Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan investasi sangat berharga yang dimiliki seseorang. Walaupun kesehatan bukan segala-galanya, namun tanpa kesehatan segalagalanya sulit untuk terwujud. Atas dasar tersebut, berkembanglah sebuah paradigma yang disebut dengan paradigma sehat. Hidup sehat dan terhindar dari penyakit adalah impian setiap orang, apalagi di kalangan mahasiswa. Sehat menurut WHO adalah segala bentuk kesehatan badan, rohani/mental, dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat atau kelemahan-kelemahan. Sedangkan, Sehat menurut UU No. 23/1992 adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, upaya untuk mencapai kondisi tersebut hanya dapat dilakukan oleh sumber daya manusia yang sehat pula, terbebas dari penyakit yang dapat menghambatnya untuk dapat melakukan aktivitas pembangunan. Salah satu penyakit yang dapat menghambat aktivitas seseorang adalah penyakit gastritis (Yunus, 2008 ). Gastritis berasal dari kata gaster yang artinya lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan(Suyono ,2001). Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal (Lindseth,2005). Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung paling sering diakibatkan oleh ketidakteraturan diet, misalnya makan terlalu banyak dan cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau terinfeksi oleh penyebab yang lain seperti alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi (Brunner, 2000). Gastritis yang dikenal dengan penyakit maagh ini merupakan suatu peradangan atau perdarahan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi, dan
1

ketidakteraturan dalam pola makan, misalnya telat makan, makan terlalu banyak, makan cepat, makan makanan yang terlalu banyak bumbu, dan pedas (Dr. Suparyanto, M.Kes,2012). Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari 238,452,952 jiwa penduduk. Sedangkan berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2009, gastritis merupakan salah satu penyakit di dalam sepuluh penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah 30.154 kasus (4,9%). Menurut data dari World Health Organization (WHO) bahwa Indonesia mendapat urutan yang ke empat banyaknya jumlah penderita gastritis setelah Negara Amerika, Inggris dan Bangladesh yaitu berjumlah 430 juta penderita gastritis (Depkes RI, 2004). Di Negara-Negara Asia, Indonesia mendapat urutan ke tiga setelah negara India dan Thailand yaitu berjumlah 123 ribu penderita. Sedangkan di Indonesia sendiri kota yang penduduknya paling banyak menderita penyakit gastritis adalah Kota Jakarta yaitu 25 ribu penduduk. Pemicu dari penyakit gastritis di Ibu Kota Jakarta yaitu dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang padat dan berpotensi gila kerja sehingga mengakibatkan makan menjadi tidak teratur dan banyak menderita penyakit gastritis ini (Dinkes, 2004). Selain itu, berdasarkan survey terdahulu yang dilakukan pada tahun 2010 di Jakarta yang melibatkan 1.645 responden mendapatkan pasien dengan masalah gastritis mencapai 60%. Disamping itu, berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan tahun 2010 Tangerang Selatan menduduki peringkat kelima penyakit gastritis pada golongan semua umur mencapai 15.447 jiwa. Oleh karena itu, artinya masalah gastritis ini memang ada di masyarakat dan tentunya harus menjadi perhatian kita semua. Penyakit gastritis yang tidak ditanggulangi dengan cepat akan menyebabkan kanker lambung. Menurut data WHO (2005), kanker lambung merupakan jenis kanker penyebab kematian terbanyak kedua setelah kanker paru yaitu mencapai lebih dari 1 juta kematian pertahun.
2

Menurut penelitian Surya dan Marshall pada tahun 2007 hingga 2008 mengatakan gastritis yang tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan komplikasi yang mengarah kepada keparahan yaitu kanker lambung dan peptic ulcer (Raifudin, 2010). Oleh karena itu, apabila mahasiswa terus terusan mengabaikan kekambuhan gastritis dapat berdampak besar bagi kesehatan dan menghambat efektivitas perkuliahan mahasiswa. Padahal pada kenyataannya, Sakit maag atau dengan istilah ilmiah dikenal dengan dispepsia ini sangat menganggu aktivitas sehari-hari, baik bagi mahasiswa dan orang dewasa yang telah bekerja. Menjaga kesehatan lambung bukan saja untuk menghindari penyakit maag, tetapi merupakan investasi jangka panjang terutama menghindari kanker lambung (Syam, 2009). Apabila penyakit gastritis ini terus dibiarkan oleh mahasiswa, akan berakibat semakin parah dan akhirnya asam lambung akan membuat luka-luka (ulkus) yang dikenal dengan tukak lambung. Bahkan bisa juga disertai muntah darah (Arifianto, 2009). Beberapa faktor risiko gastritis adalah menggunakan obat aspirin atau anti radang non steroid, infeksi kuman Helicobacter pylori, memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol, memiliki kebiasaan merokok, sering mengalami stres, kebiasaan makan yaitu waktu makan yang tidak teratur, serta terlalu banyak makan makanan yang pedas dan asam. Ada hubungan antara pola makan dengan timbulnya gastritis (Putri, 2010). Menurut penelitian yang dilakukan Gustin pada tahun 2011 100% responden penelitiannya menderita gastritis dengan kebiasaan makan yang kurang baik. Berdasarkan studi pendahuluan peneliti tahun 2012 terhadap 10 responden, ternyata 60% mahasiswa Kedokteran di FKIK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tersebut penderita gastritis. Mereka mengatakan tidak teratur makan dan sering terlambat makan karena sibuk bekerja dan dia sering merasakan perutnya nyeri. Disamping itu, mereka juga sering mengabaikan gastritis ini apabila aktivitas perkuliahan mereka meningkat dan mengakibatkan mereka makan tidak teratur.
3

Oleh karena itu, berdasarkan data yang diperoleh dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti. Tingginya peningkatan kasus Gastritis serta komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit gastritis yang cukup mengkhawatirkan dan ini merupakan masalah kesehatan masyarakat khususnya pada mahasiswa. Oleh karena itu, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian adakah hubungan pola makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 dengan kejadian penyakit Gastritis di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012.

1.2. RUMUSAN MASALAH Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung paling sering diakibatkan oleh ketidakteraturan diet, misalnya makan terlalu banyak dan cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau terinfeksi oleh penyebab yang lain seperti alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi. Diketahui dengan pola makan yang tidak sehat dan tidak memperhatikan pola makan menyebabkan peningkatan prevalensi angka kesakitan gastritis pada mahasiswa. Diduga adanya faktor hubungan pola makan terhadap kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010. Oleh karen itu, untuk membuktikan ada hubungan atau tidak pola makan dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maka diperlukan penelitian ini.

1.3. PERTANYAAN PENELITIAN 1.3.1. Bagaimana gambaran kejadian gastritis mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ? 1.3.2. Bagaimana gambaran pola makan mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ? 1.3.3. Bagaimana hubungan pola makan dengan kejadian gastritis mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ?

1.4. TUJUAN PENELITIAN 1.4.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pola makan mahasiswa dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 1.4.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui gambaran kejadian penyakit gastritis mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 2. Untuk mengetahui gambaran pola makan mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 3. Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian Gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012.

1.4 MANFAAT 1.4.1. Bagi Mahasiswa Memberikan informasi dan gambaran kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa. Sehingga, mahasiswa dapat menjaga perilaku makan sesuai dengan PUGS dan tidak mengabaikan gastritis. 1.4.2. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian selanjutnya. Sehingga, peneliti selanjutnya dapat menemukan ide baru.

