Anda di halaman 1dari 27

ETNOMATEMATIKA BATIK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh:

Evi Dwi Krisna Ni Putu Ari Wiratini Allyta Adelya

(1029051018) (1029051042) (1029051044)

Program Studi Pendidikan Matematika Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, atas berkatNya, makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Selain itu, tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak tentunya proses penyusunan makalah ini tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada: 1. Prof. Dr. I Gusti Putu Suharta, M.Si, sebagai pengampu mata kuliah Seminar Matematika, atas arahan dan bimbingannya dalam penyusunan makalah ini. 2. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha, atas bantuannya baik secara moril maupun materiil. 3. Pihak-pihak terkait lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan dan dukungannya. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penulisan yang lebih baik di masa yang akan datang demi meningkatnya kualitas makalah ini. Semoga apa yang penulis bahas dalam makalah ini dapat bermanfaat terutama bagi kita yang nantinya akan menjadi seorang pengajar yang profesional.

Denpasar, Maret 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii ABSTRAK .......................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................................ 3 1.4 Manfaat Penulisan ...................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Etnomatematika pada Motif Batik ............................................................................. 1 2.2 Manfaat Etnomatematika Motif Batik dalam Pembelajaran Matematika.................. 12

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan .................................................................................................................... 17 3.2 Saran .......................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA

iii

ETNOMATEMATIKA MOTIF BATIK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh Evi Dwi Krisna (1029051018) Ni Putu Ari Wiratini (1029051042) Allyta Adelya (1029051044) Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Undiksha Denpasar, 2012

ABSTRAK Pengembangan makalah ini bertujuan untuk (1) Mengetahui dan memahami etnomatematika pada Motif Batik, (2) Mengetahui dan memahami manfaat etnomatematika Motif Batik pada Pembelajaran Matematika. Pengembangan makalah ini dilakukan dengan menggunakan kajian pustaka yang relevan dengan tujuan penulisan makalah. Dari kajian yang dilakukan oleh penulis, diperoleh simpulan sebagai berikut. (1) Etnomatematika telah tumbuh dan berkembang pada Motif Batik. Terdapat beberapa konsep matematika yang terkandung pada Motif Batik. Konsep-konsep tersebut yaitu konsep simetri, transformasi (refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi), kekongruenan, dan kesebangunan. (2) Etnomatematika Motif Batik dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Adapun pembelajaran tersebut yaitu pembelajaran simetri lipat, transformasi, kekongruenan, dan kesebangunan. Kata-kata kunci: Etnomatematika, Motif Batik, Pembelajaran Matematika.

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Masuknya matematika secara sadar maupun tidak sadar kedalam berbagai aspek kehidupan tentunya menarik untuk dikaji, apakah kajian dalam aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun aspek lainnya. Salah satu aspek yang menarik dikaji adalah aspek budaya. Pada budaya manusia, umumnya matematika merasuk kedalam budaya tersebut namun manusia jarang menyadari bahwa matematika telah merasuki budaya mereka. Oleh karena itu, kajian mengenai matematika dalam budaya perlu dkembangkan sehingga dapat memberikan gambaran pada masyarakat berbudaya mengenai peranan matematika dalam budayanya. Matematika etnomatematika. yang Istilah berkaitan dengan budaya dikenal dengan kali istilah oleh

