Anda di halaman 1dari 59

LAPORAN

KULIAH KERJA LAPANGAN EKOLOGI HEWAN DI SITU LENGKONG PANJALU


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ekologi Hewan Dosen : DR. Eming Sudiana, M.Si.

Disusun oleh : KELOMPOK C2 Ai Santi Damayanti Ade Nina Yuliana Adi Hadiana Annisa Puspita Rahmini Igus Julius M. Saeffulloh Rudi Ari Nugraha Susi Sulastri Yanti Susilawati Winda Yuni Deninta

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GALUH 2012

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Dari (http://id.wikipedia.org/wiki/ekologi) menyebutkan bahwa

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunanioikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834-1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang Situ menunjukkan Lengkong kesatuan. Panjalu berada (Anonym. di 2010 dalam Panjalu http://id.wikipedia.org/wiki/ekologi) Desa/Kecamatan Kabupaten Ciamis yang telah ditetapkan sebagai cagar alam. Keadaan vegetasi di dalam cagar alam ini cukup beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya : Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus variegata), Huru (Litsea sp), Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingiberaceae) dan Langkap (Arenga sp).

Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus vampyrus) juga beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otusscops), Elang (Haliastur indus), Raja Udang (Halcion chloris) dan Walik (Treron griccipilla). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka

dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong? 2. Bagaimana Estimasi Populasi Hewan Tanah ? 3. Bagaimana faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong? 4. Bagaimana Estimasi Populasi Kalong ? 5. Bagamana cara memetakan Situ lengkong? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penyusunan laporan KKL ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui Lengkong 2. Mengetahui struktur dan komposisi fauna aktif di permukaan tanah pada daerah berkanopi dan tidak berkanopi. 3. Mengetahui pengaruh faktor lingkungan di dua lokasi terhadap kelimpahan masing-masing kelompok taksa hewan tanah yang ditemukan. 4. Mengetahui faktor Abiotik dan Biotik Lengkong 5. Mengetahui Pemetaan Situ Lengkong Ekosistem Perairan Situ faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komponen Abiotik a. Temperatur Temperatur atau suhu merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ekosistem. Laju metabolisme organisme poikilotrem sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Ada interaksi negatif antara suhu dan ketinggian tempat (altitude) dan posisi garis lintang (latitude). Suhu diukur dengan termometer dengan C, F dan oK. (Eming dan Dadi. 2010) Tinggi rendahnya suhu sangat dipengaruhi oleh adanya cahaya matahari. Terjadinya perubahan suhu dari panas ke dingin atau sebaliknya sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di dalam suatu ekosistem. Perubahan itu dapat akan mengakibatkan dalam perubahan iklim dan curah hujan yang

mempengaruhi metabolism tubuh makhluk hidup. (Vicky Widuri. 2010. http://authorscream.com/presentation/VICKYwiduri-390803ekosistem-biologi-vicky-chintia-widuri-0901145120-education-pptpowerpoint/). b. Kelembaban udara Kelembaban udara sering diukur dengan nilai relatifnya, yaitu kelembaban relatif udara (relative humidity/HR), menggambarkan perbandingan antara tekanan uap air pada saat itu dengan uap air jenuh pada suhu yang sama. Kelembaban relatif udara (%) diukur dengan higrometer, psikometer berdasarkan pembacaan suhu kering dan suhu basah. (Eming dan Dadi. 2010) Suhu dan kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman spesies (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993 dalam Dony 2010 pada

http://dony.blog.uns.ac.id/2010/05/31/komponen-biotik-dan-abiotiklingkungan-mangrove/). c. Derajat Keasaman (pH) pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman (atau ke basaanyang dimiliki oleh suatu larutan. Yang dimaksudkan keasaman di sini adalah konsentrasi ion hidrogen(H+) dalam pelarut air.Nilai pH berkisar dari 0 hingga 14. Suatu larutan dikatakan netral apabila memiliki nilai pH=7. Nilai pH>7 menunjukkan larutan memiliki sifat basa, sedangkan nilai pH<7 menunjukan keasaman-ph/) Nilai pH 7 dikatakan netral karena pada air murni ion H+ terlarut dan ion OH- terlarut (sebagai tanda kebasaan) berada pada jumlah yang sama, yaitu 10-7 pada kesetimbangan. Penambahan senyawa Akibatnya ion H+ terlarut kelebihan (Rizqi, dari ion suatu asam akan mendesak kesetimbangan ke kiri (ion OH- akan diikat oleh H+ membentuk air). terjadi hidrogen dan meningkatkan dalam konsentrasinya keasaman-ph/). Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka (Rizqi, Muhammad 2010 dalam http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajatkeasaman-ph/). Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan Muhammad 2010 keasaman (Rizqi, Muhammad 2010 dalam http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajat-

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajat-

yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral (Rizqi, Muhammad keasaman-ph/). Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila terhadap alkalinitasnya pengubahan tinggi pH maka (Rizqi, air tersebut akan 2010 mudah dalam mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap gangguan Muhammad http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajatkeasaman-ph/). Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air. Apabila hal ini telah dikuasai maka penurunan pH akan lebih mudah dilakukan (Rizqi, Muhammad keasaman-ph/). Sifat keasaman dan kebasaan tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. (Menurut Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985) pH tanah adalah suatu ukuran aktivitas ion hydrogen dalam larutan air tanah dan dipakai sebagai ukuran keasaman tanah. Sebetulnya keasaman dan kebasaan tanah merupakan pencerminan kadar, baik ion H + maupun ion OH(Krisanisus 2011 dalam http://krisanisus.blogspot.com/2011/11/vbehaviorurldefaultvmlo_6102.html). pH meter soil tester merupakan alat pengujian yang paling murah, dan paling banyak digunakan. Bentuk alat ini seperti kerucut dimana bagian bawahnya semakin runcing untuk ditancapkan pada tanah. Pada bagian atasnya terdapat skala ukuran menunjukkan nilai pH dan kelembaban. Meskipun tidak seakurat dan selengkap hasil test laboratorium, namun alat ini mudah digunakan oleh siapa saja, 2010 dalam http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajat2010 dalam http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajat-

dimana kita tinggal menancapkan alat tersebut pada tanah untuk kemudian dilihat pada skala pHnya yang terletak pada bagian atasnya. Nilai pH yang tercantum pada skala menunjukkan kondisi nyata dari lahan kita. Alangkah baiknya bila kita melakukan pengujian di beberapa tempat sehingga hasil pengujian tersebut lebih mewakili (Yoyos 2010 dalam http://yoyos1.wordpress.com/2010/02/24/kondisitanah/). d. Kadar Garam (salinitas) Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagaiair payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine (anonym 2012 dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas). 2.2 Komponen Biotik a. Populasi Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri yang sama (spesies) yang hidup menempati ruang yang sama padawaktu tertentu. Anggota-anggota populasi secara alamiah saling berinteraksi satu sama lain dan bereproduksi di antara sesamanya. Konsep populasi banyak dipakai dalam ekologi dan genetika. Ekologiwan memandang populasi sebagai unsur dari sistem yang lebih luas. Populasi suatu spesies adalah bagian dari suatu komunitas. Selain itu, evolusi juga bekerja melalui populasi. Ahli-ahli genetika, di sisi lain, memandang populasi sebagai sarana atau wadah bagi pertukaran alel-alel yang dimiliki oleh individu-individu anggotanya. Dinamika frekuensi alel dalam suatu populasi menjadi perhatian utama

dalam b. Kalong

kajian genetika

populasi

(anonym

2012

dalam

http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi_%28biologi%29). Kalong (pteropus vampyrus) adalah anggota bangsa kelelawar dari mangga Pteropus keluarga pteropodidae. Anonymous (2012) mengidentifikasi kalong sebagai satu-satunya keluarga (familia) dari sub ordo Megachiroptera yang masih bertahan. Secara anatomi dan morfologi kalong termasuk mamalia peralihan sehingga memiliki kekhasan. Dengan bentangan sayap hingga 170cm dan berat mencapai 1500gr, kalong adalah spesies nokturnal yang secara evolusioner bertahan dengan cara hidupnya. Pada siang hari spesies ini beristirahat menggantung pada cabang atau ranting pepohonan menggunakan jarinya dan mulai sore hari hidup lebih aktif dengan tujuan mencari makanan. Dengan daya jelajah hingga 40 mil, pada keesokan harinya kalong-kalong tersebut kembali ke habitatnya untuk beristirahat (Eming dan Dadi. 2010). Habitat kalong di Situ Panjalu tidak saja berkisar di area Situ Panjalu tetapi dapat mencapai radius beberapa meter menjangkau tempat area mencari makan. Jika area pencarian makan kalong mengalami kerusakan maka populasi kalong di Situ Panjalu akan mengalami gangguan. Mengingat kondisi faktual daerah di sekitar Situ Panjalu mengalami perubahan maka pencacahan secara periodik populasi kalong dapat memberikan informasi dini yang berharga dalam rangkan konservasi area yang dimaksud (Eming dan Dadi. 2010).

BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah : 1. Studi Pustaka yaitu mencari informasi dari berbagai referensi buku dan internet 2. Pengamatan (observasi), yaitu teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung kepada obyek penelitian. Menurut Soeratno & Lincolin Arsyad (1993) dalam (ahmad 2009) pada http://damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab4.pdf, data dengan jalan melakukan pencatatan secara menyatakan cermat dan

bahwa pengamatan atau observasi merupakan cara pengumpulan sistematik. Teknik observasi biasanya dilakukan bersamaan dengan teknik lain untuk mengamati keadaan fisik, lokasi atau daerah penelitian secara sepintas lalu (on the spot) dan dengan melakukan pencatatan seperlunya (ahmad, 2009). 3. Wawancara (interview), yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan wawancara antara pengumpul data (pencacat) dengan responden. Wawancara dilakukan secara langsung menanyakan dan mencatat data yang diperoleh dari responden Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian adalah sebagai berikut: A. Faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong dan Estimasi Populasi Hewan Darat 1. Alat dan Bahan Alat Soil tester Termometer Higrometer sling Bahan Formalin Sabun colek Air

Cangkul Toples bekas astor 2. Cara kerja

Sterofom Kantung plastik

Membentuk tim kerja menjadi 6, yaitu A1, A2, A3, B1, B2, dan B3. Dengan tugas nya A1 dan B1 pada perjalanan pertama adalah memasang patok dan jebakan, sedangkan yang lainnya mengestimasi populasi hewan dan mengidentifikasi faktor abiotik. Sedangkan pada hari abiotik. Hari pertama praktikum dimulai dengan memasangan patok di 50 titik di sekitar Situ Lengkong pada siang hari oleh tim kerja A1 (patok 1-25) dan B1 (patok 26-50) serta memasang alat ukur curah hujan di tempat yang terbuka tepatnya pada patok ke-13 dan patok ke-38 dan mengukur curah hujan keesokan harinya jika terjadi hujan. Setiap tim kerja berangkat 3 jam sekali secara bergantian, dengan rincian A1 dan B1 Pukul .00, A2 dan B2 pukul .00, serta A3 dan B3 pukul .00 Memberi perlakuan pada setiap patok yaitu : o Melubangi tanah dengan cangkul setinggi dan sebesar toples bekas astor o Menanam toples dalam lubang tersebut o Memperkirakan agar permukaan tanah sama dengan permukaan bibir toples bekas astor o mengisi toples dengan larutan formalin 4% setinggi 1,5cm s.d. 2cm dan meneteskan sedikit larutan deterjen, mencegah jangan sampai tanah masuk ke dalam toples. o Di tempat terdapat patok menyimpan toples bekas astor yang berisi air sebanyak 100 ml dan mengukur kembali kedua seluruh tim kerja melakukan estimasi populasi hewan dan mengidentifikasi faktor

setelah disimpan selama 2 jam. Toples tersebut di kubur sampai batas permukaan dan bagian dalamnya dibiarkan tidak terkubur, kemudian bagian dalmnya diolesi sabun dan dimasukan formalin sebanyak 5 ml bertujuan sebagai trap hewan yang berada di tempat patok. o Mengukur pH dan kelembaban tanah dengan Soil tester o Mengukur suhu dengan termometer. o Mengukur kelembaban udara dengan higrometer sling o Mencatat hasil sementara. Pada esok harinya tepat jam 06.00 tim A1 dan B1 berangkat kembali menglilingi danau untuk mengamati alat-alat yang telah dipasang pada setiap patok dan memberi perlakuan pada setiap patok sebagai berikut : o Mencatat hewan yang terjebak pada trap o Mengukur suhu disekitar patok menggunakan thermometer o Mengukur kelembaban udara dengan higrometer sling o Mengukur pH dan kelembaban tanah menggunakan soil tester Selanjutnya A2 dan B2 berangkat pukul 09.00 dengan tugasnya mengambil hewan yang terjebak pada setiap trap. Selanjutnya A3 dan B3 berangkat pukul 11.00 dengan tugasnya mengambil hewan yang terjebak pada setiap trap serta mengambil kembali semua alat yang telah dipasang pada setiap patok B. Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong 1. Alat yang diperlukan Termometer air raksa Secchi Disc Bola Kasur Salinometer

10

Tongkat Meteran atau tali rapia PH indikator Pelampung (bisa diganti Botol minuman) Botol Winkler (250 ml) Labu erlenmeyer (250 ml) 2. Bahan yang diperlukan Larutan MnSO4 Larutan Iodida alkalis Larutan Na2S2O3 Larutan amilum Larutan NaCO3 Indikator Phenolphtalein Larutan H2SO4 Indikator Metil Jingga 3. Cara Kerja a. Mengukur Suhu Air Mengambil sampel air dari 2 arah yaitu timur dan barat, masing-masing 3 titik spot dan masing masing titik tersebut di ambil 3 sampel yaitu dipermukaan air, di tengah dan di dasar. pengukuran dapat digunakan dengan menggunakan alat yaitu botol minuman diikatkan pada tongkat Memasukan termometer pada botol tersebut kemudian tenggelamkan kedalam air dampai gelembung udaranya hilang biarkan selama 5 menit dengan asumsi bahwa selama 5 menit tersebut suhu dalam botol sama dengan suhu luar. Alat yang digunakan adalah termometer air raksa, dengan cara termometer ditenggelamkan dalam air dengan seutas tali kemudian dibiarkan sampai air raksa tidak bergerak ( 5 menit). Kemudian baca nilai pada termometer tersebut

11

b. Mengukur Kecerahan Air Alat yang digunakan adalah Secchi Disc. Pengukuran kecerahan dilakukan dengan memasukkan Secchi disc melalui seutas tali ke dalam perairan sampai warna hitam-putih dari

Secchi disc tidak kelihatan. Jarak antara jari yang memegang


tali (tepat di permukaan air) dengan Secchi disc pada saat hilangnya warna tersebut merupakan kecerahan perairan tersebut kemudian setelah secchi disk tidak keliatan tahan dan ukurlah panjang tali dengan menggunakan meteran. Hasil pengukuran dapat diklasifikasikan berikut: Perairan berkecerahan baik : lebih dari 60 cm Perairan berkecerahan sedang: lebih kurang 30 cm Perairan berkecerahan buruk : kurang dari 10 cm. Pengukuran kedalaman suatu perairan dapat dilakukan dengan memasukkan tongkat atau tali (yang diberi pemberat) ke dalam perairan sampai tongkat tersebut mencapai dasar kemudaian mengukur tali atau tongkat tersebut dengan meteran d. Pengukuran pH Mengambil sampel air dari 2 arah yaitu timur dan barat, masing-masing 3 titik spotkemudian tiap spot di bagi lagi 3 bagiantitik dan masing masing titik tersebut di ambil 3 sampel yaitu dipermukaan air, di tengah dan di dasar. pengukuran dapat digunakan dengan menggunakan alat yaitu volumeter yang telah dimodivikasi dengan penutup karet dan di beri benang dan diikatkan pada tongkat Memasukan alat tersebut ke dalam air, alat ini digunakan untuk mengambil sampel air di tengah dan di dasar perairan.

c. Kedalaman Air

12

Pengukuran pH perairan dapat dilakukan dengan pH meter portabel. Sebelum digunakan, alat ini harus dikalibrasi yaitu dengan memasukkan pH probe ke dalam larutan buffer (pH - 7) dan apabila belum menunjukkan angka 7 aturlah pH meter untuk membaca pH 7. Cucilah probe dengan akuades, lap dengan tissue dan kemudian masukkan probe ke dalam larutan buffer (pH = 4) dan aturlah pH meter untuk dapat membaca pH 4. Cucilah probe dengan aquades dan setelah dikeringkan dengan tissue kemudian masukkan ke dalam sampel air. Bacalah pH nya dan cucilah probe dengan akuades sebelum digunakan untuk mengukur sampel yang lain. Cara pengukuran yang lain dengan menggunakan kertas pH yang kemudian dibandingkan dengan pH standar, e. Kadar Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut dapat diukur dengan metode Winkler yang telah dimodifikasi Pengukuran dengan metode Winkler Reagen yang diperlukan: 1) Larutan MnSO4 (364 gram MnSO4, dilarutkan dalam akuades hingga 1 liter) 2) Larutan Iodida alkalis (700 gram KOH dan 150 gram KI diarutkan dalam akuades hingga 1000 ml) 3) H2SO4 pekat dengan BJ 1,83-1,84 4) Larutan Natrium Thiosulfat (Na2S2O3) 0,025 N (6,205 gram Na2S2O3 dilarutkan dalam akuades yang sudah didihkan hingga 1000 ml. tambahkan 5 ml khloroform dan simpan dalam lemari es. 5) Larutan kanji (amilum). Tambahkan 0,5 gram amilum kedalam 100 ml akuades, aduk sambil didihkan sampai larut. Biarkan beberapa jam. Yang akan dipakai adalah bagian larutan yang bening sebelah atas, sesudah

