Anda di halaman 1dari 105

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PROYEK PEMBANGUNAN GALLERY CIUMBULEUIT 2 BANDUNG

Louis Yongky Kurniawan S. Yusuf Roni Nababan Agung Nugroho

NPM: 2008410006 NPM: 2008410142 NPM: 2008410186

PEMBIMBING: Ir. Zulkifli Bachtiar Sitompul, MSIE.

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


(Terakreditasi Berdasarkan SK BAN-PT Nomor: 032/BAN-PT/Ak-XI/S1/XII/2008)

BANDUNG MEI 2012

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PROYEK PEMBANGUNAN GALLERY CIUMBULEUIT 2 BANDUNG

Louis Yongky Kurniawan S. Yusuf Roni Nababan Agung Nugroho

NPM: 2008410006 NPM: 2008410142 NPM: 2008410186

Bandung, 17 Mei 2012 Pembimbing,

Ir. Zulkifli Bachtiar Sitompul, MSIE.

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


(Terakreditasi Berdasarkan SK BAN-PT Nomor: 032/BAN-PT/Ak-XI/S1/XII/2008)

BANDUNG MEI 2012

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat serta anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktek yang berjudul PROYEK PEMBANGUNAN GALLERY CIUMBULEUIT 2. Kerja praktek ini merupakan salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan studi sarjana strata-1 di Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan. Dalam penyusunan laporan kerja praktek ini, banyak hambatan yang dihadapi penulis. Namun, berkat saran, kritik, serta dorongan semangat dari berbagai pihak, laporan kerja praktek ini dapat diselesaikan. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Ir. Yohannes L.D. Adianto, MT., selaku koordinator kerja praktek. 2. Bapak Ir. Zulkifli Bachtiar Sitompul, MSIE., selaku dosen pembimbing kerja praktek. 3. Bapak Kurniawan selaku Pimpinan Proyek Gallery Ciumbuleuit 2 Bandung. 4. Bapak Hadi Susilo selaku Kepala Staff Teknik Proyek Gallery Ciumbuleuit 2 Bandung. 5. Bapak Valentino Arya selaku Quality Control yang telah membantu dalam pelaksanaan di lapangan. 6. Bapak Yudha dan Bapak Haryanto selaku Pelaksana di lapangan 7. Seluruh staff kontraktor PT. Wijaya Karya Gedung dan pihak-pihak yang telah mendukung selama melakukan kerja praktek di proyek.

Penulis menyadari bahwa laporan kerja praktek ini masih jauh dari sempurna, tetapi penulis berharap laporan kerja praktek ini dapat berguna bagi orang yang membacanya.

Bandung, 17 Mei 2012

Louis Yongky Kurniawan S. Yusuf Roni Nababan Agung Nugroho

2008410006 2008410142 2008410186

ii

DAFTAR ISI

PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

i iii vii ix

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Kerja Praktek 1.3 Pembatasan Masalah 1.4 Metode Pembahasan 1 2 3 4

BAB 2 DATA DAN MANAJEMEN ORGANISASI PROYEK 2.1 Data Umum Proyek 2.2 Data Teknis Proyek 2.2.1 Data Material 5 6 6 7 9

2.3 Manajemen Organisasi Proyek 2.3.1 Struktur Organisasi Kontraktor

BAB 3 BAHAN DAN PERALATAN 3.1 Bahan 3.1.1 Campuran Beton 3.1.2 Baja Tulangan 3.1.3 Kawat Baja 13 13 14 15

iii

3.1.4 Bahan Aditif dan Aplikatif 3.1.5 Beton Decking 3.2 Peralatan 3.2.1 Bar bender 3.2.2 Las 3.2.3 Tower crane 3.2.4 Concrete Bucket 3.2.5 Concrete vibrator 3.2.6 Concrete Mixer Truck 3.2.7 Concrete pump 3.2.8 Scaffolding 3.2.9 Bar cutter 3.2.10 Cutting Wheel 3.2.11 Compressor 3.2.12 Trolley 3.2.13 Gegep 3.2.14 Plate Compactor 3.2.15 Jack Hammer 3.2.16 Theodolit

15 16 16 16 17 18 19 19 20 21 22 22 23 24 24 25 25 26 26

BAB 4 RENCANA DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI 4.1 Rencana Pekerjaan Konstruksi 4.2 Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi 4.2.1 Pekerjaan Galian Tanah 4.2.2 Pekerjaan Pondasi iv 28 29 29 30

4.2.3 Pekerjaan Penulangan 4.2.4 Pemasangan Bekisting dan Perancah 4.2.5 Pengecoran 4.2.6 Pembongkaran Bekisting dan Perancah 4.2.7 Perawatan dan Perlindungan Beton 4.2.8 Perubahan Pekerjaan

31 33 35 37 38 40

BAB 5 TINJAUAN KHUSUS 5.1 Ground Water Tank 5.1.1 Pengertian Water Tank 5.1.2 Pembangunan Ground Water Tank pada proyek Gallery Ciumbuleuit 2 5.1.3 Kapasitas Ground Water Tank pada proyek Gallery Ciumbuleuit 2 5.1.4 Pemanfaatan Ground Water Tank 5.2 Estimasi Biaya dalam Menjalankan Tower Crane Per Bulan dan Pengaruh Tower Crane terhadap Produktivitas Kerja Proyek dalam Proses Pembangunan 5.2.1 Pengertian Tower Crane 5.2.2 Bagian- Bagian Tower Crane 5.2.3 Penentuan dan Pemilihan Tower Crane 5.2.4 Estimasi Biaya dalam Menjalankan Tower Crane per Bulan 5.2.5 Pengaruh Tower Crane terhadap Produktivitas 58 50 52 55 56 49 50 48 41 41 42

dalam Proses Pembangunan 5.2.5.1 Produktivitas Tower Crane menurut Imam Soeharto, (1997) 5.2.5.2 Produktivitas Pada Pekerjaan Pemindahan Material menurut Varma, (1979) 5.2.5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi 5.3 Proses Pengerjaan Bored Pile 5.3.1 Pengertian Bored Pile 5.3.2 Bahan dan Peralatan yang Digunakan Untuk Bored Pile 5.3.3 Metode Pondasi Bored Pile di Gallery Ciumbuleuit 2 5.3.4 Pelaksanaan Bored Pile di Gallery Ciumbuleuit 2 70 71 60 64 64 64 60 58

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan 6.2 Saran 82 83

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

84 85

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9

Bagan Struktur Organisasi Proyek Campuran Beton Ready Mix Baja Tulangan Kawat Baja Bahan Aditif Beton Decking Bar bender Alat Las Tower Crane Concrete Bucket

9 14 14 15 15 16 17 18 18 19 20 21 21 22 23 23 24 24 25 25 26 vii

3.10 Concrete Vibrator 3.11 Concrete Mixer Truck 3.12 Concrete Pump 3.13 Scaffolding 3.14 Bar Cutter 3.15 Cutting Wheel 3.16 Compressor 3.17 Trolley 3.18 Gegep 3.19 Plate Compactor 3.20 Jack Hammer

3.21 Theodolit 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 5.8 5.9
Tempat Penyimpanan Baja Tulangan Tempat Pabrikasi Baja Karat Pada Baja Tulangan Penulangan Pelat Scaffolding Bekisting Sistem Pengecoran Balok dan Pelat Pengecoran Kolom Pelat Tumpuan Batang Penahan Bekisting Baja

27 31 32 32 33 35 35 37 37 38 44 44 45 46 52 65 66 66 67 67 68 68 69 69 viii

Dewatering Integral Waterproofing Waterstop Diagram Tekanan Hidrostatik pada Ground Water Tank Bagian-Bagian Tower Crane Besi Tulangan Bored Pile Bored Pile Soilmec Bucket Auger Flight Auger

5.10 Pipa Tremi 5.11 Casing 5.12 Corong Tremi 5.13 Concrete Pump 5.14 Mixing Truck

5.15 Metode Pondasi Bored Pile 5.16 Memulai Pengeboran untuk Bored Pile 5.17 Memasukkan Casing Ke Lubang Bored Pile 5.18 Melanjutkan Galian Lubang Bored Pile 5.19 Memasukkan Baja Tulangan Bored Pile 5.20 Menyambung Baja Tulangan Bored Pile 5.21 Memasukkan Pipa Tremi Ke Dalam Lubang Bored Pile 5.22 Memasang Corong Di Atas Pipa Tremi 5.23 Memasang Talang Saat Pengecoran 5.24 Melakukan Pengecoran Bored Pile 5.25 Melepas Pipa Tremi 5.26 Melepas Casing

71 73 73 74 74 75 76 76 77 78 79 79

viii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 2.2 2.3

Data Umum Proyek Nilai Mutu Beton Diameter dan Mutu Baja Tulangan

5 6 7 57

5.1 Tabel Spesifikasi Tower Crane

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran L1 Draft Tinjauan Khusus L2 Laporan Faktual Penyelidikan Tanah L3 Jobmix Formula Trialmix L4 Denah Lokasi Uji Penyelidikan Tanah L5 Absensi Kerja Praktek

ix

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Persaingan yang semakin ketat di dunia pekerjaan dewasa ini menjadikan mahasiswa khususnya di bidang teknik sipil butuh berbagai informasi untuk membuat sebuah inovasi dalam mengerjakan suatu proyek. Dalam menuntut ilmu di bidang teknik sipil, dibutuhkan pengetahuan teoritis sebagai ilmu dasar yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Namun tidak cukup hanya mendapat pengetahuan teoritis, dibutuhkan pula kegiatan praktek untuk mengaplikasikan pengetahuan teoritis yang didapat selama perkuliahan. Hal tersebut dianggap penting karena ruang lingkup bidang teknik sipil yang begitu luas seperti hidroteknik, geoteknik, struktur, manajemen rekayasa kontruksi, dan tranportasi sehingga masalah yang timbul berbeda-beda dan pemecahan masalahnya juga pasti akan berbeda. Oleh karena itu, kegiatan praktek di lapangan secara langsung merupakan kegiatan yang penting bagi proses pembelajaran dan perkembangan mahasiswa. Era globalisasi yang bergerak sangat dinamis menuntut laju perkembangan yang cepat dalam segala bidang kehidupan, khususnya bidang teknik sipil. Seorang mahasiswa teknik sipil tentu harus mampu menjawab tantangan zaman dengan terus berusaha menyesuaikan diri dalam arus perkembangan dunia konstruksi yang sangat pesat.

Melalui kerja praktek ini diharapkan dapat lebih mengenal dunia kerja sekaligus belajar menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan. Kegiatan kerja praktek merupakan kegiatan yang penting bagi proses pembelajaran dan perkembangan seorang mahasiswa. Kerja praktek adalah sarana yang tepat bagi seorang mahasiswa untuk mencoba mengaplikasikan semua ilmu yang telah diperolehnya selama perkuliahan dan sebagai sarana untuk berbagi informasi mengenai tata cara pelaksanaan suatu proyek kepada mahasiswa. . 1.2 Tujuan Kerja Praktek

Program studi Strata Satu di Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Katolik Parahyangan, memberikan mata kuliah Kerja Praktek sebagai salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa teknik sipil dengan maksud untuk memberikan bekal wawasan praktis kehidupan pekerjaan konstruksi. Kerja praktek yang dilakukan pada proyek pembangunan Gallery Apartment Ciumbuleuit 2 di Jalan Ciumbuleuit, Bandung bertujuan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dalam hal praktis, kemampuan berkomunikasi, dan bersosialisasi di dalam dunia konstruksi, melihat pekerjaan proyek yang sebenarnya secara langsung di lapangan sehingga dapat melatih dan mengembangkan kemampuan dan kepekaan mahasiswa dalam menemukan dan menganalisis masalah-masalah yang terjadi selama pelaksanaan proyek di lapangan, serta memperoleh pengetahuan dunia konstruksi yang tidak didapatkan selama perkuliahan sehingga mahasiswa mempunyai bekal tambahan untuk masuk ke dalam dunia kerja dan mengetahui kualifikasi seorang sarjana lulusan teknik sipil yang dibutuhkan dunia kerja.

Selain itu, hal-hal yang ditemui di lapangan bisa saja sesuatu yang baru atau berbeda dengan yang ada di dapat pada masa perkuliahan, maka dari itu mahasiswa harus bijak dan dapat membedakan apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang baru atau inovatif sehingga harus dipelajari atau suatu kesalahan yang harus dihindari.

