Anda di halaman 1dari 8

Hipertensi Pada Kehamilan

Ramang Napu, Rochmad Romdoni

I.

Pendahuluan

Hipertensi dalam kehamilan (HDK), adalah suatu keadaan yang ditemukan sebagai komplikasi medik pada wanita hamil dan sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin. Komplikasi hipertensi pada kehamilan terjadi kira-kira 5-10% dari semua kehamilan dan merupakan penyebab terpenting dari tingginya angka kematian pada ibu hamil termasuk abruptio placenta, intravascular koagulation.(DIC), perdarahan cerebral, gangguan fungsi hati dan ginjal akut, sedangkan pada janin akan mengakibatkan prematuritas, gangguan pertumbuhan intra utrine, aspiksia, dan kematian bayi. (1,2,3) Secara umum HDK dapat didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg yang diukur paling kurang 6 jam pada saat yang berbeda. (1,3 ) Dari beberapa hasil penelitian restropektif tentang hipertensi pada wanita hamil menunjukkan bahwa terapi anti hipertensi menurunkan insidens stroke dan komplikasi kardiovaskular pada wanita hamil dengan tekanan darah diastolik diatas 100 mmHg (4). Sebagai faktor predisposisi untuk timbulnya HDK adalah adanya riwayat keluarga, umur, primigravida , multigravida, diabetes, penyakit ginjal,dan penyakit kolagen (2,3,5) . Ada beberapa klasifikasi yang diajukan pada HDK, tetapi tidak ada satupun memuaskan . Hal ini disebabkan diagnosis sering ditegakkan restropektif (2,3). Klasifikasi ini penting diketahui untuk menentukan HDK karena berkaitan dengan prognosis dan penanganan. (3) Klasifikasi HDK yang paling banyak diterima adalah dari The National High Blood Pressure Education Program Working Group On High Blood Pressure In pregnancy ( National HBPEP) 2000 (6,7) Berdasarkan komplikasi yang ditimbulkan maka HDK harus diberikan terapi baik konservatif maupun farmakologis. Efek potensial yang merugikan terhadap ibu dan janin oleh karena pemberian obat-oabt anti hipertensi kadang-kadang masih menjadi kendala dalam masalah ini. (8,9) II. Klasifikasi The National High Blood Pressure Education Programme Working Group (HBPEP) 2000, membagi HDK dalam (6,10) : Gestitional Hipertensi Disebut juga hipertensi yang di induse oleh kehamilan. Hipertensi yang di deteksi pertama kali pada kehamilan > 20 minggu tanpa proteinuria,dan menghilang sebelum 12 minggu post partum. Hipertensi Kronik Didefinisikan sebagai kenaikkan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau diastolik > 90 mmHg sebelum kehamilan 20 minggu dan menetap setelah 12 minggu post partum. Pre Eklampsia Hipertensi yang di deteksi sesudah kehamilan 20 minggu disertai dengan proteinuria > 0,3 gr / 24 jam Eklampsia Pre eklampsia yang memburuk disertai kejang dan atau penurunan kesadaran yang bukan disebabkan oleh faktor lain Hipertensi Kronik dengan Super impose Pre eklampsia Didapatkan pada wanita dengan hipertensi kronik secara tiba-tiba takanan darah meningkat disertai proteinuria trombositopnia dan gangguan fungsi hati. Patofisiologi Selama kehamilan normal terdapat perubahan-perubahan dalam sistem kardiovaskuler, renal dan endokrin. Perubahan ini akan berbeda dengan respons patologi yang timbul pada HDK (1,11). Pada kehamilan trimester kedua akan terjadi perubahan tekanan darah, yaitu penurunan tekanan sistolik rata-rata 5 mmHg dan tekanan darah diastolik 10 mmHg, yang selanjutnya meningkat kembali dan mencapai tekanan darah normal pada usia kehamilan trimester ketiga (1,3,12) . Selama persalinan tekanan darah meningkat, hal ini terjadi karena respon terhadap rasa sakit dan karena meningkatnya beban awal akibat ekspulsi darah pada kontraksi uterus. Tekanan darah juga meningkat 4-5 hari post partum dengan peningkatan rata-rata adalah sistolik 6 mmHg dan diastolik 4 mmHg (1,12).

1. 2. 3. 4. 5.

III.

