Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-NYA sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terciptanya karya tulis ilmiah ini : 1. Orang tua penulis yang telah memberi dukungan dan doanya terhadap penulisan laporan ini. 2. Ibu Ir.Kartini Noor Hafni, MT sebagai dosen mata kuliah Penulisan Laporan dan Teknik Presentasi yang telah memberi bimbingannya. Adapun percobaan yang akan dibahas adalah MODULUS TARIKAN . Adapun alasan penulis mengangkat percobaan karena adanya keinginan penulis untuk menentukan nilai keelastisian suatu bahan secara praktek dan membantu pemahaman pelajar maupun mahasiswa.

Medan, 22 Juni 2012 Penulis

Suci Damayanti Sinaga NIM: 110405037

Silvia NIM: 110405038

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii DAFTAR TABEL .................................................................................................. iv DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. v BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 1.1 LATAR BELAKANG........................................................................... 1 1.2 PERUMUSAN MASALAH ................................................................. 2 1.3 TUJUAN DAN MANFAAT ................................................................. 2 1.3.1 Tujuan .................................................................................................. 2 1.3.2 Manfaat........................................................................................ 2 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 3 2.1 ELASTISITAS ...................................................................................... 5 2.2 TEGANGAN ......................................................................................... 5 2.3 REGANGAN ........................................................................................ 5 2.4 MODULUS YOUNG ............................................................................ 6 2.5 HUKUM HOOKE ................................................................................. 6 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ............................................................... 9 3.1 BAHAN ................................................................................................. 9 3.2 PERALATAN ....................................................................................... 9 3.3 GAMBAR ALAT PERCOBAAN ...................................................... 10 3.4 PROSEDUR PERCOBAAN ............................................................... 10 3.5 TEMPAT PERCOBAAN .................................................................... 11 BAB IV DATA ..................................................................................................... 13 4.1 DATA PERCOBAAN......................................................................... 13 4.2 PERHITUNGAN ................................................................................ 14 BAB V PEMBAHASAN ...................................................................................... 15 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 17 6.1 KESIMPULAN ................................................................................... 17
ii

6.2 SARAN ............................................................................................... 17 BAB VII PENUTUP ............................................................................................. 18 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 19

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Pengaruh massa benda (m) yang diberikan terhadap pertambahan panjang kawat (L). (Tabel Sekunder) .............................................. 13 Tabel 4. 2 Pengaruh massa benda (m) yang diberikan terhadap pertambahan panjang kawat (L). (Tabel Sekunder)................................................13

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Karet Gelang ...................................................................................... 4 Gambar 2. 2 Kumparan pegas yang terbuat dari baja yang dibengkokkan. ............ 4 Gambar 2. 3 Kurva Tegangan vs Regangan........................................................ 7 Gambar 4. 1 Grafik m vs L primer ................................................................ 14 Gambar 4. 2 Grafik m vs L sekunder ............................................................ 14

vi

vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Beberapa benda yang terbentur hebat dapat kembali ke bentuknya, namun juga dapat kita lihat beberapa diantaranya akan rusak dan berubah bentuk. Dalam ilmu fisika, terdapat dua jenis benda yaitu benda elastis dan benda plastis. Benda elastis memiliki kemampuan untuk menerima tegangan tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan dihilangkan, contoh: karet gelang. Benda plastis memiliki kemampuan untuk mengalami sejumlah perubahan bentuk yang permanen tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan, contoh: baja. Untuk membedakan kedua jenis bahan benda antara benda elastis dan benda plastis , maka didefinisikan suatu sifat bahan yang disebut elastisitas. Modulus tarikan adalah salah satu dasar ilmu fisika yang mempelajari tentang keelastisan suatu benda. Nilai keelastisan benda dituang dalam besaran fisika yaitu Modulus Young yang dapat diartikan secara sederhana, yaitu perbandingan besaran tegangan tarik dan regangan tarik. Modulus Young memiliki aspek penting dalam ilmu fisika karena dapat digunakan untuk menentukan nilai keelastisan dari sebuah benda, terutama yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari hari. Hukum yang mendasari teori elastisitas adalah Hukum Hooke yang dikemukakan oleh Robert Hooke yang menyatakan bahwa perbandingan antara tegangan dan regangan akan menghasilkan suatu bilangan yang konstan asal deformasinya kecil. Oleh karena itu, praktikan dituntut untuk dapat mengetahui nilai elastisitas suatu bahan secara praktik (bukan hanya secara teoritis) dan juga menentukan apakah suatu bahan memenuhi Hukum Hooke atau tidak.

