Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH. Salah satu kebijakan pendidikan yang dituangkan dalam Propenas 1999- 2004 adalah peningkatan mutu pendidikan nasional. Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan akan terus dilakukan, di antaranya dengan melengkapi sekolah-sekolah dengan berbagai sarana dan sumber belajar di sekolah. Hal itu sejalan dengan undang-undang No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mensyaratkan agar setiap satuan pendidikan jalur sekolah menyediakan sarana belajar yang memadai sebagai pendukung pelaksanaan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sebagai suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan akan melibatkan dan dan mengikut sertakan bermacammacam komponen dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan dilakukan seumur hidup sejak usia dini sampai akhir hayat, pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat didalam

Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 Peraturan

Pemerintah

tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa: Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir samapai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan daam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan TK merupakan salah satu bentuk pendidikan formal pendidian anak usia dini, didalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang PAUD pasal 1 ayat 7 dijelaskan: Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disingkat TK adalah salah satu bentuk kesatuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia empat tahun sampai enam tahun. Pendidikan adalah suatu upaya pembinaan sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Mendukung pernyataan tersebut, Anderson (Masitoh et al, 2003: 2) mengemukakan, Early childhood education is based on a number of methodical didactic consideration the aim of which is provide opportunities

for development of children personality. Penjelasan kalimat diatas adalah pendidikan anak usia dini didasarkan pada sejumlah pertimbangan didaktik metodik bertujuan memberi kesempatan untuk mengembangkan kepribadian anak, oleh karena itu pendidikan anak usia dini khususnya di TK, perlu menyediakan beragam kegiatan dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan yang meliputi aspek kognitif, bahasa, sosial, emosi, kemandirian, dan motorik. Sebagai bagian dari pendidikan anak usia dini, kegiatan pembelajaran di TK yang meliputi semua aspek perkembangan dilakukan secara integrasi. Mendukung pernyataan tersebut, Dianawati, A (2006: 28) mengatakan bahwa kemampuan-kemampuan akademik dapat dikembangkan dengan cara-cara yang tidak memaksa, bahkan harus bersifat menyenangkan bagi anak. Caracara yang dimaksud adalah melalui bermain, bercerita dan bernyanyi. Penerapan cara-cara ini akan lebih menarik bila didukung dengan menggunakan media pembelajaran yang relevan seperti media balok, flash card, maze dan puzzle. Menurut Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial DNIKS) mengatakan bahwa puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat meningkatkan perkembangan anak. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, ditemukan adanya opini bahwa belajar matematika itu sulit, pemahaman guru tentang pembelajaran logika matematika masih rendah, peran guru dalam proses pembelajaran logika

matematika masih abstrak serta masih adanya guru yang belum memanfaatkan media belajar secara maksimal hanya dijadikan alat permainan saja, padahal dalam kenyataannya media puzzle tersebut dapat digunakan untuk proses pembelajaran logic mathematic, yaitu mngenalkan pola, mengenal warna, mengenal konsep bilangan, serta dapat memecahkan masalah.

B. RUMUSAN MASALAH. Rumusan masalah dalam penelitian ini dituangkan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Apakah media puzzle dapat meningkatkan kecerdasan logic mathematic anak Taman Kanak-kanak di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. 2. Bagaimana pengaruh media puzzle dalam meningkatkan kecerdasan logic mathematic Taman Kanak-kanak di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. 3. Seberapa besar peningkatan kecerdasan logic mathematic anak Taman Kanak-kanak setelah dterapkan penggunaan media puzzle di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 20112012.

C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui penerapan media puzzle dalam meingkatkan kecerdasan logic mathematic anak Taman Kanak-kanak di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. 2. Untuk mengetahui proses penerapan media puzzle terhadap peningkatan logic mathematic anak Taman Kanak-kanak di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. 3. Untuk mengetahui peningkatan logic mathematic anak Taman Kanak-kanak setelah diterapkan penggunaan media puzzle di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012.

D. DEVINISI OPERASIONAL VARIABEL. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Media Puzzle Menurut Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) (Sudono, 1995:25) mengatakan bahwa ,,,puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat meningkatkan perkembangan anak. Media puzzle dalam penelitian ini adalah suatu media pembelajaran atau permainanyang diperuntukan untuk mengasah kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap anak usia dini, sehingga mereka bisa lebih memahami proses pembelajaranmatematikadengan praktis, efisien dan efektif.

