Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KELOMPOK BIOLOGI REPRODUKSI HEWAN TROPIS

Pemecahan Skenario Masalah

Berita dari wartawan mengabarkan bahwa anak di Banyumas yang dikenal sebagai perempuan, pada usia memasuki SMP merubah menjadi laki-laki secara hukum. Tentu saja raport SD masih menuliskan jenis kelamin dan pakaian kesehariannya perempuan. Bagiamana penjelasan ilmiah kelainan kelamin atau kelamin yang salah atau keliru (pseudohermaproditism) dapat dijelaskan hubungannnya dengan masalah perkembangan awal problem deferensiasi kelamin.

PEMBAHASAN
Jenis kelamin ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu

faktor kromosom, faktor gonad dan faktor hormonal. Penentuan fenotip seks dimulai dari seks genetik yang kemudian diikuti oleh suatu kaskade, yaitu kromosom seks menentukan jenis gonad, gonad menentukan diferensiasi/regresi duktus internal (mlleri dan wolfii).

NEXT....
Secara normal, terdapat 3 fase yang terlibat dalam

pembentukkan dan perkembangan organ reproduksi manusia, yaitu


Perkembangan gonad (kelenjar reproduksi)

Perkembangan duktus (organ reproduksi dalam)


Perkembangan organ reproduksi luar (alat kelamin).

Perkembangan normal dari ketiga fase ini sangat penting untuk menentukan identitas gender seorang manusia. Fase-fase ini sangat dipengaruhi oleh ekspresi gen dari kromosom seks dan paparan hormon-hormon seks pada masa embrio.

Perkembangan gonad dimulai pada sekitar minggu

ketujuh masa gestasi dari mesoderm intermediet dan bersifat bipotensial, yaitu dapat berdiferensiasi menjadi testis maupun ovarium. Genitalia eksterna kedua jenis kelamin identik dalam 8 minggu pertama masa embrio. Tanpa hormon androgen, testosteron dan dihidrotestosteron (DHT); fenotip suatu individu akan mengarah pada genitalia eksterna perempuan.

Pada gonad laki-laki, diferensiasi menjadi fenotip laki-

laki secara aktif terjadi antara minggu 9-12 masa gestasi dan akan terbentuk sempurna sekitar minggu 12-14 masa gestasi. Diferensiasi ini dipengaruhi oleh testosteron, yang berubah menjadi 5-DHT karena pengaruh enzim 5alfa reduktase yang ada didalam sitoplasma sel genitalia eksterna dan sinus urogenital. DHT berikatan dengan reseptor androgen dalam sitoplasma kemudian ditransport ke nukleus, selanjutnya menyebabkan translasi dan transkripsi material genetik. Pada akhirnya, menyebabkan perkembangan genitalia eksterna menjadi laki-laki normal

KELAINAN KELAMIN
Dari kasus A ini, dari segi kromosom sebenarnya memilki

kromosom laki-laki yaitu XY. Tetapi pada pembentukan gonad terjadi keabnormalan, sehingga ada keraguan dalam penentuan jenis kelamin. Karena kelamin eksternal yang terlihat dan yang menonjol adalah kelamin perempuan, sedangkan kelamin laki-lakinya tereduksi sehingga A ditentukan adalah seorang perempuan. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, hal ini dijelaskan bahwa kelainan ini disebabkan oleh kelebihan enzim yang menyebabkan kelenjar adrenal memproduksi androgen dalam jumlah kecil yang diturunkan secara autosomal resesif. Kekurangan androgen, testosteron dan dihidrotestosteron (DHT); fenotip suatu individu akan mengarah pada genitalia eksterna perempuan.

Seiring berjalannya waktu, faktor hormonal merupakan faktor penyebab kelainan ini. Ketika hormon Androgen meningkat maka akan memicu perkembangan genitalia eksternal laki-laki secara normal dan mereduksi genitalia eksternal perempuan.

Organ kelamin eksterna pria berasal dari transformasi duktus wolfii setelah regresi dutus muleri. Sedangkan organ kelamin eksterna wanita berasal dari duktus mulerri. Perkembangan organ kelamin pria dan wanita terjadi pada minggu ke 9 sampai 12 kehamilan