Anda di halaman 1dari 68

Laporan Kasus

PARTUS PER VAGINAM DENGAN VAKUM EKSTRAKSI Click to edit Master subtitle style PADA PASIEN EKLAMSIA
Harliady Dany Prabowo Indah Edilla Riki Liswanto Sandiyanto Witri Amerta Yanri Puji Haskoro Yosi Mandasari Pembimbing Dr . Zulmaeta, sp. OG, KFM
7/2/12

PENDAHULUAN

7/2/12

penyebab kematian utama ibu angka kematian perinatal tinggi

perdarahan, infeksi dan preeklampsia

7/2/12

Preeklamsia eklamsia

hipertensi + proteinuria +kejang setelah usia gestasi 20 minggu

7/2/12

Insiden dipengaruhi oleh :


Paritas, Genetik Lingkungan Primigravida Kehamilan

berkaitan dengan ras dan etnis.

> multigravida

ganda

Hidramnion Mola

hidatidosa ginjal

Penyakit Diabetes
7/2/12

Hidrops fetalis

ILUSTRASI KASUS

7/2/12

IDENTITAS PENDERITA
Nama Umur

: Ny. S : 22 tahun : IRT

Nama Suami: Tn. A Umur : 25 tahun : SMP

Pendidikan Pekerjaan Agama Suku :

: SMP Pendidikan Agama : Islam Suku

Pekerjaan : Swasta : Melayu

: Islam

Melayu

Alamat 7/2/12 No.

: Jl. Kota Baru Alamat : Jl. Kota Pekanbaru Baru Pekanbaru MR : 62 91 20

Pasien

masuk IGD RSUD AA 4 April 2012 pukul 20.20 WIB kiriman BP Rosa Pekanbaru diagnosis G1P0A0 inpartu kala 1. TD 150/100 mmHg. DJJ (+). Pembukaan 4 cm, ketuban (+). Protein urin ++ di IGD :

Diagnosis

G1P0A0H0 gravid aterm inpartu kala 1 fase aktif + hipertensi dalam kehamilan + janin hidup tunggal intra uterin + letak memanjang presentasi 7/2/12

Anamnesis
Keluhan Utama :
Nyeri

pinggang menjalar ke ari-ari sejak 4 jam SMRS. Riwayat Penyakit Sekarang :

Sejak

4 jam SMRS pasien mengeluh nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari hilang timbul, semakin lama dirasakan semakin sering. juga mengeluhkan keluar lendir

7/2/12 Pasien

R R P

H M : Mual (+), muntah (+) tidak mengganggu aktivitas, perdarahan (-). H T : Perdarahan (-), hipertensi (-), nyeri kepala (-). N C : Kontrol 5 kali selama hamil ke bidan. Makan Obat : Tablet tambah darah (+)

R.

RPD RPK

: Hipertensi (-), diabetes (-), penyakit ginjal (-) asma (-)

: Hipertensi (-), diabetes (-), penyakit 7/2/12 ginjal (-) asma (-)

PEMERIKSAAN FISIK
KU

: Tampak sakit sedang : CM

Kesadaran Vital Gizi

Sign : TD = 150/100 mmHg Nafas = 22 x/menit Nadi= 92 x/menit Suhu= 37,3 0C : baik TB = 160 cm BB sebelum hamil =50 kg BB sekarang = 62 kg

Kepala 7/2/12

: Konjungtiva anemis (-), sklera

STATUS OBSTETRIKUS
Muka

: Tak tampak kloasma gravidarum

Mammae

: Areola mammae hiperpigmentasi : perut membesar sesuai usia

Abdomen :

Inspeksi kehamilan Palpasi :

L1 : TFU teraba 2 jari di bawah Proc. xyphoideus,

teraba bagian

lunak, besar, tak melenting

7/2/12 L2

: Tahanan terbesar di sebelah kanan, bagian-

Genitalia

Pemeriksan dalam (bimanual) : Portio lunak, pembukaan 4 cm, ketuban (+)


