Anda di halaman 1dari 28

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Inventori 2.1.1 Pengertian Inventori Manajemen inventori menurut Emmet dan Granville (2007) merupakan sebuah pendekatan yang digunakan untuk mengatur aliran barang pada rantai pasok; untuk mencapai target tingkat pelayanan terhadap ketersediaan produk dengan minimasi ongkos yang optimal. Aliran dan pergerakan barang merupakan kunci utama manajemen inventori dan manajemen rantai pasok. Saat aliran barang terhenti, ongkos akan tetap timbul. Adanya aliran barang sangat penting, namun keberadaan persediaan juga harus tetap ada. Berikut merupakan beberapa alas an yang mendukung keberadaan inventori: 1. Penyeimbang supply dan demand: Posisi gudang pada umumnya berada diantara supply dan demand dimana beberapa jenis persediaan dalam contoh berikut dapat ditemukan: a. Supply bahan mentah (raw material) untuk kebutuhan produksi. b. Barang setengah jadi (work in progress) yang siap untuk di assembly. c. Persediaan barang jadi (finished goods) yang menunggu order dari konsumen. 2. Sebagai cadangan/pengaman: a. Sebagai persiapan untuk menghadapi ketidakpastian barang yang dating dari supplier. b. Untuk mengcover kesalahan peramalan permintaan. 3. Sebagai antisipasi atas permintaan: a. Barang promosi atau yang bersifat musiman (promotional or seasonal build up). b. Diskon atas supply barang curah. 4. Pendukung pelayanan terhadap konsumen (baik secara eksternal maupun internal): a. Peredaran/rotasi persediaan barang jadi. b. Menunjang ketersediaan safety stock.

II - 1

Menurut Bahagia (2006 : 7) : Inventory adalah suatu sumber daya menganggur (idle resources) yang keberadaannya menunggu proses lebih lanjut. Yang dumaksud proses lebih lanjut disini dapat berupa kegiatan produksi seperti dijumpai pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran seperti yang dijumpai pada sistem distribusi, ataupun kegiatan konsumsi seperti dijumpai pada sistem rumah tangga, perkantoran, dan sebagainya. Setiap perusahaan, apalagi perusahaan industri, memerlukan berbagai jenis barang barang untuk keperluan industrinya. Barang-barang ini dapat berbentuk bahan baku, bahan penolong, atau barang-barang lain yang digunakan untuk memelihara peralatan dan fasilitas, mupun yang digunakan untuk pelaksanaan operasinya. Dalam banyak hal, barang ini diperoleh dari tempat yang jauh, bahkan diimpor dari negara lain. Di samping itu penggunanya sering kali tidak teratur, baik frekuensi maupun jumlah dan jenisnya, sehingga sebelum digunakan perlu disimpan terlebih dahulu dalam gudang penyimpanan barang. Barang persediaan tau disebut inventory adalah barang-barang yang biasanya dapat dijumpai digudang tertutup, lapangan, gudang terbuka, atau tempat-tempat penyimpanan lain, baik berupa bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi, barang-barang untuk keperluan operasi, atau barang-barang untuk keperluan suatu proyek. Tidak peduli apakah perusahaan besar atau kecil, untuk pengadaan dan penyimpanan barang ini diperlukan biaya besar. Persediaan (inventory) adalah stock bahan yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan pelanggan yang meliputi bahan baku (raw material), barang dalam proses (in-process goods), dan barang jadi (finished goods). Inventory merupakan salah satu keputusan yang paling riskan dalam manajemen logistik. Tanpa penanganan yang tepat dalam inventory maka akan menimbulkan permasalahan pemasaran yang serius dalam meningkatkan penghasilan dan memelihara hubungan dengan pelanggan. Perencanaan persediaan juga sangat menentukan bagi operasi manufaktur. Kekurangan bahan mentah dapat menghentikan produksi atau merubah jadwal produksi, yang pada gilirannya kan meningkatkan ongkos dan kemungkinan akan menyebabkan kekurangan produk jadi. Kelebihan persediaan pun akan menimbulkan masalah seperti akan meningkatkan biaya dan menurunkan laba (profitability) karena meningkatnya biaya pergudangan, keterkaitan modal, II - 2

kerusakan (deterioration), premi asuransi yang berlebihan, meningkatnya pajak, dan bahkan kekunoan (obsolescence). Persediaan (inventory) merupakan investasi terbesar di dalam asset bagi kebanyakan perusahaan manufaktur, wholesalers dan retailer. Investasi terhadap inventory mengkonsumsi lebih dari 20% dari total asset pada perusahaan manufaktur, dan lebih dari 50% untuk wholesalers dan retailers. Menajemen harus memahami tentang biaya pengadaan/penyimpanan

(inventory carrying cost/holding cost)

untuk membuat keputusan tentang

rancangan sistem logistik, customer service lavels, jumlah dan lokasi pusat distribusi, tingkat persediaan, tempat penyimpanan inventory, moda

transportasi, jadwal produksi dan produksi yang optimum. Sebagai contoh, pemesanan dalam jumlah yang kecil akan mengurangi investasi terhadap persediaan, tetapi menyebabkan frekuensi pemesanan menjadi tinggi sehingga meningkatkan ordering cost (biaya pemesanan) dan meningkatkan biaya transportasi. Dengan demikian sangat penting untuk membandingkan manfaat dalam inventory carrying cost terhadap peningkatan biaya pemesanan dan transportasi, sehingga biasanya ditentukan jumlah pesanan yang optimum yang akan meningkatkan profitabilitas. Inventori merupakan investasi yang mahal, sehingga perusahaan yang mampu mengatur inventori dengan lebih baik akan bisa memperbaiki return on investment (ROI) dan cash flow. Biasanya biaya paling besar adalah nilai inventory dan biaya penyimpanan. Biaya penyimpanan ini setiap tahun umumnya mencapai sekitar 20%-40% dari harga barang. Oleh karena itu, perlu ditempuh strategi atau manajemen tertentu yang bertujuan menjaga sedemikian rupa sehingga tingkat persediaan barang bisa ditekan semaksimal mungkin, namun di lain pihak harus diusahakan agar penjualan dan operasi perusahaan tidak terganggu. Oleh karena itu pula, sejak beberapa waktu lamanya dikembangkan strategi semacam persediaan tepat waktu atau JIT (just in time) inventory, meskipun strategi ini tidak selalu diterapkan, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, dimana sistem komunikasi dan transportasi belum menunjang dan kebanyakan keperluan barangmasih harus diimpor dari luar negeri. Istilah barang sering kali diganti dengan istilah material yang pada hakikatnya sama. Istilah