Pada keadaan istirahat, curah jantung meningkat 40% dalam kehamilan. Perubahan tersebut mulai terjadi pada kehamilan 8 minggu dan mencapai puncak pada usia kehamilan 20-30 minggu (1,3,12). Tahanan perifer menurun pada usia kehamilan trimester pertama. Keadaan ini disebabkan oleh meningkatnya aktifitas sistem renin angiotensin aldosteron dan juga sistem saraf simpatis. Penurunan tahanan perifer total disebabkan oleh menurunnya tonus otot polos pembuluh darah (3,12). Volume darah yang beredar juga meningkat 40% , peningkatan ini melebihi jumlah sel darah merah, sehingga hemoglobin dan viskositas darah menurun. Terjadi penurunan tekanan osmotik plasma darah yang menyebabkan peningkatan cairan ekstraseluler, sehingga timbul edema perifer yang biasa timbul pada kehamilan normal (11,12). Etiopatogenesis HDK belum jelas, multifaktorial dan dapat melibatkan berbagai sistem organ. (3,4) Ada beberapa hipotesis yang diajukan untuk menerangkan HDK antara lain : teori reaktifitas pembuluh darah,hipoperfusi uteroplacenta,konsep imunologis dan disfungsi endotel. (3,12) Pada reaktifitas pembuluh darah, kontriksi pembuluh darah merupakan tahanan bagi aliran darah dan menyebabkan hipertensi anterial. Pada preeklampsia terdapat peningkatan kepekaan terhadap hormon-hormon vasoaktif sehingga menimbulkan hipertensi . Keadaan ini mungkin disebabkan penurunan sintesis dan gangguan pelepasan hormon-hormon vasodilator seperti prostasiclin dan prostaglandin E2. (1,3) Curah jantung pada preeklampsia tidak meningkat seperti kehamilan normal, sehingga meningkatnya tekanan darah lebih disebabkan oleh meningkatnya tahanan perifer. (3,11,12) Hipoperfusi uteroplacental, timbul karena adanya ketidak seimbangan antara masa placenta dan aliran darah disertai kelainan trophoblastik. (3) Keadaan ini dapat terjadi bila masa plasenta relatif lebih besar seperti pada kehamilan kembar dan mola hidatidosa atau pada keadaan-keadaan dimana terdapat gangguan aliran darah pada uterus seperti diabetes dan hipertensi. Pada multipara diduga karena masa placenta yang super normal tidak seimbang dengan aliran darah. (3,4) Pada preeklamsia, placenta dapat menimbulkan reaksi imun yang abnormal. Konsep ini didukung oleh adanya antibodi maternal terhadap poli sakarida placenta, fraksi mikrosom dan sel-sel trophoblas. Masa placenta yang besar menimbulkan reaksi antigen yang tinggi dan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya preeklampsia seperti gameli, mosa hidatidosa, diabetes dan hidrosepalus.
(3,12)

Akhir-akhir ini patogenesis HDK dari aspek disfungsi endotel telah banyak dibicarakan dari berbagai laporan penelitian. (3,13,14) Disfungsi endotel menyebabkan penurunan produksi Nitric Oxida (NO), yang merupakan vasodilator poten dan menghambat agregasi platelet. Penurunan NO akan meningkatkan agregasi platelet, pelepasan trombosan A2 dan serotonin. (9) Serotonin menyebabkan peningkatan permiabilitas vaskuler dan serotonin juga menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi tergantung integritas sel endotel vaskular. Dalam keadaan normal reseptor serotonin (S1) endotel spesifik akan merespon serotonin dalam darah dengan akibat dilepaskannya prostasiklin dan NO oleh sel endotel sehingga terjadi vasodilatasi. (21) Sedangkan pada HDK yang ditandai dengan menghilangnya reseptor S1 endotel dan meningkatnya serotonin yang diproduksi oleh platelet 10 kali lebih tinggi dalam darah akan mengakibatkan serotonin hanya dapat bereaksi dengan reseptor S2 di otot polos vaskuler dan platelet yang menghasilkan vasokontriksi (4,9,13)

IV.