1.3

Pembatasan Masalah

Dalam laporan ini, pembatasan masalah mencakup rencana proyek, pekerjaan geoteknik, dan pekerjaan struktur selama kerja praktek dilakukan yaitu mulai tanggal 16 Januari 2012 sampai dengan tanggal 13 Mei 2012 . Pekerjaan geoteknik meliputi pemasangan pondasi, cut and fill, dan penyelidikan tanah sedangkan pekerjaan struktur meliputi pengecoran pelat lantai, pengecoran pile cap, pemasangan tulangan dinding. Ada dua macam pembahasan dalam laporan ini, yaitu pembahasan mengenai tinjauan umum dan tinjauan khusus. Tinjauan umum meliputi data umum proyek, data teknis proyek, manajemen organisasi proyek, bahan dan peralatan, serta rencana dan pelaksanaan pekerjaan konstruksi. koordinasi mengenai pelaksanaan proyek dan teknik pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Halhal yang harus diperhatikan dan diamati selama kerja praktek dan menjadi bahan Laporan Kerja Praktek. Selain hal tersebut, dibahas beberapa permasalahan khusus. Pada tinjauan khusus dibahas lebih mendalam mengenai ground water tank, bored pile, tower crane.

1.4

Metode Pembahasan

Laporan kerja praktek ini disusun dengan mengacu pada data yang telah berhasil dikumpulkan dari pengamatan secara langsung di lapangan. Selain diamati proses pelaksanaan konstruksi, diperoleh penjelasan-penjelasan tentang pelaksanaan proyek dari Pimpinan Proyek, Staf Pelaksana, para pekerja di lapangan, arsip, dokumen proyek. Dipelajari juga teori maupun standar pelaksanaan konstruksi melalui studi pustaka, dari catatan kuliah, serta dari buku-buku yang terkait dengan pelaksanaan konstruksi. Hal-hal yang didapat dari pengamatan di lapangan kemudian dicatat dan dipelajari, kemudian menjadi bahan untuk melengkapi laporan kerja praktek. Hasil dari pengamatan yang kurang dimengerti kemudian ditanyakan kepada Pimpinan Proyek, Staf Pelaksana, dan para pekerja di lapangan. Data yang diperoleh di lapangan dilengkapi dengan data dari arsip dan dokumen proyek.

BAB 2 DATA DAN MANAJEMEN ORGANISASI PROYEK

2.1 Data umum Proyek Dalam pengerjaan suatu proyek diperlukan informasi, data, ataupun keterangan untuk mempermudah pengerjaan proyek tersebut. Maka dari itu, pada bab 2 ini akan dijelaskan detail tentang seluruh data, informasi, ataupun keterangan tersebut. Data umum proyek Gallery Ciumbuleuit 2 dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Data Umum Proyek

No.
1.

Nama Proyek Lokasi Jumlah Lantai Luas Total Bangunan a. Luas lantai ME

2. 3. 4.

Data Umum Proyek : Gallery Ciumbuleuit 2 , Bandung Jl. Ciumbuleuit, Bandung, Jawa : Barat : 30 lantai
: 49565m2 : 730 m2 : 9425 m2 : 2400 m2 : 1810 m2 : 1600 m2 :

b. Luas total basement 1-4 c. Luas lantai 1

d. Luas lantai 2 e. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Luas lantai 3-25

Luas Tanah Jumlah Tower Pengawas Developer Arsitek Konsultan Struktur Kontraktor Struktur Kontraktor MEP

8600 m2

: 1 tower crane : PT. FERAYAMO ABADI : PT. PRATAMA BUMI ASRI : TRENDRAMA ARCHITECT

PT. ANUGERAH MULTI CIPTA KARYA : PT. WIJAYA KARYA GEDUNG : PT. METAKOM PRANATA
:

2.2 Data Teknis Proyek Pada sub-bab ini dijelaskan data-data teknis proyek mencakup data material.

2.2.1 Data Material Pondasi Jenis pondasi yang digunakan pada proyek ini adalah pondasi bored pile. Pengeboran pondasi bored pile menggunakan alat clay auger sedangkan untuk pemasangan besi, pipa tremie dan memulai pengecoran menggunakan bantuan alat mobile crane untuk mengangkat concrete bucket.

Beton Beton merupakan salah satu komponen penting yang digunakan dalam membangun sebuah gedung maka dari itu mutu dari beton tersebut harus diperhatikan. Mutu beton yang digunakan pada proyek ini dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Nilai Mutu Beton

No.
1. 2. 3.

Komponen pekerjaan yang menggunakan beton Pile Cap, Balok, Pelat, Tangga, Retaining Wall Pondasi genset, trafo, pompa, tangki air, bahan bakar, dan peralatan mekanikal dan elektrikal yang lain Kolom dan Shearwall lantai kerja

Mutu beton K350 K350 K500 K100

4.

Baja Tulangan Baja tulangan merupakan komponen yang sama pentingnya dengan beton. Baja tulangan mempunyai diameter yang beragam dan mutunya juga harus diperhatikan dalam penggunaannya. Diameter dan mutu baja tulangan dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Diameter dan Mutu Baja Tulangan

No.
1. 2. 3.

Diameter baja tulangan D9 D10, D13, D19, D22, D25, D32 Wire mesh

Mutu baja tulangan U-24 (BJTP 24) U-40 (BJTD 40) U-50

2.3 Manajemen Organisasi Proyek Pada sub-bab ini akan dibahas mengenai manajemen organisasi proyek yang meliputi struktur organisasi kontraktor, tugas dan wewenang serta hak dan

kewajiban dari masing-masing pihak yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut. 1. Pemilik Proyek (Owner) Pemilik proyek dalam suatu proyek konstruksi berperan sebagai pemberi dana serta penentu dari sasaran dan tujuan proyek. Hak dan kewajiban seorang pemilik proyek adalah menunjuk perencana proyek dan pelaksana proyek, menyediakan site/lahan, menyetujui/memerintahkan perubahan desain, menerima laporan proyek.

2. Konsultan Struktur (Planner) Konsultan struktur adalah pihak yang diberi tugas untuk melaksanakan perencanaan lengkap dari seluruh proyek sesuai kehendak pemilik proyek. Tugas dan wewenang konsultan perencana yaitu merencanakan secara berkala meninjau lapangan untuk melihat kemajuan pekerjaan dan ikut serta menilai kualitas pekerjaan yang dilakukan tim pelaksana agar tidak menyimpang dari ketentuan dan rencana, ikut serta mempertimbangkan usul-usul pemilik proyek maupun tim pelaksana, apabila diperlukan berhak meminta pemeriksaan pengujian pekerjaan secara khusus untuk menjamin pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana melalui konsultan pengawas, memberi konsultasi mengenai hal-hal arsitektural, fungsional dan struktural jika terdapat keragu-raguan atas ketentuan di dalam rencana melalui konsultan pengawas.

3. Pelaksana/Kontraktor Kontraktor berperan dalam hal melakukan pembangunan di lapangan. Hak dan kewajiban kontraktor adalah bertanggung jawab kepada konsultan dan pemilik proyek atas segala hal yang berhubungan dengan pembangunan atau pelaksanaan, baik secara teknis maupun administrasi dan keuangan, yang berpedoman pada dokumen kontrak, melaksanakan semua pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditentukan oleh konsultan struktur, mengatur manajemen biaya proyek sesuai dengan rencana anggaran dan aliran dananya, berhak mengajukan biaya tambahan bila ternyata ada pekerjaan tambahan, mengadakan rapat mingguan dengan seluruh pegawai untuk mengetahui hambatan-hambatan di lapangan dan kemajuan proyek.

2.3.1 Struktur Organisasi Kontraktor Agar pelaksanaan pembangunan suatu proyek berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan jadwal yang ada maka perlu adanya suatu pembagian tugas yang jelas yang disebut dengan struktur organisasi. Dengan membuat struktur organisasi yang benar maka akan sangat membantu kelancaran pekerjaan karena dari struktur organisasi ini tiap bagian dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing serta mengetahui bagaimana hubungan antar bagian. Struktur organisasi kontraktor pada proyek Gallery Ciumbuleuit 2 dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Direktur Utama: Muhamad Nawir Direktur Teknik dan Operasi: Ridwan A.M. Direktur Keuangan: Zakaria

MANAJER PROYEK

SITE ENGINEER

MANAJER KONSTRUKSI

ADMINISTRASI DAN KEUANGAN

S.H.E

KOMERSIAL

PELAKSANA STRUKTUR

KEUANGAN

SAFETY OFFICER

QA-QC

PELAKSANA ARSITEKTUR

GUDANG

PELAKSANA K3L

ENGINEERING

PELAKSANA MEP

SECURITY

SURVEYOR

HUMAS

DRAFTER

PROCUREMENT

Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi Proyek

10

1. Direktur Utama Sebagai pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi kontraktor, direktur utama bertanggung jawab kepada pemilik atas hasil dari pembangunan proyek yang dilaksanakan.

2. Direktur Teknik dan Operasi Tugas Direktur Teknik dan Operasi adalah mengkoordinasikan dan

mengendalikan kegiatan dibidang perencanaan teknik, produksi, perawatan teknik dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh direktur utama. Direktur Teknik dan Operasi bertanggung jawab kepada Direktur Utama.

3. Direktur Keuangan Mengarahkan berbagai penanggulangan berbagai jenis resiko finansial yang dihadapi perusahaan dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Direktur Keuangan bertanggung jawab kepada Direktur Utama.

4. Manajer Proyek Mengepalai dan memimpin proyek serta bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan. Segala prosedur yang berlaku pada proyek ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Manajer Proyek.

5. Engineering Manager Tugas dan tanggung jawab Engineering Manager adalah mengumpulkan data untuk proses pembuatan rencana pelaksanaan proyek, membuat studi

11

perbandingan untuk menemukan metode yang tepat, membuat RAP (Rencana Anggaran Proyek) yang terdiri dari biaya, mutu, waktu, sistem kerja, bahan, tenaga, alat, dan organisasi, memahami seluruh isi dokumen kontrak, meningkatkan efisiensi dan kinerja proyek, mengevaluasi jadwal pelaksanaan secara rutin, baik jadwal mingguan maupun bulanan, membuat laporan intern dan ekstren, mengawasi jalannya proyek, melakukan pengujian untuk menjamin mutu dalam pelaksanaan proyek, memproses berita acara tepat waktu, melaksanakan klaim pada pemilik proyek terhadap pekerjaan tambah kurang, perpanjangan waktu dan sebagainya, membina hubungan baik dengan relasi, baik dengan pemilik proyek, konsultan, sub-kontraktor, dan lembaga lain yang terkait.

6. Manajer Konstruksi Manajer Konstruksi bertugas dan bertanggung jawab dalam mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana struktur, pelaksana arsitektur, pelaksana MEP. Dalam hal ini manajer konstruksi adalah PT. Ferayamo Abadi.

7. Administrasi dan Keuangan Tugas dan tanggung jawab Administrasi dan Keuangan adalah mengumpulkan data untuk proses pembuatan rencana pelaksanaan proyek pada bagian administrasi umum dan keuangan, memahami isi dokumen kontrak yang berkaitan dengan bidangnya, meningkatkan efisiensi proyek, melaksanakan administrasi bagian kepegawaian dan keuangan, menjamin keamanan dan keselamatan sesuai persyaratan, membina hubungan baik dengan relasi, baik dengan owner, konsultan, sub kontraktor, dan lembaga lain yang terkait.

12

8. S.H.E Tugas dan tanggung jawab S.H.E (safety health environtment) adalah melaksanakan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan proyek, menjelaskan pentingnya K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, memberikan saran-saran yang berhubungan dengan peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, berhubungan dengan pihak luar (jika diperlukan) untuk menangani masalah kecelakaan kerja, menyediakan peralatan yang diperlukan untuk penanganan K3, melakukan evaluasi dan penelitian sebab-sebab terjadinya kecelakaan. .

