Anda di halaman 1dari 11

SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TiO2 SECARA KRISTALISASI DINGIN SERTA APLIKASINYA SEBAGAI ANTI KABUT DAN SELF-CLEANING

*Siti Muji Alfi Nikmah, Sigit Priatmoko, dan Harjito


*Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Semarang
Jl. Raya Sekaran Gunungpati Semarang 50229

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang sintesis TiO 2 dengan metode kristalisasi dingin yang kemudian diaplikasikan sebagai material anti kabut dan selfcleaning. Dilakukan pelapisan TiO2 pada permukaan plastik polipropilena (PP) yang sebelumnya dimodifikasi sifat permukaannya dengan penyinaran UV-C dengan variasi waktu. Konsentrasi etanol juga divariasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat transparansi lapis tipis TiO2 pada permukaan PP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter kristal TiO 2 yang dihasilkan dari metode sintesis kristalisasi dingin, mengetahui waktu maksimum penyinaran UV-C terhadap plastik PP, mengetahui pengaruh zat pendispersi terhadap transparansi lapis tipis TiO2, serta mengetahui sifat anti kabut dan self-cleaning lapis tipis TiO2. Nanopartikel TiO2 disintesis dengan metode o kristalisasi dingin menggunakan PEG dan etilen glikol pada suhu 80 C dan o 120 C, kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, DR-UV dan FTIR. Dari metode ini diperoleh TiO2 fase anatase dengan ukuran kristal 19,04 nm dan energi gap sebesar 3,12 eV tetapi masih ditemukan gugus fungsional OH, CH2 dan C-O. Lama penyinaran PP menggunakan UV-C divariasi 1, 2, 3, dan 4 jam. Lama penyinaran 4 jam memberikan sudut kontak terkecil, yaitu o 31,12 . Pelapisan TiO2 pada permukaan plastik menggunakan metode spray coating. Variasi konsentrasi etanol dan lama penyinaran PP memberikan perbedaan sudut kontak lapis tipis TiO2, tetapi tidak memberikan perbedaan transparansi lapis tipis TiO2. Kata Kunci : TiO2, kristalisasi dingin, anti kabut, self-cleaning.

PENDAHULUAN Polusi udara yang berupa debu, jamur, bakteri, dan partikel lainnya yang melimpah di beberapa area, dapat dengan mudah mengotori kaca outdoor, kaca jendela, cermin, kaca otomotif, dan benda lain. Kesulitan dalam membersihkan lokasi-lokasi tersebut dan memerlukan biaya yang tidak sedikit serta perlakuan khusus merupakan salah satu permasalahan yang harus dipecahkan. Adanya polusi pada lokasi yang sempit dan sulit terjangkau, maupun pada area yang harus selalu bersih menciptakan masalah tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Inovasi untuk membuat permukaan area-area tersebut mempunyai sifat self-cleaning perlu dilakukan untuk penghematan energi. Selain itu, pembentukan kabut pada berbagai macam kaca otomotif misalnya pada mobil dan motor merupakan permasalahan baru yang sedang berkembang saat ini. Adanya kabut

*Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang 50229 Telp.: 085641087810 E-mail: sm.alfinikmah@yahoo.com

tersebut dapat menimbulkan gangguan penglihatan sehingga dapat menyebabkan kecelakaan lalulintas. Fotokatalis titanium(IV) oksida (TiO2) umumnya berperan sebagai zat