Penatalaksanaan Hipertensi Pada Kehamilan Secara umum tujuan tata laksana HDK dengan atau tanpa proteinuria adalah sama, yaitu untuk melindungi ibu dari berbagai komplikasi termasuk kardiovaskuler dan melanjutkan kehamilannya sampai persalinan yang aman. (2,16) Tata laksana ini meliputi pengelolaan secara umum dan khusus baik konservatif maupun dengan terminasi kehamilan . Pembahasan tata laksana disini akan lebih menekankan masalah tekanan darah, tentunya dengan mengetahui bahwa meningkatnya tekanan darah bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapai pada HDK. (16,20)

A. Tata Laksana Umum Diagnosis dini berdasar riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang cermat,pengamatan medis yang ketat , persalinan yang tepat waktunya menjadi yang penting pada pengelolaan HDK (5,12) Umumnya pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah hitung darah tepi lengkap, trombosit, elektrolit serum, asam urat, fungsi ginjal dan hati, hemotokrit dan penilaian dengan ultrasonografi , ECG,dan foto Thoraks. (2,12) Sekali diagnosis dibuat pengelolaan berikutnya harus berdasarkan pada evaluasi awal dari ibu dan janin, keputusan kemudian dibuat dengan perlu tidaknya masuk rumah sakit, penanganan yang diharapkan atau persalinan dengan memperhitungkan faktor-faktor beratnya proses penyakit, keadaan ibu dan janin serta lamanya kehamilan. (1,21) Semua wanita hamil dengan atau tanpa hipertensi harus dianjurkan melakukan latihan isotonik, cukup istirahat, meniadakan konsumsi garam berlebihan menghindari kafein, merokok, alkohol dan diet dengan makanan yang sehat dan seimbang. (8,14) 1. Indikasi Rawat Jalan (3,20) Dilakukan pada wanita hamil dengan risiko tinggi untuk berkembang menjadi HDK, kondisi ini termasuk tekanan darah yang tidak stabil, kenaikan berat badan > 2 kg/minggu, edema pada muka dan jari. (7) Penderita diharuskan melakukan pemeriksaan setiap minggu dengan pemantauan terhadap tekanan darah , gejala klinis, laboratorium ( trombosit, protein, asam urat) dan bila perlu pemeriksaan USG. Dalam kondisi ini dianjurkan untuk membatasi aktivitas di rumah dan tirah baring.

2.

Indikasi Masuk Rumah Sakit(20) Dianjurkan untuk perawatan dirumah sakit jika pada kehamilan didapatkan hal-hal sebagai berikut : Tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau diastolik > 90 mmHg, dengan gejala klinis proteinuria, trombosit < 100.000, USG menunjukkan aligohidroamunian atau gerakan janin yang in adequat. Setelah masuk rumah sakit dibuat keputusan apakah dilakukan terapi konservatif atau mengakhiri kehamilan.

3.

Indikasi Konservatif di rumah Sakit 20 Terapi konservatif dilakukan bila : Tekanan darah terkontrol ( sistolik < 140 mmHg, diastolik 90 mmHg, proteinuria < +2 ( 1 gr/hari), trombosit > 100.000 , keadaan janin baik (USG, Stress test) Faktor yang sangat menentukan terapi konservatif adalah umur kehamilan. Jika HDK disertai proteinuria berat dan kehamilan > 36 minggu maka terminasi kehamilan perlu dilakukan. (3,20) Apabila kehamilan < 36 minggu, maka dilakukan terapi konservatif jika : tekanan darah stabil < 150mmHg dan diastolik < 95 mmHg, proteinuria <+2, keadaan janin dan ketuban normal, trombosit > 100.000 (20)

4.

Indikasi Terminasi Kehamilan Bila selama terapi konservatif, ditemukan hal-hal dibawah ini maka dilakukan terminasi kehamilan. Dari Sudut Ibu (3,20)

Sakit kepala hebat, gangguan penglihatan Tekanan darah sistolik > 170 mmHg dan atau diastolik > 110 mmHg Oliguria < 400 ml/ 24 jam Fungsi ginjal dan hepar memburuk Nyeri epigartium berat, mual, muntah Suspek abruptio placenta Edema paru dan sianosis Kejang dan tanda-tanda perdarahan intracerebral pada eklampsia

