Anda di halaman 1dari 10

UJI KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK TAPE SINGKONG (Manihot utilissima) DENGAN PENAMBAHAN SARI BUAH PEPAYA (Carica

papaya L.) DAN DOSIS RAGI YANG BERBEDA Puspitasari, Sofi Anggiya Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UMS

Abstrak: Singkong merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung karbohidrat yang dapat diolah menjadi makanan khas yang disebut tape. Tape merupakan salah satu jenis makanan hasil fermentasi yang mengandung cukup gizi diantaranya energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, dan air. Penelitian ini bertujuan menguji kadar protein dan mutu organoleptik tape singkong dengan penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia FIK Universitas Muhammadiyah Surakarta pada bulan Februari 2012. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor yaitu sari buah pepaya (25 mL, 50 mL, 75 mL) dan dosis ragi (2 gr dan 5 gr) untuk setiap 0,5 kg singkong, diperoleh 8 macam kombinasi. Data dianalisis menggunakan uji Anava dua jalur dan dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) yang berupa kadar protein pada fermentasi tape singkong. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein tertinggi 6,60 % (volume sari buah pepaya 75 mL dengan dosis ragi 5 gr), sedangkan kadar terendah 4,14 (tanpa penambahan sari pepaya dengan dosis ragi 2gr). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi volume sari buah pepaya yang ditambahkan pada tape singkong, maka semakin tinggi pula kadar proteinnya. Kualitas organoleptik tape singkong dengan penambahan ragi 2 gr lebih baik dibandingkan penambahan ragi 5 gr, yaitu warna kekuningan, tekstur lunak, rasa manis, aroma tidak terlalu menyengat. Kata kunci: singkong, sari buah pepaya, dosis ragi, kadar protein, organoleptik.

Abstract: Cassava is one of the foods that contain carbohydrates that can be processed into typical food called tape. Tape is one of the fermented foods that contain enough nutrients including energy, protein, fat, carbohydrates, calcium, phosphorus, iron, vitamin B1, and water. This study aims to examine levels of protein and organoleptic quality of fermented cassava with the addition of papaya juice and different doses of yeast. The research was conducted at the Laboratory of Chemical FIK Surakarta Muhammadiyah University in February 2012. The method used is an experiment to study design Completely Randomized Design (CRD) 2 factors, namely papaya juice (25 mL, 50 mL, 75 mL) and yeast doses (2 g and 5 g) for every 0.5 kg of cassava, obtained 8 kinds of combinations. Data were analyzed using a two-lane ANAVA test and continued with the test BNJ (Beda Real Honest) in the form of the protein content of fermented cassava. Based on the results showed that the highest protein content of 6.60% (volume 75 mL papaya juice at a dose of 5 g of yeast), whereas the lowest levels of 4.14 (without the addition of yeast extract at a dose of 2 grams of papaya). Based on the research results can be concluded that the higher volume of papaya juice is added to the fermented cassava, the higher the levels of protein. Organoleptic quality of fermented cassava with the addition of 2 g of yeast is better than the addition of 5 g of yeast, which is a yellowish color, soft texture, taste sweet, not too pungent aroma. Keywords: cassava, papaya juice, a dose of yeast, protein content, organoleptic.

PENDAHULUAN

suatu enzim pemecah protein atau enzim proteolitik yang disebut papain.

Singkong (Manihot utilissima) merupakan komoditas hasil pertanian yang banyak ditanam di Indonesia dan merupakan sumber karbohidrat yang penting setelah beras, kandungan

Adapun enzim proteolitik bersifat menyerang bahan-bahan protein dalam makanan. Bila enzim ini dicampurkan dalam makanan maka protein makanan akan terpecah-pecah menjadi peptida, yang selanjutnya akan terpecah-pecah lagi menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana yang disebut asam amino (Iswara, 2010). Aktivitas enzim papain cukup spesifik karena papain hanya dapat mengkatalisis proses hidrolisis dengan baik pada kondisi pH serta suhu dalam

karbohidrat adalah 34,7% (Soetanto, 2001). Singkong dapat disajikan dalam bentuk tape melalui proses fermentasi, yaitu terjadinya perubahan bahanbahan organik dari senyawa-senyawa komplek menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan kerja enzim. Tape singkong memiliki

kisaran

waktu

tertentu.

Papain pada

kandungan protein 0,5 gram/100 gram bahan. Protein diperlukan dan untuk

mempunyai pH optimum 7,2

substrat BAEE (benzoil arginil etil ester), pH 6,5 pada substrat kasein, pH 7,0 pada albumin dan pH 5,0 pada gelatin (Muchtadi et al., 1992). Suhu optimal papain sendiri adalah 50-60
o

pertumbuhan

perkembangan

tubuh, perbaikan dan pergantian sel-sel jaringan tubuh yang rusak, dan

produksi enzim

pencernaan serta

enzim metabolisme (Winarno, 1993). Kadar protein pada tape singkong dapat dengan ditingkatkan, menambahkan diantaranya sari buah

C. Papain relatif tahan terhadap suhu, dibandingkan dengan enzim

bila

proteolitik lainnya seperti bromelin dari buah nanas dan lisin dari getah pohon pinus (Winarno, 1995).

pepaya pada pembuatan tape. Pepaya (Carica papaya L.)

Berdasarkan penelitian Mariana Setyaningsih (2004), waktu

merupakan tanaman yang berasal dari Amerika tropis. Batang, daun, dan buah pepaya muda mengandung getah berwarna putih. Getah ini mengandung

perendaman dan konsentrasi enzim proteolitik dari papain berpengaruh terhadap kadar protein dan

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

organoleptik daging sapi. Semakin banyak enzim papain dan lama

setelah diberi sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda.

perendaman

yang diberikan pada METODE PENELITIAN

daging, maka semakin tinggi kadar proteinnya dan tekstur daging semakin empuk. Sedangkan pada penelitian Khusnul Fatimah (2011), perlakuan jenis ragi (NKL dan tradisional) dan konsentrasi ragi (0,5%, 5,0% dan 1,5%), hasil terbaik pada perlakuan jenis ragi NKL dan banyaknya

Penelitian Laboratorium

dilaksanakan Biologi

di

Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Laboratorium Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini menggunakan

konsentrasi 1,5% yang memberikan pengaruh optimum terhadap kadar protein fermentasi organoleptik dan tape tape karbohidrat ketan. ketan pada Kualitas yang

metode eksperimen dan rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial. Faktor I yaitu sari buah pepaya (25 mL, 50 mL, 75 mL) dan faktor II dosis ragi (2 gr dan 5 gr) untuk setiap 0,5 kg singkong. Dari kedua faktor perlakuan diperoleh 8 macam kombinasi. Adapun kombinasi perlakuan antaralama fermentasi dan dosis ragi adalah sebagai berikut: V0D1: Kontrol (tanpa sari pepaya) dengan dosis ragi 2,5 gr. V0D2: Kontrol (tanpa sari pepaya) dengan dosis ragi 5,0 gr. V1D1: Volume sari pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr. V1D2 : Volume sari pepaya 25 ml dengan dosis ragi 5,0 gr. V2D1 : Volume sari buah pepaya 50 ml dengan dosis ragi 2,5 gr.

menggunakan ragi tradisional lebih baik dibandingkan tape menggunakan ragi NKL, yaitu rasa tape manis sedikit asam, tekstur lebih lunak, aroma tidak terlalu menyengat dan warna tape putih kekuningan. Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh

penambahan

sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda terhadap kadar protein dan organoleptik tape singkong?.

Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan mutu organoleptik tape singkong

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

V2D2 : Volume sari buah pepaya 50 ml dengan dosis ragi 5,0 gr. V3D1 : Volume sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 2,5 gr. V3D2 : Volume sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr. Analisis data yang digunakan adalah kuantitatif analisis data deskriptif

Tabel 1. Hasil kadar protein tape singkong.


Perlakuan V0D1 V0D2 V1D1 V1D2 V2D1 V2D2 V3D1 V3D2 1 4,15 4,21 5,22 5,59 5,84 6,11 6,31 6,59 Kadar Protein 2 3 4,17 4,10 4,18 4,97 5,10 5,28 5,34 5,42 5,72 5,73 5,93 5,90 6,28 6,25 6,58 6,62 12,42 13,36 15,60 16,35 17,29 17,94 18,84 19,79 X 4,14* 4,45 5,20 5,45 5,76 5,98 6,28 6,60**

dengan uji menggunakan

Tabel 1. menunjukkan bahwa penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda menghasilkan kadar protein tape singkong yang berbeda pada masing-masing

Anava dua jalur dan dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) yang berupa data yang menunjukkan kadar protein pada fermentasi tape singkong sesuai dengan perlakuan. Sedangkan deskriptif kualitatif

perlakuan. Kadar protein tertinggi pada perlakuan V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) sebesar 6,60%, sedangkan kadar

dilakukan oleh 20 orang panelis yang digunakan organoleptik untuk dari menguji tape mutu

singkong

terendah pada perlakuan V0D1 (tanpa penambahan sari buah pepaya dengan dosis ragi 2,5 gr) yaitu sebesar 4,14%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

dengan dosis ragi yang berbeda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

gambar sebagai berikut :

