Anda di halaman 1dari 15

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Gastroenteritis (Diare) hingga kini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. Diperkirakan angka kesakitan berkisar antara 150-430 per seribu penduduk setahunnya. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja. Penyebab kematian yang penting adalah disentri, kekurangan gizi dan infeksi yang serius seperti pneumonia. Dari hasil studi morbiditas oleh departemen kesehatan di 8 propinsi pada tahun 1989, 1990, dan 1995 berturut-turut morbiditas diare menunjukkan 78.5%, 103% dan 100%. Apalagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia, mungkin kejadian diare menunjukkan peningkatan. Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 1

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 cara pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 2

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI Gastroenteritis adalah buang air besar ( BAB ) yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Pada neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar (BAB) sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur 1 bulan dan anak bila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan tanpa darah atau lendir dalam tinja. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari sejak awal diare. Diare kronik disebut juga dengan diare intermiten ( hilang timbul ) atau yang berlangsung lama dengan penyebab yang kompleks. Diare kronik jangan dikacaukan dengan diare persisten yaitu diare yang mulamula bersifat akut namun berlangsung lebih dari 14 hari. Episode ini dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri. Kehilangan berat badan yang nyata sering terjadi. Volume tinja dapat dalam jumlah yang banyak sehingga ada resiko mengalami dehidrasi.

2.2

ETIOLOGI Penyebab diare dapat di bagi dalam beberapa faktor : 1. Faktor infeksi a. Infeksi enteral Yaitu infeksi saluran pencernaan sebagai penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi :

Infeksi bakteri; Vibrio, E.coli, Salmonela, Shigella, Campylobacter, dsb.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 3

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012


Infeksi virus ; Enterovirus (virus echo, coxsakie), adeno virus, rota virus, dsb. Infeksi parasit; cacing (ascariasis, trichuris) Protozoa (Entamuba hystolitica, Giardia lambia) Jamur (Kandida Albica)

b. Infeksi parenteral Yaitu; infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti: OMA, tonsilofaringitis, bronchopneumonia, encefalitis, dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun. 2. Faktor malabsorbsi a. Malabsorbsi karbohidrat b. Malabsorbsi lemak c. Malabsorbsi protein 3. Faktor makanan : Makanan basi, baracun, alergi terhadap makanan. 4. Faktor psikologis : rasa takut, cemas, walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

2.3

PATOGENESIS Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah : 1. Gangguan osmotic Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserab akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 4

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 2. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. 3. Gangguan motalitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan kekurangan kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Berdasarkan penyebabnya diare, patogenesis timbulnya diare sangat berbeda-beda dan bervariasi dari satu penyebab ke penyebab lainnya, oleh karena itu di sini hanya akan dikemukakan secara garis besarnya saja. Patogenesis terjadinya diare oleh karena virus adalah sebagai berikut: virus masuk ke dalam traktus digestivus bersama makanan dan minuman, kemudian berkembang biak di dalam usus, setelah itu virus masuk ke dalam epitel usus halus dan menyebabkan kerusakan bagian apikal vili usus halus. Sel epitel usus halus bagian apikal akan diganti oleh sel dari bagian kripta yang belum matang, berbentuk kuboid atau gepeng. Akibatnya sel-sel epitel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air dan makanan. Sebagai akibat lebih lanjut akan terjadi diare osmotik. Villi usus kemudian akan memendek sehingga kemampuan untuk menyerap dan mencerna makanan pun akan berkurang. Pada saat inilah biasanya diare mulai timbul, setelah itu sel retikulum akan melebar dan kemudian akan terjadi infiltrasi sel limfoid dari lamina propia untuk mengatasi infeksi sampai terjadi penyembuhan.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 5

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 Patogenesis terjadinya diare oleh karena bakteri adalah sebagai berikut, bakteri masuk kedalam traktus digestivus, kemudian berkembang biak di dalam traktus digestivus tersebut, bakteri ini kemudian mengeluarkan toksin yang akan merangsang epitel usus sehingga terjadi peningktan aktivitas enzim adenil siklase (bila toksin bersifat tidak tahan panas disebut labile toxin = LT) atau enzim guanil siklase (bila toksin bersifat tahan panas disebut stabile toxin = ST). Sebagai akibat peningkatan enzim-enzim ini akan terjadi peningkatan cAMP atau cGMP yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi klorida, natrium dan air dari dalam sel ke lumen usus serta menghambat sekresi absorbsi natrium, klorida dan air dari lumen usus ke dalam sel, sehingga menyebabkan peninggian tekanan osmotik di dalam lumen usus (hiperosmolar), kemudian akan terjaadi hiperperistaltik usus untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan dalam lumen usus, sehingga cairan dapat dialirkan dari lumen usus halus ke lumen usus besar (kolon). Bila kemampuan penyerapan kolon berkurang atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan kolon, maka akan terjadi diare.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 6

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 2.4 GEJALA KLINIS Gejala klinis yang dapat ditimbulkan oleh diare antara lain muntah, demam, nyeri abdomen, membran mukosa mulut dan bibir kering, kehilangan berat badan, nafsu makan menurun serta lemas.

