Anda di halaman 1dari 12

Isu-Isu Global Kontemporer

Praktek Neoliberalisme Di Era Globalisasi

Penyusun : Farida Febrina NIM. 08.015.08.024

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS AL - AZHAR INDONESIA 2012

Pendahuluan
Sekarang ini dunia sedang berada dalam suatu masa dimana globalisasi dan kapitalisme sedang menyebar luas di berbagai belahan dunia. Negara-negara di dunia sekarang ini seolah-olah tidak memiliki dinding pembatas lagi diantara satu sama lainnya. Globalisasi pada dasarnya merupakan proses pesatnya perkembangan kapitalisme, yang ditandai dengan globalisasi pasar, investasi, dan proses produksi dari Perusahaan-perusahaan Transnasional (TNCs/Trans National Corporations) dengan dukungan Lembaga-lembaga Finansial Internasional (IFIs/Intemational Financial Institusions) yang diatur oleh Organisasi Perdagangan Global (WTO/World Trade Organization).1 Salah satu bentuk ekonomi-politik yang sekarang ini sedang mewabah yaitu neoliberalisme, sebuah bentuk paham yang seolah-olah merobohkan batasan-batasan kerjasama ekonomi diantara negara-negara di dunia. Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi ekonomi-politik akhir abad keduapuluhan, yang sebenarnya merupakan bentuk baru dan kelanjutan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan High Cost Economy atau ekonomi berbiaya tinggi yang dihasilkan dari praktek ekonomi ilegal, yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif.2 Paham neoliberalisme ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas merobohkan hambatan bagi perdagangan internasional dan investasi antar negara agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari perdagangan dan investasi ini. Sehingga dapat meningkatkan standar hidup masyarakat sebuah negara dan tercipta modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi. Neoliberalisme adalah seperangkat kebijakan ekonomi yang meluas sejak sekitar 25 tahun terakhir ini. Di Amerika Serikat sendiri, dapat dilihat efek neoliberalisme secara jelas yaitu rakyat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Neo berarti kita membahas jenis baru dari liberalisme. Pemikiran ekonomi liberal pertama kali terkenal di Eropa ketika Adam Smith, seorang pakar ekonomi Skotlandia, menerbitkan buku pada tahun 1776 berjudul The Wealth Of Nations. Adam Smith dan beberapa pakar ekonomi lainnya

1 2

Mansour Fakih. Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik. (Insist Press & Pustaka Pelajar). Hlm. 5 http://www.asiafoundation.org/pdf/Indo_regionalinvestmentsurvey.pdf diakses pada 17 Januari 2012, pukul 17.25

mengadvokasikan penghapusan intervensi pemerintah dalam masalah perekonomian negara. Tidak ada pembatasan dalam manufaktur, tidak ada sekat-sekat perdagangan, tidak ada tarif. Dan Adam Smith juga mengatakan bahwa perdagangan bebas adalah cara terbaik bagi perekonomian suatu bangsa untuk berkembang. Ide-ide tersebut liberal dalam arti tidak ada kontrol. Penerapan individualisme ini mendorong usaha-usaha bebas, kompetisi bebas, yang kemudian artinya menjadi bebas bagi kaum kapitalis untuk mencetak keuntungan sebesar-besarnya yang diinginkan. Liberalisme ekonomi berlangsung di Amerika Serikat sepanjang 1800an dan awal 1900an. Kemudian terjadi Great Depression pada tahun 1930an yang membuat seorang pakar ekonomi bernama John Maynard Keynes merumuskan sebuah teori yang menyangkal liberalisme sebagai kebijakan terbaik bagi kaum kapitalis. Ia berkata, pada intinya, bahwa kesempatan kerja penuh (full employment) dibutuhkan agar kapitalisme tumbuh dan itu hanya dapat dicapai bila pemerintah dan bank sentral melakukan intervensi untuk meningkatkan kesempatan kerja. Ide-ide ini banyak mempengaruhi program New Deal yang diterapkan oleh Presiden Roosevelt, yang sempat memperbaiki kehidupan banyak orang. Keyakinan bahwa pemerintah harus menomorsatukan kepentingan umum diterima secara meluas. Kemudian krisis kapitalis selama 25 tahun terakhir, menginspirasikan para elit korporasi di dunia untuk menghidupkan kembali liberalisme. Inilah yang kemudian menciptakan neoliberalisme, "neo" yang berarti baru menjadi bentuk repackage dari liberalisme. Kini, dengan globalisasi ekonomi kapitalis yang pesat, kita menyaksikan neoliberalisme dalam skala global. Pokok-pokok pemikiran neoliberalisme mengandung: 1. Kekuasaan Pasar 2. Memangkas Pembelanjaan Publik Untuk Layanan Sosial 3. Deregulasi 4. Privatisasi 5. Menghapus Konsep Barang Publik atau Komunitas

Di penjuru dunia, neoliberalisme didesakkan oleh institusi-institusi finansial besar seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank). Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui caracara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi militer. Pembukaan pasar ini yang kemudian merujuk pada perdagangan bebas. Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti IMF, WTO, dan World Bank. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah, dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.3 Neoliberalisme bertolak belakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan

environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi kadang-kadang menggunakan ini sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya. Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial yang seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan ekonomi.

Formasi Sosial dari Globalisasi


Globalisasi yang merupakan proses dari pesatnya perkembangan kapitalisme ini ditandai dengan adanya globalisasi pasar, investasi, dan proses produksi dari perusahaanperusahaan transnasional (TNCs/Trans National Corporations) dengan dukungan dari lembaga-lembaga finansial internasional (IFIs/Intemational Financial Institusions) yang diatur oleh Organisasi Perdagangan Global (WTO/World Trade Organization). Globalisasi muncul bersamaan dengan fenomena runtuhnya kapitalisme di Asia Timur. Di era baru tersebutlah globalisasi mencoba meyakinkan rakyat miskin di Dunia Ketiga atau negaranegara berkembang bahwa globalisasi seolah-olah merupakan arah baru yang menjanjikan

http://corpwatch.org/article.php?id=376 diakses pada 17 Januari 2012, pukul 17.53

harapan kebaikan bagi umat manusia dan menjadi tujuan wajib bagi manusia di masa depan. Namun globalisasi juga melahirkan kecemasan bagi mereka yang memikirkan permasalahan sekitar pemiskinan rakyat dan marginalisasi rakyat, serta persoalan keadilan sosial. Sementara itu, negara miskin dunia masih menghadapi krisis hutang dan krisis over produksi warisan pembangunan tahun 80-an, serta akibat dampak negatif dari kampanye internasional yang dulu dikumandangkan oleh the Bretton Woods Institutions tentang model pembangunan ekonomi pertumbuhan, suatu paradigma pembangunan mainstream yang berakar pada paradigma dan teori ekonomi neoklasik dan modernisasi. Namun di pihak lain muncul gejala lain yakni makin menguatnya peran organisasi non pemerintah (ornop) dan gerakan sosial secara global, serta bangkitnya sipil (civil society) baik di Utara maupun Selatan. Seperti telah disinggung sebelumnya, sebelum krisis developmentalism terjadi, suatu mode of domination baru telah disiapkan yakni era globalisasi, sebagai periode ketiga yang ditandai dengan liberalisasi segala bidang yang dipaksakan melalui structural adjustment program oleh lembaga finansial global, dan disepakatinya oleh rezim GATT (General Agreement on Tariff and Trade) dan Perdagangan Bebas (Free Trade) suatu organisasi global yang dikenal dengan WTO. Sejak saat itulah suatu era baru telah muncul menggantikan era sebelumnya, dan dengan begitu dunia memasuki periode yang dikenal dengan globalisasi. Secara lebih tegas yang dimaksud dengan globalisasi adalah proses pengintegrasian ekonomi nasional kepada sistem ekonomi dunia berdasarkan keyakinan perdagangan bebas, yang sesungguhnya telah dicanangkan sejak zaman kolonialisme. Para teoretisi kritis sejak lama sudah meramalkan perkembangan kapitalisme akan berkembang menuju pada dominasi ekonomi, politik, dan budaya berskala global setelah perjalanan panjang melalui era kolonialisme. Jadi dengan demikian globalisasi secara sederhana dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global. Namun, jika ditinjau dari sejarah perkembangan ekonomi, globalisasi pada dasamya merupakan salah satu fase dari perjalanan panjang perkembangan kapitalisme liberal, yang secara teoretis sebenarnya telah dikembangkan oleh Adam Smith. Meskipun globalisasi dikampanyekan sebagai era masa depan, yakni suatu era yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi secara global dan akan mendatangkan kemakmuran global bagi semua, namun sesungguhnya globalisasi adalah kelanjutan dari kolonialisme dan developmentalism sebelumnya. Globalisasi yang ditawarkan sebagai jalan keluar bagi kemacetan pertumbuhan ekonomi bagi dunia ini, sejak awal oleh kalangan ilmu sosial kritis dan yang memikirkan

perlunya tata dunia ekonomi yang adil serta kalangan yang melakukan pemihakan terhadap yang lemah, telah mencurigainya sebagai bungkus baru dari imperialisme dan kolonialisme.

Mekanisme Kerja Globalisasi


Globalisasi terjadi sejak diberlakukannya secara global suatu mekanisme perdagangan melalui penciptaan kebijakan free trade, yakni berhasil ditandatanganinya kesepakatan internasional tentang perdagangan pada bulan April 1994 setelah melalui proses yang sulit di Marrakesh, Maroko, yakni suatu perjanjian internasional perdagangan yang dikenal dengan GATT. GATT sesungguhnya merupakan suatu kumpulan aturan internasional yang mengatur perilaku perdagangan antar pemerintah. GATT juga merupakan forum negosiasi perdagangan antar pemerintah, serta juga merupakan pengadilan dimana jika teradi perselisihan dagang antar bangsa bisa diselesaikan. Kesepakatan itu dibangun di atas asumsi bahwa sistem dagang yang terbuka lebih efisien dibanding sistem yang proteksionis, dan dibangun di atas keyakinan bahwa persaingan bebas akan menguntungkan bagi negara yang efektif dan efiesien. Pada tahun 1995 suatu organisasi pengawasan perdagangan dan kontrol perdagangan dunia yang dikenal dengan WTO didirikan, dan sejak saat itu dia mengambil alih fungsi GATT. WTO dirancang bukanlah sebagai organisasi monitoring bagi negaranegara yang tidak mematuhi GATT, akan tetapi WTO bertindak berdasar komplain yang diajukan oleh anggotanya. Dengan demikian WTO merupakan salah satu aktor dan arena forum perundingan antar perdagangan dari mekanisme globalisasi yang terpenting. Jika WTO adalah forum kesepakatan perdagangan tingkat global maka di tingkat regional forum serupa untuk menetapkan kebijakan perdagangan juga ditetapkan. Ada beberapa perjanjian dengan area yang lebih kecil, misalnya North American Free Trade Agreement (NAFTA) antara Amerika Serikat dan Meksiko, tapi juga ada kesepakatan yang bersifat regional seperti Asia Pacific Economic Conference (APEC). Bahkan ada kesepakatan area pertumbuhan yang lebih kecil lagi seperti segitiga pertumbuhan Singapore, Johor, and Riau (SIJORI) ataupun Brunei, Indonesia, Malaysia, and Philippines East Growth Area (BIMPEAGA). Bahkan kawasan-kawasan pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih kecil, seperti Otorita Batam, adalah bentuk terkecil dari kesepakatan dagang yang memiliki kesepakatan kebijakan tersendiri dan otonom. Kesemua persepakatan tersebut merupakan forum-forum seperti WTO dalam skala yang lebih kecil dan lokal.

Sementara itu ada mekanisme dan struktur ekonomi yang dikembangkan selain forum perundingan tersebut dalam sistem globalisasi, yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan janjinya sebagai proses ekonomi global untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia secara global. Ada sejumlah elemen yang merupakan anatomi dari globalisasi. Pertama, adalah penciptaan mekanisme sistem globalisasi dan proses produksi. Konsolidasi sistem fabrication dunia pada dasamya merupakan usaha penciptaan hierarki jaringan produksi dan perdagangan skala global dari TNCs. Proses ekspansi sistem produksi global ini dikembangkan melalui penciptaan dan pengalokasian zona proses ekspor (EPZs/Export Processing Zones). EPZs adalah suatu wilayah negara yang dikhususkan sebagai ekspor industri dengan syarat mampu dan mau mengembangkan aturan duane (bea dan cukai) yang minimal menyangkut aturan perburuhan dan pajak domestik sehingga menjadi daya tarik TNCs untuk beroperasi. EPZs tersebut juga dikembangkan di berbagai wilayah negara-negara Dunia Ketiga yang memiliki standar upah buruh murah karena negara-negara itu tengah mencari investasi dan perlu uang dari ekspor. Itulah karenanya, sebagian besar tenaga kerja wilayah EPZs ini adalah buruh perempuan. Mirip dengan strategi EPZs adalah apa yang dikenal dengan global laborforce yang dikembangkan melalui spesialisasi dan menjadi divisi buruh seperti bekerja dalam pabrik berskala global, yang dikembangkan melalui konsep international division of labor.

Kritik Terhadap Globalisasi IMF (International Monetary Fund) atau Badan Moneter Internasional adalah sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang perekonomian. Tujuan dan guna dari IMF itu sendiri adalah untuk mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara. Tetapi kemudian setelah dijalankannya program IMF ini terhadap negara-negara yang membutuhkan bantuan ekonomi, syarat dan ketentuan yang dari IMF yang seharusnya meringankan beban ekonomi negara-negara ini malah justru semakin memberatkan dan merugikan perekonomian negara yang bersangkutan. Sehingga IMF dianggap sebagai suatu kegagalan. Karena program-program dari IMF ini justru membawa kesengsaraan, sedangkan IMF sendiri berpandangan bahwa kesengsaraan apapun yang timbul merupakan bagian yang

harus dialami oleh negara-negara yang sedang dalam kesulitan tersebut demi menjadi negara yang berhasil atau menjadi pasar ekonomi yang berhasil. IMF juga berpandangan bahwa kebijakan-kebijakan mereka sesungguhnya mengurangi kesengsaraan yang harus dihadapi oleh negara-negara tersebut dalam jangka panjang. Joseph E. Stiglitz, seorang ahli ekonomi yang sangat kritis terhadap konsep pasar bebas, ia menguliti kebijakan-kebijakan IMF bahkan World Bank. Stiglitz mengkritik bagaimana IMF justru menambah beban suatu negara yang sedang berada dalam kesulitan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara berkembang bersifat sulit, dan IMF sering dipanggil pada situasi yang terburuk, ketika negara tersebut menghadapi suatu krisis. Tetapi tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh IMF seringkali gagal daripada berhasil. Kebijakan-kebijakan struktural IMF, yaitu kebijakan-kebijakan yang didesain untuk membantu suatu negara menyesuaikan diri terhadap krisis dan juga dengan

ketidakseimbangan yang terus menerus berlangsung, berakhir pada kelaparan dan kerusuhan di banyak negara. Bahkan ketika hasil dari kebijakan itu tidak begitu buruk, mereka berhasil dengan susah payah menaikkan pertumbuhan untuk sementara waktu, dan seringkali keuntungan-keuntungan dinikmati secara tidak merata oleh kelompok yang mapan, sementara mereka yang berada di bawah justru malah terkadang jatuh di dalam kemiskinan yang semakin parah. Seperti yang kita ketahui bahwa globalisasi itu sendiri erat hubungannya dengan paham neoliberalisme, dimana ada globalisasi pasti ada peran neoliberalisme dibelakangnya. Paham neoliberalisme inilah yang mendasari ekonomi di era globalisasi, dimana neoliberalisme menjadi paham yang banyak dianut oleh perusahaan-perusahaan dalam era globalisasi sekarang ini. Neoliberalisme memiliki pola pemikiran yang sebelumnya sudah disebutkan diatas, namun disini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai pemikiran-pemikiran neoliberalisme. Pola-pola pemikiran neoliberalisme: 1. Kekuasaan Pasar. Membebaskan usaha bebas atau usaha swasta dari ikatan apa pun yang diterapkan oleh pemerintah (negara) tak peduli seberapa besar kerusakan sosial yang diakibatkannya. Keterbukaan yang lebih besar bagi perdagangan internasional dan investasi, seperti NAFTA. Menurunkan upah dengan cara melucuti buruh dari serikat buruhnya dan menghapuskan hak-hak buruh yang telah dimenangkan dalam perjuangan bertahun-tahun di masa lalu. Tidak ada lagi kontrol harga. Secara keseluruhan, kebebasan total bagi pergerakan kapital, barang dan jasa.

2. Memangkas Pembelanjaan Publik Untuk Layanan Sosial seperti pendidikan dan layanan kesehatan. Mengurangi Jaringan-Pengamanan Bagi Kaum Miskin, dan bahkan biaya perawatan jalanan, jembatan, persediaan air. 3. Deregulasi. Mengurangi regulasi pemerintah terhadap segala hal yang dapat menekan profit, termasuk perlindungan lingkungan hidup dan keamanan tempat kerja. 4. Privatisasi. Menjual perusahaan-perusahaan, barang-barang, dan jasa milik negara kepada investor swasta. Ini termasuk bank, industri kunci, jalan tol, listrik, bahkan air bersih. 5. Menghapus Konsep Barang Publik atau Komunitas dan menggantikannya dengan tanggung-jawab individu. Menekan rakyat yang termiskin dalam masyarakat untuk mencari solusi sendiri terhadap minimnya layanan kesehatan, pendidikan dan keamanan sosial mereka.4 IMF dituntut untuk untuk dapat mencegah depresi global lainnya. Ia dapat melakukan hal ini dengan melakukan tekanan internasional pada negara-negara yang tidak melakukan peran mereka untuk memelihara permintaan agregat secara global, dengan membiarkan perekonomian mereka sendiri jatuh. Jika diperlukan IMF juga memberikan likuiditas dalam bentuk pinjaman kepada negara-negara yang mengalami penurunan perekonomian dan tidak bisa merangsang permintaan agregat dengan sumber-sumber daya mereka sendiri. IMF seolah-olah beranggapan bahwa dirinya tidak terkait dengan politik, namun jelas bahwa program pinjamannya, sebagian dipengaruhi oleh politik. IMF membuat isu mengenai korupsi di Kenya dan menunda program pinjamannya yang relatif kecil karena ia mendapati korupsi di negara tersebut. Namun ia tetap mengalirkan dana pinjaman, yang nilainya jutaan dolar, untuk Rusia dan Indonesia. Ia seharusnya tidak bersikap baik kepada Kenya, karena pencuriannya relatif lebih besar dari perekonomiannya, ia seharusnya lebih tegas terhadap Rusia.5 Isunya bukan hanya masalah kejujuran dan konsistensi, dunia juga bukan merupakan tempat yang adil, dan tak seorangpun akan berharap bahwa IMF mau mengurusi sebuah negara yang kuat dengan senjata nuklirnya seperti ia mengurusi sebuah negara di Afrika yang miskin dan memiliki nilai strategis yang kecil.

4 5

http://corpwatch.org/article.php?id=376 diakses pada 17 Januari 2012, pukul 18.11 Joseph Stiglitz. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional. (Jakarta: PT. Ina Publikatama, 2003). Hlm. 65