2. Kecerdasan Logic Mathematic Kecerdasan Logic mathematic dalam penelitian ini adalah seperti yang diungkapkan Moleong (2004 : 1) seperangkat kemampuan anak dalam mengenal bentuk, mengenal warna, mengenal benda,

mengelompokkan benda yang sama (klasifikasi), mengelompokkan dua bentuk yang sama, mengenal ukuran, mengulang bilangan, dan membuat pola.

E. MANFAAT PENELITIAN. Setelah penelitian ini dilakukan, diharapkan dapat memperoleh manfaat, khususnya bagi guru TK, bagi peneliti dan umumnya bagi semua pihak yang memerlukan hasil penelitian ini. Manfaat penelitian adalah sebagai berikut: 1. Bagi guru Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam menambah pengetahuan serta wawasan, terutama mengenai: a. Pengertian pembelajaran logic mathematic, ciri-ciri pembelajaran logic mathematic, serta proses pembelajaran logic mathematic di TK. b. Pengertian Media puzzle, Fungsi Puzzle, serta Macam-macam Puzlle c. Peran guru dalam memanfaatkan media, memilih media, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan serta memfasilitasi anak dalam pembelajaran, terutama pembelajaran logic mathematic di kelas.

2. Bagi Sekolah a. Dapat digunakan sebagai masuka baik materi maupun bahan bagi guruguru lainnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. b. Dapat meningkatkan profesionalisme guru, terutama dalam pemilihan materi, metode, serta media dalam sistem pembelajaran. 3. Bagi siswa a. Anak dapat mengembangkan kecerdasan logic mathematic melalui penggunaan media puzzle b. Anak dapat mengetahui manfaat dari media puzzle terhadap

perkembangan aspek kognitifnya.

F. ASUMSI. Penggunaan media puzzle sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan logic mathematic anak kelas B TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. Kemampuan

peningkatan kecerdasan logic mathematic meningkat setelah menggunakan media puzzle.

G. HIPOTESIS TINDAKAN. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan peneliti dan masih harus di uji kebenarannya. Menurut Cholid Narbuko (2008: 28) menyatakan bahwa hipotesis yang berasal dari kata hipo berarti kurang atau lemah dan tesis atau thesis yang

berarti teori yang disajikan sebagai bukti.Dalam pembicaraan ini hipo diartikan lemah dan tesis diartikan teori, proposisi atau pernyataan.Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya. Berdasarkan masalah dan rumusan masalah, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut: Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan

peningkatan kecerdasan logic mathematic antara TK B di TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon sebelum menggunakan media puzzle, dengan setelah menggunakan media puzzle Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan peningkatan kecerdasan logic mathematic antara TK B di TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon sebelum menggunakan media puzzle, dengan setelah menggunakan media puzzle

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. KONSEP MEDIA PUZZLE. 1. Pengertian Media Menurut Heinich, Molenda dan Russell (Eliyawati, 2005: 104) media merupakan alat saluran kmunikasi. Istilah media itu sendiri berasal dari bahasa latindan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara yaitu perantara sumber pesan (a receiver). Mendukung pernyataan diatas, Gagne (Sadiman, Arief S

(dkk),2007: 6) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu, Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (association of Education and Communication Technology/AECT)

(Sadiman, Arief S (dkk),2007: 6) di Amerika Serikat berpendapat bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Selain itu, masih ada beberapa pengertian mengenai media yang dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut: a. Schramm (Eliyawati, 2005: 105) mengemukakan bahwa media

merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan.

b. Briggs

(Eliyawati, 2005: 105) mengemukakan bahwa media

merupakan sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pendidikan seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya. c. NEA (Eliyawati, 2005: 105) mengemukakan bahwa media

merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandangdengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya. Menurut Tn, 2008 (http://alfarabydane.blogspot.com)

menyebutkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Pada hakikatnya proses belajar-mengajar merupakan suatu bentuk komunikasi dimana siswa tidak hanya terpaku pada penjelasan guru, tetapi siswa juga dapat menggunakan media-media penunjang pembelajaran.

2. Jenis-jenis media Tn, 2008 (http://alfarabydane.blogspot.com) menyebutkan bahwa ada berbagai jenis media belajar, diantaranya : a. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik b. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya c. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya d. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), computer dan sejenisnya.

3. Manfaat Media Kemp dan Dayton, 1985 (http://alfarabydane.blogspot.com)

mengemukakan manfaat penggunaan media dalam pembelajaran adalah: a. b. c. d. e. f. penyampaian materi dapat diseragamkan; proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik; proses pembelajaran menjadi lebih interaktif; efisiensi waktu dan tenaga; meningkatkan kualitas hasil belajar siswa; media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja; g. media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar; danmengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif.