Gejala khas diare berdasarkan penyebabnya: Gejala Klinik Rotavirus Masa tunas Panas Mual muntah Nyeri perut Nyeri kepala & Shigella Salmonella ETEC 6 - 72 jam ++ sering Tenesmus, kolik + 3 - 7 hari 6 - 72 jam + 2- 3 hari EIEC Cholera

12 - 17 jam 24- 48 jam ++ sering tenesmus ++ jarang Tenesmus, kram + > 7 hari

6 - 72 jam 48 - 72 jam ++ Tenesmus, kram variasi sering kram 3 hari

Lamanya sakit 5 - 7 hari Sifat tinja : - Volume - Frekuensi - Konsistensi - Lendir/darah - Bau - Warna Leukosit Lain-lain sedang 5-10 kali/hari cair -

sedikit > 10 kali/hari lembek sering +/-

sedikit sering lembek kadangkadang busuk

banyak sering cair +

sedikit sering lembek + merahhijau +

banyak terus menerus cair amis (khas) seperti air cucian beras +/-

kuning (-) merah - hijau kehijauan hijau berwarna anoreksia + kejang +/+ sepsis +/-

Meteoris- infeksi mus sistemik

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 7

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 Berikut ini penilaian derajat dehidrasi yang timbul pada penderita diare: Penilaian Kesadaran Rasa haus Nadi Pernafasan UUB Mata Air mata Mulut/ lidah Turgor % BB Tanpa Dehidrasi Composmentis Mau minum 120 x/ N N N N Basah Kembali cepat Dehidrasi Sedang Gelisah, rewel lekas Ringan-

Dehidrasi Berat

marah, Lesu, tidak sadar

Sangat haus ingin banyak Tidak mau minum minum Cepat Agak cepat Cekung Cekung Tidak ada Kering Lambat 5-10 % Cepat sekali Cepat dan dalam Sangat cekung Sangat cekung Tidak ada Sangat kering Sangat lambat > 10 %

kehilangan 2-4 %

2.5

DIAGNOSIS Diagnosis pada pasien gastroenteritis ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Langkahlangkah dalam mendiagnosis adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Anamnesis dan penimbangan berat badan Pemeriksaan fisik Pemeriksaan laboratorium, seperti : Feses rutin Darah rutin

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 8

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 Urin rutin

4. Pemeriksaan penunjang lainnya : kultur tinja. Disamping itu perlu pula menentukan derajat dehidrasi ( ringan, sedang, berat) dan menentukan penyakit penyerta komplikasi diare.

2.6

KOMPLIKASI

a. Dehidrasi b. Syok/renjatan hipovolemik c. Hipokalemia d. Hipoglikemia e. Intoleransi laktosa sekunder sebagai akibat defisiensi enzim lactose karena kerusakan villi mukosa usus halus. f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik g. Malnutrisi energy protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan

2.7

PENCEGAHAN

a. Pemberian ASI b. Perbaikan cara pemberian makanan pendamping ASI c. Penggunaan air bersih yang cukup d. Cuci tangan e. Penggunaan jamban f. Pembuangan tinja bayi/anak yang semestinya

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 9

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 g. Imunisasi campak

2.8

PENATALAKSANAAN Dasar pengobatan diare: A. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat) a. Diare tanpa dehidrasi Pemberian cairan lebih banyak dari biasanya secara oral untuk mencegah terjadinya dehidrasi b. Diare dengan dehidrasi tak berat Oralit sebanyak 75cc/kgBB diberi selama 3-4 jam. Jika ada hal yang menyebabkan kegagalan pemberian cairan secara oral dapat diberikan RL (Ringer Laktat) secara IV. c. Diare dengan dehidrasi berat RL (Ringer Laktat) secara IV sebanyak 100cc/kgBB dalam waktu 3-6 jam. Usia < 1 tahun 1 jam I 5 jam II Usia > 1 tahun jam I 2 jam II : 30 cc/kgBB :70 cc/kgBB : 30 cc/kgBB : 70cc/kgBB

Setelah rehidrasi tercapai, dilanjutkan dengan pemberian cairan rumatan berdasarkan holiday zegar: BB < 10 kg BB 10-20 kg : BB x 100 ml/kgBB/hari : 1000 ml + (BB 10) x 50 ml/hari

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 10

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 BB > 20 kg : 1500 ml + (BB 20) x 20 ml/hari

