Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN POSTMATUR / POST-TERM

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 5

1. ENDHAH LUSI OKTAVERI 2. RINA RISTANTI 3. SRI INDAH TJAHYANTI 4. VIRRA JAYATI NINGRUM 5. DEVI NOVALIA 6. YULIZAR 7. WURYANI 8. ANIK WIDAYATI 9. MASFIN MUHAYANAH

131111149 131111150 131111151 131111152 131111153 131111154 131111155 131111156 131111157

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas asuhan keperawatan dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN POSTMATUR / POST-TERM, tepat pada waktunya.

Makalah ini merupakan tugas pembelajaran SCL (Student Center Learning) dari pendidikan. Dalam penulisan asuhan keperawatan ini penulis telah mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik dalam hal materi maupun moril sehingga pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1. Ibu Esty Yunitasari, selaku PJMA Reproduksi 2. Ibu Ni Ketut Alit Armini, S.Kp., M.Kes, selaku fasilitator Keperawatan Reproduksi 3. Teman-teman angkatan B14 yang telah memberikan motivasi dalam penyusunan asuhan keperawatan ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami sadar bahwa asuhan keperawatan yang kami buat ini masih jauh dari sempurna, karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menyempurnakan asuhan keperawatan ini menjadi lebih baik lagi. Demikianlah asuhan keperawatan ini kami buat, semoga asuhan keperawatan ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi kelompok kami dan mahasiswa Fakultas Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Surabaya, Mei 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Sampul Depan ............................................................................................... i Kata Pengantar ............................................................................................................. ii Daftar Isi...................................................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1 1.2 Tujuan .................................................................................................................... 2 1.3 Manfaat ................................................................................................................. 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi ................................................................................................................... 3 2.2 Etiologi ................................................................................................................... 3 2.3 Manifestasi Klinis .................................................................................................. 4 2.4 Komplikasi ............................................................................................................. 4 2.5 Diagnosis. ........... 5 2.6 Penatalaksanaan 5 2.6 WOC .................................. 7 BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN . 8 BAB 4 TINJAUAN KASUS.............. 13 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 20 5.2 Saran ..................................................................................................................... 20 DAFTAR PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bayi post-term atau postmatur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi lebih dari 42 minggu dihitung dari menstruasi terakhir ibu (atau dengan pengkajian usia gestasi) dianggap postmatur, atau post-term, tanpa memperhitungkan berat badan lahir. (Wong, 2009). Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum diketahui. Tetapi diperkirakan karena ketidakpastian tanggal haid terakhir, terdapat kelainan kongenital anensefalus, terdapat hipoplasia kelenjar adrenal, primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan, jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan pedisposisi, dan faktor genetik. Menurut Wong, 2009 insiden kasus kelahiran bayi postmatur adalah 3,5% sampai 15% dari semua kehamilan. Beberapa tampak cukup gestasinya, namun memperlihatkan sifat bayi yang telah berusia 1 sampai 3 minggu, seperti tidak adanya lanugo, verniks dan kaseosa sedikit atau tidak ada, rambut kepala banyak, dan kuku panjang. Terdapat peningkatan bermakna mortalitas fetal dan neonatal pada bayi post-term dibandingkan yang lahir aterm. Biasanya mereka peka terhadap distress fetal sehubungan dengan rendahnya efisiensi plasenta, makrosomia, anomali bawaan, dan sindroma aspirasi mekoneum. Resiko tertinggi terjadi selama stress persalinan dan kelahiran, terutama pada bayi primigravida, atau wanita yang melahirkan anak pertama. Sesar atau induksi persalinan biasanya direkomendasikan bila bayi terlambat. Berbagai masalah keperawatan dapat

