P. 1
Konsep Dasar Komunikasi

Konsep Dasar Komunikasi

|Views: 203|Likes:
Dipublikasikan oleh Gregrorius Krisna

More info:

Published by: Gregrorius Krisna on Jul 02, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2015

pdf

text

original

KONSEP DASAR KOMUNIKASI  PENGERTIAN Komunikasi adalah : • Proses saling bertukar informasi • Proses menghasilkan dan menyampaikan makna

Tindakan, oleh 1 orang atau lebih, yang mengirim pesan dan menerima pesan yang terdistrosi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.  KOMPONEN DALAM KOMUNIKASI 1. Source/encoder 2. Receiver/Decoder 3. Exchange of messages through verbal and nonverbal communication 4. Messages received are influenced by :     5. Knowledge Past Experiences Feeling Position within sociocultural system

Messages sent are influenced by : 1. 2. 3. 4. Knowledge Past Experiences Feeling Position within sociocultural system

CIRI DASAR KOMUNIKASI  Perlu lebih dari 2 orang  membina hubungan  Berlanjut  timbal balik  Orang yang berkomunikasi menerima & mengirim pesan  verbal dan non verbal  Komunikasi verbal dan non verbal terjadi bersamaan  Orang yang berkomunikasi  berespon terhadap pesan yang diterima  Makna pesan  dikirim dan diterima tidak selalu sesuai  Pertukaran pesan perlu pengetahuan  Pengalaman  mempengaruhi pesan yang dikirim penafsiran pesan  Dipengaruhi perasaan seseorang tentang dirinya, isi pesan dan penerima  Posisi seseorang dalam sistem sosial dan kultur BENTUK KOMUNIKASI  One to One  Kelompok Kecil (3 – 10 orang)  Kelompok besar (> 10 orang)

  

TIPE KOMUNIKASI Verbal Non Verbal :  Sentuhan  Kontak mata  Ekspresi muka  Postur tubuh  Penampilan fisik/umum  Cara berpakaian & kerapihan  Suara  Diam  Gestur  Gait/cara berjalan KOMUNIKASI DENGAN ANAK SESUAI TUMBANG  Bayi :  mengungkapkan kebutuhan dengan tingkah laku dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitarnya. Mis: menangis  Komunikasi non verbal : mengusap, menggendong, memangku, dll.  Toddler dan Pra Sekolah  Perkembangan bahasa anak meningkat scr bertahap  Eye level 1

 Memberitahu apa yang terjadi pada dirinya  Memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan digunakan  Bicara dengan orang tua  anak didekati bertahap  Hindari sikap mendesak untuk dijawab. Mis : jawab dong  Hindari konfrontasi langsung  salaman pada anak (hindari rasa cemas).  Bergambar atau bercerita bisa dengan boneka. Usia Sekolah  Gunakan kata sederhana yang spesifik  Jelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada anak  Jelaskan arti fungsi dan prosedur tindakan  Jangan menyakiti atau mengancam Usia Remaja  Berdiskusi atau curah pendapat sama teman sebaya  Hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu  Jaga kerahasiaan dalam komunikasi (masa transisi dalam bersikap dewasa).  Hindari menghakimi atau mengkritik  Hindari bertanya yang menyelidiki/interogasi  Mendengar, mendengar dan mendengar

Faktor-Faktor Yg mempengaruhi Komunikasi Dengan Anak  Pendidikan  Pengetahuan  Sikap  Usia Tukem  Status kes anak  Sistem sosial  Saluran  Lingkungan. TEKNIK BERKOMUNIKASI KREATIF DENGAN ANAK  Teknik Verbal  Pesan “saya”  Teknik orang ke tiga  Respons fasilitatif/respon pemicu  Bercerita Mimpi  Saling cerita  Biblioterapi  Pertanyaan “seandainya”  3 harapan/permintaan  Penggunaan skala  Bermain kata berkait  Pro dan kontra  Melengkapi kalimat  Teknik Non Verbal  Menulis  Menggambar  Sihir  Bermain