Kadar protein
Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian
7 6 5 4 3 2 1 0
V0D1 V0D2 V1D1 V1D2 V2D1 V2D2 V3D1 V3D2

tentang uji kadar protein pada tape singkong dengan penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda berikut: dapat disajikan sebagai

Gambar 1. Histogram kadar protein tape singkong

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa semakin tinggi sari buah pepaya dan dosis ragi yang ditambahkan maka semakin tinggi pula kadar proteinnya dan berbeda secara nyata. Hasil kualitatif uji organoleptik dari tape singkong yang dilakukan oleh 20 panelis dengan melakukan penilaian terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 2. Hasil uji organoleptik tape singkong
Perlakuan V0D1 V0D2 V1D1 V1D2 V2D1 V2D2 V3D1 V3D2 Warna Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Putih kekuningan Aroma Sedikit beralkohol Beralkohol Sedikit beralkohol Beralkohol Sedikit alkohol Beralkohol Beralkohol Sangat beralkohol Tekstur Agak keras Lunak Lunak Lunak Lunak Berair Berair Sangat berair Rasa Agak manis Kurang manis Manis Manis Manis Kurang manis Agak manis Kurang manis

jelasnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :


4 3 2 1 0
Warna Aroma Tekstur Rasa

Gambar 2. Histogram uji organoleptik tape singkong. Gambar 4.2 menunjukkan bahwa warna pada tape singkong dari semua perlakuan adalah sama yaitu putih kekuningan. Hasil organoleptik aroma terbaik pada V1D1 sebesar 2,1 yaitu aroma sedikit beralkohol, sedangkan hasil terendah pada V3D2 sebesar 3,4 yaitu aroma sangat beralkohol. Hasil uji organoleptik tekstur terbaik pada V1D1 sebesar 3,0 yaitu bertekstur

Tabel 2. menunjukkan hasil uji organoleptik terbaik pada perlakuan V1D1 (penambahan sari buah pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr) yaitu warna putih kekuningan, aroma sedikit beralkohol, tekstur lunak dan rasanya manis, sedangkan hasil terendah pada perlakuan V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) warna putih kekuningan, aroma sangat beralkohol, terkstur sangat berair dan rasanya kurang manis. Untuk lebih

lunak, sedangkan hasil terendah pada V3D2 sebesar 3,7 yaitu tekstur sangat berair. Hasil organoleptik rasa terbaik pada V1D1 sebesar 3,5 yaitu rasa manis, sedangkan hasil terendah pada V3D2 sebesar 2,1 yaitu rasa kurang manis dan terlalau asam. Hasil uji anava dua jalur yang kemudian dilanjutkan dengan Uji

Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) adalah sebagai berikut :

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

Keputusan uji anava dua jalur adalah sebagai berikut : a. Nilai Fhit Perlakuan > Ftabel
(0,05)

Pembahasan Hasil penelitian terhadap kadar protein pada tape singkong dengan penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda, menunjukkan bahwa ada perbedaan kadar protein pada masing-masing perlakuan. Kadar protein tertinggi terdapat pada V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) dengan kadar protein mencapai 6,60%. Sedangkan kadar protein terendah terdapat pada D0V1 (tanpa sari buah pepaya dengan dosis ragi 2,5 gr.) dengan kadar protein yaitu 4,14%, artinya

(55,22 > 2,66) Ho ditolak, yang berarti tingkat signifikan () 5% atau kepercayaan 95% bahwa

pemberian perlakuan berpengaruh terhadap kadar protein pada tape singkong. b. Nilai Fhit Variabel A > Ftabel
(0,05)

(112,5 > 3,24) Ho ditolak, yang berarti tingkat signifikan () 5% atau kepercayaan sari 95% buah bahwa pepaya

pemberian

berpengaruh terhadap kadar protein pada tape singkong. c. Nilai Fhit Variabel B > Ftabel
(0,05)

penambahan sari buah pepaya dan ragi yang semakin kadar banyak protein akan yang

(11,25 > 4,49) Ho ditolak, yang berarti tingkat signifikan () 5% atau kepercayaan 95% bahwa

menghasilkan tertinggi. Hasil

uji

anava

dua

jalur

pemberian dosis ragi berpengaruh terhadap kadar protein pada tape singkong. d. Nilai Fhit interaksi > Ftabel
(0,05)

menunjukkan bahwa nilai Fhitung > Ftabel (83,25 > 3,24) pada taraf signifikan 0,05%, yang artinya penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi sangat berpengaruh terhadap kadar protein pada tape singkong. Semakin tinggi sari buah pepaya dan dosis ragi yang ditambahkan maka semakin tinggi pula kadar proteinnya dan berbeda secara signifikan.