13

ditambah dengan 1,25 gram asam salisilat sebagai pengawet. Cara Kerja : 1) Memasukan sampel air kedalam botol Winkler 250 ml. kemudian dengan menggunakan pipet berskala, masukan 1 ml MnSO4 ke dalam sampel tersebut 2) Dengan cara yang sama, kemudian memasukan 1 ml KOH-KI, dan botol sampel segera ditutup lalu campuran tersebut dikocok beberapa kali. Biarkan sebentar hingga endapan berkumpul dibawah dan cairan bening sebelah atas. Seandainya sampel tidak mengandung oksigen terlarut, maka endapan yang terjadi berwarna putih. 3) Dengan pipet bersekala lalu memasukan 1 ml H2SO4pekat. Endapan akan larut dan terjadi cairan bening yang berwarna kekuning-kuningan. Botol yang telah ditutup dikocok kembali. Titrasi 1) Didalam labu erlenmeyer berukuran 250 ml, kemudian memasukan 100 ml dari sampel air yang sudah diolah diatas dan dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,025 N hingga larutan berwana kuning muda. 2) Memasukan 10 tetes larutan amilum, larutan ssekarang berwarna biru. 3) Titrasi dilanjutkan hingga warna biru tetap hilang. 4) Mencatat berapa ml larutan Na2S2O3 yang terpakai. 5) Melakukan sekali lagi agar lebih teliti. Pemakaian Na2S2O3, dari titrasi dirata-ratakan (=Q ml). 6) Maka 2Q adalah oksigen terlarut dalam satuan mg/l atau 2 Q x 0,698 adalah oksigen dalam satuan ml/l

14

4) Seandainya larutan Na2S2O3 yang dipakai tidak tepat bernormalisasi0,025 N, maka melakukan koreksi. Bila nirmalisasi riil = Nr, maka Oksigen Terlarut Nr/0,025 x 2 mg/l f. Kadar Karbondioksida Bebas Terlarut Mengukur CO2 bebas yang terlarut dilakukan dengan

metodealkalimetri.
Reagen yang diperlukan : a. Melarutkan Larutan NaCO31/44 N (0.909 gram NaCO3 kedalam akuadeshingga 1 liter) b. Indikator phenolphtalein 0,5% (melarutkan 0,5 gram phenolphtalein kedalam 100 ml alkohol 96%) Cara kerja : a. Memasukan 100 ml sampel air kedalam labu erlenmeyer 250 ml dan tambahkan 5 tetes indikator phenolphtalein (larutan tidak berwarna) b. Melarutan di titrasi dengan 1/44 NaCO3 hingga memberikan warna merah jambu muda (titrasi sambil digoyang). c. Melakukan titrasi berulang agar lebih teliti, lalu menghitung rata-ratanya d. Kadar CO2 bebas (mg/l) = ml NaCO3 x 10 g. Mengukur kadar garam (salinitas) Kadar garam bisa diukur dengan menggunakan Salinometer. Kadar garam diukur dari 4 titik sampel yaitu

utara, selatan timur dan barat dan tiap titik tersebut diukur pada bagian pinggir, tengah dan dekat nusa. h. Kelembaban Kelembaban di ukur dengan menggunakan alat hygrometer sling. Kelembaban yang di cari yaitu tiap spot. Kelembabab di ukur dengan perbandingan suhu kering yang

15

ada di termometer kering dengan suhu basah yang ada pada termometer basah setelah diputar. C. Estimasi Populasi Kalong 1. Alat yang diperlukan Tally Counter 5 buah Alat Tulis (kertas format, pensil, papan kerani) Kompas 2. Cara Kerja Menentukan spot di empat arah dengan titik pusat nusa, yaitu di sebelah utara, selatan, timur, dan barat. Di tiap titik di siagakan delapan orang anggota untuk menghitung keluar dan masuknya kalong. Para anggota di setiap spot berangkat lebih awal yaitu sebelum kalong diperikrakan keluar untuk mencari makan dan sebelum kalong kembali ke Nusa Gede. Memperkirakan waktu keluar kalong untuk mencari makan yaitu pukul 16.30 WIB, sehingga para penghitung disiagakan, sampai terlihat tidak ada lagi kalong yang keluar Kemudian menghitung setiap kalong yang keluar selang waktu 5 menit dan mencatatnya Kemudian esok harinya menyiagakan kembali para penghitung pada 4 titik yang telah di tentukan dengan penghitungan di mulai pada pukul 05.00 WIB. sampai terlihat tidak ada lagi kalong yang masuk D. Pemetaan Situ Lengkong 1. Alat yang diperlukan Kertas Milimeter Block Kompas Bidik Tali rapia ukuran 20 m

16

Busur derajat Papan krani Pensil Patok bambu bendera sebanyak dua buah Penggaris Kertas catatan lapangan 2. Cara Kerja Menentukan titik pengamatan pertama Kemudian membentangkan tali rapia 20 meter yang pada setiap ujungnya telah dipasangkan patok berbendera Satu orang peraktikan bertugas untuk menembak sudut yang terjadi dari patok 1 ke patok 2. Kemudian mencatat sudutnya Menandai bekas pemancangan patok 2 dengan patok penanda, sementara 2 patok berbendera bergerak ke arah selanjutnya Membentangkan kembali patok-patok dan tali rapia dengan titik patok 1 menempati patok penanda yang ditinggalkan oleh petugas patok 2 Petugas pemegang kompas kembali membidik sudut yang terjadi antara patok 1 dan patok 2. Kemduian mencatat kembali sudut hasil bidikan tersebut mengulangi pekerjaan dengan patok berbendera bergerak seperti langkah 3 dan seterusnya hingga pada akhirnya pengamat tiba di tempat bidikan pertama kemudian mem petabuat di basecamp di atas kertas milimeterblock dengan menggunakan skala tertentu (misalnya untuk bentangan 20 meter di lapangan diwakili dengan ukuran 1 cm diatas kertas millimeter block)

17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELUSURAN DARATAN TABEL HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT (HARI PERTAMA) KELOMPOK A1 & B1 Lokasi Tanggal Jam Musim Cuaca : A1 (dari arah barat ke timur), B1 (dari arah utara ke timur) : 5 juni 2012 : 13.35 15.27 : kemarau peralihan : cerah KELOMPOK A2 & B2 Lokasi Tanggal Jam Musim Cuaca : A2 (dari arah barat ke timur), B2 (dari arah utara ke timur) : 5 juni 2012 : 15.00 18.07 : Kemarau peralihan : Cerah

18

TABEL 4.1 HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT A2 DAN B2 SORE


Fisik Spot Udara Kelembaban Suhu 0 (mmHg) C 84 Serasah Ranting, Daun Daun jambu, Daun bambu Daun bambu, Daun nangka Rumput Rumput Daun singkong, Rumput Rumput Jerami, Daun singkong Jerami, Padi Daun singkong, Daun alba Daun singkong, Daun ubi Rumput Rumput Rumput Buah singkong karet, Rumput daun singkong, Daun cengkeh, Daun kelapa, Rumput Jerami Daun alang alang Rumput Jerami Jerami Jerami, Rumput Jerami Rumput, Daun pisang Rumput 23 23 Tanah Suhu 0 C 23 Kelembaban mmHg 55 Kimia PH Tanah Tumbuhan Jenis Jumlah Jenis Semut Laba laba Rametuk Ulat tritip Semut merh Semut hitam Semut merah Semut hitam Semut hitam Semut hitam rametuk Semut hitam jangkrik Cacing rametuk Semut hitam Semut merah belalang Belalang kecil Semut hitam besar Semut hitam kecil Semut hitam besar Semut hitam Laba laba Semut hitam Semut merah Semut hitam 16 84 22 58 6,8 Biologi Hewan Jumlah 4 1 ~ 1 4 3 1 3 1 7 ~ 1 1 1 ~ 9 1 2 2 1 1 20 5 1 18 4 4

