P. 1
Mencapai Target MDGs Sanitasi melalui Sanitasi total Berbasis Masyarakat (STBM). Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Desember 2008. Tema Mencapai Target MDG Sanitasi melalui STBM

Mencapai Target MDGs Sanitasi melalui Sanitasi total Berbasis Masyarakat (STBM). Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Desember 2008. Tema Mencapai Target MDG Sanitasi melalui STBM

|Views: 446|Likes:
Dipublikasikan oleh Oswar Mungkasa

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL). Terbit berkala setiap 3 bulan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dimaksudkan sebagai media saling bertukar informasi diantara penggiat AMPL dan masyarakat umum. Terbit pertama kali pada Agustus 2003.

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL). Terbit berkala setiap 3 bulan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dimaksudkan sebagai media saling bertukar informasi diantara penggiat AMPL dan masyarakat umum. Terbit pertama kali pada Agustus 2003.

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Jul 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

'!.IJ"y ~ , _ '.~' ~JJ,!J!!JJJ 1J"JJ§)AJJJJf}!1JJ ,I .

_
I

'. PELUNCURAN 10.000 DESA KEGIATAN STBM , KEBIJAKAN OPERASIONAL - .PAM. RT
I'

LAM STRATEGI NASIONAL

ST "M

Percik
Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Diterbitkan

oleh:

Dari Redaksi SuaraAnda Laporan Utama Konas PAM RT dan Peluncuran
10.000

_

1

Kelompok Ke~a Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL)

2

Desa Kegiatan STBM

_ _

PenasihatlPelindung:
Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat STBM sebagai Metoda Pendekatan Bidang Sanitasi Wawancara

di Indonesia Mencapai Target MDG

3 6 8
11

Penanggung Jawab:
Direktur Permukiman dan Perumahan. BAPPENAS Direktur Penyehatan Lingkungan. DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum. Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan . Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direklur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI

Direktur _Penyehatan Lingkungan Depkes dr. Wan Alkadri, M.Sc Peraturan Kepmenkes RI No. 8S2/Menkes/SK/IX/2008 Strategi Nasional STBM Wawasan Dimensi Kelembagaan Pemberdayaan Memaksirnalkan Reportase Usai Pesta CTPS, Puncak Acara Hari CTPS Sedunia TamuKita dr. Handrawan Nadesul, Pen cetus Dokter Kecil ____________ Lingkungan yang Lebih Baik ________ dalam Penyebarluasan CLTS di Indonesia CLTS -tentang _

12

13 16 19
20

Masyarakat

dan Pendekatan/Metode Diterapkan di Indonesia? Kartu Metaplan

Ecosan Toilet Mungkinkah

Pemimpin Redaksi:
Oswar Mungkasa

Penggunaan

_________

Hasil Samping Desinfeksi dengan Ozon ------_________

22

Dewan Redaksi:
Zaenal Nampira, Indar Parawansa, Bambang Purwanto

24

26
28

Redaktur Pelaksana:
Maraita Listyasari, Rheidda Pramudhy, Raymond Marpaung, Bowo Leksono

Inspirasi Green Radio: Mernbangun Seputar Plan Seputar ISSDP SeputarWASPOLA Seputar Pokja AMPL Daerah Seputar AMPL Seputar UNICEF Seputar Jejaring Seputar Info CD Info Buku Info Situs Pustaka Agenda AMPL STBM AMPL 29 31 32 34

Desain/llustrasi:
Rudi Kosasih

Produksi:
Machrudin

Sirku lasi/Distribusi:
Agus Syuhada

36
39 44 46

Alamat Redaksi: JI. Cianjur NO.4 Menteng,
Jakarta Pusat. Telp.lFaks.: (021)31904113 http://www.ampl.orjd e-mail: redaksipercik@yahoo .. om c redaksi@ampl.or.ld oswar@bappenas.go.id

Klinik IATPI

48
49 50 51 S2

Redaksi rnenerima kirimari tulisanlartlkel dari luar, lsi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikaslkan. Panjang naskah tak dibalasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke ala mat di alas.

• Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

• DARI REDAKSI

ulan Desember 2008 menjelang. Telah menjadi kebiasaan kita pada setiap akhir tahun untuk melihat ke belakang apa saja yang dilakukan dalam setahun ini, Agenda AMPL yang paling bergaung sepanjang tahun adalah penetapan Tahun 2008 sebagai Tahun Sanitasi Internasional (TSI). Banyak kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka ikut menyukseskan TSI 2008. Mulai dengan kegiatan seremonial, seperti peringatan Had Air Sedunia sekaligus pencanangan Tahun Sanitasi Internasional, peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), maupun pencanangan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Kegiatan pengayaan wacana dan peningkatan kapasitas seperti lokakarya dan konferensi pun tak kurang banyaknya, diantaranya kegiatan Rembug Sanitasi Nasional sebagai kelanjutan Konferensi Sanitasi Nasional 2001. Pemangku kepentingan di Indonesia juga turut serta secara sendiri-sendiri maupun bersamasarna dalam menyemarakkan TSI 2008. Pemerintah sendiri, sebagai wujud dukungannya, telah membentuk Tim Teknis Pembangunan Sanitasi yang diharapkan dapat menjadi 'focal point' pembaugunan sanitasi di Indonesia. Pokja AMPL dan Jejaring AMPL tidak ketinggalan berpartisipasi dalam banyak kegiatan diantaranya Pameran Hari Air Dunia di Jakarta. Tak lupa Pereik juga turut menyemarakkan Tahun Sanitasi Internasional dengan menurunkan edisi bertema sanitasi pada edisi Maret 2008 dan Desember 2008. Sebagai bagian dari upaya turut memperingati TSI 2008, Pokja AMPL banyak melakukan kegiatan kampanye publik. Seperti keikutsertaan dalam Pameran Hari Air Dunia bersama beberapa mitra dengan mengusung nama Jejaring AMPL. Kegiatan lainnya adalah keikutsertaan yang pertama kali dalam Gelar Teknologi Tepat Guna di Semarang yang diselenggarakan oleh Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Depdagri, dengan menarnpilkan beberapa teknologi terkait AMPL. Selanjutnya bertepatan dengan TSI

B

2008, pemerintah telah mencanangkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang pada hakekatnya mendorong peningkatan kepedulian masyarakat akan pentingnya sanitasi yang baik. Tetapi berbeda dengan pendekatan sebelumnya. Sekarang saatnya masyarakat yang menjadi subyek dan bukan obyek. Masyarakat yang menjadi ujung tombak perubahan perilaku. Pemerintah dan pernangku kepentingan lainnya hanya memfasilitasi saja. Melalui pendekatan bam ini, kita semua berharap pekerjaan rurnah meniadakan praktek buang air besar (BAB) sembarangan dapat kita tuntaskan. Saat

ini masih sekitar 70 juta penduduk Indonesia BAB sembarangan. Dalam rangkaian itu kemudian Percik: edisi kali ini mengambil tema Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Ini juga sebagai bagian dad upaya Pokja AMPL membantu pemerintah menyosialisasikan program STBM. Pesta telab usai. Menjadi pertanyaan besar adalah apa agenda selanjutnya. Apakah TSI 2008 hanya akan menjadi kenangan atau menjadi tonggak kita semua untuk memajukan sanitasi di Indonesia. Jawabannya ada pada kita semua. _ (OM).

Stand Pokja AMPL di Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional Foto Oswar Mungkasa

X di Sernarang,

Percik Desember 2008

1

..

.."...

i

• SUARA ANDA •

Semangat dan Kepedulian Lingkungan
Assalamu'olaikum Warahmatullahi Wabaraktuh, Telah berpuluh kali saya menerima kiriman majalah Percik secara cumacuma. Dan berpuluh kali juga terucap terima kasih, meskipun tidak secara langsung atau dengan perantara surat, Saya memang gemar membaca, karena itu kedatangan majalah Percik selalu saya sambut gembira karena dengan membaca kita dapat menambah wawasan, menggali kesadaran dan kepedulian terhadap kondisi negeri ini. Dengan membaca bahkan sering saya merenung, bertanya pada diri sendiri apa kiranya yang dapat saya perbuat sebagai anak bangsa. Telah lama saya menempatkan diri dalam kelompok praktisi lingkungan, namun makin lama saya jalani, saya semakin sadar bahwa sesungguhnya saya tidak dapat berbuat banyak. Semakin saya sadari siapa diri ini: pakar bukan, pintar pun tidak, yang ada hanyalah kepedulian dan... ya.. semangat!!! Semangat yang dapat saya wariskan kepada anak ~ucu ... itu saja. Dengan- semangat, kita ajak rnasyarakat berperan dalam menyelamatkan bumi kita ini dari segala pencemaran. Menyelamatkan sumber daya kehidupan yaitu air dari kekeringan. Menyelamatkan bumi dari panas yang semakin meningkat. Dapatkah bangsa ini dibawa kearah sana? Saya yakin bahwa dimana ada kemauan, di situ adajalan. Terima kasih Wassalam WI'. J1lb.
Harini Bamban!! Wahono Cilandak, Jakarta

Antusias terhadap Percik
Dengan hormat, Kami mengucapkan banyak terirna kasih atas pengiriman Majalah Percik Edisi 5, Mei 20.0.8. Namun kami menyesal karena edisi sebelum atau sesudahnya BELUM kami terima. Untuk itu bisakah kami mendapatkan edisi 1,2,3 dan 4 atau edisi 6,7,8 mengingat siswa-siswa kami animo dan sambutan at as majalah ini sangat luar biasa. Kemudian, kami mohon untuk jumlah tidak hanya satu eksemplar k~lau bisa 5 eksemplar tiap edisinya, Sekali lagi terima kasih atas kiriman Majalah Percik, kami sangat antusias apalagi majalah ini sarat dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Hormat kami, Deny Suwarja Ketua Taman Bacaan Pesantren Keresek, Cibatu, Garut, Jawa Barat

Yth. Bapak Arif, Majalah Percik adalah salah satu media informasi yang diterbitkan Pokja AMPL. Pokja AMPL sendiri sangat terbuka denqan berbaqai pihak untuk bel'sama-sama membangun AMPL, termasuk lembaga Bapak. Terima kasih.

Mohon Kiriman
Saya seorang guru SMK Pertanian Bina Bangsa. Saya tertarik sekali dengan Majalah Percik karena banyak sekali informasi yang bermanfaat yang bisa kami peroleh berkaitan dengan lingkungan hidup. Untuk itu mohon kiranya kami dikirim setiap kali terbitan ke ala mat: SMK Pertanian Bina Bangsa JI. Raya Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat 43179 Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
Hormat karni, Sopyan, S..IP

Yth. Bapak Deny, Majalah yang Bapok maksud adalah Percik: Yunior, Pada saat ini edisi 5 adalah edisi terbaru, sementara edisi terdahulu sudah habis. Namun jika memungkinkan cetak ulang, komi akan mengirimkan ke tempat Bapak. Terima kasih.

Yth. Bp Sopyan, Akan kami kirim ke sekolah Bapak Majalah Percik. setiap edisinya. Terimakasih

Dilibatkan dalam Kegiatan

AMPL

Info Berlangganan
Salam hormat, Kami dad lembaga pendidikan Lingkungan Manusia Bangunan (LMB) Unika Soegijapranata mohon informasi berlangganan Majalah Percik dan tata cara pembayaran. Demikian permohonan kami, terimakasih.
FX Hartanto Sekretaris LMB

Yth. Ibu Bambang, Insya Allah, semangat dan kepedulian Ibu sangat berquna bagi anak cucu dan negeri ini. Terima kasih pula, Ibu telaii setia menjadi pembaca Percik.

Terima kasih atas kiriman Majalah Pereik, informasinya sangat berguna bagi kami sebagai lembaga yang peduli terhadap pembangunan berkelanjutan, Terlebih kami berdornisili di Kabupaten Garut yang rnerupakan kawasan konservasi dan hulu DAS Cimanuk, Kami sangat berharap memperoleh informasi berkenaan dengan program penyelamatan air dan penyehatan lingkungan dan jika berkenan sudilah kiranya melibatkan lembaga kami dalam kegiatan-kegiatan AMPL. Terima kasih.
Arif Rahman Hidayat Lernbaga Pengembangan Ekonomi AL Syura Jl. Raya Wanaraja No. 369A Garut, Jawa Barat

Yth. Bp Hw'tanto, Majalah Percik tidok diperjual-belikan. Kami akan rutin mellgi1'im. Bapak setiap edisinya. Mohon mengirim kami ala mat lenqkapnua.

Terimakasih. -

2

Percik Desember 2008

K
agi sebagian besar masyarakat di Indonesia, mengonsumsi air minum masih dengan cara konvensional,

S I -BIDAN CUBAN . 0 IANST
ningkatkan kualitas baik dan sehat," Salah satu
IJ"'JI<L"""lJ.a.QLJ 1

B

pl'O-

"'''~'''>Cl,aU lingkungan. "Se-

itu sehat

dan siap

persoalan terutarna masyarakat kurang mampu air membutub-

menular dapat dengan menjalankan kesehatan Tanpa itu semua upaya hatkan masyarakat akan L""I""'1)J,"'seok," ujarnya. Penerapan ke

karang ini, harga bahan bakar minyak (BBM) terus melonjak. Sejalan perkembangan teknologi, mulai banyak produk untuk menggantikan cara konvensional dalam penyediaan air minum bagi rumah tangga. Saat ini, upaya pengelolaan air minum yang bersih dan aman bagi rumah tangga dengan penerapan teknologi pengolahan yang ada terus ditingkatkan, Sebuah PAM-RT) yang sekaligus Peluncuran 10.000 Desa Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STEM) diselengMenteri Ki'sehatan Siti FadhiHah Supari Berkunjung garakan pada 20-21 Agustus ke stand Jejaring AMPL. Foto Bowo Leksono 2008, di Jakarta. !-l.----I(:Q]lffererrsi'YiilijrdIse:reriirilrariiK:an'm~t--"':P1ad~3~k:esl~m.patan sambutan, Menkes partemen Kesehatan RI bekerja sarna deSiti Fadillah Supari membiiiitah anggapngan Aman Tirta, Lifestraiu dan Pokja an berita di media massa tentaug kebiAMPL Nasional ini dibuka Menteri Ke- jakan bidang kesehatan yang nirarah. "Arah kebijakan kesehatan kita itu jelas, sehatan RI Siti Fadillah Supari yang sekaligus menandai peluncuran 10.000 yaitu memandirikan masyarakat untuk hidup sehat. Hal itu sejalan dengan apa desa kegiatan STBM di seluruh Indonesia. yang diamanatkan UUD '45 yaitu me-

Lain

Dalam hal nemenunan tuhan air minum RT dan penyehatan melalui STBM, dorong dan diberdayakan menjadi subyek dan tidak hanya sekedar menjadi obyek. Lebih lanjut, Menkes berharap kegiatan STEM ini terns diakselerasi ke desa-desa lain di seluruh Indonesia sehingga se"J,-,=:..:d::,::engan Program Desa Siaga Incanangkan Departemen hatan agar masyarakat marnpu berperilaku hidup bersih dan schat. Hal senada diungkapkan Direktur J enderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2 dan PI.) Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun, bahwa baik Program PAM-RT maupun STBM harus dire~ikasi ke semua desa. "Program-program ini mengacu pada pendekatan dan strategi ba yang berbasis masyarakat, Ini yang rnen-

Percik Desember 2008

3

jadikan Indonesia sebagai tempat belajar bagi negara-negara lain seperti India, Bangladesh, Pakistan, Filipina, Laos, serta Timor Leste," ungkapnya. Adapun tujuan diadakannya konferensi ini, menurut Nyoman Kandun adalah untuk meningkatkan komitmen dan partisipasi para pembuat kebijakan serta mitra terkait pengelolaan air minum bagi rumah tangga dan STBM. Konferensi bertemakan "Air Sehat untuk Hidup" ini diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai instansi, perguruan tinggi, LSM, organisasi sosial kemasyarakatan, negara donor, pernda, serta Pokja AMPL. Sementara kegiatannya berupa seminar, workshop, serta diramaikan pameran yang diikuti 14 peserta. Beragam Seminar Digelar Seusai Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari meninjau pameran, sesi 1 konferensi menggelar seminar yang mengetengahkan dua pembicara yaitu Direktur J enderal PP dan PL Depkes I Nyoman Kandun yang mengangkat isu "Aspek Kesehatan yang Terkait dengan Penyakit yang Berhubungan dengan Air dan Sanitasi". Pembicara kedua Kepala Badan Litbangkes, Depkes Triono Soendoro denga.n makalahnya "Hasil Ris-

kesdes yang Terkait dengan Air Minum dan PHBS", Nyoman memaparkan, sebagian penyakit menular terjadi disebabkan buruknya kesehatan Iingkungan, Menurutnya penyakit menular merupakan penyebab kematian yang tinggi pada bayi dan balita, "Beberapa penyakit berbasis lingkungan seperti Pneumonia, ISPA , TBe, DBD, Malaria dan Diare sangat terkait erat dengan kondisi lingkungan yang belum memadai," tuturnya. Untuk itu, laujut Nyoman, rnasyarakat harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar dapat memperoleh manfaatnya. "Manfaatnya mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian yang disebabkan dari beberapa penyakit berbasis Iingkungan," katanya, Salah satu prioritas Departemen Kesehatan pada 2005-2009 yaitu penanggulangan penyakit menular (termasuk pengendalian faktor resiko lingkungan) dengan menerapkan Program Lingkung an Sehat yang salah satu kegiatannya berupa penyediaan sarana ail' bersih dan sanitasi dasar, Memasuki sesi 2, seminar menghadirkan tiga pembicara yaitu Maria Elena Figueroa, Abigael W, Ati dari Independent Researcher, serta Bonifacio

Magtibay dari WHO Switzerland. Maria Elena membahas "Pemahaman Perubahan Perilaku terhadap PAM RT". Menurutnya kualitas air yang buruk terus menjadi ancaman kesehatan yang utama, untuk itu kita perlu peduli perilaku untuk air yang aman. Air yang tidak aman, ujar Maria, adalah air yang terkontaminasi karena faktor pengangkutan dan penyimpanan serta faktor pengolahan pada tingkat rumah tangga. "Faktor-faktor ini merupakan perilaku yang perlu diubah," ujarnya. Berbagai teknologi sederhana tentang pengolahan air pun diterapkan yang meliputi merebus, saringan/filter, pemberian khlorin dan flokulasi, solar disinfection, dan lainnya seperti dengan menggunakan lampu LN. Direktur Penyehatan Lingkungan Depkes Wan Alkadri pada sesi 3 mengatakan bahwa separuh penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap persediaan ail' minum yang memenuhi syarat, Kekurangan akses terhadap air yang aman disebabkan oleh kemiskinan. Menurut Wan Alkadri, keunggulan PAM RT secara dramatis meningkatkan ·kualitas bakteriologis air yang secara signifikan mampu menurunkan diare, Keunggulan lain, lanjutnya, merupakan intervensi yang paling efektif untuk air, sanitasi dan kesehatan yang dapat dilaksanakan secara cepat dan dilakukan oleh masyarakat yang rentan. "PAM RT bukan merupakan suatu pilihan namun pelengkap dalam meningkatkan sarana air minum," ujarnya. Konferensi selama dua hari ini menggelar enarn sesi seminar yang diakhiri lokakarya dan perkenalan berbagai alternatif pengolahan air minum serta pengalaman implementasi di berbagai daerah, Pameran Produk Teknologi Pengelolaan Air Minum Untuk rnendukung Konferensi asional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (KONAS PJ\M-RT) digelar pameran yang menampilkan 14 stan yang sebagian besar berasal dati produsen

Stand Jejarlng

AMPL di acara Konas PAM RT, Foto Bowo Leksono

I

4
1--'

Percik Desember 2008

produk teknologi pengelolaan air minum. Mereka adalah Aman Tirta yang memproduksi Air Rahmat, Life Straw, Pelita Indonesia, Dian Desa, Bali Fokus, Aquatabs, Ye Water Program, Ditjen PP dan PL Depkes, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL), MERCK, STEM, RW 08 £etojo Utara, Yayasan Unilever Peduli, serta Jejaring AMPL.

akan digunakan ill seluruh dnnia, Dian Desa, yayasan yang berdiri sejak 1972 di Yogyakarta ini juga turut serta memamerkan produk dan layanannya:-Yayasan Dian Desa (YDD) adalah salah satu lembaga swadaya masyarakat tertua yang bergerak dalam kegiatan pernbangunan kemasyarakat secara, umum dan pengembangan teknologi tepat guna khususnya.

Produk Pemurni Air Minum
Sudah banyak lapisan masyarakat yang mengenal keberadaan Air Rahmat, Dalam hal pemenuhan Produk pemurni air minum tingkat kebutuhan air minum rumah tangga yang sam. ini memang melalui PAM-RT dan cukup gencar dalam promosinya, Produk Air Rahmat berbentuk eairan y.ang penyehatan Iingkungan dipasarkan oleh Aman Tirta. melalui STBM. masyarakat sws Aman Tirta Rebert !Ainslie medidorong dan diberdayakan ngatakan model promosi Air Rahrnat deuntuk menjadi subyek dan ngan program Private Public Partnertidak lagi hanya sekedar ship, yaitu program kemitraan antara pemenjadi obyek. merintah, LSM dan swasta. "Untuk menjamin keberlanjutan program, Air Rahmat diprodnksi dan didistribusikan secara komersial," ujarnya. Untuk produk pemurni air minum : Salah satu program YDD adalah yang berbentuk tablet khlorin effervesbidang air bersih, sanitasi, dan pengolahcent (mencair sendiri) bernama Aquaan limbah berbasis pemberdayaan rnatabs. Produk pemurni ini diproduksi oleh syarakat. Produk dan layanan y:ang dalam Medentech yang sekaligus sebagai pemakesempatan ini turut dipamerkan adalah sok Aquatabs ke seluruh penjuru dunia Sodis dan PUR. Sodis (solar water disinfection) adasejak pertengahan 1980-'an. Michael Gately dad Medentech dalam lah air minum yang diolah dengan panas paparan makalahnya mengatakan Aquasinar matahari, Prinsip dari teknologi ini tabs mampu membunuh mikro-organisyaitu merebus air dengan bantuan sinar me dalam air untuk mencegah penyakitmatahard dan memanfaatkan kemasan penyakit diare seperti kolera, tifus, disenlimbah botol plastik air minum mineral tri dan penyakit-penyakit yang bersumuntuk mendapatkan air layak minum, ber pada air lainnya. "Preduk ini diguPUR merupakan bahan campuran nakan pada tingkat rumah tangga den:gan berupa bubuk penjernih air yang dapat cara mendisinfeksi air," katanya. mematikan bakter:i pathogen dan Penggunaan Aquatabs dengan jalan menghilaogkan zat padat dalam air sememasukkan ke dalarn bejana penyimhingga dapat merubah air yang terce mar panan air, tunggu hingga go menit sebemenjadi air yang bersih, aman dan seaat lum digunaka:n, tablet tidak perlu dihanuntuk dimmum, PUR dikemas dalam curkan, tidak memerlukan pengadukan kantong (sachet) yang berisi 4 gram buatau pengocokan, Aquatabs tidak menyebuk PUR.. Setiap kantong dapat digubabkan air berwama atau memiliki bau nakan untuk mengolah 10 liter air. dan rasa, serta tingkat sisa khlorin seteDari Yayasan Pelita Indonesia menampilkan saringan air keramik layak lah 24 jam. Produk ini biasa digunakan untuk mengatasi bencana atau yang berminum yang berasal dad bahan tanah sifat darurat, Tahun Ini 1 milyar Aquatabs liat/lempung. Saringan ini berbentuk

ember sederhana dengan diameter dan tinggi sekitar 30 em. Proses pembuatan saringan ini dengan rnembuat cetakan dati aluminium dan alat hidrolik manual kemudian mencetak saringan memakai alat tersebut dan kemudian masuk proses pembakaran. Setelah pembakaran, saringan keramik dilapisi colloidal silver. Kombinasi antara pori-pori dan sifat dari colloidal silver yang berfungsi sebagai antiseptic ini menghasilkan saringan air minum yang sangar efektif. Batas kecepatan penyaringan antara 1,5 liter sampai 2,5 liter per jam didapatkan dengan campuran yang pas dan juga temperatur pembakaran yang tepat. Saringan keramik ini dapat dipergunakan hingga 1,5 tahun dan harus menggantinya sstelah masa pakainya habis.Masa . pakai ini dapat terjadi sebelum waktunya, biasanya dikarenakan pecah atau poripori saringan tersumbat karena air yang disaring sangat kotor. Adapun cara kerjanya; air mentah dimasukkan dalam saringan keramik maka sedikit demi sedikit air akan meresap dalam pori-pori dinding -saringan yang sudah dilapisi bahan pembunuh kuman. Lama peresapan antara 1,4 liter per jam dan 2,0 liter per jam. Air yang sudah meresap akan tertampung dalam ember yang khusus dan arnan untuk bahan makanan dan minuman supaya air yang dihasilkan dari proses ini layak minum dan tidak ter'kontaminasi bahan kimia, Saringan keramik ini mampu menyaring 98 sampal 99,88 persen parasit dan bakteri yang berbahaya dari air

• LAPORAN

UTAMA •

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Indonesia
ebenarnya perhatia.n dunia terhadap masalah sanitasi semakin meningkat. Terbukti berbagai konferensi terkait sanitasi telah banyak diselenggarakan baik di tingkatan regional, nasional, maupun internasional. Bahkan PBB menetapkan tahun 2008 ini sebagai Tahun Sanitasi Internasional (International Year of Sanitation). Di Indonesia, upaya peningkatan kualitas dan cakupan layanan sanitasi mulai ada peningkatan. Berbagaikegiatan dilakukan untuk mendukung pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan terus dilakukan diantaranya melalui pendekatan pembangunan sanitasi berbasis masyarakat. Namun demikian, peneapaian sektor -sanitasi masihjauh dari yang diharapkan. Sanitasi belum menjadi isu besar yang mampu mempengaruhi isu politik di negeri ini. Hal ini berpengaruh terhadap anggaran yang dikueurkan untuk membangun sektor ini. Selama 30 tahun terakhir, Pemerintah Indonesia hanya menyediakan sekitar Rp 7,7 triliun, artinya hanya Rp 200 per tahun untuk setiap penduduk Indonesia. Padahal kebutuhan minimal akses terhadap sarana sanitasi yang memadai sekitar Rp 47 ribu per orang per tahun. Kenyataan lain, praktik sanitasi di masyarakat sangat memprihatinkan. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006 menunjukkan 47 persen masyarakat masih berperilaku buang air besar (BAB) sembarangan. Sementara berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di tahun yang sama menghasilkan data bahwa perilaku masyarakat terhadap pola Cuei Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah setelah buang air besar 12 persen; setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9 persen; sebelum makan 14 persen; sebelum memberi makan bayi 7 persen; dan sebelum menyiapkan

S

Para fasilitator

melakukan pemicuan STBM kepada kaum ibu di desa yang masih BAB sembarangan. Fato Bawo Leksona

makanan 6 persen. Hasil studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT) sebesar 99,20 persenmerebus air untuk mendapatkan air minum tapi 47,50 persen dari air tersebut mengandung bakteri Eschericia coli (E coli) .. Belum lagi kesadaran masyarakat yang belum mengelola sampah dengan baik serta belum mengelala limbah cair rumah tangga dengan arnan. Kenyataan tersebut berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare di Indonesia. Kerap kali Kejadian Luar Biasa (KLB) diare menyerang daerah yang pala masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehatnya dinilai kurang. Pendekatan CLTS Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memperkenalkan pendekatan sanitasi total yang dikenal dengan Community Led Total Sanitation CCLTS). Sanitasi total dimak-

sudkan adalah penghentian praktik BAE sembarangan, Cuei Tangan Pakai Sabun (CTPS), pengelolaan air minum rumah tangga (PAM-RT), pengelolaan air limbah dan penanganan sampah domestik. Pendekatan CLTS yang dikembangkan Kamal Khar ini memfasilitasi proses pemberdayaan masyarakat untuk menganalisa keadaan dan risiko pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pengabaian penanganan sanitasi secara total. Dari lima pilar sanitasi total, CLTS mendahulukan penghentian BAE di tempat terbuka sebagai pintu rnasuk pengenalan konsep sanitasi total ke masyarakat. Selain itu, membangun dan menggunakan jamban tanpa subsidi dari luar. Pendekatan tanpa subsidi ini dilatarbelakangi kegagalan pendekatan tradisional dalam penyediaan infrastruktur sanitasi eli perdesaan di masa lalu yang lebih fokus pada penyediaan prasarana dan bukannya perubahan perilaku.

6

Percik Desember 2008

• LAPORAN

UTAMA

Ii

Pendekatan ini diperkenalkan melalui kunjungan delegasi pemerintah Indonesia ke India dan Bangladesh pada tahun 2004. Sekembali dari kunjungan tersebut, disepakati untuk melakukan ujicoba model CLTS sejak Mei 2005 di 18 komunitas di enam kabupaten di enam provinsi dengan karakteristik berbeda. Hasil uji coba dinilai cukup menggembirakan. Indikatornya, dalam kurun waktu satu tahun pelaksanaan, pendekatan ini telah membawa 159 komunitas terbebas dari praktik BAB sembarangan dan mengubah perilaku BAE sekitar 28.000 rumah tangga. Pendekatan CLTS secara sederhana mengabstraksi prinsip-prinsip antara lain, mengandalkan partisipasi masyarakat secara aktif, tanpa subsidi dari luar, solidaritas sosial, dan kebanggaan masyarakat sebagai elemen motivasi. Pada akhirnya bukan jumlah fisik jamban yang menjadi tolak ukuran keberhasilan, namun perubahan perilaku dad BAE di sembarang tempat ke pemanfaatan jamban keluarga. Ini menunjukkan perubahan besar yang tidak terjadi pada proyek-proyek sebelumnya karena tidak berbasis pada pemberdayaan dan kemandirian. STBM sebagai Pengembangan CLTS Keberhasilan pembangunan sanitasi total dengan menerapkan model CLTS di berbagai daerah di Indonesia terus dikembangkan untuk kemudian diadopsi menjadi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STEM merupakan sebuah gerakan perubahan menuju pola perilaku hidup yang bersih dan sehat (PHBS). Pada gerakan STBM ini terdapat lima pilar, yaitu perilaku buang air besar di jamban, cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengolahan air minum skala rumah tangga, pengolahan air limbah skala rumah tangga, dan pengolahan sampah skala rumah tangga. Berbagai pihak sudah melaksanakan kelima pilar STEM ini tapi masih belum terkoordinasi dengan baik. Untuk itu, Pemerintah melalui Departemen Kesehatan dengan didukung oleh Kelompok Kerja (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL)

Sebuah prasasti tentang

bebas BAB sembarangan yang ditandatangani Foto Bowo Leksono

bupati.

