru. Dalam hal ini anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2. Menemukan (inquiry)

Komponen kedua dalam CTL adalah inquiri. Inquiri, artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencairan dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses Inquiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesa, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan (Sanjaya, 2006:265). Menemukan (Inquiri) merupakan proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna. untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, akan tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya Muslich (2009:45).

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan bukanlah sejumlah fakta dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian, dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
3. Bertanya (questioning)

Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir (Sanjaya, 2006:266). Menurut Mulyasa (2009:70) menyebutkan ada 6 keterampilan bertanya dalam kegiatan pembelajaran, yakni pertanyaan yang jelas dan singkat, memberi acuan, memusatkan perhatian, memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan, pemberian kesempatan berpikir, dan pemberian tuntunan. Dalam pembelajaran melalui CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar dalam pembelajaran.
4. Masyarakat Belajar (Learning Comunity)

10

Didasarkan pada pendapat Vygotsky, bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain. Permasalahan tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar (Learning Comunity) dalam CTL hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain, teman, antar kelompok, sumber lain dan bukan hanya guru (Sanjaya, 2006:267). Muslich (2009:46) mengemukakan konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Modeling merupakan azas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis (abstrak) yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme (Sanjaya, 2006:267). Konsep pemodelan (modeling), dalam CTL menyarankan bahwa pembelajaran ketrampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh tentang cara mengoperasikan sesuatu, menunjukan hasil karya, mempertontonkan suatu penampilan. Cara pembelajaran seperti ini, akan lebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukan model atau contohnya (Muslich, 2009:46). Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para

11

siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, akan tetapi model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga dapat didatangkan dari luar.
6. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran dengan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya (Sanjaya, 2006:268). Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assesment)

Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benarbenar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual ataupun mental siswa. Pembelajaran CTL lebih menekankan pada proses belajar bukan sekedar pada hasil belajar (Sanjaya, 2006:268). Muslich (2009:47) Penilaian yang sebenarnya (authentic assesment) merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan

12

pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman belajar siswa perlu diketahui oleh guru setiap saat agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan dalam pembelajaran CTL penilaian bukan sekedar pada hasil belajar, akan tetapi lebih menekankan pada proses belajar juga. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam pembelajaran, maka guru bisa segera melakukan tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan tersebut. H. KERANGKA BERFIKIR Kerangka berfikir memaparkan dimensi-dimensi kajian utama, faktorfaktor kunci, variabel-variabel dan hubungan-hubungan antara dimensi yang disusun dalam bentuk narasi atau gambar. Dalam pembelajaran sosiologi yang menggunakan model pembelajaran CTL guru sosiologi tidak hanya menggunakan model tersebut akan tetapi guru bisa mengembangkannya dengan model pembelajaran ataupun metode yang lainnya, sehingga kegiatan pembelajaran berjalan menarik dan tidak membosankan. Model pembelajaran CTL yang digunakan oleh guru sosiologi dalam pembelajaran sosiologi, akan menimbulkan pemahaman yang berbeda-beda pada siswa yang diajar. Sehingga, akan menimbulkan pandangan atau persepsi yang berbeda-beda dari siswa tersebut. Secara singkat kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam skema sepert sebagai berikut:

13

GURU SOSIOLOGI

MATA PELAJARAN SOSIOLOGI

Model Pembelajaran CTL (contextual teaching and learning)

POKOK BAHASAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL

UPAYA MENGEMBANGK AN METODE CTL

PENGARUHNYA TERHADAP SIKAP TOLERANSI SISWA

I. METODE PENELITIAN 1. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, untuk menjawab model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. Pendekatan deskriptif kualitatif adalah pendekatan penelitian

14

dimana data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Data-data tersebut diperoleh melalui hasil wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumentasi pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya. 2. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. Dengan alasan peneliti ingin mengetahui bagaimana Model Pembelajaran CTL yang digunakan oleh guru sosiologi kelas XI SMA Negeri 1 Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali dalam pembelajaran mata pelajaran sosiologi khususnya pokok bahasan masyarakat multicultural kaitannya dalam menanamkan sikap toleransi siswa. Peneliti melihat bahwa SMA Negeri 1 Boyolai merupakan salah sat SMA favorit di kabupaten boyolali sehingga dari banyaknya peminat tidak hanya berasal dari daerah yang sama tetapi dari latar belakang yang berbeda. 3. Fokus Penelitian Fokus penelitian merupakan pokok persoalan yang dijadikan sebagai pusat penelitian. Subjek dari penelitian ini adalah guru mata pelajaran sosiologi dan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. Pengambilan informan dengan menggunakan sistem purposive sampling yaitu dengan disesuaikan tujuan atau fokus penelitian ini adalah model pembelajaran yang berbasis contextual teaching and learning (CTL) dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS pada pokok bahasan masyarakat multikultural sebagai upaya menanamkan sikap toleransi. SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. diantaranya; a.Bagaimana model pembelajaran CTL digunakan oleh guru sosiologi di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali?, b. Bagaimana guru mengembangkan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran sosiologi yang dilakukannya dalam upaya pemahaman terhadap toleransi di dalam masyarakat multikulturali, c. terhadap pembelajaran guru Bagaimana persepsi siswa kelas XI IPS sosiologi yang menggunakan model

