Anda di halaman 1dari 11

CSR Pertambangan Mengamankan Investasi Jangka Panjang http://www.108csr.com/home/top_story.php?id=445 2012-04-11 12:37:08 ilustrasi lokasi penambangan (ist/doc) 108CSR.

com - Corporate Social Responsibility dinilai sangat penting diterapkan diperusahaan pertambangan, bahkan kerangka keberlanjutan operasional perusahaan dengan serangkaian kegiatan CSR disejumlah daerah diarahkan kedalam sebuah peraturan daerah yang ditetapkan bersama antara pemerintah daerah dan perusahaan penambangan. Seperti yang ada pada rancangan Perda tambang di Samarinda yang sepakat dana CSR perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Samarinda mengeluarkan minimal 2 persen dari total jumlah produksi pertahunnya . Tidak hanya di Samarinda, Dinas energi dan sumber daya mineral (DESDM) Bungo juga mengajukan pembuatan peraturan daerah (Perda) tentang CSR kepada DPRD dalam waktu dekat. Menurut Kepala DESDM Bungo, HM Hidayat kepada wartawan bahwa rencana tersebut dicetuskan karena melihat kenyataan di lapangan saat ini program CSR itu belum berjalan dengan baik dan terkoordinir. Dipaparkannya, sebelum diajukannya pembuatan perda, terlebih dahulu melalui pihaknya, pemda Bungo akan melakukan kerjasama yang akan dicetuskan dengan penandatanganan Momerendum of Undestanding (MoU) dengan perusahaan pertambangan agar dana CSR cepat terarah dengan baik. "Dalam minggu depan MoU ini harus sudah ditandatangani. Acara akan dilaksanakan di kantor Bupati. Saya juga telah minta agar semua pimpinan perusahaan yang menandatanganinya nanti," ujarnya. Kata Hidayat lagi, pada program CSR ini, dirinya mengharapkan perusahaan menyalurkan bantuan itu untuk bidang pertanian.Hal ini dipandangnya sangat memberikan dampak yang besar bagi masyarakat banyak ketimabang memberikan bantuan kepada perorangan. "Saya inginnya perusahaan menyalurkannya untuk bidang pertanian seperti pembuatan jalan pertanian, pembibitan karet dan sawit dan lainnya," tutur Hidayat. Ditanya berapa perkiraan dana CSR dari perusahaan tambang di Bungo saat ini? Hidayat mengaku dana tersebut sangatlah besar jika memang berjalan dengan baik dan terkoordinir. "Untuk tahun ini dari estimasi kita, dana CSR yang diambil sebesar dua persen dari penghasilan murni perusahaan, jumlahnya capai puluhan miliar rupiah, inikan sangat besar," tambahnya lagi. "Pengelolaannya perusahaan itu langsung, kita cukup laporannya saja. Tapi kita akan bentuk kelompok kerjanya. Sementara ini kita juga memprioritaskan untuk kecamatan terlebih dahulu yakni, Jujuhan, Rantau Pandan, Muko-muko dan Pelepat," pungkasnya.