II - 3

material diambil dari bahasa inggris materials management. Terminologi inventory digunakan dalam arti yang berbeda, seperti : 1. Persediaan barang yang ada di tangan (the stock on-hand of material) dalam jangka waktu tertentu (yang berupa tangible asset yang dapat dihitung dan diukur). 2. 3. Daftar barang hak miliki dari seluruh asset. Nilai barang yang dimiliki oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu (untuk laporan keuangan dan akutansi). Pengertian yang menyangkut barang persediaan antara lain ialah sejumlah material yang disimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selalu dalam keadaan siap pakai dan ditatausahakan dalam buku perusahaan. Tujuan pengadaan persediaan antara lain : 1. 2. 3. Memenuhu kebutuhan normal. Memenuhi kebutuhan mendadak. Memungkinkan pembelian atas dasar jumlah ekonomis. Manajemen persediaan (inventory control) atau pengendalian tingkat persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan,

pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material sedemikian rupa hinga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan dilain pihak investasi persediaan material dapat ditekan secara optimal. Pengendalian tingkat persediaan bertujuan mencapai efisiensi dan efektivitas optimal dalam penyediaan material. Dalam pengertian diatas, usaha yang perlu dilakukan dalam manajemen pertsediaan secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Menjamin terpenuhinya kebutuhan operasi. Membatasi nilai seluruh investasi. Membatasi jenis dan jumlah material. Manfaatkan seoptimal mungkin material yang ada. Inventori ada karena sulitnya mensinkronkan dengan tepat antara supply dengan demand dan memerlukan waktu untuk mempersiapkan material untuk kegiatan operasi. Memformulasikan sebuah kebijakan inventory memerlukan pengertian tentang peran inventory dalam produksi dan pemasaran.

II - 4

2.1.2 Bentuk dan Jenis Inventori Dalam suatu sistem manufaktur, inventori dapat ditemui sedikitnya dalam tiga bentuk sesuai dengan keberadaannya, yaitu: a. Bahan baku (raw material), merupakan masukan awal proses transformasi produksi yang selanjutnya akan diolah menjadi produk jadi. Ketersediaan bahan baku akan sangat menentukan kelancaran proses produksi sehingga perlu dikelola secara seksama. Inventori jenis ini didatangkan dari luar sistem dan keberadaannya secara fisik biasanya disimpan di gudang penerimaan (receiving storage). b. Barang setengah jadi (work in process), merupakan bentuk peralihan dari bahan baku menjadi produk jadi. Dalam sistem manufaktur yang bersifat pesanan (job order), adanya inventori barang setengah jadi ini biasanya tidak dapat dihindari sebab proses transformasi produksinya memerlukan waktu yang cukup lama. Sementara dalam sistem manufaktur yang bersifat produksi massa (mass production), adanya inventori barang setengah jadi dapat terjadi karena karakteristik prosesnya yang memang demikian (missal industry semen dan industry pupuk) atau terjadi karena lintasan produksinya yang tidak seimbang. c. Barang jadi (finished good), merupakan hasil akhir proses transformasi produksi yang siap dipasarkan kepada pemakai. Sebelum diangkut kepada pemakai yang membutuhkan, barang jadi ini disimpan di gudang barang jadi. Dalam sistem manufaktur yang bersifat produksi massa (mass production), biasanya barang jadi disimpan untuk beberapa waktu sampai dengan datangnya pembeli, sedangkan dalam sistem manufaktur yang bersifat pesanan (job order), begitu barang tersebut selesai diproduksi akan segera diambil oleh pemakai yang memesannya. Dengan demikian, dalam sistem manufaktur berdasarkan pemesanan sangat jarang ditemui inventori barang jadi di gudang. Selain ditemui dalam ketiga bentuk diatas, inventori dalam sistem manufaktur dijumpai juga dalam bentuk bahan penolong (supplies) dan inventori suku cadang (spare part). Bahan penolong digunakan untuk membantu kegiatan proses produksi sedangkan suku cadang diperlukan untuk menunjang dan menjamin kehandalan mesin dan peralatan yang ada pada II - 5

sistem tersebut.kebutuhan akan kedua jenis barang inventori yang terakhir disebutkan ini memang tidak terkait secara langsung dengan aktivitas dan volume produksi. Di dalam buku karangan Nur Bahagia (2006 : 9), Buffa - Miller (1979) dan Tersine (1988) mengemukakan bahwa secara umum inventori di luar sistem manufaktur dapat dibedakan atas beberapa tipe sebagai berikut: 1. Inventori Operasi (operational inventory), yaitu inventori barang yang digunakan untuk menjamin kelancaran pemenuhan permintaan dari pemakai (user). Keberadaan inventori ini akan tersebar mulai dari gudang pabrik, gudang distributor (gudang regional, gudang

perwakilan, dsb. Sampai dengan gudang yang melayani pengecer) dan akhirnya gudang pengecer. 2. Inventori penyangga (buffer inventory), yaitu inventori yang digunakan untuk mengantisipasi kelangkaan (shortage) pasokan barang atau untuk meredam fluktuasi permintaan yang bersifat random. 3. Inventori siklis (cycle inventory), yaitu inventori yang digunakan untuk menanggulangi lonjakan permintaan yang bersifat siklis (berulang menurut suatu selang waktu karena kejadian tertentu). 4. Inventori musiman (seasonal inventory), yaitu inventori yang digunakan untuk menanggulangi lonjakan permintaan yang bersifat musiman (berulang menurut selang waktu tertentu karena suatu musim).

Apabila dilihat dari segi wujudnya, inventori dapat dijumpai tidak hanya dalam bentuk barang, tapi juga meliputi inventori uang, tenaga kerja, energi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada satu unit usaha pun yang tidak terkait dengan inventori, begitu juga dalam kehidupan rumah tangga kita sehari-hari selalu memerlukan inventori. Hal yang membedakan antara kehidupan rumah tangga dan kehidupan unit usaha antara lain adalah skala inventori yang dikelola dan sifat kerugian yang ditimbulkan akibat terjadinya kekurangan inventori.

