Anda di halaman 1dari 9

III.

PENGUKURAN PARAMETER - PARAMETER MOTOR INDUKS11 PHASA

Data yang diperlukan untuk mendapatkan nilai parameter - parameter dari suatu motor induksi 1 phasa dapat diperoleh dari hasil pengujian motor dalam keadaan tidak berbeban (no load), pengujian dengan rotor tertahan dan pengukuran tahanan stator. Pengukuran tahanan stator ini dilakukan dengan menggunakan metode Kelvin Double Bridge. Rugi - rugi dari beban yang harus diperhitungkan bila menginginkan suatu hasil perhitungan yang efisien dapat diperoleh dengan pengujian tidak berbeban pada motor induksi 1..phasa pada saat motor sudah berjalan. Motor induksi 1 phasa yang digunakan adalah jenis start dengan kapasitor running dengan spesifikasi 1 HP, 220 Volt, 50 Hz, 1500 Rpm.

1 PENGUJIAN DALAM KEADAAN NO LOAD .

Pengujian motor induksi 1 phasa dalam keadaan no load akan menghasilkan data yang berhubungan dengan arus eksitasi dan rugi - rugi beban. Pengujian ini dilakukan pada tegangan dan frekuensi nominal. Setelah rotor berputar cukup lama untuk memberi pelumasan yang cukup pada rotor, rugi - rugi perputaran secara total pada tegangan dan frekuensi nominal biasanya dianggap konstan. Pada pengujian dalam keadaan no load, arus pada rotor relatif kecil yang diperlukan untuk memperoleh torsi yang cukup besar untuk mengatasi gesekan. Oleh karena itu rugi - rugi rotor dalam keadaan no load (I2R) relatif kecil sehingga dapat diabaikan. Pada motor induksi, rugi - rugi

38

yang timbul pada rotor tidak dapat diabaikan karena rugi - r'ugi ini cukup besar dengan adanya arus eksitasi yang besar. Rugi - rugi yang timbul setelah motor induksi 1 phasa berjalan normal dapat dirumuskan sebagai berikut: Pr = Pnl- q Inl2Rl ' Di mana : Pni = daya output q = jumlah phasa pada stator Ini = Arus per phasa Ri = Tahanan stator per phasa Karena slip motor induksi 1 phasa dalam keadaan no load sangat kecil (<1%), maka tahanan rotor (R2 / Sni) dilihat dari stator menjadi besar. Gabungan paralel dari rotor dengan magnetisasi menghasilkan torsi X4, yang kemudian dihubungkan shunt dengan sebuah tahanan yang sangat besar hampir sama dengan Xj,, akibatnya harga reaktansi tanpa beban (Xn)) sesungguhnya yang diikuti stator dalam keadaan no load hampir sama dengan Xi + Xo yang merupakan reaktansi sendiri dari stator. Persamaannya sebagai berikut: Xn = Xi + Xo = Xn] Di mana : Xn = Reaktansi sendiri stator X) = Reaktansi bocor

A.E Fitzgerald, Electric Machinary, page 430 Ibid, page 430

39

Reaktansi sendiri davi stator dapat dilihat dari alat ukur pada pengujian tanpa beban. Untuk motor induksi 1 phasa besarnya harga impedansi dalam keadaan no load dapat dirumuskan sebagai berikut:

Z] - V n i / Ini

Di mana : V n! = Tegangan input In] = Arus no load Dan tahanan disebut tanpa beban adalah
_

Rnl

Pnl / Ini

Dari kedua persamaan di atas, maka dapat diperoleh harga2 reaktansi dalam keadaan no load seperti di bavvah ini : Xnl ~\J Zni Rn2 1
5

Rangkaian ekuivalen motor induksi satu phasa dalam keadaan no load dapat digambarkan sebagai berikut:

l
V

+J 3

-i

-a

$R:

GAMBAR 3.1 RANGKAIAN EKUIVALEN MOTOR INDUKSI 1 PHASA

Ibid, page 430 Ibid, page 431 Ibid, page 431

40

Pada umumnya faktor daya motor induksi satu phasa dalam keadaan tanpa beban 0,1 sehingga harga reaktansi dalam keadaan tanpa beban hampir sama dengan harga impedansi dalam keadaan tidak berbeban.

2. PENGUJIAN DALAM KEADAAN ROTOR TERTAHAN


*

Pengujian dalam keadaan rotor tertahan ini dapat menghasilkan data yang berhubungan dengan reaktansi bocor dari stator. Dalam pengujian ini rotor ditahan sehingga sama sekali tidak dapat bergerak dan kemudian pada

terminal statornya diberikan tegangan input. Impedansi pada saat rotor dalam keadaan tertahan dapat juga dipengaruhi oleh posisi rotor, akan tetapi hal ini sangat kecil pengaruhnya terhadap rotor jenis sangkar. Pada prinsipnya pengujian dalam keadaan rotor tertahan dilakukan dengan arus dan frekuensi rotor yang sama dengan keadaan kerja yang diinginkan. Tetapi hal ini tidak mutlak. Sebagai contoh bila ingin menguji motor induksi satu phasa pada slip sama dengan 1 (s=T). Seperti pada keadaan awal start, maka pengujian dalam keadaan rotor tertahan dapat dilakukan pada frekuensi normal dan dengan arus yang mendekati keadaan arus yang sebenarnya. Hal ini dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut: Zbi = V|,i / lb) Rhl = Pbl / Ibf