6,9

2 3 4 5 6

92 78 85 60 65

26 24 26 24 26

40 44 60 50 60

7 6,9 6,8 6,8 6,7

Rumput rumput

7 8

85 65

24 24

68 70

6,8 6,6

92

22

63

6,8

10

92

23

62

6,9

11

92

24

45

6,9

12 13 14 15

65 71 92 84

24 23 22 22

38 50 69 35

6,9 6,8 6,8 6,9

Cacing

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

92 92 84 84 84 84 91 78 78 84 76

22 22 22 23 22 22 22 22 22 24,5 25

60 50 48 67 70 75 40 79 55

6,8 6,9 6,9 6,6 6,6 6,8 6,9 6,9 6,8

Semut hitam Larva Semut Semut hitam Semut hitam Semut hitam Laba laba Semut semut Laba laba Semut Jangkrik Laba laba

8 1 2 1 6 20 1 4 11 1 2 1 1

19

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

80 8o 77 77 76 92 80 69 84 64 63 69 57 77 63 67 60 70 63

23 23 22,5 22,5 23,5 24 23 23 24 23 26 26 27 25 25 25,5 26 25 24

24,5 24 25 24,5 24 25 24,5 24,5 25 24,5 25 25 25 24,5 24,5 25 25,5 24 25

Semut Laba laba Belalang semut lalat semut cacing semut cacing semut cacing semut lalat jangkrik cacing cacing cacing Semut kecil semut Kuul semut cacing lalat semut semut semut kuul kuul cacing semut Antanan/ kaki kuda semut Laba laba Capung jarum Semut hitam kuul semut kuul semut kuul Laba laba

1 1 1 1 3 2 1 2 2 2 1 4 1 1 1 4 1 3 2 1 3 1 2 3 1 5 1 1 1 1 1 2 1 2 1 3 1 16 1 1

47 48 49 50

72 65 65 78

26 25 24 28

24 24 24 26

Sumber : Hasil pengamatan GTK DARATAN TIM A2 DAN B2, tanggal 05 Juni 2012 KELOMPOK A3 & B3 Lokasi Tanggal Jam Musim Cuaca : A3 (dari arah barat ke timur), B3 (dari utara ke timur) : 5 juni 2012 : 17.00 19.18 : kemarau peralihan : cerah

20

TABEL 4.2 HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT A3 DAN B3 SORE


HEWAN JENIS Semut Drosophila Drosophila Semut Semut Jangkrik Drosophila Drosophila Semut hitam Semut merah Drosophila Semut hitam Drosophila Capung Semut hitam Jangkrik Semut bersayap Semut Laba-laba Drosophila Semut hitam Semut terbang Semut hitam Semut hitam Drosophila Kumbang Laba-laba Semut hitam Lege Semut Laba-laba Nyamuk Kumbang Semut Balalang kecil JUMLAH 1 6 5 3 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 1 1 1 1 4 1 2 2 5 5 1 1 1 4 1 1 1 1 1

SPOT 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

WAKTU 17.00 17.01 17.06 17.10 17.15 17.22 17.28 17.33 17.38 17.42 17.49 17.50 17.53 17.56 17.59 18.01 18.25 18.27 18.30 18.31

KETERANGAN Letak toples lebih tinggi dari permukaan tanah Letak toples lebih tinggi dari permukaan tanah -

21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29.

18.46 18.59 19.05 19.10 19.18 18.57 18.53 18.50 18.45

21

Belalang besar 30. 18.32 Jangkrik Semut besar Drosophila Lalat Drosophila Semut Nyamuk Semut kecil Belalang Laba-laba kecil Drosophila Drosophila Nyamuk Serangga Jangkrik Drosophila Jangkrik Semut Kumbang Drosophila Anak capung Drosophila Semut Drosophila Semut Drosophila Semut Semut hitam Semut Laba-laba Jangkrik Semut hitam

1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 -

31.

18.30

32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50.

18.29 18.27 18.25 18.23 18.21 18.17 18.16 18.15 18.12 17.45 17.42 17.38 17.34 17.28 17.22 17.15 17.10 17.05 17.00

Sumber : Hasil pengamatan GTK DARATAN TIM A3 DAN B3, tanggal 05 Juni 2012 TABEL HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARATAN (HARI KEDUA)

KELOMPOK A1 & B1 Lokasi : A1 (dari arah barat ke timur), B1 (dari arah utara ke timur)

22

Tanggal Jam Musim Cuaca

: 6 juni 2012 : 06.30 09.00 : kemarau peralihan : cerah TABEL 4.3

HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT A1 DAN B1 PAGI


Spot Waktu Hewan Jenis Jangkrik kecil kumbang Laba laba Semut merah Semut hitam Kumbang Semut hitam Kumbang Kumbang Ulat hitam Nyamuk Semut hitam Laba laba Anak jangkrik Ulat Nyamuk Rametuk Semut hitam Laba laba Semut merah Anak jangkrik Semut hitam Semut merah drosophila rametuk Jangkrik Semut hitam kararangge Belalang jangkrik .. Semut hitam Laba laba jangkrik semut Jumlah 1 1 2 17 1 5 1 1 1 1 5 1 1 1 1 ~ 2 2 1 1 1 1 7 10 2 2 2 1 1 3 Tumbuhan Jenis Jumlah Rumput teki Rumput teki Rumput teki Rumput .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. Sedikit

07.05

07.16

Sedikit Sedikit Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Banyak Banyak Banyak Sedikit Sedikit Sedikit

07.31

07.40

07.48

07.58

08.10

8 9

08.16 08.20

10

08.30

11

08.40

23

12

08.43

Semut hitam besar .. kumbang Laba laba Semut hitam drosophila jangkrik Laba laba Semut Laba laba semut rametuk cacing kumbang Semut hitam kumbang Semut hitam besar Rametuk

1 1 1 1 1 2 2 1 4 3 1 1 1 2 1 2 1 2 2 20 1 3 1 1 2 5 5 1 1 1 2 5 2

.. .. .. .. .. ..

Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak

13

08.45

14

08.46

Putri malu .. .. .. .. .. .. .. ..

Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Banyak Banyak Banyak Sedikit Sedikit

15

08.47

16

08.50

17

08.52

18 19

08.55 08.58

ulat Belalang besar belalang rametuk Anak katak kumbang jangkrik belalang Semut hitam Belalang belalang jangkrik

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. nyalingit

Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit Banayk Banyak Banyak Banyak

20

09.00

21 22

09.04 09.10

23

09.13

kumbang Laba laba jangkrik Semut hitam kararangge

.. .. .. ..

Banyak Banyak Banyak

24

09.18

..... .. .. .. .. .. ..

Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak

25

09.20

Semut hitam besar

Sumber : Hasil pengamatan GTK DARATAN TIM A1 DAN B1, tanggal 06 Juni 2012

24

Keterangan : : jenis tumbuhan atau hewan yang tidak diketahui nama spesiesnya.

KELOMPOK A2 & B2 Lokasi Tanggal Jam Musim Cuaca : A2 (dari arah barat ke timur), B2 (dari arah utara ke timur) : 6 juni 2012 : 09.00 11.00 : kemarau peralihan : cerah TABEL 4.4 HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT A2 DAN B2 PAGI
Spot 1 2 3 jenis Rametuk Rametuk Rametuk Tataman Semut kecil Semut hitam besar semut rametuk rametuk tataman Semut hitam Laba laba lalat Hewan jumlah 20 4 1 waktu 09.00 09.06 09.15 Tumbuhan jenis jumlah rumput Rumput gajah Rumput gajah Rumput jampang pait Waktu 09.01 09.05 09.14

1 1 1 1 2 18 1 1 1

09.19

Rumput gajah

09.20

5 6 7 8 9 10 11 12 13

09.33 09.39 R 09.49 09.53 09.56

Rumput areuy babadotan Rumput Bunga mamataharian Rumput gajah u s a k ilalang rumput Rumput jampang pait Rumput jampang biasa Putri malu Jampang kuda Jampang biasa Harendong antanan

09.25 09.34 09.40 09.47 09.50 09.55 09.57

14

09.58

09.59

25

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

rametuk rametuk semut Semut hitam belalang semut lalat lalat semut lalat lalat lalat lalat semut lalat lalat Semut Laba laba

banyak 10 4 3 1 2 2 5 2 1 2 1 1 2 1 6 5 2

10.04 10.05 10.07 10.09 10.21 10.30 10.20 10.17 10.14 10.11 10.09 10.08 10.06 R 10.05 10.04 10.03 10.02 10.01 10.00 09.59 09.58 09.56 09.52 09.49 09.42 09.46 09.31 09.24 0917 09.07

