Anda di halaman 1dari 94

GAMBARAN SELF CONCEPT PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI LABELLING

SKRIPSI

Oleh: Fellicia Tabita Gunawan NRP 7103008004

Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 2012

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk :

Allah Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus dan Untuk Semua UmatNya yang Percaya Bahwa Anak Adalah Titipan Tuhan Yang Harus Dirawat Dengan Penuh Cinta Kasih

vi

HALAMAN MOTTO

I Will PROM15E TO 13ELIEVE That God Always Give His Love In My Life. Always Keep The Faith.

vii

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas semua karunia dan kekuatan yang sudah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Meskipun terdapat banyak kendala dalam penyusunan skripsi ini, tetapi atas anugrahNya, penulis tetap bisa menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Penulis menyadari, tanpa adanya bantuan dan dukungan dari pihak-pihak lain, skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, dengan penuh kerendahan hati, penulis menyampaikan terima kasih sebanyak-banyak kepada semua pihak yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada :

1. Ibu Yustina Yettie, M. Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi


Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

2. Ibu F. Yuni Apsari selaku Sekretaris Dekan Fakultas Psikologi


Widya Mandala Surabaya

3. Ibu Elisabet Widyaning Hapsari, M.Psi selaku pembimbing


penulis, yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dengan penuh kesabaran dan pengertian dalam proses penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Jaka Santoso Sudagijono, M. Psi. selaku penasehat


akademik penulis selama penulis kulah. Terima kasih atas kesediaannya untuk berdiskusi dengan penulis terkait dengan proses perkuliahan.

5. Mbak Eva, Mbak Lilis, Mbak Wati dan Pak Heru selaku
karyawan TU Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya

viii

yang dengan sabar membantu penulis menyelesaikan administrasi selama penulis kuliah. Maaf kalau sering bawel.

6. Informan S dan Informan A beserta significant other LM dan


St selaku informan penulis. Terima kasih atas waktu dan informasinya yang sangat berharga demi kelangsungan

penyusunan skripsi ini.

7. Ce Caecilia E. Yoewono, Grad. Dip., Psych selaku dosen dan


teman diskusi penulis selama penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas waktu dan pinjaman bukunya yang sangat bermanfaat bagi penulis.

8. Semua dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universtas


Katolik Widya Mandala Surabaya. Terima kasih atas semua ilmu yang bermanfaat yang telah diberikan kepada penulis selama proses perkuliahan.

9. Hangga Diputra S.Psi selaku rekan diskusi penulis. Terima kasih


buat waktunya dan kesediaannya untuk membantu penulis.

10. Papa dan mama. Terima kasih atas dukungannya kepada penulis
selama ini.

11. Erick, adikku tersayang. Terima kasih atas pengorbanan yang


sering dilakukan buat penulis. Tuhan yang akan membalas semua pengorbananmu.

12. Semua anggota keluarga yang ikut membantu penulis selama ini,
baik dalam doa ataupun dalam hal lainnya.

13. Sahabat-sahabatku, Grace Natalia dan Sri Wulan. Terima


kasih atas semua kesempatan yang indah yang kita lalui bersama, dari proses perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini. Terima kasih atas semua pengorbanan kalian, baik dalam dukungan,

ix

materi, bensin dll buat penulis selama ini. Ingat, biar Tuhan yang membalas.

14. Teman-teman penulis seperti Stevanus Ferdian, Michael


Hasudungan, Brian Suryo. Terima kasih atas semua waktu yang pernah kita lalui bersama. Terima kasih buat supportnya kepada penulis, baik didalam proses perkuliahan maupun dalam penyusunan skripsi ini.

15. Buat semua pelanggan pulsa saya, baik dari kalangan dosen,
teman-teman, maupun keluarga. Terima kasih sudah membantu penulis dalam menambah penghasilan penulis selama ini. Maaf kalau nagihnya agak heboh.

16. Buat teman-teman angkatan 2008. Terima kasih buat


bantuannya kepada penulis selama proses perkuliahan.

17. Si Maxi (alm.) dan Mini ku, terima kasih sudah menjadi media
penulis selama mengerjakan skripsi.

18. My Beloved Idol, Kim Jong Woon / Yesung Super Junior.


Thanks for all you give for me. Youre my inspiration, my passion, my motivator for all aspects from my life. Thanks for being my amazing idol.

19. My Big Idol, Super Junior. Thanks for all happiness you give for
me. Thanks for give me a new family like ELF. I hope, I can meet you someday.

20. For Someone Special for me now, Nyo ku. Thanks for your love
and your care selama penulis mengerjakan skripsi ini. Biar Tuhan yang membalas kebaikanmu.

21. Teman gerejaku yang ikut memberikan doa dan dukungannya


selama proses penyusunan skripsi ini.

22. Semua teman serta sahabat yang tidak dapat disebutkan satu
persatu. Terima kasih atas dukungannya yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak keterbatasan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhirnya, semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kehidupan.

Surabaya, Mei 2012

Fellicia Tabita G.

xi

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i Halaman Pernyataan................................................................................. ii Halaman Persetujuan....... iii Lembar Pernyataan................................................................................... iv Halaman Pengesahan. v Halaman Persembahan...... vi Halaman Motto........... vii Ucapan Terima kasih. viii Daftar Isi.. xii Daftar Tabel... xv Daftar Lampiran xvi Abstraksi.. xvii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Fokus Penelitian..... 6 1.3 Tujuan Penelitian........ 6 1.4 Manfaat Penelitian..... 6 1.4.1 Manfaat Teoritis.......... 6 1.4.2 Manfaat Praktis.. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 8 2.1 Kajian Literatur Seputar Labelling .................. .. 8 2.2 Kajian Literatur Tentang Konsep Diri.... 9 2.3 Review Jurnal Yang Berkaitan Dengan Labelling dan Self Concept.....12 2.4 Gambaran Self Concept Pada Individu Yang Mengalami Labelling.....12

xii

BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 15 3.1 Pendekatan Dalam Penelitian... 15 3.2 Subjek Penelitian.. 15 3.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian. .. 15 3.2.2 Cara Mendapatkan Subjek Penelitian.. 16 3.3 Metode Pengumpulan Data....... 16 3.4 Tehnik Analisis Data.. .. 16 3.5 Validitas Penelitian...... 17 3.6 Etika Penelitian........ 18

BAB IV HASIL PENELITIAN................................................................. 19 4.1 Persiapan Pengambilan Data........ 19 4.1.1 Peneliti....... 19 4.1.2 Perijinan Penelitian..... 20 4.2 Proses Pengambilan Data. 20 4.2.1 Pelaksanaan Pengambilan Data dengan Informan 21 4.3 Temuan Penelitian. 28 4.3.1 Anamnesa Informan 1. 28 4.3.2 Anamnesa Informan 2 30 4.4 Hasil Penelitian.... 32 4.4.1 Pengolahan Data.... 32 4.5 Deskripsi Tema..... 38 4.5.1 Deskripsi Tema Informan 1. . 38 4.5.2 Deskripsi Tema Informan 2... .44 4.6 Validitas Penelitian... 50

BAB V PENUTUP. 51 5.1 Pembahasan.. 51

xiii

5.1.1 Informan S 51 5.1.2 Informan A 53 5.1.3 Alur Dinamika Psikologis... 56 5.1.3.1 Alur Dinamika Psikologis Informan S . 56 5.1.3.2 Alur Dinamika Psikologis Informan A.... 57 5.2 Refleksi. 58 5.2.1 Keterbatasan Penelitian .... 58 5.3 Simpulan... 59 5.4 Saran..... 59 5.4.1 Informan S.. 59 5.4.2 Informan A. 60 5.4.3 Masyarakat.. 60

DAFTAR PUSTAKA..... 61

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jadwal pengambilan data dengan informan 1 ( S )... 21 Tabel 2 Jadwal pengambilan data dengan informan 2 ( A ).. 24 Tabel 3 Tabel Kategorisasi Informan 1 ( S )... 32 Tabel 4 Tabel Kategorisasi Informan 2 ( A ). .35

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Verbatim Informan 1 .66 Verbatim Informan 2 122 Verbatim Significant Other 1. . 190 Verbatim Significant Other 2... 201

xvi

Fellicia Tabita. (2012). Gambaran Self Concept pada Individu yang Mengalami Labelling. Skripsi Sarjana Strata 1. Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ABSTRAKSI Labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya, dimana hal tersebut bisa mempengaruhi self concept individu yang mendapat label tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana gambaran self concept pada individu yang pernah mengalami labelling. Informan penelitian ini sebanyak 2 orang dengan masing-masing 1 orang significant other dengan kriteria berada dalam tahap dewasa awal dan pernah mengalami labelling. Pengambilan informan menggunakan metode snowball, sedangkan pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara. Hasil penelitian ini adalah adanya faktor penerimaan diri dan hubungan informan dengan lingkungan sosialnya, yang membantu membentuk konsep diri informan. Penerimaan diri informan pertama melihat bagaimana informan menilai dan menerima tingkah laku feminimnya namun tidak berkeinginan untuk merubah dirinya menjadi perempuan. Sedangkan informan kedua memiliki 2 macam penerimaan diri yaitu yang bersifat positif, berkaitan dengan informan menerima dirinya yang tomboy tetapi tidak berkeinginan untuk menjadi laki-laki. Hanya pada informan kedua, adanya penerimaan diri yang bersifat negatif, berkaitan dengan ketidaknyamanannya terhadap salah satu anggota tubuhnya sehingga informan berkeinginan untuk menghilangkan anggota tubuh tersebut. Kemudian baik pada informan pertama maupun kedua, sama-sama memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan keluarga dan teman-temannya. Keduanya merasa bahwa diterima oleh lingkungan sosialnya meskipun berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

Kata kunci : Labelling, self concept

xvii

Fellicia Tabita. (2012). "The Image of Self Concept in Individuals Who Have Labelling". Thesis Scholar Strata 1. Faculty of Psychology Widya Mandala Catholic University Surabaya ABSTRACT Labelling is set or describing a person in matters relating to the conduct of which it can affect self-concept of individuals that have that label. Therefore, the purpose of this study was to determine how the image of self-concept in individuals who have experienced labeling. Informants of this study as much as two people with one person each with a significant other criteria currently in the early adult stage and have had labeling. Decision informant snowball method, while data collection is done by using the interview method. The results of this study is the factor of self-acceptance and informant relationship with the social environment, which helped establish the concept of self-informants. The informant's first self-acceptance is more to see how informants judge and receive feminimnya behavior but have no desire to change himself into a woman. Whereas in the second informant, the informant has two kinds of self-acceptance is a positive self-acceptance is related to how the informant received a tomboy but she did not want to be men. Only, the second informant, a negative self-acceptance related to the inconvenience of one of his limbs so that the informant intends to remove the limb. Then either the first or second informant, both have good relationships with family and friends. Both felt that although accepted by the social environment does not behave according to gender.

Keyword : Labelling, self concept

xviii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saat ini, kekerasan menjadi hal yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Setiap hari, media massa selalu menyiarkan segala macam bentuk perilaku kekerasan. Termasuk kekerasan yang dialami oleh anakanak. Yang mana pelaku kekerasan terhadap anak adalah secara berurut orang tua 61,4%, tetangga 6,7%, famili 3,8%, dan guru 3%. Anak-anak mendapatkan perilaku kekerasan paling banyak di rumah (73,1%), tempat umum (23,2%) dan sisanya di tempat kerja (Kabupaten/Kota Layak Anak, 2010). Dalam psikologi, kekerasan bisa juga dimaknai sebagai perilaku bullying. Bullying sendiri adalah perilaku yang dilakukan secara berulang oleh individu yang dominan (Craig, Kathryn Henderson, Jennifer G. Murphy, 2000). Beberapa perilaku bullying antara lain bagi laki-laki, perilaku bullying yang sering diterima adalah dalam bentuk fisik dan verbal abuse. Sedangkan bagi perempuan, perilaku bullying yang sering diterima adalah verbal bullying (termasuk hal-hal yang berbau seks) dan penyebaran rumor (Addressing the Problem of Juvenile Bullying, U.S. Department of Justice, 2001) Perilaku bullying pasti memberikan efek tersendiri bagi korbannya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rigby dalam Riauskina, Djuwita & Sosseto (Widayanti, 2009), efek dari perilaku bullying itu adalah korban bullying akan mengalami berbagai macam gangguan seperti kesejahteraan psikologis yang rendah, penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis dan kesehatan yang memburuk. Selain itu, efek negatif dari perilaku bullying ini adalah bullying dapat menimbulkan perasaan tidak

2
aman, terisolasi, perasaan harga diri yang rendah, depresi atau menderita stress yang dapat berakhir dengan bunuh diri. Hal ini dibuktikan dari wawancara awal yang dilakukan pada subyek S yang sering mengalami bullying. Subyek mengatakan bahwa setiap kali ia dibully oleh orang lain, dia selalu merasa malu. ya malu aku.. apalagi kalo ngomongnya itu didepan banyak orang.. mau taruh dimana mukaku.. Selain subyek S, peneliti juga melakukan wawancara awal dengan subyek T yang juga mendapat bullying. Lain dengan subyek S merasa malu atas perlakuan bullying yang diterimanya, subyek T marah dengan ejekan tomboy yang diterimanya ya marahlah. Aku ini cewek kok dibilang cowok.. Ejekan yang diterima oleh subyek T diatas adalah kekerasan dalam bentuk pemberian julukan. Pemberian julukan terhadap seseorang termasuk ke dalam labelling. Labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A Handbook for The Study of Mental Health, label adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap AnakFOTA Salman, 2007). Beberapa contoh julukan yang sering diterima oleh anak adalah bodoh, nakal atau bandel. Selain itu, ada juga julukan si banci atau si tomboi biasanya ditujukan oleh anak yang dalam kesehariannya

berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya (Yohanes, 1993). Julukan banci ditujukan untuk anak laki-laki yang berperilaku seperti perempuan,

3
dan julukan tomboi ditujukan untuk anak perempuan yang berperilaku seperti laki-laki. Perilaku labelling sangat banyak ditemui di lingkungan sekitar kita. Jika ada seorang anak yang berperilaku tidak sesuai dengan gendernya, maka lingkungan akan dengan mudah memberikan julukan atau ejekan ke anak tersebut (Baron & Byrne, 2003: 189). Selain itu, masyarakat akan menolak anak-anak yang dalam golongan ini karena mereka dianggap berada di jalur yang tidak sewajarnya dalam norma masyarakat (Lets Talk About Sex, Parents and Friends of ExGays and Gays, 2011). Padahal idealnya, setiap anak seharusnya mendapatkan perlakukan dengan baik. Agar saat masa dewasanya, seorang anak bisa menjadi individu yang baik Karena berdasarkan sejarah psikologi perkembangan, pandangan di masa sekarang adalah masa anak-anak dilihat sebagai suatu periode kehidupan yang sangat penting dan unik, yang meletakkan suatu landasan penting bagi tahun-tahun orang dewasa dan sangat berbeda dari masa anak-anak. (Santrock, 2008: 8) Dengan kata lain, jika masa kecilnya anak-anak mendapat perlakuan yang baik maka masa dewasanya, anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, sesuai dengan apa yang ia terima saat masih kecil. Begitu pula sebaliknya, jika dalam masa kecilnya anak-anak mendapat perlakuan yang buruk, maka saat dewasanya tumbuh menjadi pribadi yang buruk dan menyimpang. Menurut ahli, pemberian label / cap atau juga disebut stigma akan memberi bekas dalam diri anak dan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya (Kompas, 2010). Konsep diri atau self concept adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya (Hurlock, 1999: 58). Self concept seseorang mengacu pada bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Orang dewasa mengevaluasi dirinya dari berbagai aspek di kehidupannya, seperti di bidang akademik, atletik, penampilan dan lain sebagainya (Santrock,

4 1998: 318). Dikhawatirkan, jika seseorang mengalami labelling, individu tersebut akan membentuk konsep diri yang sama dengan label yang orang lain atau lingkungan berikan kepadanya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi self concept seseorang, salah satunya adalah pengalaman terutama pengalaman interpersonal, yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga (Fitts dalam Agustiani, 2006: 139). Jika dalam berhubungan dengan orang lain, anak mendapatkan perasaan yang positif dan berharga, maka anak akan memiliki self concept yang baik pada saat dewasa. Namun pada anak mendapatkan perasaan negatif akibat dari labelling yang diterimanya, maka besar kemungkinan bahwa anak itu akan memiliki self concept yang buruk di masa dewasanya (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman, 2007). Namun bisa saja, self concept seseorang bisa menjadi lebih baik meskipun pada masa kecilnya ia mengalami perlakuan labelling. Seperti yang dialami oleh subyek A. Meskipun ia sering dibilang tomboy karena perilakunya yang cenderung maskulin, tetapi pada saat ini, ia mampu menunjukkan self concept yag baik karena masih ada orang-orang yang mau mendukungnya untuk berubah. Sahabatku juga, ayolah Gimanapun seliar-liarnya seperti apapun penilaian memang secara fisik, aku mulai belajar... belajar, kamu juga cewek.. aku, sekasar-kasarnya aku, orang terhadap aku, intinya ya wanita.. Ya udah, itu aku

Namun lain halnya dengan apa yang dialami oleh subyek A, anak yang dilabel oleh lingkungan akan menunjukkan perilaku sesuai dengan label yang diberikan kepadanya, terutama bagi anak remaja yang sudah memahami makna dari label yang diberikan kepadanya, karena merasa sudah terlanjur diberi label tersebut. Berbeda dengan anak yang mendapat

5 labelling di usia pra-sekolah, anak tersebut tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan label yang diarahkan kepadanya. Hanya saja, anak bisa merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan dengan label yang diterimanya (Kompas, 2010). Selain itu, anak yang mendapat label sejak kecil, akan cenderung lebih memungkinkan untuk menjadi delinquent dan itu berlangsung di kehidupan dewasanya (Siegel & Welsh, 2011: 184). Seperti yang terjadi pada para pecandu narkoba. Akibat label deviant yang diarahkan kepada dirinya, para pecandu narkoba cenderung terpaku pada pola deviant. Dan akan kembali menggunakan narkoba (Wicaksono, 2010). Hal ini seperti yang diungkapkan Romli Atmasasmita, label atau cap dapat memperbesar penyimpangan tingkah laku (kejahatan) dan dapat membentuk karier kriminal seseorang. (Atmasasmita, 1992: 39) Beberapa contoh diatas menegaskan bahwa self concept mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku seseorang (Fitts dalam Agustiani, 2006: 139). Karena itulah, orang dengan self concept baik, seperti subyek S, bisa menunjukkan aktualisasi dirinya di bidang akademik. Dan yang memiliki self concept yang buruk, akhirnya memunculkan perilaku kekerasan terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Perbedaan gambaran konsep diri pada subyek S dengan para pecandu narkoba inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana gambaran konsep diri pada individu yang mengalami labelling. Sedangkan kekhasan dari penelitian ini adalah karena penelitian ini berfokus pada labelling tomboy dan banci, yang kemudian dikaitkan dengan konsep diri dari individu yang mengalami labelling tersebut. Penelitian ini dilakukan karena masih kurangnya penelitian mengenai perilaku tomboy atau banci.

6 1.2 Fokus Penelitian Bagaimana gambaran self concept pada individu yang mengalami labelling?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran self concept pada individu yang mengalami labeling.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Memberikan masukan baru bagi pengembangan teori-teori


psikologi perkembangan dan sosial khususnya mengenai self concept dan perilaku labelling.

2. Mengingat masih sedikit teori psikologi yang membahas tentang


labelling yang berkaitan dengan gender, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyusun suatu teori baru khususnya dalam psikologi perkembangan dan sosial mengenai self concept pada individu yang mengalami labelling, dimana teori baru tersebut dapat dijadikan acuan bagi para psikolog maupun psikiater saat menangani permasalahan-permasalahan yang berkaitan

dengan labelling. 1.4.2 Manfaat praktis

1. Untuk subyek : diharapkan hasil dari penelitian ini bisa digunakan


oleh subyek ataupun pada orang-orang yang pernah mengalami labelling untuk bisa memperbaiki self conceptnya ke arah yang lebih baik.

7 2. Untuk lingkungan : memberikan masukan dalam mendidik anak, terutama ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan, dalam hal ini anak berperilaku tidak sesuai dengan gendernya.

3. Untuk psikolog : sebagai referensi saat menghadapi kasus-kasus


berkaitan dengan labelling, yaitu bagaimana membentuk konsep diri klien menjadi lebih baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Literatur Seputar Labelling


Labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A Handbook for The Study of Mental Health, label adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman, 2007). Dampak dari labelling, khususnya labelling yang negatif adalah munculmya perilaku menyimpang. Menurut Peggy Thoits (dalam Herlina, 2007: 1), orang yang diberi label menyimpang dan diperlakukan sebagai orang yang menyimpang akan menjadi menyimpang (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman, 2007). Selain itu, menurut Romli Atmasasmita, label atau cap dapat memperbesar penyimpangan tingkah laku (kejahatan) dan dapat membentuk karier kriminal seseorang. (Atmasasmita, 1992: 39). Sedangkan menurut Lemert, proses labelling ini bisa membuat seseorang yang awalnya tidak memiliki kebiasaan menyimpang menjadi terbiasa. Bahkan kebiasaan tersebut menjadi gaya hidupnya (Maryati & Suryawati, 2007: 122) Efek dari label yang diterima oleh anak adalah anak akan terisolasi dari teman sebayanya yang tidak mendapat label, menutup akses untuk lingkungan yang baik dan membuat anak tersebut lebih menyukai dunia kriminal (Tannenbaun dalam Mangal, 2007: 464). Individu yang mengalami label akan cenderung untuk mengulangi dan terus menerus melakukan 8

9 penyimpangan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dari kekecewaan atas label atau cap yang diberikan masyarakat kepadanya (Abdullah, 2008: 6).

2.2 Kajian Literatur Tentang Konsep Diri Pengertian konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, tetapi berkembang dari pengalaman yang terus menerus dan terdiferensiasi. Sedangkan Fisst (1971) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, yang menjadi acuan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri : 1. Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal, yang

memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga 2. Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain. 3. Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya. Konsep diri juga memiliki 2 dimensi, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Yang dimaksud dimensi internal adalah bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri berdasarkan dengan dunia didalam dirinya. Dimensi internal ini dibagi ke dalam 3 bentuk : 1. Diri Identitas : bagian terdasar dari konsep diri, mengacu pada label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu yang bersangkutan, untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya. Kemudian dengan bertambahnya usia

10 dan interaksi dengan lingkungan, pengetahuan tentang dirinya sendiri semakin bertambah, sehingga mampu melengkapi keterangan tentang dirinya dengan hal-hal yang kompleks.

2. 3.

Diri Pelaku ( behavioral self ) : persepsi diri tentang

tingkah lakunya, berkaitan dengan apa yang telah dilakukannya. Diri Penerimaan / Penilai ( judging self ) : berfungsi

sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator. Merupakan perantara dari identitas diri dengan diri pelaku. Diri penilai ini menentukan kepuasan yang akan ditampilkan atau seberapa jauh seseorang menilai dirinya. Sedangkan dimensi eksternal adalah bagaimana individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi eksternal dibagi menjadi 5 bentuk:

1.

Diri Fisik ( physical self ) : menyangkut persepsi

seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik, mengenai penampilan dirinya dan keadaan tubuhnya.

2.

Diri Etik-Moral ( moral-ethical self ) : merupakan

persepsi seseorang terhadap dirinya berdasarkan standar pertimbangan nilai moral dan etika.

3.

Diri Pribadi ( personal self ) : merupakan persepsi

seseorang tentang keadaan dirinya. Hal ini dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap pribadinya.

4. 5.

Diri Keluarga ( family self ) : menunjukkan perasaan dan

harga dirinya seseorang dalam kedudukannya dalam keluarga. Diri Sosial ( social self ) : penilaian individu terhadap

interaksi dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya.

