Anda di halaman 1dari 27

Sekar Widari 4315101511 Yayayt Maslahat 4315102482

Emas merupakan logam mulia yang jumlahnya di bumi sangat langka dan memiliki genesis yang spesifik. Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan ( placer ).

Dokumen Cina dan Hindu menyatakan bahwa Sumatera merupakan daerah yang kaya akan emas. Sumatera menjadi daerah tambang emas yang terpenting pada zaman pertambangan oleh Eropa yang dilakukan pada deposit primer. Pada tahun 1896 pertambangan emas Eropa memulai penambangan di Sumatera.

Pada tahun 1900-1940 Sumatera menjadi penghasil emas terbesar di Indonesia. 82% emas yang dihasilkan berasal dari Sumatera yaitu sebesar 101,063 Kg emas.

Tutupan material emas di Sumatera meluas dari utara Aceh sampai wilayah paling selatan Bengkulu termasuk Lampung. Memperluas sabuk logam melalui Jawa sampai ke Alor. Panjang sabuk adalah 4000Km dan sekitar 1600 Km berada di Sumatera, dengan lebarnya 100Km. Namun sebenarnya tidak seluas itu karena masih terganggu oleh bahan nonlogam.

Zona material berada di daerah pusat gunung yaitu Bukit Barisan. Daerah ini mengandung mineral bijih epitermal deposit terkait dengan ubahan hidrotermal(propilitik) andesit (basaltik) produk vulkanik usia tertier menengah dan atas, dengan dasit,liparitic, dan tubuh granit. granodiorites tersier pertengahan dari Bukit Barisan adalah batuan tua dari emas-perak epitermal vena.

Sebelum kedatangan VOC Penambangan oleh penduduk asli banyak dilakukan di banyak tempat seperti di Aceh, Tapanuli. Mereka menambang emas dengan menggunakan dulang.

Pada awal abad 17, tahun 1669 VOC mulai melakukan penambangan di Salida. Bijih sekitar seribu gulden lebih dikirim ke Belanda. Belanda membuat dua tambang emas yaitu Lebong Simpang dan Tambang Sawah Lebong Simpang memproduksi 80% dari total produksi emas di Sumatera.

Secara umum, morfologi kabupaten Tanggamus terbagi menjadi empat unit morfologi, yaitu morfologi dataran rendah, perbukitan menggelombang, daerah pegunungan dan kerucut gunung api. Sejarah geologi daerah tenggamus dimulai pada jaman tersier, dan tersusun atas endapan permukaan, batuan sedimen dan gunung api, batuan dan batu terobosan.

Emas umumnya terdapat pada suatu zona hidrotermal, dimana pada umumnya zona hidrotermal merupakan daerah vulkanis.

Penambangan di daerah Martapura dan Pleihari. Emas yang ditambang berasal dari bijih primer Penambangan tersebut dilakukan oleh penduduk di sekitar daerah terpencil di Kahajan dilakukan dengan cara membuat terowongan. Di daerah Sampit juga memproduksi emas yang berasal dari Ketingan dan Sungai Cempaka (Cekungan sungai Mentaja)

Emas di Ketingan di ketahui sejak abad 19 Di daerah cekungan Sungai Mentaja dikeahui beberapa tahun kemudian. Emas di Kapuas mengalami peningkatan tahun 1936-1937

Mimika ( Papua) Cikotok ( Jawa Barat) Bengkalis ( Riau ) Tanggamus ( Lampung ) Bombana ( Sulawesi Tenggara ) Rejang Lebong ( Bengkulu ) Bolang Mangondow ( Sulawesi Utara ) Logas ( Riau ) Sarolangun ( jambi ) Merangin ( Jambi ) Meulaboh ( Nangroe Aceh Darussalam ) Monterado ( Kalimantan Barat ) Malinau ( Kalimantan Timur ) Kotabaru ( Kalimantan Selatan ) Kapuas ( Kalimantan Tengah ) Banyuwangi ( Jawa Tengah )

Kawasan tambang emas Cikotok merupakan salah satu tambang emas tertua di kawasan asia tenggara. Munculnya emas di daerah ini disebabkan karena jika dilihat secara geologis, daerah cikotok telah lama dikenal berada pada zona fisiografis Kubah Bayah. Kondisi struktur geologinya kompleks, antara perlipatan, penyesaran, pengangkatan, terobosan-terobosan batuan beku, dan endapanendapan gunung api tua. Endapan gunung api tua formasi cikotok inilah sebagai urat-urat munculnya bahan tambang emas.

Secara topografi, kondisi wilayah Sulawesi Tenggara berupa perbukitan dan pegunungan. Kondisi batuan di daerah Sulawesi Tenggara terdiri atas batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorphosis. Berdasarkan hasil penelitian dan survey dinas Pertambangan Kabupaten Bombana dan Provinsi Sulawesi Tenggara diperkirakan potensi emas yang dimiliki kabupaten ini sebesar 165 ribu ton.

Hal ini tidak mengherankan karena dilihat dari faktor geologisnya berupa terdapatnya daerah hidrotermal yang berasal dari pegunungan di wilayah ini. Maka dapat mendorong terbentuknya bahan tambang emas

Batu Hijau terletak di Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Batu Hijau memiliki emas kaya porfiri.

Tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ons emas.

Geologis Belanda Jean-Jacquez Dozy mengunjungi Indonesia pada 1936 untuk menskala glasier Pegunungan Jayawijaya di provinsi Irian Jaya di Papua Barat. Dia membuat catatan di atas batu hitam yang aneh dengan warna kehijauan. Pada 1939, dia mengisi catatan tentang Ertsberg (bahasa Belanda untuk "gunung ore"). Namun, peristiwa Perang Dunia II menyebabkan laporan tersebut tidak diperhatikan. Dua puluh tahun kemudian, geologis Forbes Wilson, bekerja untuk perusahaan pertambangan Freeport, membaca laporan tersebut. Dia dalam tugas mencari cadangan nikel, tetapi kemudian melupakan hal tersebut setelah dia membaca laporan tersebut, dia menyiapkan perjalanan untuk memeriksa Ertsberg. Ekspedisi yang dipimpin oleh Forbes Wilson dan Del Flint, menemukan deposit tembaga yang besar di Ertsberg pada 1960.

Penghasilan tembaga Grasberg meningkat dari 515.400 ton pada 2004 menjadi 793.000 ton pada 2005. Produksi emas meningkat dari 1,58 juta ons menjadi 3,55 juta ons.


a. b. c. d. e.

Lokasi dari terjadinya aluvial emas

f.
g. h. i. j.

k.
l.

Banten Sungai ciletuh Cikondang Cimandiri Gunung kencana Citarum Cikekas, citereup, ciherang dan cilengsir Cigeuntis Cidadap daerah gunung sanggabuana Kadawung Sungai brantas dan metro di Malang Lumajang dan pasirian

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai