Anda di halaman 1dari 7

BAB I MENGENAL ISLAM

Oleh : Muliadi Kurdi Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

Doktrin Syariah

Islam adalah sebuah agama (a religion) dan sekaligus agama (the religion). Sebagai agama, Islam memiliki seperangkat doktrin yang dijabarkan dalam teologi dan seperangkat hukum yang tumbuh melalui syariah, inilah wajah Islam yang historis dan khas. Secara epistimologi kata doktrin itu bermakna ajaran yang terikat dengan aliran dalam sebuah agama. Dalam istlah bahasa Yunani doktrins adalah dogmata atau dokein yang berarti berfikir, pendapat, dan berpendirian kemudian beralih pada makna keyakinan atau azas. Dalam Islam istilah doktrin dapat disetarakan dengan ajaran seperti tauhid, ushuluddin, dan akidah. Untuk itu, doktrin1merupakan masalah penting yang harus dipahami jika ingin menelusuri dan mengikuti semua ketentuan syariah, itu adalah prinsip. Setiap manusia yang telah berada dalam oase ini harus menanamkan kepercayaan yang dibangun oleh syariah tersebut. Jantung hati Islam itu tidak lain kecuali penyaksian tentang ke-Esaan Tuhan, universalitas kebenaran, kemutlakan untuk tunduk kepada kehendak Tuhan,

pemenuhan akan segala tanggung jawab manusia, dan penghargaan kepada hak-hak seluruh makluk hidup. Ingat tentang siapa diri manusia itu sendiri, mengapa dan kemana ia akan lanjutkan perjalan setelah hidup merupakan eksistensi Islam yang hakiki yang terangkul dalam prinsip-prinsip syariah.

Yang dimaksud dengan dogma di sini adalah doktrin, akidah atau doktriner yang artinya taqlid. Dogma (Yun: dogma: dogmata dari dokein = berfikir) artinya, pendapat, pendirian kemudian diartikan sebagai keyakinan atau azas. atau dapat juga diartikan kumpulan resmi tentang teologi dalam agama. Hasan Sadily, Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: Edisi khusus, tt.), 848.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pengakuan terhadap eksistensi Tuhan merupakan salah satu ketentuan syariah yang paling urgen. Di mana seseorang harus mengakui dengan jiwa dan raga bahwa Tuhan itu satu-satunya yang berhak dipuji dan disembah. Artinya menghapus kontradisi batin terhadap eksistensi Tuhan, hanya Dia satu-satunya tempat bergantung (Qs. 2: 112). Prinsip ini hanya dapat dipahami oleh manusia yang telah terbebani dan memahami hukum syariah, baik dalam kehidupan individual maupun sosial. Pada taraf sosial hukum syariah dapat diketahui melalui problematika mu'amalat, sementara pemahaman hukum syariah pada taraf individual dapat diketahui melalui hukum syariah ibadah. Perbedaan yang paling menonjol antara dua pembebanan hukum syariah itu, yaitu pada hukum syariah yang terkait dengan mu'amalah. Pada taraf ini akan terjadi penyelarasan antara hamba dengan hamba, sementara hukum syariah yang terkait dengan individual akan terjadi penyelarasan antara hamba dengan Tuhan. Perbedaan antara kedua bentuk hukum syariah itu bukan berarti adanya pengkotomisan antara keduanya bahkan perbedaan itu akan melahirkan kesempurnaan hukum syariah itu sendiri. Para ahli agama mencoba memberi pengertian tentang taqlid atau iman. Pada abad pertengahan, istilah yang terkenal, fides quaerens intellectum atau ada juga yang memberi pengertian faith seeking understanding. Istilah yang sangat penting dalam perkembangan filsafat agama ini, seperti dinukilkan dalam pengantar Budhy Munawwar-Rachman, pada mulanya difokuskan oleh st. Agustinus, dan kemudian menjadi terkenal lewat st. Aselmus. Isu penting perlunya iman mendapatkan rasionalitas ini, pada abad pertengahan, menjadi bagian integral perjumpaan agama dan filsafat hingga saat ini. Menumbuhkan kesadaran tauhid atau iman seseorang itu tidak mungkin dicapai kecuali melalui syariah. Syariah itu tidak dipahami sebagai hukum positif yang konkret, tetapi juga suatu kumpulan nilai dan kerangka kehidupan agama bagi orang Muslim. Kitab-kitab fikih yang ditulis oleh fuqaha terdahulu berisikan hukum-hukum syariah spesifik, tetapi syariah itu sendiri juga mencakup ajaran-ajaran etika dan spiritual yang

tidak bersifat hukum secara khusus walaupun hukum tidak pernah terpisah dari moral dalam Islam. Alquran sebagai kitab pedoman hidup manusia (hudal linnas), dan hadis sebagai penafsir utama dari kitab suci itu banyak menyinggung tentang eksistensi syariah. Salah satu yang sangat urgen ditetapkan syariah adalah mengajarkan manusia mengenal Sang Pencipta, menghargai Nabi-Nya, menghargai kedua orang tuanya, berbuat baik pada guru, berbuat baik pada tetangga, dermawan, selalu berkata benar, menepati janji, dan jujur dalam segala urusan. Keseluruhan etika Islam, pada tataran individual dan sosial (muamalah) dihubungkan dengan syariah, sementara penyucian jiwa atau diri manusia dari sudut pandang syariah itu harus menempuh jalan spiritual, namun tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan syariah. Seperti disinggung sebelumnya bahwa patuh tunduk terhadap ketentuan syariah itu merupakan etika Islam. Hal ini baik dilakukan oleh individual atau sosial. Membina hubungan kekerabatan antarkelompok atau individual merupakan salah satu dari tujuan itu, bahkan ini menjadi salah satu sunnah hidup manusia yang sering disebut-sebut Alquran, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal." (Qs. 26: 13) Ayat ini menerangkan kefitrahan manusia sebagai satu kesatuan kelompok sosial, yakni satu sama lain saling berdamai dan tidak saling bermusuhan. Prinsip ini salah satu prinsip syariah yang telah menjadi tradisi manusia dan perlu dijaga ekstensitasnya sehingga terjalin interaksi sosial yang baik tanpa diwarnai perbedaan dan pemusuhan antarsuku atau ras. Tuhan dalam konteks ayat di atas menginginkan manusia hidup damai, penuh keakraban. Kondisi ini tentu sulit dilalui manusia ketika dirinya itu belum memilki syariah dan iman. Kedua unsur inilah yang membuat manusia itu damai, baik dengan dirinya sendiri, maupun dalam hidup social kelak. Karena itulah, orang bijak berkata, Setiap peperangan yang terjadi di kalangan masyarakat, baik bersenjata atau tidak, sebenarnya refleksi dari peperangan internal individual yang terbelah struktur

kepribadiannya, yaitu tidak sejalan antara yang lahir di wajahnya dan bathin dalam benaknya. Jika belum mampu menyatukan antara internal individual yang terbelah maka kedamaian juga tidak pernah akan terwujud hingga manusia berfikir seperti dikehendakinya, berkata seperti dipikirkan, dan berbuat seperti dikatakan. Sebaliknya, ketika prinsip-prinsip itu dapat disatukan dan terealisasi dalam kehidupan sosial maka akan tampak baik bagi kehidupan seluruhnya. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah Swt. "Dan tidak ada celah sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang berbuat baik." (QS. At-Taubah (9): 92) Alinea di atas disinggung bahwa ada tidaknya kedamaian itu sangat erat kaitannya dengan doktrin atau iman yang telah mengakar dalam kehidupan individual dan sosial. Refleksi iman yang dimiliki oleh masyarakat itu akan tampak dan dapat diukur dari setiap gerak-geriknya. Jika taat beribadah, rajin bekerja, berbuat baik pada tetangga, selalu berbaik sangka pada orang lain, memberi sedekah dan selalu berkata benar, itu menandakan dia adalah orang baik yang patuh pada hukum syariah. Demikian sebaliknya bahwa ukuran manusia tidak baik dapat diukur dari sikap buruknya, mengedepankan materialis, tamak rakus, sombong dan lain sebagainya. Sisi ini akan tampak jelas terlihat adanya perbedaan status sosial masyarakat seperti adanya dikotomis antara yang alim dan yang tidak alim, yang mulia, dan yang hina, yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah. Pelanggaran terhadap hukum syariah yang telah menjadi doktrin Muslim, akan dikecam keras dengan sebutan kafir (bebas dari ketentuan syariah). Ganjaran ini diberikan kepada seseorang agar konsisten dalam hukum syariah. Bahkan tidak hanya itu, jika ada orang tidak konsisten terhadap syariah secara tegas Islam menyatakan hukuman bahwa dia harus dibunuh. Dengan demikian syariah menghendaki adanya pendirian dan kedisiplinan dalam beragama. Hidup damai, membangun kemaslahatan umat manusia dan menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap sesama merupakan salah satu yang paling urgen dari syariah seperti tersebut sebelumnya. Prinsip ini merupakan salah satu prinsip yang dibagun oleh

