Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN I MATCHING KUVET

I.

TUJUAN Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menjelaskan pengertian matching kuvet dan cara penentuannya.

II. DASAR TEORI Spektrometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang (Khopkar, 2003). Komponen utama alat spektrofotometer, pada prinsipnya dapat

digambarkan sebagai diagram blok berikut:

Sumber Sinar

Sistem Monochromator

Sel/ Kuvet

Detector/ Processor

Read Out

Alat akan mengukur nilai intensitas cahaya: P dan Po melalui sistem processor, akan diubah menjadi besaran transmitansi (T), dan absorbsi (A). Sumber sinar sebagai penyedia radiasi sinar (polikromatis) (biasanya lampu wolfram). Sistem monokromator: mengubah gelombang cahaya polikromatik menjadi monokromatik. Kuvet: sebagai tempat menaruh larutan sampel dan blanko ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Detektor: mengubah isyarat radiasi menjadi isyarat listrik. Read out: mengubah sinyal-sinyal listrik dari detektor menjadi numerik yang dapat dibaca dalam bentuk &T atau absorbansi.

Sebelum dioperasikan, alat harus dikalibrasi dulu, yaitu dengan menentukan 0% T dan 100% T. Kalibrasi ini berguna agar hasil analisis dari alat tersebut lebih akurat. Untuk kalibrasi biasanya digunakan aquades (Anonim, 2011). Pada setiap pengukuran % T (persen transmitan) atau A (Absorban = serapan ; A = - Log T) digunakan dua tabung kuvet cuplikan yang berisi larutan blanko. Larutan blanko terdiri dari larutan yang sama dengan pelarut + segala macam pereaksi yang sama seperti yang digunakan pada larutan cuplikan, tetapi tidak mengandung zat analit X. Kuvet cuplikan dan kuvet blanko itu harus Matched atau saling berpadanan artinya harus sejauh mungkin identik satu sama lain yang mengenai jenis bahan kaca, tebal kaca dinding kuvet dan diameter dalam kuvet. Apabila kedua kuvet tersebut tidak saling berpadanan, maka tidak akan diperoleh hasil pengukuran % T atau A yang benar. Definisi T(X)(transmitan) = (It)/Io, dimana (It) = intensitas sinar yang ditransmisikan (tidak diserap oleh larutan) (Io)= intensitas sinar mula-mula Oleh karena Io tidak dapat diukur, maka dalam pratek Io diganti (Io)bl yaitu sinar yang ditransmisikan (diteruskan) oleh larutan blanko yang terdapat dalam kuvet blanko yang terdapat dalam kuvet blanko jadi yang diukur dalam pratek adalah : T(X) = (It)X / (Io)bl Biasanya dibuat agar penunjuk alat untuk (It)bl = 100 yang mengandung bahwa larutan blanko tidak menyerap sinar yang digunakan, atau dengan perkataan lain meneruskan sinar datang (Io) keseluruhannya 100% sehinggga : T(X) = (It)X / (It)o=(It)X / (Io)bl = (It)X / 100 dan % T = (It)X / 100 x 100% Tetapi agar hal tersebut dapat berlaku, maka kuvet blanko harus identik (matched) dengan kuvet cuplikan. Untuk menentukan tabung-tabung kuvet yang saling berpadanan, maka dicari kuvet yang memberikan nilai % T yang sama (atau hampir sama) bila kuvet-kuvet tersebut diisi dengan larutan CoCl2 2%,

diukur dan dibandingkan nilai %T larutan CoCl2 ini pada panjang gelombang 510 nm (Pembina Mata Kuliah, 2012). III. ALAT DAN BAHAN Alat Spektronik-20 Kuvet Pipet Tetes Rak tabung reaksi Botol Semprot Kertas label Tissue

Bahan Larutan CoCl2 2% Aquades IV. PROSEDUR KERJA 1. Mengaktifkan alat spektronik 20 sampai alat benar-benar stabil.. 2. Menyediakan sejumlah kuvet yang akan digunakan pada percobaan ini. 3. Mencuci kuvet tersebut dengan menggunakan aquades. 4. Memberi nomor pada masing-masing kuvet. 5. Mengisi masing-masing kuvet dengan larutan CoCl2 2% sampai tanda batas yang terdapat pada kuvet. 6. Mengatur panjang gelombang spektronik 20 pada 510 nm. 7. Mengkalibrasi spektronik-20 dengan mengatur jarum sampai di angka nol, kemudian memasukkan kuvet berisi aquades (kuvet 1) ke dalam tempat kuvet pada spektronik-20 dan mengatur jarum lagi sampai menunjukkan angka 100. 8. Memasukan salah satu kuvet yang berisi larutan CoCl2 2% (kuvet 2 sebagai kuvet pembanding) ke dalam tempat kuvet, kemudian menutup dan mengatur tombol pengatur cahaya hingga jarum menunjukkan angka 90% T. 9. Selanjutnya mengulangi perlakuan 6 dengan menggunakan kuvet nomor 3 sampai nomor 6. Kemudian mencatat nilai %T yang ditunjukkan oleh spektronik-20.

