Anda di halaman 1dari 18

BAB III STATUS PENDERITA I. ANAMNESA Tanggal 20 Juni 2012 A.

Identitas Penderita Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Alamat Status Perkawinan Agama Nama Suami Pekerjaan HPMT HPL UK Tanggal Masuk CM Berat Badan Tinggi badan B. Keluhan Utama : Ny. I : 31 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : SMA : Kepanjen 1/6 Jebres Surakarta : Kawin : Islam : Tn. S : Swasta : 13 Juli 2011 : 20 Oktober 2012 : 36 minggu : 20 Juni 2012 jam 14.29 : 908285 : 85 kg : 155 cm

C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dirujuk dari Poliklinik dengan keterangan G2P1A0, hamil 36 minggu dengan PEB. Pasien merasa hamil kurang dari 9 bulan, kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air kawah belum dirasakan keluar, lendir darah (-). Gerakan janin masih dirasakan. Pasien tidak

mengeluh nyeri ulu hati, nyeri kepala, dan pandangan kabur. Pasien tidak merasakan mual dan muntah. D. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Trauma Diabetes Mellitus Riwayat Asma Riwayat Sakit Jantung Riwayat Hipertensi Riwayat Alergi obat/makanan E. Riwayat Fertilitas Baik F. Riwayat Obstetri Buruk I. Perempuan , 4 tahun, 3000 gram, lahir sectio secaria atas indikasi plasenta previa totalis II. Hamil sekarang : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

G. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Periksa teratur di Bidan Puskesmas H. Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Siklus menstruasi I. : 12 tahun : 7 hari : 28 hari

Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali, 5 tahun dengan suami sekarang

J. Riwayat KB Memakai KB suntik 3 bulanan

II. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Interna Tanggal 20 Juni 2012 jam 14.30 Keadaan Umum : baik, compos mentis, gizi kesan cukup Tanda vital : Rr : 28 x/ menit S : 36,7 0C

T : 180/110 mmHg N : 88 x/ menit BB: 85 kg TB: 155 cm Kepala : Mesocephal Mata THT Leher

: Conjungtiva Anemis (-/-), Sclera Ikterik (-/-) : Tonsil tidak membesar, pharing hiperemis (-) : Gld. thyroid tidak membesar, limfonodi tidak membesar mammae hipertrofi (+), areola mammae

Thorax : Glandula

hiperpigmentasi (+) Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak kuat angkat : Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi : Pengembangan dada kanan = kiri : Fremitus raba kanan = kiri : Sonor / sonor

Auskultasi : SD vesikuler (+/+), ST (-/-) Abdomen : Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, stria

gravidarum(+) Auskultasi : Peristaltik (+) normal Palpasi : Distended, nyeri tekan (-), hepar dan lien sukar dievaluasi Perkusi : Timpani pada daerah bawah processus

xyphoideus, redup pada daerah uterus Genital : Lendir darah (-), air ketuban (-)

Ekstremitas :

Oedem + + + +

Akral dingin -

B. Status Obstetri Inspeksi Kepala Mata Thoraks : Cloasma gravidarum (-) : Conjungtiva Anemis (+/+), Sclera Ikterik (-/-), : Glandula mammae hipertrofi (+), areola mammae hiperpigmentasi (+) Abdomen : Dinding perut > dinding dada, striae gravidarum (+) : vulva/uretra tenang, lendir darah(-), peradangan (-), tumor (-) Palpasi Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), teraba janin tunggal, intra uterin, punggung di kanan, presentasi kepala, kepala masuk panggul < 1/3 bagian, his (-), DJJ 11-12-12/reg, TFU: 25cm TBJ : 1860gr Pemeriksaan Leopold : I : Teraba tinggi fundus uteri setinggi pusat, selebihnya sulit dinilai