4. Peran Media Menurut Eliyawati (2004:137) mengatakan bahwa peran media dalam kegiatan pendidikan untuk anak usia dini semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat itu berada pada masa berfikir konkrit. Oleh karena itu salah satu prinsip pendidikan untuk anak usia dini harus berdasarkan realita artinya bahwa anak diharapkan dapat mempelajari sesuatu secara nyata. Dengan demikian, dalam pendidikan untuk anak usia dini harus menggunakan sesuatu yang memungkinkan anak dapat belajar

secara konkrit. Prinsip tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media sebagai saluran penyampai pesan-pesan pendidikan untuk anak usia dini.

5. Fungsi Media Menurut Rahardjo (Andriani, Dwi 200 :14) mengemukakan bahwa media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan

mengefisienkan proses belajar. Selain itu, Wibawa (Andriani, Dwi 200 :14)mengemukakan bahwa fungsi media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: Media mampu memperlihatkan gerakan cepat yang sulit diamati dengan cermat oleh mata biasa. a. Media dapat memperbesar benda-benda kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Dengan menggunakan peralatan yang canggih dan proyektor mikro orang dapat membuat film menayangkan kuman-kuman yang sangat kecil. b. Sebuah obyek yang terlalu besartentu saja tidak dapat dibawa ke kelas, dengan menggunakan media maka obyek tersebut dapat diamati oleh anak didik. c. Obyek yang komplek dapat menjadi lebih sederhana dengan

menggunakan media.

6. Pengertian Media Puzzle Media puzzle dalam adalah suatu media pembelajaran atau permainanyang diperuntukan untuk mengasah kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap anak usia dini, sehingga mereka bisa lebih memahami proses pembelajaranmatematikadengan praktis, efisien dan efektif. Menurut Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) (Sudono, 1995:25) mengatakan bahwa puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat meningkatkan perkembangan anak.

7. Macam-macam Puzzle Tn, 2009(http://www.plazaanak.com) menyatakan beberapabentuk puzzle, yaitu: 1. Puzzle konstruksi, 2. Puzzle batang (stick), 3. Puzzle lantai, 4. Puzzle angka, 5. Puzzle transport, 6. Puzzle gambar, 7. Puzzle logika, 8. Puzzle mekanik, dan lain-lain.

8. Fungsi Puzzle Tn, 2009 (http://adekaedutoysandcraft.com), mengemukakan bahwa pada umumnya, sisi edukasi permainan puzzle ini berfungsi untuk: 1. Melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran 2. Memperkuat daya ingat 3. Mengenalkan anak pada konsep hubungan 4. Dengan memilih gambar/bentuk, dapat melatih anak untuk berfikir matematis (menggunakan otak kiri)

B. KONSEP KECERDASAN LOGIC MATHEMATIC. 1. Pengertian Kecerdasan Profesor Gardner, 2007 (http://nuritaputranti.wordpress.com)yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah.Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.

2. Pengertian Logic Mathematic Gardner dalam Jamaris (2005: 31) mengatakan bahwa pembelajaran logika matematika sebagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam mencari dan menemukan pola yang digunakan untuk

melakukan kalkulasi hitung, berfikir abstrak serta berfikir logis dan berfikir ilmiah.Jenis kegiatan dalam pembelajaran logika matematika mencakup kategorisasi, klasifikasi, inferensi, generalisasi, kalkulasi dan tes hipotesis. Dalam buku konsep dan makna pembelajaran Sagala, 2005 : 84 (http://nuritaputranti.wordpress.com)mengemukakan bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika.Berkaitan dengan pelajaran matematika. Tokoh2 yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie Tn, 2007 (http://episentrum.com) mengemukakan bahwa ada beberapacara merangsang kecerdasan logika-matematik dengan

mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

3. Pengertian Kecerdasan Logic Mathematic Tn, 2007 (http://kecerdasanmajemuk.blogspot.com) mengemukakan bahwa kecerdasan logic mathematic atau kecerdasan logika adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang, yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut: biasanya unggul dalam pelajaran-pelajaran IPA, seperti fisika dan matematika. Orang dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan analisis yang kuat dan dapat berpikir secara teratur, bahkan pola pikirnya cenderung

kaku. Seseorang yang memiliki kecerdasan logic mathematic adalah orang yang realistis dan selalu mencari jawaban atas berbagai pertanyaan.

