Anda di halaman 1dari 3

Hukum Islam Masa Sahabat Pada masa sahabat, hukum Islam mengalami perkembangan sejalan dengan semakin luasnya

wilayah kekuasaan umat Islam dan seiring dengan perubahan kondisi sosial pada masa itu. Banyak sekali persoalan-persoalan baru yang muncul di kalangan umat Islam pada masa itu yang memerlukan penentuan hukum. Oleh karena itu dalam memutuskan setiap perkara, para sahabat selalu berpedoman pada al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum Islam pertama. Namun bila tidak dijumpai dalam al-Quran dan hadits, para sahabat menggunakan ijtihad sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah. Para sahabat menggunakan akal (Ar-Rayu) dalam berijtihad untuk menentukan hukum. Dalam menetapkan suatu hukum, para sahabat seringkali memakai metode qiyas, istihsan, baraah ashliyah, saddudzaraai dan mashlahah mursalah. Ijtihad tidak sembarang dipakai dalam memutuskan setiap hukum. Ijtihad hanya dipakai dalam suatu keadaan tertentu yang tidak ada ketetapan hukumnya dalam al-Quran maupun Sunah dan merupakan hal yang baru. Para sahabat sangat berhati-hati dalam menggunakan rayu. Kebanyakan mereka mencela rayu. Yang mereka cela bukanlah apa yang mereka lakukan, tetapi mereka mencela apabila mengikuti hawa nafsu dalam berfatwa tanpa bersandar pada pokok agama. Dengan demikian, pada masa sahabat ada empat sumber hukum, yaitu: 1. Al-Quran sebagai pegangan (landasan) 2. As-Sunah 3. Qiyas dan rayu (pendapat) sebagai cabang al-Quran dan Sunnah 4. Ijma yang bersandar pada al-Quran, Sunah dan qiyas. Salah satu contoh produk sahabat dalam menggunakan ar-Rayu dalam berijtihad adalah masalah khilafah (pemerintahan). Masalah khilafah tidak ada ketentuannya dalam nash baik al-Quran maupun Sunnah. Oleh karena itu menurut hemat kami, pendapat sebagian kelompok yang mengatakan bahwa bentuk pemerintahan khilafah islamiyah adalah bagian dari syariat Islam adalah salah karena hal itu merupakan hasil pemikiran manusia. Bukan semata-mata dari nash alQuran dan Sunnah. Dan para sabahat sendiri dalam berijtihad tidak pernah mengatakan bahwa hasil ijtihadnya adalah yang paling benar dan tidak pula mengharuskan orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Dalam berijtihad para sahabat tidak jarang berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: 1. Perbedaan dalam menafsirkan ayat al-Quran karena kebanyakan al-Quran berisi ayat-ayat dhanni. 2. Perbedaan dalam memperoleh hadits karena setiap sahabat memeroleh jumlah hadits yang tidak sama dan pada masa itu hadits belum dibukukan. 3. Perbedaan dalam menggunakan metode pengambilan hukum karena pengaruh lingkungan yang berbeda. Namun demikian perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan di kalangan para sahabat. Perbedaan itu ditanggapi dengan bijaksana. Perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang sudah biasa (fitrah) dan rahmat bagi manusia. Hal inilah yang patut kita teladani dalam menyikapi segala perbedaan.