Genetalia Eksterna

II : Sulit dinilai III : Sulit dinilai IV : Sulit dinilai Kesimpulan, teraba janin tunggal, intra uterin, memanjang, punggung di kiri, presentasi kepala, kepala masuk panggul kurang dari 1/3 bagian, Ekstremitas : Oedem (+) akral dingin (-) Auskultasi DJJ (+) 11-12-12/ reg Pemeriksaan Dalam (VT) : Vulva dan uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio lunak mencucu dibelakang, pembukaan (-) cm, eff 10%, preskep, kepala

H I-II, air ketuban (-), kulit ketuban belum dapat dinilai, penunjuk belum dapat dinilai, sarung tangan lendir darah (-). III. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tanggal 20 Juni 2012 Urinalisa Protein : +4

Lab Darah Hb Hct AE AL AT Gol darah GDS Ureum Kreatinin : 9,2 g/dl : 27 % : 2,85.106 /L : 18,0.10 /L : 170.103 /L :B : 100 mg/dl : 67 mg/dl : 1,2 mg/dl
3

Na K Cl Albumin Bilirubin total SGOT SGPT LDH HbsAg

: 140 mmol/L : 3,7 mmol/L : 111 mmol/L : 2,7 mg/dl : 3,77 ug/dl : 44 ug/dl : 16 ug/dl : 944 u/l : (-)

USG Tampak janin tunggal, intra uterin, memanjang, presentasi kepala, punggung di kiri, DJJ (+), dengan fetal biometri : BPD : 83 mm FL : 61 mm Plasenta insersi di corpus kanan grade III Air ketuban kesan cukup. Tak tampak jelas kelainan kongenital mayor AC : 250 mm

EFBW : 1860 gram

IV. KESIMPULAN Seorang G2 P1 A0, 31 tahun, hamil preterm. Riwayat fertilitas baik, riwayat obstetrik buruk. T: 180/110 mmHg. Perut supel, NT (-), palpasi leopold sulit dinilai, TFU 25 cm, TBJ 1860 gram, DJJ (+) 11-12-12/reg, His

(-), pembukaan (-), presentasi kepala, kepala H I-II, air ketuban (-), lendir darah (-). Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb: 10.5 g/dl, Hct : 33 %, AE : 4,65.106 /L, AL : 19,6.103 /L, AT : 170.103 /L, Gol darah : O, GDS : 100 mg/dl, Ureum : 20 mg/dl, Kreatinin: 0,8 mg/dl, Na : 140 mmol/L, K : 3,7 mmol/L, Cl : 111 mmol/L, Albumin : 3,2 mg/dl, Bilirubin total : 3,77 ug/dl, SGOT: 44 proteinurin : +3 V. DIAGNOSIS PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC, anemia, hipoalbumin, leukositosis dan insufisiensi renal. VI. PROGNOSIS Jelek VII. TERAPI (jam 14.30) Rencana sectio caesaria transperitoneal profunda-emergency Protap PEB : o O2 2 liter/menit o Pasang DC o Infus RL 20 tpm o MgSO4 40% injeksi 8 gr IM (4 gr bokong kanan, 4 gr bokong kiri) jam 14.30; dilanjutkan 4 gr / 6 jam jika syarat terpenuhi o Injeksi ceftriaxone profilaksis 1 g/12 j jam 15.00 o Nifedipin tab 10 mg, jika tensi sistole 180 dan atau diastole 110 VIII. PLANNING - Periksa: PT, APTT - Konsul neurologi, interna ug/dl, SGPT: 16 ug/dl, LDH: 944 u/l, HbsAg: (-),

Hasil Konsul Bagian Neurologi: Tidak didapatkan kelainan di bidang neurologi. Hasil Konsul Bagian Interna:

Diagnosis: - PEB dengan syndrom Hellp - Anemia - Leukositosis - Hipoalbumin - Azotemia ec. ARF DD akut on CKD Terapi : sesuai dengan bagian obgin; saran bila dilakukan SC, dalam tranfusi PRC. Acc raber dengan sub HOM dan Nefrologi.