ATRAUMATIC CARE  LATAR BELAKANG  Bukan miniatur orang dewasa  Punya kebutuhan yang unik  Family Centre Care (pelayanan yang berpusat pada keluarga).  Tumbuh kembang anak dalam asuhan keperawatan  PENGERTIAN  Wong (1989)  atraumatic care adalah tindakan keperawatan terapeutik untuk menghilangkan atau meminimalkan distress fisik dan psikologik yang dialami anak dan keluarga dalam sistem pelayanan kesehatan.  Supartini (2004)  atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarganya, merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. 2

PRINSIP UTAMA  Mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dengan orangtua  Meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan pada anak  Mencegah atau meminimalkan cedera (injury) dan rasa nyeri (dampak psikologis)  Menghindari atau meminimalkan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri.  Mencegah atau menghindari beberapa distress fisik.  Mengontrol nyeri.  non farmakologi  farmakologi  Tidak melakukan kekerasan pada anak  Modifikasi lingkungan fisik

KONSEP KELUARGA DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK  PENGERTIAN  Duvall (1977) Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatakan dan mempertahankan budaya umum, meningkatkan perkembanagan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.  Bailon dan Maglaya (1978) Keluarga adalah kumpulan 2 orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. KARAKTERISTIK KELUARGA  Terdiri dari 2 atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.  Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika berpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.  Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing – masing mempunyai peran sosial: suami, istri, anak, kakak, adik.  Mempunyai tujuan; menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota TIPE KELUARGA  Tradisional  The nuclear family (keluarga inti)  The dyad family  Keluarga usila  The extended family  The single-parent family  Commuter family  Multigenerational family  Blended family  The single adult living alone/single-adult family Non Tradisional  The unmarried teenage mother  The stepparent family  Commune family  The non-marital heterosexual cohabiting family  Gay and lesbian families  Cohabitating family  Group-marriage family  Group network family  Foster family  Homeless family  Gang FUNGSI KELUARGA  Menurut Friedman (1992) :  Fungsi afektif dan koping  Fungsi sosialisasi  Fungsi Reproduksi  Fungsi Ekonomi  Fungsi Fisik  Fungsi keluarga, BKKBN (1992)  Fungsi keagamaan  Fungsi sosial budaya  Fungsi cinta kasih  Fungsi melindungi 3

 Fungsi reproduksi  Fungi sosialisasi dan pendidikan  Fungsi ekonomi  Fungsi pembinaan lingkungan  PERKEMBANGAN KELUARGA  Tahap I. Pasangan Baru (Keluarga Baru)  Tahap II. Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama)  Tahap III. Keluarga dengan Anak Prasekolah  Tahap IV. Keluarga dengan Anak Sekolah  Tahap V. Keluarga dengn Anak Remaja  Tahap VI. Keluarga dengan Anak Dewasa (Pelepasan)  Tahap VII. Keluarga Usia Pertengahan  Tahap VIII. Keluarga Usia Lanjut  Tahap II. Keluarga”Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama)  Persiapan menjadi orang tua  Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual dan kegiatan  Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan Tahap III. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah  Pembagian tanggung jawab anggota keluarga  Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak  Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman  Membantu anak untuk bersosialisasi  Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi  Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan Lingkungan sekitar)  Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot) Tahap IV. Keluarga dengan Anak Sekolah  Membantu sosialisasi anak: tetangga, sekolah dan lingkungan  Mempertahankan keintiman pasangan  Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga Tahap V. Keluarga dengan Anak Remaja  Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya  Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga  Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang. Hindari perdebatan, permusuhan dan kecurigaan.  Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga. TUGAS KESEHATAN KELUARGA  Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga. Ini ada hubungannya dengan kesanggupan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan pada setiap anggota keluarga.  Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, yang tidak dapat membantu diri karena cacat atau usianya terlalu muda  Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan. Ini menunjukkan pemanfaatan dengan baik akan fasilitas-fasilitas kesehatan.