pendegradasi polutan. Selain itu, senyawa ini juga menunjukkan sifat hidrofilik yang bisa diaplikasikan sebagai material anti kabut secara efektif. Material hidrofilik juga menunjukkan sifat swa-bersih (self-cleaning). Berbagai jenis pengotor yang menempel pada permukaan TiO2 yang bersifat hidrofilik akan terdegradasi dan dapat dibersihkan secara mudah atau bahkan dapat membersihkannya tanpa bantuan dari luar (Slamet, 2009:1). Aplikasi TiO2 untuk kebutuhan anti kabut dan self-cleaning akan menjadi lebih praktis apabila dilakukan imobilisasi pada support tertentu yang praktis, fleksibel, dan tersedia dengan baik seperti lembaran plastik. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu rekayasa agar permukaan plastik tersebut menjadi sedikit polar sehingga partikel TiO 2 dapat melekat dengan baik (Slamet et al., 2010:3). Salah satu cara untuk mengubah permukaan plastik PP menjadi polar yaitu dengan penyinaran UV-C dengan durasi tertentu. Variasi lama penyinaran permukaan plastik polipropilena menggunakan UV-C, perlu dilakukan untuk mengetahui waktu maksimum penyinaran permukaan plastik menjadi polar. Menurut Puzenat (2009:72) hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat lapisan nanopartikel TiO2 pada kaca atau plastik, yaitu sifat transparan dari lapisan tipis TiO2 pada permukaan plastik. Untuk mendapatkan sifat transparan yang baik, ketebalan lapisan TiO2 pada support (kaca dan plastik) harus sangat tipis (sekitar 10 nm). Sifat transparan yang baik dapat diperoleh dengan mendispersikan TiO 2 ke dalam zat pendispersi berkonsentrasi rendah (Slamet et al., 2010:7). Peneliti melakukan variasi konsentrasi zat pendispersi TiO2 untuk mendapatkan plastik dengan transmitansi yang baik setelah dilapisi TiO2, sehingga produk dari penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat gelas (Pyrex), magnetik stirer (IKAMAG), termometer, lampu UV-C dengan panjang gelombang 254 nm, hot plate, oven pengering Memmert, Difraktometer sinar-X PANalytical PW3373, Diffuse Reflectance-UV (DR-UV) merk Shimadzu RF-5301 PC, FTIR merk Shimadzu FTIR-8400, Contact Angle Meter (dengan kamera digital Cannon A590 IS), Spektrofotometer UV-Vis merk Shimadzu, botol sprayer, statif, dan hot plate.

Bahan yang digunakan Titanium Isopropoxide p.a (Aldrich, 97%), etanol p.a (E Merck, 99%), Polietulen Glikol (PEG) (BM 4000), HCl p.a (E Merck, 38%), etilen glikol (E Merck; 99,5%), plastik polipropilena (PP), dan aqua demin. Cara Kerja Preparasi Nanopartikel TiO2 dengan Metode Kristalisasi Dingin. Sebanyak 3,8 mL etanol p.a (E Merck, 99%) dicampur dengan 1,3 mL HCl p.a (E Merck, 38%), campuran diaduk dengan magnetic stirrer selama 30 menit. Sebanyak 19 mL titanium isopropoxide p.a (Aldrich, 97%) ditambahkan dalam campuran, pengadukan dilanjutkan hingga 1,5 jam. Sebanyak 4,75 mL aqua demin, dan 3 mL PEG (BM 4000) ditambahkan dalam campuran. Pengadukan dilanjutkan selama 30 menit. Campuran yang dihasilkan dioven selama 8 jam dengan temperatur 80 C, dan 120 C hingga didapatkan serbuk TiO2 (Tuan et al., 2009:2). Jika serbuk yang dihasilkan kurang halus, maka serbuk yang dihasilkan dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal dan alu. Serbuk TiO2 yang dihasilkan dari sintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, DR-UV, FTIR dan dilapiskan pada permukaan plastik PP yang telah disinari UV-C. Sampel TiO2-PP kemudian diukur sudut kontaknya menggunakan Contact Angle Meter serta diukur pula transparansi plastik PP yang telah dilapisi TiO 2 dengan mengukur kemampuan meneruskan cahaya (transmitansi) menggunakan Spektrofotometer UV-Vis merk Shimadzu pada panjang gelombang 365 nm. Dilakukan juga sintesis dengan senyawa etilen glikol (E Merck; 99,5%) sebagai pengganti PEG dengan prosedur yang sama. Karakterisasi Sebuk TiO2 TiO2 nanopartikel yang telah disintesis dianalisis dengan beberapa alat karakterisasi diantaranya X-Ray Diffraction (XRD) atau difraksi sinar-X untuk mengetahui struktur kristal (fase kristal), dan ukuran kristal senyawa hasil sintesis, Diffuse Reflectance Ultra Violet (DR-UV) digunakan untuk menentukan besarnya energi gap semikonduktor, dan Fourier Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy digunakan untuk menentukan gugus fungsional pada molekul TiO2. Pelapisan Nanopartikel TiO2 pada Permukaan Plastik Polipropilena Pelapisan nanopartikel TiO2 pada permukaan plastik Polipropilena (PP) dilakukan dengan metode spray coating. Sebanyak 0,1 gram nanopartikel TiO2 didispersikan ke dalam 20 mL etanol dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu 0,0100 M; 0,0125 M; dan 0,0150 M. Support yang digunakan adalah plastik polipropilena yang telah disinari UV-C pada panjang gelombang 254 nm dengan variasi lama penyinaran 1 jam, 2 jam, 3 jam, dan 4 jam. Sudut kontak permukaan lapisan dengan tetesan air diukur menggunakan Contact Angle Meter untuk mengetahui sifat hidrofiliknya. Data sudut
o o

