Anda di halaman 1dari 35

PERAN SERTIFIKASI UJI KOMPETENSI DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KINERJA TKI DI LUAR NEGERI (Studi Kasus Kinerja

TKI Asal Jawa Timur)

Di susun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Seminar ESDM & Ketenagakerjaan Oleh: ANDISTYA OKTANING LISTRA NIM: 0910210022

DOSEN: PROF. DR. PUDJIHARJO.,SE

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI

DAFTAR ISI I. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan II. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur 2.1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Ketenagakerjaan 2.1.2 Kualitas Tenaga Kerja di Jawa Timur 2.1.3 Kesempatan Kerja di Jawa Timur 2.2 TKI Sebagai Lapangan Kerja Alternatif di Jawa Timur 2.2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup TKI 2.2.2 Kebijakan Berkaitan Dengan Penempatan TKI 2.2.3 Penempatan Kerja TKI Asal Jawa Timur III. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Peran TKI Asal Jawa Timur Sebagai Penyumbang Devisa Terbesar di Indonesia 3.2 Manfaat yang Diperoleh Bekerja di Luar Negeri Bagi TKI Asal Jawa Timur 3.2 Peran Sertifikasi Uji Kompetensi Terhadap Kinerja TKI Asal Jawa Timur di Luar Negeri 3.4 Perlindungan Hukum Terhadap Kinerja TKI Asal Jawa Timur IV. KESIMPULAN V. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan total penduduk terbanyak di Pulau Jawa yaitu pada tahun 2005 adalah 37.070.731 jiwa, dengan kepadatan 774 jiwa/km2 (Wikipedia: 2012). Dengan jumlah penduduk dan kepadatan seperti itu, provinsi Jawa Timur mengindikasikan persaingan kerja yang semakin ketat akibat keterbatasan lapangan kerja. Apalagi beberapa tahun terakhir, krisis lapangan kerja sudah menjadi permasalahan yang sangat parah. Kalau ditelaah lebih jauh maka permasalahan krisis lapangan kerja berawal dari krisis ekonomi tahun 1997 1998 yang popular dengan istilah krismon (krisis moneter). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dari tahun 1997 sampai sekarang telah menimbulkan berbagai ekses seperti maraknya PHK karena investor asing banyak yang pindah ke negara lain (seperti perusahaan Sony music yang pindah dari Indonesia), banyaknya perusahaan yang gulung tikar. PHK disini

mengakibatkan tingginya angka pengangguran yang memicu rentannya tindak kriminal, kerusuhan, dan sebagainya. Jadi bisa dikatakan bahwa krisis ekonomi juga berimbas pada krisis lapangan pekerjaan.1 Untuk mengatasi krisis lapangan kerja dalam upaya mengendalikan angka pengangguran, tampaknya tak ada jalan lain kecuali membuka peluang kerja seluas luasnya bagi pencari kerja untuk mengisi lowongan kerja di luar negeri sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia), sayangnya globalisasi saat ini membawa kompleksitas tantangan pada perubahan teknologi, kualitas profesionalisme, public service, standarisasi produk/jasa dan kompetensi SDM, perdagangan bebas, persaingan ketat, konstelasi politik dan sosial. Dengan demikian dalam rangka mengakomodir kebutuhan dunia global khususnya dalam hal peningkatan kualitas SDM dapat diwujudkan dengan sistem pendidikan dan pelatihan Indonesia yang efektif dengan sistem standarisasi dan sertifikasi tenaga kerja nasional.2 Pemanfaatan kesempatan kerja di luar negeri khususnya pengiriman Tenaga Kerja
1

Indonesia

memberikan konstribusi terhadap perekonomian

Zuhdi, Iman. 1966. TKI Penyumbang Devisa Mencerdaskan Bangsa. Indonesia : Kasih Abadi
2

Astuti, Budi. Sertifikasi Uji Kompetensi Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Indonesia/ Tenaga Kerja Wanita Penata Laksana Rumah Tangga. 15 Maret 2012. eprints.undip.ac.id

Indonesia sebagai devisa, baik secara mikro kepada keluarganya maupun makro untuk perusahaan jasa TKI (PJTKI) dan negara. Namun demikian sampai sekarang pemerintah sama sekali belum terlihat melakukan upaya serius melindungi tenaga kerja Indonesia informal di luar negeri.3 Dalam melaksanakan tugasnya sudah

banyak TKI yang terlibat kasus penyiksaan. Tidak terdapat perubahan atas berbagai kasus sebelumnya yang terjadi, justru belakangan kasus penyiksaan TKI semakin meningkat. Pemerintah seolah tidak belajar atas kesalahan-kesalahan dimana terjadinya kasus yang sama sebelumnya. Seakan-akan sudah merupakan hal yang lumrah apabila terjadinya penyiksaan TKI setiap tahun.4 Upaya sertifikasi kompetensi TKI sebenarnya sudah ada dan dimulai tahun 2000. Namun hanya dilakukan oleh institusi tertentu untuk kepentingan tertentu, sehingga yang terjadi tenaga kerja yang telah disertifikasi kompetensinya tidak

standar atau sertifikasinya tidak mendapatkan pengakuan dari pihak pengguna. Dengan demikian dalam rangka menghadapi iklim ekonomi di era globalisasi harus dapat menciptakan Competitive Advantage atau keunggulan daya saing

melalui peningkatan kualitas dan produktivitas produk jasa yang upayanya adalah dengan sistem standarisasi dan sertifikasi bagi tenaga kerja Indonesia.5 Aspek perlindungan terhadap penempatan tenaga kerja di luar negeri sangat terkait pada sistem pengelolaan dan pengaturan yang dilakukan berbagai pihak yang terlibat pada pengiriman tenaga kerja Indonesia keluar negeri. Untuk langkah penempatan tenaga kerja di luar negeri, Indonesia telah menetapkan mekanisme melalui tiga fase tanggung jawab penempatan yakni fase pra penempatan, selama penempatan dan purna penempatan. Pengaturan tentang

penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri adalah Undang-undang No. 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. Oleh karena itu negara wajib menjamin dan melindungi hak asasi warga negaranya yang bekerja baik di dalam maupun di luar negeri berdasarkan prinsip persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan gender, anti diskriminasi dan anti perdagangan manusia. Dalam hal penempatan tenaga kerja
3

Ibid
4

Ardiansyah, Shandra. Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Di Luar Negeri. 16 Maret 2012. zinkser.blogspot.com
5

Ibid

Indonesia di luar negeri merupakan

suatu upaya untuk mewujudkan hak dan

kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak, yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap

memperhatikan harkat, martabat, hak asasi manusia dan perlindungan hukum serta pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional.6 1.2 Rumusan Masalah Dengan berlatar belakang kepentingan ekonomi sebagai diuraikan diatas, maka masalah sertifikasi uji kompetensi dan perlindungan hukum pada tenaga kerja merupakan hal yang perlu dilaksanakan. Dengan demikian maka permasalahan dalam penelitian Peran Sertifikasi Uji Kompetensi dan Perlindungan Hukum Terhadap Kinerja TKI Di Luar Negeri (Studi Kasus Kinerja TKI Asal Jawa Timur) dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah peran TKI asal Jawa Timur sebagai penyumbang devisa terbesar di Indonesia? 2. Apakah manfaat yang diperoleh bekerja di luar negeri bagi TKI asal Jawa Timur? 3. Apa peran sertifikasi uji kompetensi terhadap kinerja TKI asal Jawa Timur di luar negeri? 4. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap kinerja TKI asal Jawa Timur di luar negeri? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui pentingnya keberadaan TKI asal Jawa Timur sebagai penyumbang devisa terbesar 2. Mengetahui manfaat yang diperoleh bekerja di luar negeri bagi TKI asal Jawa Timur 3. Mengetahui peran sertifikasi uji kompetensi terhadap kinerja TKI asal Jawa Timur di luar negeri 4. Mengetahui perlindungan hukum terhadap kinerja TKI asal Jawa Timur yang dikirim luar negeri