(83,25 > 3,24) Ho ditolak, yang berarti tingkat signifikan () 5% atau kepercayaan 95% bahwa

pemberian sari buah pepaya dan dosis ragi berpengaruh terhadap kadar protein pada tape singkong.

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

Kenaikan disebabkan oleh

kadar

protein

hampir semua enzim menunjukkan kemampuan katalik yang besar.

meningkatnya

kandungan protease yang dihasilkan oleh papain pada buah pepaya yang berfungsi sebagai biokalisator yang akan mempercepat reaksi pemecahan protein menjadi asam amino. Menurut Hawab (2004), reaksi pemecahan

Biasanya enzim meningkatkan laju reaksi sampai satu juta kali. Adanya sifat katalik enzim semacam ini

menunjukkan bahwa protein berperan besar dalam reaksi katalis (Astawan, 2008). Penambahan dosis ragi juga

protein menjadi asan amino dengan katalisator enzim protease adalah

berpengaruh terhadap kadar protein tape singkong, semakin tinggi dosis

sebagai berikut : Protein


Enzim protease Papain

Asam amino
(bebas)

ragi, maka semakin tinggi pula kadar protein dalam tape singkong.

Adapun sifat enzim proteolitik adalah senang menyerang bahan-bahan protein dalam makanan. Bila enzim ini dicampurkan dalam makanan maka protein makanan akan terpecah-pecah menjadi peptida, yang selanjutnya akan terpecah-pecah lagi menjadi

Sebagaimana telah disebutkan bahwa peningkatan jumlah massa mikroba akan menyebabkan protein meningkatnya pada produk

kandungan

fermentasi (Winarno, 1993). Dosis ragi juga sangat

bentuk-bentuk yang lebih sederhana yang disebut asam amino, oleh karena papain merupakan enzim yang berupa rantai polipeptida maka terjadi

berpengaruh terhadap kadar alkohol ampas umbi ketela pohon. Dosis ragi yang semakin tinggi menandakan

jumlah khamir yang diberikan untuk menghidrolisis glukosa menjadi

peningkatan kadar protein bila enzim ini dicampurkan dalam makanan

alkohol semakin banyak, sehingga kadar alkohol yang dihasilkan juga semakin tersebut tinggi. didukung Hasil oleh penelitian Schlegel

(Warisno, 2003). Papain merupakan suatu enzim protease yang mampu memecah protein dan dapat menjadi biokatalisator yang mempercepat Reaksi enzim reaksi reaksi kimia.

(1994), semakin tinggi dosis ragi yang diberikan maka semakin tinggi pula kadar alkohol yang dihasilkan. Hal tersebut dapat disebabkan karena

sebagai

katalisator

diperkuat oleh Sofro, dkk (1990),

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

produsen utama alkohol adalah ragi terutama dari strain Saccharomyces cereviseae. Hasil uji organoleptik pada tape singkong meliputi warna, aroma,

75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) sebanyak 3,4 memiliki aroma sangat beralkohol. Semakin banyak dosis ragi yang diberikan maka semakin banyak alkohol yang terbentuk. Aroma khas pada tape disebabkan karena selama proses fermentasi perubahan tape, gula

tekstur dan rasa. Warna Hasil yang diperoleh uji

yang terbentuk akan diubah menjadi alkohol oleh aktivitas Saccharomyces cerevisae. Alkohol akan diubah

organoleptik warna pada tape singkong dari semua perlakuan adalah sama yaitu putih kekuningan. bahan dalam adalah warna Hal ini yang tape yang Selama

menjadi asam organik oleh bakreri pedioccus melalui proses oksidasi

disebabkan digunakan singkong memiliki

dasar pembuatan singkong kuning.