Dari Sudut Janin (3) Pergerakan janin menurun Olygohidro amnion B. Pengobatan Medikamentosa Keuntungan pemakaian obat-obatan bagi ibu dengan HDK tidak dipertanyakan lagi. Dari sudut kepentingan janin banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara percobaan klinik. Walaupun diakui bahwa dengan penurunan tekanan darah akan mencegah dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan janin serta komplikasi kardiovaskuler, namun pilihan obat yang optimal masih harus ditentukan. Kapan wanita dengan HDK menggunakan obat-obat hipertensi masih ada perbedaan pendapat, namun tujuan dalam menurunkan tekanan darah telah disepakati dianggap optimal bila sistolik < 140 mmHg dan diastolik < 90 mmHg (20) Ada beberapa konsensus kapan kita menggunakan obat anti hipertensi pada HDK antara lain (20) A. Segera Bila tekanan darah sistolik > 169 mmHg dan diastolik > 109 mmHg dengan gejala klinis. Setelah observasi 1-2 jam Bila tekanan darah sistolik > 169 mmHg dan atau diastolik > 109 mmHg tanpa gejala klinis. Setelah observasi 24-48 jam Bila tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau diastolik > 89 mmHg sebelum kehamilan 28 minggu tanpa proteinuria Bila tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau diatolik > 89 mmHg pada wanita hamil dengan : Gejala klinis Proteinuria Disertai penyakit lain ( kardiovaskular, ginjal) Super imposed hipertension Bila tekanan darah sistolik > 149 mmHg dan atau diastolik > 94 mmHg Dalam konsensus yang lain.(dikutip dari 4 ) Bila tekanan sistolik > 160-180 mmHg Bila tekanan diastolik > 100-110 mmHg Terapi farmakologis bertujuan mempertahankan tekanan sistolik 140-160 mmHg dan diastolik 90-100 mmHg atau tekanan arteri rata-rata (TAR) < 125 mmHg, tidak lebih rendah dari 105 mmHg. Penurunan tekanan darah mendadak dibawah 140/80 mmHg harus dihindarkan.

B. C.

Pada HDK dalam kondisi Non severe hypertention di rekomendasikan (20)

A. Tujuan Terapi tekanan diastolik 80-90 mmHg B. Pilihan pertama adalah : Methyldopa Diberikan dalam dosis peroral 2-3 kali 250 mg, hingga mencapai tekanan darah optimal (3,14) C. Pilihan kedua adalah : 1. Labetalol Dosis awal peroral 2 x 100 mg 1 hari, dosis dapat dinaikkan setiap minggu tergantung respon. Dosis pemulihan 200-400 mg 2 x sehari 2. Nifedipine Dosis awal 10 mg 2 x sehari, dosis pemeliharaan 10-20 mg dua kali sehari D. E. Keadaan khusus ( kardiovaskuler, gagal ginjal) Diuretik Obat dihindari : ACE Inhibitor Angiotensin II reseptor antagonist

Pengelolaan pada HDK dengan Acute Severe Hypertension A. 1. Antihipertensi (15,17,20) Kalsium Antagonis ( Nifedipine oral ) Dosis awal 5-10 mg tiga kali/ hari Keadaan akut dimulai dengan dosis 10 mg dapat diulang 30-60 menit Bila perlu dapat diberikan tiap 4 jam dengan dosis maksimal 120 mg/ hari Efek akan tampak 10-15 menit dengan efek puncak 4-5 jam Efek samping biasanya : takikardi, sakit kepala , flushing. Dosis lebih rendah dipertimbangkan bila digunakan bersamaan dengan MgSO4 Hydralazine Intravena, dosis diawali 5 mg. Intramuskuler 10 mg dengan dosis maksimal 20 mg IV atau 30 mg IM Dapat diulang 15-30 menit bila perlu 4. B. Labetolol Intravena dimulai 10-20 mg Dapat diulang 15-20 menit Dosis maksimal 200-400 mg Kontra indikasi : AV block, ashma bronchiale Sodium Nitroprusside Intravena, infus dosis dimulai dengan 0,25 ug / kg BB / menit Dosis maksimal 5 ug / kg BB / menit

2.

3.

Anti Konvulsan Wanita dengan pre eklampsia atau eklampsia mempunyai risiko untuk kejang. Para penulis di Amerika Serikat telah menganjurkan bahwa Magnesium Sulfat (MgSO4) dapat diberikan profilaksis (14,18). Sebaliknya para penulis di negara lain memutuskan bahwa pencegahan yang adequat adalah menurunkan tekanan darah (7) . Lebih jauh hasil penelitian dengan skala besar akhir-akhir ini MgSO4 lebih superior dibanding phenitoin dan diazepam untuk pencegahan dan terapi kejang yang berulang pada wanita dengan eklampsia (18) Dosis MgSO4 yang digunakan adalah dosis awal 4 gr iv selama 3-20 menit, disusul 1 gr IM terbagi pada bokong kanan dan kiri, disusul dosis ulangan 5 gram IM tiap 6 jam hingga 24 jam pasca persalianan atau 24 jam bebas kejang. (18,20) C. Farmakologi Obat Antihipertensi Dalam Kehamilan