Ibid

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur 2.1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah pelaku pembangunan dan pelaku ekonomi baik secara individu maupun secara kelompok, sehingga mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam aktivitas perekonomian nasional, yaitu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia, tenaga kerja sebagai salah satu penggerak tata kehidupan ekonomi dan merupakan sumber daya yang jumlahnya cukup melimpah. Indikasi ini bisa dilihat pada masih tingginya jumlah pengangguran di Indonesia serta rendahnya atau minimnya kesempatan kerja yang disediakan.7 Banyak ahli berbeda pendapat mengenai pengertian Tenaga Kerja. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan penafsiran tentang pengertian buruh, pekerja dan pembatasan usia, serta klasifikasi sosial pekerja. Buruh lebih berkonotasi sebagai pekerja kasar, kuli dan/atau pekerja tanpa didukung dengan latar belakang pendidikan formal yang baik sesuai dengan standar yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan pekerja juga ditafsirkan sebagai pegawai mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan buruh.8 Menurut pasal 1 angka 2 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah: Setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Sedangkan dalam pasal 1 angka 3 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang dimaksud pekerja/buruh adalah: Setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
7

Astawa, I Dewa Rai. Aspek Perlindungan Hukum Hak Hak Tenaga Kerja di Luar Negeri. 16 Maret 2012. eprints.undip.ac.id
8

Ibid

Dalam hal ketenagakerjaan batas umur yang layak kerja di Indonesia adalah 10 tahun. Namun di negara yang sudah maju batas umur lebih tinggi yaitu 15 tahun. Kelayakan bekerja dapat dibentuk oleh tradisi turun temurun. Untuk negara yang sedang berkembang batas bawah ini relative lebih muda daripada untuk negara yang sudah maju. Adapun bekerja terbagi menjadi dua golongan, yaitu:9 1. Bekerja Penuh Bekerja Penuh adalah angkatan kerja yang sedang bekerja atau melakukan pekerjaannya lebih atau sama selama 35 jam dan atau 40 jam dalam seminggu atau 7 jam sehari dan memperoleh pendapatan yang memadai. Istilah tersebut tidak dibedakan baik orang yang bekerja pada sektor swasta maupun bekerja pada instansi

pemerintah. 2. Setengah Penganggur Setengah penganggur adalah angkatan kerja yang bekerja kurang dari 35 jam atau 40 jam dalam seminggu tetapi memperoleh pendapatan yang rendah atau kurang produktivitasnya. Istilah setengah

pengangguran tersebut dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : Setengah Pengangguran Kentara adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam atau 40 jam seminggu. Setengah Pengangguran Tak Kentara atau Terselubung adalah mereka yang bekerja lebih dari 35 jam atau 40 jam seminggu, akan tetapi pendapatan atau produktivitasnya rendah. Penganggur adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak mempunyai pekerjaan atau tidak bekerja sama sekali akan tetapi berusaha mencari pekerjaan.

Ibid

2.1.2

Kualitas Tenaga Kerja di Jawa Timur Peningkatan tenaga kerja di Jawa Timur dari tahun ke tahun rata rata masih belum merefleksikan kualitas dan kompetensi yang baik sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja. Dalam hal ini, rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja pada umumnya dilatarbelakangi oleh hal hal sebagai berikut:10 a. Rendahnya tingkat pendidikan, baik tingkat pendidikan umum, kejuruan, maupun keterampilan. b. Rendahnya tingkat gizi masyarakat (malnutrisi) yang berakibat pula rendahnya daya tahan terhadap penyakit. c. Rendahnya tingkat teknologi dalam proses produksi yang dapat dikuasai oleh tenaga kerja. d. Tingginya tingkat absensiisme (kemangkiran kerja) dan labor turnover (pindah ;lapangan pekerjaan, lekas bosan dalam suatu bidang pekerjaan tertentu) e. Rendahnya tingkat pendapatan atau balas jasa bagi tenaga kerja, sebagai pencerminan dari besarnya penawaran tenaga kerja terhadap permintaan dalam pasar kerja. Adapun kebijakan peningkatan kualitas tenaga kerja berdasarkan hasil diskusi para pakar adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan formal di pedesaan terutama bagi anak usia sekolah dan sekolah kejuruan dan keahlian. Sehingga nantinya angkatan kerja di Jawa Timur memiliki kualitas yang handal untuk mendukung pengembangan sector unggulan di masing-masing sector. 2. Bagi angkatan kerja usia kerja yang masih memiliki pendidikan rendah perlu di tingkatkan kualitasnya melalui pelatihan yang sesuai dengan keunggulan di wilayahnya masing-masing. Jawa Timur unggul sector pertanian, perlu mendapatkan pelatihan keterampilan dibidang pertanian, perikanan sehingga mampu menggunakan teknologi yang memadai dan dapat bersaing dengan negara luar.

10

Soeharsono, Sagir. 1982. Kesempatan Kerja, Ketahanan Nasional, dan Pembangunan Manusia aan Seutuhnya. Bandung : Alimni STHG

Dengan

melibatkan

berbagai

perguruan

tinggi

melalui

pengembangan desa produktif dan pola inkubasi bisnis dapat dikembangkan sector pertanian dan perikanan guna mendukung daya saing dan peningkatan nilai tambah sector pertanian ke arah konsep agribisnis. 3. Dalam koridor rencana percepatan pembangunan nasional, maka pengembangan sector industri pengolahan Jawa perlu juga untuk diarahkan pada industri pengolahan berbasis pertanian. Selain juga untuk mendukung pengembangan sektor industry manufactur dan indusrti jasa kreatif yang didukung dengan peran serta aktif perguruan tinggi dan asosiasi tenaga profesi untuk mengisi peluang tenaga semi skill dan full skill di sector jasa design, hotel, pariwisata, rumah sakit dan jasa perhububungan laut. 4. Kegiatan penyuluhan dan informasi syarat jabatan ke angkatan kerja muda, sekolah menengah umum/kejuruan dengan berbagai media dan sarana perlu dilakukan untuk membantu pemahaman dan

kesiapan tenaga kerja muda Jawa Timur dalam persaingan di pasar asean. Aspek yang perlu disiapkan Pencari Kerja untuk bersaing di Pasar Asean Community adalah bahasa, ketrampilan khusus, pengetahuan perijinan kerja, info lowongan kerja dan sikap bekerja keras, ulet dan kreatif. 2.1.3 Kesempatan Kerja di Jawa Timur Struktur ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Agustus 2011 mencapai 19,76 juta orang, berkurang sekitar 0,49 juta orang dibanding angkatan kerja Februari 2011 sebesar 20,25 juta orang, dan lebih tinggi 0,23 juta orang dibanding Agustus 2010. Jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Timur pada Agustus 2011 mencapai 18,94 juta orang, berkurang sekitar 0,47 juta orang dibanding keadaan Februari 2011 sebesar 19,41 juta.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Agustus 2011 mencapai 4,16 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan TPT Februari 2011 sebesar 4,18 persen dan TPT Agustus 2010 sebesar 4,25 persen. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2011