Pemeriksaan

laboratorium: (04-42012/ 20.44 WIB) Protein urin Protein urin labor

Hb : 12,7 gr/dl dibakar (-)


7/2/12 (-)

Ht

: 36,5 vol %

DIAGNOSIS KERJA
G1P0A0H0 gravid aterm inpartu kala 1 fase aktif + hipertensi dalam kehamilan + janin hidup tunggal intra uterin+ letak memanjang presentasi kepala.
TERAPI
IVFD RL 20 tpm Observasi His, DJJ, TD dan VT Lapor konsulen jaga : Observasi dan rawat
7/2/12

ruangan.

RAWAT RUANGAN CAMAR 2 (04 -042012, pukul 21.50) PBM VIA VK IGD dengan diagnosis masuk G1P0A0H0 gravid aterm inpartu kala 1 fase aktif + hipertensi dalam kehamilan + janin hidup tunggal intra uterin+ letak memanjang presentasi kepala.

7/2/12

DI RUANGAN VK CAMAR II
Pukul 21.50 WIB
S

: Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari, demam (-), pusing (-) :

TD : 150/100 mmHg, N: 84x/menit, RR: 20x/menit, T: Afebris


DJJ = 143x/menit His = 2/10/ 30 Protein urin di bakar (-)
7/2/12 VT

: portio tipis, pembukaan 4 cm,

Pukul 01.50 WIB


S

: Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari, demam (-), pusing (-) :

TD: 150/90 mmHg, N: 84x/menit, RR:20x/menit, T: Afebris


DJJ = 134x/menit HIS (+) 3/ 10/ 40
7/2/12 (+)

VT: Portio tipis, pembukaan 6 cm, ketuban

, penurunan kepala H 1/H 2

Pukul 05.00 WIB


S

: Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari semakin sering dirasakan :

TD: 150/90 mmHg, N: 80x/menit, RR:20x/menit, T: 36,40C


DJJ = 140x/menit HIS (+) 4 x / 10 / 40
7/2/12 (+),

VT: Portio tipis, pembukaan 9 cm, ketuban

penurunan kepala H II.

Pukul S O

07.10 WIB

: Rasa ingin mengejan :

TD: 150/90 mmHg, N: 80x/menit, RR:20x/menit, T: 36,40C


DJJ = 140x/menit HIS (+) 4 x / 10 / 45 VT : Portio tidak teraba, pembukaan

lengkap, ketuban (-), penurunan kepala H III


7/2/12 A

: G1P0A0H0 gravid aterm inpartu

Pukul S

08.15 WIB

: Pasien tiba tiba kejang selama 3 menit :

TD: 150/90 mmHg, N: 80x/menit, RR:24x/menit, T: 37,50C


DJJ = 150x/menit HIS (+) 4 x 10 selama 45
7/2/12 ketuban

VT: Portio tidak teraba, pembukaan lengkap,

(-) sisa hijau, penurunan kepala H

Pukul 08.35 WIB


Konsulen Advice

jaga datang

: Lanjutkan loading dose 200 cc dan selanjutnya maintenance dose 300 cc 20 tpm Pukul 09.40 WIB partus dengan vakum ekstraksi ditolong dokter konsulen.

Pasien Bayi

lahir tidak langsung menangis 7/2/12 (merintih), dilakukan resusitasi bayi

Pukul 09.45 WIB


Plasenta

belum lahir, TFU teraba setinggi pusat, dilakukan managemen aktif kala III. Oxytosin 10 IU (IV) dan selaput lahir lengkap, lakukan masase kontraksi uterus baik. Perdarahan pervaginam 175 cc.