11 Perkembangan konsep diri akan terus berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Symonds (1951, dalam Fisst, 1971) menyatakan bahwa persepsi tentang diri mulai berkembang ketika kemampuan perseptif seseorang muncul. Ketika individu masih bayi, ia mulai membentuk pandangan tentang dirinya sebagai seorang individu walaupun masih kabur. Pada periode awal kehidupan, konsep diri individu sepenuhnya didasari oleh persepsi tentang diri sendiri. Setelah itu, dengan bertambahnya usia seseorang, konsep diri tidak lagi berfokus pada diri sendiri tetapi lebih banyak didasari oleh nilai-nilai yang diperoleh dari orang lain. Pada tahap remaja dan dewasa awal, akan ada perubahan konsep diri. Dan ada 3 kesimpulan atas perkembangan tersebut yaitu : 1. Arti penting motivasi untuk membangun dan mempertahankan konsep diri yang bervariasi sebagai fungsi dari umur 2. Sebagai individiu yang akan memasuki tahap dewasa tengah dan dewasa akhir, konsep dirinya akan lebih positif. 3. Konsep diri seseorang bisa menjadi lebih jelas dan lebih stabil saat tahap dewasa tengah dan dewasa akhir walaupun buktibukti yang ada masih kurang kuat dan konsisten Tahap remaja dan dewasa awal memiliki motivasi tinggi untuk membangun dan mempertahankan konsep diri. Sehingga hal ini menyebabkan adanya perubahan pada konsep diri seseorang yang berada di tahap tersebut. (Rice, Cora & Monisha Pasupathi, Reflecting on SelfRelevant Experiences: Adult Age Differences. 2010) Konsep diri juga terbagi menjadi 2 macam, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Individu dengan konsep diri negatif adalah individu

yang cenderung menarik diri dalam berhubungan dengan orang lain, atau bertindak agresif secara tidak wajar (Pandjaitan&Pamuchtia, 2010). Sedangkan individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang merasa yakin akan kemampuannya, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, menyadari bahwa setiap orang mempunyai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat. Dan mampu memperbaiki diri karena sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya (Rakhmat, 2000: 105).

2.3 Review Jurnal Yang Berkaitan Dengan Labelling dan Self Concept Beberapa penelitian telah mencoba untuk melihat dampak dari labelling terhadap self concept seseorang yang dilabel oleh lingkungannya. Salah satunya penelitian yang melihat bagaimana pengaruh dari labelling terhadap konsep diri yang dilakukan oleh Jensen (1972) dan Matsueda (1992) dalam Bernburg (2006). Jensen dan Matsueda mengatakan bahwa ada efek dari labelling terhadap perkembangan konsep diri yang menyimpang. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa individu dengan perilaku menyimpang akan mencari individu lain yang juga berada di posisi yang tidak menguntungkan di dalam masyarakat, yan mana mereka akan saling membagi konsep diri yang deviant beserta perilakunya dan memungkinkan untuk terjadinya perilaku yang tidak biasa. (Bernburg dkk, 2006)

2.4 Gambaran Self Concept Pada Individu Yang Mengalami Labelling Konsep diri seseorang mengalami banyak perubahan saat individu masih berada dalam tahap remaja. Akan berakhir pada saat individu masuk

13 dalam tahap dewasa. Apa yang terjadi pada individu pada saat kecil sampai dengan remaja akan mempengaruhi konsep dirinya saat dewasa. Labelling merupakan salah satu faktor yang bisa mempengaruhi konsep diri seseorang. Anak yang mendapat suatu label tertentu dari orang dewasa akan menerima label tersebut dan bahkan tidak dapat merubah hal tersebut (Adywibowo, 2010). Seseorang yang mengalami labelling, kemungkinan akan

memunculkan perilaku yang menyimpang (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman, 2007). Label positif pun akan memunculkan perilaku yang negatif bagi anak yang mendapat label tersebut. Seperti label anak pintar pada anak yang berada di kelas akselerasi. Label tersebut bisa membuat siswa tersebut terbebani dan membuat siswa tersebut merasa gagal ketika tidak bisa memenuhi tuntutan lingkungan. Hal ini akan memicu munculnya konsep diri negatif pada siswa tersebut sehingga berpengaruh buruk pada kehidupan sosialnya (Ari dkk, 2009). Sedangkan seseorang yang mendapat label negatif, seperti homo atau gay dari lingkungannya, akan membuat individu tersebut memiliki konsep diri negatif. Karena individu tersebut selalu merasa memiliki banyak kekurangan, sehingga membatasinya untuk berinteraksi dengan

lingkungannya. Namun ada juga individu yang bisa memiliki konsep diri positif walaupun mendapat label yang negatif. Hal ini disebabkan karena individu tersebut tidak merasa terganggu dengan kondisi dirinya, bahkan mampu menghargai dirinya sendiri (Konsep Diri Pria Biseksual, Jurnal Psikologi Volume 3, 2010).

14 Beberapa contoh di atas semakin menguatkan pernyataan bahwa labelling yang diterima individu akan mempengaruhi konsep diri yang dimiliki oleh individu tersebut. Bahwa orang yang mendapat labelling, kemungkinan besar akan mempengaruhi cara pandang individu tersebut terhadap dirinya sendiri.yang mana cara pandang tersebut akhirnya mempengaruhi juga gambaran konsep diri individu yang mendapat label. Hanya saja, pada penelitian tentang konsep diri diatas, baik konsep diri negatif maupun konsep diri positif, semuanya tidak membahas tentang labelling pada individu yang bersikap tomboy atau feminim. Sehingga, hal ini semakin menarik minat peneliti untuk melihat bagaimana self concept pada individu yang mengalami labelling.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Dalam Penelitian Penelitian dengan judul Gambaran Self Concept pada Individu Yang Mengalami Labelling ini menggunakan metode kualitatif karena peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran self concept pada seseorang yang mengalami labelling. Selain itu, peneliti juga ingin mendeskripsikan bagaimana proses yang terjadi pada individu yang mengalami labelling sehingga terbentuk konsep dirinya saat ini. Selain itu, metode kualitatif ini bisa membantu peneliti untuk menggali lebih dalam setiap jawaban yang diberikan oleh informan penelitian. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Poerwandari (1998: 36) yang mengatakan bahwa metode kualitatif merupakan metode yang bertujuan mendeskripsikan dan memahami proses dinamis suatu fenomena sosial secara mendalam dan detil. Oleh karena itu, metode ini dipandang sesuai dengan tujuan penelitian ini.

3.2. Subjek Penelitian 3.2.1. Karakteristik Subjek Penelitian Subjek yang akan digunakan pada penelitian ini sebanyak dua orang yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun kriteria tersebut adalah: a. Subjek berada dalam tahap dewasa awal b. Mengalami labelling

15

16 3.2.2. Cara Mendapatkan Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini didapatkan melalui metode snowball, dimana subjek diperoleh dengan mengenal informan sebelumnya dan atas rekomendasi dari pihak-pihat tertentu, seperti teman peneliti.

3.3. Metode Pengumpulan Data Data diambil dengan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview), karena dengan metode ini peneliti akan mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan mendalam mengenai informasi-informasi penting dari subjek, sekaligus metode ini berfungsi untuk mengeksplorasi lebih mendalam mengenai suatu peristiwa (Champion & Black, 1992: 306309) dalam prosesnya bentuk wawancara yang digunakan yaitu semi structured interview, karena teknik ini mempermudah proses pengambilan data dengan adanya guideline. Guideline pertanyaan penelitian menurut Willig (2001: 22) bertujuan untuk mengarahkan proses penelitian dan pertanyaan dalam penelitian berfungsi sebagai trigger agar subjek bercerita tentang hidupnya. Adapun guideline interview pada penelitian ini, yaitu : 1. Latar belakang subjek Kapan subyek mengalami labelling Hubungan dengan lingkungan sosial Gambaran self concept subjek

2.
3.

4.

3.4. Teknik Analisis Data Menurut Hayes (2000: 173-182) prinsip teknik analisis data dalam penelitian kualitatif disebut sebagai thematic analysis. Thematic analysis yaitu suatu proses analisis data yang melibatkan pemisahan informasi

17 menjadi tema-tema. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah inductive thematic analysis yaitu proses pemisahan data yang dilakukan peneliti tanpa menetapkan tema - tema yang akan menjadi panduan pemisahan terlebih dahulu. Langkah langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan analisis data pada penelitian ini yaitu : a. Membuat verbatim wawancara dalam bentuk transkrip yang terdiri dari kolom nomor baris, kolom verbatim, dan kolom ide. b. Mencari ide dari hasil verbatim. c. Tahap koding Menandai kata, kalimat, atau paragraf dari hasil verbatim

yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Menginterpretasi kata kunci dengan menggunakan

gagasan subjektif peneliti. Tahap kategorisasi Mengelompokkan gagasan yang digunakan untuk menginterpretasi data dalam kategori berdasarkan kesamaan yang ditemukan. e. Menganalisa hasil wawancara yang telah di dukung oleh teori yang telah didapatkan kemudian mendeskripsikan secara singkat.

d.

3.5. Validitas Penelitian Peneliti menggunakan 3 jenis validitas dalam penelitian ini, yaitu validitas komunikatif, validitas argumentatif dan validitas ekologis : a. Validitas Komunikatif Dilakukan melalui dikonfirmasikannya kembali data dan analisisnya pada responden penelitian dimana subjek bisa mengkoreksi temuan penelitian yang dilaporkan oleh peneliti.

18 b. Validitas Argumentatif Semua poin-poin penelitian dapat dirujuk dengan data verbatim. c. Validitas Ekologis Penelitian dilakukan pada kondisi alamiahnya, tanpa ada eksperimen atau kontrol. Hal ini dikarenakan ketiga jenis validitas tersebut sesuai dengan kebutuhan penelitian ini.

3.6. Etika Penelitian

a. Inform consent
Subjek diinformasikan mengenai prosedur penelitian dan hakhaknya dalam penelitian, sebelum penelitian dimulai. b. Right to withdraw Subjek diinformasikan bahwa dirinya memiliki hak untuk mengundurkan keikutsertaannya dalam selama proses

pengambilan data kapanpun tanpa rasa bersalah c. Confidentiality Peneliti menjaga kerahasiaan identitas diri subjek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Persiapan Pengambilan Data 4.1.1 Peneliti Peneliti melakuan persiapan terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Peneliti perlu mempersiapkan diri agar dapat membangun sikap dan bahasa yang tepat saat mengambil data ke lapangan, sehingga saat wawancara berlangsung, informan akan merasa lebih nyaman. Persiapanpersiapan tersebut adalah :

1. Membuat daftar pertanyaan dengan mengacu pada guideline


pertanyaan 2. Menyiapkan peralatan yang mendukung wawancara yaitu alat perekam berupa Handphone BlackBerry, daftar pertanyaan dan alat tulis Setelah menyiapkan daftar pertanyaan, peneliti kemudian mencari informan yang sesuai dengan kriteria penelititan. Pencarian informan ini berlangsung dari bulan Desember 2011 hingga awal bulan Januari 2012. Untuk mendapatkan informan, peneliti meminta rekomendasi dari temanteman peneliti. Dan dari teman-teman peneliti, akhirnya peneliti mendapatkan informan T (perempuan). Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan informan T pada tanggal 12 Januari 2012, kemudian 7 Februari 2012 dan 10 Februari 2012. Peneliti kemudian medapatkan

informan kedua, yaitu informan R (pria). Dan dengan informan R, peneliti melakukan wawancara pada tanggal 30 Januari 2012. Dikarekan peneliti menemukan halangan pada informan R, yaitu ketidaksesuaian jadwal pertemuan untuk wawancara, maka peneliti mengganti informan R dengan informan S (pria). Peneliti mendapatkan

19

20 informan S juga berdasarkan informasi dari teman-teman peneliti. Dengan informan S ini, peneliti melakukan wawancara paa tanggal 9 Februari 2012, 10 Februari 2012 dan 19 Februari 2012. Peneliti juga melakukan penggantian informan T dengan informan A (perempuan), dikarekan ada kriteria penelitian yang tidak sesuai dengan informan T. Peneliti mendapatkan informan A dengan meminta sendiri informan A untuk menjadi informan dalam penelitian ini. Peneliti melakukan wawancara dengan informan A pada tanggal 21 Februari 2012, 22 Februari 2012 dan 27 Februari 2012. Untuk informan S, wawancara dilakukan dirumah informan, tetapi saat ayah informan tidak berada dirumah. Sedangkan untuk informan A, wawancara dilakukan di kampus informan, dengan mengambil salah satu ruang kelas yang kosong. 4.1.2 Perijinan Penelitian Setelah mendapatkan informan penelitian, maka kemudian peneliti membuat surat kesediaan berpartisipasi dalam penelitian dengan meminta kop surat fakultas Psikologi melalui tata usaha fakultas. Surat tersebut berisi penjelasan hak-hak informan dalam penelitian seperti kerahasiaan, memiliki hak untuk mengundurkan diri dari penelitian dan bertanya kesediaan informan untuk direkam. Surat kesediaan tersebut peneliti berikan kepada informan pertama sebelum peneliti melakukan wawancara pertama serta meminta informan untuk menandatangani surat kesediaan tersebut. Hal yang sama dilakukan untuk informan kedua.