mencapai 69,49 persen sedikit menurun dibandingkan TPAK bulan Februari 2011 yang sebesar 71,39 persen.11 Dalam hal ini, penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Timur sebenarnya tidak dapat terlepas dari faktor faktor dominan yang mempengaruhinya, seperti:12 1. Kependudukan mencerminkan kondisi dua dimensional di satu pihak dapat merupakan modal dasar kearah tercapainya sasaran pembangunan nasional, tetapi juga sekaligus dapat menjadi beban nasional jika angka pertumbuhan penduduk tersebut tidak disertai oleh adanya perluasan kesepatan kerja. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan korelasi positif terhadap pertumbuhan angkatan kerja dalam dasawarsa berikutnya. 2. Kedudukan geografi yang strategis dengan sumber daya alamnya dapat merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai wadah maupun wahana untuk penciptaan kesempatan kerja. Pembangunan potensi nasional ekonomi juga dari merupakan kedudukan proses geografis

pengolahan

kebaharian (maritim) maupun sumber daya alam yang dimiliki. 3. Kondisi Ekonomi dalam pengertian struktur ekonomi yang agraris berat sebelah (tidak adanya keseimbangan antara sector pertanian dan sector non pertanian), juga mencerminkan adanya struktur ekonomi dualistis; sector modern di samping sector agraris tradisional, sector formal dengan dapat modal dan teknologi maju serta sector informal yang padat karya, merupakan factor dominan yang mempengaruhi kemungkinan perluasan kesempatan kerja. 4. Sosial budaya bangsa dengan pranata socialnya merupakan nilai nilai yang dapat mendorong atau menghambat mobilitas angkatan kerja baik secara geografis, sektoral ataupun jenis pekerjaan, untuk tercapainya perluasan angkatan kerja.
11

Badan Pusat Statistik Jawa Timur. Keadaan Ketenagakerjaan Jawa Timur Agustus 2011. 17 Maret 2012 Jatim.bps.go.id
12

Ibid

10

5. Politik dalam pengertian proses pengambilan keputusan suatu kebijaksanaan yang diambil merupakan factor dominan yang tidak dapat diabaikan dalam kebijaksanaan nasional untuk menciptakan iklim yang sehat bagi perluasan kesempatan kerja di Jawa Timur. 2.2 TKI Sebagai Lapangan Kerja Alternatif di Jawa Timur 2.2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup TKI Tenaga Kerja Indonesia (disingkat TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW).13 Tata cara menjadi Tenaga Kerja Indonesia yang akan bekerja ke luar negeri berdasarkan Kep. Menaker No. KEP-104 A/MEN/2002 adalah sebagai berikut : a. Pasal 35 1. Penyuluhan kepada pencari kerja dalam rangka pendataan calon TKI meliputi materi : a. Penjelasan umum tentang program penempatan TKI; b. Prosedur dan mekanisme penempatan TKI; dan c. Persyaratan umum bagi calon TKI yang berminat untuk bekerja ke luar negeri. 2. Penyuluhan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan oleh institusi Kabupaten/Kota, PJTKI dan Instansi terkait. b. Pasal 36 1. Pendapatan Calon TKI dilaksanakan oleh Pengantar Kerja pada instansi Kabupaten/Kota dan atau petugas Kantor Cabang PJTKI. 2. Pendataan yang dilakukan oleh petugas kantor cabang PJTKI sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus dilaporkan kepada Instansi Kabupaten/Kota. 3. Data Calon TKI sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2, dapat digunakan untuk promosi dan pemasaran jasa TKI. 4. Untuk tersedianya data lengkap mengenai persediaan Calon TKI secara nasional dan daerah, instansi Kabupaten/Kota menyampaikan data persediaan calon TKI di wilayahnya
13

Ibid

11

kepada BP2TKI dan Direktorat Jenderal melalui mekanisme antar kerja. c. Pasal 37 1. Untuk keperluan pendataan, Calon TKI harus menyerahkan foto copy jati diri (KTP), ijazah dan atau sertifikat keterampilan. 2. Dalam pelaksanaan pendataan, calon TKI tidak dikenakan biaya. 3. Pendataan calon TKI bukan merupakan jaminan penempatan. 4. Untuk keperluan pendataan Calon TKI, PJTKI dilarang menghimpun calon TKI dalam asrama/akomodasi. d. Pasal 38 1. Untuk merekrut, mendaftar dan menghimpun calon TKI dalam asrama/akomodasi, PJTKI wajib memiliki Surat Izin Pengerahan (SIP) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal. 2. Untuk memperoleh SIP sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 PJTKI harus mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal dengan melampirkan dokumen asli dan copy yang terdiri dari : a. Perjanjian kerjasama penempatan TKI; b. Surat permintaan TKI (job order/demand letter) atas nama PJTKI yang bersangkutan; c. Standart perjanjian kerja induk atau standart perjanjian kerja perseorangan; dan d. Surat izin pendirian kantor cabang bagi PJTKI yang mempunyai kantor cabang. 3. Direktur Jenderal setelah melakukan penilaian terhadap permohonan PJTKI dapat menerbitkan atau menolak permohonan SIP dan disampaikan kepada PJTKI yang bersangkutan dengan tembusankepada BP2TKI daerah rekrut. 4. Direktur Jenderal menetapkan jumlah calon TKI yang dapat direkrut dan batas waktu berlakunya SIP. 5. Berdasarkan SIP sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 BP2TKI menerbitkan rekomendasi rektrut kepada PJTKI dan atau Kantor Cabang yang bersangkutan dengan tembusan kepada instansi propinsi dan instansi Kabupaten/Kota. 6. Atas dasar rekomendasi rekrut BP2TKI, PJTKI dan atau Kantor Cabang bersama-sama Instansi Kabupaten/Kota melakukan rekrut yang meliputi pendaftaran dan seleksi calon TKI. 7. PJTKI wajib melaporkan hasil rekrut tersebut kepada BP2TKI, dengan tembusan kepada instansi Propinsi dan Direktur Jenderal. e. Pasal 39 1. Setiap calon TKI yang mendaftar harus lebih mengikuti penyuluhan mengenai : 12

a. Lowongan pekerjaan yang tersedia beserta uraian tugas; b. Syarat-syarat kerja yang memuat antara lain gaji, jaminan sosial, waktu kerja; c. Kondisi, lokasi dan lingkungan kerja; d. Peraturan perundang-undangan, sosial budaya, situasi dan kondisi negara tujuan; e. Hak dan kewajiban TKI; f. Prosedur dan kelangkapan dokumen penempatan TKI; g. Biaya-biaya yang dibebankan kepada calon TKI; dan mekanisme pembayaran; dan h. Persyaratan calon TKI. 2. Bagi calon TKI yang ada akan mengikuti penyuluhan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus memenuhi syarat: a. Berusia minimal 18 (delapan belas) tahun, kecuali peraturan negara tujuan menentukan usia minimal lebih dari 18 (delapan belas); b. Memiliki Kartu Tanda Penduduk; c. Sehat mental dan fisik yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter; d. Berpendidikan sekurang-kurangnya tampat SLTP atau sederajat e. Memiliki keterampilan yang dibuktikan dengan sertifikat keterampilan yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan yang diakreditasi oleh instansi yang berwenang; f. Memiliki surat izin dari orang tua wali, suami atau istri; g. Persyaratan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara tujuan penempatan. 3. Penyuluhan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan oleh instansi Kabupaten/Kota PJTKI dan instansi terkait f. Pasal 40 Dalam hal negara tujuan mensyaratkan adanya tes kesehatan tambahan bagi calon TKI maka PJTKI berkewajiban mengurus pelaksanaan tes tersebut. g. Pasal 41 1. PJTKI berkewajiban menempatkan TKI yang berkualitas dari segi mental, fisik, keterampilan teknis dan kemapuan berkomunikasi dalam bahasa asing yang diperluykan. 2. Setiap PJTKI wajib melatih calon TKKI yang belum memenuhi standar kualitas TKI sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, di Balai Latihan Kerja (BLK) yang telah diakreditasi oleh Instansi Pemerintah yang berwenang di bidang pelatihan kerja. 3. Untuk menyelenggarakan pelatihan calon TKI, PJTKI dapat memiliki BLK atau bekerjasama dengan Lambaga Pelatihan yang telah diakreditasi oleh instansi pemerintah yang berwenang di bidang pelatihan kerja.

13

4. Kerjasama pelatihan sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 wajib dipenuhi selambat-lambatnya 1(satu) bulan terhitung sejak tanggal berlakunya Keputusan Menteri ini. 5. Kerjasama PJTKI dengan BLKI/lembaga pelatihan sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 harus dituangkan dalam akta perjanjian kerjasama yang dibuat dihadapan notaris. 6. PJTKI yang telah membuat perjanjian kerjasama dengan BLKI/Lembaga Pelatihan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 wajib melaporkan kepada Dirktur Jenderal dengan melampirkan akta perjanjian kerjasama yang bersangkutan. 7. PJTKI yang menempatkan TKI dalam Kendali Alokasi TKI, setelah 5 (lima) tahun sejak berlakunya keputusan Menteri ini wajib memiliki BLK yang telah diakreditasi oleh instansi pemerintah yang berwenang di bidang pelatihan kerja, baik secara sendiri-sendiri maupun dimiliki bersama/kolektif oleh paling banyak 5 (lima) PJTKI. 8. Dalam hal PJTKI belum memiliki BLK sebagaima dimaksud dalam ayat 7, PJTKI dilarang menempatkan TKI dalam Kendali Alokasi TKI. h. Pasal 42 1. Calon TKI yang akan ditempatkan wajib mengikuti pelatihan pada BLK/Lembaga Pelatihan sebagaimana dimaksud alam pasal 41 ayat 2 dan lulus uji keterampilan untuk memperoleh sertifikat kompetensi. 2. Uji keterampilan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 di selenggarakan oleh Lembaga Uji Kompetensi independen. 3. Lembaga Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 ditetapkan dengan Keputusan Menteri. 4. Sebelum adanya Lembaga Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 uji keterampilan dilakukan oleh lembaga pelatihan yang telah diakreditasi oleh instansi Pemerintah yang berwenang dibidang pelatihan kerja. 5. Lembaga Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 dibentuk selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak berlakunya Keputusan Menteri ini. 6. Ketentuan mengenai pelaksanaan uji keterampilan dan sertifikat kompetensi khusus bagi TKI dalam Kendali Alokasi TKI diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. i. Pasal 43 1. PJTKI dan atau Kantor Cabang bersama instansi Kabupaten/Kota melaksanakan seleksi administrasi dan keterampilan terhadap Calon TKI yang telah mendaftar. 2. PJTKI bersama calon TKI yang telah lulus seleksi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 wajib menandatangani perjanjian penempatan TKI dan diketahui oleh pejabat dari instansi Kabupaten/Kota daerah rekrut. 3. PJTKI dan atau kantor cabang membuat Daftar Nominasi bagi calon TKI yang telah lulus seleksi sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. 4. Instansi Kabupaten/Kota yang mengeluarkan rekomendasi pembuatan paspor sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 14

harus menyampaikan wilayahnya.14 2.2.2

tembusan

kepada

BP2TKI

di

Kebijakan Berkaitan Dengan Penempatan Kerja TKI Sistem penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri pada prinsipnya berkonsentrasi pada mobilitas tenaga kerja (worker mobility) bukan aspek umum mobilitas penduduk (people mobility). Export Jasa Tenaga kerja Indonesia atau pengiriman/penempatan TKI ke luar negeri diatur dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor KEP-104 A/MEN/2002 Tentang Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri.15 Penempatan TKI dilakukan oleh lembaga pelaksana yang terdiri dari: Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), instansi pemerintah atau badan usaha milik negara dan badan usaha swasta untuk kepentingannya sendiri.16 Dalam UU No.39 Tahun 2004 penempatan TKI/TKW ke luar negeri diatur langsung oleh pemerintah. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 27, 29 dan 30 UU No.39 Tahun 2004 yang pada pokoknya sebagai berikut : 1. Penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan pemerintah RI atau ke negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing. 2. Penempatan CTKI/TKI di luar negeri diarahkan pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat dan minat dan kemampuan. 3. Penempatan CTKI dilaksanakan dengan memperhatikan

harkat, martabat, hak asasi manusia, perlindungan hak, pemerataan kesempatan kerja dengan mengutamakan

kepentingan nasional.

14

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. 2002. Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri
15

Ibid

16

Kep Menaker No.KEP 204/MEN/1999 Pasal 7

15

4. Dilarang menempatkanCTKI/TKI pada jabatan dan tempat pekerjaan yang bertentangan dengan unsur-unsur

kemanusiaan dan norma kesusilaan. Pelaksanaan penempatan TKI di luar negeri dapat dilakukan oleh:17 1. Penempatan Oleh Pemerintah Penempatan TKI di luar negeri oleh Pemerintah, hanya dilakukan atas dasar perjanjian secara tertulis antara

Pemerintah dengan Pemerintah negara pengguna berbadan hukum di negara tujuan. 2. Penempatan oleh Perusahaan Pelaksana Penempatan TKI Swasta (P3TKIS) Perusahaan yang akan menjadi P3TKIS mendapatkan izin tertulis berupa Surat Izin Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (SIPPTKI), setelah memenuhi persyaratan : a. Berbentuk badan hukum perseorangan terbatas (PT), b. Memiliki modal disetor yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan, sekurang kurangnya sebesar tiga miliar rupiah c. Menyetor uang kepada bank sebagai jaminan dalam bentuk deposito sebesar lima ratus juta rupiah pada bank pemerintah d. Memiliki rencana kerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sekurang-kurangnya untuk tiga tahun berjalan, e. Memiliki unit pelatihan kerja, dan f. Memiliki sarana dan prasarana pelayanan penempatan TKI. Penempatan TKI pada pengguna perseorangan dilakukan melalui mitra usaha di negara tujuan. Mitra Usaha berbentuk badan hukum yang didirikan sesuai dengan ketentuan di negara tujuan. Untuk pengguna perseorangan, dapat mempekerjakan TKI pada pekerjaan antara lain, sebagai penata laksana rumah tangga, pengasuh bayi atau perawat manusia lanjut usia, pengemudi, tukang kebun/taman (sektor informal).

17

Ibid

16

Perlindungan bagi calon TKI yang diberangkatkan keluar negeri oleh P3TKIS, meliputi kegiatan sebelum pemberangkatan (pra

penempatan), selama masa penempatan di luar negeri, dan sampai dengan kembali ketanah air (purna penempatan). Untuk selanjutnya, TKI yang bekerja di luar negeri secara perseorangan berhak untuk memperoleh perlindungan dari Perwakilan RI. 2.2.3 Penempatan Kerja TKI Asal Jawa Timur Peran TKI di Jawa Timur berlandaskan capaian indikator kinerja pembangunan oleh Pemprov Jatim dalam RPJMD 2009-2014, yaitu penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Khusus di bidang ketenagakerjaan, target capaian kinerja mengacu pada program prioritas perluasan lapangan kerja, yang implementasi strategi

pokoknya bertumpu pada pola people centred development, participatory based development dan keberpihakan yang bersifat pro poor, pro job dan pro growth. Berdasar data penempatan tenaga kerja di Jawa Timur, program pengiriman TKI ke luar negeri di Jatim selama tahun 2008 sampai dengan tahun 2010, rata-rata menyumbang 60%-70% dari total penempatan yang tercatat di 38 Dinas yang membidangi ketenagakerjaan di Jawa Timur. Hingga Nopember 2010 telah ditempatkan sebanyak 45.771 orang TKI dengan sumbangan remitansi Rp. 2,1 Milyar. Jadi memang tidak salah jika dikatakan bahwa program pengiriman TKI ke luar negeri menempati posisi strategis dalam membantu mengurangi pengangguran di Jatim.18 Dalam hal ini, penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur pada tahun 2011 melampaui target. Dari target sekitar 60.000 orang, hingga akhir Desember 2011, Jatim sudah menempatkan sekitar 65.000 tenaga kerja ke berbagai negara (bappeda.jatimprov.go.id: 2012). Dalam hal ini penempatan kerja TKI di luar negeri secara tidak langsung berkorelasi terhadap berkurangnya tingkat pengangguran di Jawa Timur juga pada Februari dan Agustus tahun 2011.

18

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. TKI Dapat Kucuran Bantuan Kredit. 17 Maret 2012. disnakertransduk.jatimprov.go.id

17

Menurut Hariyadi Boedihardjo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (UPT P3TKI) Surabaya:19 Jumlah penempatan itu berdasarkan pelayanan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTLN) yang sudah diterbitkan. Namun dari 65.000 TKI itu, sekitar 60% orang bekerja pada sektor informal seperti penata laksana rumaha tangga, sopir pribadi, dan penjaga ternak. Sedangkan 40% TKI bekerja pada sektor formal seperti di bidang konstruksi, perhotelan, supermarket, dan perusahaan berbadan hukum lainnya.

Namun menurut keterangan Hariyadi, UPT P3TKI Surabaya maupun Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur terus berupaya untuk menekan jumlah penempatan TKI informal. Hanya saja, karena masih banyak user (pengguna atau majikan) yang meminta TKI informal ini, maka pihaknya tetap memberikan pelayanan meskipun TKI informal pun tetap harus mengikuti seleksi ketat dengan pelatihan selama total 200 jam. Hariyadi pun menambahkan mengenai negara-negara tujuan penempatan yang masih jadi favorit TKI dari Jawa Timur:

19

Bappeda Jatim. Bappeda Provinsi Jawa Timur 2011, Jatim ekspor 65.000 TKI. 17 Maret 2011. bappeda.jatimprov.go.id

18

Negara-negara kawasan Asia Pasifik, seperti Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Brunei Darussalam, adalah negara tujuan favorit sedangkan untuk negara-negara di kawasan Timur Tengah hanya sebagian kecil saja.20 Adapun negara negara tujuan favorit penempatan TKI di tahun 2011 rata rata tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya seperti yang terlihat pada tabel penempatan kerja TKI di Jawa Timur berdasarkan negara tujuan pada tahun 2008 2009 di bawah ini: Penempatan TKI Jawa Timur Berdasarkan Negara Tujuan 2008 - 2009

Dari tabel diatas, peringkat negara Asia Pasifik yang termasuk 5 besar negara favorit penempatan TKI asal Jawa Timur periode 20082009, yaitu: 1. Malaysia, dengan porsi 44,93% pada tahun 2008, menurun 14,05% pada tahun 2009 sehingga menjadi 30,88% 2. Hongkong, dengan porsi 22,87% pada tahun 2008, meningkat 7,33% pada tahun 2009 sehingga menjadi 30,20
20

BNP2TKI. Penempatan TKI Jawa Timur Tahun 2011 Lampaui Target. 17 Maret 2012. bnp2tki.go.id

19

3. Taiwan, dengan porsi 19,89% pada tahun 2008, meningkat 5,45% pada tahun 2009 sehingga menjadi 25,34% 4. Singapura, dengan porsi 5,80% pada tahun 2008, meningkat 1,94% di tahun 2009 sehingga menjadi 7,74% 5. Brunei Darussalam, dengan porsi 4,87% pada tahun 2008, menurun 1,14% pada tahun 2009 sehingga menjadi 3,73%.

20

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Peran TKI Asal Jawa Timur Sebagai Penyumbang Devisa Terbesar di Indonesia Di Indonesia, tenaga kerja Indonesia/ TKI dianggap sebagai pahlawan devisa karena besarnya jumlah remitan yang dikirimkan. Menurut Jumhur Hidayat, Kepala BNP2TKI, Jumat (25/11/2011) malam saat memberikan sosialisasi bertema Kita Semua Peduli TKI di Stadion Kanjuruhan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang:21 Saat ini ada 6 juta TKI dari seluruh Indonesia yang mengadu nasib di negeri seberang. Jika satu TKI punya tiga sampai empat jiwa, itu artinya satu orang TKI sudah memberi makan dan mengubah ekonomi keluarganya secara langsung. "Pertahun, devisa dari TKI berkisar Rp.100 triliun. Jumlah ini sangat besar. Untuk itu, terima kasih TKI kita semua harus peduli dengan TKI. Sedangkan penyumbang devisa negara dari TKI itu terbesar dari wilayah Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur (Jatim) dikenal sebagai daerah lumbung TKI dimana pada tahun 2009, jumlah warga Jawa Timur yang bekerja sebagai TKI mencapai 49.000 orang, sedangkan pada tahun 2010 mencapai 60.000, sedangkan tahun 2011 Jawa Timur sudah menempatkan sekitar 65.000 tenaga kerja ke berbagai negara (bappeda.jatimprov.go.id: 2012). Hal ini dibuktikan kontribusi devisa yang disumbangkan TKI asal Jawa Timur hingga mencapai Rp 6 triliun per tahun (pumitabusan.com: 2012) dan total remitan TKI asal Jawa Timur rata rata memperoleh sekitar Rp 2,5 triliyun pertahunnya

(kampungtki.com: 2012). Dalam hal ini, remiten atau transaksi pengiriman uang dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur (Jatim) rata rata dikirim melalui western union dan wesel instan yang tiap harinya selalu mengalami peningkatan. Sebagai contoh data di Kantor Pos Besar Madiun, Jawa Timur mencatat pada Juli 2011 jumlah remiten mencapai 5149 pengirim. Dengan nominal total Rp11,29 miliar atau Rp 500 juta per harinya. Beberapa negara asal pengiriman uang di antaranya Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Dengan peningkatan itu diperkirakan sepanjang Agustus 2011 hingga jumlah remiten akan menembus
21

Kiswara, Brama Yoga. Per Tahun, TKI Sumbang Devisa Rp 100 Triliun. 17 Maret 2012. beritajatim.com

21

angka Rp17 miliar. Atau naik sekitar Rp 2 miliar dibanding perolehan bulan sebelumnya. Dengan demikian, meskipun cukup banyak kasus TKI ilegal dari Jawa Timur namun hal ini tidak mempengaruhi jumlah total remitan yang diperoleh TKI asal Jawa Timur.22 Berikut grafik nilai remitan TKI Jawa Timur tahun 2005 2010 Triwulan I.

