Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan yang terus terjadi dan perubahan zaman menjadikan semuanya lebih baik dan lebih mudah, tidak terkecuali masalah pendidikan. Pendidikan dijadikan sebagai tolak ukur dari kemajuan dan kualitas suatu bangsa. Dengan fenomena tersebut maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan yang berkualitas adalah yang mampu menjadikan manusia-manusia ataupun peserta didik menjadi manusia yang berkualitas dan mampu meningkatkan kualitas suatu negara. Namun tujuan yang mulia dari pendidikan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dalam mewujudkannya. Banyak permasalahan-permasalahan yang harus dituntaskan untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tidak jarang orangorang yang terdidik itu justru membuat negara ini bukan semakin kaya dan maju, justru membuat negara semakin miskin dan bangkrut karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dalam memikul tugas bagi negaranya. Yang lebih miris lagi adalah sekolah yang dijadikan tempat mencari ilmu yang sejatinya mencetak pejabat justru mencetak penjahat. Bukti dari itu adalah banyaknya kejahatan kriminal yang dilakukan oleh pelajar dan maraknya aksi tawuran antar pelajar, bahkan antar sekolah yang tentunya menyebabkan kerugian tenaga, kerugian fisik hingga berujung kematian. Tiap tahun Perguruan Tinggi mewisuda sarjana-sarjananya untuk siap dilepas didunia kerja. Namun, apa yang terjadi setelah para sarjana itu tamat? Ternyata banyak diantara para sarjana itu yang belum siap dan belum mampu untuk bersaing didunia kerja. Mereka kurang ada kreatifitas dan belum mampu untuk menciptakan inovasi dalam persaingan dunia kerja. Mereka cenderung untuk mencari pekerjaan yang mudah dan tidak memerlukan kerja keras untuk kesuksesan. Jika kita perhatikan dari tahun ke tahun jumlah CPNS di Indonesia mencapai ribuan untuk pendaftarannya. Hampir sebagian besar dari tamatan Perguruan Tinggi memilih PNS sebagai pekerjaannya karena telah ada jaminan dihari tua nanti. Namun untuk tahun 2011 ini rencana pemerintah akan melakukan moratorium (penundaan) penerimaan PNS karena jumlah PNS yang membludak dan akan menawarkan pensiun dini massal karena negara tidak kuat lagi menanggung beban berat gaji. Jumlah PNS 4,59 juta dengan gaji Rp 180 triliun/ tahun.

Dari data dan fakta di atas, tentu saja tujuan pendidikan yang sebenarnya bukan untuk mencetak PNS atau pegawai swasta, namun untuk mencetak manusia yang bermoral, berilmu pengetahuan, dan mampu untuk bersaing dalam arus globalisasi. Perlu adanya inovasi yang dilakukan oleh tenaga pendidik agar peserta didik mampu menjadi manusia yang benar-benar berkualitas, sehingga ketika mereka menamatkan Perguruan Tinggi bukan mereka yang mencari pekerjaan tapi pekerjaan yang mencari mereka. Akhir-akhir ini pemerintah memberikan sertifikasi kepada guru untuk kesejahteraan guru dan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Diharapkan setelah disertifikasi tidak ada lagi guru yang mempunyai pekerjaan sambilan. Sehingga guru dapat memfokuskan pada pengembangan bakat dan pengajaran pada siswa-siswinya. Guru dapat membeli buku terbitan baru, guru dapat membeli laptop untuk pengajaran sehingga dapat menciptakan pembaharuan dalam belajar untuk meminimalisir rasa jenuh dan bosan pada siswa. Jika mereka tidak jenuh dalam belajar dan belajar penuh semangat, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan. Pada dasarnya, sertifikasi digulirkan untuk kesejahteraan tenaga pengajar. Tetapi kita juga harus ingat bahwa ujung dari semua itu adalah meningkatnya kualitas pendidikan bagi semua anak bangsa di negeri ini. Jika itu tidak tercapai, berarti sia-sia tujuan digulirkannya sertifikasi. Dari uraian yang telah dijabarkan masalah sebagai berikut: 1. Belum tercapainya tujuan pendidikan yang merata disegala aspek. Baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. 2. Perlunya peningkatan mutu pendidikan agar para alumni dapat dan siap untuk bersaing didunia kerja dan dapat berbicara banyak dalam menghadapi arus globalisasi. 3. Perlunya kreatifitas dari tenaga pendidik maupun peserta didik agar dalam proses belajar mengajar dapat dipahami dengan baik dan ketika tamat peserta didik mampu untuk berkreasi dalam dunia kerja. 4. Perlunya penanaman jiwa kewirausahaan bagi lulusan agar tidak memfokuskan diri untuk bekerja sebagai pegawai yang notabenenya banyak diburu oleh para lulusan. diatas, dapat diidentifikasi beberapa