Lameta Jampang kuda Jampang biasa u s a k Ilalang Bunga mamataharian ilalang Kerema Padi Balakbak Lameta Ubi jalar Jampang kuda Teki Jampang kuda Jampang kuda Jampang pait Jampang kuda

10.00 10.01

10.03 10.06 10.08 10.10 10.15 10.22 10.25 10.31

Sumber : Hasil pengamatan GTK DARATAN TIM A2 DAN B2, tanggal 06 Juni 2012

KELOMPOK A3 & B3 Lokasi Tanggal : A3 (dari arah barat ke timur), B3 (dari arah utara ke timur) : 6 juni 2012

26

Jam Musim Cuaca

: 10.58 12.40 : kemarau peralihan : cerah TABEL 4.5 HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM DARAT A3 DAN B3 PAGI

Spot 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

Waktu 10.58 11.06 11.18 11.21 11.28 11.33 11.44 11.51 11.56 12.00 12.02 12.03 12.04 12.06 12.08 12.10 12.15 12.16 12.17 12.20 12.24 12.30 12.34 12.38 12.40 11.56 11.54 11.56

Hewan Jenis Semut merah Drosophila Drosophila Belalang Drosophila Drosophila Laba-laba Drosophila Jangkrik Semut merah R u s a k Semut Lalat Drosophila Lalat Semut Semut hitam Semut hitam Drosophila Semut hitam Semut kecil Semut besar Laba-laba Semut Semut hitam Drosophila Semut hitam Drosophila Kumbang Lalat Semut Drosophila Kecoa Semut Drosophila Semut terbang Drosophila Jumlah 5 Banyak (~) 4 1 4 2 1 2 1 1 1 1 Banyak (~) 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 Banyak (~) 1 4 1 Banyak (~) 1 1 2 12 2

Keterangan Letak toples lebih tinggi dari permukaan tanah Letak toples lebih tinggi dari permukaan tanah Rusak tertimbun tanah -

t e r i s i

a i r Rusak -

27

29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39.

11.47 11.46 11.45 11.44 11.43 11.42 11.41 11.39 11.38 11.37 11.36

Semut terbang Semut terbang Semut hitam Drosophila Semut terbang Drosophila Laba-laba Semut hitam Semut terbang Drosophila R Drosophila Cacing Drosophila Semut terbang Semut hitam kecil Semut terbang Semut terbang Drosophila Semut merah Semut hitam Drosophila Semut terbang Kumbang Semacam drosophila Semut hitam kecil Lalat Semut hitam Semut terbang Semut terbang Semut hitam Semut terbang Drosophila Seperti drosophila Semut hitam bersayap Seperti drosophila

40.

11.35

41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50.

11.34 11.32 11.29 11.27 11.22 11.17 11.13 11.08 11.02 10.54

1 1 3 1 1 1 1 8 9 1 u 1 1 3 4 3 8 2 1 1 8 2 3 1 2 2 1 1 4 1 1 1 3 1 1 1

s a k -

Sumber : Hasil pengamatan GTK DARATAN TIM A3 DAN B3, tanggal 06 Juni 2012 Tabel 4.6 Data hasil Kerja Penelusuran Daratan Sore Hari
FISIK SPOT WAKTU UDARA Kelembaban (mmHg) 1 2 15.30 15.49 84 92 Suhu ( C)
0

KIMIA TANAH

Serasah Daun jambu,daun

Suhu (0C) 23 26

Kelembaban (mmHg) 55 40

pH Tanah

6,9 7

28

Bambu 3 4 5 6 7 8 9 10 15.58 16.15 16.23 16.31 16.40 16.47 17.02 17.11 78 85 TIDAK 60 DIHITUNG! 65 85 65 92 92 Rumput,daun singkong Rumput Jerami, daun singkong Jerami, padi Daun pisang, daun alba Daun singkong, ubi, rumput Rumput Rumput Rumput Buah sinhgkong karet, rumput, daun singkong Daun cengkeh, d. kelapa 22 Rumput 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 17.35 17.36 17.39 17.41 17.43 17.50 17.57 18.01 18.06 17.36 17.31 17.26 17.21 17.16 82 23 23 84 84 84 91 78 78 84 76 80 80 77 23 23 23 23 22.5 Jerami Daun alang2 Rumput Jerami Jerami Jerami, rumput Jerami Rumput, d.pisang Rumput2 22 22 22 23 22 22 22 22 22 24.5 25 24.5 24 25 60 50 48 67 70 75 40 79 55 6,8 6,9 6,9 6,6 6,6 6,8 6,9 6,9 6,8 Rumput Daun bambu, daun nangka Rumput 44 60 50 60 68 70 63 62 6,9 6,8 6,8 6,7 6,8 6,6 6,8 6,9

24 26 24 26 24 24 22 23

11 12 13 14

17.15 17.19 17.24 17.27

92 65 71 82

24 24 23 22

45 38 50 69

6,9 6,9 6,8 6,8

15

17.31

84

22

35

6,9

16

17.33

84

58

6,8

29

31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

17.12 17.08 17.06 17.02 17.00 16.57 16.52 16.50 16.48 16.45 16.41 16.37 16.32 16.27 16.19 16.12 16.04 15.54 15.43 15.18 Rata-Rata

77 76 92 80 69 84 64 63 69 57

22.5 23.5 24 23 23 24 23 26 26 27 ANTANAN/KAKI KUDA

24.5 24 25 24.5 24.5 25 24.5 25 25 25 TIDAK ADA SOIL TESTER!

77 63 67 60 70 63 72 65 65 78 74.2

25 25 25.5 26 25 24 26 25 24 28 24.4

24.5 24.5 25 25.5 24 25 24 24 24 26 23.9 56.4 7

Sumber : Hasil Pengelompokan data kelompok 2C

30

Tabel 4.7 Data hasil Kerja Penelusuran Daratan Pagi Hari


FISIK UDARA Kelembaban (mmHg) 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 09.02 08.57 08.51 08.46 08.42 08.40 08.39 08.36 08.33 08.31 08.29 08.27 08.25 08.23 08.21 08.19 08.15 08.09 08.06 07.57 07.48 07.40 07.31 07.18 06.42 Rata-rata 78 77 84 77 89 84 76 77 84 77 77 77 84 77 84 71 92 92 77 77 77 77 92 84 71 80.48 Suhu (0C) 24.5 25 25 24 24.5 24 23 24.5 24.5 24 25 23.5 24 24 24 24.5 25 25 23 23 23 23 23 22 22.5 23.9 TANAH Kelembaban (mmHg) 65 52 60 60 50 60 80 50 65 80 70 75 70 45 30 40 40 55 40 55 50 35 25 40 47.5 53.58 4.7 5.4 5 5 5.7 5 4 5.7 4.8 3.9 4.5 4.8 4.6 5.8 6.3 5.8 6 5.4 5.8 5.4 5.5 6 6.2 6 5.8 5.324 KIMIA pH Tanah

SPOT

WAKTU

Suhu (0C) 25.5 26 25.5 24 25 23 23.5 25 25 24.5 24.5 24 24 24.5 24.5 25 26 26 23.5 24 24 24 24 23 23 24.44

Sumber : Hasil Pengelompokan data kelompok 2C

31

4.7 HASIL ESTIMASI HEWAN TANAH Tabel 4.3 Estimasi Populasi Hewan Tanah Nokturnal
Taksa
Nomor Semut (2) 1 Kuul (3) Laba laba (4) 2 Semut hitam (5) 1 17 5 1 5 20 2 1 11 2 2 8 5 1 1 3 2 1 2 3 2 3 4 4 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 11 3 1 1 2 1 19 1 32 2 1 1 25 1 1 1 5 20 Capung (6) Cacing (7) Jangkrik (8) 1 Belalang (9) Ulat (10) Semut merah (11) 31 4 Rawon (12) Siraru (13) Semut Terbang (14) kumbang (15) 1 2 Nyamuk (16) Lalat buah (17) 26 1 Lalat (18) Katak (19)

(1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

(20) 36 21 5 10 22 32 39 2 20 8 8 3 6 7 12 1

32

(1) 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

(2)

(3)

(4)

(5) 4 2 2

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12) 18

(13)

(14)

(15) 1

(16)

(17)

(18)

(19)