Pukul 18.00 Evaluasi 2 jam post SC Kel : KU : baik, CM, gizi kesan cukup VS : T: 150/100 mmHg N: 100 x/ menit Mata Thorax : CA(-/-), SI (-/-) : C/P dbn Rr: 20x/ menit t: 36,50C

Abdomen : supel, kontraksi baik, TFU 2 jari bawah pusat, tampak luka operasi tertutup kassa ukuran 10x4 cm Genital : lochia (+)

Diagnosis. : Post SCTP-em a/i PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Terapi : Infus RL: D5% = 1:1 12 tpm Injeksi ceftriaxone 1gr/12jam Infus metronidazole 500mg/8jam Injeksi ketorolac 1 ampul/8jam Injeksi alinamin F 1 ampul/8jam Injeksi asam traneksamat 1 ampul/8jam Injeksi vitamin C 1 amp/12jam

Injeksi vitamin B compleks 2cc/24jam Transfusi PRC 2 kolf

Evaluasi Pemberian MgSO4 Tanggal 20 Juni 2012 Jam 20.30 KU : Baik, compos mentis VS : Tekanan darah : 160/100 mmHg Frekuensi Nadi : 80x/menit Produksi urin Reflek patella Diagnosis : 250 cc : (+) : Post SCTP-em a/i PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam Suhu : 36,5 C RR : 20x/menit

persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Terapi : Inj. MgSO4 40% 4 gram IM pelan (I)

Tanggal 21 Juni 2012 Jam 02.30 KU : Baik, compos mentis VS : Tekanan darah : 160/100 mmHg Frekuensi Nadi : 80x/menit Produksi urin Reflek patella Diagnosis : 300 cc : (+) : Post SCTP-em a/i PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam Suhu : 36,5 C RR : 20x/menit

persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Tanggal 21 Juni 2012 Jam 08.30 Terapi : Inj. MgSO4 40% 4 gram IM pelan (II)

KU : Baik, compos mentis VS : Tekanan darah : 170/100 mmHg Frekuensi Nadi : 88x/menit Suhu : 36,5 C RR : 20x/menit

Produksi urin Reflek patella Diagnosis

: 200 cc : (+) : Post SCTP-em a/i PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam

persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Terapi : Inj. MgSO4 40% 4 gram IM pelan (III)

Tanggal 21 2012 Jam 14.30 KU : Baik, compos mentis VS : Tekanan darah : 160/100 mmHg Frekuensi Nadi : 80x/menit Produksi urin Reflek patella Diagnosis : 300 cc : (+) : Post SCTP-em a/i PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam Suhu : 36,8 C RR : 20x/menit

persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Terapi : Inj. MgSO4 40% 4 gram IM pelan (IV)

Follow Up Tanggal 21 Juni 2012, jam 06.00 Kel : KU : baik, CM, gizi kesan lebih VS : T: 170/90 mmHg N: 120 x/ menit RR: 24x/ menit t : 37,50C

Mata Thorax

: CA(-/-), SI (-/-) : C/P dbn

Abdomen : supel, NT (+) luka operasi, bising usus (+) lemah, TFU 2 jari bawah pusat, tampak luka operasi tertutup kassa ukuran 10x4 cm Genital Dx. : darah (-), lochia (+) : PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Tx. : Post sectio caessaria DPH-I Infus RL 20 tpm Injeksi cefotaxime 1gr/12jam Injeksi metronidazole 500mg/8jam Injeksi ketorolac 1 ampul/8jam Injeksi alinamin F 1 ampul/8jam Injeksi asam traneksamat 1 ampul/8jam Injeksi vitamin C 1 amp/12jam Injeksi vitamin B compleks 2cc/24jam MgS04 40% 4 gr / 6 jam Nifedipin 3x10 mg, jika T sistole 180mmHg dan atau diastole 110mmHg

Tanggal 22 Mei 2012, jam 06.00 Kel : KU : baik, CM, gizi kesan lebih VS : T: 170/90 mmHg N: 120 x/ menit Mata Thorax : CA(-/-), SI (-/-) : C/P dbn RR: 24x/ menit t : 37,50C

Abdomen : supel, NT (+) luka operasi, bising usus (+) lemah, TFU 2 jari bawah pusat, tampak luka operasi tertutup kassa ukuran 10x4 cm Genital : darah (-), lochia (+)

Dx.

: PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal.

Tx.

: Post sectio caessaria DPH-II Infus RL 20 tpm Injeksi cefotaxime 1gr/12jam Injeksi metronidazole 500mg/8jam Injeksi ketorolac 1 ampul/8jam Injeksi alinamin F 1 ampul/8jam Injeksi asam traneksamat 1 ampul/8jam Injeksi vitamin C 1 amp/12jam Injeksi vitamin B compleks 2cc/24jam MgS04 40% 4 gr / 6 jam Nifedipin 3x10 mg, jika T sistole 180mmHg dan atau diastole 110mmHg

Tanggal 23 Mei 2012, jam 06.00 Kel : KU : baik, CM, gizi kesan lebih VS : T: 160/90 mmHg N: 92 x/ menit Mata Thorax : CA(-/-), SI (-/-) : C/P dbn RR: 22x/ menit t : 36,80C

Abdomen : supel, NT (+) luka operasi, bising usus (+), TFU 2 jari bawah pusat, tampak luka operasi tertutup kassa ukuran 10x4 cm Genital Dx. : darah (-), lochia (+) : PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal. Tx. : Post sectio caessaria DPH-III

10

Infus RL 20 tpm Nifedipin 3x1 jika TD 180/110 mmHg Cefadroxyl 2x500 mg Metronidazole 3x500 mg Medikasi luka Cek lab dr3, LDH, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, albumin, ewitz

Tanggal 24 Juni 2012, jam 06.00 Kel : pusing KU : baik, CM, gizi kesan lebih VS : T: 150/90 mmHg N: 88 x/ menit Mata Thorax : CA(+/+), SI (-/-) : C/P dbn RR: 20x/ menit t : 36,70C

Abdomen : supel, NT (+) luka operasi, bising usus (+), TFU 2 jari bawah pusat, tampak luka operasi tertutup kassa ukuran 10x4 cm Genital Dx. : darah (-), lochia (+) : PEB, HELLP Syndrome pada sekundigravida hamil preterm belum dalam persalinan dengan riwayat SC + anemia + hipoalbumin + leukositosis + insufisiensi renal.Tx. sectio caessaria DPH-IV Infus RL 20 tpm Nifedipin 3x1 jika TD 180/110 mmHg Cefadroxyl 2x500 mg Metronidazole 3x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg Sulfas ferosus 1x1 Vitamin C 2x1 Transfusi PRC hingga Hb 10 g/dl : Post

11

Pasang DC & urin bag Konsul interna cyto Terapi interna Diet ginjal 1900 kkal RG 5gr/hari Injeksi Ceftriaxone 1 gr/24 jam Transfusi 1 PRC/hari hingga Hb 10 g/dl Lab : Hb Hct AE AL AT SGOT SGPT Ureum Kreatinin LDH PT APTT Ewitz : 6,2 g/dl : 21 % : 2,57.106 /L : 20,11.103 /L : 147.103 /L : 35 ug/dl : 27 ug/dl : 73 mg/dl : 70 mg/dl : 1486 u/l : 14 : 24,2 : +++

12

BAB IV ANALISA KASUS

Dalam kasus ini, pasien kami diagnosis dengan eklampsia. Diagnosis eklampsia ini kami tegakkan berdasarkan kriteria pre eklampsia berat yang disertai adanya kejang. Kriteria pre eklampsia berat yang ditemukan pada pasien ini yaitu: Tekanan darah 180/110 mmHg Proteinuria +3 Edema anasarka