kontak yang diperoleh, dilakukan uji statistika tentang pengaruh lama penyinaran dan konsentrasi zat pendispersi secara simultan terhadap sudut kontak yang dihasilkan, yang menunjukkan sifat anti kabut dan self-cleaning menggunakan analisis ANOVA 2 jalur. Pengujian Sifat Anti Kabut dan Self-cleaning secara Kualitatif Pengujian sifat anti kabut dilakukan dengan membuat kabut pada permukaan plastik yang telah dilapisi nanopartikel TiO2 dan meletakkannya pada bidang berwarna gelap. Selanjutnya dilakukan pengamatan secara visual dan membandingkan antara hasil pembacaan tulisan pada kertas yang di atasnya terdapat plastik polipropilena yang telah dilapisi nanopartikel TiO2 dengan plastik yang tidak dilapisi nanopartikel TiO 2. Sedangkan pengujian sifat self-cleaning dilakukan dengan mengotori permukaan plastik yang telah dilapisi nanopartikel TiO2 dengan pengotor lumpur (debu yang dilarutkan ke dalam air), dan kemudian disemprotkan air. Uji kualitatif dilakukan dengan pengamatan secara visual sifat self-cleaning dari plastik yang dilapisi nanopartikel TiO2 dibandingkan dengan plastik yang tidak terlapisi nanopartikel TiO 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Nanopartikel TiO2 Sintesis nanopartikel TiO2, menggunakan senyawa titanium isopropoxide (Aldrich, 97%) sebagai prekusor. Etanol merupakan agen pembentuk sol dan HCl berperan sebagai pencegah terbentuknya agregat. Air sebagai zat penghidrolisis, sedangkan PEG dan etilen glikol berfungsi sebagai zat multifungsi (pembentuk gel, pendispersi dan pembentuk lapisan film) sehingga diperoleh TiO 2. Pemanasan dilakukan untuk menghilangkan reaktan-reaktan yang mudah menguap, misalnya asam klorida, etanol, air dan etilen glikol. PEG dapat dihilangkan dalam produk dengan pemanasan di atas suhu dekomposisinya. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya perbedaan difraktogram produk dengan
o o o

proses pemanasan 80 C dan 120 C yang dianalisis

menggunakan XRD. Difraktogram menunjukkan adanya perubahan pada pemanasan suhu 400 C, tetapi karakter kristal TiO2 tidak anatase, melainkan rutil. Proses sintesis yang menggunakan etilen glikol menunjukkan adanya perbaikan kristalinitas yang diperoleh dengan menaikkan suhu pemanasan. Dengan suhu pemanasan 120 C dapat menghasilkan TiO2 fase anatase tanpa menggunakan tahap kalsinasi lanjutan. Penelitian ini, selanjutnya menggunakan produk dari proses sintesis menggunakan agen multifungsi etilen glikol dengan suhu pemanasan 120 C, untuk dilakukan aplikasi yaitu sebagai material anti kabut dan self-cleaning. Sanchez et al. (2011:361) menunjukkan kemungkinan reaksi yang terjadi selama proses sintesis nanoparikel TiO2, sebagai berikut: Ti(C3H7O)4 + 2OHCH2CH2OH Ti(OCH2CH2O)2 + 4C3H7OH
o o