PERAN PERAWAT KELUARGA  Pendidik  Koordinator  Pelaksana  Pengawas Kesehatan  Konsultasn  Kolaborasi  Fasilitator  Penemu Kasus 4

Modifikasi lingkungan

PENGKAJIAN KEPERAWATAN PADA ANAK  PENGERTIAN Pertumbuhan (Growth)  Perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu  kuantitatif  BB, PB/TB, Lingkar Kepala (LK), Lingkar Dada (LD)  Organ: otak, paru, Jantung, pencernaan, perkemihan, dll  Perkembangan  bertambahnya kemampuan (Skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan  kualitatif  sensori, motorik, sosial dan bahasa, koping, gambaran diri  PEMERIKSAAN FISIK  Dilakukan head to toe  walaupun pada anak – anak pemeriksaan dapat dirubah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak.  Dilakukan senyaman dan semenarik mungkin  Ditemani oleh orang tua  lebih kooperatif kecuali pada remaja lebih senang diperiksa sendiri.  Lakukan pemeriksaan di tempat yang tepat dan tidak berbahaya seperti:  gunakan ruangan yang pemeriksaannya baik, dekorasi dengan warna netral  suhu ruangan hangat dan nyaman  letakkan barang – barang yang asing dan menakutkan anak diluar area  Gunakan boneka atau mainan  Berikan privacy untuk anak usia sekolah dan remaja ANTROPOMETRI  Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros.  Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran.  Antropometri artinya ukuran dari tubuh. 

TAHAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK  Masa Prenatal  Germinal : konsepsi – 2 mgg  Embrio : 2 – 8 mgg  Fetal : 8 – 40 mgg  Masa Bayi  Neonatus : Lahir – 28 hari  Bayi : 1 – 12 bulan  . Masa anak – anak Awal ( 1- 5 thn)  Toddler : 1 – 3 tahun  Pra Sekolah : 3 - 5 tahun  Masa anak – anak tengah (6 – 12 tahun)  Masa anak – anak akhir (11 – 18 tahun)  Pre pubertas : 11 – 13 tahun  Remaja : 13 – 18 tahun  TAHAP PERKEMBANGAN FUNGSI MENTAL DAN PERSONALITY  TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL “SIGMUN FREUD” • FASE ORAL (0-1 Thn) • FASE ANAL ( 1-3 THN) : Fungsi tubuh yg memberi kepuasan berkisar sekitar anus • FASE PHALIC (3-6 Thn) : Memegang2 genitalia, dekat dengan ortu (lawan jenis) • FASE LATEN (6-12 Thn) : orientasi sosial ke luar rumah, banyak teman, impuls agresifitas lebih terkontrol. • FASE GENITAL (> 12 Thn) : intim dengan lawan jenis, penentuan identitas, bertanggung jawab pada diri sendiri, belajar tidak bergantung ortu  TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL “ERIK ERIKSON” • TRUST VS MISTRUST (0-1 thn) • AUTONOMY VS SHAME & DOUBT (1-3 thn) • INITIATIVE VS GUILT (4 -6 thn) • INDUSTRY VS INFERIORITAS (6 -12 thn) • IDENTITAS VS ROLE CONFUSION (12 – 18 thn)  TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF “PIAGET” • Tahap I : Sensorimotorik (0 – 2 thn) 5

• Tahap II : Pre operasional (2-7 thn) • Tahap III : Kongkrit Operasional (7 – 11 thn) • Tahap IV : Format Operasional ( 11 – dewasa) PENGUKURAN IQ  Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) o digunakan untuk 6 bln ke atas o digunakan tanpa membaca atau menulis o diukur kemampuan pemahaman verbal, penalaran perseptual, pengolahan kecepatan dan memori