Sementara itu staf ahli bidang pembangunan Khairul Saleh yang mengikuti pertemuan di kantor DESDM kemarin menyambut dengan baik rencana tersebut. Pengembangan Komoditas Kopi di Wamena dan Moena Mani Kemitraan dengan USAID-AMARTA (ist/108CSR.com) "Ini baru pertamakalinya rencana memperdakan CSR di Bungo dan mungkin juga di provinsi Jambi.Manfaatnya sangat besar, jadi pemda Bungo sangat mendukung program ini," kata Khairul Saleh. Kepala bagian CSR PT NTC Heru Subroto yang dimintai tanggapannya usai mengikuti rapat menyambut baik rencana pemda Bungo itu.Pihaknya mengaku siap untuk bekerjasama dengan baik. "Sebelumnya kita juga sangat sulit untuk merealisasikan program CSR ini karena tidak memili data valid, sementara untuk mengajak instansi pemerintahan itu cukup sulit.Intinya kita sangat mendukung ini," ujar Heru. Ya, CSR memang sangat penting guna mengamankan investasi jangka panjang.Meskipun perusahaan memiliki kekuatan hukum (kontrak karya maupun PKP2, dari ESDM dan Ijin Pinjam Pakai dari Departemen Kehutanan) namun dalam beberapa hal memperoleh gangguan/klaim (ganti rugi) yang sulit dipecahkan, apalagi terkait dengan isu lingkungan hidup. Perusahaan harus mengoordinasikan dan mengaktifkan peran antar depertemen terkait dengan safetyhealth and environment departement memprogramkan CSR yang diimplementasikan melalui pemberdayaan masyarakat. Hingga kini omplementasi CSR oleh perusahaan tambang dapat dilakukan secara bertahap dengan memerperhatikan wawasan pemahaman masyarakat terhadap perusahaan, tingkat tekanan (tuntutan) akan kompensasi atas dampak negatif operasional tambang dan kesiapan manajemen. Tripple Bottom Line (profit, people and Planet) yaitu keseimbangan antara menciptakan keuntungan, harus seiring dan sejalan selaras dengan fungsi-fungsi sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup demi terwujudnya pembangunan yang berkesinambungan. Tiga hal dasar (pondasi) kepentingan dalam penerapan program CSR sebagai suatu upaya menciptakan kesinambungan operasional perusahaan (perusahaan memperoleh keuntungan), masyarakat sekitar memperoleh manfaat sosial ekonomi dan kelestarian lingkungan/sumberdaya alam tercipta. (ard/int)

8. KELEMBAGAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DI WILAYAH PERTAMBANGAN Murdiyanto http://reklatam.ipb.ac.id/?p=252 Staf Ahli Pusdi Reklatam,FakultasEkologi Manusia, IPB ABSTRAK CSR sangat penting di terapkan perusahaan pertambangan, dalam kerangka keberlanjutan operasional perusahaan dan mengamankan investasi jangka panjang.Meskipun perusahaan memiliki kekuatan hukum (kontrak karya maupun PKP2, dari ESDM dan Ijin Pinjam Pakai dari Departemen Kehutanan) namun dalam beberapa hal memperoleh gangguan/klaim (ganti rugi) yang sulit dipecahkan, apalagi terkait dengan isu lingkungan hidup. Perusahaan harus mengoordinasikan dan mengaktifkan peran antar depertemen terkait dengan safetyhealth and environment departement memprogramkan CSR yang diimplementasikan melalui pemberdayaan masyarakat. Implementasi CSR oleh perusahaan tambang dapat dilakukan secara bertahap dengan memerperhatikan wawasan pemahaman masyarakat terhadap perusahaan, tingkat tekanan (tuntutan) akan kompensasi atas dampak negatif operasional tambang dan kesiapan manajemen. Tripple Bottom Line (profit, people and Planet) yaitu keseimbangan antara menciptakan keuntungan, harus seiring dan sejalan selaras dengan fungsi-fungsi sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup demi terwujudnya pembangunan yang berkesinambungan. Tiga hal dasar (pondasi) kepentingan dalam penerapan program CSR sebagai suatu upaya menciptakan kesinambungan operasional perusahaan (perusahaan memperoleh keuntungan), masyarakat sekitar memperoleh manfaat sosial ekonomi dan kelestarian lingkungan/sumberdaya alam tercipta. Sehingga realisasi program SCSR dalam bentuk pengembangan masyarakat (Community Development) diarahkan untuk tiga tujuan antara lain : 1. Menciptakan hubungan positif antara perusahaan dan masyarakat sekitar tambang; 2. Masyarakat dapat merasakan manfaat langsung atas hadirnya perusahaan tambang; dan 3. Membantu pemerintah dalam pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar wilayah operasional tambang.