1.4.3. Bagi Responden Hasil penelitian ini memberikan gambaran kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa, sehingga responden juga tidak mengabaikan

kekambuhan gastritis. 1.5. RUANG LINGKUP Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 dengan kejadian penyakit gastritis di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012, dilakukan oleh Mahasiswa Kesehatan Masyarakat angkatan 2010 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Mei sampai Juni 2012. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei cross sectional. Data ini didapat dari data primer dan sekunder yaitu melalui kuisioner dan telaah tinjauan pustaka.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gastritis 2.1.1. Definisi Definisi Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal (Sylvia A. Price, 1995). Sedangkan menurut Dr. Robert B. Cooper (1996) mengemukakan bahwa gratitis adalah suatu iritasi atau infeksi yang menjadikan dinding merah, bengkak, berdarah dan berparut. Gratitis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999). Gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi, dan ketidakteraturan dalam pola makan misalnya makan terlalu banyak, cepat, telat makan, makan makanan yang terlalu banyak bumbu dan pedas (Suddarth. 2001). Sedangkan menurut Sujono Hadi (1999) gastritis adalah inflamasi dari lambung terutama pada mukosa gaster. Klasifikasi gastritis akut (inflamasi mukosa lambung) sering akibat diet sembrono. Individu ini makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikro organisme penyebab penyakit. Gastritis secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan pada manifestasi klinis, gambaran yang khas, distribusi anatomi, kemungkinan patogenesis gastritis, terutama gastritis kronis. Didasarkan pada manifestasi klinis, gastritis dapat dibagi menjadi gastritis akut dan gastritis kronik, selain itu gastritis juga dikelompokkan menjadi penyakit maag yang organik dan penyakit maag fungsional. 2.1.2. Patofisiologi Seluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosif karena keadaan klinis yang berat belum diketahui benar. Gastritis terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensive. Faktor agresif itu terdiri dari asam lambung, pepsin, AINS, empedu, infeksi virus, infeksi bakteri,

bahan korosif: asam dan basa kuat. Sedangakan faktor defensive tersebut terdiri dari mukus, bikarbonas mukosa dan prostaglandin mikrosirkulasi.(Hirlan, 2001).
2.1.2.1. Gastritis Akut

Gastritis akut dapat di sebabkan oleh karena stress, zat kimia, misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang mengalami stress akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus Vagus) yang akan meningkatkan produksi asam klorida (HCI) di dalam lambung. Adanya HCI yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumnar, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCI (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCI meningkat. Selain itu, Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini di timbulkan oleh karna kontak HCI dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah perdarahan. 2.1.2.2. Gastritis Kronis Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster, yaitu: destruksi kelenjar dan
8

metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan (Price, sylvia dan Wilson, Lorraine, 1999). 2.1.3. Tipe Tipe Gastritis 2.1.3.1.Gastritis akut Merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas. Biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil. Jenisnya adalah gastritis stress akut, gastritis erosive kronis, gastritis eosinofilik dan gastritis bakterialis. Salah satu bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya dapat berbentuk penyakit yang berat adalah gastritis erosiva atau gastritis haemorrhagic, disebut gastritis haemorrhagic karena penyakit ini dijumpai perdarahan mukosa lambung dan terjadi erosi yang berarti hilangya kontinuitas mukosa lambung pada beberapa tempat, menyertai infeksi pada mukosa lambung (Herlan,2001). Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi ganggren atau perforasi. Pembentukan jaringan parut dapat terjadi yang mengakibatkan obstruksi pylorus (Brunner & Suddarth, 2003). Gastritis akut dapat disebabkan oleh beberapa hal : a. Iritasi yang disebabkan oleh obat-obatan, aspirin, obat antiinflamasi nonsteroid
9

b. Adanya asam lambung dan pepsin yang berlebihan c. Dalam sebuah jurnal kedokteran, peneliti dari Unversitas Leeds, mengungkapkan stress dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang. Saat stres, orang cenderung makan lebih sedikit, stres juga menyebabkan perubahan hormonal dalam tubuh dan merangsang produksi asam lambung dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, lambung terasa sakit, nyeri, mual, mulas, bahkan bisa luka (OConnor, 2007). d. Waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan, atau sering makan berlebihan. e. Menurut penelitian yang dilakukan Herlan pada tahun 2001 sekitar 20% faktor etiologi dari gastritis akut yaitu terlalu banyak makanan yang berbumbu, pada orang yang sering meminum Alkohol, bahan kimia lainya yang dapat menyebabkan peradangan dan perlukaan pada lambung. f. Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung, yaitu trauma, luka bakar, dan sepsis. 2.1.3.2. Gastritis kronis Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multifaktor dengan perjalanan kilnik bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan infeksi H. Pylori. Gratitis kronis merupakan inflamasi lambung yang lama, dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligma dari lambung atau oleh bakteri Helicobacter Pylory (H. Pylory). Gastritis Kronis Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut gastritis Auto imun) diakibatkan dari sel pariatel yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. Pylory) mempengaruhi antrum dan pilorus (ujung bawah lambung dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H. Pylory; faktor diet seperti
10

minum panas atau pedas; penggunaan obat-obatan atau alkohol; merokok atau refluk isi usus ke dalam lambung.

2.2. Penyebab Gastritis Gastritis dapat di sebabkan oleh terlalu banyak minum alkohol, penggunaan obat-obatan anti peradangan non steroid jangka panjang (NSAIDs) seperti aspirin atau ibuprofen atau infeksi bakteri-bakteri seperti Helicobacter Plylori (H. Pylori) yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung, atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa, penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi dan menyebabkan gastritis, anemia pernisiosa berkembang dan

menyebabkan gastritis, obat yang dapat sangat mengiritasi mukosa gastrik, contohnya aspirin, bahan makanan yang dapat merusak mukosa gastrik, misanya bumbu dan rempah-rempah, alkohol serta radiasi dan kemoterapi. Akan tetapi, adanya penyebab lainnya seperti: 2.2.1. Pola makan Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari (Persagi, 1999). Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atas sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makan, dan frekuensi makan yang berdasarkan faktor sosial, budaya dimana mereka hidup (Baliwati, 2004). Pola makan merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Ranti, 2004). Orang yang memiliki pola makan tidak teratur mudah terserang penyakit ini. Pada saat perut harus di isi, tapi dibiarkan kosong, atau di tunda pengisiannya, asam
11

lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri. Makan terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit ini. Penyabab lain dari gastritis akut adalah mencakup alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi (Brunner & Suddarth, 2002). Pola makan terdiri dari : 2.2.1.1.Frekuensi Makan Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Uripi, 2002). Orang yang memiliki pola makan tidak teratur mudah terserang penyakit gastritis. Pada saat perut harus diisi, tapi dibiarkan kosong, atau ditunda pengisiannya, asam lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri (Ester, 2001). Kebiasaan makan tidak teratur ini akan membuat lambung sulit untuk beradaptasi. Jika hal itu berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung dan dapat berlanjut menjadi tukak peptik. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa perih dan mual. Gejala tersebut bisa naik ke kerongkongan yang menimbulkan rasa panas terbakar (Nadesul, 2005). 2.2.1.2.Jenis makanan Jensi makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang (Persagi, 1999). Makanan pokok adalah makanan yang dianggap memegang peranan penting dalam susunan hidangan. Pada umumnya makanan pokok berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam tubuh dan memberi rasa kenyang (Achmad, 2004).
12

Pada kasus penyakit Gastritis jenis makanan tertentu akan merangsang dinding lambung, sehingga terjadi radang atau luka, seperti makan yang pedas atau asam. Gastritis akut, faktor penyimpangan makan merupakan titik awal yang mempengaruhi terjadinya perubahan dinding/lambung. Peningkatan produk cairan lambung dapat dirangsang oleh konsumsi makanan atau minuman, cuka, cabai, kopi, alkohol serta makanan lain yang bersifat merangsang juga dapat mendorong timbulnya kndisi tersebut. Pada akhirnya kekuatan dinding lambung menurun, tidak jarang kondisi seperti ini menimbulkan luka pada dinding lambung (Uripi, 2002). 2.2.1.3.Porsi makan Porsi atau jumlah makan merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan. Porsi makanan pokok yang harus dikonsumsi itu nasi 100 gram dan roti tawar 50 gram (Achmad, 2004). Setiap orang harus makan makanan dalam jumlah benar sebagai bahan bakar untuk semua kebutuhan tubuh. Jika konsumsi makanan berlebihan, kelebihannya akan disimpan di dalam tubuh dan menyebabkan obesitas (kegemukan). Selain itu, Makanan dalam porsi besar dapat menyebabkan refluks isi lambung, yang pada akhirnya membuat kekuatan dinding lambung menurun. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan peradangan atau luka pada lambung (Baliwati, 2004). 2.2.2. Stres Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, seperti beban kerja yang berebihan, cemas, takut, atau terburu-buru. Kadar asam lambung yang meningkat ini akan menimbulkan ketidak nyamanan pada lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat (Coleman,1995). Faktor psikologi Stress baik primer maupun sekunder dapat merangsang peningkatan produksi asam-asam gerakan paristaltik lambung. Stress berat (sekunder) akibat kebakaran, kecelakaan maupun pembedahan sering pula menyebabkan tukak lambung akut. Infeksi bakteri Gastritis akibat infeksi bakteri dari luar tubuh jarang terjadi sebab bakteri tersebut akan terbunuh oleh asam
13