BAB 3 BAHAN DAN PERALATAN

3.1 Bahan Pada sub-bab ini akan dibahas mengenai bahan-bahan yang digunakan pada pelaksanaan struktur di pembangunan proyek Gallery Ciumbuleuit 2. 3.1.1 Campuran beton

Beton adalah suatu campuran komposit dari agregat kasar (batu pecah), agregat halus (pasir), air, serta semen portland. Dalam proyek ini campuran beton banyak digunakan untuk pengecoran balok, pengecoran kolom, pengecoran pelat, pengecoran dinding, pengecoran shearwall. Bahan untuk campuran beton selanjutnya adalah semen portland (PC). Semen portland merupakan bubuk halus yang diperoleh dengan menggiling klinker dengan batu gips sebagai bahan tambahan dalam jumlah yang cukup. Pada proyek ini campuran beton ready mix (pada Gambar 3.1) diperoleh dari Adhimix Precast dan Pionir Beton sebagai supplier. Bersamaan dengan proses pengecoran, pemadatan campuran beton dilakukan menggunakan concrete vibrator. Getaran dari concrete vibrator akan membantu material campuran beton untuk masuk ke celah-celah tulangan sehingga tidak menimbulkan rongga-rongga pada campuran beton yang telah dicor. Mutu beton dikontrol dengan dibuat benda uji yang akan di uji di Institut Teknologi Bandung.

13

14

Gambar 3.1 Campuran Beton Ready Mix

3.1.2 Baja Tulangan Baja tulangan (pada Gambar 3.2) memiliki fungsi sebagai penahan tegangan tarik pada beton. Pemilihan penggunaan baja tulangan dan jumlahnya tergantung dari kekuatan struktur beton rencana. Baja tulangan yang digunakan pada proyek Gallery Ciumbuleuit 2 merupakan tulangan berulir dan tulangan polos. Baja tulangan berulir memiliki batas tegangan leleh 4000 kg/cm2 sedangkan besi polos memiliki batas tegangan leleh 2400 kg/cm2. Baja tulangan menggunakan bermacam-macam ukuran sesuai dengan gambar rencana penulangan beton sedangkan panjang tulangan yang dibutuhkan bervariasi. Oleh karena itu, sering dilakukan pemotongan dan penyambungan tulangan.

Gambar 3.2 Baja Tulangan

15

3.1.3 Kawat baja Kawat baja (pada Gambar 3.3) berfungsi untuk mengikat tulangan agar tetap pada posisinya.

Gambar 3.3 Kawat Baja

3.1.4

Bahan Aditif dan Aplikatif

Bahan aditif (pada Gambar 3.4) yang digunakan berjenis integral water proofing dan berfungsi untuk mencegah terjadinya peresapan air ke beton. Bahan aditif ini dicampurkan pada beton segar sebelum dilakukan pengecoran. Bahan aplikatif berjenis calbon (bonding agent) digunakan untuk membantu merekatkan beton yang sudah mengeras dengan beton segar pada saat akan dilakukan pengecoran.

Gambar 3.4 Bahan Aditif

16

3.1.5 Beton decking Beton decking (pada Gambar 3.5) adalah blok beton kecil dengan ketebalan sesuai selimut beton yang akan diselipkan pada proses perakitan tulangan pelat, balok, dan kolom, kemudian diikat pada tulangan untuk mempertahankan posisi tulangan terhadap bekisting.

Gambar 3.5 Beton Decking

3.2 Peralatan 3.2.1 Bar bender Bar bender (pada Gambar 3.6) adalah alat yang berfungsi untuk membengkokkan baja tulangan sesuai dengan perencanaan. Tulangan baja yang akan

dibengkokkan dimasukan ke antara poros tekan dan poros pembengkok kemudian diatur sudutnya sesuai dengan sudut yang diinginkan dan panjang bengkoknya. Ujung tulangan pada poros pembengkok dipegang dengan kunci pembengkok. Kemudian pedal ditekan sehingga roda pembengkok akan berputar sesuai dengan sudut dan kunci pembengkok. Kemudian pedal ditekan sehingga roda pembengkok akan berputar sesuai dengan sudut pembengkokkan yang diinginkan. Bar bender dapat mengatur sudut pembengkokkan tulangan dengan

17

mudah dan rapi. Keuntungan menggunakan Bar bender adalah efisiensi waktu yang dihasilkan dengan menggunakan alat tersebut.

Gambar 3.6 Bar bender

3.2.2 Alat Las Di dalam proyek ini las (pada Gambar 3.7) digunakan untuk menyambungkan sebuah pelat dengan sebuah tulangan. Cara kerja las ini adalah menyambung logam dengan logam (pengelasan) yang menggunakan gas karbit (gas asetilen = C2H2) sebagai bahan bakar, prosesnya adalah membakar bahan bakar gas dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat digunakan gas-gas asetilen, propana atau hidrogen. Ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah gas asetilen, sehingga las gas pada umumnya diartikan sebagai las oksi-asetilen. Karena tidak menggunakan tenaga listrik, las oksi-asetilen banyak dipakai di lapangan walaupun pemakaiannya tidak sebanyak las busur elektroda terbungkus.

18

Gambar 3.7 Alat Las

3.2.3 Tower crane Crane digunakan untuk mengangkat muatan secara vertikal, menahannya apabila diperlukan, dan menurunkan muatan ke tempat lain yang ditentukan. Dalam proyek ini digunakan dua buah jenis crane yaitu mobile crane yang digunakan sebelum didirikannya tower crane. Tower crane (pada Gambar 3.8) dapat mengangkat material secara vertikal dan horizontal. Tower crane salah satu peralatan yang paling penting dalam pekerjaan suatu proyek gedung bertingkat yang digunakan digunakan untuk mengangkut berbagai macam material seperti bekisting kolom, campuran beton dalam concrete bucket, baja tulangan, dan sebagainya.

Gambar 3.8 Tower Crane

19

3.2.4 Concrete Bucket Concrete Bucket (pada Gambar 3.9) digunakan sebagai penampung material bangunan seperti semen yang akan digunkan untuk pengecoran. Juga merupakan tempat pengangkutan beton dari truck mixer concrete sampai ke tempat

pengecoran. Dalam pengerjaannya dibutuhkan satu orang sebagai operator concrete bucket yang bertugas untuk membuka atau mengunci agar material beton tidak tumpah pada saat dibawa ke area pengecoran. Concrete bucket yang digunakan pada proyek ini mempunyai kapasitas sebesar 0,8 m3 dan massa 300 kg. Pada proyek ini, concrete bucket digunakan untuk pengecoran kolom.

Gambar 3.9 Concrete Bucket

3.2.5 Concrete vibrator Concrete vibrator (pada Gambar 3.10) berfungsi untuk menggetarkan beton pada saat pengecoran agar beton dapat mengisi seluruh ruangan dan tidak terdapat rongga-rongga udara diantara beton yang dapat membuat beton keropos. Concrete

20

vibrator digerakan oleh mesin listrik dan mempunyai kabel sepanjang beberapa meter. Alat ini digunakan sebagai pemadat pada saat pengecoran yang sedang berlangsung pada kolom, pelat lantai dan balok dengan cara menggetarkannya. Alat ini digunakan pada berbagai pengecoran struktur beton.

Gambar 3.10 Concrete Vibrator

3.2.6 Concrete Mixer Truck Concrete Mixer Truck (pada Gambar 3.11) berfungsi untuk membawa material beton dari pabrik ke lapangan, serta mencampur agregat beton. Cara kerja alat ini adalah material beton dimasukkan ke dalam chamber yang berputar dan memiliki gerakan mengaduk, agar material beton tetap cair tidak terjadi setting dari batching plant sampai ke lokasi proyek. Truk mixer dipakai saat akan dilakukan pengecoran dalam jumlah besar dan membutuhkan volume beton lebih dari 6 m3. Volume beton maksimum yang dapat diangkut adalah 6m3.

21

Gambar 3.11 Concrete Mixer Truck

3.2.7 Concrete pump Concrete pump (pada Gambar 3.12) berfungsi untuk mengangkut campuran beton ke lokasi pengecoran yang luas dan sulit dijangkau. Concrete pump bekerja dengan dengan menggunakan tekanan pompa yang ada pada concrete pump, campuran beton disalurkan ke lokasi yang akan dilakukan pengecoran. Dalam proyek ini Concrete pump digunakan untuk mendistribusikan material campuran beton di lantai-lantai yang sulit dijangkau.

Gambar 3.12 Concrete pump

22

3.2.8 Scaffolding Scaffolding (pada Gambar 3.13) berfungsi untuk memikul beban momen yang ada pada beton yang telah dicor dan beban beton segar serta digunakan pula sebagai tangga. Scaffolding merupakan rangka-rangka batang yang terbuat dari besi dan disusun menjadi satu kesatuan sehingga dapat memikul beban yang diakibatkan oleh campuran beton saat pengecoran pelat lantai di proyek tersebut.

Gambar 3.13 Scaffolding

3.2.9 Bar cutter Bar cutter (pada Gambar 3.14) berfungsi untuk memotong tulangan baja sesuai dengan ukuran panjang yang dibutuhkan. Tulangan baja diletakkan di dalam gigi bar cutter kemudian dipijak dan tulangan baja akan terpotong. Pemotongan tulangan baja yang mempunyai diameter besar dilakukan satu persatu. Untuk baja berdiameter kecil, pemotongan dapat dilakukan beberapa buah sekaligus. Keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan alat ini adalah efisiensi dan kecepatan waktu pemotongan tulangan baja dibandingkan dengan cara manual.

23

Gambar 3.14 Bar cutter

3.2.10 Cutting wheel Cutting wheel (pada Gambar 3.15) berfungsi untuk memotong profil baja yang digunakan untuk penahan bekisting pada saat pengecoran kolom dan pelat. Cara kerja alat ini pertama-tama profil baja yang akan dipotong diletakkan di bawah wheel, kemudian cutting wheel ditekankan pada profil baja yang akan dipotong. Profil baja yang akan dipotong harus diukur terlebih dahulu agar ukuran yang diinginkan sesuai. Dalam proyek ini profil baja yang dipotong adalah profil baja yang digunakan untuk penyangga bekisting pelat yang ditahan oleh scaffolding.

Gambar 3.15 Cuting wheel

24

3.2.11 Compressor Compressor (pada Gambar 3.16) digunakan untuk mensuplai udara bertekanan. Pada tahap pengecoran alat ini sangat memudahkan untuk membersihkan kotoran di dalam bekisting.

Gambar 3.16 Compressor

3.2.12 Trolley Trolley (pada Gambar 3.17) pada umumnya digunakan untuk mengangkut berbagai jenis material. Pada proyek ini trolley digunakan untuk mengangkut beton segar yang diturunkan dari truk mixer untuk dibawa untuk diuji slump.

Gambar 3.17 Trolley

25

3.2.13 Gegep Gegep (pada Gambar 3.18) digunakan untuk memasang kawat baja pada sambungan tulangan atau pada posis tulangan satu dengan yang lain agar tetap pada posisinya.

Gambar 3.18 Gegep

3.2.14 Plate Compactor Berfungsi untuk memadatkan tanah di sekitar proyek. Plate compactor (pada Gambar 3.19) menggunakan sistem hidraulik yang menggerakkan pelat naik turun. Alat ini dioperasikan oleh dua orang. Orang pertama bertugas untuk mengendalikan plate compactor, sementara orang ke dua menarik plate compactor kea rah tanah yang hendak dipadatkan. Pengaplikasian alat ini pada proyek adalah untuk memadatkan dan meratakan tanah, khususnya untuk perataan lantai kerja.

Gambar 3.19 Plate Compactor

26

3.2.15 Jack Hammer Jack hammer (pada Gambar 3.20) adalah alat yang digunakan dengan tangan yang fungsinya untuk membongkar beton yang sudah keras. Alat ini biasa digunakan apabila di awal proyek terdapat bangunan lama dan akan dibongkar. Jack hammer memiliki ujung yang pipih dan ujung yang runcing dan kedua ujung memiliki kegunaan yang berbeda. Untuk ujung pipih digunakan untuk mengikis beton dan ujung runcing untuk menghancurkan beton.

Gambar 3.20 Jack Hammer

3.2.16 Theodolit Theodolit (pada Gambar 3.21) adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja, di dalam theodolit sudut yang dapat dibaca bisa sampai pada satuan detik. Dalam pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam bentuk pengukuran polygon.