Neoliberalisme pun merambat hingga ke Bank Pembangunan Inter-Amerika, ia merajalela di penjuru Amerika Latin. Contoh pertama pelaksanaan neoliberalisme secara terang-terangan terdapat di Chile (berkat pakar ekonomi Universitas Chicago, Milton Friedman), setelah kudeta dukungan CIA terhadap rejim Allende yang dipilih rakyat pada 1973. Negeri-negeri lainnya menyusul, dengan sebagian dampak terburuknya di Meksiko, di mana upah menurun 40-50% dalam tahun pertama NAFTA sementara biaya hidup naik 80%. Lebih dari 20.000 bisnis kecil dan sedang menderita kebangkrutan dan lebih dari 1000 perusahaan milik negara diprivatisasi di Meksiko. Sebagaimana dikatakan oleh seorang akademisi Neoliberalisme berarti neo-kolonisasi Amerika Latin. Stiglitz melihat bagaimana negara-negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah, namun karena kebijakan yang salah, tetap miskin. Ekuador misalnya, wilayah Ekuador dekat dengan hutan Amazon, menjadikan Ekuador kaya akan sumber daya minyak mentah. Namun perusahaan asing Texaco menantangnya. Setelah kontrak penambangan habis, perusahaan itu meninggalkan begitu saja wilayah tersebut sehingga terjadi pencemaran tanah dan air terjadi di daerah tersebut. Fauna mati di sana-sini yang kemudian merusak ekosistem hutan dan sungai. Semestinya penduduk desa dekat Amazon sudah harus jauh-jauh pergi dari wilayah itu. Namun apa daya, mereka bertahan karena daerah itu merupakan tanah leluhur mereka. Jadi tidak ada solusi yang jelas dari masalah ini. Mereka kaya akan sumber daya alam, tapi tetap berada dalam kemiskinan. Hal ini juga dikarenakan pemerintah Ekuador yang kurang memperhatikan regulasi dari globalisasi itu sendiri. Dan malah justru merugikan negara sendiri. Lain halnya dengan desa di wilayah Botswana. Perusahaan penambang timah mengharuskan penduduk asli yang menempati daerah sekitar pertambangan harus mengosongkan wilayah itu pada radius 5 kilometer. Alih-alih menjadi daerah penyeimbang, yaitu kawasan hijau, masyarakat malah dirugikan. Ekonomi tidak berputar di negara itu. India tidak semacam itu. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Subsidi besar yang diberikan pemerintah Amerika kepada petani di negaranya membuat petani-petani di negara berkembang kalah bersaing. Harga kapas dan kedelai menjadi rendah karena pasokan dari Amerika yang sangat besar jika perdagangan bebas diberlakukan. Menurut Stiglitz, di sinilah pentingnya insentif. Negara berkembang selayaknya memberikan insentif untuk

menyelamatkan petani.

Di Amerika Serikat neoliberalisme menghancurkan program-program kesejahteraan; menyerang hak-hak buruh (termasuk semua pekerja migran); dan memangkas programprogram sosial. Kontrak Partai Republikan terhadap Amerika adalah murni neoliberalisme. Para pendukungnya bekerja keras menolak perlindungan terhadap anak-anak, pemuda, perempuan, planet itu sendiri dan mencoba menipu kita agar menerimanya dengan mengatakan bahwa ini akan "menyingkirkan beban pemerintah dari pundak saya." Pihak yang diuntungkan oleh neo-liberalisme hanyalah minoritas rakyat dunia. Bagi mayoritas besarnya ia membawa lebih banyak penderitaan daripada sebelumnya: menderita tanpa capaian kecil yang susah payah dimenangkan dalam 60 tahun terakhir, penderitaan tiada henti. Benar apabila menurut Stiglitz globalisasi dengan konsepnya yaitu One Size Fits All yang dianjurkan oleh IMF, World Bank, atau WTO tidak dapat diterapkan di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan perbedaan kapabilitas dari masing-masing negara di dunia dalam persaingan di pasar internasional. Tentunya upah buruh di pabrik Nike dianggap tidak sesuai menurut masyarakat Barat, tetapi mungkin bagi masyarakat di Afrika upah buruh pabrik masih jauh lebih lumayan bila dibandingkan mereka harus bertani atau bercocok tanam. Itulah mengapa konsep dari globalisasi dan neoliberalisme belum tentu dapat sesuai diterapkan di seluruh negara di dunia, karena pasti tidak semuanya sesuai dengan konsep yang diterapkan.

Referensi
Fakih, Mansour. Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik. Insist Press &

Pustaka Pelajar. Stiglitz, Joseph. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga

Keuangan Internasional. Jakarta: PT. Ina Publikatama. Ritzer, George dan Zeynep Atalay. 2010. Readings in Globalization Key

Concepts and Major Debates. West Sussex: Blackwell Publishing. Arief, Sritua. 2001. IMF/Bank Dunia dan Indonesia. Surakarta:

Muhammadiyah University Press. http://www.asiafoundation.org/pdf/Indo_regionalinvestmentsurvey.pdf http://corpwatch.org/article.php?id=376 http://id.wikipedia.org