15

pembelajaran CTL di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali dalam pemahamannya terhadap sikap toleransi. J. Sumber Data Penelitian 1. Sumber data Primer Sumber data primer ini diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan guru sosiologi dan siswa kelas XI IPS. Dapat penulis ketahui mengapa model pembelajaran CTL digunakan oleh guru sosiologi dan bagaimana pengembangan model pembelajaran tersebut dalam pembelajaran sosiologi, serta bagaimana persepsi siswa kelas XI mengenai penggunaan model pembelajaran tesebut terkait pemahaman mereka dengan sikap toleransi. Kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan staf tata usaha serta guru bimbingan dan konseling sebagai informan dalam penelitian ini memberikan informasi dan keterangan-keterangan mengenai kurikulum dan data sekolah. 2. Sumber Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang terdapat disekolah guna melengkapi dan mendukung data utama yang diperoleh. Dokumen tersebut meliputi perangkat pembelajaran sosiologi seperti prota, promes, silabus, RPP, daftar nilai siswa dan komponen lainnya, serta data-data mengenai sekolah yang meliputi jumlah siswa, jumlah guru dan staf karyawan, profil sekolah, visi dan misi sekolah, sarana dan prasarana sekolah. Selain itu peneliti juga memerlukan data berupa foto atau gambar yang diambil pada saat observasi. K. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Instrumen dalam penelitian ini berupa daftar pertanyaan yang disusun dan disiapkan oleh peneliti sendiri, tape recorder dan handphone. Setelah mempersiapkan instrumen penelitian maka dilanjutkan dengan teknik pengumpulan data. Pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematik untuk memperoleh data mengenai masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

16

1. Observasi (pengamatan) Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti (Usman, 2009:52). Sedangkan Nazir (2005:175) menerangkan bahwa pengumpulan data dengan observasi langsung atau pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa menggunakan alat standaar lain untuk keperluan tersebut. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung terhadap fenomena yang diteliti. Dalam teknik ini, peneliti secara langsung mengamati kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran CTL yang digunakan oleh guru sosiologi kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Boyolali. Dimana sebelumnya peneliti sudah membuat chek list atau pedoman pengamatan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai tujuan yang jelas. 2. Wawancara Wawancara merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dengan mewawancarai informan secara langsung. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Metode ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan data yang lebih mendalam tentang model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS pada pokok bahasan Masyarakat Multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali khususnya mengenai pemahaman siswa terhadap siskap toleransi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpul data yang berupa pertanyaan yang ditujukan kepada guru sosiologi dan siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Boyolali. 3. Dokumentasi Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara mengumpulkan semua bahan-bahan yang terkait dengan penelitian. Metode dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan bahan berupa data-data, arsip, dokumentasi mengenai gambaran umum sekolah yang meliputi jumlah siswa, jumlah guru dan staf karyawan, profil sekolah, visi dan misi sekolah,

17

sarana dan prasarana sekolah, dan foto-foto yang berkaitan dengan penelitian ini, serta data-data mengenai perangkat pembelajaran guru sosiologi kelas X yang meliputi prota, promes, silabus, RPP, daftar nilai siswa dan komponen lainnya. L. Triangulasi Data Untuk memeriksa keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan taraf kepercayaan data dengan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu di luar data untuk keperluan pengecekan data. Untuk mendapatkan derajat kepercayaan data maka digunakan triangulasi sumber. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton dalam Moleong, 2006:330). Teknik triangulasi sumber dilakukan dengan mengecek beberapa sumber data dengan metode yang sama. Data ini diperoleh dengan mencari beberapa informan dengan metode yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengecekan derajat kepercayaan sumber dengan metode wawancara pada informan yang berbeda-beda yakni guru sosiologi dan siswa kelas X SMA Negeri 1 boyolali. M. Teknik Analisis Data Teknik analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif seperti yang diungkapkan oleh Miles dan Hubberman, yaitu proses analisis yang dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Proses analisis ini melalui empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikakesimpulan. Adapun langkah-langkah model analisis interaktif dalasebagai berikut: 1. Pengumpulan data Merupakan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dicatat dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, disaksikan dan juga temuan apa yang dijumpai