1. Metyldopa Merupakan obat paling banyak digunakan pada HDK sebab relatif murah dan aman. Obat ini merupakan pilihan untuk hipertensi kronik dalam kehamilan. Pada hipertensi berat dapat dikombinasi dengan obat lain (15,16) Untuk terapi jangka panjang methyldopa masih menjadi pilihan utama karena aman untuk neonatus dan bayi. Anak-anak dari ibu yang ikut penelitian dan diikuti selama 7 tahun tidak ada

perbedaan antara anak dari ibu yang mendapat terapi metyldopa dengan kontrol dalam hal fisik, mental, perilaku, penglihatan, pendengaran maupun kemampuan intelektual (5) Obat ini bekerja sebagai antagonis alfa adenoreseptor di batang otak, sehingga menurunkan sinyal saraf simpatis dan menyebabkan tahanan vaskuler sistemik menurun dengan hasil akhir penurunan tekanan darah tanpa perubahan fisiologis kerja jantung yang signifikan (4,15) 2. Calsium chanel Blocker ( Kalsium antagonis) Beberapa laporan menunjukkan bahwa obat ini mengontrol tekanan darah dengan cara mirip hydralazaine. Biasanya ditoleransi dengan baik, walaupun pada beberapa penderita dapat timbul efek samping seperti sakit kepala, muka merah dan berdebar-debar. Hanya sedikit informasi dalam hal efek Nifedipine pada hemodinamik uteroplacenta tetapi data yang tersedia memberi kesan bahwa tidak ada efek merugikan yang berarti (15,17) Kalsium antagonis adalah vasodilator poten , efektif dan cepat baik pada pemberian oral ataupun intravena. Cara kerjanya adalah menghambat ion kalsium pada calsium channel tipe L oleh karena itu obat ini mempunyai kerja sinergistik dengan MgSO4. Hal ini dapat menerangkan kasus-kasus hipotensi berat pada kehamilan yang diterapi Nifedipine dan MgSO4. (17,18) 3. Hydralazine Merupakan vasodilator perifer yang bekerja pada otot polos anterial sehingga menurunkan resistensi vaskuler.Salah satu kemungkinan mekanisme kerjanya adalah sama dengan obat nitrat organik yaitu dengan melepaskan nitrogen oksida (NO), yang mengaktifkan guanilat siklase dengan haisl akhir defosforilasi berbagai protein termasuk protein kontraktil otot polos. (3,9,15) Dahulu obat ini merupakan obat yang paling sering digunakan di Amerika Serikat, untuk terapi hipertensi berat mendekati persalinan atau periode peripartum (3) Tetapi saat ini mulai ditinggalkan karena efek samping yang ditimbulkan efek merugikan dari hydralisine pada pemberian peranteral adalah sakit kepala, palpitasi, mual muntah, bahkan hipertensi kira-kira 50% pada wanita hamil (3,9) Gawat janin setelah pemberian hydralisine paranteral telah dilaporkan jika tekanan darah diturunkan dari rata diatas 110 mmHg kebatas terapi antara 70-90 mmHg (19) 4. Labetalol Pemakaian labetalol bertujuan untuk mendapatkan penurunan tekanan darah dengan cepat. Penggunaan parenteral telah diakui dapat menurunkan tekanan darah yang lebih dapat diandalkan daripada hydralazine. (3,15) Data terakhir menunjukkan pemakaian intravena tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan bradikardi, hipoglikemi dan hipotensi pada ibu hamil. (4,15) Demikian juga pemakaian jangka lama dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin. (3,4) Obat ini bekerja dengan memblokir reseptor dan . Penurunan resistensi vaskuler perifer terjadi karena penghambatan adrenoreseptor alfa 1 sedangkan penghambatan menghasilkan penurunan heart rate(15) . Meskipun adanya efek samping dan pengalaman dengan labetalol masih sedikit, obat ini masih sebagai pilihan yang pantas untuk hipertensi akut selama kehamilan. (3,4,15) 5. Sodium Nitroprusside Merupakan salah satu preparat oksida nitrat yang digunakan pada terapi HDK. Obat ini bekerja melepas gugus nitroso pada molekul sodium nitroprusside, menjadi NO sewaktu kontak dengan eritrosit. (9,15) NO mengaktifkan enzim guanilat siklase pada otot polos pembuluh darah sehingga menyebabkan dilatasi arterial dan venula. (3,4) Obat ini di metabolisme menjadi sianida dan tiosinat yang dapat melewati placenta sehingga potensial dapat meracuni janin. (3) Pada penelitian dengan domba setelah pemberian rata-rata 25 mg/ kg BB/menit didapatkan kadar sianida dalam darah janin dan terjadi kematian janin sedangkan pada kelompok lainnya yang menerima kurang dari 1 mg/kg BB/menit tidak menunjukkan efek yang merugikan. (2) Dengan pertimbangan tersebut sodium nitroprusside masih tetap digunakan sebagai usaha terakhir untuk pengobatan pada situasi gawat kehamilan yang tidak berespons dengan terapi lainnya. (2,4,15) 6. Diuretik Dapat digunakan pada keadaan tertentu, penggunaannya merugikan janin karena efek samping yang ditimbulkannya berupa gangguan elektrolit, hipoglikemia dan trombositopenia.