5. Perlunya penerapan atau aplikasi dari pendidikan berkarakter bagi seluruh peserta didik secara menyeluruh untuk tercapainya tujuan pendidikan yang sebenarnya.

BAB II ANALISIS

A. Urgensinya Pendidikan Menurut wikipedia, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan dilaksanakan secara sadar oleh seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan apakah itu murid, guru, bahkan menteri sekalipun. Seyogyanya

mereka berpartisipasi lebih aktif sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing, sehingga visi dan misi dari pendidikan itu dapat tercapai dengan baik dan sukses. Tanpa adanya partisipasi yang aktif, koordinasi yang solid, serta program yang terencana tidak mungkin akan terwujudnya tujuan dan cita-cita pendidikan itu sendiri. Sasaran dari pendidikan itu sebenarnya adalah potensi dari anak didik, bagaimana potensi itu dapat berkembang dan terus dipupuk agar potensi yang dimiliki tidak terpendam begitu saja. Sebab, pada dasarnya semua manusia diberikan oleh Allah SWT berbagai macam potensi dan sampai manakah pendidikan itu mampu untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi sebuah prestasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tahun 2000, prestasi adalah suatu hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya. Menurut Lefton, prestasi dapat juga diartikan sebagai kesuksesan setelah didahului suatu usaha. Jadi, prestasi merupakan dorongan untuk mengatasi kendala, melaksanakan kekuasaan, berjuang untuk melakukan sesuatu yang sulit sebaik dan secepat mungkin.1 Pribadi yang prestatif dan memiliki sikap mental yang positif akan menjadikan bangsa ini berkualitas karena kualitas Sumber Daya Manusianya mampu untuk berusaha dan melaksanakan sesuatu yang sulit sebaik mungkin serta memandang sesuatu itu dari aspek yang positif dari setip peristiwa yang terjadi pada diri manusia tersebut. Artinya, ia tidak akan mudah putus asa dan berkecil hati ketika kegagalan menghampiri dirinya.

