Anda di halaman 1dari 1

Review 39-41 Menerapkan teori kompleksitas pada organisasi adalah sebuah pertumbuhan industri.

Berawal dari akhir 1980-an, memperluas minoritas praktis dengan tetap-berorientasi pada sarjana organisasi, konsultan dan pelatih (contoh: Nonaka 1988; Stacey 1991; Wheatley 1992) telah menggambarkan untuk inspirasi ide dari literatur yang muncul dalam kekacauan dan, baru baru ini, teori kompleksitas dalam ilmu alami (untuk sejarah lihat McMillan 2004). Pendukung teori kompleksitas ini banyak yang mengadopsi fokus umum manajemen organisasi meski sering mengacu pada sektor swasta. Untuk kepentingan akademik mengenai teori kompleksitas ini maka mulailah didirikan pusat pusat penelitian interdisiplin yang cakupannya meliputi pelayanan publik, yang dapat dipelajari masyarakat dan jurnal. Titik awal dimulainya teori ini adalah komitmen untuk menerapkan teori ini secara penuh wawasan kepada dunia sosial manusia. Penerapan teori kompleksitas berawal dari ilmu-ilmu yang membangun teori kompleksitas itu sendiri yaitu ilmu matematika dan ilmu alam yang merupakan suatu fenomena yaitu sebuah sistem kompleks yang bersifat dinamis. Penerapan yang kedua adalah teori ini diibaratkan sebagai sebuah jantung dari keseluruhan teori hubungan antara interaksi elemen di dalamnya dan antara entitas seperti sistem. Ketika berbicara sistem berarti akan memiliki dampak yang begitu besar yang tidak hanya dirasakan oleh satu bagian tertentu tetapi semua bagian yang ada di organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan sistem merupakan keterkaitan hubungan antara satu bagian dengan bagian lain. Dengan demikian teori kompleksitas itu merupakan hal penting yang harus dipahami oleh para manajer di dalam menjalankan sebuah organisasi atau perusahaan.