etnomatematika

diperkenalkan

pertama

DAmbrosio, dimana dalam bukunya dinyatakan bahwa, etnomatematika merupakan matematika yang dilakukan oleh kelompok budaya tertentu seperti suku-suku di suatu negara, perserikatan pekerja, kelompok profesi, dan lain-lain. Beberapa contoh dari etnomatematika dijelaskan pada uraian berikut. Studi yang dilakukan oleh Tambunan (2009), menunjukkan bahwa para pengerajin kain tenun seperti ulos, songket dan lain sebagainya yang ada di daerah Pak-pak, secara tidak sadar juga menggunakan perhitungan the Golden Ratio untuk menenun untaian-untaian benang sehingga menjadi selembar kain. The Golden Ratio diimplementasikan dalam pembuatan pola dalam ulos tersebut, warna benang yang akan menjadi pola disisip dalam warna benang yang akan menjadi warna dasar dalam ulos, banyaknya warna-warna benang dan panjang benang tersebut telah diperhitungkan dengan cermat oleh penenun, sehingga untaian benang tadi menjadi sebuah ulos dengan pola yang indah dan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Pak-pak. Tentu masih banyak lagi etnomatematika yang telah dikaji selama ini dan tentunya kajian tersebut telah memberikan gambaran kepada banyak orang bahwa matematika bukanlah ilmu yang kaku, namun dapat berbaur dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Selain sudah banyak etnomatematika yang dikaji, pastilah terdapat etnomatematika yang belum dan sedang dikaji. Salah satu etnomatematika 1

yang menarik untuk dikaji yaitu mengenai etnomatematika pada motif batik. Alasan mengapa etnomatematika pada motif batik menarik untuk dikaji tentu karena beberapa hal. Pertama, batik merupakan budaya atau kesenian yang memiliki nilai tinggi, namun budaya atau seni ini jarang dieksplorasi dari sudut pandang matematika, yang mengakibatkan masyarakat jarang mengetahui bahwa terdapat unsur matematika di dalamnya. Kedua, etnomatematika pada motif batik dapat memberikan kontribusi yang positif pada pembelajaran matematika.. Oleh karena latar belakang di atas, penulis mengembangkan makalah yang berjudul Etnomatematika Motif Batik dan Implementasinya dalam Pembelajaran Matematika.

1.2 RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut. 1. 2. Bagaimana keberadaan etnomatematika pada Motif Batik? Bagaimanakah manfaat etnomatematika Motif Batik pada Pembelajaran Matematika?

1.3 TUJUAN PENULISAN Dari rumusan masalah di atas maka terdapat tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut. 1. 2. Mengetahui dan memahami keberadaan etnomatematika pada Motif Batik. Mengetahui dan memahami manfaat etnomatematika Motif Batik pada Pembelajaran Matematika.

1.4 MANFAAT PENULISAN Adapun beberapa manfaat dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut. 1. Bagi Penulis Melalui makalah ini, penulis mengetahui dan memahami bagaimana etnomatematika yang terdapat dalam Motif Batik dan kontribusi etnomatematika Motif Batik pada pembelajaran matematika.

2.

Bagi Pembaca Melalui makalah ini, pembaca mengetahui dan memahami bagaimana

etnomatematika yang terdapat dalam Motif Batik dan kontribusi etnomatematika Motif Batik pada pembelajaran matematika.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 ETNOMATEMATIKA PADA MOTIF BATIK Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Sering sebuah karya seni menggunakan konsep matematika yang canggih yang baru dipahami beberapa abad kemudian. Seni dan matematika berkembang dengan berpijak pada pemikiran dengan segala keterbatasan dan kreativitasnya. Salah satu budaya yang menarik untuk dikaji yaitu mengenai karya seni. Karya seni ini merupakan buah karya yang dihasilkan oleh manusia karena seni yang dimiliki. Setiap etnis di dunia memiliki karya seni masing-masing dan unik. Sebagai contoh batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya lakilaki ke dalam bidang ini. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Batik bukan sekedar budaya khas Indonesia, tetapi kekayaan intelektual bangsa Indonesia dan nafas serta penggerak kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Adapun contoh-contoh dari Motif Batik dapat diperhatikan pada Gambar 2.1 berikut.

(a) Batik Tiga Negeri

(b) Batik Bali

(c) Batik jogjakarta Gambar 2.1 Motif Batik

Apabila motif batik ini dicermati dengan baik, maka dapat diperhatikan adanya beberapa konsep matematika yang terkandung di dalamnya. Konsep-konsep Matematika tersebut antara lain konsep simetri, transformasi (refleksi, translasi, dan rotasi), kekongruenan, dan kesebangunan. Tidak hanya dapat diperhatikan dari motifnya, namun konsep matematika ini secara tidak langsung dapat diperhatikan pada cara pembuatan motif ini. Adapun kajian mengenai konsep-konsep matematika pada motif batik diuraikan sebagai berikut.