2.1.3 Fungsi Inventori

II - 6

Menurut Yamit (2008 : 5 ), persediaan timbul disebabkan oleh tidak sinkronya permintaan dengan persediaan dan waktu yang digunakan untuk memproses bahan baku. Untuk menjaga keseimbangan permintaan dengan penyediaan bahan baku dan waktu proses diperlukan persediaan. Oleh karena itu, ada 4 (empat) faktor yang dijadikan sebagai fungsi diperlukannya persediaan, yaitu faktor waktu, faktor ketidakpastian waktu datang, faktor ketidakpastian penggunaan dalam pabrik dan faktor ekonomis. 1. Faktor Waktu Faktor waktu menyangkut proses lamanya proses produksi dan distribusi sebelum barang jadi sampai ke konsumen. Waktu diperlukan untuk membuat skedul produksi, memotong bahan baku, pengiriman bahan baku, pengawasan bahan baku, produksi, dan pengiriman barang jadi ke pedagang besar atau konsumen.persediaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan selama waktu tunggu (lead time). 2. Faktor Ketidakpastian Waktu Datang Faktor ketidakpastian waktu datang dari supplier menyebabkan

perusahaan memrlukan persediaan, agar tidak menghambat proses produksi maupun keterlambatan pengiriman kepada konsumen.

Persediaan bahan baku terikat pada supplier, persediaan barang dalam proses terikat pada departemen produksi, dan persediaan barang jadi terikat pada konsumen. Ketidakpastian waktu datang mengharuskan perusahaan membuat skedul operasi lebih teliti pada setiap level. 3. Faktor Ketidakpastian Penggunaan dalam Pabrik Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan disebabkan oleh kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin, keterlambatan operasi, bahan cacat, dan berbagai kondisi lainnya. Persediaan dilakukan untuk mengantisipasi ketidaktepatan peramalan maupun akibat lainnya tersebut. 4. Faktor Ekonomis Faktor ekonomis adalah adanya keinginan keinginan perusahaan untuk mendapatkan alternatif biaya rendah dalam memproduksi atau membeli item dengan menentukan jumlah yang paling ekonomis. Pembeliaan dalam jumlah besar memungkinkan perusahaan mendapatkan potongan harga yang dapat menurunkan biaya. Selai itu pemesanan dalam jumlah II - 7

besar dapat pula menurunkan biaya karena biaya transportasi per-unit menjadi lebih rendah. Persediaan diperlukan untuk menjaga stabilitas produksi dan fluktuasi bisnis.

Berdasarkan faktor-faktor fungsi persediaan diatas, macam persediaan dapat dikatagorikan dalam satu atau lebih katagori berikut ini : 1. 2. 3. Persediaan pengaman (safety stock) Persediaan antisipasi (anticipation stock) Persediaan dalam pengiriman (transit stock).

Persediaan pengaman atau sering disebut sebagai buffer stock adalah persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi unsur ketidakpastian permintaan dan penyediaan. Apabila persediaan pengaman tidak mampu mengantisipasi ketidakpastian tersebut, akan terjadi kekurangan persediaan (stockout). Persediaan antisipasi/berjaga-jaga atau sering pula disebut sebagai stabilization stock adalah persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Persediaan dalam pengiriman atau sering pula disebut work-in-process stock adalah persediaan yang masih dalam pengiriman atau transit. Terdapat 2 (dua) jenis dalam persediaan, yaitu (a) eksternal transit stock adalah persediaan yang masih berada dalam truk, kapal, dan kereta api, (b) internal transit stock adalah persediaan yang masih menunggu untuk diproses atau menunggu sebelum dipindahkan.

2.1.4 Klasifikasi Masalah Persediaan Menurut Yamit (2008 : 7) : Masalah persediaan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, yaitu atas dasar pengulangan, sumber suplai, permintaan, tenggang waktu (lead time), dan sistem persediaan. Masalah klasifikasi persediaan dengan pembagian sebagai berikut : 1. Pengulangan a. b. 2. Pesanan tunggal (sekali pesan) Pesanan berulang

Sumber Supply II - 8

a. b. 3.

Berasal dari luar Berasal dari dalam

Permintaan a. b. c. d. Permintaan tetap (konstan) Permintaan variabel (berubah) Permintaan independen Permintaan dependen

4.

Tenggang Waktu (lead Time) a. Lead time tetap b. Lead time variabel (berubah)

5.

System Persediaan a. b. c. d. e. Kontinyu (terus-menerus) Periodic Material requirement planning Distribution requirement planning Pesanan tunggal

2.1.4 Jenis Persediaan Menurut Ricahardus Eko Indrajit dan Richardus Djokopranoto (2003:8), persediaan dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya : 1. Persediaan bahan baku (raw material) Persediaan yang akan diolah menjadi barang jadi, sebagai hasil utamas dari perusahaan yang bersangkutan. 2. Barang setengah jadi (semi finished products) Persediaan yang sebagian akan diolah lebih lanjut menjadi barang jadi dan sebagian kadang kadang dijual seperti apa adanya untuk menjadi bahan baku perusahaan lain. 3. Barang jadi (finished products) Persediaan barang yang sudah selesai diproduksi atau diolah, yang merupakan hasil utama perusahaan yang bersangkutan dan siap untuk dipasarkan/dijual. 4. Barang umum dan suku cadang (general materials and spare part) Persediaan segala jenis barang atau suku cadang yang digunakan untuk operasi menjalankan perusahaan/pabrik dan untuk memelihara peralatan

II - 9

yang digunakan. Seringkali disebut juga barang pemeliharaan,perbaikan, dan operasi, atau MRO materials (Maintenance, Repair and Operation).