Masuknya Pendekatan CLTS ke Indonesia
endekatan (LTS diperkenalkan oleh Kamal Kar dari India pada tahun 2004. Di tahun yang sarna, Pemerintah Indonesia melakukan studi banding ke India dan Bangladesh. Penerapannya dimulai pertengahan tahun 2005, ketika Pemerintah meluncurkan penggunaan metode ini di 6 desa yang terletak di 6 provinsi. Pada Juni 2Q06, Departemen Kesehatan mendeklarasikan pendekatan (lTS sebagai strategi nasional untuk program sanitasi. Pada September 2006, Program W5L1Cmemutuskan untuk rnenerapkan pendekatan (LTS sebagai pengganti pendekatan dana bergulir oi seluruh 10kasi program (36 kabupaten). Pada s-aat yang sarna, beberapa LSM mulai mengadopsi pendekatim ini. Pada Januari 'sampai Mei 2e07, Pemerintah terus berupaya menerapkan kelima pilar STBM dengan melakukan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan agar pembangunan sanitasi total di Indonesia lebih terarah. Disamping itu penguatan strategi juga dilakukan dengan cara membangun jaringan antarpemangku kepentingan. Lahirlah Jejaring AMPL yang diharapkan ke depan mampu menggerakan pernbangunan sanitasi di Indonesia. Pemerintah berkerja sarna dengan LSM, lembaga donor seperti Unicef dan Plan Internasional, pergnruan tinggi, swasta, dan pemangku kepentingan lainnya, terus mengadakan pelatihan dan

P

Indonesia bekerja sarna dengan BankDunia merancang proyek PAMSIMAS di 115 kabupaten. Program ini mengadop-_ .. si pendekatan (LTS dalam rancangarr- nya. Bulan Juli 2007 menjadi periocle _ yang sangat penting bagi perkembangan (LTS di Indonesia, karena Pemerintah (bekerja samarlengan Bani{-=Dunia) mulai mengimplementasikan sebuah pro~~k yang merlgadopsi pende- -._ katan sanitasi total eern(fma Total Sa: nitation and Sanitation Marketing (T5SM) a!au Sa,nitasiTotat danPema-_ saran Sanitasi (SToPS).:Asian Develop-~ ment BankJADB) juga mengadopsi peadekatan CtTS_pada pregramsanitasiI:lYa.~~ yaitu Clean Water, Sanitation andHealth ~eW5H) di ZQ_k<!bupate Indonesia.; Edy/Udfn - .,_ d." pengembangan sanitasi total di berbagai daerah. Kesiapan Pemerintah dalam Regulasi Perhatian Pemerintah di sektor sanitasi dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, telah tercerrnin dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 20042009. Terkait hal tersebut, telah disusun suatu Strategi Nasional STBM melalui Keputusan Menteri Kesehatan Rl Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008. Strategi Nasional ini akan menjadi landasan gerak para pelaku STBM.• Bowo Leksono

Percik Desember 2008

7

II

• LAPORAN

UTAMA •

sebagai Metoda Pendekatan Mencapai Target MDG Bidang Sanitasi
ndonesia masih menghadapi tantangan besar dalarn mewujudkan akses sarana sanitasi. Sesuai survei Joint Monitoring Program (JMP), eakupan Indonesia meneapai 55 persen (2004) dibawah rata-rata eakupan sanitasi regional Asia Timur dan Paeifik yang meneapai 67 persen. Hal ini menunjukkan 45 persen atau 100 juta masyarakat Indonesia masih berperilaku buang air besar di sembarang temp at seperti sungai, sawah, kolam, kebun dan temp at terbuka. Perilaku hidup bersih dan sehat juga masih sang at rendah, terbukti dari hasil survei menunjukkan masyarakat yang melakukan cuei tangan pakai sabun (CTPS) pad a lima waktu kritis yaitu sebelum menjamah makanan, sebelum menyuap anak, sebelum makan, setelah membersihkan BAB anak dan setelah BAB kurang dari 15 persen. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia. Angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan 16 provinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2,52. Akibat buruknya saran a sanitasi mengakibatkan kerugian ekonomi 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setiap rumah tangga mengalami kerugian ekonomi kurang lebih Rp 120.000 per bulan (studi ADB 2002). Di sisi lain studi WHO tahun 2005 menunjukkan bahwa setiap investasi 1. US$ untuk meningkatkan sarana sanitasi akan menghasilkan nilai ekonomi (economic return) berkisar antara 8-21 US$. Hasil studi WHO tahun 2007 membuktikan angka kejadian diare dapat

STBM

I

'I

II.

II

menurun sebesar 32 persen dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar 45 per sen dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, 39 persen perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Intervensi dengan mengintegrasikan ketiga upaya tersebut dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 94 persen. Pelajaran dari sejarah program sanitasi di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan dengan mengutamakan subsidi fisik; i) kurang mempunyai daya ungkit dalam meningkatkan demand masyarakat secara luas untuk cakupan sani-

tasi dan perubahan perilaku, Ii) kurang berhasil dalam melibatkan sektor swasta untuk menciptakan mekanisme pasar yang menyediakan berbagai pilihan/opsi yang luas bagi masyarakat miskin sehingga daya ungkit yang diharapkan terhadap peningkatan kesehatan belum dapat dirasakan secara optimal. Dengan keterbatasan kemampuan pemerintah dan agen pembangunan Iainnya (donor) dalam upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana sanitasi, maka diperlukan strategi dan metoda bam yang dapat menggerakkan potensi masyarakat dan sektor swasta dalam upaya

8

Percik Desember 2008

meningkatkan akses terhadap sarana sanitasi dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

Upaya yang Dilakukan Berbagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam upaya pengembangan metoda pendekatan program sanitasi yang efektif dan efisien deMcociplakan ngan melibatkan masyarakat seDEMAND untuk S:anrtasi cara aktif dan memanfaatkan po"improved" dan tensi yang ada. Mekanismenya dengan melakukan kunjungan ke negara ngan pokok kegiatan sanitas_i total dan tetangga yang telah berpengalaman, pemasaran sanitasi (SToPS) yang menerima kunjungan dari negara lain untuk berbagi pembelajaran, dan semencakup 29 kabupaten. Kegiatan ini Komponen Pendekatan merupakan kerja sama antara Pememinar nasional/regional, Dalam upaya mewujudkan masyarintah Pusat dengan Water and SaPelaksanaanpilot yang diintegrasikan rakat yang mencapai sanitasi total, dilanitation Program for East Asia and the dengan program air minum dan pekukan secara bertahap dengan prioritas Pacific (WSP-EAP). nyehatan lingkungan (AMPL) yang ada utama meningkatkan akses terhadap untuk memperoleh pembelajaran dan peI sarana sanitasi melalui perubahan perinyempurnaan metoda yang akan dikemPendekatan STBM laku secara kolektif dengan memanSesuai Keputusan Menteri Kesehatan bangkan sebagai salah satu pendekatan faatkan potensi yang ada dimasyarakat. program sanitasi khususnya di perdesaan nomor 8S2jMENKESjSKjIX!2oo8 tenPerubahan perilaku secara bertahap tang Strategi Nasional Sanitasi Total. Berdengan menggunakan perubahan periladengan menggunakan tangga sanitasi ku secara kolektif sebagai inti motivasi basis Masyarakat, sanitasi total pada yang diawali perubahan perilaku masuatu komunitas adalah: i) Tidak buang masyarakat untuk melakukan perubahan. syarakat dari open defecation (OD) ketaair besar (BAB) sembarangan, ii) MeneuPencanangan, launching, deklarasi hap open defecation free (ODF) dengan ci tangan pakai sabun, iii) Mengelolan air dan seminar yang dihadiri para pengamkriteria tidak ada masyarakat yang buang minum dan makanan yang aman, IV) Mebil keputusan dan pemangku kepentingair di sembarang tempat. Proses ini ngelola sampah dengan benar, dan v) Mean di tingkat pusat, provinsi dan kabupangelola limbah cair rumah tangga dengan I menggunakan metoda Community Led ten dalam upaya melakukan diseminasi aman, Total Sanitation ceLTS) dengan menmetoda pendekatan sehingga diharapkan dahulukan pada perubahan periJaku Setiap faktor dalam sanitasi total dapat meugambil keputusan untuk masyarakat secara kolektif untuk tidak mempunyai tiga komponen yang mendudikembangkan di masing-masing wilaBAB. Hal ini melalui proses pembangunkung pendekatan dari masing-masing yah. Pola metoda pendekatan ini telah an sosial yang dilakukan oleh fasilitator faktor yaitu: diinformasikan keseluruh provinsi dan dati dalam maupun luar komunitas. i) Peningkatan demand adalah upaya dikembangkan di wilayah kabupaten sesuai kebijakan masing-masing daerah meningkatkan demand SANlIASI fOTAl masyarakat terhadap saniatau diintegrasikan dengan program tasi bagi semua lapisan pemberdayaan masyarakat yang ada melalui berbagai advokasi diwilayah tersebut. Pemerintah pusat melalui Menteri ' dan kegiatan promosi seKesehatan telah mencanangkan target perti peningkatan pema$g;aron : ~Ji?QQ9Y:I 1?£lS2,L 10.000 desa untuk mengembangkan prohaman sanitasi, promosi ~ lS!;l.gjQ.\Qn: llsioQ mo.&!:~ gram Sanitasi Total Berbasis Masyarakat higiene, pemasaran proIl\'LY>LIlO.~JJ.l QIll!l!l ;l.QOQ!Q[l : f2til!.!.t?,9.'lgn ~11;t.!,! duk dan Iayanan jasa, UllJtmtw, ... a (STBM) sampai tahun 2012 dan menancn1~.fJ)2O!ll:Ill%lt!:S9~ ~"", ... t menciptakan insentif un~~~"gkvngo:n datangani Strategi Nasional STBM seba-, Kooifl1.qo" em r:lPD ."QlI\!fl1ikq;;J tuk individu dan masyaragai landasan dan acuan dalam mengemQOO,Qob;!D Qsrilcku 5QSOrOn " P!SrcOQtpn P,;lri[Qku (I!CC-Behoviol Clunge untl.!s be.henti BAS kat, dan kontrol sosial, bangkan program tersebut, COI'r'lf'l'luntCO'lion) ~Q;!"J;;JDQ;l1l K!ZQiQlcn: ClTS Q:;m kOrTl!./nikq;j Ii) Perbaikan supply Provinsi Jawa Timur merupakan sacer\lbohonccl'rildu dan layanan jasa adalah lah satu wilayah yang ditunjuk untuk melakukan kerja sarna de- ..,___ _8.eWl:iabdn mengembangkan program STBM de-

ngan supplier/penyelia, pabrik dan layanan jasa untuk mempelajari apa yang menjadi harapan konsumen setempat untuk memperbaiki sarana sanitasi dengan berbagai macam opsi sarana yang ditawarkan dan skema pendanaan sesuai kebutuhan masyarakat. iii) Penguatan kapasitas pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya menciptakan dan melaksanakan kebijakkan yang akan mendukung kesinambungan, efektifitas dan efisiensi program sanitasi dengan melakukan advokasi terhadap stakeholders.

,,....-----'1'

_~

Percik Desember 2008

9

Fl>rt.. "!ingon~n . pemoo1n1""kabupalen """ lnve" .... 1l1iIS{arlI1<at 1'nttA< pengam t:oong;'ln J"",1;an - ~ S1!lF'S eli ..bwa.llroor
FY~(slatU$: .2 1 NQV'07-:).Qj,nj'08j

~uanRmc~Jaianl-Bsil

Rlniruan

Prcg-an lSS'I1 (RlriodeN0I2007· S<>p(2008)

soo -

2O~O

+------__ -~ .. ~

__ -~-~~- - -~--- .~ _

50+-----···~···--·U···-··-····----·-·-·-·-·----···-----

"SO" I.~
, 1

I
I

1.000

+--- .... ---

__ ------------,

Untuk menuju pada sarana sanitasi yang sehat (improved sanitation), diperkuat dengan kegiatan promosi, pengenalan berbagai macam pilihan yang terjangkau semua lapisan masyarakat, berbagai model skema pendanaan sesuai kemampuan masyarakat dengan harapan akan tercipta mekanisme pasar antara konsumen dengan penyedia (providers).

Pembelajaran
1. Pengenalan pendekatan program sanitasi dengan pemberdayaan rnasyarakat tanpa memberikan subsidi fislk belumtentu dapat diterima semua pihak terkait meskipun sudah melalui advokasi kepada pengambil keputusan, namun'masih memerlukan pembuktian di lapangan bahwa masyarakat mampu melakukan, Pembuktian kernudian dilakukan melalui deklarasi stop BAB di desa. Masyarakat yang rnernbuktikan mampu melaksanakan pernbangunan jamban tanpa subsidi dengan dihadiri para pengambil keputusan, Kondisi ini akan menjadi dasar dengan pengambil keputusan untuk mendukung kebijakan pembangunan sanitasi tanpa subsidi, 2. Hasil analisa cost effectiveness menunjukkan bahwa investasi pembangunan jamb an oleh masyarakat 2-12 kali lebih banyak dibanding dana yang disediakan pemerintah daerah. 3. Penerapan pendekatan sanitasi total berbasis rnasyarakat (STBM) dengan metoda community led total sanitation ceLTS) mernbuktikan pendekatan yang tepat guna, Pada kegiatan SToPS dalam waktu tujuh bulan intervensi,

pemicuan terlaksana di lebih dari 300 desa dan pencapaian status ODF sebanyak 262 komunitas. Pada daerah yang rnendapat dukungan program dari pemerintah daerah, waktu yang dibutuhkan untuk ..pencapaian status ODF lebih singkat sepetti kecamatan Senduro dan Gucialit di Kabupaten Lumajang. 4. Masyarakat yang telah berubah sikap dan pola pikir akan diiringi dengan gerakan masyarakat yang cepat untuk meningkatkan akses terhadap sarana sanitasi dengan berbagai strategi sesuai kondisi daerah. Hal ini biasanya akan mernancing gerakan serupa pada sektor lainnya sesuai prioritas dan kebutuhan masyarakat. 5. Masyarakat tidak hanya mengandalkan kemampuan individu dalam meningkatkan akses terhadap ·sarana sanitasi namun rnencoba menggali dan memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya seperti melakukan kerja sarna dengan supplier/toko material setempat untuk menyediakan bahan/rnateri sanitasi dengan pembayaran melalui skema kredit, 6. Pemanfaatan media kornunikasi setempat sangat rnenunjang upaya memperluas jangkauan pemicuan dan promosi sanitasi, Materi kornunikasi disesuaikan dengan budaya dan tingkat pernaharnan masyarakat sehingga pesan yang disampaikan akan dapat dipahami oleh kelompok sasaran yang akan dicapai. Sebagai contoh Kabupaten Lumajang dengan menggunakan radio daerah digunakan sebagai media untuk pernicuan komunitas satu dengan yang lainnya.

Tantangan
. 1. Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, urusan sanitasi rnenjadi kewenangan daerah, oleh karena itu perlu upaya desiminasi yang Iebih intensif dalam mengenalkan program sanitasi total berbasis masyarakat sehingga daerah dapat rnengambil kebijakan untuk mengembangkan program tersebut sesuai kemampuan daerah, 2. Masih kuatnya pernahaman tentang peningkatan akses terhadap sarana sanitasi dengan pemberian subsidi fisik kepada individu masyarakat, terutarna para pengambil keputusan di tingkat daerah. 3. Terbatasnya jenis materi sanitasi yang ada di pasar sehingga masyarakat sangat terbatas dalarn melakukan pemilihan opsi teknis sesuai kemampuan, Informasi pilihan teknis pernbangunan jamban yang terbatas mengakibatkan masyarakat berpendapat bahwa jamban mahal, Kemampuan tukang dalarn rnenyediakan jasa pelayanan pembangunan berbagai jenis jamban masih sangat terbatas, 4. Sikap, perilaku, pola pikir dan budaya yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar tempat tinggal sehingga melakukan buang air di sembarang ternpat rnerupakan hal yang biasa. 5. Hasil survei menunjukkan bahwa pernbangunan jamban menjadi prioritas yang rendah dalam pengeluaran rumah tangga sebagai contoh penghuni rumah lebih memprioritaskan mernbeli rokok atau kegiatan sosial lainnya dari pada ditabung untuk mernbangun jarnban. • Djoko Wartono

10

Percik Desember 2008

Direktur Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Dr. Wan Alkadri, M.Sc .

."Pelaksanaan Program STBM: Kemajuannya Menggembirakan"
Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengendalian P.enyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2 dan PL) Departemen .. seh_atan,bersamaJlemangku i<epentingarnlainny,a telah menemukan uia;amp)Jn dalam pembangunan seliltor sanitasi di Indonesia. m Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang beraasis masyarakat marnpu menggerakkan masyarakat secara mandiri. Bagaimalila pelaksanaan dan hasil dan penerapan program in;? Berikut petikao"wawam::ara Pi!rGi#t d~ngan. Direktur Penyehatan Lingkungan Departem~·Kesenaba-n Dr..Wan AlkadM, M.Sc.
Foto: Bowo

Pakai Sabun (crPS) dan Pengelolaan Air Minum Rurnah Tangga (PAM RT), pengeloIaan Iimbah dan sampah rumah tangga. Apa saja kendala dan bagaimana mengatasinya? Kendala utama yang dihadapi adalah belum semua pemangku kepentingan memahami dan mengadopsi pendekatan STEM ini dalam pembangunan sanitasi dan masih berorientasi pada pendekatan fisik, bukan pada pendekatan perubahan perilaku. Untuk mengatasi hal. ini, langkah kita adalah terns melakukan roaclshow dalam rangka advokasi dan sosialisasi kepada para pengambil keputusan serta para pemangku kepentingan. Selain itu juga dilakukan kampanye media dan pembelajaran dan keberhasilan daerah dalam iroplementasi STBM. Bagaimana keterlibatan pihak di luar Pemerintah? Dan bagaiInana sinerginya? Program ini memerlukan keterlibatan dan sinergi dan berbagai pihak (Pemerintah,swasta, ISM, donor dan masyarakat). Sinergi yang kita lakukan dalam bentuk kemitraan dan pengembangan jejaring, seperti melalui Jejaring AMPL, Kemitraan Pernerintah-Swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun, sinergi dengan lembaga-lembaga donor dan NCO (Unicef, ESP, Plan) dalam mengadopsi pendekatan STBM untuk pembangunan sanitasi, ApaharapanPakWan? .Harapan karni ke depan Program ini dapat masuk dalam RPJMN2010-2014 sehingga menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Selain itu ke depan bisa . dilakukan sinergi dengan Program PNPM Mandiri karena pada dasarnya Program STBM merupakan program pemberdayaan masyarakat untuk hidup dan berperilaku

A
..

pa yang mendasari Pemerintah menerapkan Program STBM? Pendekatan yang Ialu tidak mampu menghasilkan kebutuhan (demanci) dalam skala besar untuk akses sanitasi dan perubahan perilaku. Juga tidak mendukung ekspansi sektor swasta yang dapat menyediakan pilihan luas (supply capacity) bagi kelompok pengguna/rnasyarakat miskin maupun tidak miskin. Pendekatan yang selama ini digunakan juga kurang rnemberikan dampak kesehatan dan kesejahteraan masyarakat karena cIilakukan secara parsial (tidak terpadu) dan berbasis rumah tangga/individu (tidak berbasis komunitas). Sebelum adanya Program STBM, program apa saja yang dilaksanakan dan bagaimana hasilnya? Sebelumnya kita menerapkan pendekatan tradisional untuk program sanitasi,
seperti:
1. Membangun MCK z.Mendistribusikan jamb an keluarga secara cuma-cuma atau dalam bentuk paket material stimulan untuk konstruksi, serta 3.Mendistribusikan uang pada masyarakat dalam bentukjamban bergulir. Ketiga kegiatan tersebut menggunakan pendekatan fisik dimana fokus dan tolok ukur sukses selalu pada pendekatan fisiko Dengan pendekatanfisik tersebut tidak memberi daya ungkit yang berarti terhada p akses sanitasi karena tidak berkesinambungan (masyarakat selalu bergantung pada subsidi). Selain itu pendekatan yang lalu juga tidak dapat meningkatkan perubaban perilaku, banyak jamban yang

dibangun tidak digunakan. Apa saja peran Pemerintah dalam menjalankan Program STEM? Peran pemerintah adalah memfasilitasi dalam bentuk penyusunan norma, standar, pedoman, advokasi dan. sosialisasi, kampanye, monitoring; evaluasi, serta pembelajaran. Berkaitan peran Pemerintah tersebut, instansi lintas sektor serta pemangku kepentingan terkait telah menyusun Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STEM) dan telab ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 8S2/Menkes/SK/IX/2008 tanggal8 September 2008. Bagaimana hasil penerapan

Program STBM selama ini?

Setelah ujieoba penerapan STBM di Indonesia selama satu tahun, pada 20 Agustus 2008 Menteri Kesehatan meluncurkan 10 ribu desa kegiatan STBM sampai dengan tahun 2012. Status saat ini sudah 807 komunitas (desa/dusun) dan tigakecamatan yang masyarakatnya Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS), suatu prestasi yang belum pernah dicapai selama ini,
I

Apakah sudah dikatakan berbasil? Atau sebaliknya? Kami belum berani menyatakan sebagai' suatu keberhasilan tetapi kemajuannya menunjukkan hal yang menggembirakan. Pendekatan ini terns kita evaluasi dan kita lakukan akselerasi dengan tetap mempertahankan kualitas proses dan basil. Selain itu juga mulai dikembangkan pilar-pilar lain dan STEM seperti karnpanye Cuei Tangan

I

sehat, _ Bowo

Leksono

Percik Desember 2008

11

• PERATURAN

Keputusan Menteri KesehatanRepublik Nomor 852/Menkes/SKIIX/2008
elainhkemiSkid'nlanh pendidikan, dbadn k ese atan a a a i ang yang selalu menjadi sorotan publik. Terlebih ketika ketiga bidang itu menjadi persoalan di tengah masyarakat. Namun ternyata, perhatian pada bidang kesehatan masih diartikan sempit, yaitu sebatas penyernbuhan penyakit. Padahal, diakui bersama, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Pencegahan tidak hanya menghindar dari bermacam penyakit tapi juga mampu menekan biaya kesehatan yang jauh lebih keeil. Untuk itu, sudah saatnya masyarakat menyadari betapa penting menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang bersumber pada ketersediaan akses Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Bicara kesadaran masyarakat mernang bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan juga sesuatu yang tidak mungkin, Pada pelaksanaanrrya dibutuhkan strategi bersama yang berlandaskan Kebijakan Nasional di sektor AMPL yang fokusnya pada bidang sanitasi. Pe1aksanaan Program Sanitasi Pemerintah sendiri telah memberi perhatian dengan menetapkan PRBS dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004"2009. Hal ini sejalan capaian target Millennium Development Goals (MDGs) 2015 yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses. Pada praktiknya, Pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya telah menjalankan kegiatan dengan menerapkan uji coba Community Led Total Sanitation CCLTS)dan kegiatan lain seperti Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) terkait

Indonesia

tentang Strateql
dengan pendekatan sektoral dan subsidi perangkat keras yang tidak memberikan daya ungkit atau tidak mampu mengubah perilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi .. STBM menekankan pada lima perilaku higienis, yaitu tidak buang air besar (BAB) sembarangan, mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan benar, dan mengelola limbah cair rurnah tangga dengan aman. Strategi Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 9 September 2008 ini berisi penjabaran prinsip dan pokok kegiatan strategi yang dimaksud, Terdapat enam strategi, yaitu penciptaan lingkungan yang kondusif, peningkatan kebutuhan, peningkatan penyediaau, pengelolaan pengetahuan (knowledge management), pembiayaan, serta pemantauan dan evaluasi, Pada strategi ini juga dijabarkan peran dan tanggung jawab bagi para pemangku kepentingan di bidang sanitasi. Peran dan tanggung jawab ini disusun bagi institusi mulai tingkat Rumah Tangga/dusun/kampung, des a, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Strategi Nasional STBM ini menjadi acuan/pedoman petugas kesehatan dan instansi terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait STBM. Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dalam menentukan kebijakan yang sesuai kondisi setempat serta memicu penciptaan lingkungan yang kondusif, peningkatan kebutuhan, peingkatan penyediaan, dan pengelolaan pengetahun dalam akses sanitasi serta perilaku masyarakat yang higienis sehingga terjadi peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat .• Bowo l.eksono

Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

S

Secara tersurat dalam undang-undang, sanitasi menjadi urusan Pemerintah Daerah. Tapi pada kenyataannya belum semua Pemerintah Daerah menjalankan . urusannya.

pelaksanaan PHBS. Penerapan CLTS dan kegiatan PRBS lainnya dianggap berhasil yang kemudian diakornodir menjadi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM ini juga sebagai program yang melengkapi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM). Kebutuhan Strategi N asional Sebenarnya telah diyakini bahwa sanitasi bukan hanya menjadi urusan pribadi tapi menjadi urusan dan tanggung jawab bersama para pemangku kepentingan. Secara tersurat dalam undangun dang, sanitasi menjadi urusan Pemerintah Daerah. Tapi pada kenyataannya belum semua Pernerintah Daerah menjalankan urusannya, Mereka lebih memprioritaskan tindakan pengobatan yaitu dengan mernberikan jaminan pengaman kesehatan. Untuk itu, dibutuhkan aturan lain yang lebih bersifat praktis berupa strategi nasional, yang dituangkan dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Strategi Nasional STBM ini berangkat dad pengalaman pelaksanaan kegiatan

I I

12
.

=-=-,P k'--:-----::_=_::_ erc..=..:.:.;ci Desember 2008

• WAWASAN

Dimensi Kelembagaan dalam Penyebarluasan ells di Indonesia
ejak dirnulainya pilot project CLTS di Indonesia tahun 2005, telah banyak perkembangan yang terjadi, Hal ini menarik minat beberapa lembaga untuk melakukan kajian terhadap CLTS di Indonesia. Diantaranya adalah kajian yang dilakukan oleh Akademika-Pusat Kajian Kebijakan Publik yang terfokus pada dimensi kelembagaan dalam penyebarluasan CLTS. Secara khususkajian ini ingin menjawab pertanyaan kunci yaitu dampak penataan kelembagaan terhadap CLTS, baik dari sisi kecepatan dan keberhasilan irnplementasi, maupun penyebarluasannya? Studi ini dilaksanakan di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten; Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan; dan Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Berikut rangkuman beberapa temuan dad studi tersebut. Keterlibatan Institusi Penerapan dan penyebaran CLTS di Indonesia melibatkan berbagai institusi, baik pemerintah maupun non-pemerintah, yaitu Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan), khususnya Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, merupakan institusi kunci di tingkat pusat dalam penerapan CLTS di Indonesia. CLTSjuga rnelib: ""111 institusi pemerintah selain Departemen Kesehatan. Saat ini terdapat tiga institusi lain yang terlibat yaitu Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Departemen Dalam Negeri, dan Departernen PekeIjaan Umum, Selain itu juga terdapat institusi ad hoc yaitu Pokja A.l\IlPL Nasional. Pokia AMPLjuga dimiliki oleh beberapa provinsi dan kabupaten/kota. Pokja provinsi berada di bawah gubemur dan Pokja kabupaten/kota berada di bawah bupati/walikota, Tidak ada hubungan atasan-bawahan antara Pokja-Pokja itu di berbagai tingkat pemerintahan, melainkan hubungan koordinasi saja. Secara umum, Dinas Kesehatan merupakan institusi kunci di tingkat daerah. Ke-

S

Oleh: Edy Priyono*

inginan daerah kabupaten/kota untuk mengadopsi pendekatan CLTS tidak hanya ditentukan oleh kebijakan provinsi, melainkan juga oleh kemampuan Dinas Kesehatan kab/kota meyakinkan kepala daerah-nya. Hal ini karena, dalam kebijakan desentralisasi, tidak ada garis komando (instruksi) antara provinsi dengan kabupatenjkota. Di antara ketiga lokasi studi, peranan pemerintah provinsi hanya terlihat di Provinsi Sumatera Selatan. Gubemur mengeluarkan surat keputusan (SK) yang isinya meminta pemerintah kabjkota menerapkan pen dekatan CLTSsecara bertahap. Dinas Kesehatan Provinsi menindaklanjuti dengan melaksanakan pelatihan CLTS bagi seluruh kabupatenjkota. Menanggapi SK gubemur, bupati Muara Enim mengeluarkan SK pembentukan Tim Teknis CLTS yang bertugas melatih aparat pemerintah di kecamatan. Setelah pelatihan, pemerintah kecamatan yang tertarik, juga mengeluarkan SK pembentukan tim teknis tingkat kecamatan yang tidak hanya bertugas melatih pemerintah desa, melainkan juga menerapkan CLTS di tingkat desa. Dinas Kesehatan (di Muara Enim dan Sambas) juga melakukan aktivitas pemicuan (triggering), Situasi ini tidak terjadi di Pandeglang, karena CLTS belum diadopsi sebagai kebijakan pemerintah setempat. Meski-

pun demikian, pemerintah Kabupaten Pandeglang juga tidak berada dalam posisi menolak CLTS. Untuk saat ini, posisi "tidak menolak'' tersebut dianggap cukup kondusif. Peran IBM dalam penerapan CLTS hanya dapat dilihat di Pandeglang. CLTS di Pandeglang diinisiasi oleh IBM intemasional bernama PCl (Project Concerns International) pada tahun 2006. Sejak tahun 2007 sampai sekarang, pelaksanaannya dilanjutkan oleh LS~ lokal (Harfa). IBM terlibat dalam setiap langkah irnplementasi CLTS, kecuali pada tahap perumusan kebijakan yang menjadi kewenangan pernerintah. Peran Puskesmas yang paling signifikan dapat dilihat di Muara Enim. Puskesmas sangat aktif melakukan promosi, pelatihan, pemicuan, dan pemantauan CLTS. Puskesmas bekerja sangat dekat dengan masyarakat. Di Pandeglang, tidak banyak desa yang dipicu oleh Puskesmas, karena Puskesmas hanya berada pada posisi "mendukung" pekerjaan 18M. Sedangkan di Sambas, tidak terlihat jelas adanya peran puskesmas. Peran aktifbidan desa hanya dapat dilihat di Muara Enirn. Setidaknya ada dua alasan di balik terbatasnya peran bidan desa di Pandeglang: (1) CLTS masih dikelola oleh LSM yang mempekerjakan fasilitator khusus dan ditempatkan di setiap desa CLTS, sementara bidan desa hanya membantu pekerjaan fasilitator, dan (2) bidan desa tidak

Jajaran Puskesmas Lembak, Kabupaten Muara Enim beserta bidan desa, aktif melakukan perntcuan terkait Program CLTS. Foto: Bowo Leksono.

+-----------------------------------+---------------------------------+-----------------------------------~
Percik Desember 2008

13

"

I.

menetap

di desa sehingga interaksi dengan

masyarakat kurang intensif. Sementara di lokasi CLTS Sambas, tidak memiliki bidan desa. Kader Posyandu adalah para perempuan yang secara sukarela membantu bidan desa untuk mengelola posyandu (pos pelayanan terpadu). Pada kasus Pandeglang, para kader ini membantu fasilitator dalam penerapan CLTS. Dalam konsep CLTS, peran pemimpin alamiah (naturaIZeader) sangat penting, dan biasanya jauh lebih penting daripada peran pimpinan desa formal, khususnya dalam penerapan dan pemantauan CLTS. Bagi fasilitator, sejauh pemimpin formal berada dalam posisi "tidak menolak" CLTS, sudah cukup bagi mereka untuk menerapkan CLTS. Akan tetapi, CLTS tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan yang nyata dari para natural leader. Pada dasarnya, lembaga donor memberikan dukungan dalam penerapan CLTS. Bank Dunia terlibat bersama AusAid melalui Proyek WSLIC2 di 36 kabupaten, dan terlibat dalam Proyek TSSM melalui WSP (Water and Sanitation Program)-nya di 29 kabupatenjkota di Jawa Timur (bekerja sarna dengan Bill and Melinda Gates Foundation), juga terlibat dalam proyek PAMSIMAS yang meliputi 110 kabupatenjkota eli Indonesia. Sedangkan ADB mendukung melalui Proyek CWSH yang meliputi 20 kabupatenjkota di Indonesia.

berjalan dengan baik dan ada koordinasi yang baik di antara keduanya, maka implementasi dan penyebaran CLTS di kabupaberjalan dengan baik. Hubungan lain yang tidak dapat dikesampingkan adalah hubungan antara legislatif dan eksekutif. Posisi legislatif (secara politik) lebih kuat daripada eksekutif. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya mempengaruhi pemerintah daerah untuk mengadopsi CLTS tidak seharusnya mengesampingkan keberadaan legislatif

dibayar untuk keberhasilan

ini. Dibanding-

I

teu/kota dapat diharapkan

kan dengan dua daerah Jainnya (Pandeglang dan Sambas), motivasi menerima CLTS sebagai suatu pendekatan yang baik terlihat lebih didasarkan pada alasan "tugas dari level pemerintah yang lebih tinggi". Sebaliknya, implementasi CLTS di Sambas terlihat lebih "alarni", namun penyebarannya berjalan lambat, Fenomena ini mengindikasikan adanya trade-offantar"a "kualitas" CLTS (sebagai pendekatan yang bottom-up dan berbasis pada kebutuhan rnasyarakat) dengan kecepatan penyebarannya. Kasus yang terjadi di Desa Tengguli, Kab Sambas juga menunjukkan bahwa proses pembelajaran antar-desa bukan sesuatu yang dapat terjadi dengan mudah. Desa tetangga yang terletak persis di sebelah Desa Tengguli tidak ikut mengadopsi CLTS. Dalam kasus seperti ini, sangat diperlukan inisiatif pihak luar untuk mendorong desa yang belum menerapkan CLTS agar mengikutijejak desa lain yang telah berhasil menerapkanCLTS. Secara umum, pendekatan yang bersifat

II

,

Dilema Institusionalisasi
Pada dasarnya tujuan institusionalisasi adalah menjadikan CLTS sebagai bagian dari program/pendekatan resmi pemerintah. Institusionalisasi diperlukan bagi penyebarluasan CLTS, karena pemerintah merupakan satu-satunya institusi yang memiliki kewenangan mencakup seluruh wilayah di dalam suatu negara. Tanpa institusionalisasi, CLTS hanya dapat diimplementasikan di wilayah yang terbatas, atau hanya dapat diimplementasikan dalam jangka pendek. Namun pada beberapa kasus, institusionalisasi yang terlalu cepat menimbulkan dilema dan tantangan baru (Kar and Pasteur, 2005). Seperti telah dikemukakan sebelwnnya, sampai saat ini, kebanyakan aktivitas CLTS di Indonesia masih berbasis proyek, atau menjadi bagian dari aktivitas LSM. Dalam situasi tersebut, paling tidak terjadi dua proses institusionalisasi dalam penyebarluasan CLTS di Indonesia yaitu: (1) proses transfer dari aktivitas berbasis proyek menjadi program regular pemerintah, dan (2) proses transfer dari LSM ke pemerintah, pemerintah daerah. khususnya

top-down tidak disarankan untuk digunakan dalam CLTS (lihat Kar and Chambers, 2008; Kar and Bongartz, 2005). Meskipun
demikian, jika kecepatan penyebaran CLTS masih menjadi tujuan utama, maka tidak ada pilihan selain berkompromi dengan pendekatan top down. Hal ini selaras dengan rekornendasi untuk lebih fleksibel dalam menerapkan CLTS di daerah-daerah dimana subsidi untuk pembangunan sanitasi tidak dapat dihindari (Kar and Bonqartz, 2006). Pertanyaannya kemudian adalah sampai di tahap mana pendekatan top down masih dapat diterima? Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pendekatan top down masih dapat diterima sampai level kecamatan. Penggunaan "instruksi" kepada pemerintah desa atau pemerintahan di bawahnya, dapat menghasilkan output yang tidak berbeda dari pen dekatan sanitasi lain (yangjustru berusaha "dikoreksi" oleh konsep CLTS) berupa: pemalsuan status ODF, ODF yang hanya bersifat sementara, atau bahkan hanya membangun toilet tanpa ODF. Di Kabupaten Pandeglang, transfer kepemilikan program CLTS dari LSM ke pemerintah daerah berjalan Iarnbat. Sampai : ,

Hubungan antar Institusi
Kebijakan desentralisasi berimplikasi pada tidak adanya garis komando antara Departemen Kesehatan (di tingkat pusat) dengan Dinas Kesehatan Provinsi maupun kabjkota. Kebijakan sektoral yang dikeluarkan oleh lembaga teknis (contoh: Departemen Kesehatan) tidak memilild kekuatan untuk "memaksa" kab/kota menjalankan kebijakan tersebut. Adanya garis instruksi (hubungan langsung) antara pemerintah kabjkota, dinas kesehatan, puskesmas, dan bidan desa, serta garis instruksi yang menghubungkan pemerintah kabjkota, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, merupakan indikasi pentingnya kondisi ini dalam penyebarluasan CLTS. Jika hubungan-hubungan tersebut

CLTS di Muara Enim menjadi kasus yang rnenarik untuk mencermati terjadinya transfer dari aktivitas proyek menjadi program pemerintah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Provinsi Sumatera Selatan/Kabupaten Muara Enim merupakan satu-satunya lokasi studi yang memiliki kebijakan resmi dalam penerapan CLTS. Tidak mengherankan apabila penyebaran CLTS di daerah ini berlangsung lebih cepat dibandingkan daerah lainnya. Meskipun penyebaran CLTS di Muara Enim terjadi secara cepat (sebagai hasil dari institusionalisasi), ada "harga" yang harus

14

Percik

Desember 2008
I

saat ini, setelah CLTSberjalan lebih dari dua tahun, namun masih kuat kesan bahwa CLTS adalah "program LSM yang didukung oleh pemerintah daerah", daripada "program pernerintah daerah yang didukung oleh LSM". Salah satu masalah kuncinya adalah kurangnya kemauan politik (political wil[) dari bupati Pandeglang untuk mengadopsi pendekatan CLTS. Dalamjangka pan~ jang, CLTS di Pandeglang hanya akan menjadi program LSM. Insentif, Penghargaan dan Sanksi Pada beberapa kasus, penerapan CLTS juga memberikan insentif bagi birokrasi di daerah. Insentif ini tidak berasal dari ''bawah", melainkan dari tingkat birokrasi yang lebih tinggi. Penghargaan dari pemerintah pusat (Departemen Kesehatan) merupakan salah satu faktor utama yang berperan dalam upaya menumbuhkan inisiatif lokal untuk mengadopsi praktek CLTS. Masyarakat di desa yang mengadopsi pendekatan CLTS dapat elipilah ke dalam dua kelompok: kelompok "inovator" dan kelompok "pengikut". Kelompok inovator menerima pendekatan CLTS didorong oleh kebutuhan mereka untuk memiliki kondisi sanitasi yang lebih baik. Sebaliknya, kelompok pengikut menerima CLTS karena ajakan atau (pada tingkat tertentu) dipaksa oleh kelompok inovator. Di Kabupaten Pandeglang, kelompok inavator difonnalkan dalam bentuk tim yang bemama Tim Pemberantasan TaifWadukyang beranggotakan 5 (lima) sampai 8 (delapan) orang. Tim ini berusaha membujuk rumah tangga di wilayahnya untuk membangun toilet. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan persuasif melalui berbagai cara, termasuk menawari jasa pijat gratis pada kepala rumah tangga target. Untuk rumah tangga yang membandel, langkah terakhir yang diambil tim adalah membuatkan toilet bagi mereka dengan harapan mereka menjadi malu karenanya. Di Muara Enim, sanksi sosial dikenakan pada rumah tangga yang membandel dengan cara yang lebih keras, seperti mengketapel rumah mereka. Di Sambas, toilet dibangun secara komunal (satu. toilet untuk 5-10 rumah tangga). Pembangunan toilet di Sambas dikoordinir oleh institusi formal yaitu RT (rukun

tetangga). Untuk membangun toilet komunal, setiap rumah tangga memberikan kontribusi sebesar Rp 50,000,-. Bagi rumah tangga yang tidak mampu membayar sebesar itu, disediakan pinjaman tanpa bunga yang pengembaliannya dapat eliangsur. Dengan kata lain, "tekanan" bagi masyarakat untuk menerapkan CLTS (pembangunan toilet) eli Sambas dilakukan dengan cara yang lebih "formal", Sampai saat ini, pemerintah belum memiliki sistem penghargaan bagi kabupaten, desa, atau masyarakat yang berhasil rnenerapkan CLTS (dengan status ODF). Di Muara Enim, pemerintah daerah menginisiasi suatu sistem penghargaan dengan pendekatan bottom-up. Sistem penghargaan yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat juga dikembangkan oleh PCI untuk desa yang telah rnenerapkan CLTS, sarna seperti yang dilakukan oleh proyek CWSH di Sambas. Bagi desa yang berhasil mencapai status ODF eliberikan penghargaan berupa fasilitas publik sesuai kebutuhannya, seperti fasilitas air bersih, jalan, listrik. Dari segiide, sistem ini bagus (paling tidak jika dibandingkan dengan penghargaan berbentuk uang tuuai) karena selain didasarkan pada kebutuhan masyarakat, manfaatnya juga akan dirasakan oleh banyak anggota masyarakat. Di Sambas, tidak ada penghargaan bagi desa yang menerapkan CLTS. Meskipun demikian, pemerintah daerab di Sambas berupaya mernfasilitasi pengadaan fasilitas publik khusus (yang tidak berada di bawah kewenangan pemda) bagi desa yang telah menerapkan CLTS.Sebagai ilustrasi, masyarakat lokal di Desa Tengguli telah lama mendambakan keberadaanjaringan telepon, karena itu pemerintah daerah rnendorong penyeelia jasa telekomunikasi seluler untuk membangun menara BTS (tower) eli Desa Tengguli. Saat ini, masyarakat dapat menikmati akses telepon seluler elidesanya. Selain rnasalah keterbatasan pemerintah dalam rnerealisasikan bentuk penghargaan yang elijanjikan, ada beberapa alasan lain mengapa sistem penghargaan harus elirancang dengan bijaksana. Pertama, sampai saat ini, tidak tersedia sistem verifikasi untuk mengevaluasi status ODF suatu desa. Melalui evaluasi dapat diketahui apakah status ODF tersebut bersifat sementara atau

mampu bertahan untuk waktu yang lama. Kedua, pemberian penghargaan sebenarnya tidak sejalan dengan prinsip dasar CLTS yang berbasis kebutuhan. Jika masyarakat benar-benar memerlukan sanitasi yang baik, maka tidak eliperlukan penghargaan untuk mewujudkannya. Kebijakan yang Kondusif Salah satu faktor penting yang menunjang kesuksesan implementasi CLTS, khususnya pada tahap awal, adalah keberadaan fasilitator yang mampu menjawab berbagai pertanyaan masyarakat, mendorong peran masyarakat, bekerjasama dengan tokoh masyarakat. Salah satu kasus menarik yang dapat eliamati terkait keberadaan fasilitator terjadi eli Pandeglang, diman~ PCI sebagai inisiator CLTS merekrut orang khusus untuk rnenjaelifasilitator yang bekerja dan tinggal di desa. Ketika LSM loka1(Haria) ditunjuk sebagai lembaga yang meneruskan pekerjaan PCI, Haria tidak mensyaratkan fasilitatornya untuk tinggal di desa. Akibatnya implementasi CLTS tidak berjalan sebaik dan seintensif seperti saat program ditangani langsung oleh PCI. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan fasilitator yang bekerja "dekat" dengan masyarakat menjaeli sangat penting. Berkaitan dengan kondisi eli atas, selah satu kunci keberhasilan penyebaran CLTSeli Muara Enim adalah peranan yang besar dari puskesmas dan bidan desa dalam penerapan CLTS. Peranan ini muncul sebagai hasil dari kebijakan yang kondusif (enabling environment). Menurut aturan yang berlaku, bidan desa harus tinggal di lokasi tugasnya agar dapat bekerja secara efektif. Di Kecamatan Lembak (Muara Enim), semua bidan desa mematuhi aturan ini dan tinggal di desa tempatnya bertugas. Oleh karena itu, bidan desa di Kecamatan Lembak dapat memainkan fungsi yang sarna seperti fasilitater PCI eliPandeglang. Kewenangan mengalokasikan sumberdaya (anggaran) merupakan faktor yang penting bagi keterlibatan puskesmas eliCLTS. Dari ketiga lokasi studi, hanya puskesmas di Muara Enim yang memiliki kewenangan untuk mengatur alokasi sumberdayanya. • Akademika-Pusat Kajian Kebijakan Publik, Bekasi

Percik Desember 2008

15

mumnya masyarakat di desa masih mengartikan pendekatan/metode CLTS sebagai sanya berangkat jam 6 pagi dan pulang proses pembangunan jamban keluarga jam 4 sore. Mereka ada yang membawa dan belum pada pengertian sanitasi bekal makanan dari rumah dan ada juga secara luas, yang terkait perilaku hidup yang tidak. Ketika mereka berada di lahan bersih dan sehat. Fakta ini ditnungkinkan pertanian, maka pilihan pertama untuk karena dua hal, yaitu 1) Proses perenmembuang air kecil dan air besar (kencanaan selama triggering lebih ditekancing dan berak) adalah di sekitar lahan kan kepada pembangunan jamban pertaniannya, atau di parit dan sungai (bukan pada bentuk sanitasi umum yang yang berada di sekitar lahan pertanianjuga menjadi masalah lingkungan, misalnya, nya rnenangani air limbah, genangan air, kandang ternak eli sekitar permukiman dan cud tangan), dan 2) Saat ini program ' Penggunaan Air Sungai dalam Perspektif Agama Islam sanitasi melalui pendekatan/metode Bagi masyarakat desa diJawa Barat, CLTS belum dianggap selesai. Sesuai konsep dasarnya, pendekatdi Banten dan di Sumatera Barat, dan umumnya beragama Islam; tidak ada an/metode CLTS lebih mengutamakan larangan khusus mengkonsumsi air sukepada percepatan kesadaran untuk ngai (untuk bersuci, mandi dan mencuci berperilaku baik dan pembangunan jampakaian). Masyarakat pun tahu dan sadar ban seeara swadaya (non subsidi). bahwa air sungai, danau dan sejenisnya tidak untuk diminum atau untuk meAntara Kehidupan Petani, Berak dan Etika masak nasi. Memang benar, air sungai dari aspek Para petani yang ada di desa banyak menghabiskan waktu di lahan pertanian kesehatan tidak memenuhi syarat, baik (sawah, kebun dan gunung). Mereka biasecara fisik maupun kimia. Secara fisik

U

·

Pemberdayaan Masyarakat dan PendekatanlMetode CLTS
saja sudah dapat diketahui misalnya keruh dan berwarna, tetapi air sungai memiliki volume yang eukup banyak dan mengalir. Kondisi inilah yang melatarbelakangi penggunaan air sungai dan sejenisnya. Bagi masyarakat desa yang sangat kekurangan air bersih, mungkin saja dipergunakan untuk minum dan masak. Masyarakat di desa yang beragama Islam, telah mernbagi kriteria air ke dalam tiga jenis; 1) air yang suei, 2) air bersih yang tidak dapat rnensucikan, dan 3) air yang najis (tidak boleh dipakai bersuci). Pembagian air ini tentu berbeda dari sudut ilmu kesehatan yang tidak mengenal dengan sebutan air sud dan air najis. Dalam ilmu kesehatan sekurangkurangnya ada tiga jenis air; 1) air bersih seeara fisik maupun kimia; 2) air stern, dan 3) air kotor karena mengandung bibit penyakit. Buang Air Besar (BAH) di Sungai dan Persoalan Etika? Persoalan berak/BAE di sungai merupakan persoalan etika. Mereka hanya akan merasa malu kalau bagian anggota badannya yang sensitif (sekitar pantat) ketahuan orang lain yang bukan anggota keluarganya apalagi kalau dilihat oleh lain jenis, Di masyarakat etnis Minang, akan menjadi masalah besar (rasa malu yang sangat mendalam) jika menantu dilihat mertua at an sebaliknya. Tidak mudah menyadarkan masyarakat karena rnereka selalu mempunyai alasan yang menurut mereka sudah benar. Mereka menyadari yang dilakukannya adalah salah tetapi masih suka membenarkannya. Proses penyadaran tidak dapat dilakukan secara revolusioner melainkan harus secara evolusiorier .. Dalam proses penyadarannya, fasilitator masyarakat dan natural leader, selalu mengangkat topik "kesalahan". Masyarakat disadarkan untuk tidak membiasakan berbuat salah seperti mem-

I

Meskipun telah ,memjliki jamban, narnun masih banyak warga yang kurang memperhatikan limbah keluarga. Foto: Bowo Leksono.

16

Percik Desember 2008

perlihatkan anggota badan sernbarangan, karena perbuatan itu dilarang agama (agama Islam). Berak di sungaijuga akan mencemari sungai dan rnerugikan orang yang berada di hilir yang secara kebetuIan memanfaatkan air sungai ini untuk keperluan tertentu. Jika hal itu terjadi maka perbuatan tersebut menjadi salah dan berdosa.

I

Natural Leader, Gender dan Shubol Status Istilah natural leader ini tidak permanen, karena di Ciamis Jawa Barat Apakah PendekatanfMetode CLTS dikenal dengan Tim CLTS, di Pandeglang Natural Leaders dan Simbol Status Terkait Persoalan Hak dan KeadilBanten dikenal dengan Tim Kesehatan Menjadi anggota natural leader adaan? Desa, dan di Sijunjung Sumatera Barat lab simbul status (positif) bagi masyaMemang keterkaitannya tidak secara dikenal dengan Tim Natural Leader. rakat desa karena mereka sebagai motilangsung, tetapi)ika ditelusuri lebih menSekalipun berbeda rnempunyai kesamaan vator, fasilitator dan juga pilihan masyadalam, maka akan ketemu, Orang dalam peran dan proses pembentukan, rakat. Tetapi tidak setiap angota masyamelakukan BAB dimana pun menjadi Mereka adalah kumpulan individu rakat mau menjadi natural leader karena ha.knya. Tetapi setiap orang juga harus yang mendapatkan kepercayaan (dipiIih) alasan banyak pekerjaan dan tidak punya mengetahui kewajibannya. Baik kewaanggota rnasyarakat karena memiliki cukup waktu untuk berperan sebagai jiban yang diatur agama ataupun kewasifat yang baik dan mempunyai kapasitas, natural leader. jiban yang diatur kekuatan hu.kum adat. baik dalam hal pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Mereka juga memiliki pengaNatural Leaders dan Gender Apakah Pendekatan/Metode CLTS ruh karena jabatannya di des a sebagai Persamaan hak antara perempuan Terkait Persoalan Kemiskinan dan tokoh atau public figure. Pengetahuan , dengan laki-Iaki dalam perkumpulan Pemberdayaan? dan ketrampilan mereka diperoleh karenatural leader, mulai ada perkembangan Jelas sekali keterkaitannya. Tetapi na sering mengikuti pertemuan, pelatihpositif, Di Sijunjung Sumatera Barat, harus dipahami duduk persolannya. an atau karena berpendidikan. keanggotaan natural leader mayoritas Orang miskin identik dengan kondisi Kasus di Jorong, Kampung Taranperempuan. Kasus di Padang Doto, dari darnrat, kondisi kekurangan dan kondisi dam, Sijunjung, Sumatera Barat, ternyata ada natural leader yang anggotanya anak remaja perempuan yang baru lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka dipilih karena kemauan sendiri dan karena tidak ada pilihan lain, karena banyak anak-anak mudanya yang merantau, juga karena tokoh Iainnya tidak punya ban yak waktu untuk aktif dalam kegiatan tersebut. Kondisi ini ternyata tidak menguntungkan. Mereka (sebagai natural leader) menjadi kurang aktif karena ketika melakukan pendampingan dan triggering ke anggota masyarakat yang Iebih tua usianya atau yang punya kedudukan di desa, tidak mampu untuk meyakinkan at au kalahdalam dialog dan diskusi, Keberadaan natural leader at au sejenisnya, sangat mendukung program Warga yang melakukan aktivitas MCK di bantaran sungai tidak merasa malu. percepatan perubahan perilaku hidup Foto: Bowo Leksono.
I

bersih dan sehat di masyarakat. Semakin aktif mereka maka semakin cepat pula keberhasilan program perubahan perilaku terutama yang terkait sanitasi. Kasus keberhasilan di Padang Dote, Sindanglaya dan Margajaya adalah karena natural leader bekerjasama dengan kepala desa/Kepala Jorong dan tokoh informal lainnya. Mereka secara bersamaan melakukan pendekatan/rnetode CLTS dan secara rutin melaku.kan triggering dan kunjungan .kepada masyarakat.

12 anggota Natural Leader, 10 diantaranya perempuan. Demikian juga di desa lainnya termasuk di Sindanglaya Pagelaran, Banten. Natural leader dengan ·keanggotaan perernpuan juga ada kepentingan lain yaitu untuk mempermudah dalam mempengaruhi kaum perempnan atau ibuibu. Dengan demikian natural leader mudah menjumpai perernpuan atau ibuibn dalam melakukan pendekatan/rnetode CLTS.

Percik Desember 2008

17

ketidaktahuan. Mereka yang tinggal di desa biasanya kurang potensi air bersih, kurang mengerti ilmu kesehatan dan bentuk kekurangan lainnya. Mereka yang miskin seperti itu hams diberdayakan. Pemberdayaan hams dimulai dari aspek pengetahuan dan ketrampilan (sumberdaya manusia), dilanjutkan kepada aspek fisik dan material, kemudian aspek pengelolaan (manajerial). Langkah pendekatan/rnetcde CLTS sudah mengarah kepada langkah pem-

perlahan kembali kepada kondisi semula. Pendekatan/metode dan langkah CLTS sudah mengarah kepada kesinambungan program. Terbukti adanya proses peningkatan kapasitas, penyadaran sikap, swadaya/kontribusi, pembangunan jamban, orientasi kesehatan, orientasi lingkungan dan pembentukan lembaga atau perkumpulan Natural Leaders/Tim CLTS atau Tim Kesehatan Desa.

berdayaan.
Pendekatan/rnetodenya dimulai dari peningkatan kapasitas (pengetahuan, ketrampilan dan penyadaran), dilanjutkan pembangunan fisik seperti pembangunan jamban, kemudian bagaimana melakukan pengelolaannya. Pendekatau/metode CLTS juga sudah sesuai prinsip pemberdayaan yaitu mengoptimalkan potensi lokal yang dimilikinya. Mereka harus mau berpartisipasi dan juga berkontribusi. Untuk rnembangun jamban keluarga diupayakan dari kekuatan yang mereka miliki. Mereka sudah barang tentu akan membangun jamban keluarga sesuai potensi yang dimiliki atau sesuai kemampuan (kemarnpuan uang dan kemampuan inkind). Dalam hal ini sudah dapat dipastikan bahwa semua orang termasuk yang miskin akan mempunyai kemampuan dalam membangun jamban keluarga. Orang miskin bukan tidak punya (the have not) melainkan hanya punya sedikit (the have little). Dari kemampuan sedikit itulah akan terwujud jamban keluarga. Dan muneul tipologi jamban sesuai kemampuannya. Sustainability dan Monitoring Tidak sedikit gambaran di lapangan dimana program pemberdayaan yang didanai jumlah uang banyak dan membutuhkan tenaga yang banyak pula, tetapi hasilnya tidak ada yang lestari dan tidak berkekelanjutan. Program fisik haneur perlahan-Iahan, Iembaga yang dibentuk bubar tanpa bekas, perilaku yang dirubah (perilaku baik) kembali ke perilaku awal (perilaku jelek), dan semuanya secara

Pendekatan/metodenya dirnulai dari peningkatan kapasitas (pengetahuan, ketrampilan dan penyadaran), dilanjutkan pembangunan fisik seperti pembangunan jamban, kemudian bagaimana melakukan pengelolaannya.

Catatan Kritis untuk Mempertahankan Kesinambungan Ada dua catatan kritis yang terjadi di lapangan. Pertama, untuk desa yang rnasuk kategori berhasil (cepat membangun jamban/cepat terjadi perubahan), cenderung terjadi kesinambungan. Masyarakat akan memeliharanya dan akan terus memanfaatkannya, dan ini termasuk indikator kesinambungan utama. Kedua, bagi yang kategori sedang, masih disangsikan karen a eksistensi kelembagaan dan perannya rnasih belum kuat. Kelembagaan desa dan natural leader belum seeara konkret memperlihatkan kebersamaannya dalam melakukan pemieuan. Untuk mempertahankan eksistensi program menuju kesinabungan, direkomendasikan tujuh opsi berikut ini: Pertama, pendekatan CLTS. Program sanitasi melalui pendekatan CLTS telah memberikan pendidikan berharga kepada semua pihak terutarna kepada pelaku pemicuan dan masyarakat yang terpicu. Pelaku pemieuan menjadi lebih pereaya bahwa semiskin apapun masyarakat ternyata punya kemampuan membangun jamban keluarga.

Kedua, perkumpulan natural leader mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap percepatan perubahan perilaku masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan sehat, sekalipun masih berorientasi kepada pembangunan jamban keluarga. Proses evolusi perubahan perilaku telah terjadi sejak berlangsungnya pemicuan dari perkumpulan tersebut. Ketiga, keberadaan natural leader akan menjadi mandul dan kurang direspon masyarakat jika tidak mendapatkan dukungan langsung dari pemangku kepentingan setempat. Kegagalan peran natural leaders atau sejenisnya selama ini ada kaitannya dengan lemahnya dukungan dari unsur pemangku kepentingan. Keernpat, pemicuan yang paling efektif disampaikan kepada ibu-ibu dan anakanak di sekolah. Jika rnereka sudah merasa terpicu, maka proses perubahan pun relatif cepat. Perempuan ternyata mempunyai pengaruh besar da1am proses pengambil keputusan di dalam rumah tangga. Sehubungan hal tersebut, maka keanggotaan natural leader akan lebih efektif jika mayoritas perempuan. Kelima, perubahan perilaku tidak bisa secara revolusioner melainkan selalu terjadi seeara evolusioner. Proses mempercepat perubahan (PHBS) dapat dilakukan melalui intensitas peningkatan kapasitas (pengetahuan dan ketrampilan) melalui pelatihan dan pertemuan yang terstruktur. Keenam, umumnya pengetahuan dan ketrarnpilan sistem pengelolaan jarnban yang benar masih lemah. Mereka belum tahu apa saja yang hams dilakukan jika tanki septik penuh, kapan penuh, bagairnana jika mampet, dan apa saja yang memperburuk sistim penguraian tinja dalam tanki septik atau eubluk. Ketujuh, jamban yang dibangun pada umumnya masih teknologi sederhana (bukan permanen). Sebenarnya ini rnerupakan potensi awal yang positif untuk terjadinya pembangunan jamban yang baik (aman, sehat dan kuat) di masa mendatang. Sebagai antisipasinya, patut dipikirkan bersarna mengenai teknologi eubluk yang tepat guna, sehat, kuat dan aman. -

18 Percik 2008 Desember

Ecosan Toilet
Mungkinkah Diterapkan di Indonesia?
i akhir bulan Ramadhan 1429 H lalu, tepatnya 22-25 September 2008 telah dilangsungkan Workshop on Ecological Sanitation eliKathmandu, Nepal. Pesertanya berasal dari negara Nepal, Indonesia, Bhutan, Myanmar, Maldives, Srilanka, Thailand dan Timor teste. Indonesia mendapatkan kesempatan menyampaikanperkembangan pembangunan sanitasi terkini, baik terkait International Year Sanitation 2008 maupun Millennium Development Goals. Selain itu, disampaikan pula sejumlah kisah keberhasilan dalam mengembangkan pendekatan dan inisiatif dalam pembangunan sanitasi. Kebetulan 'delegasi Indonesia mendapatkan paket lengkap dalam hal keterwakilan institusinya, yaitu mewakili Departemen Kesehatan, Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Tentang Ecosan Toilet Hal menarik dari workshop tersebut adalah eliangkatnya topik Eeosan Toiletyang telah memperlihatkan keberhasilan dhlam penerapannya di beberapa negara, terutama Nepal. Keberhasilan Nepal ini eliperlihatkan dengan utilisasinya yang mencapai 93 persen, yaitu dari 517 toilet yang elibangun sejak tahun 2002, masih beroperasi sebanyak 487 toilet di tahun 2006. Apa sebenarnya Eeosan Toilet ini? Mungkin bagi banyak kalangan praktisi sanitasi, toilet ini bukan sesuatu yang barn, namun yang unik bagaimana bila diterapkan di Indonesia dan bagaimana mengoperasikannya sehari-hari, Pada Eeosan Toilet, bangunannya terdapat dua tempat jongkok yang masing-masing memiliki dua lubang. Lubang yang besar untuk masuknya tinja, sedangkan lubang yang keeil untuk mengalirkan urin. Setelah selesai buang air besar, membersihkannya harus menggeser ke samping sehingga baik tinja maupun urin tidak tercampur air. Urin

D

• Oleh: Iwan Nefawan *

dan tinja ini disimpan selama beberapa waktu, kemudian clapat digunakan sebagai pupuk dengan nutrien yang sangat tinggi, terutama dari urin. Uji efektivitas pupuk memperlihatkan untuk tanaman tomat, hasil produksinya bisa menghasilkan dua kali lipat dari penggunaan pupuk kimia. Perkiraan nilai pupuk urin per tahun atau dengan kata lain penghematan yang dapat dilakukan sebesar NRs. 1575.00. Sedangkan pupuk tinja sebagai soil cone ditioner bernilai NRs. 500.00. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat Ecosan Toilet ini sebesar NRs. 16500.00 dengan Pay !:Jack Periodsekitat ~,09 tahun ..Percaya? Kalau-tidak, mari kita bersama-sama membuktikan denganmembuat pilot project di Indonesia Rekomendasi Workshop Selain inforrnasi Eeosan Toilet, workshop ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi berikut: • Pemerintah dan masyarakat sipil bekerja bersama seeara efektif untuk meningkatkan sanitasi dalam mencapai MDGs sekaligus melindungi kesebatan clap lingkungan dengan kualitas teknis yang terjamin serta dengan kebijakan pembiayaan untuk pemecahan masalah sanitasi. • Akses sanitasi yang aman sebagai titik kritis dalam pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan dengan pendekatan yang berbasis masyarakat, gender-sensitive dan tanggap kebutuhan. • Pengembangan dan implementasi dari pemecahan masalah sanitasi yang dapat eliterima dan dihargai, terbuka secara budaya dan berkelanjutan secara ekologis.

Pencapaian sanitasi total melalui pendekatan Community Led Total Sanitation ceLTS) dan School Led Total Sanitation dengan partisipasi aktif dari semua, khususnya wanita dan anakanak sebagai metodologi yang telah diterima di beberapa negara. Pemerintah dan mitranya menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mempromosikan sanitasi melalui skema kreelit mikro dan dana yang berbasis masyarakat, pengembangan sektor swasta skala kecil untuk sanitasi dengan penekanan khusus bagi wanita kepala keluarga atau kelompok yang kurang beruntung. Mempromosikan sistem sanitasi yang ekologis, berorientasi pemakaian wang dan ramah bagi pemakai untuk penerapan eli tatanan rumah tangga, masyarakat dan perkotaan.

Renungan untuk Pembangunan Sanitasi di Indonesia Inforrnasi dari beberapa negara yang mengikuti workshop ini, ternyata perkembangan pembangunan sanitasi Indonesia relatif lambat. Mungkin kita harus berkaca apakah yang telah kita lakukan ini sudah berada di jalur yang tepat sesuai karakteristik sosial, budaya dan geografis negara kita. Sebuah renungan dari kesalahan yang sering kita lakukan adalah kita mengabaikan konsistensi dalam menjalankan pembangunan. Pada saat ini kita merasa puas dan .bangga dengan suatu prestasi dalam menyelesaikan masalah sanitasi yang terlihat spektakuler. Padahal sesungguhnya belum sukses seeara signifikan, tetapi kita sudah tergiur untuk menambah beban langkah sehingga. yang terlihat sekarang adalah langkah yang terseok-seok, • Penulis bekerja di Direktorat Penyehatan Lingkungan/Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan

Percik Desember 2008

19

• WAWASAN

Memaksimalkan Penggunaan Kartu Metaplan
artu metaplan yang berwarnawarni sudah eukup umum digunakan dalam berbagai pertemuan seperti di rapat, lokakarya, pelatihan ataubahkan pertemuan warga di kampung-kampung. Kartu metaplan memang dapat membantu proses diskusi agar mendapatkan hasil yang cemerlang. Namun, yang lebih penting, penggunaan kartu metaplan dapat "mengamankan" proses diskusi yang partisipatif, yang krusial untuk membangun komitmen, rasa memiliki (sense of ownership) dan bahkan aksi bersama (collective action). Tulisan ini mencoba membahas penggunaan kartu metaplan untuk peningkatan partisipasi dengan menginventarisasi sejumlah kekeliman penggunaan kartu metaplan yang umum dijumpai. Kartu adalah Suara Partisipan Tulisan yang diberikan seorang partisipan ~i kartu metaplan memang merupakan bentuk dari "suaranya", tapi sebetulnya, kartu lebih tepat dilihat sebagai bagian dari suara partisipan. Apa yang tertulis dalam kartu metaplan hanyalah sekedar simbol dari ide-ide penulis yang tentu tidak mungkin dituangkan dalam sepotong kartu kecil. Partisipan cukup menulis 1-3 kata kunci di kartu metaplan. Satu kartu untuk mewakili satu ide. Tulisan pada kartu metaplan pun hams eukup besar untuk dapat dilihat oleh partisipan dengan jarak terjauh dari dinding penempelan. Namun, seperti kerap dijumpai, kalimat panjang berukuran keeil-keciI adalah pemandangan yang eukup umum dijumpai dalam sesi penggunaan kartu metaplan. Landasan pemikiran dibalik penulisan kata kunci berukuran cukup besar adalah; 1) Selain mengindikasikan ide penulis, kartu sebaiknya dipandang seperti tiket/tanda/ giliran untuk bieara.
1. lsi

K

Oleh: Risang Rimbatmaja

• Karena semua partisipan mendapat kartu, maka setiap partisipan memiliki kesempatan berbicara yang sama, Sementara ide lebih lengkap tetaplah hams disampaikan secara oral, 2) Kartu-kartu metaplan harus dikelola lebih lanjut, Tulisan panjang yang kecil-kecil menyusahkan pengelolaan cepat. Sebaliknya penulisan kata-kata kunci yang besar akan memudahkan pengelolaan (pengelompokan/pembedaan ide dan lainlain). Untuk menghindari kesalahan dasar penggunaan kartu meta plan, fasilitator diskusi sebaiknya menjelaskan dan mencontohkan terlebih dahulu. Penjelasan yang perlu disampaikan adalah: • Penggunaan 1-3 kata-kata kunci pada kartu dan bukan kalimat panjang-panjang. • Penjelasan lebih rinei dilakukan •

secara oral oleh masing-rnasing penulis. Satu kartu hanya diisi satu ide. Tulislah ide lain di kartu berikutnya. Kartu tidak perlu diberi nama penulisnya. Nanti ada kesernpatan untuk semua partisipan menunjukkan kartunya. Sambi! menunjukkan eontoh kartu, tulisan hendaknya dibuat sebesar mungkin sehingga masih dapat dibaea oleh partisipan dari jarak yang paling jauh.

Kartu untuk Menjaring Pendapat Penggunaan kartu meta plan memang penting untuk menjaring pendapat dimana setiap partisipan mendapat kesempatan yang sama, Dalam proses fasilitasi, inilah yang dinamakan tahap divergensi. Namun, kartu metaplan tidak boleh berhenti hanya untuk menjaring pendapat. Kartu-kartu metaplan hams dikelola, entah dengan memilih, mengelompok2.

Kartu metaplan sangat efektif untuk dipakai dalam proses pelatihan.

Foto istimewa

20

Percik Desember 2008

• WAWASAN

semena-mena mengatur kartu-kartu itu, Seperti telah dijelaskan di atas, kartukartu itu milik partisipan ataupun kelompok partisipan dan bukan fasilitator, Artinya, merekalah yang berhak mengatur (mengelompokkan, mengonseptualisasi, merangking, mengurangi, dan lain-lain) dan bukan hak fasilitator (rneskipun fasilitator merasa tahu bagaimana melakukannya). Bahkan dalam keterbatasan waktu, fasilitator tetap tidak boleh memindah, menghilangkan, menambah atau rnengelompokkan kartu tanpa persetujuan atau inisiatif partisipan. Dalam keterbatasan waktu, fasilitator sebaiknya berperan sebagai pengingat waktu saja sehingga proses dapat didorong l~bih cepat. 4. Satu Kartu Per Partisipan Terkadang kita membatasi jumlah kartu sewaktu mendapati banyaknya partisipan yang mengikuti pertemuan/diskusi. Sementara, bila partisipan hanya berjumlah 10 orang, kita mernbolehkan setiap partisipan memperoleh 3-4 kartu. Dalam prinsip brainstorming,jumlah kartu sebetulnya tidak boleh dibatasi, Hal ini untuk mengantisipasi ide-ide brilian yang bisa saja datang kemudian .. Karenanya, ketika membagi kartu dan meminta partisipan menulis, sebaiknya kita jangan membatasi ide atau jumlah kartu yang digunakan. Biarkan partisipan menulis sebanyak-banyaknya, Untuk mengurangi kartu, fasilitator dapat rneminta partisipan menyerahkan beberapa kartu yang telah ditulisnya, Semisal, 1 ata u 2 kartu yang diangga p paling menarik, paling penting atau paling sig-

Dua orang fasilitator dari WAS'POlAsedang mengelompokkan

meta plan, Fato Bowo leksano

kan, merangking/prioritas, membangun proses cerita berdasarkan sekuensial kejadian/waktu, menyederhanakan atau mengabtraksikan/ mengonseptualisasi. Tahapan lebih lengkap kiranya dapat digambarkan sebagai berikut: • Setelah ditempel di dinding, setiap . kartu metaplan harus digunakan . sebagai tiket bagi si empunya untuk rnemberikan keterangan/klarifikasi sesuai kata kunci yang ditulisnya. Pada tahap ini kartu adalah milik penulis dan yang berhak menjelaskan adalah si penulisnya. Fasilitator dapat menggunakan teknik mendengar aktif dalam proses ini dan sesuai aturan brainstorming (curah pendapat) .. Pada tahap ini penilaian, kritik atau celaan harus dihindari. • Setelah semua kartu dijelaskan oleh si empunya, maka tahap berikutnya adalah proses konvergensi. Pengelolaan kartu yang paling sederhana adalah dengan mengelompokkan kartu berdasarkan persamaan atau perbedaannya. Ajak partisipan melihat kumpulan ideide dalam kartu dan minta pendapat mereka tentang ide-ide yang mirip

atau dapat dikelompokkan dalam kategori yang sarna. Selain cara induktif yang dilakukan dengan mengkaji persamaaa/perbedaan antarkartu, pengelompokan kartu pun bisa dilakukan secara deduktif dengan eara menyediakan matriks yang perlu diisi, Cara deduktif biasanya lebih mudah dan cepat, narnun perlu digarisbawahi, sebelum diaplikasikan, fasilitator sebaiknya meminta persetujuan partisipan (informed consent). Tahap konvergensi dapat berlangsung dalam sub-sub tahap tergantung keperluan diskusi. Semis al, bisa saja yang dilakukan pertama kali adalah penyederhanaan induktif, Lalu, setelah memperoleh kelompok dan memberi setiap nama barn pada setiap kelompok kartu (titling dengan kartu baru), dilakukan prioritasi dengan matriks tertentu (contohnya: urgent-less urgent, important-less important).

nifikan,
5. Gunakan Kartu Metapl~ yang Tipis Sayangi lingkungan. Semakin tebal kartu meta plan yang digunakan, maka semakin banyak pohon yang Anda tumbangkan. Gunakan saja kertas hvs berwarn a 70 gram yang murah meriah, Akan lebih baik lagi bila kita bisa menggunakan kertas bekas ..•
• Penulis bekerja di I FN·lndonesia Facilitator Network

3. "Saya yang mengatur kartu!" Kartu yang ditempel di dinding biasanya berada di dekat fasilitator. Namun, ini bukan berarti fasilitator boleh dengan

Percik Desember .2008

21

r------------------------------------------------~----------------I

1IlIlI1L_~~~~_

• WAWASAN

Hasil Samping Desinfeksi dengan Ozon
ujuan dari penyediaan air minum adalah mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera melalui penyediaan air minum yang memenuhi persyaratan kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Secara kualitas air yang diterima masyarakat harus memenuhi persyaratan fisik yang artinya air tersebut tidak berwarna, berbau dan berasa; secara kimiawi tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya; serta syarat biologis yang menuntut supaya air minum tidak mengandung mikroorganisme patogen. Desinfeksi merupakan suatu upaya meng-inaktivasi mikroorganisme patogen dengan pemberian desinfektan. Beberapa jenis desinfektan yang sering digunakan adalah klor dan ozon. Di Indonesia sendiri klor umumnya digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pada proses desinfeksi dengan tujuan menyediakan sisa khlor pada proses distribusi. Sedangkan ozon umumnya digunakan oleh perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) karena dinilai lebih efektif berfungsi sebagai desinfektan dan tidak menimbulkan bau yang menyengat seperti halnya khlor. Karena kIor dinilai memiliki bau yang khas serta sejak tahun 1974 (USEPA, 1999) diketahui produk samping desinfeksi dengan klor menimbulkan bahan yang bersifat karsinogenik yaitu Trihalometans (THMs), maka di negara maju penggunaan kIor terbatas dan pada umumnya mereka menggunakan ozon sebagai desinfektan. Namun apakah ozon benar-benar aman? untuk menjawab per- . tanyaan tersebut pada tulisan ini saya ulas mengenai ozon dan beberapa hasil penelitian mengenai pembentukan produk samping desinfeksi dengan ozon.

T

Oleh: Moh. Rangga Sururi*

OZON
Ozon merupakan gas berwarna biru pucat, dengan bau yang menyengat terlihat di air dengan konsentrasi di bawah 1 ppm. Meskipun ozon lebih mudah larut 10 kali daripada oksigen namun jumlah aktual yang dapat beroperasi dalam kondisi larut sangatlah kecil. Ozon memiliki berat molekul 48, densitas pada o-c adalah 2,14 gil, titik didih -111,9·C dan titik cair pad a -251·C (Donald,197S). Ozon merupakan desinfektan yang efektif, umum dan diperkirakan merupakan bahan kimia yang paling efektif untuk mendesinfeksi semua mikroorganisme (Beltrand, J Fernando, 1995). Keunikan dari ozon adalah dekomposisinya dapat membentuk OH radikal yang merupakan oksidator terkuat dalam air. Ozon merupakan oksidator yang selektif sedangkan OH radikal oksidator yang tidak selektif, karena itu jika ada bahan yang tahan terhadap ozon maka akan dioksidasi oleh OH radikal (von Gunten, 2003). Reaksi ozon dalam air
Gambar 1 Proses desinfeksi dengan ozon dalam air
(von Gunten.2003)

digambarkan oleh von Gunten (2003) seperti pada Gambar 1Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa desinfeksi dengan ozon seperti halnya klor dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan yaitu terbentuknya hasil sam ping produk desinfeksi atau disinfection by-products (DBPs). Dalam gambar 2 juga dilukiskan bahwa dalam proses desinfeksi mikroorganisme, umumnya proses inaktifasi dilakukan oleh ozon. Peranan OH radikal sebagai produk dekomposisi ozon dalam proses desinfeksi masih terus diperdebatkan, namun berdasarkan penelitian bahwa OH radikal tidak memiliki efek pada desinfeksi, karena itu efek OH radikal dalam desinfeksi dapat diabaikan. (von Gunten, 2003; Hoigne dan Bader, 1978; Finch et al., 1992; Nimrata et al., 1996). Pembentukan Produk Sam ping Desinfeksi dengan Ozon Desinfeksi dengan ozon pada air yang mengandung bahan organik tidak menghasilkan halogenated DBPs (TTHMs and HAAss), namun demikian hasil samping proses desinfeksi dengan ozon atau DBPs

Disi ofec'tIOn

direcr action of

0 .i

~

~
Drinkmg
ater quality

-#

.

Oxidation direct action of 0 J undesired effects

Di$in_lection By-products direct action of 0 J OH radical reactions

OH radical reactions

...

i Biological
~filtration

l

MlneraUzatioD

~MiDeralization

i

Biological

filtration

22 Percik 2008 Desember

• WAWASAN

akibat reaksi antara ozon dengan bahan organik alami akan membentuk produk seperti Low Molekular Weight (LMW) organik atau bahan organik dengan berat molekul rendah, serta bila air mengandung brom akan terbentuk DBPs berupa bahan halogen yang dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan (DSEPA,1999). Pembentukan Bromate Hasil percobaan dengan binatang telah membuktikan bahwa bromate merupakan bahan genotoxic carcinoqen. WHO telah membatasi konsentrasi bromate dalam air minum dad 25 Ilg/L (KruithoJ, GJ et all,2002). Setelah diozonisasi kandungan bromate pada desinfeksi air permukaan di Belanda adalah 15-25 ug/L, nilai tersebut sangat tergantung dari DOC, pH dan temperatur. Bromate dapat dikurangi dengan menurunkan dosis ozon, penurunan pH, atau dengan menempatkan unit GAC filtration setelah unit ozonisasi (Kruithof, CJ et all,2002). Pembentukan Low MolekularWeight (LMW) Organik Ozonisasi pada air minum menghasilkan pembentukan by product berupa LMW organik. LMW dapat digunakan ataudimanfaatkan oleb mikroorganisme sehingga air terolab yang sudah mengalami proses desinfeksi dapat kembali mengalami ketidakstabilan secara biologi

(Kruithof Cti zooey. LMW dihasilkan dari oksidasi senyawa organik komplek yang terpecah menjadi LMW seperti asam organik, aldehid dan keton yang merupakan senyawa yang mudah didegradasi dan rnerupakan fraksi dari AOC (Assimilable Organic Compound) (Hammes, 2006). AOC sendiri merupakan fraksi dari Dissolved Organic Carbon (DOC), yang akan dengan mudah dikonsumsi dan digunakan untuk perkembangan mikroorganisme (Hammes, 2006). Meskipun AOC merupakan fraksi yang sangat kecil (0,1-9 persen) dari TOC pada air minum, AOC dikenal sebagai parameter penting yang mempengaruhi stabilitas biologi pada pengolahan air minum, penyimpanan air terolab dan sistem distribusi air minum (Hammes, 2006). Sernentara menurut Von Gunten (2003) alkohol merupakan salah satu produk ozonisasi, produk tersebut cenderung lebih polar dan lebih biodegradable dibandingkan senyawa kompleks terutama yang memiliki berat molekul lebih besar dad 1.000 Dalton. Studi identifikasi secara menyeluruh DBPs berupa LMW, telah mengidentifikasi beberapa jenis LMW berupa aldehid, keton dan asam karboksilat (Richardson et al., 1999): Ketika ozon bereaksi dengan prekursor maka hasil samping desinfeksi pada umumnya adalah aldehid (Krasner da-

Gambar 2. Skema dari Reaksi Ozon dan hydroxyl radikal (OH) Radikal pad a air yang mengadung Br (von Gunten dan Hoigne, 1996)

Br· -----

Br

....

8r2'· -""-c::- ....

lam Porter, 1995). Penelitian lain yang dilakukan Hammes menyebutkan bahwa as am organik merupakan DBPs yang dominan terbentuk selain aldehid dan keton. Pembentukan aldehid sangat dipengaruhi oleh nilai TOe, pH (pada range 5,5-8,5 jika kandungan bromide dan alkalinitas rendah) dan dosis ozon (Schecter, 1993). Meskipun aldehid dapat juga terbentuk ketika desinfeksi dengan khlor namun konsentrasinya meningkat secara signifikan bila desinfeksi dengan ozon (Jacangelo dalara Kemp, 1989). Efek kesehatan jika aldehid yang terbentuk adalah Formaldehid dan asetildehid diketahui dapat menyebabkan kanker. Low molecular weight aldehydes dapat juga inenyebabkan bau yang diantaranya disebabkan oleh Formaldehid, acetildehid, glyoxal dan methyl gloyoxal (Paode dalam Porter, 1992). Pada studi terdahulu yang telah dilakukan, diketahui ozonisasi dapat menyebabkan produksi 30 Ilg/L total aldehid dari air yang mengandung konsentrasi TOC kurang 5 mg/L atau mendekati 12 Ilg/L total aldehid per-unit TOe (Weinberg dalam Porter,1993). Selain dapat menimbulkan masalah kesehatan, aldehid merupakan bahan biodegradable yang dapat menyebabkan kembali tumbuhnya mikroba setelah proses desinfeksi. Semua hasil penelitian diatas berdasarkan penelitian yang dilakukan di luar negeri dan dengan menggunakan air yang berasal dad luar negeri pula. Bagaimana dengan ozonisasi air baku dengan karakteristik air di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis dan Prof. Suprihanto serta Dr. Dwina Roosmini, ke-z nya staf pengajar di ITB, telah melakukan penelitian dengan menggunakan air baku yang berasal dari instalasi air minum yang ada di Bandung, hasilnya seperti telah diduga, melalui deteksi dengan gas chromatography dengan mass spectrometric (GCI MS), aldehid terdeteksi pada sampel air yang telah diozonisasi. _
• Staf Pengajar Jurusan Teknik Lingkungan ITENAS Bandung rangga@itenas.ac.id

Br

Percik Desember 2008

23

Puncak Acara Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia
est.a pun u.sai, Jut.aan peng ..huni burnt di 52 negara berkernbang dari lima benua secara berjamaah telah rnerayakan puncak acara Hari CueiTangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS)/ Global Hand Washing Day tepat pada 15 Oktober :1008. Layaknya sebuah pesta akbar, perayaan itu digelar di tanah-tanah lapang yang mampu menampung ribuan manusia. Di Indonesia, lebih dari 40 ribu siswa, orang tua siswa, dan kader Posyandu turut meramaikan kegiatan ini yang dipusatkan di Lapangan Wisma Aldiron, Jakarta dan tiga kota besar lain yaitu Bandung di Lapangan Gasibu, Yogyakarta di Alun-alun Utara, dan Malang di Stadion Kanjuruan. Selain itu, Unicef juga rnenggelar kegiatan serupa di 22 kabupaten di enam provinsi. HCTPSS di Indonesia diprakarsai Departerncn Kesehatan melalui Kernitraan Pernerintah-Swasta untuk Cuei Tangan Pakai Sabun (KPS-CTPS). Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam sambutan yang dibaeakan Staf Ahli Bidang Pernbiayaan dan Pernberdayaan Masyarakat Naydial Roesdal, mengatakan CTPS rnerupakan kegiatan penting sebagai implernentasi dan paradigma baru dalam pelaksanaan program kesehatan. "Acara yang pertama kali dilaksanakan ini sebagai jawaban dari seruan PBB untuk meningkatkan praktik higiene dan sanitasi di seluruh dunia," katanya. Slogan usang bahwa 'meneegah lebih baik dad mengobati' telah lama dipahami masyarakat, namun seperti tidak berpengaruh, Demikian halnya CTPS yang rnerupakan cara efektif dan murah untuk mencegah penyakit diare dan pneumonia yang merupakan penyakit penyebab utama kematian anak di dunia.

Se sa

5

P

I

Kini, pesta itu menyisakan tanya dan harapan; mampukah rakyat Indonesia menjadikan kebiasaan CTPS ini sebagai sebuah budaya yang kelak memberi harapan bagi generasi penerus yang sehat dan cerdas? Dan bisakah momentum ini untuk mempereepat peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya CTPS dan menjadikannya kebiasaan rutin? Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk memulainya dad diri dan keluarga masing-masing. -

SEMARAK HARI CUCI TANGAN PAKAI SABUN SEOUNIA 01 DAERAH
• BANDUNG •

Puncak perayaan Had Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia di Bandung dipusatkan di Lapangan Gasibu. Perayaan ini diikuti sekitar 5.000 siswa dari 18 Sekolah Dasar se-Bandung yang didampingi orangtuanya (kebanyakan ibu) masing- masing.

24 Percik 2008 Oesember

Wakil Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Baniah Patriawati mengatakan, cuei tangan belum menjadi budaya yang dilakukan masyarakat luas. Dalam kehidupan sehari-hari saja, masih banyak di antara kita yang mencuci tangan hanya dengan air sebelurn makan. "Cuci tangan dengan sabun justru dilakukan setelah makan," tegas Baniah dalam sambutannya. Menurut Baniah yang mencuplik hasil survei Bank Dunia tahun 2006 di Jawa Barat yang melibatkan 1.893 responden perempuan diketahui responden yang mencuci tang an dengan sabun setelah menggunakan toilet hanya 10,4 persen, setelah menceboki bayi 8,1 persen, sebelum memberi makan anak 5,9 persen, sebelum menyiapkan makanan 3,4 persen, dan sebelum makan 14,8 persen. "Kondisi ini berkorelasi positif dengan tingkat kematian balita dimana diare dan infeksi saluran pernafasan akut masih menjadi penyebab utama," jelasnya.
_ YOGYAKARTA-

_ MALANG_

Di Malang, peringatan puncak HCTPSS melibatkan sekitar 10.000 siswa Sekolah Dasar se- Kabupaten Malang di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Dipilihnya Kabupaten Malang sebagai ternpat pelaksanaan acara karena selama ini kebiasaan cuci tangan dengan sabun di sana dinilai cukup rendah. Berdasarkan data Spektra, lembaga nonpemerintah yang menjadi mitra PT Unilever Indonesia Tbk, hanya 30 persen penduduk Kabupaten Malang yang sudah terbiasa cuci tangan dengan sabun. "Kami memilih Kabupaten Malang juga karena tingkat kemiskinannya yang mencapai 40 persen. Apalagi, ketersediaan air hingga wastafel di sekolah-sekolah cukup minim," ungkap Direktur Spektra Roni S Sya'roni. Acara tersebut juga dihadiri Bupati Malang Sujud Pribadi. Dalam sambutannya, Bupati mendukung kegiatan PT Unilever Indonesia Tbk di daerahnya untuk menyosialisasikan hidup sehat.
_ KLATEN •

kan catatan Unicef selama tahun 2007 sebanyak 160 ribu anak balita meninggal karen a diare dan disentri. "Ini akibat pola hidup tak higienis termasuk tidak biasa mencuci tangan," ujar dia. Selain balita, Ianjut Kuswandjana, masih ada jutaan anak yang terjangkit dan menyebabkan kerugian materi miliaran rupiah untuk penanganannya. "Kebiasan cuci tangan memakai sabun bisa menurunkan risiko terserang diare sampai 45 persen dan serangan sakit infeksi sampai 23 persen," jelasnya. Perwakilan Unicef Jawa Tengah I Made Sutama mengatakan "lni merupakan langkah awal agar kebiasaan cuci tangan menjadi budaya," ungkapnya.
_ KABUPATEN BARRU _

Sekitar 10 ribu siswa, mahasiswa dan masyarakat umum, berkumpul di Alunalun Utara Yogyakarta. Acara HCfPSS di Yogyakarta dibuka Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paku Alarn- IX. Hadir juga pada acara itu Kepala Dinas Kesehatan DIY Bondan Agus Suryanto. Sri Paku Alam IX menekankan pentingnya mencuci tangan pakai sabun karena langkah kecil itu sangat berhubungan dengan kesehatan seseorang. "Sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah. Akibatnya tingkat kernatian dan kesakitan akibat penyakit yang berkaitan dengan air, sanitasi dan perilaku hidup bersih masih tinggi," katanya. Peringatan HCTPSS di Kota Pelajar ini ditandai pelepasan balon udara. Selanjutnya, ribuan massa langsung menyerbu kran air. Padahal saatnya euci tangan massal belum dimulai. Panitia masih menunggu koordinasi daerah lain karena akan dilakukan serempak. Panitia pun sempat dibuat repot untuk mengingatkan bila acara cud tangan harus menunggu aba-aba,

Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, peringatan HCTPSS cukup unik. Sekitar 400 siswa Sekolah Dasar dari 400 desa di Klaten menorehkan kalimat ajakan mencuci tangan memakai sabun pada bentangan kain putih sepanjang 100 meter di pelataran kantor Pemerintah Daerah Klaten. Seusai menulis di kain putih, ratusan siswa SD yang tergabung dalam dokter kecil itu berlari menuju ember dan sabun yang sudah disediakan untuk mencuci tangan. Di bawah terik matahari dengan diiringi lagu "Selamat Ulang Tahun" yang telah digubah dengan syair ajakan cud tangan, mereka bersemangat memberi contoh pada masyarakat cara mencuci tangan memakai sabun. Kegiatan yang diprakarsai Unicef Jawa Tengah bekerja sarna dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten ini dihadiri Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial eDKKS) Kabupaten Klaten Kuswandjana. Kuswandjana mengatakan, berdasar-

Di Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, perayaan difokuskan pada anak sekolah dengan simbolisasi bersatunya seluruh komponen sekolah, rumah tangga, dan masyarakat dalam merayakan komitmen untuk meningkatkan perilaku CTPS, Pencanangan Go Green Barru eGGB), dan Gerakan Sayang Membaca (GSM). Sebelum melakukan praktik CTPS secara massal, didahului dengan menggelar beragam perlombaan dan penanaman bibit pohon di sekolah dan kantor.
_ JAKARTA-

SD Negeri Marunda 02 Pagi, CiIincing, Jakarta Utara merayakan HCTP Sedunia pada 18 Oktober 2008. Muridmurid sekolah ini kebanyakan berasal dari orang tua yang hidupnya sederhana. Lokasi sekolah pun berada di sekitar industri bongkar muat kapal yang secara periodik terendam air· pasang sehingga menimbulkan masalah dalam penanganan sampah dan sanitasi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk mengajarkan anak didiknya. Namun, dengan segala keterbatasan, murid-murid SD Negeri Marunda tetap antusias dan berkeinginan untuk dapat hidup bersih dan sehat. _
BW/DHAIdari berbagai sumber

Percik Desember 2008

25

I

• TAMU KITA

Pencerus Dokter Keeil

yaitu Handrawan, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Ja'karta saat ditemuai Pereik: di kediam~bya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saa! program kesefiatilli sekolah dilun.curk'an Departemen

..

..

Pendidikan kesehatan bagi wan, dengan cat" membentuk masyarakat. Karena pada dasarnya mudah rnembentuk daripada mengubal~\'R=-I~1d "Mertibentuk kesadaran hidup bersih sehat kepada masyarakat artinya ul1l!u:r~Clo!t:t sejak dini dan bila sudah terbentuk menjadi kebiasaan". Program Dokter Keeil dan UKS, Handrawan, menjadi program mernbentuk masyarakat hidup "".~""""""" sehat sedari kecil. Dokter Kecil
~;';;..2"""

Foto: Bowo Leksono.

menguasai hal-hal pola hidup tugasnya mereka r,-_,'-"",-"-,"",, suasi tentang peldUiktJ~jll\JJl nya melalui kelb,E1i:fil!~~~~~@~~i$~ hatan H·H5r..~~'!5'~ sihan

epp.r.ut Handrawan,

orang

lebih

senang mengobati dari pada meneegah
sakit. "Padahal mengobati itu kan Iebih mahal daripada mencegahnya. Semua ini persoalannya karena tiga hal yaitu komunikasi, edukasi, dan informasi (KIE) tidak ters~mpaikan dengan baik pada masyarakat," ujar penerima penghargaan sebagai penulis surat kabar peduli kesehatan dari Menteri Kesehatan. Dalam buku best seller Handrawan terbitan penerbit Kompas berjudul "Sehat itu Murah" dikatakan, "Menjadi sehat sampai tua itu investasi dan seharusnya bukan ongkos. Apabila sejak keeil benar melakoni hidup sehat, selain umur lebih dapat diulur, ongkos yang harus dik~.lMikah ~ntuk berobat juga rnenjadi minimalsHaridrawan mengatakan, mernpersiapkan poJa hidup sehat sangat efektif hila dimulai dari anak-anak, salah satunya dengan Program Dokter Keeil itu. "Salah satu yang dipelajari dokter keeil itu euei tangan pakai sabun yang mampu mencegah lebih dari 10 penyakit," kata pengasuh rubrik kesehatan di Tabloid Gaya Hidup Seha Senior ini.

Konsep Puskesrnas Sudah Salah Arah Handra:wan mengatakan Puskesmas sebagai ujung tombak kesehatan masyarakat sudah salah arab. Ada sekitar fungsi Puskesmas, kata dokter yang menulis puisi ini, yang tidak dijalankan pihak Puskesmas. ranya adalah fungsi pn~vemtl1;i~~~~" dan rehabilitasi. "Tidak semua do menjalankan fungsi Sebagai dokter, mereka cenderung bertugas mengobati, bukan meneegah. Buktinya Program UKS dan Dokter Keeil sudah tidak berjalan," tutur suami dr Belinda Christina dan ayah dari Minetta Roselani Nadesul dan Millardi Nadesul. Menurut Handrawan, Puskesmas yang berhasil adalah Puskesmas yang sepi karena itu berarti dokter-dokternya berhasil membentuk masyarakat yang sadar berperilaku hidup bersih dan sehat, "Menjadi seorang dokter itu bal'l;~£ bagaimana mengajari kesehatan-kepada masyarakat. .JZidak -dengan H1C;1l1lJ""'1.l\.Cl.l.l tam bah~~i,yan_g· kadang malah. bebani.£ri'icl.syarakat.: :r.api dengan didikan dan penyampaian informasi yang tepat," jelas"pengamat kesebatan .. 'rti.~- i

l2,""Vl~Cll·11!.~d~l{ nll~iY.arifi']rati~'fl,gga

taS.ll!.

'.

• INSPIRASI

Green Radio
Membangun Lingkungan yang Lebih Baik
morfosa Radio Utankayu. ejak era reformasi ditandai kebe"Dengan memilih nama baru sebagai basan pel'S, bisnis media massa baik cetak maupun elektronik Green Radio the Eco-Lifestule of Jakarta, kami ingin tetap melayani publik Jakarta begitu merebak. Media elektronik yaitu dengan memberi perhatian lebih pada televisi dan radio swasta tumbuh subur di upaya menyelamatkan manusia dan mana-mana. Media televisi bahkan tak lingkungannya," tutur Station Manager hanya di pusat Jakarta, sudah banyak Green Radio Pamungkas P kepada berdiri televisi lokal. Pereik di kantornya. Bahkan untuk media eetak, baik Menurut Pamungkas, dasar menmajalah, surat kabar harian, sampai dirikan radio yang mempunyai format tabloid, tak terhitung jumlahnya. Ada lingkungan berawal dari adanya Konyang bertahan lama hingga menjadi besar ferensi Perubahan Iklim Global di Bali dan banyak pula yang tumbang. akhir tahun lalu. Disamping keyakinan Untuk menjalankan bisnis media bahwa bisnis media radio yang fokusnya massa agar bertahan, sebagian para lingkungan mempunyai potensi yang pebisnis mendirikan media massa yang besar dengan menyediakan informasi spesifik, yaitu media yang mengupas dan edukasi bidang lingkungan. bidang tertentu untuk menggaet kon"Sebenarnya kondisinya sudah ada. sumen yang tertentu pula. Bagaimana banjir yang semakin parah di Media eetak tampaknya lebih Jakarta, kondisi udara dari gas buangan, beragam dibanding media elektronik sampah, banyak sekali persoalan, tinggal karena dari sisi kuantitas memang lebih banyak . media eetak. Bahasannya bagaimana kita memfokuskan," ujar Pamungkas. meliputi media yangkhusus tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan dan sebagainya. Muneul pertanyaan, berapa banyak media elektronik yang khusus berbicara soal lingkungan? Televisi rasanya belum ada, kalau toh ada itu karena televisi komunitas dan bukan berorientasi bisnis semata. Bagaimana dengan radio? Tampaknya di Jakarta khususnya dan mungkin di Indonesia baru ada Green Radio yang mengupas tuntas persoalan lingkungan. Radio yang digagas sejak 28 Februari 2008 dan mempunyai stasiun di Jalan Utan Kayu No. 68 D Jakarta ini merupakan metaSeorang programmer Green Radio di ruang kerjanya. Foto Bowo

S

Program Unggulan Green Radio yang mengudara di gelombang 89,2 FM mengupas persoalan lingkungan secara total sejak pukul io.oo hingga 20.00 WIB. Pada jam sebelumnya diisi materi dad Kantor Berita Radio (KBR) dan jam sesudahnya berupa materi yang sifatnya hiburan dan informasi. Untuk program unggulan atau primary program adalah Green Talk yang membahas beragam tema dengan menghadirkan narasumber terkait lingkungan. ."Mulai dari berita hangat sampai persoalan keseharian. Kami kemas santai dan tetap berisi," tutur Pamungkas. Ada pula Green Spot Light dari secondary program yaitu berupa informasi peluang bisnis lingkungan (Green Business), profil lingkungan (Green Profile), serta Green Adventur dan Green Living. Pamungkas mengatakan, untuk mendukung program-program Green Radio, baik program on air maupun off air, pihaknya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Mulai dari pihak Pemerintah, swasta, LSM, lembaga donor, dan masyarakat luas. Untuk program of! air, Green Radio merintis bersama beberapa pihak program Rutan Sahabat Green, Tanam Bakau, dan Pelatihan Pembuatan Lubang Resapan Biopori, J aringan Green Radio Belum genap setahun Green Radio mengudara, sudah banyak tanggapan positif dari masyarakat, Ke depan, radio ini hendak melebarkan sayapnya dengan membangun jaringan radio serupa ke beberapa kota besar di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. "Green Radio di Jakarta akan menjadi pilot project. dan kami siap menjadi corong bagi pembangunan manusia dan lingkungan yang lebih baik di Indonesia," jelas Pamungkas mengakhiri. _ Bowo Leksono

Leksono

28

='De::':"s=em-'-:b-e-r 2=-=0:-="08

Percik

• SEPUTAR

PLAN INDONESIA.

Catatan Program STBM dari Desa Panimbo
esehatan lingkungan yang baik adalah hal yang mutlak dipenuhi pada saat ini ketika masih tingginya kejadian penyakit seperti diare, dan penyakit menular lainnya yang disebabkan rendahnya kua1itas kesehatan 1ingkungan. Meskipun demikian beberapa wilayah di Indonesia masih kurang peduli dengan kualitas kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan belumlah dianggap sebagai hal yang cukup penting dan mendesak. Salah satunya adalah urusan buang air besar (BAB) atau di des a lebih familiar dengan sebutan "ngising". Bagi mereka BAB di sungai, di ladang dan kebun merupakan hal yang lumrah dan wajar dilakukan, toh mereka juga tidak sakit. Salah satu desa yang mempunyai kebiasaan 'seperti ini adalah warga di Desa Panimbo. Desa ini berada di bagian ujung barat laut Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali bagian utara. Desa .Panimhn berada di Kecamatan Kedungjati yang berjarak kurang lebih 40 krn dari pusat kota Kabupaten Grobogan. Akses jalan yang sulit dan jarak yang cukup jauh dari kota kecamatan, sumber daya alam yang minim (sebagian besar wilayahnya dikelilingi kawasan hutan milik Perhutani yang sudah gundul), kesulitan mencari sumber air adalah hal yang biasa terutama pada saat musim kemarau. Kondisi ini menjadikan Desa Panimbo menjadi salah satu desa tertinggal (IDT). Dengan jumlah total penduduk kurang lebih 563 KK dan terdiri dari 2.352 jiwa, Desa Panimbo pada awalnya hanya mempunyai sekitar 170 buah jamban yang semuanya berasal dari program bantuan bukan karen a membuat sendiri. Hal ini menjadikan indikasi bahwa ada persoalan pada kesehatan lingkungan terutama kebiasaan BAB di sembarang

K

tempat. Setelah dilakukan survey awal di lapangan, memang BAB di sembarang tempat, terutama di hutan atau ladang adalah hal yang lazim dilakukan. Pada musim kemarau pemandangan orang BAB di sungai sudah menjadi lukisan alam Perdesaan Panimbo. Beberapa program yang sudah digulirkan untuk menyelesaikan permasalahan sanitasi ini baik dari pemerintah maupun pihak swasta belum juga menyelesaikan permasalahan. Kalaupun ada yang berhasil, cakupan program hanya bersifat setempat dan tidak secara menyeluruh untuk wilayah desa.

(ToT) STBM dan mengikutsertakan beberap a warga serta tokoh masyarakat Desa Panimbo. Setelah rnenyelesaikan rangkaian pelatiban di Purwodadi Kabupaten Grobogan, warga Panimbo rnelalui tim STBM desa langsung melakukan koordinasi dengan tim STBM Kecamatan Kedungjati, perangkat pemerintahan des a dan relawan desa di Puskesmas membahas pemicuan di desanya yang terdiri dari 9 dusun. Pernicuan pel-dana dilakukan di Dusun Plosorejo yang terdiri dari 8S KK. Pernicuan ini dilakukan melalui kerjasama tim STBM Kecarnatan Kedungjati, Puskesmas Kedungjati, relawan Desa Panimbo, Bidan Desa Panirnbo, eTA DeMengawali Perubahan , sa Panimbo (Nugie), CTA Desa SendangPerubahan berawal dari program harjo-Karanganyar (Sumiyati) dan FasiCLTS atau Sanitasi Total Berbasis Masyalitator WES Plan Grobogan. rakat (STBM) yang rnerupakan bagian Saat proses pemicuan (pemicuan terprogram Water and Environment Sanihadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut satation eWES) Plan Indonesia di Kabukit, rasa berdosa dan rasa tanggungjawab paten Grobogan. Pada awalnya didahuhri yang berkaitan kebiasaan BAB di semdengan kegiatan Training of the Trainer barang temp at ternyata menimbulkan ke-

Shoubari, petugas Puskesmas Kedungjati saat memfasilitasi warga desa. Foto istimewa

Percik Desember 2008

29

• SEPUTAR

PLAN INDONESIA.

sadaran yang luar biasa untuk masyarakat. Pemicuan awal ini berjalan lancar. Warga yang terpicu sebagian besar belum mempunyai jamban keluarga dan terbiasa BAB di sungai. Mereka secara sadar ingin membangun jamban demi kesehatan keluarga dan dusunnya tanpa ada unsur paksaan. Saat pemicuan terlihat antusiasme masyarakat untuk berkomitmen agar desanya segera terbebas dari tinja yang berserakan, terutama di sungai yang sudah menjadi kebiasaan mereka bertahun-tahun, Dalam pemicuan ini juga terbentuk tim RT yang terdiri dari tiga orang yang memantau kegiatan pembuatan jamban di wilayahnya masing-masing. Para tokoh desa dan agama juga terlibat aktif dalam kegiatan ini, Pemantauan dimulai dan dilaksanakan hari itu juga setelah pemicuan selesai karena masingmasing wilayah RT saling berlomba membuktikan pencapaian sanitasi total. Kelompok ibu-ibu PKK dan kader Posyandu juga terlibat aktif memantau kegiatan program STBM ini. Mereka saling bekerjasama dengan memberikan kesadaran pentingnya kesehatan lingkungan sekaligus memantau apakah jamban yang dibuat sudah dipakai at au belum.

Pemicuan tidak dilakukan hanya untuk orang dewasa saja. Untuk mewujudkan sanitasi total yang sesungguhnya perlu juga melakukan koreksi dan pemicuan disemua lini, salah satunya adalah melakukan pemicuan untuk siswa-siswi sekolah dasar. Pemicuan dilakukan seusai jam sekolah sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Hal-Hal Menarik Hal menarik dari pemicuan di SD Panimbo ini, diperoleh informasi bahwa sernua orang tua siswa ternyata sudah membuat jamban sederhana semua. Rata-rata mereka sudah menggunakan jamban tersebut. Jadi pemicuan sebelumnya yang dilakukan di tiap dusun ternyata memberikan hasil yang cukup signifikan. Dari pemicuan di SD Panimbo melahirkan kelompok anak yang di desa berfungsi sebagai "polisi tai" yang setiap saat memberikan sumbangsih demi tercapainya sanitasi total. Pada saat dilakukan pemantauan, salah satu hal menarik adalah kunjungan di Dusun Plosorejo. Dusun ini sudah mencapai 100 persen terbebas dari BAB sembarangan meskipun jamban yang dibuat adalah jamban sederhana. Sementara dusun lain juga sudah memulai membuat

jamban walau sederhana namun ada yang masih dalam bentuk lubang tanpa dinding dan penutup atap. Sampai waktu kunjungan, ada yang baru membuat lubang yang justru dilakukan oleh seorang ibu sendiri karena suami kerja di luar daerah. Khusus di Dusun Pablengan, ada dua jamban milik janda-janda tua dan jamban ini dalam pembangunannya dibantu pemuda dusun dengan bergotong-royang. Hal menarik lainnya dimana perbincangan para pemicu yang dilakukan di warung nasijustru topiknya tentang tinja dan malunya orang tua di hadapan anak terhadap kebiasaan BAB di sungai. Lain cerita dari Dusun Beran di Desa Panimbo ada orang d,ewasa yang BAB di sungai kemudian diganggu anak-anak dan dibuat malu. Kemudian kejadian di SMP Desa Panimbo yang didatangi berarnai-ramai oleh warga des a yang pada awalnya dikira demonstrasi, ternyata mereka membuat lubang untuk jamban secara gotong-royong. Warga juga mendatangi kepala SMP tersebut agar segera membeli jamban. Para orang tua siswa tidak terima jika anaknya hams BABsembarangan seperti di sungai dan rnengharuskan BABdi jamban sekolah. Itulah beberapa fenamena menarik yang menjadi catatan tersendiri dari Desa Panimbo. Proses pemicuan yang belum genap sebulan telah mencapai hasil yang luar biasa. Dalam jangka waktu kurang dari sebulan, Panimbo telah terbebas dari BAB di sembarang tempat (ODF 100 persen) dan tidak ada lagi "ngising" di sungai atau di hutan. Ini sebuah prestasi yang luar biasa. Keterlibatan dari berbagai pihak (masyarakat, laki-laki dan perempuan, anakanak, Puskesmas dan instansi terkait di tingkat kabupaten), semakin mendorong keberhasilan proses kegiatan STBM ini. Harapannya keberhasilan awal Desa Panimbo ini bisa menjadi pintu masuk (entry point) bagi pemerintah untuk program sanitasi yang lain demi tercapainya sanitasi total .•
Water and Environmental Sanitation (WES) Facilitator Plan Indonesia Program Unit Grobogan

Catur Adi Nugroho

Searang ibu bersemangat

memiliki [amban dengan rnenggall sendiri karena suaminya mencari nafkah di kota. Fata istimewa

30

Percik Desember 2008

• SEPUTAR

ISSDP

City Summit Payakumbuh:

Komitmen Bersama untuk Implementasi Strategi Sanitasi Kota
ity Summit merupakan forum pertukaran pengalaman mengenai pembangunan sektor sanitasi bagi kota-kota yang mengikuti Indonesia Sanitation Sector Development Proqram (ISSDP). Seiring waktu, forum ini berkembang tidak hanya dihadiri kota-kota terkait, Penyelenggaraan City Summit ke4 bertempat di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, 5-7 November 2008. Tema yang diangkat pada City Summit ini adalah "Implementasi Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)". Kegiatan ini dibuka WaIikota Payakumbuh, Josrizal Zain, dan dihadiri Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Bappeda Sumatera Barat Bambang Istiono, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas yang diwakili Direktur Perumahan dan Permukiman Budi Hidayat, serta Direktur ~enderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Bum Yuwono. Pada City Summit ini, Walikota Payakumbuh menyampaikan pentingnya komitrnen dari pengambil kebijakan mengenai pembangunan sanitasi di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Komitmen Kota Payakumbuh sendiri terkait pernbangunan sanitasi telah tertuang dalam RPJMD 2007-2008. Fokus peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kota diantaranya peningkatan sanitasi kota (pengelolaan limbah dan persampahan kota) yang dapat rnempertahanka:n lingkungan hidup bersih dan nyaman. Melalui komitmen tersebut, Payakumbuh telah menjadi kota sehat dan rnendapatkan penghargaan selama tiga tahun berturut-turut. Diskusi Media Mengawali City Summit diadakan serangkaian kegiatan untuk media massa.

C

Pemerintah,

baik pusat maupun daerah,

bertukar pengalaman foto: Dak. ISSDP.

tentang

pembangunan

sanitasi.

Salah satunya diskusi media bertema "Urusan Belakang yang Hams Diurus di Depan", Membangun sarana sanitasi memang bukan pekerjaan mudah karena banyak sektor terka:it di sana. Sanitasi yang mencakup air limbah, sampah dan drainase harus ditangani bersama dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Berdasarkan pembelajaran dari enam kota (Payakumbuh, Jambi, Surakarta, Blitar, Denpasar dan Banjarrnasin) ternyata lingkup permasalahan sanitasi tiap kota hampir serupa, yaitu rendahnya prioritas pemerintab untuk investasi, kurangnya koordinasi dalarn menjawab permasalahan sanitasi, dan permasalahan akibat proses desentralisasi sejak tahun 2001. Hal lain yang dihasilkan dari pertemuan ini adalah perluasan Deklarasi Blitar yang ditandatangani perwakilan kota yang hadir. Sebelumnya, Deklarasi Blitar hanya ditandatangani Walikota Blitar, Surakarta, Denpasar, Payakurnbuh, Jambi, dan Banjarmasin. Deklarasi ini memuat komitmen para pemimpin kota untuk menjadikan pembangunan sektor sanitasi sebagai prioritas di daerahnya masingmasing.

I

Kunjungan Lapangan Ra:ngkaian kegiatan lokakarya diakhiri kunjungan lapangan ke Kelurahan Aur Kuning sebagai daerah penerapan Community Lead Total Sanitation (CLTS). Di Payakumbuh sendiri terdapat 16 kelurahan dari 73 kelurahan yang ada telah mendapatkan pemicua:n CLTS dengan penda:mpingan kader-kader terlatih dari Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh. AwaInya masyarakat di sana melakukan buang air besar (BAH) eli kolam atau wester (We terbang) karena tidak memiliki jamban eli rumahnya. Mereka juga tidak rnemaha:mi akan bahaya perilaku BAB semba:ra:ngantersebut. Perilaku tersebut akibat pendudukAur Knning berpendiclikan dan berpenghasilan rendah dengan hanya menjadi petani ga:rap. Akhirnya, masya:rakat Aur Kuning membuat sendirijamban dengan teknologi sederhana, dianta:ranya membuat kloset leher angsa, Karena kebanyakan penduduk laki-la10bekeJ.jasebagai petani, rnaka urusan membuat kloset dilakukan kaum perempua:n. Hasilnya pun tak kalah dengan kloset yang dijual di pasaran. J amban dan cubluk dengan teknologi sederhana ini hanya menghabiskan biaya Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Nilai yang amat murah demi kesehatan yang tidak ternilai harganya .• Tim ISSDP

Percik Desember 2008

31

SEPUTAR

WASPOLA

WASPOlA Akan Berakhir
Komitmen Daerah Jalan Terus!
nalan komunikasi dasar. Disamping itu beberapa peserta sudah bergabung menjadi co-facilitator dalam acara lokakarya di berbagai daerah, baik diselenggarakan oleh daerah maupun pusat. Adapun mitra yang aktif dari Sumatera Barat adalah Universitas Andalas, dati Bangka Belitung adalah Universitas Bangka Belitung dan Bangka Post, dari Banten Universitas Tirta Yasa dan STlKES, dari Jawa Tengah Universitas Diponegoro dan Universitas tersusunnya RKJM untuk tiga tahun ke depan. Sugiapranata, dari Sulawesi Selatan Universitas Muslim Indonesia, dari NTB Universitas Mataram, dan dari NTT adalah LSM lokal, omitmen diatas terungkap dalam acara Rakornas AMPL Bersama dengan mitra lokal Pokja AMPL daerah, juga telah dilatih yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2008 di Ban- beberapa pihakyang potensial menjadi mitra dalam pembangunan AMPL, diantaranya adalah PKK, ormas Islam Aisyiah, Muhamdung dan Bali. Hasil lainnya yang tampak adalah tersumadiyah, dan NU. Dengan maksud memperluas jaringan, Pokja sunnya rencana kerja Pokjajangka menengah (disebut RKJM). Ini AMPL Nasional juga mengundang peserta dati luar daerah mitra, menjadi strategis karena merupakan pengikat bagi Pokja daerah seperti ITB dan UNPAS dati Jawa Barat, serta beberapa yayasan dalam melakukan berbagai kegiatan terkait implementasi Kebijakan AMPL di daerah. Disamping itu dapat menjadi perekat . dari Jawa Timur, yang diharapkan memberi inspirasi dalam implementasi Kebijakan AMPL BM di daerah tersebut. Outcome pelatikoordinasi lintas dinas di daerah, karen a di dalamnya terdapat han ini antara lain dijadikannya materi AMPL BM sebagai bahan kegiatan berbagai dinas, Juga dapat menjadi jembatan antara Pokja AMPL daerah dengan Pokja AMPL Nasional, karena di kuliah pada beberapa perguruan tinggi, seperti Jurusan Teknik Lingkungan UNDIP, Universitas Andalas, dan STIKES. Pelatihan dalamnya juga terdapat kegiatan yang saling mendukung. teknik dasar fasilitasi Pernbangunan .AMPL tersebut telah terseDengan adanya rencana keIjajangka menengah, menjadi tidak relevan lagi diskusi tentang keberadaan proyek sejenis WASPOLA : lenggara di penghujung Agustus 2008 di Yogyakarta. Karena pada dasarnya Pokja Daerah telah memiliki agenda yang jelas untuk tiga sampai lima tahun ke depan. Sudah terpetakan Sekilas Rapat Koordinasi Nasional Implementasi Kebipula sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan dari pihak jakan Nasional AMPL-BM luar, terutama bantuan teknis dari Pokja AMPL NasionaL Bagi Rakornas ini pada dasamya adalah media bagi Pokja AMPL Pokja yang telah memiliki rencana kerja jangka menengah, proyek Nasional untuk melakukan monitoring dan pembinaan Pokja AMPL Daerah. Dalam acara ini dilakukan review status kegiatan WASPOLA ataupun sejenisnya-apabila ada-hanya diperlukan sebagai katalisator bagi Pokja untuk meningkatkan kualitas Pokja AMPL Daerah, khususnya tentang renstra AMPL dan RKJM. Untuk pembinaan dilakukan pembekalan berupa hal yang berguna kegiatan yang dilakukan. Dengan adanya RKJM tersebut, propinsi (sebagai perpanjangan tangan pusat) rnendapat mandat dan terdalam pembangunan AMPL di daerah. Pembekalan ini merupakan bagian kegiatan peningkatan kapasitas yang secara rutin dilakukan dorong untuk lebih memberikan layanan kepada kabupatenfkota oleh Pokja AMPL Nasional. Dalam kesempatan ini berbagai proyek di daerahnya. Di sisi lain RKJM juga sebagai bahan masukan yang AMPL saling berbagi pengalaman, terutama pembelajaran yang berguna pada pengembangan draft RPJM Nasional. dipetik untuk mencapai keberlanjutan AMPL. Hadir untuk berbagi Walaupun isu keberadaan WASPOLA bukan hal yang penting, tetapi beberapa Pokja telah memiliki kesadaran, bahwa tugas yang pengalaman adalah proyek WSLIC, CWSHP, PAMSrIVIAS,dan diemban tidaklah ringan. Bagi Pokja Propinsi, keberadaan mitra ISSDP yang secara khusus menyajikan perangkat pengukuran resiko lingkungan (EHRA=Environmental Health Risk Assesstempat berbagi peran dirasakan perlu. Untuk itu upaya-upaya telah ment). Dalam konteks penyempumaan renstra AMPL, EHRA ini dilakukan. Gayung bersambut, Pokja Nasional juga mendukung upaya ini. Upaya bersama yang telah dilakukan adalah pemberian merupakan alternatif yang dapat diterapkan, guna menyajikan pelatihan kepada mitra potensial daerah, seperti perguruan tinggi data lingkungan secara lebih baik. dan iSM. Propinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Banten, Jawa Mengingat besarnya jumlah peserta, acara Rakornas dilaksanakan dalam dua gelombang, Gelombang pertama dilaksanakan Tengah, Sulawesi Selatan, NTB, dan NTT telah mengirimkan mitra lokalnya untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh untuk Indonesia Bagian Barat di Bandung, pada tanggal 13-15 Pokja AMPL Nasional. Oktober 2008. Gelombang kedua untuk Indonesia Bagian Timur di Beberapa pelatihan yang diikuti oleh mitra lokal adalah pelatihDenpasar, pada tanggal 27-29 Oktober 2008. Peserta yang hadir an dasar fasilitasi, pengenalan metodologi partisipatif, dan pengedalam dua acara tersebut 130 orang terdiri dari Pemda, Pokia
Menjelang berakhirnya kegiatan WASPOLA pada Februari 2008 nanti, terangkat satu hal yang menjanjikan bahwa sebagian besar daerah mitra memiliki komitmen untuk mengawal operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPl BM ke depan. Janji tersebut tergambar dari alokasi dana operasionaltsasi Pokja AMPL untuk tahun 2009 serta

K

32

Percik ='Oe=s=em-'-;b-e-C2=O~08 r

• SEP-EJTAR
AMPL Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta proyek lain terkait seperti WSLIC2, CWSHP, PAMSIMAS, dan juga WES-Unicef dari Papua Barat, Papua dan Maluku. Rakornas ini menghasilkan beberapa hal penting antara lain: (1) Proses Up-dating status pelaksanaan operasionalisasi Kebijakan di daerah, khususnya dalam penyiapan kelembagaan dalam bentuk laporan kemajuan daerah; (2) Koordinasi, konsultasi dan supervisi pelaksanaan kebijakan dalam rangka pengembangan rencana tindak Pokja AMPL Nasional, Pokja AMPL Provinsi dan Pokja AMPL Kabupaten/Kota; (3) Kesepakatan agenda bersama antara daerah dan pusat dalarn rangka operasionalisasi Kebijakan NasionalAMPL BerbasisMasyarakat; (4) Pokokpokok masukan umum Kelompok Kerja AMPL dalam rangka penyiapan RPJM Nasional AMPL dan RPJM Daerah. Hasil evaluasi keseluruhan Pokja AMPL Daerah menunjukkan dinamika yang berbeda. Pokja Sumatera Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara dan Bangka Belitung, merupakan Pokja AMPL daerah yang sangat aktif, ditunjukkan dengan jumlah agenda kegiatan yang dilakukan. Sedangkan lima Pokja lain digolongkan aktif dan kurang aktif. Lokakarya Pengelolaan Data AMPL Data mernpunyai arti yang strategis bagi pembangunan, termasuk pula dalam pembangunan di bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Namun demikian, pada kenvataannya data AMPL belum dapat diandalkan. Banyak hal yang perlu dibenahi, misalnya keragaman data dan validitasnya. Hal ini menjadi perhatian baik di tingkat nasional maupun daerah. Telah banyak upaya yang dilakukan tapi belum menjawab persoalan yang mendasar yaitu: untuk apa data dikumpulkan? Data apa yang perlu dikumpulkan? Instansi mana yang mengumpulkan, mengolah dan mempublikasikan? Menyadari peliknya persoalan data AMPL, Pokja AMPL Nasional mencoba menggandeng WES UNICEF untuk bergabung dalam upaya pembenahan data bersama WASPOLA. Telah disepakati bahwa diperlukan sebuah panduan yang dapat digunakan oleh pelaku

WASPOLA

AMPL dalam pengelolaan data. Guna penyebarluasan, panduan tersebut perlu diujicoba. Sejalan dengan upaya di atas, Pokja AMPL Kabupaten Bangka, memiliki agenda membenahi pengelolaan data. Sehingga kegiatan tersebut bisa dijadikan ajang uji coba. Adapun panduan yang disiapkan ada 3 jenis, pertama panduan lokakarya data daerah yang bertujuan untuk membangun komitmen daerah dalam perbaikan pengelolaan data. Kedua adalah panduan pengumpulan data, dan ketiga adalah panduan pengolahan data. Yang barn dilakukan di Bangka adalah panduan pertama. Sehingga perjalanan kegiatan pengelolaan data masih akan dilanjutkan. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 4-7 November 2008 di Sungai Liat, yang dihadiri 60 orang dari Bappeda, PU, Kesehatan, PMD, Bapedalda, BKKBN dan BPS, serta beberapa kecamatan dan desa. Hadir juga dari unsur Pokja AMPL provinsi dan Pokja AMPL kabupaten/kota, dan sekretariat Unicef Jakarta. Hasil lokakarya terpenting adalah komitmen pemangku kepentingan terhadap data terpadu, pembinaan secara berkala, pengawasari/review data dan alokasi pendanaan dari pemda. Hasil lokakarya di Bangka ini menjadi salah satu input bagi Lokakarya Pengelolaan Data di tingkat Nasional kedepan dan penyusunan panduan pengelolaan data AMPL yang sedang diselesaikan. oleh WASPOLA. Kelanjutan lokakarya ini juga akan dilaksanakan bekerjasarna dengan UNICEF. Lokakarya Penyusunan Rencana KeIja Jangka Menengah (RKJM) Sebagai wujud nyata keseriusan pemerintah dalam mendorong keberlanjutan AMPL-BM, Pokja AMPL Nasional dan WASPOLA memfasilitasi lokakarya penyusunan RKJM di seluruh propinsi mitra, Salah satunya diselenggarakan di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 23-24 Oktober 2008. Terdapat 4 hal penting yang akan dan telah dilakukan oleh Pokja AMPL Provinsi yaitu: (1) Mengoptimalkan keterlibatan sektor-sektor terkait; (2) Renstra AMPL Berbasis Masyarakat sudah termaktub dalam Rencana Program

Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Tenggara; (3) bersinergi de-

ngan visi, misi Pemerintah Daerah yaitu membangun kesejahteraan Sulawesi Tenggara Tahun 2008-2013; serta (4) Mendorong Provinsi agar 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara (Kota Kendari, Kab. Muna, Kota Bau-Bau, Kab. Buton, Kab. Wakatobi, Kab, Bombana, Kab. Kolaka, Kab. Kolaka Utara, Kab. Buton Utara dan Kab. Konawe Utara) dalam 3 tahun kedepan dapat memfasilitasi kegiatan AMPL Berbasis Masyarakat. Acara diselenggarakan di Kendari dan diikuti oleh 24 peserta dari Pokja AMPL Propinsi Sulawesi Tenggara, Pokja AMPL Kabupaten: Konawe, Konawe Selatan, Wakatobi, Konawe Utara, Muna dan Buton Utara. Hasil akhir menekankan tentang pentingnya membuat lebih detail RKJM Pokja AMPL Sulawesi Selatan sesuai dengan SKPD-nya masing masing; pentingnya membuat anggaran untuk operasionalisasi Pokja AMPL di sektornya masing masing sehingga tidak hanya di Bappeda saja; serta apabila ada kabupaten yang berminat untuk difasilitasi harus difikirkan konsekuensi penganggarannya. Saat ini hampir semua daerah dampingan WASPOLA sedang menyelesaikan RKJM. Termasuk Gorontalo dan NTT yang sedang menyusun RKJM dengan menghadirkan Pokja kabupaten/kota. Dukungan kepada proyek lain. Selain kegiatan fasilitasi di atas, WASPOLA juga mendukung kegiatan proyek lain seperti WES Unicef di berbagai daerah. Salah satunya barn saja diselenggarakan adalah pelatihan teknik fasilitasi yang diselenggarakan di Surabaya pada tanggal ro-rg November 2008. Kemudian roadmap penguatan kapasitas daerah yang dilakukan WASPOLA, akan diadopsi oleh proyek CWSHP baik untuk proyek hibah maupun pinjaman. Kemudian WSLIC-2 yang sedang memformulasikan program exit strategy minta dukungan WASPO LA untuk berbagi strategi advokasi dan penguatan kapasitas untuk keberlanjutan sarana yang dibangun dalam proyek WSLIG .•
(Tim WASPOLA)

I'

Percik Desember 2008

33

• S8PUTAR~POKJA

AMPL DA~tERAH

-.
-

Tindakan yang bijak adalah dengan member; contoh yang baik, bukan sekedar menganjurkan. Foto: lstimewa.

Promosi PHBS di Kabupaten Sumbawa
liki pendidikan sangat rendah dan jauh ebagai rangkaian peringatan Tahun Sanitasi Internasional (TSI) dari akses informasi, yang merupakan kelompok yang rentan terhadap kemiskindan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Kelompok Kerja AMPL an dan kebodohan yang akan menjadi beKabupaten Sumbawa melaksanakan ban negara dimasa datang. Kenyataan ini yang mendorong Pokja AMPL-BM Kabuberbagai kegiatan kampanye publik. paten Sumbawa melakukan kegiatan soKampanye publik ditujukan kepada khalayak umum dalam bentuk dialog intersialisasi dan promosi tentang kesadaran pola hidup sehat dan bersih (PHBS) serta aktif di radio, sementara bekerja sarna peduli terhadap lingkungan. dengan UNICEF mempromosikan sanitasi dan penyehatan lingkungan pada . Dialog Intraktif anak-anak sekolah dasar (usia dini). Pada acara dialog interaktif terlibat Fokus pada anak sekolah dilatarbelasemua pemangku kebijakan sebagai nara kangi oleh fenomena masih banyaknya anak-anak desa yang tumbuh berkemsumber misalnya Dinas Kesehatan; tinjauannya aspek kesehatan terutama terbang di lingkungan orang tua yang memi-

S

hadap dampak buruknya sanitasi lingkungan dan penyakit yang diakibatkan sanitasi yang buruk, Dinas Pendidikan; tinjauannya terhadap kurikulum/bahan ajar di sekolah yang menekankan pentingnya sanitasi menjadi mata pelajaran muatan lokal sehingga dapat menumbuhkan kesadaran anak sekolah akan pentingnya PHBS. Disamping itu, perlunya memperkuat pemaham an sanitasi kepada guru-guru Pembina UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Kemudian Dinas Kehutanan dan Perkebunan tinjauannya bagaimana melestarikan hutan dan menjaga sumber mata air yang setiap tahun terus berkurang dan fenomena ini bukan disebabkan faktor alam tetapi faktor manusia yang selalu merambah hutan yang seharusnya dilestarikan. Disamping itu perlu adanya program pemerintah terhadap kompensasi kepada masyarakat sekitar hutan agar masyarakat terlibat dalam menjaga hutan. Sementara Badan Pemberdayaan Masyarakat-Lingkungan Hidup (BPMLH) tinjauannya tentang limbah rumah tangga yang dikelola dengan baik dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. BPM-PD tinjauannya tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sehingga mendorong kemandirian masyarakat. Z. Arifin dari Pokja AMPL-BM Kabupaten Sumbawa menekankan perlunya program terpadu dalam mernbangun dan menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya sanitasi dan menjaga lingkungan, sehingga dapat teratasi dampak dari buruknya sanitasi dan lingkungan. "Peran aktif masyarakat sangat diharapkan untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Fenomena global tentang krisis sumberdaya saat ini sangat memprihatinkan. Bagaimana ke depan bangsa dan masyarakat Indonesia tidak terjadi krisis air seperti yang kita alami saat ini," tuturnya. Promosi Melalui Iklan Efektivitas dalam penyebaran informasi sangat dipertimbangkan, namun terbatasnya dana mendorong Pokja AMPL-BM Kabupaten Sumbawa bekerja

34

Percik ='De:::':"':s=em:""'b-er--;2;-;::"OO=S

• SEPUTAR

POKJA AMPL DAERAH

-,

sarna dengan media lokal, baik elektronik maupun media cetak, dalam rangka mempromosikan tahun 2008 sebagai tahun pencanangan sanitasi. Melalui paket berita dan informasi dari media, dapat menggugah kesadaran pembaca, penonton dan pendengar terhadap pentingnya mernperhatikan sanitasi dan menjaga lingkungan. Dimana informasi yang disampaikan merupakan fenomena yang terjadi dari buruknya sanitasi dan lingkungan yang buruk dan potret buram tentang sanitasi merupakan akibat dari ulah manusia yang masih rendah kesadarannya. Disamping promosi melalui media, Pokja AMPL-BM Kabupaten Sumbawa juga melakukan terobosan dengan mencetak poster dan selebaran lain, membuat baliho dan spanduk tentang sanitasi dan lingkungan. Strategi ini sangat efektifuntuk semua kalangan masyarakat. Disamping itu hanya butuh biaya yang murah dan cakupan masyarakat cukup luas dalam sisi target. Kampanye CTPS dan Sikat Gigi Sebagai rangkaian pencanangan Tahun Sanitasi Internasional (TS1) 2008, dilaksanakan kampanye kepada anak-

Seperti

di daerah lain di Indonesia, di Kabupaten Sumbawa pun yang terlibat adalah anak-anak. Fotoistimewa

pada HCTPS Sedunia

anak di 10 sekolah dasar yang tersebar di beberapa kecamatan. Kegiatan ini cukup menarik perhatian anak-anak maupun orang tua murid, kepala sekolah dan guru-guru, mengingat yang menyampaikan pesan atau melakukan kampanye langsung berintraksi dengan murid adalah para dokter sebagai tim kampanye. Kegiatan ini disamping efektif untuk

anak-anak, dapat juga sebagai ajang transformasi/fasilitasi kepada orang tua. Kampaye CTPS dan sikat gigi ini melibatkan Iebih dari 1.000 murid sekolah dasar. Dari kegiatan ini terungkap potret buram kurangnya pemahaman yang beaar tentang PRBS. Anak-anak kurang mendapat bimbingan dan petunjuk yang jelas tentang kapan saat melakukan cud tangan dan bagaimana cara menyikat gigi yang benar serta kapan waktu yang tepat untuk kegiatan itu. Disamping itu pemahaman tentang dampak dari perilaku hidup bersih dan sehatjuga masih kurang Pemasyarakatan sanitasi akan bermakna bila ada aksi yang efektif dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat yang mudah dipahami dan dimengerti tentang apa itu sanitasi, Keterkaitan sanitasi dengan perilaku manusia sangat erat sekali, karena itu bukan hanya dituntut peran Pemerintah saja dalam menjawab permasalahan sanitasi namun peran masyarakat dan pemangku kepentingan di bidang ini. Untuk itu, berbuatlah dari hal-hal yang keeil dan sederhana untuk kemajuan diri. Diringkas dari laporan dan wawancara dengan Z. Arifin, S.Pt. M.Si (Sekretaris Pokja AMPL-SM Kabupaten Sumbawa NTB).

Sebuah spanduk untuk

memperingatkan pentingnya Foto istimewa

CTPS membentang

di jantung

kota,

Percik Desember 2008

35

Rembug Sanitasi Naslonal
Menjadikan Sektor Sanitasi sebagai Prioritas Pembangunan Nasional
saha untuk terus menjadikan s.ektor sanitasi seb.agai prioritas pernbangunan nasional tampaknya tidak pernah surut, Para pemangku kepentingan di sektor ini yang terdiri dad Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta, lembaga donor, Jejaring AMPL, perguruan tinggi, LSM, media massa dan rnasyarakat telah melakukan berbagai cara yang tidak hanya dalam tataran diskusi, namun juga penerapannya di masyarakat. Berawal dari penyelenggaraan Konferensi Sanitasi Nasional (KSN) pada 1921 November 2007 lalu di Jakarta, yang menghasilkan Kesepakatan Bersama dari enam menteri terkait sektor sanitasi dan beberapa walikota dan bupati, Kesepakatan Bersama itu berisikan ajakan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sarna meningkatkan kinerja pembangunan sektor sanitasi. (SeIengkapnya pada Pereik. edisi 21, Desember 2007) Bentuk kerjasama itu menetapkan sanitasi sebagai sektor prioritas dalam pembangunan nasional dan daerah dan menumbuhkembangkan serta mendukung perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya perilaku higiene. Hampir setahun penyelenggaraan KSN, tampaknya pengelolaan sanitasi masih bersifat sektoral dan belum terpaduo Kenyataan, dampak sanitasi yang buruk semakin meluas, seperti kejadian KLB diare, degradasi lingkungan, dan terpenting kesadaran masyarakat yang bel urn beranjak membaik. Semua ini berakibat pada patens! kerugian perekonomian (economic loss) rnencapai Rp 61 triliun per tahun. Untuk itu, perlu kiranya menindaklanjuti komitmen KSN dengan menggelar Rembuk Sanitasi Nasional (RSN) yang diadakan pada

U

Kamis, 23 Oktober 2008, di Jakarta. Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Budi Yuwono pada sambutan pembukaan mengatakan, tahun ini anggaran Departemen PU untuk sektor sanitasi hanya sebesar 2 persen. "Tampaknya, selama ini kita belum memberikan modal yang cukup untuk sanitasi dan kita juga belum menjadikan sanitasi sebagai kompetisi lingkungan," tuturnya. Hal ini diakui Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Supriadi Priyatna bahwa sanitasi tidak termasuk dalam 7 sektor prioritas pembangunan di Indonesia. "Anggaran untuk sanitasi memang sangat menyedihkan. Karena itu, marl kita membuat visi sanitasi agar lebih menarik agar ke depan tercapai tujuannya," ungkapnya. Pembangunan sanitasi masih disatukan dengan pembangunan air minum dengan proporsi anggaran yang jauh lebih kecil, baik di APBN maupun APBD. Sanitasi juga belum dimasukkan dalam RPJMN/RPJMD dan Rencana Kerja Departemen maupun Dinas .. Indikator Kernajuan dan Strategi Sanitasi RSN dalam tingkatan plena menghadirkan para pembicara dari Bappenas, Departemen PU, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Kesehatan. Selain membahas indikator kemajuan perkembangan sanitasi, pada kesempatan RSN tersebut juga membicarakan bagaimana strategi, program, dan kegiatan pembangunan sanitasi secara terpadu yang sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. Menurut Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Ditjen Cipta Karya Departemen PU

Susmono, pembangunan sanitasi secara teknis mudah dan secara dana sebenarnya tersedia, tapi sangat berat dalam ukuran perilaku masyarakat. "Strateginya adalah mengedukasi masyarakat melalui anak-anak dan ibu-ibu seperti yang dilakukan Departemen Kesehatan dengan (Cuci Tangan Pakai Sabun) CTPSnya," katanya. Direktur Admi~istrasi Pendapatan dan Investasi Daerah (APID) Ditjen BAKD Depdagri Rey Donny Zar Moenek menegaskan berbagai sumber pernbiayaan sanitasi perlu pemetaan dan langkah strategis dari seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan sanitasi, ujar Direktur Penyehatan Lingkungan Departernen Kesehatan Wan Alkadri merupakan satu kesatuan kegiatan perubahan perilaku dan peningkatan akses sanitasi yang layak. "Keduanya harus berjalan secara harmonis," ungkapnya. Sementara Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas yang juga Ketua 1 Tim Teknis Pembangun Sanitasi Budi Hidayat, antara lain mengusulkan ke depan agar proporsi dana pembangunan sanitasi berimbang dengan proporsi pernbangunan air minum. Rembuk Sanitasi Nasional akhirnya merekomendasi empat hal, yaitu perlunya pembicaraan lebih lanjut tentang teknis dan strategi untuk mendukung pengarusutamaan program sanitasi, perlunya gerakan melipatgandakan kampanye sanitasi, perlunya membedakan standar pelayanan minimum (SPM) dan standar pelayanan prima (SPP) berdasarkan tingkatan kebutuhan sanitasi yang efektif, serta per1unya melakukan pertemuanpertemuan lanjutan untuk finalisasi dan melengkapi program pembangunan sanitasi. - BW

36 Percik 2008 Desember

• SEPUTAR

~

AMPL

Ole-ole dari Gelar Teknologi Tepat Guna 2008
egiatan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional X barn saja berlangsung di Semarang pada tanggal 30 Oktober-g November 2008. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, dan diisi aengan berbagai kegiatan seperti gelar teknologi, lokakarya, temu bisnis, serta gelar promosi, pementasan kesenian dan hiburan rakyat sebagai kegiatan penunjang. Presiden Susilo Bambang Yudboyono berkenan membuka kegiatan berbiaya Rp 1,9 miliar tersebut. Gelar TIG dipusatkan di kompleks PRPP Jateng, Jalan Purianjasmoro. Peserta TIG berasal dari 33 provinsi seIndonesia, kabupatenjkota, instansi pusat, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Jawa Tengah, perusabaan, BUMNjBUMD, perguruan tinggi, dan kelompok masyarakat. Kelompok Kerja (Pokja) AMPL turut berpartisipasi pada ajang tersebut untuk pertama kalinya. Pada kesempatan pameran tersebut, Pokja AMPL menampilkan Saringan Air Keramik (Yayasan Pelita), Plastik Ramah Lingkungan Ecoplas (Dana Mitra Lingkungan), dan Anaerobic Fluidized Bed Bio-Filter CAFB) Reactor Tank (IATPI). Stand Pokja AMPL cukup diminab oleh pengunjung terutama anak sekolah terlihat dari jumlah pengunjung yang tercatat mencapai sekitar 750 orang. Meskipun gelar TIG ini tidak fokus pada teknologi AMPL, tetapi ternyata cukup beragam teknologi AMPL yang ditampilkan. Mulai dari instalasi pengolah air sampai teknologi peringatan dini banjir. Keseluruhannya ditampilkan dari berbagai instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat. Teknik Penyulingan Air Laut Amandes Teknologi yang banyak menarik perbatian pengunjung adalah berupa teknik

K

Stand Pokja AMPL di Pameran TTG memperkenalkan produk kepada pengunjung, Foto: Oswar Mungkasa.

tas ecoplas

penyulingan air laut Amandes. Amandes mampu memproduksi air minum sehat dari bahan baku air laut dengan menggunakan energi sinal' matahari. Amandes telah mendapatkan paten pertamanya di Amerika Serikat tabun 1997 Teknik ini diklaim oleh penemunya mempunyai keunggulan dibanding teknologi sejenis, yaitu (i) kualitas air hasil proses yang terbaik dengan TDS 0 PPM; (ii) tidak menggunakan alat mekanis; (iii) tidak menimbulkan polusi suara maupun udara; (iv) tidak membutuhkan keahlian tinggi untuk mengoperasikan; (v) biaya perawatan dan operasional rendah; (vi) dapat dioperasikan menggunakan sinal' matahari; (vii) berbeda dengan sistern Reverse Osmosis (RO) yang menggunakan filter khusus sehingga perlu tindakan perawatan filter secara rutin, Amandes menggunakan proses penguapan dan pengembunan. Produk sampingan dari proses produksi adalah garam murni.

Sistem Peramalan dan Peringatan Dini Banjir Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PPPSDA) yang bernaung dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum (Balitbang PU) menarnpilkan beragam teknologi diantaranya Sistem Peramalan dan Peringatan Dini Banjir Technwater (FFWS: Flood Forecasting and Warning System). Teknologi ini dikembangkan dengan mernpertimbangkan kondisi Indonesia. Sistem menggunakan metoda DSS (Decision Support System), Black Box, dalam mernberikan peramalan banjir pada suatu daerah aliran sungai. Keluaran sistem berupa peringatan bahaya banjir beberapa jam sebelumnya, bahkan dapat juga meramalkan kekeriugan pada suatu periode tertentu. Teknologi yang digunakan berupa sensor pengukur tinggi muka ail' sungai, curah hujan, suhu, kelembaban. Data yang terekam kemudian dikirim ke pihak yang

Percik Desember 2008

37

• SEPUTAR

AMPL

berkepentingan. Sumber tenaga menggunakan tenaga matabari dan baterai sebagaicadangan

Pengolahan Air Selokan (Grey Water) 'Ecotech Garden' G"ey Water adalah limbah rumah tangga non kakus yaitu buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur (sisa rnakanan) dan tempat cuci. Pada saat ini, Teknologi Pemanfaatan Sampah sebagian besar 1imbah rumah tangga Sebagai suatu upaya untuk mengulangsung dibuang ke selokan tanpa diorangi timbulan sampah, dalam gelar TIG lah. Ecotech Garden merupakan tawaran ini ternyata telah banyak upaya alternatif pengolaban air seyang dilakukan khususnya oleh lokan atau effluent tangki sepmasyarakat sendiri. Beberapa tik dengan menggunakan tateknologi sederhana berikut menaman hias. Nitrogen (N) dan rupakan contoh nyata. Phospor (P) diserap oleh akar Di Kota Magelang, Nisandi tanamari untuk pertumbuhan, dan Sarwo Imam Santosa mencodis am ping menurunkan zat ba mengolah dan memanfaatkan pencemar (BOD, COD, detersampah organik menjadi briket jen, bakteri patogen), menghiarang, Briket bioarang ini dapat langkan bau dan menjermenjadi alternatif bahan bakar nihkan air. bagi masyarakat sekaIigus meSejak tahun 2005, prinsip ngurangi konsumsi BBM. ini telab diujicobakan di Teknologi sederhana lainnya Kornplek Perumahan Bumi yang dikembangkan oleh Bengkel Asri Padasuka Kota Bandung. "Sri Bakti" di Tarakan adalah Prinsip Ecotech Garden dapat berupa alat penghancur pakaian diterapkan untuk skala rumah bekas. Prinsipnya sederhana tangga maupun kornunitas, yaitu menghancurkan pakaian Unttlk skala yang lebih bekas untuk kemudian hasilnya luas sedang diujicobakan di dapat diolah menjadi bantal, jok Green Belt Waduk Saguling, atau lukisan dinding. Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung. Perbedaan utama dePublikasi Teknologi Tepat ngan skala rumah tangga dan Guna Banyak pengunjung pameran komunitas adalah jenis tayang terkejut mengetahui naman yang dipergunakan. Anaerobic Ftuidized Bed Bio-Fllter (AFB) Reactor Tonk dari I.ATPI turut Keseluruhan teknologi ini diu- dipamerkan di stand Pokja AMPl. Foto: Oswar Mungkasa. sedemikian banyaknya teknologi jicobakan oleh PPPSDA tepat guna yang dipamerkan dan sebagian besar merupakan hasil kerja dapat kembali menjadi air muthlaq, yaitu Balitbang PU. anak negeri ini. Kemudian menjadi agenair bekas wudhu harus kontak dulu deda selanjutnya bagi panitia termasuk kita Sistem Penyediaan Air Wudhu Cara ngan material bumi. Bersih Ulang Model Ahsah Secara umum prosesnya adalah (i) semua untuk menyebarluaskan informasi Penduduk di beberapa daerah seperti menampung air hujan yang diteruskan ke terkait teknologi tersebut. Bagi Pokja AMPL, mungkin menjadi daerah pegunungan karst mengalami bak penyimpan air; Cii) air dialirkan ke kesulitan mendapatkan air. Bahkan bak pengambilan air setelah melalui menarik ketika informasi tentang ruang berupa sumuran yang dibalut seketeknologi AMPL dapat dikomunikasikan kebutuhan air untuk kepentingan kepada pemangku kepentingan baik berwudhu pun kadang sulit diperoleh. lilingnya dengan saringan pasir; (iii) air melalui penerbitan buku, katalog, situs Untuk itu, Balai Hidrologi Pusat Litbang bekas wudhu dialirkan ke ruang tamSumber Daya Air Departemen PU menpungan air hujan sebelum masuk kembali internet, maupun pameran berkala. - OM

coba menerapkan teknologi sederhana dalam penyediaan air wudhu. Prinsip teknologi ini juga mempertimbangkan hukum Islam, yaitu bahwa air yang dapat dipergunakan untuk wudhu adalah air suci dan mensucikan (air muthlaq) berupa air hujan, air laut, air sung ai, air sumur, air mata air, air es dan air embun (selama belum dikotori dan dicemarkan). Sementara air bekas wudhu hukurnnya suci tapi tidak mensucikan (air musta'mal). Untuk itu, perlu dilakukan pengolahan agar air musta'mal

ke bak penyimpan air. Di ruang tampungan air, air bekas wudhu akan kontak dengan air hujan dan batuan. Proses ini yang kernudian secara hukum Islam dipandang telah menjadikan air tersebut layak sebagai air wudhu. Prototipe sistem ini telah dibangun di Desa Sugihwaras Kecamatan Pringkuku Kabupaten Paeitan.

38

Percik Desember 2008

• SEPUTAR

UN ICEF •

Bercermin dari Pembangunan Sanitasi di India
Ole-ole dari International Learning Exchange in Water, Sanitation and Hygiene 14-24 Oktober 2008 di India
semakin menarik kemudian jika menyimakjuga pernyataan tokoh India lainnya Jawaharlal Nehru bahwa "India akan maju ketika tiap keluarga telah mempunyai toilet". Spontan timbul tanya dalam hati "Kapan pemimpin kita bisa berpikiran seperti mereka ya?".
,

Pembukaan

International

Learning Exchange oleh Menteri Foto: OM

Pembangunan

Perdesaan

India.

Isu Utama dan Tantangan Secara umum, akses sanitasi perdesaan relatif masih rendah, termasukjuga sanitasi sekolah. Tidak hanya cakupan rendah tapi juga tidak terlaksananya praktek PHBS di masyarakat. Besarnya masalah yang dihadapi India terlihat dari masih sekitar 665 juta penduduk India yang BAB sembarangan. Jumlah yang sangat besar, hampir 3 kali penduduk Indonesia. Total Sanitation Campaign (TSC) sebagai Program Utama Program TSC dimulai pada tahun 1999 dan saat ini telah berlangsung di 587 kabupaten, meningkat dari hanya 266 kabupaten pada tahun 2003. Jumlah dana yang telah dialokasikan mencapai sekitar Rp. 35 TriIiun. Kontribusi pemerintah pusat mencapai 60 persen, dan pemerintah daerah dan masyarakat masing-rnasing 20 persen. Tahun 2008 alokasi dana mencapai Rp. 2,5 Triliun, meningkat sembilan kali dibanding anggaran 2001. Sekitar 40 juta KK (200 juta orang) dan 500 ribu sekolah telah mendapat fasilitas Strategi utama TSC adalah (i) pendekatan partisipatif; (ii) melibatkan kelompok rnasyarakat, dan LSM; (iii) tersedianya mekanisme penyediaan toilet yang efektif untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi; (iv) membangkitkan kebutuhan (demand)

Dimulai tahun 2006, UNICEFsecara rutin setiap tahun mengadakan program : pertukaran pengalaman diantara negara mitra kerja bertempat di India. Pelaksanaan kegiatan dilakukan UNICEF India, dan UNICEF New York bekerjasama dengan Departemen Air M;num, Kementerian Pembangunan Desa India. Keseluruhan peserta berjumlah 60 orang yang berasal dar; 15 negara. Kali ini peserta dar; Indonesia adalah Oswar Mungkasa (Bappenas), Abdulrahman Sang (Bappeda Kab. Alar, NTT) dan Claire Quillet (Unicef Indonesia). Peserta dikelompokkan dalam 3 modul kunjungan, dan Indonesia termasuk dalam modul C yaitu Sanitasi Sekolah dan Rumah Tangga. Daerah yang dikunjungi adalah Tamil Nadu dan Jharkhand. Penulis hanya berkesempatan mengunjungi Tamil Nadu. Berikut ini merupakan tulisan ringkas hasil pertemuan tersebut.

Mengapa India? ndia menjadi tuan rumah dengan pertirnbangan pengalaman mereka mengimplementasikan pendekatan partisipatif dan tanggap kebutuhan yang terbukti meningkatkan cakupan layanan air minum dari 6 persen menjadi 901)ersen (1966). Sementara sanitasi dasar meningkat tajam menjadi 55 persen (2007) dari hanya 1 persen (1981). Hasil yang mencengangkan lainnya adalah penca-

I

paian akses toilet sekolah dad 8 persen (1993) menjadi 65 persen (2008). Mungkin menjadi lebih menarik jika dikatakan bahwa India menjadi tempat yang layak buat berbagi pengalaman tentang sanitasi karena Mahatma Gandhi yang merupakan tokoh sejarah India yang sangat dihormati ternyata pernah menyatakan bahwa "Sanitation is more important than independence" (Sanitasi lebih penting dari kemerdekaan). Bahkan

Percik Desember 2008

39

• SEl?UTAR

UNICEF.

sanitasi masyarakat berupa perubahan perilaku melalui kegiatan Information, Education and Communication (rEC); (v) sanitasi sekolah dan pendidikan higinitas sekolah perdesaan sebagai pintu masuk dan komponen utama agar dapat diterima oleh penduduk perdesaan; (vi) insentif terhadap penduduk miskin untuk membangun toilet; (vii) memadukan air, sanitasi, kesehatan dan pendidikan higinitas; (viii) kabupaten sebagai unit perencanaan dan implementasi; (ix) pemberian penghargaan Nirmal Gram Puraskar (NGP) Salah satu faktor yang dianggap menjadi faktor pendorong keberhasilan TSC adalah pemberian penghargaan bagi desa ODF melalui Nirmal Gram Puraskar (NGP) atau Penghargaan Desa Bersih. Penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah India kepada kabupaten (districts), kecamatan (blocks) dan des a (Gram Panchayats). Persyaratan yang dibutuhkan adalah (i) setiap rumah tangga telah memperoleh akses terhadap toilet yang memenuhi syarat; (ii) semua sekolah telah dilengkapi dengan toilet; (iii) tidak ada lagi praktek BAE sembarangan; (iv) terpeliharanya kondisi lingkungan. Penghargaan tidak hanya diberikan pada desa, tetapi juga organisasi maupun individu yang berperan mendorong peningkatan akses sanitasi. Insentif yang diberikan harus dipergunakan untuk memelihara kondisi fasilitas sanitasi yang ada. Selain itu, dapat juga dipergunakan untuk penanganan sampah dan air limbah. Kemitraan Pemerintah India menyadari pentingnya kemitraan sehingga masing-masing pemangku kepentingan lain diberi peran masing-masing. Sebagai contoh, LSM diperankan sebagai penemu pilihan teknologi, organisasi berbasis masyarakat sebagai mitra untuk menjangkau kaum miskin, koperasi merupakan mitra untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat, media massa sebagai mitra kampanye puhlik, serta swasta.

Total Sanitation Campaign (TSC):
CLTS ala India

J

ika

di

Indonesia kondisi

CLTS telah Indonesia,

diadopsi penyedi India

akibat

banyak toilet standar bahwa

yang terbangun kesehatan bangunari

kurang

menjadi

STBM dengan beberapa

memenuhi Pemberian mastikan yang

lingkungan. ini untuk mebawah toilet (ii) Bangunan

suaian

sesuai

subsidi dan kredit sesuai

CLTS dikenal Campaign mang untuk

dengan nama Total Sanitation nama ini meprinsip. Perbesebesar bamenunjukkan perbedaan bahwa CLTS dan

(TSC). Perbedaan

dibangun

standar.

atas diperbolehkan pemberian dari insentif pemerintah

dibangun sesukanya; berupa rnelalui skema

TSC rnempunyai penyediaan sekitar

penghargaan Penghar-

daal'1utama adalah (i) TSC memperboletlkan subsidi oleh pemerintah 25 persen dari biaya bangunan tunai

gaan Desa Bersih (Nirmal kitar dan 6.000 (iii) desa

Gram Puraskar). penghargaan kualitas toilet deBAB pasca

Dimulai sejak 2003, sampai saat ini telah se= menerima tersebut; pernantauan-

wah tQjl§tsebagai fasilitas melalui dari kredit

uang mLika. Seroentara atau meminta pemerintah memperbotoilet ternyata sesuai berHal ini belajar

sisanya dapat dibayar

yang disediakan CLTS yang membangun

kebiasaan

BAB penduduk

LSM yang ditunjuk.

klarasi ODF (open defecation free/stop sembarangan) oleh pemerintah .• _

petaksanaan

lehkan masyarakat kemampuan,

(OM dari berbagai sumber)

yang kemudian

Pendidikan Higinitas dan Sanitasi Sekolalh (PHSS): Pembelajaran dari Tamil Nadu Tamil Nadu menjadi pilihan lokasi pembelajaran karena telah berhasil mengimplementasikan Program Pendidikan Sanitasi dan Sanitasi Sekolah

(School Sanitation and Hygiene Education) di lebih 30.000 sekolah dasar dan telah melahirkan banyak inisiatif baru. Tidak lagi hanya sekedar membangun toilet sekolah. Konsep dasar program sanitasi sekolah adalah menjadikan sekolah sebagai

Pemandangan

kontras

yang banyak ditemui di India: toilet rumah penduduk, Foto: OM

lebih bagus dari

40 Percik 2008 Desember

• SEPUTAR

UNICEF.

KataKunci

Anak-anak

diperkenalkan pada praktek PHBS sejak usia dini. Foto: Unicef India.

ujung tombak dan pintu masuk perubahan perilaku kornunitas. Anak-anak menghabiskan 1/3 dari waktunya di sekolah, sehingga kemungkinan pembentukan pribadi anak bisa dilakukan di dan melalui sekolah. Inisiatif memulai program sanitasi sekolah diluncurkan tahun 1999 oleh Pernerintah India melalui program air minurn dan sanitasi perdesaan. Kegiatan utama program PHSS adalah (i) penyediaan air dan fasilitas sanitasi sehingga anak-anak terbiasa; (ii) mernprornosikan peu+-unaan toilet, dan CTPS; (iii) mem]; nosikan perubahan perilaku melalui pendidikan higinitas dan kesehatan; (iv) mendorong partisipasi aktif guru sekolah; (v) mempraktekkan metode pendidikan partisipatif dan berbagi tanggungjawab pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas; (vi) memberi peringkat sekolah berdasar kondisi sanitasi; (vii) menyelaraskan materi pendidikan dan TSC. Hal menonjol dari PHSS adalah pembentukan komite pelajar untuk memantau sanitasi dan higinitas di lingkungan sekolah. Komite ini terdiri dari murid senior dan diberi wewenang untuk rnenegur murid yang melakukan pelanggaran. Komite pelajar terdiri dari lima kelompok

yaitu (i) kelompok pemantau toilet sekolah; (ii) ke1ompok higinitas; (iii) kelompok lingkungan sekolah; (iv) kelompok kebersihan ruangan kelas; (v) ke1ompok air minum. Kelompok dirotasi per bulan, dan terdiri dari anak 1aki dan perempuan.

Kata kunei dari semua keberhasilan ini adalah pelaksanaan program Total Sanitation Campaign (TSC) sebagai program utama dan kemudian memadukan dengan program lain seperti sanitasi sekolah sebagai pintu masuk, Selain itu, pemberian Nirmal Gram Puraskar (Penghargaan Desa Bersih) mendorong percepatan ODP. Pendekatan pembangunan sanitasi India sejalan dengan pelaksanaan pendekatan desentralisasi, yang melibatkan masyarakat setempat melalui Panchayati Raj Institutions (PRIs) atau sejenis Rukun Tetangga CRT) di Indonesia. Walaupun demikian kemitraan juga dikedepankan dengan melibatkan LSM, organisasi masyarakat, media' massa, bahkan swasta. Komitmen pemerintah baik melalui alokasi dana maupun pemberian penghargaan bagi desa, keeamatan dan kabupaten termasuk figur dan organisasi yang berjasa menjadi salah satu faktor pendorong. Terakhir, penting untuk disimak bahwa keterlibatan perempuan dalam program TSC menjadi modal utama keberhasilan program sanitasi di India. _ OM

- a temple. y, use a toi[et. "

r villagesJ

Petuah yang menarik. Untuk urusan kesehatan jiwa pergilah ke Kuil. Untuk kesehatan raga, gunakan toilet. Mantra baru bagi pen dud uk desa. Foto: Unicef India.

Percik Desember 2008

41

• SEPUTAR

UNICEF


Jumlah penduduk yang mengonsumsi air kaya kandungan arsenik di Bangladesh meningkat drastis sejak tahun 1970 seiring banyaknya sumur galian dan pertumbuhan penduduk. Dampak lanjutan dari arsenik juga menjalar pada dampak sosial dan ekonomi, terutarna pada kalangan rakyat miskin, seperti adanya biaya yang harus dikeluarkan untuk proses penyembuhan. Pencemaran Arsenik di Indonesia Arsenik di Indonesia sebenarnya bukan lagi barang baru. Masih segar dalam ingatan kita kasus PT Newmont yang mencuat pada pertengahan 2004 lalu. Kasus yang lebih dikenal dengan "Kasus Buyat" ini telah mengakibatkan 477 pasien menderita berbagai penyakit seperti tumor, neurologi, infeksi saluran pernafasan bahkan pendarahan. Sejak saat itu warga melaporkan kejadian yang menimpa mereka pada pemerintah dengan laporan mereka tercemar limbah beracun yang dihasilkan oleh PT N ewmont Minahasa Raya (NMR). Seiring mencuatnya laporan masyarakat, pemerintah turun tangan dengan membentuk tim pencari fakta guna mengetahui apakah laporan tersebut ada kaitannya dengan limbah sebanyak 4 juta ton yang telah dibuang ke dasar Teluk Buyat sejak PT. NMR beroperasi tahun 1996 (WALHI, 2007). Fakta yang ditemukan tim bentukan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa air sumur Dusun Buyat tingginya kadar Arsen dengan kisaran 0,0263 mg/L, atau dna puIuh kali lebih tinggi dari baku mutu yang ditetapkan WHO. Selain pencemaran arsenik pada kasus Buyat, belakangan media massa juga kerap memberitakan pencemaran arsenik pada wilayah sepanjang pantai timur Pulau Sumatera. Berdasarkan penelitian para ahli arsenik dari Swiss yang sempat dipublikasikan media massa menjelaskan bahwa beberapa wilayah di bagian timur Pulau Sumatra diyakini terkontaminasi racun arsenik. Berdasarkan hasil penelitian yang sama, air tanah di wilayah tersebut merupakan salah satu dari tiga wilayah di Asia Tenggara yang berisiko

Menyoal Kembali Pencemaran

e

Ciri-ciri akibat pencemaran

Arsenik. Fato istimewa

su air tanah yang terkontaminasi arsenik semakin berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini, Sumur sudah tidak lagi menjadi sumber air yang layak konsumsi karen a tercemar lim bah beracun, Bangladesh, satu di antara beberapa negara di duma yang berada pada peringkat tertinggi pemberitaan mengenai kontaminasi arsenik pada persediaan air bersihnya. Sebanyak 65 juta penduduk Bangladesh berada pada tahap mengkhawatirkan akan tercemar racun arsenik. Sementara ribuan penduduk telah menderi-

I

ta kanker kulit, kanker perut dan kanker paru-paru akibat mengonsumsi arsenik yang terkandung dalam air minum mereka. Dampak yang paling banyak dari arsenik adalah tingginya korban yang mengidap penyakit kulit. Pada satu dekade yang akan datang jenis penyakit kulit dan kanker dipercaya akan semakin meningkat yang disebabkan oleh arsenik. Sejauh ini ada sebanyak 100.000 kasus penyakit kulit yang disebabkan oleh arsenik dan jumlah tersebut akan terns bertambah.

42

Percik Desember 2008

• SEPUTAR UNICEF

tinggi terkontaminasi unsur lamia Arsenik. Melalui metode yang digunakan pada penelitian itu, dinyatakan bahwa sekitar 100.000 kilometer persegi (38.600 mil persegi) di wilayah timur Pulau Sumatera berisiko tinggi dan rentan mengalami kontaminasi rnelebihi ambang batas yang disyaratkan WHO (baku mutu: 0.01 mg/L), Prediksi ini juga dibenarkan dan dibuktikan dengan contoh air dari sebuah wilayah di Sumatera yang dipertimbangkan memiIiki risiko tinggi dan dari deposit batuan berisiko rendah. Berdasarkan penelitian yang sarna juga telah dipublikasikan sebuah peta pencemaran arsenik di wilayah pantai timur Pulau Sumatera. Berdasarkan peta tersebut, Provinsi Riau yang berada di pesisir timur Sumatera yang harus waspada terhadap kontaminasi kandungan arsenik. Di antaranya Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Pelalawan, Indragiri Hilir, dan Kabupaten Siak. Memang hingga saat ini belum ada laporan terkait mengenai adanya warga yang tinggal di pesisir timur Sumatera yang terjangkit penyakit akibat terkontaminasi arsenik, Namun, menurut beberapa LS.Myang fokus terhadap pelestarian hutan mengatakan bahwa hasil pene1itian tersebut sangat mungkin terbukti sebab sebagian besar pulau di pesisir timur Sumatera, khususnya di Riau, terbentuk dari delta atau kumpulan lumpur yang berasal dari hulu sungai. Selain itu, banyaknya pabrik di bagian hulu sungai seperti Sungai Siak, Kampar, Rokan juga berdampak terhadap pencemaran air (arsenik) di hilir sungai. Tidak hanya itu, padatnya aktivitas lalu lintas kapal dijalur terpadat dunia, yakni Selat Malaka, besar kemungkinan membuat daerah di pesisir timur Sumatera tercemar arsenik, Membangun Kewaspadaan Berdasarkan .berbagai fakta maupun wacana pencemaran arsenik yang ada di wilayah Indonesia, maka Pokja AMPL bersama UNICEF dan Jejaring AMPL telah melaksanakan lokakarya bertema

Sharad Adhikarry (WHO Indonesia) memaparkan kondisi global kontaminasi pada sumber air minum. Foto: Bowo Leksono

arsenik

"Dampak Kontaminasi Arsenik terhadap Sumber Air Minum", Lokakarya yang diadakan di Jakarta pada 9 Oktober 2008 ini secara khusus menyoal berbagai aspek terkait pencemaran arsenik dalam konteks global dan lebih jauh lagi dalam konteks lokal di Indonesia. Lokakarya ini membahas berbagai aspek terkait pencemaran arsenik, khususnya bagaimana menyikapi pencernaran arsenik, tentunya melalui kebijakan dan langkah yang perlu diambil. Selain itu, seperti apakah kondisi pencemaran arsenik yang sesungguhnya terjadi di Indonesia juga dibahas secara mendalam beserta dampak yang rnuncul terkait pencemaran tersebut. Lokakarya ini bertujuan membangun kewaspadaan seluruh pemangku kepentingan di bidang AMPL yang notabene sangat terkait dengan pencemaran Arsenik ini, baik dari kalangan Pemerintah, L8M, lembaga donor, pelaku usaha, serta kalangan jurnalis. Kita tentunya tidak ingin kondisi pencernaran arsenik di Indonesia dikemudian hari dapat menyerupai pencemaran arsenik yang terjadi di Bangladesh. Oleh karenaitu, sangat jelas bagi kita untuk dapat mewujudkan langkah mitigasi pencernaran arsenik seperti yang telah dibulatkan bersama melalui lokakarya tersebut. Sebuah pembulatan yang menjadi wacana tindak lanjut dari hasillokakarya

ini, diantaranya adalah: o Pelaksanaan surveilans kondisi arsenik dan pemetaan persebaran arsenik di Indonesia. o Pelaksanaan advokasi dan sosialisasi mengenai dampak kontaminasi arsenik oleh/dan ke seluruh pihak. o Peningkatan kapasitas untuk pihak yang menangani dampak pencemaran arsenik. o Pengembangan teknologi identifikasi dan mitigasikontarninasi arsenik, o Kemitraan berbagai pihak untuk penanganan arsenik. o Pengembangan kebijakan yang terkait mitigasi dan pencegahan kontaminasi arsenik. o Gugus Tugas Air Minum (GTAM) sebagai wadah utama koordinasi penanganan permasalahan pencemaran arsenik. Memang masih sedikit sekali sumbangsih ide dan pewacanaan yang dihasilkan dalam lokakarya tersebut. Namun paling tidak hal ini dapat menginisiasi seluruh pemangku kepentingan untuk juga memperhitungkan isu pe.ncemaran arsenik ini sebagai salah satu pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Tentunya bersamasama dengan tantangan dibidang AMPL lainnya yang masih menanti untuk ditangani. - Triwahyudi

Percik Desember 2008

43

SEPUT~R

JEJARING

AMPL

Media Komunikasi untuk Advokasi dan Sosialisasi AMPL
edia kornunikasi atau alat komunikasi merupakan salah satu komponen penting yang digunakan dalam melakukan advokasi dan sosialisasi di sektor air min urn dan penyehatan lingkungan (AMPL). Dalam melakukan advokasi dan sosialisasi, para pelaku di sektor air minum dan sanitasi dapat menggunakan berbagai bentuk media komunikasi, seperti media audio, media visual, maupun media audio visual. Namun dalam penggunaannya, perlu memperhatikan kesesuaian atau strategi komunikasi yang telah disusun. Untuk menghasilkan komunikasi yang efektif dan tepat sasaran, strategi komunikasi harus disusun menyesuaikan kondisi dan situasi kelompok sasaran. Setiap kelompok sasaran memiliki karakteristik berbeda satu sarna lain. Karena itu, diperlukan perla:kuan dan penanganan yang juga berbeda masing -masing kelompok. Terkait hal tersebut, Jejaring AMPL bekerjasama dengan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi dan WASPOLA, mengadakan Pelatihan Pengembangan Media Komunikasi untuk Advokasi dan Kampanye Publik di sektor air dan sanitasi di Studio Audio Visual PUSKAT, Yogyakarta, pada 24-27 Agustus 2008. Pelatihan ini diikuti 24 peserta dari berbagai sektor seperti instansi pemerintahan, proyekjprogram dan L8M. Pelatihan dibuka Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas. Para peserta diberikan pelatihan mengenai cara menyusun strategi komunikasi serta cara memproduksi media komunikasi yang akan diguna:kan. Pada proses penyusunan strategi komunikasi dan produksi media komunikasi, para peserta mendapat bimbingan Iangsung dari fasilitator yang ahli dibidangnya. Pada awal proses penyusunan strategi kornunikasi, peserta ter1ebih dahulu diberikan pengetahuan dasar-dasar ko-

M

Cerita bergambar

(cergam) sebagai salah satu produk media komunikasi.

munikasi dan teknik produksi media komunikasi, Setelah itu dibimbing untuk melahirkan gagasan yang kemudian disusun dalam suatu strategi komunikasi untuk mengatasi permasalahan di sektor air minum dan sanitasi. Setelah menyusun strategi komunikasi, para peserta dibagi beberapa kelompok produksi, yaitu kelompok produksi media audio visual, kelompok produksi media audio, dan kelompok produksi media visual. Dalam kelompok produksi media audio visual, para peserta kernbali dikelompokkan menjadi dua tim, yaitu tim jurnalistik dan tim artistik. Tim jurnalistik memproduksi video liputan berita yang mengangkat isu pencemaran lim bah rumah sakit yang menyebabkan penyebaran virus Hepatitis A di Yogyakarta. Sedangkan tim artistik memproduksi iklan layanan masyarakat yang mengangkat tema pentingnya berperilaku hidup bersih dan sehat dengan tidak BAB sembarangan. Lain lagi yang dilakukan kelompok produksi media audio. Kelompok ini memproduksi sandiwara radio yang mengangkat tema

pentingnya hemat air. Untuk kelompok produksi media visual, peserta juga dibagi lagi menjadi dua tim, yaitu tim poster dan tim cerita bergambar (cergam). Tim poster mengangkat tema hemat air dan tim cerita bergambar mengangkat tern a perlunya pengelolaan limbah khususnya pengelolaan limbah tahu. Dalam pelatihan ini, para peserta, yang dalam konteks ini juga sebagai para pelaku di sektor air dan sanitasi, perlu memaharni akan pentingnya proses perencanaan dan produksi media komunikasi. Hal ini penting dalam penerapannya, ketika kembali ke institusinya masing-masing. Diharapkan para peserta dapat menguasai langkah-langkah dalam melakukan advokasi dan sosialisasi kepada masyarakat melalui kampanye publik. Jika para pelaku sektor air minum dan sanitasi menguasai langkah-langkah advokasi dan sosialisasi, maka komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat menjadi efektif dan tepat sasaran sehingga perubahan perilaku lebih cepat terwujud .• DHA

44

Percik Desember 2008

• ,SEPUTi\R

JEJARI NG AMPL

ada 8 Oktober 2007, setahun lalu, sekitar 40 perwakilan dad berbagai institusi di sektor air minum dan penyehatan lingkungan berkumpul dan bersepakat melakukan sinergi yang diwadahi suatu jaringan, yaitu Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Jejaring AMPL). Karena peran strategisnya, Jejaring AMPL kini mulai menjadi wadah yang mendapat perhatian dan harapan banyak kalangan. Selama setahun ini, Jejaring AMPL tumbuh dan berkembang dan saat ini memiliki empat gugus tugas yang berkonsentrasi mengelola isu yang lebih khusus, yaitu pengelolaan sampah padat, sanitasi termasuk pengelolaan air limbah, perilaku hidup sehat dan higienis, serta isu air minum perpipaan maupun air tanah. Keempat gugus tugas tersebut adalah Gugus Tugas Pengelolaan Sampah CGTPS), Gugus Tugas Sanitasi (GTS), Gugus Tugas Kesehatan dan Higienitas (GTKH), serta Gugus Tugas Air Minum (GTAM). Jejaring AMPL terus mengupayakan pentingnya kepedulian dan kerjasama semua pihak terkait persoalan AMPL. Hal ini menjadi suatu strategi mendorong komitmen dan dukungan para pelaku AMPL untuk mengatasi permasalahan bersama dalam rangka pembangunan AMPL. Kebersamaan Jejaring ini berusaha memberikan kontribusi dalam pembangunan AMPL, salah satunya mem-

p

Meningkatkan Komitmen Bersinergi dalam PembangunanAMPL

Pertemuan

dan buka puasa bersama anggota Jejaring

AMPL. Foto: Bowo Leksono.

berikan masukan dan rekomendasi terhadap Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Sampah. Langkah lain yang tidak kalah penting adalah pendokumentasian atas keberhasilan dan kegagalan dalam pembangunan AMPL melalui media publikasi serta beberapa kegiatan sinergi lain yang mendukung pembangunan AMPL. Memperluas Keanggotaan Untuk mengkaji serta melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan, pada 19 September 2008 lalu, Jejaring AMPL mengadakan pertemuan sekaligus buka puasa bersarna anggota Jejaring AMPL. Kegiatan ini diselenggarakan di Jakarta dan dihadiri sekitar 80 orang anggota sebagai perwakilan dad berbagai institusi, Acara yang dibuka Direktur Perrnu-

kiman dan Perumahan Bappenas lUI, muneul waeana untuk melibatkan secara lebih luas lagi anggota dalam kegiatan Jejaring AMPL. Selama ini kegiatan yang diadakan dalam konteks jaringan masih terfokus dalam rangka mendukung kegiatan institusi anggota Komite Pengarah dan Pelaksana Harian Jejaring AMPL. Hal ini menimbulkan kebingungan anggota dalam membedakan antara kegiatan jaringan dengan kegiatan pribadi institusi. Dasar Hukum Organisasi Selain itu, mengenai legalisasi atau dasar hukum Jejaring ,AMPL yang masih dalam proses pengurusan juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Masalah legalisasi ini dapat menjadi kendala bagi Jejaring dalam menentukan arab. Oleh karena itu, diharapkan pada awal 2009 nanti, Jejaring AMPL telah memiliki status hukum yang jelas, yaitu dalam bentuk perkumpulan masyarakat. Isu y~ng muncul dalam pertemuan anggota tersebut merupakan masukan yang diharapkan ke depan, eksistensi Jejaring AMPL lebih optimal dan manfaat yang dirasakan masyarakat semakin meluas, Selain itu, diharapkan juga terjadi sinergi dan saling berbagi antaranggota JejaringAMPL sehingga kegiatan mendatang lebih optimal dan efektif. _ DHA

I

GUGUS TUGAS ArR MINUM
ada 9 Oktober 2008 lalu, Jejaring Air Minurnclan Renyenatan Lingkungan(dejaring AMPL) dengan dukungan Pokja A'MPL dan Program Water and Environmental Sanitcttign UNICEF, mengadakan Lokakarya Dampak~Kontaminasi Afsenik terhadap SQmber Air Minum. Bersamaan dengan kegiatan ter$ebut, Jejaring AMj;lb j)1elumcurkan satah satu gMgUS ·tugasnya, yait.u Gugus Tuga&;Air Minum(GTAM). eluncuran tersebut dilakuP

P

oleh bambang Purwanto (PU) selaku Koordinat0f GTAM GTAM berperan sebagai wadah untuk bertukar informasi, pengetahuan dan pengalamanchagi para pelakloJ-di sekter air minurn: saran satu agenda G'TAM dalam waktu dekat adalah membentuk forum donor air rnmurn yal]l akan difasilitasj, Pokja AMPb dan 'Prog~am Water and-Envimnmerfta{ Sakan nitation

UNICEF. •

DHA

Percik Desember 2008

45

• SEPUTAR

ST8M

GEBRAKAN WARGADESA BANDANG LAOK
esa Bandang Laok terletak di pelosok Kabupaten Bangkalan, tepatnya di Kecamatan Kokop. Desa ini berjarak sekitar 50 krn dad ibukota kabupaten dan terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Longkak, Baktalbak, Mangar dan Sereseh. Desa Bandang Laok memiliki penduduk 1.379 Kepala Keluarga dengan akses sanitasi awal sebesar 33,36 persen. Desa ini merupakan lokasi sasaran Program SToPS hasil penunjukan langsung Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas Kokop. Pemicuan di desa ini dilakukan pada 16 April 2008 oleh tim fasilitator kecamatan dan kabupaten. Pemicuan pertarna kali dilakukan di Dusun Longkak (akses sanitasi awal 19,04 persen). Masyarakat desa memiliki kebiasaan buang air besar (BAB) di sungai dan tanah lapang. Ketika pemicuan berlangsung, sempat terjadi perdebatan antarwarga karena ada warga yang merasa terganggu dengan kebiasaan buruk tetangganya. Terlebih lagi pada tahun 2006 terjadi wabah polio di desa ini. Bahkan hasil riset WHO mengklaim wabah polio di Kabupaten Bangkalan berasal dari Kecamatan Kokop, termasuk Desa Bandang Laok. Akhirnya dua orang yang terpicu, bernama Urip dan Sholeh. Mereka sanggup berubah dan membangun jamban dalam waktu dua minggu. Dua pekan kemudian terdengar kabar Dusun Longkak hampir terbebas dari BAB sembarangan atau open defecation free (ODF). Kabar yang menggembirakan tentunya. Segera saja pada 6 Mei 2008 dilakukan monitoring dan pertemuan dengan aparat desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dari hasil pertemuan terbangun komitmen warga Desa Bandang Laok akan mencapai status ODF sebulan kemudian, yaitu 6 Juni 2008.

D

Warga berkurnpul

di tanah lapang untuk

menjadi penyaksi Foto Istimewa

Deklarasi

Bebas BAB Sembarangan.

Menerapkan Program SToPS Rupanya masyarakat tergerak karen a selama ini mereka dianggap terbelakang di Kabupaten Bangkalan. Hampir semua pihak menganggap program atau proyek apapun yang dilaksanakan di desa tersebut tidak akan berhasil. Untuk mengubah anggapan itu, masyarakat menggunakan Program Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi (StoPS) sebagai jembatan membuktikan eksistensinya. Setelah pertemuan tersebut, pemicuan di dusun-dusun dilakukan tim fasilitator kecamatan dan natural leader Dusun Longkak. Bahkan natural leader dusun tersebut ikut melakukan pemicuan di des a lain di Kecamatan Kokop, yaitu di Desa Mano'an dan Batokorogan. Monitoring dilakukan oleh natural leader yang juga kader Desa Siaga.

Khusus Dusun Longkak, tim monitoring desa terdiri dad lima orang, yaitu Sholeh, Zaky, BusiIan, Makruf dan diketuai Ustad Umar Faruq, Mereka melakukan monitoring hampir setiap hari. Masing-masing orang memantau beberapa rumah di sekitar rumah mereka. Setiap dua hari sekali mereka berkumpul di suatu tempat untuk melakukan evaluasi dan melaporkanhasil sekaligus melakukan refleksi. Berbagai cara dilakukan untuk mempercepat ODF, antara lain membicarakan pentingnya jamban dimanapun dan kapan pun mereka berada dan bertemu orang lain. Selain itu jika ada tetangganya yang masih BAB di sembarang tempat, mereka menyebut orang tersebut dengan panggilan "virus". Pemicuan juga dilakukan oleh Tim Fasilitator Kecamatan di sekolah dasar.

46

::,-=-Per:..:::.:.:,cik:....,-----=-=--::-. Desember 2008

• S~PUTAR

8T8M

Hasilnya banyak siswa yang terpicu bahkan siswa kelas VI bergotong-royong menggali lubang karena ingin rumahnya memiliki jamban. Perrnasalahan yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi warga tidak sedikit. Salah satunya kondisi tanah yang berbatu padas (batu bertanah). Terpaksa warga melubangi batu berdiameter 75 em dengan ganeu dan tepian batu digunakan sebagai pijakan. Permasalahan lain yaitu adanya satu orang warga yang tidak mau membangun karena dianggap program ini memberikan subsidi dan dana program dikorupsi oleh kader. Setelah para kader menyadarkan, ternyata permasalahan salah satu warga itu tidak adanya laban untuk membangun, padahal istrinya sudah merengek meminta dibuatkan jamban. Jalan keluarnya, tetangga yang menghibahkan tanah untuk membangun jamban. Selain itu, kendala ketidakrnampuan warga seperti janda, dan orang tua untuk membangun jamban diselesaikan dengan cara gotong royong oleh warga. Namun permasalahan tidak hanya itu. Pada monitoring hari terakhir (6 Juni 2008), kader sempat merasa ketakutan karena ada seorang warga yang mengacungkan senjata celurit karena merasa malu dan marah, Harapan kader untuk deklarasi pun hampir pupus. Tak disang-

ka ketika tim sudah pulang dia langsung menggali dan keesokan paginya, sudah terdapat galian setinggi leher orang dewasa di belakang rumahnya .. Persiapan Deklarasi Para kader pun melakukan persiapan. Membersihkan lapangan sebagai tempat deklarasi, berlatih pertunjukan seni, pemasangan spanduk dan papan peringatan, mengundang semua pihak dari tingkat Muspika Kokop, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan, hingga media massa dan elektronik (Radio Amanna FM, Radar Madura dan JTV). Bantuan pun mengalir berupa pengeras suara, musik hadrah, gambus, pencak silat, hingga sembako dan makanan untuk konsumsi deklarasi. Akhirnya pada 9 Juni 2008 dilaksanakan Deklarasi ODF Desa Bandang Laok. Aeara tersebut merupakan gabungan deklarasi dua desa, yaitu Desa Bandang Laok dan Desa Batokorogan. Berbagai spanduk dan papan peringatan dipasang di berbagai sudut jalan desa. Pesta rakyat pun digelar. Seluruh warga tumpah ruah di lapangan merayakan deklarasi ODF. Berbagai pertunjukan seni disajikan, yaitu musik hadrah, gambus dan pencak silat dari Perguruan Setia Hati Terate. Begitu juga diceritakan pengalaman perjalanan masyarakat menuju ODF desa. Bahkan warga menciptakan

Tidak perlu membangun

jamban

yang mahal. Cukup yang sederhana karen a yang terpenting syarat kesehatan. Foto Bowo Leksono

memenuhi

lagu berjudul "Bandang Laok ODF". Di tengah aeara, bujan turun deras. Dengan penuh semangat, warga tetap melangsungkan acara. Kepala Dinas Kesehatan beserta rombongan pun datang. Tibalah acara pembacaan naskah deklarasi yang dibacakan Samsul, seorang yang cacat kaki yang bersemangat menjadi promotor. Sayang pada saat hendak pembacaan deklarasi, listrik padam. Namun dengan penuh semangat seluruh warga membaca naskah deklarasi secara bersama-sama. Seluruh undangan dan warga bertepuk tangan. Kadinkes pun turun dari panggung dan menuju tenda warga. Ia langsung naik rneja agar seluruh warga bisa mendengar pidatonya. Ia bangga pada masyarakat karena terbukti mampu berubah. Hal ini mengejutkan banyak pihak, Kadinkes berjanji pada warga, jika ada program ataupun proyek akan diprioritaskan untuk warga Desa Bandang Laok. Kebanggaan juga dialami jajaran Muspika Kecamatan Kokop. Mereka yang selama ini tidak pernah dilibatkan, tibatiba mendapat kabar menggembirakan mengenai ODF desa tersebut. Acara pun usai. Di jalan tampak bermacam spanduk, Salah satunya bertuliskan "KAMI WARGA BANDANG LAOK BERHASIL MEMBANGUN 446 UNIT JAMBAN DALAM WAKTU 30 HARI TANPA SUBSIDI DAR! PEMERINTAH". Hari itu merupakan titik batik warga Desa Bandang Laok rnenuju hidup baru, Hidup yang bersih, sehat dan nyaman. Mereka berhasil meyakinkan semua pihak bahwa mereka mampu. Anggapan masyarakat terbelakang pun seketika tumbang. Mereka bangga atas hasil yang diperoleh. Masyarakat Desa Bandang Laok mampu mernbangunkan banyak pihak dari tidur panjangnya. Program SToPS berhasil membuktikan diri mampu menjembatani masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, Gebrak.an masyarakat Desa Bandang Laok merupakan salah satu reward bagi program dan para pelaku program, sekalipun selama ini Program SToPS dianggap melawan arus oleh banyak pihak, _ Wida Indrayanti

Percik Desember 2008

47

• KLiNIK

IATPI

Majalah

Percik: bekerja
Rubrik

sama dengan Ikatan Ahll Teknik ini bertsi tanya jawab tentang

Penyehatan Lmgkungan Indonesia, membuka air mmum dan penyehatan Lmgkungan.

rubrik

Klinik.

KO.nlributor:

F!ertanYlian dapat disampaikan melalui Sandhi Eko Bramono (5andhieb@yahoo.com),

redaksi Majatah Percik Lina Damayanti (Ldamayanti@yahoo.com)

Alga Peogganggu
Tanya: Saya ada1ah salah seorang operator Instalasi ,yj?engolahan Air. Saya sering mendapati banyak alga yangtumbuh di dineling plat engendap pada tangki serumentaSi. Adakah cara untuk mengatasi ini ?
(Junaedi, Nganjuk)

oleh: Sandhi Eko Bramono. S.T.. MEnvEngSc*

diawetkan dan siap untuk dimakan langsung?
(Dwi Septo, Jakarta)

Jawab Di kawasan tropis seperti Indonesia, pertumbuhan alga umumnya culrup menjadi masalah pengganggu di banyak infrastruktur bangunan air, termasuk pada Instalasi :Pengolahan Air. Cara yang efektif adalah dengan melakukan proses preklorinasi yang dapat dilakukan pada bak koagulasi (pencampuran antara bahan koagulan seperti A12(S04)3 dan desinfektan seperti Ca(CIO)2), sehingga membantu untuk menghambat perturnbuhan alga di plat pengendap.

Selain itu, preklorinasi juga bermanfaat untuk membantu pembentukan flok pada 8k flokulasi, sehingga flok yang dfhasilkan menjadi lebih padat. Pembuatan atap eli atas bak sedimentasi juga dapat dilakukan untuk meminimasi infiltrasi cahaya matahari, seperti yang telah diterapkan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu, Semarang, yang juga terbukti dapat meminimasi pertumbuhan alga di plat pengendap.

Makanan Kaleng
Tanya: Saya pernah membaca bahwa makanan kalengan juga bisa berpotensi menyebabkan keracunan makanan. Bukankah makanan kalengan sudah

Jawab: Makanan kalengan memang rnerupakan makanan yang sudah diawetkan . Banyak metode yang dJgunakan untuk mengawetkan makanan, seperti misalnya penambahan zat pengawet (natrium l:ienzoate), pendinginan, pasteurisasi, penghampaan (vakum), dan lain sebagainya. Namun makanan kalengan juga memiliki batas tanggal kadaluwarsa. Dalam makanan kalengan, dim ana kondisinya relatifbebas oksigen, maka terdapat peluang keberadaan spora bakteri anaerobik, yang umumnya spora dari bakteri clostridium botulinum. Clostridium botulinum, merupakan bakteri strict anaerob yang dapat memproduksi racun atau toksin yang dapat menyerang sistem saraf(neurotoksin) . Bakt'eri ini.juga mampu memfermentasikan makanan alam kaleng yang akhirnya menghasilkan gas dan memberikan indikasi kaleng yang mengembang karena ekspansi gas, Selain itu, bakteri anaerobik lainnya yl),ngterdapat pula dalam makanan kalen , marnpu mereduksi senyawa sulfat (S042- yang terdapat dalam makanan menjadi sulfide (S2-) dan bereaksi dengan logam besi (Fe) yang terdapat pada kaleng dan membentuk senyawa pirit (FeS) yang berwarna kehitaman pada kaleng. Dalam hal ini, kaleng yang mengembang akibat desakan gas dan warna kehitaman pads: bagian dalam ka eng, mengindiltasikan bahwa makanan kaleng tersebut telah kadaluwansa dan tidak Dolen dikonsumsj lag1- • pengasut1 ada Lan seo rang kandidat doktor di Division of Environmental Science and Engineering, Paculty of Enginering, National UJ)iversity oJ Singapore (NUS), Singapura. Kontak pengasuh: sandhieb@yahoo.com

Mengonsumsi

makanan

kaleng perlu memperhatikan Foto:lstlmewa.

batas tanggal

kadaluarsa.

48

Pemik Desernber 2008

Lokakarya Nasional Kebijakan Nasional AMPL-BM di Daerah
rogram WASPOLA yang diinisiasi Pemerintah Indonesia, didanai AusAID dan difasilitasi WSP Bank Dunia telah berlangsung sejak 1998. Pada tahun 2008, program WASPOLA berhasil menyelesaikan tugas tahap II. Untuk itu diselenggarakan Lokakarya Nasional Konsolidasi Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) di Daerah di Bali pada 2-6 Maret 200B. Tahun 2008, Program WASPOLA 2 telah diimplementasikan di sembilan provinsi dan 63 kabupaten/kota melalui Pokja AMPL Provinsi yang menjadi kekuatan diseminasi kebijakan dan implementasi pembangunan yang berkelanjutan. Lokakarya yang dihadiri wakil seluruh daerah dampingan tahun 2004-2007, Pokja AMPL Nasional, lembaga donor, dan proyek-proyek AMPL terkait, juga narasumber yang kompeten dibidangnya ini dikemas dalam bentuk video dokumenter. Tujuan dari lokakarya ini melakukan evaluasi, koordinasi, dan konsolidasi hasil pelaksanaan program AMPL-BM di daerab.

P

Selain itu untuk menggali inspirasi, dan menyepakati agenda serta mekanisme tindak lanjut kegiatan pusat dan daerah pascaWASPOLA. Video yang diproduksi WASPOlA dengan pelaksana produksi dari Studio Audiovisual PUSKAT Yogyakarta ini menampilkan secara lengkap acara demi acara. Video berdurasi total 110 menit dan tersedia di Perpustakaan Pokja AMPL ini terdiri dari dua keping.

Pada kepingan pertama ditampilkan kilasan acara mulai dari pemaparan progres dan hasil pelaksanaan Kebijakan Nasional Pokja AMPL, seminar berbagi pengalaman adopsi dan implementasi Kebijakan Nasional AMPL-BM dari para wakil proyek terkait, diskusi panel, serta diperkenalkan dunia situs. Narasumber dari Pemerintah Pusat hadir antara lain Direktur Permukirnan dan Perumahan BAPPENAS Budi Hidayat, Direktur Penyehatan Lingkungan dan Perumahan, Ditjen Cipta Karya, Dep. PU Susmono, dan Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen PP dan PL Depkes Wan Alkadri. Sementara pada kepingan kedua, ditampilkan lengkap Talkshow Kebijakan Nasional AMPL-BM yang menghadirkan tiga bupati yaitu Bupati Solok, Sumatera Barat, Gusmal, Bupati Pekalongan, Jawa Tengah, Siti Qomariyah, dan Bupati Boalemo, Gorontalo Iwan Bokings yang masing-masing menyampaikan tukar pengalaman tentang perubahan paradigma pembangunan AMPL.• BW

Kompilasi Film Dokumenter Pemenang Kompetisi
ilm dokumenter tak hanya mampu mengangkat fakta ke dalam format bercerita yang lugas dan apa adanya. Dokumenter juga memiliki peluang menjadi medium edukasi sekaligus komunikasi massa yang cukup berpengaruh. Salah satu strategi dari Forum Komunikasi Pengelolaan Kualitas Air Minum Indonesia (FORKAMI) untuk mendapatkan materi kampanye penyadaran masyarakat atas pentingnya isu soal air, baik di Indonesia maupun dunia adalah dengan menggelar kompetisi film dokumenter ditahun 2008 ini. Hasilnya, 42 judulfilm dokumenter pendek dad berbagai kota di Indonesia terkumpul dan dikompetisikan. Tiga film terbaik kemudian dikompilasi dalam bentuk kepingan DVD sebagai materi

F

kampanye dalam program penyadaran mengenai pentingnya isu konservasi air.
Forlllll!Comunika'; PengelQlaii!l Ku~li:ta s,A.ir Minlml tudOlle$'" (FORKAMI)

KOMPETISI FILM DOKUMEN,TER FORKAMI
%007·2;008

~bJJ.Pttc-~t:ok;lnNee;.r.l.~'!'IC1oI.l.KU'mIlIll.4!n1"!."t..o;n1.J Tliilp_loUJ:.:iU"'hOi'l~"C't.. ~aJ,l;l!lp U",.u:, 'rlmlil:io,~",I:In.""I.id

..\..i.rIAI~r lCl1i.j4:1.t.iS!I6:$

Film bertajuk "Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (Ngobrol dengan Mbok Giyem)" dari Surakarta berhasil menyabet Pemenang I, disusul film "Sang Pawang Air" dari Purbalingga sebagai Pemenang II, serta film dari Sumatera Utara yang menduduki Pemenang III berjudul "Badai (Berharap Air di Atas Air)". Film-film tersebut berbicara mengenai eksistensi air di Indonesia serta hubungannya dengan perilaku dan eksistensi manusia. Sajian kondisi nyata mengenai eksistensi air dan hubungannya dengan perilaku dan eksistensi manusia di sekitarnya dirasakan sangat penting dalam membangkitkan kesadaran rnasyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam segala macam upaya konservasi air. _ BW

Percik Desember 2008

49

mengatakan,
...-""",uF,uU

"Cara pem

n,,,~ti,~'l]-.,,,,, lingkungan yang bersih

~~~I~~I~lllil;~i~~ ~
"<>'IU1L"'"

memberi eontoh nyata ke dapat tersebut tertuang dalam Teknis Pembangunan Masih Perlu Kerja Buku terbitan September 2008 ini dapat dan masyarakat dari beragam latar Mulai aga MCK, penyandang tunanetra, HU5"-U115<1.L!, praktisi kesehatan, pekerja awan, anggota DPR dan DPRD bahkan sendiri. Memang belum tentu pendapat dan mereka tertuju

rusak atau

jawab sanitasi adalah kewajiban semua. Termasuk mereka pada Pemerintah Pusat semata tugas dan tanggung yang tUTUt berpendapat. setebal 43 halaman kemasan julicciour foto-foto menarik ini tpT·"p(ii,,'"rl Perpustakaan Nasional, Jl. Cianjur NO.4 Jakarta. -

MARl BERBISNIS SANITASI
rile Gengsinya rendah dan keuntungannya keeil. dapat ini tidak benar. Bisnis ini bobotnya sama bisnis lainnya. Bisnis ini menguntungkan, rakyat banyak, dan turut meneiptakan lapangan kerja, bisnis ini bisa menaikkan gengsi sanitasi dari suatu kawasan. Beragamnya usaha yang bisa dikelola swasta dapat disimak dalam buku ini. Di bagian akhir, dapat disimak berbagai faktor pendukung keterlibatan Anda dalam bisnis sanitasi. Demikian ajakan bisnis sanitasi yang tertuang dalam buku berjudul "Blsnis 8anitasi 100 Juta Konsumen Menunggu Anda!", Buku terbitan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi ini menjelaskan betapa besarnya konsumen yang sudah terdata yang mem tuhkan pelayanan fasilitas sanitasi. Buku yang juga tersedia di Perpustakaan Pokja AMPL Nasional ini menjelaskan secara singkat dan padat jenis bisnis sanitasi antara lain; WC urnum, tanki septik, sedot tinja, sewerage system, pengolahan lumpur tinja, pengangkutan sampah pupuk sampah, dam ulang sampah, pembuangan akhir sarnpah, serta errergi dari sampah. Masih merasa kliawatir at au kurang mantap dengan bisnis ini? Buku dengan cover depan sebua bis berukuran besar bertuliskan WC Berjalan ini memberi penjelasan dukungan secara politis, regulasi, keuangan, keringanan pajak dan ketersediaan bimbingan teknis terkait pembangunan sanitasi. Mari, bersegera berbisnis sanitasi. - BW

iapa bilang bisnis sanitasi yang notabene berhubungan dengan barang-barang kotor atau barang tak berharga tidak mempunyai peluang? Bayangkan, menurut data, 45 persen penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap fasi_l..-~litas~:sanitm,r:--1Prostm[t-aseillli;arnra:'jUl11tah.nY<I">ii(mgan,.100 juta lebih penduduk Indonesia. Padahal, masih belum banyak orang atau pelaku bisnis yang melirik bidang sanitasi ini sebagai lapangan bisnis yang menjanjikan ke depannya. Bukankah kondisi semaeam ini semakin membuka peluang? Ini1ah saatnya bagi pihak swasta untuk ikut mengurusi sanitasi. Mungkin selama ini bidang sanitasi dianggap tidak mena-

S

50

Percik Desember 2008

• INFO SITUS.

Hari Monitoring

Air Sedunia
ng/

http://www.swfwmd.state.fl.us/ education Ikids/watermonitori

alam rangka memperingati Hari Monitoring Air Sedunia yang sejak tahun 2003 secara internasional diperingati pada 18 Oktober maka Percik Edisi Desember ini mencoba membagi pengetahuan kepada pembaca setia dengan mengunjungi situs ini, Situs yang dikelola Negara Bagian Florida, Amerika Serikat ini mempunyai misi sebagai pusat informasi dalam menyediakan petunjuk manajemen air bersih di negaranya, Tak pelak situs ini menjadi salah satu situs yang berupaya sebagai media partner dalam menyukseskan Hari Monitoring Air Sedunia Tahun 2008 ini. Salah satu-

D

nya dengan mengupas tuntas hal-hal yang berkaitan dengan perayaan Hari Monitoring Air Sedunia. Jika Anda mengunjungi situs ini maka akan diperoleh sejumlah informasi mulai dari sejarah dan artikel yang memuat betapa pentingnya bagi kita untuk memonitoring kualitas air. Tidak hanya itu, situs ini juga menyajikan sejumlah informasi terkait indikator dalam pengetesan air beserta cara pengetesannya. Semuanya diu las secara mendalam pada tiap-tiap artikel yang dipublikasikan.

Pakai Sabun Sedunia. Hari Cuei Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah sebuah karnpanye global yang dicanangkan PBB bekerjasama dengan organisasi lainnya, baik pihak pemerintah maupun swasta untuk menggalakkan perilaku mencuci tangan dengan sabun oleh masyarakat sebagai upaya menurunkan tingkat kernatian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia. Pengumuman penunjukkan Hari CTPS Sedunia pada 15 Oktober dilakukan pada Pertemuan Tahunan Air Sedunia (Annual World Water Week) yang berlangsung 17-23 Agustus .2008 di Stockholm. Kampanye CTPS Sedunia adalah upaya memobilisasi jutaan orang di seluruh dunia untuk mencuci tangan mereka dengan sabun. Inisiatif ini dikumandangkan oleh Kemitraan Swasta dan Publik untuk Cuei Tangan (Public Private Partnership for Handwshing) dan didukung PBB. Dengan mengunjngi situs ini dapat diperoleh sejumlah artikel studi kasus tentang kemitraan swasta, pemerintah dan publik dalam kampanye CTPS yang juga bisa dijadikan pembelajaran bagaimana menjalin kerjasama antarsektor untuk keberhasilan program. Selain itu yang lebih bermanfaat, situs ini juga menyajikan sejumlah materi substansial tentang cuci tangan pakai sabun yang bisa dijadikan referensi ketika akan melakukan kampanye publik.

anak-anak tentang bagaimana eara mempraktikkan ilmu dan pengetahuan lingkungan yang telah mereka terima untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,
LIVELIHOODS CONNECT

U\._)

~
til HOTTOPI(~
CQlIIlI1lJnlly
:l,IIrMj,{ll\y 'I\~~-Ddo~r~" r~,Hllu-l)'

'"

1(,:",1Tolnl

S .. nil nl ion

e<if!or. ~9~...r3'O;'l ":l':-~"'"
1r1,lj

I,,~" J,.

'i'" ..

I.. ~=', I.; '.11 ':Lr~) ~j i'rt'\I'I>;Il rp; ~ "M>I~rJ t:I"'''I'IIJr.u:_! 11; ;::QlJlIlclcly !,l;~..:).: ~ _. ~ cn~o,Ilr-'pl ~"ll b, tJ-"llj(fl.".mrl"
(;1"1.1 '.h.~lL'r J~.,tr .. ~l' t'~ did p:nl'~ ·~TI~ 'W I .:r"'''t~·1:" ~dr;I;~.\." 'IIrll\ll1MC "'MlIjq!!,,Jr~:-';'i'ln",J.~!J

~ ~

OCI"l":. ......

''''I\.~

.:..t..r ~ •••

r.J'firn,.Jl11~)' ;;rt.;Il.~~ .:.., ..... r'If ,.,";'"

1,l_t''';~,:,,'I'f1:') ' r.l 15.'~ ~ hl"l,

:t.u_ll;I'r
".:ip,r,rwlIi

I:Iv·,t' o:o i... .... td
f~;rort;oU

(#.1('1

(:',Rft,nr..1-c;

c: II 'hQ~h, .... ~l"N"IIunt ... nlrrmLt-:-h("""<Ira-;;ccteewe ~tJ(In .rla ~.~ I~ 10 =.1\:1:" ll,l"rh~ .:ctlcnm Un:· Ntlle 'O;.1l'1<t;lic.-! Il'lPf v·~lI'ent~ he ..., 1i'l'1"'I!41!H .r.ea"h t;.en.e:II-· wluch {t.I,(;I~'t' WM:fI.U.Llt~ U'IC :;.'L"L'Cl: r t9JI1 _WI:! _lbJ n ur.::ru~ :,· nyll-» .. : =--tt oI'-n"l"l'll1'IItv "" ~11t 1!'>-~ CI. T'!'I ru rr.m;:,:: ih.r~tr.:lr .. 1Ii'hA: M'II\.lret~~ ~¥, .a;ct.e-'oIIi b'J OJftd="toiol~9 rl.lt~1 l!~ll;(r\'e-~'"" ltr~r
ewn®!fclo;l'll4:tl.t

Program Sanitasi Total
http://www. livelihoods.org/ hot_topics/ CLTS. tml h
itus ini merupakan media dari Institut Development Studies (sebuah lembaga penelitian kemanusiaan di Inggris) untuk rnempublikasikan hasil peneliriannya terkait upaya menciptakan keberlanjutan hidup bagi siapa saja. CLTS (Community Lead Total Sanitation) atau yang lebih dikenal dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) rnerupakan salah satu topik yang diulas secara mendalam di situs ini. Dengan mengunjungi alamat situs di atas, akan dapat diunduh dengan bebas sejumlah hasil penelitian mengenai program Sanitasi Total. Diantaranya berbagai handbook yang berisikan teori Sanitasi Total dan artikel tentang pembelajaran program STBM di berbagai belahan dunia, Tidak hanya itu, situs ini juga menampilkan target dan pencapaian program di berbagai Negara dan merupakan sebuah ulasan yang bermanfaat bagi para pe-laku AMPL untuk bisa mengakses situs ini. Seluruh pembelajaran dan mated yang dipublikasikan dapat dijadikan masukan bagi perbaikan program Sanitasi Total di Indonesia .• WL

S

Science News for Kids
http://www.sciencenewsforkids. org/pages/search.asp?catid=7
menumbuhkan bagi anak-anak, Berbagai tema bacaan menarik pun tersaji lengkap di dalam situs ini, Salah satunya tema lingkungan. Salah satu yang unik, anak-anak yang mengunjungi situs ini dapat berinteraksi langsung dengan mernberikan komentar mengenai mated yang disajikan, memberikan ide kreatifnya pada proyek yang diraneang bagi mereka. Situs ini juga dilengkapi pernandu yang akan memberikan masukan bagi

Situs ini bertujuan sernan gat membaea

Hari CTPS Sedunia
http://www.globalhandwashingday.org

A

geuda penting lainnya di Bulan Oktober 2008 adalah Global Handwashing Day atau Hari Cuci Tangan

Percik Desember 2008

51

PETUNJUK
METODE MEMANEN DAN MEMANFAATKAN AIR HUJAN UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIH, MENCEGAH BANJIR DAN KEKERINGAN PENERBIT. ASDEP URUSAN PENGENDALIAN KERUSAKAN SUNGAI DAN DANAU, DEPUTI BtDANG PENINGKATAN KONSERVASI5uMBER DAYAAlAM DAN PENGENDALIAN KERUSAKAN LtNGKUNGAN, KLH, MENGETAHUI HAl< RAKYAT DAN MEMATUHI MISKIN MERUPAKAN KEWAJIBAN BERSAMA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PRORAKYAT (BUKU SAKU) PENERBIT. SMS 9949 & PO BOX 9949, JAKARTA, 2008 STATISTIK PERUMAHAN

RINGKASAN STUDt KEGIATAN-KEGIATAN LlNGKUNGAN MASYARAKAT (2007) PENERBIT: JAPAN
INTERNATIONAL

PROMOSI

BERBASIS DI INDONESIA
BANK FOR

COOPERATION,

JAKARTA, 2008

MAJ
AIR MINUM EOlsl 155, AGUSTUS 2008 TUKI EOISI 10, 2008 BUlETIN INFO STUDI LlNGKUNGAN EOl51 7, 2008 SUARA BUMI VOLUME 1, JANUARIFEBRUARI 2008
@ ~;-

2006 PENERBIT. BADAN PUSAT STATISTIK, JAKARTA) 2006 STATISTIK PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN (HOUSING AND SETTLEMENT STATISTICS) 2007 PENERBIT. BAOAN PUSAT STATtSTIK, JAKARTA, 2007

2006
HANDBOOK

ON

COMMUNITYLED TOTAL SANITATION PENERBIT. PLAN UK-INSTITUTE OF -~ DEVELOPMENTSTUDIES (IDS),

2008

LAPORAN
LAPORAN PEM· BANGUNAN MANUSIA INDONESIA (LPMI) 2004, EKONOMI DARI DEMOKRASI: MEMBIAYAI PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA PENERBIT: BPS-BAPPENAS (BADAN PERENCANMN PEMBANGUNANNASIONAL)-UNDP, JAKARTA, 2004
If1J1iIJ.fll'lI".~J.'iIi.l 1All~"'J~1(".llM,IIIII.1."'l!l

RENCANA STRATE· GIS PEMBANGUNAN SEKTOR AIR MINUM DAN PENYEHATAN LlNGKUNGAN (AMPL) KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2008-2012 PENERBIT. BADAN PERENCANMN PEMBANGUNAN DAERAH, PEMERINTAH KABUPATENPEMALANG,

SERASI VOLUME 1, JANUARIFEBRUARI 2008 PERCIK EOl51 , 21 DESEMBER2007 (VERSI INGGRIS) EDISI , 23 AGUSTUS 2008 (VERSI INGGRIS) EOISI 24, OKTOBER 2008 NEWSLETTER AMPL EOISI MEl, 2008 EOISI JUNI, 2008 EDISI JULI, 2008 EDISI AGUSTUS, 2008

""'"'" 20(,7

2007

PERATURAN

DAERAH PENGELOLAAN AIR LlMBAH KOTA BANJARMASIN PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG PELAYANAN AIR MINUM PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

LAPORAN PENCAPAIAN MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS INDONESIA 2007 PENERBIT. KEMENTERIANNEGARA PERENCANAANPEMBANGUNAN NAS10NAL! BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS), JAKARTA, 2007

52

Percik Desember 2008

II

AGENDA

~
....

,,'" "" - - - - - - -

- - - - -- - - ------- ... _ ..... ---.~----~~----_.,.,. -~~--~--_....._...

~---- -_- - - -.-~~-~-------~---

-----

---- -------

...

,
! !
I

KEGIATAN \ Lokakarya Penyusunan Strategi Daerah Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, diselenggarakan di Rembang : oleh Pemerintah Kabupaten Rembang :2 4 September 2008 Diskusi "Knowledge Management dalam Kebijakan dan Program Pembangunan Perumahan dan Lingkungan", diselenggarakan I di Jakarta oleh Universitas Atmajaya dan UN-HABITAT '3 4-6 September 2008 Lokakarya Penyusunan Modul Pelatihan Cuci Tangan Pakai Sabun, diselenggarakan di Bogor oleh Direktorat Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan 4 8-_10September 2008 Lokakarya Penyusunan dan Penyempurnaan Rencana Strategis dan Rencana Kerja Jangka Menengah Pokja AMPL, diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat oleh Pokja AMPLdan WE5 UNICEF 5 10 September 2008 Diskusi Extended Producer's Responsibility, diselenggarakan di Jakarta oleh Kantor Kementerian Lingkungan Hidup 6---_~1~5-~1~9~S~ep~t~e~m~be;r~2~0~0~8----~p~el~a~ti~ha~n~T!~e~kn~i~k~K~el~o~m~~~ok~S~a~m~b~u~ng~a~n~A~ir~B~e~r~si~h,~d~is~e~le~n~g~ga~r~ak~a~n~d~i~Su~m __ 7 16 September 2008 Han Ozon 8 17 September 2008 Diskusi Pembahasan Exit Strategy Komponen Kebijakan dan Advokasi, diselenggarakan di Jakarta oleh Direktorat Jenderal Bina Bangda, Departemen Dalam Negeri 9-- 19 September 2008 Pertemuan Anggota dan Buka Puasa Bersama Jejaring AMPL, diselenggarakan di Jakarta dengan didukung oleh Pokja AMl1. dan WASPOLA 22-2 5 September 2008 WASH Cfuster Emergency Training, diseleng~arakan di D,I. Yogyakarta oleh WESUNICEF 10 Lokakarya Kajian Exit Strategy Pokja AMPL, diselenggarakan di Bogor oleh Direktorat Jenderal Bina Bangda 11 23-24 September 2008 Departemen Dalam Negeri Lokakarya Pengembangan Wilayah Kumuh Perkotaan Tingkat Kota Kupang, diselenggarakan di Nusa Tenggara Timur oleh 12 24 September 2008 Pemerintah Kota Kupang dan WESUNICEF Hari Habitat 6 Oktober 2008 14 9 Oktober 2008 Lokakarya Dampak Kontaminasi Arsenik terhadap Sumber Air Minum, diselenggarakan di Jakarta oleh Jejaring AMPLdan WESUNICEF 15 13-15 Oktober 2008 Pertemuan Koordinasi Nasional Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL, diselenggarakan di Bandung oleh Direktorat Jenderal Bina Bangda D~rtemen Dalam Negeri dan WASPOLA 16 13 Oktober 2008 Lokakarya Jurnalis dalam R~ngka Hari Cuci Ta,nganPakai Sabun se Dunia, diselenggarakan di Jakarta oleh Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS)Cuci Tangan Pakai Sabun Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia 17 15 Oktober 2008 lHari Monitoring Air Sedunia 18 18 Oktober 2008 Kunjungan Bersama Media ke Sekolah Model lnklusi , diselenggarakan di Jakarta oleh USA/D's Environmental Services 19 18 Oktober 2008
Program

/ No. •1

WAKTU 3 September 2008

20 21 22

20-22 Oktober 2008 20-21 Oktober 2008 22-23 Oktober 2008

Lokakarya Penyusunan Modul Pelatihan CTPS,diselenggarakan di Bogor oleh Direktorat Pen),ehatan Ling>.;.;ku;;.;n;.Bg:;;_;an.;..... _ Departemen Kesehatan Lokakarya Penyusunan Konsep Exit Strategy, diselenggarakan di Bogor oleh Direktorat Jenderal Bina Bangda Departemen Dalam Negeri Lokakarya Penyusunan Rencana Kerja Jangka Menengah, diselenggarakan di Serang oleh WASPOLA

24 23-24 Oktober r008 zs-'27-31 Okto er 2008 26 27 28 27 Oktobe r 2008 27-29 Oktober 2008 30 Oktober 2008

Lokakarya dan Diseminasi ebiiakan Nasional AMPLBerbasis Mas arakat, diselenggarakan di Kendari oleh WASPOLA Pe ati an MPAPHASTdan CLTSProvinsi Sumatera Barat, diselenggarakan di Padang oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Desa dan Departemen Dalam Negeri Diskusi The Water Dialogues Indonesia, diselenggarakan di Jakarta Pertemuan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Nasional AMPLBM, diselenggarakan di Bali oleh Direktorat Jenderal Bina

30

31

3_2 ~7 34 35 36 Jf

Kabu aten Grobogan Gelar Teknologi Tepat Guna, diselenggarakan i Semarang 0 e Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Dasa Departemen Dalam Negeri 3 November 2008 Seminar dan Pameran Pemasaran Sosial untuk Perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Cuci Tangan Pakai Sabun, diselenggarakan di Jakarta oleh Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Tim Teknis Pembangunan Sanitasi, WSPdan Unilever 4-7 November 2008 Lokakarya Pengembangan Kampanye Komunikasi Perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Cuci Tangan Pakai Sabun, diselenggarakan di Bandung oleh Direktorat Penyehatan Ling~gan Departemen Kesehatan, Tim Teknis Pembangunan Sanitasi, WSPdan Unilever 5-_7_N_o_ve_m_b_e_r_2_0_08 "City Summit Program IS5DPke-4, diselenggarakan di Sumatera Barat oleh Pemerintah Kota Payakumbuh, Tim Teknis Pembangunan AMPLdan ISSDP .... Nc;-o-v-em--;-be--r..,2""D::::'D8,.....---------:'L-or-ka'7k-ary"""-;a Kerja UNICEF,diselenggarakan di Bogor oleh WESUNICEF Penguatan Kelompok 7-11 November 2008 Pelatihan MPAPHASTbagi Pokja AMPLuntuk tahun 2008, diselenggarakan di Makassar oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Departemen Dalam Negeri 10-14 November 2008 Pelatihan Advokasi dan Fasilitasi Daerah oleh Mitra Kerja, diselengg~an di Surabaya oleh Pokja AMPLdan WESUNICEF 10-11 November 2008 Lokakarya Pengalaman Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS Skala Kecil dalam Pen elenggaraan Air Minum diselenggarakan 11 tiDmnl,.,-lOOI
______________________ ~__~ ~ c/

,

Biasakan dar; sekarang juga!

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->