1.

Konsep Simetri pada Motif Batik Konsep simetri yang dimaksudkan di sini adalah simetri lipat. Salah satu cara

pembuatan motif batik yaitu dengan membuat sketsanya dengan terlebih dahulu membuat motif-motif tertentu. Sketsa ini biasanya dibuat dengan kertas. Sebagai contoh pada pembuatan motif batik seperti Gambar 2.2. Masih banyak jenis motif batik yang dikembangkan dengan metode ini.

Gambar 2.2 Motif Batik (Simetris)

Gambar 2.2 merupakan motif batik yang simetris, garis tebal di atas menunjukkan sumbu simetri dari motif batik tersebut.

2.

Konsep Transformasi pada Motif Batik Pada motif batik terkandung pula konsep transformasi, seperti refleksi, translasi,

dan rotasi. Kajian mengenai konsep-konsep ini pada motif batik diuraikan sebagai berikut. a) Konsep Refleksi pada Motif Batik Selain dengan metode seperti di atas dalam membuat motif batik, dapat juga digunakan metode sederhana lainnya yaitu dengan menerapkan konsep refleksi.. Misalnya seperti pembuatan motif pada Gambar 2.3. Pada Gambar ini cukup dibuat sketsa motif a, yang selanjutnya sketsa ini ditaruh disebelah kanan, bawah atau posisi tertentu lainnya yang akhirnya akan memperoleh motif batik yang utuh seperti Gambar 2.3. a

Gambar 2.3 Motif Batik (Refleksi) b) Konsep Translasi pada Motif Batik Konsep lain yang digunakan dalam pembuatan motif batik adalah konsep translasi. Dengan memindahkan atau menggeser sketsa motif batik ke posisi tertentu, tentunya cukup jelas menggambarkan bahwa konsep translasi telah diterapkan dalam pembuatan motif batik. Sebagai contoh motif batik pada Gambar 2.4. Pada Gambar 2.4, motif a digeser sekian satuan ke kanan sehingga diperoleh motif a, selanjutnya a digeser ke kanan sekian satuan lagi sehingga diperoleh a, demikian seterusnya. Pada akhirnya diperoleh Ukiran Bali seperti Gambar 2.4.
a a a a a

Gambar 2.4 Motif Batik (Translasi) 7

c)

Konsep Rotasi pada Ukiran Bali Pembuatan motif batik juga dapat dikaitkan dengan konsep rotasi pada bangun

datar. Dimana konsep rotasi yang dimaksud didapat dengan cara memutar motif yang dibuat sesuai dengan sumbunya. Sebagai contoh, perhatikan motif batik pada Gambar 2.5. Pada Gambar ini, motif a terlebih dahulu dicerminkan terhadap sumbu cermin vertikal yaitu l, sehingga diperoleh a, a ini selanjutnya diputar 180o sehingga diperoleh a. Dari proses ini, diperoleh motif batik pada Gambar 2.5. 90o

360o

180o

270o Gambar 2.5 Motif batik (Rotasi)

d)

Konsep Dilatasi pada Motif Batik Dengan membuat sketsa motif batik yang kemudian dilakukan tindakan-

tindakan tertentu, seperti dicerminkan, digeser, diputar untuk mebuat batik tentu telah menggambarkan dengan jelas bahwa konsep-konsep transformasi telah diterapkan. Selain tindakan-tindakan ini, juga dapat dilakukan tindakan-tindakan lainnya seperti menyalin sketsa kedalam ukuran yang lebih kecil atau lebih besar, yang selanjutnya digunakan untuk membuat motif batik yang utuh. Sebagai contoh motif batik pada Gambar 2.6. Pada Gambar dibawah ini, motif pada gambar helai bunga digeser kemudian diperbesar, sehingga diperoleh motif batik yang utuh seperti Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Motif Batik (Dilatasi)

Dari paparan di atas jelas bahwa dalam motif batik juga terkandung konsep dilatasi. Tentu masih banyak motif batik lainnya yang diterapkan dengan menggunakan konsep dilatasi. Jadi, hakikatnya pada pembuatan motif batik telah diterapkan konsep transformasi. Bahkan dalam pembuatan motif batik tidak hanya salah satu dari konsep transformasi yang diterapkan, namun beberapa konsep transformasi juga dapat diterapkan sekaligus.