41

Xbi - \ Zt,i - Rb l " Bila arus eksitasi diabaikan, maka reaktansi dalam keadaan rotor tertahan (Xbi) dikoreksi terhadap frekuensi dalam keadaan normal sama dengan jumlah reaktansi bocor pada stator dan rotor pada frekeunsi normal Xi dan X2. Penampilan dari motor relatif sedikit dipengaruhi oleh adanya pembagian antara reaktansi bocor keseluruhan dari stator dan rotor (Xi + Xi). Prosedur pengujian sesuai dengan standart IEEE yang menyarankan pembagian secara empiris seperti terlihat pada tabel berikut: TABEL 3.1 PEMBAGIAN SECARA EMPIRIS REAKTANSI BOCOR
Bagian dari X, X , Kelas motor A B C D Rotor terlilit Momen-kakas Momen-kakas Momen-kakas Momen-kakas awal awal awal awal Keterangan normal, arus awal normal normal, arus awal rendah tinggi, arus awal rendah tinggi, slip tinggi X, 0,5 0,4 0,3 0,5 0,5 X, 0,5 0,6 0,7 0,5 0,5

Sekarang harga reaktansi magnetisasi dapat ditentukan dari pengujian tanpa beban dan harga Xi; jadi X(p = Xni Xi Tahanan stator R| dapat dipandang sebagai harga dc-nya. Maka tahanan rotor dapat ditentukan sebagai berikut. Dari percobaan rotor tertahan, tahanan tertahan Rbi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan seperti yang

42

telah dijelaskan di atas. Perbedaan antara tahanan rotor tertahan dengan tahanan stator karenanya dapat ditentukan dari data pengujian. Dengan menyatakan tahanan tersebut sebagai R, didapatkan : R = Rw-Ri Dari rangkaian ekuivalen, dengan s = 1, maka tahanan R merupakan tahanan kombinasi R2 + JX2 paralel dengan jX(p Besarnya gabungan paralel tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: X^ R = R2 R22 + x
2 22

w R2 (X(p: X22)2

Di mana X22 = X2 + X > merupakan reaktansi diri rotor. Bila X22 lebih besar q dari IOR2 seperti yang biasa terjadi akan mengakibatkan kesalahan kurang dari 1 persen dari penggunaan bentuk persamaan di atas. Dengan

menggabungkan kedua persamaan di atas maka didapatkan harga R2 sekarang adalah sebagai berikut : R2 = R ( X22: Xp)2 .. Rangkaian Ekuivalen motor induksi untuk pengujian dalam keadaan rotor tertahan adalah sebagai berikut:

43

0.5 X,

oWr-TtPT\-fEJ1O.5X

0.5i?2

./,! 0.5 x

<o.5/e 2

GAMBAR 3.2 RANGKAIAN EKUIVALEN UNTUK ROTOR TERTAHAN

PENGUKURAN DALAM KEADAAN BERBEBAN

Pengukuran ini dilaksanakan dengan menggunakan beban lampu. Pertama tama motor dikopel dengan generator. Setelah dikopel kemudian pada generator diberi eksitasi dan motor diputar dan dijaga tegangan eksitasi generator tetap konstan kemudian beban dinaikkan secara bertahap.

PENGUKURAN TAHANAN ROTOR

1-1

Hasil dari perhitungan tahanan rotor ini akan bergantung kepada data - data yang diperoleh dari pengujian tanpa beban, pengujian dengan rotor tertahan dan pengukuran dengan menggunakan beban. Hasil perhitungan tahanan rotor ini yang akan mempengaruhi harga torsi awal dari motor induksi 1 phasa selain faktor - faktor yang lain. Perhitungan untuk mencari harga tahanan rotor (R2) dapat dirumuskan sebagai berikut: R =R W -R P Kemudian R2 = R(X22/X,P)2 X22 = X2 + X9

Sehingga

R2 = R( (X2 + X(p)

/Xj

Dengah demikian maka harga R2 (tahanan rotor) sudah dapat ditentukan dan perhitungan untuk menentukan harga torsi awal dapat dilakukan.

5. PENENTtJAN HARGA TORSI AWAL

Perhitungan untuk mendapatkan harga torsi awal ini dilakukan pada keadaan tidak berbeban, keadaan setengah beban dan dalam keadaan beban penuh dengan menggunakan kapasitor running yang berbeda - beda kapasitasnya. Persamaan untuk mendapatkan harga torsi awal adaah sebagai berikut:
1/T = 2 T I N S . S : (Is2. R2)

45

Di mana : T = Torsi yang timbul Ns = Putaran Sinkron Is = Arus Start R2 = Tahanan Rotor s = Slip Dalam hal ini (torsi awal) harga s = 1 karena pada keadaan start awal motor induksi satu phasa dianggap dalam keadaan belum berputar.