Alquran yaitu prinsip saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS. Al-Balad (90): 17) Ayat member penjelasan bahwa dalam menjalani hidup ini, manusia hendaknya tidak keluh kesah (halua) terutama dalam ketika ditimpa musibah karena itu cobaan hidup. Karena sunnah hidup ada yang mungkin, ada yang harus, dan ada yang tidak mungkin dicapai sama sekali, tetapi jika dikehendeki oleh-Nya yang tidak mungkin itu menjdi mungkin. Prinsip ini hanya diakui oleh sebagian orang yang memiliki akidah, beriman, dan memahami doktrin-doktrin syariah. Dalam hadis ini diawali kata tidak mungkin, Tidak mungkin bagi manusia akan memperoleh kebahagiaan hidup dan kesempurnaan iman bilamana ia tidur dalam keadaan kenyang sedangkan saudaranya tidur dalam keadaan lapar....(hadis) Jabir as., mengungkapkan bahwa Rasulullah bersabda, Termasuk perbuatan yang mendatangkan rahmat Allah adalah memberi makanan kepada sesama Muslim yang miskin. (H.R. Hakim)2 Abdullah bin 'Amr mengungkapkan bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa memberi makan kepada saudaranya yang lapar hingga mengenyangkannya

memberinya minum hingga menyengarkannya, Allah akan menghindarkannya dari neraka sejauh 7 tombak. Jarak satu tombak adalah sejauh perjalanan 500 tahun. (H.R. Thabrani, Ibn Hibban dan Hakim)3 Abu Sa'id Al-Khudri mengungkapkan bahwasanya Rasulullah bersabda, Tiada seorang Mumin yang memberi makan saudaranya yang kelaparan, kecuali di hari kiamat Allah akan memberi makan kepadanya dengan buah-buahan Surga. Dan tiada seorang mumin memberi minum saudaranya yang kehausan, kecuali ia di hari kiamat Allah akan memberinya minum dengan Rahiq Makhnum. Dan tiada seorang Mumin yang memberi pakaian kepada saudaranya yang telanjang kecuali di hari kiamat Allah akan memberinya pakaian dari pakaian ahli surga. (H.R. Tirmizi) 4
Hadits di atas diterangkan,An Jabir radhiyallahu ahu an al-Nabi saw., Qala: Min mujubati ar-ramati idz-ami alMuslim al-miskin. (H.R. Hakim) An Abdillah bin Amrin radhiallahu anhuma Man adama akhahu hatta yusybiahu, wa saqahu min al-m-i hatta yurwiyahu b'adahu Allahu min an-Nari saba khanadiqa ma baina kulli khudaqaini masiratu khamsimiati ammin. (HR. alThabarani, Ibn Hibban dan al-Hakim) An Abi Said radhiyallahu anhu qala: Qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallama,; Aiyuma Muminn at-ama muminn ala juin ataamahu Allahu yawmal qiyamati min tsimril Jannati, wa aiyuma muminin saqa muminn ala thamain saqahullahu yawmal al-qiymati min ar-Rahiqi al-makhtum, wa aiyuma muminin kasa muminn ala uryin kasahu Allahu yawma al-qiyamati min hulali al- Jannah (HR. Turmizi). Sayyid Muhammad bin Alwi 'Abbas al-Maliki al-Hasanil Makki,
4 3 2