lambung. Kuman penyakit atau infeksi bakteri penyebab gastritis, umumnya berasal dari dalam tubuh penderita bersangkutan. 2.2.3. Pemakaian Obat (NSAIDs) Obat-obatan yang mengandung salisilat misalnya aspirin (sering digunakan sebagai obat pereda nyeri) dalam tingkat konsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan gastritis (Uripi, 2002). Oleh karena itu, obat-obat tertentu harus di konsumsi sesudah makan. Beberapa di antaranya adalah obat penghilang rasa sakit dari golongan salisilat dan asam mefenamat (misal: aspirin, ponstan) obatobat rematik juga termasuk di dalamnya. Efek salisilat terhadap saluran cerna adalah perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada pemakaian dalam dosis besar. Aspirin merupakan agen-agen yang sering memicu gastritis (Prince, 2001). 2.2.4. Alkohol Mengkonsusmsi alkohol secara berlebihan dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal. Alkohol yang terdapat dalam minuman seperti bir, anggur, dan minuman keras lainnya terdapat dalam bentuk etil alkohol atau etanol (Almatsier, 2002). Organ tubuh yang berperan besar dalam metabolisme alkohol adalah lambung dan hati, oleh karena itu efek dari kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang tidak hanya berupa kerusakan hati atau sirosis, tetapi juga kerusakan lambung. Dalam jumlah sedikit, alkohol merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual, sedangkan dalam jumlah banyak, alkohol dapat mengiritasi mukosa lambung dan duodenum. Konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak mukosa lambung, memperburuk gejala tukak peptik, dan mengganggu penyembuhan tukak peptik. Alkohol mengakibatkan menurunnya kesanggupan mencerna dan menyerap makanan karena ketidakcukupan enzim pankreas dan perubahan morfologi serta fisiologi mukosa gastrointestinal (Beyer 2004).
14

2.2.5. Helicobacter Pylori Helicobacter pylori adalah kuman Gram negatif, basil yang berbentuk kurva dan batang. Helicobacter pylori adalah suatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis (gastritis) pada manusia. Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri Helicobacter pylori yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi Helicobacter pylori sering terjadi pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi Helicobacter pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya ulkus peptikum dan penyebab tersering terjadinya gastritis (Prince, 2005). 2.2.6. Usia Usia tua memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gastritis dibandingkan dengan usia muda. Hal ini menunjukkan bahwa seiring dengan bertambahnya usia mukosa gaster cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki infeksi Helicobacter Pylory atau gangguan autoimun daripada orang yang lebih muda. Sebaliknya,jika mengenai usia muda biasanya lebih berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat. Kejadian gastritis kronik, terutama gastritis kronik antrum meningkat sesuai dengan peningkatan usia. Di negara Barat, populasi yang usianya pada dekade ke6 hampir 80% menderita gastritis kronik dan menjadi 100% pada saat usia mencapai dekade ke-7. Selain mikroba dan proses imunologis, faktor lain juga berpengaruh terhadap patogenesis Gastritis adalah refluks kronik cairan penereatotilien, empedu dan lisolesitin (Suyono, 2001).

15

2.3.Manifestasi Klinis 2.3.1. Gastritis akut Sindrom dispepsia berupa berupa nyeri epigastrium, mual, kembung dan muntah merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula

perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian disesuaikan dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya, jika dilakukan anamnesis lebih dalam, tanpa riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu (Mansjoer, 1999). Ulserasi superfisial yang dapat terjadi dan dapat menimbulkan Hemoragi, ketidaknyamanan abdomen (dengan sakit kepala, mual dan anoreksia) dan dapat terjadi muntah, serta cegukan beberapa pasien adalah asimtomatik, kolik dan diare dapat terjadi jika makanan pengiritasi tidak dimuntahkan, tetapi mencapai usus besar, pasien biasanya sembuh kira-kira dalam sehari meskipun nafsu makan kurang atau menurun selama 2 sampai 3 hari (Monica Ester, 2002). Keluhannya bervariasi, mulai dari yang sangat ringan sampai asimtomatik sampai sangat berat yang dapat membawa kematian. 2.3.2. Gastritis kronis Gastritis kronis Tipe A biasanya meliputi asimtomatik kecuali untuk gejala defisiensi B 12 dan pada Gastritis Tipe B pasien mengeluh anoreksia, sakit ulu hati setelah makan, bersendawa, rasa pahit atau mual dan muntah (Ester, 2002). Kebanyakan tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri hati, anoreksia, nusea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan (Mansjoer, 2001). 2.4. Penatalaksanaan Gastritis 2.4.1. Gastritis Akut Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya, diet lambung dengan posisi kecil dan sering. Obat-obatan ditujukan untuk mengatur sekresi asam lambung berupa antagonis reseptor H2 Inhibition pompa proton, antikolinergik dan antasid juga ditujukan sebagai sifo protektor berupa sukralfat dan
16

prostaglandin (Mansjoer, 1999). Penatalaksanaan sebaiknya meliputi pencegahan terhadap setiap pasien dengan resiko tinggi, pengobatan terhadap penyakit yang mendasari dan menghentikan obat yang dapat menjadi kuasa dan pengobatan suportif. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian antasida dan antagonis H2 sehingga mencapai PH lambung 4. Meskipun hasilnya masih jadi perdebatan, tetapi pada umumnya tetap dianjurkan.Pencegahan ini terutama bagi pasien yang menderita penyakit dengan keadaan klinis yang berat. Untuk pengguna aspirin atau anti inflamasi nonsteroid pencegahan yang terbaik adalah dengan Misaprostol, atau Devivat Prostaglandin Mukosa. Dahulu sering dilakukan kuras lambung dengan air es untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas, karena tidak ada bukti klinis yang dapat menunjukkan manfaat tindakan tersebut untuk menghenti-kan perdarahan saluran cerna bagian atas, pemberian antasida, antagenis H2 dan sukralfat tetap dianjurkan walaupun efek teraupetiknya masih diragukan. Biasanya perdarahan akan segera berhenti bila keadaan si pasien membaik dan lesi mukosa akan segera normal kembali, pada sebagian pasien biasa mengancam jiwa. Tindakan-tindakan itu misalnya dengan endoskopi skleroterapi, embolisasi arteri gastrika kiri atau gastrektomi. Gastrektomi sebaiknya dilakukan hanya atas dasar abolut (Herlan, 2001). Penatalaksanaan medikal untuk gastritis akut dilakukan dengan menghindari alkohol dan makanan sampai gejala, dilanjutkan diet tidak mengiritasi. Bila gejala menetap, diperlukan cairan intravena. Bila terdapat perdarahan, penatalaksanaan serupa dengan pada hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila Gastritis dihubungkan dengan alkali kuat, gunakan jus karena adanya bahaya perforasi. 2.4.2. Gastritis Kronis Faktor utama adalah ditandai oleh progesif epitel kelenjar disertai sel parietal dan chief cell. Dinding lambung menjadi tipis dan mukosa mempunyai
17

permukaan yang rata, Gastritis kronis ini digolongkan menjadi dua kategori Tipe A (Altrofik atau Fundal) dan tipe B (Antral). Gastritis kronis Tipe A disebut juga gastritis altrofik atau fundal, karena mempunyai fundus pada lambung Gastritis kronis Tipe A merupakan suatu penyakit auto imun yang disebabkan oleh adanya auto antibodi terhadap sel. Parietal kelenjar lambung dan faktor intrinsik dan berkaitan dengan tidak adanya sel parietal dan Chief Cell, yang menurunkan sekresi asam dan menyebabkan tingginya kadar gastrin.Gastritis kronis Tipe B disebut juga sebagai gastritis antral karena umunya mengenai daerah atrium lambung dan lebih sering terjadi dibandingkan dengan Gastritis kronis Tipe A. Penyebab utama gastritis Tipe B adalah infeksi kronis oleh Helicobacter Pylory. Faktor etiologi gastritis kronis lainnya adalah asupan alkohol yang berlebihan, merokok, dan refluks dapat mencetuskan terjadinya ulkus peptikum dan karsinoma. Pengobatan gastritis kronis bervariasi, tergantung pada penyakit yang dicurigai. Bila terdapat ulkus duodenum, dapat diberikan antibiotik untuk membatasi Helicobacter Pylory. Namun demikian lesi tidak selalu muncul dengan gastritis kronis alkohol dan obat yang diketahui mengiritasi lambung harus dihindari. Bila terjadi anemia defisiensi besi (yang disebabkan oleh perdarahan kronis), maka penyakit ini harus diobati, pada anemia pernisiosa harus diberi pengobatan vitamin B.12 dan terapi yang sesuai. Gastritis kronis diatasi dengan memodifikasi diet dan meningkatkan istirahat mengurangi dan memulai farmakoterapi. Helicobacter Pylory dapat

