Anda di halaman 1dari 5

PPRROOPPIINNSSII DDAAEERRAAHH IISSTTIIMMEEWWAA YYOOGGYYAAKKAARRTTAA

(Sumber: Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah 2002)

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di antara 7°33’ LS-8°12’ LS dan 110°0’ BT-110°50’ BT dengan luas 3.185,8 km 2 . Secara administrasi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari satu kota dan empat kabupaten.

A. ISU LINGKUNGAN HIDUP

1.

Lahan

Kegiatan penambangan pasir di dataran, sungai, pantai dan lahan produkstif dapat menurunkan produktivitas lahan. Selain itu kerusakan lahan jaga disebabkan oleh pembuangan sludge yang mengandung B3.

Isu Lingkungan Hidup Di Kabupaten Kulonprogo

Kerusakan lahan akibat penambangan batu kali. Kabupaten KulonProgo telah menerbitkan SK Bupati No. 545/772 tanggal 14 April 2001 untuk mengendalikan kegiatan penambangan batu kali.

Flora fauna Berkurangnya pandan dikhawatirkan akan menyebabkan abrasi pantai.

Air Pencemaran akibat aspal curah akibat tenggelamnya kapal tangker milik PT. Kalla Linger yang mengakibatkan pencemaran di pantai Kulonprogo.

Isu Lingkungan Hidup di Kabupaten Gunungkidul

Penambangan di Pantai. Dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan pantai terutama dari gangguan kegiatan penambangan di pantai, Kabupaten Gunungkidul telah menerbitkan Keputusan Bupati Gunungkidul No. 31/KPTS/2001 tentang Pengendalian Perusakan dan Pencemaran Kawasan Pantai dan Perairan Laut di Kabupaten Gunungkidul.

Isu Lingkungan Hidup di Kabupaten Bantul

Penambangan pasir Penambangan pasir di daratan dan sungai dengan luas mencapai kurang lebih 36,3 Ha.

Isu Lingkungan Hidup di Kabupaten Sleman

Limbah yang Mengandung Chrome Limbah B3 yang mengandung Cr ternyata dijumpai di TPA Desa Banjar Sari Kecamatan Cangkringan dan Desa Sambirembe Kecamatan Kalasan. Limbah tersebut berasal dari pabrik kulit PT Budi Makmur Jaya Murni. Hasil analisis kandungan Cr di sekitar tempat pembuangan akhir limbah padat PT Budi Makmur Jaya Murni dan hasil analisis kandungan Cr pada kualitas air tanah di desa Sambirembe ditampilkan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Hasil Analisis Kandungan Cr di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Limbah Padat PT Budi Makmur Jaya Murni

No

Parameter

Satuan

Sekitar TPA

Kontrol

1.

pH

 

7,3

7,4

2.

Cr

+3

mg/l

0,5524

0,0

3.

Cr +6

mg/l

ttd

ttd

4.

Cr total

mg/l

0,55242

0,0

Sumber: BTKL Yogyakarta Tahun 2001

Tabel 2. Hasil Analisis Kandungan Cr Pada Kualitas Air Tanah Di Desa Sambirembe, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman

No.

Parameter

Satuan

Sekitar TPA (sumur pantau I)

Sekitar TPA (sumur pantau II)

Kontrol

1.

pH

 

7,4

7,3

7,4

2.

Cr

+3

mg/l

0,2295

2,8344

0,0

3.

Cr

+6

mg/l

ttd

ttd

ttd

4.

Cr total

mg/l

0,2995

0,8344

0,0

2. Kualitas Udara

Sumber: BTKL Yogyakarta Tahun 2001

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor serta mobilitas penduduk yang sangat tinggi akan dapat kualitas udara ambien di Kota Yogyakarta.

3. Kualitas Air

Di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul banyak permasalah yang berkaitan dengan sumberdaya air, yaitu:

a. Penurunan kualitas air permukaan

Penurunan kualitas air sumur oleh bakteri Coli paling besar terjadi di wilayah Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman, disusul Kecamatan Ngampilah, Kraton, Tegalrejo, Mantrijeron dan Gondomanan. Hal ini terjadi akibat padatnya permukiman dan pembuatan WC, septic tank, dan sumur resapan yang tidak memenuhi syarat.

