Anda di halaman 1dari 2

BAB III KESIMPULAN Hipertensi dalam kehamilan didefinisikan sebagai tekanan darah > 160/110 mmHg selama periode

kehamilan hingga enam minggu postpartum.5 Menurut American College of Obstetrician and Gynecologist, hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi 4 tipe yaitu hipertensi kronik, preeklamsia, hipertensi kronik yang disertai preeclampsia, serta hipertensi yang tidak terklasifikasi.1 Pre-eklampsia adalah gangguan yang berhubungan dengan banyaknya komplikasi pada ibu-janin bahkan bisa menyebabkan kematian. Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbilitas ibu bersalin.1 Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi medis kehamilan yang paling sering, dengan angka insiden sebesar 5-8% dari seluruh kehamilan di AS. Selain itu, insidensi preeclampsia terjadi sebesar 3,9%. Faktor risiko terjadinya preeklamsia berat yaitu usia kehamilan >34 minggu, etnis gelap, pernah atau sedang mengalami hipertensi, riwayat preeklamsia sebelumnya, diabetes, kehamilan multiple, eksklusi social dan rawat antenatal.13 Beberapa teori patogenesis hipertensi dalam kehamilan yaitu perlekatan plasenta abnormal dan iskemia plasenta, teori endothelial relaxing factor, dan teori antibodi. Gejala hipertensi dapat bervariasi yang dapat diketahui melalui anamnesis, pemeriksaan fisik serta dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang. Beberapa gejala preeclampsia yang sering terjadi antara lain skotoma atau gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, edema yang meningkat cepat atau edema di area non-dependen, serta peningkatan berat badan yang cepat. Terapi yang diberikan seperti antihipertensi bertujuan untuk mencegah konsekuensi dari hipertensi berat. Selain itu, tidak terdapat bukti bahwa pemberian obat-obatan penurun tekanan darah untuk hipertensi pada kehamilan ringan-sedang memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan pemberian ketika hipertensi berat terjadi. Perlu diingat juga bahwa tidak semua hipertensi pada kehamilan perlu diobati, seperti pada wanita dengan pre-eclampsia yang siap melahirkan, terapi dapat ditunda dan hanya dilakukan evaluasi tekanan darah post-partum. Selain itu dalam pemberian obat-obatan antihipertensi perlu juga diperkirakan resiko relatif dan/atau keuntungan dari semua terapi antihipertensi yang akan diberikan. Target tekanan darah pada

gangguan hipertensi saat kehamilan direkomendasikan berkisar 140-155/90-105 mm Hg dengan tujuan mencegah resiko kardiovaskular dan dan serebrovaskular. Ketika diberikan terapi anti hipertensi, perlu dilakukan monitoring terhadap kemungkinan distress fetus akibat penurunan perfusi plasenta. Beberapa pilihan terapi medikasi yang dapat diberikan pada hipertensi gestasional yaitu labetalol (lini pertama), metildopa, nifedipine, hidralazine, -blocker, penghambat kanal kalsium, serta hidroklorothiazide (lini kedua). Pemilihan obat yang tepat dapat men