27

Gambar 3.21 Theodolit

BAB 4 RENCANA DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

4.1 Rencana Pekerjaan Konstruksi Proyek Gallery Ciumbuleuit 2 dilaksanakan dalam rangka memperluas kawasan Apartement dan Hotel dari Gallery Ciumbuleuit. Pembangunan Gallery Ciumbuleuit 2 ini berada tepat disebelah gedung Gallery Ciumbuleuit yang sudah dibangun pertama kali. Proyek yang sekarang sedang berjalan adalah proyek pembangunan apartement bagian basement. Adapun rencana awal persiapan proyek adalah pekerjaan pemagaran dengan membuat pagar-pagar pembatas. Pekerjaan pemagaran adalah pekerjaan pemberian batas terhadap lahan yang akan dibangun terhadap lahan lain yang berfungsi sebagai batas pekerjaan konstruksi dan membatasi keterlibatan pihak luar yang tidak berwenang dalam kegiatan proyek. Setelah pekerjaan pemagaran, direncanakan pengukuran di lapangan untuk menentukan bench mark. Bench mark berfungsi sebagai patokan awal dalam melakukan pekerjaan konstruksi. Pada proyek Galery Ciumbuleuit 2, rencana pemasukan material ke lokasi proyek adalah melewati jalan Ciumbuleuit karena lokasi proyek terletak pada area bisnis yang padat dan ramai sehingga untuk memasukkan material ke lokasi proyek, material baru dapat dimasukkan pada lokasi proyek dari pukul 23.00 WIB sampai dengan 04.00 WIB. Sebelum pelaksanaan konstruksi dimulai, di sekitar

28

29

area proyek direncanakan didirikan bangunan-bangunan sementara yang mendukung pekerjaan proyek, seperti: 1. site office kontraktor utama 2. pos keamanan 3. gudang bahan dan peralatan 4. toilet pekerja 5. kantin Pada proyek ini bangunan pos keamanan, gudang, toilet pekerja, dan kantin berupa bangunan sementara yang dibangun dengan menggunakan multipleks dan dinding bata atau menggunakan bangunan yang telah didirikan sebelum proyek dimulai. Bangunan-bangunan tersebut nantinya akan dibongkar setelah proyek selesai.

4.2 Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Pada sub-bab ini dibahas pelaksanaan konstruksi selama kerja praktek yaitu pengerjaan galian tanah, pengerjaan pondasi, pekerjaan struktur gedung mencakup penulangan, pemasangan bekisting dan perancah, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perancah, perawatan beton, dan perubahan pekerjaan.

4.2.1

Pengerjaan Galian Tanah

Pekerjaan galian tanah menggunakan alat excavator PC 200 dengan kapasitas 44,42 m3/jam. Kapasitas ini dapat berkurang bila posisi penggalian tidak mendukung. Dump truck digunakan pada pekerjaan galian untuk mengangkut tanah galian ke tempat penampungan. Kapasitas normal dump truck adalah 6 m3

30

dan mampu mengangkut tanah seberat 8 ton. Pekerjaan galian ini menggunakan 2 unit Excavator dan sekitar 15 unit dump truck yang datang ke proyek ini setiap harinya.

4.2.2

Pengerjaan Pondasi

Tahapan pelaksanaan pekerjaan pondasi di Gallery Ciumbuleuit 2 yang pertama adalah melakukan pengeboran tanah pada titik yang sudah ditentukan menggunakan clay auger hingga kedalaman 5 meter setelah itu memasukan casing ke dalam lubang yang sudah di gali. Setelah itu, melanjutkan galian hingga kedalaman sesuai dengan rencana kedalaman bored pile pada titik tersebut. Lalu, memasukan baja tulangan ke dalam lubang yang sudah dibor tersebut dan bila lubang tersebut kedalamannya lebih dari 12 meter maka baja tulangan akan disambung. Setelah itu, memasukan pipa tremi kedalam lubang, pipa tremi disambung hingga mencapai dasar kedalaman lubang bored pile tersebut. Hal ini dilakukan secara paralel dengan mempersiapkan talang. Setelah pipa tremi siap dipasang corong diatasnya untuk memudahkan beton masuk kedalam pipa tremi. Setelah itu, pemasangan talang karena pada saat pengecoran beton dialirkan secara gravitasi. Setelah pipa tremi dan talang siap pengecoran dapat dilakukan dengan memasukan campuran beton kedalam corong. Setelah bagian dasar dari lubang tersebut dicor pipa tremi akan dilepas secara bertahap sambil melakukan pengecoran. Setelah selesai mengecor casing dapat dilepaskan. Tahap terakhir

31

dari pengecoran pondasi adalah menghubungkan dan mengikat bored pile lainnya dengan caping beam.

4.2.3

Pekerjaan Penulangan

Baja tulangan yang didatangkan ke proyek disimpan di depan tempat tinggal sementara para pekerja besi yaitu di sisi tengah dari proyek ini. Hal ini dilakukan lebih mempermudah para pekerja dan juga terdapat lahan yang cukup untuk tempat penyimpanan baja tulangan dan proses pabrikasi baja tulangan. Selain itu lokasi ini juga cukup mudah untuk proses supply dan distribusi ke seluruh area proyek setelah baja tulangan tersebut dipabrikasi. Pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 terlihat bahwa baja tulangan disimpan di tempat yang terbuka. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengangkutan baja tulangan dari truk dan baja tulangan yang telah dipabrikasi dengan menggunakan tower crane. Tetapi penyimpanan baja tulangan ditempat yang terbuka dapat menyebabkan terjadinya proses oksidasi antara baja tulangan dengan udara luar, sehingga dapat menyebabkan terjadinya proses perkaratan pada baja tulangan dan mempengaruhi daya lekat baja tulangan terhadap beton. Karat pada baja tulangan dapat menyebabkan berkurangnya daya lekat baja tulangan dengan beton. Hal tersebut dapat menyebabkan kerugian untuk struktur bangunan.

Gambar 4.1 Tempat Penyimpanan Baja Tulangan

32

Gambar 4.2 Tempat Pabrikasi Baja

Baja tulangan juga harus dilindungi dari kontak dengan cuaca sekitar yang dapat menyebabkan timbulnya noda karat pada permukaan baja tulangan. Hujan merupakan suatu kondisi cuaca yang dapat menyebabkan pekerjaan konstruksi terhenti untuk sementara. Selain itu air hujan yang bersifat asam dapat mempercepat terjadinya proses oksidasi baja tulangan, sehingga menimbulkan bintik karat pada permukaan baja tulangan. Karat pada baja tulangan dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Karat Pada Baja Tulangan

33

Penulangan dilakukan berdasarkan gambar kerja dengan menggunakan kawat baja sebagai pengikat pertemuan antar tulangan. Sedangkan penulangan untuk pelat dilakukan ditempat pelat yang akan dicor dan penulangan dilakukan setelah bekisting pelat terpasang. Adapun tulangan yang digunakan pada pelat adalah wiremesh. Wiremesh diletakkan diatas permukaan bekisting dengan ditopang oleh beton decking dan tulangan baja yang dibentuk menjadi spiral agar wiremesh memiliki jarak tertentu di atas bekisting sesuai dengan gambar kerja (pada Gambar 4.4).

Gambar 4.4 Penulangan Pelat

4.2.4 Pemasangan Bekisting dan Perancah Sebelum dilakukan pengecoran, dibuat terlebih dahulu cetakan balok, pelat, dan kolom berdasarkan dimensi yang sudah direncanakan. Bekisting berguna untuk memberi bentuk balok, kolom, dan pelat sesuai dengan gambar kerja. Meskipun bekisting hanyalah struktur yang dalam penggunaannya bersifat sementara, namun kualitas dan kekuatan bekisting harus juga diperhatikan dengan baik karena campuran beton mempunyai daya tekan yang cukup besar untuk membuat

34

bekisting melendut. Oleh karena itu, bekisting harus dibuat dari bahan yang bermutu dan perlu direncanakan sedemikian rupa sehingga kontruksi tidak mengalami kerusakan akibat lendutan atau lenturan ketika beton dituangkan. Pada balok dan pelat, bekisting yang digunakan adalah bekisting kayu yang dilapisi polyfilm dan dipasang dengan bantuan scaffolding sebagai penopang bekisting. Mula-mula beberapa scaffolding didirikan kemudian pada puncak tiang scaffolding dipasang batang pengaku baja sehingga scaffolding dapat berdiri sendiri (Gambar 4.5). Ketinggian scaffolding disesuaikan dengan ketinggian lantai. Untuk kolom, pemasangan bekisting dilakukan dengan menggunakan bekisting sistem (pada Gambar 4.6). Sebelum bekisting dipasang, diletakkan terlebih dahulu tahu beton pada sisi-sisi luar tulangan dengan ketebalan tertentu untuk menjaga agar tulangan tidak sampai menonjol atau menjorok keluar sewaktu pembongkaran bekisting setelah pengecoran dan didapatkan selimut beton yang merata, sehingga tulangan tertutup semua dan didapatkan struktur yang sesuai dengan rencana. Setelah itu bekisting baja diangkat oleh tower crane kemudian diletakkan masuk ke dalam tulangan kolom. Bekisting baja yang sudah menutupi tulangan kolom kemudian dikencangkan baut-baut nya dan batang penopang diangkur pada lantai. Batang penopang memiliki pelat berlubang pada kaki nya yang digunakan untuk mengangkur tulangan.

35

Gambar 4.5 Scaffolding

Gambar 4.6 Bekisting Sistem

4.2.5

Pengecoran

Sebelum dilakukan pengecoran, campuran beton yang akan dipakai harus dilakukan uji slump dan pengambilan sampel untuk uji kuat tekan karakteristik beton tersebut. Pengecoran balok dan pelat dilakukan secara bersamaan dengan menggunakan concrete pump. Mula-mula campuran beton dimasukkan ke dalam concrete pump yang sudah terpasang pipa besi untuk mengalirkan campuran beton

36

ke lantai tertentu dimana balok dan pelat akan dicor. Kemudian mesin concrete pump dinyalakan dan mulai mengalirkan campuran beton. Campuran beton yang keluar dari mulut pipa akan mengisi bekisting balok dan pelat. Saat campuran beton mengisi bekisting, digunakan concrete vibrator yang dimasukkan kedalam bekisting balok dan pelat yang memberi getaran pada campuran beton yang mengisi bekisting agar balok dan pelat terisi padat. Pada proses ini alat penggetar beton tidak boleh mengenai tulangan karena dikhawatirkan akan dapat mengubah letak tulangan yang telah terpasang. Setelah campuran beton dituangkan kemudian diratakan. Pengecoran balok dan pelat dapat dilihat pada Gambar 4.7. Pada pengecoran kolom campuran beton dimasukkan kedalam concrete bucket dalam keadaan terkunci sehingga campuran beton tidak tumpah ke dalam pipa karet. Concrete bucket lalu dibawa oleh tower crane menuju bekisting sistem kolom yang akan dicor kemudian pipa karet pada concrete bucket dimasukkan ke dalam bekisting baja kolom. Setelah pipa karet berada di dalam bekisting baja, penutup lubang concrete bucket dibuka oleh pekerja sehingga campuran beton mengalir ke dalam pipa karet dan mengisi bekisting baja kolom. Saat bekisting terisi campuran beton, digunakan concrete vibrator yang dimasukkan ke dalam bekisting baja untuk menggetarkan beton pada saat pengecoran agar beton dapat mengisi seluruh ruangan dan tidak terdapat ronggarongga udara diantara beton yang dapat membuat beton keropos. Proses pengecoran kolom dapat dilihat pada Gambar 4.8

37

Gambar 4.7 Pengecoran Balok dan Pelat

Gambar 4.8 Pengecoran Kolom

4.2.6

Pembongkaran Bekisting dan Perancah

Langkah pertama yang dilakukan dalam pembongkaran bekisting dan perancah pada balok dan pelat adalah melepas reshore yang digunakan di beberapa titik

38

disusul dengan melepas scaffolding. Setelah reshore dan scaffolding dilepas, bekisting dilepas menggunakan palu dan tang. Pada proyek ini, para pekerja mencabut kayu bekisting yang menempel pada beton menggunakan tang dan memukul permukaan bekisting yang sudah terkelupas dari beton dengan menggunakan palu untuk melepas bekisting. Untuk kolom, langkah pertama adalah melepas plat tumpuan batang penahan bekisting baja dari angkur tulangan (Gambar 4.9). Setelah plat tumpuan dilepas dari angkur tulangan, baut-baut pada bekisting baja dilonggarkan kemudian bekisting baja ditarik dari atas dengan menggunakan tower crane sampai bekisting tercabut dari kolom.