diatasi dengan antibiotik (seperti Tetrasiklin atau Amoxicillin) dan garam bismut (Pepto bismol). Pasien dengan Gastritis Tipe A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B.12. 2.5. Perilaku Pencegahan Gastritis Penyakit maag sangat umum ditemui di Indonesia. Dari survey yang dilakukan di Jakarta tahun 2007 yang melibatkan 1645 responden diperoleh
18

informasi bahwa pasien dengan masalah sakit maag ini mencapai angka 60%. Sakit maag juga bisa menjadi salah satu gejala dari kanker lambung. Sakit maag yang berulang kali dan tidak sembuh walaupun sudah diobati, lebih baik segera diperiksakan ke dokter. Karena tingkat kesadaran masyarakat (termasuk mahasiswa) masih sangat rendah mengenai pentingnya cara menjaga kesehatan lambung. Padahal pada kenyataannya, Sakit maag atau dengan istilah ilmiah dikenal dengan dispepsia ini sangat menganggu aktivitas sehari-hari, baik bagi remaja di masa sekolah dan orang dewasa yang telah bekerja. Menjaga kesehatan lambung bukan saja untuk menghindari penyakit maag, tetapi merupakan investasi jangka panjang terutama menghindari kanker lambung (Syam, 2009). Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit naiknya asam

lambung. Salah satunya adalah konsumsi garam yang terlalu banyak. Selain meminum alkohol, kafein, dan merokok yang semua dapat menambah risiko naiknya asam lambung, ternyata garam dapat menyebabkan dan memperburuk penyakit tersebut. Temuan ini sesuai dengan penelitian para peneliti dari Swedia. Mereka menemukan dari gaya hidup orang-orang yang dijadikan sampel, konsumsi garam meja yang berlebih dapat meningkatkan risiko mengalami penyakit naiknya asam lambung hingga 70%. Hal ini mengkhawatirkan karena sudah tersirat bahwa konsumsi garam meja berlebih lebih berbahaya daripada alkohol dan kafein. Sebuah studi terkait yang dilakukan oleh Roshini Rajapaksa tahun 2009 dari New York University Medical Center membuktikan hasil yang sama mengenai risiko terlalu banyaknya konsumsi garam meja, selain itu penyakit lambung diyakini dipicu oleh stres dan gaya hidup. Tetapi setelah dilakukan penelitian menyebutkan bahwa luka pada lambung dan radang usus terutama disebabkan oleh serangan bakteri bernama Helicobacter pylori. (Marshall dan Warren, 2005). Bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan satu-satunya bakteri yang hidup di lambung. Bakteri ini dapat menginfeksi lambung sejak anak-anak
19

dan menyebabkan penyakit lambung kronis. Jika dibiarkan, akan menimbulkan masalah sepanjang hidup. Bakteri H. pylori menginfeksi tubuh seseorang melalui oral, baik secara fecal-oral maupun oral-oral. Fecal-oral artinya bila feses seseorang yang terinfeksi bakteri ini kontak dengan makanan, air, dan benda lain yang kemudian masuk ke dalam tubuh orang lain akibat kurang higienis. Sedangkan disebut oral-oral bila perpindahan bakteri terjadi melalui ludah atau muntahan seseorang yang mengandung bakteri ini. Misalnya, melalui penggunaan gelas, sendok, atau piring makan secara bersama-sama, apabila tidak menjaga kebersihan lingkungan dengan baik maka akan beresiko untuk terkena penyakit gastritis ini (Syam, 2009). Bila penyakit maag sudah disadari oleh penderitanya, sebaiknya tidak dibiarkan berlanjut terus sehingga menjadi tukak lambung. Prinsip

penanganannya adalah diet atau pengaturan makan. Jangan biarkan perut lama dalam keadaan kosong. Keadaan kosong ini dapat mengakibatkan asam lambung yang sudah diproduksi tidak mempunyai bahan untuk dicerna atau digiling, dan pada akhirnya dinding lambung itu akan mengikis dinding lambung itu sendiri (Arifrianto, 2009). Selain itu, jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan atau minuman pedas dan asam. Hindari makanan berlemak, karena lemak memang sulit dicerna oleh lambung. Selain itu, tekstur makanan sebaiknya lembut (lunak). Sering mengkonsumsi air putih, karena bisa mengurangi sifat asam dari makanan atau minuman tersebut. Kurangi mengkonsumsi minuman teh, kopi atau soft drink. Porsi makanan sebaiknya tidak terlalu banyak, tetapi sedikit dengan frekuensi sering., Bila harus mengkonsumsi obat-obatan penahan nyeri (analgetik), maka sebaiknya diminum setelah makan dan tidak dalam keadaan kosong (Supriatna, 2009). Bila disiplin dalam mengatur makanan ini, maka kemungkinan kambuhnya gastritis tidak akan terjadi, untuk menetralkan asam lambung sangat membantu meringankan penderitaan, misalnya, obat-obatan antasida. Bila dengan obat ini belum bisa teratasi, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter (Fahrur, 2009).
20

2.6. Diagnosis Gastritis Untuk menegakka diagnosa gastritis dilakukan berbagai macam tes diantaranya : 1. Tes darah Tes darah untuk melihat adanya antibodi terhadap serangan Helicobacter pylori. Hasil test yang positif menunjukkan bahwa seseorang pernah mengalami kontak dengan bakteri Helicobacter pylori dalam hidupnya, tetapi keadaan tersebut bukan berarti seseorang telah terinfeksi Helicobacter pylori. Tes darah juga dapat digunakan untuk mengecek terjadinya anemia yang mungkin saja disebabkan oleh perdarahan karena gastritis (Anonim, 2010). 2. Breath test Test ini menggunakan tinja sebagai sampel dan ditujukan untuk mengetahui apakah ada infeksi Helicobacter pylori dalam tubuh seseorang. 3. Stool test Uji ini digunakan untuk mengetahui adanya Helicobacter pylori dalam sampel tinja seseorang. Hasil test yang positif menunjukkan orang tersebut terinfeksi Helicobacter pylori. Biasanya dokter juga menguji adanya darah dalam tinja yang menandakan adanya perdarahan dalam lambung karena gastritis. 4. Endoskopi Test ini dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada lambung yang mungkin tidak dapat dilihat dengan sinar X. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esophagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dimatirasakan (anestesi), sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit
21

sampel (biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop (Anonim,2010). 5. Rongent Test ini dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada lambung yang dapat dilihat dengan sinar X. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan rontgen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.

22

2.7. Teori Tentang Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Gastritis Gambar 2.1 Kerangka Teori

Tinjaun Umum tentang Variabel yang akan diteliti

Tinjauan Umum tentang Variabel yang tidak akan diteliti

1. Pola makan - Frekuensi makan - Jenis makan - Porsi makan

1. Alkohol 2. Helicobacter Pylori 3. Pemakaian Obat (NSAIDs) 4. Stress 5. Usia

Penyakit Gastritis BAB III

23

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan pedoman untuk penelitian dan merupakan model untuk menunjukkan adanya hubungan antar variabel independen dan variabel dependen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian penyakit gastritis yang meliputi variabel yang akan diteliti dan variabel yang tidak akan diteliti. Variabel yang akan diteliti yaitu, pola makan yang terdiri dari frekuensi makan, jenis makanan seperti makanan pedas, porsi makan dan variabel yang tidak akan diteliti yaitu, alkohol, pemakaian obat (NSAIDs), Infeksi Helicobacter Pylori, stress, dan Usia. Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 dibawah ini, namun pada penelitian ini terdapat juga variabel yang tidak akan diteliti karena variabel ini tidak secara langsung mempengaruhi kejadian gastritis tetapi merupakan faktor pemicu. Adapun gambaran dari kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada gambar sebagai berikut : Gambar Kerangka konsep 3.1

Variabel Independen

Variabel Dependen

Variabel yang akan diteliti : 1. Pola makan Frekuensi makan Jenis makanan Porsi makan Penyakit Gastritis

24

3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian

N o 1.

