Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang kesehatan jiwa merupakan bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal, dan yang selaras dengan perkembangan orang

lain.Seseorang yang sehat jiwa. (UUD NO.3 1996) Gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku dan psikologik seseorang yang secara klinis cukup bermakna, dimana terjadi disfungsi dalam segi prilaku, psikologik atau biologik. (Departemen kesehatan RI). Gangguan Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan komunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesukaran melakukan aktivitas sehari-hari (Budi Anna keliat, 2011) Prilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tintadakan yang dapat membahayakan fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.( Gail W. stuart, edisi 5 2008), Perasaan marah normal bagi individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah seperti berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladiptif. (Budi Anna keliat, 2011), Proyek integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas dan rumah sakit menunjukkan adanya kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa yang lebih terkoordinasi dengan baik di semua unsur kesehatan. Hakekat

pembangunan

kesehatan

merujuk

pada

penyelengaraan

pelayanan

kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Survei badan kesehatan dunia menunjukkan bahwa satu dari setiap 1.000 penduduk dunia mengalami gangguan jiwa (Word Health Organisation), Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan, bahwa dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi (Reza, 2008) Jumlah penderita gangguan jiwa di Kabupaten Sumbawa 3 tahun terakhir meningkat dari tahun 2009-2011 masing-masing: tahun 2009, 104 jiwa yang mengalami gangguan, tahun 2010, 195 jiwa (peningkatan 87,5% dari tahun 2009), tahun 2011, 246 jiwa (peningkatan 77,44% dari tahun 2010) . Yang terbagi dalam 24 Kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Besar.(Dinas kesehatan Sumbawa Besar). di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa dari 2009-2011 yang mengalami gangguan jiwa setiap tahunnya meningkat. Tahun 2009, 7 jiwa yang mengalami gangguan, tahun 2010, 8 jiwa (meningkat 14,29% dari tahun 2009), pada tahun 2011 sebanyak 27 jiwa . (meningkat 273% dari tahun 2010). (Puskesmas Labuhan Sumbawa) Dalam masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan

melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan emosi yang dimilikinya, sehingga respon yang yang dilakukan kearah maladaptif. Jika individu mengalami kegagalan maka

gangguan jiwa yang

muncul adalah Resiko Prilaku Kekerasan (AMUK).

perilaku kekerasan kadang bernilai negative tetapi marah juga berguna yaitu untuk meningkatkan energi dan membuat seseorang lebih

berfokus/bersemangat mencapai tujuan. Kemarahan yang ditekan atau purapura tidak marah akan mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan intra personal.(Harnawati, 2008) Melihat angka kejadian dan fenomena gangguan jiwa tentang Amuk diwilayah Kabupaten Sumbawa khususnya di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa, maka penulis tertarik mengambil judul Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah Keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan (AMUK) di wilayah kerja puskesmas labuhan Sumbawa.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien dengan Masalah Keperawatan Resiko Perilaku Kekerasan (Amuk) di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa?

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan umum Penulis dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal pada klien dengan masalah keperawatan Resiko Prilaku kekerasan

menggunakan pendekatan metodologi proses keperawatan.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Melaksankan pengkajian keperawatan pada klien dengan masalah


keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa.

2. Menentukan diagnose keperawatan pada klien dengan masalah


keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa.

3. Merumuskan rencana asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan


masalah keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa.

4. Melaksanakan implementasi keperawatan jiwa pada klien dengan


masalah keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa.

5. Melaksanakan

evaluasi

jiwa

pada

klien

dengan

masalah

keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Sumbawa.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Penulis Penulis dapat mempraktekkan proses dan dokumentasi pada klien gangguan jiwa khususnya dengan masalah keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan. 1.4.2 Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Untuk pengembangan dan sebagai masukan guna meningkatkan profesionalisme asuhan keperawatan khususnya pada klien dengan

masalah keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan (AMUK) sehingga tercipta mutu pelayanan keperawatan yang berkualitas. 1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan Memberikan gambaran kemampuan mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah keperawatan Resiko Prilaku Kekerasan menjadi bahan bacaan dan pertimbangan bagi

pengajar serta mahasiswa yang akan datang. 1.4.4 Bagi Masyarakat Karya tulis ilmiah ini dapat di jadikan media informasi tentang dukungan kluarga dan motivasi pada klien yang mengalami gangguan jiwa. serta memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang halhal yang harus di perhatikan dalam merawat dan memelihara kesehatan jiwa.