muncul pada bayi dengan kelahiran postmatur yaitu mulai dari resiko asfiksia, gangguan nutrisi, dan gangguan integument. Atas alasan tersebut diatas maka kami menyusun makalah berjudul Asuhan Keperawatan pada Bayi dengan Post-term / Matur , dan berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk teman-teman perawat dalam memberi pengetahuan yang cukup tentang tanda gejala, penyebab dan komplikasi bayi postmatur dan diharapkan mampu memberi asuhan keperawatan yang optimal pada bayi post-term sehingga bayi tidak mengalami masalah kesehatan dan tumbuh optimal menjadi anak yang sehat. 1.2 Tujuan 1. Tujuan Umum Memperoleh pemahaman serta mampu melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif pada bayi lahir postmatur.. 2. Tujuan Khusus a. Memperoleh pemahaman tentang pengertian Postmatur b. Mengidentifikasi etiologi Postmatur c. Mengidentifikasi tanda dan gejala Postmatur d. Mengidentifikasi pemeriksaan penunjang Postmatur e. Mengidentifikasi komplikasi Postmatur f. Mengidentifikasi penatalaksanaan Postmatur g. Mampu menyusun asuhan keperawatan pada pasien bayi dengan Postmatur

1.3 Manfaat 1. Diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran pada khususnya dan pembaca tentang asuhan keperawatan pada pasien bayi dengan Postmatur 2. Dapat menjadi referensi ilmu bagi fakultas keperawatan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dalam menangani kasus bayi Postmatur

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI Kehamilan lewat waktu berarti kehamilan yang melampaui usia 292 hari (42 minggu) dengan gejala kemungkinan komplikasinya.(Manuaba, 2008). Bayi pascaterm adalah bayi yang masa gestasinya lebih dari 42 minggu tanpa memperhatikan berat badan lahirnya. Bayi-bayi ini dapat BMK atau KMK, tetapi kebanyakan berat badannya adalah SMK. (Bobak, 2004) Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah melebihi 42 minggu (>294 hari). (Sarwono, 2005) 2.2 ETIOLOGI Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum diketahui. Tetapi diperkirakan karena ketidakpastian tanggal haid terakhir, terdapat kelainan kongenital anensefalus, terdapat hipoplasia kelenjar adrenal, primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan, jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan pedisposisi, dan faktor genetik. Faktor-faktor lain yang dikemukakan adalah : a. Hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. b. Kadar kortisol pada darah bayi yang rendah sehingga disimpulkan kerentanan akan stress merupakan faktor tidak timbulnya his. c. Herediter, karena post maturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu. d. Kurangnya air ketuban

e. Insufisiensi plasenta 2.3 MANIFESTASI KLINIS Tanda post term dapat dibagi dalam 3 stadium (Sarwono, 2005) : a. Stadium I : kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas. b. Stadium II : gejala di atas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. c. Stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.

2.4 KOMPLIKASI Komplikasi dapat mengenai ibu dan janin. Pada ibu meliputi distosia karena aksi uterus yang tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding kepala kurang, sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum. Sedangkan komplikasi pada janin meliputi : a. Oligohidramnion. Air ketuban normal usia 34-37 minggu adalah 1000 cc, aterm adalah 800 cc, di atas 42 minggu adalah 400 cc. Akibat dari oligohidramnion adalah amnion kental, mekonium diaspirasi oleh janin, asfiksia, gawat janin intrauterin. Pada in partu, aspirasi air ketuban, nilai Apgar rendah, sindrom gawat janin, dan bronkus paru tersumbat yang menimbulkan atelektasis. b. Janin diwarnai mekonium. Mekonium keluar karena refleks vagus terhadap usus. Peristaltik usus dan terbukanya sfingter ani membuat mekonium keluar. Aspirasi air ketuban serta mekonium dapat menimbulkan gangguan pernapasan janin, gangguan sirkulasi bayi setelah lahir, dan hipoksia intrauterin sampai kematian janin.

c.

Makrosemia. Dengan plasenta masih baik terjadi tumbuh kembang janin dengan berat 4500 gram disebut makrosemia. akibat kondisi ini pada persalinan dapat menyebabkan kematian bayi dan trauma jalan lahir ibu.

d.

