Anda di halaman 1dari 31

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Bahan Berbahaya dan Beracun atau (B3) adalah semua bahan/senyawa baik padat, cair ataupun gas yang mempunyai potensi merusak terhadap kesehatan manusia serta lingkungan akibat sifat sifat yang dimiliki senyawa tersebut. Melihat dari segi pemakaianya tidak akan ada masalah jika para pengguna B3 memperhatikan dampak dan bahaya B3 terhadap lingkungan dan kesehatan namun pada kenyataanya banyak pihak-pihak yang tidak menggelolah Limbah hasil pembuangan B3 mereka dengan baik sehingga limbah tersebut secara otomatis akan merusak ekosistem lingkungan dan sangat berbahaya dengan kesehatan manusia jika terjadi kontak langsung. Pemerintah dalam hal ini sebagai pembuat peraturan seharusnya menindak tegas para pihak pihak yang tidak mematuhi undang undang No. 23/ 1997 tentang Pengelolaan Limbah B3 sehingga bahaya yang di timbulkan terhadap lingkungan dan kesehatan dapat di minimalisasi. B. Idenifikasi Masalah Melihat bahaya yang ditimbulkan oleh B3 dengan tidak dilakukanya pengelolaan limbah yang benar dan sesuai dengan ketentuan maka, saya menarik beberapa masalah dengan berdasarkan kepada : Kurangnya pengetahuan Masyarakat tentang bahaya dan dampak penggelolaan Limbah B3 yang salah. Tidak tegasnya pemerintah dalam menanggani pelanggaran terhadap undang undang No. 23 /1997 tentang pengelolaan Limbah B3. Dampak dampak yang di timbulkan oleh B3 terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

C. Pembatasan Masalah Karena cakupan B3 yang luas maka saya hanya membataskan penulisan karya ilmiah ini terhadap dampak dan bahaya penggelolaan limbah B3 terhadap Lingkungan dan Kesehatan berdasarkan Undang Undang No. 23 /1997 dan PP Nmr. 74 Tahun 2001. D.Perumusan Masalah Atas dasar penentuan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka saya mengambil perumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana Dampak dan Bahaya Limbah B3 terhadap Lingkungan dan Kesehatan. E.Tujuan Penulisan Penulisan ini dilakukan untuk dapat memberikan pengetahuan tentang jenis jenis serta dampak dan bahaya B3 baik itu dari Limbah dan penggunaan yang salah sehingga menimbulkan dampak dampak kerusakan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. F.Metode Penulisan Untuk mendapatakan data dan informasi yang diperlukan, penulis mempergunakan teknik studi kepustakaan atau studi pustaka baik cetak maupun elektronik. G.Hipotesis Penulisan ini dilakukan berdasarkan keyakinan penulis setelah melakukan studi pustaka secara meluas baik melalui media elektronik, cetak dan buku buku terhadap masalah yang diangakat. Adapun keyakinan atau Hipotesia tersebuat adalah Kurangnya pengetahuan masayrakat tentang bahaya dan dampak B3 terhadap lingkungan dan kesehatan hal ini, menjadi salah sati factor yang paling dominan untuk dapat dikatakan sebagai penyebab.

I.Sistematika Penulisan Pada karya ilmiah ini, akan dijelaskan hasil penelitian dimulai dengan bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, hipotesis, sampai terahir kepada sistematika penelitian. Dilanjutkan dengan bab ke dua yang berisi tentang kerangka teoritis yang terdiri dari defenisi, sifat sifat dan jenis jenis B3 . Bab berikutnya, kami membahas secara keseluruhan tentang masalah yang diangkat Bab keempat merupakan bab penutup dalam karya ilmiah ini. Pada bagian ini, penulis menyimpulkan uraian yang sebelumnya sudah disampaikan, dan memberi saran mengenai B3.

