Anda di halaman 1dari 22

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Berdasarkan atas hasil rilis Transparancy International (TI) menunjukkan bahwa dari tahun 1995-2008 posisi Indonesia berada pada kisaran 6 besar negara terkorup di dunia. Sementara itu menurut survei yang dilakukan oleh Pacific Economic and Risk Consultancy (PERC), menunjukkan bahwa pada tahun 2004-2006 Indonesia menempati urutan pertama, sedang pada tahun 2007 menempati urutan kedua dan tahun 2008 menempati urutan ketiga, sebagai negara terkorup di Asia.

Berbagai perangkat hukum dan kelembagaan telah dibuat dalam rangka pemberantasan korupsi di Indonesia, diantaranya adalah: Undang Undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Ketatapan MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN; Undang Uundang No. 8 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Undang Undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, dan Undang Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu pemerintah Indonesia juga telah mengesahkan instrumen internasional yakni United Nations Convention Against Corruption dalam bentuk Undang Undang No. 7 Tahun 2006 sebagai pengesahan atas Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi. Beberapa pelaku tindak pidana korupsi kini juga sedang diperiksa dan diadili, disamping banyak pula yang sudah dijatuhi hukuman, baik dari kalangan pejabat negara, anggota legislatif, pengusaha, maupun dari kalangan oknum penegak hukum sendiri. Namun hal tersebut ternyata belum dapat menjamin penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Masih diperlukan upaya-upaya lain yang lebih mendasar dalam rangka membentuk karakter dan kepribadian bangsa yang Anti KKN.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

1

Belajar dari pengalaman negara lain yang relatif berhasil memberantas korupsi, selain aspek penegakan hukum, yang tidak kalah pentingnya adalah aspek pencegahan dalam bentuk pendidikan. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) adalah salah satu patologi sosial yang dalam jangka panjang bukan saja merugikan secara ekonomis, namun juga dapat menghancurkan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara, baik dari segi sosial, budaya, politik, dan spiritual. Oleh karena itu, untuk melakukan pemberantasan KKN di Indonesia tidak cukup dengan penegakan hukum semata, tetapi harus disertai dengan upaya yang lebih sistematis dan edukatif yang berorientasi pada penanaman kembali nilai, sikap, dan perilaku terpuji yang bisa menghindarkan diri dari perilaku KKN. Untuk itu perlu dilakukan upaya yang serius dan sistemtis yang dapat menggerakkan semua elemen pendidikan untuk menciptakan semangat dan atmosfer Pendidikan Anti KKN.

Pilihan strategi untuk menanamkan nilai, pola pikir, sikap, dan perilaku Anti KKN melalui pendidikan didasari atas pemikiran bahwa sekolah adalah proses pembudayaan, sebagai lingkungan kedua bagi anak yang dapat menjadi tempat pembangunan karakter dan watak. Karena itu jika sekolah dapat memberikan semangat dan atmosfer yang sengaja diciptakan untuk mendukung internalisasi nilai, sikap, dan perilkau Anti KKN, diyakini akan dapat memberikan sumbangan yang amat berarti bagi upaya menciptakan generasi anak bangsa yang tangguh dan berperilaku Anti KKN. Hal ini seseuai dengan Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa salah satu fungsi dari pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Strategi Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilakukan dengan cara mengintegrasikan beberapa nilai dan perilaku Anti KKN ke dalam: (1) pengembangan materi, metode, media, dan sumber belajar pada setiap mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang relevan; (2) pengembangan berbagai bentuk kegiatan kesiswaan; (3) pembiasaan perilaku di kalangan warga sekolah. Melalui ketiga strategi tersebut diharapkan akan dapat menciptakan

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

2

atmosifr dan budaya sekolah yang menudukung tumbuh dan berkembangnya pola pikir, sikap, dan perilaku Anti KKN di kalangan warga sekolah.

B. Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah untuk:

1. Menanamkan nilai dan sikap hidup Anti KKN kepada warga sekolah.

2. Menumbuhkan kebiasaan perilaku Anti KKN kepada warga sekolah.

3. Mengembangkan kreativitas warga sekolah dalam memasyarakatkan dan membudayakan perilaku Anti KKN.

C. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang ingin dicapai dari Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah:

1. Tertanamnya nilai dan sikap hidup Anti KKN di kalangan warga sekolah.

2. Tumbuhnya kebiasaan perilaku Anti KKN di kalangan warga sekolah.

3. Berkembangnya kreativitas warga sekolah dalam memasyarakatkan dan membudayakan perilaku Anti KKN.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

3

BAB II

PRINSIP DAN PENDEKATAN

A.

Prinsip

Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilaksanakan berdasarkan prinsip- prinsip sebagai berikut:

1. Berorientasi pada Pendidikan Nilai dan Perilaku

Pendidikan Anti KKN di Sekolah pada prinsipnya adalah pendidikan nilai dan perilaku yang lebih menekankan pada aktifitas yang dapat mendorong proses internalisasi nilai, pembentukan sikap, dan pembiasaan perilaku. Dengan demikian orientasi Pendidikan Anti KKN di Sekolah bukan pada penguasaan pengetahuan tentang konsep KKN secara teoritik atau pun normatif. Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah pendidikan watak dan karakter yang bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi yang mempunyai perilaku terpuji yang dapat menjauhkan dari perilaku KKN.