(20) 22

1 1 1 1 1 1 5 6 2

19 30 8 1

22 33 1 7 8 11

1 3 1

5 3 5

1 2

12 2

1 2 3 1 1 2 6 1 1

5 3 12 5 1 1 1 1 2 2 1 1 3 1 3 9 7 0 18 2 3 1 4 8 7 3 4 8 2 1 3 2 1 8 14 4 4 12

11 2 2 4 5 1 3 2 4 3 1 10 1 1 1 3 1

2 9

33

(1) 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 individu K total F KR FR NP pi log pi H`

(2)

(3)

(4)

(5) 5

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14) 2

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20) 5

6 1 1 1 1 7 1 1 16 39.00 3.30 0.24 0.01 0.06 0.07 0.034 -1.466 0.05 1 8.00 16.08 0.14 0.05 0.03 0.08 0.041 -1.39 0.056 1 34.00 3.30 0.34 0.01 0.08 0.09 0.046 -1.33 0.062 4 12 186.00 0.69 0.76 0.00 0.19 0.19 0.094 -1.0262 0.0966 2.00 64.31 0.04 0.19 0.01 0.20 0.098 -1.007 0.0991 17.00 7.57 0.18 0.02 0.04 0.07 0.03 -1.5 0.05 24.00 5.36 0.34 0.02 0.08 0.10 0.049 -1.3058 0.0646 15.00 8.57 0.10 0.02 0.02 0.05 0.025 -1.607 0.03972 4.00 32.2 0.34 0.09 0.08 0.18 0.09 -1.05 0.09 71.00 1.81 0.18 0.01 0.04 0.05 0.025 -1.607 0.0397 3 139.00 0.93 0.26 0.00 0.06 0.07 0.033 -1.4787 0.0491 2.00 64.31 0.02 0.19 0.00 0.19 0.096 -1.02 0.098 1 53.00 2.43 0.32 0.01 0.08 0.09 0.0427 -1.3691 0.0585 20.00 6.43 0.20 0.02 0.05 0.07 0.034 -1.4703 0.04978 3.00 42.87 0.06 0.12 0.01 0.14 0.070 -1.1569 0.0806 107.00 1.20 0.44 0.00 0.11 0.11 0.056 -1.25 0.07 2 2 2 2 1 8 1 1 1 1 2 1 1 3 2 2 4 1

2 1 1

6 2

13 5 13 2 5 33 7.00 18.3 0.08 0.05 0.02 0.07 0.04 -1.4 0.05 2.00 64.3 0.04 0.19 0.01 0.20 0.1 -1 0.1 733 344 4.08 1.00 1.00 2.00 1.00 -23.5 1.21

Sumber : hasil penghitungan kelompok C2 pada praktek EKWAN 2012

34

B. HASIL PENGUKURAN FAKTOR ABIOTIK DAN BIOTIK EKOSISTEM PERAIRAN Tabel 4.4 Hasil Kerja Perairan Pada Pagi hari
Waktu (WIB) Atas Suhu oC Tengah Dasar Kecerahan Air (cm) Atas PH Tengah Timur Pinggir Spot 1 Dekat Nusa Pinggir Spot 2 Tengah 07.10 24,5 25 24 24,5 25 24 24 24,5 24,5 60 60 65 63 6 6 6 6 6 6 6 20 11,6 14,2 1.59 3.26 0.92 P=0 P=0 P=0 P=0 1.5 1.75 1.5 77 67 84 Dasar Kedalaman (m)

Lokasi

DO

alkalinitas

CO2terlarut

kelembaban

24

24

24,5

15

1.68

1.5

84

Tengah Dekat Nusa Pinggir

08.10

24 24,5

25 24,5

25 25

67

6 6

6 6

6 6

15

P=0

84

63

10

O.79

P=0

84

25

25

25

65

15

2.88

P=0

1.5

84

Spot 3

Tengah Dekat Nusa Rata-rata

24 24,5

24 24

24 24

67,5

15

2.76

P=0

1.5

81

65

10

2.69

P=0

77

24,4

24,4

24,5

63,94

13.98

2.35

1.47

80

35

Barat P=0

Pinggir

26

25

25

70

0.9

1.5

74

Spot 1 Tengah

06.30 26 25 26

70

1.47

P=0

1.5

92

Dekat Nusa

Pinggir Spot 2 Tengah Dekat Nusa Pinggir Spot 3

26 08.30

25

26

65

1.45

P=0

80

25

25

25

75

2.10

P=0

1.5

77

25

25

25

65

1.40

P=0 P=0

84

25

25

25

70

1.1

84

Tengah Dekat Nusa Rata-rata

25

26

25

70

1.95

P=0

1.5

77

26 25,5

25 25,1

25 25,3

70 69,4

6 6

6 5,75

5 5,4

1.6 1.50

P=0

1.5 1.44

84 81.5

Sumber : hasil pengamatan GTK PERAIRAN pada tanggal 06 Juni 2012

36

Tabel 4.5 Tabel Hasil Kerja Perairan Pada Sore hari


Suhu oC Atas 26 25 26,5 26 Tengah 26 25 26 26 Dasar 25 25 25 25 PH Atas 6 6 6 5 Tengah Timur Pinggir Spot 1 Tengah Dekat Nusa Pinggir Spot 2 15.05 13.55 65 cm 65 cm 75 cm 65 cm 6 6 6 6 6 6 6 6 7 5 4 3 1,45 3,19 1,48 P=0 P=0 P=0 P=0 1,5 1,5 1 1 59 64 70 74 Dasar DO

Lokasi

Waktu (WIB)

Kecerahan Air

Kedalaman (m)

alkalinitas

CO2terlarut

kelembaban

1,52

Tengah Dekat Nusa Pinggir

26 26

25,5 25

25 25

60 cm 65 cm

6 6 6

6 6 6

6 6 6

3 3 5

3,9 0,91 2,74

P=0 P=0 P=0

1 1 1,5

70 77 70

26 16.30

25

24

60 cm

Spot 3

Tengah Dekat Nusa Rata-rata

25 25 25,7

25 25 25,4

24 25 24,7

55 cm 55 cm 59,4 cm

6 6

6 6

6 6

4 3 4,1 mg/L

2,97 3,15 2.37

P=0 P=0

1,5 1 1.22

77 70 70

5,9 Barat

Spot 1

Pinggir

13.30 WIB

26

26

60 cm

2m

64

37

Tengah Dekat Nusa

25 25

26 26

60 cm 60 cm

5 6

5 5

1,90 m 1,30 m

4,5 2,5

70 77

Sumber : hasil pengamatan GTK PERAIRAN pada tanggal 05 Juni 2012

38

C. HASIL ESTIMASI POPULASI KALONG Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Populasi Kalong Keluar Mencari Makan Di Sekitar Situ Lengkong No 1 2 3 4 5 6 7 Waktu/ 5 menit Lokasi Timur 0 1 0 0 0 0 0 1 Barat 3 15 9 1 0 0 0 28 Selatan 0 0 2 1 0 0 0 3 Utara 0 4 5 0 0 1 0 10

17.55 18.00 18.05 18.10 18.15 18.20 18.25 Jumlah Total 42 Sumber : hasil pengamatan GTK KALONG pada tanggal 05 Juni 2012

1. Populasi kalong terbang mencari makan: a. Populasi kalong terbang mencari makan dimulai pada pukul 17.55 WIB b. Puncak tertinggi jumlah populasi kalong terbang mencari makan pukul 18.00WIB c. Saat terakhir populasi kalong terbang keluar mencari makan pukul 18.25 WIB d. Jumlah total populasi kalong yang terbang untuk mencari makan 42 ekor e. Gambaran grafiknya

39

Grafik Estimasi Populasi Kalong (sore)


25 20 Jumlah kalong 15 10 5 3 0 17.55 18.00 18.05 18.10 2 0 18.15 1 18.20 0 18.25 20 16

Jumlah Kalong

Interval waku

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Populasi Kalong Yang datang Untuk Istirahat Di Sekitar Situ Lengkong No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Waktu/5 Menit 04.35 04.40 04.45 04.50 04.55 05.00 05.05 05.10 05.15 05.20 05.25 05.30 05.35 05.40 05.45 05.50 05.55 06.00 06.05 Timur 0 0 0 0 6 12 11 16 19 17 18 26 32 45 4 23 54 313 10 Lokasi Barat Selatan 7 0 3 0 5 0 5 0 9 1 5 0 10 0 0 0 11 0 19 0 8 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Utara 0 0 0 0 0 0 5 8 10 3 9 39 33 23 0 0 0 0 0

40

20 21 22

06.10 0 0 0 0 06.15 0 0 0 0 06.20 1 0 0 0 Jumlah 607 82 3 130 Total 822 Sumber : hasil pengamatan GTK KALONG pada tanggal 06 Juni 2012

