Anda di halaman 1dari 15

BATUK EFEKTIF DAN MELATIH NAFAS DALAM

D I S U S U N OLEH KELOMPOK III ADE CITRA NASUTION DEDI SWARDANA SYAHPUTRA FERIANTO ISHAK LESI RANDA RIASTUTI SRI MADAWATI YUDISTARA BAMBANG PERIANTO FAHRUL RAZI RONI DOSEN : AYU NORA, SKM

POLTEKES KEMENKES ACEH PROGRAM STUDI KEPERAWATAN LANGSA TAHUN AJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga makalah yang berjudul Batuk Efektif Dan Melatih Nafas Dalam ini dapat diselesaikan.. Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada Ibu Ayu Nora, SKM selaku Dosen pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan dan dukungan moril maupun materi dalam penyusunan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan seakademi dan semua pihak yang banyak membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman semua pihak tentang Batuk Efektif Dan Melatih Nafas Dalam. Wassalam..

Langsa, Juni 2012

Penulis

BATUK EFEKTIF DAN MELATIH NAFAS DALAM


A. PENGERTIAN DAN TUJUAN Batuk merupakan cara efektif dan efisien untuk mengeluarkan lendir di saluran pernapasan. Agar batuk jadi efektif maka perlu diberikan latihan batuk. Namun latihan ini hanya bisa dilakukan pada anak yang sudah bisa diajak sedikit bekerja sama (kooperatif) atau mulai di usia balita. Untuk bayi, teknik batuk pada fisoterapi di rumah biasanya ditiadakan. Bayi biasanya mengeluarkan lendir dengan cara memuntahkannya. Latihan Batuk merupakan cara yang paling efektif untuk membersihkan laring, trakea, bronkioli dari sekret dan benda asing. Batuk efektif adalah tindakan yang diperlukan untuk membersihkan sekresi. (Hudak & Gallo,1997:494 ) Batuk juga merupakan gejala tersering penyakit pernafasan. Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia dan peradangan. Setiap proses peradangan saluran pernafasan dengan atau tanpa eksudat dapat mengakibatkan batuk. Bronkitis kronik, asma, Tbc ( Tuberculosis paru ) dan pneumonia merupakan penyakit yang secara tipikal memiliki batuk sebagai gejala yg mencolok. ( wilson, 2006:773-774 ) Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. ( Jenkins, 1996 ). Latihan batuk efektif adalah suatu metode atau cara untuk mengeluarkan sputum yang ada didalam saluran pernafasan. Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan: : 1. Merangsang terbukanya sistem kolateral. 2. Meningkatkan distribusi ventilasi. 3. Meningkatkan volume paru dan memfasilitasi pembersihan saluran (Jenkins,1996) 4. Meningkatkan ekspansi paru. 5. Mobilisasi sekresi. 6. Mencegah efek samping dari retensi sekresi (pneumonia, ateletaksis dan demam ). (Hudak & Gallo, 1997:494) Latihan batuk efektif berfungsi mengeluarkan sekresi ( Stari, 1992 ). Tujuan dilakukannya latihan batuk efektif adalah 1. Melatih otot-otot pernafasan agar dapat melakukan fungsi dengan baik 2. Mengeluarkan dahak atau seputum yang ada disaluran pernafasan 3. Melatih klien agar terbiasa melakukan cara pernafasan dengan baik napas.

Menurut Wilson ( 2006:773-774 ) Batuk Efektif Dilakukan pada pasien seperti : Bronkritis kronik Asma Tuberculosis Paru ( TBC Paru ). Pneumonia Emfisema Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan : Merangsang terbukanya system kolateral, Meningkatkan distribusi ventilasi, Meningkatkan volume paru,