Variabel

Definisi Operasional

Cara ukur

Alat ukur

Penyakit Gastritis

Gastritis adalah suatu Dengan cara Kuisioner peradangan perdarahan atau menyebar pada Kuisioner

Skala pengukura n Ordinal

Hasil ukur

Terjadi gastritis jika nilai median 1 dan tidak terjadi gastritis jika nilai median 1.

mukosa lambung yang kepada disebabkan oleh faktor responden iritasi, infeksi, dan

ketidakteraturan dalam pola makan misalnya makan terlalu banyak, cepat, telat makan,

makan makanan yang terlalu banyak bumbu dan pedas. 2. Pola makan Pola makan adalah cara Dengan cara Kuisioner atau perilaku yang menyebar Ordinal Tingkat pola makan teratur jika > median = 8 dan pola

dikonsumsi setiap hari

seseorang Kuisioner meliputi kepada

jenis makanan, jumlah responden makan, dan frekuensi makan tetap.


25

tingkat

makan tidak teratur jika < median = 8.

yang

relatif

3.

Frekuensi makan

Frekuensi makan adalah Dengan cara Kuisioner jumlah makan dalam menyebar sehari-hari kualitatif kuantitatif. baik Kuisioner dan kepada responden

Ordinal

Frekuensi makan jika < 2 kali sehari mediannya = 7 frekuensi makan jika < 2 kali sehari nilai median <7 dan

Jenis Makanan

Jensi makanan adalah Dengan cara Kuisioner variasi bahan makanan menyebar yang sering dikonsumsi Kuisioner mahasiswa. kepada responden

Ordinal

Jenis makanan yang dikonsumsi rasa dan asam pedas

jika > median = 2 dan jenis makanan yang dikonsumsi tidak asam rasa dan

pedas jika < median = 2

26

5.

Porsi makan

Porsi

makan

adalah Dengan cara Kuisioner

Ordinal

Jumlah porsi makan tidak sebanyak 200 gram atau < dari 2

suatu takaran makanan menyebar yang dikonsumsi Kuisioner

mahasiswa pada tiap kepada kali makan. responden.

centong dan jumlah porsi makan sebanyak 200 gram sebanyak centong. atau 2

3.3. Hipotesis 1. Ada hubungan pola makan dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 2. Ada hubungan frekuenis makan dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 3. Ada hubungan jenis makan dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 4. Ada hubungan porsi makan dengan kejadian penyakit gastritis pada mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012.

27

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional dimana variabel independent sebagai pola makan yang terdiri dari

frekuensi makan, jenis makan dan porsi makan dan variabel dependent sebagai penyakit gastritis yang bersifat Analitik, karena pengambilan subjek tidak dimulai dari identifikasi kelompok, pemilihan subjek dilakukan secara Non Random dari populasi yang ada, lalu diperiksa kejadian gastritis mahasiswa dan diadakan juga wawancara kepada mahasiswa. 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di Kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu mulai bulan Mei sampai Juni 2012. 4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoadmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan populasi mahasiswa berjumlah 96 orang yang berusia lebih dari 18 tahun dan tinggal di Jakarta. 4.3.2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel pada penelitian ini diambil dari sebagian populasi yaitu mahasiswa Kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling
28

didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri. Sampel pada penelitian ini 50 responden yang diambil dari sebagian populasi mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditentukan sebagai unit observasi/ pengamatan dalam lingkungan

mahasiswa, sesuai dengan kuisioner yang telah disiapkan. 4.4. Metode Pengumpulan Data Pengambilan data dimulai setelah memperoleh perizinan dari pihak Kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sampel pada penelitian ini responden yang telah memenuhi kriteria. Setelah mendapatkan izin maka peneliti mengidentifikasi responden penelitian dan peneliti mulai menyebarkan kuisioner pada masing masing responden. Peneliti juga memberikan tujuan, manfaat dari penelitian ini dan meminta responden untuk bersedia menjadi responden dengan mengisi kuisioner. Kemudian membagikan kuisioner pada responden,

memberikan waktu pada responden untuk mengisi kuisioner. Setelah pertanyaan kuisioner di isi, peneliti mengambil kuisioner dan dikumpulkan. 4.5. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini sebagai pengumpul data berupa Kuisioner Responden. Kuisioner terdiri dari biodata subjek peneliti, pertanyaan terkait pola makan, dan pertanyaan untuk mengetahui kejadian gastritis. Dibawah ini adalah beberapa variabel yang diteliti oleh peneliti :

29

Tabel IV.I Variabel Penelitian dan Instrumen Peneitian

No 1.

Variabel Penelitian Penyakit Gastritis

Instrumen Penelitian Kuisioner mahasiswa kedokteran angkatan 2010 tahun 2012 Kuisioner mahasiswa kedokteran angkatan 2010 tahun 2012

2.

Pola makan

3.

Frekuensi makan

Kuisioner mahasiswa kedokteran angkatan 2010 tahun 2012

4.

Jenis makanan

Kuisioner mahasiswa kedokteran angkatan 2010 tahun 2012

5.

Porsi makan

Kuisioner mahasiswa kedokteran angkatan 2010 tahun 2012

4.6. Manajemen Data Pengolahan atau manajemen data terdiri dari serangkaian tahapan yang harus dilakukan agar data siap untuk diuji statistik dan dilakukan analisi atau interpretasi (Amran Yuli, 2012). Pengolahan data dapat dikelompokan menjadi : 1. Data Coding Data coding yaitu merupakan kegiatan mengklasifikasikan data dan memberi kode untuk masing masing kelas sesuai dengan tujuan

dikumpulkannya data. 2. Data Editing

30

Data editing adalah penyuntigan data dilakukan sebelum proses pemasukan data. Penyuntingan data sebaiknya dilakukan di lapangan agar data yang salah atau meragukan masih dapat ditelusuri kembali kepada responden atau informasi yang bersangkutan. 3. Data Structure Data structure dikembangkan sesuai dengan analisis yang akan dilakukan dan jenis perangkat lunak yang dipergunakan. Pada saat melakukan data structure, bagi masing masing variabel perlu ditetapkan ; nama, skala ukur variabel, jumlah digit. 4. Data Entry Data entry merupakan proses memasukkan data ke dalam program atau fasilitas analisis data. Dalam penelitian ini entry data dilakukan dengan program SPSS (Statistical Program for social Siences). 5. Data Cleaning Data cleaning merupakan proses pembersihan data setelah data di entri. Cara yang dilakukan yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel variabel dan menilai kelogisannya. Setelah data di cleaning di komputer maka data siap untuk di analisis dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu dan menggunakan program analisis data yaitu SPSS. 4.7. Analisa Data Analisa data Univariat dilakukan pada setiap variabel hasil penelitian, dan analisa Bivariat dilakukan terhadap dua variabel independen dan variabel dependen yang saling berhubungan (Notoadmodjo, 2005). 1. Analisa Univariat yaitu analisa yang dilakukan untuk menjelaskan dan mendeskriptifkan karakteristik masing masing variabel yang diteliti.
31

Variabel yang diteliti itu adalah pola makan yang terdiri dari frekuensi makan, jenis makana, porsi makan, dan kejadian gastritis. 2. Analisa Bivariat yaitu analisa yang dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dan variabel dependen dilakukan dengan uji Chi-square. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui hubungan variavel independen yaitu pola makan dengan variabel dependen yaitu penyakit gastritis. Penelitian ini dilakukan dengan uji Chi-square Test dan independen T-tes, dengan Pvalue 0,05 artinya ada hubungan signifikan secara statistik antara variabel independen dan dependen, dan Pvalue 0,05 yang artinya tidak ada hubungan signifikan secara statistik antara variabel independen dan variabel dependen. Untuk melihat besarnya hubungan dilihat dari nilai odds ratio (OR). Rumus uji chi-square adalah sebagai berikut :
( )