Furosemida mempunyai sifat farmakologis yang menghambat reabsorbsi Na dan Cl di ginjal ( loop of Henle) sehingga memerlukan volume intravaskuler. (15) Pemakaian ini bermanfaat dalam manajemen pre eklampsia dan eklampsia dalam kondisi khusus seperti edema paru, gagal jantung kongestif, penyakit ginjal dan kelebihan cairan iatrogenik. (3,15) 7. Klonidine Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor post synaptic 2 sympatis. Klonidine mengurangi tekanan arteri secara bermakna tanpa diikuti retensi cairan, hipotensi orthostatis atau bronchospasme. Klonidine mengurangi tahanan perifer dan cardiac output. (15) Walaupun pemakaiannya cukup aman dan efektif pada HDK tetapi beberapa senter tidak menyukai karena efek sampingnya. Efek samping ini berupa letih, mulut kering dan rebound hypertension phenomena. (4) Dosis yang diberikan 0,1-0,3 mg / hari dibagi dalam dua dosis. Pemberian intravena sudah dapat memberikan efek dalam 20 menit dan dapat dipertahankan selama 6-12 jam .(4,15) 8 Ketanserin Makin meningkatnya pemahaman tentang patofisiologi dari preeklampsia yang etiopatogenesisnya belum jelas maka diupayakan serta dikembangkan obat anti hipertensi yang rasional untuk pengobatan penyakit tersebut. Salah satu teori HDK tentang preeklampsia adalah disfungsi endotel,peningkatan agregasi platelet dan hiperserotonin.9,22 Stimulasi reseptor S2 diotot polos vaskuler dan platelet oleh serotonin dapat menyebabkan vasokontriksi ,agregasi platelet dan peningkatan efek agen vasokonstriktor lainnya seperti katekolamin dan angiotensin II .Dengan demikian pemberian ketanserin yang memblokir reseptor S 2 akan menghambat vasokontriksi dan agregasi platelet.4, 22 Penelitian membuktikan ketanserin efektif untuk mengendalikan hipertesi post partum ataupun peripartum.Dibandingkan hidralazine ketanserin menunjukkan efek hemodinamik lebih baik,menurunkan insidens solutio plasenta dan sindroma HELLP disamping efek merugikan terhadap ibu dan janin lebih sedikit.4 Secara farmakokinetik ketanserin menimbulkan efek hipotensi yang gradual,sangat cepat diabsorbsi pada salauran cerna dan kadar puncak dalam plasma tercapai dalam - 2 jam. Bioavaibilitas oral kira kira 50 %,waktu paruh 12-25 jam serta terutama dimetabolisme dihati. Dosis yang dapat diberikan 40-80 mg dalam dosis terbagi. 9