2. Berjenjang dan Berkesinambungan

Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilaksanakan mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/MA/SMK). Penanaman nilai-nilai dan perilaku Anti KKN pada jenjang SD/MI akan terus berlanjut secara berkesinambungan pada jenjang SMP/MTs, kemudian terus berlanjut pada jenjang SMA/MA/SMK. Dengan demikian akan terjadi strategi, pendalaman dan perluasan yang berbeda pada setiap jenjang pendidikan terhadap suatu nilai dan perilaku Anti KKN tertentu. Hal ini berati meskipun nilai dan perilaku Anti KKN yang hendak ditanamkan pada setiap jenjang sama, tetapi strategi, kedalaman dan keluasannya berbeda antara jenjang pendidikan yang ada, disamping memang tidak dapat dihindari adanya pengulangan pada setiap jenjang.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

4

3. Sistematis, Terpadu, dan Terstruktur

Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah bagian dari pembelajaran yang dilaksanakan secara terencana dan tertata yang melibatkan semua unsur sekolah, baik siswa, guru, kepala sekolah, maupun warga sekolah lainnya. Disamping itu juga dikembangkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran secara terpadu, baik pembelajaran di kelas, dalam kegiatan-kegiatan kesiswaan di luar kelas, maupun pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan pembiasaan perilaku.

B.

Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah:

1. Integratif dalam Mata Pelajaran

Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilaksanakan dengan mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Pendekatan ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu:

a. Pada prinsipnya dalam setiap mata pelajaran sudah mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN dengan kadar tertentu yang berbeda, sehingga tinggal memberikan pendalaman dan perluasan.

b. Pada prinsipnya dalam setiap proses pembelajaran dapat dirancang dengan menggunakan metode, media, dan sumber belajar yang mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN tertentu.

c. Pendekatan integratif tidak akan mengganggu proses pembelajaran di kelas, bahkan akan membuat proses pembelajaran semakin aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

d. Pendekatan integrasi tidak akan menambah beban materi dan waktu belajar siswa dan guru yang selama ini sudah cukup padat.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

5

Pada tahap awal dipilih tiga mata pelajaran yang paling relevan dengan Nilai dan Perilaku Anti KKN, yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan Bahasa Indonesia (BI).

2. Integratif dalam Pengembangan Kegiatan Kesiswaan

Pendidikan Anti KKN di Sekolah juga dilaksanakan dengan mengintegrasikan ke dalam pengembangan kegiatan-kegiatan kesiswaan, seperti melalui Majalah Dinding, Koperasi Siswa, Peringatan Hari-hari Besar Nasional dan Keagamaan, Pramuka, Olahraga, dan sebagainya. Pendekatan ini dipilih berdasarkan pertimbangan, yaitu:

a. Kegiatan kesiswaan menuntut adanya pelaksanaan yang didasarkan atas nilai dan perilaku tertentu yang sangat relevan dengan nilai dan perilaku Anti KKN. Jika kegiatan kesiswaan dapat dirancang dengan baik dengan muatan nilai dan perilaku Anti KKN akan dapat dapat menjadi wahana Pendidikan Anti KKN yang sangat efektif.

b. Kegiatan kesiswaan akan memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa untuk melakukan penghayatan dan pengamalan terhadap nilai, sikap, dan perilaku hidup sehari-hari. Sementara itu pengalaman adalah proses belajar yang paling baik, sehingga melalui kegiatan kesiswaan yang dirancang dengan muatan nilai dan perilaku Anti KKN proses internalisasi nilai dan tumbuhnya perilaku Anti KKN akan dapat terjadi secara lebih efektif.

c. Kegiatan kesiswaan akan memberikan pengalaman kepada siswa untuk belajar dengan berbagai sumber, selain guru dan pihak lain dari luar sekolah terutama dengan belajar melalui teman sejawat sesama siswa. Belajar melalui teman sejawat sesama siswa diyakini lebih efektif, karena terjadi dalam suasana kesetaraan dan keleluasaan. Pandangan tentang nilai tertentu dan keputusan sikap yang diambil

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

6

secara leluasa dalam suasana kesetaraan tanpa tekanan akan tertanam lebih kuat dan mendalam.

