Anda di halaman 1dari 12

BAB III

METODOLOGI

3. METODOLOGI

31 Flowchart Penelitian

























Gambar 5.1 Diagram Alir Penelitian
Untuk melakukan pemodelan dan simulasi dengan menggunakan perangkat lunak
CFD Fluent , terlebih dahulu dibuat diagram alir proses. Gambar dibawah
merupakan diagram alir pemodelan dan simulasi.


Pengamatan Lapangan
Laporan
Selesai
Mulai
Analisis Data
Persiapan
Pemodelan Dengan Perangkat Lunak
CFD Fluent



























Gambar 5.2 Penjelasam dari sub program: pemodelan dengan perangkat
lunak CFD Fluent




Ya



Pengecekan mesh
Mulai
Pembuatan geometri

Meshing geometri

Pendefenisian bidang batas
Pendefenisian bidang batas
Proses numerik
Plot data
Selesai

Tidak
Data
sifat fisik
Iterasi eror
?
Mesh baik
?

Tidak
Ya



3.2 Pembuatan Geometri dan M
Sebelum melakukan analisa aliran fluida dengan menggunakan fluent,
tahapan pertama yang harus dilakukan adalah membuat geometri model. Geometri
model adalah sebuah objek yang digunakan untuk menganalisa aliran fluida yang
terjadi pada objek tersebut. Geometri model harus mewakiii objek yang akan
dianalisa bentuk aliran fluidanya. Pembuatan geometri benda dilakukan dengan
menggunakan software Gambit.



Gambar 5.3 ESP Cooler di indarung V Semen Padang






Gambar 5.4 ESP Coller Semen Padang













Gambar 5.5 Model komponen dust distribution System di dalam ESP cooler













Gambar 5.6 Kondisi batas yang digunakan











Gambar 5.7 Ukuran ruang dust distribution System












Gambar 5.8 Model dust distribution System dengan range antar komponen 0%






Gambar 5.9 Model dust distribution System dengan range antar komponen 2%















Gambar 5.10 Model dust distribution System dengan range antar komponen 4%






Gambar 5.10 Model dust distribution System dengan range antar komponen 8%




















Gambar 5.11 Model ukuran komponen dust distribution System



3.5 Meshing Geometri
Setelah geometri pemodelan selesai langkah selanjutnya adalah melakukan
meshing. Meshing yaitu pembagian obyek menjadi bagian-bagian kecil. Ukuran
mesh yang terdapat pada suatu obyek akan mempengaruhi analisis CFD yang
dilakukan. Semakin kecil ukuran mesh pada suatu objek maka hasil yang
didapatkan akan semakin teliti. Tetapi membutuhkan daya komputasi dan waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan objek yang memiliki ukuran mesh lebih
besar. Ada 3 cara yang bisa dalam melakukan proses meshing :
1. Mesh garis
2. Mesh bidang
3. Mesh volume
Konsep pembuatan mesh pada gambit hampir sama dengan konsep
pembuatan geometri. Pada proses pembuatan mesh juga terdapat metoda bottom-


up dan top-down. Pada metoda bottom-up, mesh dibuat dari geometri yang paling
rendah yaitu garis kemudian bidang, Sedangkan pada metoda top-down, mesh
langsung dibuat pada bagian yang paling tinggi, yaitu bidang atau volume.
Pada gambar dibawah dapat dilihat geometri yang telah selesai di meshing:





Gambar 5.12 Mesh dari objek yang akan diuji


3.4 Penggunaan Fluent
Tahapan selanjutnya adalah pendefinsian bidang batas di Fluent. Kondisi
dari aliran tersebut dihitung terlebih dahulu, apakah laminar, transisi, atau
turbulen. Berdasarkan bilangan Reynolds aliran fluida dapat dikelompokkan
menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah :
0 < Re < 10
3
: aliran laminar


