Anda di halaman 1dari 394
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI Disusun Oleh: Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya) KEMENTERIAN
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR
KEPABEANAN DAN CUKAI
Disusun Oleh:
Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya)
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR
KEPABEANAN DAN CUKAI
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI Disusun Oleh: Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya) KEMENTERIAN
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI Disusun Oleh: Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya) KEMENTERIAN

Disusun Oleh:

Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya)

CUKAI Disusun Oleh: Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya) KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

2011

Teknis Kepabeanan

Teknis Kepabeanan DTSDDTSDDTSDDTSD KepabeananKepabeananKepabeananKepabeanan dandandandan CukaiCukaiCukaiCukai i

Teknis Kepabeanan

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR

 

i

DAFTAR ISI

ii

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ………………………………………

vii

PETA KONSEP MODUL ……………………………………………………

…….

ix

 

MODUL TEKNIK KEPABEANAN

A. Pendahuluan …………………………………………………………….……

1

1. Deskripsi Singkat …………………

 

1

2. Prasyarat Kompetensi ……………

1

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

2

4. Relevansi Modul

.……………………………

………

….

2

B. KEGIATAN BELAJAR …

 

3

1.

Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………

3

 

Tata Laksana Kepabeanan Dibidang Impor

Indikator ………………………………………………………………

……

3

1.1. Uraian dan contoh

 

3

A. Kedatangan sarana pengangkut, pembongkaran dan

 
 

penimbunan barang impor

 

3

1)

Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dan

 

Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP)

 

4

 

2)

Kedatangan sarana pengangkut ……………………….…

4

3)

Pembongkaran dan Penimbunan barang impor …………

7

B. Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai

 

8

C. Tata Kerja Penyelesaian Barang Impor

19

 

1)

Tata Kerja Penyelesaian barang Impor Untuk Dipakai

 
 

Dengan PIB yang Disampaikan Melalui Sistem PDE

Kepabeanan ……………………………………………

19

 

2)

Tata Kerja Penyelesaian Barang Impor Untuk Dipakai

 
 

Dengan PIB yang Disampaikan Menggunakan Media

Penyimpan Data Elektronik ……………………………

….

32

 

3)

Tata Kerja Penyelesaian Barang Impor Untuk Dipakai

 

Teknis Kepabeanan

 

Dengan PIB yang Disampaikan menggunakan Formulir

40

4) Tata Kerja Penyelesaian Barang Impor Eksep ………

….

47

D. Pengeluaran Barang Impor Lainnya

51

1)

Pengeluaran barang impor dengan menggunakan Pemberitahuan Impor Barang Khusus (PIBK / BC 2.1)

51

2)

Impor barang pribadi penumpang, awak sarana pengank

pelintas batas dan barang kiriman

51

3)

Impor Sementara

63

4)

Pengeluaran ke Tempat Penimbunan Berikat (TPB)

68

5)

Pengeluaran Barang Impor Untuk Diangkut Terus atau

Diangkut Lanjut

69

6)

Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk

Diangkut ke Tempat Penimbun Sementara di Kawasan Pabean Lainnya

69

7)

Pengeluaran Barang Impor Untuk Diekspor Kembali

70

E. Kemudahan Dibidang Pelayanan Impor

 

70

1)

Mitra Utama ………………………………………………….

71

2)

Pemberitahuan Pendahuluan (Prenotification) ……….…

74

3)

Pelayanan Segera …………………………………………

74

4)

Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai Dengan

Menggunakan Jaminan (Vooruitslag) ………………….….

75

5)

Penimbunan Barang Impor Di Gudang atau Lapangan

Importir di Luar Kawasan Pabean ………………………

77

6)

Pemeriksaan Barang Impor Di Gudang atau Lapangan

Penimbunan Milik Importir ……………… ………………

77

7)

Pemeriksaan Pendahuluan dan Pengambilan Contoh

Untuk Pembuatan Pemberitahuan Impor Barang ……

78

8)

Pemberitahuan Impor Barang Berkala …………………….

78

9)

Pengemas Yang Dipakai Berulangkali (Returnable

Package) ……………………………………………………

79

F. Pungutan Dalam Rangka Impor ……………………………

80

1)

Bea Masuk ………………………………………………

80

2)

Bea Masuk Imbalan …………………………………… …

83

Teknis Kepabeanan

 

3)

Bea Masuk Anti Dumping …………………………………

84

4)

Bea Masuk Tindakan Pengaman ………………………….

86

5)

Cukai ………………………………………………………….

88

6)

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) …………………………

90

7)

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) ……

90

8)

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 ………………………

91

9)

Sanksi Administrasi Berupa Denda ……………………….

91

 

1.2. Latihan 1 ………………………………………………………

 

97

1.3. Rangkuman ………………………………………………………

98

1.4. Tes Formatif 1 …………………………………………………

101

1.5. Umpan Balik

dan Tindak Lanjut ……………………

106

2.

Kegiatan Belajar (KB) 2 ……………

107

Tata Laksana Kepabeanan Dibidang Ekspor Indikator …………………………………………………………………

107

 

2.1.

Uraian dan contoh

107

A. Prosedur ekspor …………………………….………………

107

 

1)

Pengertian ekspor …………………………………………

107

2)

Pemberitahuan Pabean Ekspor …………………………

108

3)

Pembayaran Pungutan Negara Bukan Pajak dan Bea

 

Keluar ………………………………………………………

113

 

4)

Pemeriksaan Pabean ……………………………………….

113

5)

Konsolidasi dan Penggabungan Barang Ekspor

120

6)

Ekspor Bahan Baku Asal Impor Yang Mendapat Fasilitas

 

KITE

123

 

7)

Pemasukan Barang Ekspor Ke Kawasan Pabean Di

 

Pelabuhan Muat

124

 

8)

Pemuatan Barang Ekspor dan Rekonsiliasi

124

9)

Pembatalan Ekspor dan Pembetulan Data PEB

126

10) Pembatalan dan Pembetulan Data PKBE ….………….…

129

11) Barang Yang Akan Diekspor Yang Diangkut Dengan Sarana Pengangkut Laut Dan/Atau Udara Dalam Negeri Yang Bukan Merupakan Bagian Dari Angkutan Multimoda

130

Teknis Kepabeanan

 

12) Penerbitan dan Pembetulan LPE ………………………….

131

13) Penatausahaan PEB

132

14) Pengawasan Di Bidang Ekspor

132

15) Jam Kerja Pelayanan ……………………………………….

133

 

B.

Bea Keluar ………………

………

……

134

 

1)

Pengenaan dan Perhitungan Bea Keluar ……

134

2)

Penagihan, Penundaan dan Pengembalian Bea Keluar …

148

2.2. Latihan 2 …….…………………………………………………

153

2.3. Rangkuman ……………………………………………………

154

2.4. Tes Formatif 2 …………………………………………………

156

2.5. Umpan Balik

dan Tindak Lanjut ……………………

160

3.

Kegiatan Belajar (KB) 2 ……………

161

Fasilitas Pembebasan dan Keringanan Bea Masuk Indikator ……….……………………………………………………

161

3.1. Uraian dan contoh

161

 

A. Fasilitas pembebasan dan keringanan bea masuk …… …

161

 

1)

Pengertian ……….……………………………………….…

161

2)

3)

Pembebasan Bea Masuk …….…………………………… Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk ………

164

201

4)

Fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah .………….…

231

5)

Fasilitas GSP (General System of Preference)

232

 

B. Fasilitas Tempat Penimbunan Berikat

……………

233

 

1)

Fungsi dan Tujuan TPB ………………….……

233

2)

Pemberitahuan Pabean BC 2.3 ……………………….……

235

3)

Penerbitan SPPB-TPB …………………………………

237

4)

Penatausahaan Pengeluaran Barang Impor dengan

 

Menggunakan Media Penyimpan Data Elektronik

238

 

5)

Perbaikan dan Pembatalan BC 2.3 …………………………

239

6)

Kewajiban Pengusaha TPB …………………………….…

240

7)

Jenis-jenis Tempat Penimbunan Berikat

240

3.2. Latihan 3 …….…………………………………………

………

298

3.3. Rangkuman ……………………………………………

………

300

3.4. Tes Formatif 3 …………………………………………

………

….

303

Teknis Kepabeanan

3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………

311

PENUTUP …………………………………………………………………………

312

TES SUMATIF …………………………

313

KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………

321

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………… LAMPIRAN

323

Teknis Kepabeanan

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

1. Langkah-langkah belajar yang ditempuh. Modul ini terdiri dari 3 (tiga) Kegiatan Belajar (KB). Perserta Diklat harus mempelajari KB-1 terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan KB-2 dan KB-3. Pahami topik/judul Kegiatan Belajar, pelajari isi/materi KB, kemudian kerjakan latihan. Perhatikan rangkuman KB dan kerjakan kembali test formatif. Dalam hal belum memenuhi tingkat pemahaman dengan kategori ”baik” (nilai lebih dari 80), ulangi kembali materi dalam Kegiatan Belajar tersebut.

2. Perlengkapan yang harus disediakan. Modul ini juga memberikan referensi bacaan maupun peraturan yang terkait. Peserta Diklat disarankan mempelajari juga referensi yang diberikan, terutama ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dilapangan.

3. Target waktu dan pencapaian dalam pembelajaran menggunakan modul. Untuk mempelajari modul ini memerlukan waktu 40 (empat puluh) jam latihan. Namun alokasi waktu tersebut dapat ditambah untuk mempelajari ketentuan terkait lainnya.

4. Hasil evaluasi self assessment. Evaluasi atas keseluruhan modul dapat dipelajari pada test sumatif. Hasil evaluasi dapat Saudara nilai sendiri apakah Saudara sudah cukup memahami materi modul. Jika hasil evaluasi belum mencapai kategori ”baik” disarankan Saudara mengulangi materi modul.

5. Prosedur peningkatan kompetensi materi. Dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi materi, Saudara dapat mempelajari ketentuan dan peraturan terkait setelah Saudara selesai mempelajari keseluruhan materi modul. Oleh karena peraturan terkait dalam

Teknis Kepabeanan

implementasinya berpotensi berubah, maka disarankan Saudara tetap mengikuti perkembangan/peraturan dimaksud di lapangan.

6. Peran tenaga pengajar dalam proses pembelajaran. Tenaga pengajar berperan dalam menjelaskan isi materi per sub Kegiatan Belajar, memberikan contoh-contoh, dan latihan. Pengajar juga menjawab pertanyaan-pertanyaan atas permasalahan yang terkait dengan modul dan pelaksanaannya di lapangan.

Teknis Kepabeanan

PETA KONSEP

Teknis Kepabeanan PETA KONSEP DTSDDTSDDTSDDTSD KepabeananKepabeananKepabeananKepabeanan dandandandan CukaiCukaiCukaiCukai

Teknis Kepabeanan

A

PENDAHULUAN

MODUL TEKNIK KEPABEANAN

1. Deskripsi Singkat

Pelajaran dalam modul ini pada garis besarnya membahas mengenai pengetahuan teknis kepabeanan baik teknis kepabeanan dibidang impor maupun teknis kepabeanan dibidang ekspor secara lengkap. Materi teknis pabean impor meliputi penyelesaian kewajiban pabean sejak kedatangan sarana pengangkut, pembongkaran dan penimbunan barang impor serta pengeluaran barang dari kawasan pabean. Sedangkan materi teknis pabean ekspor meliputi penyelesaian kewajiban pengajuan dokumen ekspor dan pelunasan bea keluar, pemuatan barang ke sarana pengangkut dan keberangkatan sarana pengangkut. Materi dalam modul ini juga membahas mengenai fasilitas pembebasan bea masuk, pembebasan atau keringanan bea masuk dan penangguhan bea masuk. Pembahasan mengenai penangguhan bea masuk meliputi lembaga Tempat Penimbunan Berikat

2. Prasyarat Kompetensi

Untuk dapat mempelajari modul ini dengan baik peserta Diklat harus sudah menguasai teknik pabean dasar (DTSD Tingkat Dasar), lulusan Prodip I STAN, dan sekurang-kurangnya telah lulus Sekolah Menegah Umum atau sederajat.

Teknis Kepabeanan

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

a.

Pemahaman tatalaksana kepabeanan dibidang impor. 1) Memahami tatalaksana penyelesaian kewajiban pabean atas

2)

kedatangan sarana pengangkut, pembongkaran barang dan penimbunan barang impor di kawasan pabean. Memahami tatalaksana pengeluaran barang impor untuk dipakai.

3)

Memahami tatakerja penyelesaian barang impor.

4)

Memahami tatalaksana pengeluaran barang impor lainnya.

5)

Memahami pemberian kemudahan dibidang pelayanan impor.

6)

Memahami jenis pungutan impor, perhitungan dan pembayarannya.

b.

Pemahaman tata laksana kepabeanan dibidang ekspor.

1) Memahami tata laksana kewajiban pabean dalam penyampaian dokumen ekspor.

2)

Memahami prosedur ekspor.

3)

Memahami pelaksanaan pemungutan bea keluar.

c. Pemahaman pemberian fasilitas pembebasan, keringanan dan penangguhan bea masuk.

1)

2) Memahami tatacara pemberian fasilitas pembebasan atau

Memahami tatacara pemberian fasilitas pembebasan bea masuk.

3)

keringanan bea masuk. Memahami pemberian fasilitas atas Tempat Penimbunan Berikat.

4. Relevansi Modul

Modul ini berguna bagi peserta diklat Teknis Substantif Dasar tingkat lanjutan untuk bekal dalam bekerja dilapangan. Hal ini berkaitan dengan tugas pegawai bea dan cukai yaitu memberikan pelayanan dan pengawasan atas lalu lintas barang impor dan ekspor dan penyelesaian kewajiban pabean oleh importir atau eksportir. Modul ini juga berguna bagi peserta diklat dalam mempelajari modul atau mata pelajaran lainnya yang terkait, seperti Modul Tarif dan Klasifikasi Barang, dan Modul Nilai Pabean, Modul Perbendaharaan Penerimaan dan sebagainya.

Teknis Kepabeanan

1. Kegiatan Belajar (KB) 1

B

KEGIATAN

BELAJAR

TATA LAKSANA KEPABEANAN

DIBIDANG IMPOR

Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi modul ini peserta diharapkan : 1) 2) 3) 4)
Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi modul ini peserta diharapkan :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
Menjelaskan tatalaksana penyelesaian kewajiban pabean atas
kedatangan sarana pengangkut, pembongkaran barang dan penimbunan
barang impor di kawasan pabean.
Menjelaskan tatalaksana pengeluaran barang impor untuk dipakai.
Menjelaskan tatakerja penyelesaian barang impor.
Menjelaskan tatalaksana pengeluaran barang impor lainnya.
Menjelaskan pemberian kemudahan dibidang pelayanan impor.
Menjelaskan jenis pungutan impor, perhitungan dan pembayarannya.
Menjawab pertanyaan tentang tatalaksana kepabeanan dibidang impor.

1.1. Uraian Materi dan Contoh

A.

Kedatangan

penimbunan barang impor.

sarana

pengangkut,

pembongkaran

dan

Dalam materi ini dibahas mengenai tatalaksana penyelesaian kewajiban pabean atas kedatangan sarana pengangkut, pembongkaran barang impor di

Teknis Kepabeanan

kawasan

Sementara.

pabean

dan

penimbunan

barang

impor

di

Tempat

Penimbunan

1) Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) Pengangkut 1 yang sarana pengangkutnya akan datang 2 dari :

- luar Daerah Pabean ; atau

- dalam Daerah Pabean yang mengangkut barang impor 3 , barang ekspor dan / atau barang barang asal Daerah pabean yang diangkut ke dalam Daerah pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean , wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) kepada kepada Pejabat 4 di setiap Kantor Pabean 5 yang akan disinggahi. RKSP wajib disampaikan sebelum kedatangan sarana pengangkut darat , kecuali sarana pengangkut darat. Pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan pemeriksaan sarana pengangkut yang datang dari luar Daerah.

2)

Kedatangan sarana pengangkut

Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari :

- luar Daerah Pabean ; atau

1 Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang nyata-nyata mengangkut barang atau orang.

2 Saat kedatangan sarana pengangkut adalah :

a. untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut lego jangkar di perairan

pelabuhan.

b. untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut mendarat di landasan bandar udara.

c. untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut tiba di Kantor Pabean tempat pemasukan.

3 Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.

4 Pejabat adalah Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undangundang Kepabeanan .

5 Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan Undang-Undang Kepabeanan, yaitu :

a. Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai yang selanjutnya disingkat dengan KPU BC;

b. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya yang selanjutnya disingkat dengan KPPBC Madya; atau

c. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai yang selanjutnya disingkat dengan KPPBC.

Teknis Kepabeanan

- dalam Daerah Pabean dengan mengangkut barang impor, barang ekspor

dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalaui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Inward Manifest 6 dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean sebelum melakukan pembongkaran. Dalam hal tidak segera dilakukan pembongkaran, penyampaian inswar manifest dilaksanakan:

- paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui laut;

- paling lambat 8 (delapan) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui udara; atau

- pada saat kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui darat.

Kewajiban sebagaimana penyerahan inward manifest dikecualikan bagi

pengangkut yang berlabuh paling lama 24 (dua puluh empat) jam dan tidak melakukan pembongkaran barang. Selain Inward Manifest, dalam waktu paling lama pada saat kedatangan Sarana Pengangkut, Pengangkut wajib menyerahkan pemberitahuan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris secara elektronik atau manual kepada Pejabat di Kantor Pabean , berupa :

- daftar penumpang dan atau awak sarana pengangkut,

- daftar bekal sarana pengangkut ,

- daftar perlengkapan/inventaris sarana pengangkut ,

- stowage plan atau bay plan untuk sarana pengangkut melalaui laut ;

- daftar senjata api dan amunisi , dan

- daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan untuk kepentingan pengobatan. Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, apabila sarana pengangkutnya tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud diatas , wajib menyerahkan pemberitahuan nihil.

6 Inward Manifest (Manifest Kedatangan Sarana Pengangkut ) adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalaui laut, udara dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean.

