Anda di halaman 1dari 6

Geert Hofstede, ahli kebudayaan negeri Belanda, melakukan riset perbedaan budaya di kantor cabang IBM di 64 negara kemudian

diteruskan pada studi pelajar di 23 negara, studi kelompok atas pada 19 negara, studi pada pilot di 23 negara dan studi pada konsumen kelas atas di 15 negara. Hasilnya 5 dimensi budaya, yaitu: 1. Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan yang kecil menunjukkan masyarakat yang setara. Semua pihak kekuataanya relatif sama. Indonesia bersama Ekuador urutan ke 8/9 dari 53 negara yang menunjukkan jarak kekuasaan masih tinggi. Ada perbedaan yang mencolok antara orang yang berkuasa secara budaya ataupun politik terhadap orang yang tidak punya kuasa. Sebagai perbandingan masyarakat yang paling setara adalah Austria dan no. 2 adalah Israel. Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah: Jarak Kekuasaan kecil maka orang pada budaya tersebut mudah menerima tanggungjawab. Sementara pada Jarak Keuasaan besar maka orang lebih disiplin karena rasa takut akan kekuasaan. 2. Individualism/Individualisme vs Collectivism/Kolektivisme menyangkut ikatan di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara mandiri. Indonesia bersama Pakistan ada di urutan 47/48 dari 53 negara yang menunjukkan orang Indonesia cenderung hidup secara berkelompok. Ini cocok dengan semboyan kita: gotong royong. Sebagai perbandingan negara yang paling individual adalah Amerika Serikat dan no.2 adalah Australia. Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah: Kolektivisme maka orang/karyawan pada budaya tersebut mudah berkomitmen. Sementara pada Individulisme maka pemberian wewenang manajemen lebih mudah disebarluaskan, karena pepimpinpemimpin baru mudah diciptakan. 3. Masculinity/Maskulin vs Femininity/Feminin yang menyangkut perbedaan gaya antara 2 jenis kelamin. Pada budaya maskulin yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita adalah kesopanan dan perhatian. Indonesia bersama Afrika Barat ada di urutan 30/31 dari 53 negara. Ini menunjukkan Indonesia dalam posisi sedang-sedang saja. Sebagai perbandingan yang paling maskulin adalah Jepang dan yang paling feminin adalah Swedia. Pantaslah Swedia adalah negara dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan yang paling kecil di dunia.

Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah: Pada budaya Maskulin maka orang pada budaya tersebut cocok untuk produksi massal, efisiensi, industri berat dan bulk chemistry. Sementara pada budaya Feminin cocok untuk industri pelayanan pribadi, produksi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, pertanian dan biochemistry. 4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian. Indonesia bersama Kanada berada di urutan 41/42 dari 53 negara. Ini berarti Indonesia tidak takut dengan perubahan dan lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. Sebagai perbandingan Singapura adalah negara yang paling bisa menerima ketidakpastian dan Yunani adalah negara yang tidak. Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah: Budaya Penghindaran ketidakpastian besar maka orang pada budaya tersebut cocok untuk hal yang menuntut presisi. Sementara pada budaya Penghindaran ketidakpastian kecil cocok untuk melakukan inovasi dasar. 5. Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir masyarakat. Pada masyarakat yang beorientasi jangka panjang yang ditonjolkan adalah status, sikap hemat dan ketekunan dan memiliki rasa malu yang tinggi. Cina, Jepang dan negara-negara Asia cenderung memiliki orientasi jangka panjang, sementara bangsabangsa barat cenderung pada jangka pendek. Dan negara yang sangat tertinggal juga cenderung memiliki orientasi jangka pendek. Pada budaya ini Cina memegang skor tertinggi, sementara Pakistan adalah skor terendah.

Strategika! Kerangka Hofstede untuk Pengelolaan Organisasi Global Posted in Ekonomi, Manajemen by efendi arianto on August 19, 2008

sumber gambar: http://www.fig.net Konsep budaya telah menjadi arus utama dalam bidang antropologi sejak awal mula dan memperoleh perhatian dalam perkembangan awal studi perilaku organisasi. Geert Hofstede telah mengajukan konsep budaya dalam teori organisasi, dalam hal ini sebagai salah satu dimensi dalam memahami perilaku organisasi. Konsep ini menjadi penting dalam teori ekonomi dan manajemen saat ini, dalam era globalisasi, ketika banyak perusahaan mutinasional beroperasi di berbagai negara dengan berbagai ragam budaya yang berbeda. Power Distance Menurut Hofstede, power distance adalah suatu tingkat kepercayaan atau penerimaan dari suatu power yang tidak seimbang di antara orang. Budaya di mana beberapa orang dianggap lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status sosial, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang atau faktor lainnya merupakan bentuk power distance yang tinggi. Pada negara yang memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Sementara itu budaya dengan power distance yang rendah cenderung untuk melihat persamaan di antara orang dan lebih fokus kepada status yang dicapai daripada yang disandang oleh seseorang. Individualisme vs. Kolektivisme Individualisme adalah lawan dari kolektivisme, yaitu tingkat di mana individu terintegrasi ke dalam kelompok. Dari sisi individualis kita melihat bahwa terdapat ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk mengurus dirinya masing-masing dan keluarga terdekatnya. Sementara itu dari sisi kolektivis, kita melihat bahwa sejak lahir orang sudah