Perusahaan Tambang Mesti Tingkatkan Program CSR Heriyonohttp://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=5745 heriyono@majalahtambang.com Jakarta-TAMBANG.Menteri ESDM Jero Wacik mengajak perusahaan tambang, baik itu mineral/batubara maupun migas, untuk meningkatkan program kepedulian sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).Program CSR sangat bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar yang masih masuk kategori miskin (pro poor). Wacik mengatakan, program CSR merupakan bagian kecil dari keuntungan perusahaan. Tidak mungkin perusahaan menjadi bangkrut bila menambah dana CSR-nya, kata dia, di sela acara turnamen golf yang digelar Majalah Tambang, di Jakarta, Minggu (27/5). Menurut Wacik, CSR kini telah menjadi prioritas utama para pemimpin perusahaan di setiap negara, termasuk Indonesia. Hal ini karena CSR telah menjadi perhatian dari kalangan pemerintah, aktivis, media, pemimpin masyarakat, karyawan perusahaan hingga para akademisi.Fenomena ini menandakan bahwa CSR merupakan hal penting dalam aktivitas perusahaan di suatu wilayah tertentu. Keberhasilan sebuah negara atau daerah dalam memajukan dan menyejahterakan penduduknya hanya dapat terwujud jika seluruh komponen masyarakat ikut ambil bagian, termasuk partisipasi real dari perusahaan yang beroperasi di sebuah wilayah tertentu, ujarnya. Wacik menjelaskan, CSR adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

http://journal.aktfebuinjkt.ac.id/?page_id=213

Dimana CSR Perusahaan-perusahaan Tambang di Pangkep? http://wacanademokrasi.blogspot.com/2011/12/dimana-csr-perusahaan-perusahaan.html Pangkep sering sekali disebut-sebut sebagai daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, karena mulai dari daratan, pegunungan sampai daerah kepulauan dan lautan yang sangat luas, bahkan, beberapa pulau terluar yang masuk sebagai pulaunya Pangkep berada dekat dengan kepulauan NTB dan Kalimantan. Kekayaan sumber daya alam Pangkep tersebut dimanfaatkan oleh pengusaha untuk di eksploitasi.Beberapa kekayaan alam Pangkep yang menyimpan tanah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat semen di ambil alih oleh Tonasa.Gunung-gunung yang mengandung marmer diambil oleh puluhan perusahaan marmer yang ada di Pangkep.Belum lagi tambang galian C yang juga marak di Pangkep. Industrialisasi perusahaan tambang yang marak di Pangkep menjadikan Pangkep strategis sebagai daerah industry.Namun hal tersebut tidak cukup untuk mengatakan bahwa Pangkep masuk sebagai daerah yang maju.Karena sejak berdirinya Tonasa dan berdirinya berbagai perusahaan tambang di Pangkep, Pangkep masih seperti dulu, bahkan kini dari data BPS, Pangkep justru masuk sebagai daerah tertinggal. Peran perusahaan-perusahaan tambang tidak banyak mengubah nasib penduduk Pangkep. Memang benar perusahaan tersebut menyerap tidak sedikit penduduk local untuk bekerja di perusahaannya, namun persoalan Pangkep bukan hanya terletak pada banyak sedikitnya karyawan yang diserap, namun bagaimana masyarakat secara umum apalagi yang tidak bekerja di perusahaan tersebut merasakan hasil dari sumber daya alam mereka yang dieksploitasi. Perusahaan-perusahaan tambang tersebut sesungguhnya dibebani kewajiban CSR (corporate social responsibility).Bahkan CSR tersebut tidak dipatok harus direalisasikan dalam bentuk apapun. Namun, kewajiban CSR tak lain mengarah pada masyarakat disekitar tambang, dan lingkungan yang telah di eksploitasi. Masyarakat disekitar tambang yang terkena dampak langsung dari pencemaran tambang masuk sebagai kewajiban perusahaan untuk mensejahterakannya, bukan hanya berkewajiban merekrut mereka untuk menjadi karyawan namun bagaimana menanggulangi pencemaran yang terjadi akibat tambang. CSR juga adalah kewajiban perusahaan untuk menanggulangi kerusakan alam yang terjadi akibat dari aktifitas tambang.Bukan membiarkan alam yang telah diambil tanahnya, atau yang telah diambil marmernya menjadi area yang tidak lagi dapat difungsikan.Bahkan terkesan lokasi yang telah dijadikan areal tambang seperti lokasi mati.Namun bagaimana melakukan penghijauan dan pembenahan kembali, agar dapat bermanfaat secara umum bagi masyarakat setelah perusahaan tersebut tidak beroperasi lagi. Ada beberapa peraturan yang mewajibkan perusahaan untuk menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, tergantung dari bidang usahanya masing-masing.diantarnya:

1. Keputusan Menteri BUMN/ Per-05/MBU/2007, Tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam Kepmen ini, Pasal 1 ayat 6 dijelaskan bahwa Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil, yang selanjutnya disebut Program Kemitraan, adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Sedangkan pada pasal 1 ayat 7 dijelaskan bahwa Program Bina Li ngkungan, yang selanjutnya disebut Program BL, adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun ruang lingkup bantuan Program BL BUMN, berdasarkan Permeneg BUMN, Per-05/MBU/2007 Pasal 11 ayat (2) huruf e adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Bantuan korban bencana alam; Bantuan pendidikan dan/atau pelatihan; Bantuan peningkatan kesehatan; Bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum; Bantuan sarana ibadah; Bantuan pelestarian alam.

2. Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 Dalam pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 dijelaskan. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran, Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah. 3. Undang-undang Penanaman Modal, Nomor 25 Tahun 2007 Undang-undang ini berlaku bagi penanaman modal dalam negeri, maupun penanaman modal asing. Dalam Pasal 15 (b) dinyatakan bahwa "Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan."

Sanksi-sanksi terhadap badan usaha atau perseorangan yang melanggar peraturan, diatur dalam Pasal 34, yaitu berupa sanksi administratif dan sanksi lainnya, diantaranya: Peringatan tertulis pembatasan kegiatan usaha pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal. 4. Undang-undang Minyak dan Gas Bumi, Nomor 22/2011 Khusus bagi perusahaan yang operasionalnya mengelola Sumber Daya Alam (SDA) dalam hal ini minyak dan gas bumi, terikat oleh Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi, disebutkan pada Pasal 13 ayat 3 (p),: Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memuat paling sedikit ketentuanketentuan pokok yaitu: (p) pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat.Selain beberapa peraturan di atas, juga ada Guidance Standard on Social Responsibility ISO 26000. Seringkali perusahaan tambang di Pangkep melupakan kewajibannya terkait dengan CSR. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang tidak menerapkan CSR, sedangkan kerusakan alam dan pencemaran terjadi di depan mata mereka. Tidak sedikit masyarakat mengeluh dan mengadu akibat pencemaran yang terjadi di sekitar rumah tempat tinggal mereka, namun pemerintah yang seyogianya menjadi penghubung, penengah dan pengayom masyarakat seringkali lebih memilih berpihak pada pengusaha. Berbagai dialog yang digelar guna menghubungkan suara rakyat dengan pihak pengusaha dan juga pemerintah berlalu begitu saja, tanpa perilaku berarti dari pihak perusahaan maupun pemerintah untuk mengurangi persoalan yang ada. Sedangkan bila dikaji lebih jauh, hadirnya CSR sesungguhnya menguntungkan pihak perusahaan sendiri.Karena selain berfungsi untuk memberikan asas manfaat bagi masyarakat, CSR juga sesungguhnya diharapkan mampu menjadi acuan untuk menjaga hubungan harmonis antara perusahan dengan masyarakat di sekitar tambang.Karena bukan tidak mungkin banyak protes dari masyarakat terkait aktifitas tambang.CSR sesungguhnya diperlukan oleh perusahaan untuk memberikan timbal balik dari kerusakan di sekitar rumah mereka akibat tambang. Disisi lain realisasi CSR tidak tepat sasaran. Masyarakat yang seharusnya mendapatkan manfaat dari CSR sering kali justru tidak tersentuh. Pengelolaannya pun tidak transparan, tidak dikelola secara maksimal, berapa yang masuk ke PAD Pangkep, berapa yang dalam bentuk bantuan langsung untuk masyarakat sekitar tambang, berapa yang direalisasikan dalam bentuk kesehatan dan berapa untuk pendidikan, semuanya terkesan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Belakangan, masyarakat lebih tau jumlah CSR dalam bentuk Milyaran yang tidak terealisasi, dan yang sudah masuk ke PAD.Yang paling miris, beberapa