3.2 Manfaat Bekerja di Luar Negeri Bagi TKI Asal Jawa Timur Bagi para pencari kerja di Jawa Timur yang kurang beruntung, bekerja di luar negeri sebagai alternative. Banyak manfaat dan pengalaman menarik akan didapatkan bila bekerja di luar negeri sebagai TKI. Adapun beberapa manfaat yang akan didapatkan TKI asal Jawa Timur bila bekerja di luar negeri, diantaranya yaitu:23 1. Membantu pemerintah mengurangi pengangguran di dalam negeri dan sebagai penghasil devisa. TKI sejak tahun 1983 telah turut membantu pemerintah menghasilkan devisa bagi negara (Program TKI dimulai tahun 1983). TKI ternyata memberikan sumbangsih besar pada negeri ini, terutama ketika Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1997. 2. Dengan bekerja di luar negeri, TKI mendapatkan kesempatan luas untuk mempraktekan berbicara dan memperdalam belajar bahasa

22

Kuncara, David Eka. Remiten Pos Besar Madiun Capai Belasan Miliar. 18 Maret 2012. nasional.jurnas.com

23

Ibid

22

asing di negara tujuan TKI, salah satu manfaat yang jarang sekali didapat apabila bekerja di Indonesia. 3. Dengan bekerja di luar negeri TKI secara tidak langsung telah membantu pemerintah ikut menghambat lajunya pertumbuhan penduduk Indonesia, karena dengan banyaknya orang yang bekerja di luar negeri maka angka pernikahan dalam negeri yang akan menghasilkan keturunan akan terhambat. 4. Dengan bekerja di luar negeri terbuka peluang bagi para TKI menjadi duta pariwisata untuk mempromosikann pariwisata

Indonesian dengan membagikan brosur tentang objek pariwisata yang ada di Indonesia (kepada pengguna jasa di luar negeri) 5. Terakhir, setelah lama bekerja di luar negeri bekal uang dan ilmu sudah didapat, sehingga terbuka sudah peluang untuk berkarya di negeri sendiri, berwiraswasta menciptakan lapangan kerja baru di dalam negeri. Membantu pemerintah mengurangi krisis lapangan kerja yang melanda negeri ini. Sebagai contoh, berikut manfaat nyata yang diperoleh mantan TKI asal Jawa Timur setelah bekerja di luar negeri: 1. Trisno Yuwono, lahir di Blitar 12 Agustus 1970 adalah seorang mantan TKI Arab yang saat ini sukses menjadi Bos Swalayan dengan omset Rp 35 miliar per tahun. Atas prestasinya, Award Trisno 2011 dari Yuwono UKM memperoleh Migrant FEUI Center

penghargaan Workers

Indonesia

International

(biografi.rumus.web.id: 2012).

2.

Ani Ema Susanti (29 tahun), mantan TKI Hong Kong asal Jombang, Jawa Timur, ini boleh dibilang sukses karena bisa berkuliah dan menjadi sineas melalui film pendeknya "Helper Hongkong Ngampus" yang

membawanya ke banyak festival di Denmark, Prancis dan Italia. (bnp2tki.go.id: 2012)

23

3.

Siti Maryam, wanita paruh baya kelahiran Desa Prigi, Trenggalek 6 Juni 1975 adalah mantan TKW Hong kong berkat kerja keras dan ketekunan selama bekerja kini Maryam memutuskan untuk membuka usaha salon dan video shooting. (indonesiaproud.wordpress.com: 2012)

3.3

Peran Sertifikasi Uji Kompetensi Terhadap Kinerja TKI Asal Jawa Timur di Luar Negeri Masalah daya saing sertifikasi berkait erat dengan pengakuan internasional terhadap sertifikat kompetensi tenaga kerja Indonesia terutama

yang berasal dari Jawa Timur dan hal itu tergantung kepada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat ditinjau secara internal maupun secara eksternal. Secara internal, berarti bagaimana lembaga pelatihan dan penguji kompetensi di Indonesia melaksanakan seluruh mekanisme dan sistem untuk mendapatkan sertifikat kompetensi. Secara eksternal, berarti sampai sejauh mana respon atau tanggapan sampai menimbulkan suatu sikap pengguna jasa diluar negeri memperlakukan TKI asal Jawa Timur selama bekerja dengan referensi sertifikat kompetensi yang dimiliki oleh TKI asal Jawa Timur.24 Dalam hal ini, kualitas dan komposisi ketrampilan TKI asal Jawa Timur masih didominasi oleh jenis jabatan informal (68,06%) dibandingkan jabatan formal (31,94%). Jabatan sektor informal seperti penata laksana rumah tangga/PLRT, tenaga kerja perkebunan, dan sejenisnya masih mendominasi, dibanding jabatan pekerjaan sektor formal seperti worker, tenaga konstruksi dan sejenisnya. Besarnya penempatan TKI di sektor informal terkait dengan tingkat pendidikan dan kualifikasi calon TKI/TKI yang pada umumnya berpendidikan SLTP, serta masih tingginya permintaan dari negara tujuan/pengguna untuk jenis-jenis pekerjaan di sektor informal, terutama pasar Asia yang angka penempatan di sektor informal mencapai 68,04% dari total penempatan TKI ke luar negeri. Jika dibandingkan dengan angka penempatan TKI, kasus yang menimpa calon TKI/TKI pada tahun 2008 sebesar 2,3% dari seluruh angka penempatan,

24

Ibid

24

sedangkan di tahun 2009 mencapai 3,56% dari total angka penempatan. Dengan demikian, perbandingan jumlah kasus dengan angka penempatan TKI selama 2 (dua) tahun terakhir naik sebesar 1,26%. Sedangkan 5 kasus terbanyak calon TKI/TKI yang teridentifikasi adalah:25 1. TKI terminasi tanpa alasan jelas; 2. TKI pulang karena pekerjaan terlalu berat dan/atau banyak; 3. TKI di-PHK karena majikan/perusahaan mengalami pailit/bangkrut; 4. TKI tidak cocok dengan majikan; 5. TKI sakit. Oleh karena itu, penting adanya alat ukur tenaga kerja dalam pemenuhan kualifikasi kerja dilakukan melalui sertifikasi uji kompetensi. Berdasarkan amanat Undang-undang Nomor 13 tentang ketenagakerjaan, bahwa penyelenggara sertifikasi Sertifikasi kompetensi kerja adalah Badan Nasional

profesi (BNSP) secara operasional uji kompetensi dan sertifikasi

kompetensi kerja dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) terakreditasi dan Panitia Uji Kompetensi dan Sertifikasi (PUKS) melalui uji bidang

kompetensi di Tempat Uji Kompetensi (TUK) terakreditasi di berbagai

profesi yang terdapat pada masing-masing sektor dan sub sektor yang terkait. Bentuk pengakuan terhadap seseorang yang telah lulus uji kompetensi berupa sertifikat kompetensi dan Sertifikat Unit Kompetensi. Bagi peserta yang dinyatakan lulus (kompeten) untuk sejumlah unit berkompetensi sebagaimana dipersyaratkan untuk memenuhi jenjang kualifikasi tertentu sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) diberi pengakuan dalam bentuk Sertifikat Kompetensi. Sedangkan peserta uji kompetensi yang baru lulus uji kompetensi untuk satu atau beberapa unit kompetensi diberi pengakuan yang memuat daftar unit kompetensi yang telah dikuasai.26 dalam bentuk