5. Barang untuk proyek (work in progress) Persediaan barang barang yang ditumpuk menunggu pemasangan dalam suatu proyek baru. 6. Barang dagangan (commodities) Persediaan yang dimana barang yang dibeli, sudah merupakan barang jadi dan disimpan digudang menunggu penjualan kembali dengan keuntungan tertentu. Sedangkan tipe tipe persediaan (inventory) adalah sebagai berikut : 1. Cycle Stock Persediaan yang diperoleh dari proses pengisian kembali persediaan (replenishment), dan dibutuhkan untuk memenuhi permintaan yang pasti. Hal ini terjadi apabila perusahaan bisa memprediksi permintaan dan waktu replenishment (lead time) dengan tepat. 2. In-transit Inventory Merupakan barang barang dalam perjalanan dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. 3. Safety or Buffer Stock Persediaan dikarenakan karena adanya ketidakpastian demand dan lead time. 4. Speculative Stock Merupakan inventory yang diadakan untuk alasan memenuhi demand yang ada, dan adanya diskon serta karena prediksi akan adanya kenaikan harga material dalam jangka pendek, atau adanya kendala kendala dalam pengadaan material. 5. Seasional Stock Merupakan bentuk dari Speculative Stock untuk mendapatkan akumulasi persediaan sebelum datang suatu mesin agar tenaga kerja dan produski stabil. 6. Dead Stock

II - 10

Merupakan sekumpulan barang barang yang diadakan bukan berdasarkan permintaan yang tercatat pada suatu periode tertentu.

2.1.5 Aspek Fungsional Sistem Persediaan Aspek fungsional sistem persediaan sangat erat kaitannya dengan kegiatan operasi rutin dalam penyelenggaranaan sistem persediaan, disini akan terjadi interaksi antara ketiga komponen dasar sistem persediaan (pengelola, pemasok dan pemakai). interaksi ini akan tercermin antara lain pada sistem mekanisme dan prosedur pengadaan serta pemenuhan barang, yang disebut dengan siklus persediaan (inventory cycle) seperti

direpresentasikan pada gambar 2.1 berikut. Secara umum siklus ini terdiri atas 4 kegiatan, yaitu perencanaan kebutuhan, program pengadaan, penyimpanan dan pemakaian barang, dan tiga transaksi, yaitu transaksi pembelain barang (kontrak), transaksi penerimaan barang, transaksi pengeluaran barang.

II - 11

Pemakai (User)

Perencaan Kebutuhan

1
Program Pengadaan

2
Penyimpanan Pemasok

Keterangan : 1. Transaksi Pembelian 2. Transaksi Penerimaan 3. Transaksi Pengeluaran

Pemekaian

Gambar 2.1 Siklus Persediaan


Sumber : Sistem Inventori, Senator Nur Bahagia

1. Perencanaan Kebutuhan Awal dari kegiatan siklus persediaan adalah adanya permintaan barang yang datang dari pemakai (user) kepada pengelola (management). Agar permintaan tersebut dapat terjamin pemenuhannya maka langkah awal yang perlu dilakukan oleh pengelola adalah mengidentifikasikan kebutuhan barang dari pemakainya dan langkah ini akan berakhir dengan diketahui besarnya kebutuhan barang selama kurun waktu horison perencanaannya. Identifikasi kebutuhan ini meliputi informasi yang berkaitan dengan jenis barang, spesifikasi barang, jumlah barang yang diperlukan, saat diperlukan, dan lokasi barang yang akan digunakan oleh pemakainya tersebut. Sumber

II - 12

informasi untuk keperluan ini adalah pemakai itu sendiri sebab pemakailah yang paling tahu akan kebutuhannya. Biasanya kebutuhan barang dibedakan atas kebutuhan untuk keperluan rutin dan kebutuhan barang untuk investasi. Sehubungan dengan pemakai yang tidak selalu dari kalangan internal, tetapi dapat pula dari kalangan eksternal yang biasanya diluar kendali pengelola, untuk mendapatkan informasi ini pengelola dapat menggunakan data pemakaian barang masa lalunya. Selanjutnya data masa lalu ini akan diolah untuk meramalkan jumlah kebutuhan pemakai selama selama kurun waktu horizon perencanaannya serta untuk mengetahui karakteristik permintaan pemakai. 2. Program Pengadaan Dengan diketahui kebutuhan barang oleh pemakai untuk masa mendatang selama horizon perencanaan, pengelola selanjutnya akan melakukan program pengadaan. Yang dimulai dengan menentukan : a. Penentuan Kebutuhan Riil Kebuthan Riil (KR) adalah jumlah barang yang harus dibeli selama horizon perencanaan dalam rangka memenuhi permintaan pemakai, bukan jumlah barang yang diminta oleh pemakai (RK). Dalam metode Perencanaan Kebutuhan Material kebuthan ini disebut pula dengan kebutuhan bersih (net reqirements), sedangkan rencana kebutuhan (RK) disebut pula sebagai kebuthan kotor (gross demand). Penentuan KR memerlukan informasi tentang rencana kebutuhan (RK) dan status persediaan yang meliputi jumlah barang riil yang tersedia di gudang (IOH: Inventory On Hand), jumlah barang yang masih berada dalam pesanan (IOO : Inventory On Order), jumlah barang yang dikehendaki pada akhir horizon perencanaan (IOE: Expected Inventory) dan waktu ancang ancang (L : Lead time) dari pemasok. b. Rencana Pembelian Rencana pembelian hanya akan dilakukan apabila KR berharga positif yang berararti bahwa barang yang tersedia tidajk dapat mencukupi permintaan dari pemakai (RK). Besarnya barang yang perlu dibeli oleh pengelola adalah sebesar KR. Salah satu permasalahan yang timbul dalam merencanakan pembelian ini adalah menentukan cara pembelian yang paling ekonomis. Apakah barang tersebut akan dibeli sekaligus atau akan II - 13