4. Kemampuan Kecerdasan Logic Mathematic. Ciri-ciri seseorang yang memiliki kemampuan dalam kecerdasan logic mathematic menurut Tn, 2009 (http://ruangpikir.multiply.com) adalah sebagai berikut: a. Suka berpikir abstrak, penjelasan logis, mengerjakan teka-teki, berhitung, computer b. Suka pada ketepatan, teratur, langkah demi langkah c. Menggunakan struktur logis d. Sangat suka memecahkan masalah e. Sangat suka bereksperimen secara logis f. Suka mencatat secara teratur g. Mencatat sesuatu dengan teratur h. Mencari pola dari segala sesuatu Selain ciri-ciri yang telah disebutkan tadi, ada juga ciri-ciri lainnya yang diperlihatkan oleh seseorang yang memiliki kemampuan dalam Kecerdasan logic mathematic yang dikemukakan oleh Tn, 2007 (http://kecerdasanmajemuk.blogspot.com)yaitu: a. Unggul dalam matematika dan fisika, b. Suka bertanya kenapa terhadap segala sesuatu, c. Mudah menghafal angka, suka menganalisis sesuatu,

d. Yakin bahwa segala sesuatu ada sebab/alasannya, e. Tertarik pada teknologi dan berbagai penemuan terbaru, f. Suka cerita detektif/misteri, g. Bertindak secara kronologis/teratur/berurutan, suka berandai-andai, h. Suka berdebat; senang melakukan penelitian, eksperimen, atau survei; menyukai film-film fiksi ilmiah (science fiction).

5. Ciri-ciri Pembelajaran Logic Mathematic pada Anak Setiap anak dilahirkan dengan memiliki karakteristik yang berbeda, baik itu secara fisik maupun berbagai kecerdasan yang dimilikinta. Adapun cirri-ciri pembelajaran logic mathematic pada anak menurut Howard Gardner (An-an, 2009) adalah: a. Kemampuan dalam mengolah angka atau kemahiran menggunakan logika b. Memanipulasi benda dilingkungannya serta cenderung suka

menerapkan strategi coba-ralat c. Rasa ingin tahu yang besar terhadap suatu peristiwa atau pengalaman yang dialaminya d. Suka menyusun permainan yang sifatnya kategori dan hirarki aturan. Dari uraian diatas, disimpulakan bahwa anak yang memiliki kecerdasan logic mathematic yang tinggi memperlihatkan minat yang besar pada kegiatan pembelajaran logic mathematic yang mencakup kegiatan

bereksplorasi, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap fenomena dan banyak menuntut penjelasan yang logis dari setiap pertanyaan yang diajukan.

BAB III METODE

A. METODE PENELITIAN. metode penelitian adalah suatu cara yang di tempuh untuk memperoleh data, menganalisis data dan menyimpulkan hasil penelitian. Penggunaan metode dalam melakukan suatu penelitian adalah hal yang sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Sugiyono (2009:2) bahwa metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Beberapa Bentuk Desain Eksperimen : Sugiyono (2009 : 73), terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu: 1. Pre-Experimental Design, 2. True Experimental Design, 3. Factorial Design, dan 4. Quasi Experimental Design.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan pencatatan hasil penelitian secara eksak atau angka-angka dan untuk menganalisa datanya dengan menggunakan perhitungan atau statistic.

Desain eksperimen yang digunakan adalah Quasi Eksperimental Design, yaitu Nonequivalent Control Group Design. Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak terpilih secara random. Secara jelas, eksperimen ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1 Sugiono (2009: 79)

Keterangan: 0 0 X : Nilai pre-test kelompok eksperimen : Nilai Post-test kelompok eksperimen : Perlakuan

0 : Nilai pre-test kelompok kontrol 0 : Nilai Post-test kelompok kontrol

Desain penelitian ini akan dipakai untuk meneliti sejauh mana pengaruh penggunaan media puzzle dalam meningkatkan kecerdasan logic mathematic anak kelas B di TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012.

B. POPULASI DAN SAMPEL. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas B ,TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 2011-2012. Sampel dalam penelitian adalah anak kelas TK B1 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 15 sampel, serta anak kelas TK B2 sebagai kelas kontrol dengan jumlah 12 sampel.

C. INSTRUMEN. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui wawancara kepada guru kelas serta melakukan observasi secara langsung di TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, Tahun Ajaran 20112012, serta study dokumentasi berupa foto kegiatan.