waktu lalu BPK merilis tunggakan pajak beberapa perusahaan tambang di Pangkep yang nilainya mencapai puluhan milyar rupiah. Seringkali pula CSR direalisasikan bukan pada tempatnya. Masyarakat sekitar tambang butuh terhindar dari pencemaran akibat tambang, butuh lingkungan hijau, justru dari informasi yang penulis terima CSR direalisasikan dalam bentuk lain. Seharusnya yang lebih penting dari implementasi CSR tersebut adalah pada hal-hal mendasar yang dibutuhkan masyarakat Pangkep, terutama pendidikan dan kesehatan.Selanjutnya mengatasi pencemaran yang terjadi akibat tambang. Ironisnya, kondisi Pangkep hari ini tidak menjadi tumpuan pemerintah daerah untuk mendorong transparansi CSR perusahaan-perusahaan tambang di Pangkep, dalam upaya memberikan timbal balik dari kerusakan alam yang telah mereka lakukan kepada masyarakat disekitar tambang.Menekan perusahaan untuk turut serta memperbaiki Pangkep dari ketertinggalannya.Sebaliknya, pemerintah terkesan diam, dan terlena dengan persoalan-persoalan yang kurang menyentuh masyarakat Pangkep secara umum.

Elisabet Inge Mawarani, 2010, http://eprints.upnjatim.ac.id/722/1/file1.pdf Pengaruh Pengungkapan CSR terhadap Profitabilitas Perusahaan Pertambangan di BEI. Kesimpulan: Tingginya tingkat CSR perusahaan tambang tidak dapat meningkatkan besarnya ROA pada perusahaan tambang dan semakin besarnya biaya CSR yang digunakan pada perusahaan tambang mengurangi return yang diterima perusahaan tambang

CSR Dalam Industri Pertambangan 28/04/2012 in pertambangan/ Materi http://mazda4education.wordpress.com/2012/04/28/csr-dalam-industri-

Sebagai salah satu sektor industri utama dalam tatanan ekonomi global, industri pertambangan dalam banyak kasus memiliki posisi dominan dalam pembangunan sosio-ekonomi negara maju dan berkembang.Sektor industri ini berdampak sangat signifikan dalam arti positif maupun negatif.Tanpa menafikan dampak positifnya, dampak negatif dalam ranah sosial, lingkungan, politik dan budaya yang ditimbulkan sektor industri ini sangat luar biasa.Dampak negatif tersebut cenderung membesar di negara-negara berkembang atau di negara-negara yang menghadapi kendala ketidakefektifan sistem pemerintahan, ketiadaan regulasi (dan perundangan) yang memadai serta tingginya gejolak sosialpolitik. Kondisi di atas akan menjadi situasi buah simalakama bagi perusahaan pertambangan yang berupaya memperbaiki kinerja sosial, ekonomi dan lingkungan mereka. Upaya-upaya perbaikan kinerja multiaspek serta strategi pemenuhan tuntutan yang absah dari para pemangku kepentingan akan menjadi tantangan yang sangat berat untuk bisa diwujudkan oleh perusahaan pertambangan di dalam atmosfer sosial, politik, budaya dan hukum yang tidak mendukung (Yakovleva, 2005). Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang RI No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 67, Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan / atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 68, setiap orang yang melakukan usaha dan / atau kegiatan wajib : (a) memberikan informasi yang tekait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka dan tepat waktu, (b) menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup, dan (c) mentaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan / atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Dalam undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam menjalankan kegiatannya wajib untuk menjaga dan memelihara kelangsungan lingkungan hidup. Kasus kerusakan lingkungan di lokasi penambangan timah inkonvensional di pantai Pulau BangkaBelitung dan tidak dapat ditentukan siapakah pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi karena kegiatan penambangan dilakukan oleh penambangan rakyat tak berizin yang mengejar setoran pada PT. Timah.Tbk. Sebagai akibat penambangan inkonvensional tersebut terjadi pencemaran air permukaan laut dan perairan umum, lahan menjadi tandus, terjadi abrasi pantai, dan kerusakan laut (Ambadar, 2008). Contoh lain adalah konflik antara PT Freeport Indonesia dengan rakyat Papua. Penggunaan lahan tanah adat, perusakan dan penghancuran lingkungan hidup, penghancuran perekonomian, dan pengikaran eksistensi penduduk Amungme merupakan kenyataan pahit yang harus diteima rakyat Papua akibat keberadaan operasi penambangan PT. Freeport Indonesia. Bencana kerusakan lingkungan hidup dan komunitas lain yang ditimbulkan adalah jebolnya Danau Wanagon hingga tiga kali (20 Juni 1998; 20-21 Maret 2000; 4 Mei 2000) akibat pembuangan limbah yang sangat besar kapasitasnya dan tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan (Rudito dan Famiola, 2007).