Ti(OCH2CH2O)2 + H2O Ti(OH)4 + 2OHCH2CH2OH Ti(OH)4 TiO2 + 2H2O Karakterisasi Nanopartikel TiO2 Ukuran Kristal TiO2 Nanopartikel TiO2 disintesis secara kristalisasi dingin menggunakan dua jenis bahan yang berperan sebagai agen multifungsi yaitu PEG, dan etilen glikol, monomernya. Pada proses sintesis, peneliti melakukan variasi suhu pemanasan yaitu 80 C, dan 120 C untuk kedua bahan tersebut, dan 400 C untuk PEG. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya pengaruh suhu dekomposisi PEG dalam sintesis nanopartikel. Ukuran kristal ditentukan menggunakan XRD. Difraktogram TiO2 yang diperoleh dari hasil sintesis disajikan pada Gambar 1. Dengan metode kristalisasi dingin menunjukkan TiO2 yang dihasilkan merupakan TiO2 fase anatase dengan munculnya puncak tertinggi 25,6110 ; 54,2200 ; dan 48,4900 (JCPDS #020406) yaitu pada proses sintesis menggunakan etilen glikol dengan suhu pemasanan 120 C. Hasil rata-rata ukuran kristal yang diperoleh yaitu 19,04 nm. Ditinjau dari ukurannya, TiO2 yang disintesis secara kristalisasi dingin dalam penelitian ini dapat dikatakan kurang efektif untuk diaplikasikan sebagai material anti kabut dan self-cleaning pada kaca karena dapat mengganggu transparansi. Puzenat (2009:2) menyatakan bahwa ukuran kristal TiO2 yang baik untuk dilapiskan pada kaca yaitu kurang dari 10 nm. Gugus Fungsional pada TiO2 Penentuan gugus fungsional pada TiO2 dilakukan dengan karakterisasi menggunakan FTIR. Pada Gambar 2 muncul peak dengan bilangan gelombang 2877,79 cm ; 3749,62 cm ; dan 3410,15 cm , yang menunjukkan adanya gugus OH. Munculnya gugus ini dimungkinkan berasal dari air, etanol serta etilen glikol yang digunakan saat sintesis. Dengan munculnya gugus OH, dapat menunjukkan proses hidrolisis prekusor kurang sempurna. Adanya gugus CH2 ditunjukkan dengan munculnya puncak pada bilangan gelombang 1464,9 cm ; 1627,92 cm
-1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 o o o o o o o

dan 1728,22

cm yang merepresentasikan adanya gugus CH2 serta munculnya peak pada bilangan gelombang 1111 cm yang menunjukkan gugus C-O. Ikatan Ti-O-Ti ditunjukkan
-1

dengan munculnya frekuensi vibrasi pada bilangan gelombang 478,35 cm . Energi Gap TiO2 Perhitungan energi gap dilakukan dengan menggunakan persamaan KubelkaMunk. Energi gap TiO2 hasil sintesis yaitu sebesar 3,12 eV. Energi yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Puzenat (2009:69), bahwa energi gap TiO2 berkisar antara 3-3,2 eV. Besar energi ini diduga mampu mengoksidasi senyawasenyawa organik maupun anorganik yang menempel pada permukaan semikonduktor

TiO2 menjadi CO2 dan H2O. Dengan kata lain permukaan material yang terlapisi TiO 2 akan tetap bersih dari senyawa organik maupun anorganik, hal ini yang menyebabkan TiO2 dapat diaplikasikan sebagai material self-cleaning. Penyinaran Permukaan Plastik PP dengan UV-C Plastik yang digunakan dalam penelitian ini adalah plastik polipropilena (PP). Treatment terhadap plastik PP dilakukan dengan penyinaran UV-C pada panjang gelombang 254 nm dengan beberapa variasi waktu penyinaran, yaitu 1 jam, 2 jam, 3 jam, dan 4 jam. Treatment ini bertujuan untuk mengubah sifat permukaan plastik yang awalnya bersifat hidrofobik menjadi hidrofilik. Menurut Hirwati (2007:12), penyinaran UV pada permukaan plastik PP dapat mempercepat pengurangan stabilitas plastik PP. Sifat plastik PP akan berubah menjadi hidrofilik karena terjadi reaksi radikalisasi plastik PP. Gambar 3 menunjukkan perubahan sudut kontak permukaan plastik PP yang telah di-treatment dengan sinar UV-C pada panjang gelombang 254 nm. Dari Gambar 1 menunjukkan bahwa waktu maksimal dalam penelitian ini, untuk treatment lembaran plastik PP adalah 4 jam. Sinar UV-C dengan energinya yang cukup tinggi diduga mampu memotong ikatan hidrogen pada atom C tersier pada permukaan plastik PP, sehingga dapat menimbulkan radikal pada permukaan plastik. Radikal ini akan berikatan dengan OH sehingga terbentuk permukaan yang bersifat polar. Transparansi Plastik PP Berlapis TiO2 Dengan sifat permukaan plastik PP yang polar, diharapkan mampu berikatan dengan nanopartikel TiO2 yang akan dilapiskan pada permukaan plastik tersebut. Pelapisan nanopartikel dilakukan dengan mendispersikan TiO2 ke dalam etanol dengan konsentrasi 0,0100 M; 0,0150 M; dan 0,0125 M. Peneliti mengukur besarnya transmitansi plastik PP yang telah dilapisi TiO 2 untuk mengetahui transparansi plastik tersebut, dengan asumsi transmitansi yang diperoleh bernilai sama dengan transparansinya. Gambar 4 menunjukkan persentase transmitansi plastik PP yang telah dilapisi TiO2 dan sebelumnya telah dilakukan treatment terhadap plastik PP dengan variasi lama penyinaran. Dari Gambar 4 diketahui bahwa hasil transmitansi yang diperoleh dengan variasi lama penyinaran plastik PP dan konsentrasi etanol sebagai zat pendispersi TiO2 tidak menunjukkan beda yang signifikan. Hal tersebut dibuktikan dengan melakukan uji ANOVA 2 jalur terhadap hasil %T yang diperoleh. Tabel 1 menunjukkan hasil uji ANOVA 2 jalur, menunjukkan nilai fhitung < fkritis, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan %T yang signifikan dengan melakukan variasi lama penyinaran plastik dengan UV-C dan konsentrasi zat pendispersi secara diferensial maupun simultan. Untuk hasil yang optimal, pelapisan nanopartikel TiO2 pada suatu support yang digunakan untuk material anti kabut maupun self-cleaning