V. HASIL PENGAMATAN No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kuvet I (Aquades) II (Pembanding) III IV V VI %T 100 90 89 90 89 90 A 0 0,046 0,051 0,046 0,051 0,046

Keterangan : Kuvet yang matching adalah kuvet nomor II, IV dan VI serta nomor III dan V VI. PERHITUNGAN Penentuan Nilai Absorbansi 1. Aquades (Kuvet I) %T = 100 A = - log T = - log 1 =0 2. Blanko (Kuvet II) %T = 90 A = - log T = - log 0,9 = 0,046 3. Kuvet III %T = 100 A = - log T = - log 0,89 = 0,051 4. Kuvet IV %T = 90 A = - log T = - log 0,9 = 0,046 5. Kuvet V %T = 90 A = - log T = - log 0,9 = 0,046 6. Kuvet VI %T = 90 A = - log T = - log 0,9 = 0,046

VII. PEMBAHASAN Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitansi atau absorbansi suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang; pengukuran terhadap suatu deretan contoh pada suatu panjang gelombang tunggal mungkin juga dapat dilakukan. Alat-alat demikian dapat dikelompokkan naik sebagai manual atau perekam, maupun sebagai sinar-tunggal atau sinar-rangkap. Dalam praktek, alat-alat sinar tunggal biasanya dijalankan dengan tangan dan alat-alat sinar-rangkap biasanya menonjolkan pencatatan spektrum absorbsi, tetapi adalah mungkin untuk mencatat satu spektrum dengan suatu alat sinar tunggal (Anonim, 2011). Alat spektronik-20 ini memiliki prinsip dasar yaitu interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energi yang diserap tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari ground state ke keadaan tereksitasi yang memiliki energi lebih tinggi. Alat ini akan mengukur nilai intensitas cahaya: P dan Po melalui sistem processor, akan diubah menjadi besaran transmitansi (T), dan absorbsi (A). Sumber sinar sebagai penyedia radiasi sinar (polikromatis) (biasanya lampu wolfram). Sistem monokromator akan mengubah gelombang cahaya polikromatik menjadi monokromatik. Detektor berfungsi mengubah isyarat radiasi menjadi isyarat listrik. Untuk mengukur %T atau absorbansi dari suatu larutan menggunakan spektronik 20, digunakan kuvet untuk meletakkan sampel yang diuji. Kuvet berfungsi sebagai tempat menaruh larutan sampel dan blanko ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Kuvet-kuvet yang digunakan biasanya berbeda satu sama lain baik dari jenis bahan (kaca atau plastik), tebal dinding kuvet dan diameter dalam kuvet. Penentuan kuantitas suatu zat secara spektrofotometri absorpsi menggunakan spectronic-20, seringkali mengabaikan perbedaan ukuran kuvet yang digunakan dalam analisis. Padahal selisih absorbansi kuvet 0,01 satuan saja akan menimbulkan kesalahan analisis yang cukup signifikan. Sehingga tidak akan diperoleh hasil pengukurran %T atau A yang benar. Oleh karena itu, sebelum menguji sampel, terlebih dahulu dilakukan matching kuvet untuk memdapatkan kuvet yang seidentik mungkin satu sama lain.

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menjelaskan pengertian matching kuvet dan cara penentuannya. Mula-mula mengkalibrasi alat sebelum
digunakan dengan cara memasukkan kuvet yang telah diisi dengan aquades ke dalam tempat kuvet. Sebelum memasukkan kuvet tersebut, jarum diatur sampai menunjukkan angka nol, kemudian kuvet yang berisi aquades dimasukkan ke dalam tempat kuvet, lalu tombol cahaya diputar sampai menunjukan angka 100. Perlakuan ini dilakukan secara berulang-ulang, agar diperoleh nilai %T yang baik. Kalibrasi alat ini menggunakan aquades karena aquades tidak berwarna (bening), sehingga dianggap tidak menyerap sinar yang datang dari sumber sinar monokromator. Oleh karena itu penunjukkan jarum ditepatkan pada angka 100 yang berarti semua sinar datang diteruskan (ditransmisikan) kepada detector alat dan tidak ada yang terabsorpsi oleh aquades.