Tes IQ Fisher-Price o digunakan untuk usia 6 bulan – 1 tahun o 10 pertanyaan untuk orangtua  membantu menentukan kecerdasan bayinya

Bayley Scales of Infant Development (BSID)  Digunakan untuk anak usia 1 – 42 bulan  mengukur kemampuan kognitif, motorik (halus dan kasar), bahasa (reseptif dan ekspresif) dan pengembangan perilaku balita  membantu mendiagnosa dan mengobati balita dengan cacat pertumbuhan dan keterbelakangan mental.  waktunya 45 – 60 menit DDST  DDST (Denver Development Screening Test)  salah satu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak.  mudah dan cepat (15 – 20 menit)  validitas tinggi  digunakan untuk anak usia 0 – 6 tahun

MDGs (Milennium Development Goals)  2000 – 2015  8 tujuan/indikator  menurunkan angka kematian anak (tujuan ke 4)

6

Menurunkan Angka Kematian • Kebijakan kesehatan anak di Indonesia difokuskan pada intervensi – intervensi layanan kesehatan :  Imunisasi (me  cakupan imunisasi campak)  MTBS (me  pelaksanaan strategi MTBS)  Gizi pada anak (menangani permasalahan gizi pada anak)  Penguatan peran keluarga  peningkatan akses layanan kesehatan (puskesmas) MASALAH KESEHATAN • Neonatus :  BBLR  Bayi lahir dengan ibu resiko tinggi  Bayi lahir dengan asfiksia  Bayi lahir dengan alat/operasi/ induksi  Bayi ikterus  Bayi Kejang  Bayi kelainan Bawaan • Anak Usia Sekolah :  Penyakit Infeksi: ISPA, penyakit kulit, infeksi telinga & cacingan  Masalah gizi : KKP, kekurangan Iodium, Anemia  Penyandang cacat

Kesehatan Jiwa o Emosional psikososial o Kehamilan remaja o Penyalahgunaan bahan berbahaya, rokok, NAPZA  Masalah sosial :  Drop out  Ketergantungan dan penyalahgunaan obat

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS)  LATAR BELAKANG • Tingginya Angka Kematian Bayi dan Balita merupakan salah satu faktor yang menentukan indikator Indeks Pembangunan Manusia di suatu wilayah. • Penyebab utama tingginya angka kematian tersebut antara lain pneumonia, malaria, diare, demam berdarah dengue dan gizi buruk  MTBS • Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita dengan peningkatan kualitas tata laksana secara terpadu melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di sarana kesehatan • Penerapan MTBS secara internasional telah diterapkan di 109 negara berkembang dan telah diakui oleh WHO sebagai salah satu upaya dalam bidang kesehatan yang memberikan dampak dalam upaya penurunan AK Bayi dan Balita APA ITU MTBS • Suatu PENDEKATAN keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit di fasilitas kesehatan tingkat dasar • Bukan program vertikal  TUJUAN MTBS • Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang terkait dengan penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar. • Memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak  TUJUAN MTBS • Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang terkait dengan penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar. • Memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak 7

• 

Kombinasi perbaikan tatalaksana kasus pada balita sakit (kuratif) dengan aspek gizi, imunisasi dan konseling (promotif dan preventif). Penyakit anak dipilih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan bayi dan anak balita. PELAKSANAAN MTBS • Tenaga kesehatan di unit rawat jalan tingkat dasar, yaitu: – Paramedis (perawat, bidan). – Dokter. • Bukan untuk rawat inap • Bukan untuk kader. KONTRIBUSI MTBS DALAM MENUJU INDONESIA SEHAT 2015 • Penghematan biaya • Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan • Rasionalisasi pemakaian obat • Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu/keluarga dalam perawatan di rumah • Mengoptimalkan pendayagunaan tenaga kesehatan • Meningkatkan rujukan kasus tepat waktu • Memperbaiki perencanaan dan manajemen kesehatan

8

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->