Anda di halaman 1dari 17

TORSI MOTOR

I.

Tujuan 1. Mahasiswa dapat merangkai rangkaian pratikum Proteksi Mesin Listrik dengan benar sesuai dengan gambar. 2. Dapat menganalisa karakteristik dari hasil percobaan 3. Dapat menyimpulkan dari hasil percobaan

II.

Dasar Teori A. Over load relay adalah pemutus bimetal akan bekerja berdasarkan sesuai dengan arus yang

mengalir, semakin tinggi kenaikan temperatur yang menyebabkan terjadinya pembengkokan , maka akan terjadi pemutusan arus, sehingga motor akan berhenti. Jenis pemutus bimetal ada jenis satu phasa dan ada jenis tiga phasa, tiap phasa terdiri atas bimetal yang terpisah tetapi saling terhubung, berguna untuk memutuskan semua phasa apabila terjadi kelebihan beban. Pemutus bimetal satu phasa biasa digunakan untuk pengaman beban lebih pada motor berdaya kecil. Kontruksi Over load relay apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari nominalnya, maka bimetal trip, bagian bawah akan melengkung ke kiri dan membawa slide ke kiri, gesekan ini akan membawa lengan kontak pada bagian bawah tertarik ke kiri dan kontak akan lepas. Selama bimetal trip itu masih panas, maka dibagian bawah akan tetap terbawa ke kiri, sehingga kontak kontaknya belum dapat dikembalikan ke kondisi semula walaupun reset buttonnya ditekan,

apabila bimetal sudah dingin barulah kontaknya dapat kembali lurus dan kontaknya baru dapat di hubungkan kembali dengan menekan reset button. Fungsi dari Over load relay adalah untuk proteksi motor listrik dari beban lebih. Seperti halnya sekring (fuse) pengaman beban lebih ada yang bekerja cepat dan ada yang lambat. Sebab waktu motor start arus dapat mencapai 6 kali nominal, sehingga apabila digunakan pengaman yang bekerja cepat, maka pengamannya akan putus setiap motor dijalankan.

Gambar Thermal Overload Relay B. Motor Induksi 3 Phasa Teori Dasar Motor Induksi Tiga Fasa. Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip antara medan stator dan medan rotor. Motor induksi merupakan motor yang paling banyak kita jumpai dalam industri.

Stator adalah bagian dari mesin yang tidak berputar dan terletak pada bagian luar. Dibuat dari besi bundar berlaminasi dan mempunyai alur alur sebagai tempat meletakkan kumparan. Rotor sangkar adalah bagian dari mesin yang berputar bebas dan letaknya bagian dalam. Terbuat dari besi laminasi yang mempunayi slot dengan batang alumunium / tembaga yang dihubungkan singkat pada ujungnya. Rotor kumparan ( wound rotor ), Kumparan dihubungkan bintang dibagian dalam dan ujung yang lain dihubungkan dengan slipring ke tahanan luar. Kumparan dapat dikembangkan menjadi pengaturan kecepatan putaran motor. Pada kerja normal slipring hubung singkat secara otomatis, sehingga rotor bekerja seperti rotor sangkar. Keuntungan motor tiga phasa :

Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama bila motor dengan rotor sangkar.

Harganya relatif murah dan kehandalannya tinggi. Effesiensi relatif tinggi pada keadaan normal, tidak ada sikat sehingga rugi gesekan kecil.

Biaya pemeliharaan rendah karena pemeliharaan motor hampir tidak diperlukan.

Kerugian Penggunaan Motor Induksi

Kecepatan tidak mudah dikontrol

Power faktor rendah pada beban ringan Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus nominal

Prinsip kerja Motor 3 Phasa

1. Bila sumber tegangan tiga phasa dipasang pada kumparan stator, maka pada kumparan stator akan timbul medan putar dengan kecepatan, ns = 120f/P , ns = kecepatan sinkron, f = frekuensi sumber, p = jumlah kutup 2. Medan putar stator akan memotong konduktor yang terdapat pada sisi rotor, akibatnya pada kumparan rotor akan timbul tegangan induksi ( ggl ) sebesa E2s = 44,4fn . Keterangan : E = tegangan induksi ggl, f = frekkuensi, N = banyak lilitan, Q = fluks 3. Karena kumparan rotor merupakan kumparan rangkaian tertutup, maka tegangan induksi akan menghasilkan arus ( I ). 4. Adanya arus dalam medan magnet akan menimbulkan gaya ( F ) pada rotor. 5. Bila torsi awal yang dihasilkan oleh gaya F pada rotor cukup besar untuk memikul torsi beban, maka rotor akan berputar searah dengan arah medan putar stator. 6. Untuk membangkitkan tegangan induksi E2s agar tetap ada, maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan putar rotor (nr). 7. Perbedaan antara kecepatan nr dengan ns disebut dengan slip ( S ) yang dinyatakan dengan Persamaan S = ns-nr/ns (100%)

8. Jika ns = nr tegangan akan terinduksi dan arus tidak mengalir pada rotor, dengan demikian tidak ada torsi yang dapat dihasilkan. Torsi suatu motor akan timbul apabila ns > nr. 9. Dilihat dari cara kerjanya motor tiga phasa disebut juga dengan motor tak serempak atau asinkron.

III.

Alat dan Bahan 1. Power suply 2. Overload relay 3. Motor induksi 3 phasa 4. Mesin uji servo 5. Kabel penghubung 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah secukupnya

IV.

Gambar Rangkaian Percobaan

V.

Langkah Kerja A. Percobaan Pertama Pada percobaan pertama mensimulasikan jika terjadinya penyumbatan

pompa. Mula-mula dijalankan pada keadaan bebannominal, tiba-tiba pompa terjadi penyumbatan disebabkan adanya yang terdapat di dalam air di dalam air. Sedangkan arus yang melalui motor sangat tinggi disaat pompa terjadi penyumbatan, maka seharusnya setelah beberapa detik motor diputuskan oleh oleh overload relay. 1. Mengaktifkan software ActiveServo. Memilih grafik waktu pada gambar 2. Mengatur karakteristik torsi 3. Mula-mula motor dijalankan pada kecepatan operasi nominal 20 detik pertama. Setelah 20 detik belalu terjadi penyumbatan pompa. 4. Menetapkan waktu pengukuran 100 detik dan mengaktifkan pengukuran RMS 5. Memulai pengereman dengan mengklik tombol 6. Menghidupkan mesin uji servo 7. Merekam karakteristik dengan menekan 8. Menjalankan motor dengan konektor jembatan 95

B. Percobaan Kedua Overload Relay dengan class 20 dan dengan demikian dalam perjalanan kondisi tertentu lebih dari circuit breaker, maka akan di uji apakah overload relay ini bisa digunakan juga untuk operasi penutupan. 1. Mengaktifkan software ActiveServo. Memilih grafik waktu pada gambar

2. beralih ke beban dengan memilih roda gila di bawah pilihan pengaturan beban mesin

3. Menetapkan parameter massa roda gila 800 dan nilai gesekan 35

4. Mengubah waktu pengukuran untuk 100 detik dan menandai pilihan rms

5. Mengubah tampilan nilai-nilai pengukuran dan pembagian skala diagram

6. Memulai pengereman dengan mengklik tombol

7. Menghidupkan mesin uji servo

8. Merekam karakteristik dengan menekan

9. Menyalin karakteristik ke dalam ruang yang dialokasikan untuk diagram di bawah ini

VI.

Keselamatan Kerja a. Menghindari terjadi short pada rangkaian. b. Melapor pada dosen pembimbing jika rangkaian telah dirangkai sebelum menaikkan sumber. c. Menghindari sentuh langsung dengan peralatan yang bertegangan.

VII.

Data Hasil Percobaan

a. Percobaan Pertama
Percobaan 0: Uji Torsi

M [Nm]

3.0

2.5

2.0

1.5

1.0

0.5

0.0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 t/s

Uji Waktu Trip


I [A] M [Nm] n [rpm]
5 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

1400

1200

1000

800

600

400

200

0 0 10 20 30 40 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric10
19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1600 1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 10 20 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric15
20.0 19.5 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 20.0 19.5 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1600 1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 5 10 15 20 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric20
20.0 19.5 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 20.0 19.5 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1600 1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 5 10 15 20 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric25
13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 10 20 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric30
13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 19.0 18.5 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1600 1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 10 20 30 40 t/s

Percobaan 2: flywheel200fric35
13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1500 1400 1300 1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 10 20 30 t/s

Percobaan 3: Torsi Karakteristik

M [Nm]

20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 10 20 30 40 50 60 70 t/s

Percobaan 4: Uji Trip

I [A]

M [Nm]

8.5 8.0 7.5

n [rpm]

4.0

9.0

2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 0 10 20 30 40 50 t/s

3.5

3.0

7.0 6.5 6.0

2.5

5.5 5.0

2.0

4.5 4.0

1.5

3.5 3.0

1.0

2.5 2.0 1.5

0.5

1.0 0.5

0.0

0.0

Percobaan 5: Uji Trip 200


18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 18.0 17.5 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1800 1650 1500 1350 1200 1050 900 750 600 450 300 150 0 0 5 10 15 20 25 t/s

Percobaan 5: Uji Trip 300


15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1800 1650 1500 1350 1200 1050 900 750 600 450 300 150 0 0 5 10 15 t/s

Percobaan 5: Uji Trip 400


17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1800 1650 1500 1350 1200 1050 900 750 600 450 300 150 0 0 5 10 15 20 t/s

Percobaan 5: Uji Trip 500


17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1800 1650 1500 1350 1200 1050 900 750 600 450 300 150 0 0 5 10 15 t/s

Percobaan 5: Uji Trip 600


13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 17.0 16.5 16.0 15.5 15.0 14.5 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0

I [A]

M [Nm]

n [rpm]

1800 1650 1500 1350 1200 1050 900 750 600 450 300 150 0 0.00.51.01.52.02.53.03.54.04.55.05.56.06.57.07.58.0 t/s

VIII. Analisa dan Kesimpulan 1. Analisa a. Dari gambar karakteristik percobaan pertama dengan overload relay calss 10 dapat di analisa bahwa pada saat motor dijalankan pada kecepatan nominal 20 detik pertama dalam keadaan beban nominal dengan arus 1,5 ampere. Setelah 20 detik pertama berlalu terjadi penyumbatan pada pompa sehingga arus yang melalui motor sangat tinggi hingga mencapai 2 kali lipat dari I nominal, sedangkan putaran motor menurun dan setelah 30 detik motor akan mati disebabkan adanya penyumbatan pada pompa. b. Dari gambar karakteristik pada percobaan kedua dengan menggunakan overload relay class 20 Menggunakan motor flywheel dengan masa 800 dan friction dengan nilai 35 dengan arus nominal 1,5 ampere dapat

di lihat pada saat motor dijalankan maka akan terjadi peningkatan arus mencapai 8 kali lipat dari I nominal dan putaran motor berada pada 1500 rpm. Setelah 15 detik kemudian arus kembali pada I nominal sedangkan putaran motor tetap dan pada percobaan ini tidak adanya trip pada motor seperti pada percobaan yang pertama. 2. Kesimpulan Dari hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa pada percobaan pertama motor akan mengalami peningkatan arus sampai beberapa kali lipat dari I nominal pada saat penyumbatan pompa dan setelah beberapa detik motor akan trip. Sedangkan pada percobaan kedua motor akan mengalami peningkatan arus pada saat motor dijalankan, akan tetapi setelah beberapa detik kemudian arus akan kembali normal.

DAFTAR PUSTAKA