Anda di halaman 1dari 7

PENGUKURAN INDEKS LUAS DAUN SECARA TIDAK LANGSUNG PADA EMPAT JENIS TANAMAN YANG BERBEDA

Rizki Ramadhani 0810480085 Abstrak Indeks Luas Daun (ILD) atau leaf area index (LAI) adalah perbandingan antara luas daun terhadap luas permukaan lahan yang menjadi tempat tumbuh suatu tanaman. Nilai ILD dapat ditentukan melalui pengukuran secara langsung maupun tidak langsung. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui nilai ILD beberapa jenis tanaman berdasarkan metode tidak langsung serta kaitan ILD dengan pertumbuhan tanaman terutama radiasi matahari karena berperan penting dalam proses fotosintesis tanaman. Pengukuran menggunakan LAI-2000 plant canopy analyzer (PCA) (Li-Cor, Inc., Lincoln, Nebraska, U.S.A.) pada empat jenis tanaman yang berbeda yaitu palem, mahoni, sukun, dan sawo pada pukul 10.00 WIB, 12.00 WIB, dan 14.00 WIB. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tanaman sawo memiliki nilai ILD paling tinggi, sedangkan tanaman palem memiliki nilai ILD paling rendah. Nilai ILD maksimum diperoleh pada pukul 12.00 WIB pada tanaman mahoni, sukun dan sawo sedangkan pada tanaman palem ILD maksimum diperoleh pada pukul 14.00 WIB. Keakuratan pengukuran ILD menggunakan LAI-2000 plant canopy analyzer sangat ditentukan oleh cuaca. ILD mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman, ILD optimum menyebabkan intersepsi radiasi matahari tinggi sehingga laju fotosintesis juga tinggi, laju fotosintesis tinggi menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman berjalan baik. Kata Kunci : Indeks Luas Daun, LAI-2000 plant canopy analyzer, intersepsi radiasi

PENDAHULUAN Indeks Luas Daun (ILD) atau leaf area index (LAI) adalah perbandingan antara luas daun terhadap luas permukaan lahan yang menjadi tempat tumbuh suatu tanaman. ILD dapat digunakan untuk menduga berbagai informasi penting berkaitan dengan vegetasi seperti laju fotosintesis, laju transformasi dan laju respirasi, alokasi karbon di atas dan di bawah permukaan tanah, serta laju dekomposisi nitrogen dan mineral. Selain itu ILD adalah variabel penting dalam perhitungan proses biogeokimia hutan seperti : evaporasi dan intersepsi tajuk, transpirasi dan kandungan nitrogen tajuk (Running dan Neman, 1991, dalam Siregar et al., 1999). ILD juga menentukan kapasitas tanaman dalam mengintersepsi radiasi matahari. Semakin besar ILD maka semakin besar pula radiasi matahari yang dapat diintersepsi untuk dimanfaatkan oleh tanaman. Nilai ILD dapat ditentukan melalui pengukuran secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran ILD secara langsung didasarkan pada nisbah antara luas daun dengan

luas bidang tegakan yang diproyeksikan tegak lurus terhadap penutupan tajuk. Asner (2003) menyatakan bahwa terdapat beberapa metode pengukuran ILD secara langsung di lapangan antara lain: metode Destructive Harvesting yaitu melakukan pengukuran secara langsung terhadap luas satu sisi permukaan daun di lapangan dengan menggunakan peralatan kertas grid persegi atau menggunakan peralatan ukur optis secara otomatis, serta metode mengumpulkan dan menimbang semua daun-daun yang jatuh, kemudian dikonversikan ke luas daun dengan metode penentuan luas daun tertentu (luas daun/berat daun). Cara tersebut dapat memberikan nilai yang lebih akurat dan mudah dilakukan untuk komunitas tanaman pertanian, tetapi akan membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang cukup besar bila diaplikasikan pada kawasan hutan ataupun perkebunan. Untuk mengatasi kendala tersebut, pengukuran ILD dapat dilakuan secara tidak langsung atau spasial dengan teknik penginderaan jauh salah satunya menggunakan alat LAI2000 plant canopy analyzer (PCA), dengan cara ini dapat diduga besarnya nilai ILD. Metode pengukuran ILD secara tidak langsung diharapkan tidak perlu merusak tanaman (tidak bersifat destruktif), cepat dan praktis. Pengukuran secara tidak langsung tersebut berpedoman terhadap pengukuran sifat optik daun seperti reflektansi daun terhadap penerimaan radiasi matahari. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui nilai ILD beberapa jenis tanaman berdasarkan metode tidak langsung serta kaitan ILD dengan pertumbuhan tanaman terutama radiasi matahari karena berperan penting dalam proses fotosintesis tanaman.

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Percobaan pengukuran ILD dilaksanakan di sekitar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada tanggal 11 April 2012. Pengukuran ILD tanaman dilakukan pada tiga waktu yang berbeda yaitu pukul 10.00, 12.00 dan 14.00 WIB.

Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah LAI-2000 plant canopy analyzer (PCA) (Li-Cor, Inc., Lincoln, Nebraska, U.S.A.), kamera dan alat tulis. Pengukuran ILD dilakukan dengan metode tidak kontak secara tidak langsung (indirect noncontact methods), LICOR-2000 yang digunakan menggunakan bukaan lensa 90 sehingga dalam masing-

masing tanaman diamati di ke empat sisinya. Tanaman yang diamati terdiri dari tanaman palem sebagai kontrol, mahoni, sukun, dan sawo.

Gambar 1. Alat LAI-2000 plant canopy analyzer

HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Indeks Luas Daun pada Empat Jenis Tanaman Berbeda Pengukuran ILD dilakukan pada jenis tanaman dan waktu yang berbeda. Hasil pengamatan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai Indeks Luas Daun Tanaman yang Diamati pada Waktu yang Berbeda Tanaman Palem Mahoni Sukun Sawo Waktu (WIB) 12.00 0,97 0,98 0,99 1,76

10.00 0,2 0,63 0,75 1,28

14.00 1,3 0,3 0,94 1,55

Dari tabel tersebut kemudian dibuat grafik yang disajikan pada Gambar 2.

Pengaruh Waktu terhadap ILD pada Jenis Tanaman yang Berbeda


Indeks Luas Daun 2 1.5 1 0.5 0 10.00 12.00 Waktu 14.00 palem mahoni sukun sawo

Gambar 2. Grafik pengaruh waktu terhadap ILD pada jenis tanaman yang berbeda

Berdasarkan grafik pada Gambar 2 di atas terlihat bahwa pada tanaman mahoni, sukun dan sawo, nilai ILD meningkat dari pengamatan pukul 10.00 ke pengamatan pukul 12.00 kemudian menurun pada pengamatan pukul 14.00, hanya tanaman palem saja yang terus mengalami peningkatan dari pukul 10.00 ke 14.00. ILD tanaman mencapai nilai

maksimum pada pukul 12.00 karena pengaruh dari intensitas radiasi matahari yang diserap tanaman. Keberadaan radiasi sinar matahari pukul 12.00 WIB yang tegak lurus bumi dapat mempengaruhi intensitas yang diterima tajuk atau kanopi sehingga memberikan nilai ILD yang maksimum pada waktu tersebut, berbeda ketika pukul 10.00 atau 14.00 dimana radiasi matahari condong dan tidak tegak lurus. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Sumarsono (2005) yang menyatakan bahwa ILD meningkat dengan peningkatan intensitas cahaya sampai batas optimum tanaman mengintersepsi cahaya. Dari data hasil pengamatan nilai ILD paling tinggi yaitu pada tanaman sawo, dimana memiliki kanopi paling rapat. Gardner et al. (1991) menyatakan bahwa indeks luas daun merupakan gambaran tentang rasio permukaan daun terhadap luas tanah yang ditempati oleh tanaman. Semakin rapat kanopi daun dalam menutupi luas area tanah maka nilai ILD semakin tinggi, namun hal tersebut dipengaruhi pula oleh intensitas cahaya yang diterima. Tanaman yang memiliki nilai ILD lebih rendah dari tanaman sawo yaitu tanaman sukun, tanaman mahoni dan yang memiliki nilai ILD paling rendah yaitu palem. Penampakan kanopi dari tanaman tersebut disajikan pada Gambar 3. Terdapat data yang janggal selama pengamatan yaitu pada tanaman palem yang digunakan sebagai tanaman kontrol ternyata memiliki nilai ILD yang tinggi pada pukul 12.00 maupun 14.00, padahal tanaman tersebut sama sekali tidak mempunyai daun atau tidak memiliki kanopi. Data pencilan tersebut diduga karena kondisi cuaca selama pengamatan dalam keadaan mendung sehingga mempengaruhi alat yang digunakan. Cater et al., (2009) menyatakan bahwa keakuratan pengukuran ILD menggunakan alat LAI-2000 plant canopy analyzer sangat tergantung pada cuaca. Pengukuran ILD dengan menggunakan alat tersebut sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga cahaya matahari yang diterima tanaman tidak terhalang oleh awan mendung. Selain pengaruh cuaca, pengaruh keberadaan bangunan dan pohon-pohon sekitar yang kemungkinan menaungi tanaman kontrol juga dapat menyebabkan adanya data pencilan tersebut, begitupula dengan keterampilan manusia dalam menggunakan alat tersebut juga dapat mengakibatkan data yang kurang akurat. Dikaitkan dengan teori dan penalaran seharusnya tanaman yang tidak memiliki daun atau kanopi memiliki nilai ILD yang rendah karena tidak adanya permukaan daun yang menutupi luas area tanah.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 3. Pengukuran ILD pada empat jenis tanaman. (a) Palem tanpa kanopi (kontrol), (b) Mahoni, (c) Sukun, (d) Sawo

Kaitan Indeks Luas Daun dan Pertumbuhan Tanaman Indeks luas daun dan laju asimilasi bersih dapat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman. Laju asimilasi bersih yang tinggi dan indeks luas daun yang optimum akan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman (Gardner et al., 1991). ILD dalam kaitannya dengan luas daun dapat mempengaruhi fotosintat yang dihasilkan tanaman. Fotosintat yang tinggi akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung dengan baik, namun hal tersebut dipengaruhi pula oleh tingkat efisiensi penggunaan energi radiasi matahari setiap tanaman menjadi biomassa.