2. Populasi kalong datang untuk istirahat: a. Populasi kalong datang untuk istirahat dimulai pada pukul 04.35 WIB b. Puncak tertinggi jumlah populasi kalong yang datang untuk istirahat pada pukul 06.00WIB c. Saat terakhir populasi kalong yang datang untuk istirahat pada pukul 06.20 WIB d. Jumlah total populasi kalong yang datang untuk istirahat sebanyak 822 ekor e. Gambaran grafiknya

Grafik Estimasi Populasi Kalong (Pagi)


350 300 Jumlah Kalong 250 200 150 100 50 0 Jumlah Kalong

Interval Waktu

41

D. HASIL PEMETAAN Tabel 4.8 Titik Sudut Situ Lengkong Titik ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Suduto Titik ke101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Suduto Titik ke 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 Suduto Titik ke 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 Suduto

144 155 153 145 139 135 135 135 50 340 8 21 84 90 34 85 75

205 70 70 65 85 80 95 85 80 55 55 60 45 70 90 120 110

240 250 270 290 270 270 260 280 280 300 300 260 260 270 260 280 290

220 230 230 210 200 180 180 180 160 140 130 130 130 120 120 130 120

42

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

75 85 73 67 63 64 39 50 68 122 131 142 138 112 80 46 15 9 352 342 272

118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138

100 80 75 50 55 70 65 85 125 126 125 144 172 205 130 220 207 112 40 45 56

218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238

280 230 250 270 260 240 250 260 270 270 310 320 340 330 310 290 290 300 320 320 300

318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338

160 170 165 165 160 150 140 160 140 130 120 100 95 105 140

43

39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59

21 275 353 2 25 42 30 19 19 25 170 8 0 15 22 54 75 100 125 150 182

139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159

80 55 50 98 108 100 135 127 125 125 142 195 143 146 147 145 142 150 160 175 140

239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259

300 300 300 230 140 130 150 160 160 180 210 190 280 280 300 300 290 290 300 300 300

339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359

44

60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80

185 170 100 86 80 65 56 62 67 82 82 88 67 29 12 12 53 65 74 62 35

160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180

58 55 43 330 350 305 340 20 0 15 15 20 346 355 350 0 0 20 40 350 300

260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280

300 260 240 230 220 210 220 230 220 230 260 270 260 270 280 280 280 260 240 210 200

400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420

45

81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100

290 252 265 265 265 260 255 270 265 272 295 320 33 340 345 2 355 2 15 30

181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200

300 300 290 310 320 320 320 300 300 270 170 170 170 180 230 250 260 260 200 240

281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300

190 190 220 260 270 260 270 270 260 250 270 270 270 240 230 220 220 220 220 220

421 422 423 424 425 426 427 428 439 430 431 432 433 434 435 436 437 438 449 440

Sumber : hasil pengamatan GTK PEMETAAN pada tanggal 05 dan 06 Juni 2012

46

PETA SITU LENGKONG

Gb. 1 Peta Situ Lengkong

47

4.2 PEMBAHASAN 4.2.1 PENELUSURAN DARATAN Pada siang-sore hari rata-rata temperatur di sekitar situ Lengkong 24,4oC, begitu pula pada pagi hari rata-rata suhunya sama yaitu 24,4oC. Perubahan suhu yang tetap tidak terlalu berpengaruh terhadap produktivitas organisme yang ada di sekitar daratan Situ Lengkong. Suhu tersebut merupakan suhu yang ideal bagi Hewan-hewan yang ada disekitar Situ Lengkong untuk hidup dan berkembang biak, dikatakan ideal karena hewan atau tumbuhan dapat dengan mudah menyesuaikan diri karena pagi sampai sore suhunya sama. Kelembaban udara di sekitar Situ lengkong pada sore hari rata-rata sebesar 74,22mmHg dan rata-rata kelembaban dara pada pengukuran pagi hari nilainya 80,48mmHg. Artinya pada pagi hari kelembaban lebih tinggi dikarenakan belum banyak cahaya matahari yang menyinari, sehingga udara lebih sejuk dibandingkan ketika sore hari. Pengukuran Kelembaban Tanah dan pH tanah menggunakan Soil Tester pada pagi hari Kelembaban tanah rata-rata adalah 53,58mmHg sementara pH tanah rata-rata 5,32. Pengukuran pada sore hari menunjukkan kelembaban tanah rata-rata tanah rata-rata adalah 7 (netral). 4.2.2 HASIL ESTIMASI HEWAN TANAH Semut hitam merupakan spesies yang paling dominan ditemukan terbukt di daratatan dari data pada tabel Hasil Estimasi Hewan Tanah di dapat frekuensi senilai 0.76 Pengaruh faktor abiotik terhadap komunitas hewan tanah sangat besar pengaruhnya, misalnya pengaruh suhu dan PH tanah, juga faktor biotik lainnya seperti pohon dan rumput juga mempengaruhi komunitas hewan tanah. 56,44mmHg sementara pH

48

Berdasarkan hasil pengamatan suhu mempengaruhi komunitas hewan di suatu area, hewan akan mampu bertahan hidup pada suhu yang normal, seperti halnya di Situ Lengkong suhu berkisar antara 21 OC-27 OC, suhu yang ideal dan perubahannya tidak terlalu extrem sehingga hewan mampu menyesuaikan diri dengan mudah terhadap perubahan suhu tersebut. pH (derajat keasaman), berpengaruh pada kerja enzim suatu makhluk hidup, enzim dapat bekerja dengan optimum jika berada pada pH yang cenderung Normal (5,6). Dengan Instingnya Mahluk hidup akan menyesuaikan diri dengan kondisi pH kearah normal agar mendukung terhadap kerja enzim. Pohon dan Rumput merupakan habitat hewan dan tempat berlindung dari kelebihan cahaya matahari yang dapat menyebabkan pengupan cairan yang berlebihan. 4.2.3 PENGUKURAN FAKTOR ABIOTIK DAN BIOTIK EKOSISTEM PERAIRAN Suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya, terbukti dari data yang didapat bahwa suhu pada pagi dan siang hari cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan suhu pada sore hari, dan suhu permukaan perairan yang mendapat intensitas cahaya lebih banyak (permukaan) lebih tinggi dari pada suhu dibawah permukaan peraiaran (tengah dan dasar) yang intensitas cahayanya kurang atau bahkan tidak ada. Kecerahan perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Intensitas Cahaya, semakin banyak intensitas cahaya maka tingkat kecerahan dalam perairan semakin baik. Sedimentasi biru, (tingkat kekeruhan) akan menghalangi cahaya akan intensitas cahaya, biasanya dipicu oleh Produksi ganggang semakin banyaknya intensitas berbanding lurus dengan produksi ganggang biru.

49

Dari hasil pengamatan didapat bahwa kecerahan rata-rata pada sore hari yaitu 59.4 cm dan pagi dan siang hari rata-rata 66,70 cm, membuktikan bahwa kecerahan air situ Lengkong masih tergolong baik. Kecerahan penting untuk diketahui, apabila kecerahan baik maka akan banyak keanekaragaman mahluk hidup yang ada di situ Panjalu. pH (Kadar keasaman) pada perairan situ lengkong rata-rata pada pagi hari 5.7 sedagkan pada sore hari 5.97 sehingga rata-rata pH nya adalah 5,84. pH dapat dipengaruhi oleh hujan asam kiriman dari daerah lain yang jatuh tepat di wilayah Situ Lengkong, kemudian dapat dipengaruhi juga oleh buangan sawah yang menggunakan pupuk kimia. Biota/hewan yang hidup diperairan dipengaruhi oleh faktor-faktor abiotik yang telah dijelaskan di atas seprti intensitas cahaya, semakin banyaknya intensitas cahaya maka banyak biota yang senang hidup ditempat tersebut karena, ditempat tersebut bisa didapatkan berbagai macam makanan misalnya, ganggang biru yang pertumbuhannya dipicu oleh intensitas cahaya matahari. pH mempengaruhi terhadap kerja enzim makhluk hidup sehingga dengan instingnya makhluk hidup akan mendekati perairan yang pH nya cenderung normal, karena pada pH normal kerja enzim akan optimum. 4.2.4 ESTIMASI POPULASI KALONG Kalong (Pteropus vampyrus) adalah anggota bangsa kelelawar dari marga Pteropus keluarga Pteropodidae. Anonymous (2012). Kalong adalah spesies nocturnal yang secara evolusioner bertahan dengan cara hidupnya. Pada siang hari spesies ini beristirahat menggantung pada cabang atau ranting pepohonan menggunakan jarinya dan mulai sore hari lebih aktif dengan tujuan mencari makan, sebelum pergi kalong akan mengitari tempat singgahnya untuk menentukan titik kordinat agar pada waktu kembali tidak tersesat, kalong akan pergi ketempat yang sudah diketahui terdapat banyak makanan, cara kalong mengetahui adanya makanan yaitu dengan cara mengeluarkan gelombang ultra sonik.