Kejang pada eklampasia dapat diakibatkan karena vasokonstriksi yang mengakibatkan peningkatan tekanan hidrostatik dan penurunan tekanan onkotik vaskular. Dengan demikian terjadi pergeseran cairan dari intravaskular menuju ekstravaskular mengakibatkan edema cerebri. Tekanan intrakranial akan meningkat seiring dengan progresivitas edema cerebri sehingga menimbulkan tanda-tanda impending eklampsia seperti nyeri kepala frontal, pandangan mata kabur, mual, muntah. Selain itu tanda impending eklampsia yang lain yaitu nyeri pada epigastrium. Nyeri pada epigastrium disebabkan oleh regangan kapsula hepar akibat edema atau perdarahan. Komplikasi yang ditemukan akibat preeklampsia pada kasus ini adalah terjadinya solusio plasenta. Tekanan darah yang tinggi pada pasien pre eklampsia berat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi hematom retroplasenter. Hematom retroplasenter yang semakin meluas ke arah pinggir plasenta mengakibatkan amniokorion terlepas dan terjadi perdarahan melalui orificium uteri interna. Manifestasi klinis yang ditemukan akibat adanya solusio plasenta pada pasien ini antara lain nyeri perut, perdarahan per vaginam berwarna merah kehitaman, pada palpasi uterus teraba tegang seperti papan dan bagianbagian janin sukar di raba, serta terdapat tanda-tanda anemia. Pada kasus ini terjadi keadaan janin mati karena adanya gangguan uteroplasenter dan solutio plasenta akibat dari adanya PEB sehingga

13

menyebabkan janin mengalami hipoksia, terjadi asfiksia neonatorum dan akhirnya terjadi intra uterine fetal death (IUFD). Komplikasi lain yang ditemukan pada kasus ini adalah adanya HELLP syndrome. HELLP syndrome merupakan bagian dari eklampsia atau preeklampsia yang ditandai dengan haemolysis, elevated liver enzyme dan low platelet count. Pada kasus ini didapatkan adanya tanda hemolisis berupa kadar Hb yang rendah dan kenaikan LDH. Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan jumlah sel trombosit yang menurun. Peningkatan enzim-enzim hati tidak didapatkan pada kasus ini sehingga kami diagnosis dengan partial HELLP syndrome. Tujuan penanganan eklampsia adalah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah kondisi ibu aman. Untuk mencegah berulangnya kejang, pasien ini diberikan injeksi MgSO4 40% dengan dosis inisial 8 gram diberikan secara im dan selanjutnya 4 gram setiap 6 jam selama 24 jam. MgSO4 dapat diberikan jika syarat memenuhi yaitu frekuensi pernapasan > 16x/menit, produksi urine > 0,5cc/kgBB/jam, dan refleks patella (+) da disediakan Ca glukonas 1 gram dalam 10 ml sebagai antidotum. Injeksi MgSO4 diberikan karena pasien ini karena mengalami preeklampsia berat. Fungsi dari MgSO4 adalah untuk mengurangi kepekaan saraf pusat pada hubungan neuromuskuler tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan saraf. Obat ini menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, meningkatkan diuresis dan menambah aliran darah ke uterus. Mekanisme kerja dari magnesium sulfat adalah menekan pengeluaran asetilkolin pada motor end plate. Magnesium sebagai kompetisi antagonis kalium juga memberikan efek yang baik untuk otot skelet. Magnesium sulfat dikeluarkan secara eksklusif oleh ginjal dan mempunyai efek antihipertensi. Selain diberikan MgSO4, pasien juga diberikan Nifedipin karena tekanan darah pasien sempat tinggi yaitu 180/110 mmHg. Merupakan calcium channel blocker yang mempunyai efek vasodilatasi arteriol kuat. Hanya tersedia dalam bentuk preparat oral. Dosis : 10 mg per oral, dapat ditingkatkan sampai dosis