Pencemaran air sungai oleh industri yang terjadi di Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong sehingga ketiga sungai tersebut dimasukkan dalam program Prokasih. Selain itu, pencemaran oleh masyarakat yang membuang limbah cairnya langsung ke sungai, terjadi di daerah hilir Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

Pencemaran air laut akibat tenggelamnya kapal MT Bumi Sarana milik PT Kala Line yang mengangkut aspal cair pada 9 Juli 2001. High Sulfur Diesel, Industrial Foil Oil dan aspal curah mencemari kawasan pantai Congot sampai pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul.

b. Kebutuhan/Persediaan/Cadangan air bersih.

c. Pencemaran Air Tanah Bocornya tangki solar yang berada di stasiun kerata api Tugu Yogyakarta mengakibatkan tercemarnya air sumur yang berada di wilayah Pasar Kembang. Kasus ini telah diselesaikan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta namun pemulihan terhadap sumur yang tercemar belum diselesaikan hingga tuntas hingga kini.

d. Jenis dan jumlah limbah

Limbah rumah tangga

Limbah industri

Baru sekitar 2,34% industri yang membangun/mempunyai IPAL, dan dari jumlah tersebut baru 3,31% nya yang beroperasi dengan baik.

e. Limbah industri kerajinan perak (pelapisan logam) Limbah industri dari kerajinan perak yang berada di wilayah Kotagede, sebagian ada diresapkan ke tanah sehingga berpotensi mencemari sumur penduduk, padahal limbah cair tersebut dikategorikan B3.di daerah Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

f. Pengecoran/daur ulang alumunium Di wilayah Surosotan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta terdapat usaha pengecoran aluminium, dimana sebagian limbah padat sisa pembakaran yang berasal dari baterai bekas dibuang ke sungai.

4. Flora dan Fauna

Fauna yang mulai langka akibat perburuan antara lain punglor, penyu, dan elang Jawa. Habitat kera ekor panjang rusak. Sedangkan flora yang semakin menipis populasinya adalah anggrek Vanda tricolor yang terdapat di kawasan Gunung Merapi.

Faktor penyebab kelangkaan elang Jawa adalah perburuan liar, dan diperkirakan hanya tinggal tiga pasang di kawasan Gunung Merapi. Pemerintah telah bekerja sama dengan LSM Kutilang Bird Watching Club telah melaksanakan penegakan hukum tetapi belum menunjukkan hasil yang nyata.

Kelangkaan penyu di pantai selatan DIY diakibatkan oleh perburuan liar, mulai dari telur, anak hingga penyu dewasa. Balai KSDA telah melakukan sosialisasi perundang- undangan KSDA dan ekosistemnya, membentuk Forum Konservasi Penyu di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo, membesarkan tukik bersama LSM di pantai selatan, membentuk jaringan penyuluhan di kawasan pantai, dll.

Penebangan yang tidak terkendali telah merusak habitat kera ekor panjang, sehingga satwa tersebut merusak tanaman pertanian. Usaha yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat adalah upaya penangkapan induk untuk dibudidayakan dan dijual di keluar daerah, menanam makanan pakan kera di Kecamatan Saptosari dan Panggang Kabupaten Gunung Kidul dan Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo.

B. ANALISIS LINGKUNGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN

1. Kualitas Udara

Secara sederhana menurunnya kualitas udara di Kota Yogyakarta disebabkan antara lain oleh kondisi jalan yang tidak sepadan dengan jumlah pengguna jalan, kondisi kendaraan bermotor terutama angkutan kota yang emisinya melampaui baku mutu, dan minimnya jalur hijau dan taman kota.

Hasil pemantauan yang telah dilakukan pada tahun 2001 terhadap kualitas udara ambien terlihat parameter yang telah melebihi ambang batas adalah HC dan kebisingan. Debu dan Pb pada titik tertentu telah melebihi baku mutu dan yang lain hampir mendekati baku mutu. Hasil pemantauan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kualitas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tahun 2001

 

Jenis

 

Baku Mutu

Hasil pengukuran emisi

No

Kendaraan

Tahun

CO (ppm)

HC (ppm)

CO (%)

HC (ppm)

1.

Roda 2

1979-1984

   

0,04-2,7

120-850

1985-1990

4,5

3000

0,04-1,3

150-380

1991-1996

0,03-6,2

130-850

1997-2001

 

0,11-2,2

50-650

2.

Roda 4

1975-1980

   

0,05-6,3

170-650

1981-1986

0,05-8,0

200-850

1987-1992

4,5

1200

0,2-8,8

200-950

1993-1998

0,01-6

250-2000

1999-2001

2,4-3,8

550-900

 

Sumber: Data Olahan dari Tim NKLD Keterangan: data diambil nilai terendah dan tertinggi

2. Kualitas Air

 

Tabel 2. Kualitas Parameter BOD pada Sungai Sasaran Prokasih

 
   

Kadar BOD (mg/l)

 
 

Lokasi

92/93

93/94

94/95

95/96

96/97

97/98

98/99

99/00

2000

2001

S.

Winongo

                   

Hulu

4,19

2,24

2,50

2,50

2,93

2,76

3,03

3,24

2,65

5,44

Tengah

8,73

2,98

6,7

6,7

6,70

12,11

9,58

8

6,85

7,49

Hilir

7,31

7,68

3,97

3,97

4,25

5,33

3,96

4,22

4,13

6,86

S.

