Anda di halaman 1dari 7

A. PENGERTIAN RUMPUT LAUT Rumput laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga ("ganggang").

Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Gulma laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, gulma laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, gulma laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, gulma laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis gulma laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis gulma laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria spp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya gulma laut ini di antaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua. Di pihak lain, lamun adalah tumbuhan sejati anggota kelompok monokotil yang telah beradaptasi dengan air laut, bahkan tergantung pada lingkungan ini. Lamun kurang berarti secara ekonomi bagi manusia, tetapi padang lamun menjadi tempat hidup yang disukai berbagai penghuni perairan laut dangkal di daerah tropika.
Klasifikasi rumput laut Eucheuma spinosum menurut Atmaja et al., (1996) adalah sebagai berikut : Divisio : Rhodophyta Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : Eucheuma Rhodophyceae Gigartinales Solieriaceae Eucheuma spinosum

Beberapa jenis Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak karagenan. Kadar karagenan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54% 73% tergantung pada jenis dan lokasinya . Di Indonesia kadar karagenan rumput laut jenis Eucheuma berkisar antara 61,5 % 67,5 % (Laode, 1999). Eucheuma cottonii merupakan salah satu Carragaenaphyces, yaitu rumput laut penghasil karagenan. Ada dua jenis Eucheuma yang cukup komersial yaitu Eucheuma spinosum (Eucheuma denticulatum), merupakan penghasil iota karagenan dan Eucheuma cottonii (Kapaphycus alvarezzii) sebagai penghasil kappa karagenan (Anggadiredja, 1999). Secara alami Eucheuma spinosum tumbuh di daerah karang, pasang surut dan menempel pada substrat yang berupa batu karang mati, kulit kerang dan benda benda keras lainnya (Soegiarto et al, 1978), Eucheuma spinosum mempunyai kerangka tubuh (thallus) yang lebih kecil dari cottonii.

1.1 Latar belakang Rumput laut diindonesia mencapai 555 jenis daan lebih dari 21 yang baru dimanfaatkan sebgai makanan serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi dala perdaganan. Salah satu jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah adalah jenis Kappaphycus alvarezii (Aslan 1998) . Rumput laut hingga kini masih menjadi salah satu komoditas unggulan perairan indonesia. Permintaan yang tinggi akan rumput laut membuat total volume produksi budidaya terus meningkat. Departemen kelautan perikanan (DKP) tahun 2008 mencapai 866.383 ton, dan terus megalami peningkatan menjadi 1.374.463 ton pada tahun 2006 dan 2007. Persentase kenaikan volume rata rata rumput laut jugamerupakan yang tertinggi yaitu sebesar 55,46 %, bila dibandingkan dengan komoditas utama lainya seperti udang (17,71%) dan kerapu (11,82%). Penelitian rumput laut oleh santoso et al. dalam Syukron (2004) mengemukaan bahwa pada Sembilan jenis rumput laut Indonesia menyatakan bahwa Kappaphycus alvarezii mengandung serat pangan total ( total dietary fiber ) sebesar 69,3 g/100 g berat kering, lebih besar dari rumput laut coklat saragsum polycystum ( 65,7 g berat kering) dan rumput laut hijau Caulerpa sertularoides (61,8 g/100 g berat kering ). 1.2 Manfaat Manfaat laporan rumput laut ini untuk menggali informasi mengenai Aspek-aspek terkait mengenai sumberdaya peikanan yang nantinya dapat digunakan dalam pengolahan dan pemanfaatan. Aspek yang dibahas dalam laporan ini terbatas hanya pada aspek ekologi, aspek ekonomis, Aspek pemanfaatan dan pengolaha, Aspek sosial dan budaya. Diharapkan dengan adanya informasi mengenai rumput laut ini dapat menambah wawasan pembaca maupun penulisnya. II. PEMBAHASAN 2.1 Biologi Rumput laut 2.1.1 Klasifikasi dan Deskripsi Berikut adalah klasifikasi rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii menurut Doty (1986) dalam atmadja et al.( 1996). Gambar rumput laut Kappaphycus alvarezii dapat dilihat pada gambar 1. Kingdom : Plantae Divisi : Rhodophita Kelas : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales Famili : Solieriacceae Genus : Kappaphycus Spesies : Kappaphycus alvarezii Ciri fisik yang dimilki spesies ini diantaranya Thalus yang kasaar, agak pipih dan bercabang teratur, yaitu bercabang dua atau tiga, ujung-ujung percabangan ada yang runcing dan tumpul dengan permukaan bergerigi, agak kasar dan berbintil-bintil ( afrianto dan liviani 1933 dalam syukron 2009). Kappaphycus alvarezii tumbuh melekat kesubtrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengan cirri khusus mngarah kearah datangnya sinar matahari. Cabang cabang tersebut ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk ( Atmadja et al. 1996). 2. 2 Aspek Ekologi Euchema umumnya terdapat didaerah tertentu dengan persyaratan khusus, kebanyakan tumbuh di derah pasang