Teknis Kepabeanan

Untuk sarana pengangkut yang diimpor untuk dipakai, Pengangkut

wajib mencantumkan sarana pengangkut tersebut dalam Inward Manifest. Inward Manifest yang telah diterima dan mendapat nomor pendaftaran di

Kantor Pabean merupakan Pemberitahuan Pabean BC 1.1 dan berlaku sebagai persetujuan pembongkaran barang. Kepala Kantor Pabean atau pejabat yang ditunjuknya dapat menangguhkan atau me mbatalkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam hal terdapat larangan pemasukan barang impor dari instansi teknis. Sepanjang dapat dibuktikan dengan dokumen pendukung, pengangkut

atau pihak-pihak lain yang bertanggungjawab atas barang dapat mengajukan

perbaikan terhadap BC 1.1 dalam hal:

- terdapat kesalahan mengenai nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan dan/atau petikemas;

- terdapat kesalahan mengenai jumlah kemasan dan/atau petikemas serta jumlah barang curah;

- terdapat kesalahan nama consignee dan/atau notify party pada Manifes;

- diperlukan penggabungan beberapa pos menjadi satu pos, dengan syarat:

1)

pos BC 1.1 yang akan digabungkan berasal dari BC 1.1 yang

2)

sama; nama dan alamat shipper/supplier, consignee, notify address/notify

3)

party, dan pelabuhan pemuatan harus sama untuk masing-masing pos yang akan digabungkan; telah diterbitkan revisi Bill of Lading/Airway Bill;

- terdapat kesalahan data lainnya atau perubahan pos manifes. Tatalaksana Penyerahan dan Penatausahaan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut , Pemberitahuan Pabean berupa Inward Manifest, dan perbaikan terhadap BC 1.1 sebagaimana , dilaksanakan sesuai Peraturan

Direktur Jenderal tentang Tata Cara Penyerahan Dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, Dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut.

Teknis Kepabeanan

3)

Pembongkaran dan penimbunan barang impor Pembongkaran barang impor dilaksanakan di :

- Kawasan Pabean 7 ; atau

- Tempat lain setelah mendapat ijin dari Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan atau pejabat yang ditunjukknya . Paling lama 12 (dua belas) jam setelah selesai pembongkaran barang impor, Pengangkut wajib menyampaikan daftar kemasan atau peti kemas atau jumlah barang curah yang telah dibongkar kepada Pejabat di Kantor Pabean. penyerahan pemberitahuan dimaksud dilakukan secara manual

atau melalui media elektronik. Pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan pengawasan atas pembongkaran barang impor dimaksud. Pengangkut yang tidak dapat mempertanggungjawabkan terjadinya kekurangan bongkar atas jumlah kemasan atau peti kemas atau barang curah yang diberitahukan, diwajibkan untuk melunasi Bea Masuk, Cukai dan PDRI yang seharusnya dibayar berikut sanksi administrasi berupa denda. Sebaliknya pengangkut yang tidak dapat mempertanggungjawabkan kelebihan bongkar atau jumlah kemasan atau peti kemas atau barang curah yang diberitahukan , dikenai sanksi adminstrasi berupa denda. Penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya dapat dilaksanakan di :

- Tempat Penimbunan Sementara (TPS) 8 ; atau

- Gudang atau lapangan penimbunan milik importir setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pabean yang mengawasi tempat tersebut. Pengusaha Tempat Penimbunan yang tidak dapat mempertanggungjawabkan barang yang seharusnya berada di tempat penimbunannya wajib melunasi Bea Masuk, Cukai, dan Pajak dalam rangka impor yang seharusnya dibayar berikut sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur dalam pasal 43 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995

7 Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, Bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalau lintas barang yang sepenuhnya dibawah pengawasan Direktorat jenderal Bea dan Cukai .

8 Tempat Penimbunan Sementara (TPS) adalah bangunan dan/atau lapangan penimbunan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di Kawasan Pabean untuk menimbun barang sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.

Teknis Kepabeanan

tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 17 Tahun 2006.

B. Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.

Dalam materi ini dibahas mengenai tatalaksana penyelesaian kewajiban pabean atas penyampaian dokumen pemberitahuan impor barang, proses bisnis, pemeriksaan pabean dan pengeluaran barang impor untuk dipakai.

1)

Pemberitahuan Impor Barang Penyampaian PIB 9 Pengeluaran Barang Impor 10 dari Kawasan Pabean 11 , atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan TPS dengan tujuan diimpor untuk dipakai 12 wajib diberitahukan dengan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang disampaikan ke Kantor Pabean 13 . Dikecualikan dengan penggunaan dokumen selain PIB adalah sebagai berikut :

i) dengan menggunakan dokumen Pembritahuan Impor Barang Khusus (PIBK) , yaitu untuk impor

- barang pindahan ;

- barang impor sementara yang dibawa penumpang;

- barang impor melalaui jasa titipan;

9 Pemberitahuan Impor Barang yang selanjutnya disingkat dengan PIB adalah Pemberitahuan Pabean untuk pengeluaran barang yang diimpor untuk dipakai.

10 Barang Impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean .

11 Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalau lintas barang yang sepenuhnya berada dibawah pengawasan Direktorat jenderal bead an Cukai.

12 Impor untuk dipakai (ps. 10B ay.1 UU No. 10/1995 yo UU No. 17 /2006 adalah :

a. memasukkan barang ke dalam Daerah pabean dengan tujuan untuk dipakai ; atau

b. memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean untuk dimiliki atau dikuasai oleh Orang yang berdomisili di Indonesia

13 Kantor Pabean kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan Undang-undang Kepabeanan, yaitu :

a. Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai yang selanjutnya disingkat dengan KPU BC ;

b. Kantar Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya yang selanjutnya disingkat KPPBC Madya ;

c. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai yang selanjutnya disingkat KPPBC.

Teknis Kepabeanan

- barang impor tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan

Cukai;

ii) dengan menggunakan Customs Declaration untuk impor barang

penumpang ;

iii) dengan menggunakan Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos (PPKP) untuk barang kiriman melalui PT (Persero) Pos dan Indonesia;

iv) dengan menggunakan Buku Pas Barang Lintas Batas (BPBLB) untuk barang impor pelintas batas. Importir dapat melakukan perubahan atas kesalahan data PIB dengan

mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pabean.

Importir wajib melakukan pembayaran PNBP atas pelayanan PIB melalui bank devisa persepsi, pos persepsi, atau Kantor Pabean paling

lambat pada saat penyampaian PIB. Ketentuan mengenai tarif, tata cara pengenaan, dan pembayaran PNBP dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang PNBP.

PIB dibuat oleh Importir berdasarkan dokumen pelengkap pabean dan dokumen pemesanan pita cukai dengan menghitung sendiri bea masuk,

cukai, dan PDRI yang seharusnya dibayar. Dalam hal pengurusan PIB dimaksud tidak dilakukan sendiri, Importir menguasakannya kepada PPJK 14 . Importir wajib memenuhi ketentuan larangan dan/atau pembatasan impor yang ditetapkan oleh instansi teknis. Penelitian pemenuhan ketentuan larangan dan/atau pembatasan dimaksud dilakukan oleh:

- portal Indonesia National Single Window (INSW); atau

- Pejabat yang menangani penelitian barang larangan dan/atau pembatasan. PIB dilayani setelah Importir memenuhi ketentuan larangan dan/atau pembatasan .

Cara Penyampaian PIB Penyampaian PIB ke Kantor Pabean dilakukan untuk setiap pengimporan atau secara berkala setelah pengangkut menyampaikan

14 Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang selanjutnya disingkat PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas nama importer.

Teknis Kepabeanan

Pemberitahuan Pabean mengenai barang yang diangkutnya (BC.1.1), kecuali

bagi

pendahuluan (prenotification).

PIB disampaikan :

dalam bentuk data elektronik 15 , disampaikan melalui sistem PDE 16

Kepabeanan (untuk Kantor Pabean yang telah menerapkan system tersebut) atau menggunakan media penyimpan data elektronik 17 ; atau tulisan diatas formulir. PIB, dokumen pelengkap pabean dan bukti pembayaran bea masuk,

cukai dan PDRI 18 disampaikan kepada Pejabat di Kantor Pabean tempat

pengeluaran barang. Dalam hal barang impor berupa Barang Kena Cukai (BKC) yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai, selain bukti pembayaran bea masuk, PPnBM, PPh, dan PNBP, dokumen pemesanan pita cukai disampaikan kepada Pejabat d Kantor Pabean tempat pengeluaran barang. Untuk PIB yang disampaikan melalui sistem PDE Kepabeanan, PIB,

dokumen pelengkap pabean, dan bukti pelunasan bea masuk, cukai, PDRI, PNBP, dan dokumen pemesanan pita cukai harus disampaikan kepada

Pejabat di Kantor Pabean tempat pengeluaran barang dalam jangka waktu :

- 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM) untuk jalur merah,

- 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Surat Pemberitahuan Jalur Kuning (SPJK) untuk jalur kuning,

- 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPPB untuk jalur hijau, dan

- 5 (lima) hari kerja setelah tanggal SPPB untuk jalur MITA Prioritas dan jalur MITA Non Prioritas.

menyampaikan pemberitahuan

Importir

yang

diberikan

izin

untuk

15 Data Elektronik adalah informasi atau rangkaian informasi yang disusun dan/atau dihimpun untuk kegunaan khusus yang diterima, direkam, dikirim, disimpan, diproses, diambil kembali, atau diproduksi secara elektronik dengan menggunakan komputer atau perangkat pengolah data elektronik, optikal, atau cara lain yang sejenis.

16 Pertukaran Data Elektronik yang selanjutnya disingkat PDE adalah alir informasi bisnis antar aplikasi dan organisasi secara elektronik, yang terintegrasi dengan standar yang disepakati bersama.

17 Media Penyimpan Data Elektronik adalah media yang dapat menyimpan data elektronik seperti diket, compact disk, flash disk, dan sejenisnya .

18 Pajak Dalam Rangka Impor yang selanjutnya disingkat PDRI adalah pajak yang dipungut oleh Direktorat oleh Direktorat Jenderal atas impor barang yang terdiri dari Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, dan Pajak Penghasilan.

Teknis Kepabeanan

Dikecualikan dari penyampaian hasil cetak PIB dan bukti pelunasan bea masuk, cukai, PDRI, PNBP, dan dokumen pemesanan pita cukai terhadap MITA Prioritas 19 dan MITA Non Prioritas 20 . Apabila ketentuan dimaksud diatas tidak dipenuhi, penyampaian PIB berikutnya oleh Importir yang bersangkutan tidak dilayani sampai dipenuhinya ketentuan dimaksud .

Pembayaran Bea Masuk, Cukai dan PDRI Pembayaran bea masuk dan PDRI dilakukan dengan cara:

- pembayaran tunai; atau

- pembayaran berkala. Pembayaran berkala dapat dilakukan oleh MITA Prioritas dan Importir yang diberikan kemudahan PIB berkala. Dalam hal pembayaran dilakukan secara tunai, Importir melakukan pembayaran bea masuk, cukai untuk impor etil alkohol, dan PDRI, sebelum menyampaikan PIB ke Kantor Pabean dna dilakukan dilakukan di Bank Devisa Persepsi atau Pos Persepsi. Khusus terhadap importasi di Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan, pembayaran bea masuk, cukai untuk impor etil alkohol, dan PDRI sebagaimana dimaksud dilakukan di Bank Devisa Persepsi atau Pos Persepsi yang terhubung dengan sistem PDE Kepabeanan. Pembayaran dilakukan dengan menggunakan SSPCP. SSPCP yang disampaikan ke Kantor Pabean harus mencantumkan Nomor Transaksi Bank (NTB)/Nomor Transaksi Pos (NTP) dan/atau Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). NTB/NTP dan/atau NTPN dimaksud atas PIB yang didaftarkan di Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan disampaikan secara elektronik oleh Bank Devisa Persepsi atau Pos Persepsi ke Kantor Pabean.

19 MITA Prioritas adalah Importir yang penetapannya dilakukan oleh Direktur Tehnis Kepabeanan atas nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapatkan kemudahan pelayanan kepabeanan. 20 MITA Non Prioritas Importir yang penetapannya dilakukan oleh Direktur Tehnis Kepabeanan atas nama Direktur Jenderal berdasarkan usulan Kepala Kantor Pabean untuk mendapatkan kemudahan pelayanan kepabeanan.

Teknis Kepabeanan

Nilai Pabean, NDPBM, Penetapan Tarif dan Perhitungan Bea Masuk.

Nilai Pabean Nilai Pabean untuk penghitungan bea masuk dan PDRI adalah nilai transaksi dari barang yang bersangkutan. Dalam hal Nilai Pabean sebagaimana dimaksud tidak dapat ditentukan berdasarkan nilai transaksi, nilai pabean ditentukan secara hierarki berdasarkan nilai transaksi barang identik, nilai transaksi barang serupa, metode deduksi, metode komputasi atau tata cara yang wajar dan konsisten. Nilai Pabean sebagaimana dimaksud dihitung berdasarkan Cost Insurance Freight (CIF). Ketentuan nilai pabean unrtuk penghitungan Bea Masuk akan dibahas pada Modul tersendiri.

Penetapan NDPBM Untuk penghitungan bea masuk, cukai untuk impor etil alkohol, dan PDRI, dipergunakan NDPBM yang berlaku pada saat:

- dilakukannya pembayaran bea masuk, cukai untuk impor etil alkohol, dan PDRI, dalam hal PIB dengan pembayaran bea masuk, PIB berkala atau PIB penyelesaian atas barangbarang yang mendapat fasilitas pembebasan;

- diserahkan jaminan sebesar bea masuk, cukai, dan PDRI, dalam hal PIB dengan penyerahan jaminan; atau

- PIB mendapat nomor pendaftaran di Kantor Pabean, dalam hal PIB dengan mendapatkan pembebasan bea masuk atau PIB dengan pembayaran berkala. Nilai tukar mata uang yang dipergunakan sebagai NDPBM sebagaimana dimaksud ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan yang diterbitkan secara berkala. Dalam hal nilai tukar mata uang yang dipergunakan sebagai NDPBM tidak tercantum dalam keputusan Menteri Keuangan dimaksud , nilai tukar yang dipergunakan sebagai NDPBM adalah nilai tukar spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya.

Teknis Kepabeanan

Klasifikasi dan Pembebanan Barang Impor.

Klasifikasi dan pembebanan barang impor untuk penghitungan bea masuk dan PDRI berpedoman pada Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

(BTBMI).

berakibat pembebanan yang berbeda dengan BTBMI maka berlaku ketentuan perubahan dimaksud. Klasifikasi dan pembebanan barang impor berlaku ketentuan pada saat PIB mendapat nomor pendaftaran di Kantor Pabean.

Dalam hal terjadi perubahan ketentuan di bidang impor yang

Penghitungan Bea Masuk, Cukai, dan PDRI

Bea masuk yang harus dibayar dihitung dengan cara sebagai berikut:

- Untuk tarif advalorum, bea masuk = nilai pabean X NDPBM X

pembebanan bea masuk; atau

- Untuk tarif spesifik, bea masuk = jumlah satuan barang X

pembebanan bea masuk per- satuan barang. PPN, PPnBM, dan PPh yang seharusnya dibayar dihitung dengan cara

sebagai berikut:

- PPN = % PPN x (nilai pabean + bea masuk + cukai);

- PPnBM = % PPnBM x (nilai pabean + bea masuk + cukai); dan

- PPh = % PPh x (nilai pabean + bea masuk + cukai)

Bea Masuk dimaksud diatas adalah bea masuk yang dibayar, ditangguhkan dan/atau ditanggung pemerintah dan dihitung untuk setiap

jenis barang impor yang tercantum dalam PIB dan dibulatkan dalam ribuan Rupiah penuh untuk satu PIB.

Pemeriksaan Pabean dan Penetapan Jalur

Pemeriksaan Pabean Secara Selektif Terhadap Barang Impor yang telah diajukan PIB dilakukan pemeriksaan

pabean secara selektif berdasarkan manajemen risiko, meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang. Dalam rangka pemeriksaan pabean secara selektif ditetapkan jalur pengeluaran, sebagai berikut:

Teknis Kepabeanan

- Jalur Merah 21 ;

- Jalur Kuning 22 ;

- Jalur Hijau 23 ;

- Jalur MITA Non-Prioritas 24 ; dan

- Jalur MITA Prioritas 25 .

Terhadap Barang Impor yang merupakan:

- barang ekspor yang diimpor kembali;

- barang yang terkena pemeriksaan acak; atau

- barang impor sementara;

yang pengeluarannya ditetapkan melalui jalur MITA Non Prioritas, diterbitkan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Fisik (SPPF) yang merupakan izin untuk dilakukan pemeriksaan fisik di tempat Importir. Dalam hal jalur pengeluaran Barang Impor ditetapkan Jalur Kuning dan diperlukan pemeriksaan laboratorium, Importir wajib menyiapkan barangnya untuk pengambilan contoh. Untuk importyasi yang ditetapkan Jalur Kuning, dapat dilakukan pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI berdasarkan informasi dari Pejabat pemeriksa dokumen. Importir yang barang impornya ditetapkan jalur merah wajib :

21 Jalur Merah adalah proses pelayanan dan pengawasan pengeluaran Barang Impor dengan dilakukan pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen sebelum penerbitan SPPB .

22 . Jalur Kuning adalah proses pelayanan dan pengawasan pengeluaran Barang Impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi dilakukan penelitian dokumen sebelum penerbitan SPPB.

23 Jalur Hijau Jalur Hijau adalah proses pelayanan dan pengawasan pengeluaran Barang Impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi dilakukan penelitian dokumen setelah penerbitan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).

24 Jalur MITA Non Prioritas yaitu proses pelayanan dan pengawasan pengeluaran barang impor oleh importir dengan langsung diterbitkan SPPB tanpa dilakukan pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen , kecuali dalam hal :

- barang ekspor yang diimpor kembali ;

- barang yang terkena pemeriksaan acak;

- barang impor sementara.

maka diterbitkan SPPB setelah selesainya penelitian dokumen/pemeriksaan fisik barang.

25 Jalur MITA Prioritas , yaitu proses pelayanan dan pengawasan pengeluaran barang impor oleh Importir Jalur Prioritas dengan langsung diterbitkan SPPB tanpa dilakukan pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen.