D. PROSEDUR. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas B, TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, ditemukan adanya opini bahwa belajar matematika itu sulit, pemahaman guru tentang pembelajaran logika matematika masih rendah, peran guru dalam proses pembelajaran logika matematika masih

abstrak serta masih adanya guru yang belum memanfaatkan media belajar secara maksimal hanya dijadikan alat permainan saja, padahal dalam kenyataannya media puzzle tersebut dapat digunakan untuk proses

pembelajaran logic mathematic, yaitu mengenalkan pola, mengenal warna, mengenal konsep bilangan, serta dapat memecahkan masalah. Untuk menunjang proses pembelajaran yang baik dan benar, maka peneliti akan melakukan rancangan sebagai berikut: a. Untuk kelas eksperimen: Pre test Perlakuan Post test

b. Untuk kelas control: Pre test Post test

Pelaksanaan Pre-test: Pelaksanaan penelitian di TK Bunga Rampai Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon, dimulai dengan memberikan Pre test terlebih dahulu dengan cara mengobservasi anak sebelum diberikan perlakuan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui gambaran awal kecerdasan logic-mathematic anak-anak kelas eksperimen sebagai kelas yang diberikan perlakuan media puzzle, dan kelas control sebagai kelas tanpa menggunakan media puzzle.

Pelaksanaan Perlakuan: Pelaksanaan Perlakuan atau treatment yang dilakukan pada kelompok B1 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan media puzzle dalam kegiatan pembelajarannya. Peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan tersebut, karena peneliti sebagai observer, yaitu sebagai guru yang memberikan penjelasan mengenai materi yang akan disampaikan.

Pelaksanaan Post-test: Pelaksanaan Pre-test dan Post-test merupakan kegiatan yang sama, yaitu mengobservasi anak dengan menggunakan pedoman observasi. Hanya saja yang membedakan adalah tujuan dan waktu pelaksanaanya. Pre-test dilakukan sebelum perlakuan dan Post-test dilakukan sesudah perlakuan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan logic-mathematic anak setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan media puzzle.

DAFTAR PUSTAKA

Dianawati, A. (2006). Membantu Anak Gemar Matematika. Yogyakarta: Antelo Press.

Dikti.(2003). Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Tersedia: http: // www. Inherent.Dikti.Net /file/ sisdiknas. Pdf [online] [Jumat, 23 April 2010 19.00 WIB]

Doman, G & Doman, J. (2005).Hoh To Teach Your Baby Math. Alih bahasa Indri, M. Lumbar Tobing.Jakarta : PT. Tigaraksa Satra Tbk.

Eliyawati, Cucu. (2004). Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Eliyawati, Cucu. (2005). Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Masitoh, et al. (2003).Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu.(2008). Metodologi Penelitian.Jakarta: Bumi Aksara.

Sadiman, Arief S, dkk. (2007). Media Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sudono, Anggani. (1995). Alat Bermain dan Sumber Belajar TK. Jakarta: Depdikbud.

Sugiono.(2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.Bandung : Alfabeta.

_____. (2007). Logic Smart. [Online]. Tersedia: http://kecerdasanmajemuk.blogspot.com. [Minggu, 6 Juni 2010, 13.00 WIB]

_____.(2007). Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences).[Online]. Tersedia:http://nuritaputranti.wordpress.com[Jumat, 23 April 2010, 19.00 WIB]

_____. (2007).Kecerdasan Matematis Logis. [Online].Tersedia:http://ruangpikir.multiply.com/journal/item/29, [online] [Jumat, 23 April 2010, 19.00 WIB]

_______. (2007). Stimulasi Dini untuk Mengembangkan Kecerdasan Jamak dan Kreativitas Anak[Online].Tersedia:http://episentrum.com. [Jumat, 23 April 2010, 19.00 WIB]

_____Tersedia:http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/jdkv/2006/jiunkpe-ns-s1-200642402052-9946-matematika-chapter3.pdf,[online][Jumat,

23 April 2010, 19.00 WIB]

_____. (2008). Media Puzzle Untuk Mapel Al Quran.[Online]. Tersedia: http://alfarabydane.blogspot.com[Jumat, 23 April 2010, 19.00 WIB]

_____.(2009).Puzzle.[Online].Tersedia:http://adekaedutoysandcraft.com/?page_id =337,[Jumat, Minggu, 6 Juni 2010, 13.00 WIB]

_____ . (2009). Puzzle. [Online]. Tersedia: http://www.plazaanak.com[online] [Minggu, 6 Juni 2010, 13.00 WIB]

PENGARUH MEDIA PUZZLE TERHADAPKECERDASAN LOGIC-MATHEMATIC ANAK TK


8

Anda mungkin juga menyukai