Keterangan : = Statistic chi-square = Nilai observasi = Nilai yang diharapakan Setelah didapatkan nilai maka dibandingkan dengan nilai dari tabel maka

akan didapat kriteria pengujian sebagai berikut : ditolak maka diterima apabila ditolak apabila tabel tabel

gagal ditolak maka

Misalnya juga dengan membandingkan nilai P-value dengan nilai alpha (0,05) diterima maka ditolak maka
32

ditolak apabila P-value diterima apabila P-value

0,05 0,05

Sehingga untuk mempermudah analisa nilai chi-square, nilai data dari kedua variabel disajikan dalam bentuk tabel silang : Tabel IV.2 Analisa chi-square Variabel II Variabel I Ya Tidak Jumlah Tinggi A C a+c Rendah B D b+d Jumlah a+b c+d N

Dari Tabel diatas dapat disimpilkan bahwa nilai a,b,c,d adalah nilai observasi yaitu dari hasil pengamatan, dan nilai harapan (expected) masing masing dapat dicari dengan rumus : Keterangan : Expected nilai a a + b = Total nilai baris a + c = Total nilai kolom a + b + c + d = Total nilai keseluruhan
( ) ( )

Untuk melihat hasil kemaknaan dari penghitungan nilai Statistik maka digunakan batas kemagnaan 0,05. Penolakan terhadap hipotesa ( ) apabila P-

value < 0,05 maka (ada hubungan yang bermakna) sedangkan apabila tidak ada penolakan terhadap hipotesa ( bermakna). ) maka P-value > 0,05 ( tidak ada hubungan yang

33

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1. Analisis Univariat Analisis Univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskriptifkan karakteristik masing masing variabel yang diteliti. Analisis Univariat ini terdiri dari : pola makan yaitu, frekuensi makan, jenis makan, porsi makan dan kejadian gastritis. Total jumlah sampel yang terdiri dari mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah sebesar 50 responden dan tidak ada data yang hilang ataupun missing baik dari data pola makan yaitu, frekuensi makan, porsi makan, jenis makan dan kejadian gastritis.

Tabel V.1 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Frekuensi makan mahasiswa kedoteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

Frekuensi makan >2 kali sehari < 2 kali sehari

Jumlah 19 31

Persen (%) 38,0 62,0

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang < 2 kali sehari sebanyak 31 responden (62,0 % ) dan responden yang > 2 kali sehari sebanyak 19 responden (38,0 % ). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas lebih banyak frekuensi makan responden < 2 kali sehari dibandingkan frekuensi makan > 2 kali sehari.

34

Tabel V.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Porsi makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

Porsi makan >200 gram sehari < 200 gram sehari

Jumlah 17 33

Persen (%) 34,0 66,0

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang porsi makan < 200 gram sehari sebanyak 33 responden (66,0 % ) dan responden yang porsi makan > 200 gram sehari sebanyak 17 responden (34,0 % ). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas dengan porsi makan < 200 gram sehari.

Tabel V.3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

Jenis makan Makan asam dan pedas Tidak makan asam dan pedas

Jumlah 32 18

Persen (%) 64,0 36,0

35

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang jenis makanan tidak makan asam dan pedas sebanyak 18 responden (36,0 %) dan responden yang makan asam dan pedas sebanyak 32 responden (64,0 %). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden lebih banyak yang menyukai jenis makanan asam dan pedas dibandingkan dengan jenis makanan tidak asam dan pedas.

Tabel V.4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pola makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

Pola makan Teratur Tidak teratur

Jumlah 29 21

Persen (%) 58,0 42,0

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang pola makannya teratur sebanyak 29 responden (58,0 %) dan yang pola malannya tidak teratur sebanyak 21 responden (42,0 %). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden pola makannya banyak yang teratur dibandingkan dengan pola makan yang tidak teratur.

36

Tabel V.5 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan kejadian gastritis mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

Gatritis Ya Tidak

Jumlah 31 19

Persen (%) 62,0 38,0

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang tidak terjadi gastritis sebanyak 19 responden (38,0 %) dan yang terjadi gastritis sebanyak 31 responden (62,0 %). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden lebih banyak terjadi gastritis dibandingkan dengan tidak terjadi gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010.

37

5.2. Analisis Bivariat

Tabel V.6 Hubungan frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Frekuensi makan N Ya % N Gastritis Tidak % N % total OR (95 % CI) P value

<2 kali sehari

16

84,2

15,8

19

100

5.689 (1.375 23.539) 0,016

>2 kali sehari Total

15 31

48,4 62,0

16 19

51,6 38,0

31 50

100 100

Pada tabel V.6 diatas menunjukkan bahwa analisa hubungan frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada frekuensi makan yang < 2 kali sehari sebanyak 16 responden (84,2 %) dan pada frekuensi makan yang > 2 kali sehari sebanyak 15 responden (48,4%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,016 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara frekuensi makan dengan kejadian gastritis. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa fekuensi makan < 2 kali sehari berpeluang 5.689 kali terjadi gastritis dibanding dengan frekuensi makan > 2 kali sehari.

38

Tabel V.7 Hubungan porsi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Porsi makan Ya N >200 gram sehari < 200 gram sehari Total 31 19 12

Gastritis Tidak N 5 % 29,4 N 17

total

OR (95 % CI) %

P value

% 70,6

100

1.768 (0,506-6.179 ) 0,540

57,6

14

42,4

33

100

62,0

19

38,0

50

100

Pada tabel V.7 diatas menunjukkan bahwa analisa hubungan porsi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada porsi makan yang > 200 gram sehari sebanyak 12 responden (70,6 %) dan pada porsi makan yang < 200 gram sehari sebanyak 19 responden (57,6 %). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,540 berarti > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan kejadian gastritis.

39

Tabel V.8 Hubungan Jenis makanan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jenis makan Ya N Makan asam dan pedas Tidak makan asam dan pedas Total 31 3 28

Gastritis Tidak N 4 % 12,5 N 32

total

OR (95 % CI) %

P value

% 87,5

100

0,029 (0,006-0,145) 0,000

16,7

15

83,3

18

100

62,0

19

38,0

50

100

Pada tabel V.8 diatas menunjukkan bahwa analisa hubungan jenis makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada jenis makan asam dan pedas sebanyak 28 responden (87,5 %) terjadi gastritis dan jenis makan tidak asam dan pedas sebanyak 3 responden (16,7 %). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,000 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jenis makan dengan kejadian gastritis. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa jenis makan asam dan pedas 0,029 kali terjadi gastritis.

40

Tabel V.9 Hubungan Pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pola makan Ya N Teratur 8 %

Gastritis Tidak N 13 % 61,9 N 21

total

OR (95 % CI) % 100 0,161 (0,46-0,565)

P value

38,1

0,007

Tidak teratur Total

23 31

79,3 62,0

6 19

20,7 38,0

29 50

100 100

Pada tabel V.9 diatas menunjukkan bahwa analisa hubungan pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada pola makan teratur sebanyak 8 responden (38,1 %) dan pola makan tidak teratur sebanyak 23 responden (79,3%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,007 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian gastritis. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa pola makan tidak teratur berpeluang 0,161 kali terjadi gastritis dibanding dengan pola makan teratur.

41

BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian melakukkan perbandingan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini berjudul Hubungan Pola Makan Mahasiswa Kedokteran Angkatan 2010 Dengan Kejadian Gastritis di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012. Sampel penelitian ini diambil dari sebagian mahasiswa kedokteran angkatan 2010 sebanyak 50 responden. 6.1. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam mengumpulkan teori teori sebagai landasan memperkuat permasalahan dalam penelitian ini. Sehingga dalam menentukan kerangka teori hanya berdasarkan pada teori yang didapat oleh peneliti saja. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam kerangka konsep. Kerangka konsep pada penelitian ini hanya menghubungkan variabel sebab dan akibat yang akan diteliti oleh peneliti saja. Sehingga besar kemungkinan untuk variabel lain yang berhubungan tetapi belum dapat di hubungkan dalam penelitian ini. Pada penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dimana kedua variabel ini diamati secara bersamaan. Disain penelitian ini memiliki kekurangan misalnya tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat, dan tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan. Uji yang digunakan adalah uji chi square sehingga interpretasi yang diperoleh tidak cukup untuk menentukan besarnya kekuatan atau besarnya hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Penelitian ini menggunakan perhitungan besar sampel Non Random dan dengan pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampel dengan 50 responden sehingga hasil analisis data yang diperoleh tidak valid karena sampel
42

yang digunakan kecil dan secara Non Random sehingga sampel yang ada tidak bisa mewakili seluruh populasi yang ada. Penelitian ini dilakukan hanya pada bulan Mei sampai Juni sehingga ketepatan data yang dikumpulkan tidak valid. Instrumen penelitian yang digunakan pada variabel ini hanya mengajukan pertanyaan seputar pola makan dan gastritis saja dan tanpa mengukur validitas dan realibilitas instrumen penelitian terdahulu. Sehingga data yang diperoleh menyebabkan kemungkinan kurang validnya instrumen penelitian ini. 6.2. Hasil Penelitian 6.2.1. Analisis Univariat 6.2.1.1.Frekuensi makan Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Uripi, 2002). Frekuensi makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 jika dilihat berdasarkan tabel V.1 dapat diketahui bahwa dari 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang < 2 kali sehari sebanyak 31 responden (62,0 % ) dan responden yang > 2 kali sehari sebanyak 19 responden (38,0 % ). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas lebih banyak frekuensi makan responden < 2 kali sehari dibandingkan frekuensi makan > 2 kali sehari. Sehingga dapat disimpulkan berdasarkan penelitian tersebut dapat menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memiliki frekuensi makan < 2 kali sehari.