Teknis Kepabeanan

- menyerahkan hardcopy PIB, dokumen pelengkap pabean, dan SSPCP, dalam hal PIB disampaikan dengan menggunakan sistem PDE Kepabeanan;

- menyiapkan barang untuk diperiksa; dan

- hadir dalam pemeriksaan fisik, dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM). Dalam hal Importir tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud diatas maka dapat dilakukan pemeriksaan fisik oleh Pejabat atas risiko dan biaya Importir. Atas permintaan Importir atau kuasanya, jangka waktu dimaksud dapat diberikan perpanjangan apabila yang bersangkutan dapat memberikan alasan tentang penyebab tidak bisa dilakukannya pemeriksaan fisik. Untuk pelaksanaan pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud, pengusaha TPS wajib memberikan bantuan teknis yang diperlukan atas beban biaya Importir.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik barang harus dimulai paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM atau SPPF. Importir atau kuasanya menyampaikan kesiapan dimulainya pemeriksaan fisik barang kepada Pejabat Pabean. Untuk Kantor Pabean yang mengoperasikan pemindai peti kemas, pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan dengan menggunakan pemindai peti kemas. Pemeriksaan dengan menggunakan pemindai peti kemas dilakukan terhadap:

- barang yang pengeluarannya ditetapkan jalur hijau dan terkena pemeriksaan acak melalui pemindai peti kemas;

- barang yang pengeluarannya ditetapkan jalur merah namun hanya terdiri dari satu jenis (satu pos tarif);

- barang impor dalam refrigerated container yang berdasarkan pertimbangan dari Pejabat yang menangani pelayanan pabean dapat diperiksa dengan pemindai;

- barang yang berisiko tinggi berdasarkan hasil analisis intelijen;

- barang peka udara; atau

Teknis Kepabeanan

- barang lainnya yang berdasarkan pertimbangan Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuk dapat dilakukan pemeriksaan melalui pemindai peti kemas. Dikecualikan dari pemeriksaan melalui pemindai peti kemas dimaksud, terhadap:

- barang impor peka cahaya;

- barang impor yang mengandung zat radioaktif; atau

- barang impor lainnya yang karena sifatnya dapat menjadi rusak apabila dilakukan pemindaian. Untuk mendapatkan keakuratan identifikasi Barang Impor, Pejabat pemeriksa dokumen dapat memerintahkan untuk dilakukan uji laboratorium. Terhadap uji laboratorium dimaksud pada yang dilakukan di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang dikenakan PNBP.

Penelitian Tarif dan Nilai Pabean Untuk pemenuhan hak keuangan negara dan ketentuan impor yang

berlaku, Pejabat melakukan penelitian terhadap tarif dan nilai pabean yang diberitahukan. Penelitian dimaksud diselesaikan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB. Dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud mengakibatkan kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI, Pejabat menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan/atau Nilai Pabean (SPTNP). Terhadap SPTNP yang terbit atas PIB yang ditetapkan jalur merah atau jalur kuning, Pejabat menerbitkan SPPB setelah:

- Importir melunasi kekurangan bea masuk, cukai, PDRI, dan/atau sanksi administrasi berupa denda; atau

- Importir menyerahkan jaminan sebesar bea masuk, cukai, PDRI, dan/atau sanksi administrasi berupa denda dalam hal diajukan keberatan.

Keberatan Orang dapat mengajukan keberatan secara tertulis atas penetapan yang dilakukan oleh Pejabat mengenai:

Teknis Kepabeanan

- tarif dan/atau nilai pabean untuk penghitungan bea masuk yang mengakibatkan kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI;

- pengenaan sanksi administrasi berupa denda;

- kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI selain karena tarif dan/atau nilai pabean; dan/atau

- penetapan pabean lainnya yang tidak mengakibatkan kekurangan pembayaran. Keberatan sebagaimana dimaksud diajukan kepada :

- Direktur Jenderal u.p. Kepala KPU BC dalam hal keberatan diajukan di KPU BC;

- Direktur Jenderal u.p. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai melalui Kepala KPPBC Tipe Madya atau Kepala KPPBC lainnya dalam hal keberatan diajukan di KPPBC Tipe Madya atau di KPPBC lainnya. Orang yang mengajukan keberatan dimaksud wajib me nyerahkan jaminan sebesar tagihan kepada negara, kecuali:

- Barang Impor belum dikeluarkan dari kawasan pabean sampai dengan keberatan mendapat keputusan, sepanjang terhadap importasi barang tersebut belum diterbitkan persetujuan pengeluaran oleh Pejabat;

- tagihan telah dilunasi; atau

- penetapan Pejabat tidak menimbulkan kekurangan pembayaran.

Ketentuan Lainnya.

i) Barang Impor Eksep Apabila pada saat pengeluaran barang impor dari kawasan pabean terdapat selisih kurang dari jumlah yang diberitahukan dalam PIB (eksep), penyelesaian atas barang yang kurang tersebut dilakukan dengan

menggunakan PIB semula paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal SPPB. ii) Impor Barang Kena Cukai (BKC) Importir yang mengimpor BKC wajib memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Barang Impor berupa BKC wajib dilunasi

Teknis Kepabeanan

cukainya sebelum diterbitkan SPPB. Dikecualikan dari ketentuan

pelunasan cukai dimaksud terhadap Barang Impor berupa BKC yang mendapat :

- pembebasan cukai; atau

- fasilitas cukai tidak dipungut.

- Barang Larangan dan/atau Pembatasan

Dalam hal terdapat Barang Impor yang terkena ketentuan larangan dan/atau pembatasan diberitahukan dengan benar dalam dokumen PIB tetapi belum memenuhi persyaratan impor, maka terhadap barang lainnya

yang tidak terkena ketentuan larangan dan/atau pembatasan dalam PIB yang bersangkutan dapat diizinkan untuk diberikan persetujuan pengeluaran barang setelah dilakukan penelitian mendalam. iii) Pembatalan PIB PIB yang diajukan di Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan hanya dapat dibatalkan dalam hal:

- salah kirim yaitu data PIB dikirim ke Kantor Pabean lain dari Kantor Pabean tempat pengeluaran barang;dan/atau

- penyampaian data PIB dari importasi yang sama dilakukan lebih dari satu kali. Pembatalan PIB dilakukan dengan persetujuan Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuk berdasarkan permohonan Importir.

Teknis Kepabeanan

C. Tata Kerja Penyelesaian Barang Impor.

Dalam materi ini dibahas mengenai tata kerja penyelesaian barang impor untuk dipakai dengan PIB yang disampaikan melalui sistem PDE, melalui disket, maupun melalui cara manual

1) TATA KERJA PENYELESAIAN BARANG IMPOR UNTUK DIPAKAI DENGAN PIB YANG DISAMPAIKAN MELALUI SISTEM PDE KEPABEANAN

i) PENDAFTARAN PIB

1. Importir mengisi PIB secara lengkap dengan menggunakan program

aplikasi PIB, dengan mendasarkan pada data dan informasi dari dokumen pelengkap pabean.

2. Importir melakukan pembayaran bea masuk (BM), cukai, PDRI, dan PNBP melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang telah terhubung dengan sistem PDE Kepabeanan, kecuali untuk Importir yang menggunakan fasilitas pembayaran berkala.

3. Importir mengirim data PIB secara elektronik ke Sistem Komputer Pelayanan (SKP) di Kantor Pabenan melalui portal INSW. 3.1. Portal INSW melakukan penelitian tentang pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan atas Barang Impor yang diberitahukan. 3.2. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Barang Impor yang diberitahukan terkena ketentuan larangan/pembatasan dan persyaratannya belum dipenuhi, portal INSW mengembalikan data PIB kepada Importir untuk diajukan kembali setelah dipenuhi. 3.3. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan barang yang diimpor :

i. tidak terkena ketentuan larangan / pembatasan atau ketentuan larangan/pembatasannya telah dipenuhi, portal INSW meneruskan data PIB ke SKP di Kantor Pabean untuk diproses lebih lanjut.

ii. perlu penelitian lebih lanjut terkait dengan ketentuan larangan/ pembatasan, portal INSW meneruskan data PIB ke SKP di Kantor Pabean untuk diproses lebih lanjut.

Teknis Kepabeanan

4. Bank

Devisa

Persepsi/Pos

Persepsi mengirim credit advice secara

elektronik ke SKP di Kantor Pabean.

5. SKP di Kantor Pabean menerima data PIB dan melakukan penelitian ada atau tidaknya pemblokiran Importir dan PPJK. 26

6. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Importir diblokir, SKP menerbitkan respons penolakan.

7. Dalam hal hasil penelitian menunjukan Importir tidak diblokir:

7.1. SKP melakukan penelitan data PIB meliputi:

a. kelengkapan pengisian data PIB;

b. pembayaran BM, cukai, dan PDRI;

c. pembayaran PNBP;

d. nomor dan tanggal B/L, AWB atau nomor pengajuan tidak berulang;

e. kesesuaian PIB dengan BC 1.1. meliputi:

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1., host B/L, jumlah container, nomor container, dan ukuran container untuk impor melalui pelabuhan laut;

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1. dan host AWB untuk impor melalui bandara;

f. kode dan nilai tukar valuta asing ada dalam data NDPBM;

g. pos tarif tercantum dalam BTBMI;

h. Importir memiliki Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) untuk selain importasi pertama atau Importir yang dikecualikan dari NIK;

i. bukti penerimaan jaminan, dalam hal importasi memerlukan jaminan;

j. PPJK memiliki Nomor Pokok PPJK (NP PPJK); dan

k. jumlah jaminan yang dipertaruhkan oleh PPJK.

7.2. Dalam hal pengisian data PIB sebagaimana dimaksud pada butir 7.1. tidak sesuai:

i. SKP mengirim respons penolakan.

ii. Importir melakukan perbaikan data PIB sesuai respons penolakan dan mengirimkan kembali data PIB yang telah diperbaiki.

26 Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang selanjutnya disingkat dengan PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas nama Importir.

Teknis Kepabeanan

7.3. Dalam hal pengisian data PIB sebagaimana dimaksud pada butir 7.1. telah sesuai, SKP meneruskan data PIB yang memerlukan penelitian lebih lanjut terkait dengan ketentuan larangan/pembatasan kepada Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan untuk dilakukan penelitian. i. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan barang impor tidak terkena ketentuan larangan/pembatasan atau ketentuan larangan/pembatasan telah dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitian ke dalam SKP untuk selanjutnya SKP memberikan nomor pendaftaran PIB dan dilakukan penetapan jalur pelayanan impor. ii. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan barang impor terkena ketentuan larangan/pembatasan, dan persyaratannya belum dipenuhi:

1. Pejabat yang menangani penelitian barang larangan / pembatasan merekam hasil penelitiannya ke dalam SKP untuk diterbitkan respons Nota Pemberitahuan Barang Larangan/Pembatasan (NPBL) dengan tembusan kepada unit pengawasan.

2. Dalam hal impor dilakukan oleh MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas yang memperoleh kemudahan tidak menyerahkan hasil cetak PIB, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitiannya ke dalam SKP. a. SKP menerbitkan respons NPBL dengan tembusan kepada unit pengawasan; b. SKP memberikan nomor pendaftaran PIB dan melakukan penetapan jalur pelayanan impor.

3. Importir menerima respons NPBL, kemudian menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan dilampiri dengan hasil cetak NPBL kepada Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan melalui Pejabat penerima dokumen.

Teknis Kepabeanan

4. Pejabat yang menangani penelitian barang larangan / pembatasan melakukan penelitian terhadap dokumen yang

dipersyaratkan.

a. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang dipersyaratkan telah sesuai, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitian dan dokumen yang dipersyaratkan ke dalam SKP untuk diterbitkan nomor pendaftaran PIB dan dilakukan penjaluran pelayanan impor.

b. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang

dipersyaratkan belum sesuai, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan memberitahukan kembali kepada Importir melalui SKP. 5. Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal penerbitan NPBL Importir tidak menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan maka SKP menerbitkan respons penolakan.

ii) PENETAPAN JALUR PELAYANAN IMPOR

1. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Prioritas:

1.1. SKP mengirim respons Surat Pemberitahuan Pengeluaran Barang (SPPB) kepada Importir. 1.2. Importir menerima respons SPPB dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang dari Kawasan Pabean. 2. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Non- Prioritas:

2.1. SKP mengirim respons SPPB atau Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Fisik (SPPF) kepada Importir. 2.2. Importir menerima respons berupa:

a. SPPB dan mencetaknya untuk pengeluaran barang dari Kawasan Pabean; atau

b. SPPF dan mencetaknya sebagai izin pengeluaran barang dari Kawasan Pabean untuk dilakukan pemeriksaan fisik di tempat Importir.

Teknis Kepabeanan

3. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Hijau:

3.1. SKP mengirim respons SPPB kepada Importir. 3.2. Importir menerima respons SPPB dan mencetaknya untuk

pengeluaran barang dari Kawasan Pabean. 3.3. Dalam hal pengeluaran barang impor ditetapkan melalui Jalur Hijau setelah melalui “pemindai peti kemas (container scanner)27 :

a. SKP mengirim respons SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)” kepada Importir.

b. Importir menerima respons SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)” dan mencetaknya.

c. Importir menyiapkan peti kemas untuk dilakukan pemeriksaan fisik melalui pemindai peti kemas.

d. Pejabat pemindai peti kemas melakukan pemindaian terhadap Barang Impor dan melakukan penelitian terhadap tampilan hasil pemindaian.

e. Pejabat pemindai peti kemas menulis keputusan pada Laporan Hasil Analisis Tampilan (LHAT), merekamnya ke dalam SKP, serta menyampaikan kembali PIB, LHAT, dan SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)” kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

f. Apabila kesimpulan dalam LHAT menunjukkan sesuai, Pejabat yang menangani pelayanan pabean memberikan tanda “SETUJU KELUAR” pada SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)”, dan menyampaikannya kepada Importir untuk pengeluaran barang dari Kawasan Pabean.

g. Apabila kesimpulan LHAT menunjukkan perlu pemeriksaan fisik barang:

i. Pejabat yang menangani pelayanan pabean menerbitkan instruksi pemeriksaan kepada Pejabat pemeriksa barang.

27 Pemindai Peti Kemas (container scanner) adalah alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan fisik barang dalam peti kemas atau kemasan dengan menggunakan teknologi sinar X (X-Ray) atau sinar gamma (Gamma Ray).

Teknis Kepabeanan

ii. Pejabat pemeriksa barang menerima instruksi pemeriksaan,

LHAT, hasil cetak pemindaian peti kemas, dan SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)”.

iii. Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik, membuat Berita Acara Pemeriksaan Fisik (BAP Fisik), serta membuat dan merekam Laporan Hasil Pemeriksaan Fisik Barang (LHP).

iv. Pejabat pemeriksa barang mengirimkan SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)”, LHAT, hasil cetak

pemindaian, LHP, dan BAP Fisik kepada Pejabat yang

menangani pelayanan pabean.

v. Dalam hal hasil penelitian menunjukan sesuai, Pejabat yang

menangani pelayanan pabean memberikan catatan “SETUJU KELUAR” pada SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)”.

vi. Dalam hal hasil penelitian menunjukan tidak sesuai, Pejabat

yang menangani pelayanan pabean meneruskan berkas PIB kepada unit pengawasan.

1. Unit pengawasan melakukan penelitian mengenai ada tidaknya dugaan tindak pidana dan melakukan proses

lebih lanjut apabila terdapat dugaan tindak pidana.

2. Dalam hal tidak terdapat dugaan tindak pidana :

- Unit pengawasan meneruskan berkas PIB kepada Pejabat pemeriksa dokumen.

- Pejabat pemeriksa dokumen menetapkan tarif dan nilai pabean serta mengenakan sanksi administrasi.

- Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean (SPTNP) dan mengirimkan respons SPTNP kepada Importir, dengan

tembusan kepada Pejabat yang menangani penagihan.

- Importir membayar kekurangan pembayaran sesuai dengan SPTNP pada Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang telah terhubung dengan sistem PDE

Kepabeanan.

Teknis Kepabeanan

- Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi mengirim credit advice ke Kantor Pabean.

- Pejabat pemeriksa dokumen menerima dan meneliti kesesuaian credit advice dari Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi, dan memberikan catatan “SETUJU KELUAR” pada SPPB bertanda “pemindai peti kemas (container scanner)”.

4. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Kuning:

4.1. SKP mengirim respons Surat Pemberitahuan Jalur Kuning (SPJK) kepada Importir serta meminta hasil cetak PIB, dokumen pelengkap pabean, dan dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai.

4.2. Importir menerima respons SPJK dan menyerahkan hasil cetak PIB,dokumen pelengkap pabean, dan dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai kepada Pejabat pemeriksa dokumen melalui Pejabat penerima dokumen.

4.3. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian terhadap hasil cetak PIB dan/atau dokumen pelengkap pabean.

4.4. Pejabat pemeriksa dokumen dapat mengirim respons melalui SKP

berupa permintaan tambahan keterangan dalam rangka penelitian tarif dan nilai pabean, dan pemberitahuan agar Importir menyiapkan barangnya untuk pengambilan contoh barang dalam hal diperlukan.

4.5. Pejabat pemeriksa dokumen mengambil contoh barang dengan memerintahkan petugas yang ditunjuk.

4.6. Dalam hal hasil penelitian menemukan indikasi adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, Pejabat pemeriksa dokumen memberitahukan hal tersebut kepada unit pengawasan melalui SKP untuk dilakukan pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI 28 .

a. Dalam hal diterbitkan NHI dan ditemukan dugaan tindak pidana, unit pengawasan melakukan proses lebih lanjut.

28 Nota Hasil Intelijen yang selanjutnya disingkat dengan NHI adalah produk dari kegiatan intelijen yang menunjukkan indikasi mengenai adanya pelanggaran di bidang kepabeanan dan/atau cukai.

Teknis Kepabeanan

b. Apabila unit pengawasan dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pemberitahuan dari Pejabat pemeriksa dokumen tidak menerbitkan NHI atau diterbitkan NHI dengan hasil tidak ditemukan pelanggaran pidana:

i. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penetapan tarif dan nilai pabean.

ii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean tidak mengakibatkan kekurangan pembayaran, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

iii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean mengakibatkan kekurangan pembayaran:

1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPTNP dan mengirimkan respons SPTNP kepada Importir, dengan tembusan kepada Pejabat yang menangani penagihan. 2. Importir membayar kekurangan pembayaran sesuai dengan SPTNP pada Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang telah terhubung dengan sistem PDE Kepabeanan. 3. Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi mengirim credit advice ke Kantor Pabean. 4. Pejabat pemeriksa dokumen menerima dan meneliti kesesuaian credit advice dari Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi, dan dalam hal telah sesuai diterbitkan SPPB.