Pada percobaan ini, digunakan larutan CoCl2 2% sebagai bahan uji karena larutan ini memiliki warna yang jelas dan larutannya jernih. Warna larutannya ungu kemerahan. Selain larutan CoCl2, sebenarnya dapat juga digunakan larutan lain dengan syarat yaitu memiliki kestabilan yang tinggi pada jangka waktu yang relatif lama, memiliki komposisi yang spesifik dan warna larutannya merata serta jernih yang mampu mempertahankan intensitas warnanya. Pengukuran %T untuk larutan CoCl2 ini dilakukan pada panjang gelombang 510 nm karena larutan CoCl2 mempunyai warna komplementer merah keunguan dan warna yang diserap adalah warna hijau. Daerah serapannya yaitu berkisar pada panjang gelombang 500 560 nm. Pada panjang gelombang 510 nm larutan CoCl2 akan menyerap sinar warna hijau secara maksimum sehingga dipilih panjang gelombang ini yang merupakan panjang gelombang maksimum untuk penyerapan warna hijau. Sebaliknya warna ungu kemerahan yang tidak diserap akan diteruskan kepada detektor sehingga pembacaan %T akan terlihat pada penunjukkan jarum. Pada saat pembacaan %T, jarum diatur sehingga menunjukkan angka 90, yang berarti %T adalah 90 dengan absorbansi yaitu log 0,9 atau 0,046. Dengan demikian absorbansi yang terjadi sangat kecil karena sebagian besar sinar diteruskan (ditransmisikan). Hal ini dilakukan agar semua sampel yang akan diuji nantinya hanya menyerap sebagian kecil saja sinar yang datang, sehingga akan didapatkan kuvet-kuvet yang memiliki kesamaan atau kesepadanan yang seidentik mungkin dengan perbedaan %T

yaitu kurang dari 1%. Oleh karena itu larutan CoCl2 yang digunakan hanya dalam konsentrasi kecil yaitu 2%, karena jika konsentrasinya tinggi maka absorbansinya juga akan tinggi sesuai dengan hukum Lambert-Beer. Sebelum melakukan pengukuran, maka kuvet terlebih dahulu dibersihkan dengan aquades dan dikeringkan dengan tissue. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah kebersihan alat, karena spektronik-20 ini sangat sensitif terhadap sampel yang diuji. Apabila tempat sampel kotor atau dinding kuvet kotor dan tidak bening, maka penyerapan sinar akan terjadi sehingga mempengaruhi hasil pembacaan %T oleh alat. Setelah bersih, kemudian larutanlarutan uji tersebut dimasukkan ke dalam kuvet. Pengisian sampel ke dalam kuvet tidak boleh melebihi tanda batas kuvet dan juga posisinya harus sesuai dengan petunjuk pada alat yaitu tanda batas kuvet menghadap kearah peneliti (praktikan). Sedangkan jika pengisian larutan tidak mencapai tanda batas maka cahaya akan diteruskan sehingga nilai transmitan yang diperoleh tidak maksimal. Selain itu pengisian kuvet ke dalam tempat kuvet harus menggunakan tissue yang halus dan bersih untuk menghindari adanya sidik jari pada dinding kuvet yang dapat mempengaruhi penyerapan sinar dan pembacaan %T oleh alat. Jenis kuvet yang digunakan untuk percobaan ini adalah kuvet yang terbuat dari kaca. Jumlah kuvet yang digunakan adalah 6 buah, dimana kuvet I untuk kalibrasi alat yaitu berisi aquades, kuvet II digunakan sebagai blanko (pembanding) untuk kuvet-kuvet lainnya, dan kuvet III sampai kuvet VI digunakan sebagai kuvet uji untuk mendapatkan kuvet yang sama dengan kuvet kedua. Kalibrasi alat digunakan aquades dengan %T adalah 100. Kuvet blanko diisi dengan larutan CoCl2 2% dengan %T adalah 90. Selanjutnya kuvet-kuvet lainnya diisi juga dengan larutan CoCl2 2% dan dibiarkan alat spektronik-20 membaca %T sampai jarum menunjukkan angka yang tepat. Selanjutnya jika telah diperoleh hasil pembacaan %T masing-masing kuvet, kemudian dilakukan maching kuvet. Kuvet yang telah matching tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk pengujian sampel lainnya dalam penelitian atau percobaan lain. Berdasarkan hasil yang dieproleh melalui percobaan, diperoleh hasil pembacaan %T untuk kuvet IV dan VI yaitu 90, dan kuvet III dan V yaitu 89. Sehingga kuvet yang matching dengan kuvet blangko (kuvet II) adalah kuvet IV