43

Frekuensi makan ini meupakan domain terpenting dalam penatalaksanaan pencegahan gastritis. 6.2.1.2.Porsi makan Porsi atau jumlah merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan. Porsi makanan pokok yang harus dikonsumsi itu nasi 100 gram dan roti tawar 50 gram (Achmad, 2004). Porsi makan mahasiswa kedokteran angkatan 2010 jika dilihat berdasarkan tabel V.2 menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang porsi makan < 200 gram sehari sebanyak 33 responden (66,0 % ) dan responden yang porsi makan > 200 gram sehari sebanyak 17 responden (34,0 % ). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas dengan porsi makan < 200 gram sehari dibandingkan dengan porsi makan > 200 gram sehari. Sehingga dapat dilihat bahwa mahasiswa kedokteran angkatan 2010 kebanyakan porsi makan < 200 gram sehari dibandingkan dengan > 200 gram sehari. Dalam hal ini tidak termasuk dalam penatalaksanaan pencegahan gastritis. 6.2.1.3.Jenis makan Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang (Persagi, 1999). Makanan pokok adalah makanan yang dianggap memegang peranan penting dalam susunan hidangan. Pada umumnya makanan pokok berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam tubuh dan memberi rasa kenyang (Achmad, 2004). Dilihat dari jenis atau ragam makanan responden mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berdasarkan tabel V.3 menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang jenis makanan tidak makan asam dan pedas sebanyak 18 responden (34,0 %) dan responden yang makan asam dan pedas sebanyak 32 responden (64,0 %).
44

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berdasarkan hasil yang didapat disimpulkan lebih banyak yang menyukai jenis makanan asam dan pedas dibandingkan dengan jenis makanan tidak asam dan pedas. 6.2.1.4.Pola makan Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari (Persagi, 1999). Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati, 2004). Dilihat dari pola makan responden mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan tabel V.4 menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang pola makannya teratur sebanyak 29 responden (58,0 %) dan yang pola malannya tidak teratur sebanyak 21 responden (42,0 %). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta disimpulkan bahwa dengan pola makan banyak yang teratur dibandingkan dengan pola makan yang tidak teratur. Akan tetapi, pola makan ada hubungan yang bermakna dengan kejadian gastritis. Sehingga untuk penatalaksanaan pencegahan gastritis dapat mengatur pola makan sehari hari.

6.2.1.5.Gastritis Gratitis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999). Gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi, dan ketidakteraturan dalam pola makan

45

misalnya makan terlalu banyak, cepat, telat makan, makan makanan yang terlalu banyak bumbu dan pedas (Suddarth. 2001). Dilihat dari kejadian gastritis yang terdapat pada tabel V.5 pada responden mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa 50 responden yang diteliti, jumlah responden yang tidak terjadi gastritis sebanyak 19 responden (38,0 %) dan yang terjadi gastritis sebanyak 31 responden (62,0 %). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden lebih banyak terjadi gastritis dibandingkan dengan tidak terjadi gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010. Hal ini disebabkan karena mahasiswa pola makannya tidak teratur, dan mengkonsumsi jenis makanan yang asam dan pedas, dan frekuensi makan yang tidak teratur sehingga mudah terserang gastritis.

6.2.2. Analisis Bivariat 6.2.2.1.Frekuensi makan dengan kejadian gastritis Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam (Uripi, 2002). Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung sehingga frekuensi makan yang < 2 kali sehari mudah terserang gastritis. Dilihat pada tabel V.6 diatas menunjukkan bahwa analisa hubungan frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada frekuensi makan yang < 2 kali sehari sebanyak 16 responden (84,2 %) dan pada frekuensi makan yang > 2 kali sehari sebanyak 15 responden (48,4%). Hasil uji statistik
46

didapatkan nilai p = 0,016 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara frekuensi makan dengan kejadian gastritis. Dari nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa fekuensi makan < 2 kali sehari berpeluang 5.689 kali terjadi gastritis dibanding dengan frekuensi makan > 2 kali sehari. Sehingga dapat disimpulkan responden mempunyai frekuensi makan 5.968 kali terjadi gastritis yang frekuensi makannya < 2 kali sehari. Berdasarkan analisa frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dapat disimpulkan sesuai dengan teori yang ada bahwa ada hubungan antara hubungan frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 6.2.2.2.Porsi makan dengan kejadian gastritis Porsi atau jumlah makan merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan. Porsi makanan pokok yang harus dikonsumsi itu nasi 100 gram dan roti tawar 50 gram (Achmad, 2004). Setiap orang harus makan makanan dalam jumlah benar sebagai bahan bakar untuk semua kebutuhan tubuh. Jika konsumsi makanan berlebihan, kelebihannya akan disimpan di dalam tubuh dan menyebabkan obesitas (kegemukan). Selain itu, Makanan dalam porsi besar dapat menyebabkan refluks isi lambung, yang pada akhirnya membuat kekuatan dinding lambung menurun. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan peradangan atau luka pada lambung (Baliwati, 2004). Dilihat pada tabel V.7 menunjukkan bahwa analisa hubungan porsi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada porsi makan yang > 200 gram sehari sebanyak 12 responden (70,6 %) dan pada porsi makan yang < 200 gram sehari sebanyak 19 responden (57,6 %). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,540 berarti > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan kejadian gastritis.
47

Berdasarkan hasil analisa terhadap 50 responden mengenai hubungan porsi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Responden yang memiliki porsi makan > 200 gram sehari dengan responden yang memiliki porsi makan < 200 gram sehari tidak memiliki hubungan dengan kejadian gastritis. 6.2.2.3.Jenis makan dengan kejadian gastritis Jenis makan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang (Persagi, 1999). Makanan pokok adalah makanan yang dianggap memegang peranan penting dalam susunan hidangan. Pada umumnya makanan pokok berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam tubuh dan memberi rasa kenyang (Achmad, 2004). Penderita gastritis sebaiknya mengindari makanan yang bersifat merangsang, diantaranya makanan pedas atau asam, penghasil gas dan makanan yang mengandung bumbu bumbu rendah. Selain itu, perlu memperhatikan cara memasaknya, direbus, dikukus, atau dipanggang adalah tekhnik masak yang dianjurkan (ayurai, 2009). Dilihat pada tabel V.8 menunjukkan bahwa hasil analisa 50 responden hubungan jenis makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada jenis makan asam dan pedas sebanyak 28 responden (87,5 %) terjadi gastritis dan jenis makan tidak asam dan pedas sebanyak 3 responden (16,7 %). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,000 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tada hubungan yang bermakna antara jenis makan dengan kejadian gastritis. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa jenis makan asam dan pedas 0,029 kali terjadi gastritis dibandingkan dengan jenis makan yang tidak asam dan pedas. Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan jenis makanan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah jakarta. Dapat disimpulkan sesuai dengan teori bahwa responden yang menyukai jenis makan rasa asam dan pedas dapat menyebabkan terjadi gastritis dibandingkan
48

dengan responden yang tidak menyukai jenis makanan yang tidak rasa asam dan pedas. Hal ini berarti ada hubungan yang erat antara jenis makanan dengan kejadian gastritis. 6.2.2.4.Pola makan dengan kejadian gastritis Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari (Persagi, 1999). Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atas sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makan, dan frekuensi makan yang berdasarkan faktor sosial, budaya dimana mereka hidup (Baliwati, 2004). Dilihat pada tabel V.9 menunjukkan bahwa analisa hubungan pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012 terhadap 50 responden pada pola makan teratur sebanyak 8 responden (38,1 %) dan pola makan tidak teratur sebanyak 23 responden (79,3%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,007 berarti < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian gastritis. Dari nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa pola makan tidak teratur berpeluang 0,161 kali terjadi gastritis dibanding dengan pola makan teratur terhadap kejadian gastritis. Berdasarkan hasil analisa 50 responden hubungan pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki pola makan tidak teratur dapat menyebabkan terjadinya gastritis dibandingkan dengan responden yang pola makan teratur.