4.7. Dalam hal tidak ditemukan indikasi adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, dilakukan langkah-langkah sesuai dengan butir i. s.d 4.

5. Pengeluaran barang impor yang ditetapkan melalui Jalur Merah:

5.1. SKP mengirim respons Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM) kepada Importir serta meminta hasil cetak PIB, dokumen pelengkap pabean, dan dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang

pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai.

5.2. Importir menerima respons SPJM dan menyerahkan hasil cetak PIB, dokumen pelengkap pabean, dan dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita

Teknis Kepabeanan

cukai kepada Pejabat pemeriksa dokumen melalui Pejabat penerima dokumen paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM.

5.3. Apabila Importir tidak menyerahkan hasil cetak PIB dan dokumen

pelengkap pabean dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM, Pejabat yang menangani pelayanan pabean dapat menerbitkan Instruksi Pemeriksaan dan menunjuk Pejabat pemeriksa barang, dengan tembusan kepada pengusaha TPS.

5.4. Pengusaha TPS menerima tembusan instruksi pemeriksaan barang dan menyiapkan barang untuk diperiksa.

5.5. Importir dapat mengajukan permohonan perpanjangan batas waktu penetapan pemeriksaan dimaksud disertai alasan.

5.6. Dalam hal hasil cetak PIB dan dokumen pelengkap pabean telah diterima, dilakukan langkah sebagai berikut:

a. Dalam hal Importir dan Pejabat pemeriksa barang telah menyatakan kesiapannya untuk proses pemeriksaan fisik barang, SKP menunjuk Pejabat pemeriksa barang dan menerbitkan Instruksi Pemeriksaan.

b. Berdasarkan pertimbangan Pejabat yang menangani pelayanan pabean, pemeriksaan fisik dapat melalui pemindai peti kemas dalam hal :

i. barang sejenis yang terdiri dari satu pos dalam PIB;

ii. barang yang dimuat dalam refrigerated container; atau

iii. barang peka udara, sesuai tata cara sebagaimana dimaksud

pada butir 13.1. s.d. 13.8.

c. Pejabat pemeriksa barang menerima invoice/packing list dari Pejabat pemeriksa dokumen.

d. Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik barang dan mengambil contoh barang jika diminta, membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan membuat Berita Acara Pemeriksaan Fisik (BAP Fisik).

e. Pejabat pemeriksa barang merekam LHP ke dalam SKP dengan tembusan kepada unit pengawasan, kemudian mengirim LHP dan BAP Fisik kepada Pejabat pemeriksa dokumen.

Teknis Kepabeanan

f. Dalam hal diperlukan, unit pengawasan segera berkoordinasi dengan Pejabat pemeriksa dokumen.

g. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian PIB, dokumen

pelengkap pabean, LHP dan BAP Fisik. 5.7. Dalam hal diperlukan uji laboratorium, Pejabat pemeriksa dokumen mengirim contoh barang dan invoice/packing list ke laboratorium, serta mengirim respons permintaan pembayaran PNBP atas pelayanan uji laboratorium di BPIB kepada Importir. 5.8. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik dan hasil uji laboratorium (jika dilakukan uji laboratorium) serta penelitian tarif dan nilai pabean menunjukkan kesesuaian dengan pemberitahuan, dan :

a. BM, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi telah dilunasi; dan

b. ketentuan larangan/pembatasan telah dipenuhi, Pejabat

pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

5.9. Dalam hal hasil penelitian menunjukan tidak sesuai dan tidak ada tindak lanjut dari unit pengawasan sebagaimana dimaksud pada butir

6.6., Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian tarif dan nilai pabean, serta pemenuhan ketentuan tentang larangan/pembatasan.

5.10. Berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 9 :

a. SKP mengirimkan respons SPTNP kepada Importir dalam hal terdapat kekurangan pembayaran BM, cukai, dan PDRI, dengan tembusan kepada Pejabat yang menangani urusan penagihan.

b. Dalam hal ditemukan barang yang terkena ketentuan larangan/pembatasan, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan NPBL 29 .

5.11. Importir menerima respons SPTNP dan NPBL untuk barang yang terkena ketentuan larangan/pembatasan, kemudian melakukan

pelunasan pembayaran BM, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta menyerahkan persyaratan yang terkait dengan ketentuan

larangan/pembatasan.

29 Nota Pemberitahuan Barang Larangan/Pembatasan yang selanjutnya disingkat dengan NPBL adalah nota yang dibuat oleh Pejabat kepada Importir agar memenuhi ketentuan larangan dan/atau pembatasan impor.

Teknis Kepabeanan

5.12. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB setelah melakukan

penelitian tentang pelunasan pembayaran BM, Cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta pemenuhan ketentuan

larangan/pembatasan.

5.13. Dalam hal Pejabat yang menangani pelayanan pabean memutuskan

untuk dilakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan pemindai peti kemas atas barang-barang dalam butir 6.2., dilakukan kegiatan

sebagai berikut:

a. Pejabat yang menangani pelayanan pabean menerbitkan Instruksi

Pemeriksaan Fisik melalui Pemindai Peti Kemas.

b. Importir menyiapkan peti kemas untuk dilakukan pemeriksaan fisik melalui pemindai peti kemas.

c. Pejabat pemindai peti kemas melakukan pemindaian Barang Impor dan melakukan penelitian hasil cetak pemindaian.

d. Pejabat pemindai peti kemas menuliskan kesimpulan pada LHAT dan merekamnya ke dalam SKP, kemudian menyampaikannya

kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

e. Dalam hal Pejabat pemindai peti kemas menyimpulkan untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang, Pejabat yang me nangani pelayanan pabean menunjuk Pejabat pemeriksa barang dan

menerbitkan Instruksi Pemeriksaan.

i. Pejabat pemeriksa barang menerima Instruksi Pemeriksaan,

invoice/ packing list, LHAT, dan hasil cetak pemindaian dari Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

ii. Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik barang dan mengambil contoh barang jika diminta, kemudian membuat LHP dan BAP Fisik.

iii. Pejabat pemeriksa barang menyampaikan LHP dan BAP Fisik kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean untuk

disatukan dengan berkas PIB untuk diteruskan kepada Pejabat pemeriksa dokumen. (selanjutnya dilakukan tahapan sebagaimana dimaksud pada butir 7 s.d. 12).

f. Dalam hal Pejabat pemindai peti kemas menyimpulkan tidak perlu

pemeriksaan fisik barang, Pejabat yang menangani pelayanan

Teknis Kepabeanan

pabean meneruskan PIB dan dokumen pelengkap pabean, dan LHAT kepada Pejabat pemeriksa dokumen untuk dilakukan penelitian dan penetapan tarif dan nilai pabean.

i. Dalam hal ditetapkan sesuai pemberitahuan, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan menerbitkan SPPB.

ii. Dalam hal hasil penelitian tarif dan nilai pabean menunjukkan terdapat kekurangan pembayaran BM dan PDRI, Pejabat pemeriksa dokumen mengirimkan respons SPTNP kepada Importir, dengan tembusan kepada Pejabat yang menangani penagihan.

Importir menerima respons SPTNP dan melakukan pelunasan BM,

Cukai, dan PDRI. h. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB setelah melakukan penelitian tentang pelunasan BM, Cukai, dan PDRI.

g.

iii) PENGELUARAN BARANG IMPOR

1. Importir menyerahkan SPPB kepada Pejabat yang me ngawasi pengeluaran barang. 2. Pejabat mengawasi pengeluaran barang dari Kawasan Pabean atau TPS oleh Importir berdasarkan SPPB atau berdasarkan SPPF untuk MITA Non Prioritas. 3. Importir menerima SPPB atau SPPF yang diberikan catatan oleh Pejabat yang mengawasi pengeluaran barang. 4. Importir mengeluarkan Barang Impor dari Kawasan Pabean.

iv) PASCA PERSETUJUAN PENGELUARAN BARANG

1. Dalam hal pengeluaran barang impor ditetapkan melalui Jalur MITA Prioritas dan Jalur MITA Non Prioritas, Importir me lakukan kegiatan sebagai berikut:

1.1. Dalam hal memanfaatkan fasilitas pembayaran berkala, MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas melakukan pelunasan bea masuk, cukai, dan PDRI melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang

Teknis Kepabeanan

telah on-line dengan PDE Kepabeanan dengan mencantumkan

nomor aju dan nomor PIB pada SSPCP.

1.2. Menyerahkan rekapitulasi Impor yang mendapatkan fasilitas pembebasan atau keringanan BM beserta softcopy-nya dalam bentuk yang telah ditetapkan kepada client coordinator.

1.3. Menyerahkan izin/rekomendasi pemenuhan persyaratan Impor dari instansi terkait untuk PIB-PIB atas Impor barang yang terkena aturan pembatasan pada bulan sebelumnya paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya kepada client coordinator, dalam hal instansi teknis terkait atau Kantor Pabean belum terhubung dengan INSW.

1.4. Menyampaikan laporan Impor secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali kepada client coordinator dalam bentuk softcopy.

2. Dalam hal pengeluaran barang impor ditetapkan me lalui Jalur Hijau:

2.1. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti uraian barang dalam PIB, dan mengirimkan respons kepada Importir berupa permintaan tambahan keterangan terkait uraian barang dan/atau permintaan informasi tentang nilai pabean dalam hal diperlukan uraian tambahan dan/atau diperlukan informasi tentang nilai pabean.

2.2. Importir menyampaikan bukti-bukti kebenaran nilai pabean kepada pejabat pemeriksa dokumen dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah

tanggal permintaan informasi nilai pabean dan/atau tambahan uraian barang.

2.3. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti dan menetapkan tarif dan nilai pabean dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB, dan menerbitkan SPTNP atau menerbitkan rekomendasi audit kepabeanan dalam hal menemukan kekurangan pembayaran BM dan PDRI setelah melebihi 30 (tiga puluh) hari sejak

tanggal pendaftaran PIB.

2.4. Importir menerima respons SPTNP, mencetak dan melunasinya

dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal SPTNP, dan menyerahkan SSPCP kepada pejabat yang me nangani penagihan.

3. Pejabat yang mengelola manifes melakukan penutupan Pos BC 1.1 atas

PIB yang telah diselesaikan.

Teknis Kepabeanan

v) FORMULIR

Pada hasil cetak SPPB, SPPF, SPJK, SPJM, dan NPBL dicantumkan keterangan “Formulir ini dicetak secara otomatis oleh sistem komputer dan tidak memerlukan nama, tanda tangan pejabat, dan cap dinas”.

2) TATAKERJA PENYELESAIAN BARANG IMPOR UNTUK DIPAKAI DENGAN PIB YANG DISAMPAIKAN MENGGUNAKAN MEDIA PENYIMPAN DATA ELEKTRONIK

i) PENDAFTARAN PIB

1. Importir menyiapkan PIB dengan menggunakan program aplikasi PIB, dengan mendasarkan pada data dan informasi dari dokumen pelengkap pabean.

2. Importir melakukan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan PNBP melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi, kecuali untuk yang menggunakan fasilitas pembayaran berkala.

3. Importir menyampaikan ke Kantor Pabean PIB dalam rangkap 3 (tiga), media penyimpan data elektronik, dokumen pelengkap pabean, SSPCP dan/atau surat keputusan pembebasan/keringanan BM dan/atau PDRI, bukti pembayaran PNBP, dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai, dan izin/rekomendasi dari instansi teknis.

4. Pejabat penerima dokumen pada Kantor Pabean menerima berkas PIB, lalu memeriksa kesesuaian hasil cetak PIB dengan data dalam media penyimpan data elektronik.

5. Pejabat penerima dokumen mengunggah (upload) data dari media penyimpan data ke SKP Kantor Pabean, kemudian mengembalikan media penyimpan data elektronik kepada Importir.

6. Pejabat penerima dokumen melakukan penelitian ada atau tidaknya pemblokiran terhadap Importir dan PPJK, meneliti pencantuman NTB/NTP dan/atau NTPN dalam SSPCP serta mencocokkan bukti pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan PNBP, lalu merekam hasil penelitiannya ke dalam SKP.

Teknis Kepabeanan

7. SKP menerima data PIB dan melakukan penelitian sebagai berikut:

7.1. kelengkapan pengisian data PIB;

7.2. nomor dan tanggal B/L, AWB atau nomor pengajuan tidak berulang;

7.3. kesesuaian PIB dengan BC 1.1. meliputi:

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1., host B/L, jumlah

container, nomor container, dan ukuran container untuk impor

melalui pelabuhan laut;

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1. dan host AWB

untuk impor melalui bandara;

7.4. kode dan nilai tukar valuta asing ada dalam data NDPBM;

7.5. pos tarif tercantum dalam BTBMI;

7.6. Importir memiliki Nomor Induk Kepabeanan (NIK), selain importasi

pertama atau Importir yang dikecualikan dari NIK;

7.7. bukti penerimaan jaminan, dalam hal importasi memerlukan jaminan;

7.8. PPJK memiliki Nomor Pokok PPJK (NP PPJK); dan

7.9. jumlah jaminan yang dipertaruhkan oleh PPJK.

8. Dalam hal hasil penelitian Pejabat penerima dokumen sebagaimana dimaksud pada butir 6 dan pengisian data PIB sebagaimana dimaksud pada butir 7 tidak sesuai :

8.1. Pejabat penerima dokumen menerbitkan Nota Pemberitahuan

Penolakan (NPP) dengan menggunakan SKP;

8.2. Importir melakukan perbaikan data PIB dan melengkapi kekurangan

persyaratan sesuai NPP, lalu menyampaikan kembali ke Kantor Pabean.

9. Dalam hal pengisian data PIB telah sesuai dan/atau pencocokkan bukti pembayaran bea masuk, cukai, PDRI dan PNBP telah sesuai, SKP melakukan penelitian tentang pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan

berdasarkan data PIB.

9.1. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Barang Impor tidak terkena

ketentuan larangan/pembatasan atau ketentuan larangan/pembatasan telah dipenuhi, SKP memberikan nomor pendaftaran PIB dan melakukan penjaluran pelayanan impor.

9.2. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Barang Impor perlu penelitian

lebih lanjut terkait dengan ketentuan larangan/pembatasan, SKP

Teknis Kepabeanan

meneruskan data PIB kepada Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan untuk dilakukan penelitian.

a. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan ketentuan

larangan/pembatasan telah dipenuhi, Pejabat yang me nangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitian untuk selanjutnya SKP menerbitkan nomor pendaftaran PIB.

b. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan ketentuan larangan dan pembatasan belum dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitian untuk selanjutnya SKP menerbitkan Nota Pemberitahuan Barang Larangan/Pembatasan (NPBL) dengan tembusan kepada unit

pengawasan.

c. Importir menerima NPBL.

d. Importir menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan dilampiri

dengan NPBL kepada Pejabat yang menangani penelitian barang

larangan/pembatasan.

e. Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan melakukan penelitian dokumen yang dipersyaratkan.

i. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang dipersyaratkan telah sesuai, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam dokumen yang dipersyaratkan ke dalam SKP untuk diterbitkan nomor pendaftaran PIB dan dilakukan penetapan jalur pelayanan impor.

ii. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang

dipersyaratkan belum sesuai, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan memberitahukan kepada Importir melalui pejabat penerima dokumen.

f. Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal

penerbitan NPBL Importir tidak menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan maka pejabat penerima dokumen menerbitkan NPP dengan menggunakan SKP.

Teknis Kepabeanan

ii) PENETAPAN JALUR PELAYANAN IMPOR

1. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Prioritas:

1.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB dan mengirimkannya kepada Importir.

1.2. Importir menerima SPPB untuk pengeluaran barang dari Kawasan

Pabean.

2. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Non- Prioritas:

2.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB atau SPPF kepada Importir.

2.2. Importir menerima:

a. SPPB untuk pengeluaran barang dari Kawasan Pabean; atau

b. SPPF sebagai izin pengeluaran barang dari Kawasan Pabean untuk dilakukan pemeriksaan fisik di tempat Importir.

3. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Hijau:

3.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB dan mengirimkannya kepada Importir.

3.2. Importir menerima SPPB untuk pengeluaran barang dari Kawasan Pabean.

4. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Kuning:

4.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan Surat Pemberitahuan Jalur Kuning (SPJK) kepada Importir.

4.2. Importir menerima SPJK dari Pejabat pemeriksa dokumen melalui Pejabat penerima dokumen.

4.3. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian terhadap berkas PIB.

4.4. Pejabat pemeriksa dokumen dapat meminta tambahan keterangan terkait uraian barang dan/atau nilai pabean, dan me mberitahukan agar Importir menyiapkan barangnya untuk pengambilan contoh barang dalam hal diperlukan.

4.5. Pejabat pemeriksa dokumen mengambil contoh barang dengan memerintahkan petugas yang ditunjuk.

Teknis Kepabeanan

4.6. Dalam hal hasil penelitian ditemukan dugaan adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, Pejabat pemeriksa dokumen menyamapaikan pemberitahuan tertulis kepada unit pengawasan untuk dilakukan pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI.

a. Dalam hal diterbitkan NHI dan ditemukan dugaan tindak pidana, unit pengawasan melakukan proses lebih lanjut.

b. Apabila unit pengawasan dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pemberitahuan dari Pejabat pemeriksa dokumen tidak menerbitkan NHI atau diterbitkan NHI dengan hasil tidak ditemukan tindak pidana:

i. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penetapan tarif dan nilai pabean.

ii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean tidak mengakibatkan kekurangan pembayaran, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

iii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean

mengakibatkan kekurangan pembayaran:

1. Pejabat Pemeriksa Dokumen menerbitkan SPTNP. 2. Importir membayar kekurangan pembayaran sesuai dengan SPTNP pada Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi. 3. Importir menyerahkan SSPCP yang telah diberikan NTB/NTP dan/atau NTPN kepada Pejabat Pemeriksa Dokumen. 4. Pejabat pemeriksa dokumen menerima dan meneliti kesesuaian SSPCP dan SPTNP, dan dalam hal telah sesuai diterbitkan SPPB. 4.7. Dalam hal tidak ditemukan indikasi adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, dilakukan langkah-langkah sesuai dengan butir 4.6 s.d 4. 5. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui jalur merah:

5.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPJM serta mengirimkannya kepada Importir.