alkohol, sebagian asam organik akan bereaksi dengan alcohol membentuk eter yang memberi cita rasa tape sehingga menghasilkan bau khas tape (Astawan, 2004). Terkstur Hasil uji organoleptik tekstur pada tape singkong terbaik terdapat pada perlakuan V1D1 (penambahan sari buah pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr) sebanyak 3,0 memiliki tekstur yang lunak, sedangkan hasil terendah

fermentasi mengalami perubahan fisik dan biokimiawi oleh adanya aktifitas mikroorganisme. Warna memiliki arti penting bagi makanan, bersama dengan bau, rasa, dan peran tekstur. penting Warna dalam

memegang keterterimaan 1997). Aroma Hasil

makanan

(Derman,

yang

diperoleh

uji

pada V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) sebanyak 3,7 memiliki tekstur yang sangat berair. Dalam hal ini selam proses fermentasi tape mengalami fisik dari sehingga dan aktivitas tape

organoleptik aroma pada tape singkong terbaik terdapat pada perlakuan V1D1 (penambahan sari buah pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr) sebanyak 2,1 memiliki aroma khas dan sedikit beralkohol, dan hasil terendah pada V3D2 (penambahan sari buah pepaya

perubahan-perubahan biokimiawi akibat

mikroorganisme

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

menghasilkan berair. Rasa

tekstur

yang

lunak KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil uji organoleptik rasa pada tape singkong terbaik terdapat pada D1V1 (penambahan sari buah pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr) sebanyak 3,5 memiliki rasa manis. Hal ini karena banyaknya dosis ragi yang tepat akan menghsilkan rasa manis dan sedikit asam. Sedangkan hasil terendah pada V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) sebanyak 2,1 memiliki rasa kurang manis dan sangat asam. Ciri khas tape adalah cita rasa yang sangat unik yaitu adanya kombinasi rasa manis, asam dan 2004). Dari hasil organoleptik terbaik terdapat pada perlakuan V1D1 sedikit beralkohol (Astawan,

Kesimpulan 1. Penambahan sari buah pepaya dan dosis ragi yang berbeda berpengaruh secara nyata terhadap kadar protein dan organoleptik tape singkong. 2. Kadar protein tape singkong

tertinggi terdapat pada perlakuan V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) sebanyak 6,60% sedangkan kadar protein terendah pada V0D1 (tanpa sari buah pepaya dengan dosis ragi 2,5 gr) sebanyak 4,14%. 3. Penambahan sari buah pepaya dan ragi yang semakin banyak akan menghasilkan kadar protein yang tertinggi.

(penambahan sari buah pepaya 25 ml dengan dosis ragi 2,5 gr) yaitu rasa manis sedikit asam, terkstur lunak, aroma khas tidak terlalu menyengat, dan warna tape yang putih kekuningan. Sedangkan hasil terendah terdapat pada V3D2 (penambahan sari buah pepaya 75 ml dengan dosis ragi 5,0 gr) yaitu rasa kurang manis dan asam, terkstur sangat berair, aroma sangat menyengat, dan warna tape putih kekuningan.

Saran 1. Perlu adanya penelitian lebih

lanjut mengenai pemanfaatan lain dari pepaya, misalnya daun, batang atau kulit pepaya. 2. Perlu dikembangkan lebih lanjut mengenai penambahan berbagai macam sari buah lainnya dalam proses pembuatan tape singkong.

Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima).....

DAFTAR PUSTAKA

Astawan, Made. 2004. Tetap Sehat Dengan Produk Makanan Olahan. Surakarta : Tiga Serangkai. Fatimah, Khusnul. 2011. Uji Protein dan Karbohidrat Tape Ketan Dengan Penambahan Ragi NKL dan Tradisional Dengan Konsentrasi yang Berbeda Untuk Pengembangan Materi Ajar Bioteknologi. Skripsi. Surakarta : UMS. Iswara, Danu. 2010. Papain dari Pepaya. http://www.beehealth.com/m/articles/view/Si-Papain-dari-Pepaya (diakses tanggal 21 November 2011). Sofro, Lestariana dan Rahardi. 1990. Protein, Vitamin dan Bahan Ikatan Pangan. Yogyakarta: UGM Press. Soetanto, Edi. 2001. Membuat Patilo dan Kerupuk Ketela. Yogyakarta : Kanisius. Styaningrum, Mariana. 2004. Pengaruh Lama Perendaman dan Konsentrasi Enzim Proteolik Dari Buah Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Kadar Protein dan Organoleptik Daging Sapi. Skripsi. Surakarta : UMS. Warisno. 2003. Budidaya Pepaya. Yogyakarta : Kanisius. Winarno, F.G. 1993. Pangan: Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Winarno, F.G. 1995. Utama. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Gramedia Pustaka

Wulandari, Fitri. 2008. Uji Kadar Protein Tape Singkong (Manihot utilissima) Dengan Penambahan Sari Buah Nanas (Ananas comosus). Skripsi. Surakarta : UMS.

9 Uji Kadar Protein dan Organoleptik Tape Singkong (Manihot Utilissima)..... 10