surut ( intertidal) atau pada daerah yang selalu terendam air ( subtidal) melekat pada substrat didasar perairan yang berupa karang batu mati, karang batu hidup, batu gamping atau gamping atau cangkang moluska. Umunya mereka tumbuh dengan baik didaerah pantai terumbu ( reef), karena ditempat inilah beberapa persyaratan utuk pertumbuhanya banyak terpenuhi, diantaranya faktor kedalaman perairan, cahaya substrat dan gerakan Air . Habitat khas adalah daerah yang memperoleh aliran laut yang tetap dengan variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karag mati. Alga ini tumbuh mengelompok dengan berbagai jenis rumput laut lainya (Aslan 2006 dalam Syukron 2009). 2.3 Aspek Ekonomi Rumput Laut termasuk dalam tumbuhan yang bernilai ekonomi tinggi karena pengguanaanya luas diberbagai bidang, antara lain senbagai bahan baku pupuk oraganik, pakan ternak, pengemulsi, hingga sebagai bahan adiktif pada industri kertas, tekstil, dan keramik. selain itu rumput laut juga sudah dikenal dan dimanfaatkan manusia sejak taun 2700 SM. Pada masa itu masyarakat memanfaatkan rumput laut sebagai bhan obat- obatan (medicament) dan makanan (vicktuals) ( Aslan 1998 dalam Syukron 2009). Dalam dunia perdagangan international dan nasional, umumya Kappaphycus alvarezii lebih dikenal dengan nama Cottonii. Psecies ini menghasilkan keraginan tipe kappa, oleh karena itu secara taksonominya nama diubah menjadi Kappaphycus alvarezii dari nama awalnya Eucheuma alvarezii dalam (Doty 1988 dalam syukron 2009) . 2.4 Aspek Pemanfaatan dan Pengolahan Rumput laut banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Rumput laut merupakan sumberdaya perairan yang memiliki kandungan serat pangan tinggi, terutama serat larut air (Soluble dietry fiber) yang berperan penting dalam menurukan berbagi resiko penyakt, seperti sembelit, jantung, divertikulosis, dan kegemukan menurut Lahaye (1991) Dalam Syukron et al. (2004). Dawczynski (2007) dalam Syukron (2009) juga mengungkapkan bahwa serat panga dari rumput laut merah dan coklat bervariasi mulai dari 29,1-62,g/100. Meskipun tidak memiliki nilai gizi tinggi, serat pangan diakui memberikan pengaruh positif bagi metabolisme zat gizi dan kesehatan tubuh, antara lain bermanfaat untuk melancarkan saluran pencerna, mengurangi kolesterol darah dan glukosa darah ( Muchtadi dalam Syukron 2010). Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) adalah salah satu jenis rumput laut dari kelas Rhodophyceae ( anggang Merah) dan merupakan salh satu carragenophytes, yaitu rumput laut penghasil keraginan. Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang dapat terektraksi dengan air panas untuk membentuk gel. Sifat pembentukan gel pada rumput laut ini dibutuhkan untuk menghsailkan pasta yan baik ( Winarno 1990). Rumput laut juga dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Pengolahan rumput laut dapat dikombinasikan dengan buah.Salah satu contoh olahan Rumput laut adalah pembuatan selai dengan kombinasi buah mengkudu yang diteliti oleh Syukron (2010). 2.5 SOSIAL BUDAYA Secara sosial budaya Rumput laut secara luas banyak digunakn dalam berbagai keperluan. Pada masa lalu rumput laut telah banyak digunakan secara tradisional oleh para ibu-ibu nelayan dipinggir pantai. Banyak dari mereka