Teknis Kepabeanan

5.2. Importir menyampaikan pemberitahuan kesiapan pemeriksaan fisik

kepada Pejabat Pemeriksa Dokumen dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM.

a. Apabila Importir dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM tidak memberitahukan kesiapan pemeriksaan fisik, Pejabat yang menangani pelayanan pabean dapat menerbitkan instruksi pemeriksaan barang, dengan tembusan kepada pengusaha TPS.

b. Pengusaha TPS menerima tembusan instruksi pemeriksaan barang dan membantu jalannya pemeriksaan barang dimaksud.

c. Importir dapat mengajukan permohonan perpanjangan batas

waktu penetapan pemeriksaan dimaksud disertai alasan.

5.3. Pejabat Pemeriksa Dokumen menerbitkan Instruksi Pemeriksaan dan menunjuk Pejabat pemeriksa barang melalui SKP.

5.4. Pejabat pemeriksa barang menerima invoice/packing list dan instruksi pemeriksaan dari Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

5.5. Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik barang dan mengambil contoh barang jika diminta, membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan membuat Berita Acara Pemeriksaan Fisik (BAP Fisik).

5.6. Pejabat pemeriksa barang merekam LHP ke dalam SKP dengan tembusan kepada unit pengawasan, kemudian mengirim LHP dan BAP Fisik kepada Pejabat Pemeriksa Dokumen.

5.7. Dalam hal diperlukan, unit pengawasan segera berkoordinasi dengan Pejabat pemeriksa dokumen.

5.8. Pejabat Pemeriksa Dokumen menerima LHP dan BAP Fisik, untuk dilakukan penelitian.

5.9. Dalam hal diperlukan uji laboratorium, Pejabat pemeriksa dokumen mengirimkan contoh barang dan invoice/packing list ke laboratorium.

5.10. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik dan hasil uji laboratorium serta penelitian tarif dan nilai pabean menunjukkan kesesuaian dengan pemberitahuan, dan :

a. bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi telah dilunasi;dan

Teknis Kepabeanan

b. ketentuan larangan dan pembatasan telah dipenuhi, Pejabat

pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

5.11. Dalam hal hasil penelitian menunjukan tidak sesuai dan tidak ada

tindak lanjut dari unit pengawasan sebagaimana dimaksud pada butir 7, Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian tarif dan nilai pabean, serta pemenuhan ketentuan tentang larangan/pembatasan.

5.12. Berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 11:

a. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPTNP kepada Importir dalam hal terdapat kekurangan pembayaran bea masuk, cukai,

dan PDRI, dengan tembusan kepada Pejabat yang menangani

penagihan.

b. Dalam hal ditemukan barang yang terkena ketentuan

larangan/pembatasan, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan NPBL.

5.13. Importir menerima respons SPTNP dan NPBL untuk barang yang terkena ketentuan larangan/pembatasan, kemudian melakukan

pelunasan pembayaran bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta menyerahkan persyaratan yang terkait dengan ketentuan larangan/pembatasan.

5.14. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB setelah melakukan

penelitian tentang pelunasan pembayaran bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta pemenuhan ketentuan

larangan/pembatasan. (Dalam hal fungsi penelitian dokumen dilakukan oleh Pejabat yang menangani pelayanan pabean, maka

uraian yang menyebutkan Pejabat pemeriksa dokumen diganti dengan Pejabat yang menangani pelayanan pabean).

iii) PENGELUARAN BARANG IMPOR

1. Importir menyerahkan SPPB kepada Pejabat yang me ngawasi pengeluaran barang. 2. Pejabat mengawasi pengeluaran barang dari Kawasan Pabean atau TPS oleh Importir berdasarkan SPPB atau berdasarkan SPPF untuk MITA Non

Prioritas.

Teknis Kepabeanan

3. Importir menerima SPPB atau SPPF yang diberikan catatan oleh Pejabat yang mengawasi pengeluaran barang.

4. Importir mengeluarkan Barang Impor dari Kawasan Pabean.

iv) PASCA PERSETUJUAN PENGELUARAN BARANG

1. Dalam hal memanfaatkan fasilitas pembayaran berkala, MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas melakukan pelunasan bea masuk, cukai, dan PDRI melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang telah terhubung dengan PDE Kepabeanan dengan mencantumkan nomor aju dan nomor PIB pada SSPCP;

2. Dalam hal pengeluaran Barang Impor ditetapkan me lalui Jalur Hijau:

2.1. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti uraian barang dalam PIB, dan meminta tambahan keterangan terkait uraian barang dan/atau permintaan informasi tentang nilai pabean kepada importir dalam hal diperlukan;

2.2. Importir menyampaikan bukti-bukti kebenaran nilai pabean kepada pejabat pemeriksa dokumen dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal permintaan informasi nilai pabean dan/atau tambahan keterangan terkait uraian barang;

2.3. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti dan menetapkan tarif dan

nilaipabean dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB dan menerbitkan SPTNP, atau menerbitkan rekomendasi audit kepabeanan dalam hal menemukan kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI setelah melebihi 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB;

2.4. Importir menerima SPTNP untuk dilunasi dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal SPTNP, dan menyerahkan SSPCP kepada pejabat yang menangani penagihan.

3. Pejabat yang mengelola manifes melakukan penutupan Pos BC 1.1 atas PIB yang telah diselesaikan.

Teknis Kepabeanan

3) TATAKERJA PENYELESAIAN BARANG IMPOR UNTUK DIPAKAI

DENGAN PIB YANG DISAMPAIKAN MENGGUNAKAN FORMULIR

i) PENDAFTARAN PIB

1. Importir menyiapkan PIB dengan mengisi formulir secara lengkap, dengan mendasarkan pada data dan informasi dari dokumen pelengkap pabean.

2. Importir melakukan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan PNBP melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi, kecuali untuk yang menggunakan fasilitas pembayaran berkala.

3. Importir menyampaikan PIB, dokumen pelengkap pabean, SSPCP atau

surat keputusan pembebasan/keringanan bea masuk dan/atau PDRI, bukti pembayaran PNBP, dokumen pemesanan pita cukai untuk BKC yang

pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai, dan izin/rekomendasi dari instansi terkait ke Kantor Pabean.

4. Pejabat penerima dokumen menerima berkas PIB kemudian melakukan penelitian sebagai berikut :

a. ada atau tidaknya pemblokiran Importir;

b. kelengkapan pengisian data PIB;

c. pencantuman NTB/NTP dan/atau NTPN dalam SSPCP;

d. pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI;

e. pembayaran PNBP;

f. nomor dan tanggal B/L, AWB atau nomor pengajuan tidak berulang;

g. kesesuaian PIB dengan BC 1.1. meliputi:

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1., host BL, jumlah

container, nomor container, dan ukuran container untuk impor

melalui pelabuhan laut;

- nomor dan tanggal BC 1.1., pos/sub pos BC 1.1. dan host AWB

untuk impor melalui bandara;

h. kode dan nilai tukar valuta asing ada dalam data NDPBM;

i. pos tarif tercantum dalam BTBMI;

j. Importir memiliki Nomor Induk Kepabeanan (NIK), selain importasi pertama atau Importir yang dikecualikan dari NIK;

k. bukti penerimaan jaminan, dalam hal importasi memerlukan jaminan;

l. PPJK memiliki Nomor Pokok PPJK (NP PPJK); dan

Teknis Kepabeanan

m. jumlah jaminan yang dipertaruhkan oleh PPJK.

5. Dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 4 tidak sesuai, Pejabat penerima dokumen menerbitkan Nota Pemberitahuan Penolakan (NPP). 6. Dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 4 telah sesuai dengan yang tertera pada PIB maka Pejabat penerima dokumen meneruskan berkas PIB kepada Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/ pembatasan untuk dilakukan penelitian barang larangan/pembatasan. 7. Pejabat yang menangani penelitian larangan/pembatasan melakukan

penelitian barang larangan/pembatasan. 7.1. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Barang Impor tidak terkena ketentuan larangan/pembatasan, meneruskan berkas PIB kepada Pejabat penerima dokumen untuk :

a. diberikan nomor pendaftaran;

b. diberitahukan kepada Pejabat yang menangani manifes untuk penutupan pos BC 1.1. setelah diberikan nomor pendaftaran; dan

c. diteruskan kepada Pejabat pemeriksa dokumen dalam rangka

penetapan jalur pelayanan impor. 7.2. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan Barang Impor terkena

ketentuan larangan/pembatasan, dilakukan kegiatan sebagai berikut :

a. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang

dipersyaratkan telah dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan meneruskan berkas PIB kepada Pejabat penerima dokumen untuk :

i. diberikan memberikan nomor pendaftaran PIB;

ii. diberitahukan kepada Pejabat yang menangani manifest untuk penutupan pos BC 1.1.; dan

iii. diteruskan kepada Pejabat pemeriksa dokumen dalam rangka

penetapan jalur pelayanan impor.

b. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan ketentuan larangan/ pembatasan belum dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan menerbitkan Nota Pemberitahuan

Teknis Kepabeanan

Barang Larangan/Pembatasan (NPBL) dengan tembusan kepada unit pengawasan.

i.

ii. Importir menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan dilampiri dengan hasil cetak NPBL kepada Pejabat pemeriksa dokumen. iii. Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan melakukan penelitian dokumen yang dipersyaratkan.

1. Dalam hal ketentuan larangan/pembatasan telah dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan meneruskan berkas PIB kepada Pejabat penerima dokumen untuk:

Importir menerima NPBL.

a. diberikan nomor pendaftaran;

b. diberitahukan kepada Pejabat yang menangani manifes untuk penutupan pos BC 1.1. setelah diberikan nomor pendaftaran; dan

c. diteruskan kepada Pejabat pemeriksa dokumen untuk dilakukan penetapan jalur pelayanan impor.

2. Dalam hal hasil penelitian menunjukkan dokumen yang

dipersyaratkan belum sesuai, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan memberitahukan kepada Importir melalui Pejabat penerima dokumen. c. Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal penerbitan NPBL Importir tidak menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan maka Pejabat penerima dokumen menerbitkan NPP.

ii) PENETAPAN JALUR PELAYANAN IMPOR 1. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Prioritas:

1.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB dan mengirimkannya kepada Importir. 1.2. Importir menerima SPPB untuk pengeluaran barang dari kawasan pabean.

Teknis Kepabeanan

2. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur MITA Non- Prioritas:

2.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB atau SPPF kepada

Importir.

2.2. Importir menerima:

a. SPPB untuk pengeluaran barang dari kawasan pabean; atau

b. SPPF sebagai izin pengeluaran barang dari Kawasan Pabean

untuk dilakukan pemeriksaan fisik di tempat Importir.

3. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Hijau:

3.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB dan mengirimkannya kepada Importir.

3.2. Importir menerima SPPB untuk pengeluaran barang dari kawasan

pabean.

4. Pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Kuning:

4.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan Surat Pemberitahuan Jalur Kuning (SPJK) kepada Importir.

4.2. Importir menerima SPJK dari Pejabat pemeriksa dokumen melalui Pejabat penerima dokumen.

4.3. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian terhadap berkas

PIB.

4.4. Pejabat pemeriksa dokumen dapat meminta tambahan keterangan terkait uraian barang dan/atau nilai pabean, dan me mberitahukan agar Importir menyiapkan barangnya untuk pengambilan contoh barang dalam hal diperlukan.

4.5. Pejabat pemeriksa dokumen mengambil contoh barang dengan memerintahkan petugas yang ditunjuk.

4.6. Dalam hal hasil penelitian menemukan indikasi adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, Pejabat pemeriksa dokumen menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada unit pengawasan untuk dilakukan pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI.

a. Dalam hal diterbitkan NHI dan ditemukan dugaan tindak pidana, unit pengawasan melakukan proses lebih lanjut.

b. Apabila unit pengawasan dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pemberitahuan tertulis dari Pejabat pemeriksa

Teknis Kepabeanan

dokumen tidak menerbitkan NHI atau diterbitkan NHI dengan hasil tidak ditemukan tindak pidana:

i. Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penetapan tarif dan nilai pabean.

ii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean tidak mengakibatkan kekurangan pembayaran, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

iii. Dalam hal hasil penetapan tarif dan nilai pabean mengakibatkan kekurangan pembayaran:

1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPTNP.

2. Importir membayar kekurangan pembayaran sesuai dengan SPTNP pada Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi.

3. Importir menyerahkan SSPCP yang telah diberikan NTB/NTP dan/atau NTPN kepada Pejabat pemeriksa dokumen.

4. Pejabat pemeriksa dokumen menerima dan meneliti

kesesuaian SSPCP dengan SPTNP, dan dalam hal telah sesuai diterbitkan SPPB. 4.7. Dalam hal tidak ditemukan indikasi adanya perbedaan jumlah, jenis dan/atau pelanggaran, dilakukan langkah-langkah sesuai dengan butir i. s.d 4. 5. Dalam hal pengeluaran Barang Impor yang ditetapkan melalui Jalur Merah:

5.1. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPJM serta mengirimkannya kepada Importir. 5.2. Importir menyampaikan pemberitahuan kesiapan pemeriksaan fisik kepada Pejabat pemeriksa dokumen dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM. a. Apabila Importir dalam jangka waktu 3 (tiga) hari setelah tanggal SPJM tidak memberitahukan kesiapan pemeriksaan fisik, Pejabat yang menangani pelayanan pabean dapat menerbitkan instruksi pemeriksaan barang, dengan tembusan kepada pengusaha TPS. b. Pengusaha TPS menerima tembusan instruksi pemeriksaan barang dan membantu jalannya pemeriksaan barang dimaksud.

Teknis Kepabeanan

c. Importir dapat mengajukan permohonan perpanjangan batas

waktu penetapan pemeriksaan dimaksud disertai alasan.

5.3. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan Instruksi Pemeriksaan dan

menunjuk pejabat pemeriksa barang.

5.4. Pejabat Pemeriksa Barang menerima invoice/packing list dan instruksi pemeriksaan dari Pejabat pemeriksa dokumen.

5.5. Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik barang dan mengambil contoh barang jika diminta, membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan membuat Berita Acara Pemeriksaan Fisik (BAP Fisik) dengan tembusan kepada unit pengawasan, kemudian mengirim LHP dan BAP Fisik kepada Pejabat pemeriksa dokumen.

5.6. Dalam hal diperlukan, unit pengawasan segera berkoordinasi dengan Pejabat pemeriksa dokumen.

5.7. Pejabat pemeriksa dokumen menerima LHP dan BAP Fisik, untuk dilakukan penelitian.

5.8. Dalam hal diperlukan uji laboratorium, Pejabat pemeriksa dokumen mengirimkan contoh barang dan invoice/packing list ke laboratorium.

5.9. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik dan hasil uji laboratorium serta penelitian tarif dan nilai pabean menunjukkan kesesuaian dengan pemberitahuan, dan :

a. bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi telah dilunasi, dan

b. ketentuan larangan dan pembatasan telah dipenuhi, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB.

5.10. Dalam hal hasil penelitian menunjukan tidak sesuai dan tidak ada tindak lanjut dari unit pengawasan sebagaimana dimaksud pada butir 6, Pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian tarif dan nilai pabean, serta pemenuhan ketentuan tentang larangan/pembatasan. 5.11. Berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 10:

a. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPTNP kepada Importir dalam hal terdapat kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI, dengan tembusan kepada Pejabat yang menangani urusan penagihan.

Teknis Kepabeanan

b. Dalam hal ditemukan barang yang terkena ketentuan larangan/ pembatasan, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan NPBL. 5.12. Importir menerima respons SPTNP dan NPBL untuk barang yang terkena ketentuan larangan/pembatasan, kemudian melakukan pelunasan pembayaran bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta menyerahkan persyaratan yang terkait dengan ketentuan larangan/pembatasan. 5.13. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB setelah melakukan penelitian tentang pelunasan pembayaran bea masuk, cukai, PDRI, dan sanksi administrasi serta pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan. (Dalam hal fungsi penelitian dokumen dilakukan oleh Pejabat yang menangani pelayanan pabean, maka uraian yang menyebutkan Pejabat pemeriksa dokumen diganti dengan Pejabat yang menangani pelayanan pabean).

iii) PENGELUARAN BARANG IMPOR 1. Importir menyerahkan SPPB kepada Pejabat yang mengawasi

pengeluaran barang.

2. Pejabat mengawasi pengeluaran barang dari Kawasan Pabean atau TPS oleh Importir berdasarkan SPPB atau berdasarkan SPPF untuk MITA Non Prioritas.

3. Importir menerima SPPB atau SPJM yang diberikan catatan oleh Pejabat yang mengawasi pengeluaran barang.

4. Importir mengeluarkan Barang Impor dari kawasan pabean.

iv) PASCA PERSETUJUAN PENGELUARAN BARANG

1. Dalam hal pengeluaran Barang Impor oleh MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas yang memanfaatkan fasilitas pembayaran berkala, MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas melakukan pelunasan bea masuk, cukai, PDRI, dan PNBP melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang telah terhubung dengan PDE Kepabeanan dengan mencantumkan nomor aju dan nomor PIB pada SSPCP.

2. Dalam hal pengeluaran Barang Impor ditetapkan me lalui Jalur Hijau:

Teknis Kepabeanan

2.1. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti uraian barang dalam PIB, dan meminta tambahan keterangan terkait uraian barang dan/atau permintaan informasi tentang nilai pabean kepada Importir dalam hal diperlukan.

2.2. Importir menyampaikan bukti-bukti kebenaran nilai pabean kepada Pejabat pemeriksa dokumen dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal permintaan informasi nilai pabean dan/atau tambahan keterangan terkait uraian barang.