3.

Konsep Kekongruenan pada motif batik Selain terdapat konsep simetri dan transformasi, pada motif batik juga terdapat

konsep lain yaitu konsep kekongruenan. Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa terdapat konsep kekongruenan pada motif batik, sketsa yang dibuat kemudian diberikan tindakan, apakah dicerminkan, digeser, atau diputar. Sehingga dengan proses ini, maka diperoleh motif batik lainnya pada posisi lain yang memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan motif batik semula. Sebagai contoh yaitu Gambar 2.7. Pada Gambar ini, batik tersebut terdiri dari motif batik yang kongruen satu sama lain.

Gambar 2.7 Motif Batik (Kekongruenan) 9

4.

Konsep Kesebangunan pada Motif Batik Karena pada motif batik terkandung konsep dilatasi, yang merupakan konsep

yang sejalan dengan kesebangunan. Maka pada motif batik juga terdapat konsep kesebangunan. Hal ini dapat dicermati pada Gambar 2.6, disana terdapat motif batik yang diperbesar ukurannya menjadi sekian kali ukuran semula yang sebanding, ini artinya bahwa bentuk motif batik hasil dilatasi adalah sama dengan bentuk semula namun ukurannya yang sebanding. Hal ini sesuai dengan konsep kesebangunan dari dua buah bangun yaitu bentuk bangun sama namun ukurannya sebanding.

Jadi, dari paparan di atas jelas terlihat bahwa pada motif batik terkandung berbagai konsep matematika. Konsep-konsep tersebut antara lain konsep simetri, transformasi (refleksi, translasi, dan rotasi), serta kekongruenan. Dengan memahami etnomatematika motif batik ini tentu dapat memberikan inspirasi kepada pendidik untuk mengembangkan ini. pembelajaran yang menarik pembelajaran dengan yang menerapkan menerapkan

etnomatematika

Beberapa

gambaran

etnomatematika ini akan dipaparkan pada bagian berikut.

2.2 MANFAAT

ETNOMATEMATIKA

MOTIF

BATIK

DALAM

PEMBELAJARAN MATEMATIKA Dari uraian sebelumnya, terlihat bahwa etnomatematika telah tumbuh dan berkembang pada kebudayaan batik. Keempat contoh penggunaan konsep matematika dalam dunia seni batik merupakan sebagian kecil dari banyaknya konsep matematika formal yang diterapkan dalam kehidupan manusia. Bahkan, terdapat kemungkinan konsep-konsep matematika formal tersebut lahir setelah digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Saat ini pengembangan batik tentu sudah mengalami perkembangan yang pesat. Namun, pada hakikatnya teori-teori dalam pembuatan batik masih berpatokan pada teori pembuatan motif batik yang dikembangkan oleh nenek moyang kita. Ini artinya budaya seni membatik yang ada di Indonesia dipertahankan dan dikreasikan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain matematika juga telah diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pembelajaran matematika dapat mengambil manfaat dari budaya seni batik ini, terutama sebagai sumber belajar matematika. Selain untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa dalam belajar, penggunaan budaya tersebut dalam 10