percaya obat pencahar perut dari rumput laut. Berdasarkan penelitian pendapat tradisional ini beralasan berdasarkan penelitian oleh Sulistijani (2005) bahwa serat serat pada rumput laut mampu menyerap air didalam kolon, sehingga volume veses menjadi besar dan lunak dan mempermudah ketika dikeluarkan. Sebaliknya untuk mencegah diare, sebaiknya secara teratur mengkonsumsi serat larut air. Serat ini mudah membentuk gel sehingga memperlambat waktu transit zat zat makanan didalam usus (Muchtadi 2000 dalam Syukron 2009). Masyarakat yang berada diaerah pesisir juga memanfaatkan rumput laut secara langsung dari alam dengan pengolahan sederhana seperti pembuatan agar agar maupun es rumput laut. 1. 1. PENDAHULUAN Perairan Indonesia sebagai wilayah tropika memiliki sumberdaya plasma nutfah rumput laut kurang lebih 782 jenis (ekspedisi Laut Siboga 1899-1990 oleh Van Bosse). Jenis yang paling banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Glacilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargassum, dan Turbinaria Dari beberapa jenis rumput laut telah mampu dikembangkan ratusan jenis produk yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri (DKP, 2004). Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang cukup penting baik sebagai sumber pendapatan keluarga nelayan atau petani ikan, sumber bahan makanan, penyerapan tenaga kerja, maupun sebagai sumber devisa negara (Noor 1996). Pemeliharaan rumput laut di indonesia pada dasarnya masih mengikuti prinsip-prinsip yang paling sederhana dalam terminologi teknologi budidaya (tidak dilakukan pemupukan,pengendalian hama dan penyakit secara aktif, penggunaan bibit terseleksi). Keberhasilan dalam budidaya (pemeliharaan) sebagaian besar faktornya masih dikontrol oleh pengaruh alam. Pemanfaatan rumput laut secara tradisional terutama sebagai bahan pangan yang dimakan mentah sebagai lalap, dibuat sayur, acar,manisan, kue dan juga sebagai obat. Pemanfaatan rumput laut untuk industrii terutama didasarkan atas kandungan kimia yang terdapat dalam rumput laut terutama alginat, agar-agar, dan karaginan (Nontji, 2007). Algin adalah bahan yang terkandung dalam alga cokelat yang banyak digunakan dalam industri kosmetika untuk membuat sabun, cream, lotion, shampo. Industri farmasi memerlukannya untuk pembuatan emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul dan filter. Beberapa proses industri juga diperlukan sebagai bahan aditive (bahan campuran ) misalnya tekstil, keramik, fotografi, dan peptisida (Nontji, 2007). 1. 2. BIOLOGI DAN EKOLOGI RUMPUT LAUT Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor oseanografi (fisika, kimia, dan pergerakan atau dinamika air laut) serta jenis substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya. Rumput Laut (seaweeds) atau ganggang (algae) laut tergolong tanaman bederajat rendah, tidak mempunyai akar,batang, maupun daun sejati, melainkan hanya menyerupai batang yang disebut Thallus. Tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, pasir, batu, lumpur, kulit kerang, kayu, dan benda keras lainnya. Perkembangbiakan rumput laut ada 2 macam:

1. Secara Kawin (generatif); antara gamet jantan dan gamet betina, membentuk zygote berkembang menjadi sporofit (individu baru)mengeluarkan spora pembelahan menjadi gametofit 2. Secara Tidak Kawin (vegetatif, dan konyugatif/ peleburan dinding sel) Klasifikasi: Secara taksonomi rumput laut dikelompokkan ke dalam divisio Thallophyta (Rhodophyta, Phaeophyta dan Chlorophyta) yang terdiri dari 4 kelas berdasarkan kandungan pigmennya yakni (Anonim, 1977). Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang coklat), Chlorophyceae (ganggang hijau), dan Myxophyceae atau Cyanophyceae (ganggang biru-hijau).

1. 3. HABITAT RUMPUT LAUT Pertumbuhan/Penyebaran dipengaruhi oleh toleransi fisiologi biota tersebut untuk beradaptasi terhadap faktor lingkungan seperti; substrat, salinitas, temperatur, intensitas cahaya, tekanan dan nutrisi. Tumbuh di perairan dangkal sebatas masih menerima cahaya matahari Bersifat benthic melekatkan diri (Thallus) pada substrat pasir, karang, fragmen karang mati dll. Sebaran rumput laut yang tumbuh alami (Wild Stock) terdapat di hampir seluruh perairan laut Indonesia yang memiliki rataan terumbu karang RUMPUT LAUT BERNILAI EKONOMIS KELAS JENIS RUMPUT LAUT 1.Eucheuma cottonii RHODOPHYCEAE 2. Eucheuma spinosum 3. Hypnea sp. 1. Gracilaria verrucossa RHODOPHYCEAE 2. Gracilaria gigas 3.Gelidium sp. PHAEOPHYCEAE Sargassum sp. DAERAH SEBARAN RUMPUT LAUT KOMERSIL DI INDONESIA NAMA RUMPUT SEBARAN MANFAAT LAUT I. RHODOPHYCEAE Eucheuma spinosum Tersebar dan Bahan dasar (E.denticulatum) banyak iota-karaginan, dibudidayakan salad dengan kelapa parut dan saus Eucheuma cottonii Tersebar dan Bahan dasar (kapaphycus alvarezii) banyak iota-karaginan, dibudidayakan salad dengan kelapa parut dan saus

Kep. Alor, Kep. Bahan dasar Tanimbar, Kep. agar-agar, Maluku pemanis agaragar dan obat sakit perut Gelidium latifolium Bengkulu, Bahan dasar Lampung, agar-agar, , obat Selatan Jawa, sakit perut Kep. NTT Gracilaria confervoides Menyebar Bahan agaragar, salad Gracilaria verucosa Sumbawa Barat, Bahan agarP. Sewu, agar, salad sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara Gracilaria lichenoides Tersebar Bahan agaragar, salad, Gracilaria gigas Kep. Riau, Bali, Bahan agarTawi 2 agar, salad, Hypnea cervicomis Tersebar Bahan Karaginan, sayur urap dengan kelapa Hypnea musciformis Tersebar Bahan Karaginan, sayur urap dengan kelapa II. PHAEOPHYCEAE Sargassum aquifolium Tersebar Bahan alginat, sayuran sop, pemanis agar, bahan obat penyakit kantung kemih, gondok, kosmetik Sargassum polycystum Tersebar Bahan alginat, sayuran sop, pemanis agar, KANDUNGAN bahan obat penyakit KARAGINAN kantung kemih, gondok, kosmetik AGAR Turbinaria ornata Tersebar Bahan alginat, Salad, sayuran ALGINAT sop dengan santan kelapa Turbinaria conoides Tersebar Bahan alginat, Salad, sayuran sop dengan santan kelapa Sumber: Anggadiredja (1992) 1. 4. MANFAAT RUMPUT LAUT sargassum sp Rumput laut sargassum telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat. Sebagai sumber gisi, rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetablegum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin, seperti A,B1,B2,B6,B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seprti kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi, dan yodium.