2.3. Pejabat pemeriksa dokumen meneliti dan menetapkan tarif dan nilai pabean dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB dan menerbitkan SPTNP, atau menerbitkan rekomendasi audit kepabeanan dalam hal menemukan kekurangan pembayaran bea masuk, cukai, dan PDRI setelah melebihi jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB.

2.4. Importir menerima SPTNP untuk selanjutnya dilunasi dalam jangka

waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal SPTNP, dan menyerahkan SSPCP kepada pejabat yang menangani penagihan. 3. Pejabat yang mengelola manifes melakukan penutupan Pos BC 1.1 atas PIB yang telah diselesaikan.

4)

TATAKERJA PENYELESAIAN BARANG IMPOR EKSEP

 

1.

Setelah

mendapatkan

nomor

pendaftaran

PIB,

Importir

mengajukan

permohonan untuk mendapatkan persetujuan pengeluaran Barang Impor

eksep kepada Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuk sebelum :

a. Pengeluaran Barang Impor untuk yang ditetapkan jalur MITA prioritas, jalur MITA non prioritas, jalur hijau, dan jalur kuning; atau

b. Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik untuk yang ditetapkan jalur merah.

2.

Permohonan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilengkapi dengan :

a. Fotokopi PIB,

b. Dokumen pelengkap pabean, dan

c. Dokumen yang menerangkan penyebab terjadinya pengeluaran Barang Impor eksep.

Teknis Kepabeanan

3. Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuk memberikan persetujuan atau menolak permohonan pengeluaran Barang Impor eksep.

4. Dalam hal Kepala Kantor Pabean memberikan persetujuan, Importir

menyampaikan persetujuan Kepala Kantor Pabean dan SPPB kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

5. Pejabat yang menangani pelayanan pabean memberikan persetujuan pengeluaran sebagian dengan memberikan catatan pada SPPB.

6. Terhadap Barang Impor eksep yang merupakan sisa dari barang yang dikeluarkan sebagian sebagaimana dimaksud pada butir 5, dilakukan hal-hal sebagai berikut :

6.1. Pejabat yang menangani pelayanan pabean menerbitkan :

a. instruksi pemeriksaan fisik melalui pemindai peti kemas dalam hal

ditetapkan jalur MITA prioritas, jalur MITA non prioritas, jalur hijau, dan jalur kuning; atau

b. instruksi pemeriksaan fisik, dalam hal tidak tersedia pemindai peti kemas atau ditetapkan jalur merah.

6.2. Importir menyiapkan barang untuk diperiksa fisik atau dilakukan pemindaian.

a. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik atau hasil pemindaian menunjukkan kesesuaian dengan PIB, Pejabat pemeriksa barang/Pejabat pemindai peti kemas memberikan catatan “SESUAI PEMBERITAHUAN” pada SPPB, kemudian meneruskannya kepada

Pejabat yang menangani pelayanan pabean untuk diberikan catatan “SETUJU KELUAR”.

b. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik/pemindaian menunjukkan hasil tidak sesuai dengan PIB :

i. Pejabat pemeriksa barang/Pejabat pemindai peti kemas memberikan catatan “TIDAK SESUAI PEMBERITAHUAN” pada SPPB, kemudian meneruskannya kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

ii. Pejabat yang menangani pelayanan pabean meneruskan berkas PIB atas Barang Impor eksep dan SPPB kepada unit pengawasan untuk dilakukan penelitian ada tidaknya dugaan tindak pidana.

Teknis Kepabeanan

iii. Unit pengawasan melakukan penelitian mendalam, kemudian mengembalikan berkas PIB dan SPPB kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean dalam hal tidak ditemukan dugaan tindak pidana untuk diberikan catatan “SETUJU KELUAR” setelah kekurangan pembayaran bea masuk, PDRI dan sanksi administrasi berupa denda dilunasi.

iv. Dalam hal ditemukan dugaan tindak pidana, unit pengawasan

melakukan proses lebih lanjut.

c. Pejabat yang mengawasi pengeluaran barang mencocokkan SPPB

dengan nomor, merek, ukuran, jumlah dan jenis kemasan/peti

kemas yang bersangkutan:

i. Dalam hal ditemukan sesuai, Barang Impor dapat dikeluarkan dengan diberikan catatan ”TELAH DIKELUARKAN” pada SPPB.

ii. Dalam hal ditemukan tidak sesuai, Pejabat yang mengawasi

pengeluaran barang mencegah pengeluaran barang, dan memberikan catatan ”TIDAK SESUAI” pada SPPB serta melaporkannya kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean.

d. Pejabat yang menangani pelayanan pabean meneruskan berkas PIB

kepada unit pengawasan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut;

e. Unit pengawasan melakukan penelitian mendalam, kemudian mengembalikan berkas PIB dan SPPB kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean dalam hal tidak ditemukan dugaan tindak pidana.

f. Pejabat yang menangani pelayanan pabean menerbitkan instruksi pemeriksaan fisik:

i. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik menunjukkan sesuai, Pejabat yang menangani pelayanan pabean memberikan catatan “SETUJU KELUAR”.

ii. Dalam hal hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tidak sesuai, Pejabat yang menangani pelayanan pabean meneruskan berkas PIB dan SPPB kepada unit pengawasan untuk dilakukan penelitian ada tidaknya dugaan tindak pidana.

Teknis Kepabeanan

iii. Unit pengawasan melakukan penelitian mendalam, kemudian mengembalikan berkas PIB dan SPPB kepada Pejabat yang menangani pelayanan pabean dalam hal tidak ditemukan dugaan tindak pidana untuk diberikan catatan “SETUJU KELUAR” setelah kekurangan pembayaran dan sanksi administrasi berupa denda dilunasi.

iv. Dalam hal ditemukan dugaan tindak pidana, unit pengawasan

melakukan proses lebih lanjut.

g. Dalam hal ditemukan sesuai, Barang Impor dapat dikeluarkan

dengan diberikan catatan ”TELAH DIKELUARKAN” pada SPPB oleh Pejabat yang mengawasi pengeluaran barang. 6.3. Importir menerima SPPB yang telah diberi cata tan oleh Pejabat yang

mengawasi pengeluaran barang. 6.4. Dalam hal Barang Impor eksep tidak akan didatangkan atau tidak akan datang dalam batas waktu yang ditetapkan yaitu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penerbitan SPPB, Importir melakukan kegiatan sebagai berikut :

a. mengajukan surat pemberitahuan kepada Kepala Kantor Pabean;

b. mengajukan permohonan pengembalian bea masuk kepada Kepala Kantor Pabean;

c. mengajukan PIB baru dengan membayar bea masuk, cukai dan PDRI.

Teknis Kepabeanan

D. Pengeluaran Barang Impor Lainnya.

Dalam materi ini dibahas mengenai tatalaksana penyelesaian kewajiban pabean atas pengeluaran barang impor lainnya, barang penumpang, awak sarana pengangkut dan barang kiriman. Disini juga dibahas pengeluaran barang dari kawasan pabean untuk diimpor sementara, direekspor, diangkut ke TPB, diangkut ke TPS lain, diangkut terus atau diangkut lanjut.

1) Pengeluaran barang impor dengan menggunakan Pemberitahuan Impor Barang Khusus (PIBK / BC 2.1) . PIBK adalah merupakan pemberitahuan impor untuk dipakai yang sederhana. PIBK dapat digunakan untuk memberitahukan impor barang sebagai berikut :

- barang pindahan;

- barang impor sementara yang dibawa penumpang;

- sarana angkutan laut dan udara;

- barang impor melalaui jasa titipan

- barang lain ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. PIBT (BC 2.1) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dilampirai dengan Dokumen Pelengkap Pabean diajukan kepada Pejabat Bea dan Cukai secara manual. Pejabat Bea dan Cukai kemudian melakukan pemeriksaan fisik,menetapkan tarif, nilai pabean dan menghitung bea masuk, cukai dan pajak dalam rangka impor. Barang impor baru dapat dikeluarkan dari tempat Penimbunan Sementara jika Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka import telah dibayar.

2)

Impor barang pribadi penumpang, awak sarana pengankut, pelintas batas dan barang kiriman. Terhadap barang pribadi penumpang 30 , awak sarana pengangkut 31 , pelintas batas 32 , dan barang kiriman 33 sampai batas nilai pabean dan/atau jumlah tertentu diberikan :

30 Barang pribadi penumpang adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang melintasi perbatasan wilayah negara dengan menggunakan sarana pengangkut, tidak termasuk barang yang dibawa awak sarana pengangkut atau pelintas batas.

Teknis Kepabeanan

- pembebasan bea masuk; dan

- tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

a. Barang Pribadi Penumpang Barang pribadi penumpang dimaksud merupakan barang yang tiba bersama penumpang. Barang pribadi penumpang yang tiba sebelum atau setelah kedatangan penumpang dianggap sebagai barang yang tiba bersama penumpang yang bersangkutan , sepanjang memenuhi ketentuan sebagai berikut :

i. paling lama 60 (enam puluh) hari setelah kedatangan penumpang untuk penumpang yang menggunakan sarana pengangkut laut; atau

ii. paling lama 15 (lima belas) hari setelah penumpang tiba untuk

penumpang yang menggunakan sarana pengangkut udara. Barang sebagaimana dimaksud harus dapat dibuktikan kepemilikannya dengan mengg unakan paspor dan boarding pass yang bersangkutan. Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud diatas dilewati, terhadap barang yang tidak tiba bersama penumpang tidak mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk dan dipungut pajak dalam rangka impor. Terhadap barang pribadi penumpang yang tiba bersama penumpang dengan nilai pabean paling banyak FOB USD 250.00 (dua ratus lima puluh US dollar) per orang atau FOB USD 1,000.00 (seribu US dollar) per keluarga untuk setiap perjalanan, diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku. Dalam hal barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean sebagaimana tersebut diatas , maka atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

31 Barang awak sarana pengangkut adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang karena sifat pekerjaannya harus berada dalam sarana pengangkut dan datang bersama sarana pengangkutnya.

32 Barang pelintas batas adalah barang yang dibawa oleh pelintas batas.

33 Barang kiriman adalah barang impor yang dikirim oleh pengirim tertentu di luar negeri kepada penerima tertentu di dalam negeri.

Teknis Kepabeanan

Selain pembebasan bea masuk terhadap barang sebagaimana dimaksud,

terhadap barang pribadi penumpang yang merupakan barang kena cukai juga diberikan pembebasan cukai untuk setiap orang dewasa paling

banyak:

i. 200 (dua ratus) batang sigaret, 25 (dua puluh lima) batang cerutu, atau 100 (seratus) gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya; dan

ii. 1 (satu) liter rninuman mengandung etil alkoho l.

Dalam hal hasil tembakau sebagaimana dimaksud lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per

jenis hasil tembakau tersebut.

Atas kelebihan barang kena cukai , langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan.

Atas barang pribadi penumpang yang tiba bersama penumpang, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD 34 yang wajib diisi dengan lengkap dan benar. Pemberitahuan dimaksud dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Berdasarkan pemberitahuan dimaksud penumpang dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui :

1). jalur merah, dalam hal penumpang membawa barang impor:

i. dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai me lebihi

ketentuan pembebasan cukai;

ii. berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan;

iii. berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api,senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak,

benda/publikasi pornografi;

iv. berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video

laser disc atau piringan hitam; atau

v. berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih.

34 Customs Declaration yang selanjutnya disingkat CD adalah pemberitahuan atas barang impor yang dibawa penumpang atau awak sarana pengangkut.

Teknis Kepabeanan

2). jalur hijau, dalam hal penumpang tidak membawa barang impor

sebagaimana dimaksud pada huruf a. Setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud, pejabat bea dan cukai; 1). memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal penumpang melalui jalur hijau; atau

2).

melakukan pemeriksaan fisik, dalam hal penumpang melalui jalur merah.

Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang

melakukan pemeriksaan fisik atas barang penumpang yang melalui jalur hijau. Apabila dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan :

1).

kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap

2).

kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan. barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea

dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku. 3). barang pribadi penumpang dengan nilai pabean tidak melebihi batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang pribadi penumpang tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku. 4). barang pribadi penumpang dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang pribadi penumpang tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap barang penumpang yang dilakukan pemeriksaan fisik dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai me netapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD. Dalam hal dari hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang pribadi penumpang yang terkena ketentuan larangan atau pembatasan, kecuali telah memenuhi persyaratan impor dari instansi

Teknis Kepabeanan

terkait, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran

barang tersebut. Penumpang wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka

impor berdasarkan penetapan pejabat bea dan cukai dan diberikan bukti pembayaran. Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang pribadi penumpang yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean. Persetujuan pengeluaran atas barang pribadi penumpang yang

dikenai bea masuk dan pajak dlm rangka impor diberikan oleh pejabat

bea dan cukai setelah penumpang melunasi bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Persetujuan pengeluaran barang penumpang yang akan

digunakan selama berada di daerah pabean dan dibawa kembali pada saat meninggalkan daerah pabean berlaku ketentuan mengenai impor sementara. Pengeluaran barang pribadi penumpang yang tiba sebelum atau sesudah

kedatangannya yang :

1). terdaftar di dalam manifes, diselesaikan dengan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT);

2).

terdaftar sebagai barang "Lost and Found", diselesaikan dengan

CD.

b. Barang Awak Sarana Pengangkut

Barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) per orang untuk setiap kedatangan

diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku. Dalam hal barang awak sarana pengangkut

melebihi batas nilai pabean tersebut , maka atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

Selain diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku, terhadap barang awk sarana pengangkut yang merupakan barang kena cukai diberikan pembebasan cukai, dengan

ketentuan :

Teknis Kepabeanan

1).

paling banyak 40 (empat puluh) batang sigaret, 10 (sepuluh) batang

cerutu, atau 40 (empat puluh) gram tembakau iris/ hasil tembakau lainnya; dan

2).

paling banyak 350 (tiga ratus lima puluh) mililiter minuman

mengandung etil alkohol. Dalam hal hasil tembakau lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut. Dalam hal barng ken cukai melebihi jumlah sebagaimana dimaksud, atas kelebihan barang tersebut langsung dimusnahkan dengan

atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan.

Barang awak sarana pengangkut yang tiba dari luar daerah pabean, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD ,

yang harus harus diisi dengan lengkap dan benar serta menyampaikannya kepada pejabat bea dan cukai. Pemberitahuan dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Berdasarkan pemberitahuan, awak sarana pengangkut dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui :

1). jalur merah 35 , dalam hal awak sarana pengangkut membawa barang impor:

i. dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai me lebihi ketentuan pembebasan cukai;

ii. berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang

berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan;

iii. berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api, senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak, benda/publikasi pornografi;

iv. berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video laser disc atau piringan hitam; atau

v. berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih.

35 Jalur merah adalah jalur pengeluaran barang impor dengan dilakukan pemeriksaan fisik barang.

Teknis Kepabeanan

2). jalur hijau 36 , dalam hal awak sarana pengangkut tidak membawa barang impor sebagaimana dimaksud pada huruf a. Setelah menerima pemberitahuan dimaksud , pejabat bea dan cukai :

memberikan persetujuan pengeluaran barang, untuk barang awak

sarana pengangkut yang melalui jalur hijau; atau 2). melakukan pemeriksaan fisik, untuk barang awak sarana pengangkut yang melalui jalur merah. Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan fisik atas barang awak sarana pengangkut yang

melalui jalur hijau.

Apabila dari hasil pemeriksaan fisik, ditemukan :

1).

1).

kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap

2).

kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan; barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea

3).

dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku; barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi

batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang awak sarana pengangkut tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku; 4). barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang awak sarana pengangkut tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh tanpa dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap hasil pemeriksaan fisik diimaksud dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai menetapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD. Dalam hal dari

36 Jalur hijau adalah jalur pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang.

Teknis Kepabeanan

hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang larangan dan/atau pembatasan, kecuali memenuhi persyaratan dari instansi terkait, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang tersebut. Awak sarana pengangkut wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan pejbat bea dan cukai dan diberikan bukti pembayaran. Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang awak sarana pengangkut yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean. Pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang awak sarana pengangkut setelah awak sarana pengangkut melunasi bea masuk dan pajak dalam rangka impor atau berdasarkan pemeriksaan fisik barang tersebut telah sesuai dengan batasan nilai yang ditentukan .

c. Barang Pelintas Batas Barang pelintas batas 37 diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang- undangan di bidang perpajakan yang berlaku, dengan ketentuan nilai pabean sebagai berikut :

1) Indonesia dengan Papua New Guinea paling banyak FOB USD

2)

300.00 (tiga ratus US dollar) per orang untuk jangka waktu satu bulan; Indonesia dengan Malaysia :

i. paling banyak FOB MYR 600.00 (enam ratus ringgit Malaysia) per orang untuk jangka waktu satu bulan, apabila melewati batas

3)

daratan;

ii. paling banyak FOB MYR 600.00 (enam ratus ringgit Malaysia) setiap perahu untuk setiap trip, apabila melalui batas lautan (sea border);

Indonesia dengan Filipina paling banyak FOB USD 250.00 (dua ratus lima puluh US dollar) per orang untuk jangka waktu satu bulan.

37 Pelintas batas adalah penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal dalam wilayah perbatasan negara serta memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan yang melakukan perjalanarn lintas batas di daerah perbatasan melalui pos pengawas lintas batas.

Teknis Kepabeanan

4) Indonesia dengan Timor Leste paling banyak FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) per orang per hari. Dalam hal barang pelintas batas melebihi batas nilai pabean dimaksud butir a,b, c dan d diatas , maka atas kelebihan barang tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Setiap pelintas batas yang membawa barang wajib memiliki KILB 38 . KILB dikeluarkan oleh kepala kantor pabean yang mengawasi PPLB 39 atas permohonan pelintas batas yang diajukan kepada kepa la kantor pabean dengan dilampiri fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan fotokopi PLB 40 yang ditandasahkan oleh pejabat imigrasi setempat. Dalam hal permohonan dimaksud telah memenuhi persyaratan , kepala kantor pabean memberikan KILB kepada pelintas batas tersebut dan dibuatkan BPBLB 41 sesuai format yang ditentukan . Pelintas batas yang tiba dari luar daerah pabean dengan membawa barang bawaan wajib menunjukkan KILB dan memberitahukan barang bawaannya kepada pejabat bea dan cukai di PPLB. Pelintas batas yang tidak dapat menunjukkan KILB tidak diberikan fasilitas berupa pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor. Setelah menerima KILB, pejabat bea dan cukai di PPLB :

1). melakukan pemeriksaan fisik dan menuangkan hasil pemeriksaan fisik tersebut ke dalam Nota Pemeriksaan sesuai format yang ditentukan .