Dismaturitas bayi. Usia kehamilan 37 minggu luas plasentanya 11 m. Selanjutnya trjadi penurunan fungsi akibat tidak berkembangnya atau terjadinya kalsifikasi dan aterosklerosis pembuluh darah. Penurunan kemampuan nutrisi plasenta menimbulkan perubahan metabolisme menuju anaerobik. Pada keadaan ini terjadi badan keton dan asidosis, gejala Clifford, pada kulit terjadi substanfet berkurang, otot makin lemah, dan berwarna mekonium. Kuku tampak tajam dan kulit keriput. Tali pusat lembek, mudah tertekan dengan disertai oligohidramnion.

2.5 DIAGNOSIS Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis, yaitu : 1. HPHT jelas 2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu 3. Terdengar denyut jantung janin 4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu 5. Tes kehamilan sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

2.6 PENATALAKSAAAN Kehamilan lewat waktu memerlukan pertolongan, induksi oksitosin dan seksio sesarea. Induksi oksitosin tidak banyak menimbulkan penyulit bayi, asalkan dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas memadai. Seksio sesarea dilakukan bila terdapat tanda asfiksia intrauterin, makrosemia, kelainan letak

janin, riwayat obstetrik buruk, induksi gagal, dan ibu dengan penyakit tertentu dan apabila tergolong dalam resiko tinggi. Pertolongan persalinan di luar rumah sakit sangat berbahaya karena setiap saat memerlukan tindakan operasi. Bahayanya adalah janin dapat meninggal mendadak intrauterin, mengalami kesulitan saat pertolongan persalinan karena bahu bayi terlalu besar (distosia bahu),sehingga menimbulkan trauma persalinan terutama persendian lehernya, kerusakan pusat vital janin yang terletak di medula oblongata dan dapat mengakibatkan kematian janin.

2.7 WOC POSTMATUR


Faktor hormonal : Kadar progesteron Kortisol Faktor herediter

Kehamilan > 42 minggu Placenta mengkerut

Fungsi placenta

Suplay O2 ber <

Nutrisi ber <

janin mengkompensasi lemak dan karbohidrat sendiri Lemak sub cutis kulit mengelupas kehilangan lemak sub cutan gawat janin, cedera otak , dan organ lain nya Mengeluarkan mekonium aspirasi mekonium

Gangguan nutrisi

Gangguan pertumbuhan BB

Hipotermia

Integritas kulit

Asfiksia

Sianosis Hipoglikemi

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Identitas bayi / ibu. Riwayat penyakit. 1) Riwayat penyakit sekarang. Bayi lahir dengan usia kehamilan ibu lebih dari 42 minggu dan tidak merasakan adanya tanda-tanda bayi mau lahir. 2) Riwayat penyakit dahulu. Kemungkinan ibu pernah mengalami kehamilan lama seperti yang dialami sekarang, riwayat haid ibu, penyakit yang diderita ibu yang berkaitan dengan kehamilannya. 3) Riwayat penyakit keluarga. Apakah ada dalam keluarga yang pernah melahirkan bayi post term.

2. Pemeriksaan fisik 1) Umumnya bayi memiliki tengkorak normal, tetapi dimensinya yang lebih kecil daripada badannya membuat besar tengkorak tidak sesuai. 2) Waktu lahir kulit kering, pecah-pecah (deskuamasi) seperti kertas kulit. 3) Kuku keras dan panjang di ujung-ujung jari. 4) Rambut kulit kepala lebat. 5) Lapisan lemak subkutan hilang, sehingga kulit tampak longgar dan memberi penampilan seperti orang tua. 6) Kultur tubuh panjang dan kurus 7) Verniks tidak ada 8) Seringkali terdapat mekonium (berwarna kuning emas atau hijau) pada kulit, kuku dan tali pusat 9) Memiliki mata lebar, gejala simtomatik hipoksia intra uterin kronis.