BAB II KERANGKA TEORITIS A.Defenisi B3 Bahan berbahaya dan beracun atau di singkat B3 adalah semua bahan / senyawa baik padat, cair ataupun gas yang mempunyai potensi merusak terhadap kesehatan manusian serta lingkungan akibat sifat sifat yang dimilki senyawa tersebut. Menurut Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya; B. Sifat Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Menurut Penjelasan PP 74 Tahun 2001 Pasal 5 Ayat 1 sifat - sifat dan klasifikasi B3 adalah sebagai berikut :

1. Mudah Meledak Pada suhu dan tekanan standar (25 derajat Celcius, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. 2. Mudah Terbakar
Limbah yang mempunyai salah satu sifat sebagai berikut :

a. Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan atau pada titik nyala tidak lebih dari 60 derajat Celcius akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api atau sumber nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. b. Bukan berupa cairan, yang pada temperatur dan tekanan standar dapat mudah menyebabkan kebakaran melalu gesekan, penyerapan uap air, atau perubahan kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus.

c. Limbah yang bertekanan yang mudah terbakar d. Merupakan limbah pengoksidasi 3. Reaktif Yang dimaksud dengan reaktif adalah a. Pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkab perubahan tanpa peledakan. b. Dapat bereaksi hebat dengan air, apabila bercampur air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan c. Limbah Sianida, Sulfida, atau Amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan 12.5 dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan d. Yang Mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar (25 derajat Celcius, 760 mmHg) e. Menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi. 4. Beracun Limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk kedalam tubuh melalui pernapasan, kulit, atau mulut. 5. Infeksius Limbah laboratorium medis, atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular.

6. Korosif Limbah yang memiliki dari salah satu sifat berupa : a. Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit b. Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja. 7. Pengoksidasi 8. Sangat Mudah Sekali Terbakar ( extremely Flammable) 9. Amat sangat beracun (Extremely Toxic) 10.Sangat Beracun (Highly Toxic 11. Berbahaya (Harmful) 12.Berbaha bagi lingkungan (Dangerous to the Environment) 13. Karsinogenik (Carcinogenic) 14. Teratogenik (Teratogenic) 15. Mutagenik (Mutagenic). Klasifikasi B3 yang di maksud di atas sesuai dengan PP No.24 tahun 2001 pasal 2 adalah : B3 yang dapat dipergunakan B3 yang dilarang dipergunakan B3 yang terbatas dipergunankan.

B. Simbol Simbol

C. Jenis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Di bawah ini kita akan melihat jenis jenis B3 menurut PP No. 74 Tahun 2001 1.Dikloroetilena 2. akrilamida 3.Akrilonitril 4. Akrolein 5. Alil Alkohol 6. Aluminium Chloride 7. Amoniak 8. Anilin 9. Argon 10. Arsen (III) Oksida 11. Arsen Triklorida 12. Arsin 13. Asam Akrilat 14. Asam Asetat 15.Asam Formiat 16. Asam Posfat 17. Asam Klorida 18. Asam Kloroasetat 19. Asam Oksalat 20. Asam Perasetat 41. Dimetil Sulfat
9

21. Asam Perklorat 22. Asam Pikrat 23. Asam Sianida 24. Asam Sulfat 25.Asam Teraftalik 26. Asbestos 27.Asetilen 28. Asetonitril 29. Belerang Dioksida 30. Bensil Klorida 31.Benzena 32.Boron Trifluorida 33. Brom 34. Butana 35. Diboran 36. Dietanolamine 37. Dietil Eter 38. Dietilamina 39. Dietilena Glikol 40.Dimetil Fornamida 64. Hiderogen

42. Dioksana 43. Etana 44. Atanolamine 45. Etil Aklirat 46.Etil Alcohol 47. Etil Klorida 48. Etilena Diamina 49. Etilen Glikol 50. Etilen Oksida 51. Etilena 52. Fenol 53. Formaldehida 54. Formalin ( Larutan ) 55. Fosgen 56. Ftalik Anhidrida 57. Furfural 58. Gas Flour 59. Gliserol 60. Glutaraldehyde 61. Heksametilenatetramina 62. Heksana 63. Hidrasin

65. Hidrogen Flourida 66. Hidrogen Peroksida 67. Hidrogen Selenida 68. Hidrogen Sulfida 69. Hidrokwinon 70. HCFC-252 *) 71. HCFC 253 *) 72. HCFC 261 *) 73. HCFC 262 *) 74. HCFC 271 *) 75. CHBr2 *) 76. CHF2Br HBFC 22B1 *) 77. CH2FBr *) 78. C2HFBR4 *) 79. C2HF2Br2*) 80. C2HF2Br2*) 81. C2HF4Br*)