14

maksimal 10 mg. Kontra indikasi: hipersensitif terhadap nifedipin. Interaksi: Hatihati pada penggunaan bersamaan dengan obat lain yang berefek menurunkan tekanan darah, termasuk beta blocker dan opiat; H2 blocker (simetidin) dapat meningkatkan toksisitas. Terminasi kehamilan pada eklampsia dapat dilakukan dengan sectio caesaria atau induksi persalinan per vaginam. Hal tersebut tergantung dari banyak faktor antara lain keadaan serviks, komplikasi obstetrik, paritas, adanya ahli anestesi dan sebagainya. Pada pasien ini belum terjadi pembukaan serviks, kepala janin didapatkan masih tinggi, terdapat ahli anestesi yang memadai sehingga dipertimbangkan untuk dilakukan terminasi kehamilan dengan sectio caesaria (SC) emergency.

DAFTAR PUSTAKA

15

Abdul Bari S., 2003. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. PB POGI, FKUI. Jakarta. Abdul Bari S., George andriaanzs, Gulardi HW, Djoko W, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Achadiat, C., M., Dr., SpOG. 2003. Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Anonim. 1995. Protokol Penanganan Kasus Obstetri dan Ginekologi. RS dr. Moewardi. Surakarta. Budiono Wibowo. (1999). Pre eklampsia dan Eklampsia dalam Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta Chang YL, Chang SD, Cheng PJ: Perinatal outcome in patiets with abruption plcenta with and without antepartum hemorrhage. Int J Gynaecol Obstet75;193,2001 Clark SL. Placentae previa and abruptio placentae. In: Creasy RK, Resnik R, eds. Maternal Fetal Medicine. 5th ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders; 2004:715. Cunningham FG et al : Obstetrical Hemorrhage in Williams Obstetrics , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005 Cunningham, Mac Donald, Gant, Levono, Gilstrap, Hanskin, Clark, 1997, Williams Obstetrics 20th Prentice-Hall International,Inc. DeCherney AH. Nathan L : Third Trimester Bleeding in Current Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and Treatment , McGraw Hill Companies, 2003 Furushashi M, Kuraochi O, Suganuma N: Pregnancy following placental abruption. Arch Gynecol Obstet 267:11, 2002 Hariadi, R., 2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya : Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Haryono Roeshadi. (2004). Sindroma HELLP dalam Ilmu Kedokteran Maternal. Himpunan Kedokteran Fetomaternal. Surabaya. Hidayat W., 1998. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, RSUP dr.Hasan Sadikin. Edisi ke-2. Penerbit: SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Univ. Padjajaran, RSUP dr.Hasan Sadikin, Bandung.

16

Kelompok

Kerja

Penyusunan

Pedoman

Pengelolaan

Hipertensi

dalam

Kehamilan di Indonesia. 2005. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. Loekmono Hadi, 2003. Pre eklampsia. Catatan kulih Obgyn. UNS. M. Dikman Angsar. 1995. Kuliah Dasar Hipertensi dalam Kehamilan (EPHGestosis). Lab/UPF Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR/RSUD Dr. Sutomo. Neville, F. Hacker, J. George Moore. 2001. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Hipokrates, Jakarta. Oyelese Y, Ananth CV. Placental abruption. Obstet Gynecol. Oct

2006;108(4):1005-16 Rijanto Agung. (1995). Tinjauan Kepustakaan : Sindroma HELLP. Fakultas Kedokteran UNAIR. Surabaya Rustam Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Editor: Delfi Lutan, EGC, Jakarta. Sarwono, 2009. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sawono Prawirohardjo Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sawono Prawirohardjo Sastrawinata, S., 2003. Obstetri Patologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Shad H Deering, MD, Abruptio Placentae . http://emedicine.medscape.com/art icle/252810-overview Dec 22, 2008, retrieved September 24, 2009

17