4.2 Proses Pengambilan Data Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara dengan 2 orang informan dan 2 orang significant other. Informan dalam penelitian ini adalah 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang keduanya berusia 20

21 tahun ke atas. Sedangkan significant other dari pihak informan laki-laki adalah ibunya, dan dari pihak informan perempuan adalah teman baiknya. Kedua informan sama-sama masih menempuh pendidikan S1 di 2 universitas swasta yang berbeda. Serta keduanya masih tinggal bersama orangtuanya. 4.2.1 Pelaksanaan Pengambilan Data dengan Informan Tabel 4.1 Jadwal pengambilan data dengan informan 1 ( S ) Nama S S S L (Signifi cant other) Hari / Tanggal Kamis, 9 Februari 2012 Jumat, 10 Februari 2012 Minggu, 19 Februari 2012 Minggu, 19 Februari 2012 Waktu Sekitar 1,5 jam Sekitar 15 menit Sekitar 10 menit Sekitar 12 menit Tempat Rumah informan Rumah informan Rumah informan Rumah significant other Keterangan Wawancara Observasi Wawancara Wawancara Wawancara +

Pertemuan 1 Peneliti menghubungi informan S untuk membuat janji wawancara pada tanggal 7 Februari 2012. Dikarekan informan tidak bisa keluar rumah (tidak bisa naik kendaraan), maka penelitilah yang akhirnya datang ke rumah informan S. Informan meminta peneliti datang pada pk 16.00, yaitu setelah informan pulang kuliah dan ayahnya belum pulang ke rumah. Pada tanggal 9 Februari 2012, peneliti datang ke rumah informan di kawasan Surabaya Tengah. Saat wawancara, informan memakai T-shirt putih, celana pendek coklat, dan memakai sandal hitam. Usia informan 21 tahun dan tinggi 166 cm. Proses wawancara dilakukan di ruang tamu. Suasana saat wawancara cukup tenang, namun kadang sedikit terganggu oleh suara kucing peliharaan keluarga subyek. Pencahayaan

22 cukup terang sehingga wajah informan cukup jelas. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Sebelum wawancara, peneliti menjelaskan kepada informan bahwa wawancara ini direkam. Selain itu, peneliti juga menjelaskan tentang topik penelitian peneliti. Dan sebelum proses wawancara dimulai, peneliti meminta informan untuk merilekskan badan informan sehingga

menyamankan informan saat wawancara berlangsung. Peneliti memulai proses wawancara dengan menanyakan tentang latar belakang keluarga informan. Kemudian berlanjut ke perlakuan labelling yang diterima oleh informan. Serta bagaimana sikap lingkungan informan dan pertanyaan-pertanyaan seputar konsep diri informan. Semua pertanyaan dijawab informan dengan suara yang cukup kalem dan lebih banyak menampilkan ekspresi datar. Ditengah-tengah proses wawancara, informan meminta ijin kepada peneliti untuk melakukan wawancara sembari memindahkan data ke laptop informan. Karena menurut peneliti, hal tersebut tidak mengganggu proses wawancara, maka peneliti tetap melanjutkan proses wawancara. Peneliti menutup wawancara sekitar pk 17.30, karena ayah informan akan pulang dari tempat kerjanya. Pertemuan 2 Peneliti membuat janji untuk wawancara kedua dengan informan pada tanggal 9 Februari 2012 malam untuk kembali melakukan wawancara pada keesokan harinya, tanggal 10 Februari 2012. Informan meminta peneliti untuk datang pk 17.00, karena informan baru memiliki waktu kosong di jam tersebut.

23 Keesokan harinya, peneliti mendatangi rumah informan 10 menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Peneliti menunggu informandi ruang tamu rumah informan karena wawancara akan berlangsung di ruang tamu. Saat proses wawancara, informan memakai T-shirt hitam, celana pendek jeans dan sandal hitam. Pencahayaan cukup terang sehingga wajah informan cukup jelas. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Peneliti memulai wawancara dengan bertanya seputar perlakuan labelling yang diterima oleh informan, serta sikap-sikap informan selama mengalami perlakuan labelling. Sama seperti pertemuan pertama, informan sering menampakkan ekspresi datar dan menjawab dengan secukupnya. Peneliti menutup wawancara sekitar pk. 17.30 dan peneliti memutuskan untuk langsung pulang karena ayah informan akan segera pulang. Pertemuan 3 Peneliti membuat janji untuk wawancara ketiga dengan informan pada tanggal 15 Februari 2012. Informan meminta peneliti untuk bertemu tanggal 19 February 2012 pk 16.00. Peneliti juga meminta ijin kepada informan untuk juga mewawancarai significant other dari informan, yaitu ibu kandung informan. Pada hari yang dijanjikan, peneliti datang ke rumah informan tepat pk 16.00. kemudian peneliti dipersilahkan masuk ke ruang tamu informan, dan segera memulai wawancara dengan informan. Pencahayaan cukup terang. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Untuk

24 pertemuan kali ini, informan memakai T-shirt biru tua, celana pendek hitam dan sandal hitam. Peneliti lebih banyak bertanya tentang kehidupan sosial informan dan sedikit menyinggung tentang perlakuan labelling yang diterima informan saat masih sekolah. Informan tetap berekspresi datar seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Peneliti menutup wawancara sekitar pk 16.15. Dan kemudian informan memanggil ibunya untuk melakuan proses wawancara dengan peneliti. Ibu informan memakai daster rumahan saat melakukan wawancara. Peneliti lebih banyak bertanya tentang perilaku feminim informan serta perkembangan-perkembangan yang dialami informan sejauh yang diketahui oleh ibu informan. Kadang di sela-sela wawancara, kucing peliharaan keluarga informan sedikit menggangu ibu informan, sehingga suara kucing tersebut masuk ke dalam rekaman wawancara. Karena itu, ibu informan meminta ijin peneliti untuk membawa kucing ke tempat lain agar tidak mengganggu proses wawancara. Wawancara ini berakhir sekitar pk 16.30. Setelah mengucapkan terima kasih kepada informan dan ibunya, peneliti pulang karena peneliti ada keperluan lain. Tabel 4.2 Jadwal pengambilan data dengan informan 2 ( A ) Nama A Hari / Tanggal Selasa, 21 Februari 2012 Rabu, 22 Februari 2012 Senin, 27 Februari 2012 Waktu Sekitar menit 16 Tempat Salah satu lorong kelas di kampus informan Salah satu kelas kosong di kampus informan Salah satu kelas kosong di kampus Keterangan Wawancara

Sekitar menit

30

Wawancara + observasi

Sekitar menit

20

Wawancara + observasi

25 informan Salah satu kelas kosong di kampus informan

St ( Signif icant other )

Selasa, 28 Februari 2012

Sekitar menit

12

Wawancara

Pertemuan I Peneliti menghubungi informan A untuk membuat janji wawancara pada tanggal 18 Februari 2012. Kemudian informan menawarkan untuk bertemu di kampusnya pada hari Selasa, 21 Februari 2012, sekitar pk 11.00. Pada tanggal 21 Februari 2012, peneliti datang ke kampus informan di kawasan Surabaya Tengah. Tapi informan mengundurkan jam wawancara karena informan masih ada pekerjaan. Informan baru datang pk. 12.30. peneliti bertemu dengan informan dengan di kantin kampusnya, kemudian kami mencari kelas kosong untuk wawancara. Karena tidak ada kelas kosong, kami menggunakan salah satu lorong di kampus informan yang cukup sepi. Saat wawancara, informan memakai T-shirt hitam, celana panjang jeans, dan memakai sepatu kets. Usia informan saat ini 22 tahun dan tinggi 160 cm. Suasana saat wawancara cukup tenang, namun kadang sedikit terganggu oleh mahasiswa-mahasiswa yang lewat. Pencahayaan kurang seberapa terang tetapi wajah informan masih cukup terlihat jelas. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Sebelum wawancara, peneliti menjelaskan kepada informan bahwa wawancara ini direkam. Selain itu, peneliti juga menjelaskan tentang topik penelitian peneliti. Dan sebelum proses wawancara dimulai, peneliti

26 memberikan beberapa joke agar menyamankan informan saat wawancara berlangsung. Peneliti memulai proses wawancara dengan menanyakan tentang latar belakang keluarga informan. Kemudian berlanjut ke perlakuan labelling yang diterima oleh informan. Semua pertanyaan dijawab informan dengan suara yang cukup antusias dan banyak menggunakan bahasa tubuh seperti menggerakkan tangan, mengacak-acak rambut. Wawancara berakhir sekitar pk 13.00 karena peneliti memiliki aktivitas lain. Pertemuan 2 Peneliti membuat janji untuk wawancara kedua dengan informan pada tanggal 21 Februari 2012 malam untuk kembali melakukan wawancara pada keesokan harinya, tanggal 22 Februari 2012. Dan kami sepakat untuk bertemu pada pk. 11.00 di kampus informan. Keesokan harinya, peneliti mendatangi kampus informan pk 10.00 dan menunggu informan di kantin kampus informan. Tetapi informan memundurkan jam pertemuan karena informan terlambat bangun. Informan baru datang ke kampusnya sekitar pk 12.15, dan wawancara dimulai pk 12.30 dengan menggunakan salah satu kelas kosong. Saat proses wawancara, informan memakai T-shirt tetapi tidak terlihat warnanya karena tertutup jaket, celana panjang jeans hitam dan sepatu kets. Pencahayaan cukup terang sehingga wajah informan cukup jelas. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Peneliti memulai wawancara dengan bertanya seputar konsep diri informan, serta beberapa hal berkaitan dengan perlakuan labelling yang diterima informan serta sikap informan mengenai perilaku labelling tersebut. Sama seperti pertemuan

27 pertama, informan berbicara dengan antusias dan menggunakan gerakan tubuh. Peneliti menutup wawancara sekitar pk. 13.00. Pertemuan 3 Peneliti membuat janji untuk wawancara ketiga dengan informan pada tanggal 26 Februari 2012. Dan kami sepakat untuk bertemu keesokkan harinya di kampus informan, pk 11.00. Pada hari yang dijanjikan, peneliti datang ke kampus informan sekitar pk 11.00, dan menunggu di depan kapel kampus informan. Informan meminta ijin untuk karena terlambat datang karena masih mengantri mengurus E-KTP. Informan baru datang sekitar pk. 11.30. Kemudian peneliti dan informan mencari kelas kosong untuk melakukan wawancara. Setelah mendapat kelas kosong, peneliti langsung memulai wawancara. Pencahayaan cukup terang. Posisi duduk peneliti dengan informan adalah bersebelahan. Sehingga untuk proses wawancara, peneliti harus

memiringkan badan agar bisa melihat informan dan melakukan perekaman dengan baik. Untuk pertemuan kali ini, informan kembali memakai jaket warna abu-abu yang tertutup rapat sehingga peneliti tidak dapat melihat warna T-shirt yang dipakai informan, celana jeans biru dan sepatu kets. Peneliti bertanya tentang perkembangan konsep diri yang dialami oleh informan, bagaimana perubahan-perubahan yang dialami oleh informan. Informan menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan antusias, namun sesekali tangan informan terlihat membenarkan branya. Peneliti menutup wawancara sekitar pk 12.00. Kemudian informan menjelaskan bahwa significant othernya adalah teman satu kampusnya. Dan meminta peneliti untuk menghubungi sendiri significant other tersebut. Setelah itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada informan atas kesediaannya mengikuti beberapa kali wawancara.