38 Kartu Identitas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat KILB adalah kartu yang dikeluarkan oleh kantor pabean yang membawahi Pos Pengawas Lintas Batas yang diberikan kepada pelintas batas setelah dipenuhi persyaratan tertentu.

39 Pos Pengawas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat PPLB adalah tempat yang ditunjuk pada perbatasan wilayah negara untuk memberitahukan dan menyelesaikan kewajiban pabean terhadap barang pelintas batas.

40 Pas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat PLB adalah kartu yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi yang diberikan kepada pelintas batas.

41 Buku Pas Barang Lintas Batas yang selanjutnya disingkat BPBLB adalah buku yang dipakai oleh pejabat bea dan cukai untuk mencatat jumlah, jenis, dan nilai pabean atas barang yang dibawa oleh pelintas batas dari luar daerah pabean.

Teknis Kepabeanan

melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan fisik ditemukan bahwa barang tersebut terkena larangan atau pembatasan impor;

3). menetapkan nilai pabean dan tarif barang yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

menetapkan besarnya bea masuk dan pajak dalam rangka impor

yang harus dipungut dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk, dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan kedapatan nilai pabean barang melebihi ketentuan . 5). memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan kedapatan nilai pabean barang tidak melebihi ketentuan. Pelintas batas wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan pejabat bea dan cukai di kantor pabean dan diberikan bukti pembayaran. Pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang setelah bea masuk dan pajak dalam rangka impor dimaksud dilunasi. Dalam hal ditemukan adanya penyalahgunaan fasilitas pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor atas barang pelintas batas, maka fasilitas tersebut dicabut.

4).

2).

d. Barang Kiriman Terhadap barang kiriman diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang- undangan di bidang perpajakan yang berlaku, dengan nilai pabean paling banyak FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) untuk setiap orang per kiriman. Dalam hal nilai pabean barang kiriman melebihi batas pembebasan bea masuk, barang kiriman dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk.

Teknis Kepabeanan

Impor barang kiriman dilakukan melalui pos atau PJT 42 dan dilakukan

pemeriksaan pabean oleh pejabat bea dan cukai meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang. Pemeriksaan fisik barang

dilakukan secara selektif. Dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik barang, pemeriksaan fisik tersebut disaksikan oleh petugas pos atau petugas PJT. Barang kiriman dimaksud dapat dikeluarkan setelah dipenuhi kewajiban pabean dan mendapat persetujuan dari pejabat bea dan cukai. 1). Barang Kiriman Melalui Pos

Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif dan nilai pabean serta

menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang wajib dilunasi atas barang kiriman melalui pos. Barang kiriman melalui pos

yang telah ditetapkan tarif dan nilai, diserahkan kepada penerima barang kiriman melalui pos setelah bea masuk dan pajak dalam rangka impor dilunasi. Penyelesaian impor barang kiriman melalui pos dilakukan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) dan Direktorat Jenderal

Bea dan Cukai, meliputi penanganan kantung pos, pelalubeaan serta pengawasannya. 2). Barang Kiriman Melalui Perusahaan Jasa Titipan PJT yang akan melaksanakan kegiatan impor barang kiriman harus

mengajukan permohonan kepada Kepala kantor pabean sesuai contoh format yang ditentukan. Atas permohonan dimaksud kepala

kantor pabean memberikan persetujuan sesuai contoh format yang ditentukan . PJT dapat melaksanakan kegiatan impor barang kiriman

setelah menyerahkan mempertaruhkan jaminan tunai, jaminan bank, atau customs bond yang besarnya ditetapkan oleh kepala kantor

pabean. Penetapan jaminan dimaksud , dilakukan dengan

memperhatikan jumlah bea masuk dan pajak dalam rangka impor dalam periode penangguhan pembayaran tertentu atas barang

kiriman yang diberitahukan oleh PJT.

42 Perusahaan Jasa Titipan yang selanjutnya disingkat PJT adalah perusahaan yang memperoleh ijin usaha jasa titipan dari instansi terkait serta memperoleh persetujuan untuk melaksanakan kegiatan kepabeanan dari Kepala kantor pabean.

Teknis Kepabeanan

Barang kiriman melalui PJT harus memenuhi ketentuan paling berat 100 (seratus) kilogram untuk setiap House Airway Bill (AwB). Pengecualian dapat diberikan terhadap :

i. barang kiriman untuk tujuan tempat penimbunan berikat; atau

ii. barang kiriman lainnya yang memperoleh izin dari Direktur

Jenderal. Atas barang kiriman melalui PJT yang melebihi berat yang ditentukan dan/atau tidak dikecualikan diberlakukan ketentuan umum di bidang impor.

Pengeluaran barang kiriman melalui PJT dilaksanakan setelah diajukan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) yang disampaikan ke kantor pabean melalui media elektronik atau secara manual. Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif dan nilai pabean serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang wajib dilunasi atas barang kiriman melalui PJT. Bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang terutang wajib dilunasi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah diterbitkannya persetujuan pengeluaran barang. Pengeluaran barang kiriman melalui PJT untuk tujuan tempat penimbunan berikat berlaku ketentuan mengenai prosedur pemasukan barang ke tempat penimbunan berikat. Pengeluaran barang kiriman melalui PJT yang terkena ketentuan pembatasan impor, dapat disetujui setelah semua persyaratan impornya dipenuhi.

Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif bea masuk atas impor barang pribadi penumpang, barang awak sarana pengangkut, barang pelintas batas dan barang kiriman didasarkan pada tarif bea masuk dari jenis barang bersangkutan. Dalam hal barang impor sebagaimana dimaksud lebih dari 3 (tiga) jenis barang, pejabat bea dan cukai menetapkan hanya satu tarif bea masuk berdasarkan tarif barang tertinggi.

Teknis Kepabeanan

3)

Impor sementara

Impor sementara adalah pemasukan barang impor ke dalam daerah pabean yang benar-benar dimaksudkan untuk diekspor kembali dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun. Barang impor dapat disetujui untuk dikeluarkan sebagai barang impor sementara apabila pada waktu impornya memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. tidak akan habis dipakai;

b. identitas barang tersebut jelas;

c. dalam jangka waktu impor sementara tidak mengalami perubahan bentuk secara hakiki kecuali aus karena penggunaan; dan

d. terdapat dokumen pendukung bahwa barang tersebut akan diekspor kembali. Terhadap barang impor sementara dapat diberikan pembebasan atau

keringanan

pembebasan bea masuk adalah:

Barang impor sementara yang diberikan

bea

masuk.

a. barang untuk keperluan pameran yang dipamerkan di tempat lain dari tempat penyelenggaraan pameran berikat;

b. barang untuk keperluan seminar atau kegiatan semacam itu;

c. barang untuk keperluan peragaan atau demonstrasi;

d. barang untuk keperluan tenaga ahli;

e. barang untuk keperluan penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan;

f. barang yang diimpor untuk keperluan perlombaan dibidang olahraga;

g. kemasan yang digunakan untuk pengangkutan barang impor atau ekspor secara berulang-ulang;

h. barang keperluan contoh atau model;

i. kendaraan atau sarana pengangkut yang digunakan sendiri oleh wisatawan manca negara;

j. kendaraan atau sarana pengangkut yang masuk melalui lintas batas dan penggunaannya tidak bersifat regular;

k. barang untuk diperbaiki, direkondisi, diuji, dan dikalibrasi;

Teknis Kepabeanan

l. binatang hidup untuk keperluan pertunjukan umum, olahraga, perlombaan, pelatihan, pejantan, dan penanggulangan gangguan keamanan;

m. peralatan khusus yang digunakan untuk penanggulangan bencana alam, kebakaran, dan gangguan keamanan;

n. kapal niaga yang diimpor oleh perusahaan pelayaran niaga nasional;

o. pesawat dan mesin pesawat yang diimpor oleh perusahaan penerbangan nasional;

p. barang yang dibawa oleh penumpang dan akan diba wa kembali ke luar negeri; dan/atau

q. barang pendukung proyek pemerintah yang dibiayai dengan pinjaman

dari luar negeri. Barang impor sementara yang dapat diberikan keringanan bea masuk adalah mesin dan peralatan untuk kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur. Untuk mendapatkan fasilitas impor sementara , importir mengajukan

permohonan kepada Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor. Dalam hal tertentu permohonan dimaksud dapat diajukan kepada Direktur Jenderal. Kewajiban pengajuan permohonan dikecualikan terhadap barang impor sementara yang dibawa oleh penumpang . Permohonan paling sedikit memuat:

a. rincian jenis, jumlah, spesifikasi, identitas, dan perkiraan nilai pabean

barang impor sementara;

b. pelabuhan tempat pemasukan barang impor sementara;

c. tujuan penggunaan barang impor sementara;

d. lokasi penggunaan barang impor sementara; dan

e. jangka waktu impor sementara.

Permohonan dimaksud paling sedikit dilampiri dengan :

a. dokumen pendukung yang menerangkan bahwa barang tersebut akan

diekspor kembali; dan

b. dokumen identitas pemohon seperti NPWP, surat izin usaha, dan

API/APIT. Atas permohonan yangbersangkutan Kepala Kantor melakukan penelitian dan penetapan nilai pabean serta klasifikasi barang atas barang

Teknis Kepabeanan

impor sementara untuk penghitungan bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagai dasar penerbitan izin impor sementara. Dalam hal permohonan fasilitas impor sementara disetujui, Kepala Kantor atas nama Menteri menerbitkan izin impor sementara. Dalam hal permohonan fasilitas impor sementara tidak disetujui, Kepala Kantor membuat surat pemberitahuan penolakan permohonan dengan menyebutkan alas an penolakan. Terhadap barang impor sementara yang diberikan pembebasan bea masuk, importir wajib menyerahkan jaminan kepada Kepala Kantor. Kewajiban menyerahkan jaminan dapat dikecualikan untuk impor sementara

yang dibawa oleh penumpang berdasarkan pertimbangan dari Kepala Kantor. Jumlah jaminan adalah sebesar bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang terutang atau yang seharusnya dibayar atas barang impor yang

bersangkutan.

Terhadap barang impor sementara yang diberikan keringanan bea masuk , importir wajib membayar :

a. Bea Masuk sebesar 2% (dua persen) untuk setiap bulan atau bagian dari bulan, dikalikan jumlah bulan jangka waktu impor sementara, dikalikan jumlah bea masuk yang seharusnya dibayar atas barang impor sementara bersangkutan; dan

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau PPN dan Pajak Penjualan Atas

Barang Mewah (PPnBM). Dikecualikan dari kewajiban pembayaran PPN atau PPN dan PPnBM sebagaimana dalam hal atas barang impor sementara tersebut diberikan fasilitas perpajakan berdasarkan ketentuan di bidang perpajakan yang berlaku. Selain kewajiban untuk membayar bea masuk, PPN atau PPN dan PPnBM, importir wajib menyerahkan jaminan sebesar selisih antara bea masuk yang seharusnya dibayar dengan yang telah dibayar ditambah dengan Pajak Penghasilan Pasal 22. Terhadap barang impor sementara yang mendapatkan fasilitas keringanan dalam kondisi bukan baru dan/atau yang diatur tata niaga impornya wajib mendapat persetujuan impor dari instansi yang berwenang sebelum barang tersebut keluar dari kawasan pabean. Untuk pemenuhan kewajiban pabean atas impor sementara, disampaikan pemberitahuan pabean impor yang dibuat berdasarkan

Teknis Kepabeanan

dokumen pelengkap pabean dan/atau izin impor sementara. Pemberitahuan pabean impor disampaikan kepada kepala kantor paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal izin impor sementara, disertai tanda terima pembayaran dan/atau jaminan. Apabila pemberitahuan pabean impor tidak disampaikan dalam jangka waktu tersebut maka izin impor sementara yang telah diberikan dinyatakan tidak berlaku. Jangka waktu izin impor sementara diberikan berdasarkan permohonan sesuai dengan tujuan penggunaannya untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean impor sementara. Dalam hal jangka waktu impor sementara dari 3 (tiga) tahun, jangka waktu izin impor sementara tersebut dapat diperpanjang lebih dari 1 (satu) kali berdasarkan permohonan, sepanjang jangka waktu izin impor sementara secara keseluruhan tidak lebih dari 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean impor sementara. Selama berlakunya izin impor sementara, barang impor sementara dapat dipindahlokasikan atau digunakan untuk tujuan lain setelah mendapat persetujuan dari kepala kantor atau Direktur Jenderal. Untuk mendapatkan persetujuan tersebut importir mengajukan permohonan kepada kepala kantor yang menerbitkan izin impor sementara atau Direktur Jenderal. Dalam hal barang impor sementara dipindahlokasikan ke tempat lain yang berada dalam pengawasan kantor pabean lain, importir memberitahukan hal tersebut kepada kepala kantor tujuan. Dalam hal barang impor sementara dipindahlokasikan atau digunakan untuk tujuan lain tanpa mendapat persetujuan , izin impor sementara dicabut. Pencabutan izin impor sementara dilakukan oleh kepala kantor atau Direktur Jenderal dengan surat pencabutan. Terhadap barang impor sementara yang telah dicabut izin impor sementaranya dilakukan penyegelan pada kesempatan pertama. Dalam hal izin impor sementara dicabut, barang impor sementara tersebut diperlakukan sebagai barang impor sementara yang tidak diekspor kembali dan importir wajib membayar bea masuk yang terutang dan sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% dari bea masuk yang seharusnya dibayar. Dalam hal barang impor sementara yang telah dicabut izin impor sementaranya tidak diekspor dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun

Teknis Kepabeanan

sejak pendaftaran pemberitahuan pabean, maka barang impor tersebut

diperlakukan sebagai barang impor sementara yang tidak diekspor kembali. Setelah jangka waktu impor sementara berakhir dan dalam hal tidak

dilakukan perpanjangan izin impor sementara, sambil menunggu proses realisasi ekspor, terhadap barang impor sementara dilakukan penyegelan pada kesempatan pertama. Penyegelan dibuka kembali pada saat barang akan dimuat ke sarana pengangkut dalam rangka realisasi ekspornya. Dalam hal terjadi kerusakan berat atau musnah karena keadaan memaksa (force majeure), importir dapat dibebaskan dari kewajiban untuk

mengekspor kembali barang impor sementara dimaksud serta dibebaskan

dari kewajiban melunasi kekurangan bea masuk dan sanksi administrasi berdasarkan persetujuan Kepala Kantor atau Direktur Jenderal. Keadaan memaksa (force majeure) harus didukung dengan pernyataan dari instansi yang berwenang. Terhadap keadaan memaksa (force majeure), pejabat

membuat laporan kejadian dan berita acara. Terhadap barang impor sementara dalam kondisi bukan baru dan/atau

barang yang terkena peraturan pembatasan yang tidak diekspor kembali, sebelum dilakukan pelunasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor, wajib mendapat persetujuan impor dari instansi teknis terkait. Terhadap impor sementara yang mendapat keringanan, pemenuhan

persyaratan impor dilakukan pada saat mengajukan impor sementara. Orang yang terlambat mengekspor kembali barang impor sementara

melebihi jangka waktu yang diizinkan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari bea masuk yang seharusnya

dibayar.

Yang dimaksud dengan terlambat mengekspor kembali adalah

pelaksanaan ekspor kembali barang impor sementara yang :

a. pengurusan administrasi kepabeanan dilakukan setelah tanggal jatuh tempo impor sementara sampai dengan 60 hari setelah tanggal jatuh

tempo impor sementara dan realisasi ekspornya dilakukan dalam kurun waktu yang sama; atau

b. pengurusan administrasi kepabeanan dilakukan sampai dengan tanggal jatuh tempo impor sementara dan realisasi ekspornya dilakukan dalam

Teknis Kepabeanan

jangka waktu antara 30 hari setelah tanggal jatuh tempo impor sementara sampai dengan 60 hari setelah tanggal jatuh tempo impor sementara. Orang yang tidak mengekspor kembali barang impor sementara dalam jangka waktu yang diizinkan wajib membayar bea masuk dan dikenai sanksi administrasi berupa denda 100% (seratus persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar.

4)

Pengeluaran ke Tempat Penimbunan Berikat (TPB) 43 Pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean dan pengangkutannya ke TPB dilakukan dengan menggunakan SPPB –TPB atau SPPB-TPB Merah. Pengangkutan barang impor dari Kawasan Pabean dilakukan penyegelan oleh Pejabat bea dan cukai.

Pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean dilakukan setelah pos BC 1.1. ditutup oleh Pejabat bea dan cukai yang mengelola Manifes berdasarkan :

a. BC 2.3 yang telah didaftarkan;

b. SPPB –TPB; dan/atau

c. Daftar Rekapitulasi BC 2.3 dalam hal menggunakan media penyimpan

data elektronik. Penutupan pos BC 1.1. dilakukan dengan mencocokkan beberapa elemen

data, yaitu :

a. nomor, tanggal BC 1.1 dan nomor posnya;

b. nomor dan tanggal B/L atau AWB;

c. nomor petikemas (dalam hal menggunakan petikemas);

d. jumlah petikemas atau kemasan;

e. nama sarana pengangkut dan nomor voyage atau flight; dan

f. nama consignee.

Dalam hal elemen data dimaksud butir (2) ada yang tidak cocok maka terhadap BC 2.3 dan pemberitahuan pabean BC 1.1. dilakukan penelitian lebih lanjut sesuai ketentuan perundang-undangan.

43 Tempat penimbunan berikat adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan bea masuk.

Teknis Kepabeanan

5) Pengeluaran Barang Impor Untuk Diangkut Terus atau Diangkut

Lanjut. Barang impor atau ekspor dapat dikeluarkan dari kawasan pabean

untuk diangkut terus atau diangkut lanjut dan wajib diberitahukan dengan pemberitahuan pabean . Pemberitahuan pabean dimaksud berupa manifes keberangkatan sarana pengangkut (outward manifest). Pengeluaran barang

impor atau ekspor dari kawasan pabean untuk diangkut terus atau diangkut lanjut dapat dilakukan setelah disampaikan pemberitahuan pabean berupa manifest keberangkatan sarana pengangkut (outward manifest), yang

disampaikan ke kantor pabean sebelum keberangkatan sarana pengangkut.