Radiasi matahari mempunyai peranan yang sangat penting di bidang pertanian, karena radiasi matahari merupakan sumber energi dalam proses fotosintesa pada tanaman yang berhijau daun. Dalam proses tersebut tanaman akan menghasilkan karbohidrat untuk perkembangan dan pertumbuhan lebih lanjut. Menurut Chang (1968) laju fotosintesa daun meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya, sedang respon tanaman sendiri terhadap tingkatan intensitas cahaya berbeda-beda tergantung dari spesies masing-masing. Dari hasil pengamatan, luas daun jenis tanaman yang diamati memberikan nilai ILD yang berbeda-beda karena pengaruh secara genetik yang memang berbeda antar jenis tanaman. Nila ILD tanaman palem berbeda dengan mahoni, berbeda pula dengan sukun maupun sawo. Nilai ILD juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk menentukan besar intersepsi cahaya yang digunakan untuk proses fotosintesis tanaman. Sinclair dan Gardner, 1998 (dalam Sitompul dan Purnomo, 2005) menyatakan bahwa jika nilai ILD=1, prediksi cahaya yang diintersep oleh tanaman sebesar 50%, bila ILD=2 cahaya diintersep sebesar 90% dan bila ILD 4,3 cahaya diintersep sebesar 95%. Hasil pengukuran ILD yang telah dilakukan pada tanaman palem, mahoni, dan sukun pada pukul 10.00 WIB dan 12.00 WIB mempunyai nilai ILD kurang dari 1. Berdasarkan nilai ILD tersebut dapat diketahui bahwa prediksi cahaya yang dapat dintersep oleh tanaman kurang dari 50%. Sedangkan pada tanaman sawo, nilai ILD pada pukul 10.00 WIB, 12.00 WIB, dan 14.00 WIB menunjukkan nilai lebih dari 1 sehingga prediksi cahaya yang diintersep oleh tanaman sawo lebih dari 50% tetapi kurang dari 90%.

KESIMPULAN 1. Pengukuran ILD pada empat jenis tanaman berbeda menggunakan metode tidak langsung menunjukkan nilai ILD yang berbeda pula. Tanaman yang memiliki nilai ILD paling tinggi yaitu tanaman sawo sedangkan tanaman yang memiliki nilai ILD paling rendah yaitu tanaman palem (kontrol). 2. Nilai ILD maksimum diperoleh pada pukul 12.00 WIB pada tanaman mahoni, sukun dan sawo sedangkan pada tanaman palem ILD maksimum diperoleh pada pukul 14.00 WIB 3. Keakuratan pengukuran ILD menggunakan LAI-2000 plant canopy analyzer sangat ditentukan oleh cuaca. Cuaca mendung mempengaruhi pengukuran LAI sehingga hasil pengukuran ILD menjadi tidak akurat. 4. ILD mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman, ILD optimum menyebabkan intersepsi radiasi matahari tinggi sehingga laju fotosintesis juga tinggi, tetapi dipengaruhi jenis

tanamannya pula. Laju fotosintesis tinggi menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman berjalan baik.

DAFTAR PUSTAKA Asner, G.P., Scourlock, J.M.O., & Hicke, J.A. 2003. Global synthesis of leaf area index observations : implications for ecological and remote sensing studies. Global & Biogeography, 12, 191-205 Cater, M., I. Dammann, J. Derome, dan M. Greve. 2009. Field Protocol on Radiation Measurements and Leaf Area Index. Chang, J.H. 1968. Climate and agriculture. Aldine. Chicago Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa oleh Susilo, H.). Universitas Indonesia Press. Jakarta. 428 p. Siregar, V.P., Wahyu, Sri Harini, Syukri M. Nur, Djokosoegito, M., Sitanggang, G-, I. Setyawan, Saptajadi, D. P. Nugroho, I- Setiawan, Dirgahayu, D., Mujiyanto, Siregar, D.F, 1999. Konstruksi Prediksi Produksi Padi Berdasarkan Model Spasial, Laporan Akhir, Kegiatan Proyek teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam fTISDA)-BPPT, SEAMEO BIOTROP, Bogor Sitompul, S.M., dan D. Purnomo. 2005. Peningkatan Fungsi Agronomi Sistem Agroforestri Jati, Pinus dengan Penggunaan Varietas Tanaman Jagung Toleran Irradiasi Rendah. Agrosains 7(2): 93-100 Sumarsono. 2005. Analisis Kauntitatif Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Soy Beans). Universitas Diponegoro. Fakultas Peternakan.