pembelajaran juga dapat membantu siswa mengaitkan konsep-konsep matematika dengan kehidupan siswa. Ini artinya pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna. DAmbrosio (2002) menyatakan bahwa terdapat dua alasan utama penggunaan etnomatematika dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) untuk mereduksi anggapan bahwa matematika itu bersifat final, absolut (pasti), dan unik (tertentu), (2) mengilustrasikan perkembangan intelektual dari berbagai macam kebudayaan, profesi, jender, dan lain-lain. Berikut akan diuraikan alternatif pembelajaran matematika yang menerapkan etnomatematika pada motif batik. 1. Pembelajaran Simetri Lipat untuk SMP kelas VIII Salah satu alternatif yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam membelajarkan siswa mengenai konsep simetri lipat yaitu dengan menerapkan etnomatematika yang terkandung dalam motif batik. Alternatif pembelajaran tersebut diuraikan sebagai berikut. Sebagai persiapan pembelajaran, siswa diharapkan mempersiapkan beberapa lembar kertas, gunting, dan pensil. Selanjutnya dalam pembelajaran, pertama siswa diinstruksikan untuk melipat kertas menjadi dua bagian yang sama. Kedua, siswa diberikan kesempatan untuk membuat motif batik (motif sederhana) yang dikenal selama ini pada salah satu bagian lipatan. Selanjutnya, siswa diberikan kesempatan untuk memotong bentuk motif batik tersebut sesuai dengan sketsa yang dibuat, sehingga diperoleh motif batik sederhana. Ketiga, siswa diinstruksikan untuk melipat kertas lainnya menjadi dua bagian yang sama. Keempat, siswa kembali diinstruksikan untuk membuat bentuk tertentu pada salah satu bagian lipatan, bentuk yang dibuat ini diharapkan berbentuk bangun geometri standar, seperti persegi, persegi panjang, segitiga, dan lain-lain. Kegiatan ini dapat dilakukan beberapa kali, sehingga diperoleh beberapa bentuk bangun yang simetri. Kelima, dari bangun-bangun yang diperoleh, siswa diberikan informasi bahwa bangun-bangun yang mereka hasilkan dari kegiatan sebelumnya merupakan bangun-bangun yang memiliki simetri lipat. Dengan memberikan informasi ini, selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyimpulkan mengenai suatu bangun yang memiliki simetri lipat. Dari kegiatan ini siswa diharapkan mampu menemukan simpulan sebagai berikut. Suatu bangun dikatakan memiliki simetri lipat jika bangun tersebut mempunyai bentuk yang sama pada dua belah pihak dari suatu garis dimana bentuk yang sama tersebut jika dilipat menurut garis itu akan saling berhimpit atau saling menutupi satu sama lain. Selanjutnya siswa diberikan informasi yaitu garis yang 11

dimaksud pada pengertian di atas disebut dengan sumbu simetri. Setelah perolehan konsep ini, baru siswa diarahkan untuk memahami konsep tingkat simetri lipat. Dari alternatif kegiatan pembelajaran seperti di atas, diharapkan siswa dapat termotivasi serta lebih tertarik mempelajari matematika karena di dalam alternatif pembelajaran telah diterapkan hal-hal yang ada di sekitar lingkungan siswa.

2.

Pembelajaran Transformasi untuk SMA kelas XII Salah satu alternatif pembelajaran transformasi yang dapat diterapkan oleh

pendidik

dalam

mebelajarkan

siswa

yaitu

dengan

memasukkan

konsep

etnomatematika motif batik dalam pembelajaran. Adapun alternatif pembelajaran tersebut yaitu sebagai berikut. Alternatif pembelajaran ini dikemukakan hanya untuk pembelajaran konsep refleksi, dimana konsep lainnya dapat dibelajarkan secara analog seperti pembelajaran konsep refleksi. Sebagai persiapan pembelajaran siswa diinstruksikan untuk mempersiapkan sebuah sketsa motif batik (motif sederhana), pensil, dan kertas. Pada saat pembelajaran siswa diberikan kesempatan membuat motif batik pada kertas dengan menggunakan sketsa motif batik tersebut. Motif batik yang dibuat hanya menggunakan motif yang dibawa oleh siswa, dengan menggunakan teknik yaitu dengan mencerminkan dengan garis tertentu, menggeser, atau memutar. Dari kegiatan ini selanjutnya siswa diberikan informasi bahwa motif batik yang dibuat telah menggunakan konsep refleksi dan konsep refleksi tersebut telah diaplikasikan pada saat motif batik ditumpukan (dicerminkan) pada garis horisontal atau vertikal, yang menghasilkan bayangan motif batik sebelumnya. Dari sini selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk menyimpulkan mengenai beberapa hal seperti bagaimana jarak bangun bayangan dengan bangun semula, bagaimana bentuk dan ukuran bangun bayangan dengan bangun semula. Dari sinilah siswa diharapkan menemukan sifatsifat mengenai refleksi suatu bangun terhadap suatu garis tertentu. Simpulan yang diharapkan yaitu siswa menemukan bahwa bangun bayangan memiliki bentuk dan ukuran yang sama dengan bangun semula, jarak bangun bayangan ke cermin dengan jarak bangun semula ke cermin adalah sama. Setelah siswa memahami konsep dasar mengenai refleksi ini, selanjutnya siswa diarahkan untuk memahami konsep refleksi pada koordinat Cartesius serta konsep lain yang berkaitan. Untuk pembelajaran konsep refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi, dapat dilakukan dengan tahapan seperti berikut: 12

a.

Aplikasi Refleksi (Pencerminan) pada Motif Batik Berikut ini adalah salah satu motif batik Kawung

Bentuk dasar pada polanya adalah elips dan titik.

(Gambar.1)

Bentukan pada motif batik kawung dapat dipandang sebagai hasil refleksi (pencerminan) bentuk dasar. Hasil pencerminan Gambar.1 pada garis x, y, dan z menghasilkan orientasi bentuk sebagaiberikut (Gambar.2, Gambar.3, dan Gambar.4)

Gambar.2

Gambar.3

Gambar.4

Gabungan gambar 1, 2, 3, dan 4 menghasilkan satu gabungan dalam motif batik kawung berikut. (Gambar.5)

Gambar.5

13

Adapun contoh lainnya pada konsep refleksi dapat dilihat pada pembuatan motif batik berikut.

Dibawah ini adalah salah satu motif batik Madura.

Perhatikan bentuk kupu-kupu pada motif batik Madura diatas. Bentuk kupukupu tersebut simetris, sehingga dapat dipandang sebagai hasil pencerminan beberapa bangun datar terhadap sumbu simetrinya.

Bentuk dasarnya adalah garis lengkung dan beberapa bentuk bangun datar (Gambar. 1). Kemudian dicerminkan terhadap sumbu simetrinya yaitu garis q (Gambar. 2), sehingga diperoleh bentuk utuh seekor kupu-kupu (Gambar. 3). q

Gambar.1

Gambar.2

Gambar.3

Gambar.4

14

b. Aplikasi Rotasi (Perputaran) pada Motif Batik Berikut ini adalah salah satu motif batik Papua.

Bentuk dasar pada motif batik Papua tersebut adalah garis lengkung (Gambar. 1).

Gambar.1

Selanjutnya bentuk dasar tersebut diputar 180 (Gambar.2) 180

Gambar.2

Bentuk lainnya diperoleh dengan cara refleksi terhadap garis vertical (Gambar.3) dan kemudian diputar 180 (Gambar.4)

180

Gambar.3 Gambar.4

15

Gabungan dari gambar 1,2,3, dan 4 menghasilkan bentuk motif batik papua berikut (Gambar.5).

Gambar.5

c. Aplikasi Translasi (Pergeseran) pada Motif Batik Berikut ini adalah salah satu motif sasirangan (Kalimantan) yang disebut dengan ombak sinamparkarang.

Bentuk dasar dari motif sasirangan ini berupa garis lengkung (Gambar.1)

Gambar.1

Selanjutnya penggabungan dari pencerminan bentuk dasar (Gambar.1) terhadap garis horizontal menghasilkan bentuk mirip kelopak bunga (Gambar.2).

16

Gambar.2

Misalkan motif mirip kelopak bunga tersebut diletakkan pada sumbu cartesius, maka bentuk kelopak bunga selanjutnya diperoleh melalui translasi atau pergeseran vektor T y ( ) berikut ini (Gambar.3).