Namun, ada juga industri pertambangan yang menjalankan kegiatannya dengan memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup sekitarnya. Misal PT Kaltim Prima Coal menunjukkan citranya sebagai perusahaan yang peduli terhadap komunitas sekitarnya melalui kesuksesannya dalam menjalankan program baik di bidang lingkungan, ekonomi, maupun sosial sehingga menerima penghargaan sebagai The Most Outstanding Recognition Awards dalam CSR Awards 2005 yang diselenggarakan oleh Surindo bekerjasama dengan Corporate Forum For Community Development (CFD) oleh majalah SWA dan Mark Plus (Anatan, 2006). Dalam perkembangan saat ini, ternyata tanggung jawab perusahaan tidak hanya terletak pada pencarian laba yang sebesar-besarnya.Perusahaan juga harus bertanggung jawab secara moral kepada stakeholder lainnya selain pemegang saham.Tanggung jawab moral tersebut lebih dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Konsep triple bottom line yang digagas oleh John Elkington semakin masuk ke dalam mainstream para pemimpin perusahaan (Suharto,2007). Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya.Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat.Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial (Kartini, 2009). Pelaksanaan tanggung jawab perusahaan telah dijelaskan dan diwajibkan sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 ayat 1, Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, dan ayat 3 yaitu Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Berarti pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan pertambangan merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat dihindari. Memang saat ini belum tersedia formula yang dapat memperlihatkan hubungan praktik CSR terhadap keuntungan perusahaan sehingga banyak kalangan dunia usaha yang bersikap skeptis dan menganggap CSR tidak memberi dampak atas prestasi usaha, karena mereka memandang bahwa CSR hanya merupakan komponen biaya yang mengurangi keuntungan. Praktek CSR akan berdampak positif jika dipandang sebagai investasi jangka panjang, karena dengan melakukan praktek CSR yang berkelanjutan, perusahaan akan mendapatkan tempat di hati dari masyarakat, bahkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan (Suharto,2007). Merujuk pada Saidi dan Abidin (2004), sedikitnya ada empat model atau pola CSR yang umumnya diterapkan oleh perusahaan di Indonesia, antara lain: keterlibatan langsung, melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan, bermitra dengan pihak lain, dan mendukung atau bergabung dengan konsorsium. Corporate social responsibility sebagai konsep akuntansi yang baru adalah transparansi pengungkapan sosial atas kegiatan atau aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan dimana transparansi informasi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan tetapi perusahaan

juga diharapkan mengungkapkan informasi mengenai dampak sosial dan lingkungan hidup yang diakibatkan aktivitas perusahaan (Rakiemah dan Agustia, 2008). Berarti dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan akan menimbulkan dampak-dampak sosial bagi sekitarnya tertutama lingkungan hidup. Isu mengenai kerusakan lingkungan adalah hal yang paling sering muncul dalam permasalahan ini.Terutama adalah kegiatan dari industri pertambangan.Sebagaimana kita ketahui, bahwa kegiatan utama dari indutri pertambangan adalah pengeksplorasian sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dampak dari kegiatan ini jelas sekali akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang tidak sedikit. Diperlukan waktu ratusan tahun untuk mengembalikan kondisi tersebut seperti semula.

http://etd.eprints.ums.ac.id/7534/1/B200060015.pdf