Anda di halaman 1dari 6

Kode : TA

TUGAS KAPITA SELEKTA JUDUL : Elevator dan Eskalator


NAMA NRP : Edy Kurniawan : 0922023

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG 2012

Eskalator Aplikasi Motor Induksi Pada Eskalator/Travolator - Suatu bangunan yang besar dan tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman untuk aktifitas perpindahan orang dan barang secara vertikal. Sarana angkut vertikal yang bekerja secara mekanik elektrik adalah eskalator dan travolator yang merupakan alat transportasi antar lantai pada gedung bertingkat yang menggunakan tangga berjalan yang digerakkan oleh motor listrik. Dengan adanya alat tersebut maka para pengunjung tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk berjalan antar lantai. Kemudahan tesebut tentunya harus didukung oleh kinerja sistem yang baik untuk mendapatkan performa yang terbaik pula.

Gambar (1): Komponen Eskalator Sebuah eskalator mempunyai lebih dari sepuluh komponen utama seperti truss, motor penggerak, sistem transmisi, tangga, track system, balustrade, decking, peralatan pengaman dan sistem kelistrikan seperti yang terlihat pada gambar (1). Berikut ini hanya akan dijelaskan tentang motor penggerak pada eskalator tersebut serta sistem start dari motor penggerak pada sebuah eskalator. Untuk letak dari motor listrik tersebut dapat dilihat dalam gambar (2) yaitu sistem transmisi dari eskalator. Prinsip kerja eskalator akan dijelaskan sebagai berikut : a. Pendaratan/Landing Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke ruang mesin yang berada di bawah floor plates. Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.

b. Landasan penopang/Truss Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari bagianbagian bersisi dua yang digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada penopang beton atau baja. c. Lintasan Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang kembali ke dalam landasan penopang.

Gambar (2): Sistem transmisi pada Eskalator Prinsip Kerja Eskalator secara sederhana dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar (2) diatas:

Tangga (step) dan handrail digerakkan oleh sebuah motor listrik seperti yang terlihat pada sistem transmisi eskalator dalam gambar (2). Mekanisme berputarnya 2 menggunakan batang utama (shaft) 4 yang digerakkan oleh driving equipment 13 melalui rantai penggerak 1. Sproket penggerak handrail dan tangga menggunakan rantai yang terpasang secara terpisah. Ukuran dari tiap roda rantai dan jumlah giginya dirancang sesuai dengan keperluan pergerakan eskalator. Semua rantai mudah untuk dirakit dan dibongkar serta dijamin kuat.

Elevator Mungkin anda pernah menonton beberapa cerita film yang memperlihatkan suasana panik dan mencekam ketika kabel lift putus. Lift seketika meluncur kencang ke bawah, beberapa kali membentur bagian-bagian lorong lift sebelum terjerembab hancur disertai ledakan dan bola api yang dahsyat saat terhempas di lantai dasar. Bahkan di Disney Land ada satu atraksi menguji keberanian pengunjung dengan menaiki elevator yang meluncur ke bawah seperti tak terkendali melewati 13 lantai. Untungnya, elevator dalam dunia nyata memiliki banyak perangkat pengaman, sehingga hal semacam itu tidak pernah terjadi. Kabel Terputus

Dalam sistem elevator menggunakan kabel, kabel baja yang melewati sistem katrol (lihat 1), diikatkan pada bagian atas kabin elevator. Pengertian sistem katrol adalah katrol dengan permukaan yang beralur, terletak pada bagian pucak konstruksi elevator. Alur pada sistem katrol berfungsi menggenggam kabel baja (lihat 2). Jadi pada saat mesin listrik memutar sistem katrol, kabel juga ikut bergerak (lihat 3) dan kabin elevator juga bergerak (lihat 4). Kabel yang mengangkat kabin elevator juga dihubungkan dengan sistem kesetimbangan beban, yang menggantung pada sisi

yang berlawanan dari sistem katrol. Kabin dan sistem kesetimbangan beban kedua-duanya meluncur pada sepanjang jalur rel baja.

Setiap kabel elevator dibuat dari kumpulan material baja yang panjang yang memlilit satu sama lain. Kabel ini sangat jarang bisa terputus tiba-tiba, apalagi dengan inspeksi yang regular dilakukan untuk mengamati tingkat keausannya. Kenyataannya meski kabel bajapun tetap saja bisa rusak. Jadi apa yang bisa terjadi selanjutnya? Hampir semua katrol elevator didisain untuk beberapa pasangan kabel - totalnya antara empat dan delapan. Jadi meskipun satu kabel yang terputus, sisa kabel yang lain akan tetap dapat menahan kabin elevator ke atas. Sebenarnya meskipun hanya satu kabel yang tersisa akan tetap mampu menahan kabin elevator ini. Safeties (Tambat Pengaman) dan Governor

Seandainya semua kabel ternyata terputus, bagaimana jadinya? Pada kondisi ini, secara otomatis tambat pengaman elevator (elevators safeties) akan tertendang mengait ke klem yang

ada di jalur rel baja. Tambat pengaman (Safeties) adalah sistem pengereman pada kabin elevator yang mencengkram kedalam klem yang ada di alur rel baja untuk jalur naik dan turunnya poros elevator (lihat 1). Beberapa tambat pengaman menjepit rel tersebut, sementara yang lain mengarahkan ganjalan ke dalam lekukan yang ada di rel tersebut (lihat 2). Biasanya tambat pengaman di aktivasi oleh kecepatan mekanis governor. Governor adalah katrol yang berputar ketika elevator bergerak. Pada keadaan governor berputar sangat cepat, gaya sentrifugal akan segera mengaktifkan sistem pengereman. Di bagian dasar Jika ternyata safeties (tambat pengaman) gagal berfungsi, kabin elevator bisa anjlok meluncur,

tetapi bukan jatuh bebas. Terjadi hambatan sepanjang rel dan hambatan oleh tekanan dari bagian bawah kabin. Hambatan ini akan semakin memperlambat gerak kabin (anda akan merasakan lebih ringan dari kondisi normal). Saat terjadi benturan, kabin akan terhenti dan anda akan terpental ke lantai. Dalam kasus ini, ada dua hal yang akan membalkan benturan. Pertama, waktu terjatuh, kabin elevator akan memampatkan udara di bagian dasar lorong poros elevator, pengertiannya hampir sama dengan kerja piston pompa sepeda ketika ditekan. Tekanan udara akan memperlambat gerak turunnya kabin elevator. Kedua, kebanyakan elevator memiliki peredam getaran juga pada bagian dasar porosnya - biasanya berupa piston dengan silinder yang berisi minyak. Kondisi inilah yang menhindarkan benturan yang fatal (lihat 2). Jika semua alat pengaman ini ada ditempat yang semestinya, dan inspeksi secara teratur dilakukan, serta perawatan dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka anda akan punyai kesempatan luar biasa untuk selamat jika menghadapi kecelakaan elevator.