3. Integratif dalam Pembiasaan Perilaku

Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilakukan pula melalui pembiasaan perilaku yang dapat dikemas dalam berbagai kegiatan dan/atau penciptaan kebiasaan perilaku tertentu. Pembiasaan perilaku ini memerlukan kreativitas dari warga sekolah untuk membuat atmosfir yang bisa mendorong tumbuhnya budaya Anti KKN di sekolah. Untuk itu diperlukan keteladanan, kebersamaan, dan komitmen dari semua warga sekolah. Pendekatan ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu:

a. Pembiasaan perilaku akan dapat menciptakan lingkungan sosial sekolah yang kondusif dalam mempengaruhi perkembangan psikhis, pola pikir, kebiasaan, dn tumbuhnya budaya tertentu. Dengan demikian pembiasaan perilaku Anti KKN di sekolah akan menciptakan lingkungan sosial sekolah yang kondusif dalam mempengaruhi perkembangan psikhis, pola pikir, kebiasaan, dan tumbuhnya budaya perilaku Anti KKN.

b. Pembiasaan perilaku akan melibatkan semua unsur sekolah secara keseluruhan dan simultan, sehingga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama kepada semua warga sekolah terhadap pelaksanaan Pendidikan Anti KKN.

c. Pembiasaan perilaku akan mendukung proses internalisasi nilai dan tumbuhnya perilaku Anti KKN berjalan secara lebih efektif. Pembiasaan akan menciptakan otomatisasi perilaku, sehingga nilai dan sikap Anti KKN dapat lebih melekat pada karakter dan pribadi waga sekolah.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

7

BAB III

STRATEGI INTEGRASI DAN PENGEMBANGAN

A. Integrasi dalam Mata Pelajaran

Pada prinsipnya pengintegrasian nilai-niali dan perilaku Anti KKN bisa

dilakukan ke semua mata pelajaran. Namun pada tahap awal pengintegrasian

dilakukan kepada tiga mata pelajaran yang dipandang paling relevan, yaitu

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, dan

Bahasa Indonesia. Jika dipandang efektif, ke depan model pengintegrasian ini

dapat dijadikan acuan untuk mengintegrasikan pada seluruh mata pelajaran.

1. Identifikasi Nilai dan Perilaku Anti KKN

Indentifikasi nilai dan perilaku Anti KKN dilakukan untuk memberikan

penegasan mengenai nilai dan perilaku Anti KKN yang seperti apa yang

akan ditanamkan melalui matapelajaran di sekolah, sehingga dapat

memberikan kejelasan orientasi dan arah pengintegrasian ke dalam mata

pelajaran yang dimaksud.

Nilai dan perilaku Anti KKN yang diintegrasikan dalam mata pelajaran

dapat diidentifikasi sebagai berikut:

No

Nilai dan Perilaku Anti KKN

Ciri-ciri

1

Mengenal perilaku KKN yang harus dihindari.

a. Mengenal ciri-ciri perilaku KKN yang perlu dihindari.

b. Mengenal ciri-ciri perilaku anti KKN yang perlu dikembangkan.

c. Menunjukkan contoh kasus perilaku KKN yang diketahui di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.

d. Menunjukkan contoh kasus perilaku yang tidak mengandung unsur KKN yang pernah dilakukan siswa.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

8

No

Nilai dan Perilaku Anti KKN

Ciri-ciri

2

Berlaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan adil dalam kehidupan sehari- hari.

a. Berani mengemukakan seuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

b. Terbiasa melakukan sesuatu secara tepat waktu.

c. Terbiasa menyelesaikan sesuatu pekerjaan sesuai dengan tugas tanggung jawabnya.

 

d. Terbiasa berlaku tidak memihak kepada siapa pun dalam melakukan suatu tindakan.

3

Hanya mau menerima sesuatu pemberian sesuai dengan yang menjadi haknya.

a. Menolak sesuatu pemberian yang tidak sesuai dengan haknya.

b. Tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya.

4

Menghormati dan memenuhi hak orang lain.

a. Memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai dengan haknya.

b. Tidak pernah memberikan kepada orang lain sesuatu yang bukan menjadi haknya.

5

Mampu menganalisis sebab dan akibat dari perilaku KKN dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

a. Mampu mengidentifikasi sebab-sebab yang mendorong timbulnya perilaku KKN dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

b. Mampu mengidentifikasi akibat yang ditimbulkan dari perilaku KKN dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

 

c. Mampu mengemukakan alasan perlunya menghindari perilaku KKN dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

6

Memiliki

a. Bangga terhadap perilaku Anti KKN.

kebanggaan

b. Anti terhadap perilaku KKN.

berperilaku Anti

KKN.

 

7

Mengajak teman, saudara, atau orang lain untuk berperilaku Anti KKN.

a. Menyebarluaskan gagasan dan keinginan untuk menghindari perilaku KKN.

b. Menunjukkan komitmen untuk menolak perilaku KKN.

c. Menjadi teladan perilaku Anti KKN.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

9

2.