18

selama penelitian. Observasi dan wawancara dilakukan di lokasi penelitian seperti yang telah disajikan pada bagian sumber data dan teknik pengumpulan data Sedangkan pengumpulan data dalam bentuk dokumen diperoleh dari laporan program kerja sekolah yang bersangkutan. Pengumpulan data dalam bentuk dokumen ini dilakukan pada saat awal penelitian berlangsung dengan meminta kepada staf tata usaha. 2. Reduksi data Reduksi data merupakan sebuah proses dimana peneliti melakukan pemilihan, pemutusan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan hasil penelitian. Proses ini juga sering dikatakan sebagai proses transformasi data, yaitu perubahan dari data mentah menjadi data yang benar-benar siap dipakai sebagai hasil dari penelitian. Data yang direduksi yaitu data yang diperoleh melalui wawancara. Data yang siap dipakai untuk penulisan hasil penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik yaitu membuat ringkasan, penyeleksian, menggolongkannya dengan membuat transkip yang bersifat mempertegas, memperpendek, membuat fokus, dan kemudian membuang data yang tidak diperlukan. 3. Penyajian Data Penyajian data dimaksudkan untuk mempermudah peneliti dalam melihat hasil penelitian. Banyaknya data yang diperoleh akan menyulitkan peneliti untuk melihat gambaran hasil penelitian maupun proses pengambilan kesimpulan, sebab data hasil penelitian masih berupa data yang berdiri sendiri. Penyajian data ini menggunakan sajian deskriptif yang ditampilkan dengan jenis kutipan langsung, gambar, maupun bagan atau tabel. Data disajikan sesuai dengan apa yang diteliti, maksudnya penelitian ini dibatasi mengenai model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas X pada pokok bahasan Masyarakat multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali sesuai dengan permasalahan yang ada.

19

4. Penarikan kesimpulan/Verifikasi Kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada catatan dilapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagaimana yang timbuldari data yang harus diuji kebenaranya, kekokohanya dan kecocokanya yaitu merupakan validitasnya. Verifikasi penelitian ini, berarti data dikumpulkan dari informan tentang model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI pada pokok bahasan masyarakat multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. Setelah data terkumpul kemudian menganalisis mengenai model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS terkait dengan penanaman sikap toleransi. Proses verifikasi data sekaligus mereduksi data guna menyeleksi data, dalam hal ini dilakukan penyederhanaan data-data yang ada. Dari data yang dikelompokkan, dipisahkan antara penggunaan dan Pengembangan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran sosiologi yang dilakukan oleh guru sosiologi, Persepsi siswa kelas XI IPS mengenai pembelajaran guru sosiologi yang menggunakan model pembelajaran CTL serta pengaruhnya terhadap sikap toleransi siswa. Untuk menarik kesimpulan, data yang telah dikelompokkan disajikan dalam betuk kalimat, yang difokuskan pada model pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sosiologi kelas XI pada pokok bahasan Masyarakat multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali, dengan uraian sesuai permasalahan yang diteliti yaitu, a. Untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran CTL yang digunakan oleh guru sosiologi di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali, b. Untuk mengetahui pengembangan model pembelajaran dalam pembelajaran sosiologi yang dilakukannya dalam upaya pemahaman terhadap toleransi di dalam masyarakat multikultural di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali, c. Untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI Ips terhadap pembelajaran guru sosiologi yang menggunakan Model Pembelajaran CTL

20

di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali dalam pemahamannya terhadap sikap toleransi N. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini dilakukan meliputi tiga tahap yaitu: 1. Tahap pra penelitian Dalam tahap ini peneliti membuat rancangan skripsi, membuat instrumen penelitian dan surat ijin penelitian yang ditujukan kepada kepala sekolah SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali. 2. Tahap penelitian Pengamatan secara langsung yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Boyolali Kabupaten Boyolali mengenai penggunaan model pembelajaran CTL dan pengembangan model pembelajaran tersebut dalam pembelajaran sosiologi yang dilakukan oleh guru sosiologi kelas XI. Persepsi siswa kelas XI IPS mengenai pembelajaran guru sosiologi yang menggunakan model pembelajaran CTL yang berkaitan dengan penanaman sikap toleransi. Peneliti juga melakukan wawancara dengan guru sosiologi dan siswa kelas XI terkait dengan tujuan penelitian, serta melakukan kajian pustaka yaitu pengumpulan data dari informasi dan buku-buku. 3. Tahap pembuatan laporan Dalam tahap ini peneliti menyusun data hasil penelitian untuk dianalisis kemudian dideskripsikan sebagai suatu pembahasan dan terbentuk suatu laporan hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

21

Moleong, J L. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja:Rosdakarya. Mulyasa, E. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. M, M. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sudjana, N. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Bandono. 2008. Menyusun model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL). http://bandono.web.id/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teachingand-learning-ctl.(2008/07/03) Suharto. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Yang Efektif. http://drssuharto.wordpress.com/pengembangan-model-pembelajaranyangefektif. (27/09/2010).

22