Pergolakan Politik dan Pengaruhnya terhadap Hukum Islam Pada masa sahabat telah terjadi pergolakan politik yang berkisar penentuan khalifah. Setelah khalifah Ustman bin Affan terbunuh, naiklah Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Naiknya Ali ini ditentang oleh Muawiyah bin Abi Sofyan yang juga berambisi menjadi pemimpin. Maka terjadilah pertempuran di antara keduanya dan berakhir pada peristiwa tahkim. Perpecahan inilah yang menyebabkan umat Islam kala itu terbagi menjadi tiga kubu, yakni Khawarij, Syiah dan Ahlussunah wal Jamaah. Khawarij adalah golongan yang membenci baik itu Usman, Ali maupun Muawiyah karena ketiganya dianggap yang telah membuat umat Islam bercerai-berai. Dengan demikian golongan ini tidak mau memakai hadits yang diriwayatkan oleh ketiga sahabat ini. Mereka hanya menerima dari golongan imam mereka sendiri. Golongan Syiah adalah kelompok yang sangat fanatic terhadap Ali dan keturunannya. Mereka beranggapan bahwa yang paling berhak menjadi khalifah adalah Ali dan keturunannya. Oleh karena itu mereka tidak mau menerima periwayatan hadits dari sahabat lainnya. Mereka hanya menerima hadits yang bersumber dari Ali dan imam-imam mereka. Sedangkan golongan Ahlu Sunnah wal Jamaah ialah golongan yang tidak berpihak pada Khawarij maupun Syiah. Golongan ini mau menerima periwayatan hadits dari semua sahabat asalkan memiliki kualitas hadits shahih. Ketiga golongan inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam mengaplikasikan hukum Islam di kalangan umat Islam sampai saat ini. Dengan demikian, dampak politik ternyata mampu mempengaruhi pelaksanaan hukum Islam dalam suatu kelompok. PENUTUP Dari makalah ini dapat kita tarik kesimpulan: 1. Secara umum kondisi bangsa Arab pada masa Rasul dan sahabat adalah terdiri dari berbagai kabilah-kabilah dan suku. Kabilah-kabilah tersebut ada yang menetap di perkotaan dan ada pula yang hidup di pedesaan dengan mengembara. Masyarakat kota mayoritas mata pencahariannya dengan berdagang ke luar kota dan menjualnya di daerahnya. Sedangkan masyarakat desa hidup dengan berladang dan berternak hewan. Biasanya masyarakat kota lebih maju dan kuat dibandingkan pedesaan baik dari segi kekuasaan (politik), kesejahteraan, maupun peradaban. 2. Pada masa Rasulullah hukum Islam belum mengalami perkembangan yang signifikan. Sumber hukum yang menjadi titik acuan adalah al-Quran. Apabila terdapat persoalan yang tidak memiliki dasar hukum dalam al-Quran (wayu), beliau berijtihad sendiri secara langsung dan ijtihad beliau dijadikan sebagi landasan hukum bagi umat Islam pada masa itu. 3. Pengaruh-pengaruh hukum Islam yang ditinggalkan pada masa sahabat antara lain: a. Adanya penjelasan (syarah) perundang-undangan bagi nash-nash hukum baik dalam al-Quran maupun Hadits b. Adanya banyak fatwa-fatwa yang dikeluarkan sahabat terhadap peristiwa yang tidak ada nash hukumnya dalam al-Quran dan Hadits c. Mulai timbulnya perpecahan berbagai golongan politik yang kemudian merembet dalam masalah keagamaan yang berpengaruh dalam perundang-undangan Islam.

*Makalah ini disusun oleh Ali Murtadlo (dalam salah satu tugas kuliah) DAFTAR PUSTAKA Amin, Ahmad. Fajr Al Islam, (Singapura-Kota Baru-Penang: SulaimanmarI), 1965. Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1971. Bik, Hudhari. Tarjamah Tarikh Tasyrik: Sejarah Pembentukan Hukum Islam, (Semarang: Darul Ikhya), 1980. Farrukh. Al-Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Alsyarqiy Al- Bahr Al-Abyad Al-Mutawassith, (Beirut: Dar al kutub), 1966. Hanafi, Ahmad. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1977. Haris, Gusnam dkk. Sejarah Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: UIN Press). Muhammad, Noor-Matdawam. Dinamaika Hukum Islam (Tinjauan Sejarah Dan Perkembangannya, cet.pertama. (Yogyakarta: Bina Karier), 1985. Mushaf Al-Quran. Wahhab, Khalaf Abdul. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam, cet. Pertama, (Yogyakarta: Dua Dimensi), 1985. Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada),1993.