Gambar.3

Dan seterusnya translasi dilakukan dengan menggunakan rumus vektor T ( ) dengan n adalah bilangan asli sehingga diperoleh rangkaian kelopak

bunga yang membentuk motif ombak sinamparkarang berikut ini (Gambar.4).

Gambar.4

17

d. Aplikasi Dilatasi (Perkalian) pada Motif Batik Berikut ini adalah salah satu motif sasirangan kangkung kaumbakan.

Perhatikan motif mirip bunga teratai pada sasirangan tersebut. Bentuk dasar dari bunga teratai tersebut adalah bangun datar (Gambar.1) yang dapat dipandang sebagai kelopak bunga teratai, kemudian melalui beberapa rotasi dan refleksi diperoleh susunan kelopak bunga membentuk teratai (Gambar.2).

Gambar.1

Gambar.2

Bunga teratai yang terlukis pada motif kangkung kaumbakan di atas memiliki ukuran yang berbeda-beda, dimana besar atau kecilnya ukuran bunga dapat dipandang sebagai hasil dilatasi atau perkalian dengan suatu konstanta k terhadap bentuk Gambar 2 dimana k adalah bilangan riil positif. Selanjutnya, bentuk Gambar 2 disebut sebagai B. Misalkan hasil , maka bentuk adalah perbesaran dua kali B, sebut saja

(Gambar.3). Kemudian untuk memperoleh bentuk bunga , sebut saja hasil

teratai selanjutnya dengan mengambil (Gambar.4).

18

Gambar.3

Gambar.4

Untuk mendapatkan letaknya yang artistik pada tangkai, selanjutnya direfleksikan pada garis vertikal sehingga diperoleh susunan membentuk motif kangkung kaumbakan (Gambar.5).

Gambar.5

Demikian beberapa contoh aplikasi geometri transformasi dalam karya seni batik di Indonesia. Pola bentuk pada motif batik dapat menjadi alternatif sumber belajar matematika bagi siswa kita. Selain siswa memperoleh pengetahuan terkait konsep geometri transformasi, mereka juga memahami aplikasi geometri transformasi yang dapat menghasilkan karya seni. Sejalan dengan ini, melalui penyelidikan pola bentuk motif batik, diharapkan siswa semakin mengapresiasi karya seni bangsanya sendiri sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air.

19

3.

Pembelajaran Kekongruenan untuk SMP kelas IX Salah satu alternatif pembelajaran kekongruen yang dapat diterapkan oleh

pendidik untuk membelajarkan siswa yaitu dengan memasukkan etnomatematika motif batik ke dalam pembelajaran. Dengan memasukkan etnomatematika ini diharapkan siswa semakin termotivasi dalam belajar matematika yang akhirnya akan membantu siswa untuk belajar bermakna. Sebagai persiapan pembelajaran, siswa diinstruksikan untuk mempersiapkan sketsa motif batik, pensil, dan kertas. Sedangkan pada saat pembelajaran, siswa diberikan kesempatan untuk membuat motif dari sketsa itu. Selanjutnya siswa diberikan informasi bahwa motif yang telah disusun menjadi batik merupakan bentuk bangun-bangun yang kongruen. Akhirnya siswa diberikan kesempatan untuk menyimpulkan mengenai bangun yang kongruen. Adapun simpulan yang diharapkan yaitu siswa menemukan bahwa bangun yang kongruen merupakan bangun yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Setelah siswa memahami konsep ini, selanjutnya siswa dapat dibelajarkan mengenai konsep kekongruenan lainnya.

4.