dibeli dua kali, tiga kali, dan sebagainya. Masalah ini dikenal dengan penentuan ukuran lot pemesanan ekonomis. c. Transaksi Pembelian Transaksi pembelian barang terjadi anatara pengelola dan pemasok barang dalam rangka mendapatkan barang yang sesuai dengan permintaan pemakainya. Transaksi pembelian akan dilakukan bila telah ditentukan jenis dan jumlah barang yang akan dibeli, seperti dinyatakan dalam rencana pembelian. Transaksi pembelian barang pada umumnya dilakukan sedikitnya dengan tiga cara, yaitu pembelian secar langsung (direct purchase), penunjukan langsung (direct oppointment), dan tender pelelangan (bidding). Sementara cara mengikat transaksi pembelian (kontrak) dikenal dengan adanya system kontrak borongan (lumpsum contract), kontrak harga satuan (unit price contract), kontrak ongkos plus upah (cost plus fee contract), dan kontrak sesuai dengan pengeluaran (at cost contract). 3. Penyimpanan Barang Barang yang dibeli diharapkan akan data di gudang dari pemasok sesuai dengan apa yang tertera dalam transaksi pembelian (kontrak), baik jenis barang, spesifikasi, jumlah dan waktunya. Sebelum barang disimpan di dalam gudang perlu diperhatikan transaksi kedua, yaitu transaksi penerimaan barang antara pemasok dengan pengelola. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam transaksi ini adalah : a. Barang yang diterima haruslah sesuai dengan apa yang tertera dalam dokumen perjanjian jual beli (kontrak). Ketidaksesuaian pada prinsipnya menjadi tanggung jawab pemasok, kecuali memang terjadi kesalahan dari pihak pemakai. b. Bila keadaan memungkinkan, pemakai hendaklah dilibatkan dalam penreimaan barang sebab dialah yang membutuhkan dan mengetahui barang tersebut. Hal ini untuk menghindari kericuhan dikemudian hari. c. Jangan menandatangani berita acara penerimaan barang bila masih terdapat ketidak sesuaian antara barang yang datang dan yang tertera dalam kontrak, sebab biasanya penandatanganan berita acara berarti lepasnya tanggung jawab pemasok terhadap barang yang diperjual belikannya. II - 14

4. Pemakaian Barang Kegiatan ini merupakan kegiatan akhir dari siklus persediaan, dan disinilah terjadi interaksi antara pengelola dengan pemakai. Interaksi pemakaian barang dimulai dengan adanya permintaan barang dari pemakai yang ditandai dengan adanya not permintaan. Yang kemudian diproses oleh pengelola sesuai dengan prosedur hingga barang tersebut dapat digunakan oleh pemakai.

2.1.5 Ongkos Persediaan Secara umu dapat dikatakan bahwa ongkos persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai akibat adanya persediaan selama horizon perencanaan waktu tertentu. Maka menurut Senator Nur Bahagia (2006:34) komponen komponennya terdiri dari : 1. Ongkos Pembelian (purchase cost) Ongkos pembelian adalah ongkos yang dikeluarkan untuk membeli barang persediaan. Besarnnya ongkos pembelian satuan barang. pada kenyataannya, tidak jarang dijumpai ada hubungan antara jumlah barang dan harga satuan barang. semakin banyak barang yang dibeli biasanya harga satuan barang tersebut akan semakin murah. Pada kebanyakan teori persediaan, didalam pemodelannya, elemen ongkos pembelian ini tidak dimasukan ke dalam elemen ongkos prsediaan, sebab diasumsikan bahwa harga satuan barang tidak dipengaruhi oleh jumlah barang yang dibeli sehingga elemen ongkos pembelian selama horizon perencanaan waktu tertentu konstan dan hal ini secara matematis tentunya tidak akan mempengaruhi jawaban optimal baik terhadap operating stock maupun safety stock. 2. Ongkos Pengadaan (Procurement cost) Ongkos pengadaan adlah ongkos yang harus dikeluarkan untuk setiap proses pengadaan barang. ongkos ini dibedakan atas dua jenis sesuai asal usul barang tersebut, yaitu ongkos pemesanan (order cost) bila barang didatangkan dari luar sistem dan ongkos persiapan (set up cost) bila barang berasal dari dalam sistem. a. Ongkos pemesanan (order cost)

II - 15

Ongkos pemesanan adalah semua pengeluaran yang ditimbulkan untuk mendatangkan barang dari luar. Ongkos ini meliputi antara lain ongkos untuk menentukan pemasok, ongkos pemeriksaan persediaan sebelum melakukan pemesanan, dan sebagainya. Biasanya ongkos ini diasumsikan tetap untuk setiap kali pemesanan barang. b. Ongkos persiapan (set up cost) Ongkos persiapan adalah semua pengeluaran yang ditimbulkan untuk persiapan produksi barang. ongkos ini biasanya timbul di dalam pabrik, yang meliputi antara lain ongkos menyetel mesin, ongkos mempersiapkan gambar benda kerja, dan sebagainya. Karena kedua ongkos tersebut diatas mempunyai peran yang sama, yaitu dalam rangka pengadaan barang, maka di dalan system persediaan ongkos tersebut sering disebut sebagai ongkos pesan/pengadaan (ordering cost). 3. Ongkos Simpan (holding cost) Ongkos simpan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat penyimpanan barang, Ongkos simpan barang merupakan bagian ongkos persediaan yang cukup besar setelah ongkos membeli barang. dalam sistem persediaan, besarnya ongkos satuan simpan barang biasanya dihitung berdasarkan persentase dari harga barang. persentase tersebut meliputi ongkos kapital dan ongkos untuk keperluan penyimpanan serta administrasi barang, ongkos simpan ini meliputi : a. Ongkos memiliki persediaan b. Ongkos gudang (storage cost) c. Ongkos kerusakan dan penyusutan d. Ongkos kadaluarsa (absolence cost) e. Ongkos asuransi (insurance cost) f. Ongkos administrasi (administration cost) g. Ongkos lain-lain, adalah semua ongkos penyimpanan yang belum dimasukan ke dalam element ongkos di atas, biasanya bergantung pada situasi dan kondisi perusahaan. 4. Ongkos kekurangan (shortage cost) Apabila dijumpai tidak ada barang pada saat diminta akan terjadi keadaan kekurangan persediaan. Keadaan ini akan menimbulakan kerugian karena proses produksi menjadi terhenti dan kesempatan untuk mendapatkan II - 16

keuntungan menjadi hilang.satu hal penting yang perlu diperhatikan akibat dari keadaan ini adalah beralihnya konsumen ketempat lain, dan ini merupakan kerugian yang tak ternilai. Untuk menentukan besarnya ongkos persediaan, dapat diuraikan berdasarkan : a. Kuantitas yang tidak dapat dipenuhi Biasanya diukur dari keuntungan yang hilang karena tidak dapat memenuhi barang yang diminta atau dari kerugian akibat terhentinya proses produksi. b. Waktu pemesanan Lama waktu gudang kosong akan berarti lamanya proses produksi terhenti ataupun lamanya perusahaan tidak dapat menikmati