28 Wawancara dengan significant other Peneliti membuat janji dengan significant other St pada tanggal 27 Februari 2012, dan sepakat untuk bertemu pada keesokan harinya pk 11.00 di kampus St. Esoknya, peneliti datang ke kampus St sekitar pk 11.00, namun St belum datang. St baru datang sekitar pk 11.20. Namun peneliti tidak bisa langsung melakukan wawancara karena St masih berbincang dulu dengan temannya. Baru sekitar pk 11.35, peneliti dan St mencari kelas kosong dan setelah mendapatkan tempat, peneliti segera memulai wawancara. Peneliti memulai wawancara dengan bertanya kedekatan antara St dengan informan A. kemudian bertanya tentang perilaku-perilaku tomboy dari informan A yang biasa dilihat St serta penilaian-penilaian St terhadap perilaku tomboy informan A. Suasana selama wawancara sangat kondusif, posisi duduk peneliti dengan St adalah bersebelahan. St memakai jaket biruhitam, T-shirt yang warnanya tidak diketahui oleh peneliti karena tertutup rapat oleh jaket, celana jeans biru, dan sepatu kets. Peneliti menutup wawancara sekitar pk 12.00, dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan waktu dari St.

4.3 Temuan Penelitian 4.3.1 Anamnesa Informan 1 ( S ) a. Identitas Informan Nama Jenis Kelamin Alamat :S : Laki-laki : Bratang

Pendidikan Terakhir : SMA saat ini sedang menepuh pendidikan S1

29 b. Anamnesa Keluarga informan bisa dibilang tipe keluarga patriarki, yang semua keputusan tertinggi di tangan ayah, dan anggota keluarga yang lain harus menurutinya. Informan sejak kecil lebih dekat dengan ibunya karena ayahnya adalah tipe orang yang kaku, sedangkan ibunya lebih luwes kepada anaknya. Informan sendiri adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya perempuan dan sudah menikah, dan kini tinggal di lain kota. Kehidupan keluarga informan termasuk dalam keluarga yang berkecukupan. Ayah informan bekerja sebagai pegawai salah satu toko besi di kawasan Surabaya Utara. Sedangkan ibu informan bekerja sebagai wiraswasta. Ayah informan merupakan orang yang kaku, menurut informan dan ibunya. Hal ini dikarenakan, ayah informan berasal dari keluarga yang cukup keras juga. Sehingga, ayah informan juga menerapkan hal yang sama ke keluarganya yang sekarang. Dan hal ini menyebabkan informan merasa ayahnya kaku dan kolot. Sedangkan ibu informan, adalah orang yang santai, sehingga ibunya bisa dekat dengan kedua anaknya. Karena informan merupakan anak yang paling kecil dan anak lakilaki satu-satunya, informan cenderung diperlakukan posesif oleh ayahnya. Perlakuan posesif yang diterima informan antara lain informan tidak diperbolehkan menyeberang jalan sendirian tanpa dibantu menyeberang oleh orang lain. Sehingga menyebabkan informan baru bisa menyeberang sendiri saat SMP. Contoh lain perlakuan posesif dari ayah informan yaitu saat masih sekolah, informan tidak diperbolehkan pergi dengan temantemannya yang menggunakan sepeda motor, dengan alasan takut temanteman informan ugal-ugalan waktu membawa sepeda motor. Menurut informan, dirinya menjadi kurang tegas dalam mengambil keputusan karena informan lebih sering menerima jadi hasil keputusan orang lain. Misalnya untuk membeli baju, informan hanya menerima baju-

30 baju yang sudah dipilihkan oleh orang lain, tanpa memperdulikan apakah informan suka dengan bajunya atau tidak. sehingga perilaku informan ini terbawa hingga saat ini. Informan lebih suka mengatakan terserah ketika dia dimintai pendapat. Informan mulai mendapat label banci saat di SD. Kadang ada teman informan yang memanggil informan banci saat ada orangtua informan. Sehingga orangtua informan memarahinya karena hal tersebut. Selain itu, ada anggota keluarga informan yang menasehati informan agar lebih maskulin tetapi di depan banyak orang dan membuat informan malu. Semakin dewasa, informan mengaku mengurangi sikap

kefeminimannya dengan berdandan lebih laki-laki, cara berjalan juga lebih gagah, serta belajar membuat keputusan seperti berusaha mengutarakan pendapat, berani mengatakan tidak. Dan informan mengatakan bahwa dirinya akan berusaha untuk lebih tegas lagi agar bisa menghilangkan label banci tersebut. 4.3.3.1 Temuan Hasil Observasi Selama proses wawancara, yang berlangsung 3 kali, informan sering bercerita dengan ekspresi datar dan hanya tertawa sesekali ketika menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan perilaku labelling dialaminya. yang

4.3.2 Anamnesa Informan 2 ( A ) a. Identitas Informan Nama Jenis Kelamin Alamat :A : Perempuan : Kupang

Pendidikan Terakhir : SMA saat ini sedang menepuh pendidikan S1

31 b. Anamnesa Informan berasal dari keluarga yang mana kedudukan antara ayah dan ibunya sama-sama seimbang, meskipun dominasi lebih banyak di tangan ibu informan. Informan sejak kecil lebih dekat dengan ayahnya karena ibunya termasuk wanita karier. Informan memiliki adik laki-laki yang masih SMP. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta, sedangkan ibunya adalah seorang kepala sekolah. Selain itu, informan juag dekat dengan tantenya karena yang merawat informan ketika bayi adalah tantenya. Karena ibunya sibuk dan ayahnya sering tugas keluar kota. Sejak kecil informan sudah tidak menyukai hal-hal yang berbau perempuan karena menurutnya dapat mengganggu aktivitas informan yang suka sekali berkeringat dan melakukan kegiatan outdoor. Informan juga kurang menyukai kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan oleh perempuan, karena menurutnya kegiatan perempuan itu aneh dan kadang tanpa tujuan. Informan semakin trauma untuk pergi dengan perempuan karena pernah merasa ditipu oleh teman perempuannya. Yang meminta informan menemani berbelanja namun pada kenyataannya teman informan tersebut akan bertemu dengan pacarnya. Karena informan mengetahui hal tersebut, ia memutuskan untuk meninggalkan temannya. Namun ayahnya mengira informan pergi main-main dan memukul informan saat dirumah. Hal tersebut menyebabkan informan menjadi kecewa dengan sikap perempuan dan memilih untuk lebih maskulin. Informan mulai berubah semenjak ada nasehat dari teman-teman dekatnya dan juga setelah melihat perubahan sikap dari ibunya. Informan mengaku bahwa pertama kalinya dia dimandikan oleh ibunya sendiri adalah saat informan sakit dan harus dirawat dirumah sakit. Karena hal itulah,

32 informan saat ini jauh lebih perhatian dengan perempuan, terutama jika ada teman perempuan informan yang kurang bisa menjaga diri. 4.3.2.2 Temuan Hasil Observasi Selama proses wawancara yang berlangsung 3 kali, informan menunjukkan sikap terbuka dan antusias saat mejawab pertanyaanpertanyaan dari peneliti. Informan juga sering melakukan gerakan tubuh seperti mengacak-acak rambut, melipat tangan, dan menyenderkan tangan ke sandaran kursi. Namun pada pertemuan ketiga, peneliti mengamati gerakan tidak sadar yang dilakukan oleh informan yaitu membenarkan branya sambil bercerita.

4.4 Hasil Penelitian 4.4.1. Pengolahan Data Tabel Kategorisasi Informan 1 ( S ) Tema Latar informan Sub Tema belakang Selective Coding Informan adalah anak kedua Mulai berperilaku feminism sejak SD Pergaulan informan yang membuatnya feminim Mulai mendapatkan pelabelan banci saat SD Keluarga informan juga pernah menyebut informan banci Infroman pernah mendapatkan oerkataan kasar dari orangtuanya berkaitan dengan perilaku feminimnya Infroman sering diejek saat sedang olahraga Pelabelan yang diterima

Awal mengalami labelling Bentuk labelling yang diterima informan

Dari keluarga

Dari teman

33 informan berlangsung sampai SMP Informan diolok banci di depan umum Informan merasa sifatsifatnya lemah seperti cewek Informan menilai bahwa dirinya lebih berperilaku ke arah cewek Informan merasa kurang bisa mengambil keputusan Informan melihat dirinya masih bersikap feminim namun juga sudah bersikap lebih laki Informan merasa kefeminimannya dilihat dari cara bertindaknya yang kurang tegas Informan merasa nyaman dengan hidupnya meskipun tidak nyaman saat diejek Informan merasa nyaman hidupnya namun tetap berubah menjadi lebih laki-laki Informan merasa dirinya tidak perlu berubah menjadi perempuan Informan merasa bukan banci meskipun sering diejek banci Ada kedekatan di keluarga informan Informan masih dihargai keberadaannya di keluarganya Informan tidak melawan

Konsep diri informan

Penerimaan informan

diri

Hubungan dengan lingkungan sosial

34 ejekan temannya karena merasa dirinya memang seperti perempuan Informan merasa dirinya tidak seperti laki-laki pada umumnya Teman informan banyak yang memperdulikannya meskipun informan berprilaku feminim Ada kepuasan dari diri informan dengan kondisi hidupnya karena masih banyak yang memperdulikannya Teman-teman informan masih menerima informan apa adanya Informan diterima temantemannya karena dia rajin Informan merasa kepintarannya dapat menutupi kefeminimannya Informan mulai melakukan perubahan Informan merasa perubahan itu butuh proses Informan melakukan usaha-usaha untuk mengurangi ejekan yang diterimanya Informan ingin mengubah sikapnya lebih dulu Informan tidak ada target waktu untuk berubah Informan sudah melakukan perubahan di sikapnya Informan merasa

Perubahan yang dilakukan informan

Sikap

35 perubahannya karena faktor pertambahan umur dan waktu Perilaku preman informan tidak untuk menutupi kefeminimannya Informan memiliki banyak teman pria saat SMA dan lebih maskulin Informan semakin berteman dengan cowok saat dewasa Informan merasa usahanya berhasil Tabel Kategorisasi Informan 2 ( A ) Tema Latar informan Awal tomboy Sub Tema belakang Selective Coding Informan berasal dari keluarga yang berkecukupan Informan berperilaku tomboy sejak masih kecil Orangtua informan tidak memberikan punishment atas kelakuan tomboy informan Informan pernah mendapat nasehat untuk berubah dari pihak keluarga Keluarga informan berusaha membuat informan memakai pakaian perempuan Informan diolok-olok di depan orang lain oleh orangtuanya Informan merasa sudah lebih dekat dengan

berperilaku

Reaksi lingkungan

Perubahan yang dilakukan informan

Interaksi sosial dengan perempuan

36 wanita dibanding dulu Informan mau lebih terbuka dengan wanita karena teman pertamanya di kampus adalah wanita Informan mencoba belajar untuk menjadi pendengar yang baik Informan mencoba untuk lebih respek dengan perempuan Informan tetap berusaha mendengar cerita temannya meskipun ingin menghindar Informan merasa dirinya sudah cukup berhasil terbuka dengan wanita Informan lebih suka berdiskusi dengan wanita daripada pergi jalan-jalan Teman dan ibunya yang membuat informan berubah lebih luwes dengan wanita Informan merasa untuk disebut wanita, tidak harus memakai atribut perempuan Informan merasa sebutan tomboy kurang cocok untuknya Informan senang dengan keadaan dirinya karena informan tetap punya banyak teman dengan kondisi dirinya sekarang Informan lebih suka disebut perempuan yang

Motivasi informan untuk berubah

Konsep diri informan

Penerimaan diri positif informan

37 supel dan pandai bergaul daripada tomboy Informan merasa bersyukur dengan kondisi fisiknya Informan pernah ingin melakukan operasi menghilangkan payudaranya Informan sering menasehati orangtuanya Informan merasa orangtuanya menuruti nasehatnya tetapi dengan proses Informan merasa keberadaannya di keluarga dihargai Informan memilih untuk membiarkan orang menilai dirinya Informan merasa perilakunya tidak diharapkan oleh orangtuanya Informan susah berinteraksi dengan wanita Informan kurang setuju dengan anggapan masyarakat bahwa wanita harus kalem Informan merasa sudah lebih dekat dengan wanita dibandingkan dulu Informan merasa pembicaraan pria lebih ringan daripada wanita Informan merasa temantemannya merespon baik

Penerimaan negatif informan

diri

Hubungan dengan lingkungan sosial

kedekatannya guru 4.5 Deskripsi Tema 4.5.1 Deskripsi Tema Informan 1 ( S )

dengan

Dari pengolahan data yang telah dilakukan maka diperoleh tujuh tema besar untuk menggambarkan self concept informan. Berikut adalah deskripsi masing-masing tema berdasarkan hasil pengolahan data : Latar belakang informan Selain latar belakang bahwa informan adalah anak kedua di keluarganya, informan juga mengatakan sejak kapan dirinya berperilaku feminism, yaitu sejak SD. Informan sering berperilaku layaknya perempuan dan juga tidak memiliki sikap yang tegas seperti seharusnya laki-laki. Hal ini didukung oleh pernyataan informan S: SD ( jawaban informan saat ditanya kapan informan mulai berperilaku feminism ) Ya misale apa itu, ya kayak apa, perilakunya kayak cewek gitu, terus eee kurang teges gitu lebih tepatnya.. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari significant other informan S, yaitu mamanya : Tapi kalo memang tante liat, anak saya itu cenderung lebih suka seperti wanita gitu.. Informan mengatakan bahwa yang menyebabkan ia berperilaku feminim adalah pengaruh dari lingkungannya, yang mayoritas adalah perempuan

39 ... Pergaulanku dulu pada waktu kecil lebih ke seneng kecweknya daripada ke cowoknya.. ... trus pada waktu kecil juga sering main sama kakak cewek gitu, jadinya mungkin nurun juga ... Awal mengalami labelling Informan bangku SD Dulu SD sih sering, tapi seiring berjalan waktu, sudah jarang mengaku mengalami labelling saat masih berada di

3. Bentuk labelling yang diterima informan


Informan mendapat label banci saat sedang ada di lingkungan keluarganya, maupun saat di sekolah. Berikut pelabelan yang diterima informan saat di rumah maupun di sekolah : a. Dari keluarga .pada waktu malem itu, aku..papa saya pernah bilang kalo saya itu kayak banci.. Eeee, kakak sepupu.. Kalo dulu juga pernah sih, tapi nek sekarang kan uda jarang juga.. Ya agak kasar sedikit sih..Tapi mungkin ya itu karena pengaruh dari alcohol bisa.. Terus mmm bilang ya itu apa kamu itu kayak banci, kamu itu kok larinya kayak gitu kayak banci gitu.. b. Dari teman Di depan umum (jawaban informan saat ditanya dimana informan menerima ejekan dari temannya)

40 ... pada waktu lari biasanya kadang-kadang itu kayak kurang apa ya apa, masih kurang terlalu, kayak cewek.. ... SMP itu udah, ya masih ada sih omongan gitu, tapi SMA sudah gak pernah.. ... semakin sedikit sih ee yang ngomongin aku kayak cewek itu semakin sedikit lagi daripada SD 4. Perubahan informan Untuk membuat dirinya lebih terlihat maskulin, informan melakukan beberapa perubahan, antara lain melakukan perubahan di sikapnya: Dari penampilan terus baru ke sikap.. Pada waktu SMA itu aku sudah kayak dianggap preman gitu.. mungkin dalam bertindak mungkin saya sudah lebih agak teges dikit ee terus ya sekarang kan temen saya kan sudah jarang ngomongin tentang banci gitu ke aku.. Ya karena aku melakukannya biasa aja kan, gak..gak dibuat kayak sandiwara gitu.. aku berusaha untuk menegaskan..untuk aku lebih tegas lagi.. SMA mungkin sudah mulai banyak temen cowoknya kok, kayak gitu

41 Tetapi informan tidak menargetkan kapan dirinya akan berubah, karena perubahannya akan membutuhkan proses ... aku berusaha untuk bisa menjadi lebih jantan lagi ya pasti semuanya butuh proses ... aku tidak menargetkan, aku hanya menjalaninya apa adanya dan menjalaninya ya secara biasa. ... Mungkin dengan berjalannya waktu, dan bertambahnya umur, mungkin aku semakin lebih dewasa, jadi mungkin bisa dibilang, aku lebih teges lagi

5. Konsep diri informan


Konsep diri yang dimiliki oleh informan ini dipengaruhi oleh 2 hal yaitu penerimaan diri dan hubungan informan dengan lingkungan sosial. Berikut penjelasan dari 2 sub tema tersebut : a. Penerimaan diri informan Adanya penerimaan diri informan meskipun informan mendapat label banci dari lingkungannya. "...mungkin dari ngomongnya kurang apa, kurang cowok, mungkin lebih teges, mungkin ke lebih apa, kayak lembut gitu..." "... Dari perilaku itu lebih ke arah ceweknya sih, ya karena kurang teges itu..." "Iya" (jawaban informan saat dipastikan apakah benar informan kurang bisa mengambil keputusan) "...ya bisa dibilang iya karena saya masih belum terlalu teges. Mungkin dalam bersikap, terus

42 dalam..dalam berbicara atau apa, tapi kalo misalnya dibilang kayak lai, ya sudah dibilang iya sih, karena sekarang sudah jarang ngomong kayak gitu... " "...mungkin feminimku itu lebih ke arah caraku melakukan apa..caraku bertindak gitu, lebih ke arah gitu..ya mungkin kurang teges, bisa juga kayak gitu" "...kadang iya, kalo misalnya aku diejek-ejek gitu ya aku merasa gak enaklah.. Tapi kalau eee nyaman, mungkin ya emang hidupku seperti ini, mau gimana lagi" "...mau dirubah lagi ya mungkin agak susah ya, butuh proses..saya masih berusaha untuk menjadi lebih laki lagi tapi ya untuk sementara ini saya nyaman-nyaman aja" "Dulu sih pada waktu SD, tapi lama-lama ta pikirpikir ya ngapain coba ya, lanjut aja, enjoy aja to" "Enggak" (jawaban informan saat ditanya apakah informan merasa dirinya banci) b. Hubungan dengan lingkungan sosial Hubungan informan dengan lingkungan sekelilingnya yang baik juga membantu pembentukan konsep diri informan. ... Banyakan mungkin tentang kayak apa..apa diskusi tentang sesuatu gitu mungkin tentang kuliah itu juga bisa.. Biasanya kedekatannya begitu..

Yaa orangtua saya masih membiayai saya hidup terus masih apa..masih ngurusi aku masih ngurusi sekolahku.. Mungkin masih mengurusi kuliahku juga.. Ya dan lain-lainnya.. Banyak lagi.. "...Yo malu sih juga, tapi yo rodo mangkel, tapi ya nek misale liat dari diriku sendiri ya emang, emang aku kayak gitu.. Yasudah mau diapakan lagi" "....kalo misalnya ada masalah gitu apa itu, kayak bingung sendiri, kan kalo biasanya cowok itu kan kayak apa ga ngereken gitu.. Tapi kalo sih lebih ngereken terus bingung sendiri..." ... masih banyak yang peduli sama saya.. terus apa itu eee ya kayaknya mereka gak terlalu memikirkan perilakuku yang saat ini itu ... banyak orang yang peduli sama aku terus ya masih apa eee sudah jarang banyak yang..orangorang jarang yang ngomongin tentang banci-banci terus itu.. Mungkin akademikku juga lagi baik.. Dan semuanya itu aku rasa aku sudah puas dengan semuanya itu Eeee kehidupan sosialku masih baik-baik aja, tidak ada masalah... Ya mungkin karena apa eee temen-temenku semua masih eee masih wajarlah, biasa aja.. Ya gak terlalu, ya masih ee masih menerima yang aku eee apa adanya, menerima aku apa adanya ... mereka masih mau temenan sama aku, terus masih mau aku ajari juga terus masih sering diperhatiin juga sih

43

44 "...mungkin aku agak rajin, terus habis gitu apa yaaaa, ya biasa aja sih anak-anak kayaknya gitu" "..aku pintar di sekolah, jadinya ya mungkin salah satu cara untuk menutupi kelemahanku yang kayak banci itu" guru-guru juga jadi senang sama aku karena aku anaknya aktif dikelas, terus pinter.. Terus terus apa ya pokoknya lebih daripada ke anakanak lainnya.. Terus kalo dari temen-temen itu ya mungkin karena aku kan anaknya rajin, jadinya sering ngerjakan PR, terus apa, kalo misalnya mereka gak ngerti, mereka tanyanya ke aku 4.5.2 Deskripsi Tema Informan 2 ( A ) Dari pengolahan data yang telah dilakukan maka diperoleh lima tema besar untuk menggambarkan self concept pada informan. Berikut adalah deskripsi masing-masing tema berdasarkan hasil pengolahan data : 1. Awal perilaku tomboy informan Informan mengaku mulai berperilaku tomboy sejak dia masih kecil "...waktu aku kecil, usia setaun lah, memang banyak, dari foto-foto yang aku liat, banyak yang ngasih aku kado rok, segala macam gitu kan.. Itu selalu nangis kalo dipakein..." 2. Reaksi lingkungan Saat informan berperilaku tomboy, lingkungan terutama

keluarganya memberikan respon, seperti menasehati dan juga mengolok informan di depan orang lain "Ya gapapa, biasa aja.. Karena tau, aku ga suka make itu..."

45 "... Dan adekku minta berubah dalam arti, eh pakaiannya..." "...Mungkin ke langsung ya tindakan preventif langsung, misale beli baju, uda milih aku warna item, eh dirumah uda jadi pink.." "... Ya kan sempet malu, didepannya pramuniaga yang..yang diolok-olokin, yang pramuniaganya dipaksa buat nyariin aku baju cewek, yang cewek..." 3. Perubahan yang dilakukan informan Informan melakukan beberapa perubahan, terutama pada sikapnya dengan perempuan, yaitu informan jauh lebih berusaha

mendekatkan diri dengan teman perempuan. Awalnya, karena pertama kali masuk kuliah, aku sama sekali gak ada temen, yang ngajak aku pertama kali ngobrol ya cewek.. Cuma dari situ belajarlah.. Mau gak mau, itu dalam keadaan yang terpaksa, Aku dalam arti coba buat belajar itu, aku coba belajar jadi pendengar yang baik gitu loh.. aku lebih respek karena itu.. Jadi lebih sering share tentang pasangan, soal apa, itu kan lebih terbuka.. Aku belajar itu juga sih sama cewekcewek.. Dan ngalami itu, kok gini seh, awalnya kok gini seh.. Dan lama kelamaan ngalamin itu kok rasanya males gitu loh.. Pingin banget

menghindar.. Cuma ya pingin tetep lagi usaha, dia tetep temen gitu kan.. ... berhasil gak berhasil, lumayanlah.. Kalo untuk jalan bareng ya, kalo aku coba untuk terbuka sama wanita itu iya, sangat ada, sangat ada hasilnya, dalam arti terbukti gitu loh.. Sudah ada perkembangan.. ... Ya aku seneng kalo diajak share, kalo aku bisa kasih solusi.. Cuman kalo ikut yang jalanjalannya, untuk yang mereka ngobrolin apa, berkumpul dengan wanita-wanita, kayaknya aku kurang seneng, gak sreg aja gitu loh.. 4. Motivasi informan untuk berubah