dilakukan pada proses fabrikasi support, atau dapat juga dilakukan modifikasi metode pelapisannya. Sifat Anti Kabut dan Self-cleaning Lapis Tipis TiO2 Penelitian ini meneliti tentang pengaruh treatment plastik PP menggunakan UVC dan telah dilapisi nanopartikel TiO2 dengan sudut kontak yang terbentuk. Dengan asumsi bahwa semakin kecil sudut kontak yang dihasilkan, maka sifat anti kabut maupun self-cleaning material akan semakin baik. Tabel 2 disajikan besar sudur kontak permukaan plastik PP yang telah dilapisi nanopartikel TiO 2. Hubungan antara kedua variabel bebas tersebut, yaitu lama penyinaran UV-C dan konsentrasi zat pendispersi terhadap sudut kontak dihitung secara statistika yaitu dengan uji ANOVA 2 jalur. Hasil uji ANOVA 2 jalur tersaji pada Tabel 3 menunjukkan bahwa fhitung > fkritis, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama penyinaran plastik PP dan konsentrasi zat pendispersi mempengaruhi besar sudut kontak yang dihasilkan.

Uji Kualitatif Sifat Anti Kabut dan Self-cleaning Lapis Tipis TiO2 Uji kualitatif sifat anti kabut dilakukan secara sederhana yaitu dengan memberikan kabut di atas permukaan lapis tipis TiO2. Hasil uji kualitatif sifat anti kabut dapat dilihat pada Gambar 5. Pada plastik PP tanpa dilapisi TiO2 akan terbentuk kabut (Gambar 5.X), sedangkan plastik yang telah dilapisi TiO2 (Gamba 5.O) tidak menunjukkan kabut. Sedangkan uji sifat self-cleaning, dilakukan dengan cara memberikan kotoran berupa debu yang telah dilarutkan dengan air. Perbedaan hasil uji disajikan pada Gambar 6. Pada permukaan plastik PP yang telah dilapisi TiO 2 (Gambar 6.O) kotoran berkurang sedangkan pada plastik PP saja (Gambar 6.X), kotoran yang sengaja diberikan tidak berubah. Hal ini menunjukkan kemampuan TiO 2 dalam mendegradasi polutan.

SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, simpulan yang dapat diambil sebagai berikut. 1. Karakter kristal TiO2 yang didapat dari metode sintesis kristalisasi dingin yaitu TiO2 fase anatase dengan ukuran 19,04 nm dan energi gap sebesar 3,12 eV tetapi masih ditemukan gugus fungsional OH, CH2 dan C-O. 2. Waktu maksimum penyinaran UV-C pada permukaan plastik PP untuk menghasilkan permukaan yang bersifat hidrofilik adalah 4 jam, dengan sudut kontak sebesar 31,12 setelah menit ke-20. 3. Konsentrasi zat pendispersi tidak memberikan perbedaan transparansi plastik PP berlapis TiO2 yang signifikan.
o