keuntungan. Oleh sebab itu, waktu dapat diartikan sebagai uang yang hilang. Ongkos yang ditimbulkan oleh keadaan ini dapat diukur berdasarkan waktu yang diperlukan untuk memenuhi gudang yang biasanya dinyatakan dalam Rp,/satuan waktu. c. Ongkos pengadaan darurat Agar pemakai tidak kecewa maka dapat dilakukan pengadaan darurat yang biasanya menimbulkan ongkos yang lebih besar dari pengadaan normal. Kelebihan ongkos ini dapat dijadikan ukuran untuk menentukan ongkos kekurangan persediaan. 5. Ongkos sistemik Ongkos sistematik adalah ongkos yang dikeluarkan untuk membangun system persediaan. Ongkos sistematik ini meliputi angkos perencanaan, perancangan, dan instalasi sistem inventory serta ongkos untuk mengadakan peralatan (misalnya komputer) serta melatih tenaga kerja yang digunakan untuk mengoperasikan sistem.

2.2 Statistik Non-Parametrik Nugroho (2005:4) menyatakan bahwa statistik non-parametrik merupakan bagian dari statistik inferensi. Statistik non-parametrik ini digunakan pada kondisikondisi penelitian tertentu. Kondisi yang sering dijumpai bagi penelitian yang menggunakan antara lain , data pada sampel tidak terdistribusi secara normal dan jumlah sampel yang kecil (kurang dari 30). Statistik non-parametrik cenderung lebih

II - 17

sederhana. Dari kesederhanaan pembahasannya mengakibatkan kesimpulan yang dihasilkan sering diragukan.

2.2.1 Statistik Non-Parametrik Kolmogorov-Smirnov Uji Kolmogorov-Smirnov bertujuan untuk membantu peneliti dalam menentukan distribusi normal dengan jumlah data penelitian yang sangat sedikit (kurang dai 30). Uji Kolmogorov-Smirnov ini sangat membantu peneliti untuk mengetahui apakah sampel yang dipilih berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal.

2.2.2 Interpretasi Output Uji Kolmogorov Smirnov Interpretasi output uji Kolmogorov-Smirnov bertujuan untuk mengetahui apakah data sampel pada variabel-variabel yang dimasukkan terdistribusi secara normal, dengan menggunakan Level of significant ( ) 5% (0,05). Hipotesis yang diusulkan adalah sebagai berikut: H0 Ha = Data variabel terdistribusi secara normal = Data variabel tidak terdistribusi secara normal

Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis jika hipotesis nol (H0) yang diusulkan: 1. H0 diterima jika nilai p-value pada kolom Asimp. Sig(2-tailed) > level significant ( ). 2. H0 ditolak jika nilai p-value pada kolom Asimp. Sig(2-tailed) < level significant ( ).

Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis jika hipotesis nol (Ha) yang diusulkan: 1. Ha diterima jika nilai p-value pada kolom Asimp. Sig(2-tailed) < level significant ( ). 2. Ha ditolak jika nilai p-value pada kolom Asimp. Sig(2-tailed) > level significant ( ).

2.3 Sistem Inventori Probabilistik

II - 18

Secara statistik fenomena probabilistik merupakan fenomena yang dapat diprediksi parameter populasinya, baik ekspektasi, variansi, maupun pola distribusi kemungkinannya. Dalam sistem inventori, ketidakpastian berasal dari: a. Pemakai (user) yang berupa fluktuasi permintaan yang dicerminkan oleh variansi atau deviasi standarnya (S). b. Pemasok (supplier) yang berupa katidaktepatan waktu pengiriman barang yang dicerminkan oleh waktu ancang-ancangnya (lead time/L). c. Sistem manajemen (pengelola) yang berupa ketidakhandalan pengelola dalam menyikapi permasalahan yang dicerminkan dengan faktor resiko yang mampu ditanggung (za). Ketidakpastian yang dimaksud disini bukan bersifat acak tetapi dengan pola distribusi kemungkinan yang diketahui. Adanya fenomena probabilistik di dalam sistem inventori mengakibatkan pengelolaannya menjadi lebih sulit bila dibandingkan dengan sistem inventori deterministik, sebab dengan adanya fenomena ketidakpastian akan menyebabkan timbulnya variansi yang merupakan sumber penyimpangan dari rencana yang telah dibuat. Adanya fenomena probabilistik akan mengakibatkan perlunya cadangan pengaman (safety stock) yang akan digunakan untuk meredam fluktuasi permintaan dan atau fluktuasi pasokan selama waktu ancang-ancang atau selama kurun waktu tertentu. Dengan demikian dalam sistem inventori probabilistik yang dimaksud dengan kebijakan inventori tidak hanya terkait dengan operating stock, tapi juga dengan cadangan pengaman. Secara operasional kebijakan inventori ini dijabarkan ke dalam 3 keputusan, yaitu: 1. Menentukan besarnya ukuran lot pemesanan ekonomis (qo) 2. Menentukan saat pemesanan ulang dilakukan (r) 3. Menentukan besarnya cadangan pengaman (ss) Dengan adanya cadangan pengaman dalam sistem inventori probabilistik, bukan berarti permintaan barang dijamin dapat selalu dipenuhi, namun kemungkinan terjadinya kekurangan inventori masih bisa terjadi. Dengan demikian tingkat pelayanan dalam sistem inventori probabilistik tidak dapat dijamin 100% seperti pada sistem inventori deterministik. Oleh sebab itu perlu ditentukan tingkat pelayanan yang terbaik dengan memperhitungkan ongkos kekurangan barang (shortage cost). II - 19