10

BAB III PEMBAHASAN A. Pengelolaan B3 Menurut PP Nmr. 74 Tahun 2001 Pasal 1 Ayat 2 yang di maksud dengan Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, megedarkan, menyimpan, menggunakan, dan atau membuang B3. Dan di pasal 4 menyebutkan Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup. Pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan proses cradle to grave yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup, yang diakibatkan oleh pencemaran bahan berbahaya dan beracun . Disamping itu juga ditujukan untuk penurunan beban pencemaran limbah B3 serta peningkatan kewaspadaan terhadap penyelundupan B3. B3 merupakan ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup, sehingga memerlukan penanganan dan teknik khusus untuk mengurangi atau menghilangkan bahayanya. B3 ini tidak dapat dikelola seperti mengelola sampah kota yang biasanya menggunakan kendaraan sampah, tempat pembuangan akhir atau pembakaran dengan alat pembakar sampah kota, hal ini disebabkan: * B3 mengandung zat beracun yang apabila tercuci dapat mencemarkan air permukaan dan air tanah disekitar tempat penanamannya yang akibatnya dapat menimbulkan penyakit dan dapat meracuni masyarakat yang menggunakan air tersebut. * B3 dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan baik dalam pengangkutan sampah maupun dilokasi pembuangan akhir.

11

* B3 dapat membakar kulit jika tidak ditangani dengan hati-hati dan aman. * B3 dapat menghasilkan gas beracun yang dapat terhirup oleh masyarakat yang bermukim dis sekitar lokasi pembuangan akhir. *B3 dapat menimbulkan penyakit yang ditularkan antara petugas dan masyarakat yang bermukim disekitarnya. Berdasarkan PP Nomor. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan limbah B3, maka dalam melakukan penimbunan sebaiknya : *Penimbunan limbah B3 wajib menggunakan sistem pelapis yang dilengkapi dengan saluran untuk pengaturan aliran air permukaan, pengumpulan air lindi dan pengolahannya, sumur pantau dan lapisan penutup akhir yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. *Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan penimbunan limbah B3 ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. Lokasi penimbunan limbah B3 wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: *Bebas dari banjir; *Permeabilitas tanah maksimum 10 pangkat negatif 7 centimeter per detik; *Merupakan lokasi yang ditetapkan sebagai lokasi penimbunan limbah B3 berdasarkan rencana tata ruang; *Merupakan daerah yang secara geologis dinyatakan aman, stabil tidak rawan bencana dan di luar kawasan lindung; *Tidak merupakan daerah resapan air tanah, khususnya yang digunakan untuk air minum.

12

Terhadap lokasi penimbunan limbah B3 yang telah dihentikan kegiatannya wajib memenuhi hal-hal sebagai berikut: *Menutup bagian paling atas tempat penimbunan dengan tanah setebal minimum 0,60 meter. *Melakukan pemagaran dan memberi tanda tempat penimbunan limbah B3. *Melakukan pemantauan kualitas air tanah dan menanggulangi dampak Negatif yang mungkin timbul akibat keluarnya limbah B3 kelingkungan, selama minimum 30 tahun terhitung sejak ditutupnya seluruh fasilitas penimbunan limbah B3. *Peruntukan lokasi penimbun yang telah dihentikan kegiatannya tidak dapat dijadikan pemukiman atau fasilitas umum lainnya.

B. Dampak B3 Terhadap Lingkungan Pembuangan limbah ke lingkungan akan menimbulkan masalah yang merata dan menyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempat lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu sampai jauh ke hilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara dilaut atau danau, seolah-olah laut atau danau menjadi tong sampah. Limbah bermasalah antara lain berasal dari kegiatan pemukiman, industri, pertanian, pertambangan dan reakreasi. Limbah industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori atau dengan sifat limbah B3. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah dari industri kimia. Limbah dari industri kima pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia. Limbah pertanian yang paling utama ialah pestisida dan pupuk.