4. Variasi konsentrasi lama penyinaran UV-C, dan zat pendispersi,

memberikan

perbedaan sudut kontak yang signifikan, tetapi transparansi yang didapat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh kedua variabel tersebut pada sifat anti kabut dan self-cleaning, tetapi belum mampu menghasilkan plastik berlapis TiO2 dengan transparansi yang baik. DAFTAR PUSTAKA Hirwati. 2007. Stabilisasi Panas Polipropilena dengan Antioksidan Butil Hidroksi Toluena dan Residu Asap Cair Hasil Pirolisis Cangkang Kelapa Sawit. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Tersedia di http://www.repository.usu.ac.id/ Lopez, T., E.Sanches, P. Bosch, Y. Meas and R. Gomez. 1992. FTIR and UV-Vis (Diffuse Reflectance) Spectroscopic Characterization of TiO 2 Sol-gel. Material Chemistry and Physics, 32 (1992). Puzenat, E. 2009. Photocatalytic Self-cleaning Materials : Principles and Impact on Atmosphere. Eur. Phys. J.Conferences 1 (2009): EDP Sciences. Sanchez, K.Del Angle., O.Vazquez-Cuchillo, M. Salazar-Villanueva, J.F SanchezRamirez, A.Cruz-Lopez, A.Aguilar-Elguezabal. 2011. Preparation, Characterization and Photocatalityc Properties of TiO 2 Nanostructured Spheres Synthesized by Sol-Gel Method Modified with Ethylene Glycol. J Sol-Gel Sci Technol (2011) 58:360-365. DOI 10.1007/s10971-011-2401-3. Slamet. 2009. Pengembangan Nanomaterial Berbasis TiO2 yang Memiliki Sifat Superhidrofilik dan Fotokatalitik serta Aplikasinya Sebagai Material Swa-Bersih dan Anti-Kabut. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia. Tersedia di http://www.elib.pdii.lipi.go.id/ [diakses tanggal 22 Januari 2011]. Slamet, C.H.D Alwi dan Viriya J. 2010. Rekayasa Plastik Berlapis Nanomaterial TiO2 untuk Aplikasi Anti Kabut dan Swa-Bersih. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia. Tersedia di http://www.che.ui.ac.id/ [diakses tanggal 1 Mei 2010]. Tuan, Nguyen Manh., Ngo Thanh Nha dan Nguyen Hoang Tuyeng. 2009. LowTemperature Synthesis of Nano-TiO2 Anatase on Nafion Membrane for Using DMFC. Journal of Physics : Conference Series 187 (2009) 012040: IOP Publishing.

Tabel 1. Hasil Uji ANOVA 2 Jalur With Replication %T PP-TiO2 Source of SS df MS F P-value Variation Duration Consentration Interaction Within Total 390.6872 709.9527 1976.744 3254.894 6332.278 3 2 6 24 35 130.2291 354.9764 329.4574 135.6206 0.960245 2.617422 2.429258 0.427512 0.093697 0.056069

F crit 3.008787 3.402826 2.508189

Tabel 2. Sudut Kontak Plastik PP yang Telah Dilapisi TiO2 Konsentrasi 0,0100 0,0125 0.0150 M Waktu M M 1 jam 43,99 45,48 46,08 2 jam 49,58 44,44 48,43 3 jam 24,36 27,91 37,18 4 jam 38,91 38,30 22,81 42,33 49,00 50,43 46,84 43,96 49,69 45,25 43,95 40,14 32,59 36,05 52,01 43,67 47,34 48,66 34,03 36,66 37,80 31,92 35,63 35,14 38,33 41,47 42,91

Tabel 3. Hasil Uji ANOVA 2 Jalur With Replication Sudut Kontak PP-TiO2 Source of SS df MS F P-value F crit Variation 635.7313 3 211.9104 8.5728 0.0005 3.0088 Duration Consentration Interaction Within Total 213.2499 415.7517 593.2521 1857.985 2 6 24 35 106.625 69.29195 24.71884 4.3135 2.8032 0.0251 0.0327 3.4028 2.5082

Gambar 1.Difraktogram Nanopartikel TiO2 dengan Metode Kristalisasi Dingin

Gambar 2. Spektra FTIR TiO2

Gambar 3. Hubungan Lama Penyinaran dengan Sudut Kontak PP

Gambar 4. Pengaruh Lama Treatment PP dan Konsentrasi Etanol terhadap Transmitansi Plastik PP yang Telah Dilapisi TiO2.

Gambar 5. Uji Kualitatif Sifat Anti Kabut (X=PP, O=PP-TiO2)

Gambar 6. Uji Kualitatif Sifat Self-cleaning (O=PP-TiO2, X=PP)