2.4 Model Probabilistik Sederhana Dalam Nur Bahagia (2006:129) model probabilistik sederhana berbeda dengan inventori deterministik yang selalu diketahui dengan pasti permintaannya, dalam inventori probabilistik permintaan tidak pasti dan berfluktuasi sesuai dengan kebutuhan konsumennya. Walaupun demikian ketidakpastian ini memiliki pola tertentu yang dicirikan dengan nilai sentral, nilai sebaran dan pola distribusinya yang dapat diprediksi. Yang menjadi penyebab permasalahan dalam inventori probabilistik adalah setiap hari ada permintaan barang yang tidak diketahui sebelumnya, informasi yang diketahui hanyalah pola permintaannya saja berdasarkan data masa lalu. Pola permintaan yang dimaksud dalam bentuk parameter harga rata-rata, standar deviasi, dan bentuk distribusi kemungkinan permintaannya. Dengan demikian penentuan kebijakan inventori menjadi lebih sulit, terutama yang terkait dengan penentuan besarnya cadangan pengaman yang akan dialokasikan untuk meredam fluktuasi permintaan. Pendekatan yang paling sederhana untuk memecahkan persoalan inventori probabilistik adalah dengan memandang bahwa posisi inventori barang yang tersedia di gudang sama dengan posisi inventori barang pada system inventori deterministik statis dengan menambahkan cadangan pengaman (ss) untuk mengantisipasi dan meredam flluktuasi permintaan. Jika pada system inventori deterministik posisi inventori berfluktuasidari maksimum sebesar q0 pada awal periode dan minimum nol pada akhir periode, pada system inventori probabilistic posisi inventori berfluktuasi dsri maksimum sebesar (q0+ss) dan minimum nol bahkan bisa berharga negative. Inventori negatif berarti terjadi kekurangan barang (shortage stock). Dengan demikian melalui pendekatan sederhana ini model inventori probabilistik pada hakikatnya dapat dipandang sebagai model inventori

deterministic statis dengan menambahkan cadangan pengaman, sehingga kebijakan inventorinya dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Pesan barang sejumlah q0 pada setiap kali melakukan pemesanan. b. Pemesanan dilakukan bila jumlah barang di gudang mencapai tingkat pemesanan ulang (re-order point), yaitu sebesar kebutuhan selama waktu ancang-ancangnya. II - 20

Konsekuensi dari cara pendekatan ini adalah bahwa tidak akan selalu terjamin tersedianya barang pada saat diperlukan. Berbagai resiko akibat kekurangan barang ini merupakan resiko yang akan ditanggung oleh pihak pengelola inventori (pihak manajemen).semakin kecil resiko yang ingin ditanggung, semakin besar cadangan pengaman yang harus dialokasikan, hal ini berarti akan meningkatkan ongkos inventorinya.sebaliknya semakin besar kemungkinan terjadinya kekurangan barang berarti tingkat pelayanan semakin menurun, yang berarti cadangan pengaman dapat dikurangi. Dengan demikian mencari trade off antara ongkos dan tingkat pelayanan merupakan permasalahan yang perlu diselesaikan secara seksama. Dalam hal ini ada dua criteria yang harus dioptimalkan secara simultan, yaitu minimasi ongkos inventori total dan maksimasi tingkat pelayanan. Namun, dalam model probabilistic sederhana ini tingkat pelayanan tidak dioptimasikan, tetapi ditetapkan oleh pihak manajemen sehingga kriterianya hanya meminimasikan ongkos inventori total (OT).

2.5 Formulasi Cadangan Pengaman Untuk menentukan berapa besar cadangan pengaman (ss) untuk suatu waktu ancang-ancang (L) dan tingkat pelayanan ( ) perlu diketahui bagaimana bentuk pola distribusi kemungkinan permintaan selama waktu ancang-ancang tersebut. Hubungan antara besar kemungkinan terjadinya kekurangan inventori ( ) dan tingkat pelayanan ditentukan dengan cara sebagai berikut:

(1) Dimana : N

..

: Tingkat pelayanan : Ekspektasi permintaan yang tidak terpenuhi (jumlah kekurangan inventori)

DL N/DL

: Ekspektasi permintaan selama waktu ancang-ancang (L) : Persentase permintaan yang tidak terpenuhi

II - 21

Menurut Hadley-Within (1963) Dalam Nur Bahagia (2006:135), bila f(x) merupakan fungsi kepadatan normal dengan standar deviasi SL maka N dapat dinyatakan sebagai berikut: [ ] [ ]

Dalam hal ini

dapat dinyatakan dengan :

Jika : dan [ ] [ ]

Besarnya ekspektasi keurangan barang N dapat dinyatakan sebagai berikut. [ ] .(2) ) dan (

Nilai

dapat dicari pada Tabel A sedangkan nilai

f(

selengkapnya dapar dicari pada Tabel B. Dengan demikian jika nilai nilai

diketahui,

akan dapat dicari. Selanjutnya dengan menggunakan transformasi z

besarnya cadangan pengaman ditentukan dengan cara sebagai berikut. dimana = ss, maka:

(3) Di mana : : Kemungkinan terjadi kekurangan inventori


: Nilai z pada distribusi normal standar untuk tingkat

II - 22

Secara fisik

dapat diartikan sebagai factor pengaman yang ditetapkan oleh selengkapnya disajikan pada Tabel A.

pengelola. Besarnya nilai

Selanjutnya jika distribusi selama horison perencanaan berdistribusi normal dengan deviasi standar S dan waktu ancang-ancang L konstan maka: ...(4)

Dengan demikian cadangan pengaman (ss) dapat dirumuskan sebagai berikut.

.(5)

Jika L tidak konstan tapi berfluktuasi dengan standar deviasi sebesar Tersine (1992), besarnya deviasi standar permintaan selama L periode

, menurut adalah:

.(6)

Sehingga besarnya cadangan pengaman dapat dinyatakan sebagai berikut:

....(7)

Di mana: D S : waktu ancang-ancang rata-rata : permintaan rata-rata selama horizon perencanaan : standar deviasi permintaan selama horizon perencanaan : standar deviasi waktu ancang-ancang L

2.6 Asumsi dan Komponen Model 2.6.1 Asumsi Asumsi yang digunakan pada inventori probabilistik sederhana pada prinsipnya sama dengan model inventori deterministik kecuali permintaan yang bersifat probabilistic dan adanya ongkos kekurangan inventori. Selengkapnya asumsi yang dimaksud adalah sebagai berikut: II - 23

1. Permintaan selama horizon perencanaan bersifat probabilistik dan berdistribusi normal dengan rata-rata (D) dan deviasi standar (S) serta berdistribusi normal. 2. Ukuran lot pemesanan (q0) konstan untuk setiap kali pemesanan, barang akan datang secara serentak dengan waktu ancang-ancang (L), pemesanan dilakukan pada saat inventori mencapai titik pemesanan ulang (r). 3. Harga barang (p) konstan baik terhadap kuantitas barang yang dipesan maupun waktu. 4. Ongkos pesan (A) konstan untuk setiap kali pemesanan dan ongkos simpan (h) sebanding dengan harga barang dan waktu penyimpanan. 5. Ongkos kekurangan inventori ( ) sebanding dengan jumlah barang yang tidak dapat dipenuhi. 6. Tingkat pelayanan ( ) atau kemungkinan terjadinya kekurangan inventori ( ) diketahui atau ditentukan oleh pihak manajemen.