Memfasilitasi pembersihan saluran napas ( Jenkins, 1996 ). Batuk Yang tidak efektif menyebabkan : Kolaps saluran nafas Ruptur dinding alveoli Pneumothoraks Latihan nafas dalam adalah bernapas dengan perlahan dan menggunakan diafragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang penuh (Parsudi, dkk., 2002). Tujuan nafas dalam adalah untuk mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan efisien serta untuk mengurangi kerja bernafas, meningkatkan inflasi alveolar maksimal, meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan ansietas, menyingkirkan pola aktifitas otot-otot pernafasan yang tidak berguna, tidak terkoordinasi, melambatkan frekuensi pernafasan, mengurangi udara yang terperangkap serta mengurangi kerja bernafas (Suddarth & Brunner, 2002). Latihan nafas dalam bukanlah bentuk dari latihan fisik, ini merupakan teknik jiwa dan tubuh yang bisa ditambahkan dalam berbagai rutinitas guna mendapatkan efek relaks. Praktik jangka panjang dari latihan pernafasan dalam akan memperbaiki kesehatan. Bernafas pelan adalah bentuk paling sehat dari pernafasan dalam (Brunner & Suddarth, 2002). Nafas dalam yaitu bentuk latihan nafas yang terdiri atas : 1. Pernafasan Diafragma Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah. Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk. Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi.

Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.

Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,5-1 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini.

2. Pursed lips breathing menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup. kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi seperti bersiul. PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi. Selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung. Dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi Batuk efektif tergantung pada intaknya busur refleks afferent-efferent, ekspirasi yang adekuat dan kekuatan dinding otot dada dan normalnya produksi dan bersihan mukosiliar. Point penting : Umur Durasi batuk Dyspneu (saat istirahat atau aktivitas) Gejala konstitusional Riwayat merokok Tanda vital (denyut jantung, respirasi, temperatur tubuh) Pemeriksaan thorax Radiologi thorax saat batuk yang tidak bisa dijelaskan terjadi lebih dari 3-6 minggu

B. PERSIAPAN PASIEN DAN INDIKASINYA Persiapan Pasien : Latihan nafas dalam 1. Atur posisi yang nyaman 2. Flexikan lutut klien untuk merileksasikan otot abdominal 3. Letakkan 1 atau 2 tangan pd abdomen, tepat dibawah tulang iga 4. Tarik nafas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup, hitung sampai 3 selama inspirasi 5. Hembusan udara lewat bibir seperti seperti meniup (purse lips breathtig) secara perlahan Cara Latihan Teknik Nafas Dalam 1. Tarik nafas melalui hidung secara maksimal kemudian tahan 1-2 detik 2. Keluarkan secara perlahan dari mulut 3. Lakukanlah 4-5 kali latihan, lakukanlah minimal 3 kali sehari (pagi, siang, sore)

Batuk efektif 1. Tarik nafas dalam lewat hidung dan tahan nafas untuk beberapa detik 2. Batuk 2 kali,pd saat batuk tekan dada dengan bantal,tampung sekret pd sputum pot 3. Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat menyebabkan hipoksia Cara Batuk Efektif Tarik nafas dalam 4-5 kali Pada tarikan selanjutnya nafas ditahan selama 1-2 detik Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukan dengan kuat Lakukan empat kali setiap batuk efektif, frekuensi disesuaikan dengan kebutuhan Perhatikan kondisi penderita

Cara Batuk Eefktif Duduk tegak. Kemudian hirup napas dalam 2 kali secara perlahan lahan melalui hidung dan hembuskan melalui mulut. Hirup napas dalam ketiga kalinya dan tahan napas sampai hitungan ke 3, Batukkan dengan kuat 2 atau 3 kali secara berturut-turut tanpa menghirup napas kembali selama melakukan batuk. Lanjutkan latihan batuk sebanyak 2-3 kali pada saat terjaga. Ulangi sesuai dengan kebutuhan. ( Bangerd, 2011 ) Adapun cara latihan batuk efektif yaitu dengan : anjurkan klien menarik nafas selama 3x kemudian anjurkan klien batuk secara menghentak. Batuk secara terkekeh-tekeh dapat

menyebabkan seseorang kehilangan banyak energi dan sulit untuk mengeluarkan dahak. Untuk mengantisipasi hal tersebut kita dapat menggunakan teknik batuk efektif. Adapun latihan batuk untuk anak balita yang bisa dilakukan adalah : Anak duduk dengan agak membungkuk. Minta ia menarik napas dalam-dalam lalu tahan dan kontraksikan otot perut. Tiup napas lebih kuat dan batuk. Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anestesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teransetesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara : Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk. Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali) Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi. Ulangi lagi sesuai kebutuhan. Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk. Batuk mempengaruhi interaksi personal dan sosial, mengganggu tidur dan sering menyebabkan ketidak nyamanan pada tenggorakan dan dinding dada. Indikasi pada pasien penyakit paru Dilakukan pada pasien seperti : COPD/PPOK, Emphysema, Fibrosis, Asma, chest infection, pasien bedrest atau post operasi Huff Coughing adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada pasien menderita penyakit paru-paru seperti COPD/PPOK, emphysema atau cystic fibrosis. Huff Coughing : Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran nafas dari Tehnik Batuk huff, keluarkan semua udara dari dalam paru-paru dan saluran nafas. Mulai dengan bernafas pelan. Ambil nafas secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan nafas secar perlahan selama 3 4 detik.

Tarik nafas secara diafragma, Lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai overventilasi paru-paru. Setelah menarik nafas secra perlahan, tahan nafas selama 3 detik, Ini untuk mengontrol nafas dan mempersiapkan melakukan batuk huff secara efektif. Angkat dagu agak keatas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran nafas cepat sebanyak 3 kali dengan saluran nafas dan mulut terbuka, keluarkan dengan bunyi Ha,ha,ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epligotis terbuka dan mempermudah pengeluaran mucus.

Kontrol nafas, kemudian ambil napas pelan 2 kali. Ulangi tehnik batuk diatas sampai mucus sampai ke belakang tenggorokkan Setelah itu batukkan dan keluarkan mucus/dahak

Postsurgical Deep Coughing Step 1 : Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dpat berbaring terlentang dengan lutut agak ditekukkan. Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan Bernafaslah dengan normal

Step 2 : Bernafaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung. Kemudian keluarkan nafas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua kalinya. Untuk ketiga kalinya, Ambil nafas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin. Step 3 : Batukkan 2 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara dari paru-paru semaksimalkan mungkin ketika batuk. Relax dan bernafas seperti biasa Ulangi tindakan diatas.

Temuan Klinis Gejala : Membedakan batuk akut (<> 3 minggu) merupakah langkah awal dalam mengevaluasi. Pada individu dewasa yang sehat, sebagaian besar sindrom batuk diakibatkan oleh infeksi saluran respirasi oleh virus. Batuk post infeksi yang berlangsung 3 8 minggu di sebut sebagai batuk sub akut untuk membaedakan dari batuk akut dan kronik.

Gejala klinik tambahan seperti demam, kongesti nasal dan radang tenggorokan dapat membantu dalam mendiagnosis. Dyspneu ( saat istirahat atau aktivitas) mencerminkan kondisi yang serius dan memerlukan evaluasi lebih lanjut termasuk penilaian oksigenasi (pulse oksimetri atau pengukuran gas darah arteri), aliran udara (peak flow atau spirometri) dan penyakit parenkim paru ( radiologi thorax). Waktu dan karakter batuk tidak bermanfaat untuk menentukan penyebab batuk akut

ataupun persisten, meskipun varian batuk asma sebaiknya dipertimbangkan pada orang dewasa dengan batuk nokturna prominent. Penyebab tidak umum batuk akut dicurigai pada orang dengan penyakit jantung (gagal jantung kongestif) atau hay fever (rhinitis alergi) dan orang dengan faktor resiko lingkungan (misalnya petani). Batuk yang disebabkan oleh infeksi saluran respirasi akut membaik dalam 3 minggu pada 90% pasien. Infeksi pertusis dicurigai pada orang dewasa yang sebelumnya di imunisasi dengan batuk persisten atau berat sekitar 2 3 minggu. Saat tidak ditemukan terapi dengan obat ACE inhibitor, infeksi saluran respirasi akut dan radiologi thorax abnormal, sampai 90% kasus batuk persisten disebabkan oleh postnasal drip, asma atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Riwayat kongesti nasal atau sinus, wheezing atau rasa terbakar pada jantung (heartburn) sebaiknya cepat dievaluasi dan terapi. Kondisi tersebut sering menyebabkan batuk persisten pada keadaan batuk tanpa gejala lain yang terlihat. Karsinoma bronkogenik dicurigai saat batuk disertai penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya, demam dengan keringat malam terutama pada orang dengan riwayat merokok dan terpapar. Batuk persisten yang disertai sekresi mukus yang banyak dicurigai bronkitis kronik pada perokok atau bronkiektasis pada pasien dengan riwayat pneumonia rekurent atau terjadi komplikasi, radiologi thorax dapat membantu. Dyspneu pada istirahat atau aktifitas umumnya tidak terdapat pada pasien dengan batuk persisten. Dyspneu memerlukan penilaian lebih lanjut terhadap bukti lebih lanjut penyakit paru kronik atau gagal jantung kongestif. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat secara langsung sebagai alat diagnostik untuk batuk akut dan persisten. Pneumonia dicurigai saat batuk akut disertai dengan tanda vital yang abnormal (takikardi, takipneu, demam) atau ditemukan konsolidasi ruang udara (ronki, penurunan suara nafas, fremitus, egophny). Meskipun sputum yang purulen berhubungan dengan infeksi bakteri pada pasien penyakit paru (misalnya Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), cystik fibrosis), pada pneumonia merupakan prediktor yang jelek pada pasien dewasa sehat. Terapi antibiotika pada orang dewasa dengan sputum yang purulen tidak menunjukan manfaat. Wheezing dan ronki sering ditemukan pada orang dewasa dengan bronkitis akut dan pada sebagian besar kasus

tidak mencerminkan asma yang beronset pada dewasa. Pemeriksaan fisik pada orang dewasa dengan batuk persisten kemungkinan dapat menunjukan bukti sinusitis kronik, syndrom post nasal drip atau asma. Tanda dada dan jantung dapat membedakan PPOK dan GJK (Gagal Jantung Kongestif). Pada pasien batuk yang disertai dyspneu, test match normal (mampu membedakan match 25 cm jauhnya) dan tinggi laringeal maksimum 4 cm (diukur dari sternal notch ke kartilago cricoid pada akhir ekspirasi) menurunkan kemungkinan PPOK. Sama juga, tekanan vena jugularis dan reflux hepatojugular negatif menurunkan kemungkinan GJK biventrikular. Diagnosis Banding Batuk akut Batuk akut dapat merupakan tanda infeksi saluran respirasi akut, asma, rhinitis alergi dan gagal jantung kongestif. Batuk persisten Penyebab batuk persisten termasuk infeksi pertusis, syndrom post nasal drip (atau sundrom batuk jalan nafas atas), asma (termasuk batuk varian asma), GERD, bronkitis kronik, bronkiektasis, tuberkulosis atau infeksi kronik lainnya, penyakit paru interstitial dan karsinoma bronkogenik. Batuk persisten dapat juga psikogenik. Pemeriksaan Diagnostik Batuk akut Radiolograpi thorax dipertimbangkan pada orang dewasa dengan batuk yang akut yang menunjukan tanda vital yang abnormal atau pada pemeriksaan thorax curiga pneumonia. Batuk persisten Radiography thorax indiksai jika telah disingkirkan kemungkinan pasien menjalani terapi dengan ACE inhibitor dan batuk post infeksi dengan anamnesis. Pemeriksaan terhadap infeksi pertusis dilakukan dengan menggunakan polymerase chain reaction pada swab nasopharingeal atau spesimen hidung. Saat radiologinya normal, pertimbangkan kemungkinan postnasal drip, asma dan GERD. Terdapatnya gejala-gejala umum tersebut sebaiknya dievaluasi lebih lanjut atau diberikan terapi empirik. Akan tetapi, terapi empirik direkomendasikan untuk postnasal drip, asma atau GERD selama 2-4 minggu meskipun penyakit-penyakit tersebut yang bukan menyebabkan batuknya. Sekitar 25% kasus batuk persisten disebabkan berbagai macam penyebab. Spirometri dapat membatu obstruksi saluran nafas pada pasien dengan batuk persisten dan wheezing dan yang tidak respon terhadap pengobatan asma. Ketika terapi empirik untuk sindrom postnasal drip, asma dan GERD tidak membantu, evaluasi lebih lanjut diperlukan melalui pH manometri, endoskopi, barium swallow, CT scan sinus atau thorax.

Terapi Batuk Akut Dalam memberikan terapi batuk akut sebaiknya berdasarkan penyebab penyakitnya, batuknya sendiri dan faktor-faktor tambahan yang membuat batuk kambuh. Ketika diagnosa influenza ditegakkan, terapi dengan amantadine, rimantadine, oseltamivir atau zanamivir efektif ( 1 hari atau kurang) ketida dimulai 30-48 jam dari onset penyakit. Pada infeksi Chlamydia atau Mycoplasma, antibiotik seperti ertiromysin, 250 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau doksisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 7 hari. Pada pasien dengan bronkitis akut, terapi dengan inhalasi beta 2 -agonis dapat mengurangi keparahan dan durasi batuk pada beberapa pasien. Bukti menunjukan pemberian dextromethorphan bermanfaat dalam meringankan batuk pada orang dewasa dengan infeksi saluran respirasi akut. Terapi postnasal drip (dengan antihistamin, dekongestan, atau kortikosteroid nasal) atau GERD (dengan H2 blocker atau proton-pump inhibittor) yang disertai dengan batuk akut dapat menolong. Terdapat bukti bahwa vitamin C dan echinacea tidak efektif dalam mengurangi keparahan batuk akut, tetapi terdapat bukti juga bahwa vitamin C (sedikitnya 1 gram sehari) bermanfaat dalam mencegah flu pada orang dengan stress fisik (misal: setelah marathon) atau malnutrisi. Batuk Persisten Saat dicurigai infeksi pertusis, terapi dengan antibiotika makrolid tepat untuk mengurangi penyebaran dan transmisi organisme. Jika infeksi pertusis berlangsung 7-10 hari, terapi antibiotika tidak mengurangi durasi batuk yang dapat berlangsung selama 6 bulan. Tidak ada bukti yang merekomendasikan berapa lama terapi batuk persisten dilanjutkan untuk postnasal drip, asma atau GERD. Gejala yang kambuh lagi memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pasien dengan batuk persisten tanpa sebab yang jelas dikonsultasikan dengan

otolaryngologist; terapinya dengan lidokain nebulasi.

C. PERSIAPAN ALAT DAN PROSEDUR PELAKSANAAN Peralatan yang digunakan : 1. sarung tangan 2. bengkok 3. antiseptik (jika perlu) 4. sputum pot 5. gelas berisi air hangat 6. tisu habis pakai

Tindakan/Prosedur : ucapkan basmalah cuci tangan

persiapan klien dan lingkungan : salam terapeutik informed consent dan kontrak kepada klien dekatkan peralatan yang telah disiapkan di samping tempat tidur klien. jaga privasi klien kaji pernapasan klien atur posisi klien dalam posisi nyaman setengah duduk diatas tempat tidur atau kursi atau pada posisi tidur dengan satu bantal fleksikan lutut klien untuk merelaksasikan otot abdomen peragakan pada klien cara nafas dalam tempatkan satu atau dua tangan pada abdomen dibawah tulang rusuk tarik nafas melalui hidung dengan mulut tertutup, pusatkan kedaerah abdomen. inhalasi/menarik nafas sepanjang 3 hitungan. buat mulut seperti akan bersiul, kemudian keluarkan nafas perlahan dan lembut. bentuk mulut seperti bersiul menyebabkan aliran udara yang resisten keluar dari paruparu, meningkatkan tekanan dalam bronchus dan meminimalkan kolpas pada jalan nafas yang lebih kecil. pusatkan pada dinding abdomen dan kencangkan otot abdomen saat mengeluarkan nafas untuk meningkatkan efektifitas ekshalasi. hitung 7 hitungan selama ekshalasi. ulangi sebanyak sampai 3-5 kali peragakan cara batuk efektif pada klien setelah menggunakan bronchodilator atau melakukan nafas dalam, pada nafas terakhir tahan nafas selama beberapa detik. batuk dua kali. batuk pertama melepaskan mucus dan batuk kedua untuk mengeluarkan secret. batuk dengan menutup mulut dengan tangan yang telah dibalut tissue. hindari episode batuk yang lama karena dapat menyebabkan kelelahan dan hipoksia. buang sekret yang ada pada sputum pot minta klien untuk mengulangi peragaan tadi anjurkan klien untuk melakukan tindakan ini selama 5 mneit. dan latihan ini dapat dilakukan 4-5 kali/hari (pagi bangun tidur, saat rileks, siang sebelum makan dan sore setelah mandi) terminasi dan kontrak waktu selanjutnya

cuci tangan lakukan pendokumentasian: karakteristik sputum (warna, jumlah) akhirilah dengan membaca hamdallah

Standard Operasional Prosedure (SOP) Batuk Efektif 1. Tahap PraInteraksi Mengecek program terapi Mencuci tangan Menyiapkan alat

2. Tahap Orientasi Memberikan salam dan sapa nama pasien Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

3. Tahap Kerja Menjaga privacy pasien Mempersiapkan pasien Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup) Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung) Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hitungan Meminta menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup) Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari otot Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur miring) Meminta pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas dan batukkan dengan kuat Menampung lender dalam sputum pot Merapikan pasien

4. Tahap Terminasi Melakukan evaluasi tindakan Berpamitan dengan klien Mencuci tangan Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

D. FOKUS EVALUASI kolaborasi dengan dokter untuk medikasi: pemberian obat batuk perhatikan apakah klien mengkonsumsi obat batuk, jika ya anjurkan untuk menghindari penggunaan yang berlebihan karena dapat menyebabkan efek samping jika klien menderita DM, hindari sirup obat batuk yang mengandung gula atau alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

Black, J.M., Matassarin, E. Medical Surgical Nursing. 1997. Clinical Management for Continuity of Care. J.B. Lippincott Co. Call SA et al. Does this patient have influenza? JAMA. 2005 Feb 23;293(8):98797. [PMID: 15728170] Haque RA et al. Chronic idiopathic cough: a discrete clinical entity? Chest. 2005 May;127(5):17103. [PMID: 15888850] Hewlett EL et al. Clinical practice. Pertussisnot just for kids. N Engl J Med. 2005 Mar 24;352(12):121522. [PMID: 15788498] http://fandik-prasetiyawan.blogspot.com/2012/04/nafas-dalam-dan-batuk-efektif.html http://fundamental-of-nursing.blogspot.com/2008/11/latihan-batuk-efektif.html http://jatiarsoeko.blogspot.com/2012/04/nafas-dalam-dan-batuk-efektif.html http://ners-blog.blogspot.com/2011/10/satuan-penyuluhan-batuk-efektif-dan.html Hudak & Gallo,(1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. Edisi 6. Volume I. Jakarta: EGC. Jenkins, (2008), dalam.html. http://e-learning-keperawatan.blogspot.com-batuk-efektif-dan-napas-

Lin DA et al. Asthma or not? The value of flow volume loops in evaluating airflow obstruction. Allergy Asthma Proc. 2003 MarApr;24(2):10710. [PMID: 12776443] Luckman & Sorensen. Medical Surgical Nursing. 1990. WB Saunders Company. Metlay JP et al. Testing strategies in the initial management of patients with communityacquired pneumonia. Ann Intern Med. 2003 Jan 21;138(2):10918. [PMID: 12529093] Pratter MR et al. An empiric integrative approach to the management of cough: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006 Jan;129(1 Suppl):222S231S. [PMID: 16428715] Schroeder K et al. Over-the-counter medications for acute cough in children and adults in ambulatory settings. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(4):CD001831. [PMID: 15495019] Wenzel RP et al. Acute bronchitis. N Engl J Med. 2006 Nov 16;355(20):212530. [PMID: 17108344] Wilson, M.Lorraine, (2006), Buku Patofisiologi Keperawatan, Konsep klinis-proses-proses penyakit, Edisi 6. Volume I. Jakarta: EGC.