46

Informan mengaku ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk berubah, yaitu ketika ibunya mulai lebih perhatian dengannya, serta teman-temannya yang menasehatinya untuk berubah sahabat-sahabat aku, temen-temen aku ynag mengeluhkan sikap aku ke pasangan mereka, dan akhirnya pasangan mereka menganggap aku sombong, ibuku itu ya.. Dulu aku gak begitu deket sama dia, sampe ada suatu hal, aku pingin banget ngelindungi dia, aku pingin banget mengayomi dia, pastinya setelah aku sakit ya..aku sakit itu orangtuaku berubah, terutama ibu aku.. 5. Konsep diri informan Konsep diri yang dimiliki oleh informan ini dipengaruhi oleh 2 hal yaitu penerimaan diri informan dan hubungan informan dengan lingkunganj sosialnya. Berikut penjelasan dari 2 sub tema tersebut:

47 a. Penerimaan diri informan Adanya penerimaan diri informan meskipun informan

mendapat label banci dari lingkungannya. Penerimaan diri informan sendiri terbagi menjadi penerimaan diri yang positif dan negatif. Adapun penerimaan diri yang positif dari informan dibuktikan dengan beberapa kutipan wawancara dibawah ini : ... Aku nyaman dengan kaos, dengan apa, ga harus dibilang tomboy.. Bahkan ada yang bilang, kamu pake rok poo dikit, biar keliatan cewek.. Emang ga ada cewek yang pake clana, ya kan.. Mungkin celometan kayak gitu yang aku jelasin.. ... Sering.. jadi tiap kali orang ketemu aku.. Cuman aku selalu yakinin ke mereka, aku tomboy, cuma aku, dari hati ya, pinginnya cuma sebatas ingin dibilang aku ini cewek, tapi aku supel dan bebas.. ... buat aku, itu penilaian orang tentang aku, ya aku cuma terima.. ... Kalo dari diri aku sendiri, aku melihat mungkin dari penampilan memang seperti lakilaki, karena memang kita nyamannya begini gitu loh.. ... ... Aku kadang sempet berkaca sendiri, aku mikir kenapa orang-orang kok masih menilai aku, mencap seperti itu ya.. Padahal aku kalo secara potongan, banyak kok cewek-cewek lain yang punya potongan mungkin lebih pendek dari aku, lebih cepak dari aku, atau mungkin dari penampilannya lebih gak karuan daripada aku,

48 cuman mereka gak dikasih cap itu, gak tau kenapa.. tapi kenapa dengan aku, misalnya kayak gitu.. ... Kalo dibilang puas, bukan puas ya, mungkin lebih ke senenglah, seneng kayak gini, dalam artian dengan aku yang memang apa adanya seperti ini, aku bisa temuin banyak temen, temuin banyak orang memang.. Dan aku gak kenal pun, dengan kesupelanku, aku bisa akrab dengan mereka, bisa main di tempat mereka, bisa nginep di tempat mereka.. Meskipun itu mereka diluar kota, kayak gitu.. Aku itu gak mau dibilang tomboy ya cuma aku lebih seneng lebih suka gitu ya kalo dibilang ya wanita yang supel yang rame, yang seru, gitu aja.. ... ... orang mencap seseorang tomboy karena memang dari mungkin dari rambut yang pendek, dari yang selalu pake celana, pake sepatu kets.. Terus selalu pake baju yang kayak cowok.. Lah itu aku liat, gak memungkiri ya itu aku, maksudnya aku mengenakan itu, aku mengenakan baju yang seperti laki-laki, bajuku yang kayak laki-laki, cara jalan atau cara ngomong yang cepals ceplos mungkin, segala macem yang kayak laki-laki itu.. Yaa dialamatkn ke aku sih gapapa cuma kalo dari aku sendiri, aku bersikap begini ya dari kecil, aku nyaman dengan itu, aku pingin, seneng dibilang aku ini cewek yang supel..Itu aja.. Cewek yang supel, yang rame, yang seru, yang nyantai, yang pandai bergaul, itu aja..

49 ... Kalo ditujukan ke aku, mungkin ya itu bisa, karena memang style ku seperti itu gitu kan.. Ya udah.. Meskipun gak cantik, gak seksi, ya tetep mensyukuri apa yang aku punya.. Sedangkan penerimaan diri informan yang bersifat negatif dilihat dari kutipan wawancara dibawah ini : ... kalo boleh aku share, aku pingin banget operasi menghilangkan payudara.. ... b. Hubungan informan dengan lingkungannya Hubungan informan dengan lingkungan sekelilingnya yang baik juga membantu pembentukan konsep diri informan ... bukan beban ya, cuman memang kalo itu aku serahin ke orang.. ... Kalo aku ngeliat dari respeknya mbaknya sih, ya dia menganggap aku sama ya, maksudnya bukan wanita yang diharapkan sama orangtua ya.. Yang lembut, yang berpakaian selayaknya wanita.. ... Interaksiku bagus ya, cuman ya itu, aku lebih susah interaksi dengan wanita.. ... Ya kurang nyaman..kurang nyaman.. (jawaban informan saat ditanya mengenai kenyamanannya berinteraksi dengan wanita) ... aku lebihlebih ke kurang setuju aja.. Kalo cewek, mungkin, seharusnya kan ya seharusnya cewek itu yang lembut yang apa ya istilahnya..gak

50 terlalu banyak tingkah.. cuman kan ga hanya wanita yang tomboy, wanita yang sebenarnya pun kading ga harus lembut ya kan, mereka mungkin gak terlalu punya yang begitu kalem, tapi mereka bersikap seperti apa adanya mereka aja gitu loh..Kalo wanita, yawes ini wanita.. ... ... Kalo konsep diriku, perkembangan itu ada, salah satunya bagaimana aku belajar untuk lebih dekat dengan yang namanya wanita. Karena kalo dulu, aku cenderung menjauhi, kalo emang wanita itu gak ada perlu sama aku, gak perlu nanya atau apa, ya aku tetep diem gitu loh..Tanpa ada respek, istilah aku kurang interest sama dia.. Tapi kalo sekarang, aku belajar buat deket, buat basa-basi, buat bertanya, meskipun gak penting ya aku tetep belajar itu. ... Enggak.. Karena mungkin lebih dalem ya.. Karena biasanya perbincangan wanita itu seringan-ringannya, pasti dalem, ya kan..kalo lakilaki mungkin ya mereka ngobrol ya skedar ngobrol, kalo curhat itu jarang banget kebawa kalo cowok.. Eee responnya mereka ya baik, karena saat disuruh apapun, mereka selalu ngelimpahinnya di aku..kayak lomba apa, A aja, A aja.. 4.6 Validitas Penelitian Untuk melakukan validitas penelitian, peneliti menggunakan validitas komunikatif, yaitu bentuk validitas dimana informan penelitian dipersilahkan untuk membaca hasil interpretasi peneliti.

Validitas penelitian kedua informan masing-masing dilakukan pada tanggal 20 Mei 2012 (informan S) dan 21 Mei 2012 (informan A), serta pada signitficant other masing-masing informan yaitu tanggal 20 Mei 2012 (significant other 1) dan 19 Mei 2012 (significant other 2). Saat melakukan validasi hasil penelitian pada kedua informan dan significant other, peneliti memberikan hasil transkrip data pada informan. Peneliti juga menjelaskan hal-hal yang ditanyakan oleh informan. Setelah membaca beberapa saat, informan mengatakan kalau isinya sudah sesuai dengan yang dimaksudkan informan, lalu informan menandatangani surat keabsahan.

BAB V PENUTUP

5.1. Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 5 tema besar yang menggambarkan self concept pada individu yang mengalami labelling, baik pada informan 1 maupun informan 2, Berikut penjelasan masing-masing tema besar dari kedua informan : 5.1.1. Informan S 1. Latar belakang informan Informan berasal dari keluarga kalangan menengah, dengan orangtua yang masih utuh. Informan sejak kecil memang lebih dekat dengan ibunya. Informan S mulai bersikap feminim saat masih kecil, tepatnya saat masih di bangku SD. Informan juga sering bergaul dengan saudara dan teman-teman perempuan, yang menyebabkan informan pun akhirnya bertingkah laku lemah lembut seperti perempuan. 2. Awal mengalami labelling Informan mendapat pelabelan dengan diejek banci oleh keluarga ataupun dari teman-temannya saat SD sebagai akibat dari tingkah lakunya yang seperti perempuan. Apa yang dilakukan oleh lingkungan informan sesuai dengan definisi dari labelling menurut A Handbook for The Study of Mental Health, yaitu label adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu (Labelling dan Perkembangan Anak, Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman, 2007).

51

52 Lingkungan melabel informan banci karena menurut pandangan mereka, informan berperilaku seperti perempuan. 3. Bentuk labeling yang diterima informan Informan mendapat labelling dari lingkungan keluarga dan dari teman-teman sekolahnya. Keluarga informan pernah ada yang berkata kasar kepada informan berkaitan dengan perilaku feminimnya. Sedangkan saat di sekolah, informan sering diejek saat pelajaran olahraga. Selain itu, informan pernah diejek banci di depan umum oleh temannya. Pelabelan yang diterima informan dari lingkungan sekolahnya berlangsung sampai SMP. 4. Perubahan yang dilakukan informan Informan melakukan beberapa perubahan agar dirinya tidak lagi diejek banci. Perubahan-perubahan yang dilakukan informan antara lain mengubah sikapnya, memiliki lebih banyak teman pria saat SMA dan berpenampilan lebih maskulin. Namun informan tidak menargetkan kapan dirinya akan berubah total, karena menurutnya perubahan itu adalah suatu proses. 5. Konsep diri informan Konsep diri yang dimiliki informan terbentuk karena adanya 2 hal, yaitu penerimaan diri informan serta hubungan informan dengan lingkungan sosialnya. Informan melakukan penerimaan diri dengan cara melakukan penilaian tentang bagaimana dirinya bersikap dan tetap berkeinginan untuk menjadi maskulin tanpa harus merubah diri menjadi perempuan atau banci seperti label yang diberikan oleh lingkungannya. Sedangkan hubungan informan dengan lingkungan sosialnya ikut membantu informan membentuk konsep dirinya. Hal ini

dibuktikan dengan informan merasa dirinya tetap dihargai

53 keberadaan oleh keluarga dan teman-temannya. Keluarga informan masih mau membiayai hidup informan meskipun ayah informan tidak menyukai sikap feminimnya. Teman-teman informan juga masih menerima informan apa adanya meskipun informan berperilaku feminim. Guru-guru informan juga menyukai informan karena informan termasuk murid yang pintar di sekolah.. 5.1.2. Informan A 1. Awal perilaku tomboy Informan A berasal dari keluarga yang berkecukupan dengan orangtua yang masih utuh. Informan sejak kecil dekat dengan ayahnya. Informan mulai berperilaku tomboy sejak masih kecil. Informan mengaku bahwa dirinya sangat suka sekali naik pohon, bahkan kalau ingin berfoto bersama informan, informan harus naik pohon terlebih dahulu. 2. Reaksi lingkungan Lingkungan informan terutama dari pihak keluarga pernah mengolok-olok informan di depan pramuniaga saat sedang membeli pakaian di toko. Pihak keluarga informan juga berusaha untuk membuat informan memakai perempuan, seperti

membelikan baju berwarna pink. Adik informan pun juga pernah menasehati informan untuk merubah cara berpakaian informan agar lebih feminim. Namun, pihak keluarga informan tidak memberikan punishment saat informan tidak memakai baju-baju perempuan dan tetap berperilaku seperti laki-laki. 3. Perubahan yang dilakukan informan Ada perubahan yang dilakukan oleh informan, terutama yang berkaitan dengan caranya berinterkasi dengan perempuan.