Pengeluaran barang sebagaimana dimaksud wajib mendapat persetujuan pejabat bea dan cukai. Persetujuan berupa manifest keberangkatan sarana pengangkut (outward manifest) yang telah mendapat nomor dan tanggal pendaftaran.

6)

Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk Diangkut ke

Tempat Penimbun Sementara di Kawasan Pabean Lainnya Pengeluaran barang impor dari kawasan pabean dari suatu kantor pabean dengan tujuan untuk diangkut ke tempat penimbunan sementara di kawasan pabean di kantor pabean lainnya dilakukan oleh pengusaha tempat

penimbunan sementara di kawasan pabean asal berdasarkan permintaan importir. Pengusaha tempat penimbunan sementara yang akan

mengeluarkan barang impor, wajib menyerahkan pemberitahuan pabean pada kantor pabean yang mengawasi kawasan pabean asal.

Barang impor sebagaimana dimaksud dapat dikeluarkan setelah pemberitahuan pabean ditandasahkan atau diberikan persetujuan keluar oleh pejabat bea dan cukai di kantor pabean yang mengawasi kawasan pabean asal.

Terhadap barang impor atau ekspor untuk diangkut terus atau diangkut

lanjut atau barang impor untuk diangkut ke tempat penimbunan sementara di kawasan pabean lainnya, wajib diinformasikan oleh pejabat bea dan cukai di kantor pabean keberangkatan kepada pejabat bea dan cukai di kantor pabean tujuan.

Teknis Kepabeanan

Pengangkutan barang impor atau ekspor dari kawasan pabean untuk diangkut terus atau diangkut lanjut, dilakukan di bawah pengawasan pabean. Pengangkutan barang impor dari kawasan pabean di suatu kantor pabean ke tempat penimbunan sementara di kawasan pabean lainnya, dilakukan di bawah pengawasan pabean.

7)

Pengeluaran Barang Impor Untuk Diekspor Kembali Terhadap barang impor yang masih berada di dalam Kawasan Pabean dapat diekspor kembali apabila:

a. tidak sesuai pesanan;

b. tidak boleh diimpor karena adanya perubahan peraturan;

c. salah kirim;

d. rusak; atau

e. tidak dapat memenuhi persyaratan impor dari instansi teknis.

Ketentuan sebagaimana dimaksud diatas tidak berlaku apabila untuk barang tersebut telah diajukan PIB dan telah dilakukan pemeriksaan fisik barang dengan hasil kedapatan jumlah dan atau jenis barang tidak sesuai. Importir yang menghendaki barangnya diekspor kembali mengajukan permohonan reekspor kepada Kepala Kantor Pabean dengan menyebutkan alasan tersebut diatas . Berdasarkan persetujuan Kepala Kantor Pabean, Importir atau Pengangkut mengisi dan menyerahkan Pemberitahuan Ekspor Barang (BC 3.0) kepada Pejabat di Kantor Pabean tempat pemuatan. Persetujuan pengeluaran dan atau pemuatan barang diberikan oleh Pejabat , apabila jumlah, jenis, nomor, merek serta ukuran kemasan atau peti kemas yang tercantum dalam BC 3.0 dengan kemasan atau peti kemas yang bersangkutan kedapatan sesuai.

E. Kemudahan Dibidang Pelayanan Impor.

Dalam materi ini dibahas mengenai kemudahan pelayanan kepabeanan dibidang impor berupa pelayanan MITA, vooruitslag, prenotification, returnable packages, pelayanan segera.

Teknis Kepabeanan

1)

MITRA UTAMA

Mitra Utama yang selanjutnya disebut MITA adalah:

a) Importir Jalur Prioritas, yang penetapannya dilakukan oleh Direktur Teknis Kepabeanan atas nama Direktur Jenderal sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tentang Jalur Prioritas;

b) Orang yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan sebagai Mitra Utama oleh Kepala Kantor Pelayanan Utama atas nama Direktur Jenderal berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal tersebut.

MITA mendapat

a). tidak dilakukan penelitian dokumen dan/atau pemeriksaan fisik barang, kecuali terhadap:

kemudahan di KPU 44 berupa:

- barang Impor Sementara (non Prioritas);

- barang Re-impor (non Prioritas);

- barang yang terkena Nota Hasil Intelijen (NHI); dan

- terkena pemeriksaan random (non Prioritas).

b). pemeriksaan fisik terhadap barang sebagaimana dimaksud pada huruf a butir 1 dan butir 2 dapat dilakukan di gudang importir tanpa pengajuan surat permohonan; c). tidak perlu menyerahkan hardcopy PIB/PEB, kecuali dilakukan pemeriksaan fisik dan/atau pemeriksaan dokumen ;

d). mendapatkan akses pelayanan client coordinator45 ; dan

e). pemuktahiran data registrasi importir. MITA ditetapkan berdasarkan persyaratan:

a). dapat berhubungan dengan sistem jaringan elektronik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b). mempunyai pola bisnis yang jelas; c). memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan;

44 Kantor Pelayanan Utama yang selanjutnya dalam peraturan ini disebut KPU adalah Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur JenderalBea dan Cukai 45 Client Coordinator adalah pejabat bea dan cukai yang ditunjuk oleh Kepala Kantoruntuk menjadi penghubung antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan orang

Teknis Kepabeanan

d). memiliki rekam jejak keakuratan pemberitahuan pabean dan/atau cukai yang baik; e). telah diaudit oleh kantor akuntan publik yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian untuk 2 (dua) tahun terakhir; dan f). selalu dapat memenuhi ketentuan perizinan dan persyaratan impor dan ekspor dari instansi teknis terkait. Dalam hal perusahaan mendapatkan fasilitas pembebasan, keringanan, dan/atau penangguhan bea masuk, persyaratan sebagaimana dimaksud diatas ditambah dengan melakukan penatausahaan dan pengelolaan sediaan barang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diketahui jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran sediaan barang yang berkaitan dengan fasilitas kepabeanan yang diperoleh dan/atau digunakan. Untuk menjadi MITA, perusahaan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Utama, dimana kegiatan impornya paling banyak dilakukan. Permohonan dimaksud dilampiri dengan:

a). laporan keuangan periode 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik; b). standard operating procedure (SOP) pembelian dan pembayaran impor, dan/atau penjualan dan penerimaan kas ekspor; c). standard operating procedure (SOP) pembuatan, pembayaran, dan penyerahan (transfer) PIB dan/atau PEB yang selama ini dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan; d). surat pernyataan sesuai contoh sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal ini; dan e). keterangan lain yang dapat memberikan gambaran positif perusahaan, misalnya terdaftar sebagai wajib pajak patuh pada Direktorat Jenderal Pajak, company profile, sertifikat ISO, dan sertifikat ahli kepabeanan. Dalam hal perusahaan menggunakan PPJK, permohonan dimaksud dilampiri daftar nama PPJK yang diberi kuasa dan identitas modul PPJK yang diberi kuasa. Kepala Kantor Pelayanan Utama melakukan pemeriksaan terhadap permohonan yang bersangkutan berupa:

Teknis Kepabeanan

a). penelitian dan penilaian data intern Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dan b). penelitian dan penilaian data yang diajukan perusahaan. Pemeriksaan dimaksud diatas dapat meliputi pemeriksaan lapangan. Kepala Kantor Pelayanan Utama memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya permohonan dengan lengkap. Dalam hal permohonan disetujui, Kepala Kantor Pelayanan Utama menerbitkan surat penetapan. Dalam hal permohonan ditolak, Kepala Kantor membuat surat penolakan dengan menyebutkan alasannya. Permohonan yang ditolak , dapat diajukan kembali setelah perusahaan memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam alasan penolakan. Kepala Kantor Pelayanan Utama atas nama Direktur Jenderal berwenang secara jabatan menetapkan status perusahaan sebagai MITA tanpa permohonan dari perusahaan tersebut sepanjang memenuhi persyaratan tersebut diatas. MITA wajib:

a). menyampaikan pemberitahuan pabean impor atau ekspor secara elektronik; b). tidak memberikan dan/atau meminjamkan modul importir kepada pihak/perusahaan lain; c). melaporkan kehilangan dan/atau penyalahgunaan modul importir pada kesempatan pertama; d). memberitahukan perubahan nama-nama PPJK yang diberi kuasa kepada kepala kantor; dan e). menyampaikan nama pegawai perusahaan yang ditunjuk untuk berhubungan dengan Client Coordinator. MITA wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh instansi teknis terkait sebelum menyampaikan PIB.

Teknis Kepabeanan

2)

PEMBERTAHUAN PENDAHULUAN (PRENOTIFICATION)

Importir dapat menyampaikan pemberitahuan pendahuluan dengan mengajukan PIB:

a). sebelum dilakukan pembongkaran barang impor bagi Importir MITA Prioritas tanpa harus mengajukan permohonan ; b). paling cepat 3 (tiga) hari kerja sebelum dilakukan pembongkaran barang impor bagi importir lainnya setelah mendapatkan persetujuan Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya; Pelayanan PIB dilaksanakan menurut ketentuan penyelesaian barang impor untuk dipakai sesuai tatakerja penyelesaian barang impor yang berlaku . Dalam hal PIB ditetapkan jalur merah dan pemeriksaan fisik barang tidak dapat dilakukan dalam waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM dengan alasan barang impor belum bongkar, dilakukan pemblokiran terhadap importir yang bersangkutan.

3)

PELAYANAN SEGERA

Untuk mendapatkan pelayanan segera, Importir mengajukan:

a). Dokumen Pelengkap Pabean dan jaminan sebesar Bea Masuk, Cukai, dan PDRI. b). PIBK dilampiri Dokumen Pelengkap Pabean dan bukti pembayaran atau jaminan sebesar Bea Masuk, Cukai, dan PDRI, sepanjang importasi dilakukan oleh orangperorangan dan tidak untuk diperdagangkan. Pelayanan segera dimaksud hanya dapat diberikan terhadap importasi:

a). organ tubuh manusia antara lain ginjal, kornea mata, atau darah; b). jenazah dan abu jenazah; c). barang yang dapat merusak lingkungan antara lain bahan yang mengandung radiasi; d). binatang hidup; e). tumbuhan hidup; f). surat kabar, majalah yang peka waktu; g). barang berupa dokumen;

Teknis Kepabeanan

Penyampaian Dokumen Pelengkap Pabean atau PIBK dimaksud dapat dilakukan secara elektronik atau secara manual. Terhadap importir yang mempunyai frekuensi impor dengan pelayanan segera relatif tinggi dapat

menaruh jaminan yang besarnya tidak kurang dari seluruh BM, Cukai, dan PDRI yang terutang atas barang impor yang dikeluarkan dengan beberapa Dokumen Pelengkap Pabean atau PIBK pada periode tertentu. Untuk menyelesaikan importasi dengan pelayanan segera dengan menggunakan Dokumen Pelengkap Pabean, Importir wajib mengajukan PIB definitif sesuai tatakerja penyelesaian barang impor yang berlaku dengan mendapatkan penetapan Jalur Hijau tanpa diterbitkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal pengeluaran barang impor. Dalam hal kewajiban sebagaimana dimaksud diatas tidak dipenuhi:

a. jaminan dicairkan;

b. importir dikenai sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10B ayat (6) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006; dan

c. kemudahan pelayanan segera untuk dan atas nama Importir yang bersangkutan hanya dapat diberikan lagi setelah importir menyelesaikan kewajibannya.

Pelayanan segera terhadap barang impor berupa barang yang dapat merusak lingkungan, tumbuhan hidup dan tumbuhan hidup, hanya dapat diberikan apabila telah mendapatkan izin dari instansi teknis.

4)

PENGELUARAN

MENGGUNAKAN JAMINAN (VOORUITSLAG)

BARANG

IMPOR

UNTUK

DIPAKAI

DENGAN

Barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor untuk dipakai dari Kawasan Pabean, Tempat Penimbunan Sementara (TPS), atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan TPS, setelah dokumen pelengkap pabean dan jaminan diserahkan ke kantor pabean. Pengeluaran barang impor tersebut diberikan terhadap importir yang telah me ngajukan permohonan untuk memperoleh fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk, bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dan/atau cukai, dan atas permohonan dimaksud belum diterbitkan keputusan mengenai pemberian fasilitas

Teknis Kepabeanan

tersebut. Terhadap barang impor untuk keperluan penanggulangan bencana

alam dapat dikeluarkan sebelum pengajuan permohonan . Dalam hal barang impor merupakan barang larangan atau pembatasan,

barang impor tersebut dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean, TPS, atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan TPS, sepanjang telah dipenuhi ketentuan impor barang larangan atau pembatasan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. Jaminan yang diserahkan atas pengeluaran barang impor dimaksud sebesar bea masuk, bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dan/atau

cukai yang terutang.

Jaminan yang diserahkan dapat berbentuk :

a). uang tunai;

b). jaminan bank; c). jaminan dari perusahaan asuransi (Customs Bond); atau

d). jaminan lainnya. Untuk mendapatkan persetujuan pengeluaran, importir mengajukan

surat permohonan kepada kepala kantor pabean dengan menyebutkan alasannya. Kepala kantor pabean memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan tersebut. Dalam hal permohonan disetujui, kepala kantor pabean menerbitkan

surat keputusan tentang persetujuan pengeluaran barang impor untuk dipakai dengan menggunakan jaminan. Dalam hal permohonan ditolak, kepala kantor

pabean memberikan surat penolakan dengan menyebutkan alasannya. Pemberitahuan pabean impor disampaikan dalam jangka waktu paling

lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diserahkannya dokumen pelengkap pabean. Jangka waktu dimaksud dapat diberikan perpanjangan paling lama 30 (tiga puluh) hari oleh kepala kantor pabean. Dalam hal jangka waktu dimaksud masih diperlukan perpanjangan, importir wajib mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk.

Perpanjangan jangka waktu diberikan paling lama 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang lagi. Bea masuk, bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dan/atau cukai yang terutang wajib dibayar paling lama pada tanggal pendaftaran

pemberitahuan pabean. Importir yang tidak menyelesaikan kewajiban berupa

Teknis Kepabeanan

menyampaikan pemberitahuan pabean dan membayar bea masuk, bea

masuk dan pajak dalam rangka impor, dan/atau cukai, sesuai dengan jangka waktu yang diizinkan , wajib membayar :

a). bea masuk, bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dan/atau cukai yang terutang;

b) sanksi administrasi berupa denda sebesar 10% (sepuluh persen) dari bea masuk yang wajib dilunasi dan bunga sebesar 2% (dua persen) perbulan dari pajak dalam rangka impor yang wajib dilunasi. Terhadap pengeluaran barang impor yang permohonan pembebasan

atau keringanannya ditolak dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) per

bulan dari bea masuk dan cukai yang wajib dilunasi yang dihitung sejak tanggal penyerahan dokumen pelengkap pabean.

5)

PENIMBUNAN

BARANG

IMPOR

DI

GUDANG

ATAU

LAPANGAN

IMPORTIR DI LUAR KAWASAN PABEAN

 

Penimbunan barang impor dapat dilakukan di gudang atau lapangan importir di luar Kawasan Pabean setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pabean atau pejabat yang ditunjuknya, dalam hal :

a). keadaan darurat (force majeur);

 

b). sifat barang yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga tidak dapat ditimbun di TPS di Kawasan Pabean;

c). kongesti yang dinyatakan secara tertulis oleh pihak terkait/berwenang; dan/atau

d). alasan lainnya berdasarkan pertimbangan Kepala Bidang Pelayanan Pabean dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya, dan tempat tersebut memenuhi syarat untuk dilakukan penimbunan.

6)

PEMERIKSAAN

BARANG

IMPOR

DI

GUDANG

ATAU

LAPANGAN

PENIMBUNAN MILIK IMPORTIR

Pemeriksaan barang impor di gudang atau lapangan penimbunan milik Importir dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Kepala Kantor

Pabean atau pejabat yang ditunjuknya. Persetujuan dimaksud sekaligus

Teknis Kepabeanan

merupakan izin untuk menimbun barang impor di gudang atau lapangan penimbunan milik Importir yang bersangkutan. Penyelesaian pemeriksaan barang impor dilakukan sesuai tatakerja penyelesaiaan barang impor pada umumnya.

7)

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN DAN PENGAMBILAN CONTOH UNTUK PEMBUATAN PEMBERITAHUAN IMPOR BARANG

Pemeriksaan pendahuluan dan pengambilan contoh untuk pembuatan PIB dapat dilakukan dalam hal importir tidak dapat menetapkan sendiri tarif dan/atau penghitungan nilai pabean sebagai dasar untuk penghitungan Bea Masuk, Cukai, dan PDRI, karena uraian barang dan/atau rincian nilai pabean yang tercantum dalam dokumen pelengkap pabean tidak jelas. Untuk mendapatkan persetujuan pemeriksaan pendahuluan dan pengambilan contoh, importir mengajukan permohonan kepada Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya.

8)

PEMBERITAHUAN IMPOR BARANG BERKALA

Kepala Kantor Pabean atau pejabat yang ditunjuk dapat memberikan kemudahan dengan PIB Berkala untuk penyelesaian barang impor yang telah dikeluarkan terlebih dahulu dengan menggunakan Dokumen Pelengkap Pabean dan jaminan dalam periode paling lama 30 (tiga puluh) hari. Kemudahan sebagaimana dimaksud diberikan kepada Importir yang mengimpor barang:

a). yang diimpor dalam frekuensi impor yang tinggi serta perlu segera digunakan; b). yang diimpor melalui saluran pipa atau jaringan transmisi; atau c). yang berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal dapat diberikan kemudahan PIB Berkala. Importir wajib menyerahkan PIB Berkala dan bukti pembayaran bea masuk, cukai, dan pajak dalam rangka impor atas seluruh importasi pada periode bersangkutan dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak tanggal jatuh tempo.

Teknis Kepabeanan