Gelidium amansii

Hidrokoloid dari Rumput laut (Karaginan, Agar dan Alginat) sangat diperlukan mengingat fungsinya sebagai gelling agent, stabilizer, emulsifier agent, pensuspesi, pendispersi yang berguna dalam berbagai industri seperti industri makanan, minuman, farmasi dan kosmetik, maupun industri lainnya seperti cat tekstil, film, makanan ternak, keramik, kertas, fotografi dan lain- lain. Pemanfaatan Senyawa Hidrokoloid dalam Makanan 1993 1998 JENIS HIDROKOLOID 1978 (%) (%) (%) Guar Gum 6 5 6 Xanthan Gum 11 7 5 Arabic Gum 5 6 6 Pektin 15 14 12 Gelatin 16 14 11 Locust Bean Gum 6 6 7 Carboxy Methyl Cellulose 13 8 5 (CMC) Karaginan 13 18 21 Agar 9 12 15 Alginat 6 10 12 Manfaat Alginat Pemanfaatan Alginat Makanan Susu; Ice Cream, Yogurt, Waper Krim Coklat Susu, Pudding Instan Minuman; Minuman Ringan, Jus Buah,Beer Roti; Permen; Daging, Ikan Dlm. Kaleng Saus, Salad Dressing; Salad Dressing, Kecap Makanan Diet; Jelly, Jam, Syrup, Pudding Makanan Lain; Makanan Bayi Non Pangan; Pet Foods Makanan Ikan Cat, Keramik Tekstil, Kertas Farmasi Dan Kosmetik: Pasta Gigi, shampoo, Tablet Bahan cetak gigi, Obat Salep Sumber: Whistler dan BeMiller (1973) Prediksi Pasar Dunia Produk Olahan Rumput Laut JENIS PRODUK 2009 2010 Karaginan (RC) 30.285 31.800 Karaginan (SRC) 44.390 48.830 Agar 16.470 18.120 Alginat (food grade) 13.330 14.330 Alginat (industrial grade) 27.600 30.360 Sumber : Jana T. Anggadiredja, Tim RL BPPT, 2008 B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT: a. Kejernihan air laut. b. Suhu perairan sejuk c. Arus laut tidak begitu deras.

d. Kedalaman laut antara 20-30 m. C. KANDUNGAN RUMPUT LAUT Pada umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin, aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor. silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsurunsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements, tepung, gula dan vitamin A, D, C, D E, dan K. D. MANFAAT RUMPUT LAUT 1. Sebagai Bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antihehmethes, antihypertensive agent, pengurang cholesterol, dilatory agent, dan insektisida. 2. Karena kandungan gizinya yang tinggi, maka mampu meningkatkan sistem kerja hormonal, limfatik, dan juga saraf. 3. Meningkatkan fungsi pertahanan tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah, serta sistem pencernaan. 4. Obat tradisional untuk batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan, sakit perut, demam, rematik, bahkan dipercaya dapat meningkatkan daya seksual. 5. Kandungan yodiumnya diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit gondok. 6. Kandungan klorofil rumput laut bersifat antikarsinogenik, kandungan serat, selenium dan seng yang tinggi pada rumput laut dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi rumput laut memperkecil resiko kanker bahkan mengobatinya. 7. Kandungan vitamin C dan antioksidannya dapat melawan radikal bebas. 8. Kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar, melancarkan pencernaan, meningkatkan kadar air dalam feses. 9. Membantu metabolisme lemak, sehingga menurunkan kadar kolesterol darah dan gula darah. 10. Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya. 11. Dapat membantu penyerapan kelebihan garam pada tubuh. 12. Baik untuk diet, mengurangi resiko obesitas, serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa kenyang lebih lama. 13. Anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan dan peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C nya bekerja dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit. Sehingga Mencegah penuaan dini. 14. Mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untuk mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis. E. JENIS RUMPUT LAUT YANG POTENSIAL Rumput laut potensial yang dimaksud disini adalah jenis-jenis rumput laut yang sudah diketahui dapat digunakan diberbagai industri sebagai sumber karagin, agar-agar dan alginat. Karaginofit adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida karagin, agarofit

adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida agar-agar keduanya merupakan rumput laut merah (Rhodophyceae). Alginofit adalah rumput laut coklat (Phaeophyceae) yang mengandung bahan utama polisakarida alginat. Karaginofit Rumput laut yang mengandung karaginan adalah dari marga Eucheuma. Karaginan ada tiga macam, yaitu iota karaginan dikenal dengan tipe spinosum, kappa karaginan dikenal dengan tipe cottonii dan lambda karaginan. Ketiga macam karaginan ini dibedakan karena sifat jeli yang terbentuk. Iota karaginan berupa jeli lembut dan fleksibel atau lunak. Kappa karaginan jeli bersifat kaku dan getas serta keras. Sedangkan lambda karaginan tidak dapat membentuk jeli, tetapi berbentuk cair yang viscous. Tabel 1. dibawah ini menunjukkan jenis rumput laut karaginofit dengan fraksi karaginannya. Jenis Yang Potensial E. cottonii dan E. spinosum merupakan rumput laut yang secara luas diperdagangkan, baik untuk keperluan bahan baku industri di dalam negeri maupun untuk ekspor. Sedangkan E. edule dan Hypnea sp hanya sedikit sekali diperdagangkan dan tidak dikembangkan dalam usaha budidaya. Hypnea biasanya dimanfaatkan oleh industri agar. Sebaliknya E. cottonii dan E. spinosum dibudidayakan oleh masyarakat pantai. Dari kedua jenis tersebut E. cottonii yang paling banyak dibudidayakan karena permintaan pasarnya sangat besar.

Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai

bahan baku agar-agar, rumput laut kering dicuci dengan air tawar. Sedangkan untuk menjadi karaginan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi kirakira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar 28 %. Apabila dalam proses pengeringan hujan turun, maka rumput laut dapat disimpan pada rak-rak, tetapi diusahakan diatur sedemikan rupa sehingga tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang diambil keraginannya tidak boleh terkena air tawar karena air tawar dapat melarutkan karaginan. Rumput laut kering setelah penggeringan kedua, kemudian di ayak untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal Pengepakan dan Penyimpanan Rumput laut yang bersih dan kering dimasukkan ke dalam karung goni dengan cara dipadatkan atau tidak dipadatkan. Apabila dipadatkan, dalam satu karung dapat berisi 100 kg rumput laut, sedangkan apabila tidak dipadatkan hanya berisi 60 kg rumput laut. Rumput laut yang dapat diekspor, di bagian karungnya dituliskan nama barang (jenis), nama kode perusahaan, nomor karung dan berat bersih. Pemberian keterangan ini bertujuan untuk memudahkan proses pengecekan dalam pengiriman. Standar Mutu Indonesia telah mengekspor rumput laut kering dari marga Eucheuma, Gelidium, Gracilaria dan Hypnea. Rumput laut yang dikirim harus memenuhi syarat standar mutu yang telah ditetapkan. Pada era sekarang ini, penggunaan energi semakin meningkat, akan tetapi persediaan energi terutama energi berbahan baku fosil semakin menipis. Persediaan minyak bumi dan batu bara sangat terbatas dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk kembali terbentuk. Selain itu, bahan bakar yang berasal dari minyak bumi dan batu bara menghasilkan polusi dan berakibat pada pemanasan global. Oleh karena itu, diperlukan suatu energi terbarukan dan merupakan energi yang ramah lingkungan sehingga dapat mengatasi permasalahan energi dan pemanasan global. Salah satu energi yang terbarukan yaitu energi yang berbahan baku rumput laut. Rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai bioethanol. Caulerpa serrulata dan Gracilaria verrucosa merupakan spesies rumput laut yang dapat menghasilkan bioetanol. Jenis ini memiliki kandungan selulosa yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa yang selanjutnya dapat diubah menjadi bioetanol. Proses pembuatan bioetanol dari rumput laut yaitu persiapan bahan baku, yang berupa proses hidrolisa pati menjadi glukosa. Tahap kedua berupa proses fermentasi, mengubah glukosa menjadi etanol dan CO2. Sedangkan, tahap ketiga yaitu pemurnian hasil dengan cara distilasi. Tetapi sebelum distilasi, perlu dilakukan pemisahan antara padatan dengan cairan, untuk menghindari terjadinya penyumbatan selama proses distilasi. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dengan air. Titik didih etanol murni adalah 78 oC sedangkan air adalah 100 oC untuk kondisi standar. Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 100 oC akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.