Dalam percobaan ini akan digunakan kawat baja karena baja merupakan benda plastis, dimana jika gaya yang bekerja padanya terlalu besar, baja yang sudah berubah bentuk tidak akan bisa kembali lagi kebentuknya semula dengan sendirinya. Sifat benda yang dimiliki baja ini merupakan salah satu keunggulan yang dapat membantu percobaan ini karena deformasi kawat baja menimbulkan perubahan panjang yang merupakan salah satu nilai yang diperlukan untuk menentukan nilai Modulus Young dan apakah kawat baja tersebut memenuhi hukum Hooke atau tidak. 1.2. PERUMUSAN MASALAH Adapun beberapa poin-poin penting yang dipaparkan dalam makalah ini adalah : 1. Menentukan nilai modulus young dari kawat baja berdasarkan hasil percobaan ini. 2. Dan apakah kawat baja tersebut memenuhi hukum hooke atau tidah. 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT 1.3.1. Tujuan Tujuan dari percobaan ini adalah: 1. Mengetahui nilai elastisitas (Modulus Young) pada kawat baja. 2. Menyelidiki apakah kawat baja memenuhi hukum Hooke atau tidak. 1.3.1 Manfaat Manfaat dari percobaan ini adalah: 1. Praktikan dapat memahami cara menentukan nilai elastisitas suatu bahan dengan alat Modulus Young. 2. Praktikan dapat memahami cara menyelidiki apakah suatu bahan memenuhi hukum Hooke atau tidak.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. ELASTISITAS Sering pernah kita dengar kata elastis , benda itu lentur dan sebagainya. Sebenarnya sifat elastis atau lebih sering disebut elastisitas adalah kemampuan suatu benda untuk kembali ke bentuk awalnya segera setelah gaya luar yang diberikan kepada benda itu dihilangkan. Misalnya pada sebuah pegas yang digantungi dengan beban pada salah satu sisi ujungnya, akan kembali ke bentuk semula jika beban tersebut kita ambil kembali. Contoh lainnya adalah ketapel dan karet gelang jika kita rentangkan maka akan terjadi pertambahan panjang pada kedua benda tersebut, tapi jika gaya yang bekerja pada kedua benda tersebut dihilangkan, maka kedua benda tersebut akan kembali ke bentuk semula. Dalam ilmu fisika, terdapat dua jenis benda yaitu: 1. Benda Elastis Benda elastis adalah benda yang memiliki kemampuan untuk menerima tegangan tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan dihilangkan. Bila suatu bahan mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan bentuk. Bila tegangan yang bekerja besarnya tidak melewati suatu batas tertentu maka perubahan bentuk yang terjadi bersifat sementara, perubahan bentuk ini akan hilang bersama dengan hilangnya tekanan, maka sebagian bentuk itu tetap ada walaupun tegangan telah dihilangkan. Contoh: karet gelang.

Gambar 2. 1 Karet Gelang 2. Benda Plastis Benda plastis adalah benda yang memiliki kemampuan untuk mengalami sejumlah deformasi plastis yang permanen tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini sangat diperlukan bagi bahan yang akan diproses dengan berbagai proses pembentukan seperti, forging, rolling, extruding dan sebagainya. Sifat ini sering juga disebut sebagai keuletan atau kekenyalan (ductility).

Gambar 2. 2 Kumparan pegas yang terbuat dari baja yang dibengkokkan. Bahan yang mampu mengalami deformasi plastis yang cukup tinggi dikatakan sebagai bahan yang mempunyai keuletan atau kekenyalan tinggi, dimana bahan tersebut dikatakan ulet atau kenyal (ductile). Sedangkan bahan yang tidak menunjukkan terjadinya deformasi plastis dikatakan sebagai bahan yang mempunyai keuletan yang rendah atau dikatakan getas atau rapuh (brittle). Contoh: baja yang dibengkokkan.
4