Inj

Plasenta

Terdapat

laserasi tingkat II, dilakukan hecting jelujur. 7/2/12

Pukul 10.00 WIB


S O

: pusing (-), lemah : : Komposmentis

Kesadaran

TD: 130/70 mmHg, N: 108x/menit, RR:46x/menit, T: 380C


TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik Perdarahan pervaginam 10 cc

7/2/12

: P1A0H1 post partum pervaginam

FOLLOW UP (RUANGAN CAMAR I)


Tanggal 06 April 2012
S

: Darah dari kemaluan (+), Demam (-), ASI (-), BAB (-) dan BAK (+) : Keadaan umum : baik Kesadaran : komposmentis

TD : 120/90 mmHg, N : 90x/i, RR : 22x/i, T : 37,2 C



7/2/12

Kepala: Konjungtiva anemis (-), ikterik (-) Abdomen :

Tanggal 07 April 2012


S

: Keluar darah dari kemaluan (+), demam (-), ASI (+), BAB (-), BAK (+) : TD : 140/90 mmHg, N : 76x/i, RR : 18x/i, T : 36,3C
Mata : konjungtiva anemis (-/-) Abdomen
I : perut cembung P : supel, TFU 2 jari dibawah pusat

7/2/12

P : timpani

TINJAUAN PUSTAKA

7/2/12

Hipertensi Dalam Kehamilan


Preeklampsia Eklampsia Superimposed Hipertensi Transient
7/2/12

Beberapa definisi yang berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan:

preeklamsia

kronis

hipertensi

Klasifikasi

Hipertensi karena kehamilan dan sembuh setelah persalinan.


Hipertensi tanpa proteinuria atau edema

patologis. edema).

Preeklampsia ( HT + proteinuria dan/atau

-Preeklampsia berat. -Preeklampsia ringan.


7/2/12

Eklampsia

Klasifikasi
Hipertensi

yang sudah ada sebelumnya dan diperberat oleh kehamilan.


Superimposed preeklampsia. Superimposed eklampsia.

Hipertensi

kronis

7/2/12

Preeklampsia dan eklampsia


Preeklampsia

adalah sindroma spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel. koma. = preeklampsia + kejang-

Eklampsia

7/2/12

Faktor Resiko
A. .

Faktor yang meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia: Faktor yang berkaitan dengan kehamilan maternal spesifik paternal spesifik (faktor sperma)

. Faktor . Faktor . Risiko

yang berhubungan dengan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat penyakit keluarga

B. Faktor yang mengurangi terjadinya risiko preeklampsia


7/2/12

. Sex

oral

ETIOLOGI
Peran

prostasiklin dan tromboksan

kerusakan pada endotel vaskuler penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) aktivasi trombosit dan fibrinolisis pelepasan tromboksan (txa2) dan serotonin vasospasme.
Peran

faktor imunologis

Penyakit imunologis seperti SLE merupakan faktor predisposisi wanita 7/2/12

PATOFISIOLOGI
Pada

PEB dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem akibat vasospasme dan iskemia. Peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin, tromboxan) dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet.

7/2/12

Penumpukan

trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi SSP ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. ginjal cmenyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan proteinuria. hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati.

Nekrosis

Kerusakan

7/2/12

Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskular, meningkatnya cardiac output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. hemolisis mikroangiopati menyebabkan anemia dan trombositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim

Peningkatan

7/2/12

Diagnosis
Preeklampsia berat

TDsistolik 160 mmHg atau TDdiastolik 110 mmhg Proteinuria 5g/24 jam atau kulitatif +3 sampai +4 Peningkatan kreatinin serum > 1,2 mg/dl kecuali sudah diketahui meningkat sebelumnya. Gangguan penglihatan

7/2/12

Continiu...