Pembelajaran Kesebangunan untuk SMP kelas IX Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan untuk membelajarkan

siswa

mengenai

konsep

kesebangunan

yaitu

dengan

memasukkan

unsur

etnomatematika motif batik dalam pembelajaran. Adapun alternatif pembelajaran kesebangunan yaitu sebagai berikut. Sebelum pembelajaran siswa diinstruksikan untuk mebuat beberapa motif batik yang sama dan memiliki ukuran yang berbeda (perbandingan sisi sama), mempersiapkan pensil dan kertas. Selanjutnya pada saat pembelajaran, siswa diinstruksikan untuk membuat motif dengan menggunakan motif tersebut. Dari sini siswa diinformasikan bahwa susunan motif-motif yang telah disusun menjadi batik merupakan bangun-bangun yang sebangun. Selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk menyimpulkan mengenai bangun yang sebangun. Disini siswa diharapkan menemukan bahwa bangun yang sebangun merupakan bangun yang memiliki bentuk yang sama dan memiliki perbandingan ukuran sisi yang sebanding. Setelah siswa memahami konsep dasar kesebangunan dua buah bangun, maka siswa dapat dibelajarkan mengenai konsep kesebangunan yang lainnnya.

20

Ulasan mengenai etnomatematika motif batik dan implementasinya dalam pembelajaran matematika diharapkan mampu memberikan beberapa gambaran yaitu (1) masyarakat berbudaya mampu melihat bahwa motif batik yang selama ini ada disekitarnya mengandung konsep-konsep matematika dan masyarakat tidak lagi memandang kaku terhadap matematika, seperti yang terjadi selama ini, yaitu matematika dipandang sebagai ilmu yang kaku dan tidak bisa diganggu gugat. (2) pembelajaran matematika di kelas dapat dikembangkan dengan memperhatikan etnomatematika yang terdapat di suatu tempat. Selain hal tersebut, sebagai kaum intelek yang telah memahami mengenai keberadaan etnomatematika motif batik, maka diharapkan suatu saat apabila terdapat masyarakat yang mengembangkan batik, maka kaum intelek dapat membantu masyarakat dengan menggunakan pemahaman matematika yang dimiliki yaitu mengenai konsep simetri, transformasi,

kekongruenan, maupun kesebangunan.

21

BAB III PENUTUP

3.1 SIMPULAN Adapun simpulan yang dapat ditarik dari pembahasan yang diuraikan mengenai etnomatematika Motif Batik di atas yaitu sebagai berikut. 1. Etnomatematika telah tumbuh dan berkembang pada Motif Batik. Terdapat beberapa konsep matematika yang terkandung pada Motif Batik. Konsep-konsep tersebut yaitu konsep simetri, transformasi (refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi), kekongruenan, dan kesebangunan. Konsep-konsep ini telah digunakan oleh pembatik dalam mengembangkan Motif Batik yang akhirnya dapat dibuat berbagai macam Motif Batik dengan nilai seni yang tinggi. 2. Etnomatematika Motif Batik dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Adapun pembelajaran tersebut yaitu pembelajaran simetri lipat, transformasi, kekongruenan, dan kesebangunan. Dengan memasukkan

etnomatematika ke dalam pembelajaran memberikan alternatif bagi pendidik dalam membelajarkan siswa mengenai konsep matematika. Selain itu, juga dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa, yang akhirnya berdampak pada belajar bermakna.

3.2 SARAN Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dari hasil pembahasan mengenai etnomatematika Motif Batik, yaitu sebagai berikut. Kajian mengenai etnomatematika masih perlu dikembangkan khususnya mengenai budaya yang ada disekitar. Sehingga dengan mengembangkan

etnomatematika ini, dapat meberikan gambaran kepada masyarakat umum mengenai peranan matematika dalam implementasi budaya, yang akhirnya dapat merubah paradigma negatif mengenai matematika selama ini. Pembelajaran matematika di kelas diusahakan berorientasi pada etnomatematika, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan siswa semakin termotivasi dalam belajar matematika.

22

DAFTAR PUSTAKA

http://elnicovengeance.wordpress.com/2011/05/10/batik-juga-sebuah-matematika/ diakses 9 Maret 20122 http://id.wikipedia.org/wiki/Batik diakses 10 Maret 2012 http://m.tabloidnova.com/Nova/Profil/Nancy-Margried-Batik-dengan-Rumus- diakses 10 Maret 2012 Matematika-1 diakses 10 Maret 2012

23