B. Dietetik (pemberian makanan) Pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjagan kesehatan. Adapun hal yang perlu diperhatikan: a. Memberikan ASI b. Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih C. Farmakologi ( obat-obatan) Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain ( gula, air tajin, tepung beras, dsb) Pada umumnya antibiotik tidak diperlukan untuk mengatasi diare akut, kecuali bila sudah jelas penyebabnya seperti pada cholera diberikan tetrasiklin 25 50 mg/kgbb/hari: campylobacter diberikan eritromisin 40 -50 mg/kgbb/hari. Antibiotic dapat pula diberikan bila terdapat penyakit penyerta. D. Pemberian Zinc a. Tatalaksana baru diare Tatalaksana baru diare haarus menggunakan cairan rehidrasi oral baru yaitu yang osmolaritasnya rendah dan telah direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF tahun 2004.selain itu petugas kesehatan harus memberikan zinc selama 10 hari. b. pengembangan Zinc sebagai obat diare

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 11

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 didasarkan pada alasan ilmiah bahwa zinc mempunyai efek pada fungsi kekebalan saluran cerna, struktur saluran cerna serta mempercepat proses penyembuhan epitel selama diare. Kekurangan zinc ternyata sudah pandemic pada anak-anak di Negara berkembang. Zinc telah diketahui berperan dalam metalloenzymes, polyribosomes, membrane cell, dan fungsi sel, dimana hal ini akan memicu pertumbuhan sel dan meningkatkan fungsi sel dalam system kekebalan. Perlu diketahui juga bahwa selama diare berlangsung zinc hilang bersama diare sehingga hal ini memicu kekurangan zinc dalam tubuh.

Bukti- bukti yang telah disebarluaskan dari hasil penelitian bahwa zinc bisa mengurangi lama diare sampai 20 % dan juga bisa mengurangi angka kekambuhan sampai 20 %. Bukti lain mengatakan dengan pemakaian zinc dapat mengurrangi jumlah tinja 18 59 %, juga dikatakan tidak ada efek samping dalam penggunaan zinc, jika ada ditemukan hanya gejala muntah.

c. Alasan ilmiah tatalaksana baru diare pada anak Pengembangan penyempurnaan formula baru oralit berdasarkan penelitian yang mengatakan bahwa penurunan gula dan garam (naCl) memperpendek lama diare, mengurangi volume tinja, mengurangi penggunaan cairan IV. Pemberian zinc sebagai obat terbukti mengurangi lama dan beratnya diare, serta menurunkan angka kejadian diare berikutnya selama 2 3 bulan ke depan.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 12

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 RDA (Recommended Dietery Allowance) zinc pada bayi, anak-anak, dan dewasa: Bayi Anak ( 1 3 tahun) Anak ( 4 8 tahun) Wanita tidak hamil : 4 5 mg : 3 mg : 4 5 mg : 8 9 mg

Wanita hamil dan menyusui : 9 13 mg Pria : 13 19 mg

Depkes RI juga telah mengadopsi rekomendasi bersama WHO dan UNICEF, saat ini sedang mensosialisasikan program lima langkah tuntaskan diare ( lintas diare) yaitu: 1. Oralit 2. Zinc 10 hari 3. Teruskan ASI dan makanan 4. Antibiotik Selektif 5. Nasihat (penyuluhan)

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 13

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Gastroenteritis adalah buang air besar ( BAB ) yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Pada neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar (BAB) sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur 1 bulan dan anak bila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan tanpa darah atau lendir dalam tinja

Penyebab diare dapat di bagi dalam beberapa faktor : 1. Faktor infeksi 2. Faktor malabsorbsi 3. Faktor makanan 4. Faktor psikologis Gejala klinis yang dapat ditimbulkan oleh diare antara lain muntah, demam, nyeri abdomen, membran mukosa mulut dan bibir kering, kehilangan berat badan, nafsu makan menurun serta lemas. Dasar pengobatan gastroenteritis adalah : 1. Pemberian cairan rehidrasi 2. Dietetik 3. Pemberian zinc 4. Farmakologi ( obat-obatan) jika terdapat penyakit penyerta.

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 14

[GASTROENTERITIS] June 30, 2012 DAFTAR PUSTAKA

1) Behrman, Kliegman,Arvin.2006.Ilmu Kesehatan anak NELSON Vol.2.Jakarta.EGC


2) Pelayanan Kesehatan Di Rumah Sakit. WHO. 2009. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta

3) Subijanto,MS.2009. Managemen Diare Pada Bayi dan Anak. www.pediatrik.com/buletin.


4) http://www.pantirapih.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=158:diare-dangastroenteritis 5) http://www.arisclinic.com/2011/04/gastroenteritis-akut-pada-anak/

KKS ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI

Page 15