Gambar 4.9 Pelat Tumpuan Batang Penahan Bekisting Baja

4.2.7

Perawatan dan Perlindungan Beton

Perawatan pada beton dilakukan dengan membasahi permukaan beton dengan air yang berfungsi untuk mengurangi panas berlebih yang akan mempercepat proses penguapan air dalam campuran beton, mempertahankan jumlah air dalam beton selama proses pengerasan awal, mengurangi kehilangan air pada permukaan

39

beton, dan mencapai perkembangan kuat tekan karakteristik beton yang dicapai pada umur 28 hari. Secara umum harus memenuhi persyaratan di dalam PBI 1971 NI-2 bab 6.6 dan ACI 301-72/75, ACI 301, ACI-308. Pada pedoman kerja, segera setelah pengecoran beton harus di curing dan berlangsung terus menerus selama paling sedikit dua minggu jika tidak ditentukan lain dan suhu beton pada awal pengecoran harus dipertahankan tidak melebihi 35oC. Pada cuaca panas, waktu temperatur udara 32oC atau lebih, pada 24 jam pertama dilakukan perawatan dengan air, kemudian dipasang bahan campuran perawatan (curing compound). Permukaan-permukaan beton yang akan

berhubungan dengan beton lain atau bahan cementitious, atau yang diindikasikan akan menerima bahan perkerasan (hardener) dan dust proofer treatment, atau diindikasikan menerima membran waterproofing atau atap, harus dirawat dengan air dan dilindungi dengan kertas perawatan seperti yang diisyaratkan, atau bahan lain yang disetujui, dijaga selalu pada tempatnya selama masa perawatan. Bahan campuran perawatan yang akan menjaga perlekatan dari lantai pegas (resilient flooring) terhadap beton tidak boleh digunakan. Jangan memakai bahan campuran perawatan pada permukaan yang akan menerima bahan perkerasan dan dust proofer treatment, atau membran waterproofing. Dalam udara panas, bahanbahan beton didinginkan (memakai es sampai air dingin) sebelum dicampur, agar pemeliharaan dari suhu beton masih dalam batasan yang diisyaratkan dan tidak diijinkan pemakaian air hujan untuk menambah campuran air.

40

4.2.8 Perubahan Pekerjaan Seiring dengan berjalannya proyek, desain awal mengalami perubahan. Perubahan desain itu menyebabkan perubahan pekerjaan. Adapun perubahan yang terjadi adalah perubahan jumlah tulangan pada kolom dan shearwall bisa berupa penambahan ataupun pengurangan dari desain awal.

BAB 5 TINJAUAN KHUSUS

5.1 Ground Water Tank 5.1.1 Pengertian Water Tank

Air adalah sumber kehidupan utama yang dibutuhkan manusia untuk dapat hidup dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal. Ketersediaan air haruslah tetap terjaga demi kehidupan kita bersama. Air secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu air bersih dan air kotor. Pembagian tersebut didasarkan kepada kondisi dari air tersebut apakah sudah tercemar atau tidak. Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka seharihari. Pemanfaatannya dapat beraneka ragam mulai dari kebutuhan air minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan yang lainnya. Air bersih tetap harus dijaga kualitas dan kuantitasnya agar kebutuhan manusia dapat terpenuhi secara menyeluruh. Kebutuhan manusia akan air bersih tentunya mengakibatkan dibutuhkan sebuah wadah yang dapat menampung air bersih dengan jumlah tertentu agar tidak kekurangan. Water tank merupakan suatu wadah untuk menampung air bersih agar ketersediaannya dapat dijaga. Water tank memiliki kapasitas tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh orang-orang yang berada di gedung tersebut. Terdapat beberapa jenis dari water tank dilihat dari letaknya:

41

42

Ground Water Tank merupakan tempat penyimpanan air yang berada di bawah tanah. Alasan utama dipilih ground water tank karena letaknya yang terpendam di bawah tanah sehingga memungkingkan dibangun untuk dimensi yang besar. Alasan estetika/ keindahan dan biaya, juga yang membuat konsultan perencana arsitektur memilih menggunakan ground water tank, karena letaknya yang terpendam di bawah tanah dan dari segi pembuatan juga relatif lebih murah jika dibandingkan tower water tank.

Elevated Water Tank merupakan tempat penyimpanan air yang berada di atas suatu bangunan, biasanya dengan menggunakan suatu tower tertentu yang memang telah dipersiapakan secara khusus untuk menjadi tempat water tank tersebut.

5.1.2

Pembangunan Ground Water Tank

Pada proyek Gallery Ciumbuleuit 2 ini akan digunakan ground water tank dan roof water tank sebagai tempat penampungan air namun digunakan ground water tank sebagai tempat penampungan air utama karena memiliki dimensi yang lebih besar sedangkan untuk roof water tank hanya akan menggunakan torrent sebanyak 2 buah. Oleh karena itu, proses pembangunan ground water tank menjadi penting untuk diperhatikan karena jika terjadi kegagalan pada konstruksinya maka dapat menyebabkan kerugian bagi banyak pihak. Ground water tank merupakan sebuah sarana yang dibangun untuk menyimpan air bersih dengan kapasistas tertentu. Perbedaan antara ground water tank dan roof water tank terletak pada dimana tempat penyimpanan air (storage) tersebut berada. Pada

43

roof water tank tempat penyimpannya berada di atap (roof) dari suatu bangunan, sedangkan pada ground water tank, tempat penyimpanan air berada pada bawah tanah. Ground water tank sendiri berkapasitas lebih besar daripada roof water tank karena tempat penyimpannya yang berada di bawah tanah sebab jika penampungan air berada di atap akan menjadi beban tambahan bagi struktur bangunan yang dapat memperbesar hasil perencanaan sehingga meningkatkan biaya dalam pembangunan bangunan tersebut. Pada awal konstruksi ground water tank dilakukan penggalian tanah sampai elevasi yang dibutuhkan untuk ruang mechanical dan electrical yaitu pada -24.50 meter. Penggalian dilaksanakan dengan alat-alat berat karena volume tanah yang harus dibuang sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk dilakukannya pengerjaan dengan tenaga manusia karena akan membutuhkan waktu yang lama dan tidak efisien. Pengerjaan dengan menggunakan alat-alat berat ini membutuhkan waktu yang lebih singkat tetapi walaupun begitu pengerjaan ground water tank ini dibuat overlap (tumpang tindih) dengan pengerjaan yang lain seperti pengecoran kolom dan pelat untuk struktur dari bangunan itu. Pada saat pelaksanaan pekerjaan galian dimungkinkan tanah yang digali tersebut basah karena pada kedalaman tertentu air tanah sudah dapat meresap sampai lapisan tanah yang digali. Jika hal tersebut terjadi dibutuhkan bantuan pompa untuk dapat membantu mengeringkan tanah sehingga kemungkinan longsornya tanah ketika sedang digali menjadi lebih kecil. Kegiatan seperti itu disebut sebagai dewatering (pada gambar 5.1), dengan bantuan pompa maka dapat diatur permukaan air tanah sehingga tidak berada pada kedalaman dimana penggalian akan dilaksanakan.

44

Gambar 5.1 Dewatering Kegiatan penggalian tersebut dilakukan secara berkelanjutan, setelah penggalian yang dilaksanakan mencapai elevasi yang direncanakan maka selanjutnya adalah pemasangan tulangan pile cap dan tulangan pelat lantai ground water tank yang akan dicor bersamaan. Pengecoran yang akan dilaksanakan pada pelat lantai ground water tank ini menggunakan bahan aditif berjenis integral waterproofing (pada gambar 5.2) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya peresapan air dari dalam tanah atau ke dalam tanah. Selain itu, pada batas sisi dari pengecoran sebelumnya dipasang waterstop (pada Gambar 5.3) untuk mencegah air tanah masuk ke sambungan antara beton lama dan beton baru.

Gambar 5.2 Integral Waterproofing

45

Gambar 5.3 Waterstop Waterproofing biasa digunakan agar beton menjadi kedap air, karena beton merupakan salah satu elemen penting dalam bangunan untuk menopang suatu bangunan. Karena beton tersusun dari material yang tidak kedap air, sehingga bersifat absortif, terkadang pada bagian tertentu beton diharuskan ditempatkan pada lokasi yang bersentuhan dengan tekanan hidrostatik. Untuk itu pada lokasi-lokasi tersebut mengharuskan beton menggunakan bahan tambahan yang dapat membuat beton tahan air. Tekanan hidrostatik yang tejadi pada ground water tank ini akan berbanding lurus dengan kedalamannya artinya makin dalam maka tekanan airnya akan semakin besar. Tekanan hidrostatik yang terjadi pada bidang tegak dapat diplot menjadi suatu diagram tekanan berbentuk segitiga. Diagram tekanan seperti pada Gambar 5.4 adalah diagram tekanan yang terjadi pada bidang tegak di ground water tank seperti dinding dan kolom.

46 9800 N/m
2

19600 N/m

6 meter

29400 N/m

39200 N/m

49000 N/m

58800 N/m

Gambar 5.4 Diagram Tekanan Hidrostatik pada Ground Water Tank Berikut cara menghitung tekanan hidrostatik di ground water tank : Rumus : Dimana : P=xgxh P adalah tekanan akibat zat cair (N/m2) adalah massa jenis zat cair yaitu 1000 kg/m3 g adalah percepatan gravitasi yaitu 9.8 m/s2 h adalah kedalaman (m)

Contoh perhitungan : Tekanan yang terjadi pada kedalaman 1 meter P=xgxh

47

1000 x 9,8 x 1 = 9800 N/m2 Tekanan maksimum yang terjadi pada kedalaman 6 meter P=xgxh 1000 x 9,8 x 1 = 58800 N/m2 Letak titik berat = 1/3 x h 1/3 x 6 = 2 meter Integral waterproofing dan waterstop tidak hanya digunakan pada pelat lantai ground water tank saja tetapi digunakan disemua komponen pembangun ground water tank tersebut seperti kolom, dinding, dan balok yang menjadi batas ground water tank. Adapun proporsi yang disarankan untuk pencampuran integral waterproofing adalah semen yang digunakan minimum 350 kg/m3, water cement ratio maksimum 0,45, slump awal dari campuran beton adalah 80 20 mm, dosis dari intergral waterproofing 1,5-2 liter/m3 karena jika terlalu banyak akan menyebabkan beton tersebut akan lebih encer dan lama mengering namun walaupun begitu kekuatan ultimate beton tersebut tidak akan turun, slump awal dibuat kecil karena penambahan integral waterproofing akan menyebabkan pengenceran pada campuran beton sehingga akan menambah slump pada saat setelah ditambah menjadi 140-200 mm. Pada pembangunan ground water tank ini jenis waterproofing yang digunakan tidak hanya integral waterproofing tetapi juga dilapisi menggunakan jenis waterproofing coating. Waterproofing jenis coating merupakan lapisan pelindung anti bocor yang digunakan pada beton, dinding, atau permukaan lain dalam bentuk cairan dengan cara kuas/coating atau spray. Jadi, waterproofing

48

coating ini digunakan pada tahap finishing setelah pipa-pipa untuk menyalurkan air dipasang. Untuk mengatasi kebocoran di lokasi yang bersudut, dengan ukuran yang tidak terlalu besar maka penggunaan waterproofing jenis ini lebih efisien. Pada tahap akhir dari pembangunan ground water tank bagian dalam dari ground water tank akan dipasangi keramik. Salah satu penyebab PT. Wijaya Karya Gedung sebagai kontraktor memasang keramik adalah kekhawatiran akan faktor human error saat pembangunan ground water tank ini. Maka dari itu, PT. Wijaya Karya Gedung memasang keramik pada bagian dalamnya.

5.1.3

Kapasitas Ground Water Tank

Kapasitas ground water tank untuk bangunan Gallery Ciumbuleuit 2 adalah sebagai berikut: Ground Water Tank Direncanakan untuk memenuhi air bersih bervolume 760 m3 sehingga didesain ground water tank yang berdimensi 8,5 x 15 x 6 meter yang kemudian dibagi menjadi 2 bagian yang sama besar. Supply air yang ditampung di ground water tank ini berasal dari PDAM dan sumur bor yang pengisiannya dilakukan secara otomatis dengan cara memasang sensor ketinggian air dengan sistem tuas pelampung yang dipasang pada ketinggian 3 meter dan ketinggian 5,8 meter jika level air kurang dari sensor yang berada di ketinggian 2 meter maka tuas pelampung otomatis akan terbuka dan mengisi air ke dalam ground water tank sampai air melewati sensor yang ada di 5,8 dan tuas pelampung akan otomatis tertutup.