terintegrasi ke dalam suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga jauh juga turut terlibat dalam merawat sanak saudara dan kerabatnya. Uncertainty Avoidance Salah satu dimensi dari Hofstede adalah mengenai bagaimana budaya nasional berkaitan dengan ketidakpastian dan ambiguitas, kemudian bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan. Pada negara-negara yang mempunyai uncertainty avoidance yang besar, cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari risiko dan mengandalkan peraturan formal dan juga ritual. Kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat. Akan sulit bagi seorang negotiator dari luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka. Pada negara dengan uncertainty avoidance yang rendah, atau memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk ketidakpastian, mereka cenderung lebih bisa menerima risiko, dapat memecahkan masalah, memiliki struktur organisasi yang flat, dan memilki toleransi terhadap ambiguitas. Bagi orang dari masyarakat luar, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan. Contoh kasus: Mutasi GM dari AS ke Korea John Denver, seorang GM berasal dari Amerika Serikat, baru saja dipindahtugaskan ke Korea Selatan. Guna mempelajari perbedaan budaya kerja di Korea Selatan, John Denver dapat menggunakan hasil studi Hofstede yang membandingkan berbagai negara pada dimensi Power Distance, Uncertainty Avoidance dan Individualism. Kajian Hofstede yang secara ringkas membandingan Amerika Serikat dan Korea Selatan (dan Thailand) adalah sebagaimana terlihat pada Gambar di bawah. Dengan mengacu pada Hofstede Framework tersebut, maka dapat dilihat bahwa Korea Selatan (dan Thailand) relatif terhadap Amerika Serikat adalah: 1. Lebih tidak dapat menerima ketidakpastian 2. Power distance tinggi dan 3. Tingkat individualisme rendah.

Diolah dari sumber: Han, et. Al. (2006) International Business, 3rd Ed. Pp. 76-77 Gambar Hofstede Framework Dengan demikian, sebagaimana disampaikan oleh Hofstede, seorang John Denver yang berasal dari Amerika Serikat, ketika ditugaskan di Korea Selatan haruslah dapat:

1. Memahami perilaku masyarakat/komunitas Korea Selatan yang menganggap beberapa orang lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status sosial, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang dan lainnya. 2. Menyesuaikan dengan budaya Korea Selatan yang cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan 3. Memahami bahwa kebanyakan orang Korea Selatan lebih suka menghindari risiko 4. Memiliki kemampuan untuk mengikuti peraturan formal dan juga ritual yang berlaku di Korea Selatan 5. Memahami bahwa di Korea Selatan, kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat 6. Memahami bahwa masyarakat Korea Selatan menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Bawahan mengenal kekuasaan orang lain melalui formalitas, misalnya posisi hierarki.

Teori Hofstede tentang Barat dan Timur Dari Wikipedia aku temukan penjelasan tentang Hopstede, sosiolog organisasi berkebangsaan Belanda yang banyak menelurkan karya mengenai interaksi antar budaya. Gerard Hendrik Hofstede (born 3 October 1928, Haarlem) is an influential Dutch organizational sociologist, who studied the interactions between national cultures and organizational cultures. He is also an author of several books including Culture's Consequences[1] and Cultures and Organizations, Software of the Mind, co-authored with his son Gert Jan Hofstede.[2] Hofstede's study demonstrated that there are national and regional cultural groupings that affect the behaviour of societies and organizations, and that these are persistent across time. Yang diobrolin tanggal 27 September lalu, di kelas Dr Turnomo Rahardjo, adalah perbedaan budaya Barat dan Timur menurut Hosptede. Barat diartikan sebagai Amerika dan Eropa, sementara Timur diartikan kita-kita ini, misal: mahasiswa dari Semarang. Berikut sekelumit hasil obrolan: 1. Barat lebih individualistic (lebih mengedepankan AKU ketimbang KITA yang digemari masyarakat Timur atau collectivism). Dalam budaya Barat, seorang Rafael Nadal akan bilang, "Saya berhasil menjuarai Grand Slam karena saya kerja keras!" Seorang Joko Suprianto (atlet bulutangkis - kalau ada yang gak kenal) bilang keberhasilannya adalah karena tim pelatih dan keluarga yang memberikan dukungan. 2. Low context merupakan ciri budaya Barat. Bicaranya lugas. Seseorang dalam budaya low context bisa bilang "Saya tidak setuju pendapat anda karena saya melihat kelemahannya." Di Indonesia, lebih high context dimana pendapat disampaikan agak muter-muter, tidak to the point. Dalam budaya low context, diterapkan low uncertainty avoidance atau menghindarkan hal-hal yang tidak jelas. Misal, kalau bikin janji pertemuan, jamnya ditentukan jelas. "Rapat jam 9 pagi!" beda dengan "Oh ya, ntar ketemuan abis Magrib ya ..." Jam gak jelas ... 3. Barat lebih bersifat masculine (nature) sementara Timur lebih feminine (nurture) atau mengedepankan harmoni. Memahami dikotomi Hofstede ini akan mengarahkan kita pada perlunya komunikasi antar budaya atau inter-cultural communication yang mempersyaratkan pemahaman dan apresiasi terhadap budaya lain. Kunci komunikasi adalah inter-cultural negotiations untuk mengurangi atau menghilangkan potensi konflik.