13

Limbah B3 dari kegiatan industri yang terbuang ke lingkungan akhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia. Dampak itu dapat langsung dari sumber ke manusia, misalnya meminum air yang terkontaminasi atau melalui rantai makanan, seperti memakan ikan yang telah menggandakan (biological magnification) pencemar karena memakan mangsa yang tercemar. Timbunan limbah B3 yang semakin meningkat dikhawatirkan menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup. Lapisan atas tanah dan vegetasi alami biasanya akan menyaring banyak dari polutan keluar, tetapi lapisan kedap air yang menutupi sebagian besar permukaan di mana polutan tersebut berasal membawanya tepat ke badan saluran air dan ke sungai, danau, dan laut, yang dapat meracuni biota laut dan ikan yang kita makan-serta ekosistem Salah satu contoh yang bisa kita ambil yaitu pencemaran oli bekas. Oli bekas menemukan jalan ke dalam akifer bawah tanah menuju pasokan air minum kita, sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia. Oli bekas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori udara, tanah dan air. Oli bekas itu mungkin saja mengandung logam, larutan klorin, dan zat-zat pencemar lainnya. Satu liter oli bekas bisa merusak jutaan liter air segar dari sumber air dalam tanah. Oli bekas juga dapat menyebabkan tanah kurus dan kehilangan unsur hara. Sedangkan sifatnya yang tidak dapat larut dalam air juga dapat membahayakan habitat air, selain itu sifatnya mudah terbakar yang merupakan karakteristik dari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

14

C.Dampak B3 Terhadap Kesehatan Pembuangan limbah ke lingkungan akan menimbulkan masalah yang merata dan menyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempat lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu sampai jauh ke hilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara dilaut atau danau, seolah-olah laut atau danau menjadi tong sampah. Limbah bermasalah antara lain berasal dari kegiatan pemukiman, industri, pertanian, pertambangan dan rekreasi. Limbah industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori atau dengan sifat limbah B3. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah dari industri kimia. Limbah dari industri kima pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia. Limbah pertanian yang paling utama ialah pestisida dan pupuk.

Limbah B3 dari kegiatan industri yang terbuang ke lingkungan akhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia. Dampak itu dapat langsung dari sumber ke manusia, misalnya meminum air yang terkontaminasi atau melalui rantai makanan, seperti memakan ikan yang telah menggandakan (biological magnification) pencemar karena memakan mangsa yang tercemar. Dampak B3 terhadap Kesehatan, antara lain : 1. Air Raksa /Hargentum/ Hg/ Mercury Elemen Hg berwarna kelabu-perak, sebagai cairan pada suhu kamar dan mudah menguap bila dipanaskan. Hg2+ (Senyawa Anorganik) dapat mengikat carbon, membentuk senyawa organomercury. Methyl Mercury (MeHg) merupakan bentuk penting yang memberikan pemajanan pada manusia. Industri yang memberikan efluents Hg adalah : *Yang memproses chlorin, *Produksi Coustic soda, *Tambang dan prosesing biji Hg, *Metalurgi dan elektroplating,
15

*Pabrik Kimia, *Pabrik Tinta, *Pabrik Kertas, *Penyamakan Kulit, *Pabrik Tekstil, *Perusahaan Farmasi, *Penambangan emas tradisional.

Sebagian senyawa mercury yang dilepas ke lingkungan akan mengalami proses methylation menjadi methylmercury (MeHg) oleh microorganisme dalam air dan tanah. MeHg dengan cepat akan diakumulasikan dalam ikan atau tumbuhan dalam air permukaan. Kadar mercury dalam ikan dapat mencapai 100.000 kali dari kadar air disekitarnya. Kelompok Resiko Tinggi Terpajan Hg. Orang-orang yang mempunyai potensial terpajan Hg diantaranya : *Pekerja pabrik yang menggunakan Hg. *Janin, bayi dan anak-anak : 1. MeHg dapat menembus placenta, 2. Sistem syaraf sensitif terhadap keracunan Hg. 3. MeHg pada ASI, maka bayi yang menyusu dapat terpajan. *Masyarakat pengkonsumsi ikan yang berasal dari daerah perairan yang tercemar mercury.

16

Pemajanan melalui inhalasi, oral,kulit Dampak pada Kesehatan: Mercury termasuk bahan teratogenik. MeHg didistribusikan keseluruh jaringan terutama di darah dan otak. MeHg terutama terkonsentrasi dalam darah dan otak. 90% ditemukan dalam darah merah. Efek Fisiologis : Efek toksisitas mercury terutama pada susunan saraf pusat (SSP) dan ginjal, dimana mercury terakumulasi yang dapat menyebabkan kerusakan SSP dan ginjal antara lain tremor, kehilangan daya ingat. Efek pada pertumbuhan : MeHg mempunyai efek pada kerusakan janin dan terhadap pertumbuhan bayi. Kadar MeHg dalam darah bayi baru lahir dibandingkan dengan darah ibu mempunyai kaitan signifikan. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terpajan MeHg bisa menderita kerusakan otak dengan manifestasi : - Retardasi mental - Tuli - Penciutan lapangan pandang - Buta - Microchephaly - Cerebral Palsy - Gangguan menelan Efek yang lain : Efek terhadap sistem pernafasan dan pencernaan makanan dapat terjadi pada keracunan akut. Inhalasi dari elemental Mercury dapat mengakibatkan kerusakan berat dari jaringan paru. Sedangkan keracunan makanan yang mengandung Mercury dapat menyebabkan kerusakan liver.