sertifikat unit kompetensi atau bentuk pengakuan lain, misalnya diberi Log Book

25 26

Ibid

Ibid

25

26

Dari hasil penelitian, sertifikat kompetensi yang diberikan kepada TKI mendapat respon bermacam-macam antara lain, untuk Timur Tengah sertifikat tidak disyaratkan sehingga sulit untuk dinilai apakah diterima atau tidak. Dalam prakteknya TKI yang bekerja di timur tengah tidak seluruhnya mengalami nasib baik, tetapi kebanyakan TKI mengalami nasib yang kurang menguntungkan disebabkan oleh tidak pahamnya TKI pada budaya negara setempat. Sebenarnya sertifikat kompetensi yang diantaranya memberi penilaian pada pengertian dan pemahaman TKI terhadap budaya negara dimana TKI dipekerjakan merupakan solusi terbaik.27 Adapun selain pentingnya peran sertifikasi uji kompetensi bagi TKI asal Jawa Timur, pelaksanaan Operasional Gerakan Pemasyarakatan Peningkatan Produktivitas di Provinsi Jawa Timur kiranya turut menunjang kinerja TKI asal Jawa Timur yang akan dikirim ke luar negeri adapun sebagai berikut:28 1. Menyelenggarakan Pengukuran produkivitas Calon Tenaga Kerja di semua sektor secara Regional. 2. Menyelenggarakan pelatihan dalam meningkatkan Produktivitas Calon Tenaga Kerja dan pekerja terutama dalam hal pe ngembangan manajemen, seperti manajemen Klinik kewirausahaan, Unit

Bimbingan/Konsultasi

Manajemen,

produktivitas,

pelayanan peningkatan Perusahaan (UP3) di Perusahaan, dan manajemen Tata Graha/Good House Keeping (5R/5S) sebagai ikon Jawa Timur dan setiap tahunnya diperlombakan yang diikuti oleh sektor pemerintah dan swasta. 3.4 Perlindungan Hukum Terhadap Kinerja TKI Asal Jawa Timur Perlindungan TKI adalah segala upaya perlindungan atas kepentingan calon TKI/TKI dalam mewujudkan pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, baik sebelum, selama, maupun sesudah bekerja. Perlindungan buruh migran diatur dalam Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya (International
27

Ibid Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. Rakor Produktivitas - Tenaga Kerja di Jawa Timur. 17 Maret 2012. disnakertransduk.jatimprov.go.id

28

27

Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families) 1990. Di samping itu ada konvensi internasional lainnya. Sedangkan perlindungan terhadap TKI diatur dalam UU No. 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, namun UU ini lebih banyak mengatur prosedural dan tata cara penempatan TKI ke luar negeri, dan hanya sedikit mengatur hak-hak dan jaminan perlindungan hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya. Selain itu perlindungan terhadap buruh migran diberikan pemerintah berdasarkan konstitusi negara, sebagaimana dilakukan oleh Departemen Luar Negeri (Deplu) RI. 1. Perlindungan Buruh Migran Berdasarkan Konvensi 1990 Buruh migran menurut konvensi ini adalah seseorang yang akan, tengah atau telah melakukan pekerjaan yang dibayar dalam suatu negara dimana dia bukan menjadi warga negaranya. Konvensi ini mengakui dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak dasar dari buruh migran yang berlaku bagi semua buruh migran (yang berdokumen atau tidak) dan anggota keluarganya dan bersifat non diskriminasi. 2. Perlindungan TKI berdasarkan Pernyataan Umum tentang Hakhak Asasi Manusia Hak-hak asasi manusia perlu dilindungi oleh peraturan hukum supaya orang tidak akan terpaksa memilih pemberontakan sebagai usaha terakhir guna menentang penindasan, pembangunan hubungan persahabatan antara negara perlu digalakkan. Selain itu, dalam Pasal 5 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa : Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, memperoleh perlakuan atau dihukum secara tidak manusiawi atau direndahkan martabatnya. Pada pasal 6 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa : Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai pribadi di mana saja ia berada.

28

Pada pasal 7 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa : Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan Pernyataan ini dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam itu. Pada Pasal 8 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa : Setiap orang berhak atas bantuan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten untuk tindakan pelanggaran hak-hak dasar yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dasar atau hukum. Pada Pasal 9 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa: Tak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenang-wenang. Pada Pasal 13 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa : a. Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-batas setiap negara. b. Setiap orang berhak meninggalkan sesuatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan berhak kembali ke negerinya. 3. Perlindungan TKI Berdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2004 Sementara jika kita lihat dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 menyatakan bahwa: a. Pemerintah bertugas mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan

perlindungan TKI di luar negeri. b. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan/atau dapat tugas melimpahkan perbantuan sebagi kepada 29

wewenangnya

pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 menyatakan bahwa : Pemerintah bertanggungjawab upaya perlindungan TKI di luar negeri. untuk meningkatkan

Pada Pasal 7 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Pemerintah berkewajiban:29 a. Menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI/TKI, baik yang bersangkutan berangkat melalui pelaksana penempatan TKI, maupun yang berangkat secara mandiri; b. Mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI; c. Membentuk dan mengembangkan sistem informasi

penempatan calon TKI di luar negeri; d. Melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan TKI secara optimal di negara tujuan; e. Memberikan perlindungan kepada TKI selama masa

sebelumnya pemberangkatan, masa penempatan, dan masa purna penempatan. Dari sisi pemerintah menginginkan ada kejelasan mengenai perlindungan TKI. Pemberian libur satu hari setiap minggu, paspor dipegang pekerja, dan ada standar minimal gaji yang diterima TKI. Pemerintah Indonesia juga menginginkan pencantuman deskripsi kerja jelas yang harus dikerjakan TKI selama berada di rumah majikan. Selain itu juga ada satuan tugas bersama di antara kedua negara yang bertugas memantau pelaksanaannya. Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) mengatakan bahwa; Setiap ada kasus atau masalah yang menimpa TKI di luar negeri, termasuk di Arab Saudi, pemerintah selalu proaktif untuk membela. Tak terkecuali

29

Ibid

30

untuk TKI yang bekerja di Saudi secara ilegal atau nonprosedural. Untuk meminimalisasi kasus-kasus yang dihadapi TKI, khususnya TKI wanita yang bekerja di sektor rumah tangga, pemerintah melakukan pengetatan prosedur penempatan TKI. Anggota Satgas Perlindungan TKI yang baru dibentuk presiden segera berangkat ke Arab Saudi untuk mengupayakan

pengampunan untuk menyelamatkan TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. TKI yang terancam hukuman mati di Malaysia dan Arab Saudi diperkirakan 200 orang di mana 70 persen kasus narkoba, 28 persen terkait kasus pembunuhan dan dua persen kasus lainnya. Nasib tragis yang dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri seakan tak pernah berakhir. Selain dianiaya dan diperkosa, ancaman hukuman rajam, bahkan hukuman mati menghantui mereka. Setelah Ruyati, masih ada 200 WNI pemburu devisa yang terlibat berbagai kasus di sejumlah negara, seakan menanti maut. Mereka saat ini menanti uluran tangan untuk bebas dari giliran hukuman gantung maupun pancung. Adanya berbagai kasus yang ditimpa TKI ini khususnya di Arab Saudi menciptakan inisiatif Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi Dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur (Kadisnakertransduk Prov. Jatim) dalam melindungi kinerja TKI Asal Jawa Timur yang akan dikirim ke Arab Saudi dengan upaya sebagai berikut:30 1. Pemerintah Pusat melalui BNP2TKI telah membuka Crisis Center dengan call center TKI di nomor telepon 0800 1000, untuk memperkuat peran dan fungsi satgas TKI dalam membantu penyediaan data dan informasi bagi keluarga TKI yang bermasalah serta untuk meningkatkan sistem

penempatan dan perlindungan TKI secara menyeluruh. Call Center TKI tersebut juga melayani pengaduan berupa SMS (Short Masage Service) di nomor 7266 dengan mengetik ACA#TKI#NAMA
30

PENGIRIM#KASUS/MASALAH

YANG

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. Instruksi Kadisnakertransduk Prov. Jatim Terkait Permasalahan TKI Di Arab Saudi. 19 Maret 2012. disnakertransduk.jatimprov.go.id

31

DIADUKAN.