Perbedaan antara sifat elastis dan plastis adalah pada tingkatan dalam besar atau kecilnya deformasi yang terjadi. Dalam pembahasan sifat elastis pada benda perlu diasumsikan bahwa benda-benda tersebut mempunyai sifat sifat berikut: a) Homogen artinya setiap bagian benda mempunyai kerapatan yang sama. b) Isotropik artinya pada setiap titik pada benda mempunyai sifat sifat fisis yang sama ke segala arah. Deformasi pada benda akan menyebabkan perubahan bentuk tetapi tidak ada perubahan volume, dan benda yang mengalami kompresi akan terjadi perubahan volume tetapi tidak terjadi deformasi. Nilai keelastisitasan ini disebut juga Modulus Elastisitas. 2.2. TEGANGAN Tegangan (stress) didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan oleh benda untuk kembali ke bentuk semula. Atau gaya F yang diberikan pada benda dibagi dengan luas penampang A tempat gaya tersebut bekerja. Tegangan merupakan besaran skalar yang dirumuskan oleh:

dimana:

= tegangan (N/m2) F = gaya (N) A = luas penampang (m2)

2.3. REGANGAN Perubahan relatif dalam ukuran atau bentuk suatu benda karena pemakaian tegangan disebut regangan (strain). Regangan adalah suatu besaran yang tidak memiliki dimensi karena rumusnya yaitu meter per meter. Definisi regangan berdasarkan rumusnya adalah perubahan panjang L dibagi dengan panjang awal benda L dimana secara matematis dapat ditulis:
5

dimana:

= regangan L = perubahan panjang benda(m) L = panjang awal benda (m)

2.4. MODULUS YOUNG Modulus Young disebut juga modulus elastisitas yang merupakan perbandingan antara tegangan adalah N/m2. Secara matematis modulus Young dapat ditulis: dan regangan . Satuan dari Modulus Young

dimana: = modulus Young (N/m2) = tegangan (N/m2) = regangan 2.5. HUKUM HOOKE Hubungan antara tegangan dan regangan erat kaitannya dalam teori elastisistas. Apabila hubungan antara tegangan dan regangan dilukiskan dalam bentuk grafik, dapat diketahui bahwa diagram tegangan-regangan berbeda-beda bentuknya menurut jenis bahannnya. Hal ini membuktikan bahwa keelastisitasan benda dipengaruhi bahan dari bendanya. Sebagai contoh dapat diambil grafik keelastisitasan suatu logam kenyal.

Gambar 2. 3 Kurva Tegangan vs Regangan Di bagian awal kurva (sampai regangan yang kurang dari 1 %), tegangan dan regangan adalah proporsional sampai titik a (batas proporsionalnya) tercapai. Hubungan proporsional antara tegangan dan regangan dalm daerah ini disebut Hukum Hooke. Mulai a sampai b tegangan dan regangan tidak proporsional, tetapi walaupun demikian, bila beban ditiadakan disembarang titik antara 0 dan b, kurva akan menelusuri jejaknya kembali dan bahan yang bersangkutan akankembali kepada panjang awalnya. Dikatakanlah bahwa dalam daerah 0-b bahan itu elastis atau memperlihatkan sifat elastis dan titik b dinamakan batas elastis. Kalau bahan itu ditambah bebannya, regangan akan bertambah dengan cepat, tetapi apabila beban dilepas di suatu titik selewat b, misalkan di titik c, bahan tidak akan kembali ke panjang awalnya, melainkan akan mengikuti garis putus putus. Panjangnya pada tegangan nol kini lebih besar dari panjang awalnya dan bahan itu dikatakan mempunyai suatu regangan tetap (permanent set). Penambahan beban lagi sehingga melampaui c akan sangat menambah regangan sampai tercapai titik d, dimana bahan menjadi putus. Dari b ke d, logam itu dikatakan mengalami arus plastis atau deformasi plastis, dalam mana terjadi luncuran dalam logam itu sepanjang bidang yang tegangan luncurnya maksimum. Jika antara batas elastik dan titik putus terjadi deformasi plastik yang besar, logam itu dikatakan kenyal (ductile). Akan tetapi jika pemutusan terjadi segera setelah melewati batas elastis, logam itu dikatakan rapuh (brittle).
7

Hukum Hooke dinamakan sesuai dengan pencetusnya yaitu Robert Hooke (1635 1703) yang menyatakan: Jika gaya tarik tidak melampaui batas elastisitas pegas, maka pertambahan panjang pegas berbanding lurus (sebanding) dengan gaya tariknya. Pernyataan tersebut di atas dikenal dengan nama hukum Hooke, dan dapat ditulis melalui persamaan : F = k.x dimana: F = gaya tarik (N) k = konstanta pegas (N/m) x = pertambahan panjang pegas(m)

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 LOKASI PENELITIAN Penelitian dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Pusat Perkuliahan

Laboratorium Ilmu Dasar (UPT PP LIDA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU). Alamat: Jalan Bioteknologi No. 1 Kampus USU Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara. 3.2 JADWAL PENELITIAN Penelitian dilakukan pada: Hari / Tanggal : Rabu / 11 Mei 2012 Waktu 1.3 BAHAN Adapun bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah : a. Kawat Baja Fungsi: sebagai bahan percobaan yang akan diuji nilai keelastisannya. b. Beban m Fungsi : sebagai beban yang massanya dapat divariasikan oleh praktikan. c. Beban Tetap Fungsi : sebagai konstanta pembanding beban m. 1.4 PERALATAN Adapun peralatan dalam percobaan ini adalah : a. Timbangan air Fungsi : untuk menyeimbangkan perubahan panjang kawat dan sebagai skala untuk mengukur pergeseran.
9

: 09.00 12.00 WIB

Timbangan air dapat distel dengan memutar sekrup mikrometer yang terpasang pada alat agar kedudukan alat modulus Young horizontal. b. Mikrometer Sekrup Fungsi : mengukur diameter kawat atau sebagai skala katetometer yang menunjukkan besarnya per-ubahan panjang kawat dengan ketelitian 0,01 mm.

c.

Meteran Fungsi : mengukur panjang kawat.

1.5 GAMBAR ALAT PERCOBAAN

Gambar 3. 5 Gambar alat pada percobaan

1.6 PROSEDUR PERCOBAAN 1. Diperiksa apakah kawat yang tergantung sudah terikat (terjepit) dengan baik pada alat Modulus Young. 2. 3. Kawat diukur panjangnya dengan meteran. Beban tetap dipasang pada gantungan sebelah kiri (gantungan A) untuk mengukur perubahan panjang kawat sebelah kanan (gantungan B). 4. Diameter kawat B diukur dengan mikrometer sekrup. Kawat jangan dijepit dengan keras, sekrup diputar dengan knop kecil di ujung.
10

5. 6.

Kawat B diperiksa apakah benar benar lurus. Timbangan air pada alat Modulus Young diatur ke posisi setimbang (horizontal) dengan sekrup pada katetometer.

7. 8.

Penunjukan pada katetometer dicatat untuk beban m = 0 kg. Beban sebesar 0,3 kg kemudian dipasang pada gantungan B, maka posisi kesetimbangan pada timbangan air akan berubah, sekrup pada katetometer diputar kembali sampai timbangan air kembali setimbang.

9.

Penunjukan pada katetometer dicatat untuk beban m = 0,3 kg.

10. Prosedur 7 dan 8 diulang kembali dengan menggunakan beban m sebesar 0,6 kg, 0,9 kg, dan 1,2 kg. 1.7 RUANG LINGKUP 1. Bahan yang digunakan untuk ditentukan nilai elastisitasnya adalah kawat baja. 2. Massa beban yang digunakan sebagai tegangan adalah 0 kg, 0,3 kg, 0,6 kg, 0,9 kg, dan 1,2 kg. 3. Variabel yang akan dianalisis adalah perpanjangan yang dialami kawat akibat massa beban yang diberikan. 4. Parameter yang akan diamati adalah pengaruh tegangan yang diberikan terhadap regangan (pertambahan panjang) yang dihasilkan untuk menentukan nilai Modulus Young kawat baja serta menguji apakah kawat baja memenuhi hukum Hooke atau tidak. 5. Data akan diolah secara statistik.

11

BAB IV DATA

Disini kami menampilkan dua data sebagai perbandingan. Data hasil penelitian kami sebagai data primer dan data hasil dari penelitian kelompok lain sebagai data sekunder. 4.1 DATA PERCOBAAN 4.1.1 Data primer Adapun data yang didapat dari percobaan adalah : Jenis bahan Panjang awal kawat (Lo) Diameter kawat (d) Jari jari kawat (r) 4.1.2 Data Sekunder Jenis bahan Panjang awal kawat (Lo) Diameter kawat (d) Jari jari kawat (r) : kawat baja : 1,04 m : 0,31 mm = 0,00031 m : 0,155 mm = 0,000155 m : kawat baja : 1,04 m : 0,36 mm = 0,00036 m : 0,18 mm = 0,00018 m

12

Tabel 4.1 Pengaruh massa benda (m) yang diberikan terhadap pertambahan panjang kawat (L). (Tabel Primer) Pertambahan panjang kawat (mm) L = L - Lo 2,05 2,17 2,55 2,68 2,82