50

Populasi kalong terbang mencari makan dimulai pada pukul 17.55WIB. Puncak tertinggi jumlah populasi kalong terbang mencari makan pukul 18.00WIB. Saat terakhir populasi kalong terbang mencari makan pukul 18.25 WIB. Jumlah total populasi kalong yang terbang untuk mencari makan 42 ekor Berdasarkan hasil pengamatan jumlah antara kalong yang pergi dan kalong yang datang ternyata lebih banyak kalong yang datang, dikarenakan ada faktor kekeliruan dalam menghitung dan pada waktu penghitungan kalong berbeda tempat pengamatan antara spot pergi kalong dan datangnya kalong ini semua dapat terlihat dalam hasil pengamatan. Diantaranya kalong pergi berjumlah 42 ekor dan kalong pada waktu datang berjumlah 822 ekor, dengan selisih 780 ekor. Tapi kami yakin jumlah kalong yang pergi akan sama dengan jumlah kalong yang datang. Perbedaan tersebut dapat disebkan juga karena ada kalong yang keluar pada malam hari yang diluar pengamatan. Pada tahun sebelumya populasi kalong yang diamati di situ lengkong,Panjalu. Mencapai jumlah ribuan akan tetapi dari tahun ketahun populasi kalong yang teramati berkurang sangat drastis terbukti dari pengamatan yang kami lakukan pada tahun ini, hal ini dapat disebabkan oleh keadaan habitat asli kalong yang sudah mulai terganggu oleh aktifitas manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, selain habitat asli kalong, lingkungan sekitar wilayah situ lengkong pun yang menjadi tujuan mencari makan sudah berkurang akibat pembangunan yang dilakukan masyarakat sekitar yang terus menerus tanpa mempedulikan tata ruang wilayah situ lengkong. Tata ruang sangat penting dalam upaya pelestarian kalong di situ lengkong, dengan melakukan tata ruang yang tepat dapat membantu menanggulangi pengurangan populasi kalong. Dari segi kesadaran masyarakat pun harus tetap diperhatikan dari mulai penggunaan mesin perahu yang bising, penangkapan liar kalong untuk kepentingan

51

pribadi,banyaknya peziarah yang datang pun dapat menjadi salah satu faktor penyebap berkurangnya populasi kalong.

52

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong sangat berhubungan erat, apabila faktor Abiotik tersebut mendukung habitat hidup faktor biotik maka akan berpengaruh terhadap penyebaran populasi baik itu di daratan maupun perairan. Pada Estimasi populasi kalong hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh tingkat ketelitian menghitung, sudut pandang penghitungan. Hasil perhitungan kalong pada waktu sore (kalong Keluar Situ lengkong) hari lebih sedikit dibandingkan hasil perhitungan pada pagi hari (kalong yang datang) hal ini dimungkinkan karena adanya kalong yang keluar pada malam hari yang tidak teramati oleh pengamat. Penurunan jumlah populasi kalong di Situ Lengkong dari tahun ke tahun semakin menurun, disebabkan karena banyak faktor antara lain tata ruang di wilayah Situ Lengkong yang buruk dan kurangnya kesadaran masyarakat sekitar terhadap lingkungan, serta banyaknya penziarah yang datang dapat menjadi salah satu faktor penurunan jumlah poulasi kalong. B. Saran 1. Alat dan bahan yang diperlukan tidak semua tersedia, jadi untuk ke depan harus dipersiapkan sebaik-baiknya. 2. Untuk mempergunakan peralatan harus dikalibrasikan lebih dahulu agar data yang dihasilkan lebih valid. 3. Pendamping lapangan diutamakan yang lebih menguasai keilmuan tentang teknis lapangan praktikum. 4. Alokasi waktu praktikum ditambah.

53

5. Panitia di anjurkan tidak merangkap menjadi peserta akan tetapi dari tingkat lainnya sehingga tidak mengganggu kegiatan praktikum. 6. Pada saat penentuan spot estimasi populasi kalong panitia sebaiknya melakukan survei tempat (spot) yang strategis terlebih dahulu.

54

DAFTAR PUSTAKA Ahmad (2009). Observasi. From http://damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab4.pdf, 27 Juni 2012 Anonym (2012). Populasi. From http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi_%28biologi%29, 27 Juni 2012 Anonym (2012). Salinitas. From http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas, 27 Juni 2012 Anonym (2010). Juni 2012 Dadi, & Sudiana, Eming. 2010. Penuntun Praktikum Ekologi. modul tidak diterbitkan. Dony (2010). Komponen Biotik dan Abiotik Lingkungan Mangrove. From http://dony.blog.uns.ac.id/2010/05/31/komponen-biotik-dan-abiotiklingkungan-mangrove/, 27 Juni 2012 Krisanisus (2011). Ciamis :

Ekologi. From http://id.wikipedia.org/wiki/ekologi, 27

Keasaman

dan

Kebasaan

Tanah.

From

http://krisanisus.blogspot.com/2011/11/vbehaviorurldefaultvmlo_6102.html, 27 Juni 2012 Rizqi, Muhammad (2010). Derajat Keasaman pH. From http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/11/02/derajatkeasaman-ph/, 27 Juni 2012 Vicky, Widuri (2010).

Ekosistem.

From

http://authorscream.com/presentation/VICKYwiduri-390803ekosistem-biologi-vicky-chintia-widuri-0901145120-education-pptpowerpoint/, 27 Juni 2012 Yoyos 2012 (2010).

Kondisi

Tanah.
27

From Juni

http://yoyos1.wordpress.com/2010/02/24/kondisi-tanah/,

55

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur tercurah ke hadirat Allah SWT., karena atas berkat, rahmat, dan ridho-Nya penyusun dapat menuliskan sebuah goresan kecil yang akan selalu menjadi pengalaman berharga di kehidupan mendatang. Sholawat dan salam terlimpah kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW. Penyusunan laporan ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi Hewan FKIP Biologi Universitas Galuh. Penyusun telah berusaha secara optimal dan mempersembahkan yang terbaik namun bukan sesuatu yang sempurna. Itu semua karena kedangkalan dan keterbatasan ilmu pengetahuan yang penyusun miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca, penyusun harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Dalam penyusunan laporan ini terdapat banyak halangan dan rintangan yang penyusun hadapi. Tetapi berkat kerja keras, keuletan, motivasi, dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya penyusun dapat menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penyusun ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada : 1. Dr. Eming Sudiana, M.Si selaku dosen mata kuliah Ekologi Hewan yang telah memberikan tugas laporan ini. 2. Dr. Dadi, M.Si selaku dosen pembimbing Kuliah Kerja Laapangan Ekologi Hewan . 3. Ayahanda dan Ibunda sebagai orang tua yang pertama kali mendidik penulis sejak kecil, dengan kasih sayang dan kesabaran untuk mendoakan serta memberikan motivasi dan bantuan moril maupun materil yang dirasakan sangat besar artinya. 4. Teman-teman terbaikku yang telah memberikan dorongan dan doannya.

i 56

5. Rekan-rekan FKIP Universitas Galuh Ciamis Program Studi Pendidikan Biologi, yang telah membantu memberi saran dalam penyusunan laporan ini. 6. Semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu yang telah membantu penyusun baik berupa moril maupun materil dalam

penyusunan laporan ini. Semoga dorongan, bimbingan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan mendapat imbalan yang sesuai dari Allah SWT. Terselip kata dan sedikit harapan semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk penyusun khususnya, pembaca pada umumnya, dan apa yang telah kita lakukan mendapat balasan dan ridho serta berkah dari Allah SWT. Amin.

Ciamis,30 Juni 2012

Penyusun

ii 57

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................. i DAFTAR ISI .......................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN .................................................................... A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2 C. Tujuan Penulisan ......................................................................... 2 BAB II LANDASAN TEORITIS .......................................................3 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 8 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................18 A. Faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong dan Estimasi Populasi Hewan Darat......................................................... 18 B. Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong ........ 33 C. Estimasi Populasi Kalong ............................................................ 39 D. Pemetaan Situ Lengkong ........................................................... 40 BAB V PENUTUP .........................................................................53 A. Kesimpulan ............................................................................... 53 B. Saran ....................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 55

58 iii