17

2. Chromium Chromium adalah suatu logam keras berwarna abu-abu dan sulit dioksidasi meski dalam suhu tinggi. Chromium digunakan oleh industri : Metalurgi, Kimia, Refractory (heat resistent application). Dalam industri metalurgi, chromium merupakan komponen penting dari stainless steels dan berbagai campuran logam. Dalam industri kimia digunakan sebagai : *Cat pigmen (dapat berwarna merah, kuning, orange dan hijau). *Chrome plating. *Penyamakan kulit. *Treatment Wool. Chromium terdapat stabil dalam 3 valensi. Berdasarkan urutan toksisitasnya adalah Cr-O, Cr-III, Cr-VI. Electroplating, penyamakan kulit dan pabrik textil merupakan sumber utama pemajanan chromium ke air permukaan. Limbah padat dari tempat prosesing chromium yang dibuang ke landfill dapat merupakan sumber kontaminan terhadap air tanah. Kelompok Resiko Tinggi : *Pekerja di industri yang memproduksi dan menggunakan Cr. *Perumahan yang terletak dekat tempat produksi akan terpajan Cr-VI lebih tinggi *Perumahan yang dibangun diatas bekas landfill, akan terpajan melalui pernafasan (inhalasi) atau kulit. Pemajanan melaui : - Inhalasi terutama pekerja - Kulit - Oral : masyarakat pada umumnya

18

Dampak Kesehatan Efek Fisiologi : *Cr (III) merupakan unsur penting dalam makanan (trace essential) yang mempunyai fungsi menjaga agar metabolisme glucosa, lemak dan cholesterol berjalan normal. *Organ utama yang terserang karena Cr terhisap adalah paru-paru, sedangkan organ lain yang bisa terserang adalah ginjal, lever, kulit dan sistem imunitas. Efek pada Kulit : Dermatitis berat dan ulkus kulit karena kontak dengan Cr-IV.

Efek pada Ginjal : Bila terhirup Cr-VI dapat mengakibatkan necrosis tubulus renalis. Efek pada Hati : Pemajanan akut Cr dapat menyebabkan necrosis hepar. Bila terjadi 20 % tubuh tersiram asam Cr akan mengakibatkan kerusakan berat hepar dan terjadi kegagalan ginjal akut.

3. Cadmium (Cd) Cadmium merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi. Cadmium murni berupa logam berwarna putih perak dan lunak, namun bentuk ini tak lazim ditemukan di lingkungan. Umumnya cadmium terdapat dalam kombinasi dengan elemen lain seperti Oxigen (Cadmium Oxide), Clorine (Cadmium Chloride) atau belerang (Cadmium Sulfide). Kebanyakan Cadmium (Cd) merupakan produk samping dari pengecoran seng, timah atau tembaga cadmium yang banyak digunakan berbagai industri, terutama plating logam, pigmen, baterai dan plastik.

19

Pemajanan Sumber utama pemajanan Cd berasal dari makanan karena makanan menyerap dan mengikat Cd. misalnya : tanaman dan ikan. Tidak jarang Cd dijumpai dalam air karena adanya resapan dari tempat buangan limbah bahan kimia. Dampak pada kesehatan Beberapa efek yang ditimbulkan akibat pemajanan Cd adalah adanya kerusakan ginjal, liver, testes, sistem imunitas, sistem susunan saraf dan darah. 4. Cupper (Cu) / Tembaga Tembaga merupakan logam berwarna kemerah-merahan dipakai sebagai logam murni atau logam campuran (suasa) dalam pabrik kawat, pelapis logam, pipa dan lain-lain. Pemajanan Pada manusia melalui pernafasan, oral dan kulit yang berasal dari berbagai bahan yang mengandung tembaga. Tembaga juga terdapat pada tempat pembuangan limbah bahan berbahaya. Senyawa tembaga yang larut dalam air akan lebih mengancam kesehatan. Cu yang masuk ke dalam tubuh, dengan cepat masuk ke peredaran darah dan didistribusi ke seluruh tubuh. Dampak terhadap Kesehatan Cu dalam jumlah kecil (1 mg/hr) penting dalam diet agar manusia tetap sehat. Namun suatu intake tunggal atau intake perhari yang sangat tinggi dapat membahayakan. Bila minum air dengan kadar Cu lebih tinggi dari normal akan mengakibatkan muntah, diare, kram perut dan mual. Bila intake sangat tinggi dapat mengakibatkan kerusakan liver dan ginjal, bahkan sampai kematian.

20

5. Timah Hitam (Pb) Sumber emisi antara lain dari : Pabrik plastik, percetakan, peleburan timah, pabrik karet, pabrik baterai, kendaraan bermotor, pabrik cat, tambang timah dan sebagainya. Pemajanan: melalui Oral dan Inhalasi Dampak pada Kesehatan Sekali masuk ke dalam tubuh timah didistribusikan terutama ke 3 (tiga) komponen yaitu: * Darah, *Jaringan lunak (ginjal, sumsum tulang, liver, otak), *Jaringan dengan mineral (tulang + gigi). Tubuh menimbun timah selama seumur hidup dan secara normal mengeluarkan dengan cara yang lambat. Efek yang ditimbulkan adalah gangguan pada saraf perifer dan sentral, sel darah, gangguan metabolisme Vitamin D dan Kalsium sebagai unsur pembentuk tulang, gangguan ginjal secara kronis, dapat menembus placenta sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. 6. Nickel (Ni) Nikel berupa logam berwarna perak dalam bentuk berbagai mineral. Ni diproduksi dari biji Nickel, peleburan/ daur ulang besi, terutama digunakan dalam berbagai macam baja dan suasa serta elektroplating. Salah satu sumber terbesar Ni terbesar di atmosphere berasal dari hasil pembakaran BBM, pertambangan, penyulingan minyak, incenerator. Sumber Ni di air berasal dari lumpur limbah, limbah cair dari Sewage Treatment Plant, air tanah dekat lokasi landfill. Pemajanan: melalui inhalasi, oral dan kontak kulit. Dampak terhadap Kesehatan Ni dan senyawanya merupakan bahan karsinogenik. Inhalasi debu yang mengandung Ni-Sulfide mengakibatkan kematian karena kanker pada paru-paru dan rongga hidung, dan mungkin juga dapat terjadi kanker pita suara.

21

7. Pestisida Pestisida mengandung konotasi zat kimia dan atau bahan lain termasuk jasad renik yang mengandung racun dan berpengaruh menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan manusia, kelestarian lingkungan dan keselamatan tenaga kerja. Pestisida banyak digunakan pada sektor pertanian dan perdagangan/ komoditi. Pemajanan melalui : *Oral, *Inhalasi, *Kulit Dampak pada Kesehatan Pestisida golongan Organophosphat dan Carbamat dapat mengakibatkan keracunan Sistemik dan menghambat enzym Cholinesterase (Enzim yang mengontrol transmisi impulse saraf) sehingga mempengaruhi kerja susunan saraf pusat yang berakibat terganggunya fungsi organ penting lainnya dalam tubuh. Keracunan pestisida golongan Organochlorine dapat merusak saluran pencernaan, jaringan, dan organ penting lainnya. 8. Arsene Arsene berwarna abu-abu, namun bentuk ini jarang ada di lingkungan. Arsen di air di temukan dalam bentuk senyawa dengan satu atau lebih elemen lain. Senyawa Arsen dengan oksigen, clorin atau belerang sebagai Arsen inorganik, sedangkan senyawa dengan Carbon dan Hydrogen sebagai Arsen Organik. Arsen inorganik lebih beracun dari pada arsen organik. Suatu tempat pembuangan limbah kimia mengandung banyak arsen, meskipun bentuk bahan tak diketahui (Organik/ Inorganik). Industri peleburan tembaga atau metal lain biasanya melepas arsen inorganik ke udara. Arsen dalam kadar rendah biasa ditemukan pada kebanyakan fosil minyak, maka pembakaran zat tersebut menghasilkan kadar arsen inorganik ke udara Penggunaan arsen terbesar adalah untuk pestisida. Pemajanan Arsen ke dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari makanan / minuman. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus kemudian masuk ke peredaran darah.

22

Dampak terhadap Kesehatan: Arsen inorganik telah dikenal sebagai racun manusia sejak lama, yang dapat mengakibatkan kematian. Dosis rendah akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Bila melalui mulut, pada umumnya efek yang timbul adalah iritasi saluran makanan, nyeri, mual, muntah dan diare. Selain itu mengakibatkan penurunan pembentukan sel darah merah dan putih, gangguan fungsi jantung, kerusakan pembuluh darah, luka di hati dan ginjal. 9. Nitrogen Oxide (NOx) NOx merupakan bahan polutan penting dilingkungan yang berasal dari hasil pembakaran dari berbagai bahan yang mengandung Nitrogen. Pemajanan manusia pada umumnya melalui inhalasi atau pernafasan. Dampak terhadap kesehatan berupa keracunan akut sehingga tubuh menjadi lemah, sesak nafas, batuk yang dapat menyebabkan edema pada paru-paru. 10. Sulfur Oxide (SOx) Sumber SO2 bersal dari pembakaran BBM dan batu bara, penyulingan minyak, industri kimia dan metalurgi. Dampak pada kesehatan berupa keracunan akut: *Pemajanan lewat ingesti efeknya berat, rasa terbakar di mulut, pharynx, abdomen yang disusul dengan muntah, diare, tinja merah gelap (melena). Tekanan darah turun drastis. *Pemajanan lewat inhalasi, menyebabkan iritasi saluran pernafasan, batuk, rasa tercekik, kemudian dapat terjadi edema paru, rasa sempit didada, tekanan darah rendah dan nadi cepat. *Pemajanan lewat kulit terasa sangat nyeri dan kulit terbakar.

23

11. Karbonmonoksida (CO) Karbonmonoksida adalah gas yang tidak berbau dan tidak berwarna, berasal dari hasil proses pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung rantai karbon (C). Pemajanan pada manusia lewat inhalasi. Dampak pada kesehatan : Keracunan akut Terjadi setelah terpajan karbonmonoksida berkadar tinggi. CO yang masuk kedalam tubuh dengan cepat mengikat haemoglobine dalam darah membentuk karboksihaemoglobine (COHb), sehingga haemoglobine tidak mempunyai kemampuan untuk mengikat oksigen yang sangat diperlukan untuk proses kehidupan dari pada jaringan dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena CO mempunyai daya ikat terhadap haemoglobine 200 sampai 300 kali lebih besar dari pada oksigen, yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak atau hypoxia, susunan saraf, dan jantung, karena organ tersebut kekurangan oksigen dan selanjutnya dapat mengakibatkan kematian. Keracunan kronis Terjadi karena terpajan berulang-ulang oleh CO yang berkadar rendah atau sedang. Keracunan kronis menimbulkan kelainan pada pembuluh darah, gangguan fungsi ginjal, jantung, dan darah.

24

Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan B3 Berdasarkan PP N0.74 Tahun 2001 Diatur hal hal sebagai berikut A.Penanggulangan Kecelakaan Dan Keadaan Darurat Pasal 24 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menanggulangi terjadinya kecelakaan dan atau keadaan darurat akibat B3. Pasal 25 Dalam hal terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat yang diakibatkan B3, maka setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 wajib mengambil langkah langkah : a. mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan; b. menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur tetap penanggulangan kecelakaan; c. melaporkan kecelakaan dan atau keadaan darurat kepada aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat dan d.memberikan informasi, bantuan, dan melakukan evakuasi terhadap masyarakat di sekitar lokasi kejadian. Pasal 26 Aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat, setelah menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan dan atau keadaan darurat akibat B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c, wajib segera mengambil langkah-langkah penanggulangan yang diperlukan. Pasal 27 Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, tidak menghilangkan kewajiban setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 untuk : a. mengganti kerugian akibat kecelakaan dan atau keadaan darurat; dan atau b. memulihkan kondisi lingkungan hidup yang rusak atau tercemar; yang diakibatkan oleh B3.

25

B.Pengawasan Dan Pelaporan Pasal 28 *Wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Dalam hal tertentu, wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diserahkan menjadi urusan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. *Penyerahan wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan atau instansi yang berwenang di bidang tugasnya masing-masing. Pasal 29 Pengawas dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Pasal 30 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib: a. mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi kerja dan membantu terlaksananya tugas pengawasan; b. mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh B3; c. memberikan keterangan dengan benar baik lisan maupun tertulis; d. mengizinkan pengawas untuk melakukan pemotretan di lokasi kerja dan atau mengambil gambar. Pasal 31 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menyampaikan laporan tertulis tentang pengelolaan B3 secara berkala sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan kepada instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang di bidang tugas masing-masing dengan tembusan kepada Gubernur/Bupati/ Walikota.

26

C.Peningkatan Kesadaran Masyarakat Pasal 32 Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala Instansi yang bertanggung jawab dan Pimpinan instansi yang berwenang, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak yang akan timbul terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya akibat adanya kegiatan pengelolaan B3. Pasal 33 Setiap orang yang melakukan pengelolaan B3 wajib meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak B3 yang akan timbul terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya akibat adanya kegiatan pengelolaan B3. Pasal 34 Peningkatan kesadaran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dan Pasal 33 dapat dilakukan dengan penyebarluasan pemahaman tentang B3. D.Keterbukaan Infromasi Dan Peran Masyarakat Pasal 35 (1) Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang upaya pengendalian dampak lingkungan hidup akibat kegiatan pengelolaan B3. (2) Informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib disediakan oleh penanggung jawab kegiatan pengelolaan B3. (3) Penyediaan informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat disampaikan melalui media cetak, media elektronik dan atau papan pengumuman. Pasal 36 Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan B3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

27

E.Sanksi Administrasi Pasal 38 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1), Pasal 8 ayat (1), Pasal 9 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19, Pasal 20, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 33, dan Pasal 35 dikenakan sanksi administrasi. (2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan berat dan ringannya jenis pelanggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. F.Ganti Kerugian Pasal 39 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun, bertanggungjawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti kerugian secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. (2) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. adanya bencana alam atau peperangan; atau b. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau c. adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c, pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti kerugian.

28

G.Ketentuan Pidana Pasal 40 Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4, Pasal 6 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17 ayat (1), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19, Pasal 20, Pasal 22, dan Pasal 24 yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, dan Pasal 47 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

29

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan * B3 merupakan zat kimia yang sangat berbahaya maka diperlukan Penggelolaan Limbah B3 yang tepat. * Pembuangan Limbah B3 secara sembarangan tanpa diolah terlebih dahulu Akan menimbulkan pencemaran dan berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. * Pengetahuan masyarakat mengenai bahaya B3 masih sangat minim * Undang undang dan Peraturan Pemerintah mengenai B3 sudah diatur dengan baik tinggal proses pelaksanaan yang harus diperhatikan.

B. SARAN - SARAN * Limbah B3 yang ada sebaiknya diolah dahulu sebelum di buang ke lingkungan, agar tidak membahayakan. *Proses sosialisasi mengenai B3 terhadap masyarakat harus di lakukan secara berkala untuk membantu masyarakat memahami dampak dan bahaya tentang B3 dengan baik. *Pemerintah dan instansi yang terkait harus lebih efektif dalam pengawasan baik meliputi penggunaan maupun pengolahan B3. *Penerapan undang undang dan peraturan pemerintah mengenai B3 harus Benar-benar dijalankan sehingga intansi yang berkaitan dengan penggunaan B3 memiliki tanggung jawab dalam pengolahan Limbah B3 yang baik dan benar.

30

DAFTAR PUSTAKA

http://sanitationhealth.blogspot.com/2011/12/pengolahan-limbah-b3-bahanberbahaya.html http://www.logamjaya.co.id/new/index.php?option=com_content&view=artic le&id=53%3Atentang-b3&catid=1%3Aprofile-clja&Itemid=2&lang=ja http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/bidang-pengendalian/subidpembinaan-pencemaran/338-pengelolaan-limbah-b3-terhadap-pengaruhkualitas-lingkungan http://www.smallcrab.com/kesehatan/729-dampak-b3-terhadap-kesehatan http://donymei.blogspot.com/2010/09/dampak-limbah-b3.html www.deptan.go.id/bdd/admin/p_pemerintah/PP-74-01.pdf http://www.sumber-artikel.com/web/artikel-dampak-limbah-b3-terhadaplingkungan.html http://www.artikellingkunganhidup.com/topik/dampak+limbah+b3+terhada p+lingkungan.html

31