49

5.1.4

Pemanfaatan Water Tank

Water tank memiliki kegunaan yang tentunya mempengaruhi pada kapasitas yang akan digunakan. Berikut ini adalah pemanfaatan dari water tank yang kemudian dikaitkan dengan kapasitas yang direncanakan. Water tank terdiri dari dua bagian yaitu roof water tank dan ground water tank namun yang dibahas adalah sebatas ground water tank. Pada ground water tank air yang disiapkan 80% untuk dipakai oleh penghuni Gallery Ciumbuleuit 2 untuk keperluan sehari-hari sedangkan 20% untuk cadangan air bersih dan bisa juga untuk penanganan kebakaran yang nantinya akan ditambah oleh air hasil sterilisasi oleh sewage treatment plant. Pemasangan hydrant adalah hal yang utama dalam apartemen karena merupakan biaya yang mahal untuk membangun sebuah apartement yang mewah dan harus jauh dari resiko terjadinya kebakaran karena bukan hanya pihak pemilik apartemen tersebut melainkan para penghuni yang lainnya juga akan mendapatkan kerugian yang besar. Penyaluran air dari ground water tank ke masing-masing hydrant dibantu dengan pompa tambahan. Pompa tersebut mendistribusikan air ke hydrant yang sebelumnya tekanan air dalam pipa dicek dengan menggunakan preassure tank.

50

5.2 Estimasi Biaya dalam Menjalankan Tower Crane per Bulan dan Pengaruh Tower Crane terhadap Produktivitas Kerja Proyek dalam Proses Pembangunan.

5.2.1 Pengertian Tower Crane Menurut Rostiyanti (2002), Tower Crane merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertikal dan horizontal ke suatu tempat yang tinggi pada ruang gerak terbatas. Disebut Tower karena memiliki rangka vertikal dengan bentuk standard dan ditancapkan pada perletakan yang tetap. Fungsi utama dari tower crane adalah mendistribusikan material dan peralatan yang dibutuhkan oleh proyek baik dalam arah vertikal ataupun horizontal. Tower crane merupakan peralatan elektromotor, artinya menggunakan listrik sebagai penggeraknya. Tenaga gerak tersebut diperoleh dari PLN maupun generator set. Menurut Rostiyanti (2002), Jenis-jenis tower crane dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu : Free Standing Crane Crane yang berdiri bebas (free standing crane) berdiri diatas pondasi yang khusus dipersiapkan untuk alat tersebut. Jika crane harus mencapai ketinggian yang besar maka kadang kadang digunakan pondasi dalam seperti tiang pancang.

Rail Mounted Crane Penggunaan rel pada rail mounted crane mempermudah alat untuk bergerak sepanjang rel tersebut. Tetapi supaya tetap seimbang gerakan

51

crane tidak dapat terlalu cepat. Kelemahan dari crane tipe ini adalah harga rel yang cukup mahal, rel harus diletakkan pada permukaan yang datar sehingga tiang tidak menjadi miring.

Climbing Tower Crane Crane ini diletakkan didalam struktur bangunan yaitu pada core atau inti bangunan. Crane ini bergerak naik bersamaan dengan struktur naik. Pengangkatan crane dimungkinkan dengan adanya dongkrak hidrolis atau hydraulic jacks. Dengan lahan terbatas maka alternative penggunaan crane climbing.

Tied In Crane Crane tipe ini mampu berdiri bebas pada ketinggian kurang dari 100 meter. Jika diperlukan crane dengan ketinggian lebih dari 100 meter, maka crane harus ditambatkan atau dijangkar pada struktur bangunan. Fungsinya untuk menahan gaya horizontal.

52

5.2.2 Bagian- bagian Tower Crane

7 8

5 9

10

11

Gambar 5.5 Bagian-Bagian Tower Crane


Keterangan Gambar 5.5 : 1. Tie Ropes 2. Counter Weight 3. Counter Jib 4. Kabin Operator 5. Slewing Ring 6. Jib 7. Trolley 8. Hook 9. Climbing Device 10. Mast 11. Footing Block

53

1. Tie ropes Tie ropes adalah kawat yang berfungsi untuk menahan jib supaya tetap dalam kondisi lurus 900 terhadap tiang utama. 2. Counter weight Counter weight adalah beban penyeimbang yang diletakan di counter jib. Dengan adanya counterweight ini, ketika jib mengangkat beban maka tower crane tidak tertarik ke arah beban muatan. 3. Counter jib Counter jib adalah tiang penyeimbang dari jib. 4. Kabin operator Tempat untuk operator tower crane mengoperasikan crane. 5. Slewing ring Slewing ring merupakan cincin pemutar jib yang terletak di bawah kabin operator. 6. Jib Jib merupakan tiang horizontal yang panjangnya ditentukan berdasarkan jangkauan yang diinginkan Trolley. 7. Trolley Trolley merupakan alat yang berada di atas hook dan dioperesikan maju mundur sesuai daerah jangkauan yang diinginkan. 8. Hook (kait) Kait ini dapat bergerak vertikal yang berfungsi sebagai pengangkut barang yang akan dipindahkan oleh tower crane.

54

9. Climbing device (hydraulic) Climbing device merupakan alat yang terletak di bawah slewing ring yang berfungsi sebagai penambah ketinggian dari tower crane. 10. Mast (section) Mast (tiang utama) merupakan tiang vertikal yang berdiri di atas base atau dasar. 11. Footing block Footing block merupakan tempat (dasar) berdirinya tower crane.

Saat ini proyek konstruksi bangunan bertingkat sangat berkembang, dalam pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat. Salah satunya adalah perencanaan penggunaan alat konstruksi yang tepat agar dapat menunjang kelancaran pelaksanaan pekerjaan dilapangan dalam memilih alat konstruksi yang terpenting adalah mengidentifikasi alat untuk mengetahui fungsi serta cara pengoperasiannya dan dapat memperkirakan produktivitas dan efisiensi kerja alat. Salah satu alat yang sering digunakan pada proyek bangunan bertingkat adalah tower crane. Alat ini digunakan sebagai alat pemindah material dari suatu tempat ketempat lain secara vertikal maupun horizontal. Tower crane banyak digunakan karena ketinggian tower crane dapat disesuaikan dengan tinggi bangunan dan juga memiliki jarak jangkauan yang luas. Masalah yang sering dihadapi kontraktor dalam pemakaian tower crane adalah biaya pengoperasian yang cukup mahal (biaya sewa dan operasional), dan efektifitas penggunaan tower crane terhadap jadwal proyek. Hal ini menyebabkan terjadinya pemborosan biaya pada penggunaan tower crane, maka diperlukan

55

suatu perhitungan yang dapat menghitung efektivitas penggunaan tower crane dimana perhitungan tersebut dapat membantu kontraktor untuk memperkirakan produktivitas dari tower crane tersebut. Dalam suatu konstruksi bangunan bertingkat penentuan dan pemilihan tower crane sangatlah berpengaruh terhadap kecepatan dan percepatan pekerjaan konstruksi nantinya.dimana hal tersebut berpengaruh terhadap produktivitas pekerjaan yang dihasilkan sebuah tower crane. Apabila penentuan dan pemilihan tower crane tidak sesuai dengan keadaan dilapangan maka produktivitas pekerjaan yang dihasilkan sebuah tower crane tersebut akan berkurang hal ini akan berdampak pada time schedule pekerjaan dan menyebabkan kemunduran waktu penyelesaian proyek. Disamping itu akan terjadi peningkatan biaya. Untuk itu penulis mencoba menjabarkan beberapa hal yang sangat berpengaruh terhadap penentuan dan pemilihan tower crane yang tepat, aktivitas dari tower crane dan manfaat dari penggunaan tower crane.

5.2.3 Penentuan dan Pemilihan Tower Crane Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan tower crane antara lain: Spesifikasi alat : berisi data-data spesifikasi alat yang dikeluarkan oleh pabrik yang memproduksi alat tower crane seperti ketinggian tower crane, dan letak beban maksimum pada jangkauan jib. Besarnya muatan yang dapat diangkat oleh tower crane telah diatur dan didapatkan dalam manual operasi tower crane yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat tower crane tersebut. Prinsip dalam penentuan beban yang bias diangkat adalah berdasarkan prinsip momen. Jadi pada jarak dan

56

ketinggian tertentu tower crane memiliki momen batas yang tidak boleh dilewati. Panjang lengan muatan dan daya angkut muatan merupakan suatu perbandingan yang bersifat linear. Perkalian panjang lengan dan daya angkat maksimum pada setiap titik adalah sama dan menunjukkan kemampuan momen yang bisa diterima oleh tower crane tersebut. Kondisi Proyek : merupakan gambaran umum proyek yang dikerjakan seperti luas area proyek, ketinggian bangunan, dan jam kerja perhari. Volume Pekerjaan : karakteristik material yang akan diangkat oleh tower crane. Kemudahan Pelaksanaan : pemasangan dan pembongkaran tower crane tidak boleh menggangu struktur bangunan yang ada disekitar proyek ataupun struktur bangunan yang akan di bangun.

5.2.4 Estimasi Biaya dalam Menjalankan Tower Crane per Bulan Spesifikasi Peralatan Tower Crane Penentuan tipe dan jenis peralatan ( spesifikasi peralatan seperti pada Tabel 5.1) merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum menghitung kapasitas operasi peralatan dan waktu pelaksanaan, serta biaya pelaksanaan. Spesifikasi dari tower crane yang digunakan adalah tipe Free Standing Crane karena tipe tower crane ini mampu berdiri bebas dengan pondasi khusus untuk tower crane itu sendiri : dengan Lifting capacity ; 2,4 ton di ujung jib dan maximum capacity ; 8 ton dan memiliki jib radius 61,5 m yang karena mampu menjangkau 100% area proyek.

57

Tabel 5.1 Tabel Spesifikasi Tower Crane

Penggunaan tarif PLN untuk 20 kwh pertama besarnya tarif Rp. 390/jam , untuk 40 kwh pertama sebesar Rp. 445/jam , untuk kwh berikutnya tarif sebesar Rp 495/jam. Tower crane menggunakan daya sebesar 44 KVA atau 44 kwh dengan pengunaan efektif alat sehari selama 12 jam maka dapat dihitung besarnya pengeluaran dalam satu bulan biaya yang dikeluarkan untuk daya penggerak tower crane sebagai berikut: 30 x 12 x 44 x Rp. 495 = Rp. 7.840.800 Tower crane yang digunakan free standing dengan kapsitas 1,4 ton/45 m dengan harga/6 bulan sebesar Rp. 35.000.000 maka per bulan biaya yang harus dikeluarkan sebesar kurang lebih Rp. 5.833.333 Gaji operator alat berat tower crane dalam sebulan sebesar Rp. 5.000.000

58

Maka dapat disimpulkan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam sebulan untuk pengoperasian tower crane dapat dihitung sebagai berikut: Rp.7.840.000 + Rp. 5.833.333 + Rp. 5.000.000 = Rp. 18.673.333

5.2.5 Pengaruh Tower Crane terhadap Produktivitas dalam Proses Pembangunan 5.2.5.1 Produktivitas Tower Crane menurut Imam Soeharto,(1997) Dengan mengacu pada prinsip kerja tower crane dan pemilihan serta pemilihan tower crane yang tepat maka kita dapat menghitung produktivitas sebuah tower crane. Secara umum produktivitas adalah produk atau hasil kerja dibagi satuan kerja sumber daya manusia atau alat. Maka indeks produktivitas =

Dimana: h merupakan jumlah jam kerja tower crane yang sesungguhnya digunakan untuk menyelesaikan proyek. H merupakan jam kerja tower crane yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan identik pada kondisi standar. Pada proyek konstruksi produktivitas alat adalah hasil kerja dari sebuah alat persatuan waktu. Satuan produktivitas tower crane sangat dipengaruhi oleh waktu siklus. Waktu siklus adalah waktu tempuh yang diperlukan tower crane untuk melakukan satu kali putaran yang terdiri dari gerakan vertikal (hoist),

59

horisontal (trolley), dan perputaran (swing). Di mana ketiga gerakan utama ini terdiri dari enam tahap pekerjaan yaitu: mengikat material, mengangkat,

memutar, menurunkan dan melepaskan material sampai kembali lagi menuju lokasi persediaan material. Waktu siklus meliputi waktu tetap (fixed time) dan waktu variable (variable time). Waktu tetap meliputi waktu mengikat dan melepas material yang tergantung pada jenis material yang diangkat, untuk setiap pekerjaan memiliki waktu tetap yang berbeda misalnya waktu untuk mengikat tulangan berbeda dengan waktu untuk mengikat bekisting. Waktu variable tergantung pada jarak tempuh vertikal bergantung tinggi angkat, waktu tempuh rotasi bergantung sudut putar, dan waktu tempuh horizontal tergantung pada jarak titik tujuan dan sumber material. Waktu tersebut dikategorikan dalam jarak tempuh: Jarak Tempuh Vertikal : jarak tempuh vertical tower crane adalah jarak total yang ditempuh oleh hoist secara vertikal. Jarak tempuh vertikal meliputi jarak tempuh vertikal angkat dan jarak tempuh vertikal kembali. Jarak tempuh vertikal angkat untuk pengecoran, tulangan, bekisting berbeda dengan jarak tempuh vertikal untuk pengangkatan material. Jarak Tempuh Rotasi : jarak tempuh rotasi berupa sudut rotasi. Sudut rotasi adalah sudut yang terbentuk antara sumber tower crane ke tujuan. Jarak tempuh rotasi meliputi jarak tempuh rotasi angkat ketempat tujuan material dan jarak tempuh rotasi kembali ke sumber material.