3. Diagnosa keperawatan 1) Gangguan nutrisi b/d suplai oksigen, fungsi plasenta menurun 2) Hipoglikemia b/d kehilangan lemak subkutan 3) Hipotermi b/d hilangnya lemak sub kutan 4) Gangguan integritas kulit b/d kulit mengelupas, kehilangan lemak subkutan. 5) Sianosis b/d aspirasi mekonium 4. Intervensi 1. Gangguan nutrisi b/d suplai oksigen, fungsi plasenta menurun Tujuan: nutrisi adekuat setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil:
o

Mempertahankan pertumbuhan dan meningkatkan berat badan dalam kurva yang normal, dengan penambahan berat badan tetap sedikitnya 20-30g/hari

Intervensi: a. Beri Asi yang adekuat b. Berikan PASI bila asi tidak mencukupi kebutuhan nutrisi bayi. c. Anjurkan kepada ibu untuk banyak memakan makanan yang mengandung gizi. d. Awasi refleks mengisap dan kemampuan menelan bayi. Pemberian makanan melalui mulut dimulai ketika bayi sudah dalam keadaan stabil dan pernapasan terkendali dengan baik e. Awasi dan hitung kebutuhan kalori bayi f. Mulai pemberian ASI atau susu dengan botol 2-6 jam setelah kelahiran, mulai dengan 3-5 mL setiap pemberian dengan interval tiga jam. Pemberian ASI jangan dihentikan sampai bayi menunjukan bahwa ia dapat makan melalui botol susu dan berat badannya bertambah.

g. Timbang bayi setiapa hari, bandingkan berat badan dengan asupan kalori yang diberikan. Ini dilakukan untuk menentukan jumlah asupan yang tepat atau kebutuhan peningkatan asupan. 2. Hipotermi b/d kehilangan lemak sub kutan Tujuan : tidak terjadi hipotermi setelah dialkukan tindakan kepearwatan selama 1 x 2 jam Kriteria hasil : o Suhu tubuh 36-37 C o Tidak terjadi sianosis Intervensi a) Jaga temperatur ruang perawatan 25C b) Ukur suhu rectal bayi terlebih dahulu, baru kemudian suhu aksila setiap 2 jam atau setiap kali diperlukan. c) Lakukan prosedur penghangatan setelah bayi lahir d) Tempatkan bayi di bawah penghangatan radian atau incubator jika diperlukan e) Tempatkan control temperature (servo-control) di atas abdomen. Atur suhunya pada 37-37,5C, juga jaga suhu kulit pada 36-36,5C. f) Hindari menempatkan bayi kontak dengan sumber panas atau sumber dingin. Hindari juga udara panas maupun dingin. Lakukan juga perlindungan untuk menjaga panas tubuh, seperti agar kulit bayi tetap kering dan menjaga agar kepala bayi tertutup. g) Awasi bayi terhadap perubahan yang mengindikasikan adanya stress dingin.

3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit tipis, kapiler rapuh dekat permukaan kulit, tidak ada lemak subkutan diatas penonjolan tulang, ketidak mampuan untuk mengubah

posisi untuk menghilangkan titik penekanan, penggunaan restrain (melindungi jalur invasive / selang), perubahan status nutrisi.

Tujuan : Kriteria hasil : mempertahankan kulit tubuh, bebas dari cedera dermal. Intervensi : Mandiri:

a) Inspeksi kulit, perhatikan area kemerahan atau tekanan. R/ : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal, yang dapat mengakibatkan sepsis. (rujuk pada DK : infeksi, resiko tinggi terhadap). b) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. Berikan jeli petrolium pada bibir. R/ : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. c) Hindari penggunaan agens topical keras; cuci dengan hati-hati larutan povidon-iodin setelah prosedur. R/ : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier pelindung epidermal. d) Berikan latihan rentang gerak, perubahan posisi rutin, dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. R/ : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. e) Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang, elektroda dan kantung urin, jalur I.V dan sebagainya. R/ : melepaskan plester dapat juga melepas lapisan epidermal, karena kohesi antara plester dan korneum stratum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis.

f) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun ringan. Cuci hanya pada bagian tubuh Minimalkan manipulasi kulit bayi. R/ : setelah 4 hari, kulit mengalami beberapa sifat bakterisidal karena pH asam. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan pH kulit, menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang melindungi patogen invasif. g) Ganti elektroda hanya bila perlu R/ : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Kolaborasi : Berikan salap antibiotic pada hidung, mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi. R/ meningkatkan pemulihan pecah-pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen; dapat membantu mencegah infeksi. yang benar-benar kotor.