Dwiyono, Agus.2006.Kewarganegaraan.Yudhistira, hlm 119

Ia akan melakukan hal yang lebih baik lagi karena ia berprinsip kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Thomas Amstrong mengatakan bahwa : Semua anak adalah anak yang berbakat. Tiap-tiap anak terlahir di dunia ini dengan potensi yang unik, yang jika dipupuk dengan benar, dapat turut memberikan sumbangan bagi dunia yang lebih baik. Seperti yang kita ketahui bahwa suatu bangsa itu tergantung dari manusianya, jika manusia itu memiliki prestasi yang baik dan keunggulan yang bagus maka bangsa itu akan menjadi bangsa yang unggul. Masyarakat di negara-negara maju memiliki motivasi (semangat) yang tinggi untuk maju dan berprestasi tinggi. Sistem pendidikan di negara maju telah berhasil mendidik dan membentuk warganya untuk mempunyai karakter yang tangguh dan kerja keras pantang menyerah. Pertanyaan untuk kita adalah Apakah sistem pendidikan di negara kita sudah mampu mendidik dan membentuk karakter yang tangguh dan kerja keras pantang menyerah? Ciri khas dan tanda utama dari sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia adalah terpeliharanya sistem pendidikan yang bongkar pasang. Sistem pendidikan yang terus bongkar pasang menunjukkan tidak adanya kejelasan dalam sistem tersebut bagaikan air didaun talas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pergantian pejabat tinggi negara telah menyebabkan pula bergantinya sistem pendidikan, bahkan tujuan pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan yang bongkar pasang dijadikan indikator karakter para petinggi negara yang tergesa-gesa menyelesaikan target pekerjaannya. Jika tidak demikian, ia disangka tidak berbuat apa-apa selama menjalankan tugas. Dengan kata lain, pejabat harus berbuat. Sistem pendidikan bongkar pasang adalah ironi yang harus segera dihapus. Ibarat pedagang kaki lima, pagi dijual sore langsung bisa dihitung keuntungannya. Kita harus berusaha mencegah agar sistem pendidikan yang bongkar pasang tidak menjadi ikon bangsa ini. Jika hanya metodologi mengajar yang kurang, kenapa mata pelajaran harus dihilangkan? Seperti pepatah: jika tikus itu rakus, kenaa harus lumbung padi itu benar yang harus diberangus. Jika benar-benar ingin mengajarkan kecerdasan, kejujuran, kedisiplinan, dan sebagainya kepada peserta didik perlu adanya rujukan agama yang berkaitan dengan pendidikan berkarakter karena agama merupakan latar belakang dari tindakan berfikir seseorang. Selain itu, agama juga dijadikan sebagai pedoman dalam segala tindak-tanduk perilaku seseorang.

B. Strategi Pendidikan Semakin bobroknya mental generasi muda dan semakin maraknya aksi-aksi yang bersifat kriminal menjadikan bahan renungan bagi kita semua. Sungguh sangat disayangkan para generasi muda yang harusnya mampu mendulang prestasi dalam mengharumkan nama bangsa, mereka malah menzalimi diri sendiri dengan berkelahi antar sesama pelajar dengan alasan solidaritas antar sesama, mereka justru terbuai akan seksualitas dan narkoba. Ini tentunya sangat bertolak belakang dengan pemuda zaman penjajahan dahulu. Ketika itu tokoh-tokoh pejuang bangsa mengukir prestasi pada usia muda bukan pada masa tua, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Muhammad Natsir dan banyak lagi lainnya. Mereka terdidik untuk berprestasi dikancah internasional, berjuang melawan penjajah, dan semangat untuk maju dalam meraih kesuksesan, serta pantang menyerah disaat berjuang. Akankah strategi pendidikan diera globalisasi mampu membentuk manusia yang seperti para pejuang kita dahulu? Pendidikan berawal ketika kita telah dilahirkan didunia ini. Mulai dari mendengarkan suara azan, menangis, tertawa, dan hal-hal lainnya. Secara tidak sadar kita telah mengalami proses pendidikan. Bagi sebagian orang, pengalaman hidup itu lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti Max Twain berkata Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya. Pendidikan akan menjadikan kita lebih dewasa dan lebih terampil dalam kehidupan, sedangkan sekolah hanya sebatas wahana atau tempat bagi berlangsungnya pendidikan itu. Bahkan tidak sedikit sekolah yang justru menjadikan siswa-siswinya sebagai robot yang tidak menghargai beragam jenis kecerdasan manusia dan cenderung kepada aturan yang kaku. Banyak sekolah yang tidak menerapkan the best process ketika berlangsungnya proses pendidikan. Padahal proses yang baik sangat menentukan kualitas siswa-siswi dalam suatu sekolah. Proses pembelajaran yang baik adalah ketika seorang guru itu mengetahui kecerdasan siswanya dan mampu untuk memaksimalkan dengan baik sehingga mengeluarkan hasil yang baik. Menyikapi hal itu, perlu adanya strategi dalam pendidikan untuk membentuk karakter yang baik dan mendidik insan menjadi lebih berkualitas. Pertama, terapkan pendidikan yang benar-benar menyeimbangkan penilaian tiga ranah (afektif, psikomotor, dan kognitif) dan pembentukan karakter pada peserta didik.

