Anda di halaman 1dari 1

Aku dan Lelaki dalam Mimpi By: Nua_11 Saat itu engkau menyapaku dengan senyuman hangat penuh

gairah. Tahukah engkau, matahari pun tak pernah memberiku kehangatan yang lebih dari engkau berikan saat itu. Tatapan yang teduh dari pancaran matamu memberikan kiasan tentang indah rupamu. Aku bahkan tak memperhatikan untaian kata yang keluar dari bibirmu, yang kusadari hanyalah bahwa aku terpaku dan entah apa yang kupikirkan saat kita bertatap. Wajahku menghangat, entah semerona apa wajahku di hadapmu. Aku wanita yang baru saja merasakan hal aneh itu. Entahlah, menurutku tak ada kata, kalimat atau penjelasan tentang apa yang terjadi padaku saat itu, ataukah mungkin kemampuan bahasaku sangat minim untuk menjelaskannya, hingga saat ini aku harus mencari kata, kalimat, ataupun paragraf untuk membuat kalian tahu apa yang kurasakan. KRING, KRING, KRING!!! alarm handphone-ku berbunyi dengan suara tema oldphone. Bangun Nak!, sudah subuh nih, Ayah ke Mesjid dulu yah beginilah ayahku setiap pagi berusaha membangunkanku dengan suaranya di balik pintu kamar. Aku pun tersadar bahwa pertemuan kita itu hanyalah mimpi, bunga tidur indah yang terjamah dari bagian tak sadar dari diriku, hanyalah bentuk simulasi atas skenario dunia nyata yang tak pernah sampai untuk di laksanakan dalam bentuk interaksi materi. Jikalau mimpi ini adalah penanda atas apa yang mereka sebut sebagai rasa cinta, maka saat ini aku sedang mencintaimu wahai lelaki dalam mimpi. Adzan subuh telah berkumandang, cucuran air wudhu kubasuhkan ke wajahku. Sejuk dan damai yang kurasakan ketika kulakukan sujud kepada-Mu. Engkau-lah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang hamba-Mu ini rasakan. Hanya kepada-Mu hamba bergantung atas segala sesuatu, atas rasa cinta kepada-Mu dan kepada lelaki abdi-Mu yang mulai mengganggu pikiran dan tidur malamku. Dede, tahukah bahwa bangsa ini telah kehilangan karakter bangsa? Tanyamu dengan penuh semangat, seolah-olah engkau akan mengubah negara ini dengan caramu saja. Apa buktinya Nirwan? jawabku ketus, mencoba menyembunyikan sebuah rasa walaupun gerakan tubuhku tak bisa kubendung untuk mengurai penanda-penanda dan menyusunnya sebagai kode agar engkau bisa memaknainya. Bayangkan saja Dede, korupsi jadi budaya, pencurian jadi hal yang biasa, sex bebas dimanamana, kekerasan atas nama agama ataupun suku menjadi kebanggaan mereka yang bertikai, dan yang paling parah, sebagian orang yang tahu akan hal ini hanya berdiam diri tampaknya engkau sungguh-sungguh menyatakan ini hingga rangkaian penanda yang kususun tadi menjadi tak berarti lagi. Wow!!, engkau tahu banyak hal jawabku sambil memalingkan wajah kekecewaan.

Begitulah yang selalu kurasakan ketika kita bersama, berdiskusi tentang masalah keagamaan, sosial, negara, dan science. Aku selalu menikmati masa dimana kita bisa berbagi tentang dunia dan segala permasalahannya. Tapi, engkau tak pernah bertanya tentang lagu apa yang kusukai, siapa artis idolaku dan berbagai pertanyaan basa-basi penambah keakraban, apalagi pertanyaan tentang masalah yang ada pada penampung perasaan ini, yang tak pernah kita ungkapkan. Tampaknya, sikap masa bodohmu akan hal-hal seperti inilah yang menjadikan dirimu sulit untuk membaca makna yang terkait dalam setiap bahasa nonverbal yang aku bahasakan untukmu. Yang kukagumi dari dirimu adalah engkau selalu peduli pada kondisi dimana orang-orang mengalami penindasan, dan itupun hanyalah sebagian kecil dari berbagai kelebihan yang ada padamu. Selama mengenalmu di Fakultas Kedokteran ini, aku selalu ingin mencari tahu tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan utamamu, apakah engkau mencoba menjadi orang paling empati di dunia ini. Memang engkau lah lelaki yang paling mudah untuk merasakan rasa sedih dari mereka yang tertindas oleh bejatnya bangsa ini mengatur masyarakatnya. Tapi, yang paling tidak engkau ketahui adalah bagaimana ikut merasakan apa yang kurasakan. Maaf, aku wanita, tidak mudah bagiku untukku mengungkapkan apa yang kurasakan secara langsung kepadamu, begitulah kejamnya zaman ini mengatur kami untuk menyampaikan rasa. Kebanyakan wanita, termasuk aku, telah menjadi makhluk pasif dalam hal seperti ini. Keegoisan atas gengsi wanita ini yang menjadi penghalang utamaku untuk menyampaikan sesuatu yang datangnya dari hati. Semoga saja segala sesuatu yang datangnya dari hati akan sampai ke hati pula. Terima kasih Nirwan, lelaki dalam mimpi indahku, tetaplah bergerak dalam caramu karena dengan hal itu aku mampu merasakan pesona sosokmu. Biarlah ini tetap tersimpan dalam hati dan akan kunikmati dalam kehadirannya di tidur malamku. Mungkin saja perasaan ini akan hilang ataupun menetap hingga kusadari bahwa suatu saat aku tidak memerlukan rasa ini. Jika saja suatu saat nanti engkau jauh dariku, aku menantimu berlari kembali padaku dan jika sudah terlalu lama aku menunggu, mungkin disaat itulah kusesali segala keegoisan atas gengsi ini dan akan kukutuk zaman yang mengajarkanku untuk melaksanakan hal seperti itu. Hatiku tak pernah bersalah telah menyayangimu Nirwan. Tuhan punya cara lain untuk setiap hamba-Nya. Tamalanrea, 29 Februari 2012. Dituliskan untuk jiwa zaman (Zeitgeist), segala baiknya dan segala dosanya kepada wanita.