BAB 4 TINJAUAN KASUS

4.1 Tinjauan Kasus : Nama Klien : By. Ny. W Tanggal Lahir Bayi : 12 Mei 2012, Jam : 13.20 WIB. Apgar 1 menit : 9 dan 5 menit : 9. Berat badan lahir : 2500 gram Panjang badan : 47 cm, Lingkar kepala : 33 cm, lingkar dada : 36 cm. Denyut Jantung : 130 x/mt, pernafasan : 41 x/mt. Bunyi pernafasan paru-paru kiri kanan : Vesikuler, Ronchi/whezing : tidak terdengar. Suhu : 36C.

Kepala : Molding, Caput Sucsadenium, Cephal hematom : tidak ada. Ubun-ubun besar : ada, Bentuk : Jajaran genjang datar, Ubun-ubun kecil : ada, Bentuk : segitiga datar. Sutura : ada. Mata, Posisi : simetris, jarak : + 3 cm, Kotoran di mata sebelah kiri : ada, perdarahan : tidak ada. Telinga : simetris/ datar dengan kepala, perdarahan : tidak ada, Lubang : ada. Mulut : simetris, Palatum mol/durum : ada, Gigi : tidak ada. Hidung : lubang hidung ada, keluaran : tidak ada , pernafasan cuping hidung : tidak ada. Pergerakan leher : positif, tanda lahir : tidak ada. Rambut : rambut kepala banyak

Tubuh : Penampilan fisik : tubuh tampak kurus dan panjang Warna kulit : kuning pada seluruh tubuh. Pergerakan : aktif. Lanugo : tidak ada. Vernix kaseosa: tidak ada. Pengeluaran : mekonium. Keadaan kulit : pada kedua pergelangan kaki dan tangan, serta di tubuh tampak pecah-pecah, dan deskuamasi. Hidrasi : baik. Kuku : kuku jari panjang Dada : simetris, retraksi, ngorok dan see saw : tidak ada. Perut : lembek, Bising usus : 9x/mt.

Tungkai : Jari tangan : Kanan : jumlah 5 , Kiri : jumlah 5 Jari kaki : Kanan : Jumlah 5, Kiri : jumlah 5 Pergerakan : aktif Nadi branchial : teraba, 120 x/menit Nadi femoral : teraba, 120 x/menit Tremor : tidak ada Rotasi paha : normal Garis telapak tangan : jelas, telapak kaki : jelas Posisi kaki : fleksi

Punggung Fleksibelitas tulang punggung : normal Simetris, pretudal dumple Lobang anus : ada

Genitalia Jenis kelamin : laki-laki Lubang penis : ada B.a.b. : pertama : tanggal 13 Mei 2012 jam 06.00 Wib B.a.k : pertama : tanggal 12 Mei 2012 jam 15.00 Wib Jenis makanan : ASI ditambah susu formula

Refleks Mengisap : baik, rooting : baik, menggenggam : baik. Moro : baik, berjalan menapak, tonus leher : baik. Menangis : kuat Keadaan umum : agak lemah

Hasil Laboratorium : Tanggal 12 Mei 2012 Hb : 16,2 gr. % Golongan darah ibu : O Golongan darah bayi : O

Ringkasan riwayat kehamilan dan persalinan Masalah-masalah kehamilan : tidak ada Jenis Persalinan : operasi SC

Pengkajian Keluarga Adaptasi Psikologi Ibu Perasaan ibu setelah bayi lahir : merasa senang dan mulai tercipta hubungan yang baru. Akan tetapi ibu cemas karena kulit anaknya mengelupas. Adanya ikatan kasih : terjadi pada saat baru lahir.

