Anda di halaman 1dari 2

Kebiasaan Buruk Sebabkan Gigi Tumbuh Berjejal

Selasa, 25 September, 2001 oleh: hanny

Kebiasaan Buruk Sebabkan Gigi Tumbuh Berjejal Gizi.net - Gigi perlu dirawat sejak dini agar anak tidak mengalami gangguan tumbuh kembang gigi, di samping mempertahankan keadaan gigi yang normal, sehingga saat dewasa memperoleh oklusi gigi yang harmonis, fungsional, dan estetis. Kebiasaan mengemut makanan, minum susu dalam botol dot menjelang tidur, mengisap jari, dan penyakit talasemia merupakan beberapa faktor penyebab gangguan pertumbuhan gigi. Hal itu dikemukakan Prof Dr drg Retno Hayati SKM SpKGA dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar dalam Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Sabtu (22/9), di Jakarta. Oklusi adalah hubungan kontak antara gigi geligi bawah dengan gigi geligi atas waktu mulut ditutup. Oklusi dikatakan normal, jika susunan gigi di dalam lengkung geligi teratur baik serta terdapat hubungan yang harmonis antara gigi atas dengan gigi bawah, hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap tulang tengkorak dan otot di sekitarnya, serta ada keseimbangan fungsional sehingga memberikan estetika yang baik. Dalam tahap pertumbuhan gigi dan perkembangan oklusi, khususnya periode transisi pergantian gigi sulung ke gigi permanen, banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan lengkung gigi. Maloklusi bukan penyakit, melainkan keadaan morfologik yang menyimpang dari oklusi normal dan standar estetika pada kelompok etnik tertentu. Karies gigi sulung menyebabkan gigi tanggal terlalu awal. Pergeseran gigi di sebelahnya menyebabkan penyempitan ruang pada lengkung gigi. Akibatnya, gigi permanen tidak memperoleh ruang cukup dan akan tumbuh dengan susunan gigi berjejal. Talasemia Menurut Retno, faktor lingkungan yang dapat menyebabkan maloklusi mencakup penyakit, status nutrisi, dan kebiasaan oral. Salah satu contoh penyakit yang dapat menyebabkan maloklusi adalah talasemia. Talasemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan. Tubuh penderita tidak dapat membentuk hemoglobin dalam jumlah cukup. Selain itu, sel darah merah pecah sebelum waktunya sehingga penderita mengalami anemia berat. Akibat anemia hemolitik, anak talasemia mengalami hambatan tumbuh kembang fisik (berat dan tinggi badan kurang) serta hambatan pertumbuhan tulang penyangga gigi. Rahang bawah pendek sehingga muka bagian atas tampak maju. Pertumbuhan vertikal juga terganggu sehingga tampak divergen, muka lebih cembung. Wajah tidak proporsional, pipi lebih tinggi, jarak kedua mata lebih lebar. Dalam kaitan itu, untuk mencegah gangguan pertumbuhan tulang dan gigi, anak perlu mendapat transfusi darah terusmenerus agar tidak anemia.

Kebiasaan minum susu dengan botol dot menjelang tidur, bisa menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang di mulut sepanjang malam, akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam yang kemudian melarutkan email gigi. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan di subsurface (lapisan di bawah permukaan gigi). "Permukaan gigi tampak utuh, tetapi sebenarnya lapisan di bawahnya telah larut. Demineralisasi awal tampak seperti bercak putih di gigi. Lama-lama kecoklatan, kemudian berlubang," urai Retno. Untuk mengatasi, plak yang merupakan media bakteri dan sukrosa untuk menempel ke gigi dibersihkan, kemudian gigi diberi lapisan fluor untuk remineralisasi. Anak sebaiknya tidak minum susu sambil tiduran, dan minum air putih setelah minum susu. Kalau terpaksa, begitu anak tertidur, botol dot harus segera diambil dan mulut anak dikeringkan. Akibat serupa bisa terjadi pada anak yang punya kebiasaan mengemut makanan. Gosok gigi harus dibiasakan begitu gigi mulai tumbuh. Namun, Retno menyarankan, anak di bawah tiga tahun tidak menggunakan pasta gigi, karena belum mampu berkumur-kemungkinan pasta gigi tertelan. "Pasta gigi mengandung fluor. Fluor dalam jumlah yang tepat memang membantu pertumbuhan gigi, tetapi kelebihan fluor menyebabkan dental fluorosis atau gangguan struktur email gigi. Ada bagian email yang hilang, karena mengganggu pembentukan email. Akibatnya struktur email lemah, rapuh, dan mudah erosi," papar Retno. (atk) sumber: kompas, 24 september 2001