Identifikasi Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

Pada priusipnya identifkasi SK dan KD dapat dilakukan terhadap semua mata pelajaran. Pada tahap awal Identifikasi dilakukan untuk menemukan sejumlah SK dan KD yang ada dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia yang mengandung muatan Nilai dan Perilaku Anti KKN. Identifikasi SK dan KD ketiga mata pelajaran ini dilakukan terhadap semua jenjang sekolah, yaitu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Identifikasi ini akan menghasilkan sejumlah SK dan KD tertentu yang mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN tertentu. Hasilnya ada niilai dan perilaku Anti KKN tertentu yang terkandung dalam sejumlah SK dan KD tertentu pada ketiga mata pelajaran tersebut di semua jenjang sekolah dan ada yang hanya terkandung dalam sejumlah SK dan KD pada satu atau dua mata pelajaran di salah satu atau dua jenjang sekolah. Contoh hasil identifikasi dan integrasi dari ketiga mata pelajaran tersebut selengkapnya terdapat dalam lampiran Panduan ini.

3. Strategi Integrasi

Pada prinsipnya strategi integrasi bisa dilakukan melalui pengembangan materi, metode, media, dan sumber belajar. Integrasi melalui pengembangan materi terutama dilakukan terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewargenagaraan yang memang sebagian materinya mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN. Sedangkan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia pengintegrasian lebih diutamakan melalui pengembangan metode, media, dan sumber belajar. Integrasi melalui pengembangan metode, media, dan sumber belajar juga harus dilakukan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Integrasi melalui pengembangan materi dilakukan dengan memberikan penonjolan, penajaman, pendalaman, atau perluasan materi pembelajaran yang terkait dengan nilai dan perilaku Anti KKN tertentu sesuai dengan

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

10

tingkat perkembangan intelektual siswa yang ada pada setiap jenjang sekolah. Dengan demikian suatu nilai dan perilaku Anti KKN tertentu akan dikembangkan secara berbeda pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Meskipun dikembangkan secara berbeda, namun tetap berkesinambungan dan berkelanjutan.

Integrasi melalui pengembangan metode dilakukan dengan memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang bisa mendorong terjadinya internalisasi nilai dan tumbuhnya sikap dan perilaku Anti KKN, seperti jujur, disiplin, adil, tanggung jawab, dan sebagainya. Beberapa metode seperti diskusi, bermain peran, demonstrasi, simulasi, curah pendapat, dan sebagainya perlu didesain dengan skenario yang dapat mendorong terjadinya proses internalisasi nilai dan tumbuhnya sikap dan perilaku Anti KKN tertentu.

Integrasi melalui media dan sumber belajar dengan memilih penggunaan media dan sumber belajar yang mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN tertentu dilakukan baik untuk materi pembelajaran yang secara langsung mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN dimaksud maupun tidak. Beberapa media dan sumber belajar tersebut diantaranya adalah gambar, foto, video, berita media massa, puisi, sajak, cerpen, prosa, pantun, dan sejenisnya yang berkaitan dengan KKN.

B. Pengembangan Kegiatan Kesiswaan

Pengembangan Pendidikan Anti KKN dalam kegiatan kesiswaan dimaksudkan untuk mendorong terjadinya internasilasi nilai dan tumbuhnya sikap dan perilaku Anti KKN melalui aktivitas dan pengalaman nyata siswa. Pada prinsipnya semua kegiatan kesiswaan secara instrinsik mengandung muatan nilai dan perilaku Anti KKN dengan kadar yang berbeda. Namun jika tidak dikembangkan secara sengaja dan terencana tidak akan dapat tumbuh dan berkembang secara efektif. Kegiatan kesiswaan yang dimaksud baik kegiatan kesiswaan yang selama ini sudah ada dan dilaksanakan maupun yang baru akan diadakan dan dilaksanakan, baik yang dilaksanakan secara rutin maupun

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

11

insidental. Beberapa kegiatan kesiswaan tersebut diantaranya adalah: (a) Kepengurusan OSIS; (b) Pramuka; (c) Kopsis; (d) PMR; (e) Majalah Dinding atau Majalah Sekolah/Siswa; (f) Peringatan Hari-hari Besar Nasional dan Keagamaan; (g) Pentas Seni; (h) Pertandingan Olahraga, dan sebagainya.

1. Identifikasi Nilai dan Perilaku Anti KKN

Nilai dan perilaku Anti KKN yang ditanamkan melalui pengembangan

kegiatan kesiswaan dapat diidentifikasi sebagai berikut:

a. Menunjukkan sikap obyektif, berorientasi pada kualitas kepribadian dan kemampuan profesional dalam memilih calon pengurus atau pemimpin.

b. Melaksanakan tugas atau pekerjaan sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab penuh keikhlasan dan rasa pengabdian.

c. Menunjukkan sikap terbuka dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan bersama.

d. Menunjukkan sikap terbuka dalam mengelola anggaran keuangan kegiatan.

e. Memiliki motivasi dan kreatifitas yang tinggi dalam mengemukakan gagasan Anti KKN.

f. Memiliki keberanian yang kuat untuk ikut serta melakukan pemberantasan tindak KKN.

g. Memiliki wawasan dan pola pikir yang mantap dan luas mengenai perilaku Anti KKN.

h. Menunjukkan penghayatan dan apresiasi yang mendalam mengenai perilaku Anti KKN.

i. Memiliki berbagai sikap terpuji yang dapat menghindarkan diri perilaku KKN.

j. Memiliki perasaan dan kesan yang kuat untuk menghindar dari perilaku KKN.