Data obyektif : ibu bertingkah laku pasif, lebih banyak berdiam diri, masih tergantung dan perlu bantuan orang lain. Adaptasi psikologi ayah Respon ayah setelah bayi lahir: merasa bahagia dapat melahirkan dengan selamat. Keterlibatan dalam persalinan : mengantar, menunggu sampai bayi lahir. Ketidaleluasaan karena peraturan Rumah Sakit : ayah ingin ikut dalam proses persalinan. Tanggapan tentang penyakitnya : tidak tahu-menahu tentang penyakitnya, beranggapan penyakit ini sebagai penyakit keturunan / kesalahan dari orang tua. Adaptasi psikologi keluarga Menimbulkan perubahan : ya, terutama perubahan peran karena bertambahnya anggota keluarga. Apakah terjadi sibling: tidak, karena ini kelahiran putra pertama mereka. Apakah ada anggota keluarga yang terlibat dalam perawatan bayi : semua anggora keluarga terlibat dalam merawat bayinya. ANALISA DATA PENGELOMPOKAN DATA Data subyektif : Ibu mengatakan kulit bayinya mengelupas ETIOLOGI MASALAH

Hilangnya cadangan lemak subkutan

Gangguan integritas kulit

Data obyektif : TTV t: 36 C BB= 2500gr DJ=130 x/mnt

RR= 41x/mnt k/u agak lemah Warna kulit kuning kemerahan, kulit di ekstremitas tampak terkelupas TX = Lotion

Diagnosa keperawatan : 1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan hilangnya cadangan lemak subkutan Tujuan : Kriteria hasil : mempertahankan kulit tubuh, bebas dari cedera dermal. Intervensi : Mandiri:

h) Inspeksi kulit, perhatikan area kemerahan atau tekanan. R/ : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal, yang dapat mengakibatkan sepsis. (rujuk pada DK : infeksi, resiko tinggi terhadap). i) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. Berikan jeli petrolium pada bibir. R/ : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen.

j) Hindari penggunaan agens topical keras; cuci dengan hati-hati larutan povidon-iodin setelah prosedur. R/ : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier pelindung epidermal. k) Berikan latihan rentang gerak, perubahan posisi rutin, dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. R/ : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. l) Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang, elektroda dan kantung urin, jalur I.V dan sebagainya. R/ : melepaskan plester dapat juga melepas lapisan epidermal, karena kohesi antara plester dan korneum stratum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis. m) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun ringan. Cuci hanya pada bagian tubuh Minimalkan manipulasi kulit bayi. R/ : setelah 4 hari, kulit mengalami beberapa sifat bakterisidal karena pH asam. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan pH kulit, menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang melindungi patogen invasif. n) Ganti elektroda hanya bila perlu R/ : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Kolaborasi : Berikan salap antibiotic pada hidung, mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi. R/ meningkatkan pemulihan pecah-pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen; dapat membantu mencegah infeksi. yang benar-benar kotor.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Postmatur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi lebih dari 42 minggu dihitung dari menstruasi terakhir ibu (atau dengan pengkajian usia gestasi) dianggap postmatur, atau post-term, tanpa memperhitungkan berat badan lahir. Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum diketahui. Tetapi diperkirakan karena ketidakpastian tanggal haid terakhir, terdapat kelainan kongenital anensefalus, terdapat hipoplasia kelenjar adrenal, primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan, jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan pedisposisi, dan faktor genetik. Resiko tertinggi terjadi selama stress persalinan dan kelahiran, terutama pada bayi primigravida, atau wanita yang melahirkan anak pertama. Sesar atau induksi persalinan biasanya direkomendasikan bila bayi terlambat. Berbagai masalah keperawatan dapat muncul pada bayi dengan kelahiran postmatur yaitu mulai dari resiko asfiksia, gangguan nutrisi, dan gangguan integument. 5.2 Saran Diharapkan perawat dapat bertindak secara profesional dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien bayi postmatur secara optimal sehingga dapat dirumuskan diagnosa yang tepat dan dapat dirancang secara tepat dan dapat dirancang intervensi, melaksanakan implementasi secara tepat sehingga pada evaluasi akan diperoleh hasil sesuai dengan tujuan yaitu masalah keperawatan pada bayi postmatur.

DAFTAR PUSTAKA

Wahab, Samik. Dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 1. Edisi 15. Jakarta: EGC Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Volume 1. Edisi 6. Jakarta: EGC Doenges, Marilynn, E. 2001. Resiko Perawatan Maternal/Bayi: Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Edisi 2. Jakarta: EGC Bobak, Lowdermilk, Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC