Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.

34E

KOMODITI TEBU

PROFIL UMUM TEBU

A. Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Poales Poaceae Saccharum L.

B. Species Saccharum arundinaceum Saccharum bengalense Saccharum edule Saccharum officinarum Saccharum procerum Saccharum ravennae Saccharum robustum Saccharum sinense Saccharum spontaneum Tebu (bahasa Inggris: sugar cane) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air. Daun tebu yang kering (dalam bahasa Jawa, dadhok) adalah biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Ibu-ibu di pedesaan sering memakai dadhok itu sebagai bahan bakar untuk memasak; selain menghemat minyak tanah yang makin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas. Dalam konversi energi pabrik gula, daun tebu dan juga ampas batang tebu digunakan untuk bahan bakar boiler, yang uapnya digunakan untuk proses produksi dan pembangkit listrik.

I.

DAUR KEHIDUPAN TEBU

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase : 1. Fase Perkecambahan Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu. 2. Fase Pertunasan Dimulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan. 3. Fase Pemanjangan Batang Dimulai pada umur 3,5 bulan sampai 9 bulan. 4. Fase Kemasakan Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati.Pada fase ini gula didalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal,kurang lebih terjadi pada bulan Agustus,dan setelah itu remdemennya berangsur-angsur menurun.Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. 5. Fase Kematian II. VARIETAS TEBU Varietas tebu pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 3,yaitu: 1. Varietas Genjah (masak awal),mencapai masak optimal < 12 bulan. 2. Varietas Sedang (masak tengahan),mencapai masak optimal pada umur 12-14 bulan. 3. Varietas Dalam (masak akhir),mencapai masak optimal pada umur lebih dari 14 bulan. Jenis Tebu BZ 132 PS 57 PS 59 PS 58 PS 56 BZ 148 POJ 3016 PS 41 BL POJ 2878 PS-86-2 PS-86-10029 PS-88-19432 PS-86-1 Masak Awal (<12 bulan) XXX XXX Masak Tengah (12-14 bulan) XXX XXX XXX XXX XXX Masak Akhir (>14 bulan) XXX XXX

Varietas yang diunggulkan saat ini adalah BL,yang mirip dengan varietas POJ2878.Kedua varietas ini tahan terhadap penyakit mosaic dan tahan blendok,namun BL agak peka pohkabung dan serangan hama penggerek pucuk. Potensi produktivitas varietas BL ini bias mencapai rata-rat 121,4 kuintal gula per hektar dan hasil hablur tertinggi yang bisa dicapai adalah 169,2 kuintal per hektar. Dengan varietas BL ini,potensi pada lahan sawah dengan ekologi unggulan,produksi tebu rata-rata 1.504 kuintal per hektar (tertinggi 2.093 kuintal),rendemen rata-rata 8,07 persen (tertinggi 8,86 persen) dan produksi hablur rata-rata 121,4 kuintal per hektar (tertinggi 169,2 kuintal).

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
Ujicoba pada lahan tegal pun menunjukkan hasil tebu rata-rata 1.250 kuintal per hektar (tertinggi 2.112 kuintal),rendemen rata-rata 7,58 persen (tertinggi 8,25 persen),dan hasil hablur rata-rata 97,3 kuintal per hektar (tertinggi 172,3 kuintal). Bahkan pada pola keprasan,varietas BL juga menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.Dari uji coba dihasilkan tebu rata-rata 1.222 kuintal per hektar (tertinggi 2.012 kuintal), rendemen rata-rata 7,81 persen (tertinggi 8,74 persen),dan hasil hablur rata-rata 94,5 kuintal per hektar (tertinggi 152,1 kuintal). Jenis Lahan Sawah Tegal Pola Keprasan Produksi tebu Rendemen rata-rata Hasil Hablur rata-rata rata-rata (kuintal per hektar) (kuintal per hektar) 1.504 (max. 2.093) 8,07 % (max. 8,86 %) 121,4 (max. 169,2) 1.250 (max. 2.112) 1.222 (max. 2.012) 7,58 % (max. 8,25 %) 7,81 % (max. 8,74 %) 97,3 (max. 97,3) 94,5 (max. 152,1)

III. RENDEMEN TEBU Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula didalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu 10 %,artinya ialah bahwa dari 100 kg tebu yang digilingkan di Pabrik Gula akan diperoleh gula sebanyak 10 kg. Ada 3 macam rendemen,yaitu: rendemen contoh,rendemen sementara, dan rendemen efektif. 1. Rendemen Contoh Rendemen ini merupakan contah yang dipakai untuk mengetahui apakah suatu kebun tebu sudah mencapai masak optimal atau belum. Dengan kata lain rendemen contah adalah untuk mengetahui gambaran suatu kebun tebu berapa tingkat rendemen yang sudah ada sehingga dapat diketahui kapan kapan saat tebang yang tepat dan kapan tanaman tebu mencapai tingkat rendemen yang memadai. Rumus : Nilai nira x Faktor rendemen = Rendemen . 2. Rendemen Sementara Perhitungan ini dilaksanakan untuk menentukan bagi hasil gula,namun sifatnya masih sementara.Hal ini untuk memenuhi ketentuan yang menginstruksikan agar penentuan bagi hasil gula dilakukan secepatnya setelah tebu petani digiling sehingga petani tidak menunggu terlalu lama sampai selesai giling namun diberitahu lewat perhitungan rendemen sementara. Cara mendapatkan rendemen sementara ini adalah dengan mengambil nira perahan pertama tebu yang digiling untuk dianalisis di laboratorium untuk mengetahui berapa besar rendemen sementara tersebut. Rumus : Rendemen Sementara = Faktor Rendemen x Nilai Nira. 3. Rendemen Efektif Rendemen efektif disebut juga rendemen nyata atau rendemen terkoreksi. Rendemen efektif adalah rendemen hasil perhitungan setelah tebu digiling habis dalam jangka waktu tertentu.Perhitungan rendemen efektif ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 15 hari atau disebut 1 periode giling sehingga apabila pabrik gula mempunyai hari giling 170 hari,maka jumlah periode giling adalah 170/15 =

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
12 periode.Hal ini berarti terdapat 12 kali rendemen nyata/efektif yang bisa diperhitungkan dan diberitahukan kepada petani tebu. Tebu yang digiling di suatu pabrik gula jelas hanya sebagian kecil saja yang akan menjadi gula.Kalau 1 kuintal tebu mempunyai rendemen 10 % maka hanya 10 kg gula yang didapat dari 1 kuintal tebu tersebut.Hal ini dapat dijelaskan sbb :

IV. KETENTUAN RENDEMEN dan BAGI HASIL Penentuan rendemen dilaksanakan 2 tahap,yakni : 1. Rendemen belum terkoreksi atau rendemen sementara. Cara penentuannya seperti yang sudah diuraikan diatas,sedangkan pemberitahuannnya kepada petani dilakukan sehari setelah tebu digiling. 2. Rendemen terkoreksi atau rendemen efektif (rendemen nyata). Pemberitahuannya dilakukan 2 kali setiap bulan,tanggal 2 dan 17. Hal-hal yang perlu diketahui dalam kaitannya dengan bagi hasil adalah sbb: 1. Ketentuan bagi hasil TRI harus sesuai dengan SK Menteri Pertanian No. 05/ SK/Mentan/Bimas/IV/1990. 2. Petani juga mendapatkan tetes 1,5 kg untuk setiap kuintal tebu yang digiling dan dibayarkan dalam bentuk uang oleh Pabrik Gula pada waktu penyerahan gula bagian petani dengan harga Rp. 70,- setiap kg. 3. Hasil limbah/samping lainnya merupakan hak Pabrik Gula. 4. Pada umumnya daftar bagian petani dirinci sebagai berikut :

Sabut + 12,5 %

Air 75 80

Nira Larut Bhn Tak 20 + 87,5 18Kering % Larut

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
A. Nama kelompok. B. Nama-nama petani anggota kelompok. C. Luas tanaman. D. Macam/kategori tebu. E. Hasil tebu petani/kelompok tani. F. Rendemen hasil tebu seluruhnya dan bagian petani. G. Hasil tetes bagian petani. H. Hutang petani pada PG.. I. Jumlah nilai seluruh hasil yang diterima petani. 5. Daftar tersebut dibuat dan diisi oleh PG sebagai dasar pembuatan DO yang kemudian diserahkan ke KUD. 6. Disamping daftar diatas, PG juga membuat Perhitungan Bagi Hasil Efektif (PBHE) dengan ketentuan sbb: 2 % dari hasil gula petani diberikan dalam bentuk natura dan dibebaskan dari pungutan pemerintah (cukai,gula,PPN,sewa gudang,dll) 98 % gula petani dijual ke pemerintah dengan harga yang telah ditetapkan. 7. Bagian gula petani 98 % yang diberikan dalam bentuk uang tersebut diterimakan kepada petani paling lambat 10 hari setelah perhitungan bagi hasil.

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E V. POHON INDUSTRI TEBU

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
VI. SISTEM PRODUKSI GULA DI INDONESIA Usaha tani tebu rakyat bermula dari adanya Inpres no. 9/1975 yang memuat Kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan produksi serta pendapatan tebu rakyat. Kebijaksanaan ini muncul karena ada anggapan bahwa petani dirugikan oleh pabrik dalam hal penyediaan bahan baku tebu untuk pabrik gula. Permasalahan pokok sebenarnya pada land/man ratio di Indonesia termasuk yang terkecil di dunia (kurang lebih 360 m2/capita), lahan pertanian tergarap (cultivated farm lands) Indonesia terlalu sempit dan tidak memadai untuk pemproduksi kebutuhan pangan bagi bangsa Indonesia yang jumlahnya 220 juta (Sumarno,2005), di Jawa Timur areal tanaman bahan baku tebu semakin menyempit karena shiftng ke areal industri dan perumahan; namun di Indonesia luas tanam tebu mengalami peningkatan dari 196 592 ha pada tahun 1930 menjadi 345 550 ha pada tahun 2004 (BPPP-Deptan, 2005); artinya penurunan produksi gula terutama disebabkan oleh penurunan produktivitas (lahan dan pabrik). VIII.SISTEM DISTRIBUSI GULA DI INDONESIA Sistem distribusi gula relatif sederhana, dari produsen gula (pabrik gula dan petani) dilelang kepada pengusaha secara periodik, pada umumnya peserta lelang juga merangkap sebagai distributor gula. Pemenang lelang adalah berhak mendapatkan gula dari produsen sesuai jumlah yang di lelang, kemudian didistribusikan kepada pedagang menengah, kemudian oleh pedagang menengah diteruskan kepada retailer dan dari retailer kepada konsumen. Pedagang distributor gula pada umumnya selain mengikuti lelang yang diselenggarakan PTPN dan petani tersebut juga menerima penjualan dari PTPN yang mendapatkan tugas untuk mengimpor gula dari luar negeri karena kekurangan produk dalam negeri. IX.SISTEM KELEMBAGAAN PETANI TEBU DI INDONESIA Pada umumnya petani diwakili oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) masingmasing pabrik gula. APTR nampaknya mempunyai peran yang penting dalam memasok bahan baku tebu kepada pabrik. Hal ini berarti sasaran perbaikan kualitas tebu harus ditujukan kepada lembaga tersebut, artinya perlu diberi pengertian standard operating procedure (SOP) tentang pertanaman tebu (mulai dari bibit, tanam, pemeliharaan, bongkar ratoon, rawat ratoon, dan tebang angkut), yang selanjutnya diharapkan APTR dapat memberdayakan potensi petani tebu di Wilayah Kerja nya. Pada saat ini sistem bagi hasil antara Petani dan Pabrik yang telah disepakati oleh kedua belah pihak adalah 66 : 34 apabila rendemennya di bawah 7. Apabila rendemennya di atas 7 maka kelebihan dari 7 bagi hasilnya 67 : 33. Semakin tinggi rendemen tebu semakin tinggi petani mendapatka bagian hasilnya. X. SARAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TEBU dan GULA INDONESIA Investasi berupa peningkatan teknologi (technology improvement) pabrik gula harus segera dilakukan antara lain: (1) audit teknologi (technology audit) di semua pabrik gula, termasuk inventarisasi sumber inefisiensi pabrik; (2) melakukan renovasi dan perbaikan pabrik agar lebih efisien (mengurangi jam berhenti giling), meningkatkan efisiensi pabrik, dan optimalisasi kapasitas giling, (3) Membangun pabrik baru sebagai pengganti pabrik-pabrik yang sudah tidak layak produksi.

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI & OPERASI ADRIN RAMDANA RAUF /P 05609077 3.34E
Penugasan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) kini ada gejala semakin terabaikan karena kondisi keuangan negara maupun kondisi keuangan PTPN, sehingga ada beberapa tugas dan fungsi P3GI yang tidak dijalankan. Padahal keberadaan P3GI sangat diperlukan untuk menjamin produktivitas tebu tinggi, tingkat efisiensi pabrik tinggi dan audit teknologi agar keberlangsungan pabrik terjamin. Artinya menjamin keberlanjutan dan keberlangsungan pengusahaan produk gula apabila bisa menuju ke arah ketahanan gula nasional. Masalahnya siapa yang bertanggungjawab terhadap keberadaan institusi P3GI yang penting untuk pengusahaan gula nasional ini ? Apakah Departemen Pertanian, Menteri Negara BUMN, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Dewan Gula ataukah Pemerintah Daerah? Selama tidak ada institusi yang bertanggungjawab terhadap lembaga P3GI ini, maka fungsi tugas dan pendayagunaan lembaga ini tidak optimal. Sampai saat ini sistem distribusi gula tidak ada permasalahan yang menonjol, lembaga-lembaga pelaku bisnis (distributor, pedagang/pengusaha kelas menengah dan retailer) masih berjalan dengan baik, mungkin yang perlu dicermati adalah masuknya gula impor baik kualitas, jenis maupun produknya. Tantangan lainnya adalah rencana penerapan standar ICUMSA yang mengacu pada kesepakatan perdagangan global yang diduga akan mengancam gula produksi dalam negeri karena secara kualitas masih di bawah standar global tersebut.