Code

Hulu

3,06

1,38

1,69

1,89

3,30

2,22

2,71

3,44

2,8

5,51

Tengah

10,03

6,74

7,72

10,05

12,17

12,14

7,65

9,22

8,55

10,6

Hilir

5,51

3,07

2,61

5,30

3,71

7,08

5,51

3,14

2,88

7,75

S.

Gajahwong

Hulu

3,23

2,94

2,00

2,97

3,21

3,12

3,82

2,86

3,15

4,82

Tengah

9,79

6,79

5,33

6,79

10,73

19,275

8,55

19,82

13,33

11,86

Hilir

4,59

4,39

1,81

4,39

5,71

,29 (?)

4,75

6,84

7,13

17,79

 

Sumber: Tim Penyusun NKLD Propinsi DIY tahun 2002

Tabel 3. Kualitas Parameter COD pada Sungai Sasaran Prokasih

 

Lokasi

 

Kadar COD (mg/l)

 
 

92/93

93/94

94/95

95/96

96/97

97/98

98/99

99/00

2000

2001

S.

Winongo

                   

Hulu

28,82

18,11

11,65

11,65

15,51

12,10

15,13

12,62

15,75

22,0

Tengah

56,07

26,94

30,54

30,54

40,52

43,23

43,06

31,84

33,75

38,19

Hilir

41,89

31,02

18,01

18,01

22,69

23,68

18,53

16,6

19,50

25,30

S.

Code

Hulu

21,89

10,43

6,25

8,00

13,81

7,42

14,90

14,14

13,75

25,50

Tengah

54,58

45,27

46,43

42,15

46,45

51,63

35,92

39,28

30,25

37,85

Hilir

33,62

18,54

12,48

21,10

19,91

27,59

20,84

14,24

13,75

21,30

S.

Gajahwong

Hulu

20,52

12,59

10,78

12,29

17,88

13,81

16,03

14,98

10,75

18,80

Tengah

33,95

28,97

29,05

28,97

43,82

54,37

38,68

60,14

41,25

32,78

Hilir

25,10

18,86

12,78

18,86

24,54

4,58

22,14

37,74

22,50

50,30

 

Sumber: Tim Penyusun NKLD Propinsi DIY tahun 2002

“tanpa pembahasan COD dan BOD”

3. Kasus Tumpahan Minyak

Pada tanggal 14 Juli terbentuk posko di Kantor Pedal Kabupaten Kulonprogo dengan aktivitas melaksanakan pertemuan koordinasi, peninjauan lapangan, konsultasi dengan syahbandar dan Pertamina di Cilacap dan pembicaraan dengan pihak PT Kalla Lines di Jakarta. Pada 19 September 2001 dibentuk Tim Penyelesaian Pencemaran Laut Selatan DIY Akibat Tenggelamnya Kapal MT. Bumi Sarana Milik PT Kalla Lines yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan Gubernur DIY No 10/200111 tanggal 6 November

2001. Tim terdiri dari empat unsur yaitu pemerintah, penderita (nelayan), unsur pencemar (PT Kalla Lines) dan dilengkapi dengan tim verifikasi dari PSLH UGM dan BPPT.

Wawancara dengan nelayan, penduduk pantai, pengelola tambak, mereka belum melihat kejadian luar biasa yang terjadi di lingkungannya, namun dampak jangka panjangnya masih harus diteliti lebih lanjut.

Setelah setahun, berkat campur tangan Gubernur DIY akhirnya pihak pencemar bersedia memberikan goodwill.

4. Flora dan Fauna

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan flora dan fauna antara lain adalah:

Penegakan hukum terhadap pemilikan Elang Jawa.

Melakukan sosialisasi perundang-undangan KSDA dan ekosistemnya, membentuk Forum Konservasi Penyu di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo, pembesaran tukik bersama LSM di pantai selatan.

Membentuk jaringan penyuluhan di kawasan pantai serta mengalihkan kegiatan masyarakat dari kegiatan berburu menjadi kegiatan ekowisata terbatas pada pelepasan tukik.

Vanda

Balai

KSDA

bersama

kelompok

tani

melakukan

penangkaran

anggrek

tricolor.

Untuk menganggulangi serangan kera ekor panjang akibat kerusakan habitatnya adalah dengan penangkapan induk kera untuk dibudidayakan dan dijual ke luar daerah. Disamping itu dilakukan penanaman makanan pakan kera di lokasi. Kendalanya adalah sulitnya penangkapan induk kera, selain itu upaya penanaman kurang berhasil karena pada saat pertumbuhan awal tanaman tersebut sudah rusak oleh kelompok kera.