Nyeri

epigastrium enzim hati (Trombosit <

Peningkatan

Trombositopenia

100.00/mm3)
Perdarahan

retina, papil eksudat, dan

papil edem
Edem
kejang
7/2/12

paru
eklamsia

Prinsip penatalaksanaannya:
Pemberian

antikonvulsi anti hipertensi

Obat terpilih : magnesium sulfat (MgSO4)


Pemberian

Anti hipertensi diberikan jika tekanan diastolik >110 mmHg


Pemberian Terminasi
7/2/12

glukokortikoid (< 36 minggu)

kehamilan

Pemberian MgSO4
Bolus Mulai

4 6 gram dalam 15-20 menit

infus rumatan dengan dosis 2 g/jam dalam 100 ml cairan intravena antidotum jika terjadi henti napas : kalsium glukonat 2 g (dalam 20 ml) secara intravena perlahan bantuan dengan ventilator dihentikan 24 jam setelah bayi

Siapkan

berikan MgSO4

lahir.
7/2/12

Syarat pemberian MgSO4


Reflek

patela (+) lebih dari 16 kali permenit

Pernapasan

7/2/12

KOMPLIKASI
ruptur

hepar, pulmonal, intravaskular diseminata, ginjal, ensefalopati kortikal.

edema gagal

koagulopati hipertensi kebutaan

Komplikasi

7/2/12

janin : pertumbuhan janin terhambat, kematian janin, persalinan prematur, solusio plasenta

Prognosis
Morbiditas dan mortalitas penderita preeklampsia sangat ditentukan umur kehamilan saat ditemukan, beratnya penyakit, kualitas penanganan dan penyakit penyerta lainnya.

7/2/12

Ekstraksi vakum
tindakan

obstetrik operatif untuk melahirkan kepala janin dengan menggunakan mangkuk hampa udara yang ditempelkan pada kulit kepala janin dari seorang parturien yang masih memiliki tenaga meneran.

7/2/12

Indikasi
mempersingkat kala II pada keadaan :
Ibu

tidak boleh meneran terlalu lama pada kala II akibat kondisi obstetri tertentu (preeklampsia berat, anemia, diabetes mellitus, eklampsia) obstetri tertentu :
Riwayat SC Kala II memanjang

Kondisi

7/2/12

Continiu...

Maternal Gawat

distress pada kala II

janin pada kala II dengan syarat :


Perjalanan persalinan normal Fasilitas sectio caesar sudah siap

7/2/12

Kontraindikasi Absolut
Disproporsi Operator Operator Kelainan

sepalo-pelvik .

tidak dapat mengenali denominator dengan baik tidak kompeten letak :

Presentasi Muka Letak Dahi Presentasi Lintang


7/2/12 After

coming head pada presentasi sungsang

Kontraindikasi Relatif
Pasca

pengambilan sediaan darah dari kulit kepala janin.

Prematuritas IUFD Kelainan

kongenital janin yang menyangkut kranium : anensephalus.

7/2/12

Prinsip ekstraksi vakum


Membuat

suatu caput succadeneum artifisialis dengan cara memberikan tekanan negatif pada kulit kepala janin melalui alat ekstraktor vakum.14

7/2/12

video

7/2/12

PEMBAHASAN

7/2/12

Dari uraian kasus didapatkan permasalahan sbb:


Apakah Apakah

diagnosis masuk pada pasien ini sudah tepat? etiologi dan faktor risiko terjadinya preeklampsia pada pasien ini? penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?

Apakah

7/2/12

Apakah diagnosis masuk pada pasien ini sudah tepat?


Diagnosa

G1P0A0H0 gravid aterm inpartu + kala I fase aktif + HDK, JHTIU + letak memanjang + presentasi kepala pada pasien ini sudah tepat. ini merupakan kehamilan pertama, tidak pernah melahirkan dan abortus sebelumnya

G1P0A0H0

Gravid

aterm : dari HPHT (?-7-2012) tidak dapat diketahui secara tepat usia kehamilan. Sebaiknya dilakukan USG agar usia 7/2/12 kehamilan lebih tepat.

JHTIU

+ letak memanjang + presentasi kepala - DJJ (+) 142x/menit dan pemeriksaan leopold

7/2/12

HDK

TD : 150/100 mmHg dan tidak ada riw. HT sebelum hamil

Preklampsi belum dapat ditegakkan pd ps ini walaupun pada ps terdapat udem tungkai dan hasil labor rujukan protein urin +2 namun setelah di cek ulang di lab RSUD dan urin di bakar hasilnya negatif.