dan VI. Sedangkan kuvet III matching dengan kuvet V. Adanya perbedaan %T yang dihasilkan dapat disebabkan karena diameter dalam kuvet, tebal kaca dinding kuvet dan jenis bahan penyusun dari kuvet memiliki perbedaan, sehingga %T yang dihasilkan juga memiliki perbedaan. Jenis bahan untuk percobaan ini tidak berpengaruh karena semua kuvet yang digunakan terbuat dari kaca. Sedangkan tebal dinding kuvet dan diameter dalam kuvet dapat mempengaruhi hasil karena belum diketahui secara pasti ukurannya untuk setiap kuvet yang digunakan. Biasanya diameter kuvet yang digunakan adalah 1 cm dengan tebal 1 10 mm. VIII. KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu sebagai berikut: 1. Matching kuvet adalah menyamakan atau menyepadankan kuvet cuplikan dan kuvet blangko yang dipergunakan dalam spektrofotometri sehingga diusahakan sejauh mungkin identik satu sama lain baik jenis bahan kaca, tebal kaca dinding kuvet dan diameter dalam kuvet. 2. Adapun cara penentuannya yaitu dengan mencari kuvet yang memberikan nilai %T yang sama. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini adalah kuvet yang matching dengan perbedaan tranmitansi tidak lebih dari 1% yaitu sebagai berikut: * Kuvet II, IV dan VI pada %T = 90 * Kuvet III dan V pada %T = 89

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah. 2010. Spektrofotometri. http://rgmaisyah.wordpress.com/2008/11/25/spektrofotometer/. Diakses pada tanggal 12 Juni 2012. Anonim. 2010. Spektrofotometer UV-VIS. http://www.scribd.com/doc/25536927/Spektrofotometer-UV-Vis. Diakses pada tanggal 12 Juni 2012. Anonim 2. 2010. Spektrofotometri. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_ analisis/spektrofotometri/. D i a k s e s p a d a t a n g g a l 12 Juni 2012. Khopkar, S. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press. Pembina Mata Kuliah. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Spektrometri. Palu : Universitas Tadulako. Riyadi, W. 2009. Prinsip Dasar Spektrofotometer Visible. http://wahyuriyadi.blogspot.com. Diakses tanggal 12 Juni 2012. Wanibesak, E. 2011. Spektrofotometri Sinar tampak (Visible). http://wanibesak.wordpress.com. Diakses tanggal 12 Juni 2012.

LAMPIRAN 1. Apakah sebabnya perlu dilakukan matching kuvet terhadap tabung-tabung kuvet? 2. Hitung berapa harga serapan (A) bila suatu larutan yang diukur memberikan penunjukkan %T = 65%! 3. Mengapa pada alat spektronik 20, biasanya yang diambil adalah skala %T dan bukan skala serapan (A) ? 4. Apakah bisa digunakan larutan lain selain larutan CoCl2? Hal ini karena untuk menyamakan atau menyepadankan kuvet cuplikan dan kuvet blanko yang mengenai jenis bahan kaca, tebal kaca dinding kuvet dan diameter dalam kuvet, karena apabila kedua kuvet tersebut tidak saling berpadanan, maka tidak akan diperoleh hasil pengukuran %T atau A yang benar, dimana penentuan kuantitas suatu zat secara spektrofotometri absorpsi menggunakan spectronic-20, seringkali mengabaikan perbedaan ukuran kuvet yang digunakan dalam analisis. Padahal selisih absorbansi kuvet 0,01 satuan saja akan menimbulkan kesalahan analisis yang cukup signifikan. 2. Diketahui : %T = 65% T = 0,65 A = - log T = - log 0,65 = 0,187 3. Hal ini karena ketika sinar monochromator (sinar datang) yang melewati sampel, maka sebagian sinar tersebut diserap oleh larutan (diabsorpsi) dan sebagiannya lagi diteruskan (ditransmisikan) ke detector atau processor, sehingga jumlah sinar yang diserap (absorbansi) tidak dapat terukur melainkan jumlah sinar yang ditransmisikan atau diteruskan. Oleh karena itu dinyatakan dalam skala persen transmitan (%T), bukan absorbansi (A). 4. Selain larutan CoCl2, larutan lain juga dapat digunakan asalkan memenuhi syarat sampel yang dapat diukur oleh spektronik-20, yaitu : Larutannya berwarna Larutannya stabil. Tidak bereaksi dengan zat lain.

Jawaban : 1.

LEMBAR ASISTENSI

Nama Stambuk Percobaan Asisten

: Kasmir Sy. Male : A 251 09 030 : Matching Kuvet : Fendy Pradana, C.S.Pd.

No

Hari/Tanggal

Keterangan

Paraf