60

Jarak Tempuh Horizontal : jarak tempuh horizontal tower crane adalah jarak total yang ditempuh oleh trolley secara horizontal. Jarak tempuh horizontal meliputi jarak tempuh horizontal angkat dan jarak tempuh horizontal kembali. 5.2.5.2 Produktivitas Pada Pekerjaan Pemindahan Material menurut Varma, (1979) Material yang dipindahkan seperti scafilding, muliplex, besi beton, beton pre cast, pasir, batu bata, atap rangka baja, unit-unit elektrikal dan mekanikal. Data-data yang diperlukan untuk menentukan produktivitas tower crane pada pemindahan material diantaranya berat material dan waktu siklus untuk perpindahan maka hubungan antara produktivitas material dan barat material adalah sebagi berikut P

Dimana : P merupakan produktivitas material. B merupakan berat material yang dipindahkan. N merupakan jumlah siklus pekerjaan per jam.

5.2.5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Produktivitas alat tower crane dipengaruhin oleh kondisi alat, kondisi lapangan, manajemen proyek dan kemampuan operator. Kondisi alat : umur ekonomis alat sangatlah mempengaruhi produktivitas tower crane. Alat tower crane yang telah melebihi produktivitasnya lebih rendah jika dibandingkan dengan alat tower crane yang belum melebihi umur ekonomisnya. Untuk menjaga agar alat tower crane tetap pada

61

kondisi baik maka perlu dilakukan pemeriksaan secara periodik yaitu sebulan sekali. Kondisi Lapangan : kondisi lapangan suatu proyek konstruksi sangat mempengaruhi produktivitas alat tower crane. Kondisi lapangan yang penuh dengan hambatan akan menyebabkan produktivitas tower crane menurun faktor-faktor tersebut diantaranya kondisi disekitar proyek misal terdapat bangunan tinggi yang membatasi ruang gerak tower crane, kondisi cuaca misal hujan atau angin yang menyebabkan tower crane harus berhenti beroperasi, jenis material yang diangat dapat mempengaruhi kecepatan tower crane. Faktor Manajemen: menurut Peurifoy (1997) kondisi manajemen yang baik dan teratur akan semakin meningkatkan produktivitas tower crane. Sebaliknya kondisi manajemen yang buruk akan menurunkan

produktivitas tower crane faktor manajemen meliputi pemeliharaan untuk mengntrol dan menjaga kondisi tower crane, tata letak tower crane yang baik akan memperlihatkan suatu penyususnan daerah kerja dan peralatan (site layout) yang paling ekonomis untuk dilaksanakan, penempatan material diausahakan mudah dijangkau tower crane, rencana kerja dapat mambantu pemasangan dan pembongkaran material. Kemampuan operator: operator tower crane merupakan orang yang paling penting konstribusinya terhadap penggunaan tower crane yang aman dan ekonomis. Operator tower crane harus memiliki keahlian dalam mengoprasian serta mekanisme tower crane.

62

Proses pemindahan material menggunakan tower crane membutuhkan perhatian besar. Selain karena alat tersebut cukup besar jangkauan penghilahan operator juga kadang kal terbatas, maka dari itu seorang operator saja tidak cukup, butuh bantuan orang lain. Dengan melakukan perencanaan perhitungan awal yang tepat dan cermat dalam hal melakukan pemilihan, penentuan sebuah tower crane atau lebih ditambah tata letak tower crane serta kondisi lapangannya. Hal ini membuat kontraktor memiliki nilai lebih dalam hal time schedule dimana produktivitas pekerjaan pengankatan akan lebih baik, kontraktor bisa memperkirakan waktu penggunaan tower crane dan penghematan biaya operasional dan sewa tower crane, seperti yang kita ketahui bersama biaya operasional dan sewa dari tower crane ini sangatlah mahal. Kerugian pemilihan tower crane ini lebih kepada kesalahan kontraktor dalam menganalisa dan mengkaji pemasangan tower crane baik sebuah maupun lebih. Sebagai contoh menganalisa produktivitas yang efektif, sehinga penyewaan lebih lama yang akan mengeluarkan biaya yang lebih besar. Kerugian lainya berkaitan dengan tata letak tower crane, kondisi lapangan yang sulit untuk mengoprasikan tower crane sehinga menyebakan produktivitas kerja tower crane menurun. Penempatan tower crane yang tepat pada lokasi proyek akan dapat memperlancar kegiatan proyek. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menganalisa kondisi lokasi proyek, diantaranya jalur mobilisai alat tersebut terhadap perencanan tata letak atau penempatan baik itu penimbunan material, gudang, kantor dan lainnya. Dimana penempatan alat ini harus mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam proses pelaksanaan proyek tersebut.

63

Posisi operasional tower crane adalah penempatan tower crane pada suatu lokasi proyek untuk melakukan pekerjaan pengangkatan, pengecoran dan lain lain. Dimana radius perputaran dari tower crane tersebut dapat mampu menjangkau seluruh lokasi proyek sehingga tower crane dapat menyelesaikan pekerjaan sefektif mungkin. Menurut (Nugraha dkk,1985), dalam menentukan tata letak alat tower crane harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut ini : 1. Arah gerak atau lintasan tower crane sebaiknya sejajar dengan arah memanjang dari bangunan. 2. Harus tersedia ruang cukup untuk proses erection dan dismantling. 3. Dengan ukuran tower crane yang minimum, radius dan tinggi dan dapat menjangkau 100 % area gedung. Letak tower crane direncakan sebaiknya mengikuti poin-poin berikut : o letak crane tepat ditengah tengah bangunan dari posisi memanjang, karena pada posisi tersebut tower crane dapat menjangkau 100 % area bangunan dengan jib radius yang minimum. o tower crane berada di samping kanan bangunan dari tampak utara dengan free standing setinggi 50 m supaya tidak membentur bangunan lain pada saat proses kerja. o jarak tower crane dari bangunan disesuaikan dengan data teknis dari tipe tower crane yang digunakan. Letak penempatan tower crane sendiri sesuai dengan kondisi eksisting di lapangan.

64

5.3 Proses Pengerjaan Bored Pile

5.3.1

Pengertian Bored Pile

Bored pile adalah salah satu pondasi dalam yang merupakan elemen struktur yang berfungsi meneruskan beban kepada tanah, baik beban dalam arah vertikal maupun horizontal. Pada umumnya pondasi bored pile digunakan untuk pondasi jembatan, pondasi menara tinggi, pondasi fasilitas dok, pondasi bangunan ringan pada tanah lunak, sebagai barisan tiang atau soldier piles untuk meningkatkan stabilitas lereng atau sebagai dinding penahan tanah, pondasi bangunan tinggi, dan struktur yang membutuhkan gaya lateral yang cukup besar, dan lain-lain Dalam proyek pembangunan Gallery Ciumbuleuit 2 kondisi tanah sangatlah labil, lunak, dan tidak seragam. Karena itu digunakan bored pile untuk keperluan sebagai pondasi bangunan struktur yang membutuhkan gaya lateral yang cukup besar sedangkan kondisi tanah di permukaan dangkal adalah lunak dan sebagai barisan tiang atau soldier piles untuk meningkatkan stabilitas tanah dan sebagai dinding penahan tanah karena adanya longsor akibat tanah yang labil.

5.3.2

Bahan dan Peralatan yang Digunakan Untuk Bored Pile

Berikut adalah bahan yang digunakan dalam pengerjaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 Appartement : 1. Besi Tulangan Setiap bored pile pada proyek ini menggunakan 21 tulangan utama dengan diameter 16 mm dengan panjang 12 m dan sengkang menggunakan besi tulangan dengan diameter 10 mm dipasang setiap jarak 15 cm. Tulangan

65

dianyam menyesuaikan dengan bentuk bored pile (dapat dilihat pada Gambar 5.6). Diameter tulangan yang sudah dianyam 80 cm.

Gambar 5.6 Besi Tulangan Bored Pile

2.

Beton Seluruh bored pile pada proyek pembangunan Gallery Ciumbuleuit 2 Appartement menggunakan beton tipe D. Beton tipe D mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Ratio air semen maksimum Mininmum semen konten per volume beton Kekuatan karakteristik : 0,55 : 343 kg/cm3 : 25 Mpa

Campuran beton tipe D tersebut menggunakan slump 16 2 cm sehingga campuran beton akan menjadi semakin cair. Hal ini bertujuan agar pada saat campuran beton masuk ke dalam pipa tremi tidak ada material yang tersangkut.

66

Berikut adalah peralatan yang digunakan dalam pengerjaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 : 1. Mesin Bor Pengerjaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 menggunakan mesin bor yang disebut Bored Pile Soilmec (dapat dilihat pada Gambar 5.7). Hal ini dikarenakan kedalaman bor yang harus di gali bervariasi dari 10 m sampai 20 m. Bored Pile Soilmec merupakan alat utama dalam melaksanakan bored pile.

Gambar 5.7 Bored Pile Soilmec Bored Pile Soilmec dilengkapi dengan 2 jenis mata bor yang dapat diganti sesuai kebutuhan, yaitu : a. Bucket Auger Bucket auger digunakan untuk menggali sekaligus mengangkat tanah galian ke permukaan. Boring bucket ini mempunyai diameter 80 cm dan tinggi 80 cm. (dapat di lihat pada Gambar 5.8).

Gambar 5.8 Bucket Auger

67

b. Flight Auger Flight auger adalah salah satu mata bor yang berfungsi untuk menggali tanah dan material lainnya di dalam tanah. Flight auger digunakan ketika pada saat tahap penggalian ditemukan batuan yang keras yang tidak dapat dihancurkan oleh bucket auger (Flight Auger dapat dilihat pada Gambar 5.9).

Gambar 5.9 Flight Auger 2. Pipa Tremi Pipa tremi adalah pipa yang digunakan sebagai saluran untuk memasukan campuran beton kedalam lubang galian bored pile (dapat dilihat pada gambar 5.10). Pipa tremi yang digunakan pada proyek ini mempunyai diameter 20 cm dan panjang 3 m.

Gambar 5.10 Pipa Tremi

68

3.

Casing Casing pada bored pile digunakan untuk mencegah tanah yang berada didalam lubang mengalami runtuh dan menutup kembali galian. Casing pada proyek ini mempunyai diameter 80 cm dan panjang 2 m (dapat dilihat pada Gambar 5.11).

Gambar 5.11 Casing

4.

Corong Tremi Corong tremi digunakan untuk mempermudah memasukan campuran beton kedalam pipa tremi. Corong tremi mempunyai sisi 40x40cm dan diameter bagian bawah 20 cm (dapat di lihat pada Gambar 5.12).

Gambar 5.12 Corong Tremi

69

5.

Concrete Pump dan Talang Concrete Pump dan Talang digunakan untuk membawa campuran beton dari mixing truck ke corong (dapat dilihat pada Gambar 5.13). Hal ini dapat dilakukan karena posisi truk mixer berada di elevasi yang lebih tinggi dari lokasi yang akan dilakukan pengecoran, sehingga campuran beton dapat dialirkan.

Gambar 5.13 Concrete Pump 6. Mixing Truck Mixing Truck digunakan untuk membawa beton dari batching plant ke lokasi pengecoran. Mixing Truck yang digunakan mempunyai volume mixer 5 m3 dan 6 m3 (dapat dilihat pada gambar 5.14).