Pada penilaian afektif (sikap) dapat dilihat melalui pemberian respons, sikap, apresiasi, penilaian, minat, dan internalisasi. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui karakter siswa. Penilaian afektif dapat dinilai pada saat proses belajar, di luar proses belajar dalam sekolah, dan di luar sekolah. Untuk penilaian kognitif, dilakukan setelah siswa mempelajari satu kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kognitif meliputi tingkatan menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi. Penilaian psikomotor meliputi kompetensi yang dapat diraih dengan aktivitas pembelajaran bukan tes, melainkan aktifitas yang memerlukan gerak tubuh, kinerja, imajinasi, kreatifitas, dan karya-karya intelektual.2 Sedangkan pendidikan berkarakter adalah sebuah sistem yang menamamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama manusia, dengan lingkungan, maupun kepada bangsa sehingga akan terwujud menjadi manusia insan kamil. Dari kedua hal di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan itu lebih kepada penilaian sikap (afektif), kompetensi siswa (kognitif), dan praktik atau aktifitas pembelajaran (psikomotor). Selain itu, penanaman nilai-nilai yang baik dan pemberian pengetahuan pada siswa akan menjadi manusia yang kamil serta sangat membantu pemerintah dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Jadi, dengan diterapkannya pendidikan yang demikian para peserta didik akan mampu

menyeimbangkan tiga kecerdasan, emosional, spiritual, dan intelektual. Emosional berperan dalam kemampuan untuk mengelola dan mengatur emosi sehingga mampu untuk memotivasi diri, memiliki kemampuan untuk melobi, dan sederet kemampuan lainnya. Spiritual berperan pada hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan bagaimana seseorang itu mampu menerapkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan. Sedangkan kecerdasan intelektual lebih kepada aspek kualitas otak. Kedua, menerapkan multiple intelligences pada peserta didik. Teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Howaard Garner, yaitu teori multiple intelligences menitik beratkan kepada ranah keunikan selalu menemukan kelabihan setiap anak. Jadi, dalam konsep Multiple Intelligences anak itu tidak ada yang bodoh
2

Chatib, Munif.2009.Sekolahnya Manusia. Gresik. Kaifa, hlm 168 dan174

sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. Jika kelebihan itu dideteksi sedari awal otomatis kelebihan itu adalah potensi yang sangat strategis untuk dikembangkan pada anak tersebut. Teori Multiple Intelligences mempunyai tiga paradigma dasar, yaitu kecerdasan yang tidak dibatasi tes formal, kecerdasan yang multidimensi, dan kecerdasan yang menggunakan metode Discovering Ability (proses menemukan kemampuan seseorang). Ketiga, peningkatan mutu dari tenaga pendidik/guru. Muhammad Yamin pernah mengatakan bahwa jika ingin meningkatkan mutu pendidikan, maka tingkatkan dulu mutu tenaga pendidiknya. Munif chatib dalam bukunya yang berjudul Sekolahnya manusia menyatakan bahwa guru adalah kunci kualitas sebuah sekolah, makin sering sebuah sekolah mmengadakan pelatihan guru, makin berkualitaslah sekolah itu. Peran guru memang sangat penting utnuk kemajuan pendidikan. Menjadi guru merupakan pekerjaan yang mulia karena memberikan ilmu dan mendidik manusia untuk menjadi manusia yang berkualitas. Bahkan guru dijuluki dengan Pahlawan tanpa tanda jasa. Kebanggaan seorang guru akan tampak ketika melihat siswanya berhasil setelah proses belajar tadi berlangsung. Keberhasilan seorang guru dalam mendidik siswanya adalah ketika siswanya berkualitas dan mampu untuk berprestasi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Suatu pencapaian yang sangat baik dari guru jika mampu membimbing siswanya untuk berprestasi sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Keempat, harus diterapkannya kecakapan hidup (life style) pada dunia pendidikan itu, sehingga ketika seseorang itu telah lulus dan telah menyelesaikan program studi ia mampu untuk bekerja secara mandiri tanpa menggantungkan diri pada sesuatu. Selama ini pekerjaan PNS menjadi favorit para sarjana, sedangkan untuk porsi pegai negeri itu saja sangat terbatas. Lantas, yang tidak menjadi pegawai negeri mau apa? Untuk itu, paradigma yang mengatakan bahwa sekolah SMK sebagai sekolah kelas dua harus dibuang jauh-jauh karena SMK justru yang memberikan keterampilan hidup pada siswanya. Di Jepang, sekolah kejuruan hadir dalam posisi yang tidak kalah pentingnya dengan sekolah umum. Dalam 1000 sekolah, terdapat 125 sekolah kejuruan yang menghasilkan tenaga terampil untuk mengisi lowongan beragam industri. Dalam materi kurikulum ilmu bumi SD Jepang, dicantumkan nama negara yang menjadi pasar industri Jepang. Sebaliknya, di Indonesia yang disuruh hafal ialah nama gunung tertinggi, sungai