2. Strategi Pengembangan

Pengembangan pendidikan Anti KKN melalui kegiatan kesiswaan dilakukan dengan strategi sebagai berikut:

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

12

a. Melaksanaan pemilihan kepengurusan organisasi kesiswaan (OSIS, Pramuka, PMR, Kopsis, dll) dan panitia kegiatan dilaksanakan secara demokratis dan obyektif sesuai dengan ketentuan peraturan dengan mengutamakan kemampuan dan kualitas siswa tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur subyektif yang mengarah kepada KKN. Untuk itu perlu ditetapkan dan diumumkan secara terbuka syarat-syarat yang menonjolkan kualitas kepribadian dan kemampun profesional dari calon. Perlu dikembangkan pula sistem dan tata cara pemilihan secara terbuka disertai dengan penyampaian alasan yang obyektif dan rasional.

b. Memastikan bahwa setiap anggota pengurus organisasi kesiswaan (OSIS, Pramuka, PMR, Kopsis, dll) dan kepanitiaan kegiatan melaksanakan tugas pekerjaan masing-masing sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dengan penuh dedikasi keikhlasan dan rasa pengabdian. Untuk itu setiap pengurus atau kepanitiaan perlu menuliskan setiap jenis pekerjaan yang telah dilakukan dalam jurnal kegiatan individual pengurus atau panitia yang sewaktu-waktu dapat dicek oleh siapa pun.

c. Semua hasil keputusan rapat, setiap rencana, proses pelaksanaan, dan hasil kegiatan kesiswaan diumumkan secara tertulis di dalam Papan Informasi Kegiatan Siswa secara terbuka. Untuk itu setiap proses dan hasil keputusan rapat ditulis dalam berita acara yang ditandatangani dan disahkan oleh pengurus atau panitia kegiatan.

d. Setiap kegiatan kesiswaan harus disertai dengan rencana anggaran kegiatan secara rinci, dan setiap selesai pelaksanaan kegiatan sesegera mungkin atau secepatnya ditulis laporan keuangan sesuai dengan apa adanya memuat rincian segala jenis penerimaan dan pengeluaran secara lengkap disertai dengan bukti-bukti yang sah. Rencana dan realisasi anggaran sebagaimana tertuang dalam laporan keuangan kegiatan tersebut diumumkan di Papan Informasi Kegiatan Siswa disertai dengan foto copy semua bukti penerimaan dan pengeluarannya.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

13

e. Menyediakan rubrik Anti KKN sebagai rubrik tetap di samping rubrik- rubrik lainnya dalam Majalah Dinding Siswa. Rubrik ini diisi secara bergiliran oleh setiap kelas. Pengisian rubrik Anti KKN ini bisa dilombakan dan diberikan penghargaan dan/atau hadiah yang menarik bagi para pemenangnya. Penilaian dalam lomba dilakukan secara obyektif dan transparan. Hasil penilaian secara rinci dimumkan dalam rubrik itu pula. Lomba bisa dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk beberapa edisi secara bersambung. Rubrik Anti KKN bisa diisi dengan kisah nyata, karikatur, puisi, sajak, cerpen, cerita bergambar, opini atau ulasan dan sebagainya. Jika sekolah juga menerbitkan Majalah Siswa/Sekolah rubrik Anti KKN ini juga harus dijadikan rubrik tetap.

f. Pada peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan bisa dilakukan berbagai lomba yang mengandung muatan Anti KKN. Seperti lomba pidato Anti KKN, pembuatan dan pembacaan Puisi Anti KKN, menulis cerpen Anti KKN, membuat poster Anti KKN, membuat cergam Anti KKN, membuat karikatur Anti KKN, lomba cipta lagu Anti KKN, dan sebagainya. Hasil berbagai lomba tersebut, terutama poster, puisi, karitakur, cergam, sajak atau yang lainnya dapat dipasang secara permanen di sudut-sudut sekolah, sehingga dapat menumbuhkan rasa kebanggaan melestarikan memori Anti KKN pada diri siswa.

g. Pada saat-saat tertentu, baik pada saat peringatan hari besar nasional atau hari besar keagamaan maupun setiap saat bisa dilakukan dialog, ceramah, diskusi, seminar, atau kegiatan sejenis bertemakan Anti KKN dengan mengundang nara sumber yang berkompeten dari luar sekolah, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Pengacara, Ulama, mantan Narapidana KKN, Mahasiswa, atau sumber-sumber lain yang bisa memberikan pencerahan, tambahan wawasan, memotivasi semangat, dan mendorong tumbuhnya perilaku Anti KKN.

h. Pada akhir atau awal tahun pelajaran dilaksanakan Pentas Seni Siswa dengan menampilkan kreatifitas dan apresiasi siswa di berbagai