7/2/12

Diagnosis

eklampsia karena ps mengalami kejang dan dari hasil pemeriksaan protein urin di bakar didapatkan hasil (+3).

7/2/12

Apakah etiologi dan faktor risiko terjadinya eklampsia pada pasien ini? Eklampsi disease of theory
Untuk

faktor resiko pada pasien ini yang mendukung yaitu ps merupakan primigravida intoleransi imunologik hasil konsepsi yang memapar ibu untuk pertama kali cenderung menimbulkan reaksi penolakan dari ibu sehingga meningkatkan resiko.

teori

7/2/12

Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?


Rencana

persalinan pervaginam pada pasien ini sudah tepat karena tidak terdapat kontraindikasi obstetri pada ibu.

7/2/12

Akselerasi

dengan oksitosin

drip oksitosin 5 IU dalam 500 cc RL dengan tetesan awal 4 tetes/menit selama 30 menit dan dosis ditingkatkan 4 tetes tiap 30 menit berikutnya. Pemberian drip oksitosin ini sudah tepat karena pasien sudah inpartu dengan pembukaan 6 cm dan merupakan indikasi pada pasien dengan hipertensi.
7/2/12

Pemberian

regimen MgSO4 sudah tepat pada pasien eklampsi ini sesuai protap yang dianjurkan. pemeriksaan refreks patella dan tanda-tanda depresi pernafasan sebelum pemberian SM tidak dilakukan.

Namun

7/2/12

Pasien

(kala 2)

mengalami eklampsi intrapartum

VAKUM

EKSTRAKSI tindakan ini juga sudah tepat, karena kala II pada pasien eklampsia harus dipercepat untuk mencegah berulangnya kejang akibat peningkatan tekanan darah dan ambang rangsang kejang

7/2/12

Diagnosis

post partum pasien ini adalah P1A0H1 post partus pervaginam dengan vakum ekstraksi atas indikasi eklampsia sudah tepat. Pemberian regimen SM pada pasien ini sudah tepat karena diberikan sampai 24 jam post partum.

7/2/12

Pemberian

ceftriaxone pada masa nifas sudah tepat, karena ceftriaxone sebagai antibiotik profilaksis. tidak diberikan obat anti hipertensi karena TD pasien 160/100 mmHg, obat anti hipertensi hanya diberikan bila tekanan darah 180/110 mmHg atau MAP 126.

Pasien

7/2/12

Pada

pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium kimia darah dari awal pasien masuk hingga pasien pulang. ini sangat penting untuk mendeteksi kemungkinan terjadi komplikasi eklampsia seperti sindrom HELLP.

Hal

7/2/12

PENUTUP

7/2/12

SIMPULAN
Pada

kasus ini diagnosis yang tepat yang benar pada

Penatalaksanaan

pasien ini:
pemberian regimen SM persalinan pervaginam dengan akselerasi

dan kala II dengan dibantu dengan forcep atau vakum.

Dengan diagnosis post partum pasien ini adalah P1A0H1 post partus 7/2/12

SARAN
Perlu

adanya peningkatan mutu pelayanan antenatal di tempat pelayanan kesehatan, sehingga dapat terdeteksi sedini mungkin kelainankelainan yang terjadi pada ibu hamil dan janinnya dalam hal ini khususnya deteksi awal hipertensi dalam kehamilan.

7/2/12

Perlunya

pengawasan antenatal yang teratur dan baik dimana kegiatan ini sangat menentukan morbiditas dan mortalitas penderita dengan hipertensi dalam kehamilan. penanganan yang tepat pada ibu hamil dengan hipertensi dalam kehamilan. kontrol post partum untuk menilai perbaikan keadaan ibu.

Pentingnya

Perlunya
7/2/12

TERIMAKASIH

7/2/12