Menurutnya, informan sudah mencoba untuk lebih respek dengan

54 teman perempuannya. Informan juga berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi teman perempuannya. 4. Motivasi informan untuk berubah Informan memiliki motivasi untuk berubah ketika teman-temannya menyarankan informan untuk menjadi lebih peduli ke teman perempuan. Selain itu, ibu informan juga memiliki andil dalam memotivasi informan untuk berubah. Karena informan merasa ibunya menjadi lebih perhatian sejak informan jatuh sakit. Sehingga informan menjadi lebih peduli dengan ibunya dan berusaha untuk melindungi ibunya. Adanya motivasi sebagai salah satu faktor perubahan konsep diri informan sesuai dengan salah satu kesimpulan yang diungkapkan oleh Cora Rice dan Monisha Pasupathi, bahwa pada tahap dewasa awal, individu akan ada perubahan konsep diri, yang salah satu penyebabnya adalah faktor motivasi.( Rice, Cora & Monisha Pasupathi, Reflecting on Self-Relevant Experiences: Adult Age Differences. 2010) 5. Konsep diri informan Konsep diri yang dimiliki informan terbentuk karena adanya 2 hal, yaitu penerimaan diri informan serta hubungan informan dengan lingkungan sosialnya. Penerimaan diri informan A terbagi menjadi 2 bagian, yaitu penerimaan diri positif dan penerimaan diri negatif. Penerimaan diri positif yang dimiliki oleh informan lebih menyoroti bagaimana informan merasa nyaman dengan ketomboyannya, karena

informan memiliki banyak teman dengan sifat tomboynya. Meskipun sebenarnya informan merasa bahwa sebutan tomboy itu tidak cocok untuk dirinya karena informan merasa bahwa dia

55

adalah perempuan yang pandai bergaul dan supel. Bukan tomboy seperti yang orang lain alamatkan kepadanya selama ini. Sedangkan penerimaan diri negatif informan ini berkaitan dengan salah satu anggota tubuhnya. Informan merasa tidak nyaman dengan anggota tubuhnya sehingga memiliki keinginan untuk menghilangkan anggota tubuhnya tersebut. Sedangkan hubungan informan dengan lingkungan sosialnya ikut membantu informan membentuk konsep dirinya. Hal ini

dibuktikan dengan informan merasa dirinya tetap dihargai keberadaan oleh keluarga dan teman-temannya terutama dengan teman perempuan. Keluarga informan sering mengajak informan untuk ikut ambil bagian dalam diskusi keluarga. Informan juga menilai bahwa dirinya saat ini sudah lebih mampu atau setidaknya berusaha untuk berinteraksi dengan perempuan dibandingkan dulu. Adanya kemampuannya dalam bidang olahraga yang

menyebabkan informan A mendapat kepercayaan dari temantemannya saat ada perlombaan olahraga. Hal-hal tersebut membuat informan merasa bahwa tetap berharga walaupun bersikap tomboy.

56 5.1.3 Alur Dinamika Psikologis 5.1.3.1 Alur Dinamika Psikologis Informan S Berperilaku feminim Dari keluarga Dari teman

Mendapat label dari lingkungan

Mendapat perkataan kasar karena bersikap feminim Mengejek informan sebagai banci Melakukan perubahan di sikap

Konsep diri informan

Merasa bahwa dirinya tidak bertind ak seperti layakn ya lakilaki

Merasa bahwa dirinya bukan banci meskip un sering diejek banci

Masih memili ki banyak teman karena pintar

Berusaha untuk bersikap lebih maskulin

57 5.1.3.2 Alur Dinamika Psikologis Informan A Bersikap tomboy

Mendapat label dari keluarga

Sering diminta untuk bersikap feminim Melakukan perubahan terhadap interaksi dengan perempuan Punya bakat di bidang olahraga sehingga sering dipercaya untuk mewakili sekolah dalam lombalomba Merasa kesusa han untuk berinte raksi dengan wanita

Konsep diri informan

Merasa bahwa dirinya adalah perempua n yang supel bukan tomboy

Ketida ksukaa n pada salah satu anggot a tubuh

Motivasi dari ibu dan temanteman

Berniat untuk menghila ngkan salah satu anggota tubuhnya

Belajar untuk berinteraksi dengan wanita

58 5.2. Refleksi Pada penelitian yang berlangsung selama kurang lebih delapan bulan, peneliti mendapatkan banyak hal-hal baru khususnya mengenai perilaku labelling yang berkaitan dengan gender. Ada beberapa

pembelajaran yang diperoleh peneliti selama melakukan penelitian ini diantaranya a. Perilaku tomboy atau feminim seseorang timbul sejak individu masih kecil dengan bentukan dari lingkungan.

b. Dukungan dari lingkungan baik dari keluarga dan teman-teman


sangat penting untuk membantu individu yang berperilaku tidak sesuai dengan gendernya agar bisa berubah. c. Peneliti juga menemukan bahwa orangtua punya andil yang cukup besar dalam membentuk perilaku anak. Dalam penelitian ini, orangtua kedua informan sama-sama menentang sikap tomboy atau feminim dari anaknya. Akan tetapi secara tidak langsung, orangtua kedua informan sendiri yang membentuk perilaku tomboy atau feminim dari anaknya. Jika di informan S, orangtuanya membiarkan S untuk sering bergaul dengan perempuan, sehingga muncul perilaku feminim dari S. Sedangkan di informan A, ibu informan tidak mendekatkan diri kepada informan A, sehingga informan lebih dekat dengan ayahnya dan muncullah perilaku tomboy pada diri informan A. 5.2.1. Keterbatasan Penelitian Selain pembelajaran, dalam penelitian ini peneliti juga menyadari masih terdapat keterbatasan, diantaranya : a. Kemampuan penggalian data peneliti yang kurang, sehingga pengambilan data harus dilakukan secara berkali-kali

59

b. Peneliti juga melakukan kesalahan saat mencari informan. Hal


ini dikarenakan peneliti kurang menjelaskan kepada informan awal peneliti tentang tujuan penelitian. Sehingga peneliti harus mengganti informan dan membuang banyak waktu dalam proses wawancara.

5.3 Simpulan Baik dari informan S ataupun informan A, keduanya memiliki konsep diri yang baik, berkaitan dengan bagaimana kedua informan mampu menerima dirinya meskipun mendapat label dan bagaimana hubungan kedua informan dengan lingkungan sosialnya. Kedua informan juga melakukan perubahan. Pada informan S, informan lebih memilih untuk mengubah total sikap. Sedangkan proses perubahan informan A lebih ke arah perubahan hubungan sosialnya dengan perempuan. Jika dulu informan kaku dengan perempuan, maka saat ini informan menjadi lebih terbuka dengan perempuan. Informan A juga memiliki penerimaan diri yang negatif berkaitan dengan fisiknya sebagai perempuan. Informan A merasa tidak nyaman dengan payudaranya sehingga berkeinginan untuk menghilangkan

payudaranya.

5.4 Saran 5.4.1. Informan S Informan S dapat membuat sebuah planning atau rencana untuk berubah. Hal ini bertujuan agar informan bisa sesegera mungkin berubah menjadi lebih maskulin, terutama di caranya bersikap.

60 5.4.2. Informan A Informan A dapat mengunjungi psikolog untuk membantunya menemukan alasan mengapa informan tidak nyaman dengan salah satu anggota fisiknya. Sehingga setelah penyebabnya ditemukan, informan bisa lebih nyaman dengan salah satu anggota tubuhnya tersebut. 5.4.3 Masyarakat Bagi masyarakat, terutaman bagi orang-orang disekitar anak yang berperilaku tidak sesuai dengan gendernya, maka diharapkan lingkungan memberikan dukungan, tidak mengucilkan dan tidak melakukan tindakan labeling negative ke anak tersebut. Agar anak tersebut memiliki keinginan untuk berubah karena merasa

diperhatikan oleh lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mulat Wigati. (2008). Sosiologi SMP/MTs Kls VIII (KTSP). Jakarta: Grasindo.

Adywibowo, Inge Pudjiastuti. (2010). Memperkuat Kepercayaan Diri Anak Melalui Percakapan Refensial. Jurnal Pendidikan Penabur. No 15. 37-49.

Agustiani, Hendriati. (2006). Psikologi Perkembangan: Pendekatan Ekologi Kaitannya Dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri Pada Remaja. Bandung: PT. Refika Aditama.

Ary, Wima, Tri Rejeki Andayani & Dian Ratna Sawitri. (2009). Hubungan Konsep Diri Dengan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas Akselerasi DI SMP NEGERI 2 dan SMP PL DOMENICO SAVIO Semarang. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

Atmasasmita, Romli. (1992). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: Eresco.

Bahaya Memberi Label Pada Anak. Diambil pada tanggal 18 April 2012 dari http://lcoaceh.org/index.php?

option=com_content&view=article&id=64:bahaya-memberi-labelpada-anak&catid=3:artikel&Itemid=55

61

62 Baron, Robert A. & Donn Byrne. (2003). Psikologi Sosial Edisi 10 Jilid 1. Alih bahasa : Dra. Ratna Djuwita, Dipl. Psychl. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Bernburg, Jon Gunnar, Marvin D. Krohn & Craig J. Rivera. (2006). Official Labeling, Criminal Embeddedness, and Subsequent Delinquency: A Longitudinal Test of Labeling Theory. Journal of Research in Crime and Delinquency. 43 No 1. 67-88.

Black, A. James & Champion, J. Dean. (1992). Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung: PT. Cresco.

Cohen, Richard. (2011). Lets Talk About Sex. Parents and Friends of ExGays and Gays.

Craig, Wendy M., Kathryn, Henderson & Jennifer G. Murphy. (2000). Prospective Teachers Attitudes Toward Bullying and Victimization. School Psychology International. 21(1), 521.

Ericson, Nels. (2001). Addressing the Problem of Juvenile Bullying. U.S Department of Justice, 27, 1-2.

Fenomena Bullying Di Sekolah Dasar Negeri Di Semarang. Diambil pada tanggal 26 September 2011 dari

http://eprints.undip.ac.id/10123/1/FENOMENA_BULLYING__DI_ SEKOLAH_DASAR_NEGERI_DI_SEMARANG.pdf

63 Hayes, Nicky. (2004). Doing Psychological Research: Gathering and Analyzing Data. New York: McGrawHill.

Herlina. (2007). Labelling dan Perkembangan Anak. Dampak Labelling Terhadap Anak-FOTA Salman. Universitas Pendidikan Indonesia.

Hurlock, Elizabeth, B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa: Istiwidayanti & Soedjarno. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Mangal, S. K. (2007). Educating Exceptional Children: An Introduction to Special Education. New Delhi: Prentice Hall of India Private Limited

Maryati, Kun & Juju Suryawati. (2007). SOSIOLOGI : Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Pandjaitan, Yunda & Nurmala K. Pamuchtia. (2010). Konsep Diri Anak Jalanan: Kasus Anak Jalanan di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. 4, No 21. 255-272.

Pasupathi, Monisha & Rice, Cora. (2010). Reflecting on Self-Relevant Experiences: Adult Age Differences. Developmental Psychology. 46, No. 2, 479490.

Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Masyarakat dan Lembaga Pendidikan. Diambil tanggal 16 September 2011 dari

64 http://hukum.kompasiana.com/2010/12/13/pencegahan-kekerasanterhadap-anak-di-lingkungan-masyarakat-dan-lembaga-pendidikan/

Penyimpangan Sosial. Diambil pada tanggal 20 April 2012 dari http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/penyimpangan-sosial-4/

Poerwandari, K. (1998). Pendekatan Kualitiatif Dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Rakhmat, D. (2000). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.

Santrock, John W. (1998). Adolescence. New York: McGrawHill.

Santrock, John W. (2002). Life Span Development. Jakarta: Penrbit Erlangga

Siegel, Larry J & Brandon C. (2011). Juvenile Delinquency: Theory, Practice, and Law Eleventh Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning.

Verbal

Abuse.

Diambil

pada

tanggal 22 September

2011

dari

http://www.fica.org/ficalist/fica/live/v_abuse

Vitasandy, Tutut Dian & Anita Zulkaida. (2010). Konsep Diri Pria Biseksual. Jurnal Psikologi. Vol 3 No 2. 188-194.

65 Willig, Cala. (2001). Introducing Qualitative Research in Psychology: Adventure in Theory & Method. Buckingham: Open University.