49

BAB VII PENUTUP 7.1. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan pada sebelumnya maka peneliti menarik kesimpulan bahwa : 1. Diketahui terdapat 31 (62,0%) orang yang mengalami gastritis dan 19 (38,0%) orang yang tidak mengalami gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 2. Diketahui terdapat 29 (58,0%) orang dengan pola makan teratur dan 21 (42,0%) orang dengan pola makan tidak teratur pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 3. Diketahui terdapat 23 (79,3%) orang mengalami gastritis dengan pola makan tidak teratur dan 13 (61,9%) orang tidak mengalami gastritis dengan pola makan teratur pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 4. Tidak ada hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 5. Ada hubungan yang bermakna antara frekuensi makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 6. Ada hubungan yang bermakna antara jenis makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. 7. Ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa kedokteran angkatan 2010 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012
50

7.2. SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran yang perlu pertimbangan untuk peneliti selanjutnya : 7.2.1. Bagi Mahasiswa Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan masukkan pada mahasiswa untuk memperbaiki pola makan sesuai PUGS. Sebagai mahasiswa kesehatan yang akan membantu masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat tentunya kesehatan kita juga harus diperhatikan. Sehingga bisa memberikan contoh kepada masyarakat. 7.2.2. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini semoga bisa memberikan acuan untuk peneliti selanjutnya dengan menggunakan sampel yang besar dan dengan populasi yang lebih luas. Diharapkan agar penelitian ini dilakukan bukan hanya pada populasi mahasiswa melainkan pada masyarakat umum. Selain itu, diharapkan agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian selain faktor hubungan pola makan dengan kejadian gastritis. Akan tetapi, mencari faktor faktor lain yang berhubungan dengan kejadian gastritis. 7.2.3. Bagi Responden Dengan adanya penelitian ini semoga pandangan responden lebih terbuka bahwa penyakit gastritis tidak bisa dianggap remeh yang biasa diderita oleh masyarakat. Selain itu, semoga responden dapat menjaga pola makan sebagai penatalaksanaan pencegahan gastritis.

51

DAFTAR PUSTAKA

1. Oktaviani, Wati Skripsi : Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa S.1 Keperawatan Program Fikes UPN Jakarta tahun 2011 Diakses dari

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keperawatanpdf/207312041/bab3.pdf. Tanggal 03-05-2012, pukul 13.00 WIB 2. Oktaviani, Wati Skripsi : Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa S.1 Keperawatan Program Fikes UPN Jakarta tahun 2011 Diakses dari

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keperawatanpdf/207312041/bab2.pdf. Tanggal 26-04-2012, pukul 19.00 WIB 3. Oktaviani, Wati Skripsi : Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa S.1 Keperawatan Program Fikes UPN Jakarta tahun 2011 Diakses dari

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keperawatanpdf/207312041/bab1.pdf. Tanggal 24-04-2012, pukul 15.00 WIB 4. __________ Penelitian Dispepsia (Gastritis dan Tukak Lambung) yang Dikontrol Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, dan Latar Belakang Sosial Ekonomi Pada Mahasiswa TPB IPB Tahun 2010/2011 Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47332/I11asu_BAB% 20IV%20Metode%20Penelitian.pdf?sequence=8. pukul 13.00 WIB 5. Darya, Warya Artikel : Korelasi Antara Derajat Gastritis dan Rasio Pepsinogen I/II Pada Penderita Gatritis Kronis Diakses dari Tanggal 03-05-2012,

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/2_dr%20darya.pdf. Tanggal 03-04-2012, pukul 15.00 WIB 6. Gustin, Kurnia Rahmi Artikel Penelitian : Faktor Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien yang Berobat Jalan di Puskesmas Gulai Bancah kota BUKITTINGGI Tahun 2011 Diakses dari
52

http://repository.unand.ac.id/17045/1/17-JURNAL_PENELITIAN.pdf Tanggal 20-04-2012, pukul 16.00 WIB

7. ____________ Tinjaun Pustaka Pengaruh Media Visual Poster dan Leaflet Makanan Sehat Terhadap Perilaku Konsumsi Makanan Jajanan Pelajar Diakses dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25162/4/Chapter%20II.pdf. Tanggal 27-04-2012, pukul 11.00 WIB 8. Profil Kesehatan Tangerang Profil Kesehatan Kota Tahun 2010 Diakses dari http://www.dinkes.bantenprov.go.id/files/37profil-kesehatan-kota-

tangerang-tahun-2010.pdf. Tanggal 12-06-2012, pukul 10.00 WIB 9. Profil Kesehatan Profil Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Diakses dari http://www.dinkes.bantenprov.go.id/files/50profil-tangsel.pdf. Tanggal 12-06-2012, pukul 11.00 WIB 10. _________ Skripsi : Hubungan Pengetahuan dengan Penyakit Gastritis Diakses dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24623/4/Chapter%20II.pdf. Tanggal 03-04-2012, pukul 14.00 WIB 11. Yuniriyanti, Eny Jurnal : Analisis Diskriminan Terhadap Fakor Faktor yang Membedakan Perilaku Mahasiswa Kost Dalam Memenuhi Perilaku Seharihari Diakses dari

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1610499111.pdf. Tanggal 03-04-2012, pukul 15.00 WIB 12. Zulkarnain, Nuzulul Artikel : Pencernaan dan Gastritis Diakses dari http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35839Kep%20Pencernaan-Askep%20Gastritis.html. Tanggal 05-04-2012, pukul 13.00 WIB 13. Rai, Ayu Gastritis Tahun 2009 Diakses dari

http://ayurai.wordpress.com/2009/05/02/gastritis-sakit-maag/. Tanggal 0404-2012, pukul 11.00 WIB 14. __________ Proposal BAB I Pendahuluan dengan Penyakit Gastritis Diakses
53

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24623/5/Chapter%20I.pdf. Tanggal 11-04-2012, pukul 15.00 WIB 15. Suparyanto Proposal Penelitian : Etiologi dan Penanganan Gastritis Diakses dari http://dr-suparyanto.blogspot.com/2012/02/etiologi-dan-

penanganan-gastritis.html. Tanggal 22-03-2012, pukul 15.00 WIB 16. Purwaningsih, Oktavia Proposal Penelitian : Hubungan Antara Pola Makan Dengan Frekuensi Pringsewu Kekambuhan Gastritis Pada Pasien di Rumah Sakit Tahun 2009 Diakses dari

http://widipta02.wordpress.com/2011/12/29/proposal-peneli/. Tanggal 2203-2012, pukul 13.00 WIB 17. Ratnasari, Henny Definisi Makan Tak Teratur Diakses dari http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/08/05/maag-terjadi-karenamakan-yang-tak-teratur-itu-salah/. Tangal 22-03- 2012, pukul 14.00 WIB 18. Hariyanto, Ari Penelitian : Epidemiologi Gastritis Kronis karena Helicobacter Pylori Diakses dari

http://arihariyanto00.blogspot.com/2009/12/epidemiologi-gastritis-kroniskarena.html. Tanggal 22-03-2012, pukul 16.00 WIB 19. Margareth, Proposal Penelitian : BAB I Faktor-Faktor yang Berhubungan Kejadian Kekambuhan Gastritis Pada Pasien Gastritis di Poli Interna, RSU GMIM Bethesda Tomohon Tahun 2012 Diakses dari

http://www.scribd.com/doc/76336430/BAB-I. Tanggal 22-04-2012, pukul 13.00 WIB 20. Purtiantini, Skripsi : Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mengenai Pemilihan Makanan Jajanan Dengan Perilaku Anak Memilih Tahun 2010 Diakses dari http://etd.eprints.ums.ac.id/9535/2/J310080049.pdf. Tanggal 22-03-2012, pukul 19.00 WIB

54