Ditinjau dari segi struktur ongkos, adanya fenomena probabilistik ini menyebabkan tambahan elemen ongkos kekurangan inventori dan ongkos simpan cadangan pengaman yang perlu diperhitungkan dalam total ongkos inventori selain ongkos pembelian, ongkos pengadaan, dan ongkos simpan stok operasi, sehingga criteria kinerja ongkos inventori totalnya menjadi: (8) Di mana: : Ongkos total per tahun : Ongkos beli : Ongkos pengadaan per tahun : Ongkos simpan per tahun : Ongkos kekurangan inventori per tahun

Dalam model probabilistik, semua pernyataan ongkos diatas harus diartikan sebagai ekspektasi ongkos, bukan sebagai ongkos riil. Sesuai

II - 24

dengan pendekatan yang telah diuraikan, variabel keputusan dalam model ini adalah: 1. Ukuran lot pemesanan (q0) untuk setiap kali pesan. 2. Saat pemesanan ulang dilakukan (r) 3. Cadangan pengaman (ss)

2.6.2

Formulasi Model Seperti diuraikan di atas, cara yang paling sederhana untuk memecahkan persoalan inventori probabilistik adalah dengan memandang bahwa posisi inventori barang yang ada di gudang sama dengan posisi inventori barang pada system deterministik dengan menambahkan cadangan pengaman (ss) untuk mengantisipasi dan meredam fluktuasi permintaan. Karena tingkat pelayanan diketahui maka kebijakan inventori optimal hanya bergantung pada ongkos inventori sebagaimana dinyatakan pada persamaan (8). Selanjutnya setiap elemen ongkos pada persamaan (8) dihitung melalui cara berikut ini: 1. Ongkos Pembelian (Ob) Ongkos beli barang Ob merupakan perkalian antara jumlah barang yang dibeli (D) dengan harga barang per unitnya (p), secara matematis dituliskan sebagai berikut. Ob = D . p ...(9) 2. Ongkos Pemesanan (Op) Besarnya ongkos pemesanan selama horison perencanaan merupakan perkalian antara frekuensi pemesanan (f) dan ongkos untuk setiap kali pemesanan barang (A), secara matematis dinyatakan sebagai berikut.

Op = f . A Adapun frekuensi pemesanan selama horison perencanaan adalah banyaknya permintaan selama horison perencanaan (D) dibagi dengan ukuran lot pemesanannya (q0):

II - 25

Dengan demikian ongkos pemesanan selama horison perencanaan dapat dirumuskan : (10)

3. Ongkos Simpan (Os) Ongkos ini dapat dihitung dari hasil perkalian antara jumlah inventori rata-rata yang ada di gudang setiap saatnya (m) dengan ongkos simpan per unit per periode (h): Os = h . m Adapun jumlah inventori rata-rata (m)dapat dihitung berdasarkan nilai ekuivalensi keadaan inventori yaitu sebesar safety stock-nya. ..(11) dengan menambahkan

Dengan demikian ongkos simpan (Os) dapat dituliskan sebagai berikut. Os = h( ) (12)

Di sini ongkos simpan per unit per periode (h) dapat dinyatakan sebagai persentase (I) dari harga satuan (p): h = I . p .. (13)

Harga I biasanya ditentukan berdasarkan ongkos modal atau sebesar suku bunga pinjaman untuk membeli barang.

4. Ongkos Kekurangan Inventori (Ok) Kekurangan inventori terjadi bila barang yang tersedia tidak mencukupi permintaan pemakai. Bila kekurangan inventori dapat ditempuh melalui pesanan ulang (back order) atau kehilangan permintaan (lost sales). Besarnya ongkos kekurangan inventori selama horison perencanaan

II - 26

merupakan perkalian antara ekspektasi jumlah kekurangan inventori (NT) selama horison perencanaan dan ongkos kekurangan inventori (cu), secara matematis dituliskan sebagai berikut: Ok = cu . NT Di mana:

Selanjutnya bila formula yang diperoleh ini (persamaan 9-14) disubstitusikan ke dalam persamaan (8), akan diperoleh rumusan totalongkos inventori (OT) sebagai berikut. ( )

N dapat dihitung dari tingkat pelayanan () atau probabilitas terjadinya kekurangan inventori ( ) seperti ditunjukkan pada persamaan (2)

sedangkan cu adalah ongkos kekurangan inventori per unit (Rp./unit). Variabel keputusan dalam model (15) adalah ukuran lot pemesanan (q0*) yang dapat dicari dengan menggunakan prinsip optimasi.syarat yang diperlukan agar ongkos inventori (OT) minimal adalah:

Dengan demikian ukuran kuantitas inventori mengalami perubahan dari model deterministik dengan adanya factor ongkos kekurangan ( sedangkan kapan pemesanan ulang dilakukan (reorder point) adalah: r*= Kebutuhan selama waktu ancang-ancang (L) r*= Kebutuhan rata-rata selama L+ cadangan pengaman II - 27 )

Dengan pendekatan model probabilistic sederhana ini maka kebijakan pengadaan inventori diatur sebagai berikut: a. Ukuran lot pemesanan
sebesar: selalu konstan untuk setiap kali pesan, yaitu

b. Pemesanan dilakukan pada saat inventori mencapai titik pemesanan ulang


(r) sebesar:

c. Cadangan pengaman sebesar:

II - 28