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

14

bidang seperti drama, pantomim, puisi, lagu, dan sebagainya yang mengandung nilai dan perilaku anti KKN. Selain itu juga bisa dilaksanakan pameran hasil karya siswa dengan menampilkan produk unggulan dari sekolah .Pelaksanaan pameran hasil karya dapat dirancang dengan memberikan muatan nilai dan prilaku anti KKN.

i. Berbagai kegiatan dan kejuaraan olah raga perlu ditekankan pada internalisasi nilai dan penumbuhan sikap yang mendukung perilaku Anti KKN, seperti kerja keras, disiplin, sportifitas, taat aturan, anti kecurangan, beroirentasi pada prestasi, sabar, jujur, dan sebagainya. Sosialisasi pemberian pemahaman kepada siswa tentang lebih pentingnya beberapa sikap dan perilaku tersebut dibanding hanya sekedar mengejar kemenangan dalam pertandingan perlu selalu dilakukan. Karena itu penilaian terhadap kegiatan dan kejuaraan olahraga siswa yang selama ini hanya berdasarkan pada hasil kemenangan dalam pertandingan perlu diubah dengan penilaian yang berdasarkan kriteria beberapa sikap dan perilaku di atas. Dengan demikian yang meraih juara bukan lagi mesti yang menang dalam pertandingan, tetapi bisa yang terbaik, kerja keras, yang paling disiplin dan taat aturan, paling jujur, paling sportif, dan sebagainya.

j. Penanaman nilai dan perilaku Anti KKN juga bisa dilakukan melalui kegiatan kunjungan lapangan untuk mengetahui secara faktual peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan KKN, seperti menyaksikan sidang peradilan kasus KKN, menyaksikan Sidang Pleno DPRD yang membahas tentang RAPBD, kunjungan ke LP, yang terdapat narapidana KKN dan sebagainya. Kegiatan ini akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat, mendengar, dan mungkin ikut merasakan sendiri berbagai peristiwa yang berkaitan dengan KKN sehingga dapat memberikan kesan yang lebih mendalam.

Disamping berbagai kegiatan di atas masih banyak berbagai kegiatan kesiswaan lainnya yang dapat dikembangkan dengan desain yang bisa menjadi strategi bagi Pendidikan Anti KKN di sekolah. Pilihan bentiuk dan

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

15

strategi kegiatan kesiswaan ini tergantung dari kondisi riil dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing sekolah.

C. Pembiasaan Perilaku

Pengembangan pendidikan Anti KKN melalui pembiasaan perilaku di sekolah dimaksudkan untuk menciptakan atmosfir dan menumbuhkan budaya Anti KKN di lingkungan sekolah. Melalui pembiasaan perilaku akan terjadi pengulangan perilaku secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama, sehingga perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang tersebut lambat laun secara pasti akan memibiasa dan membudaya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Identifikasi Nilai dan Perilaku Anti KKN

Nilai dan perilaku Anti KKN yang ditanamkan melalui pembiasaan perilaku dapat diidentifikasi sebagai berikut:

a. Memiliki semangat dan komitmen Anti KKN yang kuat.

b. Berperilaku

terbuka,

kepentingan umum.

tanggung

jawab

dan

menjunjung

tinggi

c. Berperilaku jujur pada diri sendiri dan orang lain dalam melakukan transaksi.

d. Berperilaku hanya mau menerima sesuatu yang memang menjadi hak atau miliknya atau tidak mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

2. Strategi Pembiasaan

a. Penyampaian Komitmen Anti Korupsi dalam Upacara

Proses pembiasaan perilaku Anti KKN memerlukan adanya komitmen yang kuat dan tahan lama. Hal ini berarti perlu membangun komitmen secara terus menerus dengan berkelanjutan. Upaya membangun komitmen ini bisa dilakukan dengan cara membacakan naskah “Komitmen Anti KKN” pada setiap kegiatan upacara, baik upacara setiap hari Senin, upacara setiap tanggal 17, maupun upacara pada hari-hari besar nasional. Pembacaan naskah “Komitmen Anti Korupsi” bisa dilakukan oleh salah satu siswa untuk kemudian ditirukan oleh

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

16

semua peserta upacara. Caontoh naskah “Komitmen Anti KKN” sebagaimana terlampir. Dengan pembacaan naskah komitmen ini akan dapat menciptakan kondisi yang mendorong terjadinya pembiasaan terhadap perilaku Anti KKN.