Gambar 5.14 Mixing Truck

70

5.3.3

Metode Bored Pile di Gallery Ciumbuleuit 2 Metode pelaksanaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit sama seperti

pelaksanaan bored pile pada umumnya. Tahapan pelaksanaan pekerjaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 (dapat dilihat pada gambar 5.15) yang pertama adalah melakukan pengeboran tanah pada titik yang sudah ditentukan menggunakan clay auger hingga kedalaman 5 meter setelah itu memasukan casing ke dalam lubang yang sudah di gali. Setelah itu, melanjutkan galian hingga kedalaman sesuai dengan rencana kedalaman bored pile pada titik tersebut. Lalu, memasukan baja tulangan ke dalam lubang yang sudah dibor tersebut dan bila lubang tersebut kedalamannya lebih dari 12 meter maka baja tulangan akan disambung. Setelah itu, memasukan pipa tremi kedalam lubang, pipa tremi disambung hingga mencapai dasar kedalaman lubang bored pile tersebut. Hal ini dilakukan secara paralel dengan mempersiapkan talang. Setelah pipa tremi siap dipasang corong diatasnya untuk memudahkan beton masuk kedalam pipa tremi. Setelah itu, pemasangan talang karena pada saat pengecoran beton dialirkan secara gravitasi. Setelah pipa tremi dan talang siap pengecoran dapat dilakukan dengan memasukan campuran beton kedalam corong. Setelah bagian dasar dari lubang tersebut dicor pipa tremi akan dilepas secara bertahap sambil melakukan pengecoran. Setelah selesai mengecor casing dapat dilepaskan.

71

Gambar 5.15 Metode Pondasi Bored pile

5.3.4

Pelaksanaan Bored Pile di Gallery Ciumbeuluit 2

Bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 digunakan sebagai pondasi bangunan struktur apartemen yang membutuhkan gaya lateral yang cukup besar sedangkan kondisi tanah di lokasi proyek berkontur, lapis tanah bagian atas pada daerah lereng cukup baik tetapi pada bagian dekat sungai berupah tanah lunak. Bored pile pada struktur ini juga berfungsi sebagai perkuatan agar struktur tidak bergerak akibat adanya aliran air sungai yang mendorong secara terus menerus dan juga mencegah agar struktur tidak guling akibat adanya uplift yang cukup besar yang ditimbulkan oleh aliran air sungai. Setiap bagian bored pile mempunyai kedalaman yang berbeda-beda.

72

Yang kedua adalah sebagai barisan tiang atau soldier piles untuk meningkatkan stabilitas lereng dan atau sebagai dinding penahan tanah karena adanya longsor akibat penggalian dengan volume yang besar dan tanah yang labil. Dipilihnya soldier pile dengan menggunakan barisan tiang bored pile. Pada pelaksanaan bored pile PT. Wijaya Karya Gedung mempunyai subkontraktor. Subkontaktor yang melakukan pekerjaan bored pile yaitu PT. FRANKIPILE INDONESIA. Pelaksanaan bored pile di Gallery Ciumbuleuit 2 sudah sesuai dengan metoda kerja yang ada namun dalam pelaksanaanya sering kali terjadi hal-hal yang tidak terduga yang menyebabkan pelaksanaan bored pile menjadi terlambat. Pada pengerjaan satu titik bored pile membutuhkan waktu satu hari penuh. Berikut adalah detil lengkap untuk pelaksanaan satu titik bored pile dengan kedalaman 20 m: 1. Melakukan pengeboran tanah pada titik yang sudah ditentukan menggunakan bored pile soilmac (dapat dilihat pada gambar 5.16) hingga kedalaman 5 m. Dalam satu cycle pengeboran dengan bucket auger dapat menggali hingga 40 cm. Maka untuk menggali kedalaman 5 m diperlukan : ,dengan 1 cycle membutuhkan waktu 3 menit. Maka waktu yang diperlukan adalah 3 x 13 = 39 menit.

73

Gambar 5.16 Memulai Pengeboran untuk Bored Pile

2.

Memasukan casing ke dalam lubang yang sudah di gali (dapat dilihat pada gambar 5.17). Pada tahap ini diperlukan waktu 6 menit.

Gambar 5.17 Memasukkan Casing Ke Lubang Bored Pile

3.

Melanjutkan galian hingga kedalaman sesuai dengan rencana kedalaman bored pile (dapat dilihat pada gambar 5.18) yaitu 20 m. Pada penggalian hingga 20 m, pekerja menyemprotkan air ke dalam lubang. Hal ini bertujuan untuk mempermudah penggalian. Maka untuk menggali sisa kedalaman 15 m diperlukan :

74

,dengan 1 cycle membutuhkan waktu 3 menit. Maka waktu yang diperlukan adalah 3 x 38 = 114 menit.

Gambar 5.18 Melanjutkan Galian Lubang Bored Pile

4.

Memasukan baja tulangan ke dalam lubang yang sudah dibor tersebut (dapat dilihat pada gambar 5.19). Pada tahap ini diperlukan waktu 20 menit

Gambar 5.19 Memasukkan Baja Tulangan Bored Pile

75

5.

Besi tulangan disambung (dapat dilihat pada gambar 5.20).apabila kedalaman lubang lebih dari 12 m. Pada tahap ini diperlukan waktu 30 menit

Gambar 5.20 Menyambung Baja Tulangan Bored Pile

6.

Memasukan pipa tremi kedalam lubang (dapat dilihat pada gambar 5.21), pipa tremi disambung hingga mencapai dasar kedalaman lubang bored pile tersebut. Satu pipa tremi dengan panjang 3 m memerlukan waktu 2,5 menit Untuk lubang dengan kedalaman 20 m dipasang 7 buah pipa tremi Maka waktu yang diperlukan adalah 2,5 x 7 = 17,5 menit

76

Gambar 5.21 Memasukkan Pipa Tremi Ke Dalam Lubang Bored Pile

7.

Pasang corong diatas pipa tremi (dapat dilihat pada gambar 5.22). Pada tahap ini diperlukan waktu 1,5 menit

Gambar 5.22 Memasang Corong Di Atas Pipa Tremi

77

8.

Pemasangan talang karena pada saat pengecoran beton dialirkan secara gravitasi (dapat dilihat pada gambar 5.23). Pada tahap ini diperlukan sangatlah relatif tergantung dari lokasi titik bor, namun waktu yang diperlukan berkisar antara 60 menit.

Gambar 5.23 Memasang Talang Saat Pengecoran

9.

Melakukan pengecoran dengan memasukan campuran beton kedalam corong (dapat dilihat pada gambar 5.24). Satu titik bored pile dengan kedalaman 20 m dan diameter 80 cm mempunyai volume = 0,25 x x 0,82 x 20 = 10 m3, namun karena pada saat pengecoran sering terjadi tumpah pada campuran beton maka volume ditambah menjadi 12 m3. Satu mixing truck mempunyai volume 5 m3 Jumlah mixing truck yang diperlukan :

78

Waktu yang di perlukan satu mixing truck untuk mengecor adalah 10 menit dan waktu parkir yang diperlukan adalah 2 menit maka total waktu satu mixing truck adalah 12 menit. Maka waktu yang diperlukan adalah 3 x 12 = 36 menit Pada saat pengecoran air tidak bercampur dengan beton melainkan meluap ke permukaan.

Gambar 5.24 Melakukan Pengecoran

10. Melepas pipa tremi. Pada tahap ini pipa tremi di lepas secara bertahap sambil melanjutkan pengecoran (dapat dilihat pada gambar 5.25). Satu pipa tremi dengan panjang 3 m memerlukan waktu 3 menit Untuk lubang dengan kedalaman 20 m dipasang 7 buah pipa tremi Maka waktu yang diperlukan adalah 3 x 7 = 21 menit

79

Gambar 5.25 Melepas Pipa Tremie

11. Melepas casing (dapat dilihat pada gambar 5.26). Pada tahap ini diperlukan waktu 6 menit

Gambar 5.26 Melepas Casing

80

Jadi total waktu yang diperlukan untuk satu titik dengan metoda yang sudah ada dan dalam kondisi normal adalah : 39 + 6 + 114 + 20 + 30 + 17,5 + 1,5 + 60 + 36 + 21 + 6 = 351 menit = 5,85 jam. 12. Bored pile yang sudah selesai sesuai lokasi titik pengeboran diikat dan dihubungkan antara bored pile lainnya dengan pile cap.

Namun banyak sekali hambatan sehingga pada saat pengerjaan bored pile seringkali membutuhkan waktu yang lebih lama. Hambatan yang sering sekali terjadi adalah: Longsornya tanah sehingga lubang yang sudah digali tertutup kembali sebagian. Hal ini seharusnya ditanggulangi dengan menggunakan slurry yaitu campuran air dengan bentonite. Meskipun kurang efektif tetapi pengeboran dapat dilanjutkan. Jumlah tanah yang dapat digali pun berkurang. Pada awalnya satu cycle dapat menggali hingga 40 cm berkurang menjadi 20 cm. Hal ini akan menyebabkan bertambahnya waktu pengerjaan. Adanya batuan yang cukup keras. Hal ini menyebabkan waktu pengeboran menjadi lebih lama. Karena dengan mata bor yang tajam sekalipun tetap memerlukan waktu tambahan. Bored pile soilmac yang digunakan sudah cukup tua dan berada dalam kondisi yang kurang baik, sehingga seringkali terjadi kerusakan mesin. Kerusakan ini membutuhkan waktu perbaikan yang cukup lama. Karena itu waktu pengerjaanpun menjadi bertambah.

81

Beton yang terlambat datang. Pada proyek pembangunan Gallery Ciumbuleuit 2 akan mengakibatkan waktu pengerjaan pembetonan bored pile bertambah. Akibat hambatan-hambatan tersebut waktu tambahan yang dibutuhkan tidak dapat dipastikan. Hal ini jelas sangat merugikan pihak kontraktor.

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama kerja praktek dari tanggal 16 Januari 2012 sampai dengan tanggal 15 Mei 2012, dapat ditarik beberapa simpulan dan saran, diantaranya adalah sebagai berikut

6.1 Simpulan Beberapa simpulan yang ditarik, antara lain : 1. Pengawasan yang baik dan kontinu serta ketelitian dalam setiap tahap pelaksanaan pekerjaan akan sangat menentukan dalam mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan rencana yang diinginkan. 2. Sejauh ini PT. Wijaya Karya Gedung sebagai kontraktor telah menjalankan proyek Gallery Ciumbuleuit 2 ini dengan baik karena dapat dilihat dari progres pembangunan gedung yang terhitung cepat dan hubungan yang baik dari seluruh staf dan karyawan. 3. Ground Water Tank merupakan tempat penyimpanan air yang utama bagi gedung Gallery Ciumbuleuit 2 ini sehingga harus memiliki dimensi yang besar agar cukup untuk memenuhi kebutuhan air seluruh penghuninya. 4. Alasan utama PT. Wijaya Karya Gedung memilih pondasi bored pile karena letak tanah keras yang dalam sehingga harus menggunakan pondasi dalam dan agar tidak mengganggu penduduk karena jika menggunakan tiang pancang akan menyebabkan kebisingan.

82

83

5. Dalam pemilihan dan penggunaan peralatan yang akan digunakan harus memperhatikan aspek biaya, aspek efektifitas dan efisiensi dari alat tersebut terutama dalam penggunaan tower crane.

6.2 Saran Adapun saran-saran yang dapat diberikan demi kelancaran pelaksanaan pekerjaan konstruksi pada proyek, adalah : 1. Dalam pelaksanaan pekerjaan proyek ini, pengawas harus mempunyai alternatif dalam mengantisipasi dan mengambil tindakan atau keputusan yang tepat, sehingga pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan lancar dan tidak terjadi keterlambatan didalam penyelesaian pekerjaan, dimana pekerjaan harus selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya. 2. Seharusnya koordinasi antara pemilik (owner), arsitek, dan kontraktor lebih diperkuat agar pembangunan proyek berjalan sinergis, sehingga bisa lebih efektif, efisien dan ekonomis.

LAMPIRAN

85

LAMPIRAN L1 DRAFT TINJAUAN KHUSUS

LAMPIRAN L2 LAPORAN FAKTUAL PENYELIDIKAN TANAH

LAMPIRAN L3 JOBMIX FORMULA TRIALMIX

LAMPIRAN L4 DENAH LOKASI UJI PENYELIDIKAN TANAH

LAMPIRAN L5 ABSENSI KERJA PRAKTEK

LAMPIRAN L6 UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA

LAMPIRAN L7 KELENGKAPAN K-3

LAMPIRAN L8 ABSENSI KERJA PRAKTEK

Anda mungkin juga menyukai