Ringkasan Hipertensi pada kehamilan adalah komplikasi medik yang sering ditemukan pada wanita hamil kirakira 5-10% dan penyebab terpenting tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin. Dikatakan HDK bila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau diastolik > 90 mmHg, diukur paling kurang 6 jam dalam waktu berbeda. Klasifikasi HDK yang paling banyak dianut saat ini adalah menurut HBPEP Working Group 2001, yang terdiri dari gestisional hipertensi, hipertensi kronik, pre eklampsia, eklampsia dan hipertensi kronik dengan Super Imposed pre eklampsia. Perubahan farmakologi obat-obat hipertensi dalam kehamilan adalah penting dalam hal menentukan terapi yang optimal dan tidak memberikan efek samping yang merugikan baik pada janin dan ibu hamil. Etiopatogenesis HDK belum jelas, multifaktorial dan diduga berkaitan dengan reaktifitas pembuluh darah , hipoperfusi uteroplacental, reaksi imunplogi dan disfungsi endotel. Penatalaksanaan HDK tergantung proses penyakit, umur kehamilan dan komplikasi yang terjadi. Pengelolaan ini dapat konservatif atau hingga terminasi kehamilan Kepustakaan 1. Elkayam,U. Pregnancy and cardiovascular disease. In Heart Disease 6th Ed, Braunwald. Philadelpia Sounders, 2002 ; p. 2172-87 2. Gareth B, Gregory HL, Emon B. Hypertention in pregnancy. In ABC of Hypertention, 4th Ed. BMJ Books 2001, pp 88-93 3. Kaplan. N.M. Hypertention with pregnancy and the PiIl Kaplans Clinical Hypertention 8th Ed. Philadelpia 2002. pp 404-27 4. Gumilar E.D. Penggunaan Antihipertensi secara rasional pada hipertensi dalam kehamilan. Dalam simposium penggunaan antihipertensi secara rasional, Surabaya Agustus 2002. hal 51-56 5. Agust Phyllis.Hypertension Management in The Pregnant Patient.American society of Nephrology Scientific Meeting. 2000 pp 1-26. 6. National High Blood Pressure Education ProgamWorking Group Report on High Blood pressure in Pregnancy. Am. J. abstet Gynecol. 2000 ; 163 : 1689-1712 7. Gibson P. Hypertension and Pregnancy. Medicine J 2002 pp 1-18.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Sibai BM. Treatment of hypertention in pregnant women. New Engl. J. Med. 1996 ; 335 : 257-65 Steyn DW,Odendal H.J. Serotonin Antagonism and Serotonin Antagonis in Pregnancy;Role of Ketanserin. Lancet 2001 Cunningham FG et al. Hypertensive Disoders in Pregnancy.In William Obstetrics 21 th ed.USA The McGraw Hill Companies 2001 pp 567-618 William C.M,Baha M,Sibai MD. Hypertensive States of Pregnancy.In Curent Obs & Gynec 2000. pp 380-397. Sedyawan J. Hipertensi pada kehamilan. Dalam buku ajar Kardiologi FK UI Ed. Rilantono LI dkk. 1996 hal 212-219 Thomas F.Hypertension and Preeclampsia.In Cardiovascular disiase Medical Complications during Pregnancy 4 th ed. Philadelpia 1995.pp 1-28 Roberts J.M .Pregnancy Related Hypertension. In Maternal and Fetal Medicine Principles &Practice 3 rd ed.Philadelpia W.B Saunders company 1994.pp 804-840 Opi LH. Cardiovascular drugs in pregnancy. In : Which drug for which disease, in Drugs fon the Heart Edition : Opi LH and GJ. Bennard . New York 2001, 312-394 Cunningham GF. Gant HF, Levero KJ. Management during pregnancy. In medical and surgical complication in pregnancy section XII. Williams obstetrics 21st ed.2001. p.1213-15 Consider Both the unborn Child and the Mother When Treating Hypertension in Pregnancy.2002 http :// www. Medscape.com/viewarticle/406535. Patricia H. Hypertension in pregnancy preeclampsia. BMJ 2000 pp 1-13 Livingston JC, Sibai BM . Chronic hypertention in pregnancy in medical complications of pregnancy . Obstetric and gynocology clinis. Vol. 28:3. 2000. p 1-15 William K. Hypretension in pregnancy in obstetric guideline 11. British Columbia Reproductive care program. May 2000. p 1-10 L A Magee,MP Ornstein,PV Dadelszen. Management of Hypertension in Pregnancy. BMJ 1999; 318 ; 1332-1336 Debby L,Renate M,Wilhem S. The Optimal dosage of Ketanserin for Patiens with severe hypertension in pregnancy. European J of Obst & Gyn and Reproductive Biology 2002 161-166.

http://www.cardiology-surabaya.or.id/?pg=news&cat=3&act=full&id=20