10
3
< Re < 10
4
: aliran transisi
10
4
< Re < : aliran turbulen


Kondisi aliran tesebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

(3.1)
Dimana : Re = Bilangan Reynold
v = kecepatan aliran (m/s)
Dh = diameter hidroulik (m)
= viskositas udara (1.7894e
-5
m
2
/s)
Kecepatan yang digunakan bervariasi, yaitu 1, 1.5, 2 dan 3m/s. Variasi kecepatan
ini dilakukan untuk mengetahui kinerja dari dust distribution system serta
distribusi tekanan dan kecepatan dari dust distribution system tersebut.
Sedangkan Nilai Dh tergantung dari lebar dan tinggi inlet, adapun nilainya dapat
dihitung dengan rumus :

(3.2)
Dimana : A = Luas (m
2
)
p = Perimeter/keliling (m)
A. Pemilihan persamaan
Pada fluent terdapat cukup banyak persamaan yang bisa digunakan,
seperti persamaan laminar, k-epsilon, k-omega, reynold stress, ataupun
persamaan lain. Pada kasus cyclone ini digunakan persamaan k-epsilon
karena alirannya turbulen. Model k-epsilon merupakan model turbulensi
yang cukup lengkap dengan 2 persamaan yang memungkinkan kecepatan
turbulen dan skala panjang ditentukan secara independen. Kestabilan,
ekonomis (dari sisi komputasi), dan akurasi yang memadai untuk berbagai
jenis aliran turbulen membuat model k-epsilon sering digunakan pada
simulasi aliran fluida dan pepindahan panas. k-epsilon RNG digunakan
karena efek putaran pada turbulensi juga terdapat pada model RNG
sehingga meningkatkan akurasi untuk aliran yang berputar.


Ada beberapa persamaan yang digunakan dalam persamaan k-
epsilon ini, yaitu :
- Koefisien Closure
1 1.44, 2 1.92, 0.09, 1.0, 1.3 C C C k o o e = e = = = e=
- Intensitas Turbulen (I)
Untuk aliran berkembang penuh intensitas turbulen ditentukan
dengan persamaan berikut ini:
( )
1
8
0.1 Re
avg
U
I
U
'
= =
(3.3)

dimana: I = Intensitas turbulen
U' = Fluktuasi kecepatan (m/s)

avg
U = kecepatan rata-rata fluida (m/s)
- Skala panjang turbulen ( l ) dan Diameter hidrolik (Dh)
l = 0.07Dh (3.4)
dimana: l = skala panjang turbulen (m)
L = Dh = diameter hidrolik (m)
- Energi Kinetik Turbulen (k)
Energi Kinetik Turbulen dapat dihitung dengan persamaan dibawah
ini:

2
3
( )
2
avg
k U I =
(3.5)

dimana: k = energi kinetik turbulen (m
2
/s
2
)
- Laju Disipasi Turbulen

3
2
3
4
k
C
l

e=
(3.6)

dimana: e= laju disipasi turbulen (m
2
/s
3
)






B. Penentuan Fluida kerja
Untuk cyclone, terdapat 2 fluida yang masuk, yaitu gas dan
padatan. Gas berupa udara dan padatan berupa partikel. Fluida ini masuk
pada inlet yang sama.
1. Gas (udara)
Massa jenis () = 1.2097 kg/m
3

2. Inert Particle (ash)
Massa jenis () = 2100 kg/m
3

Diameter (d) = 5e
-6
300e
-6
m
Flow rate (Q) = 0.001kg/s
Setelah semua input dimasukkan, dilakukan iterasi.
C. Kontur Tekanan dan Kecepatan
Kontur tekanan dan kecepatan didapat setelah proses iterasi. Pada
kedua kontur ini dilihat nilai tekanan dan kecepatan pada cyclone tersebut.
D. Particle track
Merupakan simulasi untuk menentukan persentase pemisahan
partikel. Pada simulasi ini didapat jumlah partikel escaped dan trapped.
Escaped adalah partikel yang ikut keluar bersama udara bersih, dan
Trapped yaitu partikel yang tersisihkan dari udara dan masuk kedalam
chopper. Persentase partikel escaped dan trapped didapat dari
perbandingan jumlah partikel tersebut terhadap jumlah partikel semula.