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang pentingnya usaha manusia untuk meningkatkan amal keimanan. Usaha ini tidak akan mungkin dilakukan jika ia tidak mempunyai hasrat dan petunjuk Tuhan. Oleh karena itu, orang beriman dan memahami doktrin syariah selalu berdoa agar diteguhkan hatinya dalam syariah Allah (dinullah). Zakat dan sedekah merupakan pejabaran atau refleksi dari keimanan. Seseorang akan memberikan zakat atau sedekah itu karena ia yakin terhadap hukum syariah. Dalam Alquran kata zakat itu tersebut 32 kali bahkan sebanyak 82 kali diulangulang dengan memakai kata-kata yang sinonim dengannya yaitu sedekah dan infaq artinya baik sedekah maupun infaq mengandung fungsi yang sangat penting. Kemudian dari 32 kata zakat yang ada, 29 di antaranya bergandengan dengan shalat hal ini memberi isyarat tentang erat hubungan ibadah zakat dan shalat. Ibadah shalat merupakan perwujudan hubungan dengan Tuhan. Sedangkan zakat merupakan perwujudan dengan Tuhan dan sesama manusia. Membagun rasa kecintaan atau kasih sayang terhadap manusia miskin, lewat zakat atau sedekah merupakan satu dari prinsip-prinsip syariah, dan ini juga merupakan bahagian dari doktrinernya. Para pemuka Islam sepakat akan mengancam orang-orang yang lalai mengeluarkan zakat dan sadaqah, salah satunya adalah sahabat Umar ra. Ada beberapa tujuan syariah dari zakat atau sedekah itu, yaitu pertama, agar tercipta keadilan ekonomi dalam Islam, kedua, dapat melindungi harta, ketiga, sebagai ikatan persaudaraan yang dapat mempererat hubungan antar sesama Islam, keempat, memberi kesadaran kepada orang yang memiliki kelebihan harta bahwa harta itu adalah titipan Allah, kelima, agar harta itu tidak bertumpuk pada orang kaya saja, keenam, mengurangi kelaparan dan kemiskinan, ketujuh, agar dapat membedakan antara ekonomi Islam dan kapitalisme. Secara keseluruhan ketujuh faktor di atas diharapkan akan dapat memberi kesejahteraan umat sesuai dengan tujuan syari'ah (maqashid asy-syari'ah). Hal ini sesuai dengan definisi yang diberikan al-Ghazali tentang tujuan syari'ah (Islam); salah satu usaha mewujudkan kesejahteraan seluruh umat manusia yang terletak pada
Khasyfu Rummah fi Isthina al-maruf wa ramahul ummah, (terj.), Mokh. Fauzi Ali Zahra, Hadits-Hadits Rasul dalam Meraih Kebajikan dan Kasih Sayang, cet. 1 (Bandung: IKAPI, 1992), hal. 44-45.

perlindungan keimanan (dien) manusia (nafs), akal (aqal), keturunan (nasb), dan kekayaan mereka (mal). Apapun yang menjamin perlindungan kelima ini menjamin (pula) kepentingan publik dan merupakan hal yang diinginkan.5 Doktrin-doktrin yang telah dijelaskan melalui hukum syariah, seperti diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, bertujuan untuk merumuskan dan membawa manusia hidup damai, bahagia di dunia dan di akhirat. Alangkah beruntung, sebagaimana disinyalisir Al-Quran, terhadap manusia yang menghiraukannya (faizun), dan alangkah celaka, manusia yang tidak menghiraukannya. (muflisun)

Al-Ghazali, 1937, Vol. 1. hal. 139-40. M. Umar Chapra The Future of Economics An Islamic Perspective, (terj.), Amdiar

Amir, dkk (Jakarta: Logos, 2001), hal. 124.