Anda di halaman 1dari 2

Insektisida organofosfat dan karbamat Insektisida organofosfat meliputi malation, parathion, diklorvos, dan diazinon.

Insektisida karbamat meliputi carbaryl, aldicarb, baygon, ficam, dan propoxur. Ambenonium, neostigmin, figostigmin, dan piridostigmin merupakan agen yang berkaitan. Insektisida organofosforus secara irreversible menghambat asetilkolinesterase dan menyebabkan akumulasi asetilkolin di sinaps muskarinik dan nikotinik. Karbamat secara reversible menghambat enzim ini. Mekanisme insektisida ini terhadap system saraf pusat masih belum jelas. Organofosfat diabsorbsi melalui kulit, paru, dan saluran makanan, didistribusikan secara luas ke dalam jaringan, dan dieliminasi secara lambat melalui metabolism hepatic. Metabolit oksidatif (paroxon, maloxon) bersifat aktif. Hidrolisis selanjutnya menghasilkan metabolit intaktif. Kabamat dieliminasi dengan cepat oleh kolinesterase serum dan melalui metabolic hepatic. Toksisitas klinis. Senyawa organofosfat dan karbamat menghasilkan efek muskarinik, nikotinik, dan system saraf pusat. Manifestasi terjadi 30 menit sampai 2 jam setelah pajanan. Efek muskarinik meliputi mual, muntah, kram abdmen, inkontinensia urin dan fekal, peningkatan sekresi bronchial, batuk, dyspnea, berkeringat, salvias, lakrimasi, dan frekuensi dan inkontinensia urin. Miosis biasa terjadi, dan penglihatan yang kabur dapat terjadi. Pada keracunan berat dapat terjadi bradikardia, blok konduksi, hipotensi, dan edema paru. Tanda nikotinik meliputi kedutan, fasikulasi, lemah, hipertensi, takikardia, dan pada kasus yang berat dapat terjadi hipoventilasi disertai dengan gagal napas. Efek system saraf pusat meiputi ansietas, gelisah, gemetar, konvulsi, konfusi, lemah, dan koma. Toksisitas akibat karbamat waktunya lebih singkat dan biasanya lebih ringat daripada organofosfat. Sebagian besar pasien mengalami penyembuhan dalam 24 sampai 48 jam, tetapi efek yang ditimbulkan oleh organofosfat masa kerja panhang dapat berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Kematian paling sering disebabkan oleh meningkatnya sekresi pulmonal dan ventilasi yang tidak adekuat. Pada keracunan akut, aktifitas kolinesterase di dalam plasma dan sel darah merah berkurang sebanyak 50 persen dari normal. Berkurangnya aktifitas kolinesterase di dalam sel darah merah lebih spesifik tetapi tidak dapat diketahui dengan cepat, dan beberapa organofosfat mungkin menghambat hanya salah satu kolinesterasi. Tanpa terapi, aktifitas kolinesterase darah akan kembali normal dalam waktu 4 sampai 5 minggu. Pada insektisida karbamat, depresi kadar kolinesterasi dalam plasma atau sel darah merah adalah jarang terjadi karena reversibilitas penghambatan berlangsung cepat. Karena uji kolinesterase tidak dilakukan secara rutin atau tidak dapat diperoleh dengan cepat, diagnosis

awal dilakukan secara klinis. Insektisida dapat diidentifikasi di dalam urin melalui pemeriksaan urin. Terapi. Pakaian yang terkontaminasi harus dilepas, dan kulit harus dicuci dengan sabun dan air. Pasien harus dipindahkan dari tempat kejadian, dan pada kasus terminum, dekontaminasi saluran makanan harus mencakup pemberian charcoal teraktifasi. Atropine, suatu antagonis reseptor muskarinik, dapat diberikan untuk mengatasi efek muskarinik. Dosis 0,5 sampai 2 mg atropine diberikan melalui intravena setiap 15 sampai 20 menit sampai timbul atropinisasi ( pengeringan bronchial dan sekresi membrane mukosa). Ukuran pupil dan kecepatan denyut jantung tidak digunakan sebagai pedoman. Dosis ulangan atau drip atropine yang terus-menerus mungkin diperlukan untuk beberapa hari. atropine kurang efektif untuk toksisitas system saraf pusat dan tidak efektif untuk mengatasi efek nikotinik. Pralidoksim (2-PAM), suatu oksim yang mengaktifkan kembali kolinesterasi, diindikasikan untuk gejala nikotinik pada keracunan organofosfat. Dosis 1 sampai 2 g melalui intravena diberikan lebih dari 5 sampai 20 menit. Dosis dapat diulang setiap 4 sampai 6 ham sampai tanda nikotinik berkurang. Seperti atropine, kemampuannya untuk mengurangi efek system saraf pusat kurang berhasil. Pada kercunan karbamat, terdapat kontroversi terhadap penggunaan pralidoksim. Obat ini mungkin tidak digunakan pada keracunan karbaril, dan untuk karbamat lainnya obat ini hanya diberikan bersama-sama dengan atropine.