terpanjang atau laut terdalam. Sejak dari pendidikan di tingkat sekolah menengah di Jepang, para murid telah dituntun untuk berpikir realistis untuk ke arah mana mereka akan melanjutkan pendidikan. Namun, murid di Indonesia diarahkan untuk melanjutkan ke SMA agar kelak bisa masuk ke sekolah tinggi. Sampai menamatkan SMA, murid tetap tidak tahu ke sekolah tinggi apa mereka akan melanjutkan pendidikan.

BAB III PENUTUP

Dari berbagai argumentasi yang telah terurai di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah proses yang dilalui oleh seseorang semenjak lahir hingga meninggal. Proses ini akan terus berlanjut selama kita masih hidup sehingga akan mampu meningkatkan kualitas bangsa ini menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia ini harus segera diatasi dan dicarikan solusinya karena jika tidak, akan membahayakan kondisi negara ini. Untuk mencapai kondisi yang kondusif dalam dunia pendidikan, maka perlu berbagai terobosan-terobosan dan program-program yang mampu untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjadikan bangsa yang maju dan makmur. Diantara terobosan itu adalah pencanangan pendidikan berkarakter bagi seluruh peserta didik yang bersekolah di negeri ini untuk penanaman karakter dan pemberian pengetahuan. Kemudian, perlu sekolah yang menerapkan Multiple Intelligences yang mampu mengoptimalkan seluruh kecerdasan siswa dan mampu untuk menyeimbangkannya sehingga tidak terjadi ketimpangan. Selanjutnya, peningkatan kualitas tenaga pendidik sebagai fasilitator bagi siswanya untuk memicu kreatifitas pada diri siswa itu sendiri. Terakhir, siswa perlu dilatih kecakapan hidup dalam proses pendidikannya agar mampu untuk berinovasi dan melakukan pembaruan dalam dunia kerja nanti.

10

DAFTAR PUSTAKA

--. 2011. Pengertian pendidikan berkarakter (online) (http://beritaartikelterbaru. blogspot.com/2011/05/pendidikan-karakter-dan-pengertian.html.).(diakses tanggal 25 juli 2011) --. 2008. Strategi pendidikan nasional (online). (http://khalidmustafa.wordpress.com/ 2008/01/17/strategi-pendidikan-nasional/).. (diakses tanggal 25 juli 2011) Chatib, Munif.2009.Sekolahnya Manusia. Gresik. Kaifa, hlm 168 dan174 Dwiyono, Agus.2006.Kewarganegaraan.Yudhistira, hlm 119

11

DAFTAR ISIAN PESERTA

Nama Lengkap Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Nama Sekolah Kelas Alamat Sekolah

: Lucky Nurdiansyah : Koto Agung/10 November 1995 : Laki-laki : SMA Negeri 1 Sitiung : XI IPA I : Jalan Dempo Koto Agung Sitiung I Kec. Sitiung Kab. dharmasraya 27578 (0754)581 155 : Padang Bintungan :081374387924 : Belajar dan Olahraga

Alamat Rumah No HP Kegemaran/Hoby

Bidang Ilmu yang Digemari : Fisika dan Biologi Nama Orang Tua Pekerjaan Orang Tua : Nurhayati : PNS

12

Anda mungkin juga menyukai