F. PEMBUATAN

RUMPUT LAUT (PENGOLAHAN MENJADI BAHAN BAKU)

Rumput laut akan bernilai ekonomis setelah mendapat penanganan lebih lanjut. Pada umumnya penanganan pasca panen rumput laut oleh petani hanya sampai pada penggeringan saja. Rumput laut kering masih merupakan bahan baku yang harus diolah lagi. Pengolahan rumput laut kering dapat menghasilkan agar-agar, keraginan atau algin tergantung kandungan yang terdapat di dalam rumput laut. Pengolahan ini kebanyakan dilakukan oleh pabrik namun sebenarnya dapat juga oleh petani. Pengolahan rumput laut menjadi bahan baku telah banyak dilakukan para petani. Hasil yang diperoleh sesuai standar perdagangan ekspor. Untuk itu, akan lebih baik bila penanganan dilakukan secara hati-hati dan diawasi oleh suatu perusahaan. Langkah-langkah pengolahan rumput laut menjadi bahan baku (rumput kering) adalah sebagai berikut : Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batubatuan, kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain. Setelah bersih, rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup baik, penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut dijemur di atas para-para dan tidak boleh ditumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan keluarnya garam.

Keuntungan lignin sehingga proses pengolahannya tidak dibebankan mengembangkan energi oleh penanganan pendahuluan proses. berbahan baku rumput laut yaitu, proses G. BUDIDAYA RUMPUT LAUT pembudidayaan rumput Rumput laut merupakan sumber utama penghasil laut tidak mengurangi agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak lahan pertanian pangan dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi karena tidak memerlukan dan industri lainnya, seperti industri kertas, tekstil, lahan darat. Selain itu, fotografi, pasta dan pengelengan ikan. Beberapa jenis Indonesia sebagai Negara rumput laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah kepulauan yang daerahnya berkembang dengan baik di tingkat pembudidaya adalah terdiri dari 2/3 lautan dan Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang di memiliki panjang pantai sekitar 81.000 km memiliki pelihara di perairan pantai (laut). potensi besar untuk membudidayakan rumput laut. a) Pemilihan lokasi budidaya Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan rumput laut seluas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan sehingga kondisi rumput laut cenderung bervariasi dari budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas lokasi budidaya yang berbeda. Karakteristik ekologi suatu 222.180 ha sekitar 20% dari luas areal potensial. lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di perhatikan adalah sebagai berikut: 1. Arus Rumput laut merupakan tanaman yang memperoleh makanan (unsur hara) melalui aliran air yg melewatinya. Kecepatan arus yang baik untuk budidaya adalah 20-40 cm/detik. 2. Dasar Perairan Dasar perairan berupa pecahan karang dan pasir karang merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai dengan budidaya rumput laut. 3. Kedalaman Kealaman perairan sangat tergantung dengan metode budidaya yang akan di pilih. Pemilihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk manghindari kekeringan dan mengoptimalkan pencapaian sinar matahari ke rumput laut. 4. Kadar Garam Proses pembudidayaan rumput laut pun relatif singkat Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut karena hanya memerlukan sekitar 45 hari untuk bisa berkisar antara 28-35 g/Kg dipanen. Produktivitas rumput laut cukup tinggi 5. Kecerahan dibandingkan dengan menggunakan tebu, singkong, ubi Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jalar, dan jagung sebagai bahan baku bioetanol. Rumput jernih dengen tingkat kecerahan yang tinggi. laut pun melakukan fontosintesis sehingga dapat menyerap 6. Ketersediaan bibit gas CO2 yang menyebabkan pemanasan global di dunia. Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di Selama ini, pengatasian pemanasan global selalu dikaitkan sekitar lokasi budidaya yang dipilih, baik yang bersumber dengan penanaman pohon. Padahal, laut memiliki potensi dari alam maupun dari budidaya sendiri. yang besar untuk membantu mengatasi masalah pemanasan 7. Orgaisme Pengganggu global. Pengaruh industri bioetanol dari rumput laut Lokasi budidaya diusahakan pada lokasi yang tidak banyak terhadap upaya meringankan dampak pemanasan global terdapat organisme pengganggu, seperti ikan baronang, lebih besar karena etanol rumput laut menyerap karbon bintang laut, bulu babi, dan penyu. dari udara tujuh kali lebih besar dibanding bioetanol dari b) Metode Budidaya kayu. 1. Metode Lepas Dasar Rumput laut sebagai biodiesel dinilai lebih Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang kompetitif dibandingkan komoditas lainnya. 1 ha lahan berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari rumput laut dapat menghasilkan 58.700 liter (30% minyak) hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk pertahunnya, jumlah tersebut sangat besar dibandingkan memudahkan pamasagan patok . biasanya lokasi dikelilingi jagung yang menghasilkan 172 liter/tahun dan kelapa sawit oleh karang pemecah gelombang. Selain itu, sebaiknya yang menghasilkan 5.900 liter/tahun. memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan Bioetanol dari rumput laut telah terbukti lebih murah 3m pada saat pasang tertinggi. biaya dan menguntungkan dibanding dari tebu dan kayu 2. Metode Rakit Apung karena pertumbuhannya lebih cepat sehingga Merupakan budidaya rumput laut dengan cara mengikat memungkinkan panen sampai enam kali dalam setahun. rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung Biaya produksi bioetanol dari rumput laut lebih murah yang terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran dibanding dari kayu karena rumput laut tidak mengandung

2,5 m 5 m. Tanaman harus selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut. 3. Metode Rawai Metode ini dikenal dengan metode long line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh. e) 4. Metode Jalur Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m 7m per petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak. Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm. c) Pengolahan budidaya 1. Penyediaan bibit Penyediaan bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi bibit alam. 2. Penanganan bibit selama pengangkutan Pengangkutan bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai berikut : Bibit harus dijaga agar tetap lembab Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan, embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit. Bibit tidak boleh terkena sinar matahri Bibit diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau perahu. 3. Penanaman bibit Bibit yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan dengan jarak tidak kurang dari 25 cm. 4. Perawatan tanaman Agar budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman. Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain. d) Pengendalian Hama dan Penyakit Hama tanaman pada budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut, terutama ikan baronang dan penyu yang memangsa tanaman. Secara alami, organisme tersebut hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya. Hama tersebut dapat menimbulkan kerusakan fisik pada tanaman budidaya. Penyakit ice-ice merupakan kendala utama budidaya rumput laut. Gejala ini dikenal juga dengan nama white spot. Rumput laut yang terserang penyakit itu antara lain

pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna thallus menjadi pucat atau warna tidak cerah, dan sebagian atau seluruh thallus pada beberapa cabang mengalami keputihan serta membusuk. Penyakit tersebut terutama disebabkan oleh perubahan lingkungan, seperti arus, suhu, dan kecerahan. Kecerahan air yang sangat tinggi dan rendahnya kelarutan unsur hara nitrat dalam perairan juga merupakan penyebab munculnya penyakit tersebut. Panen Waktu panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari. Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat. Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut : Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen. Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama. Gulungan dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah transportasi lainnya.