Massa beban (kg) m 0 0,3 0,6 0,9 1,2

Panjang kawat (mm) L 1042,05 1042,17 1042,55 1042,68 1042,82

Tabel 4. 2 Pengaruh massa benda (m) yang diberikan terhadap pertambahan panjang kawat (L). (Tabel Sekunder)

Massa beban (kg) m 0 0,2 0,4 0,6 0.8 1

Panjang kawat (mm) L 1044,19 1044,3 1044,48 1044,56 1044,64 1044,73

Pertambahan panjang kawat (mm) L = L - Lo 0,19 0,3 0,48 0,56 0,64 0,73

13

4.2 PERHITUNGAN

Grafik m vs L
3.2 2.8 2.4 2 1.62.05 1.2 0.8 0.4 0 0 0.3 0.6 m ( kg ) 0.9 1.2 1.5
2.55 2.17 2.68 2.82

L ( m )

Gambar 4.1 Grafik m vs L primer Slope = =

= = 0,45 A = = = 1,017 x 10-7 m2 Modulus Young = = =


= 22,7

m/kg

= 2,27 . 1011 kg m1s2 = 2,27 . 1011 N/m2


14

0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.19 0.2 0.1 0 0 0.2 0.3

Grafik m vs L
0.64 0.56 0.48

0.73

0.4

0.6

0.8

1.2

Gambar 4.2 Grafik m vs L sekunder Modulus young = 2,55 . 1011 N/m2

15

BAB V PEMBAHASAN

Hasil modulus young kawat baja yang diperoleh pada percobaan ini adalah 2,27 x 1011 N/m2, Dan dari perbandingan dua grafik di atas dapat dilihat ada perbedaan yang cukup mencolok. Ini sudah pasti karena dari data percobaan dapat dilihat sebagai beban penambahan awal di data primer langsung diberi beban sebesar 0,3 kg, sedangkan pada data sekunder hanya ditambahkan 0,2 kg. Jelas terlihat bahwa semakin berat beban yang ditambahkan maka akan makin renggang kawat baja tersebut. Tampak dari data pertambahan panjang kawat primer sebesar 2,05 mm, sedangkan pada data sekunder hanya 0,19 mm. Grafik m vs L menunjukkan bahwa nilai m berbanding lurus dengan nilai L. Hal ini berarti ketika massa beban ditambah, maka perpanjangan kawat juga ikut bertambah. Gaya yang dikerjakan pada kawat baja merupakan gaya gravitasi dimana F = m.g. Menurut hukum Hooke, gaya tarikan berbanding lurus dengan pertambahan panjang yaitu F = k.x, sehingga persamaannya dapat ditulis: F = k.x . = .x Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa massa (m) berbanding lurus dengan pertambahan panjang (x) yang hubungannya terlihat pada grafik m vs L. Maka, kawat baja yang digunakan dalam percobaan ini sesuai dengan hukum Hooke.

16

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah: 1. Nilai Modulus Young yang diperoleh dari percobaan ini adalah 2,27. 1011 N/m2. 2. Semakin banyak beban yang ditaruh, maka semakin besar pertambahan panjang pada kawat yang terjadi. 3. Kawat baja yang digunakan dalam percobaan memenuhi hukum Hooke. 6.2 SARAN Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk praktikan selanjutnya adalah: 1. Hendaknya untuk peneliti berikutnya agar lebih kreatif dalam melakukan percobaan dengan menambah variasi bahan sebagai uji coba, seperti tidak hanya menggunakan baja tetapi juga menggunakan tembaga, besi, dsb. 2. Hendaknya sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu dipastikan peralatan berfungsi dengan baik agar selama penelitian berlangsung tidak terjadi kesalahan karena peralatan yang tidak kondusif.

17

BAB VII
PENUTUP

Demikian laporan ini disusun. Penulis juga menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dimana masih terdapat kekurangan. Akhir kata, penulis memohon maaf atas kekurangan yang terdapat dalam laporan ini. Untuk itu, penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga kelak dapatlah lebih maju dan tercipta laporan yang jauh lebih baik. Semoga laporan mengenai percobaan Modulus Tarikan ini dapat memberikan manfaat bagi Anda semua.

18

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas.C.1999.Fisika.Jakarta: Erlangga. Sears dan Zemansky. 2002. Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga. Nurfauziawati, Nova. 2010. Modulus Elastisitas. novanurfauziawati.files. wordpress.com /2012/01/modul-4-modulus-elastisitas2.pdf.

19

Anda mungkin juga menyukai