b. Pengadaan Kas Sosial Kelas

Pembiasaan perilaku Anti KKN juga dapat dilakukan melalui pengadaan Kas Sosial Kelas. Kebiasaan mengelola keuangan Kas Sosial Kelas secara jujur, transparan, dan penuh tanggung jawab akan dapat membentuk pembiasan terhadap perilaku tersebut. Lebih dari itu dengan Kas Sosial Kelas dapat membiasakan siswa untuk menjunjmung tinggi dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

c. Pengembangan Kantin Kejujuran

Kejujuran adalah salah satu sikap utama yang mempunyai sumbangan besar terhadap perilaku Anti KKN. Dengan demikian, pembiasaan perilaku Anti KKN berarti juga pembiasaan terhadap sikap kejujuran. Pembiasaan sikap kejujuran ini salah satunya dapat dilakukan melalui Kantin Kejujuran yang dikelola dengan semangat kejujuran yang tinggi. Rancangan model Kantin Kejujuran ini dapat didesain sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing dengan tetap memperhatikan perlunya ada mekanisme kontrol atau pengawasan. Mekanisme kontrol atau pengawasan bisa dibuat, salah satunya dengan menyediakan buku transasksi mandiriuntuk mencatat segala jenis transaksi (barang yang dibeli, jumlahnya, harganya, uang pembayarannya, uang kembaliannya, dan sebagainya) secara mandiri oleh siswa yang membeli.

d. Pengadaan Pos Kehilangan dan Benda Tak Bertuan

Salah satu perwujudan sikap jujur adalah tidak mau memiliki sesuatu benda apa pun yang bukan miliknya, meskipun benda itu hasil temuan dan ternyata tidak ada yang memiliki. Pembiasaan sikap ini sangat

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

17

efektif dan relevan untuk dapat menghindari perilaku KKN. Salah satu upaya untuk membiasakan sikap tersebut adalah dengan mengadakan Pos Kehilangan dan Benda Tak Bertuan. Pos ini berfungsi sebagai tempat penampungan benda-benda yang ditemukan oleh setiap warga sekolah, baik yang ada pemiliknya maupun tidak ada pemiliknya. Warga sekolah yang merasa kehilangan sesuatu setiap saat bisa datang ke Pos tersebut untuk mencari apakah barang miliknya yang hilang ada ditemukan orang lain dan diserahkan ke Pos tersebut. Tata cara dan mekanisme kerja pada Pos Kehilangan dan Barang Tak Bertuan ini bisa dirancang dengan semangat prasangka baik, namun harus disertai dengan mekanisme klarifikasi dengan mencatat identitas diri dan barang yang miliknya yang diambil, bagi seseorang yang mengaku kehilangan barang harus menyebutkan ciri-ciri, warna, atau bentuk barang yang dimaksud.

e. Salam dan Yel-yel Anti KKN

Pembiasaan perilaku Anti KKN harus disertai dengan penciptaan

atmosfir yang mendukung. Atmosfir Anti KKN bisa diciptakan melalui pembiasaan “Salam” dan “Yel-yel” yang secara ekstrim dan eksplisit menolak perilaku KKN. Salam Anti KKN bisa dikembangkan melalui

pembiasaan pemberian salam seperti “KKN

Yes!” Setiap warga sekolah yang berjumpa di jalan atau tempat-tempat

lain, atau dalam pertemuan-pertemuan warga sekolah, atau bahkan pada saat akan memulai dan mengakhiri pembelajaran di kelas, setelah pemberian salam secara keagamaan dengan “Assalamu’alaikum – Wa’alaikum Salam” atau setelah ucapan salam “Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam” dilanjutkan dengan pemberian salam dengan ”

kepalan tangan ke atas; “Anti KKN

ucapan: “KKN

sambil menaikkan

No!”, “Anti KKN

yang dijawab dengan “No ”

yang dijawab dengan “Yes

”.

sambil menurunkan kepalan tangan ke bawah. Pemberian salam dan

jawabannya dilakukan dengan suara tegas penuh semangat.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

18

f. Pemasangan Poster atau Karikatur

Penciptaan atmosfir Anti KKN di sekolah juga dapat dilakukan dengan pemasangan poster atau karikatur yang mengandung nilai dan perilaku Anti KKN. Poster memuat slogan yang berupa kata-kata hikmat yang bermakna dan menimbulkan kesan mendalam. Poster hendaknya merupakan hasil karya siswa dan dipasang secara cantik di sudut-sudut ruang atau gedung sekolah sehingga juga dapat menambah keindahan. Begitu pula karikatur. Pengadaan karikatur Anti KKN bisa dilakukan dengan mengadakan lomba di antara para siswa. Jika poster dan karikatur Anti KKN karya siswa tersebut di pasang di sudut-sudut ruang atau geduang sekolah akan menumbuhkan rasa bangga pada diri siswa yang selanjutnya dapat memperkuat komitmen Anti KKN pada dirinya.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

19

BAB IV

KRITERIA KEBERHASILAN DAN EVALUASI

A. Kriteria Keberhasilan

Disadarai oleh semua pihak, bahwa Pendidikan Anti KKN di Sekolah yang dimaksudkan untuk membentuk siswa berperilaku perilaku terpuji sehingga dapat menghindarkan diri dari perilaku KKN, memerlukan waktu yang panjang serta komitmen dan dukungan dari semua pihak. Karena itu kriteria yang dapat dijadikan panduan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah adalah sebagai berikut:

1. Secara kuantitas terdapat sekolah dalam jumlah yang terus bertambah secara signifikan dari waktu ke waktu yang melaksanakan Pendidikan Anti KKN. Pendidikan Anti KKN adalah sebuah gerakan yang diharapkan menjangkau seluruh sekolah di wilayah Jawa Timur. Hal ini tentu memerlukan partisipasi yang semakin meluas secara kuantitas.