Call

Center

BNP2TKI

juga

menerima

pengaduan langsung (tatap muka), melalui faksimili di nomor (021) 7981205, surat-menyurat ke alamat Call Center BNP2TKI Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan, serta surat elektronik (email) ke

halotki@bnp2TKI.go.id. 2. Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur seperti yang telah disampaikan Bapak Gubernur Jawa Timur untuk mengatasi TKI asal Jatim yang bermasalah di Arab Saudi, dilakukan melalui upaya diplomatik secara optimal untuk

menyelamatkan agar lolos dari hukuman mati. Apabila upaya diplomatik tersebut menemui kendala maka solusi terakhir akan disediakan dana tebusan (diyat). 3. Sebagai tindak lanjut kebijakan moratorium TKI ke Arab Saudi, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan

Kependudukan Provinsi Jawa Timur melakukan identifikasi data dan prosedur pelaksana pengiriman serta mengundang keluarga TKI asal Jatim yang bermasalah atau yang telah diputus hukuman dan menunggu proses eksekusi di di Arab Saudi. 4. Menghentikan seluruh pengiriman TKI ke Arab Saudi dan memperketat pengawasan terhadap calon TKI yang ingin berangkat bekerja ke luar negeri. 5. Mengidentifikasi dan mengalihkan penempatan seluruh calon TKI yang telah direkrut ke negara lainnya terutama negara yang telah memiliki kesepakatan untuk perlindungan TKI.

32

BAB IV KESIMPULAN Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan total penduduk terbanyak di Pulau Jawa yaitu pada tahun 2005 adalah 37.070.731 jiwa, dengan kepadatan 774 jiwa/km2. Peran TKI di Jawa Timur berlandaskan capaian indikator kinerja

pembangunan oleh Pemprov Jatim dalam RPJMD 2009-2014, yaitu penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Khusus di bidang ketenagakerjaan, target capaian kinerja mengacu pada program prioritas perluasan lapangan kerja, yang implementasi strategi pokoknya bertumpu pada pola people centred development, participatory based development dan keberpihakan yang bersifat pro poor, pro job dan pro growth. Provinsi Jawa Timur (Jatim) dikenal sebagai daerah lumbung TKI dimana pada tahun 2009, jumlah warga Jawa Timur yang bekerja sebagai TKI mencapai 49.000 orang, sedangkan pada tahun 2010 mencapai 60.000, sedangkan tahun 2011 Jawa Timur sudah menempatkan sekitar 65.000 tenaga kerja ke berbagai negara. Hal ini dibuktikan kontribusi devisa yang disumbangkan TKI asal Jawa Timur hingga mencapai Rp 6 triliun per tahun dan total remitan TKI asal Jawa Timur rata rata memperoleh sekitar Rp 2,5 triliyun pertahunnya. Dalam hal ini, kualitas dan komposisi ketrampilan TKI asal Jawa Timur masih didominasi oleh jenis jabatan informal (68,06%) dibandingkan jabatan formal (31,94%). Oleh karena itu, penting adanya alat ukur tenaga kerja dalam pemenuhan kualifikasi kerja dilakukan melalui sertifikasi uji kompetensi. penyelenggara sertifikasi kompetensi kerja adalah Badan Nasional Sertifikasi profesi (BNSP) secara operasional uji

kompetensi dan sertifikasi kompetensi kerja dilaksanakan. Bentuk pengakuan terhadap seseorang yang telah lulus uji kompetensi berupa sertifikat kompetensi dan Sertifikat Unit Kompetensi. Perlindungan TKI adalah segala upaya perlindungan atas kepentingan calon TKI/TKI dalam mewujudkan pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, baik sebelum, selama, maupun sesudah bekerja seperti yang tertuang pada Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pasal 5, 6, 7, 8, 9, dan 13 serta UU Nomer 39 Tahun 2004. Adapun berbagai kasus yang ditimpa TKI khususnya di Arab Saudi (contoh: hukuman mati Ruyati) menciptakan inisiatif Kadisnakertransduk Prov. Jatim dalam melindungi kinerja TKI Asal Jawa Timur yang akan dikirim ke Arab Saudi.

33

DAFTAR PUSTAKA Zuhdi, Iman. 1966. TKI Penyumbang Devisa Mencerdaskan Bangsa. Indonesia : Kasih Abadi Astuti, Budi. Sertifikasi Uji Kompetensi Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Indonesia/ Tenaga Kerja Wanita Penata Laksana Rumah Tangga. 15 Maret 2012. eprints.undip.ac.id Ardiansyah, Shandra. Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Di Luar Negeri. 16 Maret 2012. zinkser.blogspot.com Astawa, I Dewa Rai. Aspek Perlindungan Hukum Hak Hak Tenaga Kerja di Luar Negeri. 16 Maret 2012. eprints.undip.ac.id

Sumarsono,

Sonny. 2003. Ekonomi Manajemen Sumber Ketenagakerjaan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Daya

Manusia

&

Soeharsono, Sagir. 1982. Kesempatan Kerja, Ketahanan Nasional, dan Pembangunan Manusia aan Seutuhnya. Bandung : Alimni STHG Badan Pusat Statistik Jawa Timur. Keadaan Ketenagakerjaan Jawa Timur Agustus 2011. 17 Maret 2012 Jatim.bps.go.id Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. 2002. Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. TKI Dapat Kucuran Bantuan Kredit. 17 Maret 2012.disnakertransduk.jatimprov.go.id Bappeda Jatim. Bappeda Provinsi Jawa Timur 2011, Jatim ekspor 65.000 TKI. 17 Maret 2011. bappeda.jatimprov.go.id BNP2TKI. Penempatan TKI Jawa Timur Tahun 2011 Lampaui Target. 17 Maret 2012. bnp2tki.go.id Kiswara, Brama Yoga. Per Tahun, TKI Sumbang Devisa Rp 100 Triliun. 17 Maret 2012. beritajatim.com

34

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. Rakor Produktivitas - Tenaga Kerja di Jawa Timur. 17 Maret 2012. disnakertransduk.jatimprov.go.id Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur. Instruksi Kadisnakertransduk Prov. Jatim Terkait Permasalahan TKI Di Arab Saudi. 19 Maret 2012. disnakertransduk.jatimprov.go.id

Biografi rumus. Biografi Trisno Yuwono, Mantan TKI kini Bos Swalayan. 18 Maret 2012. biografi.rumus.web.id

Jurnas.com, Majalah Komite. Siti Maryam: Mantan TKW dari Hong Kong yang Sukses Usaha Salon. 18 Maret 2012. indonesiaproud.wordpress.com

BNP2TKI. Tak Minder Jadi TKI, Kini Ani Sukses Jadi Sineas. 18 Maret 2012. bnp2tki.go.id

35