2. Secara kualitas terdapat pengembangan pola pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah baik dalam hal pelibatan unsur dan komponen sekolah, maupun perluasan integrasi menuju ke semua mata pelajaran yang ada serta pengembangan strategi melalui kegiatan kesiswaan dan pembiasaan perilaku sesuai dengan potensi dan kondisi sekolah, sehingga dapat ditemukan pola pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah yang bervariasi.

3. Adanya dukungan kebijakan yang memadai dari Pemerintah Daerah, baik Kabupaten/Kota maupun Propinsi. Dukungan kebijakan ini meliputi aspek pemberian payung hukum (regulasi) baik dalam bentuk Peraturan Daerah, Keputusan Gubernur/Bupati/Wali Kota, maupun dalam bentuk Program Kerja dari Dinas Pendidikan. Dukungan kebijakan meliputi pula aspek manajemen dan pendanaan dengan pemberian dana stimulan bagi sekolah- sekolah yang melaksanakan Pendidikan Anti KKN.

4. Adanya keterlibatan dari pihak-pihak lain di luar sekolah dan lembaga pendidikan dalam pelaksanaan Pendidikan Anti KKN, seperti dunia usaha,

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

20

Ormas, dan instansi terkait. Keterlibatan tersebut dapat berupa pemberian sponsor, penyediaan nara sumber, dukungan fasilitas, atau pun gagasan dan pemikiran.

B.

Evaluasi

Berdasarkan

rumusan

kriteria

keberhasilan

di

atas,

maka

evaluasi

terhadap pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah dilakukan untuk:

1. Mengidentifikasi dan mengkompilasi jumlah sekolah yang melaksanakan Pendidikan Anti KKN di setiap jenjang;

2. Menilai peningkatan jumlah sekolah yang melaksanakan Pendidikan Anti KKN dari waktu ke waktu.

3. Mengidenfitikasi pola integrasi Pendidikan Anti KKN yang dilaksanakan di setiap sekolah.

4. Menilai pengembangan pola integrasi Pendidikan Anti KKN yang dilaksanakan di setiap sekolah.

5. Mengidentifikasi bentuk dukungan kebijakan dari masing-masing Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah.

6. Menilai efektifitas dukungan kebijakan dari masing-masing Pemerintah Daerah terhadap pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah.

7. Mengidentifikasi bentuk dukungan dari instansi terkait, dunia usaha, ormas, dan pihak-pihak lain dalam pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah.

8. Menilai efektifitas dukungan dari instansi terkait, dunia usaha, ormas, dan pihak-pihak lain terhadap pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah.

Untuk pelaksanaan evaluasi di atas selanjutnya perlu dirumuskan instrumen evaluasi dalam bentuk angket, format observasi dan dokumentasi, dan bentuk instrumen lainnya yang relevan. Pelaksnaan evaluasi dilakukan melalui monitoring secara berkala dan berkesinambungan.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

21

BAB V

PENUTUP

Panduan pelaksanaan ini disusun dengan harapan dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah. Implementasi lebih lanjut dari Panduan ini sangat tergantung dari komitmen dan dukungan dari semua pihak. Sekolah juga perlu mengembangkan lebih lanjut sesuai dengan potensi dan kondisi nyata di setiap sekolah masing-masing sehingga dalam pelaksanaannya akan ditemukan variasi pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah yang kontekstual.

Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah harus betul-betul memegang teguh prinsip bahwa Pendidikan Anti KKN adalah pendidikan yang berorientasi pada nilai dan perilaku yang harus dilaksanakan secara berjenjang dan berkesinambungan secara sistematis, terpadu, dan terstruktur. Pendekatan integratif ke dalam mata pelajaran, pengembangan melalui kegiatan kesiswaan, dan pembiasaan perilaku dalam implementasinya harus dikembangkan sendiri oleh masing-masing sekolah.

Keberhasilan pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah bisa diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif dari keberadaan sekolah yang melaksanakannya. Pengukuran juga dilakukan dari aspek dukungan kebijakan Pemerintah Daerah baik dalam bentuk regulasi, program kerja, maupun penyediaan dana stimulan. Seberapa jauh keterlibatan instansi terkait, dunia usaha, ormas, dan pihak-pihak lain juga menjadi kriteria atau ukuran keberhasilan tersendiri.

Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah memang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing sekolah yang bersangkutan. Untuk itu diperlukan partisipasi semua pihak melalui pembinaan, pendampingan, dan pemantauan berkala yang terprogram.

Demikian, semoga panduan ini disusun untuk dapat digunakan acuan bagi sekolah dan pihak-pihak yang lain yang mempunyai keterkaitan dengan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah. Panduan ini akan diperbaiki secara berkala sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan dan kebijakan yang ada.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Anti KKN di Sekolah

22